India Kembali Buka Penerbangan, Pilot yang Lama Tak Terbang Harus “Up To Date”
India mulai kembali membuka penerbangan mereka setelah lockdown selama lebih dari sepuluh minggu. Pilot yang tidak bertugas dalam penerbangan kargo dan evakuasi selama lockdown akan kembali memasuki kokpit setelah tinggal di rumah setelah berminggu-minggu. Diperkirakan sekitar 80 sampai 85 persen pilot di India tidak berada dalam kokpit sejak 25 Maret lalu. Mereka dirumahkan setelah larangan penerbangan domestik dan internasional dimulai.
Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat
Dilansir KabarPenumpang.com dari thehindubusinessline.com (6/5/2020), setelah penerbangan kembali di buka di Negeri Bollywood tersebut, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil menetapkan adanya batasan waktu penerbangan maksimum untuk pilot adalah 35 jam dalam tujuh hari berturut-turut dan 100 jam dalam 28 hari berturut-turut.
Namun karena mereka sudah puluhan minggu tidak terbang, ketika kembali ke rutinitas, mereka tidak hanya harus menangani jarak sosial dan norma-norma perlindungan lainnya yang diberlakukan sektor penerbangan pasca Covid-19, tetapi yang lebih penting mereka harus up to date dengan keterampilan yang dimiliki.
Hal ini penting karena beberapa pilot berpendapat bahwa prosedur operasi standar atau SOP tertentu yang perlu dipatuhi untuk memastikan tidak ada yang terlewat dalam peraturan penerbangan dan menyelesaikannya dengan aman. Fokusnya lebih pada penghematan bahan bakar dengan mengambil flap dan gear keluar sedikit kemudian dalam pendekatan,” jelasnya.
Flap adalah perangkat pengangkat tinggi di mana mereka bergerak ke bawah untuk meningkatkan kelengkungan sayap yang meningkatkan daya angkat. Tetapi saat mereka bergerak lebih jauh untuk mendarat, hambatan meningkat secara proporsional. Demikian pula, saat Anda menurunkan roda pendaratan, hal itu menyebabkan peningkatan tarikan saat mencuat dari bawah pesawat dan merusak aliran udara yang efisien di sekitar badan utama pesawat.
Peningkatan daya dorong (tenaga mesin) yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan ini menyebabkan aliran bahan bakar lebih tinggi. Sehingga dengan demikian, tujuannya adalah untuk menunda ekstensi flap ke posisi mendarat dan menurunkan roda pendarat selambat mungkin.
“Kedua hal ini tidak terlalu rumit untuk pilot berpengalaman, mereka harus diatur waktunya dengan benar. Penundaan apa pun dapat menyebabkan pesawat terlalu tinggi pada pendekatan, membutuhkan tingkat keturunan yang lebih tinggi dekat dengan tanah. Atau mungkin datang terlalu cepat, membuatnya sulit untuk memperlambat ke kecepatan pendaratan yang sesuai, yang akan memungkinkan Anda untuk mengambil pendaratan dan mendarat dan berhenti pada panjang landasan yang tersedia, ”kata seorang pilot.
Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat
Untuk lebih memastikan bahwa pilot telah diaklimatisasi dengan benar sebelum mengoperasikan penerbangan, mereka juga menjalani penerbangan pengamatan ketika duduk di belakang awak operasi dan mengamati untuk menyegarkan ingatan dalam kehidupan nyata dan skenario praktis.
Sterilkan Kamar Hotel dari Virus Corona, Tips dari Pramugari ini Layak Ditiru
Menikmati liburan dan perjalan saat ini pasti dirindukan oleh banyak orang. Namun pastinya ketika Anda akan kembali bepergian tak lagi sama seperti sebelumnya bahkan mungkin akan lebih menjaga kebersihan di mana pun berada. Seperti seorang pramugari yang menunjukkan harus membersihkan kamar hotel tempatnya menginap ketika pandemi virus corona saat ini.
Baca juga: Bandara Gerald R Ford Tingkatkan Pembersihan Anti Corona dengan Elektrostatik
Seorang pramugari yang tak disebutkan namanya merupakan awak dari SkyQueen, dan saluran media sosialnya ia berbagi rutinitas dalam sebuah video selama 15 menit. KabarPenumpang.com melansir laman thesun.co.uk (15/5/2020), pramugari tersebut mengenakan masker wajah dan menjelaskan proses dari awak hingga selesai sebelum dirinya bersantai di dalam ruangan.
Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memastikan tidak membawa virus ke dalam kamar. Dalam videonya, dia memperlihatkan kamar hotelnya di Cleveland, Ohio. Di kamar hotel, ia menyemprot sepatu dengan desinfektan, kemudian menyemprot tas dan koper yang telah tersentuh dengan orang lain di luar.
“Ambil lap dan pergi melalui kamar mandii, dan menghapus (lap) semua item yang pernah disentuh orang sebelumnya, seperti saklar lampu, kunci, pegangan seta segala sesuatu yang pernah disentuh, ” kata pramugari itu.
Dia menambahkan, bahwa fokus pada area tempat tidur adalah kunci, di mana Anda meletakkan ponsel dan barang-barang lainnya. Pramugari kemudian menggunakan tisu di meja dan mengatakan gelas plastik sekali pakai harus digunakan sebagai pengganti mug keramik.
“Jelas [membersihkan] telepon dan remote control wajib dilakukan karena selalu kotor,” ujarnya.
Trik lain yang ia sarankan adalah memasukkan remote ke dalam kantong plastik, karena memungkinkan Anda menggunakan perangkat tanpa harus menyentuhnya dengan tangan kosong, dengan mengatakan itu kotor “bahkan tanpa virus corona”. Semprotan desinfektan juga dapat digunakan di tempat tidur, ke atas selimut dan bantal.
Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri
Kamar mandi tak luput dari upaya pembersihan, yakni keran, toilet flush dan lampu perlu digosok keras. Tips lainnya termasuk menggunakan alkohol gosok pada ponsel, serta memiliki tas terpisah untuk memasukkan pakaian kotor ke dalamnya, sehingga tidak menginfeksi pakaian bersih. Dia menambahkan, setelah semuanya selesai dilakukan untuk pembersihan, ia baru bisa bersantai dan menikmati kamar tersebut.
Petugas Naik ke Pesawat dengan Kostum Hazmat, Timbulkan Kepanikan di Kabin
Orang-orang menggunakan kostum hazmat naik ke pesawat dan membawa seorang penumpang turun sesaat setelah mendarat di Bandara Dublin. Ini kemudian membuat semua penumpang harus tinggal di kursi mereka selama dua jam setelah mendarat dan membuat ketakutan tersendiri.
Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara
Para penumpang kemudian diberikan selebaran yang berisi bahwa penerbangan dari Rusia ke Dublin tersebut kemungkinan membawa seseorang yang terinfeksi virus corona. Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk (2/2/2020), seorang penumpang bernama Laura Noona yang mengunjungi Moskow setiap tiga hingga empat bulan untuk perawatan hematologi bersama dengan sang suami Archie o’Connor mengaku menyadari ada seorang penumpang yang sakit di dekat mereka.
“Kami tidak diberi tahu bahwa ada sesuatu yang salah selama penerbangan … kami tidak menyadari ada sesuatu yang ‘salah’ di atas pesawat. Ketika kami mendarat, penumpang berdiri untuk mengambil bagasi kabin untuk meninggalkan pesawat, tetapi kapten kemudian berbicara dan memerintahkan semua penumpang untuk duduk dan tinggal di kabin,” ujar Laura.
Dia mengatakan, tak lama seorang pria naik ke pesawat menggunakan kostum hazmat dan sarung tangan sembari membawa penumpang Cina dari tempat duduknya untuk dibawa turun dan itu melewati banyak penumpang.
“Saya bisa melihat ambulans, polisi bandara dan anggota garda síochána (pasukan polisi Irlandia) di landasan. Beberapa saat kemudian kami diberitahu bahwa ada kemungkinan penyebaran virus corona pada penerbangan dan kami diberi selebaran tentang apa yang harus dilakukan,” ungkapnya.
Setelah itu Laura dan semua penumpang tetap di pesawat dan disuruh menuliskan nomor tempat duduk mereka serta informasi kontak pribadi pada formulir yang disediakan oleh dokter dan pihak kesehatan setempat.
Sebuah pernyataan dari Tim Darurat Kesehatan Masyarakat Nasional berbunyi, “Irlandia telah menyusun rencana sebagai bagian dari kesiapan komprehensifnya untuk menghadapi keadaan darurat kesehatan masyarakat sebagai dampak penyebaran Covid-19.”
Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!
Selain itu, penjelasan tersebut untuk memaksimalkan kemungkinan suatu kasus terdeteksi jika seseorang muncul di sini dan untuk mencegahnya ditularkan ke orang lain. Protokol selalu memastikan bahwa orang-orang yang terlibat dikomunikasikan sepenuhnya dengan dan menyadari apa yang sedang terjadi. Saat ini tidak ada kasus yang dikonfirmasi tentang virus corona di Irlandia.
Inilah Penerapan “The New Normal” di Bandara Bengaluru Pasca Lockdown
India akhirnya selesai mengakhiri masa lockdown tahap ketiga pada 17 Mei lalu. Berbagai sektor pun mulai dibuka kembali, tak terkecuali transportasi udara. Namun, sebelum lockdown berakhir, Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru rupanya telah terlebih dahulu menata diri dengan menyiapkan konsep “The New Normal”.
Baca juga: India Akan Terapkan Aturan Ketat di Bandara Usai Lockdown
The New Normal yang diterapkan Bandara Internasional Kempegowda berupa terpasangnya penanda physical distancing, seperti saat antre self check-in, tempat duduk panjang di seluruh area bandara termasuk di dalamnya seluruh bangku di outlet F&B, skybridge atau garbarata, dan antrean di check-in counter.
Selain itu, untuk mencegah terjadinya penumpukan, pihak bandara memang tak sampai membatasi jumlah penerbangan, sebagaimana terjadi di wilayah lain di India, melainkan mencoba mengantisipasinya dengan mendorong check-in online serta boarding pass elektronik yang juga tercetak bersamaan setelah check-in online.
Tak hanya itu, berbagai protokol kesehatan lainnya juga telah diterapkan, seperti pengukur suhu tubuh, penyemprotan disinfektan secara rutin, fogging di seluruh area terminal, dan fasilitas sanitasi. Semua dilakukan demi mencegah penyebaran virus corona di bandara.
Tak lupa, tentu saja masker wajib digunakan selama di area bandara dan selama di penerbangan. Bila penumpang kedapatan tak memakai masker karena berbagai alasan, mereka dapat membeli di outlet khusus yang sudah disediakan dengan harga terjangkau. Otoritas bandara juga akan memastikan seluruh calon penumpang mengunduh aplikasi Aarogya Setu untuk melacak kontak tracing. “Langkah-langkah yang diambil termasuk cara untuk memastikan physical distacing, thermal screening, titik-titik sanitasi dan desinfeksi, fogging di seluruh area terminal, dan kebijakan contactless di seluruh outlet di bandara, untuk memastikan para traveler melewati Bandara se-nyaman dan se-aman mungkin,” kata juru bicara Bangalore International Airport Limited (BIAL). “Tambahan signage (penanda informasi), termasuk di lantai, tempat duduk, di papan informasi digital, dan standees telah dipasang di seluruh penjuru bandara untuk membantu penumpang menjaga jarak yang memadai. Jarak sosial juga akan diberlakukan di area parkir,” tambahnya. Hari Marar, CEO BIAL menambahkan, para petugas, khususnya di outlet F&B juga akan diharuskan menggunakan APD, untuk melengkapi kebijakan contactless; mulai dari memesan makanan hingga mengambil dan membayarnya. Semua dilakukan guna menekan penyebaran virus coroan di bandara. “Dengan prioritas tertinggi pada keselamatan penumpang, karyawan dan pemangku kepentingan lainnya, kami telah menerapkan serangkaian tindakan untuk melindungi penumpang dan meminimalkan paparan dari transmisi virus ketika bandara dibuka kembali,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari indianexpress.com. Baca juga: Canggih! Italia Jadi yang Pertama Gunakan Helm Thermal Scanning di Bandara Sebelumnya, jauh sebelum penerapan lockdown dicabut pemerintah, otoritas bandara di India memang telah menyusun rancangan “The New Normal” dengan menjanjikan aturan ketat di seluruh bandara di India, khususnya bandara internasional sebagai gerbang masuk wisawatan mancanegara. Saat itu, terhitung sejak pertengahan April lalu, otoritas bandara dan pemerintah India telah menyiapkan payung hukum guna memberikan legalitas kepada petugas dalam bertindak di lapangan. Tak heran bila saat ini Bandara Internasional Kempegowda Bengaluru menerapakan skema tersebut, sebagai bagian dari rencana besar pemerintah.Operations post #lockdown: Kempegowda International Airport (#Bengaluru) steps up hygiene practices to ensure passenger safety. Thermal screening, sanitisation and disinfection tunnels, fumigation of the Terminal, contactless F&B outlets to operate. @IndianExpress @BLRAirport pic.twitter.com/xVyTFA41mm
— Ralph Alex Arakal (@ralpharakal) May 13, 2020
Isolasi Diri dari Pandemi Covid-19, Seorang Pria Tinggal di Stasiun Kereta Api
Bagaimana rasanya terpisah dengan keluarga karena virus corona atau Covid-19? Pastinya tidak nyaman dan merasa kesepian apalagi bagi orang yang senang sekali bersosialisasi. Hal ini juga dirasakan orang seorang pria yang harus tinggal di stasiun kereta api karena pasangannya bekerja di rumah sakit dan dirinya memiliki kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan sekarang untuk bersama.
Baca juga: Selain Punya “Lifeline Express,” Indian Railways Sulap Gerbong Kereta Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19
Matthew Amstrong seorang pria penggemar kereta api, mengatakan dirinya memiliki salah satu situasi kuncian terbaik di negaranya. Selama tujuh minggu terakhir, Amstrong tinggal di objek wisata kereta api uap yang populer yakni Wells dan Walsingham Light Railway di wells-next-the-sea, Norfolk di Inggris.
Dilansir KabarPenumpang.com dari radio.com (28/5/2020), pria berusia 29 tahun tersebut memiliki hak bebas kereta api dan dapat mengendarai mesin dua-uap dan dua-diesel mereka di sepanjang jalur empat untuk menjaga mereka agar tetap berfungsi.
“Cukup mengagumkan, saya bisa melakukan apa yang saya suka di sini. Dalam banyak hal aku cukup menikmatinya. Aku mungkin punya salah satu kuncian terbaik di negara ini,” ujar Amstrong.
Sebelum tinggal di stasiun kereta api, Amstrong tinggal di sebuah rumah kecil di Norwich bersama pasangannya Kasia Zbrog. Namun karena pandemi ini, mereka lebih baik hidup terpisah karena Kasia bekerja di rumah sakit dan Amstrong memiliki masalah kesehatan mendasar yang mengharuskannya meminum imunosupresan.
“Tidak menyenangkan terpisah dari Kasia. Kami merindukan satu sama lain. Tapi tidak mungkin bagi kami untuk menyendiri karena rumah kami terlalu kecil,” jelasnya.
Karena hal ini, dia menghabiskan hari-harinya bekerja dari jarak jauh sebagai asisten praktisi untuk Rumah Sakit Hellesdon di Norwish dan juga bekerja paruh waktu di kereta api Wells dan Walshingham Light Railway sembari memelihara lintasan.
“Aku menjaga kereta api terus berdetak. Mengemudikan kereta agar tetap berjalan, memastikan rumput tidak tumbuh di atas rel, dan memberikan keamanan untuk memastikan tidak ada yang masuk tanpa izin. Saya punya banyak hal untuk dilakukan, bagaimana dengan bekerja dari rumah dan juga menyediakan pemeliharaan dan sedikit keamanan untuk kereta api. ‘Kantor’ saya di stasiun kereta api adalah kotak sinyal tua, yang memiliki pemandangan indah ke laut. Luar biasa di malam hari. Matahari terbenam luar biasa,” kata Amstrong.
Juru bicara Wells dan Walsingham Light Railway mengatakan tentang Armstrong, bahwa dirinya banyak membantu mereka ketika berada di sana. Mereka mengatakan, Amstrong tidak ada di sana secara khusus untuk menjalankan kereta atau memelihara situs, tetapi juga mengisi waktunya dengan melakukan hal-hal itu sembali pekerjaan normal.
“Ini sangat membantu bagi beberapa sukarelawan kami yang tidak bisa sampai ke lokasi saat ini selama penguncian. Ini seperti memiliki penjaga keamanan penuh waktu di sana,” ujar juru bicara itu.
Baca juga: Mother Goose, Angsa Unik Penghuni Stasiun York
Meskipun sebagian besar hari tenang, Armstrong hanya memiliki kucingnya yang berusia 13 tahun, Dave, untuk menemaninya dan ia kadang-kadang mendapat kunjungan dari Kasia, yang datang untuk mengantarkan surat-suratnya, dan ibunya, yang membawa barang belanjaan atau barang-barang penting apa pun dia butuhkan. Amstrong mengaku dia berharap hidup di kereta api sampai pertengahan Juni dan kembali ke rumah bersama Kasia secepatnya.
“Saya pikir saya akan lebih menikmatinya jika ada orang lain di sekitar. Tapi untuk beberapa minggu pertama itu pasti menyenangkan. Ini agak berbeda,” ujarnya
Sapa Pelanggan di Masa Pandemi, Singapore Airlines Hadirkan e-Library di Aplikasi Seluler
Di tengah pandemi yang melanda dunia saat ini, Singapore Airlines nyatanya tak kehilangan akal untuk terus berinovasi. Mereka kini membuat konten library elektronik atau e-Library yang bisa dinikmati semua pelanggan. e-Library ini tersedia di aplikasi seluler SingaporeAir.
Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit
Adanya inisiatif ini sendiri memungkinkan pelanggan untuk mengunduh lebih dari 150 surat kabar internaisonal, majalah dan bahan bacaan lainnya secara gratis ke perangkat seluler di mana pun dan kapan pun mereka mau. KabarPenumpang.com melansir dari laman futuretravelexperience.com (20/5/2020), sebelum dibuka leluasa oleh maskapai asal Singapura ini, e-Library awalnya hanya tersedia untuk pelanggan yang akan berangkat 48 jam sebelumnya atau 30 hari setelah keberangkatan mereka.
Sebenarnya e-Library ini dirancang untuk memenuhi berbagai minat dengan publikasi terkenal yang mencakup berbagai topik seperti olahraga, rekreasi, teknologi dan politik. Pada masa pandemi ini mungkin majalah minat pria dan wanita, berkebun dan publikasi makanan atau resep, serta lebih dari 40 artikel pendek yang berkaitan dengan kesehatan lebih menarik.
Seperti konten kesehatan yang mencakup panduan ahli tentang topik-topik seperti cara untuk menghilangkan stres, meditasi, makanan sehat dan kiat untuk olahraga. Konten e-Library ini juga menampilkan materi khusus bahasa Inggris serta publikasi dari sepuluh bahasa Internasional termasuk Cina, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia dan Spanyol, yang ditargetkan untuk siswa bahasa asing yang ingin meningkatkan atau mempertahankan keterampilan bahasa mereka selama ini.
“Wabah Covid-19 telah menyebabkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia dan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari orang. Kami menyadari bahwa orang-orang saat ini tidak dapat bepergian dengan Singapore Airlines, jadi kami ingin memberikan sedikit pengalaman di atas Singapore Airlines kepada orang-orang di rumah. Kami berharap bahwa bahan bacaan tambahan dapat membantu mengisi waktu luang apa pun di waktu sebelum kami dapat menyambut pelanggan kembali ke langit sekali lagi,” kata Sheldon Hee, General Manager Inggris dan Irlandia, Singapore Airlines.
Pelanggan dapat mengunduh publikasi tanpa batas di e-Library secara gratis hingga 30 Juni 2020, dengan konten yang diperbarui secara berkala untuk memastikan bahwa edisi terbaru terus tersedia. Setelah 30 Juni 2020, pengguna aplikasi seluler SingaporeAir dapat terus menikmati publikasi apa pun yang sudah diunduh.
Baca juga: Sama-sama Cantik! Singapore Airlines Pernah Tugaskan Awak Kabin Kembar Identik Pada Penerbangan yang Sama
Sebelumnya diketahui, awak kabin maskapai Singapore Airlines sebanyak 30 orang menjadi duta perawat di rumah sakit. Mereka ditugaskan di bangsal berisiko rendah dan mendukung tim perawat rumah sakit dengan melakukan pemberian perawatan dasar, gizi dan manajemen layanan pasien. Bahkan mereka juga memiliki pilihan untuk diperpanjang tiga ulan berikutnya.
Covid-19 Paksa Maskapai Terbesar LATAM Bangkrut! Jadi Maskapai Kelima Bangkrut Akibat Corona
Maksapai terbesar di Amerika Selatan LATAM Airlines Group, dilaporkan bangkrut. Maskapai tersebut dilaporkan tengah mengajukan perlindungan sesuai Bab 11 Undang-Undang Kepailitan AS, atau yang dikenal dengan sebutan Chapter 11 dengan menjaminkan aset senilai 21 miliar dollar AS dan lialibilitas sebesar 18 miliar dollar AS untuk perlindungan kebangkrutan tersebut.
Baca juga: Mantan Pemilik Avianca Berencana Beli Alitalia, Sesumbar Bakal Kasih Untung Sejak Enam Bulan Pertama
Kendati demikian, afiliasi atau anak perusahaan LATAM di Argentina, Brasil, dan Paraguay tidak termasuk dalam perlindungan Chapter 11 tersebut. Sisanya, induk perusahaan di Chili dan anak perusahaan di Kolombia, Peru, dan Ekuador termasuk di dalamnya.
Perlindungan Chapter 11 memudahkan perusahaan yang tidak mampu membayar utang, dengan melakukan restrukturisasi tanpa tekanan dari kreditur. Sejauh ini, LATAM per 30 April lalu tengah tersangkut utang sebesar US$2,2 miliar atau Rp32 triliun (kurs 14,892).
Utang sebesar itu, berdasarkan catatan pengajuan di pengadilan, setidaknya melibatkan lima kreditur besar dunia berkenaan dengan 61 pesawat dan 56 mesin, mulai dari Wilmington Trust (US$778 juta), Citibank (US$603 juta), Credit Agricole (US$274 juta), Wells Fargo WFC (US$277 juta), dan Natixis ($ 243 juta). Pesawat dan mesin tersebut saat ini sudah disita pihak bank. 61 pesawat tersebut terdiri dari 20 A321, sembilan 767, empat 787, dua A350 serta 26 pesawat lainnya tak disebutkan.
Selain memiliki utang dengan lima kreditur di atas, LATAM juga tercatat memiliki utang terhadap beberapa perusahaan lainnya, seperti perusahaan bahan bakar BP, Repsol, dan World Fuel, lessor AerCap, Avolon, dan BBAM, pengelola navigasi udara di Argentina dan Chili, aliansi OneWorld, produsen mesin CFM, Collins, dan CAE, dua bank di Chili dan Peru yakni Banco Santander Chile dan Banco de Credito del Perú, juga memiliki utang kepada Boeing, Etihad, dan Gate Gourmet. Total utang kesemuanya disebut mencapai sebesar 7 miliar dollar AS.
Forbes mengabarkan, maskapai yang telah memecat 1.800 karyawannya dari total pekerja lebih dari 40.000 orang di empat negara ini akan terus beroperasi lewat Perlindungan Chapter 11 yang diajukan sembari melakukan restrukturisasi kredit guna membayar utangnya. LATAM masih bisa beroperasi dengan pesawat lainnya yang tak disita bank. pada 31 Desember 2019 lalu, LATAM tercatat memiliki 342 pesawat, dimana dua pertiganya milik sendiri dan sisanya milik lessor.
Maskapai yang bermarkas di Santiago, Chili tersebut akan tetap beroperasi dengan jadwal terbatas dan mengajukan pinjaman sebesar 900 juta dollar AS. Dana pinjaman tersebut berhasil terkumpul dari pemegang saham, Amaro familiy, dan Qatar airways; bukan dari pemerintah.
Baca juga: Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!
Pasalnya, pemerintah Chili memang tak menawarkan dana talangan, sebagaimana negara-negara Amerika Latin pada umumnya, berbeda dengan AS, Eropa, dan Asia yang rela menggelontorkan dana besar untuk menyelamatkan maskapai nasional mereka. Pandemi Covid-19 telah memberikan pukulan terhadap industri penerbangan di seluruh dunia.
“Keadaan luar biasa telah menyebabkan jatuhnya permintaan global dan tidak hanya membawa penerbangan mandek, tetapi juga telah mengubah industri untuk masa yang akan datang,” ujar CEO LATAM, Roberto Alva. Sebelumnya, selain LATAM, beberapa maskapai telah terlebih dahulu bangkrut akibat virus corona atau Covid-19, mulai dari Avianca, Virgin Australia, FlyBe, dan Trans State Airlines.
Walau Masih Bermasalah, Boeing Nekat Lanjutkan Produksi 737 MAX
Boeing dilaporkan nekat melanjutkan produksi 737 MAX yang sudah setahun lebih di-grounded akibat dua kecalakaan fatal melibatkan Ethiopian Airlines dan Lion Air. Dikatakan nekat, sebab MAX belum diizinkan oleh FAA untuk kembali terbang.
Baca juga: Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona
“Kami telah melakukan perjalanan berkelanjutan untuk mengembangkan sistem produksi kami dan membuatnya lebih kuat. Inisiatif ini (melanjutkan produksi MAX) adalah langkah selanjutnya dalam menciptakan ekosistem produksi yang optimal untuk 737 MAX,” kata Walt Odisho, wakil presiden dan manajer umum program 737, dalam sebuah pernyataan, sebagaimana ditulis theverge.com.
Keputusan Boeing untuk melanjutkan proses produksi terkesan dipaksakan. Sebelumnya, produsen pesawat yang baru saja memecat sekitar 7.000 karyawan ini memang sudah lebih dahulu berikrar akan memulai kembali layanan Boeing 737 MAX di udara pada pertengahan tahun ini. Namun, dalam perjalanannya, berbagai masalah terus-menerus muncul.
Awal Januari lalu, saat belum tuntas dengan persoalan perizinan, Boeing melaporkan kembali menemukan satu lagi potensi masalah. Masalah tersebut diketahui berasal dari korsleting yang berasal dari salah satu kabel di dalam sistem kendali pesawat.
Tak lama berselang, tepatnya pada akhir Januari, masalah kembali muncul. Kala itu, disebutkan bahwa masalah terjadi pada software yang memverifikasi apakah monitor yang melacak sistem utama pada pesawat, telah berfungsi dengan baik. Pemeriksaan monitor biasanya dilakukan secara otomatis saat pesawat atau sistemnya dinyalakan. Namun dalam pemeriksaan terbaru, salah satu monitor tidak menyala dengan benar.
Keinginan untuk mengebut produksi Boeing 737 MAX kemudian kembali terhambat di akhir Februari. Boeing menyatakan menemukan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap pada beberapa 737 Max yang belum dikirim ke pembelinya. Padahal, saat itu, MAX tak lama lagi akan dijadwalkan untuk menjalani uji terbang oleh FAA.
Serpihan Obyek Asing (FOD) adalah istilah teknis untuk serpihan atau benda-benda yang bukan merupakan bagian dari pesawat yang menutupi permukaan dan berpotensi menimbulkan kerusakan.
Dalam sebuah catatan dari Wakil Presiden dan Manajer Umum Program 737 dan Pabrik Renton, Washington, Mark Jenks, kepada karyawan, perusahaan berpesan bahwa serpihan benda asing tersebut benar-benar tidak dapat diterima. Sebab, temuan serpihan benda asing dalam tangki bahan bakar itu dinilai terlalu banyak. Oleh karenanya, perusahaan meminta untuk segera menyelesaikan masalah itu dengan se-teliti mungkin.
Setelah serangkaian masalah di bulan Januari dan Februari, pada bulan Maret Boeing 737 MAX memang tidak mengalami masalah kembali. Namun, Jelang satu tahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret mendatang dan sehari setelah ‘anniversary’ insiden Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang, 10 Maret 2019 lalu, Boeing mengumumkan telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun.
Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX
Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang. Bila tahun ini tak juga diizinkan terbang, bukan tak mungkin Boeing akan ditinggal investor.
Bulan berikutnya, saat pandemi corona di Amerika tengah mengganas, Boeing justru terus menggenjot produksi MAX demi target kembali ke udara di pertengahan tahun. Boeing dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA).
Bikin Kulit Gatal, Ternyata Baju Seragam Awak Kabin Delta Airlines Mengandung Bahan Kimia Berbahaya
Delta Airlines mengaku pada bulan Januari lalu, bahwa sebanyak dua ribu awak kabin telah mengeluh sakit ekstrem pada kulit mereka setelah mengenakan seragam yang dirancang oleh Zac Posen. Ternyata seragam tersebut setelah dilakukan pengujian mengandung bahan kimia beracun dalam level hampir sepuluh kali lebih tinggi dari yang diizinkan oleh H&M yang pengujiannya dilakukan oleh Association of Flight Attendants (AFA-CWA).
Baca juga: Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat
KabarPenumpang.com melansir paddleyourownkanoo.com (22/5/2020), awalnya maskapai ini mengatakan bahwa pengujian laboratorium kimia independen mereka terhadap 628 item seragam menemukan tidak ada risiko kesehatan setelah pertama kali dikenalkan pada tahun 2018 lalu. Namun nyatanya setelah seragam itu diluncurkan, beberapa awak kabin melaporkan sejumlah gejala termasuk ruam gatal yang menyakitkan, sesak napas dan sakit mata.
Adanya skandal “seragam beracun” terbaru dikatakan telah membantu AFA dalam upayanya untuk menyatukan tenaga kerja awak kabin Delta setelah muncul dugaan bahwa maskapai yang bermarkas di Atlanta itu berusaha untuk menutupi masalah sebenarnya. Sejak saat itu maskapai ini telah mengeluarkan sebuah celemek opsional dari koleksi setelah gagal dalam pengujian kimia dan telah mengalokasikan US$10 juta untuk membayar seragam-seragam milik awak kabin yang tidak terkena reaksi.
Menurut Association of Flight Attendants, Delta juga merencanakan program seragam “benar-benar baru” dalam menanggapi skandal yang semula dijadwalkan akan selesai pada akhir 2021. Namun, jadwal waktu itu dapat tak teralisasi karena Covid-19 dan dampak berkelanjutannya pada arus kas Delta.
Pengujian laboratorium yang dilakukan atas nama serikat pekerja menemukan bahwa mantel merah pakaian luar wanita itu mengandung kromium kimia di tingkat yang hampir sepuluh kali lipat jumlah yang diperbolehkan oleh H&M. Serikat pekerja menggambarkan kromium sebagai bahan kimia beracun dan bahan iritasi yang “tidak boleh ada di pakaian”.
Tes juga menemukan karsinogen heksavalen dalam satu mode seragam dan celana setelan wol-campuran untuk awak kabin ukuran plus. Sementara itu, gaya kemeja ‘merah muda thistle’ berisi formaldehida, meskipun dalam batas yang diizinkan. Tidak seperti tes Delta, analisis laboratorium baru-baru ini yang ditugaskan oleh AFA hanya dilakukan pada sejumlah kecil pakaian yang telah disumbangkan oleh awak kabin.
Serikat pekerja juga mengakui bahwa data dari tes “tidak menceritakan keseluruhan cerita” menambahkan bahwa “ribuan bahan kimia” secara rutin ditambahkan ke kain untuk memberikan sifat-sifat tertentu seperti ketahanan noda dan penyelesaian bebas kerut. Bahan kimia yang sama dikatakan telah menyebabkan reaksi serupa pada awak kabin di American Airlines, Alaska dan Southwest setelah seragam baru diperkenalkan.
American Airlines dan Alaska memperkenalkan koleksi seragam yang sama sekali baru mengikuti skandal mereka sendiri dan mencapai OEKO-TEX Standard 100 untuk memastikan kualitas pakaian. Delta menolak untuk secara khusus mengomentari pengujian lab AFA sendiri tentang seragamnya tetapi seorang juru bicara mengatakan bahwa “prioritas utamanya adalah dan terus menangani masalah karyawan mereka.”
Baca juga: Dirancang Selama 18 Bulan, Inilah Tampilan Seragam Baru Awak Kabin Saudia
“Kami berinvestasi dalam studi toksikologi yang ketat untuk menentukan apakah ada masalah ilmiah universal dengan seragam. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi seragam kami memenuhi standar tekstil tertinggi – OEKO-TEX – dengan pengecualian apron opsional, yang kami hapus dari koleksi. Kami telah bekerja secara langsung dengan karyawan kami untuk menawarkan berbagai pilihan garmen alternatif dan menyediakan akses ke pakar medis top negara,” ujar Delta.
AFA terus mendorong penghapusan seragam saat ini secara lengkap dan segera.
Pastikan Keamanan, Boeing dan Airbus Pelajari Risiko Sebaran Virus Corona di Pesawat
Boeing dan Airbus dilaporkan tengah bermitra dengan para ahli medis, insinyur, akademisi, dan otoritas federal dalam sebuah penelitian untuk menyelidiki bagaimana perilaku atau sebaran virus corona di dalam kabin pesawat. Hal ini dilakukan guna meminimalisir risiko paparan Covid-19 di dalam pesawat dan memberikan rasa aman kepada penumpang dan menumbuhkan minat mereka untuk bepergian menggunakan pesawat.
Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak
Diktuip dari fool.com, saat ini Boeing sedang mengerjakan model simulasi komputer untuk mempelajari bagaimana perilaku virus Cina di kabin penumpang. Hal ini tentu sejalan dengan kampanye yang telah digembar-gemborkan maskapai terkait sistem penyaringan udara di pesawat yang menggunakan filter HEPA. Teknologi tersebut diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis, tak terkecuali dengan virus Cina.
Tak ayal, dengan kemampuan tersebut pesawat diklaim menjadi salah satu moda transportasi teraman untuk diandalkan selama pandemi corona, ditambah dengan beberapa protokol kesehatan dan standar operasional baru atau biasa disebut The New Normal. Dengan begitu diharapkan penumpang akan merasa lebih aman dan nyaman selama dalam perjalanan menggunakan pesawat.
Senada dengan Boeing, Airbus juga dilaporkan tengah menjalin kerjasama dengan beberapa ahli dari berbagai universitas untuk mengurangi sebaran virus corona di dalam kabin pesawat dengan mengembangkan bahan berkemampuan self-cleaning, disinfektan yang mampu bertahan selama beberapa hari serta beberapa perangkat tanpa sentuhan di toilet.
Namun demikian, terlepas dari dasar keduanya dalam melakukan penelitian, faktanya, sebelum adanya virus corona, beberapa ahli dari Purdue University’s School of Mechanical Engineering, Amerika Serikat (AS) sudah lebih dulu melakukan penelitian sebaran virus SARS dan memetakan risiko paparannya di dalam kabin pesawat.
Kala itu, penelitian dilakukan di dalam pesawat 767 dengan konfigurasi 2-3-2. Dari hasil penelitian yang dilakukan, jika seseorang yang duduk di tengah dalam (konfigurasi 2-3-3) batuk, setidaknya ada sekitar 10 orang yang terpapar corona, yakni enam orang di baris yang sama dan masing-masing dua orang di sisi jendela di baris pertama di belakangnya. Kemudian, bila dilihat dari sebaran aerosol di keseluruhan kabin, tampak hanya baris terdepan dan dua kursi paling belakang sebelah kanan di dekat jendela saja yang kemungkinan besar selamat dari paparan virus SARS.
Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya
Qingyan Chen, seorang profesor teknik Universitas Purdue yang berkontribusi besar dalam penelitian itu menyebut, sejatinya kabin pesawat memang tak dirancang untuk mencegah penyakit menular. “Sejujurnya, pesawat terbang tidak dirancang untuk mencegah penularan penyakit menular. Mereka tidak dirancang untuk melakukan pekerjaan itu,” ujarnya.
Saat ini, ahli di dunia memang belum bisa menemukan bagaimana sebaran atau perilaku virus corona di dalam kabin secara lebih rinci. Selain itu, para ahli juga belum bisa menyimpulkan apakah perilaku virus corona sama dengan perilaku SARS dan MERS beberapa tahun lalu. Tetapi, dengan daya tular yang disebut empat kali lebih kuat dibanding SARS, bukan tak mungkin, sebaran virus corona di kabin pesawat bisa lebih mematikan dibanding SARS.
