Setelah 780.000 Tahun, Ilmuwan Sebut Kutub Utara dan Selatan Akan Pindah Tempat Lagi Akibat Medan Magnet Bumi Melemah
Setelah tahun lalu ilmuan menemukan pergerakan kutub utara yang begitu cepat, kini ilmuan menemukan fakta lainnya yang lebih mengejutkan. Mereka memprediksi, kutub utara dan selatan akan berpindah tempat lagi akibat melemahnya medan magnet bumi. Peristiwa ini terakhir kali terjadi pada 780.000 tahun yang lalu.
Baca juga: Dulu Kirim Kilatan, Kini Alien Makin Agresif Kirim Sinyal Misterius ke Bumi
Dikutip dari independent.co.uk, temuan ini dibuat oleh tim peneliti dari Badan Antariksa Eropa (ESA) yang mengambil data dari konstelasi Swarm (sekelompok satelit). Konstelasi Swarm terdiri dari tiga satelit yang khusus mempelajari medan magnetik bumi. Satelit secara khusus dirancang untuk mengidentifikasi dan mengukur sinyal magnetik berbeda yang membentuk medan magnet bumi, memungkinkan para ahli untuk melihat area yang telah melemah.
Sebagi informasi, medan magnet Bumi adalah fitur penting planet ini yang berfungsi sebagai pelindung dari partikel matahari, memberikan dasar untuk navigasi dan mengetahui evolusi kehidupan di Bumi.
ESA memang telah mempelajari medan magnet sejak akhir tahun 2013. Misi ini terdiri dari tiga satelit identik yang memberikan pengukuran lapangan berkualitas tinggi di tiga bidang orbit yang berbeda. Saat ini, Ilmuwan tengah fokus mengamati wilayah Afrika dan Amerika Selatan, yang notabene menjadi titik berkurangnya medan magnet atau yang biasa dikenal sebagai ‘Anomali Atlantik Selatan’. Daerah ini telah tumbuh dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 20 km per tahun dan telah membentuk pusat intensitas minimum hanya dalam waktu 5 tahun.
“Minimum baru di timur Anomali Atlantik Selatan telah muncul selama satu dekade terakhir dan dalam beberapa tahun terakhir berkembang dengan cukup dahsyat,” kata Jürgen Matzka, dari Pusat Penelitian Jerman untuk Geosciences.
“Kami sangat beruntung memiliki satelit Swarm di orbit untuk menyelidiki perkembangan Anomali Atlantik Selatan. Tantangannya sekarang adalah memahami proses-proses dalam inti Bumi yang mendorong perubahan-perubahan ini,” tambahnya. Peneliti mengatakan anomali itu bisa mendatangkan malapetaka pada satelit atau pesawat ruang angkasa yang terbang atau mengorbit rendah melalui daerah itu berupa kerusakan teknis.
Selain itu, bila kutub utara dan selatan berpindah tempat akibat medan magnet bumi melemah, di samping pergeseran yang juga begitu cepat, mungkin juga akan mempengaruhi sistem navigasi seperti mengacaukan pelayaran, penerbangan atau aktivitas yang berkaitan dengan navigasi.
Selama ini, posisi magnet kutub yang dipetakan World Magnetic Model (WMM) dijadikan acuan oleh sejumlah instansi pemerintahan seperti Departemen Pertahanan AS, Kementerian Pertahanan Inggris, Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO), Organisasi Hidrografi Internasional (IHO), dan berbagai sistem navigasi sipil termasuk Google Maps.
Baca juga: Skyquake: Misteri Dentuman Si ‘Pembohong’ yang Tak Pernah Terungkap Jelas
Sejak pertama kali ditemukan pada 1 Juni 1831 James Clark Ross, seorang perwira Angkatan Laut Inggris, yang memetakan medan magnet kutub utara di di pulau-pulau yang tersebar di wilayah Nunavut, Kanada, titik kutub magnet utara terus bergerak aktif.
Sementara dalam 200 tahun terakhir medan elektromagnetik di sekitar Bumi telah kehilangan sekitar sembilan persen kekuatannya. Antara 1970 dan 2020, medan magnet Bumi telah sangat melemah di wilayah yang membentang dari Afrika ke Amerika Selatan.
American dan United Airlines Rugi Rp59 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Menanti Giliran PHK
American dan United Airlines dilaporkan mengalami kerugian sepanjang kuartal I 2020 sebesar US$4 miliar atau Rp59 triliun (kurs 1 dollar – Rp14.900), masing-masing sebesar US$2,24 miliar dan uS$1,7 miliar. Disebutkan, kedua maskapai tersebut mengalami kerugian akibat penuruan frekuensi perjalanan udara, imbas dari pandemi virus corona di dunia, khususnya di Amerika Serikat (AS). Selain itu, saham keduanya juga menyusut sebesar lima persen.
Baca juga: Bukan Hanya PHK Karyawan, Ini Sejumlah Opsi Maskapai Agar Bisa Tetap ‘Hidup’
Kerugian miliaran dolar yang dicatatkan keduanya membuat mereka menempati posisi pertama dan kedua sebagai maskapai dengan kerudian terbesar di AS sepanjang kuartal I 2020, menggeser Delta Air Lines dengan kerugian US$534 juta dan Southwest Airlines sebesar uS$94 juta. Sebelumnya, kerugian yang dialami Delta dan Southwest Airlines digadang-gadang bakal menjadi yang terbesar di AS.
Dengan kerugian sebesar US$2,24 miliar, American Airlines mencatat kinerja keuangan terburuk sekaligus kerugian terbesar sejak keluar dari kebangkrutan dan mergen dengan US Airways pada tahun 2013 lalu. Diperkirakan, kinerja keuangan maskapai penerbangan yang berbasis di Fort Worth, Texas ini di kuartal II 2020 tak banyak berubah. Sejauh ini, salah satu maskapai terbesar di AS itu telah memangkas jadwal penerbangan sebesar 80 persen pada bulan April dan Mei serta 70 persen pada bulan Juni.
“Belum pernah sebelumnya maskapai kami, atau industri kami, menghadapi tantangan yang sedemikian signifikan (sulit),” kata Chairman sekaligus CEO American Airlines, Doug Parker kepada Associated Press, seperti dikutip dari usnews.com.
“Kita akan menjadi lebih kecil dari yang kita inginkan. Karena kita harus lebih kecil, kita perlu melakukan sesuatu dengan jumlah karyawan yang kita miliki,” lanjutnya.
Sejauh ini, dari 133.000 karyawan, sekitar 4.500 pekerja telah ‘dibujuk’ American Airlines untuk mengambil pensiun dini, dan sekitar 34.000 lainnya telah menerima cuti yang dibayar separuh selama tiga hingga 12 bulan.
Maskapai tersebut memang tak melakukan PHK terhadap ratusan ribu karyawannya. Namun, itu bukan karena keinginan maskapai, melainkan sebagai salah satu syarat maskapai untuk mendapatkan stimulus dari pemerintah AS. Maskapai AS yang mendapatkan paket stimulus dari pemerintah diwajibkan tidak boleh melakukan PHK terhadap karyawan setidaknya sampai Oktober mendatang.
Bila keadaan tak kunjung membaik, sang CEO sudah mewanti-wanti bahwa pihaknya mungkin akan dengan terpaksa mengurangi beban finansial, salah satunya dengan mengurangi karyawan dalam jumlah besar. Dengan cara itu, perusahaan disebut dapat menghemat hingga miliaran dolar.
Baca juga: Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya
Senada dengan American Airlines, United Airlines juga membukukan kerugian sebesar US$1,7 miliar sepanjang kuartal I 2020. Kerugian tersebut adalah yang terbesar bagi maskapai yang berbasis di Chicago itu sejak 2008 lalu. Kuartal II 2020 juga diperkirakan tak banyak berubah. Sejauh ini, maskapai telah memangkas jadwal penerbangan sebesar 90 persen di bulan Mei dan mungkin jumlah yang sama juga berlaku di bulan Juni.
CEO United Oscar Munoz mengatakan pemangkasan jadwal besar-besaran dan pinjaman yang tak sedikit dilakukan semata untuk meningkatkan likuiditas dalam membantu perusahaan bangkit kembali saat industri penerbagan perlahan bangkit, sekalipun ia tak bisa memprediksi kapan momentum tersebut datang.
Banyak Calon Penumpang Tak Pahami Ketentuan Terbang di Masa PSBB, Lion Air Group Hentikan Penerbangan Sementara
Penerbangan domestik dengan syarat dan standar pencegahan Covid-19 telah mulai dijalankan maskapai nasional sejak awal Mei lalu. Namun, bukan perkara mudah untuk bisa terbang di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini, mulai dari pemeriksaan bebas Covid-19 dan beragam ketentuan serta protokol kekat yang harus dilalalui calon penumpang, membuat banyak pengguna jasa yang akhirnya malah menelan kerugian.
Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini
Batal terbang yang diikuti dengan biaya yang dikeluarkan (kerugian), rupanya menjadi beban moral tersendiri bagi pihak maskapai. Berdasarkan kondisi di atas, Lion Air Group yang terdiri dari Lion Air, Wings Air dan Batik Air, lewat siaran pers (27/5/2020) telah memutuskan untuk mengentikan sementara seluruh penerbangan.
“Berdasarkan evaluasi atas pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya, banyak calon penumpang yang tidak dapat melanjutkan perjalanan atau tidak bisa terbang dan harus kembali dengan segala biaya yang telah dikeluarkan (kerugian), hanya karena ketidaktahuan atau ketidakpahaman atas ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan perjalanan dengan pesawat udara,” ujar Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group.
Lion Air Group beranggapan masih diperlukan sosialisasi yang lebih intensif agar calon penumpang lebih mengetahui dan memahami secara jelas terkait dengan ketentuan-ketentuan dan persyaratan dokumen yang dibutuhkan untuk rencana bepergian menggunakan pesawat udara. Kondisi saat ini, calon penumpang masih belum sepenuhnya mengetahui dan memahami bagaimana dokumen-dokumen perjalanan dipenuhi dan dimana calon penumpang mendapatkannya.
Atas kondisi yang berkembang, Lion Air Group memutuskan untuk melakukan sosialisasi yang lebih intensif melalui website dan kantor-kantor cabang, serta menghentikan sementara operasional penerbangan selama 5 (lima) hari, yaitu mulai 27 Mei sampai dengan 31 Mei 2020.
Lion Air Group menyebut tetap memfasilitasi bagi calon penumpang yang sudah memiliki atau membeli tiket (issued ticket) dapat melakukan proses pengembalian dana tanpa potongan (full refund) atau perubahan jadwal keberangkatan tanpa tambahan biaya (reschedule) melalui Kantor Pusat dan Kantor Cabang Penjualan Tiket (Ticketing Town Office) Lion Air Group di seluruh kota di Indonesia.
Butuh Kabin Mobil Tambahan untuk Piknik? Kabin Pop-Up CARSULE Mungkin Bisa Jadi Solusi
Selama pandemi Covid-19 berlangsung, nyaris seluruh negara di dunia memberlakukan pembatasan perjalanan, baik parsial maupun total. Masyarakat dipaksa untuk tetap di rumah saja agar upaya otoritas mengendalikan virus Cina tersebut bisa dipercepat. Namun, harga mahal dari semua itu tentu saja hak setiap individu untuk berlibur menjadi tertunda.
Baca juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil
Pembatasan perjalanan berminggu-minggu atau berbulan-bulan nyatanya memang terbukti membuat masyarakat rindu berlibur. Namun, ketika tiba masanya untuk pergi berlibur, destinasi wisata manakah yang akan Anda tuju? Lalu, liburan seperti apakah yang akan dijajaki? Bila belum mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut, mungkin, tak ada salahnya mencoba Kabin Pop-Up CARSULE sebagai salah satu rencana daftar liburan Anda.
Dikutip dari mashable.com, CARSULE pada dasarnya mirip seperti tenda camping. Hanya saja, desain dan segala fiturnya dibuat dengan menyesuaikan desain mobil. Mengingat fungsinya, maka, tak salah bila CARSULE disebut sebagai kabin tambahan atau kabin portabel sebagai pelengkap pengguna saat berlibur di berbagai destinasi, mulai dari pegunungan, pantai, ataupun taman-taman kota.
Sebagai pelengkap berlibur, tentu dimensinya sudah disesuaikan dengan berbagai kebutuhan melalui penelitian panjang. Misalnya, bentuknya berupa kubik atau kubus memungkinkan seseorang setinggi dua meter berdiri di dalamnya. Tak hanya itu, dengan dimensi lebar seluas dua meter, pengguna juga dapat memasukan berbagai furniture sederhana, seperti kursi dan meja lipat dan bersantai di dalamnya tanpa takut kepanasan atau kehujanan.
Cara memasangnya pun juga mudah. Bila ingin digunakan terpisah dengan mobil atau tidak membuatnya berfungsi sebagai kabin tambahan, cara pemasangannya nyaris sama dengan tenda camping. Namun, bila ingin difungsikan sebagai kabin tambahan, mula-mula, pengguna, baik dengan mobil hatchback, station wagon, mid suv, compact SUV, MPV, mini van, cukup membuka kap belakang terlebih dahulu untuk kemudian dikaitkan untuk memperkuat pondasi.
Dari segi fitur, CARSULE juga tergolong lebih lengkap dari tenda pada umumnya. Misalnya, dari segi desain, selain lebih luas dan fungsional dengan bentuk kubus, tirai empat sisi yang bisa dibuka, dan saringan anti nyamuk di keempat sisi tersebut juga dijamin akan membuat pengguna lebih nyaman untuk mendapatkan semilir angin atau cahaya matahari masuk ke dalam CARSULE tanpa harus menyesuaikan letak atau posisinya ke arah datangnya angin dan cahaya itu sendiri.
Baca juga: Inilah Tips untuk Melarikan Diri Jika Mobil Anda Tenggelam!
Kemudian, dari segi bahan, sekalipun bentuk kubus diragukan dapat menangkal pengguna dari resiko kepanasan atau bahaya ketika hujan, Kabin Pop-Up CARSULE juga tergolong selangkah lebih maju dibanding tenda sejenis lainnya. Dengan fitur UV protective coating dan water resistance, pengguna dijamin tidak akan terganggu dengan derasnya hujan atau teriknya panas matahari.
Setelah selesai digunakan, teknik penyimpanannya pun cukup mudah cengan beberapa kali lipatan saja, tenda seluas 2×2 meter akan berubah dalam sekejap menjadi hanya berukuran 86cm x 86cm x 12cm dan tidak memakan space di dalam bagasi. Dengan berbagai fungsi dan keunggulan tersebut, bagaimana, tertarik mencoba?
Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi
Setelah pandemi Covid-19 mereda di Wuhan, bagaimana kehidupan kota itu sekarang? Sepertinya lebih sehat dan masyarakat lebih memilih untuk terus melakukan jarak sosial. Ini terlihat dari melonjaknya pengguna sepeda elektrik sebanyak sepuluh kali lipat dibandingkan sebelum Wuhan dikarantina pada 23 Januari 2020 lalu.
Baca juga: Berjibaku Dua Bulan Lebih, Para Medis Kembali Pulang Setelah Lockdown Wuhan Dicabut
KabarPenumpang.com melansir laman intelligenttransport.com (22/4/2020), melonjaknya jumlah tersebut didapat dari data Hellobike. Hellobike sendiri merupakan layanan share sepeda di Cina yang telah meluncurkan Yungi sebagai model sepeda elektrik baru dan dilengkapi dengan sistem navigasi suara cerdas yang dirancang untuk membantu warga mempertahankan langkah-langkah jarak sosial.
Fitur ini sendiri bisa diaktifkan melalui koneksi Bluetooth dan menawarkan arah rute pengendara sambil tetap fokus di jalan. Bahkan bisa dikatakan sepeda elektrik ini menjadi moda transportasi yang populer dikalangan warga kota sat ini. Model baru ini dilengkapi dengan sistem navigasi satelit Beidou dan chipset yang dirancang untuk memberikan navigasi dan penentuan posisi yang tepat.
Sistem ini bersama dengan GPS dan WiFi bertujuan untuk memungkinkan staf menentukan dengan tepat sepeda elektrik yang rusak melalui peta digital dan secara otomatis menonaktifkan fungsi buka kunci ketika volume baterai di bawah 30 persen. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kegagalan atau terjadinya vandalisme.
“Mode perjalanan bersama, bersama dengan kemajuan teknologi dan platform online, telah membentuk kembali kebiasaan bepergian di Cina. Berbagi kendaraan roda dua mengurangi kemacetan lalu lintas dan mengurangi tekanan transportasi umum, memberi pengguna cara yang nyaman untuk pergi dari stasiun kereta bawah tanah ke kantor mereka ”, kata Li Kaizhu, salah satu pendiri dan Presiden Hellobike.
Kaizhu mengatakan, bisnis share sepeda elektrik ini masih menghadapi masalah perawatan sepeda dan parkir terbatas. Menurutnya salah satu tantangan adalah pertukaran baterai sepeda elektrik yang efisien.
Baca juga: Wujudkan SmartCityBike, Slovakia Hadirkan Sepeda Elektrik di Kereta Bawah Tanah
“Dalam menghadapi tantangan industri, kami berusaha untuk meningkatkan teknologi untuk sepeda elektrik, menawarkan model-model baru, baterai yang lebih baik dan fitur yang lebih cerdas untuk masa depan mobilitas bersama. Di Hellobike, kami terus menyelaraskan misi kami untuk memberi manfaat bagi kota kami dan memberi masyarakat kami akses ke transportasi yang efisien dan ramah lingkungan,” jelas Kizhu.
Saat ini, sekitar satu miliar warga Cina melakukan perjalanan dengan kendaraan roda dua setiap hari, 700 juta di antaranya dilakukan dengan sepeda elektrik.
Volvo Batasi Kecepatan Mobil Maksimal 180 Km Per Jam
Volvo akhirnya menepati janjinya untuk membatasi semua kecepatan mobil barunya hingga 112 mph atau 180 km per jam di semua modelnya mulai tahun ini. Mereka mengatakan percaya bahwa pembuat mobil memiliki tanggung jawab untuk membantu meningkatkan keselamatan lalu lintas.
Baca juga: Volvo Demonstrasikan Bus Otonom Bertenaga Listrik yang Bisa Keliling Depo!
“Teknologi kami yang membatasi kecepatan sesuai dengan pemikiran itu,” kata Kepala Pusat Keamanan Mobil Volvo Malin Ekholm yang dikutip KabarPenumpang.com dari newatlas.com (20/5/2020).
Walaupun jalan yang lebih aman adalah tujuan yang mulia dan mengagumkan, ini terasa menyedihkan bagi yang mengenal Volvo sebagai pembuat pembalap Kejuaraan Mobil Tur Inggris terbaik yang pernah ada. Batas baru ini diterjemahkan menjadi 180 kilometer per jam, jika Anda bertanya-tanya mobil mana yang harus dihindari pada autobahn.
Namun di Amerika Serikat, batas kecepatan tertinggi adalah 85 mph dan ini hanya ada di Texas ‘Highway 130. Volvo mengakui bahwa limiter berkecepatan rendah relatif kontroversial, tetapi mereka tetap berpegang pada rencana itu.
“Namun Volvo Cars percaya bahwa ia memiliki kewajiban untuk melanjutkan tradisinya menjadi pelopor dalam diskusi seputar hak dan kewajiban pembuat mobil untuk mengambil tindakan yang pada akhirnya dapat menyelamatkan nyawa, bahkan jika ini berarti kehilangan calon pelanggan,” kata Ekholm.
Mereka mengatakan, masalah dengan ngebut adalah di atas kecepatan tertentu, dimana teknologi keselamatan dalam mobil dan desain infrastruktur pintar tidak lagi cukup untuk menghindari cedera parah dan kematian pada saat terjadi kecelakaan. Inilah sebabnya mengapa batas kecepatan diberlakukan di sebagian besar negara-negara barat, namun ngebut tetap ada di mana-mana dan salah satu alasan paling umum untuk kematian dalam lalu lintas. Jutaan orang masih mendapatkan tiket tilang setiap tahun.
“Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata, orang memiliki pemahaman yang buruk tentang bahaya di sekitar ngebut. Akibatnya, banyak orang sering mengemudi terlalu cepat dan memiliki kecepatan adaptasi yang buruk dalam kaitannya dengan situasi lalu lintas,” jelasnya.
Baca juga: Volvo Siap Rilis Mobil Otonom Super Mewah Tanpa Bangku Baris Depan
Ekholm mengatakan ini, dikombinasikan dengan langkah-langkah Volvo terhadap mengemudi yang mabuk dan terganggu, semuanya adalah bagian dari visi perusahaan untuk membawa kematian dan cedera lalu lintas menjadi nol. Sekali lagi, tujuan yang mulia, meskipun ada banyak mengemudi sembrono di luar sana di bawah 112 mph yang masih perlu ditangani.
,
Pernah Baca “Remove Before Flight” Sebagai Standar Keamanan Penerbangan? Jika Belum, Simak di Sini
Bagi sebagian travelers atau penyuka penerbangan, mungkin naik pesawat dengan berbagai ukuran, jenis, dan pabrikan, keliling dunia, menghadiri pameran dirgantara, dan mempelajari sejarah transportasi adalah hal biasa. Tak jarang, setelah berkutat pada istilah di dunia penerbangan, banyak dari mereka memilih untuk acuh tak acuh. Sebaliknya, bagi mereka yang menggeluti betul, di beberapa kasus, justru tampak lebih ahli dibanding praktisi penerbangan sekalipun.
Baca juga: Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya
Di dunia penerbangan, ada banyak sekali istilah, baik berkenaan dengan penanganan di darat maupun di udara, berkenaan dengan pilot, awak kabin, awak kokpit, maupun petugas di ATC. Terkait penanganan di darat, di antara banyak istilah, mungkin “Remove Before Flight” menjadi salah satu istilah yang menarik untuk diketahui.
Dikutip dari baaflightschool.com, “Remove Before Flight” sejatinya berkenaan dengan safety warning tag yang biasanya dipasang pada penutup bagian-bagian tertentu dari pesawat dan pin penahan di beberapa komponen pesawat terbang. Pin penahan ini gunanya sebagai pengganjal pergerakan dari beberapa bagian mekanisme pesawat saat pesawat tersebut sedang tidak terbang atau parkir. Adapun bendera “Remove Before Flight” dipasang untuk mengingatkan pilot dan crew bahwa penutup atau pengganjal ini harus dilepaskan sebelum terbang.
Terkait letak pemasangan “Remove Before Flight”, laman Indomiliter.com menyebut, setidaknya ada empat instrumen yang dipasangi penanda tersebut. Mulai dari air intake, penutup sensor pada bodi pesawat, pelindung sensor pada rudal, hingga locking pin. Nah, yang disebut terakhir cukup menarik dalam gelaran rudal di jet tempur. Untuk alasan keamanan, locking pin (pin pengunci) disisipkan antara rudal dan peluncur, tujuannya untuk mencegah arus listrik yang mungkin bisa tiba-tiba mengalir dan mengaktifkan rudal saat pesawat sedang diparkir yang tentunya dapat membayakan keselamatan awak.
Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”
Di beberapa sumber lain menyebut, Nose Landing Gear (NLG) bypass pin, Airspeed Pitot, dan Door Safety Pin juga menjadi tiga tempat strategis untuk dipasangkan “Remove Before Flight” sebagai salah satu standar keamanan internasional. Di samping itu, sebagai wujud kemanan internasional, “Remove Before Flight” juga hanya disediakan dalam Bahasa Inggris, mengingat terdapat beberapa insiden di dunia penerbangan terjadi akibat keberagaman bahasa, sebelum akhirnya dipilih bahasa Inggris sebagai bahasa standar, tak terkecuali dengan “Remove Before Flight”.
Seiring berjalannya waktu, identitas pita merah bertuliskan “Remove Before Flight” mulai diadaptasi ke dalam fesyen dirgantara. Salah satu wujudnya menjadikan pita merah “Remove Before Flight” sebagai gantungan kunci (key chain). Dilihat dari desainnya, punya gantungan kunci bertuliskan “Remove Before Flight” mampu menampilkan citra maksimal dalam aura Air Force. Tentu saja, adopsinya tak harus sebagai gantungan kunci motor, tapi keren juga sebagai aksesoris untuk tas ransel.
Mantan Pemilik Avianca Berencana Beli Alitalia, Sesumbar Bakal Kasih Untung Sejak Enam Bulan Pertama
German Efromovich, mantan pemilik Avianca, maskapai terbesar ketiga di Amerika Latin yang belum lama ini dilaporkan bangkrut akibat pandemi virus corona, disebut berencana membeli flag carrier Italia, Alitalia. Belum jelas berapa mahar yang akan dikeluarkan German, namun, diketahui German sudah lama mengagumi Alitalia, bahkan sejak ia masih menjadi bos besar di Avianca.
Baca juga: Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!
German Efromovich pada dasarnya bukanlah orang dirgantara. Ia lebih dikenal sebagai pengusaha berdarah Kolombia-Bolivia yang memiliki saham terbesar di Synergy Group yang fokus di bidang inudstri dan pertambangan.
Pada tahun 2004, pria kelahiran 1950 itu mencoba peruntungan di dunia dirgantara dengan membeli Avianca. Kala itu, Synergy Group, perusahaan milik German, mengakuisisi 75 persen dari grup maskapai Amerika Selatan itu. Momentum German mengakuisisi Avianca juga tergolong tepat, tak lama setelah perusahaan tersebut mengajukan kebangkrutan Bab 11 saat tengahmemasuki fase reorganisasi setelah krisis industri penerbangan pasca insiden 9/11.
Di bawah kendali German, Avianca perlahan bangkit dan berhasil menempati posisi sebagai maskapai kedua terpenting di Amerika Selatan, di bawah LATAM Airlines Group. Avianca mulai menandai keberhasilannya saat masih bersama German dengan memperluas operasinya di beberapa negara Amerika Latin dan membukan cabang di sana, mulai dari Kolombia, El Salvador, Peru, Argentina, dan Brasil.
Bahkan, di beberapa momen, ada diskusi peluncuran Avianca Mexico, bekerja sama dengan maskapai Meksiko Aeromar. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya, sepanjang hampir satu abad perusahaan berdiri. Mirisnya, kesuksesan itu disebut tak pernah terpikirkan kembali terjadi di bawah kepemimpinan CEO sekarang.
Namun demikian, pada tahun 2018, German Efromovich kehilangan kendali atas Avianca Holdings. Hal itu terjadi setelah United Airlines, salah satu raksasa penerbangan asal AS, meminjamkan US$456 juta kepada Synergy Group. Sejak saat itu, kekuasaan German mulai menipis hingga pada akhirnya tahun lalu, United Airlines memaksa pengambilalihan maskapai dan Efromovich dipecat dari perusahaan penerbangannya sendiri.
Akan tetapi, sebelum dipecat, ia pernah memuji Alitalia. Kala itu, ia mengagung-agungkan Alitalia sebagai perusahaan yang hebat. Namun, ia juga merasa miris mengapa perusahaan sehebat itu bisa tengah terseok-seok dan ia ingin merubahnya, berbekal pengalamannya bersama Avianca.
“Alitalia adalah perusahaan yang hebat. Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa kehilangan uang. Saya bisa mengembalikannya dalam enam bulan. Empat belas tahun yang lalu, saya membeli maskapai penerbangan Kolombia Avianca, ketika memiliki 34 pesawat terbang dan 4.300 karyawan. Saya menyembuhkannya, dan sekarang memiliki 189 pesawat terbang dan lebih dari 22.000 karyawan. Penghasilannya berubah dari US$350 juta menjadi US$4,5 miliar,” katanya, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.
Baca juga: Alitalia Evaluasi Keanggotaan SkyTeam Pasca Dapat Bos Baru
Alitalia sendiri, belum lama ini memang dilaporkan tengah memasuki periode sulit, bahkan sebelum adanya wabah corona. Dengan adanya wabah virus Cina itu, praktis, langkah maskapai untuk bertahan lebih berat lagi. Sadar maskapai pelat merahnya akan bangkrut, pemerintah Italia bergerak cepat. Belakangan, pemerintah Italia dikabarkan telah mengucurkan dana segar sebesar $3 miliar atau setara Rp44 triliun lebih (kurs 14,845).
Disebutkan, untuk sementara waktu, pemeritah Italia akan mengambil alih langsung maskapai yang mempekerjakan sebanyak 6.622 pekerja hingga Oktober tahun lalu itu. Pemerintah akan terus menangani maskapai sampai proses kepemilikan bos baru terhadap maskapai itu selesai dan German Efromovich tengah bersaing di dalamnya. Bila berhasil, bukan tak mungkin era baru Alitalia akan kembali datang, bersamaan dengan ‘tangan’ emas German.
