Bohong Liburan di Bali, YouTuber Cantik Ini Aslinya Hanya Ke Ikea

Berlibur merupakan salah satu hal yang menyenangkan ketika seseorang sudah penat dengan segala aktivitasnya baik bekerja maupun kuliah atau hal lain. Selain itu, ketika berlibur pun banyak foto atau video yang akan di unggah di akun media sosial pribadi milik Anda. Baca juga: Youtuber Asal Jerman Dapat Ancaman Pembunuhan Usai Review Singapore Airlines Namun bagaimana jika foto dan video liburan yang diunggah hanya kebohongan serta di ambil dalam satu tempat yang sama? Seorang YouTuber asal Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, bernama Natalia Taylor, baru-baru ini melakukan kebohongan dan mengatakan dirinya tengah di Bali melalui postingan di akun Instagram-nya. Ini membuat Natalia seperti tengah menikmati liburan dengan perjalanan jauh dan eksotis. Foto yang diunggah pun memperlihatkan dirinya tengah duduk santai di bak mandi mewah. Kemudian berfoto di depan sebuah cermin dengan frame bunga. Dia memposting foto tersebut dengan caption, “Sang ratu telah tiba” dan membuat lokasi di Bali, Indonesia. Ternyata postingan itu semua adalah palsu dan dibuat di sebuah tempat perbelanjaan. Natalia mengakuinya melalui channel YouTube-nya. Dia menjelaskan foto-fotonya diambil di Ikea. “Kadang-kadang orang ingin berbohong tentang siapa mereka? Itu tidak sulit untuk dilakukan,” ujar Natalia dalam videonya di YouTube. Dia mengaku, fotonya diambil oleh fotografer Ally Amodeo di berbagai ruang di Ikea. Set pertama foto menampilkan Natalia di depan cermin frame bunga dan tampak seperti kamar hotel mewah. Saat di foto, dirinya sembari memegang telepon berwarna biru yang menempel di dinding untuk mendapat cerita foto yang bagus. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (23/2/2020), foto berikutnya memperlihatkan Natalia berpose di kursi berjemur dan bak mandi dengan baju mandi putih dan handuk yang membungkus kepalanya seperti habis keramas. Disaat yang sama, dirinya memposting sebuah video singkat di Instastory-nya dengan lokasi Bali, Indonesia. Saat dia mengungah foto di Instagram dengan caption “Sang ratu telah tiba” dan lokasi di Bali, ternyata banyak teman dan penggemarnya yang mengomentari. “Dia benar-benar di sini menjalani kehidupan terbaiknya,” tulis seorang penggemarnya. Sedangkan yang lain mengatakan, “Putri Bali kita.” Bahkan tak hanya itu, beberapa orang pun memperhatikan sesuatu yang salah seperti label harga Ikea di kursi yang terkena pantulan cermin. Namun itu tidak menjadi sebuah masalah, justru mendapatkan puluhan ribu suka. Natalia menjelaskan, bahwa Bali adalah tempat yang sempurna untuk memalsukan liburan influencer dan membohongi semua pengikutnya. Tetapi dia mengaku tidak berusaha menipu mereka hanya untuk mendapatkan uang melainkan untuk menunjukkan sesuatu. “Hari ini lebih mudah untuk menjadi siapa pun yang Anda inginkan. Itu luar biasa! Tetapi dengan kekuatan besar datang tanggung jawab besar. Seperti yang kita semua tahu, tidak semua orang transparan di media sosial. Kita semua bisa menggunakan pengingat yang menyenangkan untuk menganggap media sosial kurang serius. Dan jangan percaya semua yang kamu lihat online,” ungkapnya dalam video di YouTube. Baca juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber! Dia menambahkan, bahwa harus berhati-hati, bahwa influencer yang sedang Anda cintai melakukan perjalanan dunia mungkin tidak akan memberi tahu Anda setiap bagian dari cerita. Ada kemungkinan mereka bahkan tidak pernah meninggalkan rumah sama sekali.

Kisruh di Kabin, Penumpang Kursi Belakang Kesal Pukul Kursi Depan Karena Bersandar

Ketika dapat duduk di kursi paling belakang pesawat, biasanya penumpang hanya bisa terima nasib. Selain tak bisa memundurkan kursi, bisa juga terjebak karena tiba-tiba penumpang di depan memundurkan kursi seenaknya tanpa meminta izin sehingga membuat penumpang di belakangnya tak bisa bergerak sama sekali. Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana Baru-baru ini sebuah video viral di mana seorang penumpang pria dalam penerbangan dengan pesawat milik American Airlines harus merasakan hal tersebut. Pria tersebut duduk di kursi paling belakang dan penumpang wanita di depannya sengaja menyandarkan kursinya ke belakang. Pria yang kesal tersebut memukul sandaran sebagai balasannya, tapi wanita di depannya itu tidak meminta berhenti ataupun memanggil awak kabin. Bahkan seorang warganet yang memposting video tersebut dengan akun @MarinaMarraco mengatakan, bahwa kursi terakhir tidak bisa bersandar. “Dia kesal dan meninju kursi depan tanpa henti. Siapa yang benar?! Siapa yang salah?!” tulisnya di Twitter. Karena hal ini, CEO Delta, Ed Bastian mengatakan, yang tepat dilakukan ketika bersandar adalah bertanya bolehkan memundurkan sandaran. Bila penumpang dibelakang menyetujui mungkin tak masalah. Tak hanya itu, karena masalah ini pun, opini terkait makin menyempitnya ruang kaki antar kursi pun makin menjadi. Bisa dikatakan hampir dua dekade terakhir ruang kaki penumpang dalam kabin pesawat hampir menghilang. Pada awal tahun 2000-an, barisan kelas ekonomi memiliki jarak kursi satu dengan yang lain sekitar 34-35 inci atau 86 cm. Namun kini hanya 30-31 inci dan kadang ditemukan hanya 28 inci untuk penerbangan jarak dekat. Ukuran kursi pun menyempit dari 18,5 inci menjadi hanya 17 inci dan semakin buruk karena masing-masing maskapai mulai mengganti pesawat dengan tempat duduk lebih banyak daripada yang direkomendasikan pabrik. Dirangkum KabarPenumpang.com dari popularmechanics.com (13/2/2020), startup dan peneliti telah membanjiri ruang kursi pesawat, dengan saran yang dapat mengurangi ketidaknyamanan menggunakan teknologi atau “gangguan” dystopian dengan gagasan duduk. Satu kursi yang ringan, tipis, dan dapat dilipat dapat menambah ruang kaki hanya dengan menjadi lebih tipis dan profil lebih rendah daripada kursi yang ada, lebih empuk. Pada tahun 2018, sebuah perusahaan Italia menyarankan “kursi berdiri” yang seharusnya berfungsi seperti pelana di atas kuda. Dalam materi penjualannya, perusahaan bahkan langsung mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mendapatkan lebih banyak kursi dan meningkatkan keuntungan dengan “kepadatan sangat tinggi.” Kursi tersebut dinamai Skyrider, mengisyaratkan getaran rollercoasternya. Kursi pelana yang tegak lurus membuat “pemasangan kursi pada jarak yang lebih pendek, dengan tetap mempertahankan kenyamanan yang memadai.” Baca juga: Untuk Rute Jarak Pendek, Low Cost Carrier Tawarkan Konsep “Standing Seat” Setiap konsep untuk tempat duduk bekerja melawan tekanan besar-besaran maskapai penerbangan untuk terus mengemas lebih banyak kursi ke dalam pesawat yang sama, sehingga solusi untuk masalah-masalah ini adalah semua Band-Aids, bukan cures. Jesse Thorn, pendiri jaringan podcast Maximum Fun, menjelaskan di Twitter bagaimana kursi bersandar ke ruang kaki yang sudah tidak ada.    

Nekat Naik ke Kereta yang Melintas, Pria Ini ‘Berputar-Putar’ Pasrah di Peron

Seorang pria malang harus terputar disekitaran peron stasiun ketika dirinya mencoba naik ke kereta api yang sedang melintas. Dari video CCTV Stasiun Kharagpur-Asansoltrain di Benggala Barat, India, pria itu seperti tertarik kereta dan sempat masuk ke sela-sela peron. Baca juga: Terpleset diantara Peron dan Kereta Api, Kaki Seorang Wanita Harus Diamputasi Kemudian terputar kembali ke atas peron beberapa kali hingga akhirnya seorang polisi yang melihat insiden itu langsung menyelamatkan pria malang tersebut. Untungnya nyawa pria tersebut masih tertolong dan tak lama kereta tersebut berhenti. KabarPenumpang.com melansir laman dailymail.co.uk (25/2/2020), pria yang diputar-putar kereta itu diketahui bernama Dazes Sujoy Ghosh. Saat itu dirinya mencoba naik kereta yang bergerak, namun ragu-ragu hingga akhirnya tergelincir. Pria 44 tahun tersebut untungnya diselamatkan seorang polisi yang langsung menarik kakinya. Dalam insiden yang dialami Sujoy, dia hanya mengalami luka ringan di kepala serta kakinya. Insiden ini mengingatkan kepada seorang penumpang pria tambun asal India yang juga tergelincir dan akhirnya jatuh ke celah peron. Sebalum tergelincir, pria tersebut sempat mengejar kereta dan memegang pegangan di samping pintu kereta sembari berusaha naik. Sayangnya dia tergelincir dan terbentur hingga akhirnya jatuh ke peron. Penumpang lain yang di sekitar peron melihat ke celah apakah pria tersebut selamat atau tidak. Beberapa penumpang mencoba menyelamatkan tetapi gagal karena celah peron yang sempit dan kereta tengah melintas di rel. Untungnya seorang penumpang yang melihat insiden tersebut langsung menarik rem darurat sehingga kereta berhenti. Pria tambun bernama Rakesh Talwar tersebut kemudian diselamatkan pasukan perlindungan kereta api dan membantunya naik ke kereta. Namun usai insiden itu, tidak diketahui, apakah pria itu mengalami luka setelah kecelakaan. Pada April 2019 kemarin, seorang wanita juga tejatuh dari MRT Singapura dan kakinya terperosok ke celah peron di Stasiun Buona Vista. Wanita itu terjatuh ketika kereta penuh karena di dorong penumpang lainnya. Baca juga: Pria Tambun Terpleset Saat Naik Kereta yang Berjalan dan Terjatuh ke Celah Peron Kakinya terperosok masuk dari bagian lututnya di celah peron tersebut. Untungnya petugas lain cepat tanggap dan membantu wanita itu untuk dibawa ke rumah sakit mendapat pengobatan.

Virus Corona Merajalela, Apakah Pelancong Bisa Klaim Asuransi Ketika Terjangkit Saat Berlibur?

Apakah asuransi kesehatan bisa diklaim ketika bepergian keluar negeri? Biasanya ketika seseorang yang memiliki asuransi dan terserang penyakit serta harus dalam perawatan medis, klaim bisa terjadi. Namun bagaimana bila perjalanan ke daerah terjangkit virus corona seperti di Cina, apakah asuransi bisa diklaim? Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC? KabarPenumpang.com merangkum bbc.com (25/2/2020), Foreign and Commonwealth Office (FCO) di Inggris menyarankan semua kecuali perjalanan penting ke Cina Daratan dan semua perjalanan ke Provinsi Hubei. Jadi, jika Anda melakukan perjalanan dan tiba di sana, berisiko polis asuransi dibatalkan meski bisa berdebat bahwa perjalanan itu penting. Meski begitu ketika tiba, perlindungan perjalanan mungkin tidak berlaku di Hubei tetapi harus di Cina Daratan lainnya, apalagi jika kedatangan ada kaitannya dengan keperluan yang penting disana. Tak hanya itu, bagaimana dengan Milan di Italia? Meski Walikota Milan menutup sementara semua sekolah dan universitas sebagai tindakan pencegahan, tetapi saran perjalanan resmi pemerintah Inggris untuk Italia tidak memperingatkan untuk tidak mengunjungi Milan. Di Italia sendiri bahkan beberapa acara besar seperti karnaval Vensia dan pameran buku Bologna dibatalkan karena virus corona yang kadung tersebar.  Namun jika Anda mendarat di Bandara Malpensa Milan, bersiaplah untuk menjalani pemindaian termal untuk memastikan Anda tidak mengalami demam. Tetapi, untuk saat ini setidaknya, maskapai masih akan menjual Anda tiket untuk pergi ke sana, karena penerbangan dari Inggris beroperasi secara normal. Namun, sejumlah maskapai mengatakan mereka akan merekomendasikan ulang penumpang yang ingin mengubah penerbangan ke kota lain di Italia secara gratis. Untuk perjalanan ini, jika FCO belum mengeluarkan peringatan, maka Anda tidak dapat mengharapkan kompensasi dan lebih baik memutuskan untuk membatalkan perjalanan. Su Crown, juru bicara untuk Asosiasi Penanggung Inggris mengatakan, secara umum, penutup pembatalan atau gangguan perjalanan akan aktif ketika FCO menyarankan agar semua perjalanan atau semua kecuali perjalanan penting ke suatu daerah. Dia mengatakan, sebab asuransi perjalanan tidak dirancang untuk mencakup kecenderungan untuk bepergian dimana saran FCO tidak berubah untuk memberi saran terhadap perjalanan. AXA Inggris, merupakan salah satu asuransi perjalanan terkemuka yang setuju dengan hal itu. “Sikap kami konsisten dengan saran perjalanan dari Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran. Ketika FCO menyarankan agar tidak bepergian ke suatu negara atau wilayah, orang-orang yang dipesan untuk melakukan perjalanan di sana harus menghubungi maskapai penerbangan mereka atau penyedia perjalanan untuk membatalkan atau menunda dan mengatur pengembalian uang,” kata Nel Mooy, kepala proposisi perjalanan AXA. Dia mengatakan, para pelancong ini harus menghubungi perusahaan asuransi mereka untuk mendaftarkan klaim. Jika Anda dalam penerbangan ke Italia utara dalam waktu dekat, sepertinya akan beroperasi secara normal. Baca juga: Asuransi Perjalanan, Antara “Wajib” (Untuk Urus Visa) dan Beragam Manfaatnya Departemen Luar Negeri Irlandia mengambil garis yang sedikit berbeda dari pemerintah Inggris. Dimana dikatakan, warga disarankan untuk tidak melakukan perjalanan ke daerah yang terkena dampak. Namun, hal itu menempatkan tanggung jawab pada para pelancong untuk mencari tahu apakah daerah yang mereka kunjungi terpengaruh, menyarankan mereka untuk “berkonsultasi dengan penyedia transportasi dan akomodasi Anda”.

Buat Ibu Hamil, Tak Perlu Khawatir Janin Bermasalah Saat Lewati Pemindai Tubuh di Bandara

Banyak ibu hamil yang bepergian sendiri atau dengan keluarganya masih merasa was-was ketika akan melewati pemindai tubuh (x-ray) di bandara. Mereka takut calon bayi di kandungannya akan terkena radiasi dan menyebabkan masalah di kemudian hari. Baca juga: Saipan Jadi Kota Wisata Melahirkan, Pelancong Wanita Wajib Tes Kehamilan Sebelum Naik Pesawat! Namun ternyata hal itu tak perlu ditakutkan oleh semua ibu hamil yang melewati pemindai tubuh di bandara. Pasalnya alat pemindai di bandara tidaklah berbahaya karena menggunakan radiasi nonionisasi dan backsat x-ray. Pemindai radiasi nonionisasi disebut sebagai pemindai gelombang milimeter dengan menggunakan gelombang radio dan memiliki radiasi yang sama dengan telepon, televisi serta radio. Dirangkum KabarPenumpang.com dari businessinsider.sg (25/2/2020), menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), paparan umum terhadap radiasi non-ionisasi tidak menimbulkan risiko bagi wanita hamil dan bayinya. Ini karena radiasi nonionisasi adalah energi yang lebih rendah daripada radiasi pengion. Di mana berarti bahwa ketika sinar radiasi nonionisasi menyerang tubuh Anda, itu tidak memiliki energi yang cukup untuk merusak sel pada manusia baik anak-anak, remaja, orang dewasa, ibu hamil, dan janin yang ada di dalam rahim. “Energi rendah, radiasi non-ionisasi, tidak menjangkau sangat jauh di dalam tubuh,” kata Andrew Karam, PhD, CHP, seorang profesional keselamatan radiasi bersertifikat. Dia mengatakan, tapi yang lebih penting, itu secara fisik tidak dapat menyebabkan segala macam kerusakan yang dapat menyebabkan cacat lahir atau yang dapat menyebabkan kanker. Sedangkan scanner X-ray backscatter lebih umum digunakan sampai mereka dikeluarkan dari bandara utama AS pada tahun 2012 karena kekhawatiran bahwa gambar yang diungkapkan oleh scanner melanggar privasi wisatawan. Perangkat ini digantikan dengan pemindai gelombang milimeter tetapi masih digunakan di beberapa bandara. Anda dapat memeriksa jenis pemindai di bandara setempat di basis data ProPublica yang dapat dicari. Meskipun ada kekhawatiran, jumlah paparan radiasi dari pemindai backscat belum terbukti cukup tinggi untuk menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia sepertihamil atau yang lainnya. Sebuah studi 2011 di Archives of Internal Medicine memperkirakan risiko kanker dari paparan radiasi dengan pemindai backscatter dan menemukan bahwa risiko terhadap kesehatan “benar-benar sepele.” Para peneliti memperkirakan secara teoritis ada enam jenis kanker yang dapat terjadi di antara 100 juta selebaran selama masa hidup mereka karena paparan dari pemindaian backscatter. “Keenam jenis kanker ini dianggap minimal jika dibandingkan dengan 40 juta kanker yang akan berkembang pada orang-orang ini selama masa hidup mereka karena kejadian kanker yang mendasarinya,” katapara peneliti. Bahkan menurut CDC, janin dengan aman dapat terpapar pada dosis maksimum 100 milisieverts (0,1 Gray) radiasi pengion di setiap titik selama kehamilan tanpa efek kesehatan yang berbahaya. Pemindaian backscatter memaparkan Anda sekitar 0,00003 milisieverts hingga 0,0001 milisieverts atau sekitar kurang dari sepersejuta dari batas yang disarankan CDC. Sebenarnya yang lebih banyak menghadirkan radiasi adalah penerbangan itu sendiri bila dibandingkan dengan alat pemindai tubuh di bandara. Sebab bila di hitung, jumlah radiasi dari satu pemindaian backscatter setara dengan satu hingga tiga menit waktu penerbangan. Tetapi itu tidak berarti Anda juga harus takut terbang. “Tidak mungkin bagi seorang wanita yang melakukan penerbangan terpapar radiasi yang cukup dari penerbangan itu untuk menyebabkan masalah dengan kehamilannya,” kata Karam. Baca juga: Ibu Hamil Berdiri, Penumpang Sehat Duduki Kursi Prioritas di Kereta Jika Anda masih khawatir berjalan melalui pemindai seluruh tubuh di bandara, Anda selalu dapat meminta pat-down, yang akan dilakukan oleh petugas keamanan transportasi wanita.

Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Merespon turunnya jumlah penumpang dan wisatawan mancanegara, Singapore Airlines, sejak beberapa hari terakhir, memutuskan mengurangi frekuensi terbang mereka ke sejumlah kota-kota di dunia. Jumlahnya, tak main-main, mencapai lebih dari 3.000 penerbangan, terhitung mulai Februari hingga akhir Mei. Baca juga: Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines Dikutip KabarPenumpang.com dari laman samchui.com, (26/2), dalam seminggu terakhir, Singapore Airlines (SIA) dan anak perusahaannya, Silk Air, tercatat telah memangkas 674 penerbangan di 70 kota di seluruh jaringan globalnya. Perusahaan melihat bahwa saat ini para travelers dari seluruh dunia tengah menahan diri untuk berbagai rencana perjalanan mereka ke kawasan Asia, mengingat angka pertumbuhan kasus baru yang terkonfirmasi di Asia terus meningkat, seperti di Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Menurut Straits Times, Singapore Airlines sekarang tengah menghadapi kondisi dimana perusahaan mengalami kelebihan tenaga kerja, menyusul turunnya jumlah permintaan dan pembatalan ribuan penerbangan hingga Mei mendatang. Oleh karenanya, tak heran bila perusahaan mengambil langkah lanjutan, berupa pembekuan perekrutan karyawan dan tawaran kepada karyawan untuk cuti secara sukarela atau tanpa dibayar, sekaligus menggunakan hak cuti tahunan mereka. Brendan Sobie, seorang konsultan penerbangan independen, berpendapat bahwa maskapai penerbangan harus mempertimbangkan skema cuti yang tidak dibayar. Dalam komentarnya di Straits Times, ia menjelaskan bahwa Grup SIA sejauh ini memutuskan untuk tidak menawarkan skema cuti yang tidak dibayar, agar pihaknya memiliki cukup kru di lapangan dalam mengoperasikan penerbangan yang ada sekaligus upaya antisipatif bila sewaktu-waktu di beberapa penerbangannya terdapat kasus virus corona. Keputusan ini dinilai dapat menjadi bumerang jika virus corona tidak benar-benar ada. Selain itu, ia juga menyoroti, bahkan mendesak, agar SIA transparan terkait kinerja keuangan selama periode kritis akibarvirus corona ini. Belum lagi pembatalan ribuan penerbangan hingga Mei mendatang, tentu saja kinerja keuangan perusahaan akan memburuk, bila tidak segera mencari alternatif profit lainnya. Akan tetapi, di balik pembatalan ribuan penerbangan ke 70 destinasi di seluruh dunia tersebut, rupanya terdapat hal menarik, yakni terkait pengurangan servis atau layanan kepada pengunjung. Mulai dari penghentian layanan minuman setelah take-off, layanan handuk hangat atau basah, penghapusan bahan bacaan (seatback), hingga penangguhan berbagai layanan ekstra selama di penerbangan. Baca juga: Terdampak Badai Corona, Inilah Alasan Singapore Airlines Mengurangi Frekuensi Penerbangan ke Sejumlah Negara Keputusan ini sebetulnya bukan barang baru, mengingat sekitar dua pekan yang lalu, China Airlines, Mandarin Airlines, dan Cathay Pacific Airways juga memutuskan hal serupa. Bahkan lebih parah, meliputi penghentian layanan makanan panas, selimut, bantal, handuk, majalah, dan koran di dalam pesawat. Namun, bila hal tersebut terjadi pada Singapore Airlines, mungkin menjadi menarik. Sebab, dengan penghentian berbagai layanan tersebut, kini, maskapai dengan layanan full service ditambah segudang prestasi dan reputasi tingginya terebut menjadi hampir tidak ada bedanya dengan maskapai-maskapai berbiaya rendah (dari sisi layanan). Jadi, tak ada salahnya bila sebagian kalangan mengatakan Singapore Airlines turun kelas menjadi LCC atau maskapai berbiaya hemat akibat ‘serangan’ virus corona.

Bandara Hong Kong Kucurkan Rp2,8 Triliun Guna Hadapi ‘Serangan’ Virus Corona

Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) belum lama ini kembali mengumumkan langkah-langkah bantuan lanjutan, sebagai respon serius atas penyebaran virus corona atau Covid-19 dan protes anti-pemerintah yang menggangu operasional bandara. Hingga kini, total kucuran dana yang telah disalurkan angkanya mencapai HK$1,6 miliar atau sekitar Rp2,8 triliun sejak pertama kali dikucurkan pada tahun lalu. Baca juga: Imbas Penumpang Turun Drastis, Bandara Hong Kong Satukan Pelayanan di Terminal Utama Kucuran dana tersebut digunakan untuk mempertahankan ekosistem bisnis yang ada di bandara tersebut, mencakup pemberian konsesi sewa (lahan atau space di bandara) keringanan atau pengurangan biaya dan berbagai bantuan lainnya untuk mengurangi tekanan pada mitra bisnis di HKIA. Lebih spesifik lagi, sasaran penerima bantuan tersebut meliputi gerai ritel, katering bandara, maskapai penerbangan, dan travel agent, baik online maupun offline. Pasalnya, sejak protes anti-pemerintah mulai berkecamuk, perekonomian memang mulai mengalami perlambatan. Sektor pariwisata, yang menjadi andalan pemerintah dalam mendulang uang, sangat terpukul dengan maraknya pembatalan perjalanan. Terlebih massa juga beberapa kali menyegel bandara, stasiun, dan area publik lainnya hingga menyebabkan wisatawan benar-benar lenyap dari HongKong. Hal itu setidaknya terlihat dari penurunan jumlah penumpang di HKIA, yang menjadi gerbang masuknya wisatawan, khususnya mancanegara. Dalam laporan, HKIA, sebanyak 71,5 juta penumpang tercatat bepergian melalui bandara pada 2019, turun sebesar 4,2% dibandingkan dengan 2018. Bila melihat dari angka, memang tidak terlalu besar, namun, persentase tersebut sudah cukup untuk memukul industri penerbangan dalam negeri. Dengan kucuran dana lanjutan yang menyentuh angka Rp 2,8 triliun tersebut, otoritas bandara HongKong (AA) berharap, pihak-pihak terdampak akibat penurunan jumlah penumpang dapat terus bertahan, khususnya selama periode sulit seperti sekarang ini (karena virus corona). “Diharapkan bahwa dua putaran tindakan bantuan akan membantu industri selama periode yang sulit ini,” tulis AA, dalam sebuah keterangan, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com, Selasa, (25/2). Baca juga: Kisruh Tak Kunjung Reda, Bandara Hong Kong Kehilangan 16,2 Persen Penumpang Selain kucuran dana, guna memaksimalkan efesiensi, otoritas bandara juga tengah mempertimbangkan penutupan concourse atau area publik yang terletak di antara dua landasan pacu karena pergerakan penerbangan yanag menurun sekitar dua pertiga. Covid-19 atau virus corona sendiri sejauh ini telah merenggut 2.619 nyawa dan menginfeksi lebih dari 79.000 di seluruh dunia. Sebagai negeri yang bersinggungan langsung dengan Cina (negara endemik penyebaran virus corona), Hong Kong hingga kini telah melaporkan 74 kasus suspect virus corona dan dua kematian.

Usai Diterjang Badai Pasir Berkecepatan 120 Km Per Jam, Bandara di Kepulauan Canary Kembali Dibuka

Setelah diterjang badai pasir berkecepatan 120 kilometer per jam akhir pekan lalu, bandara-bandara di Kepulauan Canary, Spanyol, akhirnya kembali dibuka. Meski demikian, otoritas setempat berharap situasi di wilayahnya dapat benar-benar pulih 100 persen, mengingat, saat ini cuaca masih diselimuti sedikit kabut, angin (berkecepatan rendah), dan hujan ringan, efek dari sisa terjangan badai terburuk dalam 40 tahun terakhir. Baca juga: Badai Ciara Bikin Pesawat Air Europa Turbulensi Parah, Penumpang Muntah-muntah dan Teriak Histeris “Ini menjadi mimpi buruk di akhir pekan. Kami belum pernah melihat peristiwa seperti ini dalam 40 tahun terakhir,” kata Angel Victor Torres, Kepala Pemerintahan setempat, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman ctvnews.com, Selasa, (25/2). Saat ini, lanjut Angel, pihaknya sedang memfokuskan sumber daya yang ada pada kebakaran hutan (yang di dalamnya terdapat cagar alam), tepatnya di Pulau Canaria. Setidaknya, kebakaran hutan yang terjadi di tiga titik di Kepulauan Canary, Spanyol tersebut membuat 2.000 orang terpaksa diungsikan ke Pulau Tenerife (persis di sebelahnya). Sementara itu, dalam tweetnya, operator bandara Spanyol, AENA, mengatakan saat ini delapan bandara sudah mulai beroperasi kembali. Delapan bandara tersebut adalah Bandara Reina Sofia, Gran Canaria Airport, Bandara La Palma, Bandara Internasional Los Rodeos, Lanzaeote Airport, Bandara El Matorral, Bandara El Hierro, dan La Gomera Airport. Dari kedelapan bandara tersebut, sekalipun hanya Bandara Los Rodeos yang menyandang status bandara internasional, namun tiga lainnya juga termasuk dalam kategori bandara besar, dengan trafik tak kalah tinggi, yakni Gran Canaria Airport, Bandara Reina Sofia, dan Bandara La Palma. Baca juga: Dilanda Hujan Badai, Pesawat British Airways Alami Kebocoran di Ruang Kabin! Sebelumnya, kedelapan bandara tersebut memang tak dapat beroperasi akibat terjangan badai terburuk dalam 40 tahun terakhir. Bandara-bandara tersebut terletak di Kepulauan Canary, sekitar 100 kilometer dari barat Pantai Afrika. Dari foto-foto yang beredar, tampak, badai yang membawa serta pasir dari Gurun Sahara di Afrika, membuat langit di tiga pulau besar di Kepulauan Canary tampak berwarna kuning. Hingga kini, belum ada laporan resmi berupa kerugian dan korban jiwa akibat badai pasir tersebut, mengingat kuatnya angin membuat sejumlah fasilitas publik rusak dan puluhan jadwal penerbangan dibatalkan dan 822 penerbangan lainnya tergganggu.

Meski Jauh dari Kesepakatan, GoJek dan Grab Diskusikan Potensi Merger

Dua decacorn Asia Tenggara yakni GoJek dan Grab tengah mendiskusikan potensi merger. Saat ini kedua perusahaan ride hailing dan pengiriman makanan tersebut memiliki nilai masing-masing lebih dari US$10 miliar. Baca juga: Ikuti Jejak GoJek dan Grab, Taksi di Jepang Akan Tetapkan Tarif di Awal Perjalanan Bahkan untuk masalah ini kedua manajemen sudah sering bertemu dalam dua tahun terakhir untuk mendiskusikan tentang merger tersebut. Pada awal bulan Februari ini, Presiden Grab Ming Maa dan CEO GoJek Andre Soelistyo bertemu untuk pembicaraan terakhir. Keduanya juga mengatakan bahwa masih jauh dari kemungkinan kesepakatan. Namun, KabarPenumpang.com melansir dealstreetasia.com (25/2/2020), dalam sebuah laporan dikatakan pemecah kesepakatan potensial akan mengendalikan entitas gabungan. Grab mengatakan kepada investor utamanya, bahwa GoJek menginginkan kesepakatan 50-50 jika merger tersebut terjadi. Seorang eksekutif dari salah satunya mengatakan bahwa sebagai langkah pertama, Grab dan GoJek akan melihat keluar seperti perang harga pada fitur ride hailing dan pengantaran makanan untuk membendung kerugian. Pejabat ini menunjukkan bahwa firma-firma balap tumpuan Ola dan Uber, meskipun secara resmi tidak mengakui hal yang sama, telah masuk ke pengaturan serupa di India, dimana mereka telah mengurangi insentif pengemudi dan juga menaikkan harga selama dua tahun terakhir. Tetapi seorang eksekutif GoJek mengatakan bahwa perjanjian semacam itu untuk mengurangi subsidi bagi pengemudi atau menaikkan harga tidak mungkin karena akan menjadi ‘ilegal’ dan akan mengakibatkan regulator di seluruh wilayah turun berat pada kedua perusahaan  untuk kolusi harga. “Belum ada diskusi seperti itu,” ujar pejabat tersebut. Beberapa investor di atas meja cap Grab dan GoJek juga terbuka untuk merger potensial. Saat ini, keduanya telah memecah ekosistem investor di Asia Tenggara, dengan Visa menjadi satu-satunya investor pada tabel batas kedua perusahaan. Di masa lalu, investor terkemuka dari kedua perusahaan, berspekulasi tentang potensi merger. Sejak didirikan pada 2010, GoJek telah mengumpulkan total lebih dari $3 miliar dalam 12 putaran. Perusahaan saat ini berada di tengah-tengah meningkatkan putaran pendanaan Seri F, yang ditargetkan untuk mengumpulkan total modal sekitar $2,5 miliar. GoJek membuat penutupan pertamanya pada Januari tahun lalu (dengan sedikit lebih dari $1 miliar) yang dipimpin oleh investor yang ada Google, JD.com dan Tencent, dengan partisipasi dari Mitsubishi Corporation dan Provident Capital. Jumlah yang dihimpun dari para investor tidak diungkapkan tetapi transaksi mematok penilaian perusahaan pada $9,5 miliar saat itu. Grab, sementara itu, telah mengantongi total dana lebih dari $9 miliar dalam 29 putaran. Terakhir diumumkan dana adalah investasi $300 juta tahun lalu dari investor yang ada Invesco Ltd., sebuah perusahaan manajemen investasi independen global, yang masuk ke putaran Seri H perusahaan yang sedang naik daun yang ditargetkan pada $6,5 miliar. Investor dalam putaran tersebut termasuk Toyota Motor Corporation, Dana Oppenheimer, Hyundai Motor Group, Booking Holdings, Microsoft Corporation, Ping An Capital, dan Yamaha Motor. Pekan lalu, Grab mengatakan Bank MUFG Jepang berencana untuk berinvestasi hingga 80 miliar yen ($727 juta). Laporan yang mengutip sumber mengatakan bahwa kedua perusahaan akan membentuk kemitraan yang bertujuan untuk pertumbuhan lebih lanjut di Asia Tenggara, menawarkan layanan baru seperti pinjaman dan asuransi melalui aplikasi smartphone. Baca juga: Mau Saingi GoJek dan Grab, Gaspol Hadir dari Depok Grab akan mengungkap putaran pendanaan minggu ini, yang mencakup kesepakatan MUFG Bank, dan juga menambahkan pemain lain ke dalam topinya. Sebuah sumber industri mengatakan bahwa Grab telah meraup lebih dari $1 miliar sejak terakhir diumumkan pada bulan April lalu bahwa ia melakukan super-sizing Seri H menjadi $6,5 miliar.

Pernah Ngeluh Kabin Panas Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Penjelasannya

Kebanyakan maskapai kerap membuat takjub penumpang saat pertama kali menginjakkan kaki di dalam kabin, dengan pemandangan kepulan asap (dari pendingin udara) yang menyelimuti seisi kabin. Sebaliknya, di beberapa kondisi, kadang kala, saat pertama kali masuk ke dalam kabin, penumpang sudah ‘dihadiahi’ hawa panas oleh maskapai. Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat! Kondisi-kondisi tersebut, bila ditelusuri, terjadi hampir di banyak negara di dunia. Bahkan, hampir tak ada yang menyangkal kalau kejadian tersebut bisa saja terjadi di seluruh negara (penerbangan) yang ada di dunia. Hal itu setidaknya menjadi pertanda, bahwa permasalahan hawa hangat atau panas di dalam kabin sebelum pesawat lepas landas, bukan semata permasalahan maskapai, melainkan juga disebabkan oleh faktor lainnya. Diwartakan KabarPenumpang.com dari kantor berita usatoday, Selasa, (25/2), seorang kapten pilot US Airways yang juga konsultan keamanan penerbangan di beberapa perusahaan, Jhon Cox, coba menjawab berbagai keluhan pelanggan. Dalam pengamatannya, keluhan-keluhan tersebut sebetulnya lebih didasari oleh permasalahan efisiensi (teknis), yang erat kaitannya dengan servis maskapai kepada pelanggan atau penumpang. Artinya, keluhan yang dialami bisa saja berbeda-beda, bergantung pada maskapai. Sebagai contoh, ketika pesawat delay karena satu dan lain hal, sangat normal bila pilot mematikan mesin dan menggunakan Auxiliary Power Unit (APU) untuk listrik dan pendinginan. Hal ini untuk menghemat bahan bakar, mengurangi emisi, dan tentu saja menghemat uang. Jika tidak (mematikan mesin) selama menunggu izin lepas landas, mungkin pesawat perlu kembali ke apron untuk mengisi bahan bakar. Selain itu, pada umumnya, penyediaan bahan bakar juga disiapkan untuk pengalihan (penerbangan) ke bandara alternatif, ditambah beberapa cadangan. Jadi, pilot memang memiliki wewenang untuk itu. Konsekuensinya, tentu saja pada pelayanan. Lagi-lagi, bila berkaitan dengan pelayanan, maskapai tentu sangat hati-hati. Bisa saja beberapa maskapai mengambil opsi lain, tetap menyalahkan mesin agar kabin tetap sejuk sekalipun tingkat efisiensi rendah. Namun hal tersebut tak seberapa karena di beberapa maskapai, penumpang sudah membeli tiket dengan harga selangit. Jadi, berbanding lurus dengan layanan yang didapatkan. Bila maskapai (melalui pilot) tetap memilih untuk mematikan mesin, atas berbagai pertimbangan di atas, maskapai tetap bisa menjaga kondisi kabin untuk tetap sejuk, demi kenyamanan pelanggan. Caranya, dengan menambah APU lebih dari biasanya. Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV Akan tetapi, Jhon Cox juga menyoroti faktor lain di luar efisiensi yang juga membuat kabin terkadang terasa hangat atau panas sebelum pesawat lepas landas. Menurutnya, tak seperti sistem pendingin udara di mobil, sistem pendingin udara di pesawat memadukan unsur udara panas dan dingin untuk mencapai suhu yang diinginkan. Jadi, terlepas dari pendingin ruangan, di dalam pesawat sendiri memang ‘sengaja’ diciptakan hangat hangat untuk mencapai suhu yang diinginkan. Terkait hal ini, sepertinya maskapai cenderung tak dapat menghindarinya karena berkenan dengan sistem, kecuali maskapai memiliki sistem pendingin kabin tersendiri, bukan sistem bawaan dari pesawat.