Di beberapa gambar atau video di media sosial atau di internet, sering kali kita menemukan tampilan kokpit pada umumnya dalam kondisi gelap. Kemudian, sebagian dari kita berpikir bahwa gambar atau video yang beredar tersebut diambil saat malam hari. Mungkin ketika siang hari kokpit dalam keadaan terang benderang. Pemikiran tersebut mungkin ada benarnya, meskipun tak sepenuhnya benar.
Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, konsep kokpit gelap atau Dark Cockpit Concept, adalah bagian dari desain untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan oleh pilot dan kopilot. Dark Cockpit Concept juga masih menjadi bagian dari konsep Human-Centered Cockpit, yakni sebuah konsep yang bertujuan untuk menunjang efektivitas pilot dan kopilot serta mengurangi beban kerja keduanya.
Dengan dasar itu, kokpit pun dibuat gelap. Lantas, apa hubungannya kokpit dalam keadaan gelap dengan menunjang efektivitas kerja sekaligus mengurangi beban kerja keduanya? Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin tidak terlalu mudah, namun demikian bisa dimulai dari warna lampu yang ada di dalam kokpit terlebih dahulu.
Di dalam kokpit pesawat, dengan begitu banyaknya tombol yang harus diperhatikan, sebab semuanya tergolong penting, setidaknya pilot dapat menyederhankan permasalahan tersebut ke dalam enam warna. Putih berarti sistem mati, kuning berarti kegagalan sistem, merah berarti darurat, hijau berarti sistem aktif dan dioperasikan secara otomatis, biru berarti sistem aktif dan dioperasikan secara manual, serta hitam yang berarti sistem beroperasi normal.
Dari warna-warna tersebut, kru kokpit dapat dengan mudah mengidentifikasi permasalahan dan membuatnya lebih efektif, sebab, lagi-lagi, pilot cukup sibuk untuk memperhatikan begitu banyak tombol di beberapa panel, mulai dari navigation unit, flight information unit, hingga central unit, yang dari ketiganya terdapat turunan indikator yang sangat banyak.
Dalam sebuah makalah keluaran Japan Aircraft Development Corporation pada gelaran International Congress of the Aeronautical Sciences ke-24, pada bagian ketiga atau Cockpit Design Overview, disebutkan, filosofi desain kokpit setidaknya terdapat tiga unsur. Pertama, pesawat harus senantiasa berada di bawah kontrol pilot dan kopilot dan menjadikannya (pesawat) sebagai pelayan dan pilot serta krunya menjadi pemberi kerja. Jadi, bila disederhanakan, filosofi pertama bisa dibilang desain kokpit harus menjadikan pilot dan kopilot sebagai raja.
Ilustrasi Awak Kokpit. Sumber: Istimewa
Kedua, pilot cukup sibuk. Artinya, Informasi harus diberikan kepada pilot hanya bila diperlukan saja, pada waktu yang tepat, dalam format yang memadai. Nah, maka dari itu dibuatlah Dark Cockpit Concept atau kokpit dalam kondisi gelap. Bila tidak ada lampu indikator bahaya yang menyala (di antara enam lampu indikator sebagaimana yang telah dijelaskan di atas), maka pilot dan co-pilot dapat memaksimalkan perhatiannya ke panel lain.
Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!
Ketiga, kemampuan manusia sangat terbatas. Oleh karena itu dibuatlah sesederhana dan seintuitif mungkin untuk memberikan pilot dan co-pilot situasi kerja yang nyaman. Adapun Dark Cockpit Concept bagian dari meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan manusia dengan segala keterbatasannya.
Di samping berbagai penjelasan di atas, mungkin, Dark Cockpit Concept juga bisa dikaitkan dengan keseharian kita. Misalnya, kabin di dalam mobil. Pada umumnya, ketika mengendari mobil, seseorang lebih cenderung menginginkan berkendara dalam kondisi kabin gelap. Lantas, terlepas dari aturan perundangan-undangan tentang lalu lintas, bagaimana dengan Anda, apakah lebih cenderung berkendara dalam kondisi kabin gelap atau sebaliknya?
Virus corona atau Covid-19 yang kini sudah mulai menginfeksi manusia di penjuru dunia mendatangkan ketakutan tersendiri pada masyarakat. Pasalnya sudah ratusan ribu orang terjangkit virus dan ribuan orang meninggal karena virus corona ini.
Baca juga: Militer Jepang Siapkan Kapal Ferry untuk Karantina Masyarakat Terinfeksi Virus Corona
Seperti baru-baru ini, ketakutan yang dialami penumpang kereta di Jepang yang tiba-tiba menekan tombol darurat setelah ada yang batuk tanpa menggunakan masker. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (20/2/2020), kereta akhirnya berhenti di Stasiun Befu kota Fukuoka dan tertunda beberapa menit.
Insiden yang terjadi pada Selasa (18/2/2020) kemarin, terjadi sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Biro transportasi kota Fukuoka mengatakan, seorang penumpang di kereta dengan empat gerbong yang bepergian antara Stasiun Tenjin-minami dan Hashimoto di jalur Nankuma menekan tombol pemberitahuan darurat.
Pria penekan tombol tersebut melaporkan ada seorang penumpang yang batuk dan tidak menggunakan masker. Karena hal ini, masinis dan kepala stasiun mau tak mau bergegas ke gerbong tersebut setelah kereta berhenti di Stasiun Befu.
Saat itu terlihat dua orang berdebat melangkah keluar peron karena masalah batuk tanpa mengenakan masker. Kepala stasiun kemudian menenangkan keduanya dan mulai berdamai setelah pertengkaran tersebut.
Akibat insiden ini, kereta terlambat tiga menit dari yang semestinya. Seorang pejabat dari biro transportasi mengatakan bahwa orang-orang berada di ujung atas virus corona dan mendesak penumpang di kereta untuk memakai topeng dan mempraktikkan kebersihan serta etiket saat batuk atau bersin, tetapi menyarankan mereka untuk tidak menekan tombol darurat atas insiden tersebut.
“Kami ingin meminta orang untuk menahan diri dari menekan tombol pemberitahuan darurat hanya karena ada seseorang tanpa topeng. Kami menyerukan pada penumpang untuk menunjukkan sopan santun ketika mereka batuk, dan ingin mempublikasikan ini lebih,” kata pejabat biro transportasi.
Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!
Diketahui, satu kapal pesiar Princess Diamon berisi sekitar 3500a orang yang terdiri dari penumpang dan awak kapal sempat dikarantina selama kurang lebih 14 hari. Dua diantaranya meninggal setelah terinveksi virus di kapal pesiar. Virus ini awalnya dari provinsi Wuhan di Hubei, Cina dan membuat kota itu di karantina di mana penduduknya tidak ada yang boleh keluar atau masuk untuk menghindari penularan virus corona lebih lanjut.
Ketika hendak bepergian dengan pesawat, sering kali kita melihat rombongan pramugari berlalu-lalang di bandara. Umumnya, mayoritas dari mereka membawa banyak barang bawaan, entah satu atau dua koper. Demikian juga dengan pilot, mereka tak kalah membawa banyak barang bawaan dengan para bidadari pesawat tersebut.
Baca juga: Duh, Pilot ANA Lupa Bawa Lisensi Terbang Ketika Bertugas!
Akan tetapi, mungkin di antara kita pernah bertanya-tanya, sebetulnya apa sajakah barang bawaan pilot tersebut sampai sebanyak itu (satu atau bahkan dua koper)? Dikutip KabarPenumpang.com dari laman thrustflight.com, Senin, (24/2), berikut 10 daftar barang bawaan yang lazim dibawa oleh pilot.
1. Headset (dengan baterai ekstra jika perlu)Tak bisa dipungkiri, pilot hampir sangat bergantung padanya. Sangat jarang ditemukan pilot menerbangkan pesawat tanpa bantuan headset. Sejauh ini, memang belum terdapat kasus tertundanya penerbangan akibat pilot lupa membawa headset.
2. iPad dengan aplikasi ForeFlight
Jika ditanya, aplikasi apa yang diperlukan pilot, barangkali ForeFlight adalah salah satunya. Pilot di seluruh dunia hampir pasti bergantung padanya, untuk membantu merencanakan penerbangan, grafik, cuaca, informasi bandara, manajemen dokumen, pencatatan penerbangan, synthetic vision, dan banyak lagi. Aplikasi tersebut adalah buatan salah satu anak perusahaan Boeing.
3. Pilot’s kneeboard (lengkap dengan pena dan kertas)
Setiap pilot harus memiliki pena dan kertas di dekatnya untuk menuliskan instruksi dan frekuensi di papan tulis. Selain itu, kneeboard juga biasanya disandingkan (bolak-balik) dengan iPad. Sangat memudahkan kru kokpit.
4. Makanan ringan dan air
Berada di ketinggian lebih dari 10.000 kaki membuat tubuh tidak berada dalam kondisi terbaik. Oleh sebab itu, makanan ringan dan air minum mungkin menjadi salah satu daftar bawaan wajib pilot untuk membantu mengembalikan stamina tubuh. Meskipun, bila terlupa, bisa saja meminta disajikan ini itu oleh awak kabin.
5. Chargeran iPad dan baterai cadangan
Mengingat pentingnya iPad, sebab di dalamnya terdapat aplikasi yang memudahkan kerja pilot, maka, iPad harus dipastikan tetap hidup hingga turun landas. Akan sangat merepotkan bila iPad kehabisan baterai sebelum pesawat turun landas dan di saat yang bersamaan pilot tidak membawa chargeran atau bahkan tidak membawa baterai cadangan.
6. Kacamata hitam sunglasses
Kacamata hitam anti silau tersebut menjadi salah satu daftar bawaan pilot bukan untuk gaya-gayaan, melainkan menjadi salah satu kebutuhan, khususnya pada penerbangan di siang hari.
7. Lisensi pilot dan medis
Perlengkapan ini mungkin tidak banyak menyita ruang di dalam bagasi atau koper pilot sebelum terbang. Namun, bila tertinggal, akibatnya fatal. Beberapa tahun lalu, pesawat Oman Air sempat tertahan hampir dua jam karena co-pilot tidak membawa ini.
8. Penguji bahan bakar dengan obeng
Sama dengan lisensi pilot, tester bahan bakar dan obeng memang tidak banyak memakan kapasitas bagasi. Namun, bila tertinggal, mungkin bisa cukup merepotkan. Pasalnya, dengan penguji bahan bakar dan obeng 4 arah, atau alat obeng reversibel, pilot dapat memeriksa kualitas bahan bakar sebelum terbang.
Baca juga: Demi Perlakuan Istimewa dari Maskapai, Pria India Menyamar Jadi Pilot Lufthansa9. Perlengkapan ekstra
Pilot mungkin butuh perlengkapan tambahan mana kala sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi. Perlengkapan tersebut seperti lampu senter, kompas, dan kotak P3K. Bisa juga untuk dipertimbangkan membawa lampu darurat atau suar yang otomatis aktif saat berada di dalam air.
10. Radio Dua Arah Cadangan
Pesawat tanpa radio, mungkin akan sangat kerepotan. Tapi jangan khawatir, pesawat pasti sudah dilengkapi radio komunikasi dua arah dengan petugas di darat. Namun, bagaimana bila sistem komunikasi bawaan di pesawat putus? Itulah pentingnya radio cadangan, agar komunikasi bisa tetap terjaga.
Menjadi seorang awak kabin, khususnya pramugari banyak sekali aturan yang harus diikuti. Selain tidak boleh memakai kacamata, mereka juga harus memiliki postur tubuh dengan dengan berat badan ideal. Namun tidak semua maskapai menerapkan aturan menggunakan Body Mass Index (BMI) untuk menentukan seseorang memiliki tubuh yang proporsional atau tidak.
Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh
Sayangnya, Malaysian Airlines menggunakan pedoman BMI untuk menentukan seorang pramugari kelebihan berat badan atau tidak. Karena hal ini lima orang pramugari harus dipecat karena memiliki berat badan berlebih.
Salah satu pramugari yang dipecat adalah Ina Meliesa Hassim yang sudah bekerja untuk maskapai milik Negeri Jiran tersebut selama 25 tahun. Ina di pecat pada September 2017 lalu karena gagal mencapai berat badan ideal sesuai dengan perawatan perusahaan.
KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (23/2/2020), lima awak kabin yang dipecat karena kelebihan berat badan itu berusia diatas 50 tahun dan mereka telah bekerja untuk maskapai asal Malaysia tersebut lebih dari 20 tahun.
“Karena alasan inilah perusahaan mempertimbangkan umpan balik yang diterima dari pelanggan kami pada citra kru dan bahkan penampilan awak kabin telah dimasukkan sebagai salah satu atribut dalam survei pengalaman penerbangan penumpang dan yang dilacak setiap bulan,” tulis maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan.
Maskapai mengatakan, awak kabin diminta untuk mencapai BMI atau Indeks massa Tubuh dalam kisaran sehat. Karena Tinggi Ina 160 cm maka, berat maksimum yang diizinkan adalah 61 kg. Namun ketika dilakukan penimbangan, tercatat berat badannya 61,7 kg.
Padahal maskapai mengatakan, Ina dan awak kabin lainnya sudah diberi banyak kesempatan untuk mencapai bobot yang dibutuhkan. Mereka juga mengklaim bahwa Ina telah gagal menghadiri beberapa penimbangan resmi.
Adanya pemecatan ini, kemudian membuat Ina mengadukannya ke pengadilan industri dan pengacaranya berpendapat bahwa maskapai penerbangan internasional lainnya seperti Lufthansa, British Airways dan KLM tidak menggunakan BMI untuk menentukan kelebihan berat badan dan tidak ada risiko keselematan yang ditemui.
Mereka juga berpendapat bahwa kelebihan berat badan satu kilogram tidak cukup untuk menghentikan Ina melakukan perannya secara efektif. Namun, pengadilan memihak Malaysia Airlines menyimpulkan bahwa perusahaan dapat menentukan kebijakan manajemen beratnya sendiri tanpa mempertimbangkan aturan yang diikuti oleh maskapai lain.
Diputuskan juga bahwa kebijakan itu tidak diskriminatif karena berlaku untuk semua anggota awak kabin secara setara. Namun, para peneliti mengklaim BMI adalah cara yang tidak akurat dan menyesatkan untuk menentukan apakah seseorang kelebihan berat badan.
Baca juga: Berat Badan Dianggap Berlebih, Awak Kabin Ini Ajukan Tuntutan ke Maskapai
Para peneliti di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania menemukan bahwa BMI tidak memperhitungkan massa otot, kepadatan tulang, komposisi tubuh secara keseluruhan, dan perbedaan ras dan jenis kelamin. Diketahui, Malaysia Airlines ini telah menerapkan program manajemen berat badan pada Oktober 2015 untuk “mempertahankan citranya sebagai maskapai penerbangan premium”.
Singapore Airlines (SIA) Group memutuskan untuk mengurangi frekuensi penerbangan globalnya hingga Mei mendatang. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah lanjutan yang diambil perusahaan akibat virus corona, setelah sebelumnya membekukan rute dari dan ke Cina serta Hong Kong.
Baca juga: Diterjang Corona dan ‘Ditinggalkan’ Pelancong Asal Cina, Sektor Pariwisata Singapura Mulai Goyang
Dalam pengumuman yang dipublikasikan di situs webnya, SIA menyediakan tautan ke daftar penerbangan yang akan terpengaruh oleh keputusan tersebut. Tujuan utama yang terkena dampak pengurangan frekuensi penerbangan itu termasuk Frankfurt, Jakarta, London, Los Angeles, Mumbai, Paris, Seoul, dan Sydney.
Anehnya, padahal, dari beberapa rute tersebut, seperti Jakarta, London, Los Angeles, Mumbai, Sydney, dan Paris, angka kasus virus corona di negara-negara tersebut belum terlalu signifikan. Tentu, kabar pengurangan frekuensi penerbangan ke rute-rute tersebut terkesan tak masuk akal.
Akan tetapi, menurut pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, penutupan rute ke negara-negara tersebut justru sangat masuk akal. Setidaknya, ada tiga hal mendasar yang cukup signifikan.
“Begini, meskipun negara-negara tersebut (Frankfurt, Jakarta, London, Los Angeles, Mumbai, Paris, Seoul, dan Sydney) tidak terdampak langsung virus corona, tapi ada beberapa hal yang mendasar, Singapura kan sekarang menjadi negara keempat angka pertumbuhan kasus (virus corona) terbesar, pasti orang kan agak takut mau ke Singapura kan,” katanya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Senin, (24/2).
Hal itu, lanjutnya, tentu sangat berbanding lurus dengan pengurangan frekuensi terbang ke Singapura, yang didasari ketakutan atau kekhawatiran para calon penumpang akibat masuknya Singapura sebagai negara terbesar keempat perkembangan kasus virus corona.
Di samping itu, Singapura, yang notabene menjadi transit utama di Asia tersebut, layaknya Dubai atau Qatar yang menjadi titik transit utama di Timur Tengah, membuat penumpang menghindari terbang lewat Singapore Airlines. Jadi, sudah penumpang menghindari negaranya (karena perkembangan kasus virus corona di negaranya), penumpang juga menghindari maskapainya akibat statusnya sebagai titik transit utama di Asia.
Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi
“Jadi itu tadi yang pertama (Singapura sebagai negara terbesar keempat perkembangan kasus virus corona), selanjutnya karena Singapura itu kan connection transitnya bagus ya, itu pasti sangat berpengaruh, orang pada menghindari Asia kan, pada males lewat Asia,” tambahnya.
Selanjutnya, pengamat penerbangan yang memulai profesinya dari kecintaannya terhadap dunia aviasi itu juga menyoroti kemungkinan maskapai yang tergabung dalam SIA Group tersebut untuk memaksimalkan rute lainnya. Menurutnya, hal itu kemungkinannya cukup kecil, mengingat demand yang ada juga tergolong menurun, di samping maskapain Singapore Airlines sendiri saat ini memang cenderung dihindari oleh penumpang.
ID Buzz EV Microbus dengan dengan platfom VW Combi merupakan konsep yang diluncurkan VolksWagen (VW) tahun 2017 lalu. Saat ini konsep tersebut sudah dalam proses produksi dan model yang menginspirasinya masih menggunakan bahan bakar minyak untuk berjalan.
Baca juga: Volkswagen SEDRIC School Bus, Kendaraan Otonom dengan Balutan “Bus Sekolah”
ID Buzz EV Microbus ini juga adalah gagasan membuat penggerak emisi nol dan bukanlah hal baru yang dibuat oleh VW. Sebab, perusahaan asal Jerman tersebut sudah mulai berekperimen dengan beberapa prototipe listrik sejak tahun 1970-an silam.
(www.autoblog.com)
Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman autoblog.com (20/2/2020), hal ini kemudian membuat VW menemukan beberapa prototipe yang tersisa dan pernah dibuat 48 tahun lalu. Bahkan dengan beberapa prototipe tersisa ini, pihak VW akan menyoroti bagian yang tidak jelas dari masa lalu pada Maret 2020 ini.
Saat ini, VW mulai meneliti cara-cara listrik bisa tersambung ke model Beetle dan Bus tahun 1970 lalu. VW bahkan mendirikan sub-dvisi dalam departemen tekniknya dan menugaskan pengembangan powertrain listrik yang dapat menggantikan flat-empat berpendingin udara yang mendukung kedua model.
Bisa dikatakan, tugas ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, sebab tak satu pun kendaraan yang dirancang dengan kemasan baterai besar. Bus yang luas lebih lurus ke depan untuk dikonversi daripada Beetle.
Setelah memperkenalkan prototipe berbasis Bus pertama di Hanover Trade Fair 1972, VW mulai membangun model dalam jumlah yang sangat terbatas dan meletakkannya di tangan kotamadya untuk pengujian dunia nyata. Contoh yang baru saja bergabung dengan koleksi warisan perusahaan dibangun pada tahun 1972, dan pertama kali terdaftar pada tahun 1978 ke kota Divisi Saluran Air Berlin.
Pejabat kota mendirikan stasiun bertukar baterai di distrik Tiergarten di mana mekanik dapat mengeluarkan baterai yang habis dan menggantinya dengan unit baterai yang terisi penuh dalam waktu sekitar lima menit. Lembar spesifikasi mengungkapkan seberapa jauh teknologi listrik telah muncul sejak tahun 1970-an.
Bus menggunakan paket baterai 21,6 kilowatt per jam yang menghasilkan jarak sekitar 53 mil. Motor listrik Bosch yang dikembangkannya mengembangkan hingga 43 horsepower, meskipun outputnya stabil di 21, bersama dengan torsi 118 pon-kaki.
Spesifikasi ini sangat ketinggalan zaman pada tahun 2020, namun powertrain sangat inovatif untuk era ini, bahkan menampilkan sistem pemulihan energi kinetik yang menendang ketika pengemudi menginjak rem. Tidak ada yang pernah menyebut saham VW Bus cepat, tetapi prototipe listrik membawa kelambatan ke tingkat yang baru.
Beratnya hampir 4800 pound, dibandingkan dengan sekitar 2.600 untuk model flat-four-powered, sehingga kehabisan tenaga sekitar 46 mph. VW mencatat bahwa itu dapat diterima karena tidak dirancang untuk penggunaan jalan raya.
Prototipe Bus listrik akan berjemur di bawah lampu terang di acara Techno Classica, sebuah acara yang didedikasikan untuk mobil klasik, yang berlangsung di Essen, Jerman, pada akhir Maret. Kemudian akan bergabung dengan armada model klasik VW, yang juga mencakup Bus serupa yang dilengkapi dengan turbin gas 75 horsepower eksperimental.
Baca juga: Lebih Fleksibel dan Ramah Digital, Volkswagen Rilis Logo Baru
Ini bukan untuk dijual, dan begitu juga model Volkswagen yang baru saja dirubah dengan baru-baru ini dilengkapi dengan drivetrain e-Golf, tetapi varian pengangkutan orang dan kargo dari konsep ID Buzz dijadwalkan memasuki produksi di Jerman pada tahun 2022.
Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), saat ini tengah menggodok peraturan yang memungkinkan para pedagang kopi keliling (dalam hal ini menggunakan sepeda yang biasanya beroperasi di sekitaran Monas) di tahun-tahun mendatang menggunakan sepeda listrik.
Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung
“Kita juga ingin kendaraan-kendaraan listrik yang berbasis sepeda ini memberikan kesempatan, memberikan kemudahan bagi pedagang-pedagang yang sekarang ini menggunakan sepeda,” kata Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, usai membuka acara Focus Group Discussion (FGD) Personal Mobility Devices (PMD) untuk Transportasi First Mile and Last Mile, Jumat, (21/2), di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta.
Pasalnya, selama ini, lanjut Budi, umumnya mereka hanya mampu mengayuh sejauh lima kilometer. Oleh karenanya, Kemenhub meminta hal tersebut untuk dibahas lebih lanjut dengan banyak pihak, mulai dari ahli, kepolisian, hingga customer.
Nantinya, pemerintah akan bekerja sama dengan banyak koperasi untuk memudahkan para pedagang kopi keliling tersebut mendapatkan sepeda listrik tadi, baik berupa cicilan tanpa bunga ataupun skema kepemilikan lainnya.
Bila terwujud, para pedagang tersebut tidak berarti dapat melenggang di jalan raya sambil berkeliling mencari pelanggan begitu saja. Saat ini aturannya masih dalam proses pembahasan dengan para pihak terkait, seperti kecepatan yang disarankan di bawah 25 kilometer per jam, menggunakan helm, bobot maksimal, dimensi PMD, registrasi kendaraan di kepolisian, hingga usia pengendaranya (dalam hal ini pedagang) yang minimal harus berusia 12-15 tahun.
Di samping itu, faktor-faktor keselamatan juga tak luput dari perhatian pemerintah kepada para pedagang kopi keliling tersebut. Seperti misalnya, indikator keselamatan saat berjualan di malam hari, jalur yang boleh digunakan, entah itu di jalan raya, di trotoar, ataupun bergabung bersama jalur sepeda konvensional.
Rencana untuk mendorong para pedagang kopi keliling menggunakan sepeda listrik itu sendiri adalah bagian dari rencana pemerintah untuk mendorong penggunaan kendaraan jenis personal mobility devices berbasis tenaga listrik atau bisa juga dikatakan bagian dari first miles dan last miles, yang penggunannya untuk transportasi.
Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya
Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiadi, menjelaskan bahwa personal mobility devices yang dimaksud ada empat jenis, yakni skuter listrik, hoverboard, otoped listrik, dan unicycle scooter. Berbeda dari sepeda motor listrik, keempat jenis kendaraan PMD tersebut saat ini belum memiliki payung hukum yang jelas dan masih terus dikomunikasikan jalan keluarnya.
“Sementara kita empat jenis yang belum tertampung dalam regulasi kita, dalam UU 22, tapi sekarang sudah dikembangkan lebih lanjut di Indonesia dan sudah dipakai juga. Ya mungkin ini kita harus memayungi bagi penggunannya dan juga bagi pabrikannya,” ujarnya.
Tepat hari ini, 22 Februari 1987, Airbus A320 berhasil memulai era baru pesawat komersial narrowbody atau lorong tunggal bersama Air France. Setelah memasuki era millenium pun, pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan handel dan sistem hidrolik tersebut pun akhirnya resmi menggeser dua generasi Boeing sekaligus, yakni 727 dan 737.
Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, keberhasilan A320 dalam melampaui dua generasi Boeing sekaligus mungkin adalah sebuah keniscayaan. Dalam head to head melawan Boeing 727, sekalipun saat itu tengah merajai pasar, Airbus A320 jauh lebih unggul dari sisi teknologi yang sudah menggunakan sistem kontrol berbasis digital, dibanding Boeing 727 yang masih menggunakan sistem analog.
Kemudian, saat head to head dengan 737, dilihat dari segi jarak tempuh yang mampu dilakoni oleh masing-masing pesawat, Airbus A320 bisa dibilang mengungguli Boeing – mungkin ini adalah salah satu strategi Airbus untuk menggeser posisi Boeing. Sementara jika dilihat dari load capacities keduanya, Airbus pun juga mengungguli Boeing, dimana rata-rata penumpang yang dapat diangkut oleh Boeing 737 hanya berkisar 160 penumpang, sedangkan Airbus dengan A320-nya unggul dengan angka rata-rata 185 penumpang.
Bila dilihat dari segi lahirnya kedua pesawat, Boeing memang jauh lebih dahulu ada (first flight pada 9 April 1967) dibanding Airbus A320 (first flight pada 19 April 1988), selisih hampir 20 tahun. Tak heran jika Airbus memang diproyeksikan untuk menggoyang pasar narrowbody global, yang sebelum kelahirannya (Airbus A320) dikuasai sepenuhnya oleh Boeing 727 dan 737 (seri 300, 400, dan 500).
Menurut pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, sebetulnya kelahiran dan kedigdayaan A320 tak lepas dari berakhirnya masa kejayaan Boeing 757, yang menyandang predikat sebagai pesawat narrowbody tertangguh di dunia. Kala itu (saat berakhirnya masa kejayaan Boeing 757 pada 2003 silam), maskapai-maskapai di seluruh dunia khawatir dan mencoba mencari ‘pelarian’ ke pesawat dengan spesifikasi sejenis, bahkan lebih modern. Dengan berbagai keunggulannya, dari sisi teknologi, efisiensi bahan bakar, dan load capacities, A320 akhirnya dipilih menjadi primadona baru di pasar narrowbody global.
Terbukti, tak lama setelah Boeing menghentikan produksi 757, Airbus A320 berhasil mencatatkan namanya sebagai pesawat penumpang jet komersial yang paling cepat terjual berdasarkan catatan tahun 2005 hingga 2007 serta menjadi penjualan terbaik pesawat generasi (lorong) tunggal.
Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Boeing 757 Terbang Perdana Saat Berkecamuk Krisis Minyak Global
Meski demikian, sejarah hadirnya A320 yang diproyeksikan untuk menggeser dominasi Boeing di pasar narrowbody, baik 737 generasi klasik (seri 300, 400, dan 500) maupun generasi modern (600, 700, 800, dan 900) bukanlah tanpa rintangan. Sama seperti Boeing 757 kompetitor tak resminya, Airbus A320 dikembangkan saat dunia tengah memasuki krisis minyak global, dimana harga minyak dunia saat itu menjadi mahal.
Akan tetapi, rupanya hal tersebut justru menjadi berkah buat kelahiran A320. Betapa tidak, dengan harga minyak global melambung tinggi, A320, yang merupakan serangkaian evolusi dari studi Joint European Transport (JET), pada akhirnya berhasil membuat A320 mengkonsumsi bahan bakar 50% lebih sedikit daripada 727, membuatnya jadi lebih menarik, melengkapi inovasi teknologi lainnya yang tertanam di A320.
Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, tengah mengusulkan adanya penurunan harga tiket di tengah ancaman profit lost akibat virus corona. Penurunan tiket tersebut dimungkinkan bila harga avtur diturunkan kembali.
Baca juga: Pemerintah Dorong Pemberian Insentif kepada Maskapai Akibat Virus Corona, Pertanda Industri Penerbangan Lampu Kuning?
“Saya memang menambahkan, apabila ada diskon yang dilakukan oleh penerbangan, dengan menurunkan avtur, maka itu akan lebih maksimal,” jelas Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, di sela-sela acara Focus Group Discussion (FGD) Personal Mobility Devices (PMD) untuk Transportasi First Mile and Last Mile, Jumat, (21/2), di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta.
Saat ini, pihaknya mengaku sudah berkomunikasi dengan sejumlah pihak, di antaranya dengan Menteri BUMN Erick Tohir dan Menteri ESDM Arifin Tasrif untuk mendapatkan rekomendasi terhadap harga avtur.
Dengan adanya harga avtur yang lebih kompetitif, lanjutnya, maka perusahaan aviasi atau maskapai-maskapai penerbangan bisa memiliki opsi menurunkan harga tiket. Jadi, dengan adanya penurunan harga dan insentif, tentu akan signifikan.
Meskipun belum ada keputusan apapun, mantan Dirut Angkasa Pura II tersebut membayangkan bahwa penurunan tarif avtur bisa ditekan hingga 15-20 persen. Dengan begitu, kombinasi dari penurunan harga avtur dan insentif yang diberikan bisa membuat tiket ikut turun hingga 15 persen.
“Caranya (menyikapi kondisi maskapai penerbangan akibat penutupan rute dari dan ke Cina) Kemenko Perekonomian sudah menyarankan dua hal, satu menetapkan harga baru dan melakukan re-balancing. Nah, kira-kira nanti efeknya ke harga tiket 15 persen,” jelasnya.
Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody
Hanya saja, Menhub mengaku penurunan tarif tiket sebesar 15 persen tersebut hanya berlaku untuk rute-rute tertentu saja. Adapun rute-rute yang dimaksud masih dalam proses pembahasan dengan sejumlah pihak.
Bila tidak ada halangan, hari Senin sore, Menhub akan melaporkan ke presiden, disusul dengan diumumkannya regulasi-regulasi baru. Tentu saja regulasi yang hendak diumumkan tersebut sudah terlebih dahulu dirapatkan dengan para menteri lainnya, seperti Menteri PUPR, Menteri Sosial, Menteri Pariwisata, dan Menteri BUMN.
Setelah sukses terbang terbatas di Singapura pada Oktober 2019 lalu, Volocopter kian dekat saja dengan pasar di Asia Tenggara. Salah satu buktinya, penyedia layanan on-demand Grab menggandeng Volocopter untuk menguji kelayakan layanan taksi udara di seluruh Asia Tenggara. CEO Volocopter, Florian Reuter mengatakan, adanya studi kelayakan tersebut untuk mengeksplorasi kemungkinan uji penerbangan bersama.
Baca juga:Sukses di Jerman Hingga Dubai, Giliran Volocopter Unjuk Gigi di Singapura
Selain itu juga sekaligus meneliti rute di kota mana yang cocok untuk penggunaan taksi udara di Asia Tenggara. Nantinya setelah uji coba, taksi udara ini akan dievaluasi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Florian mengatakan, kerja sama tersebut merupakan langkah penting menuju komersialisasi Urban Air Mobility di salah satu kawasan paling macet di dunia.
“Bersama-sama kita akan belajar dari wawasan ya ng belum pernah terjadi sebelumnya tentang peluang ekonomi dan sosial di rute terpanas di Pasar Asia Tenggara,” ujar Florian.
Dia menyebutkan, kolaborasi ini juga akan melihat potensi untuk kerja sama yang jauh lebih besar dan pada akhirnya dapat memperluas mobilitas antar moda transportasi udara. CEO Grab Venture Chris Yeo mengatakan, pihaknya sudah mengumpulkan pola lalu lintas dan wawasan pelanggan di wilayah tersebut yang dapat membantu tim menghasilkan solusi mobilitas paling inovatif untuk menyambungkan destinasi transportasi.
Saat uji coba di Singapura, Volocopter berhasil mengudara selama kurang lebih dua menit – atau satu menit lebih cepat ketimbang yang diiklankan oleh pihak perusahaan. Ini bukan lantaran masalah teknis, melainkan karena faktor cuaca yang tidak mendukung saat uji coba. Adapun uji penerbangan di Singapura dilakukan oleh seorang pilot di dalamnya. Kendati demikian, nantinya moda-moda udara modern semacam ini akan berjalan secara otonom alias nirawak.
“Kemitraan ini akan memungkinkan Volocopter untuk lebih mengembangkan solusi mobilitas udara perkotaan yang relevan bagi komuter Asia Tenggara sehingga mereka dapat memutuskan pilihan perjalanan yang mereka pilih berdasarkan anggaran, kendala waktu dan kebutuhan lainnya, dengan cara yang mulus,” jelas Chris.
Volocopter menargetkan, penerbangan komerisal akan dimulai pada 2022 mendatang di mana penumpang nantinya bisa terbang dari satu Voloport ke Voloport lainnya. Bahkan mereka juga menargetkan sudah akan memiliki puluhan Voloport pada 2035 di Singapura.
Volocopter juga berharap di 2035 akan mampu mengangkut sepuluh ribu penumpang per harinya. Taksi udara dengan dua tempat duduk ini dirancang khusus untuk penerbangan di dalam kota dan akan tetap stabil bahkan dengan turbulensi mikro di sekitar gedung pencakar langit.
Taksi udara yang terlihat seperti helikopter itu dapat beroperasi dengan membawa penumpang dengan berat hingga 160 kg, dan menempuh jarak hingga 30 km, dengan kecepatan tertinggi sekitar 100 km per jam dan akan jauh lebih nyaman daripada helikopter.
Baca juga:Soal Taksi Udara, Inilah Serangkaian ‘PR’ yang Kudu Diselesaikan Volocopter
Selain Grab, Uber berencana meluncurkan layanan taksi terbang pada 2023. Startup berbagi tumpangan (ride hailing) berkolaborasi dengan sejumlah mitra, termasuk Volocopter. Banyak perusahaan teknologi yang berupaya meluncurkan layanan serupa. Namun, beberapa di antaranya gagal atau molor dari tenggat waktu.
Volocopter mengembangkan helikopter listriknya sejak 2011, helikopter listrik ini beroperasi dengan teknologi drone dengan lepas landas dan mendarat secara vertikal atau Electric vertical take-off and landing (eVTOL), bahkan sudah diuji coba terbang melewati Dubai, Helsinki, Las Vegas dan Stuttgart.