Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Seiring berjalannya waktu, dunia penerbangan memang mulai bergerak maju. Mulai dari teknologi pendukung keselamatan penerbangan hingga teknologi terbarukan untuk mendukung kelangsungan bumi tempat kita berpijak. Baca juga: Peduli Lingkungan dan Manfaatkan Energi Terbarukan, Bandara Oslo Jadi Yang “Terhijau” di Dunia Dilansir dari laman edition.cnn.com, Kamis, (20/2), sebetulnya, di Bandara Zurich, Swiss, sudah ada bahan bakar terbarukan yang dapat menyuplai pesawat. Namun, kendala logistik, harganya yang mencapai 3-4 kali lipat dari bahan bakar konvensional, serta ekosistem bisnis pendukungnya yang belum tersedia, membuat maskapai belum bisa beralih sepenuhnya dari bahan bakar konvensional. Agar lebih lengkapnya, berikut lima alternatif pengganti bahan bakar fosil terbarukan untuk pesawat. 1. Listrik Pesawat listrik saat sejak tahun 1970 sebetulnya sudah dikembangkan oleh banyak pabrikan di dunia. Namun demikian, lagi-lagi, ada konsekuensi yang harus dibayar. Bila menggunakan pesawat listrik, beban dan durasi penerbangan harus lebih kecil dari pesawat berbahan bakar cair atau fosil. Paul McElroy, pimpinan tim komunikasi untuk Boeing 777 ecoDemonstrato, pernah mengatakan, dengan menggunakan SAF niscaya dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca bersih hingga 80%. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang melepaskan karbon serta meningkatkan jumlah CO2 di atmosfer. Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3% dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan. Dari sekian banyak pabrikan pesawat, Airbus adalah raksasa dirgantara pertama yang menerapkan SAF pada pengiriman pesawat ke para pelanggannya. Hal itu adalah bagian dari komitmen Airbus dalam program Initiative Towards sustAinable Kerosene for Aviation (ITAKA) yang bertujuan untuk mempercepat komersialisasi SAF di Eropa. Airbus mengaplikasikan SAF tersebut dengan mengangkut komponen rakitan besar, seperti bagian sayap dan badan pesawat, menggunakan Super-Transporter Beluga. Pesawat tersebut sudah menggunakan bahan bakar pesawat berkelanjutan, berasal dari minyak goreng daur ulang. Diharapkan hal ini akan mengurangi emisi CO2 sekitar 120 metrik ton per bulan dari proses penyatuan perakitan, kira-kira setara dengan yang dikeluarkan sekitar 130 mobil. 2. Tembakau, sampah, dan gula Elemen kunci dari pengembangan bahan bakar baru ini, kata McElroy, membuat bahan bakar tersebut “turun”. Dengan kata lain, ia harus memiliki komposisi kimia yang hampir identik sebagai bahan bakar berbasis minyak sehingga dapat diaplikasikan di pesawat terbang yang ada.
Sumber: istimewa
Saat ini, Boeing bekerja dengan produsen mesin dan maskapai penerbangan untuk mendapatkan sertifikasi berkenaan dengan metode produksi pertama bahan bakar berkelanjutan. Langkah itu adalah sebuah tindakan prasyarat sebelum regulator seperti FAA dapat mensertifikasi untuk digunakan pada penerbangan komersial. Selain itu, Boeing juga mendukung mitra di enam benua untuk meneliti, mengembangkan, dan mengkomersialkan sumber-sumber SAF. Sumber-sumber ini termasuk tanaman yang tumbuh di padang pasir di Uni Emirat Arab dan tembakau bebas nikotin di Afrika Selatan, dan minyak yang dikonversi menjadi biofuel. Selain itu, limbah pertanian di Cina dan tebu yang ditanam khusus di Brasil adalah dua sumber lain yang Boeing bantu kembangkan untuk produksi SAF. Tahun lalu, penerbangan komersial pertama menggunakan SAF yang diproduksi di UEA, yakni Etihad Airways dengan menggunakan Boeing 787, berhasil lepas landas dari Abu Dhabi dan mendarat di Amsterdam. Bahan bakar untuk penerbangan itu berasal dari minyak di pabrik Salicornia, yang ditanam di pertanian air laut seluas dua hektar di Kota Masdar, Abu Dhabi. 3. Nuklir Nukllir sebagai alternatif pengganti fosil mungkin dahulu adalah saah satu cara terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu, nuklir justru dinilai tidak cukup ramah lingkungan karena limbahnya yang sulit untuk diurai. Hal tersebut setidaknya bisa dilihat dari pabrik pengolahan limbah nuklir yang hanya ada tiga di dunia, yang menandakan bahwa limbah nuklir sulit diolah karena butuh waktu ratusan tahun untuk membuat kadar radioaktifnya menjadi ramah lingkungan. 4. Black bag waste Dengan SAF saat ini digunakan pada kurang dari 1% dari penerbangan komersial, teknologi inovatif, dan berbagai jenis bahan baku (lokal) mulai muncul untuk membantu meningkatkan jumlah itu. November lalu misalnya, Shell Aviation mengumumkan bahwa mereka akan mendukung pengembangan pabrik produksi SAF yang disebut DSL-01, di Delfzijl, Belanda. Proyek ini dipimpin oleh SkyNRG, pemasok SAF Belanda, dan diproyeksikan beroperasi pada tahun 2022, yang menjadikannya pasokan bahan bakar penerbangan alternatif berskala industri pertama di Eropa. Pabrik tersebut akan menghasilkan 100.000 metrik ton bahan bakar setiap tahun, yang berasal dari aliran limbah dan residu, seperti minyak goreng bekas yang bersumber dari industri regional. Pengurangan karbon juga dibantu oleh lokalisasi produksi SAF relatif di mana ia akan digunakan. Selain itu juga akan dikembangkan SAF dari limbah kantong plastik hitam atau black bag waste. Baca juga: Mau Gusur Airbus dan Boeing, Perusahaan Amerika Bikin Pesawat Listrik untuk Kurangi Pemanasan Global 5. Limbah kayu Teknologi ini, kata Velocys, akan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 70% untuk setiap metrik ton bahan bakar jet berkelanjutan yang menggantikan satu metrik ton bahan bakar fosil konvensional – setara dengan mengambil hingga 40.000 mobil dari jalan setiap tahunnya. “Proyek ini memiliki manfaat lingkungan tambahan karena mengurangi residu kayu di hutan, yang dapat meningkatkan potensi bahaya kebakaran dan menghambat pertumbuhan pohon di masa depan,” kata Graeme Burnett, senior VP of fuel management Delta Airlines.

Imbas Penumpang Turun Drastis, Bandara Hong Kong Satukan Pelayanan di Terminal Utama

Bandara Internasional Hong Kong saat ini sudah mulai bersiap-siap menggabungkan semua penerbangan yang dilayaninya ke dalam bangunan Terminal Utama. Ini akan membuat pertemuan baru yang terletak di antara dua landasan pacu ketika penerbangan ke dalam dan luar kota turun dua pertiga dari biasanya. Baca juga: Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong Penurunan jumlah penumpang ini dikarenakan virus corona atau yang dikenal dengan Covid-19. Hal ini membuat otoritas bandara berusaha untuk sementara menutup gedung yang dikenal sebagai concourse lini tengah meski tidak ada keputusan akhir yang dicapai karena diskusi dengan pemangku kepentingan yang terdampak seperti para pengecer. KabarPenumpang.com melansir laman scmp.com (20/2/2020), karena hal ini juga banyak fasilitas utama yang juga mulai memindahkan layanan ke gedung terminal utama. Diketahui, penyewa utama concourse adalah Hong Kong Airlines. Mereka saat ini sudah memangkas jumlah penerbangan harian yang biasanya mengoperasikan 40 penerbangan, kini hanya 15 penerbangan. Pada Rabu (19/2/2020), Hong Kong Airlines bahkan mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 170 karyawannya. Concourse ini terletak ditengah-tengah HKIA dengan bentuk bangunan persegi panjang yang futuristik dan terhubung dengan 20 jembatan pesawat. Bangunan tersebut dibuka tahun 2015 dengan biaya HK$10 miliar untuk memenuhi permintaan yang melonjak bagi penerbangan di seluruh wilayah. Sekitar setengah dari fasilitas tersebut sekarang digunakan untuk memarkir jet yang tidak beroperasi. Jumlah harian penerbangan penumpang yang terbang masuk dan keluar dari Hong Kong telah turun dari 1050 menjadi sekitar 340, dengan lebih banyak pemotongan penerbangan diharapkan dalam beberapa minggu mendatang. Pada hari Rabu, HKIA menangani 160 penerbangan penumpang yang berangkat, mungkin yang terendah sejak wabah sindrom pernapasan akut (Sars) tahun 2003, ketika perjalanan udara masuk dan keluar Hong Kong terhenti. Kejadian di HKIA ini setara dengan Bandara Santos Dumont di Rio de Janeiro, Brasil, yang menangani 161 penerbangan penumpang pada hari yang sama. Bandara kedua di Rio itu biasanya menangani rata-rata tahunan 8,9 juta penumpang, sementara Hong Kong biasanya melihat 71,5 juta. Hong Kong Airlines, yang didukung oleh HNA Group, memiliki 14 keberangkatan yang dijadwalkan dari Hong Kong pada hari Kamis, namun demikian menyusut sehingga sekarang menjadi maskapai lokal terkecil. Sementara itu, HNA group diambil alih oleh pemerintah Hainan, provinsi pulau utama Cina selatan dan aset maskapai penerbangannya sedang diukir di antara pembawa “tiga besar” negara yang lebih aman secara finansial yakni Cina Selatan, China Eastern dan Air China. Pada hari Selasa, HKA menutup ruang tunggu bandara Club Autus di pusat lapangan tengah “hingga pemberitahuan lebih lanjut” dan fasilitas penumpang transitnya dipindahkan ke terminal utama. Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody Pekan lalu, para pejabat bandara di Hong Kong melakukan mothball pada terminal annex yang lebih kecil, concourse satelit utara, yang memiliki ruang untuk delapan jet narrowbody, ketika Cathay Pacific Group memangkas kapasitasnya sebesar 30 persen hingga akhir Maret

Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Virus corona yang mulai tersebar di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019, membuat banyak orang yang bepergian kini menggunakan masker. Mungkin hal ini terlihat biasa apalagi ketika naik pesawat ketika rute penerbangan dari Cina belum sepenuhnya di tutup dari dan ke negara lain. Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody Namun ada hal yang aneh dalam sebuah penerbangan dari Cina ke Australia beberapa waktu lalu. Di mana penumpang bukannya menggunakan masker untuk menutup hidung dan mulut, tapi menggunakan halm full face. Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (29/1/2020), penumpang yang menggunakan helm tersebut terpotret dalam sebuah foto dan diunggah ke media sosial sehingga membuatnya viral. Foto tersebut terlihat penumpang tengah tidur menyandarkan kepalanya yang tertutup helm ke jendela. Tak hanya itu, kaca helmnya pun menutupi muka sehingga penumpang itu tidak dapat teridentifikasi dengan jelas wajahnya. Penumpang dengan helm tersebut naik pesawat China Eastern tujuan ke Australia yang tiba di Bandar Perth pukul 09.30 pagi pada Rabu (29/1/2020). Seorang pelancong bernama Marina Jambrina asal Spanyol mengatakan, ketika dirinya naik pesawat dari Shanghai tidak melihat siapa pun di bandara tanpa masker. “Ada satu orang yang memakai helm sepeda motor,” kata penumpang lain bernama John Fu. Fu mengatakan bahwa dia harus memastikan putranya tidak melepas maskernya karena dia terus berusaha melepasnya selama penerbangan. Sebagaimana telah menjadi norma untuk penerbangan yang tiba di Australia dari Cina, penumpang juga diberikan lembar informasi yang merinci cara mereka dapat menjaga diri mereka aman dari virus. Penumpang dari Cina juga disuruh tetap duduk setelah mendarat saat petugas bermasker menyemprotkan pesawat. Menurut para ahli, mengenakan masker bukanlah cara yang paling efektif untuk menghindari terkena virus. “Masker wajah memainkan peran yang sangat penting dalam pengaturan klinis, seperti rumah sakit. Namun, ada sangat sedikit bukti manfaat luas dari penggunaannya di luar pengaturan klinis ini. Masker wajah harus dipakai dengan benar, sering diganti, dilepas dengan benar, dibuang dengan aman dan digunakan dalam kombinasi dengan perilaku kebersihan universal yang baik agar efektif,” ujar Dr Jake Dunning, Kepala Infeksi Berkembang dan Zoonosis, Kesehatan Masyarakat Inggris. Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV Dia mengatakan, penelitian juga menunjukkan bahwa kepatuhan dengan perilaku yang direkomendasikan ini berkurang dari waktu ke waktu ketika memakai masker wajah untuk waktu yang lama. Orang yang khawatir tentang penularan penyakit menular akan lebih baik untuk memprioritaskan kebersihan pribadi, pernapasan, dan tangan yang baik. Bahkan, mencuci tangan dikatakan jauh lebih bermanfaat daripada memakai masker.

Kehilangan Barang Saat di Jepang? Jangan Panik, Cari ‘Koban’ Terdekat dan Bertanyalah Pada Polisi

Ketika ke Jepang dan kehilangan barang sepertinya tak perlu panik dan khawatir. Sebab, kemungkinan besar barang Anda akan kembali. Bukan hanya tas, payung, dompet tetapi ponsel pun bisa kembali ke sang empunya ketika hilang di taksi maupun kereta. Diketahui dan presentase barang-barang itu kembali lebih tinggi. Seperti laporan baru-baru ini dimana 83 persen ponsel hilang di Tokyo dan akhirnya kembali kepada pemiliknya. Baca juga: Tas Terkena Minyak dan Barang Hilang, AirAsia Hanya Ganti Rungi Rp103 Ribu Dirangkum KabarPenumpang.com dari citylab.com (10/2/2020), pengembalian barang-barang tersebut biasanya dimulai dari kantor polisi kecil yang disebut dengan koban. Koban ini sendiri tersebar sebanyak 6300 di seluruh Jepang dengan lokasi yang strategis. Di seberang kota metropolitan Tokyo yang luas, lebih dari 4,1 juta barang hilang diserahkan kepada polisi pada tahun 2018, jumlah ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di seluruh negeri, 26,7 juta objek dilaporkan hilang pada 2015. Dompet dan payung adalah barang paling umum yang dibagikan, bersama dengan uang tunai. Catatan rekor setinggi 3,8 miliar yen dilaporkan pada 2018, tiga perempat dari jumlah itu akhirnya kembali ke pemiliknya. Di Tokyo, setelah petugas mengisi laporan di koban tentang barang yang hilang dan identitas penemu, lebih lanjut tentang itu nantinya barang tersebut disimpan di kotak polisi selama satu bulan sebelum dikirim ke Lost Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo yang baru saja direnovasi. Center yang terletak di Bunkyo Ward di ibukota, adalah fasilitas enam lantai yang menampung 900 ribu barang hilang, termasuk ruang seluas 7100 kaki persegi yang didedikasikan khusus untuk payung. Pada 2018, 343.725 payung atau hampir delapan persen dari semua barang yang hilang diserahkan. bahkan di hari hujan, polisi mungkin menerima tiga ribu payung. Setelah di Center, setiap item dicatat dengan cermat dan diperiksa untuk mengidentifikasi informasi pribadi yang mungkin membantu menghubungi pemilik yang sah. Pusat ini juga mengoperasikan situs web untuk barang hilang dan ditemukan dalam bahasa Jepang yang dapat dicari melalui katalog. Jika, setelah tiga bulan, pemilik yang sah tidak dapat ditemukan, kepemilikan sebagian besar barang dapat dikembalikan kepada orang yang menemukannya, atau kepada pemerintah kota. Untuk beberapa barang yang tidak diklaim, seperti pakaian, alat musik, dan alat tulis, pemerintah daerah dapat menjual barang tersebut kepada pedagang grosir, yang mengadakan penjualan pop-up matsuri sepanjang bulan. Stasiun kereta api di Jepang salah satu titik tempat penemuan barang dan pengembalian barang hilang. Ketika barang diberikan kepada petugas stasiun, mereka akan membuat pengumuman penemuan barang hilang selama dua minggu, dan nantinya setelah itu akan diserahkan ke pihak kepolisian. Menurut angka yang dikeluarkan oleh Perusahaan Kereta Api Sagami, 85.043 barang diserahkan kepada staf stasiun pada tahun 2018 (sekitar seperempat dari mereka adalah payung). Dari barang-barang ini, 31,4 persen akhirnya menemukan jalan kembali ke pemiliknya yang sah, meskipun jumlah pengambilan payung yang rendah biasanya diklaim kurang dari satu persen. Namun, sistem yang hilang dan ditemukan yang tersetel dengan baik, tidak dapat ada hanya pada infrastruktur. Membina budaya yang menekankan pengembalian properti yang hilang juga diperlukan, dan di Jepang, ini adalah pelajaran yang dimulai sejak usia muda. Dalam sebuah posting Twitter yang sekarang viral, seorang wanita bernama Keiko menceritakan bagaimana putranya yang muda menemukan koin 50 yen di sebuah taman di wilayah Hokuriku Jepang. Anak itu bersikeras menyerahkan uang yang nilainya kurang dari 50 sen Amerika Serikat di sebuah koban terdekat. Pada awalnya, Keiko khawatir reaksi apa yang akan diperoleh anak berusia enam tahun dari petugas yang bertugas, tetapi tanggapan polisi mengejutkannya, “Beberapa petugas keluar [dari koban], bertanya di mana dan kapan koin itu diambil, dan mengisi dokumen resmi [hilang dan ditemukan] ”dan memuji putranya. Keiko memuji sekolah putranya atas tindakannya. “Anak-anak diajarkan di sekolah pembibitan dan taman kanak-kanak untuk mengembalikan barang-barang yang ditemukan ke koban,” katanya. Dia juga memuji tanggapan petugas. “Putraku baru berusia enam tahun, tetapi mereka memperlakukan kekhawatirannya sebagai orang dewasa.” Memang, tidak jarang di Jepang mendengar cerita tentang anak-anak kecil yang menyerahkan koin kecil atau pernak-pernik kepada polisi, yang kemudian dengan patuh mengisi laporan yang hilang dan ditemukan. Pemberitahuan publik dari polisi juga secara berkala dirilis untuk meyakinkan orang tua bahwa anak-anak yang mengembalikan barang yang hilang nominal tidak membebani petugas. Undang-undang properti Jepang berperan dalam ketahanan budaya negara untuk mengembalikan barang yang hilang sebuah kisah New York Times dari tahun 2004 menyebutkan kode hukum yang ditulis pada tahun 718. Baru-baru ini, Undang-Undang Properti Yang Hilang yang Diubah Jepang mulai berlaku pada tahun 2007, mengamanatkan bahwa mereka yang menemukan barang yang hilang mengembalikannya ke pemiliknya, ke polisi, atau ke otoritas lain yang ditunjuk, seperti stasiun kereta. Undang-undang yang diamandemen ini awalnya berasal dari undang-undang properti yang hilang sejak tahun 1882, yang terkait erat dengan kodifikasi hak-hak properti yang lebih luas yang terjadi selama Periode Meiji. Untuk penemu, Pasal 28 hukum memberikan hadiah lima hingga 20 persen dari nilai barang yang dikembalikan, dalam kasus di mana ia disatukan kembali dengan pemiliknya. Baca juga: Barang Bagasi Penumpang Umrah Hilang? Jangan Khawatir Ada yang Siap Ganti dengan US$1000 Untuk barang yang tidak diklaim, penemu berhak memiliki kepemilikan setelah tiga bulan berlalu, kecuali barang-barang seperti ponsel atau barang yang berpotensi mengidentifikasi informasi. Namun, para pencari diizinkan untuk menolak hadiah dan / atau tetap anonim.

Hilangkan Kursi Tengah di Kereta Berkecepatan Tinggi, Texas Train Berharap Beroperasi di 2026

Kereta api berkecepatan tinggi di Amerika sepertinya akan mulai terlaksana tepatnya di Texas. Kereta ini akan dioperasikan oleh Texas Central yang mana menyebutkan mereka akan menggunakan kereta Shinkansen N700S dan sudah dimodifikasi. Baca juga: Mengekor Kesuksesan Cina, Anggota Kongres AS Canangkan Strategi Kereta Cepat “Green New Deal” Kereta berkecepatan tinggi ini akan mengular di jalur dari Dallas (Texas Utara) menuju ke Houston. Untuk membuat penumpang nyaman, Texas Central bahkan merincikan tampilan pertama dari kereta tersebut di mana salah satunya adalah menghilangkan kursi bagian tengah sehingga hanya akan ada dua kursi berjajar.
Gambar konfigurasi kereta berkecepatan tinggi Texas (dmagazine.com)
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dmagazine.com (18/2/2020), berikut ini rincian tampilan pertama interior kereta cepat tersebut yakni tata ruang akan memberikan kenyamanan pelancong dengan kehadiran ruang kaki ekstra di bandingkan pesawat. Selain itu akan ada dua kelas layanan dengan konfigurasi kursi 2-2 dan 2-1. Dengan konfigurasi seperti ini, kursi penumpang akan menjadi lebih lebar dan memiliki ruang kaki yang lebih lebar dibandingkan dengan kursi di pesawat. Bahkan kursi penumpang nantinya juga bisa dimudurkan atau (reclining seat) dan ini tidak akan mengganggu penumpang di belakang karena jarak antar kursi yang cukup lebar. Kehadiran WiFi gratis juga nantinya akan memberikan kenyamanan bagi penumpang yang akan berselancar di media sosial. Tak hanya itu, lorong di setiap mobilnya pun akan lebih besar dan memungkinkan kursi roda melintas di antaranya. Bila dibandingkan dengan pesawat, Texas Central mengatakan, setiap penumpang tak perlu menggunakan sabuk pengaman dan mematikan ponsel mereka di lokomotif. Kereta ini juga akan dilengkapi dengan jendela yang ukurannya dua kali lebih besar dari jendela pesawat. Texas Central mengklaim bahwa perjalanan yang sebelumnya menempuh waktu 4,5 jam dengan kereta berkecepatan tinggi Shinkansen generasi baru ini hanya akan memakan waktu kurang dari 90 menit diantara dua kota tersebut. Kereta ini juga nantinya tidak banyak berhenti dan hanya akan ada beberapa stasiun yakni di Houston dan Dallas Fort Worth serta sebuah stasiun tambahan di Lembah Brazoz.
Layout Texas Train (dmagazine.com)
Rencananya Texas Central akan memulai konstruksi kereta tersebut tahun ini sembari menunggu persetujuan federal. Mereka mengatakan, jika semuanya berjalan sesuai rencana, layanan komersial kereta berkecepatan tinggi itu diharapkan akan beroperasi penuh pada 2026 mendatang. Baca juga: Wow! Las Vegas dan Los Angeles Terhubung dengan Kereta Cepat di 2023 Saat ini diketahui, perusahaan sudah menandatangani kontrak prakonstruksi dengan anak perusahaan Kiewit Corp. Kereta api berkecepatan tinggi diproyeksikan menghasilkan $36 miliar dalam manfaat ekonomi di seluruh negara bagian selama 25 tahun ke depan, menciptakan sepuluh ribu pekerjaan langsung per tahun selama konstruksi puncak dan 1500 pekerjaan permanen ketika sepenuhnya operasional.

East Japan Railway Hadirkan Aplikasi “Train’ing,” Mudahkan Penumpang Berolahraga Dalam Kereta

Tidak sempat berolahraga ketika pulang kerja atau ketika liburan karena dipenuhi dengan tugas rumah? Sebenarnya tak jadi masalah dan bahkan banyak aplikasi yang membantu untuk menyehatkan tubuh meski dengan cara sederhana dalam berolahraga. Baca juga: Cuma Squat 20 Kali, Penumpang Bisa Naik MRT Singapura Gratis Baru-baru ini East Japan Railway berkolaborasi dengan klub kebugaran Jepang Jexer meluncurkan aplikasi untuk memudahkan penumpang kereta olahraga. Aplikasi bernama Train’ing ini dikembangkan oleh McCann Health yang mengubah penumpang naik kereta tidak hanya menjadikannya moda transportasi perpindahan dari satu tempat ke yang lainnya, tetapi juga tempat untuk berolahraga. Train’ing memanfaatkan kekuatan teknologi geofencing di kereta area Tokyo untuk memandu penumpang melalui latihan mental dan fisik di mana mereka berada dalam perjalanannya. Panduan untuk penumpang langsung disambungkan dengan audio ponsel pintar mereka. KabarPenumpang.com melansir laman thedrum.com (28/1/2020), aplikasi ini berkoordinasi dengan suar yang dipasang di gerbong kereta untuk menyediakan program pelatihan yang optimal untuk setiap pengguna tergantung pada waktu perjalanan, lokasi naik dan status kemacetan kereta. Riwayat pelatihan pengguna divisualisasikan dalam aplikasi menggunakan grafik dan lencana, memotivasi penggunaan dan perjalanan yang berkelanjutan. Sebelum memulai olahraga dengan aplikasi Train’ing ini, penumpang harus memasukkan lokasi dan data pengangkutan. Sebab, semua latihan yang akan diberikan pada penumpang melalui aplikasi akan menggunakan fasilitas kereta seperti tiang ataupun tali pegangan. McCann Health mengatakan, pembuatan aplikasi tersebut dikembangkan di bawah pengawasan programmer dan instrukut kebugaran profesional. Aplikasi tersebut mengambil bagian biasa dari kehidupan sehari-hari bagi mereka yang tinggal di Tokyo dan mengubahnya menjadi peluang untuk manajemen kesehatan yang lebih baik. Kampanye ini baru saja diluncurkan tunggu saja untuk melihat dampaknya. Tak hanya Jepang, sebelumnya di Singapura penumpang bisa naik MRT secara gratis setelah melakukan 20 squat dalam waktu 40 detik. Saat itu, SMRT tengah melakukan kampanye dengan perusahaan asuransi Prudential yang mendorong warga Singapura tetap sehat seiring bertambahnya usia. Tiket gratisnya pun hanya bisa dipakai sekali di hari yang sama. Baca juga: Israel Railways Hadirkan Sepeda di Stasiun untuk Mudahkan Akses Penumpang Saat itu di Singapura ada beberapa titik untuk melakukan squat tersebut yakni di Stasiun MRT Tampines, City Hall dan beberapa lainnya. Kampanye tersebut bisa diikuti penumpang dengan tinggi badan minimum 1,2 meter.

Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350

Menyusul dua insiden yang menyebabkan matinya mesin pada pesawat Asiana Airlines dan Delta Airlines, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) akhirnya mengeluarkan aturan bebas cairan di dalam kokpit pesawat Airbus A350. Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh! Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, arahan EASA berlaku untuk pesawat A350-900 dan A350-1000. Menurut Flight Global, cairan yang tumpah di panel start engine atau panel monitor elektronik pesawat berpotensi menyebabkan mesin pesawat mati. Insiden pertama yang melibatkan maskapai Asiana Airlines terjadi pada 9 November 2019. Kala itu, maskapai yang menggunakan pesawat A350-900 itu, tiba-tiba mesin pesawat sebelah kanannya mati. Sekalipun coba di-restart, mesin Rolls-Royce Trent XWB tetap tidak berfungsi. Setelah ditelusuri, ternyata, matinya mesin pesawat akibat tumpahan yang terjadi pada center pedestal atau biasa juga disebut control pedestal instrument panel (biasanya terletak di antara tempat duduk pilot dan co-pilot).
Posisi center pedestal berada di antara pilot dan co-pilot. Foto: Istimewa
Insiden berikutnya terjadi belum lama ini, tepatnya pada 21 Januari 2020. Saat itu, Delta Air Lines A350-900 rute Detroit – Seoul juga mengalami hal serupa (mesin mendadak mati). Sama halnya dengan insiden pada Asiana, insiden pada Delta Airlines juga disebabkan oleh tumpahnya cairan ke center pedestal yang menjadi salah satu instrumen terpenting di dalam kokpit. Beruntung, pada kedua insiden tersebut, pesawat berhasil mendarat selamat. Setelah kedua insiden tersebut, analisis perekam data penerbangan mengungkapkan bahwa kontrol mesin elektronik memerintahkan untuk menutup katup penutup bertekanan tinggi (mesin) setelah mencatat adanya data yang tidak konsisten dari panel kontrol terintegrasi atau integrated control panel. Pertanyaan kemudian muncul, mengapa tidak dibuat instrument anti cairan atau instrument anti tumpahan saja? Menurut Captain Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan. Selain itu, ia juga menyoroti bahwa sebetulnya dengan aturan main yang ada seharusnya sudah bisa menghindari terjadinya insiden itu. Hanya saja, karena aturan dilanggar, seperti tidak boleh ada minuman di atas atau di dekat center pedestal, entah sengaja atau tidak, insiden pun terjadi. Padahal, dalam catatannya, dari database ASRS dan safety reporting NASA, insiden seperti itu rupanya sudah lumrah terjadi dan tidak hanya menimpa Airbus A350 dan kedua maskapai di atas. Meski demikian, lagi-lagi, ketidakdisiplinan kru kokpit ataupun kru kabin membuat insiden tersebut terus beulang hingga kini. Sebetulnya, dahulu, saat sistem kontrol masih berupa mekanik atau manual, tumpahan apapun tak akan membuat masalah. Saat ini, pada sistem terkomputerisasi pada pesawat, tumpahan sekecil apapun memang akan menjadi masalah. Baca juga: Pilot Ketumpahan Kopi, A330 Condor Airlines Terpaksa Return to Base!Pilot Ketumpahan Kopi, A330 Condor Airlines Terpaksa Return to Base! Sebetulnya, tanpa adanya larangan dari EASA pun, secara teknis, pilot dan co-pilot sudah dilatih untuk tidak makan dan minum di dekat center pedestal. Hal itu untuk menghindari insiden tumpahan apapun ke center pedestal karena akan berakibat fatal. Sebagai gantinya, makan dan minum di kokpit sedikit diberi kelonggaran jika dilakukan di dekat jendela. Selain itu, di beberapa maskapai, untuk menghindari adanya tumpahan, mekanisme membuat minuman pun sampai diatur, tidak lebih dari ½ ataupun 3/4. Saat mengantarkan ke dalam kokpit pun, pramugari tidak boleh meletakan langsung ke dekat center pedestal, melainkan harus menyusuri sisi kokpit dan meletakannya di dekat jendela.

Gara-Gara Diet Keto, Awak Kabin American Airlines Dipecat Setelah Tes Breathalyzer Alkohol

Seorang awak kabin American Airlines harus dipecat karena gagal tes breathalyzer untuk alkohol. Dia mengklaim bahwa diet ketogeniknya bertanggung jawab atas kesalahan yang membuatnya positif alkohol tersebut. Baca juga: Kopilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Japan Airlines Terkena Delay 69 Menit Andre Riley awak kabin yang dipecat itu telah bekerja di American Airlines sejak 2012 lalu dan diberhentikan pada 2019 karena tidak lulus tes breathalyzer setelah penerbangan dari Las Vegas menuju ke Charlotte. “Saya tidak minum dan hanya mengubah diet saya,” klaim Riley yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (18/2/2020). Riley mengatakan dirinya tidak ingin dihukum dan mendapat konsekuensi atas perbuatan yang tidak dilakukannya. Menurutnya hal itu sama saja mengakui sebuah kejahatan dan masuk penjara meski tidak melakukannya. Pengacara Riley, Charles Adkins mengklaim bahwa kliennya itu diminta untuk melakukan tes breathalyzer secara acak setelah penerbangan dari Las Vegas ke Charlotte. Adkins mengatakan, Riley meniup 0,0050 dan 0,0052 dan bahkan teman-teman kliennya mengatakan tidak pernah mencium bau atau perilaku mabuk dari Riley selama penerbangan empat jam sebelumnya. Bahkan kegagalan Riley ini bukanlah yang pertama kali, sebab pada tes tahun 2013 lalu juga dirinya gagal. Bila dalam aturan Departemen Transportasi (DOT), dua tes gagal berarti disfikualifikasi permanen. Tes tersebut dilakukan karena pilot ataupun awak kabin lainnya tidak diizinkan minum alkohol dalam waktu delapan jam penerbangan dan kadar alkohol dalam darah maksimum hanya 0,04. Diketahui, diet keto merupakan diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak yang dapat membantu membakar lemak lebih efektif tetapi dapat menyebabkan toleransi alkohol yang lebih rendah. Sehingga ketika tubuh tengah mengalami ketosis metabolik, hati akan memecah lemak menjadi bahan bakar dan pada gilirannya aseton diproduksi sebagai sampingan. Beberapa aseton yang tidak diingankan tersebut kemudian dapat dilepaskan dalam nafas sebagai alkohol isopropil. Hal ini yang membuat Riley terdeteksi mengosumsi alkohol karena beberapa breathalyzer tidak bisa membedakan antara etanol dan isopropil. Karena adanya masalah pada breathalyzer membuat Riley khawatir akan terjadi hal yang sama pada awak kabin lainnya ketika mereka menjalani ketogenik kecuali maskapai mengubah alat mereka menjadi lebih modern. Baca juga: Disangka di Bawah Pengaruh Minuman Keras, Awak Kabin EasyJet Dibui “Aku ingin mereka menggunakan tes yang lebih akurat jika seseorang memberimu alasan mengapa ini bisa terjadi,” katanya. Riley mengatakan, saat ini dirinya mengajukan banding dengan American Airlines dan DOT agar bisa kembali mendapatkan pekerjaannnya tersebut. Diketahui, American Airlines menolak berkomentar atas kasus ini.

Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody

Kasus virus corona telah memaksa maskapai-maskapai dari seluruh dunia untuk membatalkan seluruh penerbangan dari dan ke Cina Daratan selama berminggu-minggu lamanya. Hal itu tentu akan mempengaruhi perjalanan internasional sebuah negara. Di Taiwan, misalnya, perjalanan internasional tercatat turun hampir 90 persen. Di beberapa negara lainnya diprediksi juga mengalami hal serupa, sekalipun tidak separah Taiwan. Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce Dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Kamis, (20/2), pembatalan rute dari dan ke Cina memang menyisakan sejumlah permasalahan, salah satunya armada widebody maskapai. Terlebih, armada widebody dari maskapai yang biasa melayani penerbangan dari dan ke Cina, seperti United Airlines, American Airlines, Delta Air Lines, dan Air Canada. United Airlines, dalam menyikapi penutupan rute dari dan ke Cina, coba memaksimalkan 19 armada widebody mereka (yang biasa beroperasi pada rute-rute Cina) untuk terjun langsung ke rute-rute pendek domestik di AS. Pada rute pendek tersebut, biasanya United Airlines menggunakan Boeing 737. Dengan beroperasinya armada widebody United Airlines, yakni mayoritas Boeing 777-300ER dan Boeing 787, pada rute-rute pendek, maka kemungkinan besar maskapai akan menurunkan harga demi mencapai okupansi tinggi, sehingga bila dihitung secara bisnis, hal tersebut akan jauh lebih menguntungkan. Sebaliknya, jika okupansi rendah, maka akan sangat merugikan maskapai, mengingat biaya operasional armada widebody jauh lebih besar ketimbang armada narrowbody. Skema bisnis seperti ini juga bukanlah barang baru. Pada tahun 1927, maskapai legendaris, Pan American (Pan Am), juga pernah melakukan strategi bisnis seperti itu dan berhasil mencapai profit luar biasa. Senada dengan United Airlines, maskapai terbesar lainnya di AS, American Airlines juga akan memaksimalkan armada widebody-nya untuk menggeser armada narrowbody. Bedanya, bila United mengoperasikan armada widebody-nya pada rute-rute domestik di AS, American Airlines akan mengoperasikan Boeing 787 dan 777-300ER widebody miliknya pada rute internasional, seperti Dallas ke Meksiko dan Eropa. Baca juga: Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong Menurut sebagian pengamat, strategi American Airlines tersebut dinilai kurang begitu berdampak bila dibandingkan United Airlines. Pasalnya, frekuensi rute-rute internasional tidak sebanyak rute-rute domestik. Di samping itu, di tengah kondisi ekonomi yang masih stagnan akibat konflik, perang dagang, dan virus corona, perjalanan internasional (bukan hanya ke Cina) juga diprediksi akan mengalami penurunan. Adapun Delta Airlines dan Air Canada, keduanya juga melakukan sejumlah perubahan opersional armada widebody-nya untuk rute-rute internasional ke Eropa. Namun, lagi-lagi, hal tersebut juga dinilai tak akan terlalu meyelamatkan perusahaan dari kemungkinan profit lost yang besar mengingat kondisi perekonomian global yang sedang tak menentu hingga mendorong para pelancong menunda perjalanan internasional mereka. Dengan kasus di atas, besar kemungkinan Garuda Indonesia juga akan mengambil strategi serupa, yakni dengan mengoperasikan armada widebody seperti Airbus A330 untuk rute-rute pendek, mengingat Garuda Indonesia juga kehilangan rute-rute gemuk ke Cina Daratan yang selama ini dilayani armada widebody.

Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX

Pimpinan Federal Aviation Administration (FAA) belum lama ini mengatakan bahwa dalam waktu dekat Boeing 737 MAX akan segera melakukan uji terbang. Bila lulus, 737 MAX akan mulai kembali mengudara pada pertengahan tahun ini, dimana sekitar 400 pesawat “nganggur” telah menunggu dikirim ke maskapai. Namun, sepertinya rencana tersebut gagal total, menyusul temuan masalah baru, yakni adanya serpihan pada tangki bahan bakar 737 MAX. Baca juga: Boeing Kembali Temukan Masalah Baru pada Software, 737 MAX Gagal Terbang (Lagi) Dikutip KabarPenumpang.com dari laman edition.cnn.com, Kamis, (20/2), Boeing menyatakan menemukan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap pada beberapa 737 Max yang belum dikirim ke pembelinya. Serpihan Obyek Asing (FOD) adalah istilah teknis untuk serpihan atau benda-benda yang bukan merupakan bagian dari pesawat yang menutupi permukaan dan berpotensi menimbulkan kerusakan. Dalam sebuah catatan dari Wakil Presiden dan Manajer Umum Program 737 dan Pabrik Renton, Washington, Mark Jenks, kepada karyawan, perusahaan berpesan bahwa serpihan benda asing tersebut benar-benar tidak dapat diterima. Sebab, temuan serpihan benda asing dalam tangki bahan bakar itu dinilai terlalu banyak. Oleh karenanya, perusahaan meminta untuk segera menyelesaikan masalah itu dengan se-teliti mungkin. Dengan adanya masalah baru pada 737 MAX ini, Boeing mengatakan akan mengatasi masalah dengan memperbarui mekanisme dan daftar periksa yang diperlukan untuk karyawan, bersama dengan verifikasi tambahan termasuk inspeksi dan audit. Meskipun temuan serpihan di dalam tangki bahan bakar 737 MAX tersebut cukup mengkhawatirkan, namun, Boeing, melalui juru bicaranya, mengatakan perusahan tidak melihat adanya masalah yang menghalangi pesawat jet ini untuk kembali terbang melayani penumpang pada pertengahan tahun ini, sebagaimana yang sudah disebutkan di awal. Mendengar kabar mengenai temuan serpihan di dalam tangki bahan bakar 737 MAX, FAA mengaku akan terus mengikuti perkembangan dari temuan tersebut, di samping akan meningkatkan pengawasan berdasarkan laporan inspeksi awal dan akan mengambil tindakan lebih jauh, tergantung pada temuan. Otoritas Penerbangan Sipil AS tersebut justru memaklumi bahwa temuan serpihan di dalam tangki itu menjadi pertanda bahwa Boeing serius untuk memperbaiki kualitas 737 MAX-nya. Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat Bila dirunut ke belakang, temuan serpihan atau benda asing di dalam tangki pesawat-pesawat Boeing sendiri bukanlah yang pertama. Sebelum terjadi pada Boeing 737 MAX, temuan serpihan benda asing di dalam tangki juga pernah terjadi pada pesawat tanker KC-46 Pegasus, Boeing 727 pada 1965, dan pada 2010 lalu juga ditemukan pada pesawat 787 Dreamliners. Dalam keterangannya kala itu, Boeing mengaku, bahwa keberadaan serpihan di dalam tangki bahan bakar tersebut bisa saja berdampak fatal, seperti korsleting listrik hingga menyebabkan kebakaran. Atas dasar itu, kemudian Boeing melakukan beberapa perubahan ada 787 Dreamliners. Dari peristiwa tersebut, cukup aneh bila Boeing mengatakan permasalahan temuan serpihan atau benda asing di dalam tangki pesawat 737 MAX tidak akan menunda kembalinya MAX terlalu lama.