Geram Gegara Sering ‘Berantakan,’ Pramugara AirAsia Berbagi Tips Cara Gunakan Toilet di Pesawat

Bagi sebagian orang, pesawat bisa saja menjadi sarang virus karena mengangkut ribuan orang dari dan ke berbagai kota atau negara, meskipun hal tersebut tak sepenuhnya benar karena pesawat memiliki sistem udara canggih seperti High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) Cabin Air Filter. Meski demikian, menjaga kebersihan tetap menjadi salah satu hal terpenting untuk mencegah pesawat menjadi sarang virus, sebagaimana yang dikhawatirkan orang banyak; khususnya kebersihan di toilet. Baca juga: Punya Budaya Kebersihan yang Kuat, ANA Sabet Predikat Maskapai dengan Kabin Terbersih Dikutip KabarPenumpang.com dari laman asiaone.com, Rabu, (19/2), baru-baru ini, seorang pramugara AirAsia, Amir, coba berbagi tips tentang cara menggunakan toilet pesawat dengan benar lewat platform Instagram storiesnya miliknya di @amirchewill. Belum jelas apa yang mendasarinya berbagi tips mengenai hal tersebut. Namun, bila dilihat dari caption-caption di postingannya, ia tampak terlihat tengah geram dengan perilaku oknum penumpang dalam penerbangannya. Banyak hal yang disorotinya, mulai dari memperkenalkan fasilitas dasar di toilet, seperti tisu, cara menggunakan WC, changing table, wastafel, membuang tisu dengan benar, hingga tombol panggilan jika terjadi keadaan darurat. 1. Gunakan Tisu untuk Menekan Tutup Tempat Sampah
Tips dari Amir. Foto: Instagram via Asia One
Tak bisa dipungkiri tempat sampah bisa menjadi media penyebaran kuman yang paling besar di dalam pesawat. Untuk menghindarinya, para penumpang bisa menggunakan tisu sebelum mendorong tutup tempat sampah supaya tidak bersentuhan langsung dengan tangan. Jangan lupa gunakan pula sanitiser khusus tangan untuk menambah kebersihan setelah menggunakan toilet. Di samping itu, jangan sesekali memulai untuk melakukan hal-hal yang tak baik, seperti membuat toilet, dalam hal ini tempat sampah, menjadi berantakan. Sebab, jika hal itu terjadi, maka, penumpang lainnya akan mengikuti perilaku buruk tersebut, ketimbang membersihkan dan menyulapnya menjadi seperti semula, seperti apa yang ditunjukkan Amir dalam laman Instagram Story-nya. Sangat berantakan. 2. Gunakan Tisu Toilet untuk Menekan Tombol Flush
Saran dari Amir untuk menggunakan tisu sebelum menekan flush. Foto: Instagram via Asia One
Pegangan pintu, flush, dan kran air bisa menjadi sarana penyebaran kuman dan virus di dalam pesawat. Jika Anda tak ingin tangan menjadi kotor, maka membilas dan membungkus jari tangan menggunakan tisu toilet untuk mematikan kran air atau menekan flush toilet bisa menjadi solusi paling efektif. Amir mengatakan para orang tua yang membawa bayi juga kerap meletakan popok bekas pipis maupun buang air besar milik bayi di meja wastafel pesawat yang nantinya bisa menjadi risiko penularan penyakit dan bakteri. Ia kemudian mengimbau ke para orang tua untuk membungkus bekas popok kotor menggunakan kantong plastik sebelum membuangnya ke tempat sampah untuk menghindari bau pada toilet. Baca juga: Untuk Pesawat Narrow Body, ST Engineering Tawarkan Desain Toilet Baru yang Lebih Besar dan Nyaman 3. Jangan Sungkan Meminta Cangkir Air untuk Membilas kepada Awak Kabin
Tips terakhir dari Amir soal BAB. Foto: Instagram via Asia One
Beberapa orang kerap kurang merasa nyaman apabila tidak membersihkan bagian bokong dengan air usai buang air besar. Oleh karenanya, jangan ragu untuk meminta cangkir air ke awak kabin untuk membasuh bagian tersebut. Cara lain, mungkin Anda bisa membasahi tisu toilet sebelum membasuhnya agar lebih bersih. Apabila toilet pesawat terasa bau, Anda juga tak perlu sungkan untuk meminta penyegar ruangan kepada awak kabin. Namun, pada bagian ini, Amir menyarankan, bila sanggup menahan BAB, bahkan hingga lima jam perjalanan, lebih baik menyelesaikannya nanti saat di bandara. Hal itu dinilai jauh lebih baik ketimbang harus BAB di pesawat, agar senantiasa tercipta kenyamanan bersama.

Project Vektor, Mobil Otonom untuk Kota Pintar Buatan Jaguar Land Rover

Jaguar Land Rover (JAL) belum lama ini telah memperkenalkan kendaraan mobilitas perkotaan bertenaga listrik yang disebut “Project Vector”. Sekilas, kendaraan buatan perusahaan otomotif asal Inggris tersebut tampak lebih mirip airport shuttle train car atau shuttle train bandara dengan dimensi yang lebih rendah ketimbang terlihat seperti mobil pada umumnya. Baca juga: Jamin Keselamatan Pejalan Kaki, Jaguar Land Rover Uji Sensor Indikator di Moda Otonom Dilansir KabarPenumpang.com dari laman techcrunch.com, Rabu, (19/2), desain mobil aneh tersebut justru dinilai sebagai tampilan yang sedang dan semakin populer di kalangan pembuat mobil. Hal itu dikarenakan, di masa depan, mobilitas otonom, baik pribadi maupun bersama akan memainkan peran besar. Hal tersebut (model kendaraan persegi panjang dan agak sedikit lebih pendek) saat ini sebetulnya sudah dimulai, dengan diluncurkannya, Cruise (Januari lalu), sebuah taksi otonom yang berbentuk persegi panjang.
Tampilan mobil otonom JAR saat tertutup. Foto: Techcrunch
Secara eksternal, konsep Vector JLR terlihat sangat mirip (Cruise), dengan ujung depan dan belakang yang dapat menjadi akses keluar masuk satu sama lain, serta pintu geser yang dapat terbuka dari tengah sehingga memungkinkan tercapainya jumlah ruang maksimum. Di samping itu, lantainya juga lebih rendah dan dekat ke permukaan tanah untuk mengakomodasi penumpang, baik saat memasukan atau mengeluarkan barang ataupun hendak turun seorang diri. Namun, tidak seperti desain Cruise yang beroperasi secara otonom atau tanpa pengemudi sehingga seat depan sepenuhnya diisi penumpang, mobil listrik otonom Jaguar Land Rover masih memiliki fitur layaknya mobil pada umumnya, seperti kursi menghadap ke depan dan setir untuk kontrol manusia. Kemudian, interiornya juga diatur sedemikian rupa yang menawarkan fleksibilitas untuk mengakomodasi pengiriman barang, transportasi penumpang, serta konfigurasi yang tepat ketika penggunaan otonom. Di luar konsep eksterior, secara garis besar, Project Vector akan berperan untuk mencapai visi Zero Destination, yakni dorongan untuk terciptanya masa depan nol emisi, nol kecelakaan dan nol kemacetan. Kendaraan tersebut merupakan platform siap-otonom untuk infrastruktur kota pintar di masa depan, yang dirancang memberikan layanan untuk kebutuhan mobilitas pribadi dan bersama.
Sliding door mobil otonom JAR. Foto: Techcrunch
Untuk mewujudkan ini, JLR akan bekerja sama dengan Dewan Kota Coventry dan Otoritas Gabungan West Midlands menguji coba layanannya pada akhir 2021. Saat itu, Project Vector akan memulai program percontohan, sekaligus laboratorium hidup untuk mobilitas masa depan di jalan-jalan Kota Coventry. Baca juga: Volvo Siap Rilis Mobil Otonom Super Mewah Tanpa Bangku Baris Depan “Dalam proyek ini, kami berkolaborasi dengan pakar di dunia, akademisi, rantai pasokan dan layanan digital, untuk menciptakan sistem mobilitas terintegrasi. Project Vector adalah lompatan ke depan yang berani dan inovatif diperlukan untuk mewujudkan misi kami (Destination Zero),” ujar CEO Jaguar Land Rover, Sir Ralf Speth. Mobil yang bertuliskan “Tomorrow’s Mobility. Today” tersebut memiliki dimensi berukuran hanya empat meter (157,5 inci). Ini merupakan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) multiguna yang kompak dan fleksibel, dirancang untuk wilayah perkotaan. Baterai dan komponen drivetrain diletakkan di lantai datar, sehingga lebih lapang, memungkinkan berbagai konfigurasi tempat duduk, baik untuk penggunaan pribadi, bersama maupun pengiriman barang.

Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Tidur di dalam penerbangan dengan menempuh jarak jauh dan memankan waktu lama mungkin sudah biasa. Namun bagai mana bila tidur di sebuah kamar hotel tapi dilengkapi dengan sebuah kokpit pilot atau simulator pesawat terbang? Baca juga: Setelah Pesawat dan Kereta, Kini Giliran Bus Tingkat yang’ Disulap’ Jadi Hotel Mungkin sensasi ini menjadi hal yang baru bagi penikmat penerbangan dan memiliki rasa ingin mencoba. Simulator pesawat ini hadir di dalam salah satu kamar hotel di Jepang tepatnya di The Haneda Excel Hotel Tokyu. Hotel ini sendiri berada di Terminal 2 Bandara Internasional Haneda di Tokyo. Kamar itu bahkan disebut sebagai ‘Superior Cockpit Room‘ dan menawarkan beragam paket baik hanya untuk menginap ataupun dengan mencoba simulator Boeing 737-800 tersebut. KabarPenumpang.com melansir dari laman kotaku.com (11/7/2019), bila pelancong hanya ingin menumpang tidur di kamar doble bed ini dengan sebuah simulator tanpa menggunakannya akan dikenakan biaya 25.300 yen atau sekitar Rp3,2 juta. Tetapi bila hanya ingin belajar menerbangkan pesawat dengan simulator kokpit pesawat Boeing tersebut selama 90 menit dan diajarkan oleh seorang instruktur, akan dikenakan biaya 30 ribu Yen atau sekitar Rp3,8 juta. Dalam pelajaran menerbangkan pesawat dengan simulator ini, pelanggan akan diajak terbang dari Bandara Haneda menuju ke Bandara Osaka. Kehadiran kamar hotel dengan sebuah simulator pesawat Boeing 737-800 ini dikatakan lebih murah dan lebih keren dibandingkan dengan kamar hotel Alienware yang dibangun di Hilton Panama tahun 2018 lalu. Hotel ini dilengkapi dengan mesin gaming yang cukup tinggi dengan CPU Core i7-7800 dan kartu gravis Nvidia GTX 1800 Ti yang disambungkan dengan TV OLED 65 inci. Harga kamar tersebut pun terbilang lebih mahal yakni $349 atau Rp4,8 per malamnya. Baca juga: Boeing 747-400 Eks KLM “City of Bangkok” Bakal Menjadi Daya Tarik Hotel di Amsterdam Selain ada simulator, karena letaknya di Bandara Internasional Handea, kamar di Haneda Excel Hotel Tokyu ini ini juga memiliki pemandangan ke arah runway. Sehingga tamu hotel bisa menikmati pesawat lalu lalang. Selain itu bisa dikatakan, simulator ini lebih cocok digunakan bagi tamu setelah bangun tidur bukan ketika mencobanya sebelum tidur. So, kalalu di Indonesia ada yang seperti ini, apakah Anda tertarik?

Masa Karantina Berakhir, Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Mulai Turun

Setelah melewati 14 hari masa karantina atas wabah virus corona, akhirnya 3.700 penumpang dan awak kapal pesiar Diamond Princess hari ini (19/2/2020) secara bertahap mulai diturunkan dari kapal yang sejak 3 Februari lalu sandar di Pelabuhan Yokohama, Jepang. Ribuan penumpang kapal pesiar ini harus dikarantina akibat adanya penumpang asal Cina yang terkena virus corona. Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona Dikutip dari bbc.com (19/2/2020), sebanyak 543 penumpang dan awak Diamond Princess dinyatakan telah terinfeksi virus corona dan menjadikan kapal tersebut sebagai lokasi ‘cluster’ terbesar kedua virus corona setelah Cina Daratan. Kebanyakan penumpang menyebut masa karantina di kapal adalah hal yang sangat sulit dilewati. Dengan berkembangnya jumlah orang yang terinfeksi corona, mendorong beberapa negara untuk melakukan evakuasi warganya dari kapal pesiar tersebut. Seperti AS pada hari Minggu lalu mengeluarkan ratusan warganya dari Diamond Princess dan menempatkan mereka di fasilitas karantina lain. Inggris mengatakan pihaknya berharap untuk menerbangkan 74 warga negaranya dari Diamond Princess pada akhir pekan ini. Awal mula penyebaran virus corona di Diamond Princess setelah seorang pria yang turun di Hong Kong dikonfirmasi mengidap virus corona. Penumpang tersebut awalnya diisolasi di kabin mereka, tapi kemudian diizinkan untuk keluar secara sporadis di geladak. Meskipun langkah-langkah karantina telah dijalankan, tapi hari demi hari jumlah orang yang terinfeksi bertambah pesat. Angka terbaru menunjukkan bahwa setidaknya 542 penumpang telah dinyatakan positif dan telah dibawa ke rumah sakit terdekat. Dari 542 orang yang positif corona di Diamond Princess, diketahui sebanyak tiga dari 78 WNI yang menjadi kru kapal dinyatakan positif virus corona. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan dua WNI telah dibawa ke rumah sakit di Kota Chiba, Jepang, sementara satu WNI lainnya dibawa ke rumah sakit yang belum diketahui lokasinya. Lebih dari 1.000 kru kapal yang melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi virus telah dipindahkan ke ruangan dengan fasilitas medis. Sementara awak kapal yang sehat akan menjalani masa karantina selama 14 hari setelah penumpang terakhir meninggalkan kapal. Baca juga: Terjebak Karantina Virus Corona di Kapal Pesiar, Pasangan ini Pesan Anggur via Drone Otoritas Jepang mengatakan proses penurunan penumpang bisa mencapai hingga tiga hari, karena mengevakuasi sekitar 2.000 ribu penumpang lainnya tidak mudah.

Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines

Singapore Airlines, maskapai penerbangan dengan status sebagai penerima penghargaan paling banyak di dunia, dinilai sebagai salah satu maskapai terbaik di dunia. Tentu sangat sejalan dengan ratusan penghargaan yang diterimanya. Namun, apa jadinya, bila di dalam hidangan sekelas maskapai terbaik di dunia terdapat sebuah benda tajam yang mungkin saja bisa berujung hilangnya nyawa penumpang? Baca juga: Youtuber Asal Jerman Dapat Ancaman Pembunuhan Usai Review Singapore Airlines KabarPenumpang.com menukil dari laman samchui.com, Rabu, (19/2), belum lama ini pemberitaan penerbangan internasional dihebohkan dengan kabar tak sedap tentang Singapore Airlines. Hal itu akibat dari ulasan seorang penumpang lewat WeChat mengenai pengalamannya terbang bersama Singapore Airlines SQ285 Suites dari Singapura ke Auckland pada 1 Januari 2020 lalu. Dalam ulasan menyeluruh dari ruang tunggu untuk check-in dan naik pesawat A380, penumpang menulis bahwa dia “cukup beruntung” untuk merasakan benda tajam di mulutnya sambil menyeruput sup jamur labu. Setelah menemukan sekrup di dalam hidangan supnya, penumpang tersebut mengaku tidak lagi memiliki nafsu makan. “Saya mengeluarkan sekrup logam dan semua kru mungkin mereka kencing di celana melihat sekrup itu ketika saya menunjukkannya,” tulisnya.
Voucher yang ditolak penumpang anonim yang menemukan sekrup dalam hidangan sup di Singapore Airlines. Foto: Will via Samchui
Menanggapi hal tersebut, melalui email balasan dari Singapore Airlines (SIA), pihaknya mengaku lalai dan meminta maaf atas kejadian itu. Menurut hasil penyelidikan internal, sekrup tersebut adalah milik blender dari SATS katering. Tidak dijelaskan lebih detil bagaimana proses hilangnya sekrup tersebut dari blender. Yang jelas, dengan adanya insiden tersebut, pihak SIA mengaku akan menerapkan sistem deteksi logam untuk semua makanan yang disajikan maskapai asal Singapura tersebut. Di samping itu, SIA juga akan melakukan standar tinggi, mencakup pemeriksaan alat-alat dapur, sebelum dan sesudah proses produksi. Bilamana terdapat satu atau beberapa item yang hilang, hal tersebut akan lebih membantu proses filterisasi makanan yang akan dihidangkan ke penumpang. “Untuk mencegah berulangnya kejadian serupa, katering kami menerapkan deteksi logam untuk semua makanan yang disiapkan di fasilitas mereka dan mereka juga mengeksplorasi peralatan dapur baru yang dapat mengurangi risiko ini. Kami berharap semua makanan kami memenuhi standar keamanan tinggi secara konsisten dan kami kecewa dengan penemuan ini,” kata seorang juru bicara SIA. Baca juga: Ada Batu di Dalam Salad Dibilang ‘Kacang Kering,’ Air Canada Kena Semprot Penumpang! Selain mengaku menyesal dan meminta maaf kepada penumpang, ditambah sejumlah mekanisme baru agar kejadian tersebut tak terulang, SIA atau biasa juga disebut SQ juga memberikan voucher senilai 200 dolar Singapura, sekalipun ditolak oleh penumpang yang bersangkutan. “Sulit dipercaya voucher senilai 200 dolar Singapura untuk penumpang suite class akan membenarkan pengalaman yang telah dialami,” tulisnya. Sebelum adanya kejadian tersebut, penumpang yang menemukan sekrup itu awalnya berencana untuk memberikan bintang lima dari lima bintang yang tersedia dalam perjalanannya dengan SIA. Setelah kejadian itu, ia pun urung melakukannya, tak peduli seberapa hebat perangkat keras yang ada pada A380 dan betapa indahnya kru SIA, ia menyebut sangat memalukan bahwa insiden seperti itu terjadi pada SQ dan bagaimana mereka menanganinya.

Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya

Bagi mereka yang sering bepergian menggunakan pesawat terbang, sudah barang tentu mereka akrab dengan boarding pass, handling luggage, overhead baggage, safety induction, garbarata, hingga emergency exit door. Sebaliknya, sekalipun mereka sering bepergian naik pesawat, belum tentu sadar atau mungkin memperhatikan sesuatu tepat di bagian atas kokpit. Baca juga: Sempat Sesak Napas, Penumpang Turkish Airlines Coba Mendobrak Kokpit Meski demikian, sekalipun tak banyak penumpang atau orang awan yang mengetahuinya, namun, sesuatu yang berada tepat di atas kokpit tersebut pasti diketahui oleh kokpit kru bahkan awak kabin dan wajib ada (karena menjadi salah satu syarat sertifikasi pesawat). Pada situasi tertentu, sesuatu di atas kokpit tersebut bisa jadi hal yang sangat vital. Sesuatu di atas kokpit yang dimaksud adalah pintu darurat kokpit atau biasa juga dikenal Cockpit Emergency Hatch.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, eks juru bicara Boeing, Tom Cole pernah mengatakan, cockpit emergency hatch dirancang untuk memudahkan pilot, co-pilot, serta kru lainnya keluar dalam kondisi darurat. Kondisi darurat yang dimaksud bisa disebabkan banyak hal, mulai dari kebakaran, kecelakaan, hingga insiden pembajakan yang biasanya memblokir akses keluar masuk reguler. Oleh karenanya, dengan fungsi se-vital itu, cockpit emergency hatch juga dilengkapi dengan peralatan pendukung, yakni cockpit crew emergency escape gear atau biasa juga disebut cockpit escape reels, agar memudahkan penggunanya keluar meluncur turun dalam hitungan detik dari ketinggian sekitar 10 meter lebih. Bila tidak dapat meluncur karena satu dan lain hal, kokpit kru dapat mengibarkan bendera atau kode lainnya untuk memberi sinyal diperlukannya bantuan dari petugas yang ada di darat.
Pintu darurat kokpit pada Airbus A350. Foto: Quora
Akan tetapi, selain berfungsi sebagaimana yang dijelaskan di atas, dalam kondisi tertentu, cockpit emergency hatch juga berguna bagi para petugas ground crew, khususnya saat membersihkan bagian kaca depan pesawat. Jadi, tak selamanya pintu keluar darurat kokpit tersebut difungsikan pada saat-saat genting saja. Cara menggunakan dan keluar lewat cockpit emergency hatch juga tergolong mudah. Kru hanya perlu memutar tuas pada cockpit emergency hatch dan kemudian mendorongnya keluar hingga terbuka. Setelah itu, kru perlu sedikit memanjat, sambil memegang cockpit escape reels (semacam peralatan untuk membersihkan gedung di ketinggian atau sejenisnya) dan segera melompat keluar tanpa perlu patah kaki akibat terlalu cepat meluncur ke daratan.
Baca juga: Bagaimana Awak Kokpit Mengatasi Situasi Darurat di Udara? Dengan fitur keamanan yang dimiliki, cockpit escape reels akan menyesuaikan beban yang ditanggungnya agar proses turunnya tak terlalu cepat atau terlalu lambat. Di beberapa pesawat, pada umumnya cockpit escape reels hanya tersedia sebanyak lima buah. Dua untuk pilot dan co-pilot, tiga lainnya untuk kokpit kru. Selain keluar lewat cockpit emergency hatch, sebetulnya kru kokpit juga punya cara lain untuk keluar, yakni lewat jendela deser atau biasa disebut juga cockpit emergency escape through sliding window. Berbeda dengan keluar lewat cockpit emergency hatch, jalan keluar lewat jendela geser sedikit merepotkan. Sekalipun tak butuh pijakan lebih (karena letaknya di bagian samping), peralatan pendukungnya hanya seutas tali sehingga membutuhkan tenaga dan usaha yang ekstra; tak semudah menggunakan cockpit escape reels yang hanya tinggal berpegangan erat dan melompat keluar.

Jijik! Ini Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Harus Mengindari Makanan Langsung Di Atas Baki

Pesawat dikenal tidak selalu menjadi tempat terbersih. Banyak hal yang mesti diperhatikan ketika seseorang bepergian dengannya. Salah satunya cara pesawat dibersihkan dari penerbangan satu ke penerbangan lainnya. Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang Belum lama ini, seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk, Selasa, (18/2), seorang pengguna Reddit (situs web hiburan dan juga berita) membeberkan hal-hal yang menjijikan namun telah lama dilakukan oleh maskapai-maskapai pada umumnya. Dalam curhatannya, pengguna Reddit yang juga mantan penata rambut awak kabin tersebut, mengungkapkan bahwa banyak orang yang mengira bahwa toilet menempati urutan pertama sebagai tempat terkotor di pesawat. Namun, tidak ada yang mengira, bahwa tempat terkotor selanjutnya adalah baki dan meja nampan (seatback). Akun anonim tersebut kemudian menjelelaskan bagaimana pesawat dibersihkan. Maskapai pada umumnya memiliki jadwal yang padat dengan memaksimalkan setiap armadanya hingga tingkat tertinggi. Akibatnya, awak kabin dituntut untuk membersihkan pesawat sesegera mungkin dan sebersih mungkin agar pesawat bisa digunakan ke penerbangan selanjutnya. Padahal, cepat dan bersih mungkin saja tak selalu berjalan beriringan. Dari situlah kemudian awak kabin hanya dibekali cairan anti bakteri untuk membersihkan seluruh sudut-sudut kabin. Namun, bukan hanya kabin, melainkan juga menyeka seluruh baki dan meja kecil (seatback). Tentu saja cairan tersebut sangat tidak ramah untuk menaruh makanan langsung tanpa alas. Bila di lain kesempatan Anda mengalami hal tersebut, (makanan yang langsung diletakan di atas baki tanpa alas) pastikan Anda menolaknya. “Jangan, dalam situasi apa pun meletakkan makanan Anda langsung di nampan makanan. Semprotan itu juga digunakan untuk menyeka meja kecil. Sekali lagi, itu sangat encer dan mungkin tidak benar-benar “membersihkan” meja sebagaimana mestinya,” tulis akun anonim tersebut. Imbauan tersebut pun juga didukung oleh pengguna Reddit lainnya. Dalam tulisannya, akun anonim tersebut mengaku memupunyai istri yang berprofesi sebagai pramugari. “Jangan makan-makanan yang dijatuhkan di atas meja ataupun baki, mereka tidak pernah dibersihkan,” jelasnya. Kesaksian dari dua pengguna Reddit itu pun juga didukung oleh hasil penelitian. Para ahli yang tergabung dalam CBA News Marketplace belakangan telah menemukan bahwa tempat paling kotor di dalam kabin pesawat faktanya memang tidak dapat diselesaikan secepat kilat. Dalam penyelidikan untuk mencari tahu di mana bagian paling kotor dari pesawat itu, serta beberapa barang paling jahat yang ditemukan di atas pesawat, mereka menemukan bahwa headrest-lah yang paling banyak mengandung kuman dan bakteri. Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV Setelah menyisir 100 area kabin pesawat di 18 penerbangan jarak pendek, sandaran kepala ditemukan mengandung bakteri hemolitik dan E.coli, serta memiliki jumlah aerobik tertinggi. Hal tersebut kemudian diikuti oleh saku kursi, pegangan kamar mandi, meja nampan, baki, dan kemudian sabuk pengaman. Salah satu ahli yang memimpin penyelidikan tersebut (ahli mikrobiologi), Keith Warriner, mengatakan ia cukup puas dengan hasil yang didapat. Hal ini sebetulnya bisa saja memprihatinkan bagi penumpang, namun, di sisi lain, temuan tersebut justru dapat meningkatkan kewaspadaan penumpang untuk senantiasa menjaga kebersihan secara optimal. Caranya, yakni selalu mencuci tangan dengan sabun dan air. Bila perlu, membawa sanitiser tangan sekedar berjaga-jaga bila kesulitan mengakses air bersih untuk mencuci tangan.

Keberadaan Runway 3 Bandara Soetta Disebut Tak Berfungsi Optimal, Ini Sebabnya!

Landas pacu atau runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) telah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 23 Januari lalu. Dengan runway baru ini, kapasitas penerbangan yang dilayani Bandara Soetta diharapkan dapat semakin meningkat. Bila sebelumnya dengan dua runway hanya dapat dilayani 81 penerbangan dalam satu jam, maka dengan beroperasinya runway 3, di Bandara Soetta kini dapat melayani 120 penerbangan (capacity movement) per satu jam. Namun, apakah implementasi runway 3 tersebut sesuai rencana? Baca juga: Molor dari Jadwal Awal, Bandara Soetta Siap Groundbreaking Runway 3 Dalam Waktu Dekat! Idealnya dengan dibukanya runway 3 diharapkan dapat dilayani aktivitas penerbangan secara bersamaan antara runway 2 dan runway 3, dimana kedua runway yang berada di sisi utara dan dibangun sejajar yang dapat dilihat langsung dari ruang tunggu di Terminal 3. Tapi rupanya ada sesuatu yang berbeda dari yang awalnya diharapkan, yaitu runway 2 dan runway 3 tidak dapat dioperasikan secara bersamaan, artinya aktivitas penerbangan antara dua runway harus dilakukan secara bergantian. Yang menjadi pertanyaan, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Kapten SM Nababan, mantan pilot senior Garuda Indonesia dalam acara Pertemuan Bulanan PSAPI (Pusat Studi Air Power Indonesia) di Kantor Pusat PPAU, Selasa (18/2/2020) memberi penjelasan, bahwa runway 3 dibangun dengan jarak yang terlalu dekat dengan posisi runway 2, yaitu hanya 500 meter. “Seharusnya jarak antar dua runway yang sejajar seperti itu adalah 700 sampai 1.035 meter,’ ujar Nababan. Ia menambahkan, dengan kondisi tersebut kedua runway harus digunakan secara bergantian, atau dijadikan runway cadangan dan itu telah bergeser dari tujuan semula runway itu dibangun. Bahkan disebut-sebut runway tersebut tidak memenuhi syarat internasional. Mengutip dari cnbcindonesia.com (23/1/2020), Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO) sempat melayangkan surat terkait pengoperasian Runway 3 Bandara Soetta. ICAO pada 17 Desember 2019 mengirimkan surat ke Kemenhub yang diteken oleh Regional Director ICAO Arun Mishra. Isinya soal beberapa catatan terkait hasil misi pendampingan tim dari ICAO pada 9-12 Desember 2019 mengenai rencana pengoperasian runway baru Soekarno-Hatta. Sejumlah hal teknis menjadi catatan antara lain, soal jarak antara runway 3 dan runway 2 yang dianggap tak memadai dalam mendukung keberangkatan pesawat secara paralel. ICAO juga memberikan catatan soal Advanced Surface-Guidance and Control System (A-SMGCS) alias sistem permukaan-gerakan lanjutan dan manajemen lalu lintas udara agar memerlukan evaluasi lebih lanjut setelah beroperasinya runway baru. Lembaga ini juga memberikan catatan soal pelatihan bagi air traffic controller untuk penggunaan operasional runway yang baru, dan lainnya. Baca juga: Hanya Dengan Single Runway, Bandara di Mumbai Layani 837 Penerbangan Per Hari Atas adanya masalah pada runway 3, tentu saat ini seperti istilah nasi telah menjadi bubur, “runway 3 sudah terlanjur dibangun dan kini sudah diresmikan, saat ini yang terpenting adalah bagaimana mengatur atas situasi yang telah terjadi, karena tidak mungkin untuk saat ini menggeser runway tersebut,” kata Nababan.

Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Pada umumnya, pesawat memang dijual dengan harga yang tak murah dan pembelinya sudah pasti harus merogoh kocek miliaran hingga triliunan rupiah. Namun, apa jadinya kalau sebuah pesawat, terlebih pesawat terbesar di dunia, Airbus A380, dijual dengan harga mulai dari Rp 415.000 atau €27.95? Baca juga: Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru Belum lama ini, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Selasa, (18/2), pesawat Airbus A380 yang sudah purna tugas dari maskapai Singapore Airlines memang dijual dengan harga semurah itu. Hanya saja, bukan untuk harga sebuah pesawat, melainkan untuk sebuah gantungan kunci asli yang diolah dari sebagian badan pesawat Airbus A380.
Ide untuk melucuti pesawat yang sudah purna tugas, termasuk A380, datang dari sebuah perusahaan asal Jerman. Melalui situs aviationtag.com, perusahaan yang berbasis di Cologne, Jerman, itu selain hendak menyelamatkan lingkungan dengan menghindari penumpukan pesawat-pesawat bekas yang jumlahnya jutaan di dunia, mereka juga melihat minat tinggi para pecinta penerbangan untuk mengabadikan pesawat favoritnya sekalipun dalam bentuk yang lebih kecil. “Kami selalu memiliki emosi yang campur aduk. Di satu sisi, sangat menyedihkan melihat era ini berakhir setelah hanya 10 tahun. Di sisi lain, kami senang bahwa kami berhasil melestarikan bagian dari pesawat ikonik ini untuk semua penggemar penerbangan,” Vice President Aviation Tag, Tobias Richter. Penjualan gantungan kunci asli dari bagian badan pesawat Airbus A380 sendiri adalah yang pertama kali dilakukan oleh perusahaan tersebut. Sebelumnya, sudah lebih dahulu ada berbagai gantungan kunci asli dari bagian badan pesawat beragam merek di dunia, mulai dari Airbus (A340, A320, A319, dan A380), Boeing (767, 757, 747, 737, dan 777), Antonov (AN-2), ATR, Cessna, Royal Air Force, Lockheed, Fokker, Douglas (DC-9 dan DC-3), hingga Piper.
Gantungan kunci asli dari bagian Airbus A380. Foto: Pinterest
Baca juga: Di Bahrain, Bakal Ada Sosok Boeing 747 di Bawah Permukaan Laut Menariknya, sekalipun bentuknya cenderung sama, mayoritas konsep pewarnaan pada gantungan kunci ini juga tergolong unik, yakni mengikuti negara asal maskapai yang terakhir mengoperasikan pesawat yang bersangkutan. Misalnya seperti Airbus A380, gatungan kuncinya berwarna putih, mengikuti salah satu warna dasar dari bendera kebangsaan negara asal Singapore Airlines, Singapura, yang berwarna merah putih. Airbus A380 milik Singapore Airlines dengan nomor registrasi 9V-SKA dan memiliki nomor seri pabrikan 003 sendiri adalah pesawat pertama yang melayani dan mengakhiri penerbangan komersial. Pesawat ini pertama kali mengudara pada tanggal 7 Mei 2006. Setelah melewati fase pengujian dan verifikasi, pesawat itu akhirnya dikirim ke Singapore Airlines pada tanggal 15 Oktober 2007. Setelah menghabiskan lebih dari 10 tahun, pesawat akhirnya dikembalikan ke lessor pada tanggal 5 Desember 2017.

Sederet Bintang K-Pop Ini ‘Banting Setir’ jadi Pramugari dan Pramugara

Seorang rapper, pembawa acara, penari, dan komposer, yang juga merupakan leader dari grup idol generasi pertama Korea Selatan SechsKies, Eun Ji Won, banting setir menjadi pramugara (awak kabin). Usut punya usut, ternyata, bintang K-pop yang juga akrab disapa G1 itu belakangan diketahui tengah mengikuti sebuah acara reality show yang sangat populer di Korea Selatan. Baca juga: Gegara Parfum Mahal, Artis Asal Australia Terpaksa Digeledah Petugas Bandara Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman Paddle Your Own Kanoo, Selasa, (18/2), artis K-pop yang pernah diisukan dekat dengan Lee Soo Yeon tersebut, sebelum benar-benar memulai profesi dadakan sebagai awak kabin, ia terlebih dahulu mengikuti pelatihan singkat di dua maskaapai berbeda, Air Busan dan Cebu Pacific. Dalam video yang menampilkan Eun Ji Won selama menjalani profesi barunya tersebut, berbagai kesulitan memang sangat terlihat. Di samping itu, ia juga beberapa kali bak orang kebingungan, mondar-mandir sana sini, membantu merapikan kompartemen bagasi, hingga kerepotan dalam menyiapkan beberapa mie instan untuk penumpang. Adapun hal yang lumayan patut dipuji, selama ia menjadi awak kabin, adalah sambutannya yang cukup hangat. https://www.facebook.com/yourownkanoo/videos/260426411609820/ Meski demikian, ia mengakui bahwa pengalaman tersebut adalah pengalaman yang dapat mengubah pendapatnya tentang pramugari. Pasalnya, selama ini, ia hampir selalu tertidur saat di pesawat. “Setiap kali saya naik pesawat, saya hampir selalu tidur sehingga saya tidak pernah benar-benar bertemu dengan pramugari,” jelasnya. “Saya selalu ingin tahu tentang apa yang mereka lakukan. Setelah merasakannya langsung, saya bertekad untuk tidak pernah mengambil minuman saya sendiri di pesawat. Saya tidak pernah tahu bahwa mereka harus membuang minuman di toilet karena tidak ada tempat lain untuk melakukannya,” tambahnya, saat ditanya tentang pengalamannya menjadi awak kabin. Senada dengan Eun Ji Won, bintang K-pop lainnya, Kim Yu Jin juga mengaku tidak tahu menahu tentang profesi pramugari dan tugas serta tanggung jawabnya. Pasalnya, selama ini, penyanyi dan aktris Korea Selatan yang lebih dikenal dengan sebutan UEE tersebut selalu tertidur ketika sampai di dalam pesawat. “Berada di dalam pesawat, saya merasa bahwa pramugari benar-benar luar biasa. Saya selalu tidur di pesawat tetapi setelah pengalaman ini, saya menyadari bahwa pramugari melakukan banyak hal,” katanya yang juga ambil bagian dalam acara tersebut. Selain Eun Ji Won dan Kim Yu Jin, beberapa bintang K-pop lainnya juga turut meramaikan acara tersebut. Seperti Song Yunhyeong, anggota dari grup K-pop iKON, aktor kenamaan Korea Shin Hyun Joon, dan komedian Hwang Jesung. Kehadiran sederet bintang K-pop tersebut tentu saja mengundang perhatian banyak penumpang. Beberapa penumpang tampak sibuk merekam sambil tersenyum melihat tingkah awak kabin dadakan itu selama di dalam pesawat. Baca juga: Regulasi Sudah Disahkan Sejak 2008, Ternyata Masih Banyak Penumpang Korean Air yang Nekat Merokok di Ketinggian 36.000 Kaki! Di Korea Selatan sendiri, karir sebagai pramugari masih sangat diminati hingga tak sedikit orang yang mengejar profesi tersebut dengan menjalani operasi plastik agar tampak sempurna. Saking banyaknya calon pramugari yang menjalani bedah plastik, sampai-sampai ada klinik bedah kosmetik di Seoul yang menawarkan program ‘operasi plastik’ khusus pramugari. Hal tersebut pun juga beriringan dengan isu miring mengenai perilaku maskapai-maskapai asal Korea Selatan yang sengaja merekrut wanita-wanita muda yang dinilai sangat menjual. Terlebih, setelah menjalani program operasi plastik khusus pramugari. Sekilas memang tidak ada yang salah, namun, bagi sebagian pengamat di sana, budaya seperti itu sangat tidak baik untuk masa depan Korea Selatan.