Di Tengah Ketegangan Iran-AS, Boeing 737-800 Ukraine International Jatuh di Iran

Pesawat Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines dikabarkan jatuh setelah lepas landas dari bandara Imam Khomeini, Iran. Menurut pemberitaan yang tersiar, pesawat ini mengangkut 180 penumpang dan awaknya. Media lokal Iran menginformasikan bahwa pesawat jatuh tak lama setelah tinggal landas dikarenakan masalah teknis. Baca Juga: Duh! Potongan Pesawat Uji Airbus Jatuh di Desa Dekat Bandara Toulouse-Blagnac Menurut situs Flightradar 24, terlihat bahwa pesawat meninggalkan Iran pukul 02.42 waktu setempat menuju Bandara Internasional Kyiv’s Boryspil di Ukraina. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pesawat milik Ukraine International Airlines diketahui baru berumur sekitar 4 tahun. Hingga berita ini diterbitkan, pihak Boeing selaku produsen belum memberikan tanggapan dan belum ada informasi lebih lanjut terkait kecelakaan tersebut. Mengutip dari laman Reuters (8/1), Kepala Layanan Kedaruratan Iran, Pirhossein Koulivand mengatakan, “Pesawat terbakar. Kami sudah mengirim kru untuk menyelamatkan penumpang,” Seiring dengan viralnya pemberitaan ini, muncul juga sebuah rekaman amatir yang menunjukkan sebuah pesawat yang terbakar tengah melintas di kegelapan malam. Dalam video berdurasi kurang dari satu menit ini, tampak pesawat meledak di akhir-akhir video. Diduga, pesawat tersebut adalah Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines. Baca Juga: Tragedi GA152: Sempat Terjadi ‘Kebingungan’ Identifikasi ATC dengan MA152 Jatuhnya pesawat ini bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Apakah insiden jatuhnya pesawat ini masih ada korelasinya dengan ketegangan antara dua negara tersebut? Ada juga asumsi yang menyebutkan bahwa pesawat Ukraina ini tidak sengaja tertembak oleh Sistem Pertahanan Udara Militer Iran. Namun kembali lagi, masih belum ada titik terang terkait insiden ini.

Liburan Nataru 2020, Angkasa Pura I Akui Adanya Penurunan Jumlah Penumpang

Di luar kebiasaan, saat momem libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020, justru terjadi penurunan penumpang di beberapa bandara yang operasionalnya ditangani PT Angkasa Pura I. Secara persentase, trafik penumpang ini mengalami penurunan 3,3 persen dibanding trafik libur Natal dan Tahun Baru 2019 lalu yang tercatat sebanyak 4,69 juta penumpang. Baca juga: Kelola Bandara-bandara Potensial di Dalam dan Luar Negeri, Angkasa Pura I Gandeng Incheon Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (7/1/2020), disebutka PT Angkasa Pura I melayani sebanyak 4,5 juta penumpang sepanjang masa liburan Nataru 2020 lalu. Angka ini berdasarkan perhitungan selama 19 hari, mulai 19 Desember 2019 hingga 6 Januari 2020 di 14 bandara yang dikelola Angkasa Pura I. Faik Fahmi, Direktur Utama PT Angkasa Pura I, menjelaskan bahwa penurunan trafik penumpang di beberapa bandara, terutama di Pulau Jawa, masih dipengaruhi oleh faktor yang sama dengan tahun lalu yaitu karena telah dioperasikannya Jalan Tol Trans Jawa, harga tiket yang dinilai masih relatif tinggi, dan semakin banyaknya pilihan moda transportasi lain. Disebutkan pula, pertumbuhan trafik tertinggi pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2020 di bandara-bandar Angkasa Pura I terjadi di Bandara Internasional Lombok dengan peningkatan trafik mencapai 15,19 persen. Pada periode ini total trafik penumpang yang melalui Bandara Internasional Lombok mencapai 190 ribu orang dari 168 ribu orang pada periode yang sama pada 2019. Baca juga: Bangun Fasilitas Bandara di 2019, Angkasa Pura I Investasikan Rp17,24 Triliun Sementara dari sisi jumlah penumpang, sama halnya dengan tahun lalu, tahun ini Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali menjadi penyumbang trafik tertinggi dengan melayani 1,4 juta penumpang, dibanding periode yang sama pada tahun yang hanya mencapai 1,3 juta penumpang. Trafik penumpang kedua tertinggi terjadi di Bandara Juanda Surabaya dengan total trafik sebanyak 919 ribu penumpang dan tertinggi ketiga terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan total sebanyak 479 ribu penumpang.

Uber dan Hyundai Siap Luncurkan Layanan Taksi Udara di 2023

Pada hari Senin (6/1) kemarin, manufaktur otomotif asal Korea Selatan, Hyundai mengumumkan bahwa pihaknya bakal melakukan produksi massal untuk varian mobil terbang yang nantinya akan bernaung di bawah merk dagang Uber. Jika tidak meleset dari rencana awal, maka mobil terbang ini akan diluncurkan pada tahun 2023 mendatang. Pihak Hyundai mengklaim bahwa mobil terbangnya ini mengusung konsep Vertical Take-Off Landing (VTOL) yang mampu memboyong empat penumpang. Baca Juga: Sukses Terbang Perdana, Taksi Udara Uber Mahakarya Boeing Mengudara di Tahun 2023 Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com (7/1), adapun kesepakatan ini diumumkan Hyundai pada perhelatan Consumer Electronics Show yang diadakan di Las Vegas beberapa waktu yang lalu. Mereka mengkalim bahwa kerja sama ini merupakan cara untuk membantu Uber untuk mewujudkan impiannya menerapkan layanan taksi udara di beberapa kota – terhitung sejak 2023 mendatang. Kepala Divisi Mobilitas Udara Perkotaan Hyundai, Jaiwon Shin mengatakan bahwa ia mengharapkan manufaktur skala besar untuk menjaga biaya tetap terjangkau untuk jaringan transportasi udara modern ini. “Kami tahu cara memproduksi kendaraan berkualitas tinggi secara massal,” ujar Jaiwon dalam konferensi pers. Jaiwon juga menambahkan bahwa ia juga berharap ada kemitraan dengan perusahaan terkait yang akan memungkinkan layanan taksi udara ini menjadi lebih terjangkau bagi semua orang. Kepala Uber Elevate, Eric Allison yang juga hadir di acara tersebut mengatakan bahwa, “dengan membawa label transportasi udara, maka kami dapat menawarkan efisiensi waktu yang signifikan bagi para penggunanya,” Baca Juga: Tak Mau Ambil Risiko, Uber Kembangkan Riset dan Tinjau Mekanisme Layanan Taksi Udara “Kami juga merupakan satu-satunya aplikasi yang mampu menghubungkan penumpang dari mobil kereta api, dan bahkan sepeda ke pesawat,” tandas Eric. Uber mengumumkan bahwa perusahaan juga telah memilih Melbourne sebagai kota ketiga menyusul Dallas dan Los Angeles untuk menjadi kota pertama yang menawarkan layanan Uber Air, dengan perkiraan uji penerbangan pada tahun 2020 dan operasi komersial pada tahun 2023.

Sejumlah Bandara Mulai Uji Coba Face Recognition, Seberapa Amankah Pengaplikasiannya?

Dewasa ini, penggunaan teknologi face recognition memang sudah mulai diterapkan di sejumlah bandara. Tujuannya adalah untuk mempercepat alur pemeriksaan penumpang di dalam bandara, sehingga penumpukan seperti di zona imigrasi dan zona pemeriksaan keamanan. Kehadiran dari teknologi ini juga sejatinya bisa digambarkan sebagai penanda perkembangan zona aviasi global, mengingat sejumlah pengamat mengatakan bahwa permintaan penerbangan di masa yang akan datang akan meningkat secara drastis. Baca Juga: Fasilitas Pertumbuhan Penumpang, Bandara Global Bakal Terapkan Teknologi Biometrik Nah, diantara sekian banyak bandara di luar sana, ada beberapa bandara yang mulai menerapkan teknologi face recognition ini guna menunjang pengoperasian dan kelancaran arus penumpang di dalamnya. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman biometricupdate.com, Rome – Fiumicino International Airport (FCO) atau yang kerap disebut sebagai Leonardo da Vinci Airport ini akan menguji coba teknologi biometrik face recognition untuk memverifikasi identitas penumpang yang hendak berangkat di konter check-in. Menurut informasi yang dirilis oleh pihak pengelola bandara, teknologi yang didukung oleh Enac dan Kepolisian Negara ini akan menjadi yang pertama di Negeri Pizza. Lain cerita dengan yang dialami oleh San Francisco International Airport (SFO), dimana pihak pengelola bandara menggaet ID Telos yang akan menyediakan teknologi biometrik untuk pemeriksaan latar belakang Designated Aviation Channeling (DAC) yang telah disetujui oleh Transportation Security Administration (TSA). Mengutip dari laman sumber lain, DAC yang dikembangkan oleh ID Telos ini merupakan penawaran modular berbasis web yang memungkinkan bandara dan pihak maskapai untuk memilih layanan mana yang mereka butuhkan. ID Telos menyesuaikan portal web yang aman sesuai dengan kebutuhan para penggunanya dan memungkinkan mereka untuk melakukan banyak fungsi pada satu platform. Berbeda dengan kedua bandara di atas, Haneda Airport yang ada di Tokyo akan menggunakan teknologi biometrik ini untuk menampilkan estimasi waktu tunggu penumpang di terminal keberangkatan. Dalam meluruskan upaya peningkatan pelayanan kepada penumpang, pihak bandara menggaet NEC yang namanya sudah cukup mashyur di dunia teknologi. Baca Juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen Namun kendati canggih dan terdengar menjanjikan, bukan berarti teknologi biometrik ini tidak memiliki kelemahan. Identitas diri Anda yang ‘didaftarkan’ kepada pihak penyedia layanan terkait (seperti bandara, stasiun kereta, dan lain sebagainya) bisa saja sewaktu-waktu bocor dan disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Seram, bukan?

Temukan ‘Kecacatan’ di Mesin, FAA Berikan Arahan untuk Operator Airbus A380

Federal Aviation Administration (FAA) telah mengeluarkan Airworthiness Directive (AD) atau arahan kelaikan udara baru untuk Engine Alliance (EA) GP7200 yang selama ini menunjang pengoperasian dari Airbus A380. Arahan ini membutuhkan inspeksi ultrasonik terhadap Low-Pressure Compressor (LPC) bilah kipas tahap pertama (1st-stage fan blades), dan jika ditemukan sesuatu yang dapat membahayakan operasi penerbangan, bukan tidak mungkin jika bilah kipas ini akan diganti. Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (6/1), FAA mengatakan inspeksi ini merupakan evolusi yang diterapkan setelah In-Flight Shutdown (IFSD) yang ‘menimpa’ penerbangan Airbus A380 pada 10 Maret 2019 silam. Kendati pihak FAA tidak merinci maskapai yang mengoperasikan penerbangan pada tanggal tersebut, namun maskapai asal Perancis, Air France mengoperasikan Airbus A380 dengan nomor penerbangan AF703. Usut punya usut, pesawat tersebut diperintahkan untuk kembali ke Abidjan setelah melaporkan kerusakan pada bagian mesinnya. “IFSD dihasilkan dari faktur pada dua bilah kipas tersebut. Retakan ini berasal dari area mikrotekstur yang dapat berimplikasi pada low-cycle fatigue debit,” ujar salah seorang juru bicara dari FAA. “Berawal dari retak seperti ini, jika tidak ditangani dengan tepat, maka bukan tidak mungkin apabila ini bisa menyebabkan kegagalan mesin di masa yang akan datang,” sambungnya. Adapun arahan kelaikan udara ini diterbitkan pada 30 Desember 2019 dan terhitung efektif pada 14 Januari 2020 mendatang. Dari 15 operator Airbus A380 yang ada di seluruh dunia, hanya ada lima maskapai saja yang diperkirakan terpengaruh oleh arahan inspeksi ini, yaitu Air France, Emirates, Etihad, Qatar Airways, dan Korean Air. Baca Juga: A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing? FAA menargetkan, biaya yang dikenakan untuk inspeksi ultrasonik ini berkisar US$2.720 untuk inspeksi empat mesin selama delapan jam kerja. Sebelumnya, pada bulan September 2017, Airbus A380 yang dioperasikan oleh Air France mengalami kegagalan mesin GP7200 yang tidak terkendali atas Greenland. Kala itu, Air France Flight 66 tengah melakukan perjalanan di rute Charles de Gaulle ke Los Angeles.

Shinkansen Pacu Kecepatan Antara Tokyo ke Sapporo, Namun ‘Terhalang’ Terowongan Seikan

Terowongan Seikan merupakan terowongan bawah laut sepanjang 53 km yang mengubungkan Hokkaido dengan Pulau Honshu utama Jepang menjadi penghalang terbesar untuk kereta peluru shinkansen. Pasalnya kecepatan kereta peluru dibatasi hingga 160 km per jam di terowongan, jauh dibawah kecepatan maksimumnya yang lebih dari 300 km per jam. Baca juga: Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia Padahal kereta peluru Jepang memiliki rencana untuk bereksperimen untuk meningkatkan kecepatan koneksi shinkansen antara Tokyo dan kota utara Sapporo. Tujuannya adalah menyelesaikan perjalanan dalam empat setengah jam yang mereka yakini adalah maksimum dalam meyakinkan pelancong untuk beralih dari pesawat. Namun untuk melakukan itu, kereta peluru shinkansen harus mengatasi kemacetan kereta pembawa kentang dan bawang. KabarPenumpang.com melansir asia.nikkei.com (3/1/2020), terowongan ini digunakan bersama dengan Hokkaido Railway, operator kereta peluru atau JR Hokkaido dan Japan Freight Railway yang mengangkut kargo dengan kereta api biasa. Tak hanya itu, kentang, bawang dan produk lainnya yang dibawa oleh Japan Freight melalui Terowongan Seikan menjadi masalah. Apalagi di masa lalu risiko kargo jatuh dari kereta barang membuat kecepatan kereta peluru akhirnya dibatasi.
Terowongan Seikan (www.railway-technology.com)
Namun salah satu jawabannya adalah kereta peluru membawa kargonya sendiri yang akhirnya membuat JR Hokkaido bermitra dengan perusahaan pengiriman Sagawa Express untuk menguji transportasi makanan laut dengan kereta peluru bersama penumpang. Uji coba sendiri akan dimulai awal tahun ini. Nantinya sebelum memasuki terowongan, JR Hokkaido dan Sagawa berencana untuk memuat cumi-cumi, ikan dan makanan laut lainnya yang ditangkap di dekat Hakodate ke dalam shinkansen menuju Aomori, prefektur paling utara Honshu. Kedua perusahaan mengantisipasi permintaan kuat untuk makanan laut segar, cukup untuk menuntut biaya transportasi yang tinggi. Produk yang tepat untuk dikirim akan ditentukan kemudian, tetapi kentang dan bawang tidak akan dikirim dengan cara ini, karena tidak ada produsen tanaman akan membayar biaya transportasi yang tinggi. Kelemahan dari rencana ini adalah volume kargo yang besar tidak dapat diangkut. Oleh karena itu, pendekatan tersebut akan dikombinasikan dengan opsi lain yang sedang diperiksa, termasuk menetapkan slot waktu untuk kereta peluru untuk melakukan perjalanan dengan kecepatan tinggi melalui terowongan. Pengangkutan juga bisa diangkut dengan feri, bukan dengan kereta api. Perjalanan dari Tokyo ke Stasiun Shin-Hakodate-Hokuto di ujung selatan Hokkaido saat ini memakan waktu sekitar empat jam. Dengan perpanjangan 200 km ke Sapporo, ibukota Hokkaido, yang diharapkan selesai sekitar tahun 2031, tantangannya adalah mewujudkan perjalanan penuh dalam waktu empat setengah jam. Menyelesaikan hambatan di Terowongan Seikan sangat penting bagi shinkansen untuk bersaing dengan maskapai penerbangan. “Masalah seputar penggunaan bersama Terowongan Seikan tidak dapat diselesaikan hanya oleh dua perusahaan kereta api.Itu tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan tunggal,” kata Presiden JR Hokkaido Osamu Shimada. Sagawa, unit utama SG Holdings, tampaknya mengajukan proyek percontohan ke JR Hokkaido. Kedua belah pihak telah mencapai hasil positif menggunakan jalur kereta api non-shinkansen. JR Hokkaido, Sagawa dan perusahaan lain mulai mengangkut barang dan penumpang bersama-sama berdasarkan uji coba pada bulan April antara kota Wakkanai dan kota Horonobe, keduanya di Hokkaido. Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia Para mitra memuji upaya mereka baru-baru ini dari Kazuyoshi Akaba, menteri transportasi Jepang. Banyak pemangku kepentingan bergantung pada keberhasilan proyek shinkansen. Untuk tahun fiskal 2018, JR Hokkaido mengalami kerugian operasional konsolidasi 41,8 miliar yen ($384 juta). Shinkansen Hokkaido menghasilkan kerugian 9,5 miliar yen tahun itu.

Tak Ada Bantal di Kereta Eksekutif, PT KAI: Ini Masih Kajian dan Tengah Dievaluasi

Kalau kata pepatah, ada harga ada barang sama seperti beli tiket moda transportasi dengan bayar mahal dapat fasilitas yang seimbang. Namun apa jadinya jika sudah bayar mahal tetapi tiba-tiba fasilitas yang didapat berkurang dan tanpa pemberitahuan di awal sebelumnya serta tersadar setelah membeli? Baca juga: “Kelas Ekonomi Rasa Eksekutif,” PT KAI Siap Luncurkan 66 Gerbong Ekonomi Premium Ini baru saja dirasakan oleh para penumpang kereta eksekutif yang kehilangan bantal ketika duduk di kursi mereka dan hanya mendapatkan selimut. Hal tersebut kemudian menjadi pembicaraan di media sosial seperti Twitter di mana penumpang mengeluhkan tindakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang menghilangkan bantal di kelas eksekutif. Tak hanya menghilangkan batal, penumpang yang ingin bantal harus merogoh kocek Rp10 ribu untuk menyewa bantal berwarna abu-abu dengan ukuran sedikit lebih besar dari yang sebelumnya diberikan secara cuma-cuma. Beberapa warganet yang juga penumpang kereta api mengaku kecewa atas tindakan ini. Pasalnya biaya yang dikeluarkan untuk membeli tiket kereta eksekutif tidaklah murah dan mereka menyebutkan pemberian bantal di kelas eksekutif adalah servis sepele. Para penumpang ini kemudian juga banyak bertanya kepada akun Twitter @kai121_ terkait masalah tersebut. KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, karena pertanyaan terkait bantal banyak diajukan penumpang, KAI melalui kun Twitternya @kai121_ menjawab tidak adanya fasilitas bantal karena tengah ada perbaikan desain kursi penumpang kereta eksekutif. Oleh karena itu, tidak lagi memerlukan bantal seperti sebelumnya. “Selamat pagi Bapak Wahyu dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Mulai tanggal 1 Januari 2020 fasilitas bantal di KA Eksekutif sudah tidak tersedia. Hal tersebut dilakukan karena saat ini PT. KAI terus melakukan peremajaan dan memperbaiki desain tempat duduk kereta agar menjadi lebih nyaman dan lebih leluasa. Trims,” demikian jawaban @kai121_ kepada akun @wahyzul. Bahkan di Twitter pun tersebar potongan pesan yang berisi instruksi peniadaan bantal sebagai hasil dari rapat yang sudah berlangsung 17 Desember 2019 kemarin. Penjelasan PT KAI Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, VP Public Relation PT KAI Yuskal Setiawan menjelaskan, kebijakan itu masih dalam proses evaluasi. “Sementara kan masih dalam kajian. Masih dievaluasi, masih dipelajari dulu seperti apa. Ini kan tahapannya baru mau, semuanya masih ada, di lapangan masih ada. Masih ada, fasilitas itu masih ada. Masih ada dan masih diberlakukan sesuai dengan existing,” kata Yuskal yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com, Senin (6/1/2020). Yuskal menjelaskan, PT KAI masih mengkaji sejumlah aspek sehingga kebijakan itu ditarik. Salah satunya, ketersediaan kursi dengan desain baru yang belum mencapai 100 persen di semua kereta eksekutif. Baca juga: PT KAI Luncurkan Priority Class di KA Argo Muria, Ini Dia Rinciannya! “Artinya kan tidak hanya aspek krusial seperti kursi 100 persen belum selesai semua. Tapi ada kajian-kajian lain. Kan masih kami evaluasi, penumpang membutuhkan apa lagi. Jadi intinya kebijakan itu ditarik, tidak ada pemberlakuan bantal di kereta. Jadi belum ada pemberlakuan penarikan semuanya masih ada. Masih, masih ada,” kata Yuskal.

Lion Air Telah Hadirkan “WiFi on Board Entertainment” di Tujuh Armada Boeing 737-900ER

Lion Air dengan kode penerbangan JT kini meningkatkan fasilitas entertaiment di dua pesawat lainnya. Sehingga kini sudah ada tujuh armada yang dilengkapi dengan Lion Entertaiment yakni dalam pesawat Boeing 737-900ER dengan nomor registrasi PK-LFF, PK-LFG, PK-LFK, PK-LPF, PK-LPW, PK-LJG dan PK-LFS. Baca juga: Bisa Dinikmati Gratis, “WiFi on Board Entertainment” Segera Hadir di Lima Pesawat Lion Air Corporate Communications Strategic Danang Mandala Prihantoro mengatakan, penambahan dua armada yang terpasang Lion Entertaiment merupakan bagaian yang disediakan oleh perusahaan bagi penumpang untuk fasilitas hiburan (inflight entertaiment). Hal ini untuk membuat pengalaman terbang penumpang agar semakin menyenangkan seperti tren yang berkembang sekarang. “Inflight entertaiment sudah diperkenalkan Lion Air group sejak 7 Desember 2019. Layanan hiburan ini sangat diminati oleh kalangan wisatawan dan pebisnis. Ini yang membuat kami menambah dua pesawat lain untuk mengakomodir kebutuhan perjalanan udara,” ujar Danang yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Senin (6/1/2020). Lion Entertaiment ini dikatakan Danang bisa dinikmati secara cuma-cuma pada ketinggian jelajah hingga 35 ribu kaki. Lion Entertaiment ini terkoneksi melalui wireless inflight entertaiment (W-IFE) dari AirFi Indonesia yang dapat dinikmati dari semua ponsel pintar, tablet, laptop dengan operating system (OS). Setiap penumpang dapat mengakses Lion Entertainment dengan mengikuti beberapa langkah. Pertama, mengubah aturan (setting) ponsel ke mode pesawat atau airplane mode. Kedua, ubah dalam wifi connection pada ponsel dan pilih “lionair”. Setelah berhasil, dapat menikmati wifi entertainment Lion Air. Fitur Lion Entertainment menjamin privasi dan keamanan, karena jaringan W-IFE dari AirFi Indonesia tidak mengizinkan penumpang atau pihak lain mengakses data pribadi. Konten yang disediakan dalam W-IFE dari AirFi Indonesia sangat beragam dan menarik, antara lain film-film (Hollywood, Bollywood, Korea, Mandarin, Indonesia), video untuk anak-anak, majalah, permainan, percakapan pesan singkat dalam kabin (chat onboard) serta fitur unggulan yang lain. Pada waktu mendatang Lion Air akan memperkuat Lion Entertainment di pesawat-pesawat yang Lion Air operasikan dan fitur akan dikembangkan, sekaligus melengkapi layanan hiburan seperti majalah dan koran yang sudah tersedia di dalam kantong kursi. Lion Entertainment merupakan kolaborasi bisnis bersama PT Dua Surya Dinamika (AirFi Indonesia) selaku perusahaan penyedia W-IFE. Baca juga: Layani Jamaah Umrah, Lion Air Buka Penerbangan Perdana Lombok-Jeddah Lion Air menegaskan, dalam menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan, mewajibkan setiap penumpang mematikan ponsel dan koneksi internet saat berada di dalam pesawat, lepas landas dan mendarat serta ketika pesawat dalam posisi di landas parkir (apron).

Kereta Cepat ‘Pintar’ Pertama di Dunia untuk Olimpiade Beijing 2022 Telah Mengular

Kereta cepat pintar pertama di dunia – Jing-Zhang, yang akan menghubungkan Beijing dan Zhangjiakou telah resmi beroperasi pada akhir Desember 2019 kemarin. Kereta yang menghubungkan dua kota tuan rumah Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 tersebut dibangun dari platform driverless. Baca juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin 2022, Beijing Siapkan Kereta Cepat “Olympic” Kereta pintar ini dilengkapi dengan sistem pengendali otomatis, sinyal 5G, pencahayaan cerdas serta soket pengisian daya nirkabel untuk gadget penumpang. Kereta ini dibangun dengan biaya sebesar 6 miliar euro dengan 10 pemberhentian yang ada di jalur sepanjang 174 km. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (31/12/2019), kereta api berkecepatan tinggi Jing-Zhang akan dipandu dengan sistem navigasi satelit global yang dikembangkan secara nasional oleh Beidou. Proyek ini akan selesai tahun depan dan telah dirancang untuk menyaingi dan menggantikan Global Positioning System (GPS) yang dikembangkan oleh Amerika Serikat. “Kereta Api Berkecepatan Tinggi Jing-Zhang telah mewujudkan misi konstruksi “pintar”, peralatan “pintar” dan sistem operasi “pintar”, dan membuat sejarah kereta api “pintar” global pertama di dunia,” ujar insinyur senior Tiongkok Grup Desain dan Konsultasi Teknik Kereta Api, Li Hongxia. Li mengatakan, penyelesaian jalur ini sebagai tonggak sejarah kereta api cepat di Cina. Kereta berkecepatan tinggi ini akan memangkas waktu dari tiga jam tujuh menit menjadi 47 menit diantara kedua kota. Meski kereta beroperasi sendiri, tetapi tetap akan ada masinis di dalam untuk memantau operasi otomatis dan menangani keadaan darurat. Kabarnya, kereta juga akan dirawat dan diperbaiki oleh robot. “Perusahaannya telah mengganti pekerja dengan mesin untuk melakukan perbaikan di bawah gerbong dan di jalur kereta api,” ujar insinyur proyek China Railway Seventh Group Di Kemeng. Kereta cepat pintar ini berangkat dari Stasiun Utara Beijing sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat. Seorang penumpang yang juga juara Olimpiade musim dingin Cina pertama yang memenangkan dua medali emas dalam lomba luncur cepat di Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City, Yang Yang, sangat bersemangat dengan adanya kereta cepat ini. “Itu dapat meningkatkan efisiensi kerja kami, mempromosikan olahraga musim dingin Cina, dan meningkatkan pariwisata,” kata pensiunan atlet tersebut. Baca juga: Kebut Olimpiade Musim Dingin, Cina Produksi Massal Kereta Cepat Akhir Tahun ini Di dalam kabin kereta, penumpang bisa menyimpan papan seluncur mereka di ruang khusus dan bisa menonton pertandingan langsung Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Semua stasiun di sepanjang jalur kereta api akan memiliki berbagai robot dengan kemampuan kecerdasan buatan untuk melayani penumpang. Tugas mereka termasuk mengangkut barang bawaan dan memberikan arahan kepada penumpang.

Lawan Cuaca Buruk, Pesawat WestJet Tergelincir di Landas Pacu

Sebuah pesawat penumpang yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan yang berbasis di Kanada, WestJet, dikabarkan tergelincir di landas pacu Halifax Stanfield International Airport, tak lama berselang setelah pesawat mendarat pada Minggu (5/1) pagi kemarin. Sebelum kejadian yang bisa saja merenggut nyawa dari keseluruhan awak dan penumpang yang ada di dalam pesawat ini, WestJet Flight 248 ini baru saja menyelesaikan penerbangan dari Toronto. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dari insiden ini. Baca Juga: Terdampak Cuaca Buruk, Pesawat Carter ini Tergelincir Menuju Jalan Tol Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (6/1), adapun penyebab dari kecelakaan ini adalah landas pacu di Halifax Stanfield International Airport tertutup oleh salju. Ini tampak dari foto yang diunggah oleh salah satu penumpang yang ada di penerbangan tersebut, Eric Wynne. Eric menjadi salah satu dari 172 penumpang dan tujuh awak pesawat yang hampir celaka ini. “Pihak WestJet bekerja sama dengan otoritas bandara Halifax untuk memastikan keselamatan para penumpang dan kru. Hal ini berlanjut hingga pada saat mereka turun pesawat melalui tangga,” ujar Lauren Stewart, salah satu juru bicara dari WestJet. Sebenarnya, pihak bandara telah mengeluarkan himbauan agar semua penerbangan yang bergerak menuju Halifax Stanfield International Airport untuk mempertimbangkan kembali perjalanan terkait, mengingat kondisi cuaca pada musim dingin (salju) yang dikhawatirkan bakal berdampak pada penerbangan. Benar saja, jika pihak WestJet memilih untuk membatalkan Flight 248, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Menurut penuturan Eric, ia dan penumpang lain sempat mengalami guncangan ketika pesawat touch down. “Kami merasakan terpaan angin yang cukup kuat sesaat sebelum mendarat,” “Seketika kami mendarat, tapi apa yang kami rasakan saat itu pesawat seperti tidak melakukan penurunan kecepatan (tergelincir),” sambungnya. Baca Juga: Nyaris Terjun Ke Laut Mati, Boeing 737-800 Pegasus Airlines Tergelincir Akibat Cuaca Buruk Pada awalnya, Eric tidak menyangka bahwa pesawat tergelincir, namun ketika ia melihat ke arah luar jendela, ia baru sadar bahwa pesawat telah berada di rerumputan di samping landas pacu utama. Di situlah Eric sadar bahwa pesawat yang ditumpanginya tergelincir keluar landasan. Terkait kejadian ini, pihak bandara membatalkan tiga penerbangan meninjau dari segi keselamatan.