Pernah Ditutup Tahun 2011, Stasiun Ceper Kini Beroperasi dengan Persinyalan Elektrik

Stasiun Ceper yang terletak di Klaten merupakan stasiun kereta api kelas III/ kecil dan masuk dalam Daerah Operasional (Daop) VI Yogyakarta. Berada di ketinggian +133 meter diatas permukaan laut, stasiun ini dulunya memiliki percabangan ke pabrik gula Ceper Baru. Baca juga: Stasiun Maguwo Lama – Pernah Jadi ‘Saksi’ Agresi Militer Belanda ke II di Yogyakarta Berada dibawah manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Ceper bangunannya merupakan peninggalan masa Hindia Belanda yang diperkirakan pembangunannya bersamaan dengan jalur rel kereta api dari Solo Balapan – Yogyakarta. Di mana pengerjaannya dilakukan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscahppij (NIS) pada tahun 1872 sebagai lanjutan dari proyek jalur Semarang-Vorstenlanden. Dirangkum KabarPenumpang.com  dari berbagai laman sumber, jalur ini memiliki panjang 58 km dengan pengerjaan dimulai dari Solo di sebelah timur laut ke Yogyakarta di sebelah barat daya. Kemudian jalur ini akhirnya diambilalih oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, dan dilakukan pembenahan pada tahun 1929. Meski stasiun kecil tetapi memiliki empat jalur dengan jalur 1, 2 dan 3 terhubung dalam persilangan di sebelah selatan ataupun utara. Sedangkan jalur 4 terhubung dengan Gudang Pupuk Sriwijaya (Pusri). Kemudian pada tahun 2013, untuk mendukung operasional jalur ganda, sistem persinyalan mekanik di stasiun ini diganti dengn sistem persinyalan elektrik buatan PT Len Industri dan mulai dioperasikan pada 12 Februari 2019 kemarin. Sejak pengoperasian jalur ganda parsial Yogyakarta – Solo sebagai segmen Srowot–Ketandan per 2001 dan selesai sebagai segmen Brambanan–Delanggu pada tanggal 15 Desember 2003, stasiun ini memiliki lima jalur kereta api dengan jalur 2 dan 3 merupakan sepur lurus serta jalur 5 sebagai jalur parkir KA barang. Mulai Maret 2015, stasiun ini menjadi titik akhir perjalanan kereta api Pupuk Sriwijaya Palembang sebelum didistribusikan ke daerah sekitarnya. Pupuk Sriwijaya ini diangkut dari Stasiun Cilacap Pelabuhan di dekat Pelabuhan Tanjung Intan. Stasiun Ceper sebenarnya termasuk stasiun yang memiliki bangunan stasiun yang lumayan besar bila ditinjau dari bangunan stasiun di daerah lainnya yang setipe. Mungkin karena Ceper pernah menorehkan sejarah dengan adanya PG Ceper Baru yang pada waktu itu turut andil dalam memberikan masukan keuangan bagi Pemerintah Hindia Belanda sehingga Stasiun Ceper dibangun lebih besar. Sama kasusnya dengan Stasiun Delanggu. Baca juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia Diketahui, pada 1 Desember 2011, Stasiun Ceper tak dioperasikan oleh PT KAI dan dirasakan oleh pedangan yang berjualan di Stasiun Ceper. Adanya penutupan ini, Humas Daop VI Eko Budiyanto mengatakan kebijakan tersebut diberikan untuk alasan efisiensi.

Beginilah Kondisi Pramugari Thomas Cook yang Patah Kaki Akibat Turbulensi

Anda masih ingat dengan kasus seorang awak kabin yang mengalami patah tulang pasca pesawat yang ia tumpangi mengalami turbulensi? Ya, baru-baru ini terungkap siapa awak kabin yang ada di balik insiden mengerikan ini. Adalah Eden Garrity, seorang pramugari yang terdampak turbulensi hebat tersebut. Saking hebat dampak dari turbulensi ini, Eden tidak hanya mengalami patah tulang saja, melainkan sempat juga tak sadarkan diri tak lama setelah ia terjatuh. Baca Juga: Terdampak Turbulensi, Pramugari dengan Sepatu Hak Tinggi Alami Patah Tulang! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (5/1), Eden kala itu tengah bertugas di rute penerbangan Kuba menuju Manchester pada tanggal 2 Agustus 2019 kemarin. Eden mengaku, pesawat mengalami turbulensi ketika berada di ketinggian sekitar 500 kaki, dan itu terjadi hanya dalam hitungan detik saja – beberapa detik yang mengerikan bagi seisi kabin, terlebih Eden. “Itu amat sangat mengerikan,” kenang Eden. “Kaki saya ‘terkunci’ di lantai kabin dan pergelangan kaki saya patah. Awalnya saya tidak menyadari kejadian ini (pergelangan kaki yang patah), namun ketika saya berusaha untuk bangun dan berjalan, di situ saya langsung pingsan,” sambungnya.
Kondisi Eden ketika mendapatkan penanganan medis di pesawat. Sumber: foxnews.com
Ketika pesawat Airbus A330-200 yang dioperasikan oleh maskapai Thomas Cook ini masuk ke ‘zona turbulensi’, pilot langsung mengumumkan kepada penumpang dan awak kabin bahwasanya pesawat baru saja masuk ke dalam kepulan awan hitam yang sangat pekat, “sampai-sampai Anda tidak bisa melihat apa-apa di sekeliling,” “Sejauh ini, inilah turbulensi terburuk yang pernah saya alami, baik itu ketika bertugas atau menjadi seorang penumpang,” tambah Eden.
Kondisi kaki Eden yang harus dipasang alat penunjang kesehatan. Sumber: Foxnews.com
Menyinggung dampak dari turbulensi yang menimpa Eden, bagian kaki Eden yang bernama fibula ‘terpecah’ menjadi lima bagian dan bagian lainnya yang bernama tibia juga mengalami patah. Ditambah lagi bagian sisi kaki dan engkel Eden mengalami retak. Baca Juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam! Eden harus menahan kesakitan yang luar biasa sampai pesawat mendarat. Setibanya di darat, ia langsung dilarikan menuju rumah sakit dan menjalani tindakan medis. Eden langsung menjalani operasi dan dipasang penopang berbahan logam untuk bisa memulihkan kondisi kakinya tersebut. Setidak-tidaknya, Dokter memvonis Eden tidak bisa berjalan selama kurang lebih dua bulan untuk penyembuhan. Sialnya lagi, maskapai Thomas Cook sudah dinyatakan bangkut, dan nasib Eden kini terombang-ambing tanpa kejelasan.

Garuda Indonesia Sabet Predikat “Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia,” Begini Cara Menghitungnya!

Pada tanggal 3 Januari kemarin, ada kabar gembira datang dari Garuda Indonesia dimana perusahaan yang sebelumnya sempat tersandung kasus penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda lipat Brompton ini meraih pengakuan internasional sebagai “The Most Punctual Airline in the World” pada Punctuality League 2020 oleh lembaga pemeringkatan On Time Performance (OTP) independen asal Inggris, OAG Flightview. Baca Juga: Dengan OTP 91,20 Persen, Garuda Indonesia Tuntaskan Fase Pemberangkatan Calon Jamaah Haji 2019 Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari siaran pers, Garuda Indonesia berhasil mencatatkan capaian tingkat ketepatan waktu tertinggi sebesar 95,01 persen dari 57,5 juta flight record penerbangan dunia selama tahun 2019 sekaligus menjadi maskapai dengan tingkat ketepatan waktu terbaik di Asia Pasifik. “Capaian ini tentunya memiliki arti tersendiri bagi kami mengingat Garuda Indonesia berhasil mencatatkan capaian Tingkat Ketepatan Waktu Terbaik tertinggi sebagai “The Most Punctuality Airline in the world” sejak tiga tahun terakhir dengan berhasil mencatatkan capaian tingkat ketepatan waktu diatas 95 persen,” ujar Pejabat Direktur Operasi Garuda Indonesia, Capt. Tumpal M. Hutapea. Nah, menyinggung soal OTP, pada beberapa artikel sebelumnya sudah pernah dijelaskan bahwa OTP ini tidak melulu milik sektor penerbangan – melainkan hampir semua moda transportasi juga memiliki penilaian terhadap ketepatan keberangkatannya tersendiri. Memfokuskan pembahasan ke sektor penerbangan, sebuah maskapai yang berbasis di Baghdad, Iraqi Airways menerapkan aturan bahwa pesawat yang berangkat selang 15 menit dari jadwal yang tertera, maka hal tersebut masih tergolong tepat waktu. Mengutip dari laman sumber lain, aturan dari Iraqi Airways ini lantas diterapkan oleh hampir semua maskapai yang ada di industi penerbangan. Maskapai yang memiliki kinerja baik dalam hal keberangkatan biasanya mencatatkan presentase OTP sebesar 90 persen ke atas. Dengan kata lain, apa yang dicapai oleh Garuda Indonesia di atas menunjukkan bahwa maskapai tersebut tetap menunjukkan kinerja yang optimal, kendati internal perusahaan tengah tidak kondusif. Baca Juga: Bicara Kompensasi Saat Terjadi Delay Ada di Peraturan Menteri Perhubungan Lalu, bagaimana cara menghitung OTP? Masih mengutip dari laman sumber yang sama, ternyata cara menghitungnya cukup sederhana: (Services on time : total services) x 100 persen. Jadi, kalau Anda terdampak keterlambatan penerbangan selama kurang dari 15 menit dari waktu yang dijadwalkan, maka itu masih masuk ke dalam kategori tepat waktu, ya! Jika dibahas lebih lanjut, maka ini akan bermuara pada kompensasi yang didapat penumpang akibat keterlambatan penerbangan – mulai dari minuman, hingga uang tunai!

Pilot Garuda ‘Baper,’ Dilaporkan ke Pejabat Lantas Ngeloyor

Belum lama seorang Youtuber mem-videokan menu maskapai Garuda Indonesia di kelas bisnis yang menggunakan tulis tangan pada selembar kertas. Youtuber ini pun kemudian dilaporkan ke polisi karena memposting hal yang didapatnya ke media sosial. Baca juga: Geger Video Menu dengan Tulisan Tangan, Garuda Indonesia Keluarkan Surat Larangan Ambil Gambar di Kabin! Nah, baru-baru ini seorang penumpang Garuda Indonesia yang pergi dengan suami, tiga orang anak dan dua baby sitter harus mengalami penahanan di Bandara Ngurah Rai Bali ketika baru tiba karena mendumel saat tidak diperbolehkan ke toilet. Cerita ini datang dari Jessica dengan akun Twitter @jesswjk yang mencurahkan isi hati dan unek-uneknya di media sosial.
(@jesswjk)
KabarPenumpang.com mengutip dari akun Twitter @jesswjk, saat itu dia pergi berlibur ke Bali dengan suami, tiga anaknya dengan salah satunya masih bayi lima bulan dan dua baby sitter. Jessica naik pesawat GA404 pada Sabtu (4/1/2020) di kelas bisnis. Jessica menceritakan saat itu semua penumpang terkena penundaan sekitar 50 menit karena menunggu runway clear di Bandara Ngurah Rai. Ternyata anaknya yang pertama ingin buang air besar (BAB) dan posisi pilot sudah mengatakan untuk menggunakan seat belt. Suami Jessica kemudian berjalan ke bagian depan untuk meminta izin membawa anak mereka ke toilet karena sakit perut. Ternyata pramugari menolak karena alasan keamanan dan suami Jessica kembali ke kurisnya. “That’s fine, terus anak gue mengeluh sakit perut (he held it in though! what a champ), suami gue jd panik sendiri + ngedumel (INI NGEDUMEL KE GUE LHO YA!! IN HIS SEAT!!) ttg Garuda ke gue. Yg mnrt gue wajar, lha dia concerned ttg anaknya. Gue konsen banget, karena gue emang posisinya lagi nyusuin anak gue yang baby. Tapi yaudah lah, org kita udah lama banget nungguin landing, mendingan cepetan nyampe krn baby gue gak nyaman,” tulis Jessica. Setelah landing dengan aman, mereka keluar pesawat dan naik mobil pertama ke terminal dan suaminya membawa anak pertama mereka ke toilet. Tiba di baggage lounge Jessica kemudian memberikan tag ke lounge attendant untuk pengambilan bagasi. Kemudian setelah barang keluar, Jessica bertemu dengan orang tua dan adiknya yang sudah tiba lebih dahulu dengan penerbangan setelahnya. Sayangnya ketika dia dan semua keluarga hendak keluar, mereka dihadang oleh louge attendant. “Permisi, maaf captain mau bicara,” tulisnya lagi, Kecurigaan pun muncul karena didepan lounge ada 7-8 petugas AvSec dan Gapura (ground handling Garuda), tiga pilot dan enam pramugari. Karena bingung dia meminta orang tuanya kluar duluan. Setelah itu Jessica kembali ke dalam lounge dan memberikan boarding pass mereka ketika ada AvSec yang memintanya. “Tahan tuh semuanya!” dengan nada super arogan. wkwk. Yaudah, karena gue merasa aneh, gue keluar dong ke arah captainnya. “Ini ada apa ya?”. Suami gue ngikutin dibelakang gue. Captainnya berujar lagi, “Ni tahan semua nih!” ke Avsec. Gue makin bingung dong, gila gue uda bayar premium kenapa diperlakukan seperti penjahat TANPA ALASAN YANG JELAS. Suami gue bilang lagi, “ini ada apa ya??” cerita Jessica. Kemudian Jessica menceritakan, kalau captain itu menjawab pertanyaan mereka dengan arogan. “Bapak ngomong apa di flight? Bapak menghina Garuda kan di dalam flight! Saya atas nama direktur operasional Garuda, nanti akan ada petugas yang menindaklanjuti.” Karena kebingungan pun suami Jessica sampai bertanya kapan mereka menghina Garuda dan apa buktinya. Hingga sang captain kemudian memanggil pramugari yang bergerombol di depan dan prmugaru yang men-serving keluarga tersebut datang. “Saya dengar bapak bilang garuda tai,” tulis Jessica mengikuti ucapan pramugari Garuda. Jessica merasa hal ini lucu dan menurutnya mendumel atau menceritakan sebuah keluh kesah pada seorang istri adalah hal wajar. Bahkan tak perlu untuk dibesar-besarkan karena hanya berbicara berdua tanpa ada orang lain ikut campur. “Bapak itu udah menghina satu Garuda dengan blg Garuda tai!” tulis Jessica lagi sesuai omongan sang captain. “Yaudah bapak kan blg direktur operasional, kebetulan bapak saya kenal dgn Pak Chairul dan Pak Chairal, gmn kalo saya telpon skrg?” At this point si Captain melengos terus pergi. Disini udah bnyk bgt petugas avsec yg ngerubungin kita spt kita penjahat. Gila kan? Gue telp bokap gue, request dia masuk lagi. Terus captain udah pergi, baru orang ground Garuda dateng. Gue jelasin permasalahannya dan gue blg gue akan eskalasi ini ke pak Chairal, mukanya apologetic banget. Mereka langsung berubah 180 derajat. Bokap gue masuk lagi,” kata Jessica. Masalah ini pun ditanggapi petinggi Garuda tersebut dan menyanyakan siapa nama captain yang bertugas dan menghadang mereka. Sayangnya semua petugas tidak ada yang berani menyebutkan nama pilot tersebut karena takut terseret masalah ini. “Maaf ya mbak, mohon maaf sekali kami bukannya ga mau, tapi ga bisa. Nanti kami yang kena. Saya juga cuma kerja disini,” tulisnya lagi. Masalah ini pun kemudian dikomentari oleh warganet dan mengatakan bagaimana jika mereka yang berada di posisi itu tetapi tidak memiliki kenalan. Bahkan beberapa diantarnya meminta untuk mencari nama captain tersebut dan mengatakan pramugari yang mendegar serta melaporkan hal tersebut dekat dengan captain. Baca juga: Jadi Viral, Menu Kelas Bisnis Ditulis Tangan, Garuda Indonesia Minta Maaf Pada Vloger Diketahui dari aku Twitter @digeeembok, berikut nama-nama crew GA404 tersebut yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bali yakni WA (Capt), ADY (FO), NWS (PU), NIS (FA), AF (FA), DIS (FA) dan AA(FA).

[Video] Peti Jenazah Jenderal Qasem Soleimani Ditempatkan di Kabin Penumpang

Kematian jenderal top Iran Qasem Soleimani (62 tahun) masih menjadi sorotan dunia hingga hari ini. Tewas akibat serangan rudal yang dilancarkan drone Amerika Serikat pada Jumat (3/1/2020) dini hari di Bandara Baghdad, mengundang duka yang mendalam bagi rakyat Iran. Dan usai insiden, jenazah sang jenderal dibawa pulang ke negaranya. Baca juga: Ingatkan untuk Perbaiki Hijab Penumpang, Aplikasi Ride-Hailing Iran Malah Diboikot! Dikutip dari cnnindonesia.com (4/1/2019), disebutkan jasad Soleimani diperkirakan telah tiba di Iran pada malam hari (4/1) waktu setempat. Jenazah akan dibawa ke kota suci umat Syiah, Mashhad, pada Minggu besok untuk disemayamkan di dekat pusara tokoh Syiah, Imam Reza. Rencananya dia akan dimakamkan di tempat kelahirannya di Kota Kerman pada Selasa (7/1). Bersama korban lain, jenazah Qasem Soleimani diterbangkan dari Irak menggunakan pesawat Airbus A300B4-603 milik MahanAir. Yang manarik perhatian netizen, bila umumnya peti jenazah ditempatkan pada ruang kargo, maka jenazah jendral Qasem Soleimani nampak ditempatkan di ruang kabin penumpang. Seperti diperlihatkan pada video yang diposting akun Twitter @BabakTaghvaee, terlihat beberapa peti jenazah ditempatkan pada kursi penumpang kelas ekonomi. Karena merupakan tokoh yang dihormati oleh warganya, besar kemungkinan penempatan peti di kabin sebagai wujud penghormatan.

Kenali “Overhead Cost,” Biaya Penunjang dalam Operasional Maskapai

Direct Cost sudah, Indirect Cost sudah, Fleet Cost pun juga sudah dikupas, berarti satu komponen pembentuk biaya pengoperasian yang belum diulas adalah Overhead Cost. Jika pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Direct Cost merupakan biaya yang berkenaan dengan pengoperasian sebuah penerbangan, Indirect Cost lebih kepada SDM yang dioperasikan, Fleet Cost itu berkenaan dengan status pesawat yang digunakan, maka Overhead Cost sejatinya lebih urusan penunjang pengoperasian yang ada di darat seperti yang berkenaan dengan kantor cabang, dan lain sebagainya. Baca Juga: Lebih ke Seputar Armada, Inilah “Fleet Cost” di Sektor Penerbangan Komersial Ya, tidak mungkin sebuah maskapai dapat beroperasi tanpa ditunjung oleh tenaga yang kompeten di darat. Semua keseluruhan pegawai (yang ada di udara dan darat) secara simultan dan berkesinambungan saling berkomunikasi dan bekerja sama untuk bisa menjaga ritme pengoperasian maskapai terkait. Nah, kali ini KabarPenumpang.com akan sedikit membahas tentang biaya yang harus dikeluarkan sebuah maskapai untuk urusan perkantoran yang tergabung di dalam Overhead Cost. Masih menggunakan data rataan tahun 2017 milik salah satu maskapai ternama di Indonesia yang didapat dari sumber terpercaya, besaran Overhead Cost dari maskapai ini berada di level 9,77 persen dari total biaya. Jika total biaya yang dikeluarkan maskapai ini pada tahun 2017 berada di angka US$3,1 miliar, maka total biaya yang sudah ‘dibayarkan’ untuk Overhead Cost ini adalah sekitar US$300 juta. Nah, mungkin beberapa dari Anda penasaran dengan rincian dari Overhead Cost ini, berikut adalah pembagiannya: Administration: 7,14 persen Station: 1,54 persen Sales Organisation: 0,73 persen Marketing: 0,25 persen dan Flight Interrupted: 0,10 persen. Layaknya komponen-komponen lain, masing-masing dari poin yang disebutkan di atas juga memiliki perinciannya masing-masing. Baca Juga: Menilik Lebih Jauh “Direct Cost,” Komponen Pembentuk Biaya Operasi dalam Penerbangan Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Direct Cost menjadi biaya paling besar yang harus dikeluarkan maskapai ini pada tahun 2017 dengan presentase 57,78 persen. Disusul oleh Fleet Cost di angka 28,81 persen, dan Indirect Cost dengan 3,64 persen. Kembali diingatkan bahwa data di atas bisa berubah kapan saja, mengingat bisnis maskapai yang sifatnya penuh dinamika.

Penuhi Persyaratan, Transport for London Siap Harmonisasikan ‘Nada’ di Bus Listrik

Terhitung sejak tahun 2020 mendatang, beberapa bus listrik di London akan menghasilkan suara buatan saat beroperasi di kecepatan rendah. Suara ini diciptakan cukup spesifik, dimana dipercaya akan memberikan suguhan luar biasa kepada setiap pendengarnya di jalan. Adapun suara-suara yang dinilai menakjubkan ini diciptakan oleh Zelig Sound, perusahaan asal London yang dikabarkan sudah menjalin kerja sama dengan Transport for London sejak tahun 2018 silam. Baca Juga: “Terlalu Senyap,” Transport for London Aplikasikan Suara Khusus Pada Bus Listrik Adapun suara ini diperkenalkan sebagai tanggapan terhadap undang-undang terbaru dari Uni Eropa yang menetapkan bahwa semua kendaraan listrik (Electronic Vehicle/EV) harus menghasilkan suara buatan di saat mesin-mesin dari kendaraan jenis baru ini tergolong sangat sunyi – terutama ketika tengah bergerak di kecepatan minim. Ya, tentu saja hal seperti ada baik, dan ada buruknya. Baiknya adalah ketika kendaraan sudah tidak lagi menghasilkan polusi suara – sedangkan sisi buruknya adalah kendaraan minim suara semacam ini bisa saja menghasilkan satu ancaman bagi para pengguna jalan. Jika kurang waspada, bukan tidak mungkin jika para penyebrang jalan yang kurang waspada akan tertabrak karena tidak mendengar ada bus listrik di dekat mereka. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (20/12), nantinya nada dasar yang akan dikeluarkan oleh kendaraan listrik ini adalah F# maj7, dimana nada ini dinilai lembut. Ketika bus mulai bergerak dari posisi berhenti, maka nada yang dihasilkan akan berubah ke C sebanyak tiga ketukan. Di Uni Eropa, peraturan menyebutkan bahwa sebuah kendaraan harus mengeluarkan bebunyian yang setara dengan 56 dB ketika bergerak di kecepatan 20 km per jam. Hal ini ditujukan agar pengguna jalan yang ada di sekeliling kendaraan bisa mendengar – setidaknya lebih keras dari deru angin dan suara bising dari kendaraan lain. Baca Juga: Dari London, Telah Meluncur Bus Tingkat Bertenaga Listrik Pertama di Dunia Rencananya, otoritas transportasi bus di London akan memperkenalkan layanan ini secara bertahap di tahun 2020. Sebanyak 100 rute pertama di dalam London akan memasuki masa uji coba pada Januari hingga Juni, dimana selanjutnya rute akan diperluas pada masa selanjutnya.

Kota Gudeg Punya Resto Berkonsep Bandara yang Super Unik!

Selain enak, salah satu magnet kuat yang dapat menyedot pengunjung untuk bertandang ke sebuah restoran adalah konsep yang unik. Ya, lalu bagaimana jadinya jika sebuah restoran sudah memiliki konsep yang unik dan berbarengan dengan varian menu yang menggugah selera? Wah, bukan tidak mungkin jika resto ini akan dipadati oleh pengujung setiap harinya, ya! Baca Juga: Lima Restoran ini Gunakan Body Pesawat Sebagai Lapak Jualannya Jika Anda hendak mencari resto komplit semacam ini, datanglah ke Dusun Kadirojo I, Purwomartani, Kalasan, Sleman, dimana Anda akan menemukan Jogja Airport Resto (JAR). Jika dilihat dari namanya saja, sudah barang tentu konsep yang ditonjolkan dari restoran ini adalah seputar dunia penerbangan. Tidak tanggung-tanggung, si empunya restoran menghadirkan sebuah pesawat narrow-body ber-livery-kan sejumlah karakter kartun lucu, seperti Minions dan Mike Wazowski dari film Monster Inc. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman brilio.net, ‘perjalanan’ wisata kuliner Anda kaan dimulai dari area lobi, dimana Anda akan dilayani selayaknya seorang penumpang pesawat. Jika Anda hendak memesan makanan, Anda bisa melakukannya di Counter Check In – seperti yang Anda selalu lakukan sesaat sebelum mengudara.
sumber: brilio.com
Selesai memesan makanan, tiba saatnya untuk boarding alias masuk ke dalam restoran dengan menggunakan garbarata berlapis kaca pada bagian sisinya. Oh iya, JAR ini menyediakan dua jenis kelas yang dapat dipilih – Ekonomi dan Bisnis. Perbedaan antar kelas ini tampak dari jumlah seat, fasilitas seat, dan juga harga paket makanan. Menurut laman sumber, untuk masuk kabin pesawat, Anda juga harus pesan paket makanan yang sudah ada di menu lho.
sumber: brilio.com
Ada tiga varian menu paket yang bisa Anda pesan, yaitu Paket Ndeso, Paket Kampung, dan Paket Melayu. Masing-masing dari paket tersebut terdiri dari berbagai makanan, mulai dari traditional food hingga western food. Harga menu paketnya Rp 160 ribu untuk empat orang, alias Rp40.000 per orang. Cukup ramah di kantong, bukan? Sebagai informasi tambahan, boarding akan dilakukan setiap jam 11.00 WIB dan 13.30 WIB, kecuali jika ada rombongan yang pesan banyak seat, boarding bisa dilakukan saat itu juga. Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah “Sebetulnya dulu itu kita nggak punya pikiran ke konsep resto. Dulu kita beli pesawat itu untuk kargo. Cuma karena pemikiran kita lebih jauh lagi, saingan kargo kan banyak, makanya kami memutuskan tidak bergelut di bidang kargo. Akhirnya kita bergelut di bidang kuliner dan edukasi,” tutur manajer JAR, Ahmad menceritakan sedikit cikal bakal dari hadirnya resto unik ini. “Kita juga bikin berbeda dengan resto-resto yang lain, konsepnya dibuat betul-betul seperti di bandara,” sambungnya. Bagi Anda yang ingin ekslpor menu di luar paket, maka Anda wajib mencoba menu satuan yang dijual dengan harga berkisar Rp4.000 hingga Rp75.000. Bagaimana, Anda tertarik mencobanya?

Langka! Ibu dan Anak Bekerja Sebagai Pramugari di Penerbangan yang Sama

Terbang bersama keluarga sudah biasa dilakukan ketika bepergian ke suatu tempat yang mengharuskan naik pesawat. Namun apa jadinya bila ibu dan anak perempuannya bekerja di maskapai penerbangan yang sama dan bekerja di jadwal penerbangan yang sama? Tenyata ada pasangan ibu dan anak asal Manila, Filipina ini bekerja di Cathay Pacific sebagai pramugari. Baca juga: Delta Airlines Punya Pilot Sepasang Ibu dan Anak Sang ibu Jessica Liwang yang sudah memiliki pengalaman terbang selama 25 tahun dan putrinya Christine Angel Calicdan mengikuti jejak sang ibu. Bahkan bisa dikatakan itu adalah keputusan terbaik yang pernah dibuat Angel. KabarPenumpang.com merangkum lama inquirer.net (31/12/2019), Angel mengatakan dirinya memandang sang ibu sebagai inspirasi terbesar menjadi seorang pramugari.
(inquirer.net)
“Memulai perjalanan baru ini tidak mudah, tetapi dengan bimbingan ibuku, semuanya berjalan lancar. Masih terasa tidak masuk akal bahwa saya bisa melihat dunia bersamanya dan kita memiliki kantor yang sama sekarang, 25 ribu kaki di atas tanah!” ungkap Angel. Pramugari 27 tahun ini baru bekerja di Cathay Pacific tahun 2019 kemarin. Padahal Angel sendiri memiliki gelar sarjana dengan lulusan jurusan periklanan dari Universitas Santo Tomas. “Saya terkejut tetapi pada saat yang sama gembira ketika putri saya Angel memutuskan untuk mengikuti jejak saya. Saya sangat senang dia akhirnya mengalami dunia perjalanan yang indah, terutama bertemu orang-orang dari berbagai belahan dunia dan belajar dari budaya mereka serta memiliki kepuasan diri sendiri dalam membuat perbedaan dan menciptakan pengalaman perjalanan yang baik untuk banyak hal,” kata Jessica sang ibu. Ternyata sepasang orang tua dan anak ini sudah sering bertugas dalam penerbangan yang sama seperti ke India dan Italia. Angel mengaku dirinya merasa beruntung saat mulai bekerja di tim yang sama dengan sang ibu. Angel mengatakan, tanggung jawabnya bisa begitu tersebar sehingga kru bekerja dalam tim yang lebih kecil untuk memastikan semuanya diurus. Tetapi, ketika dia sedang dalam penerbangan bersama ibunya, dia bercanda bahwa rekan-rekan pelayannya sedikit lebih baik padanya, mengetahui bahwa ibunya sedang memperhatikannya serta kru mereka yang lain. Angel sendiri sudah melakukan penerbangan bersama Cathay Pacific ke Afrika Selatan, Milan dan India. Bahkan belum lama ini dirinya baru terbang dari rute Manila-Hong Kong-Boston pertamanya di Desember kemarin. Dia menikmati perannya dalam memastikan keselamatan penumpang sambil memberikan layanan prima sepanjang penerbangan 17 jam. Setelah mendarat, ia menikmati sedikit budaya dengan mengunjungi Boston bersama keluarga besarnya, Bolandrin of Douglas, yang senang menyambutnya di Boston. Boston adalah kota yang menakjubkan, dan Angel mengalami serta belajar banyak selama persinggahan. Dari pertama kali melihat salju dan belajar lebih banyak tentang Pesta Teh Boston yang bersejarah dan Jalur Kebebasan, hingga melihat landmark Fenway Park dan mengunjungi Universitas Harvard terdekat dengan makan siang di Harvard Faculty Club. Angel berharap untuk segera kembali ke Boston, tetapi dia tahu ada banyak halte dan kota lain untuk dinanti dan jelajahi. Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram “Saya merasakan serangkaian emosi seperti bahagia, tertantang, di luar diberkati, termotivasi dan banyak lagi, tetapi yang terpenting, bersyukur. Bersyukur atas kesempatan untuk melihat dunia dan menyentuh kehidupan orang-orang dan bersyukur bisa mengikuti jejak seseorang yang sangat saya hormati,” katanya.

Tak Hasilkan Laba Banyak, Rasa Menu “Santan” AirAsia Berlebih dan Membuat Pengunjung Angkat Bicara

Restoran cepat saji yang bernama Santan milik AirAsia di Mid Valley Megamall di Kuala Lumpur belum bisa menghasilkan banyak. Padahal Santan yang dijual oleh maskapai berbiaya hemat (LCC) yang paling sukses di Malaysia ini cukup laku dalam penerbangan. Baca juga: AirAsia Buka Restoran Darat di Mall Kuala Lumpur dengan Menu di Penerbangan Karena laba yang dihasilkan oleh restoran Santan tersebut menurun, perusahaan ingin melakukan diversifikasi dan mengurangi bisnis penerbangan dari 80 persen menjadi 40 persen tahun 2025 mendatang. Kemudian akan menghadirkan makanan pesawat terbang menjadi inti visi yang dijual di darat. Bahkan AirAsia beberapa tahun ke depan berencana membuka lebih dari 100 restoran Santan baru. “Setahun yang lalu, ketika saya pertama kali menyulap gagasan untuk mengubah pilihan makanan dalam penerbangan kami menjadi restoran cepat saji, semua orang berpikir saya gila. Ini juga seperti yang mereka pikirkan 18 tahun lalu ketika saya memulai maskapai,” ujar CEO AirAsia Tony Fernandes yang dikutip KabarPenumpang.com dari gulfnews.com (2/1/2020). Ia mengatakan gagasan waralaba makanan cepat saji Asean pertama ini pada dasarnya tidak gila. Sebab kelas menengah Asia Tenggara yang berkembang semakin tertarik pada pilihan makanan yang beragam. Seperti gerai makanan cepat saji yakni McDonald dan KFC yang sudah menjamur dimana-mana. Di Malaysia sendiri KFC dan Pizza Hut bahkan sudah membuka lebih dari seribu outlet dan menjadikan mereka sukses di kawasan ini. Masalahnya bagi AirAsia sendiri adalah pelanggan menang dalam industri restoran Asia Tenggara akan jauh lebih sulit untuk memenangkan penumpang dengan pesawat murah. Bisa dikatakan dalam satu hal, Tony bisa saja salah membaca kompetisi. Gerai makanan cepat saji Amerika menjadi bagian kecil dari 167 ribu bisnis makanan dan minuman di Malaysia yang sebagian besar melayani makanan lokal. Tak hanya itu, jika Santan ingin bersaing dengan makanan cepat saji lokal di Asia Tenggara banyak yang harus diperbaiki. Pasalnya sebuah keluarga dengan yang pada Sabtu kemarin memesan tiga hidangan Santan. Baca juga: Dengan Santan, AirAsia Tawarkan ‘Restoran’ Cepat Saji dalam Penerbangan Pengunjung tersebut ketika makan Laksa Nyonya Kari mengatakan, hidangan itu memiliki rasa yang diluar cabai, Nasi ayam Paman Chin terlalu asin dan berminyak. Sedangkan sate ayam saus kacang terasa kurang matang. Bahkan harga makanannya pun bisa dikatakan terlalu mahal yakni sekitar 16 Ringgit Malaysia atau US$3,26 dengan minuman atau lebih mahal 25 persen dari kombo ayam dan nasi di KFC.