Terdeteksi Mabuk, Pramugari ANA Tunda Empat Penerbangan Secara Beruntun

Pernahkah Anda membayangkan bagaiman ajadinya jika citra seorang pramugari yang anggun nan cekatan di dalam pesawat digantikan dengan seorang wanita mabuk? Jika tidak terbayang, maka Anda harus menyimak berita di bawah ini. Seorang pramugari All Nippon Airways (ANA) tertangkap berada di bawah pengaruh minuman beralkohol ketika hendak bertugas. Mungkin hal ini terdengar sepele, namun imbas dari kejadian ini adalah penundaan empat penerbangan secara beruntun. Duh, maskapai bisa-bisa rugi, nih! Baca Juga: Diduga Mabuk dan Teler, Pramugari United Airlines Layangkan Kalimat Kasar ke Penumpang Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/1), adalah seorang pramugari berusia 20 tahun yang dikabarkan telah menenggak minuman keras di malam hari sebelum tugasnya di penerbangan pertama. Adapun pramugari ini kedapatan menenggak minuman keras ketika menjalani tes alkohol wajib yang dititahkan perusahaan sebelum bertugas. Tidak dijelaskan secara rinci kapan kejadian ini terjadi, namun kala itu, ANA NH2142 memiliki jadwal penerbangan pertama pada pukul 07.20 waktu setempat menuju Tokyo. Kurang lebih satu jam sebelumnya, para awak penerbang diwajibkan untuk berkumpul terlebih dahulu di Bandara Fukuoka untuk melakukan tes tersebut. Ketika diperiksa dengan menggunakan mesin khusus, napas dari pramugari ini tercatat memiliki kandungan 0,14mg alkohol – sementara menurut peraturan yang berlaku di perusahaan, setiap awak penerbang yang hendak bertugas harus bersih dari alkohol (0mg). Mungkin Anda akan bertanya-tanya, “Mengapa hanya karena satu pramugari yang terindikasi ‘mabuk’ saja, pihak maskapai bisa sampai menunda keberangkatan dari empat penerbangan lain?” Jawabannya sederhana, karena pihak maskapai harus mencari pramugari pengganti untuk mengisi kekosongan satu slot di penerbangan menuju Tokyo – yang harusnya diisi oleh pramugari mabuk ini. Baca Juga: Gara-Gara Vodka, Penumpang Mabuk Hina Awak Kabin dengan Sebutan “Pedofil” Menurut pengakuan si pramugari, pada malam sebelum bertugas, ia menenggak minuman Shochu, sejenis minuman keras hasil sulingan bersama seorang temannya. Namun sayang, ia tidak menyadari berapa banyak Shochu yang ia minum. “Saya malu karena telah dengan ceroboh melanggar peraturan maskapai,” ujar pramugari yang identitasnya disamarkan ini. Seperti yang sudah disebutkan di atas, imbas dari kejadian ini adalah penundaan empat penerbangan secara beruntun. Dari keempat penundaan keberangkatan tersebut, satu penundaan yang paling lama memakan waktu sekitar 25 menit.

Kendala Teknis, Airbus A330-300 MAS ‘Ngerem’ Mendadak Dua Kali Ketika Hendak Take Off

Biasanya momen tahun baru dijadikan ajang yang tepat untuk ‘membuka lembaran baru’, dimana segala catatan buruk yang sudah tertoreh di tahun sebelumnya diharapkan bisa berubah menjadi cemerlang di tahun berikutnya. Namun tidak bagi maskapai penerbangan asal negeri tetangga, Malaysia Airlines (MAS). Maskapai plat merah ini dikabarkan sempat membatalkan take off sebanyak dua kali pada kesempatan yang terpisah. Tentu saja hal ini menjadi sebuah catatan kurang baik bagi perusahaan yang namanya ‘tenar’ setelah insiden hilangnya MAS MH-370 pada 8 Maret 2014 silam. Baca Juga: Mau Tenang Sebelum Take Off? Perhatikan Panduan Ini Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (8/1), kejadian yang menimpa Malaysia Airlines MH145 ini berawal ketika pada tanggal 1 Januari 2020 kemarin, pesawat Airbus A330-300 yang dioperasikan oleh perusahaan hendak melakukan penerbangan berjadwal dari Kuala Lumpur menuju Auckland, Selandia Baru. Proses boarding penumpang, push back, hingga taxiing semuanya berjalan lancar, hingga tiba saatnya pesawat melakukan take off. Ketika pesawat tengah dalam kecepatan penuh untuk tinggal landas, secara tiba-tiba pilot melakukan pengereman mendadak dan kejadian ini membuat penumpang terheran-heran. Tidak sedikit juga dari penumpang yang mengeluhkan kejadian ini mengingat pengereman ini membuat beberapa dari mereka terperanjat kaget. Salah satu penumpang di dalam pesawat tersebut, Serjit Singh mengatakan, “Kejadian ini mengerikan … Saya pikir saya hampir mati kala itu,” Tak lama berselang setelah pesawat ‘kehilangan’ kecepatannya di landas pacu, pilot menginformasikan bahwa pesawat mengalami kendala teknis dan terpaksa kembali ke terminal. Alih-alih menurunkan penumpang ke terminal, awak pesawat malah membiarkan mereka berada di dalam pesawat hingga kurang lebih tiga jam lamanya – sementara para teknisi berkutat dengan masalah yang dimaksud pilot barusan. “Saya ingat dimana ada ambulans yang menghampiri pesawat karena ada salah satu penumpang yang begitu tertekan akibat kejadian ini,” terangnya. “Salah seorang pramugari senior juga sempat menghampiri saya dan berkata bahwa pesawat dalam kondisi yang baik dan kami semua bisa mendarat di Auckland dengan selamat,” tambah Serjit. Singkat cerita, penumpang diturunkan dari pesawat dan diminta untuk kembali pada keesokan harinya. Dengan penuh harapan, semua penumpang berharap penerbangan kali ini bisa berjalan mulus, namun pada kenyataannya, hal yang sama persis kembali terulang. Pesawat tetiba melakukan pengereman darurat dan sang pilot kembali meminta ‘ijin’ kepada penumpang untuk kembali ke terminal. Akhirnya pihak maskapai menukar pesawat bermasalah tersebut dengan yang baru dan benar saja, penerbangan menuju Auckland berjalan mulus tanpa menemukan sesuatu yang berarti – hanya keterlambatan satu hari. Baca Juga: Saat Take Off and Landing, Penutup Jendela Pesawat Wajib Dibuka, Inilah Sebabnya! Menanggapi insiden ini, pihak Malaysia Airlines meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Pesawat mengalami retimed sebanyak dua kali karena adanya kesalahan teknis yang tidak terduga. Kompensasi terhadap penumpang diberikan dalam beberapa pilihan. Kami meminta maaf karena keselamatan penumpang merupakan prioritas di Malaysia Airlines,” tulis pihak Malaysia Airlines dalam sebuah keterangan tertulis.

Terbang dari Jepang ke Inggris, Pangeran Harry Kepergok Duduk di Kelas Ekonomi

Seorang pangeran naik pesawat dan duduk di kelas ekonomi premium apakah mungkin? Ya ini bisa saja terjadi dan nyatanya pangeran dari Negeri Britania, yakni Pangeran Harry belum lama ini naik kelas ekonomi premium saat pulang dari Tokyo, Jepang. Baca juga: Kunjungan Kenegaraan, Raja Swedia Naik Pesawat Komersial dan Duduk di Kelas Ekonomi Bangsawan yang punya gelar Duke of Sussex tersebut kedapatan naik kelas ekonomi premium dalam penerbangan menggunakan pesawat milik maskapai All Nippon Airways atau ANA. Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman nzherald.co.nz (6/11/2019), saat itu Pangeran Harry hendak kembali ke London dengan keberangkatan dari Bandara Haneda di Tokyo usai menonton pertandingan Piala Dunia Rugby. Dirinya kedapatan naik kelas ekonomi premium ketika seorang penumpang berhasil mendapatkan fotonya saat naik pesawat. Penumpang itu kemudian membagikan di Instagram dan warganet langsung mengomentari, “Pangeran Harry, astaga.” “Duduk di seberang Pangeran Harry dalam penerbangan kita dari Tokyo… Dan aku bisa memastikan dia tampan dan dia hampir jatuh dari tempat duduknya ketika sudah tiba di kabin,” ujar penumpang tersebut. Keputusan suami Meghan Markel tersebut terbang dengan pesawat komersial karena mengikuti reaksi pada Agustus lalu ketika dirinya dan sang istri dikritik saat melakukan empat perjalanan dengan jet pribadi selama 11 hari ketika kampanye tentang masalah lingkungan. Sejak saat itu, dirinya kemudian memutuskan naik penerbangan komersial untuk tur ke Afrika Selatan. Berlanjut ketika mendatangi pernikahan temannya pun,  Pangeran Harry naik pesawat komersial bukan jet pribadi. Karena masalah tersebut, pada September lalu, kerajaan membela penggunaan jet pribadi. Yang mengatakan, di mana kadang-kadang penerbangan pribadi tersebut diperlukan untuk memastikan keselamatan. Baca juga: Dalam Penerbangan, Pilih Kelas Ekonomi Premium Atau Ekonomi Biasa? “Saya menghabiskan 99 persen waktu bepergian menggunakan pesawat komersial. Tapi kadang-kadang hal ini perlu ketika ada kesempatan berdasarkan keadaan unik untuk memastikan keluarga saya aman. Ini benar-benar sesederhana itu,” aku Harry.    

Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara

Kendati tengah berada di atas angin berkat tergelincirnya rival terbesar Airbus, Boeing, namun bukan berarti perusahaan bisa bersantai menikmati pesanan yang masuk begitu saja. Ada sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan perusahaan, salah satunya adalah dari lini pengadaan. Beredar rumor bahwa Airbus akan mengevaluasi pengadaan jalur perakitan akhir tambahan (Final Assembly Line/FAL) di Mobile, Alabama (AS), dan Mirabel, Quebec (Kanada) untuk model A320 dan A350. Hadirnya FAL anyar ini digadang-gadang dapat memecah konsentrasi perakitan pesawat dan sedikit banyaknya mempercepat proses produksi. Baca Juga: Miskomunikasi, Seorang Ayah Hadiahkan Dua Unit Airbus A350-1000 untuk Ultah Anaknya! Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (7/1), Mobile dikenal sebagai jalur perakitan akhir untuk keluarga jet A320 dan baru-baru ini diperluas untuk menyertakan jalur perakitan akhir untuk A220 juga. Sementara Mirabel yang ada di Quebec merupakan tempat Airbus untuk memproduksi keluarga pesawat A220 berkat kerja sama yang terjalin dengan Bombardier. Ya, jika Airbus ingin mengamankan kapasitas produksi tambahan untuk model A320 dan model A350, maka rumor yang diterbitkan oleh Flieger Faust ini bisa saja dipertimbangkan – atau mungkin ini adalah bocoran dari pihak Airbus kepada Flieger Faust? Belum dapat dipastikan kebenarannya, mengingat belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait. Menurut laman sumber, Airbus telah mencatatkan sebuah pencapaian dari segi jumlah pesanan yang masuk, dimana perusahaan berhasil menyalip rival mereka, Boeing dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, memenangkan pangsa pasar bukan berarti Airbus telah unggul secara keseluruhan. Mereka masih harus memikirkan bagaimana arus produksi perusahaan bisa mengalir lancar tanpa terbentur keterlambatan. Baca Juga: Delapan Aplikasi Ini Bisa Pantau Pergerakan Pesawat via Smartphone Menimbang lokasinya, Mobile yang ada di Alabama ini sendiri terbilang cukup strategis, mengingat semua fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan Airbus untuk melakukan sentuhan akhir pada setiap pesawatnya sudah berada di lokasi. Rumor ini didukung oleh terbentuknya lapangan pekerjaan baru bagi para warga Mobile yang dipercaya akan menggairahkan sektor bisnis di area tersebut.

Empat Jam Tertahan di Kabin, Penumpang Coba Dobrak Pintu Kokpit dan Buka Pintu Darurat!

Baru-baru ini penumpang Air India mengamuk dalam kabin pesawat dan memaksa masuk ke kokpit, bukan itu saja, sang penumpang juga berniat membuka pintu darurat. Hal ini terjadi karena penumpang tertahan selama empat jam di dalam pesawat karena kesalahan teknis. Baca juga: Sempat Sesak Napas, Penumpang Turkish Airlines Coba Mendobrak Kokpit Kabar penumpang.com melansir thesun.co.uk (6/1/2020), penerbangan tertunda selama empat jam ini terjadi pada Air India dengan nomor penerbangan AI865 yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Delhi pukul 10.10 waktu setempat pada Kamis (2/1/2020) lalu dan penumpang sudah naik ke pesawat sejak pukul 09.15. Namun penerbangan ini ternyata tidak lepas landas di runway setelah satu setengah jam. Ternyata penerbangan tujuan Mumbai tersebut terhalang adanya gangguan teknis yang membuat penundaan yang lama. Tak hanya itu setelah empat jam tertahan, penumpang baru diizinkan turun sekitar pukul 14.20 sebelum diberangkatkan kembali pukul 18.00 atau tujuh jam setelah penundaan alias delay. Saat penundaan dan penumpang tertahan selama empat jam, mereka kemudian marah dan berdiri di lorong kabin serta beberapa orang menggedor-gedor pintu kokpit. Bahkan sampai ada seorang penumpang wanita yang berteriak, “Jika Anda tidak membuka pintu, saya akan mendobraknya.” Tak hanya itu penumpang wanita lainnya juga berusaha membuka pintu darurat. Untungnya saat itu awak kabin melihat dan melepaskannya dari pegangan pintu. Selain itu penumpang lain pun juga menyuruhnya agar berhenti. Sebelum membuka pintu darurat, awak kabin memeriksa jendela, atas kejadian tersebut belum ada penumpang yang dikenakan denda atas perilaku mereka. Karena insiden ini, bisa saja banyak penumpang yang berpotensi terkena dakwaan yang dapat mengakibatkan mereka dilarang naik pesawat selama dua tahun di bawah aturan baru India. Aturan tersebut menyebutkan bahwa siapa pun yang diketahui telah memperlihatkan  perilaku yang mengancam jiwa atau kerusakan pada pesawat mak akan dihadapkan pada dakwaan pidana. “Penerbangan itu sangat tertunda karena alasan teknis. Manajemen Air India telah meminta kru untuk merinci laporan tentang perilaku buruk yang dilaporkan oleh beberapa penumpang,” ujar juru bicara Air India. Baca juga: Berlisensi Palsu dan Terbangkan Pesawat Berbadan Lebar, Pilot ini Dipidanakan Diketahui beberapa waktu lalu seorang penumpang Jet2 di denda dan dilarang terbang oleh maskapai tersebut selama seumur hidup setelah mencoba masuk ke kokpit dan membuka pintu darurat. Kemudian ada seorang penumpang gila yang memicu kepanikan setelah membuka pintu pesawat yang sedang bersiap untuk berangkat. Tak hanya itu, seorang penumpang wanita juga pernah diamankan karena membuka pintu darurat, lantaran hawa di kabin terlalu pengap.

Inilah Lima Spekulasi Jatuhnya Boeing 737-800 Ukraine International di Iran

Insiden jatuhnya pesawat Ukraine International PS752 pada Rabu (8/1) kemarin tentu saja membuat banyak orang bertanya-tanya apa penyebab dari jatuhnya pesawat bertipe Boeing 737-800 ini. Spekulasi pun mulai bermunculan, mulai dari masalah teknis, hingga yang paling ‘liar’ adalah pesawat ini jatuh karena terkena tembakan. Tentu saja masih terlalu dini untuk menyimpulkan penyebab jatuhnya pesawat yang tengah mengangkut 180 orang di dalam pesawat ini, mengingat masih diperlukannya penyelidikan mendalam dan menyeluruh. Baca Juga: Di Tengah Ketegangan Iran-AS, Boeing 737-800 Ukraine International Jatuh di Iran Bagi Anda yang penasaran dengan spekulasi apa saja yang menyelimuti kasus jatuhnya pesawat Ukraine International di Teheran pada Rabu kemarin, berikut KabarPenumpang.com rangkum lima spekulasi yang beredar di masyarakat, dilansir dari laman news.sky.com (8/1). Masalah Pada Mesin Tak berselang lama setelah pesawat nahas ini jatuh, pihak Kedutaan Ukraina yang ada di Ibukota Iran menyebutkan bahwa pesawat jatuh karena adanya kegagalan pada mesin yang berujung pada terbakarnya mesin pesawat. Sebenarnya spekulasi ini cukup masuk akal, mengingat pada video yang beredar luas di publik menunjukkan bahwa pesawat dalam kondisi terbakar ketika melintas di udara. Namun spekulasi ini ‘menguap’ begitu saja, seiring dengan dicabutnya komentar dari Kedutaan Ukraina tak lama setelah mereka mengunggah penyebab jatuhnya pesawat. Masalah Mekanis Sebenarnya spekulasi ini masih bisa menjadi hulu dari spekulasi pertama. Ketika petugas ground handling tidak telaten dan teliti dalam memperbaiki dan mengecek pesawat sebelum mengudara, maka bukan tidak mungkin jika pesawat akan mengalami kecelakaan. Spekulasi ini ditunjang dengan pernyataan pihak maskapai yang mengatakan bahwa ini merupakan kecelakaan fatal pertama yang melibatkan Ukraine International Airlines dan awak kokpit berpengalaman. Selain pihak maskapai, para pejabat Iran juga mencurigai adanya masalah teknis yang menyebabkan pesawat jatuh. Korsleting Sebenarnya spekulasi ini terbilang cukup ‘minim pendukung,’ namun bukan tidak mungkin jika ternyata pesawa Boeing 737-800 yang dioperasikan oleh Ukraine International ini mengalami korsleting yang pada akhirnya membuat pesawat terbakar dan jatuh. Baca Juga: [Video] Peti Jenazah Jenderal Qasem Soleimani Ditempatkan di Kabin Penumpang Bom Seorang mantan senior inspector di UK Air Accidents Investigation Branch (AAIB), Tony Cable mengatakan bahwa spekulasi tentang bom di dalam penerbangan berjadwal menuju Ukraina ini bisa jadi benar adanya. Menurut Tony, bom yang diledakkan di udara dapat dengan mudah menghilangkan kendali pesawat. Ditembak Pesawat ini dikabarkan jatuh beberapa jam setelah Iran melancarkan serangan roket terhadap dua basis Amerika Serikat di Irak. Ya, jika memang spekulasi ini benar, maka tensi antara Iran dan Amerika Serikat yang belakangan ini sedang meningkat akan semakin memanas. Spekulasi terkena tembakan dari artileri pertahanan udara Iran (salah tembak) belakangan cenderung menguat.

Kementerian Perhubungan Periksa Mendadak Layanan Ojol di Malaysia

Kementrian Perhubungan (Kemenhub) Malaysia akan melakukan pemeriksaan mendadak pada layanan e-hailing sepeda motor untuk memastikan keselamatan penumpang yang menggunakan layanan ini. Menteri Anthony Loke mengatakan petugas dari kementerian akan menyamar dan disamar sebagai penumpang untuk memeriksa apakah pengendara dan operator layanan mematuhi peraturan keselamatan jalan. Baca juga: Anggota Parlemen Malaysia Canangkan Ganti Bus Pengumpan dengan Ride Hailing “Ini sangat penting karena kita tidak bisa berkompromi dengan keselamatan. Pemerintah telah setuju untuk memiliki masa percobaan enam bulan (untuk layanan) dan kami akan melihat seberapa aman wahana bagi penumpang. Langkah-langkah keselamatan harus dipatuhi oleh semua operator dan saya berharap mereka memusatkan perhatian mereka pada aspek ini,” kata Like yang dikutip KabarPenumpang.com dari themalaysianreserve.com (7/1/2020). Industri e-hailing sepeda motor dimulai di Malaysia pada 1 Januari di bawah proyek percontohan Proof of Concept (POC) enam bulan untuk sistem yang akan dinilai sebelum kerangka peraturan dikembangkan untuk industri. Dego Ride memiliki lebih dari empat ribu pengendara terdaftar di bawahnya dan 700 telah disetujui sejauh ini. Tarif untuk Dego Ride ditetapkan pada RM3 atau Rp10 ribu untuk tiga kilometer pertama, dengan RM1 dibebankan untuk setiap kilometer berikutnya. Aplikasi ini juga memiliki fitur khusus yang memungkinkan penumpang perempuan untuk meminta pengendara perempuan. Dilaporkan bahwa 100 pengemudi wanita telah mendaftar dengan Dego Ride dengan kurang dari 50 disetujui. Loke menggunakan layanan Dego Ride dari Markas Besar Kontingen Polisi Kuala Lumpur ke stasiun LRT Pasar Seni. Dia tidak memberi tahu operator layanan bahwa dia akan menguji perjalanan dan pengendara tidak tahu siapa dia sampai mereka tiba di lokasi.  Lokemengatakan dia menunggu 15 menit sebelum permintaannya diterima oleh pengendara. “Kami tahu bahwa layanan ini masih baru dan kami belum memiliki banyak layanan memanggil sepeda. Oleh karena itu, waktu tunggu akan sedikit lebih lama, ”katanya. Loke menambahkan, beberapa perusahaan lain telah menyatakan niat mereka untuk menyediakan layanan selama periode POC, tetapi hanya Dego Ride yang menawarkan layanannya kepada publik. Loke mengatakan bahwa proyek percontohan enam bulan akan mengarah pada pengembangan kerangka kerja peraturan untuk industri kendaraan dan layanan lain yang melibatkan sepeda motor. “Kami ingin melihat ini secara holistik. Setelah layanan ini lebih terintegrasi, tidak hanya untuk penumpang tetapi untuk pengiriman makanan dan pengiriman lainnya juga, kami kemudian akan mengatur seluruh industri secara bersamaan. Itu sebabnya kami melakukan proyek percontohan ini,” tambahnya. Adapun Gojek Indonesia, Loke mengatakan mereka harus mendirikan perusahaan di Malaysia terlebih dahulu jika ingin memberikan layanan di sini. Dia, bagaimanapun, mengatakan kementerian belum menerima aplikasi dari Gojek. Sementara itu, Loke juga mengkritik buruknya pemeliharaan stasiun KTM Komuter Kuala Lumpur ketika ia menemukan bahwa hanya satu dari dua walkator baru yang dibangun di stasiun yang berfungsi selama putaran di stasiun kemarin. Dia juga mengatakan hanya satu dari empat mesin tiket di stasiun masih dalam kondisi baik. Loke mengatakan kondisinya memalukan dan tidak menggambarkan citra negara yang baik, terutama di tengah kampanye Visit Malaysia 2020. Baca juga: Wajib Selfie, Jadi Syarat Naik Grab di Malaysia “Saya ingin manajemen puncak perusahaan-perusahaan ini turun secara teratur dan memeriksa layanan yang disediakan di lapangan. “Bukan hanya menteri yang harus turun untuk memeriksa masalah ini. CEO dari masing-masing perusahaan yang terkait dengan pemerintah harus lebih proaktif, ”tambahnya.

Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa

Pecahnya konflik antara Iran vs Amerika Serikat terkait tewasnya Jenderal Qasem Soleimani, rupanya ikut berdampak pada sektor transportasi di Indonesia, persisnya Garuda Indonesia saat ini yang melayani penerbangan Jakarta-London harus menyesuaikan rute penerbangannya. Baca juga: [Video] Peti Jenazah Jenderal Qasem Soleimani Ditempatkan di Kabin Penumpang Pejabat Direktur Operasi Garuda Indonesia, Tumpal M. Hutapea dalam pesan tertulis (08/01/2020) mengatakan, “Garuda Indonesia menyesuaikan jalur penerbangan dari dan menuju Eropa dari yang sebelumnya melewati wilayah udara Bucharest dialihkan ke wilayah udara Mesir dan Yunani. Dengan demikian seluruh layanan operasional Garuda Indonesia pada rute tersebut tetap berlangsung normal seperti biasa”. Ditambahkan, Garuda Indonesia memastikan bahwa jalur udara untuk rute penerbangan dari dan menuju Eropa tidak melewati kawasan udara Iran dan sekitarnya menyusul adanya larangan terbang yang dikeluarkan Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) pasca ketegangan yang tengah terjadi di kawasan tersebut. Baca juga: Di Tengah Ketegangan Iran-AS, Boeing 737-800 Ukraine International Jatuh di Iran “Kami akan terus memantau secara intensif perkembangan lebih lanjut kondisi tersebut serta berkoordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan terkait dalam memastikan aspek safety & security layanan operasional Garuda Indonesia tetap terjaga”, kata Tumpal.

“The Giving Machine,”Mesin Penjual Otomatis yang User Friendly

Biasanya vending machine atau mesin penjual otomatis digunakan untuk membeli makanan, minuman kaleng atau hal lainnya. Namun bagaimana jika mesin penjual otomatis ini justru membantu pengguna untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan hanya dengan menekan tombol? Baca juga: Sajikan Hidangan Hangat dan Bersih, Stasiun Central Mumbai Hadirkan Mesin Penjual Makanan Otomatis Ternyata beberapa kota menyediakan cara baru untuk memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan seperti membeli keripik atau soda kalengan. KabarPenumpang.com melansir dari laman yahoo.com (8/12/2019), mesin penjual otomatis ini bernama “The Giving Machine.” Mesin ini bisa memudahkan pengguna untuk tindakan layanan bantuan secara instan. The Giving Machines sendiri ternyata kampanye dari Light the World yang menawarkan makanan, hewan ternak, vaksin, peralatan resusitasi untuk bayi dan barang-barang lain yang butuhkan seperti kelambu dan alat olahraga. “The Giving Machines menyediakan cara bagi orang-orang untuk dengan cepat dan mudah membantu mereka yang membutuhkan dan menjadikan musim Natal mereka sedikit lebih berarti bagi diri mereka sendiri dan banyak orang lain,” kata situs web Light the World. Dengan mesin ini penduduk lokal atau pelancong dapat menyumbang dan membeli apa yang ingin mereka kembalikan ke komunitas lokal atau global untuk yang membutuhkan. Pembayarannya pun mudah, di mana pengguna bisa menggunakan kartu kredit atau pembayaran mobile. Mesin ini ternyata sudah mulai debutnya pada tahun 2018 di empat lokasi di Salt Lake City di negara bagian Utah, Amerika Serikat dan keempat mesin tersebut sudah mengumpulkan lebih dari US$800 ribu di tahun pertamanya. Tahun berikutnya, mesin-mesin ini juga sudah ditempatkan di London, Manila, New York dan Arizona. Pada 2018 kemarin sebanyak 92.190 orang berpartisipasi dan 18 badan amal mendapat manfaat. Bahkan tahun 2019 Denver, Las Vegas, Orem dan San Jose sudah mendapatkan mesin penjual otomatis khusus tersebut. Baca juga: Di Hari Perdana Komersial MRT Jakarta, Vending Machine dan Passenger Gate Masih Bermasalah “Keluarga saya dan saya membeli seekor kambing untuk sebuah keluarga di Afrika, dan kami tersentuh ketika kami membeli persediaan untuk tempat perlindungan wanita yang terpukul. Kami menggunakan kesempatan untuk mendiskusikan amal dengan anak-anak kami dan lebih memahami arti Natal. Kami tidak sabar untuk mengunjungi Giving Machines di kota kami di Denver tahun ini,” ujar Jon LaClare seorang pengguna The Giving Machines. Mesin yang bisa digunakan selama liburan ini, penggunanya bisa menyumbang antara US$5 hingga US$500.

Belum Tuntas Soal Regulasi, Boeing Kembali Temukan Masalah di 737 MAX

Ratusan varian pesawat Boeing yang paling menuai sorotan dalam beberapa waktu ke belakang, 737 MAX, masih ‘terparkir’ di sejumlah markas perusahaan sembari menunggu izin terbang baru pasca dua kecelakaan super fatal yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Air. Belum surut soal masalah perizinan ini, pihak pabrikan pesawat malah kembali menemukan satu lagi potensi masalah Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8 Masalah tersebut diketahui berasal dari korsleting yang berasal dari salah satu kabel di dalam sistem kendali pesawat. Wah, kalau benar ini menjadi masalah baru di 737 MAX, maka pertanyaan besar yang akan muncul adalah, “Apakah Boeing benar-benar serius merakit pesawat jenis ini?” Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (7/1), potensi masalah anyar ini ditemukan Boeing pada bulan Desember 2019 kemarin. Sebelum potensi masalah ini kadung meluas dan malah membuka kasus baru bagi perusahaan, maka dari itu Boeing dengan sigap langsung melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terkait temuan ini. “Korsleting inilah yang kemudian menyebabkan pesawat mengalami kecelakaan, saat pilot tidak menanganinya dengan tepat,” ujar salah seorang teknisi senior dari Boeing. Tidak menampik isu yang beredar, pernyataan dari teknisi senior Boeing tersebut lalu diamini oleh juru bicara perusahaan. Ia berdalih bahwa pihaknya tengah menyelidiki temuan ini, sebagai bagian dari proses peningkatan keselamatan yang tergolong sangat ketat ini. “Prioritas utama kami adalah memenuhi seri 737. (Kami berusaha untuk) memenuhi setiap persyaratan sebelum meminta ijin untuk terbang kembali. Kami bekerja sama dengan FAA dan regulator lainnya dalam proses sertifikasi yang ketat dan komprehensif untuk memastikan desain pesawat aman dan memenuhi persyaratan,” terang sang juru bicara. Terkait lengsernya Dennis Muilenberg dari posisi CEO Boeing, Ia melanjutkan, era kepemimpinan dari CEO David Calhoun diharapkan menjadi satu momen untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari regulator dan beberapa lapisan lain. Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah! “Perubahan dalam kepemimpinan diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan regulator, pelanggan, dan semua kepentingan lainnya pada perusahaan,” sambungnya. Sebagai informasi tambahan, Dennis Muilenberg dinyatakan lengser dari kepala pimpinan Boeing terhitung tanggal 23 Desember 2019 kemarin. Ini tidak lepas dari ‘peran dan keputusannya’ dalam rentetan panjang insiden Boeing 737 MAX 8.