Gagal Berangkat Tanpa Alternatif Penerbangan, Penumpang di India Dapat Kompensasi 400 Persen dari Harga Tiket
Pernah terlantar dan tak jadi terbang karena berbagai masalah yang terjadi pada sebuah maskapai? Lalu apakah Anda mendapat kompensasi? Seharusnya setiap penumpang mendapat kompensasi atas kegagalan keberangkatan pesawat yang akan mereka tumpangi dalam alasan apapun.
Baca juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara
Seperti di India yang menawarkan pengembalian uang hingga 400 persen bagi penumpang yang ditolak maskapai atau penerbangan yang dibatalkan. Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (9/12/2019), pihak India mengatakan maskapai yang tidak mengangkut penumpang dengan penerbangan alternatif dalam waktu 24 jam dari keberangkatan asli juga bisa mendapatkan pengembalian uang secara penuh ditambah kompensasi tiket sebesar 400 persen dari tarif dasar satu arah yang diterbitkan seperti maksimal INR20 ribu (US$280) atau sekitar Rp3,9 juta.
Sebenarnya kebijakan ini sudah dikeluarkan sejak Agustus 2010 lalu oleh Direktur Jenderal Penerbangan Sipil dan bukanlah hal baru. Pada Oktober lalu sebanyak 1102 penumpang ditolak naik oleh berbagai masyarakat. Berikut ini beberapa maskapai yang menolak penumpang untuk terbang, Air India sebanyak 822 penumpang, SpiceJet sebanyak 226, IndiGo 35, AirAsia 14 dan Vistara lima orang.
Bisa dikatakan Air India bertanggung jawab hampir 75 persen dari penumpang yang ditolak tahun 2019 ini. Bila ditotal secara keseluruhan pada Mei kemarin, terdapat 3351 penumpang yang batal berangkat. Bahkan Air India mengambil juara pertama yang menolak 2563 penumpang atau sekitar 76 persen di bulan itu.
Juni kemarin, bahkan penumpang yang ditolak jumlahnya lebih banyak yakni 3834. Sebenarnya kompensasi sendiri diketahui tidak perlu dikembalikan jika penerbangan alternatif digantikan dan diatur dalam satu jam dari waktu keberangkatan asli.
Tanpa terlalu mendalami hak-hak penumpang di berbagai negara di seluruh dunia, bahwa Uni Eropa memiliki beberapa kebijakan terkuat untuk melindungi para pelancong. Bahkan, dalam kondisi yang tepat, Anda bisa melihat kompensasi sebesar €600.
Tahun ini penumpang maskapai di Kanada diberikan beberapa perlindungan tambahan dengan peraturan yang diperkenalkan oleh Canadian Transportation Agency (CTA). RUU Hak Penumpang Kanada menyatakan bahwa penundaan kurang dari enam jam memerlukan pembayaran minimum C$900.
Penundaan antara enam dan sembilan jam C$1800 dan penundaan lebih lama dari sembilan jam C$2400. Ketika sampai pada tas yang hilang dan rusak, maskapai penerbangan diharuskan membayar minimal C$2100 per barang bawaan.
Tanpa kebijakan yang diamanatkan pemerintah seperti di atas, merupakan kebijaksanaan maskapai mana tingkat kompensasi yang ditawarkan penumpang. Sayangnya, karena pemerintah India telah membatasi US$280 untuk pengembalian dana 400 persen, peraturan tersebut terdengar kurang berdampak daripada yang sebenarnya.
Baca juga: (Kembali) Pecah Kongsi Dengan Garuda Indonesia, Ratusan Penumpang Sriwijaya Air Terlantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Selain itu, karena kebijakan ini sudah lebih dari sembilan tahun, orang akan berasumsi bahwa operator India sekarang cukup terbiasa untuk menghadapinya, membentuk kebijakan pemesanan mereka untuk mempertimbangkan hal ini.
Inilah Tips Beli Tiket Liburan Nataru 2019 versi Ditjen Hubud
Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang jatuh sebentar lagi, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud), Kementerian Perhubungan menghimbau kepada semua calon pengguna transportasi udara untuk selalu teliti saat membeli tiket pesawat. Ketelitian dapat membantu calon pengguna jasa transportasi udara memilah dan memilih berbagai pilihan, baik di Travel Agent maupun di Online Travel Agent (OTA).
Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah
Sebagaimana informasi yang diterima KabarPenumpang.com dari siaran pers, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana Banguningsih Pramesti mengatakan bahwa Anda sudah memilih rute dan kelas penerbangan sesuai dengan yang diinginkan. Terkait tarif, Polana menjelaskan, Pemerintah telah mengatur terkait tarif tiket batas atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) pesawat kelas ekonomi.
“Pemerintah tidak mengatur tarif dasar untuk penerbangan kelas bisnis. Tarif kelas bisnis lebih mahal dari tarif kelas ekonomi,” ujar Polana.
“Perbedaan harga juga mengikuti klasifikasi penerbangan langsung (direct flight) dan tidak langsung (transit),” terangnya.
Pada intinya, ada lima poin yang ditekankan Polana agar bisa menunjang libur Natarru 2019 ini, yaitu:
Pastikan Rute dan Jadwal Penerbangan
Sebelum menghabiskan waktu berlibur, ada baiknya Anda memastikan semuanya terlebih dahulu. Jangan sampai tiket penerbangan yang sudah Anda beli bentrok dengan jadwal kerja Anda.
Memastikan Kelas Penerbangan
Jika Anda masih belum membeli tiket, itu berarti Anda masih bisa menimbang untuk duduk di kelas penerbangan yang mana – apakah economy class atau business class. Tentu saja, fasilitas yang ditawarkan oleh business class lebih nyaman ketimbang economy class – namun hal tersebut harus dibayar dengan lebih tingginya harga yang harus Anda bayar.
Penerbangan Direct atau Transit
Agar perjalanan liburan Anda semua bisa lebih efisien, Anda juga mesti memastikan apakah penerbangan tersebut direct atau transit. Jika memilih penerbangan transit, maka Anda dipersilakan utnuk merencanakan apa yang hendak dilakukan selama masa transit tersebut.
Baca Juga: Mau Berburu Tiket Penerbangan Murah, Simak Tips Disini
Mengisi Data
Ketika mengandalkan OTA, kerap kali orang-orang di luar sana kurang teliti ketika mengisi data. Salah-salah isi data, yang ada Anda malah gagal liburan!
Bagasi
Anda juga harus mengecek soal bagasi gratis di penerbangan Anda, mengingat sejumlah maskapai sudah mulai memberlakukan sistem bagasi berbayar kepada penumpangnya.
Saitama Railway Hadirkan Iklan dengan Teknologi Kecerdasan Buatan
Iklan berdasarkan usia dan jenis kelamin di Jepang pada tahun 2018 lalu sudah mulai dihadirkan pada taksi. Tapi baru-baru ini kereta di Jepang juga mulai mengenalkan sistem iklan tersebut pada penumpangnya. Saitama Railway Corp mengatakan bahwa sistem ini adalah yang pertama di dunia dengan menghadirkan iklan tergantung jenis penumpang yang naik dalam gerbong kereta.
Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang
Mereka menyebutkan, untuk menentukan iklan maka ada kamera yang dipasang di samping monitor di atas pintu gerbong kereta. Kamera ini bisa mendeteksi usia, jenis kelamin dan atribut penumpang lain yang berdiri di dekat kamera tersebut.
KabarPenumpang.com melansir asahi.com (16/12/2019), dengan menggunakan kecerdasan buatan – artifiial intellgence (AI) maka sistem akan menganalisis dan menggabungkan data dengan informasi lain seperti ramalan cuaca untuk menawarkan iklan berdasarkan kemungkinan prefensi penumpang. Pejabat operator kereta mengatakan, salah satu contoh penggunaan sistem adalah menampilkan iklan bir saat banyak penumpang pria bepergian selama jam sibuk pada malam hari di musim panas.
Monitor iklan ini akan terhubung ke internet melalui jaringan LTE berkecepatan tinggi. Pengaturan ini memungkinkan jangkauan iklan yang jauh lebih luas dibanding yang berbasis DVD. Tak hanya itu, monitor ini juga bisa menampilkan berbagai iklan meskipun di gerbong yang sama. Diketahui, sistem iklan dengan metode AI ini sudah mulai sejak November kemarin.
“Operasi kereta api adalah bisnis kuno, tetapi kita mungkin dapat mengubah persepsi seperti itu dengan memperkenalkan sistem semacam ini. Kami ingin merevitalisasi area di sepanjang jalur rel kami dengan berhasil mengadopsi sistem baru,” kata Hiroshi Ogino, presiden Saitama Railway.
Perusahaan berencana untuk memasang monitor 18,5 inchi di atas pintu gerbong kereta. Dua monitor masing-masing akan dipasang di atas dua dari empat pintu di setiap sisi gerbong kereta.
Sehingga delapan monitor akan diatur agar tidak akan saling berhadapan. Operator kereta api berencana untuk melengkapi 60 gerbong kereta dengan monitor tersebut pada bulan April.
Tiga perusahaan pengembangan sistem BiZright Technology Inc., Live Board Inc., yang menjalankan bisnis signage digital, dan operator telepon seluler NTT Docomo Inc. telah bekerja sama dengan Saitama Railway dalam mengembangkan sistem “layar kendaraan dinamis”. Perusahaan mengatakan sistem tidak akan mengumpulkan informasi yang dapat mengidentifikasi individu atau merekam penumpang.
Mereka mengatakan data penumpang bahkan tidak akan dibagikan di antara mereka sendiri. Saitama Railway digunakan untuk menjalankan iklan melalui pemutar DVD di kursi pengemudi. Isi dari iklan diubah sebulan sekali atau lebih, tetapi pendapatan dari iklan itu hampir nol karena banyak dari video tersebut adalah iklan layanan masyarakat dari kota Kawaguchi.
Baca juga: Iklankan “Terminator: Dark Fate,” Rev-9 Terpajang di Stasiun Shinjuku
Untuk menjual tempat iklan, Saitama Railway akan mengadopsi metode penjualan berbasis kesan AI selain cara tradisional melalui slot waktu yang ditentukan. Di bawah metode penjualan berbasis tayangan, iklan akan terus berjalan hingga sejumlah penumpang menonton iklan tersebut sebagaimana ditentukan dalam kontrak.
Khawatir Kondisi Kesehatan, Pramugari Inggris Sukses Turunkan Berat Badan
Seorang pramugari bernama Charity Nelms berjuang menurunkan berat badannya. Hal ini dilakukan karena dirinya kaget setelah menjadi seorang awak kabin justru berat badannya melojak dari sebelumnya. Dia juga menurunkan berat badannya karena khawatir akan kesehatan.
Baca juga: Cedera dan Tak Bekerja Tujuh Bulan, Pramugari ini Gugat Mendiang Dolores O’Riordan
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dilystar.co.uk (16/12/2019), dia mengaku saat bekerja banyak makan makanan ringan dan terus makan apapun ketika terbang. Wanita asal Michigan ini bahkan melakukan perlawanan pada beberapa gangguan makan seperti pesta makan, bulimia hingga anoreksia.
“Saya telah bekerja sebagai pramugari selama beberapa bulan, berkeliling dunia dan selalu ingin pergi dan melihat segalanya. Suatu hari saya memiliki kejelasan ketika tubuh saya tidak mengikuti. Saya memiliki semua keinginan ini untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan, tetapi tubuh saya tidak dapat melakukannya secara fisik. Saya sangat lelah membawa tas saya, lelah di puncak tangga dan lesu setelah seharian bekerja. Saya membatasi pengalaman dan keinginan saya sendiri dengan tubuh saya sendiri,” ujar Charity.
Saat dirinya menyadari hal tersebut dampak dari kelebihan berat badannya, Charity kemudian berpikir untuk mengambil tindakan. Dia pergi ke gym dan melakukan latihan secara teratur.
Charity menjelaskan dirinya berolahraga sekitar lima hari dalam seminggu. Dia berolahraga di rumah, di hotel atau tempat yang dia kunjungi ketika terbang.
“Saya mengangkat beban lima hari seminggu dan menambahkan sedikit cardio menjadi dua hingga tiga hari tetapi tidak satu ton. Cukup kardio untuk menjaga sistem kardio vaskularku dalam kondisi yang baik,” jelasnya.
Karena rasa cinta pada kebugaran tubuh dia akhirnya berhasil menurunkan berat badan dan percaya diri.
“Hidup saya benar-benar telah berubah. Saya menangis sekarang memikirkan tentang orang yang berbeda dan kehidupan yang saya jalani. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menjadi orang yang cocok yang orang inginkan saran darinya. Energi saya, tubuh saya, hubungan saya, pola pikir saya, kepercayaan diri saya, keyakinan saya pada diri saya berbeda. Pekerjaan saya bahkan telah berubah! Saya melakukan sekitar setengah dari penerbangan yang saya gunakan karena saya melatih kebugaran 1: 1 dan juga dalam program kelompok bernama Balance & Thrive yang membawa saya begitu banyak tujuan dan kegembiraan,” jelas Charity.
Dengan ketekunan yang teguh, keluarganya jadi lebih bangga dengan dirinya. Dia juga lega tidak lagi ada gangguan makan yang membuat hidupnya tersiksa. Charit mengatakan ibunya menangis karena melihatnya berjuang untuk hidup sehat.
“Adik ipar saya sangat mendukung dan saya bersyukur mereka begitu peduli pada saya. Saya dicintai pada £213 (15,2) dan saya sama seperti dicintai hari ini,” kata dia.
Dalam upaya untuk membantu orang lain menjalani gaya hidup sehat, Charity telah menyiapkan halaman Instagram-nya sendiri. Di platform, ia secara teratur berbagi video kebugaran dan kiat berolahraga.
Baca juga: Beragam Kasus Seksis yang Sempat Warnai Dunia Pramugari
“Halaman Instagram saya selalu tentang kehidupan saya dan saya akan membagikan banyak perjalanan saya. Selama bertahun-tahun di belakang layar saya benar-benar dalam kebugaran tetapi tidak berbagi perjalanan saya karena saya belum siap. Sekitar setahun yang lalu saya merasakan dorongan untuk mulai berbagi lebih banyak tentang apa yang telah saya lalui, pelajari dan ke mana saya pergi dan respon positif yang luar biasa untuk sedikitnya. Ini merupakan pengingat yang kuat bahwa begitu banyak orang berurusan dengan masalah yang sama dan jika saya dapat menjadi inspirasi atau bantuan bagi orang lain, saya merasa ada tujuan yang telah terpenuhi dalam hidup saya … Saya pikir kisah saya dan perjalanan saya beresonansi dengan orang-orang dan itu luar biasa untuk terhubung dengan semua orang yang menjangkau saya,” jelasnya.
“Saya telah bekerja sebagai pramugari selama beberapa bulan, berkeliling dunia dan selalu ingin pergi dan melihat segalanya. Suatu hari saya memiliki kejelasan ketika tubuh saya tidak mengikuti. Saya memiliki semua keinginan ini untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan, tetapi tubuh saya tidak dapat melakukannya secara fisik. Saya sangat lelah membawa tas saya, lelah di puncak tangga dan lesu setelah seharian bekerja. Saya membatasi pengalaman dan keinginan saya sendiri dengan tubuh saya sendiri,” ujar Charity.
Saat dirinya menyadari hal tersebut dampak dari kelebihan berat badannya, Charity kemudian berpikir untuk mengambil tindakan. Dia pergi ke gym dan melakukan latihan secara teratur.
Charity menjelaskan dirinya berolahraga sekitar lima hari dalam seminggu. Dia berolahraga di rumah, di hotel atau tempat yang dia kunjungi ketika terbang.
“Saya mengangkat beban lima hari seminggu dan menambahkan sedikit cardio menjadi dua hingga tiga hari tetapi tidak satu ton. Cukup kardio untuk menjaga sistem kardio vaskularku dalam kondisi yang baik,” jelasnya.
Karena rasa cinta pada kebugaran tubuh dia akhirnya berhasil menurunkan berat badan dan percaya diri.
“Hidup saya benar-benar telah berubah. Saya menangis sekarang memikirkan tentang orang yang berbeda dan kehidupan yang saya jalani. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menjadi orang yang cocok yang orang inginkan saran darinya. Energi saya, tubuh saya, hubungan saya, pola pikir saya, kepercayaan diri saya, keyakinan saya pada diri saya berbeda. Pekerjaan saya bahkan telah berubah! Saya melakukan sekitar setengah dari penerbangan yang saya gunakan karena saya melatih kebugaran 1: 1 dan juga dalam program kelompok bernama Balance & Thrive yang membawa saya begitu banyak tujuan dan kegembiraan,” jelas Charity.
Dengan ketekunan yang teguh, keluarganya jadi lebih bangga dengan dirinya. Dia juga lega tidak lagi ada gangguan makan yang membuat hidupnya tersiksa. Charit mengatakan ibunya menangis karena melihatnya berjuang untuk hidup sehat.
“Adik ipar saya sangat mendukung dan saya bersyukur mereka begitu peduli pada saya. Saya dicintai pada £213 (15,2) dan saya sama seperti dicintai hari ini,” kata dia.
Dalam upaya untuk membantu orang lain menjalani gaya hidup sehat, Charity telah menyiapkan halaman Instagram-nya sendiri. Di platform, ia secara teratur berbagi video kebugaran dan kiat berolahraga.
Baca juga: Beragam Kasus Seksis yang Sempat Warnai Dunia Pramugari
“Halaman Instagram saya selalu tentang kehidupan saya dan saya akan membagikan banyak perjalanan saya. Selama bertahun-tahun di belakang layar saya benar-benar dalam kebugaran tetapi tidak berbagi perjalanan saya karena saya belum siap. Sekitar setahun yang lalu saya merasakan dorongan untuk mulai berbagi lebih banyak tentang apa yang telah saya lalui, pelajari dan ke mana saya pergi dan respon positif yang luar biasa untuk sedikitnya. Ini merupakan pengingat yang kuat bahwa begitu banyak orang berurusan dengan masalah yang sama dan jika saya dapat menjadi inspirasi atau bantuan bagi orang lain, saya merasa ada tujuan yang telah terpenuhi dalam hidup saya … Saya pikir kisah saya dan perjalanan saya beresonansi dengan orang-orang dan itu luar biasa untuk terhubung dengan semua orang yang menjangkau saya,” jelasnya. Irish Rail Larang Gunakan ‘Reusable Cups’ Kembali Demi Kesehatan dan Keselamatan
Menggunakan gelas yang dapat digunakan (reusable cups) lagi sepertinya lebih baik dibandingkan dengan gelas kertas yang sekali pakai buang. Selain lebih hemat ini juga mengurangi limbah sampah. Namun Irish Rail melarang adanya penggunaan gelas yang digunakan kembali demi kesehatan dan keselamat staf serta penumpang. Hal ini kemudian membuat marah para penumpang atas penolakan perusahaan untuk mengizinkan menggunakan gelas yang dapat digunakan kembali pada layanan kereta api mereka.
Baca juga: Virgin Trains Masih Gunakan Gelas kertas Daur Ulang
“Kami saat ini tidak dapat mengakomodasi penumpang untuk menyimpan gelas di layanan kami. ini karena masalah kesehatan dan keselamatan staf serta fakta terbatasnya pasokan air pada layanan kereta api,” kata juru bicara Irsh Rail, Jane Cregan yang dikutip KabarPenumpang.com dari irishtimes.com (16/12/2019).
Seorang penumpang di kereta api dari Cork ke Dublin mengatakan, petugas katering mengukur minuman panas kedalam sekali pakai yang kemudian ditransfer ke gelas sekali pakai milik mereka. Sedangkan penumpang lain mengatakan petugas mengisi gelas mereka yang dapat digunakan kembali tetapi membuang yang sekali pakai.
Irish Rail berkomitmen untuk beroperasi dengan cara yang ramah lingkungan, tapi pengguna kereta api mengatakan contoh seperti ini tidak hanya bertentangan dengan pernyataan tersebut tetapi juga menghilangkan tujuan gelas yang dapat digunakan kembali. Andy Cochrane dari Celbridge, Co Kildare, yang naik kereta InterCity sekitar dua kali sebulan, diberitahu dalam perjalanan baru-baru ini ke Belfast dengan kereta Enterprise bahwa dia tidak bisa minum minuman panas yang dituangkan ke dalam gelas yang dapat digunakan kembali.
Dia mengatakan petugas itu, menggunakan troli katering untuk melayani pelanggan di gerbong, mengatakan kepadanya bahwa itu adalah “masalah kesehatan dan keselamatan jika saya tidak bisa menyeimbangkan gelas Anda dengan benar di bawah cerat. Cochrane mengatakan dia bingung dengan ini, karena dirinya telah menggunakan gelas yang dapat digunakan kembali sebelumnya di kereta.
“Saya berasumsi para troll adalah orang yang banyak. Tetapi [staf katering] berkata, ‘Tidak, tidak, tidak. Saya harus menjual Anda secangkir ’,” ujar dia.
Mengenai masalah kesehatan dan keselamatan, Irish Rail mengatakan bahwa “menguji coba berbagai ukuran gelas di bawah cerat dapat menyebabkan petugas katering terbakar”. Itu menegaskan bahwa staf katering menghitung jumlah penjualan dengan jumlah gelas yang tersisa.
Pada perjalanan selanjutnya di Enterprise, Cochrane melihat iklan yang menampilkan gelas yang dapat digunakan kembali untuk dijual, dengan “diskon 10 persen untuk semua minuman panas saat menggunakan Enterprise Keep Cup”. Irish Rail mengatakan bahwa “sebagai respons terhadap permintaan akan cangkir, katering perusahaan mengambil gelas yang sesuai dengan cerat troli dan juga memiliki mekanisme penutupan yang benar-benar aman”.
Untuk memanfaatkan minuman panas dalam gelas yang dapat digunakan kembali, penumpang harus membeli Enterprise Keep Cup bermerek, dan semua gelas lainnya terlepas dari ukurannya.
Cregan mengkonfirmasi bahwa Irish Rail menganggap masalah ini sebagai masalah kesehatan dan keselamatan. Menghadirkan gelas dalam berbagai ukuran dengan mekanisme penutupan berbeda dan mereka mungkin tidak muat di bawah cerat di troli katering, jelasnya.
Baca juga: Wujudkan Bandara Ramah Lingkungan, Bandara Dubai Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai
“Kami bertanggung jawab untuk menyajikan minuman ini, ini adalah sesuatu yang harus kami perhatikan, bukan karena kami tidak dapat mempercayai penumpang untuk mengetahui bahwa gelas mereka aman. Itu adalah sesuatu yang kita cari,” katanya.
Harbour Air Uji Coba Pesawat Terbang Listrik Selama Lima Menit
Sebuah penerbangan uji coba lima menit dari pesawat komersial berbahan bakar listrik milik Harbour Air yang berbasis di Vancouver telah mengambil langkah signifikan dalam upaya untuk mengganti pesawat yang ditenagai bahan bakar fosil. Pesawat amfibi berwarna hijau neon dan biru nila lepas landas dari Sungai Fraser di Richmond, British Columbia, ketika kerumunan orang bersorak dari dermaga pada Selasa pagi.
Baca juga: Mampukah Pesawat Bertenaga Listrik Geser Kedigdayaan Pesawat Komersial?
Pesawat baling-baling, prototipe Beaver de Havilland DHC-2 mampu mengangkut enam penumpang, ditenagai oleh motor listrik magniX magni500 dan dikemudikan oleh Chief Executive Officer Harbour Air Greg McDougall.
“Tes itu jauh lebih banyak daripada latihan laboratorium yang pernah kita lihat di masa lalu. Ini benar-benar tes yang serius dan praktis,” kata Robert Mann, kepala konsultan penerbangan yang berbasis di New York, R.W. Mann & Co yng dikutip KabarPenumpang.com dari japantimes.co.id (12/12/2019).
Harbour berencana untuk menghabiskan dua tahun ke depan untuk mendapatkan pesawat baru yang disetujui untuk penerbangan komersial. Maskapai, yang terbang ke selusin tujuan di Pantai Barat, memiliki 53 pesawat dan 450 karyawan yang tersebar antara British Columbia dan Seattle.
Ada sekitar 170 program pada pesawat bertenaga listrik dalam pengembangan di seluruh dunia, naik 50 persen sejak April 2018, menurut perusahaan konsultan Roland Berger. Sebagian besar pengembangan itu untuk taksi udara perkotaan dan penerbangan umum. Teknologi listrik saat ini mendukung pesawat ini, yang memiliki kebutuhan daya lebih rendah daripada pesawat komersial besar.
Beaver listrik Harbour dapat terbang sekitar 60 menit dengan sekali pengisian. Tetapi regulator memerlukan pesawat yang beroperasi di bawah aturan penerbangan visual pesawat yang lebih kecil, nonkomersial memiliki kemampuan untuk terbang 30 menit tambahan, yang memberi pesawat baru Harbour waktu tempuh hanya 30 menit. Namun, jangka waktu yang relatif singkat bukanlah masalah bagi maskapai, kata CEO magniX Roei Ganzarski.
“Mayoritas penerbangan Harbor Air panjangnya kurang dari 25 menit,” katanya, seraya menambahkan bahwa setelah pesawat disertifikasi, perusahaan akan fokus pada memperpanjang amplop penerbangan.
Mereka mengatakan kendaraan listrik sering menunjukkan penurunan biaya operasi. Berang-berang yang ditenagai bahan bakar fosil membakar bahan bakar bernilai antara $ 300 dan $ 400 selama 100 mil (160 km) penerbangan, kata Ganzarski.
“Perjalanan yang sama di Beaver listrik akan menelan biaya mulai dari $ 4 hingga $ 10 dalam listrik, tergantung pada sumbernya,” katanya.
Motor listrik adalah unit yang disegel, dengan minimum bagian yang bergerak. Tentu saja, karena belum ada program pemeliharaan pesawat listrik komersial, mungkin ada biaya tak terduga.
”Biaya menjadi perintis adalah masalah yang relevan. Kami tidak tahu biaya sebenarnya mengoperasikan pesawat listrik,” kata Mann.
Jangka dekat kemungkinan akan melihat generasi pesawat hibrida, memasangkan sistem tenaga listrik dan konvensional bersama dengan pesawat berbahan bakar listrik yang lebih kecil. Pesawat yang lebih besar, listrik sepenuhnya masih sekitar satu dekade.
Joby Aviation Inc. menargetkan pasar taksi udara dengan pesawat yang dapat mengangkut empat penumpang dan menempuh jarak 150 mil. Uber Technologies Inc. berencana untuk memulai layanan taksi terbang listrik, dengan program percontohan di Dallas, Los Angeles dan Melbourne secepat tahun depan.
Eviation yang berbasis di Israel merencanakan uji terbang Alice all-electric musim panas tahun depan, sebuah pesawat sembilan penumpang yang ditenagai oleh versi yang lebih kecil dari motor magniX di Harbour Beaver.
“Eviation senang untuk memberi selamat kepada mitra kami, magniX atas keberhasilan uji terbang sistem propulsi magni500. Ini adalah tonggak yang bagus untuk penerbangan listrik,” kata CEO Eviation Omer Bar-Yohay pada Selasa dalam sebuah pernyataan.
Siemens AG, Airbus SE dan Rolls-Royce Holdings PLC bekerja pada sistem hybrid, E-Fan X, yang akan memberi daya pada pesawat yang relatif besar. Airbus menargetkan penerbangan awal dari pesawat demonstrasi pada tahun 2021 dan pada akhirnya diharapkan untuk fase dalam teknologi listrik baru sekitar 2030.
“Airbus telah terbang dengan listrik selama beberapa tahun. Tapi itu semua adalah latihan laboratorium, bukan praktik,” kata Mann.
Perusahaan konsultan Roland Berger mengharapkan penerbangan pertama dari pesawat komersial tersebut terjadi pada tahun 2032. Easyjet PLC telah bermitra dengan Wright Electric yang berbasis di A.S. untuk mengembangkan pesawat bertenaga baterai berukuran penuh dalam satu dekade untuk penerbangan kurang dari dua jam.
Sementara pabrikan dan maskapai penerbangan sama-sama merencanakan masa depan listrik, mereka masih berurusan dengan politik saat ini. Maskapai-maskapai top Eropa pada Selasa menyerang rencana Uni Eropa untuk pajak minyak tanah yang direncanakan, bagian dari strategi lingkungan baru blok itu.
Airlines menyebut tugas itu tidak perlu dan tidak adil, dengan alasan bahwa investasi dalam bahan bakar berkelanjutan dan pesawat listrik pada akhirnya akan lebih efektif dalam mengurangi emisi karbon. Untuk bagiannya, Harbor Air kemungkinan akan mengalami beberapa masalah infrastruktur dalam waktu dekat, kata Mann, karena sebagian besar bandara utama tidak memiliki kemampuan pengisian cepat.
Ganzarski mengatakan mereka akan bergantung pada infrastruktur yang ada untuk saat ini tetapi mungkin berusaha untuk membangun infrastruktur terbarukan mereka sendiri di masa depan. Perusahaan melaporkan pendapatan 69,9 juta dolar Kanada ($52,8 juta) pada 2019.
Tetapi ada tantangan lain. Pesawat amfibi beroperasi dari badan air bukan dari darat. Tidak seperti landasan pacu yang diaspal dan dirawat dengan cermat, air terbuka adalah permukaan gesekan tinggi yang membutuhkan jumlah energi yang jauh lebih besar bagi sebuah pesawat untuk mendapatkan momentum yang cukup untuk terbang.
Baca juga: Dari Singapura, Pesawat Bertenaga Hidrogen-Listrik Siap Unjuk Gigi Sebelum 2025
Air asin adalah masalah lain. Secara alami korosif, menggerogoti permukaan dan bagian-bagian pesawat. Akhirnya, Pacific Northwest tidak benar-benar menyenangkan di bulan Desember, dan suhu dingin memiliki efek negatif pada kepadatan daya dan konversi daya pada baterai.
“Jika Anda memikirkan kasus terberat untuk penerbangan listrik, itu mungkin pesawat amfibi di air garam,” kata Mann.
Kisruh Tak Kunjung Reda, Bandara Hong Kong Kehilangan 16,2 Persen Penumpang
Pasca terbelit masalah RUU Ekstradisi yang menyelimuti negara, otoritas Bandara Internasional Hong Kong melaporkan bahwa mereka mengalami penurunan jumlah pelancong di bandara tersebut. Sebelum terkendala polemik RUU Ekstradisi, bandara berkode IATA HKG ini mengakomodasi lebih dari lima juta penumpang, namun setelah dirundung masalah, terjadi penurunan penumpang sebesar 16,2 persen ketimbang tahun 2018 lalu. Dapatkah ini diklasifikasikan sebagai sesuatu yang buruk bagi kawasan otonomi Cina tersebut?
Baca Juga: Singapore Airlines, Cathay dan Qantas Mengaku Terdampak Kerusuhan di Hong Kong
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (15/12), pihak otoritas Bandara Internasional Hong Kong menyebutkan bahwa presentase penurunan jumlah pelancong tersebut merupakan yang paling besar dalam satu dekade terakhir (tercatat per bulan November 2019 kemarin).
Menurutnya, angka penurunan terbesar terakhir terjadi pada bulan Juni 2009 silam, dimana angkanya merosot 18,7 persen.
Tentu saja penurunan ini membawa dampak buruk bagi Hong Kong mengingat salah satu sumber devisa terbesar dari suatu negara berasal dari sektor pariwisata. Jika pelancong yang datang ke Hong Kong saja melesu, maka sudah dapat dipastikan pendapatan negara pun berkurang.
Sektor kedirgantaraan Hong Kong juga semakin meradang manakala flag carrier mereka, Cathay Pacific pada bulan November kemarin mencatatkan penurunan load factor sebesar 7,2 persen ketimbang tahun 2018 lalu. Selain load factor, maskapai kenegaraan Hong Kong ini juga mengalami penurunan 38 persen dari segi lalu lintas penumpang masuk atau inbound passenger traffic.
Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?
Selain Bandara Internasional Hong Kong dan Cathay, sejumlah maskapai yang membuka rute penerbangan menuju Hong Kong pun juga turut terdampak – sebut saja Singapore Airlines, Qantas Airways, hingga flag carrier Garuda Indonesia pun sempat terdampak kerusuhan menjurus anarkis akibat RUU Ekstradisi ini.
Mengutip dari laman sumber lain, jumlah pelancong yang datang ke Hong Kong mengalami penurunan hingga 40 persen dibandingkan dengan tahun 2018 lalu. Seiring berjalan, pemesanana tiket penerbangan pun lesu 10 persen.
Kabin Dipenuhi Asap, Pilot Berteriak Evakuasi Setelah QF575 Kembali ke Bandara Sydney
Pesawat Qantas yang baru lepas landas dari Bandara Sydney terpaksa harus kembali mendarat (return to base) karena pilot berteriak evakuasi sebanyak tiga kali setelah kabin dipenuhi dengan asap. Karena hal ini beberapa penumpang terluka akibat terburu-buru melarikan diri setelah ada teriakan dari kokpit untuk evakuasi.
Baca juga: Kabin Airbus A320 Royal Brunei Dipenuhi Asap Tipis, Pihak Maskapai Sebut “Insiden Power Bank”
KabarPenumpang.com melansir thesun.co.uk (15/12/2019), selain terluka ada pula penumpang yang mata dan tenggorokannya gatal karena cairan hidrolik yang terhirup. Insiden ini terjadi dalam penerbangan dari Sydney menuju ke Perth dengan nomor penerbangan QF575 yang menggunakan Airbus A330.
Saat itu hari Minggu pagi Qantas kembali ke Bandara Sydney karena masalah hidrolik di mana kabin dipenuhi asap dan pilot berteriak untuk evakuasi. Seorang penumpang bernama Rahman Akbari mengatakan, saat insiden pilot terdengar tenang tetapi mulai mencekam ketika awak kabin berteriak untuk evakuasi ke landasan.
“Awalnya hanya bau, kita bisa mencium sesuatu, tetapi setelah beberapa menit asap ini mulai menumpuk di kabin,” katanya.
Sedangkan Ally Kemp yang menulis di Twitter mengatakan hal ini sangat mengerikan. “Hanya harus mengevakuasi penerbangan saya ke Perth setelah masalah teknis. Semua orang harus keluar dari pesawat melalui slide (bantalan evakuasi) ke apron Bandara Sydney setelah kabin dipenuhi dengan asap dan kapten berteriak untuk mengungsi,” tweetnya.
Niamh Champion, penumpang dalam penerbangan itu mengatakan bahwa tak lama setelah tinggal landas, “awalnya semua nampak biasa-biasa saja.”
“Dan selanjutnya dia (pilot) pergi, ‘evakuasi, evakuasi, evakuasi’, seperti dalam suara yang tenang tapi tegas, nyaring. Jadi, seketika semua orang melompat dan mereka berpikir, ‘Ya Tuhan. Kupikir ada asap, atau api, atau, kau tahu, sesuatu sedang terjadi’. Dan saya relatif dekat dengan bagian belakang pesawat. Awak kabin senior membuka pintu, bang, parasutnya turun dan semua orang mulai bergegas ke lorong,” ujar Champion.
Champion mengatakan bahwa dia harus melompat sebelum kedua anaknya yang masih kecil mengikuti jejaknya. Dia menambahkan, “Kalau tidak, kita akan menahan seluruh lini orang di pesawat yang mungkin penuh asap.”
Dua penumpang lainnya dirawat karena luka akibat menggunakan slide, sementara yang lain melaporkan tenggorokan gatal dan mata sakit. Video dramatis menunjukkan para penumpang yang panik menjatuhkan diri mereka ke dalam tiga slide setelah asap memenuhi kabin.
Qantas mengatakan bahwa para insinyur “bekerja untuk menentukan penyebab kebocoran cairan hidrolik di salah satu Airbus A330-nya.
“AF575 berangkat Sydney ke Perth pukul 8.45 pagi ini. Sekitar 20 menit dalam penerbangan, kapten menerima peringatan kokpit untuk salah satu dari tiga sistem hidrolik di pesawat,” kata pihak Qantas.
Maskapai mengatakan bahwa begitu pesawat kembali di gerbang ada laporan asap tebal di kabin, kemungkinan disebabkan oleh cairan hidrolik memasuki unit pendingin udara.
Baca juga: Muncul Asap di Kabin, 129 Penumpang Globus Airlines Turun Lewat Slide Darurat
“Sementara penumpang mungkin mengira itu asap, tidak ada api. Dua penumpang dirawat karena cedera akibat menggunakan slide dan penumpang lain dibawa ke rumah sakit sebagai tindakan pencegahan. Beberapa pelanggan melaporkan sakit mata dan tenggorokan gatal,” tambah pihak maskapai.
“Kami akan menyelidiki dengan tepat apa yang terjadi, termasuk berkomunikasi dengan pihak Airbus, sebelum pesawat ini nantinya kembali operasional setelah perbaikan,” tambah Kapten Keselamatan Armada Qantas Debbie Slade.
Kursi Dekat Jendela Pilihan Aman Terhindar Virus Flu
Negara-negara tropis mulai memasuki musim hujan dan Eropa, Amerika serta negara lainnya mulai memasuki musim dingin. Biasanya di musim-musim ini, banyak yang terjangkit flu. Apalagi di musim seperti ini banyak orang melakukan liburan.
Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya
Bagaimana mencegah tertular flu ketika dalam perjalanan untuk menikmati liburan dengan pesawat? KabarPenumpang.com melansir laman forbes.com (28/11/2019), ketika bepergian dengan pesawat, kursi dekat jendela adalah pilihan tepat di musim penyakit flu. Selain itu minimalisir untuk keluar dari kursi.
Baru-baru ini sebuah penelitian dan hasil studi tahun 2018 dari Emory University yang melihat 1500 penumpang di sepuluh penerbangan lintas benua Amerika Serikat menunjukkan zona infeksi di pesawat jauh lebih kecil. Hal ini karena virus bersin dan batuk yang tersebar di udara tak jauh dari siempunya. Namun meski begitu, dari hasil penelitian kebanyakan orang di pesawat hanya memiliki peluang tiga persen terinfeksi dari penumpang yang sakit.
Tapi, risiko tersebut meningkat hingga 80 persen jika penumpang duduk dalam jarak tiga kaki dari penumpang sakit atau dua kursi jauhnya di kedua sisi atau di barusan tepat di depan dan dibelakang. Dalam hal ini, ternyata kursi dekat jendela menjadi satu tempat ternyaman karena lebih terisolasi.
Sebab penumpang yang duduk dekat jendela hanya bersebelahan dengan satu penumpang. Dari studi Emory, penumpang yang akan terjangkit lebih mudah adalah yang duduk dekat dengan lorong sekitar 64 persen per penerbangan.
Penumpang yang duduk di kursi tengah rata-rata 58 persen per penerbangan. Sedangkan penumpang yang duduk di dekat jendela 12 persen per penerbangan atau 81 persen lebih sedikit daripada yang ada di lorong.
Diketahui, musim flu menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, yang baru-baru ini melaporkan flu yang menyebar di lima negara bagian yakniAlabama, California, Louisiana, Nevada, dan South Carolina.
Karena hal ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan penumpang untuk terbebas dari flu yakni mendapat vaksinasi. Cuci tangan dengan sabun dan air, bila tidak ada bisa menggunakan antiseptik dengan kandungan alkohol.
Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut karena kuman menyebar dengan cara ini. Bersihkan dan disinfeksi permukaan dan benda yang mungkin terkontaminasi oleh kuman seperti flu. Selain itu sebagai penumpang cerdas bawa selalu tisu antibakteri dan pembersih tangan di tas jinjing.
Baca juga: Waspada! Inilah Lokasi Favorit Bakteri di Dalam Kabin Pesawat
Sehingga sebelum duduk di pesawat, bisa bersihkan meja baki di depan kursi dengan tisu anti bakteri. Jangan lupa bawa tisu anti bakteri tersebut ketika ke lavatory atau toilet pesawat.
Meja Baki Ada Darah, Penumpang Diberi Tisu Basah dan Membersihkannya Sendiri
Apa jadinya jika Anda dalam penerbangan dan membuka meja baki (table tray) di depan dan melihat ada bekas kotoran ataupun darah? Pastinya akan ada rasa jijik dan memanggil awak kabin untuk membersihkannya.
Baca juga: Jijay! Ada Penumpang Pesawat Tinggalkan Urin di Kantung Plastik
Tapi, bagaimana kalau harus membersihkannya sendiri karena awak kabin merasa itu bukan tugas mereka? Kabar penumpang.com melansir laman thestar.com (18/11/2019), seorang wanita asal Edmonton harus merasakan pahitnya membersihkan meja baki di kursinya yang terkena bekas darah mimisan.
Jessica Starcheski belum lama merasakan hal tersebut ketika dirinya hendak terbang dari Edmonton ke Vancouver menggunakan Flair Airlines pada Jumat malam (15/11/2019). Saat itu dia tengah membuka meja baki di hadapannya dan menemukan bercak merah bekas darah. Kemudian dia memanggil awak kabin untuk meminta meja tersebut dibersihkan.
“Ketika awak kabin itu datang dia tampak sangat terkejut dan agak jijik,” ujar Jessica.
Karena hal ini dirinya berharap dipindahkan sementara mejanya dibersihkan. Namun dia mendapat hal lainnya yang mana justru diberikan tisu basah.
“Aku mulai membersihkannya dan baunya seperti berkarat. Itu sangat kotor dan wanita yang duduk di sebelahku menyarankan untuk mengambil foto agar bisa ditunjukkan kepala Flair Airlines,” ujarnya.
Dia kemudian memposting foto tersebut ke akun Twitter pada hari Minggu malam dengan caption, “Terbanglah dengan @FlairAirlines dan membersihkan darah orang lain sendiri, gratis!”
Kemudian tweet miliknya ini banyak ditanggapi oleh warganet dan mengungkapkan rasa jijik dan simpati mereka. Bahkan beberapa dari mereka berbagi pengalaman yang sama namun dengan kotoran yang berbed dan diberikan tak lebih dari tisu basah.
“Apakah itu satu-satunya benda sanitasi yang mereka miliki di pesawat untuk membersihkan barang-barang? Itu menjijikkan. Bagaimana mereka membersihkan kamar mandi jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika seseorang muntah? Atau apakah mereka memiliki proses dan persediaan untuk ini?” kata dia.
Dalam sebuah pernyataan yang diemail ke Star Edmonton, Flair Airlines mengatakan setelah mengetahui tentang insiden itu, mereka segera menghubungi Jessica ketika dia mendarat di Edmonton untuk “mengakui situasi dan menyampaikan permintaan maaf.”
“Kami meminta maaf atas insiden malang yang dialami oleh salah satu penumpang kami di penerbangan Flair Airlines … karena pengawasan selama prosedur sanitasi khas kami dan miskomunikasi antara pramugari. Kami sedang meninjau prosedur kami untuk mencegah hal ini terjadi lagi,” ujar email yang dikirim ke Jessica tersebut.
Baca juga: Kabin Jetstar JQ284 Kena “Teror” Popok dan Kotoran Balita
Jessica mengonfirmasi bahwa perwakilan Flair telah menunggunya di bandara ketika penerbangannya kembali mendarat di Edmonton pada Senin pagi.
“Saya mengatakan kepadanya kekhawatiran saya untuk posting itu, mengapa pramugari melakukan ini? Apakah tidak ada persediaan atau proses yang tepat? ”
Dia mengatakan dia yakin bahwa mereka memiliki prosedur yang tepat dan bahwa pengalamannya akan digunakan sebagai contoh untuk maju.
