Delapan Bulan Beroperasi, MRT Jakarta Hampir Angkut 20 Juta Penumpang!

Setelah rampung pengerjaan Fase 1 yang menghubungkan Lebak Bulus dan Bundaran HI, kini tiba saatnya bagi MRT Jakarta untuk merilis hasil pengoperasiannya yang dimulai sejak bulan Maret kemarin. Ramainya stasiun setiap hari menjadi pertanda baik bagi perusahaan, dimana tujuan awal dari hadirnya moda berbasis massal baru ini setidaknya sudah terwujud – mengubah kebiasaan warga Jakarta untuk mulai menggunakan transportasi publik dan meninggalkan kendaraan pribadinya. Kira-kira, apa saja berita baik yang dibawa oleh William Sabandar cs.? Baca Juga: “Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta Berdasarkan siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, pencapaian jumlah penumpang MRT Jakarta tertanggal 24 Maret hingga 26 November kemarin mencapai 19.990.959 penumpang. Pihak MRT Jakarta juga menambahkan bahwa rata-rata penumpang per-bulan berada di level 83.516 penumpang dengan ketepatan waktu (On Time Performance/OTP) 100 persen! “Rata-rata penumpang per-hari tertinggi berada di angka 93.165,” tulis manajemen MRT Jakarta dalam pesan tertulis. Beralih ke soal pendapatan, MRT Jakarta membukukan beragam pendapatan yang didapat dari Farebox, Non-Farebox, dan subsidi. Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, keuntungan Non-Farebox yang dimaksud di atas diperoleh dari iklan yang menyumbang angka 55 persen, naming rights (penamaan stasiun) dengan presentase 33 persen, jaringan telekomunikasi di angka 2 persen, hingga retail dan UMKM yang menyumbang 1 persen. Ya, seperti yang sudah diketahui bersama, ada beberapa nama merek yang bertengger di belakang beberapa nama stasiun MRT Jakarta, seperti Lebak Bulus Grab, Blok M  BCA, Istora Mandiri, Setiabudhi Astra, hingga Dukuh Atas BNI. “Tahun ini kita akan membukukan keuntungan di angka antara Rp60 sampai dengan Rp70 miliar. Yang paling besar (mendongkrak keuntungan) adalah advertising (iklan) dan naming right. Itu kontribusinya kira-kira 70 sampai 80 persen,” ujar William. “Target tahun 2020 mencapai keuntungan 200 hingga 250 miliar, dengan perkiraan pendapatan farebox mencapai Rp180 miliar” sambungnya. Baca Juga: MRT Jakarta Libatkan 16 UMKM di Lima Stasiun Dirinya juga menambahkan bahwa pihak MRT Jakarta selalu optimis untuk meraup keuntungan lebih – mengingat mereka masih memiliki beberapa stasiun yang belum ‘diberi nama’. “Harus optimistis, kita melihat potensi-potensi pendaanaan karena kita sudah menjual 5 stasiun untuk naming right dan ada potensi untuk menjual tujuh stasiun lagi,” ujar William.

Pilot Terkena Serangan Jantung, Aeroflot Terpaksa Lakukan Pendaratan Darurat

Panik, tentu saja inilah yang akan dirasakan ketika pesawat yang Anda tumpangi melakukan pendaratan darurat. Beragam spekulasi mulai bermunculan, mulai dari pesawat mengalami kendala teknis, bandara tujuan tidak memungkinkan pesawat untuk mendarat, hingga dibajak oleh teroris. Namun apa jadinya jika pesawat melakukan pendaratan darurat karena sang pilot terkena serangan jantung? Duh, bagaimana nasibnya ya? Baca Juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (26/11), kejadian mengerikan ini menimpa maskapai asal Rusia, Aeroflot dengan nomor penerbangan SU1546 pada hari Minggu (24/11) kemarin. Kala itu, maskapai ini tengah mengoperasikan rute penerbangan Moskow – Anapa, sebuah kota di Krasnodar Krai, Rusia. Menurut kantor berita Rusia, pilot mengalami serangan jantung ketika pesawat tengah mengudara dan memaksa kopilot untuk mengambil alih penerbangan tersebut. Mengingat kondisinya yang darurat medis, maka kopilot langsung mengambil inisiatif untuk melakukan pendaratan darurat. Setelah mendapatkan ijin, kopilot yang bertugas lalu mendaratkan Airbus A320 yang digunakan oleh pihak maskapai di Platov International Airport, Rostov-on-Don. Pendaratan darurat ini berjalan mulus dan setibanya pesawat di landasan, petugas medis langsung memberikan pertolongan pertama kepada sang pilot. Mengingat peralatan medis yang kurang lengkap, pilot berusia 49 tahun tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun nahas, nyawa sang pilot tak tertolong ketika ambulans masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sebelumnya, ketika pesawat masih mengudara, awak kabin yang menerima kabar bahwa sang pilot mengalami serangan jantung langsung melayangkan pengumuman kepada para penumpang, “jika diantara Anda yang bisa melakukan tindakan medis profesional, kami sangat membutuhkan Anda saat ini,” Seharusnya, pesawat tersebut mendarat di Anapa pada pukul 10.40 waktu setempat. Namun karena kejadian ini, pesawat yang bertolak dari Moskow pada pukul 08.20 waktu setempat ini melakukan pendaratan darurat di Rostov-on-Don pada pukul 09.57 waktu setempat. Baca Juga: Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina “Semua orang yang ada di Aeroflot sangat terpukul atas meninggalnya salah satu rekan kami, dan kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga mendiang,” ujar juru bicara Aeroflot. Sesaat sebelum Aeroflot SU1546 ini mengudara, sang pilot sempat mengeluhkan nyeri pada bagian dadanya – namun pada kenyataanya, ia lulus dari medical check up rutin dan terbukti bisa melakukan tugasnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Masih Bingung Peraturan Cairan Masuk Kabin? Ini Penjelasannya!

Bagi Anda semua yang sudah sering berkelana ke luar negeri atau dalam negeri dengan menggunakan pesawat, tentu sudah tidak asing lagi dengan pemeriksaan keamanan di bandara, bukan? Dimana peraturan yang berlaku untuk membawa benda berbentuk cairan dianggap oleh sebagian orang terlalu ribet oleh sebagian orang. Namun sesungguhnya, bagaimana aturan yang berlaku mengenai hak penumpang untuk membawa benda cair ke dalam penerbangan Anda? Baca Juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin Sebelum membahasnya lebih jauh, cairan yang akan dibahas di sini adalah cairan yang masuk ke dalam kabin – bukan yang ada di tas yang Anda masukkan ke dalam bagasi. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk, satu aturan awal yang harus Anda pahami terlebih dahulu adalah untuk tidak membawa wadah cairan yang melebihi ukuran 100ml – jika Anda melanggar, maka barang terkait akan disita oleh petugas keamanan bandara. Ambil contoh, Anda memiliki sebuah botol parfume berukuran 150ml, dengan isi yang sudah tinggal sedikit lagi (kurang dari 100ml). Kendati isi dari parfume tersebut sudah di bawah angka 100ml, namun karena ukuran botolnya melebihi 100ml, maka mau tidak mau parfume tersebut harus Anda ikhlaskan kepada petugas bandara. Namun, tidak semua cairan yang melebihi kapasitas 100ml ini dilarang untuk masuk ke dalam kabin. Adapun beberapa diantaranya yang boleh masuk ke dalam kabin adalah: cairan untuk keperluan medis penting, makanan atau susu bayi, hingga minuman untuk kebutuhan diet khusus. Selain itu, Anda juga harus menempatkan wadah-wadah cairan ini di dalam plastik wrap bening dan dihimbau untuk tidak mengikatnya. Ini ditujukan untuk memudahkan proses pemeriksaan keamanan di bandara. Baca Juga: Inilah yang Diharapkan Seorang Awak Kabin dari Penumpang! “Staf bandara mungkin perlu membuka barang (plastik wrap bening) untuk memeriksa cairan terkait di bagian keamanan,” tulis otoritas terkait di gov.uk. Memang, peraturan soal penempatan cairan ini tidaklah mutlak berlaku di setiap negara – ada juga negara yang masih sedikit lebih membebaskan Anda untuk membawa cairan selama tidak melebihi 100ml. Jika Anda sudah mengetahui soal ini, kini tiba saatnya bagi Anda untuk mempraktikannya guna mempercepat proses pemeriksaan keamanan di bandara!

Beda Maskapai Beda Pula Aturan Bawa Bagasi Jinjing Dalam Kabin

Sebenarnya bagaimana sih peraturan untuk tas jinjing yang boleh di bawa dalam kabin? Sebab tidak semua maskapai memiliki ketentuan yang sama. Bahkan ukurannya pun terkadang jauh berbeda bisa lebih besar, lebih kecil, lebih berat atau lebih ringan dari yang lainnya. Baca juga: Per 15 Januari 2018, Ryanair Berlakukan Kebijakan Baru Untuk Tas di Dalam Kabin  KabarPenumpang.com merangkum laman qz.com (21/11/2019), ada analisis yang dilakukan terkait kendala bagasi pada 110 maskapai penerbangan berbiaya hemat. Berikut ini rangkuman yang didapat. #Dimensi tas jinjing paling umum Pada maskapai berbiaya hemat ada berbagai jenis dimensi yang diperbolehkan masuk. Tas ukuran 55cm x 40cm x 20cm adalah yang terbaik. Ukuran ini diizinkan pada 45 pesen penerbangan seperti maskapai Lufthansa, EasyJet, Iceland Airlines, Swiss Airlines, Eurowings dan Air Canada. Sedangkan yang memberikan ruang lebih besar yakni 56cm x 36cm x 23cm ada pada 34 maskapai penerbangan termasuk American Airlines, Virgin Australia, AirAsia dan Cathay Pacific. #Volume bagasi Beberapa maskapai tidak menggunakan dimensi tas, melainkan menggunakan ukuran volume atau keterisian tas. Biasanya tas jinjing yang paling umum adalah dengan volume 46 liter. Tetapi ada pula yang memberikannya dua kali lipat. Sebanyak 14 maskapai penerbangan seperti diantaranya Finnair, El Al, British Airways, Iberia Airlines, China Eastern Airlines, dan EasyJet memungkinkan hingga volume 63 liter masuk dalam kabin. #Berat tas jinjing Beberapa maskapai tidak memberikan batasan berat tas jinjing seperti EasyJet, Air Canada, JetBlue, Amerika, WestJet, Delta, United, dan RyanAir. Ada 28 maskapai yang menetapkan berat tujuh kilogram dan 28 maskapai lainnya menerapkan berat batas sepuluh kilogram. Tetapi, bila Anda ingin membawa tas jinjing lebih berat bisa menggunakan British Airways karena memungkinkan tas jinjing seberat 23 kg untuk masuk dalam kabin. Dalam kebanyakan kasus, tujuh puluh persen dari maskapai penerbangan dalam penelitian memperbolehkan untuk barang pribadi di samping tas jinjing. Namun, definisi barang pribadi bervariasi dari payung atau selimut hingga dompet atau tas laptop. Maskapai biasanya memperbolehkan barang-barang pribadi yang bisa dibawa ke kabin tepatnya di bawah kursi. Delapan maskapai penerbangan, hanya mengizinkan barang pribadi dengan tiket termurah mereka, seperti Allegiant Air, Wizz, Spirit, Porter, Frontier dan Turkmenistan Airlines. Itu juga termasuk dua yang terbesar di dunia RyanAir dan United Airlines. Sedangkan Kenya Airlines menjadi satu-satunya maskapai yang memungkinkan dua barang pribadi selain barang bawaan. Baca juga: Tak Hanya Mudahkan Awak Kabin, Tablet PC Bantu Kurangi Penggunaan Kertas Jadi, dari studi yang dilakukan, ternyata British Airways menjadi yang paling murah hati untuk kebijakan barang. Batas bawaan 23 kg yang lebih besar dibanding maskapai lain dan volume 63 liter serta mengizinkan barang pribadi lain untuk ikut di bawa dalam kabin.

Tergolong Masih Sepi Penumpang, Kereta Cepat Maroko Diplot dengan Harga Paling Kompetitif di Dunia

Sebagai salah satu moda transportasi anyar, kereta berkecepatan tinggi yang ada di Maroko masih terbilang cukup sepi penumpang. Tercatat pada bulan Oktober kemarin saja, kereta berkecepatan tinggi ini baru mengangkut 2,5 juta penumpang saja sejak bulan Januari 2019. Guna memaksimalkan fungsi dari kereta cepat ini, Kantor Kereta Api Nasional Maroko (ONCF) memproyeksikan mengangkut 3 juta penumpang hingga akhir tahun ini. Baca Juga: Penuh Polemik, Maroko Siap Operasikan Kereta Cepat Penuh di Penghujung 2018 Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman moroccoworldnews.com (21/11), kereta yang bernama Al-Boraq ini merupakan kereta berkecepatan tinggi pertama di Benua Hitam. Menurut Direktur Jenderal ONCF, Mohamed Rabie Khlie, pihaknya memproyeksikan peningkatan jumlah penumpang sebanyak dua kali lipat pada tahun 2021 – ke angka 6 juta penumpang per tahun. Kereta Al-Boraq ini sendiri menghubungkan Casablanca dan Tangier yang berada di sebelah utara Maroko. Jika menggunakan jalan tol A1, dibutuhkan waktu 3 jam 32 menit untuk menghubungkan kedia titik ini – sedangkan jika menggunakan kereta Al-Boraq, maka jarak 338,1km ini dapat ditempuh dalam durasi 2 jam 10 menit saja. “Dengan rata-rata 8.250 penumpang per hari pada 2019, tingkat keterisian kereta rata-rata adalah 68%,” ujar Mohamed Rabie. Kendati angka penumpang per tahunmasih terbilang masih cukup sedikit, namun nyatanya terjadi peningkatan permintaan manakala ONCF membuka penjualan tiket secara online. “Sejatinya proyek ini sangat menguntungkan … semua biaya operasional dari Al-Boraq sudah tertutup oleh pendapatan yang diraupnya,” sambung Mohamed Rabie. Baca Juga: Petinggi Perancis dan Maroko Lakukan Inagurasi Kereta Cepat Pertama di Afrika Jika hadirnya moda transportasi berbasis massal di Indonesia ditujukan untuk mengurangi tingkat kemacetan dan penyebaran polusi udara, maka lain halnya dengan di Maroko, dimana kereta Al-Boraq ini dihadirkan untuk mengurangi tingkat kecelakaan di negara tersebut. Mohamed Rabie mengatakan bahwa hadirnya kereta cepat ini telah terbukti menurunkan tingkat kecelakaan hingga 150 kasus di tahun 2019 ini. Selain itu, Mohamed Rabie juga menambahkan bahwa perhitungan bea penumpang per kilometer dari kereta cepat ini merupakan yang, “paling kompetitif di dunia,”

Tak Semua Penumpang Mudah Tidur di Pesawat, Ini Sepertinya Bisa Membantu!

Ketika dalam penerbangan jarak jauh, tidur di dalam pesawat bisa menjadi salah satu pilihan sembari pesawat tiba di tujuan. Bahkan berbagai benda seperti headset untuk mendengarkan lagu, bantal hingga penutup mata pun digunakan untuk membantu tidur. Baca juga: Tips – Mau Tidur di Pesawat, Jangan Turunkan Tirai Jendelanya! Tapi sayangnya ini tidak berlaku bagi semua penumpang, sebab banyak juga yang sulit tidur saat dalam penerbangan. Apalagi ketika waktu tempuh lama dan duduk di kursi kelas ekonomi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari forbes.com (23/11/2019), ternyata pelancong udara sebanyak 61 persen mengalami sulit tidur dalam penerbangan mereka. Juru bicara The Sleep Judge Haley Green mengatakan, dengan mencondongkan tubuh ke depan adalah cara terbaik untuk sedikit menutup mata. “Membungkuk ke depan di atas meja baki adalah posisi paling terbaik untuk memaksimalkan istirahat. Sedangkan bersadar ke samping adalah posisi terburuk,” ujar juru bicara itu. Untuk kenyamanan tidur dalam penerbangan pun penumpang tidak disarankan untuk menggunakan celana berbahan jeans, sebab ketika duduk akan menekan perut. Gunakan juga baju yang longgar dan nyaman serta tak lupa menggunakan jaket atau pakaian lengan panjang karena udara dingin dalam kabin. “Gunakan kaos kaki dan celana panjang ketika terbang dengan pesawat, ini bisa membuat Anda nyaman dalam penerbangan,” kata CEO Happysleepyhead.com John Breese. Minum air putih yang cukup bisa membuat perasaan tenang dan tidur pun lelap, sebab bila terlalu banyak minum, Anda bukan tenang untuk beristirahat tetapi bergerak bolak balik ke toilet. Sebenarnya alkohol juga bisa membantu tidur dalam jangka pendek, namun ternyata bisa benar-benar mengacaukan siklus tidur. Sehingga bisa dikatakan alkohol tak disarankan untuk penumpang dalam perjalanan jarak jauh. Satu hal lagi yakni kursi terbaik ketika ingin tidur di pesawat adalah dekat jendela. “Kursi jendela adalah pilihan terbaik, karena kamu bisa bersandar di dinding dan membiarkan tubuhmu lebih rileks. Ditambah lagi, kamu tidak harus bangun ketika tetanggamu ingin ke toilet,” kata Breese. Kursi nyaman kedua yakni di tengah dan lebih baik hindari kursi dekat lorong. Karena ketika di lorong Anda tidak bisa bersandar, sedangkan kursi dekat jendela kepala bisa bersandar dan kursi tengah pun lebih menguntungkan. Baca juga: Jangan Lupa, Ada Aturannya Saat Turunkan Sandaran Kursi Pesawat Tapi, sepertinya bagi orang yang punya julukan pelor alias nempel molor, hal ini bisa saja tidak berlaku. Karena nempel sedikit dengan bagian kursi empuk dengan posisi di mana pun pasti akan tidur. Adakah yang pelor disini?

Berat Bagasi Kabin Anda Berlebih? Jangan Takut di Jetstar Bisa Top Up 7 Kg

Jatah bagasi kabin atau barang bawaan yang bisa masuk ke dalam kabin biasanya hanya seberat tujuh kilogram dan ini termasuk dalam pembelian tiket starter. Namun bagaimana bila berat tersebut berlebih dan apakah harus masuk ke dalam kargo atau ada peningkatan kapasitas dan membayar lebih? Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin  Baru-baru ini maskapai Jetstar menawarkan peningkatan jatah untuk bagasi jinjing hingga 14 kg. Untuk penambahan dua kali lipat ini, penumpang bisa memanfaatkan opsi terbaru dengan top up ekstra tujuh kilogram. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Corporate Communications Manager Jetstar Cynthia Yen-Sullivan mengatakan, ini adalah opsi tambahan bagi penumpang untuk melipatgandakan jatah tersebut. Dia mengatakan, layanan top up bagasi jinjing mulai dari harga AU$19 atau sekitar Rp182 ribu. “Layanan top-up ekstra tujuh kilogram ini dapat dinikmati mulai dari harga sekitar Rp182 ribu pada tiket starter dan dapat dibeli mulai hari ini,” kata Yen-Sullivan yang dikutip dari siaran pers (25/11/2019). Bukan hanya mendapat jatah dua kali lipat, penumpang juga diklaim bisa merasakan hal yang praktis ketika melewati check in dan mengambil bagasi. Layanan terbaru ini bisa dirasakan dalam semua penerbangan Jetstar Asia dari dan ke Singapura terkecuali dari dan ke Vietnam. Yen-Sullivan megatakan, member Club Jetstar juga akan mendapat diskon hingga 20 persen ketika membeli layanan top up bagasi jinjing saat melakukan booking. Peningkatan jatah berat bagasi jinjing yang diperbolehkan memiliki ketentuan dengan satu tas tidak boleh melewati sepuluh kilogram, tetapi dapat dibagi menjadi dua tas berbeda. Dia menjelaskan ketentuan dimensi tas jinjing yang dapat dibawa ke bagasi kabin tetap sama, yakni berukuran tidak lebih dari 56 x 36 x 23 cm. Barang bawaan lainya yang lebih kecil dapat disimpan di bawah kursi. Diketahui, Jetstar pertama kali memperkenalkan opsi berbayar untuk top up bagasi jinjing pada 2018. Para penumpang dapat menikmati jatah ekstra tiga kilogram dan digantikan dengan layanan baru top up ekstra tujuh kilogram. Yen-Sullivan menjelaskan opsi bagasi Jetstar antara lain pertama, penumpang Jetstar menerima jatah bagasi jinjing hingga tujuh kilogram untuk setiap pembelian tiket starter. Kedua, penumpang dapat melakukan top-up untuk jatah bagasi jinjing pada penerbangan tertentu. Baca juga: Bocah Dimasukkan dalam Bagasi Kabin, Foto Pria ini Menjadi Viral Ketiga, penumpang juga dapat membeli jatah bagasi terdaftar mulai dari 15 kg hingga 40 kg. Keempat, penumpang yang menambahkan paket Flex pada tiket starternya juga akan mendapatkan ekstra jatah bagasi jinjing sebagai bagian dari fasilitas disamping kebebasan memilih kursi dan fleksibilitas penerbangan pada hari yang sama.

Stasiun Barat Jadi Stasiun Magetan, Ternyata Pernah Punya Percabangan ke Lanud Iswahjudi

Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 akan mulai digunakan pada 1 Desember 2019 mendatang oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Adanya penggunaan Gapeka terbaru juga berdampak pada perubahan empat nama stasiun di dua daerah operasional (Daop) yakni Daop 7 dan 9. Baca juga: Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019 Perubahan nama ini berdasarkan usulan masing-masing Daop. Stasiun yang pertama berubah nama yakni Stasiun Barat dan akan menjadi Stasiun Magetan kemudian Stasiun Paron menjadi Stasiun Ngawi. Stasiun Karangasem berubah menjadi Stasiun Banyuwangi Kota dan Stasiun Banyuwangi Baru akan menjadi Stasiun Ketapang.
Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan (wikipedia)
Nah, KabarPenumpang.com akan membahas Stasiun Barat yang menjadi satu-satunya stasiun di Magetan. Stasiun kereta api kelas II tersebut berada di ketinggian 70 meter diatas permukaan laut dan masuk dalam Daop 7 Madiun. Stasiun ini dibangun pada dasawarsa 1930-an atau tepatnya pada masa penjajahan Belanda. Stasiun ini melayani transportasi kereta api beberapa tujuan kota di Pulau Jawa tetapi hanya terbatas untuk kereta api ekonomi. Bahkan dulunya terdapat percabangan jalur kereta menuju Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi di Madiun. Selain itu jalur ini juga dipakai Pertamina untuk mengangkut bahan bakar pesawat. Bahkan Stasiun Barat dulunya dilengkapi dengan lintasan rel lori menuju PG Purwodadi untuk mengangkut tebu dan gula. Dulunya stasiun ini punya empat jalur kereta api dengan jalur 2 eksisting yang merupakan sepur lurus. Kemudian jalur ganda pada segmen lintas Babadan-Geneng resmi dioperasikan per 16 Oktober 2019, jalur 1 eksisting diubah menjadi jalur 2 yang baru sebagai sepur lurus hanya untuk arah Madiun, jalur 2 eksisting diubah menjadi jalur 3 yang baru sebagai sepur lurus hanya untuk arah Solo, jalur 3 eksisting diubah menjadi jalur 4 yang baru, dan jalur 4 eksisting dibongkar. Selain itu, sistem persinyalannya telah diganti dengan sistem persinyalan elektrik. Bangunan lama stasiun beserta gudang peninggalan Staatsspoorwegen sudah dibongkar karena terkena perpanjangan sepur badug eksisting menjadi jalur 1 yang baru sehingga digantikan dengan bangunan baru yang lebih besar dan tanah tempat gudang ini berdiri dijadikan lokasi bangunan baru stasiun. Meski bangunan yang lama tinggal puing-puing besi yang berkarat itu menjadi bukti bahwa sejak zaman Belandapun daerah ini sudah ramai disinggahi. Walapun stasiun ini digunakan sebagai tempat pemberhentian kereta yang akan menuju ke Madiun, stasiun ini dulunnya juga berperan penting dalam lalu lintas kereta api, khususnya kereta api yang mengangkut kayu. Baca juga: Waspadai Perubahan Jadwal Kereta! Mulai 1 Desember PT KAI Gunakan Gapeka 2019 Walaupun sudah mengalami pembaruan, ternyata bekas jalur kereta ini yang menuju ke Lanud Iswahjudi masih tersisa di dekat perkampungan warga. Selain penggantian nama, Bupati Magetan juga meminta kepada PT KAI untuk memberhentikan lebih banyak kereta api kelas eksekutif dan bisnis di stasiun ini.

Tak Sebut Alasan, Citilink Hentikan Operasional Rute Surabaya-Jember Setelah Enam Bulan

Kementeriaan Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan secara resmi mengeluarkan surat izin rute penerbangan bagi maskapai Citilink Indonesia rute Surabaya-Jember-Surabaya untuk menunjang kebutuhan transportasi udara di Bandara Notohadinegoro Jember sejak 26 April 2019. Sayangnya setelah enam bulan melayani penerbangan dari Surabaya menuju ke Jember tersebut, akhirnya Citilink menghentikan operasinya di Bandara Notohadinegoro. Baca juga: Kini Citilink Terbang ke Perth dan Kuala Lumpur dari Denpasar Penghentian rute ini oleh maskapai berbiaya hemat (LCC) tersebut sejak 14 November 2019 kemarin hingga batas yang belum bisa ditentukan. Stasion Manager Citilink Jember Yogi Ardi Asmoko menyebutkan, penghentian opersional maskapai ini mengacu pada pemberitahuan dari kantor pusat. “Pemberhentian operasional penerbangan ATR-72 rute Surabaya-Jember-Surabaya mulai efektif pada 14 November 2019 sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” kata Yogi yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber. Dalam surat pemberitahuan, pihak manajemen Citilink pusat tidak menyebutkan alasan secara detail penutupan rute Surabaya-Jember tersebut. “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada UPT (Unit Pelaksana Teknis) Bandara Notohadinegoro atas kerja sama yang baik selama ini, sehingga operasional penerbangan Citilink Indonesia dapat berjalan lancar,” ujarnya. Kenyataan penghentian operasional Citilink rute Surabaya menuju Jember dibenarkan oleh Kepala UPT Bandara Notohadinegoro Edy Purnomo. Dia mengatakan, hampir sepekan lebih maskapai hijau ini tak lagi terbang dirute tersebut. “Memang benar hampir sepekan lebih Citilink sudah tidak menerbangi rute Surabaya-Jember, sehingga hanya maskapai Wings Air yang beroperasi di Bandara Notohadinegoro,” kata Edy yang dikutip dari antaranews.com. Dia mengatakan, keputusan tersebut merupakan kebijakan Citilink pusat dan pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan penghentian operasional penerbangan dari pihak Citilink di Jember. “Sebenarnya okupansi penumpang sudah mulai bagus, namun pihak UPT Bandara Notohadinegoro juga tidak bisa berbuat banyak terkait dengan keputusan manajemen Citilink,” tuturnya. Baca juga: Citilink dan GMF AeroAsia Bentuk Anak Usaha Baru di Bidang Pendidikan Karena adanya penutupan rute Citilink, maka hanya tinggal Wings Air yang beroperasi di Bandara Notohadinegoro. Untuk alasan penghentian operasionalnya sendiri, pihak KabarPenumpang.com sudah menghubungi Citilink namun belum ada respon hingga saat ini. Umumnya dalam bisnis penerbangan komersial, pengentian rute penerbangan dikarenakan load factor yang rendah.

10 Tahun Lalu, Penerbangan Kelas Ekonomi Terasa Lebih Nyaman!

Terbang dengan menggunakan maskapai berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC) atau duduk di bangku penerbangan kelas ekonomi agaknya tidak terlalu cocok bagi Anda yang hendak melakoni penerbangan jarak menengah-jauh. Konfigurasi bangku yang seolah tidak memperhatikan kenyamanan penumpang menjadi satu momok menakutkan. Ditambah ruang untuk kaki yang sempit dan jarak antar bangku yang sangat mepet menjadi bahan pertimbangan banyak orang untuk tetap melanjutkan membeli tiket LCC atau duduk di bangku kelas ekonomi. Baca Juga: Layakkah Full-Service Carrier Layani Penumpang dengan Standar LCC? Namun agaknya skema ini tidak begitu menonjol di masa lampau – mengingat pesawat masih diplot sebagai moda transportasi untuk kalangan berduit saja. Guna membuktikan pernyataan di atas, KabarPenumpang.com mengutip dari laman forbes.com, dimana konfigurasi bangku 2-4-2 untuk konfigurasi bangku kelas ekonomi masih merajalela – setidaknya 10 hingga 15 tahun ke belakang. Kala itu, dua pesawat yang masih mendominasi puncak pengangkut penumpang adalah Airbus A340 dan Boeing 767 – dua pesawat wide-body dengan kemampuan menempuh jarak menengah-jauh. Dengan konfigurasi semacam ini (8 penumpang dalam satu deret), penumpang masih bisa merasakan nyaman walaupun tidak senyaman business class dan first class. Seiring kompetisi antar maskapai dan meningkatnya minat penumpang untuk melakukan perjalanan udara, pihak maskapai mulai meminta pabrikan pesawat untuk memaksakan konfigurasi bangku 3-3-3 untuk pesawat jenis wide-body. Hadirnya ide ini menandakan bahwa kenyamanan penumpang mulai tergadaikan hanya demi kas perusahaan yang diharapkan semakin ‘membengkak’ akibat meningkatkanya biaya operasional dan bahan bakar. Soal kenyamanan penumpang? Tentu saja ruang gerak mereka semakin terbatas dengan konfigurasi sembilan bangku dalam satu deret. Hingga pada akhirnya muncul ide untuk menghadirkan konfigurasi 10 bangku dalam satu deret. Baik Boeing dan Airbus mulai mempromosikan konfigurasi bangku semacam ini – khususnya bagi para operator LCC, yang ingin memaksimalkan okupansi penumpang guna menyeimbangkan biaya operasional. Ya, konfigurasi 3-4-3 semacam inilah yang banyak Anda saksikan di maskapai yang mengoperasikan pesawat wide-body dengan kelas ekonomi di dalamnya, atau bahkan maskapai LCC yang mengoperasikan pesawat berbadan besar. Baca Juga: Vistara dan Jet Airways, Maskapai Full Service yang Sajikan Layanan Bergaya LCC Sebut saja maskapai asal Hong Kong yang kini tengah dideru masalah akibat RUU Ekstradisi, Cathay Pacific – dimana maskapai ini mengaplikasikan konfigurasi 3-4-3 untuk varian Boeing 777 yang mereka miliki. Selain Cathay, ada juga United Airlines, Qatar, hingga Emirates yang menerapkan konfigurasi semacam ini. Lalu, benarkah kenyamanan penumpang ‘tergadaikan’ hanya demi pemasukan perusahaan yang lebih besar?