Load Factor Rendah, Air France Mulai ‘Pensiunkan’ Airbus A380

Flag carrier Perancis, Air France dikabarkan mulai menyudahi tugas dari pesawat penumpang terbesar Airbus A380. Alih-alih memberhentikan ke-10 unit A380 yang tergabung di dalam tubuh maskapai secara berbarengan, pihak Air France lebih memilih untuk melakukan proses ini secara perlahan – adalah A380-800 kedua milik perusahaan yang kena giliran pertama untuk purna tugas dari maskapai yang tergabung ke dalam aliansi penerbangan SkyTeam ini. Baca Juga: Stop Produksi di Awal 2019, Kapan Airbus A380 Pensiun Sepenuhnya? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (24/11), adalah Airbus A380 dengan nomor registrasi F-HPJB yang menjalani penerbangan terakhirnya dari Paris menuju Malta International Airport (MLA) pada hari Minggu (24/11) kemarin. Air France AF370V, menjadi pesawat yang mengawali masa pensiun dari Airbus A380 dari tubuh Air France yang dijadwalkan akan sepenuhnya berhenti menggunakan moda ini sebelum tahun 2022 mendatang. Pada penerbangan terakhirnya, pesawat ini mengudara dengan durasi penerbangan sekitar dua jam 17 menit.
Sumber: samchui.com
Menurut pihak perusahaan, setibanya pesawat di Malta, keseluruhan body dari F-HPJB akan dicat ulang dengan warna putih di Aviation Cosmetics Malta, sebelum pada akhirnya dikembalikan ke pihak penyewa, Dr. Peters Group. Diketahui, F-HPJB merupakan unit Airbus A380 kedua yang bergabung ke dalam tubuh perusahaan pada Februari 2010 silam. Menurut pihak Air France, biaya pengoperasian dari Airbus A380 dinilai tidak lagi bisa menyeimbangkan keuntungan dari yang didapatnya. Baca Juga: Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380? “Lingkungan kompetitif saat ini membatasi pasar di mana A380 dapat beroperasi secara menguntungkan,” tulis Air France dalam siaran pers. Tidak seperti seperti Lufthansa, Singapuro Airlines, Qantas, China Southern Airlines, dan Emirates yang juga mengoperasikan Airbus A380, Air France tidaklah mendapatkan keuntungan dari burung besi ini. Besar kemungkinan load factor dari A380 milik air France ini tidaklah setinggi maskapai tersebut di atas, sedangkan biaya operasionalnya tergolong tinggi. Jadi, wajar adanya jika pihak maskapai tidak mendapatkan keuntungan maksimal.

Tak Terpengaruh Krisis MAX 8, Boeing Luncurkan 737 MAX 10 di Hadapan Ribuan Karyawan

Setelah sempat terseok-seok menghadapi rumitnya buntut dari kecelakaan varian 737 MAX 8 yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Air, pemberitaan terbaru dari raksasa manufaktur asal Amerika, Boeing menyebutkan bahwa pihak perusahaan baru saja merayakan penampilan perdana dari varian terbaru milik mereka, Boeing 737 MAX 10. Adapun penampilan perdana dari pesawat anyar ini dilakukan Boeing di pabrikan perusahaan yang ada di Renton, Washington. Hampir sama seperti penampilan perdana dari Boeing 777X, Boeing 737 MAX 10 juga ditampilkan di hadapan ribuan karyawannya. Baca Juga: Lion Air Group Beli 50 Unit Boeing 737 Max 10 Senilai Rp858 Triliun Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, berkenaan dengan seremoni di tengah nestapa perusahaan, para pemimpin Boeing menyampaikan pencapaian tim dan memberikan penghargaan atas upaya mereka dalam menyelesaikan produksi varian terbaru dari seri pesawat 737 MAX. “Hari ini bukan saja mengenai pesawat baru. Hari ini adalah milik mereka yang merancang, membangun, dan mendukung pesawat ini,” tutur Mark Jenks, wakil presiden dan general manager program 737. “Fokus tim yang tajam terhadap aspek keselamatan dan kualitas menunjukkan komitmen kami terhadap para maskapai pelanggan dan setiap orang yang terbang bersama pesawat Boeing,” sambungnya. Patut diketahui, varian Boeing 737 MAX 10 merupakan varian terbesar dari keluarga 737 MAX, dimana pesawat ini dirancang untuk menampung 230 penumpang dengan biaya kursi per jarak terendah diantara semua pesawat single aisle yang pernah diproduksi. Pesawat ini akan terlebih dahulu menjalani pemeriksaan sistem dan uji mesin sebelum melakukan penerbangan pertama yang direncanakan jatuh pada tahun depan. Kendati masih lama hingga uji penerbangan perdana, namun Boeing sudah mengantongi satu nama yang kelak akan menerbangkan si burung besi anyar ini untuk pertama kalinya. Baca Juga: Meski Khusus Internal Perusahaan, Boeing Tepati Janji Perlihatkan 777-9 ‘’Saya merasa terhormat dapat membawa pesawat ini pada penerbangan pertamanya dan menunjukkan kepada dunia hasil curahan hati dan jiwa kami,’’ ujar Jennifer Henderson, kepala pilot pesawat 737, kepada kerumunan karyawan dalam acara seremonial pesawat tersebut. Diketahui, hingga saat ini pihak Boeing sudah mencatatkan pemesanan 550 unit 737 MAX 10 dari 20 pelanggan di seluruh dunia.

Iklankan “Terminator: Dark Fate,” Rev-9 Terpajang di Stasiun Shinjuku

Di Jepang, hampir di semua stasiun kereta baik di bawah tanah atau tidak selalu sibuk apalagi di jam pergi dan pulang kerja. Namun satu diantaranya yakni Stasiun Tokyo Shinjuku menjadi yang tersibuk karena punya selusin jalur sehingga banyak kereta yang bertemu di sana. Baca juga: Ekspansi Bisnis, Japan Railway East Buka Area Belanja di Stasiun Singapura Akhir 2019 Dilansir dari japantoday.com oleh KabarPenumpang.com (25/11/2019), meski sibuk tetapi Stasiun Shinjuku bahkan menjadi salah satu pusat transportasi paling nyaman bagi penumpang. Tak hanya itu, tetapi juga lokasi strategis yang paling dilirik oleh para pengiklan produk. Apalagi jalan setapak yang panjang dengan pilar-pilar penyanggahnya dan di sebut Metro Promenade yang menjadi seperti kanvas serta diidam-idamkan oleh para tim pemasaran kreatif. Hal ini yang membuat Cyberdyne pada awal November 2019 kemarin memajang iklan film “Terminator: Dark Fate.” Namun di Jepang film itu berjudul “Terminator: New Fate” dan iklan tersebut menampilkan Rev-9 yang menjadi peran terminator penjahat baru. Rev-9 tersebut di pajang di pilar Metro Promenade dan dalam balutan sebuah poster tiga dimensi. Di mana Rev-9 terlihat keluar dari poster yang tertempel pada diding pilar tersebut. Iklan ini awalnya dipikirkan untuk menjadi hiasan Hallowen karena Terminator dianggap masuk kategori film horor. Meski begitu menyeramkan tetapi kehadiran iklan yang menggambarkan Rev-9 membuat stasiun dan film tersebut terlihat keren ketika terpajang. Pemajangan poster iklam film Terminator di Stasiun Shinjuku berakhir pada 3 November kemarin karena pada 8 November film tersebut debut perdana di Jepang. Kehadiran iklan ini karena sebelumnya ada iklan Metro Promenade yang menarik dari Yu-Gi-Oh penerbit Konami. Kala itu mereka melakukan pengembangan “Dragon Quest” Square Enix dan Streaminger anime Netflik. Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang Bahkan Cyberdyne menjadi organisasi terbaru yang membuat ini agar mendapat dorongan promosi pada orang atau penumpang yang lewat. Sehingga iklan Rev-9 akhirnya ditangani oleh Cyberdyne Skynet dengan menggunakan AI-strike hingga terlihat seperti yang dipajang tersebut.

Angkut Penumpang Kereta Secara Acak, Bus Ultra Mewah Yuga Akan Beroperasi 5 Hari di Tokyo

Kepadatan penumpang kereta api di Jepang tepatnya yang menuju ke arah pusat kota Tokyo di setiap hari kerja tak lagi perlu diherankan. Sebab kereta jam sibuk pada pagi hari sangat tidak menyenangkan untuk kota yang memiliki banyak perkantoran dan sebagian besar memulai jam kerja yang bersamaan. Sehingga hal ini membuat agak sulit mengurangi kepadatan stasiun di Jepang. Baca juga: Luxury Class Sleeper Bus PO Harapan Jaya, Fasilitas “Mewah” dengan Harga Terjangkau Namun pada Desember 2019 medatang, selama lima hari akan ada hal yang menyenangkan untuk para pekerja di Tokyo. Sebab beberapa penumpang tidak akan merasakan padatnya kereta dan akan menggunakan bus ultra mewah. KabarPenumpang.com melansir laman japantoday.com (23/11/2019), bus ultra mewah merupakan proyek bersama antara Nestlé dan operator bus wisata Yuga yang berbasis di Tokyo. Bus ultra mewah tersebut akan beroperasi pukul 08.00 pagi waktu setempat antara Stasiun Ikebukuro dengan Stasiun Tokyo. Perjalanan ini akan ditempuh dengan waktu 40 menit dengan penumpang yang semuanya duduk dan tidak ada yang berdiri. Akan ada sepuluh penumpang yang naik bus ini dan bisa menikmati kursi malas nan mewah dilengkapi dengan sandaran kaki, port pengisian USB dan juga disediakan selimut serta sandal untuk kenyamanan penumpang. Sayangnya meski begitu, penumpang tidak disarankan untuk tidur karena akan ada sarapan gratis yang disiapkan oleh restoran World Breakfast Allday dan tak boleh dilewatkan. Penumpang bahkan bisa memilih menu dengan sarapan ala Inggris, Meksiko dan Swiss yang menyajikan sosis, huevos rancheros, irisan keju serta daging. Tak hanya itu, untuk menemani sarapan, secangkir kopi Nescafé Excella akan diberikan. Bisa dikatakan ini yang terbaik dari semuanya dan bus Yuga hadir dengan gratis. Baca juga: Tukar Botol Bekas, Dapat Tiket Bus Suroboyo Gratis! Meski begitu, sebagai seorang penumpang jangan membuang pass kereta karena bus hanya beroperasi selama lima hari yakni tanggal 2, 9, 10, 17 dan 18 Desember. Penumpang yang naik bus ultra mewah ini pun akan dipilih secara acak dan sebelumnya penumpang bisa mendaftar pada https://nescafe-yuga.com/entry. Kalau ini ada di Indonesia apakah Anda sebagai penumpang tertarik?

Wings Air Tambah Frekuensi Penerbangan Jakarta-Bandung, Hanya 30 Menit di Udara!

Meski banyak dikutuk akan kemacetannya yang parah, tetap saja perjalanan dari Jakarta menuju Bandung tetap digandrungi oleh warga Ibukota – terutama ketika akhir pekan tiba. Beragam akses menuju Kota Kembang tersedia, mulai dari kereta, bus, hingga shuttle (travel) yang siap mengantarkan Anda ke berbagai destinasi. Baca Juga: Penumpang Kereta Jakarta-Bandung Kian Padat, KAI Tambah Jadwal Perjalanan Namun kerap kali warga Ibukota kehabisan tiket kereta api (yang diplot sebagai moda paling digemari oleh warga Jakarta karena estimasi perjalanannya yang relatif tepat waktu) untuk melakoni perjalanan ke Bandung, mengingat perjalanan dengan menggunakan moda darat seperti shuttle dan bus memakan waktu jauh lebih lama karena macet. Nah, jika  Anda merupakan salah satu ‘korban’ kehabisan tiket kereta api, namun ingin cepat sampai di Bandung, Anda bisa menjajal perjalanan udara, karena pada Minggu (24/11) kemarin, anak perusahaan dari Lion Air Group, Wings Air meresmikan penambahan frekuensi penerbangan menuju Bandung menjadi tiga kali dalam sehari. Detail Penambahan Layanan Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, Wings Air nomor penerbangan IW-1951 mengudara dari Husein Sastranegara pada 19.20 WIB dan memiliki jadwal kedatangan di Jakarta pukul 19.50 WIB. Untuk rute sebaliknya, Wings Air berangkat dari Halim Perdanakusuma pada 20.10 WIB bernomor IW-1950 dan tiba di Bandung pukul 20.40 WIB. Peningkatan layanan penerbangan ini dijalankan secara berjadwal, dengan demikian memperkuat operasional Wings Air dari Jakarta tujuan Bandung menjadi tiga kali sehari atau enam kali pergi pulang. Wings Air menilai permintaan pasar Jakarta – Bandung – Jakarta akan terus berkembang. Dalam menjalankan rute penerbangan ini, Wings Air menggunakan varian ATR 72-500 atau ATR 72-600 dengan kapasitas 72 kursi kelas ekonomi yang diklaim paling nyaman dan canggih di kelasnya yang mampu menerbangi rute jarak pendek secara point to point. Menurut pihak Wings Air, Anda akan menikmati sensasi mengudara dengan menggunakan jet pribadi karena konfigurasi kursi 2-2, dapat bersantai ketika di kabin atau hanya sekadar menikmati pemandangan memukau dari ketinggian, daya tariknya bahwa pesawat mampu terbang rendah. Selain itu, bisa menikmati dan melihat pemandangan luar yang akan memanjakan mata karena pesawat mampu terbang dengan rendah. Perbandingan Harga Seperti yang sudah disebutkan di atas, penambahan jadwal penerbangan dari Wings Air ini akan melengkapi opsi perjalanan bagi Anda semua yang hendak melawat ke Bandung maupun Jakarta. Mengingat ini merupakan perjalanan udara, maka wajar adanya jika harga yang ditawarkan sedikit lebih tinggi ketimbang moda-moda lainnya. Jika dilihat dari laman traveloka.com, tiket penerbangan Wings Air rute Jakarta – Bandung dibanderol dengan harga Rp332.200 (berangkat pukul 14.00 WIB) hingga Rp349.800 (berangkat pukul 20.20 WIB) untuk tanggal keberangkatan 4 Desember 2019. Sementara untuk harga tiket kereta sendiri berada di kisaran Rp110.000 untuk kelas ekonomi premium hingga Rp170.000 untuk kelas eksekutif di hari yang sama. Lain halnya dengan shuttle dengan harga yang lebih beragam – tergantung operator yang menjalankannya. Salah satu shuttle kelas premium, Cititrans menyediakan harga berkisar Rp145.000 untuk perjalanan di hari yang sama (4/12). Baca Juga: Rp300 Ribu! Inilah Harga Tiket Termurah Kereta Cepat Jakarta-Bandung Di atas angin, harga dari Wings Air ini memang berada di atas moda-moda lain yang menjalankan relasi Jakarta – Bandung PP. Namun dengan efektivitas durasi penerbangan (30 menit) hingga nilai prestise yang didapat oleh penumpang, rasanya harga yang ditawarkan oleh Wings Air masih cukup masuk akal. Agaknya, jika umur dari rute penerbangan Jakarta – Bandung PP ini cukup panjang, maka Wings Air akan bersaing head-to-head dengan Kereta Cepat yang diproyeksikan bakal meluncur dalam beberapa tahun ke depan dengan harga tiket mulai dari Rp300 ribu untuk durasi 45 menit perjalanan Jakarta – Bandung. Jadi, Anda pilih yang mana?

60 Tahun Beroperasi, Monorail di Kebun Binatang Ueno Tokyo Harus Pensiun

Sebuah kereta yang sudah lanjut usia biasanya akan dipensiunkan meskipun masih tampak kokoh dan digemari penumpang. Hal ini pun terjadi pada monorail di kebun binatang Ueno Tokyo yang sangat populer di kalangan pengunjungnya untuk melihat hewan dan menikmati keindahan dari atas. Baca juga:  Ternyata Aeromovel Sudah Ada Sejak Zaman Kereta Api Victoria Penghentian operasional monorail di kebun binatang tersebut dikarenakan sudah beroperasi selama 60 tahun, di mana kereta dan fasilitasnya sudah tua. Bahkan sebelum dihentikan pengoperasiannya pada 31 Oktober 2019 kemarin, pihak pemerintah metropolitan sempat mempertimbangkan akan diremajakan dengan merombak sistem atau menghapus secara permanen. Diluncurkan tahun 1957 oleh biro transportasi Pemerintah Metropolitan Tokyo, monorail ini menjadi yang pertama di negeri Matahari Terbit itu. Selama 60 tahun beroperasi, monorail di Ueno sudah mengangkut lebih dari 65 juta penumpang dari bagian timur hingga ke barat kebun binatang tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (31/10/2019), monorail di kebun binatang Ueno merupakan kereta yang tergantung pada rel tunggal dan membentang sepanjang 330 meter. Memiliki dua stasiun, waktu tempuhnya sekitar 90 detik. Monorel ini memiliki dua gerbong dalam satu rangkaian yang mampu menampung 62 penumpang. Monorail di Ueno merupakan generasi keempat dengan tipe 40 yang digunakan sejak tahun 2001 lalu. Pada hari terakhirnya beroperasi, penumpang yang naik pun di pilih secara acak melalui lotre. Bahkan sebelum beroperasi untuk yang terakhir kali, Kepala Stasiun Kazuhide Nagata menyampaikan pesan singkatnya. “Saya ingat dengan jelas banyak anak mengatakan bahwa perjalanan monorail itu menyenangkan. Monorail memberikan pemandangan yang indah, seperti kolam Shinobazunoike (di Taman Ueno), dan kereta itu berwarna-warni dan populer. Sangat disesalkan bahwa layanan ini telah ditangguhkan,” katanya. Seorang lelaki berusia 38 tahun dari Prefektur Ehime, yang mengunjungi kebun binatang bersama keluarganya pada hari itu, mengatakan, “Saya yakin monorail itu dicintai oleh semua orang. Saya harap ini akan dikembalikan.” Baca juga: Bakal Hubungkan Rusia dan Cina, Inilah Kereta Gantung Lintas Negara Pertama di Dunia Pada awal 1980-an, pihak berwenang mempertimbangkan untuk menghapus monorail, tetapi pemerintah metropolitan memutuskan untuk memperbaikinya setelah muncul permintaan untuk dilanjutkan. Diketahui, sehari setelah berhenti beroperasi pada 1 November 2019, para pengunjung bisa menggunakan bus yang disediakan oleh pengelola kebun binatang. Setelah pensiun, monorail ini dipanjang di Stasiun East Garden hingga 24 November 2019.

Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow

Banyak alasan yang menjadi faktor sebuah pesawat tertunda keberangkatannya seperti cuaca, atau hal lainnya. Nah bagaimana jika seekor burung merpati yang tiba-tiba ada di dalam kabin membuat penerbangan tertunda? Baru-baru ini seekor burung merpati ada di dalam kabin pesawat Aeroflot di Rusia. Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah Burung ini terbang di sekitaran kursi dan semua petugas melakukan penangkapan pada unggas yang ketakutan tersebut agar pesawat bisa mengudara. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (13/11/2019), masuknya burung merpati dalam kabin ini diduga ketika pesawat tengah menjalankan prosedur perawatan dan pembersihan sebelum terbang. https://youtu.be/YzXk7Rrk-_Y Saat itu untungnya belum ada penumpang yang masuk ke dalam kabin. Karena hal ini, awak kabin melakukan penangkapan agar burung tersebut bisa keluar. Setelah semua susah payah menangkapnya, akhirnya 20 menit kemudian burung tersebut berhasil di keluarkan dari pesawat. Insiden burung merpati masuk ke kabin ini terjadi dalam penerbangan maskapai Aeroflot dengan nomor SU1730 dari Bandara Internasional Sheremetyevo di Moskow menuju ke Petropavlovsk-Kamchatsky yang letaknya di antara tengah dan timur Rusia. Pesawat ini awalnya akan berangkat pada 9 November 2019 pukul 05.10 pagi waktu setempat. Atas insiden ini, Aeroflot tidak menanggapi pertanyaan terkait burung yang masuk dalam kabin tersebut. Namun hasil dari pelacakan penerbangan global FlighRadar menemukan bahwa pesawat tersebut mendarat di tujuan pukul 10.22 waktu setempat. Namun ini bukanlah pertama kali terjadi penundaan dikarenakan hewan. Sebab pada Juli kemarin, penerbangan Jetstar dan Gold Coast Australia ke Adelaide harus menunggu kura-kura di landasan. Kura-kura ini menyeberang di landasan sekitar empat menit dan dipindahkan agar penerbangan bisa kembali berjalan. Bahkan penerbangan Spirit Airlines dari Orlando harus tertunda ketika buaya berajalan melintas landasan pacu menuju sebuah kolam. Tahun 2017 lalu, anjing laut dengan berat 450 pound harus dikeluarkan dari bandara Alaskan karena mengganggu aktivitas penerbangan. Baca juga: Ditemukan di Dalam Kokpit Jet Airways, Burung Hantu Dianggap Pertanda Baik Tak hanya itu, di awal tahun seekor burung Myna bahkan ikut dalam penerbangan Singapore Airlines. Burung tersebut menjadi penumpang gelap dalam kelas bisnis yang tengah menuju Bnadara Heathrow Inggris.

Hari ini 50 Tahun Lalu, Garuda Indonesia Lakukan Penerbangan Perdana ke Australia

Garuda Indonesia pada hari ini, Minggu (24/11) memperingati 50 tahun penerbangan yang menghubungkan Indonesia dan Australia. Menandai peringatan 50 tahun penerbangan ke Australia, Garuda Indonesia memberikan cup cake bagi para penumpang yang berangkat dari Jakarta ke Australia. Selain itu penumpang yang mendarat dan terbang dari dan ketiga bandara yang diterbangi Garuda yaitu Sydney, Melbourne, Perth pada tanggal 24 November 2019 juga dibagikan cake dan souvenir oleh otoritas bandara setempat sebagai bentuk apresiasi untuk Garuda Indonesia yang sudah mengoperasikan penerbangan ke Australia selama 50 tahun. Baca juga: Douglas DC-8 – Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an Lebih lanjut, khusus untuk penerbangan dari Denpasar, Garuda Indonesia menyediakan dedicated check in counter bagi para penumpang yang menuju Australia. Dalam siaran pers, Garuda Indonesia menyebut melaksanakan penerbangan ke Australia pertama kali pada tanggal 24 November 1969 dengan rute penerbangan Jakarta – Denpasar – Sydney menggunakan pesawat jet jenis DC-8. Penerbangan ke Sydney tersebut, awalnya hanya melayani sekali perminggu – pada setiap hari Senin. Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan bahwa Australia merupakan pangsa pasar yang sangat potensial bagi Garuda Indonesia. “Momentum peringatan 50 tahun penerbangan ke Australia ini merupakan milestone dan memiliki arti penting bagi upaya meningkatkan posisi Garuda Indonesia bagi pasar Australia serta dalam upaya mendukung pengembangan hubungan ekonomi dan pariwisata kedua negara. “Lebih dari itu, momentum peringatan 50 tahun penerbangan ini menggambarkan perjalanan Garuda Indonesia dalam pengembangan konsep layanan yang bertema keramahan dan keanekaragaman budaya khas Indonesia kepada masyarakat Australia melalui berbagai aspek layanan penerbangan”, lanjut Pikri. Masyarakat Australia yang melakukan perjalanan ke Indonesia terus tumbuh setiap tahun dan pada 2018-2019 memiliki pertumbuhan 197,8% pada 10 tahun terakhir. Penggerak utamanya adalah kapasitas penerbangan terus tumbuh setiap tahun, harga yang kompetitif, dan potensi Indonesia yang menjadi salah satu tujuan yang dipilih masyarakat Australia karena jarak tempuh yang dekat sebagai “short gateway”. Sementara itu sebaliknya Indonesia adalah penyumbang pariwisata terbesar ketiga bagi Australia setelah China dan India. Nilai tukar Dolar Australia yang lebih rendah selama lima tahun terakhir, membuat kunjungan ke Australia lebih menarik bagi turis asing yang mendorong pertumbuhan pariwisatanya. (Source: Tourism Research Australia – TRA 2019 Forecast) Hingga Agustus 2019, penumpang yang diangkut Garuda Indonesia dari dua destinasi yaitu Cengkareng dan Denpasar ke tiga destinasi di Australia tersebut adalah sebanyak 338.073 atau mencapai 22.7% market share rute penerbangan antara Indonesia dan Australia dengan rata-rata tingkat keterisian penumpang sebesar lebih dari 70%. Saat ini Garuda lndonesia melayani penerbangan langsung dari dan menuju Australia sebanyak 23 penerbangan setiap minggunya yaitu Jakarta – Sydney (4 kali setiap minggunya), Denpasar – Sydney (5 kali setiap minggunya), Jakarta- Melbourne (4 kali setiap minggunya), Denpasar – Melbourne (6 kali setiap minggunya dan Denpasar – Perth (4 kali setiap minggunya). Baca juga: Serba-Serbi Pendaratan Darurat Medis Garuda Indonesia GA728 di Karratha, Australia  Penerbangan dari dan menuju Australia tersebut dilayani dengan menggunakan armada Airbus A330 yang memiliki kapasitas kursi sebanyak 287 dengan konfigurasi 24 kursi kelas bisnis dan 263 kursi kelas ekonomi.

TransJakarta Sosialisasikan Mikrotrans di Wilayah Jakarta Timur

Sebanyak 628 armada mikrotrans sudah melayani 25 rute dan 24 diantaranya sudah terintegrasi dengan BRT dan koridor Non BRT. Sekretaris Perusahaan PT TransJakarta, Nadia Diposanjoyo mengatakan angkot atau angkutan kota yang saat ini menjadi mikrotrans kini sudah memiliki kualitas yang baik. Baca juga: Terintegrasi Jak Lingko, Naik Bus TransJakarta Lebih Hemat Saat ini untuk pengembangan mikrotrans Nadia mengatakan, pihaknya tengah ke wilayah Jakarta Timur. Pemilihan Jakarta Timur sendiri dikarenakan wilayahnya yang lebih luas di banding lainnya. “Sudah ada 286 armada sudah melayani wilayah Jakarta Timur. Kita mau jaring rekan-rekan operator untuk bergabung dengan kita,” ujar Nadia. Dia menambahkan, nantinya bila operator ini bergabung dengan TransJakarta untuk menstandarkan transportasi publik. Nadia menambahkan, saat ini di Jakarta Timur sudah tiga bulan berjalan dan banyak peminatnya. “Kita sudah sosialisasikan ini ke lurah dan RT serta RW untuk beritahukan apa itu mikrotrans. Karena masih banyak yang tidak tahu dengan armada terbaru dari TransJakarta ini,” kata Nadia. Meski begitu tidak hanya di Jakarta Timur, sebab hampir seluruh wilayah DKI Jakarta sudah mulai diadakannya armada mikrotrans JakLingko tersebut. Sayangnya belum mulai di sosialisasikan. Bahkan KabarPenumpang.com yang sudah menggunakan mikrotrans masih melihat banyaknya penumpang yang naik dan turun sembarangan alias bukan pada halte atau tanda mikrotrans. Terkait hal ini, Direktur Utama PT TransJakarta, Agung Wicaksono mengatakan akan membenahi masalah tersebut. Menurutnya bila masih menaik turunkan penumpang dengan sembarangan bisa dikatakan tidak ada perubahan, padahal TransJakarta ingin adanya perubahan. “Kita akan sosialisasi lagi pada pengemudi. Kalau masih naik turun bukan pada tempatnya ini sama saja seperti angkot yang dulu. Mungkin kalau untuk orangtua atau lansia itu tidak masalah, tapi kalau untuk anak muda baiknya turun di tempat yang disesuaikan,” jelas Agung. Baca juga: TransJakarta Punya Rute Baru Setiap Bulan, Bagaimana Integrasi dengan Mikrolet? Dia menambahkan, kedepannya di semua rute akan ada sosialisasi tentang mikrotrans ini agar masyarakat bisa menggunakan angkutan umum dengan baik. (Maria Okta)

Beragam Poin ini Menjadi Pertimbangan Qantas dalam Uji Coba “Project Sunrise”

Project Sunrise yang dikembangkan oleh Qantas memang menyita banyak perhatian publik. Wajar saja adanya, mengingat ini merupakan calon penerbangan komersial terlama dengan jarak terjauh sepanjang masa – menghubungkan Melbourne dan Sydney di Australia dengan New York yang ada di Amerika dan London yang ada di Tanah Britania. Memang, rute ini belum beroperasi, namun serangkaian uji coba telah sukses dilaksanakan. Salah satu uji coba yang paling gaung diberitakan adalah penerbangan non-stop dari Sydney menuju New York yang dihelat pada bulan Oktober silam. Lalu, pelajaran apa yang bisa dipetik dari Project Sunrise ini? Akankah rute penerbangan ini menjadi kenyataan? Baca Juga: Setelah Persiapan Ekstra, Qantas Sukses Lakoni Penerbangan Non-Stop Sydney-New York Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman thenewdaily.com (20/11), Dr. Svetlana Postnova, seorang ahli saraf komputasi dari Charles Perkins Center di University of Sydney mengatakan bahwa serangkaian perlakuan khusus terhadap penumpang diterapkan pada uji penerbangan yang memakan waktu hingga lebih dari 19 jam tersebut – mulai dari pola makan, tingkat kecerahan cahaya di dalam kabin, hingga olahraga ringan yang wajib dilakukan oleh penumpang guna terhindar dari risiko terlalu lama duduk. Tata Pencahayaan Ambil contoh dari segi pencahayaan di dalam kabin, Dr. Svetlena melakukan percobaan dimana lampu di dalam kabin akan tetap menyala dalam tujuh jam pertama penerbangan – dimana pada penerbangan jarak jauh lainnya (lebih dari sembilan jam perjalanan), lampu kabin akan tetap menyala untuk beberapa jam di awal penerbangan, kemudian redup. In-Flight Meals “Dalam rentang waktu tujuh jam tersebut, penumpang akan disuguhi makan dua kali,” Makanan yang pertama, menurut Dr. Svetlana, ditujukan agar penumpang bisa tetap terjaga. Sementara makanan kedua yang disajikan lebih kaya akan karbohidrat, dimana makanan ini sengaja dihidangkan agar penumpang merasa kenyang dan lalu mengantuk. Sesaat setelah makanan kedua dihidangkan, lampu di dalam kabin akan diredupkan selama kurang lebih 10 jam berikutnya. Adapun alasan dari diredupkannya lampu ini adalah untuk ‘mengisyaratkan’ penumpang untuk tidur dan meminimalisir waktu perjalanan – alih-alih mereka tetap terjaga dan menonton film atau mendengarkan musik. Lalu di dua jam terakhir penerbangan, penumpang akan bangun dan diinstruksikan untuk melakukan serangkaian olahraga ringan untuk merenggangkan badan. Kurang lebih seperti inilah yang terjadi di dalam kabin Project Sunrise. Tentu saja aktivitas di atas belumlah absolut, mengingat masih banyak data yang harus dianalisis terlebih dahulu oleh rekanan Qantas. “Tentu saja kami masih harus mempelajari data yang diperoleh guna memahami kenyamanan dan pengalaman penumpang selama mengudara di Project Sunrise,” ujar Dr. Sveltana. “Untuk masalah penganan dan aktivitas yang sudah diujicoba kemarin, semuanya bergantung pada Qantas (akan menjadikannya standar operasi atau tidak),” tandasnya. Baca Juga: Pengadaan Moda “Sunrise Project,” Qantas Tolak Proposal Airbus dan Boeing Project Sunrise ini bukanlah suatu uji coba biasa, dimana pihak Qantas akan menorehkan tinta emas di sejarah dirgantara global. Beragam persiapan hingga perhitungan matang terkait pengoperasian rute penerbangan ini kelak menjadi satu kunci kesuksesan yang akan diraih oleh Qantas. Kendati masih bias, namun tidak menutup kemungkinan Qantas terpaksa mengurungkan niatnya jika memang Project Sunrise ini hanyalah buah dari ide gila para eksekutif yang kurang tepat untuk diterapkan.