Pengumuman di Dalam Kabin Ini Bikin Penumpang Mendadak Ambyarrr!

Belakangan ini, beragam jagad jejaring sosial – mulai dari Facebook, Twitter, hingga Instagram tengah diramaikan dengan pengumuman di dalam kabin yang membuat hati para pendengarnya mendadak ambyar. Bagaimana tidak, suara yang ada di dalam pengumuman tersebut diganti dengan susunan kata yang menggambarkan kondisi hati yang tengah gundah gulana akibat hubungan percintaan. Kejadian unik ini sontak menjadi topik obrolan hangat warganet karena isinya yang mengundang gelak tawa siapapun yang mendengarnya. Baca Juga: Geger Video Menu dengan Tulisan Tangan, Garuda Indonesia Keluarkan Surat Larangan Ambil Gambar di Kabin! Adalah akun @nksthi di Twitter yang pertama kali ‘menggegerkan’ jagad jejaring sosial. Di dalam rekaman video yang berdurasi kurang dari satu menit ini, terdengar suara pengumuman yang isinya, “Para penumpang yang terhormat saat mendarat sudah dekat, namun hati ini terasa pekat mendengar jawaban yang menolak begitu cepat. Sudah lama jiwa meronta-ronta inginkan dia tapi harus sadar dia bukan lagi siapa-siapa,” Siapa yang tidak tertawa mendengar baris kalimat sedih seperti di atas?
KabarPenumpang.com mengutip dari laman detik.com, perkataan yang dilontarkan oleh awak kabin ini bercerita tentang perjuangan seseorang yang patah hati dan rapuh karena cintanya ditolak. Nah, jika disambungkan dengan instruksi keselamatan sebelum mendarat, kurang lebih hasilnya akan seperti ini, “Silahkan tetap duduk jangan lupa jaga jarak dengan dia karena sadar dia sudah milik orang, Kencangkan sabuk pengaman dan harus tetap menerima kenyataan bahwa dia tak lagi memilih Anda, Tegakan sandaran kursi agar kuat melihat dia bersama yang lainnya, Melipat hati yang telah pupus akibat dia tak lagi menoleh memilih melupakan Anda, Buka penutup jendela tapi jangan buka folder kenangan, Semua perangkat elektronik dimatikan termasuk rasa yang masih tersimpan.” Ambyar sekali, bukan? Namun setelah diselidiki lebih jauh, ternyata ini bukanlah suara dari awak kabin yang tengah menginstruksikan langkah keselamatan sebelum pesawat mendarat, melainkan suara dari seorang penyiar online bernama Novita Ika Priantin. Baca Juga: Harap Waspada Jika Anda Mendengar Frasa ‘Easy Victor’ dari Awak Kabin Novita mengaku bahwa awalnya suara tersebut merupakan konten siarannya untuk para pendengarnya yang disebut sebagai ‘warga kerapuhan’. Ia kemudian mengubah naskah penerbangan menjadi versi yang sesuai dengan cerita-cerita patah hati. “Awalnya itu konten siaran aku di radio online buat warga kerapuhan karena aku sering siaran dengan konten drama suara aku bikin hal beda, agar live aku beda sama yang lainnya, aku olah script penerbangan Citilink dengan versi penerbangan untuk warga kerapuhan,” tukas Novita.

Setelah INKA Ekspor Kereta, PT KAI Juga Ekspor Gerbong Bekas ke Kamboja dan Afrika

Gerbong kereta yang tak lagi digunakan atau bekas milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai ditawarkan ke beberapa negara daripada harus menjadi rongsokan tak berguna. Gerbong-gerbong tua ini sendiri rata-rata usianya diatas 30 tahun dan tak lagi digunakan. Baca juga: Sepak Terjang PT INKA di Mancanegara yang Harumkan Nama Ibu Pertiwi Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro membenarkan adanya rencana penjualan gerbong tua ke beberapa negara. Dia mengatakan, saat ini pihak KAI tengah menjajaki penjualan kereta bekas di Kamboja dan negara di Afrika. Pemilihan negara-negara ini karena KAI dan beberapa BUMN lainnya seperti WIKA, Adhi Karya dan INKA tengah menggarap proyek di negara-negara itu. “Oh (iya) Sedang dijajaki karena kita memang ada 3 yang bekerja itu INKA, KAI sama Asia itu. Kalau enggak salah di Afrika, WIKA (Wijaya Karya). Kalau 3 ini Adi Karya,” kata Edi yang dikutip dari kumparan.com (18/11/2019). Adapun kereta bekas yang berusia diatas 30 tahun sebanyak 672 dan terbagi atas kereta penumpang, kereta makan, kereta pembangkit dan kereta bagasi yang ditawarkan untuk dijual. Meskipun bekas, Edi mengatakan tidak akan menjualnya langsung seperti itu melainkan diperbaiki dulu sebelum dikirim. Selain perbaikan juga akan ada modifikassi sebelum gerbong-gerbong itu dijual agar bisa dioperasikan kembali di negara tujuannya. Salah satunya bentang rel yang berbeda, ini akan diperbaiki sesuai bentang rel di negara tujuan seperti ada perbedaan lebar bentang rel yang mana Indonesia memiliki lebar 1067 mm, sedangkan Kamboja 1000 mm. Penjualan ini dilakukan KAI untuk memperbaharui sarana kereta dan uang yang didapat digunakan untuk pembelian kereta dan gerbong baru, pembaharuan lokomotif, KRD dan lainnya. Baca juga: PT INKA dan Standler Rail Sepakat Bangun Perusahaan Joint Venture di Banyuwangi Diketahui, sebelum KAI melakukan penjualan kereta bekas, PT INKA sudah menjual kereta besutannya ke beberapa negara di Asia seperti Bangladesh, Singapura, Filipina, Malaysia, Taiwan hingga Singapura. Penjualan ke Kamboja pun karena Presiden Joko Widodo menawarkan produk kereta dari PT INKA kepada Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen ketika ada kunjungan kehormatan.

Kasus Kecelakaan Grumman yang Libatkan WNI di Perth, Terbukti Akibat Kesalahan Pilot

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan kecelakaan Grumman G-73 Mallard flying boat yang terjadi pada 26 Januari 2017 silam di Swan River, Perth, Australia. Ya, kecelakaan nahas yang menewaskan dua orang korban ini – salah satunya adalah Endah Ari Cakrawati, Warga Negara Indonesia (WNI) nyatanya masih dalam tahap penyelidikan guna mengungkap penyebab dari terjadinya kecelakaan yang bertepatan dengan perayaan Australia Day ini. Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat Seperti yang sudah disebutkan di atas, kecelakaan ini masih dalam tahap penyelidikan dan baru-baru ini, Australian Transport Safety Bureau (ATSB) menegur Civil Aviation Safety Authority (CASA) atas pengawasannya. Direktur Eksekutif ATSB, Nat Sagy mengatakan bahwa pilot tidak seharusnya melakukan manuver dadakan. “Cara pilot (Peter Lynch) kembali ke arena pertunjukan untuk kedua kalinya ternyata tidak sesuai dengan prosedur, dimana risiko terjadinya kesalahan dalam pengoperasian pesawat menjadi meningkat. Terlebih ketika itu dilakukan di area yang relatif dekat publik,” tutur NAT dalam Final Report, dikutip KabarPenumpang.com dari laman perthnow.com.au (19/11).
Peter Lynch (kiri) dan Endah Ari Cakrawati (kanan). Sumber: Tribun
Dari hasil penyelidikan, ditemukan bahwa pesawat mengalami “stalled at an unrecoverable height”. Kondisi ini terjadi manakala sebuah pesawat mengalami stall di ketinggian rendah – dimana pesawat tidak memiliki momentum untuk mengembalikan ketinggian pesawat ke level aman hingga akhirnya berujung kecelakaan. Tidak hanya itu, ATSB juga menemukan bahwa seharusnya pilot Peter Lynch tidak memboyong penumpang di dalam pesawat (dalam kasus ini adalah Endah). Lagi, ATSB menegur CASA karena dinilai tidak memiliki kerangka kerja yang efektif dalam hal melakukan persetujuan dan pengawasan terhadap suatu pertunjukkan di udara. Berkaca pada kecelakaan ini, CASA lalu merevisi pedoman manual, delapan bulan pasca kecelakaan. Baca Juga: Banyak Kecelakaan Tapi Bandara Ini Mendapat Award Bergengsi Layaknya Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang ada di Indonesia, ATSB pun lalu melayangkan rekomendasi kepada CASA untuk lebih meningkatkan kinerja, kemampuan alat, hingga panduan ketika hendak menghelat suatu pertunjukan udara. “Rekomendasi ini untuk memastikan kesesuaian jika mereka adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mengatur, mengoordinasi, dan berpartisipasi dalam suatu pertunjukkan udara,” tutup Nat.

Pengadaan Moda “Sunrise Project,” Qantas Tolak Proposal Airbus dan Boeing

Setelah sukses menorehkan sejarah baru di bidang aviasi dengan Sunrise Project-nya, kini tersiar kabar bahwa Qantas telah menolak proposal yang diajukan Airbus dan Boeing yang menawarkan pesawat baru yang dapat terbang non-stop dari Sydney dan Melbourne ke New York dan London. Ya, proposal untuk pengadaan pesawat jenis baru yang diajukan oleh dua produsen pesawat ini dinilai Qantas masih terlalu mahal dan alih-alih menuai untung dari pengadaan rute ini, yang ada pihak maskapai malah akan merugi. Baca Juga: Setelah Persiapan Ekstra, Qantas Sukses Lakoni Penerbangan Non-Stop Sydney-New York Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman traveller.com.au (20/11), pihak Qantas sendiri rencananya akan membuat keputusan terkait apakah rute Sunrise Project ini akan dioperasikan atau tidak pada akhir tahun 2019 ini – termasuk keputusan tentang moda apa yang akan digunakan pada rute penerbangan non-stop terjauh ini, apakah Boeing 777-8X atau Airbus A350-100ULR. Sebenarnya tawaran untuk moda khusus ini sudah datang sejak bulan Agustus lalu, namun pada Selasa (19/11) kemarin, pihak Qantas mengirimkan kembali kedua moda ini ke masing-masing perusahaan dengan nota perbaikan yang tersemat. “Kami telah meminta untuk menilik kembali moda yang mereka ajukan, karena masih ada celah di sana,” ujar chief executive Qantas International, Tino La Spina. “Jadi kita harus sabar menunggu untuk melihat apa yang dilakukan oleh mereka (Airbus dan Boeing),” sambungnya. La Spina juga menambahkan bahwa Qantas telah meminta kedua produsen pesawat untuk tidak hanya mempertimbangkan masalah harga, melainkan juga jaminan dan ketentuan untuk menangani skenario “bagaimana jika…”. Baca Juga: “Sunrise Project,” Qantas Bakal Sabet Gelar Penerbangan Langsung Terlama di Dunia “Pesawat ini akan berada di armada selama 20 tahun ke depan dan kami ingin menutup beragam kemungkinan (kerusakan) … memastikan bahwa pesawat itu masih terbukti andal di masa depan,” katanya. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, uji coba penerbangan Sunrise Project yang menghubungkan Sydney dengan New York yang terpaut jarak 16.200 km ini ditempuh dalam waktu 19 jam 16 menit dengan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner pada minggu ketiga bulan Oktober kemarin.

Di 2020, Luksemburg Jadi Negara Pertama yang Gratiskan Transportasi Massal di Dunia

Menjadi salah satu negara terkecil di Eropa, Luksemburg mengalami kemacetan lalu lintas yang cukup besar. Dari studi yang dilakukan menunjukkan pengemudi di ibukota menghabiskan rata-rata 33 jam dalam kemacetan tahun 2016 lalu. Baca juga: Pemkot Berlin Luncurkan Layanan Transportasi Umum Gratis untuk Pelajar Apalagi negara yang memiliki luas 2586 kilometer persergi tersebut memiliki penduduk sebanyak 600 ribu orang dengan 200 ribu diantaranya pergi bekerja ke negara tetangga setiap harinya. Bahkan Luksemburg adalah satu diantara negara terkaya di Eropa dengan PDB per kapita tertinggi di Uni Eropa. “Luksemburg adalah tempat yang sangat menarik untuk pekerjaan,” jelas Geoffrey Caruso, seorang profesor di Universitas Luxembourg dan Institut Penelitian Sosial-Ekonomi Luksemburg. Tetapi dengan ‘booming ekonominya’ dan konsentrasi pekerjaan yang tinggi telah menyebabkan masalah kemacetan. Kemacetan yang menghabiskan 33 jam tersebut lebih buruk dibandingkan Kopenhagen dan Helsinki yang memiliki populasi sebanding dengan Luksemburg. Di dua negara ini, pengemudi hanya menghabiskan waktu rata-rata 24 jam dalam perjalanannya. Karena masalah kemacetan ini, pemerintah Luksemburg berupaya memprioritaskan lingkungan dan mengakhiri kemacetan lalu lintas terburuk di dunia. KabarPenumpang.com merangkum dari cnn.com, Luksemburg akan diatur menjadi negara pertama di dunia yang membuat semua transportasi publiknya gratis. Tarif kereta, trem dan bus pada musim panas mendatang akan diubah. Pada musim ini, transportasi gratis sudah diberikan kepada anak-anak dan remaja di bawah usia 20 tahun. Siswa sekolah menengah dapat menggunakan angkutan gratis antar lembaga dan rumah mereka. Baca juga: Beli Sepatu Adidas Dapat Tiket Gratis Naik Transportasi Umum di Berlin Sedangkan penumpang lain hanya membayar €2 atau sekitar Rp31 ribu untuk perjalanan selama dua jam. Nantinya pada rencana yang tengah dalam pembicaraa, pada tahun 2020 mendatang semua tiket akan dihapuskan untuk menghemat koleksi tiket dan pengawasan pembelian tiket. Ini juga masih memikirkan gerbong kereta untuk kelas satu dan dua. Selain itu juga ada kekhawatiran yang secara tidak sengaja menghalangi orang yang biasa berjalan kaki atau bersepeda di perkotaan. “Daripada berjalan 500 meter, Anda melihat bus datang dan Anda berkata, ‘Saya (bisa) naik dan bepergian sejauh 500 meter karena gratis,'” kata Caruso.

Tak 100 Persen Aman, Aplikasi Pelacakan Bagasi Dipertanyakan Keakuratannya!

Sepasang suami istri yang tengah menikmati liburan untuk merayakan ulang tahun pernikahan pada September lalu di Yunani harus kehilangan bagasi mereka selama dua hari. Padahal pasangan Marci dan Eric Rose yang menggunakan American Airlines diberitahu oleh aplikasi di ponsel pintar mereka bahwa bagasi sudah menunggu di ban berjalan atau carousel bagasi. Baca juga: Global Locator, Alat Pelacak Posisi Bagasi Dalam Penerbangan Namun ternyata ketika mereka tiba di tempat pengambilan bagasi, barang mereka tidak ada dan memaksa pasangan itu membeli pakaian dan perlengkapan mandi hingga tas tersebut tiba di Athena dua hari kemudian. Kecelakaan ini ternyata, aplikasi memberitahukan tas tersebut ada pada perjalanan mereka dari Bandara Internasional Los Angeles ke Bandara Internasional O’Hare Chicago dan belum dimuat ke pesawat menuju Yunani. “Itu sangat membuat frustasi. Saya menangis karena tidak punya pakaian untuk dipakai dan tidak ada yang bisa kami lakukan,” ujar Marci. Padahal maskapai terbesar di Amerika itu telah menginvestasikan jutaan dolar untuk teknologi selama delapan tahun terakhir untuk memudahkan penumpang dalam melacak keberadaan tas mereka dan mengatasi kehilangan bagasi. Dilansir KabarPenumpang.com dari latimes.com, lebih dari tiga perempat maskapai penerbangan di seluruh dunia berencana untuk menawarkan penumpang mereka untuk melacak tas pada tahun 2020. Namun insiden yang menimpa pasangan Roses dan keluhan di media sosial menunjukkan bahwa teknologi pelacakan bagasi tidak akurat 100 persen. “Ketika itu melibatkan manusia, Anda akan selalu mendapatkan kesalahan,” kata Peter Drummond, direktur portofolio untuk bagasi di SITA. Maret lalu, SITA merilis sebuah studi dan menemukan 26 persen penumpang maskapai penerbangan di seluruh dunia menggunakan perangkat mobile tahun lalu untuk melacak bagasi mereka dan jumlah ini naik 14 persen dari tahun 2017. Studi SITA sebelumnya menyebutkan 77 persen maskapai berencana menawarkan penumpang update secara real time informasi pelacakan bagasi tahun depan. Model dan teknologi pelacakan tas ini pun bervariasi tergantung maskapai dan semua bergantung pada pekerja, titik tertentu dalam bongkar muat bagasi untuk secara manual memindai label bagasi. Sayangnya keakuratan bisa menurun jika pekerja maskapai lupa untuk memindai tas atau label bagasi terlepas. American, United dan Delta, tiga dari operator terbesar di dunia, menawarkan layanan pelacakan bagasi gratis kepada penumpang yang memungkinkan mereka memantau status koper mereka di beberapa titik di setiap penerbangan, melalui aplikasi ponsel pintar, pesan teks atau peringatan email. Tak hanya itu Alaska Airlines berencana menawarkan aplikasi pelacakan tahun depan. “Kami sedang mengembangkan teknologi baru yang akan mendukung proses pemuatan bagasi kami. Perbaikan akan memungkinkan para tamu untuk melihat pemindaian bagasi mereka melalui aplikasi kami dan harus siap pada tahun 2020,” kata juru bicara Alaska Airlines Ray Lane. Southwest Airlines bulan ini menyelesaikan pemasangan 3400 pemindai untuk meningkatkan sistem pelacakan bagasi. Tetapi operator yang berbasis di Dallas ini tidak bekerja pada aplikasi sehingga penumpang dapat melacak barang bawaan mereka sendiri. “Tidak ada rencana segera untuk menawarkan aplikasi pelacakan bagasi eksternal karena ini saat ini merupakan upaya untuk meningkatkan sistem pelacakan internal kami,” kata juru bicara Southwest, Brian Parrish. Para ahli mengatakan sistem pelacakan yang lebih lama yang mengandalkan label bagasi yang dicetak dengan kode batang (QR Code) seperti yang ada pada item toko grosir dan tidak seakurat teknologi terbaru yang melibatkan Radio Frequency Identification (RFID) yang memancarkan sinyal yang dibaca oleh sensor. Orang Amerika menggunakan label bagasi, dihiasi dengan kode batang untuk melacak tas. Manusia dengan perangkat pemindaian harus memindai setiap kode batang saat bagasi dimuat atau dibongkar di pesawat. American Airlines mengatakan sedang mempertimbangkan untuk beralih ke teknologi baru untuk sistem pelacakan kopernya tetapi menolak untuk mengungkapkan rincian tentang teknologi itu. Delta Airlines menjadi operator besar pertama yang menawarkan aplikasi pelacakan bagasi pada tahun 2011, awalnya menggunakan label bagasi dengan kode bar yang sesuai dengan rencana perjalanan penumpang. Namun pada tahun 2016, Delta mulai beralih ke tag yang tertanam dengan chip RFID. RFID dipindai oleh pekerja Delta atau sinyal diambil oleh puluhan sensor stasioner pada pemuat sabuk dan di tempat lain dalam proses pemuatan. Ketika Delta beralih ke tag RFID, maskapai ini menggembar-gemborkan teknologi baru itu memiliki “tingkat keberhasilan 99,9 persen.” Baca juga: International Air Transport Assn., Yang mewakili operator terbesar di dunia, mengeluarkan resolusi pada Juni 2018 yang menyerukan kepada semua maskapai penerbangan untuk menginstal teknologi pelacakan bagasi dan merekomendasikan agar mereka bergantung pada tag yang disematkan RFID untuk melacak tas.

Imbas Krisis Hong Kong, Makau dan Shenzhen Ikut Terdampak Penurunan Wisatawan

Kendati sudah terjadi sejak bulan Maret kemarin, namun kerusuhan yang ada di Hong Kong terkait RUU Ekstradisi masih belum juga surut. Bak efek bola salju, semakin lama durasi demonstrasi ini, maka semakin banyak pula pihak yang dirugikan – termasuk dari dunia penerbangan. Pada artikel sebelumnya sudah disebutkan bahwa sejumlah maskapai beken seperti Singapore Airlines, Qantas, Cathay Pacific hingga Garuda Indonesia mengalami kerugian akibat protes berkelanjutan ini, kini satu maskapai lagi yang turut mengalami penurunan kas perusahaan adalah AirAsia. Baca Juga: Rute ke Hong Kong Lesu, Garuda Indonesia Susutkan Frekuensi Penerbangan Jadi 2 Kali Seminggu! Ya, maskapai berbiaya rendah asal Negeri Jiran Malaysia ini juga dikabarkan turut terdampak proter RUU Ekstradisi di Hong Kong, setelah pihak maskapai membuka data soal penurunan jumlah penumpang tujuan Makau dan Shenzhen. Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (18/11), CEO dari AirAsia Tony Fernandes mengatakan bahwa penurunan angka penumpang menuju Negeri Tirai Bambu ini merupakan sesuatu yang, “buruk,” Makau dan Shenzhen diketahui sebagai wilayah yang berdekatan dengan Hong Kong, dimana tak sedikit wisatawan yang mengambil peket tour terusan ke kedua wilayah tersebut. Merosotnya jumlah penumpang ini semakin diperparah oleh himbauan pihak Malaysia yang melarang warganya untuk tidak melakukan perjalanan yang tidak penting ke bagian-bagian yang terkena dampak dari kerusuhan Hong Kong tersebut. Menilik imbas bagi Hong Kong sendiri, kini jumlah wisatawan yang datang ke negara tersebut juga telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Selain itu, deru protes tak berujung ini juga sejatinya ‘melukai’ bisnis yang ada di sana – baik dalam partai besar maupun di kelas pengecer. Baca Juga: Singapore Airlines, Cathay dan Qantas Mengaku Terdampak Kerusuhan di Hong Kong Seperti yang sudah diketahui bersama, maskapai Singapore Airlines pun merasakan hal yang sama, dimana permintaan penerbangan menuju Hong Kong masih terbilang lesu. Lain cerita dengan Garuda Indonesia yang sampai-sampai memangkas jumlah penerbangan menuju Hong Kong – dimana sebelum kerusuhan terjadi, flag carrier Indonesia ini menjadwalkan 14 penerbangan dalam seminggu, kini dipangkas habis menjadi dua penerbangan saja dalam seminggu (Jakarta-Hong Kong). Lalu untuk rute penerbangan dari Denpasar menuju Hong Kong, Garuda Indonesia yang tadinya menjadwalkan tujuh penerbangan dalam seminggu juga turut dipapas menjadi dua penerbangan saja.

Tiga Sleeper Train ini Sajikan Pengalaman Fantastis Mengular di Benua Biru!

Sempat dihilangkan dari pasar Indonesia karena menuai kontroversi yang berkenaan dengan tindak asusila, nyatanya keberadaan sleepers train di Indonesia kini mulai menggeliat kembali – tepatnya pada bulan Mei 2019 kemarin. Mengambil konsep yang mirip dengan bangku first class yang ada di dunia penerbangan, kini sleeper train banyak diburu oleh para penumpang yang ingin merasakan sensasi mengular dengan bangku super nyaman. Baca Juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima? Namun jika dibandingkan dengan sleeper train yang ada di luar, sudah barang tentu desain dan modelnya berbeda jauh. Jika sleeper train yang menjadi andalan PT KAI merupakan jenis tanpa kamar atau bilik, lalu bagaimana dengan negara-negara yang ada di luar sana? Berikut adalah penelusurannya, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com. Caledonian Sleeper
Caledonian Sleeper Train. Sumber: cnn.com
Ini merupakan nama kolektif dari layanan sleeper train yang menghubungkan Inggris dengan Skotlandia. Caledonian Sleeper merupakan satu dari dua layanan serupa yang ada di Tanah Britania – satunya Night Riviera yang menghubungkan London dengan Penzance. Salah satu poin yang membuat layanan ini begitu mahsyur adalah karena pemandangan indah khas Inggris – Skotlandia yang tersaji selama perjalanan. Adapun estimasi waktu perjalanan dari London menuju Fort William yang ada di Skotlandia kurang lebih delapan jam. Tolstoy Sleeper Train
Tolstoy Sleeper Train. Sumber: cnn.com
Dioperasikan oleh Russian Railways guna menghubungkan Helsinki yang ada di Finlandia dengan Moskow yang ada di Rusia, Tolstoy Sleeper Train sejatinya memiliki beragam varian kelas yang bisa Anda jajal, mulai dari second class yang berisikan empat ranjang tersusun dua hingga deluxe business class dengan tampilan bak sebuah suite mewah. Membutuhkan waktu sekira 15 jam untuk menghubungkan Helsinki dan Moskow dengan menggunakan kereta ini. Baca Juga: Sleepers Train di Jepang Sukses Angkat Pamor Wilayah yang Dilaluinya Russian Railways
Russian Railways Sleeper Train. Sumber: cnn.com
Selain mengoperasikan Tolstoy Sleeper Train, Russian Railways juga memiliki sleeper trainnya sendiri. Tidak hanya sekedar sleeper train, perjalanan dari Paris menuju Moskow ini juga didaulat sebagai salah satu rute kereta terpanjang yang ada di Eropa. Jarak 2.164 mil yang terbentang di antara dua destinasi ini tidak akan terasa melelahkan kala Anda menjajal sleeper train yang satu ini. Selain menyediakan ruangan nyaman bak sebuah kamar hotel, sleeper train ini jua menyediakan gerbong restorasi khusus yang memiliki desain seperti restoran bintang lima, lho!

Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menggunakan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 pada 1 Desember 2019. Dengan penggunaan Gapeka terbaru ini akan ada beberapa kereta api yang tak akan lagi mengular di rel dan digantikan oleh kereta dengan tujuan yang sama. Baca juga: KA Banyubiru Ekspres – Mati Karena Uzur dan Kalah Saing dengan Transportasi Lain Salah satu kereta yang tak akan lagi beroperasi setelah Gapeka 2019 adalah KA Kalijaga relasi Solo ke Semarang dan sebaliknya. Manajer Humas Daerah operasional (Daop) 6 Yogyakarta, Eko Budianto menjelaskan, penghentian pengoperasian KA Kalijaga karena tidak masuk dalam Gapeka 2019 dan menawarkan alternatif KA Joglosemarkerto dengan relasi Yogyakarta-Solo-Semarang-Purwokerto. Eko mengatakan, tarif kedua kereta ini pun berbeda yang mana KA Kalijaga mendapat subsidi sehingga tarifnya hanya Rp10 ribu. Sedangkan KA Joglosemarkerto tidak disubsidi dengan tarif mulai Ro50 ribu dan terdiri dari kelas ekonomi dan eksekutif. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, KA Kalijaga merupakan kereta api kelas ekonomi yang menggantikan KA Pandanwangi dan KA Banyubiru yang sudah tua. Kereta ini biasanya menarik tujuh gerbong kelas ekonomi rangkaian KA Bengawan yang di operasikan sore hari dengan waktu tempuh dua jam 45 menit. KA Kalijaga sendiri berhenti di Stasiun Semarang Poncol, Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Brumbung, Stasiun Kedungjati, Stasiun Gundih, Stasiun Salem, dan Stasiun Solo Balapan. Nama Kalijaga diambil dari seorang Walisongo terkenal yakni Sunan Kalijaga. Bila dalam perkeretaapian motto Kalijaga adalah menjaga tradisi yakni memelihara tradisi relasi kereta api Solo-Semarang yang merupakan relasi kereta api antarkota pertama di Jawa sekaligus Indonesia. Adapun relasi KA ini melanjutkan KA Pandanaran, KRD Purwosari-Pekalongan dan KA Pandawangi. Kereta ini sendiri adalah lanjutan dari KA Joglosemar yang menggunakan rangkaian KA Bengawan dengan tujuh gerbong yang mampu menampung 636 penumpang. KA ini melunucur di rel pada 15 Februari 2014. Bahkan karena berkembangnya transportasi lain dan sepinya peminat, KA Kalijaga hampir dihentikan operasionalnya. Ini juga disebabkan keuntungan yang ada tidak sebanding dengan biaya operasional untuk kereta jalur lintas ini, apalagi kereta ini bukan kereta komuter. Baca juga: KA Badra Surya – Kereta Ekonomi Legendaris Favorit Mahasiswa di Perantauan Awal pengoperasiannya tarif KA Kalijaga Rp25 ribu dan kemudian mengalami reduksi tarif menjadi Rp10 ribu setelah PT KAI mengajukan public service obligation.

Gapasdap Minta Tiga Fungsi Pelabuhan Penyeberangan Dibagi, Ini Tanggapan ASDP

Adanya kekhawatiran terkait persaingan usaha yang tidak sehat di antara operator kapal yang berlabuh di pelabuhan milik PT ASDP Indonesia Ferry, membuat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) meminta pengelolaan penyeberangan menjadi lebih profesional. Permintaan tersebut konkritnya dengan pemisahan tiga fungsi yang kini masih dipegang ASDP yakni sebagai operator jasa penyeberangan (ferry), operator pengelola pelabuhan dan pengendali lalu lintas kapal. Baca juga: Bila di Udara ada Air Navigation Charges, maka di Laut ada Traffic Separation Scheme Gapasdap mengungkapkan permintaan tersebut dapat dimulai dari PT ASDP Indonesia Ferry sebagai BUMN yang mengelola pelabuhan penyeberangan. Menurut Ketua umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, ia menganalogikan pemisahan fungsi ini penting, contohnya seperti yang dilakukan oleh angkutan udara yang mana fungsi operator bandara dijalankan oleh PT Angkasa Pura I dan II, serta Kemenhub, sementara navigasi udara oleh AirNav Indonesia dan operator penerbangan dilakukan oleh swasta atau BUMN. Sedangkan kondisi saat ini, PT ASDP menjalankan semua fungsi tersebut dan menurut Khoiri, dengan pembagian ini masyarakat pengguna menuntut pelayanan angkutan penyeberanga yang semakin aman, nyaman, mudah, cepat dan terjangkau. “Tentu kita ingin agar ASDP semakin profesional terutama dalam meningkatkan pelayanan pelabuhan penyeberangan di seluruh Indonesia. Dengan ASDP yang semakin profesional maka angkutan penyeberangan tidak kalah dengan moda transportasi lain,” ujar Khoiri yang dikutip KabarPenumpang.com dari bisnis.com (4/11/2019). Dengan adanya permintaan pemisahan tiga fungsi tersebut, PT ASDP sebagai BUMN yang mengelola pelabuhan penyeberangan menyatakan siap dengan segala keputusan pemerintah terkait hal ini. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi mengatakan, saat ini pemerintah tengah melakukan kajian komperhensif mengenai kemungkinan pengembangan atau pembagian tiga fungsi operasi. Namun bagaimana bila dilihat dari kacamata pengusaha atau pihak swasta terkait adanya pembagian tiga fungsi pelabuhan penyeberangan ini? KabarPenumpang.com mendapatkan pernyataan dari salah seorang pengusaha jasa pelayaran kapal di Pelabuhan Merak, yang menyatakan tidak masalah dengan adanya hal tersebut. Baca juga: Pelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Barat Bahkan ditambahkan, hal ini lebih baik untuk ASDP karena bisa lebih fokus pada pelabuhan dan bila sudah mampu seperti angkutan penerbangan maka pembagian tiga fungsi ini sah-sah saja. Siapapun pemilik pelabuhan, siapapun operatornya, masyarakat sebagai penumpang tetap akan naik kapal ferry untuk menyeberang ke tujuan mereka.