Penyandang disabilitas menjadi penumpang prioritas dalam setiap angkutan umum. Biasanya para difabel ini memiliki tempat khusus dalam angkutan umum, namun bila tidak ada pun setiap penumpang wajib memberikan kursi mereka.
Baca juga: Di Inggris, Penyandang Disabilitas Tak Terlayani dengan Baik di Stasiun dan Kereta
Seperti baru-baru ini seorang penyandang disabilitas yang buta dan membawa anjing penuntun terpaksa berdiri di dalam kereta karena penumpang tak memberikannya tempat duduk. Penumpang bernama Jonathan Attenborough mengatakan, dirinya berulang kali bertanya pada penumpang adakah kursi yang tersedia di kereta ScotRail tersebut.
Bahkan dia mengaku terkejut saat bertanya kursi kosong tak ada satupun penumpang yang menjawabnya dan mengatakan bahwa ScotRail harus berbuat lebih baik kepada penyandang disabilitas.
Namun sayangnya perjalan Jonathan dari Edinburgh ke Perth pada hari Senin (11/11/2019) itu bagai mimpi buruk karena pihak ScotRail tak menolong dirinya. Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (14/11/2019), dia mengaku bahwa tempat duduk bagi tunanetra sangat penting dan agar tidak terjadi disorientasi.
“Sangat penting bagi setiap orang tunanetra untuk duduk ketika dalam perjalanan karena pergerakan kereta bisa sangat membingungkan. Saya juga suka duduk sehingga anjing saya aman tanpa mengganggu penumpang lain. Kalau berdiri sulit untuk bertahan dan menjaga keseimbangan di atas kereta yang bergerak,” ujar Jonathan.
“Saya tidak menemukan staf ScotRail di kereta karena sangat ramai sehingga kondektur kereta tidak bisa berjalan melalui kereta sampai lebih jelas. Saya pikir pengalaman layanan pelanggan harus ditingkatkan dari ScotRail terutama untuk orang cacat. Saya juga berpikir bahwa semacam peraturan pemerintah tentang perjalanan bantuan untuk orang-orang cacat tentu harus diperhatikan juga,” tambahnya.
Karena hal ini, dia men-tweet tentang pengalamannya di ScotRail, “Bantuan penumpang yag sepenuhnya tidak dapat diterima dari @ScotRail untuk meninggalkan saya dan anjing pemandu saya di pintu kereta.”
“Saya bertanya beberapa kali apakah ada kursi cadangan, dan tidak ada satu penumpang yang menjawab. Tidak memberi saya banyak kepercayaan pada kemanusiaan @MathesonMichael.”
Dia juga membagikan dua foto pengalamannya di kereta yang mana satu gambar menunjukkan anjingnya yang bernama Sam duduk di lantai dikelilingi orang empat orang berdiri dekat pintu dan yang lain menunjukkan anjing terjepit di antara dua tas saat ia berjuang untuk tempat bergerak.
Karena tweet-nya tersebut, ScotRail membalasnya dengan mengaku kecewa karena tidak ada penumpang yang memberikan kursi mereka bagi penyandang disabilitas. Mereka menambahkan saat ini tengah meluncurkan pelatihan wajib dalam kebijakan perjalanan bantuan.
Tweet tersebut juga banyak di komentari warganet lain yang marah perlakuan yang didapat Jonathan.
“Malu pada setiap penumpang dalam gerbong itu,” kata seorang penumpang.
Warganet lain menambahkan, “Saya pikir @ScotRail hrus bertanggung jawab untuk ini! Paling tidak mengembalikan uang Anda untuk tiket! Itu kereta mereka, mereka tidak memiliki aturan atau tidak melatih staf mereka. Either way, mereka harus bertanggung jawab untuk ini; tidak ada alasan!”
Warganet lain mengatakan, “Itu benar-benar memalukan, penumpang juga berperan dan harus memiliki pertimbangan, mempermalukan mereka.”
Seorang juru bicara ScotRail mengatakan bahwa pihaknya minta maaf karena mengecewakan Mr Attenborough pada standar tinggi perjalanan yang dibantu yang ingin mereka sediakan.
Baca juga: JR East Bangun Stasiun Robotika, Mudahkan Penyandang Disabilitas dan Pelancong Asing
“Kami bekerja keras untuk belajar dari ini, dan memastikan bahwa ini tidak terjadi lagi. Sangat mengecewakan mengetahui bahwa tidak ada pelanggan yang menawarkan kursi, karena kami mengharapkan pelanggan untuk menjaga kursi prioritas kami, yang terletak di dekat pintu kereta kami, gratis untuk orang-orang yang kurang mampu berdiri,” ujar juru bicara itu.
Bagi Anda yang mencintai sektor aviasi, tentu saja bandara menjadi tempat yang sangat cocok untuk ‘memuaskan’ kecintaan Anda semua. Selain dapat melihat melihat beragam jenis pesawat, anda juga bisa menikmati beragam livery dari para penyedia layanan ini. Cara untuk menikmati pemandangan ini pun bermacam-macam, bisa dari kendaraan seperti yang selama ini Anda lakukan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, atau melalui kaca berukuran besar yang tersaji di dalam terminal.
Baca Juga: Inilah Pemandangan Fanstastik yang Bisa Anda Lihat dari Udara!
Tapi tahukah Anda bahwa di beberapa bandara, Anda bisa melihat kesibukan di apron melalui teras yang disediakan khusus oleh pihak bandara? Nah, jika Anda berkesempatan berkunjung ke bandara-bandara di bawah ini, jangan lewatkan kesempatan langka ini. Tanpa berlama-lama lagi, berikut adalah bandara-bandara di dunia yang memiliki observation deck (teras khusus untuk melihat pesawat), dirangkum KabarPenumpang.com dari laman seatmaestro.com.
Amsterdam Airport SchipholPanorama terrace di Amsterdam Airport Schiphol. Sumber: seatmaestro.com
Bandara internasional utama yang terletak 9 km sebelah barat daya kota Amsterdam ini memiliki sebuah teras yang memungkinkan anda untuk melihat kesibukan di apron – dimana Anda bisa melihat semua itu dengan mata telanjang. Tanpa terhalang langit-langit, Anda bisa menikmati nuansa para ground crew dari atas teras yang dikenal sebagai Panorama Terrace ini. Oh iya, bagi Anda yang ingin menikmati keindahan dari atas sini, tidak ada bea yang harus dibayarkan, alias gratis!
Berlin Tegel AirportObservation Deck di Berlin Tegel Airport. Sumber: seatmaestro.com
Menyusul Amsterdam Airport Schiphol ada Berlin Tegel Airport di Jerman. Observation deck yang ada di bandara ini dapat diakses setelah Anda membayar biaya 2 Euro untuk dewasa (berkisar Rp31.000) dan 1 Euro untuk anak-anak (berkisar Rp15.000). Adapun observation deck yang ada di Berlin Tegel Airport ini ada di Terminal D – tepat di atas terminal keberangkatan.
Dallas/Fort Worth International AirportObservation deck di Dallas/Fort Worth International Airport. Sumber: seatmaestro.com
Hub terbesar untuk maskapai American Airlines ini yang terletak di Texas, Amerika Serikat ini memiliki observation deck yang bisa Anda jajal secara cuma-cuma. Tidak hanya bisa melihat dengan mata telanjang, Anda juga menikmati fasilitas teropong untuk bisa melihat masing-masing pesawat secara lebih jelas lagi, lho!
Hong Kong International AirportSky Deck di Hong Kong International Airport. Sumber: seatmaestro.com
Tidak mau kalah dengan bandara-bandara di atas, bagian dari Negeri Tirai Bambu ini juga memiliki observation deck yang bernama Sky Deck. Untuk bisa menikmati pemandangan apron dari Sky Deck, Anda semua tidak akan dikenakan biaya apapun. Tidak hanya Sky Deck, Anda juga bisa menikmati museum dan pameran interaktif yang memberikan informasi seputar dunia aviasi global.
Baca Juga: 10 Bandara Internasional Ini, Pilihan Transit Ternyaman di DuniaMunich International Airport
Bandara Munich merupakan bandara kedua tersibuk di Jerman, setelah yang pertama adalah Bandara Frankfurt. Di Bandara Munich, obvservation deck terdapat di Terminal 2. Menyajikan pemandangan panorama, desk ini dilengkapi atas pelindung transparan dan juga sekat fiberglass untuk faktor keamanan.
Observation deck dapat diakses secara gratis oleh publik, meski begitu observation desk tidak dibuka 24 jam. Sekitar jam 17.00 waktu setempat, area pantau ini ditutup untuk umum. Melengkapi kenikmatan melihat-lihat pesawat, juga tersedia coffee shop, dan tak lupa ada teropong pantau, yang ini dapat diakses secara berbayar.
KabarPenumpang.com yang beberapa waktu lalu mendapat kesempatan menyambangi Bandara Munich, dannsecara khusus telah membuat video seputar bandara ini, termasuk di dalamnya sekuel di observation deck. Simak pada video di bawah ini.
Mungkin Anda semua sudah tidak asing lagi dengan nama Boeing 787 Dreamliner, tapi baru-baru ini maskapai asal Timur Tengah, Etihad baru saja mengganti nama pesawat tersebut menjadi Boeing 787 Greenliner. Tentu saja pihak Etihad tidak serta-merta merubah nama pesawat ini begitu saja, melainkan telah terlebih dahulu menjalin kerja sama dengan pihak Boeing dalam upayanya untuk menghadirkan ‘burung besi’ yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Etihad dan Air Arabia Kerjasama Hadirkan Low Cost Carrier Baru!
Menurut data yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businesstraveller.com (18/11), rencananya pesawat Boeing 787 Greenliner ini akan beroperasi di awal tahun 2020 – tepatnya pada 11 hingga 18 Januari, bertepatan dengan perhelatan Abu Dhabi Sustainable Week. Salah satu juru bicara Etihad mengatakan bahwa penerbangan eco-flight tersebut akan menghubungkan Abu Dhabi dan Brussels dengan menggunakan livery berwarna hijau kebiruan nan sporty.
“Penerbangan ini akan menggabungkan beberapa inisiatif yang berfokus pada lingkungan,” ujar CEO Etihad Aviation Group, Tony Douglas.
“Adanya unsur gradasi warna biru pada livery pesawat ini merepresentasikan pentingnya peran air bagi kehidupan di Arab – pun halnya dengan simbolisasi dari pemikiran dan inisiatif dalam urusan menekan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon,” tandas Tony.
Adapun kerja sama yang terjalin antara pihak Etihad dan Boeing ini dikabarkan menyentuh angka US$215 juta atau yang berkisar Rp3,02 triliun yang mencakup berbagai layanan termasuk program perbaikan landing gear, komponen badan pesawat bernilai tinggi, dan alat optimisasi perencanaan pemeliharaan.
Melalui Chief Operating Officer Etihad, Mohammad Al Bulooki, Etihad sendiri mengaku bangga bisa menjadi salah satu maskapai yang secara kooperatif bekerja sama dengan Boeing dalam urusan menciptakan perjalanan moda udara yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Persaingan Maskapai Kelas Wahid Satu Negara: Etihad dan Emirates, Mana yang Lebih Baik?
“Perjanjian semacam ini melengkapi kemitraan kami dalam cakupan yang lebih luas, dimana kolaborasi masa depan antara Etihad dan Boeing dalam urusan manajemen supply chain, hingga pemeliharaan antar lini akan semakin kuat terbangun,” ujarnya.
Keduanya sepakat bahwa di masa yang akan datang akan melakukan eksplorasi dengan universitas di Abu Dhabi dan Seattle, tempat fasilitas perakitan terbesar Boeing, untuk lebih meningkatkan kemampuan yang mendukung pengembangan sektor dirgantara di Abu Dhabi, dan di tempat lain di Uni Emirat Arab.
Otoped listrik (skuter listrik) yang mulai booming di masyarakat belum lama menjadi sorotan setelah adanya kecelakaan di kawasan Gelora Bung Karno dan mengakibatkan dua pengendara otoped listrik meninggal karena tertabrak mobil dari belakang. Menjadi moda transportasi baru dunia, ini merupakan model terbaru dari otoped atau skuter biasa yang dulu digunakan anak-anak.
Baca juga: Otoped Listrik Mulai Menjamur, Apakah Bakal ada Regulasinya?
Sayangnya otoped listrik ini belum jelas regulasinya di Indonesia akan seperti apa? Bahkan KabarPenumpang.com mendengar kabar bahwa Dinas Perhubungan tengah menggodok regulasi untuk otoped listrik tersebut. Nah, bagaimana dengan negara tetangga seperti Singapura dan negara lain di dunia? Dirangkum dari techradar.com, berikut regulasi otoped listrik diberbagai belahan dunia.
Inggris
Otoped listrik dinegara ini termasuk dalam kategori Light Electric Vehicles yang tidak dikenakan pajak. Namun Inggris melarang otoped listrik digunakan di semua jalan, jalur sepeda dan trotoar. Otoped listrik hanya digunakan di properti pribadi dengan seizin pemilik. Bagi pelanggar peraturan ini akan dikenakan denda sebesar 300 Poundstreling atau sekitar Rp5,4 juta dan pengurangan enam poinnya di Surat Izin Mengemudi (SIM).
Jepang
Bila kecepatan otoped listrik melebihi sembilan kilometer per jam maka diklasifikasian sebagai kendaraan bermotor karena memerlukan lisensi. Otoped ini pun membutuhkan pengendara memiliki surat izin, registrasi, plat nomor, lampu sein, kaca spion dan hal lain selayaknya kendaraan bermotor pada umumnya. Bila tidak memiliki persyaratan tersebut, maka otoped listrik hanya boleh digunakan sebagai properti pribadi.
Singapura
Negeri Singa ini resmi melarang kendaraan listrik digunakan di jalur pejalan kaki pada 5 November 2019 kemarin. Tak hanya otoped listrik, tetapi kendaraan lain yang termasuk motorised personal mobility device seperti hoverboards dan unicycles akan turut dikenakan aturan tahun depan. Penetapan aturan ini karena meningkatnya kecelakaan yang melibatkan otoped listrik. Bagi para pelanggar pun akan dikenakan tindakan tegas dengan denda S$2 ribu atau sekitar Rp20 juta dan/atau penjara selama tiga bulan. Aturan ini pun akan berlaku pada 2020 mendatang dan saat ini masih dalam sosialisasi.
Kanada
Tiap provinsi punya aturan berbeda tentang penggunaan otoped listrik. Otoped listrik tidak diakui sebagai jenis kendaraan bermotor di undang-undang Alberta, British Colombia dan Ontario. Sehingga pengguna otoped listrik hanya dapat digunakan di sekitaran rumah saja. Sedangkan di Calgary ada pengecualian di tengah proyek percontohan dua tahun yang membuat undang-undang kota ditinjau menjadikan otoped dan sepeda listrik legal. Ini juga berlaku di Quebec namun dengan aturan ketat usia pengemudi, pelatihan dan kepatuhan peralatan. Jika melanggar, akan ada denda yang cukup besar menanti.
Australia
Di Australia, undang-undang otoped listrik berbeda dari satu negara ke negara lain. Brisbane adalah kota Australia pertama yang mencoba otoped Lime, yang hanya dapat dikendarai di trotoar (bukan jalur sepeda atau jalan) dan membutuhkan helm. Izin Lime diperpanjang hingga 2019, tetapi setelah beberapa kecelakaan, masa depannya di Australia tampak kurang cerah. Di tempat lain di Queensland, otoped seperti Lime adalah ilegal. Situs web Pemerintah Queensland menyatakan bahwa otoped listrik harus memiliki motor listrik yang tidak lebih kuat dari 200W, dan kecepatan maksimum 10 km per jam. Jika skuter Lime ditemukan di luar zona peraturan Brisbane, mereka sepatutnya disita oleh polisi.
Baca juga: Unagi Scooter, Otoped Listrik yang Bisa Menanjak Hingga 15 Derajat
Nah, ini dari berbagai negara di dunia, bahkan beberapa waktu lalu KabarPenumpang.com sudah membahas aturan di Perancis. Bagaimana dengan Indonesia, apakah sudah ada pencerahan dari aturan yang berlaku di berbagai dunia untuk penggunaan otoped listrik ini?
Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan salah satu predikat prestisius yang pernah disabet oleh salah satu varian pesawat narrow body milik Boeing – 737, yang didaulat sebagai pesawat terlaris sepanjang sejarah kedirgantaraan global. Namun apalah arti sebuah gelar jika tidak bisa mempertahankannya. Ya, tahun 2018 lalu, Boeing tersandung kasus Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pada varian 737 MAX 8 yang menyebabkan semua ‘borok’ perusahaan di balik pengadaan moda ini seolah terbongkar satu per satu. Lalu, masihkah pabrikan pesawat asal Negeri Paman Sam ini bercokol di puncak kejayaannya?
Baca Juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global
Jawabannya tentu saja tidak. Ini merupakan anti-klimaks dari sejarah Boeing 737, dimana tidak hanya sekedar jatuh tersungkur saja akibat sistem anyar MCAS tersebut, melainkan juga nama Boeing kini seolah hilang pamor dan tidak lekang dari sesuatu yang berbau negatif. KabarPenumpang.com mengutip dari laman businessinsider.sg (18/11), Boeing sudah lebih dari 55 tahun menyandang predikat sebagai produsen pesawat narrow body paling laris di dunia.
Sebuah rentang waktu yang bisa dibilang sangat lama untuk mempertahankan gelar tersebut. Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, ‘hanya’ karena kesalahan pada sistem MCAS, Boeing harus mengikhklaskan semuanya. Tidak hanya predikatnya saja sebagai produsen pesawat terlaris di dunia, melainkan juga nama besarnya, sahamnya, hingga kepercayaan dari para konsumennya.
Lain cerita dengan rival abadinya, Airbus, dimana produsen kedirgantaraan asal Benua Biru ini mampu dengan sangat jeli menyalip ‘kebobrokan’ yang tengah dialami oleh Boeing. Pengembangan dari dua pesawat generasi terbaru (salah satunya adalah Airbus A321XLR) membuat pamor Airbus perlahan mendongak dan menyaingi Boeing.
Menurut laman sumber, hingga akhir Oktober kemarin, Boeing secara keseluruhan mencatat ada 15.136 pesanan yang masuk untuk keluarga 737 (mencakup semua model). Sedangkan di waktu yang sama, Airbus menoreh 15.193 pesanan untuk keluarga A320 untuk semua modelnya. Ya, Airbus sudah berhasil mencuri tahta dari Boeing yang disandang lebih dari 55 tahun lamanya.
Baca Juga: 737-800, Didapuk Jadi Varian Paling Laris di Keluarga Boeing 737
Padahal, pada akhir tahun 2018 saja, jumlah pesanan untuk varian A320neo milik Airbus masih tertinggal sekira 400 unit dari varian 737 MAX milik Boeing. Namun itu tadi, kecelakaan fatal yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines (keduanya sama-sama menggunakan varian 737 MAX 8) menjadi titik balik dari masa kejayaan Boeing.
Ratusan hingga ribuan pesawat 737 MAX oleh semua maskapai yang ada di seluruh dunia menjadi momen yang sangat tepat bagi Airbus untuk membalikkan keadaan dan mempertahankannya hingga hari ini.
Bus listrik di Singapura terbaru memiliki model yang hampir sama dengan bus di Indonesia. Sebab pintu depan bus tidak memiliki tiang tengah yang memungkinkan akses lebih mudah bagi orang tuaatau penyandang disabilitas dengan kursi roda.
Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf
Tak hanya itu, kapasitas penumpang yang diangkut pun akan berkurang dari 35 duduk dan 56 orang berdiri di bus biasa menjadi 28 duduk dan 52 penumpang berdiri dalam bus elektrik satu dek. Sedangkan bus elektrik dengan dek ganda mampu menampung 120 penumpang dan lebih sedikit bila dibandingkan dengan bus bahan bakar diesel yang mampu mengangkut 133 orang.
KabarPenumpang.com melansir laman todayonline.com (11/11/2019), akan ada 60 bus listrik yang akan mulai beroperasi secara progresif mulai awal tahun depan sebagai bagian dari perubahan menuju bus energi yang lebih bersih. Bahkan Otoritas Angkutan Darat (LTA) bertujuan untuk memiliki seluruh armadanya yang terdiri dari bus-bus tersebut pada tahun 2040.
Nantinya jika ke 60 bus digunakan, emisi karbon CO2 tahunan yang dikurangi dari bus akan setara dengan 1700 mobil penumpang. Sebab, pihak LTA mengatakan, bus listrik memiliki emisi karbon CO2 lebih rendah dari bus diesel biasa dan dapat memberi pengalaman perjalanan lebih tenang dan nyaman pada penumpangnya.
Dengan motor listrik, tingkat kebisingan yang dihasilkan bus listrik akan berkurang menjadi sekitar 75 desibel dan tiga desibel lebih rendah dari bus diesel saat ini. Armada bus listrik yang akan mulai meluncur berasal dari tiga pemasok dan menelan biaya hingga $50 juta.
Adapun pemasok bus yakni ST Engineering Land System yang akan menyediakan 20 bus satu dek dengan harga sekitar S$15 juta. BDY (Singapura) memasok 20 bus satu dek dengan harga S$17 juta. Untuk pemasok ketiga yakni Yutong-NARI Consortium yang merupakan konsorsium Cina yang akan memasok sepuluh bus satu dek dan sepuluh bus dek ganda dengan harga sekitar S$18 juta.
Pengisian baterai untuk bus milik BYD dan Yutong-NARI membutuhkan waktu sekitar dua hingga empat jam untuk terisi penuh dan memungkinkan untuk menempuh jarak sekitar 200-300 km. Sedangkan untuk spesifikasi bus ST Engineering belum dirilis.
Baca juga: FlixBus Uji Coba Bus Listrik Terjauh di Amerika Serikat
Bus-bus listrik ini baru saja dipajang di Depot Bus Ulu Pandan. Tak hanya itu beberapa bus diesel yang dikonversi ke listrik pun juga dipajang di sana. Nantinya bus konversi yang sudah diuji coba ini tinggal menunggu hasil kelayakannya.
Beberapa waktu yang lalu telah diberitakan bahwa tiga maskapai raksasa, Singapore Airlines, Qantas, dan Cathay Pacific mengaku bahwa kerusuhan yang terjadi di Hong Kong akibat RUU Ekstradisi telah membawa dampak buruk pada kas perusahaan. Singapore Airlines dan Qantas kompak bernada sama, menyebutkan bahwa permintaan mengudara menuju bagian dari Hong Kong mengalami penurunan – lain halnya dengan Cathay Pacific yang bisa dibilang paling nestapa diantara kedua maskapai tersebut, mengingat adanya penurunan 7,2 persen dari segi load factor dan 38 persen dari segi inbound passenger traffic di bandingkan tahun lalu di rentang waktu yang sama.
Baca Juga: Singapore Airlines, Cathay dan Qantas Mengaku Terdampak Kerusuhan di Hong Kong
Lalu apa kabar dengan Garuda Indonesia yang juga memiliki rute penerbangan menuju Hong Kong? Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, salah satu BUMN kebanggaan Tanah Air ini dikabarkan telah melakukan penyesuaian frekuensi penerbangan menuju Hong Kong. Adalah rute Jakarta – Hong Kong yang frekuensi penerbangannya dipangkas dari 14 kali penerbangan dalam seminggu menjadi hanya dua kali saja. Pun halnya dengan rute Denpasar – Hong Kong, yang sebelumnya mengudara sebanyak tujuh kali dalam seminggu, menjadi dua penerbangan saja.
“Penyesuaian frekuensi penerbangan yang bersifat sementara ini merupakan langkah yang harus diambil perusahaan untuk mengoptimalisasikan rute Hong Kong dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan para pengguna jasa,” ujar Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, M Ikhsan Rosan (18/11).
“Terkait penyesuaian frekuensi penerbangan tersebut, kami mengimbau para penumpang untuk melakukan pengecekan secara berkala terhadap kepastian jadwal penerbangan melalui layanan informasi contact center 24 jam Garuda Indonesia,” sambungnya.
Mengutip dari laman Kompas.com (18/11), adapun dua penerbangan dari Jakarta menuju Hong Kong dilayani Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 876 dan GA 873 – sedangkan dua penerbangan dari Denpasar dilayani dengan nomor penerbangan GA 856 dan GA 857.
Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?
Kendati tidak secara gamblang menyebutkan berapa nilai kerugian yang dialami oleh Garuda Indonesia layaknya Singapore Airlines, Qantas, dan Cathay Pacific, namun dengan adanya penyesuaian ini saja sudah menjadi bukti kuat bahwa flag carrier Indonesia ini juga terdampak kerusuhan akibat RUU Ekstradisi tersebut.
Moda transportasi kini hampir semuanya berbenah untuk membantu mengurangi emisi karbon yang menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Beberapa transportasi darat kini sudah mulai merambah penggunaan bahan bakar listrik untuk menjalankan bus ataupun moda transportasi lainnya.
Baca juga: Kurangi Emisi Karbon, Lufthansa Jual Tiket Penerbangan ‘Ramah Lingkungan’
Oslo yang merupakan ibukota Norwegia yang mulai berbenah diri tepatnya pada pelabuhan. Ini karena Pelabuhan Oslo sendiri menerima 50 sampai 70 panggilan dalam seminggu dan 12.500 kontainer dalam sebulan serta kapal-kapal dan peralatan pantai yang membantu menghasilkan 55 ribu metrik ton emisi karbon per tahun.
Nah, perbaikan diri tersebut dilakukan Oslo setelah masalah terakhir yakni 55 metrik ton emisi karbon. Nantinya pada 2030 mendatang, pelabuhan tersebut bertujuan mengurangi 85 persen emisi karbon dioksida, sulfur oksida, nitrogen oksida dan partikelnya.
Sebab mereka ingin menjadi pelabuhan pertama di dunia yang tanpa emisi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman grist.org (9/11/2019), rencana aksi iklim ini meliputi pembenahan kembali kapal-kapal ferry, menerapkan proses kontrak rendah karbon dan lainnya.
“Ini sangat ambisius tetapi pada saat yang sama itulah yang diperlukan jika kita akan mencapai Perjanjian Paris,” kata Heidi Neilson, Kepala Lingkungan untuk pelabuhan Oslo.
Upaya ini juga merupakan bagian dari mandat kota untuk memangkas emisi keseluruhan sebesar 95 persen tahun 2030. Anggaran dan strategi iklim kota ini adalah penebusan untuk industri minyak yang menjadikan Norwegia negara yang sangat kaya.
“Untuk mencapai target, semua sektor harus mengurangi emisinya. Oleh karena itu, pelabuhan dan industri maritim di Oslo harus mendekarbonasikan dengan kecepatan yang sama dengan sektor-sektor lainnya (yaitu pasokan energi, pemanasan, konstruksi, limbah dan pembakaran, lalu lintas jalan),” kata Direktur Badan Iklim Oslo Heidi Sørensen.
Bahkan pada Agustus kemarin, pelabuhan sudah menandatangani kontrak dengan lembaga nirlaba Norwegia Bellona Foundation untuk bergerak cepat dalam mengurangi emisi. Menurut Organisasi Maritim Internasional AS, antara 80-90 persen perdagangan dunia diangkut melalui laut dengan minyak bahan bakar sulfur yang tinggi dan merupakan bahan bakar paling kotor yang ada.
Di Oslo ternyata kapal konteiner bukan satu-satunya masalah, sebab kapal ferry yang beroperasi ke Denmark dan Jerman juga bertanggung jawab atas hampir 40 persen emisi pelabuhan. Sedangkan ferry lokal hanya menyumbang 12 persen dan peralatan darat serta peralatan transportasi menyumbang 14 persen emisi.
Untuk mengurangi emisi ferry lokal, pelabuhan memberikan kontrak pada Norled yang ditugaskan untuk mengubah tiga ferry menjadi berbahan bakar listrik dari sepuluh kapal penumpang yang ada. Ketika tiga ferry ini dilengkapi dengan baterai, Norled memperkirakan emisi otoritas pelabuhan transit akan turun hingga 70 persen. Norled mengirimkan reparasi listrik pertama pada bulan September pekerjaan yang membutuhkan 150 pekerja total 25 ribu jam. MS Kongen sekarang memiliki setara dengan 20 baterai Tesla.
Tak hanya Oslo, sejumlah pelabuhan lain di seluruh dunia seperti Los Angeles dan Long Beach, Auckland, Spanyol Valencia, Guayaquil Ekuador dan Baku di Azerbaijan memiliki mimpi yang sama untuk netral karbon dan nol emisi. Oktober kemarin, Port of Los Angeles meluncurkan dua loader top baterai-listrik baru. Bahkan Rotterdam yang menjadi pelabuhan terbesar di Eropa menggunakan peralatan tanpa emisi.
Namun, mengurangi emisi maritim bukan hanya di lokal, tetapi semua pelabuhan harus ikut bergabung untuk mencapai hal tersebut. Bahkan jika pelabuhan di Oslofjord dan lintas wilayah dapat bersatu untuk melakukan hal yang sama, Oslo tidak akan kehilangan bisnis. Tetapi, jika menjadi nol-emisi berarti kehilangan pelanggan dalam jangka pendek, itu adalah harga yang harus dibayar oleh kota.
Baca juga: Peduli Lingkungan dan Manfaatkan Energi Terbarukan, Bandara Oslo Jadi Yang “Terhijau” di Dunia
“Saya pikir ini pesan yang kuat bahwa ini mungkin di sini, dan itu bukan hanya [mungkin] karena kami memiliki banyak dana. Ini adalah hal yang benar untuk dilakukan, dan ini adalah pengembangan yang tepat yang kita butuhkan di banyak kota pelabuhan di seluruh dunia,” kata Neilson.
Tak hanya transportasi darat yang mulai mengurangi emisi karbon dengan mengubah penggunaan bahan bakar minyak menjadi bahan bakar listrik. Kali ini, Qantas Group akan mulai ekpansi besar-besaran untuk mencapai nol emisi karbon tahun 2050 mendatang.
Baca juga: Seperempat Awak Kabin Qantas Pernah Alami Pelecehan Seksual, Segelap Itukah Balik Layar The Flying Kangaroo?
Qantas Group yang terdiri dari Qantas, Jetstar, QantasLink dan Qantas Freight akan mengimbangi seluruh penambahan emisi dari operasi domestik dan internasional mulai 2020. Mereka akan mengimbangi semua emisi bersih dari Project Sunrise dan rencana untuk mengoperasikan penerbangan non stop dari pesisir timur Australia ke London dan New York bila proyek tersebut dilanjutkan.
Dilansir KabarPenumpang.com dari keterangan yang tertulis yang diterima, komitmen itu juga mencakup penerbangan domestik sehingga penambahan rute penting seperti Melbourne-Sydney akan menjadi karbon netral. Untuk memulainnya, Qantas bahkan mengoperasikan program penimbangan karbon terbesar di industri penerbangan dengan sekitar sepuluh persen penumpang yang memesan di Qantas.com mengikuti program penimbangan karbon.
Dimana Qantas dan Jetstar akan menggandakan jumlah penerbangan pengimbang karbon dengan menyamai setiap dolar yang dibayarkan pelanggan dengan mencentang pilihan terbang karbon netral. Bentuk lainnya adalah Qantas menginvestasikan $50 juta selama sepuluh tahun untuk mengembangkan industri bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Nantinya bahan bakar ini akan memangkas emisi karbon hingga 80 persen jika dibandingkan bahan bakar jet tradisional meski harganya dua kali lebih mahal. Dalam hal ini Qantas bekerja sama dengan pemerintah dan swasta untuk mendukung pengembangan bahan bakar tersebut di Australia maupun luar negeri agar dapat digunakan dan meningkatkan permintaan dalam industri ini.
CEO Qantas Group, Alan Joyce mengatakan, komitmen ini akan menjadikan Qantas yang terdepan dalam upaya industri penerbangan untuk mengurangi emisi karbon.
“Kami menyadari bahwa maskapai penerbangan bertanggung jawab untuk memangkas emisi dan memerangi perubahan iklim,” kata Alan.
Dia mengatakan, pihaknya akan berbuat lebih banyak dan lebih cepat, sehingga secara efektif mengadakan program penimbangan karbon dan mengakhiri emisi bersih mereka di Qantas dan Jetstar mulai tahun 2020. Ini agar semua penerbangan baru kelak menjadi karbon netral.
Baca juga: Ikuti Jejak Qantas, Singapore Airlines Optimalkan Pengurangan Limbah Penerbangan
Menurutnya, tindakan jangka pendek ini akan mendukung target jangka panjang untuk menjadi karbon netral sepenuhnya pada 2050 dan bisa dicapai.
Tidak melulu soal mengganti barang baru atau memperbaharui sistem, peningkatan pelayanan kepada pelanggan juga dapat diwujudkan dengan cara memfasilitasi mereka dengan apa yang mereka butuhkan – salah satunya adalah jaringan WiFi gratis. Nah, salah satu BUMN yang menempuh jalan ini adalah PT KAI, dimana kereta Argo Parahyangan yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung dikabarkan sudah memasang fasilitas ini.
Baca Juga: Sulitnya Menghadirkan Free WiFi di Atas Kereta, Inilah Alasan PT KAI
Bagi Anda yang belum tahu, VP Public Relation PT KAI, Edy Kuswoyo mengatakan bahwa WiFi tersebut telah terpasang sejak 20 Februari 2019 kemarin.
“Semua kereta api Argo Parahyangan baik eksekutif dan bisnis dari Gambir ke Bandung PP, semuanya sudah terpasang WiFi dari tanggal 20 Februari 2019,” ujar Edy, dikutip KabarPenumpang.com dari laman Kompas.com (6/11).
Seperti yang sudah Anda ketahui sebelumnya – terutama bagi Anda yang sering melawat ke Kota Kembang dengan menggunakan kereta api, jaringan ponsel kerap hilang-hilangan selama kereta mengular, terlebih ketika kereta memasuki daerah Jawa Barat. Maka dari itu, PT KAI berdedikasi untuk meningkatkan pelayanannya dengan cara tersebut.
“Penumpang tak perlu lagi kesulitan untuk berkomunikasi atau susah sinyal karena kereta sudah terpasang WiFi,” sambung Edy.
Kendati begitu, rupanya langkah yang diambil oleh PT KAI dengan menghadirkan WiFi gratis di perjalanan merupakan kajian sebelum pada akhirnya meluncurkannya secara resmi. Keterangan ini dikutip dari Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro dari laman detik.com.
Menurutnya, “Kita sedang kaji Jakarta-Bandung (WiFi gratis). Dan kelihatannya sukses, Argo Parahyangan. Ini sedang kita kaji. Itu belum kita apply, baru kita kaji. Karena begini, ada sistem secara teknis yang harus kita benahi khusus,” kata Edi.
Terlepas dari statusnya yang masih berupa kajian atau sudah memasuki fase implementasi, berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan untuk bisa terkoneksi dengan jaringan WiFi gratis yang ada di kereta Argo Parahyangan.
Penumpang diwajibkan untuk login atau registrasi terlebih dulu sebelum menggunakan jaringan WiFi di kereta Argo Parahyangan,
Layaknya jaringan WiFi gratis yang ada di luaran sana, Anda juga ‘dipaksa’ untuk menonton iklan terlebih dahulu selama kurang lebih 15-30 detik,
Setelah iklan tersebut habis, maka Anda akan langsung terhubung dengan jaringan WiFi gratis tersebut.
Baca Juga: Dengan Model Train Set, PT KAI Jadi Lebih Mudah Siapkan Layanan WiFi di Kereta
Edy menambahkan, jika Anda mengalami kesulitan atau tidak bisa masuk ke jaringan WiFi yang tersedia, maka Anda harus redirect menuju tautan yang sudah disediakan. Karena menurutnya, ada beberapa merek ponsel yang tidak bisa mengakses tahapan di atas secara langsung.
Sementara itu, PT KAI akan terus mengembangkan jaringan WiFi dalam kereta api lainnya. Menurut Edi Sukmoro, pemasangan WiFi di dalam kereta ini akan difungsikan secepatnya pada tahun 2020. “Harapan saya seluruh kereta harus kena WiFi. WiFi itu bukan barang mewah lagi sekarang, mestinya ya. Karena semua orang membutuhkan,” ujar Edi.