Bencana kabut asap yang belakangan ini tengah ramai diperbincangkan tentu membawa dampaknya tersendiri. Selain membuat kesehatan warganya menjadi terganggu, ternyata kehadiran asap-asap hasil pembakaran hutan secara masif ini juga membawa imbas terhadap dunia transportasi. Sebut saja di sektor dirgantara yang turut terdampak – jarak pandang yang terbatas menjadi salah satu kunci dari dibatalkannya puluhan penerbangan di daerah Sumatera dan Kalimantan.
Baca Juga: Terkait Kabut Asap, Inilah Tiga Pedoman Bagi Pilot untuk Tetap atau Batal Terbang
Jika ditimbang lebih jauh, ternyata bencana seperti kabut asap ini tidak hanya mengganggu ketika pesawat tengah berada di udara saja, melainkan ketika tengah di darat pun, sejumlah aktivitas yang seharusnya dijalankan secara normal juga jadi ikut dipertimbangkan. Tarik mundur ke tahun 2015 silam, tepatnya pada akhir tahun, dimana di Tanah Britania diterpa kabut tebal yang menyebabkan kelumpuhan pada sektor kedirgantaraannya.
Mengutip dari laman bbc.com, penerbangan kala itu banyak yang mengalami penundaan dan ratusan hingga ribuan penumpang terpaksa mengatur ulang jadwal penerbangan mereka – tidak sedikit juga yang memilih untuk membatalkannya. Di tengah era yang sudah serba canggih dan modern, mengapa pesawat masih bisa terdampak kabut asap atau bencana lain yang menurunkan visibilitas pilot dalam bertugas? Bukankah teknologi jaman sekarang sudah dilengkapi dengan sistem radar canggih, dimana pilot tidak melulu harus berpatokan pada apa yang dilihatnya melalui kaca depan pesawat?
Sebagai informasi, bandara-bandara di Inggris baru akan memberlakukan prosedur khusus ketika jarak pandang berada di bawah angka 600 meter.
Pada era penerbangan modern seperti sekarang ini, hampir semua pesawat penumpang dilengkapi dengan Instrument Landing System (ILS), dimana teknologi ini akan ‘membimbing’ para pilot untuk mendekati bandara dengan bantuan sinyal radio. Penggunaan ILS ini juga berfungsi ketika pesawat hendak tinggal landas.
National Air Traffic Services bandara Heathrow, Jon Proudlove mengatakan bahwa instrumen ini memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar dapat beroperasi secara optimal, salah satunya adalah, “kondisi landas pacu harus benar-benar jelas,”
“Secanggih-canggihnya alat bantu pendaratan dan tinggal landas tersebut, namum tetap saja masalah utamanya terletak di darat,” ungkap
Jon menjelaskan bahwa jika kondisinya sedang normal, maka proses taxi dari sebuah pesawat di Heathrow akan mengandalkan pilot dan arahan dari petugas ATC. Namun ketika kondisinya tidak memungkinkan seperti halnya sedang tertutup kabut, maka pilot akan menggunakan teknologi ILS untuk membantunya bermanuver selama berada di darat.
Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut
“Tapi taxi dengan menggunakan ILS sebenarnya malah memperlambat proses,” terang Jon.
Walhasil, karena lambatnya proses taxi dari sebuah pesawat akan berdampak pada penundaan keberangkatan dari pesawat lainnya.
Dari sini, dapat disimpulkan bahwa secanggih-canggihnya teknologi yang akan membantu suatu pekerjaan, maka akan tetap lebih aman dan tepat jika pengoperasiannya dilakukan oleh tenaga manusia – bukan bertumpu semuanya pada teknologi.
Terkait dengan bocornya data manifest penumpang Lion Air yang ramai diberitakan pada Rabu (18/9) pagi tadi, salah satu member of Lion Air Grop, Malindo Air langsung memberikan keterangan resmi terkait pemberitaan yang sudah kadung viral tersebut. Seolah tidak menampik kebenaran dari pemberitaan ini, pihak Malindo Air mengatakan bahwa beberapa data pribadi penumpang sejatinya tersimpan di lingkungan berbasis cloud – dan peran dari oknum tidak bertanggungjawablah yang menyebabkan data-data ini bocor.
Baca Juga: Inilah Penjelasan Lion Air Seputar ‘Tingginya’ Harga Tiket Multiple Flight
Tim internal Malindo Air bersama penyedia layanan data eksternal, Amazon Web Services (AWS) dan GoQuo sebagai mitra e-commerce saat ini dikabarkan tengah menyelidiki atas hal tersebut. Pihak maskapai juga mengatakan bahwa mereka juga akan bekerja sama dengan konsultan cybercrime independen guna melancarkan proses penyelidikan.
“Malindo Air sudah mengambil dan melakukan langkah-langkah tepat dalam memastikan agar data penumpang tidak terganggu, sesuai Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi Malaysia 2010 (Malaysian Personal Data Protection Act 2010),” ujar PR & Communications Department Malindo Air, Andrea Liong melalui siaran pers.
Dalam kaitan tersebut, Malindo Air menyatakan tidak menyimpan rincian pembayaran setiap penumpang atau pelanggan di dalam server. Malindo Air mematuhi ketentuan Standar Kartu Pembayaran Industri dan Standar Keamanan Data (Payment Card Industry/ PCI – Data Security Standard/ DSS).
“Di sini, kami selalu patuh terhadap semua aturan, kebijakan, ketentuan dari berbagai otoritas baik lokal maupun luar negeri (internasional) termasuk CyberSecurity Malaysia dalam menjalankan bisnisnya,” tandasnya.
Selain itu, sebagai tindak pencegahan, Andrea juga menyarankan kepada setiap pengguna akun Malindo Miles untuk sesegera mungkin mengubah password mereka, “hanya jika kata sandi digunakan sama pada layanan yang lain secara online,”
Baca Juga: Masalah Manifes, Bukti Carut Marutnya Layanan Pelayaran di Tanah Air
Sebelumnya, diberitakan bahwa puluhan juta data pelanggan dari dua maskapai yang dikelola oleh Lion Air telah bocor di sebuah forum online dalam kurun waktu sebulan terakhir. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman detik.com (18/9), adapun data yang bocor ini melingkupi informasi data penduduk, alamat, nomor telepon, alamat email hingga nomor paspor.
Data yang bocor terbagi dalam dua database, pertama berisi 21 juta data, dan database lainnya berisi 14 juta data yang tersimpan dalam file backup yang dibuat pada Mei 2019 untuk Malindo Air dan Thai Lion Air.
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (kahurtla) yang semakin menjadi-jadi kini tengah menjadi topik hangat perbincangan warga Indonesia. Selain melumpuhkan aktivitas di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan, ternyata kondisi kabut asap yang menjadi imbas dari pembakaran lahan besar-besaran ini tak pelak juga mengganggu jalur transportasi, khususnya transportasi udara. Pemberitaan terakhir menyebutkan bahwa dampak dari kabut asap ini membuat 16 ribu warga Riau positif mengidap ISPA atau Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabu
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman liputan6.com (17/9), Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti menyebutkan bahwa sejumlah penerbangan di wilayah Kalimantan terpaksa dibatalkan terkait kondisi penglihatan yang minim karena tertutup kabut asap.
“Dengan kondisi saat ini, kami akan terus berkoordinasi melalui dengan Otoritas Bandar Udara (OBU), operator penerbangan, AirNav Indonesia, pihak maskapai, dan stakeholder terkait sehingga semua tim dapat tetap memperhatikan keselamatan penerbangan,” tuturnya.
Dikabarkan, dua bandara di Kalimantan Barat, yakni Bandara Internasional Supadio dan Bandar Udara Pangsuma, Putussibau memiliki jarak pandang yang sangat terbatas – masing-masing 400 meter dan 3.000 meter.
Lepas dari kasus di atas, menerbangkan pesawat di daerah yang memiliki visibilitas rendah (sepertih halnya tertutup kabut asap seperti di Sumatera dan Kalimantan) merupakan hal yang menantang, bahkan untuk seorang pilot yang memiliki jam terbang tinggi. Mengutip dari laman weather.gov, setiap tahunnya sekitar 440 orang meninggal dalam kecelakaan pesawat karena minimnya visibilitas pilot ketika menerbangkan pesawat.
Kendati terbilang cukup fatal, namun Anda tidak perlu khawatir jika ‘terpaksa’ harus terbang di tengah kabut asap, mengingat pesawat tergolong moda transportasi yang sangat aman dengan kelengkapan berbagai pedoman dan instrumen keselamatan yang harus dipenuhi oleh pihak maskapai (termasuk pilot) ketika hendak menerbangkan penumpang.
Baca Juga: Saat Bencana Alam Tiba, Bukan Berarti Perjalanan Batal, Ikuti Tips Ini
Adapun panduan yang harus dipenuhi oleh pilot ketika hendak mengudara di daerah yang tengah dilanda oleh kabut asap melingkupi:
1. Mendapatkan update terbaru dari NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Aviation Weather Center terkait ramalan cuaca, saran, hingga pengamatan terbaru dari lokasi yang terdampak,
2. Mempertimbangkan untuk merubah rute penerbangan semisal tidak memungkinkan untuk dilintasi,
3. Mengikuti pedoman keselamatan yang sudah diamanatkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) dan aturan penerbangan untuk kategori penerbangan tertentu berdasarkan visibilitas dan ketinggian jelajah.
Jadi, agaknya penumpang tidak harus khawatir jika harus mengudara di daerah yang sedang ditutupi oleh kabut asap karena sudah pasti pihak maskapai dan pilot tidak akan mau gambling untuk tetap menerbangkan pesawat jika ujung-ujungnya terjadi kecelakaan.
Air India baru-baru ini memberikan makanan khusus rendah lemak untuk awak kabin dan pilot di dalam pesawat. Seorang juru bicara Air india mengatakan, inisiatif baru ini diperkenalkan untuk membantu kru tetap sehat dan bugar dengan makanan rendah lemak serta kolesterol.
Baca juga: Direktorat Penerbangan India, Longgarkan Standar BMI untuk Awak Kabin Wanita
Adanya program diet untuk kru kabin tersebut, sebab Air India di masa lalu pernah mendapatkan kritik karena memaksa kru kabin (pramugari) yang memiliki berat badan berlebih untuk melakukan diet rendah lemak. Bahkan pada Januari 2017 lalu, hampir 60 pramugari dihadapkan dengan ancaman pemecatan dikarenakan memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi dari yang diizinkan.
Mereka yang kelebihan berat badan dinyatakan tidak layak terbang dan di grounded setidaknya selama enam bulan dan diberikan waktu 18 bulan untuk memiliki tubuh sesuai dengan aturan yang berlaku atau diberhentikan dari pekerjaan. KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (16/9/2019), dalam inisiatif terbaru ini yang bocor dari memori internal memberitahukan kepada staf untuk mempertimbangkan faktor kesehatan kru dan direktur operasi agar merevisi menu makanan dalam penerbangan untuk anggota kru.
“Mengingat hal-hal diatas, kru pembuat makanan diet rendah lemak khusus telah bekerja siang hari untuk menyediakan makanan ringan dan sehat dalam sentuhan makanan rumahan India,” kata isi memo internal yang bocor itu.
Makanan rendah lemak ini mulai dimuat dalam penerbangan Air india pada hari Senin (17/9/2019) yang berangkat dari Delhi dan Mumbai. Kedepannya bandara lain akan mengikuti untuk menyiapkan makanan rendah lemak bagi pilot dan awak kabin.
Adapun makanan rendah lemak yang disediakan yakni Nutri Peas Bhurji, Besan Chilla, dan Idli-Sambar atau gandum untuk vegetarian. Pilihan lain termasuk Omelet Telur Putih Jamur, Oats Frittata of Egg white dan Asparagus Egg White Frittata.
Baca juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Pilot dan Awak Kabin Air India Seluruhnya Adalah Perempuan
Ternyata, Air India bukan satu-satunya maskapai yang mengambil sikap untuk awak kabin dan pilot yang kelebihan berat badan, sebab tahun 2017 lalu, Malaysian Airlines memecat lima pramugari yang terus-terusan gagal mencapai berat badan ideal yang disesuaikan oleh perusahaan. Selain itu, 30 pramugari lainnya menghadapi tindakan disipliner untuk masalah yang sama.
Tidak semua firasat atau pertanda yang hadir kepada setiap orang itu akan berakhir pada suatu hal yang buruk – seperti ditinggal meninggal oleh orang tercinta atau mengalami kecelakaan. Semua hal yang berkaitan dengan celaka dan kematian memang merupakan rahasia terbesar Ilahi, tidak ada yang bisa memprediksinya. Sama seperti salah satu penumpang yang ada di maskapai Swoop Flight WO312, dimana dampak dari matinya salah satu mesin membuat penumpang ini menuliskan surat terakhirnya. Duh!
Baca Juga: Tidak Bawa Air Bersih, Cathay Pacific CX253 Terpaksa Return to Base!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman 7news.com.au (17/9), tampak salah satu mesin dari Boeing 737-800 maskapai Swoop yang melayani rute penerbangan Abbotsford di Kanada menuju Edmonton terbakar dan dikabarkan mati. Adapun penyebab matinya salah satu mesin pesawat ini adalah karena ada burung yang terhisap oleh baling-baling mesin jet. Dalam video yang berhasil diabadikan oleh salah satu penumpang, tampak mesin pesawat mengeluarkan lidah api dan sontak hal tersebut membuat seisi kabin menjadi panik.
Kepanikan penumpang terdengar dalam video tersebut, dimana salah satu dari mereka berteriak,
“fire!”
Berpikir bahwa ini akan menjadi akhir hidup bagi para penumpang tersebut, beberapa dari mereka mulai berinisiatif untuk mengeluarkan ponsel dan menyampaikan kata-kata terakhirnya kepada orang-orang tercinta – salah satunya adalah Donna-Lee Rayner. Wanita ini malah mengunggah kata-kata terakhirnya di laman jejaring social Facebook.
“… Semuanya berjalan normal hingga kabin mulai ditutupi kepulan asap dibarengi dengan bau terbakar. Saya sangat terkejut dan mungkin ini merupakan pesan terakhir saya …” tulis Donna-Lee di Facebook, Selasa (10/9) minggu lalu.
“Interkom di dalam kabin mulai berbunyi dan mengatakan bahwa ada burung yang tidak sengaja terhisap oleh mesin, dan awak kabin mengatakan bahwa pesawat tengah berputar arah kembali ke Abbotsford,” lanjutnya.
Kendati sudah menulis dan mengunggah pesan terakhirnya, namun Tuhan memiliki rencana lain. Pesawat tersebut berhasil mendarat dengan selamat tanpa ada korban satu pun.
Baca Juga: Panel Sayap Lepas, Boeing 777-300ER China Eastern Terpaksa Return to Base
Menanggapi hal ini, pihak Swoop mengkonfirmasi kebenaran terkait insiden ini, “Kami ingin mengkonfirmasi bahwa Flight 312 telah mendarat kembali di Abbotsford dengan selamat karena adanya bird strike tak lama setelah take-off. Semua penumpang dan awak pesawat dilaporkan selamat tanpa adanya korban,” tulis pihak maskapai di jejaring sosial.
Pemberitaan tentang ragam moda transportasi alternatif kini memang sudah menjamur – mulai dari skuter listrik, skuter lipat, hingga gabungan dari keduanya, skuter listrik lipat. Diberitakan, produsen otomotif kenamaan asal Korea Selatan, Hyundai baru saja merilis prototipe dari skuter listrik yang akan menunjang mobilitas last-mile para penggunanya. Alih-alih menciptakan skuter ini dari nol, Hyundai sebenarnya hanyalah melanjutkan konsep skuter listrik terdahulunya yang sempat dipamerkan pada pagelaran Consumer Electronic Show 2017.
Baca Juga: Unagi Scooter, Otoped Listrik yang Bisa Menanjak Hingga 15 Derajat
Skuter listrik lipat rancangan Hyundai ini dilengkapi oleh baterai lithium onboard berkapasitas 10,5Ah, dan mampu merengkuh kecepatan maksimum diangka 20 km per jam. Dalam sekali pengisian daya, skuter ini mampu menembus jarak maksimal hingga 20 km dan tentu saja nyaman ketika dikendarai. Satu kelebihan lain dari skuter ini adalah mampu mengisi ulang daya pada kendaraan rilisan Hyundai dan Kia Motors – tidak melulu di stasiun pengisian daya konvensional.
Mengingat skuter ini merupakan moda penunjang transportasi public, maka Hyundai berupaya untuk membuat kendaraan roda dua ini se-fleksibel mungkin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (26/8), kabarnya skuter ini bisa dilipat sebanyak tiga kali lipatan guna memudahkan para penggunanya ketika hendak menggunakan moda transportasi berbasis massal. Ya, dengan begitu, skuter ini akan menjadi lebih mudah dibawa kemanapun Anda pergi.
Setelah dilipat, bentuk dari skuter ini akan otomatis menyusut, hanya sebesar meja belajar anak kecil kurang lebih dengan bobot 7,7 kg saja. Adapun fitur pelengkap dari skuter listrik ini adalah lampu pada bagian depan dan belakang (guna memberi tanda pada kendaraan lain), layer digital yang menampilkan beragam indicator seperti ketersediaan baterai dan kecepatan skuter, dan satu yang masih dikembangkan pihak Hyundai adalah system pengereman regeneratif.
Baca Juga: Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan
Kendati terdengar sangat futuristik, namun saying pihak Hyundai masih belum mau memaparkan lebih lanjut kapan moda ini akan dirilis kepada publik, mengingat statusnya yang sampai hari ini masih dalam pengembangan.
Pilot project Robotaxi Waymo menyelesaikan 4678 perjalanan penumpang pada Juli ditambah dengan 12 perjalanan lainnya untuk tujuan pendidikan. Waymo mengangkut 6299 penumpang dengan minivan Chrysler Pacifica yang berjalan otonom atau tanpa pengemudi dalam bulan pertamanya berpartisipasi dalam program percontohan robotaxi di california.
Baca juga: Nuro, Mobil Otonom Pengantar Pizza Hadir Akhir Tahun di Houston
Dengan adanya data angka-angka ini, menunjukkan Waymo memiliki sumber daya, staf dan kendaraan untuk mengoperasikan secara otonom sambil terus menguji teknologinya di beberapa kota dan meningkatkan layanan perjalanan Waymo One di Arizona. Dilansir KabarPenumpang.com dari techcrunch.com (17/9/2019), data Waymo bersama dengan laporan triwulanan dari tiga perusahaan lain yang memegang izin dari CPUC (California Public Utilities Commission) memberikan petunjuk bagaimana permintaan kendaraan otonom komersial dan bagaimana layanan ini dapat membentuk kembali kota.
Progrm percontohan Waymo sendiri tidak terbuka untuk umum melainkan untuk karyawan dan tamu-tamu mereka di wilayah South Bay yang geofenced dan mencakup Mountain View, Palo Alto, Sunnyvale, Cupertino, Los Altos serta Los Altos Hills. Ini hanya beberapa di mana Waymo menguji coba kendaraannya di California.
Karena perusahaan dalam program percontohan, maka tidak diperkenankan untuk mengenakan biaya perjalanan bagi penumpang. Dr Susan Shaheen, wakil direktur Pusat Penelitian Keberlanjutan Transportasi di Universitas California mencatat, bahwa sulit untuk menentukan pemintaan untuk layanan penumpang yang berjalan tanpa pengemudi. Waymo saat ini memiliki izin berpartisipasi dalam program Percontohan Layanan Penumpang Kendaraan Bermotor oleh CPUC.
Diketahui, Waymo, yang menerima izin pada 2 Juli atau dua bulan memasuki kuartal kedua sudah menjadi pemimpin dalam hal perjalanan. Di bawah program, pemegang izin harus menyerahkan data anonim tentang setiap kendaraan otonom yang beroperasi.
Waymo dan perusahaan lain yang berpartisipasi dalam uji coba harus memberikan total jarak tempuh kendaraan yang ditempuh selama layanan penumpang, serta total jarak tempuh dalam kendaraan listrik (jika ada) setiap kuartal. Persyaratan data lainnya untuk setiap kuartal mencakup jarak tempuh ke titik penjemputan, waktu idling, hunian kendaraan dan data tentang wahana yang dapat diakses.
Data ini dimaksudkan untuk membantu CPUC mengembangkan kerangka kerja untuk penyebaran penuh, layanan penumpang kendaraan otonom berbayar di California. Namun, data mungkin tidak sepenuhnya menangkap seperti apa layanan komersial itu. Misalnya, total jarak tempuh Waymo yang dilalui dari lokasi awal kendaraan ke titik penjemputan atau istilah yang dikenal sebagai deadhead miles dengan berjarak 48.137 mil dari total 59.916.
Baca juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga
Waymo mencatat dalam laporannya kepada CPUC bahwa ia terus menguji di antara wahana, menyiratkan bahwa ini bisa menaikkan deadhead mil. Perusahaan kendaraan otonom sebagian besar telah mendukung dua program percontohan CPUC.
Dalam sebuah kecelakaan mobil, anak-anak berusia nol sampai 15 tahun sangat rentan menjadi korban. Hal ini kemudian membuat Volvo mengembangkan sejumlah pedoman keselamatan untuk anak ketika orang tua mengemudikan mobil mereka setelah melakukan studi pada tujuh ribu kecelakaan yang terjadi.
Baca juga: Foto Viral Ini Ingatkan Pentingnya Car Seat Untuk Anak
Volvo menyebutkan, bayi menjadi penumpang yang paling rentan jika terjadi kecelakaan dimana cedera otak traumatis bisa menyebabkan kerusakan yang fatal, sehingga dengan penggunaan peralatan keselamatan yang tepat bagi anak-anak ketika berkendara bisa mengurangi konsekuensi dari cedera dalam insiden kecelakaan.
(carglancer.com)KabarPenumpang.com melansir laman carglancer.com (14/9/2019), Folksam yang merupakan mitra Volvo dan sebuah perusahaan asuransi asal Swedia melakukan penelitian terkait risiko bagi penumpang anak. Mereka mendapatkan data bahwa anak-anak yang duduk menghadap depan dengan kursi tambahan (car seat), lima kali lebih tinggi mengalami cedera dibandingkan posisi duduk menghadap kebelakang.
Adanya data ini kemudian membuat Volvo merekomendasikan agar pengemudi yang membawa anak-anak dan kursi tambahan mereka meletakkannya menghadap kebelakang untuk yang berusia 0-4 tahun. Ketika kursi anak diletakkan disebelah pengemudi dan menghadap belakang, airbag harus dinonaktifkan.
Gunakan sabuk pengaman untuk anak dengan benar dimana bagian diagonal sabuk diletakkan di atas bahu dan bukan di bawah lengan. Bagian horizontal harus melewati paha atas dan bukan diatas perut.
Ternyata sebelum adanya pedoman ini, Volvo telah melakukan pengaman keselamatan pasif berkualitas tinggi di dalam mobil selama lebih dari setengah abad. Bahkan belum lama ini, Volvo merayakan 60 tahun penciptaan sabuk pengaman tiga titik.
Tak hanya itu, terinspirasi oleh para astronot, Volvo juga mulai menguji kursi dengan menghadap ke belakang pada tahun 1964. Perusahaan asal Swedia ini kemudian memperkenalkan kursi anak pertama dari jenis ini setelah delapan tahun kemudian, yaitu tepatnya pada 1972.
Pada tahun 1990, Volvo memperkenalkan bantal booster yang terintegrasi ke kursi penumpang belakang. Kursi anak Volvo terbuat dari wol 80 persen, menggunakan dudukan ISOFIX, dirancang untuk berbagai beban.
Baca juga:Sabuk Pengaman Model “V,” Lambang Supremasi Teknologi Volvo
Pada 2014, Volvo mengembangkan kursi karet lima kilogram untuk anak-anak, yang dapat dibawa ke pesawat terbang sebagai barang bawaan. Volvo juga membuat rekomendasi bagaimana menggunakan berbagai jenis kursi anak untuk penumpang dengan bobot dan usia yang berbeda.
Kepala Federal Aviation Administration (FAA) yang baru, Stephen Dickson dikabarkan akan bertolak menuju Seattle pada minggu ketiga bulan September ini untuk menguji perangkat lunak varian Boeing 737 MAX yang sudah dikonfigurasi ke dalam sebuah simulator.
Baca Juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut?
Rencananya, lawatan Stephen ini akan disambut oleh para pejabat dari Boeing. Salah satu bagian dari sertifikasi varian pesawat ini merupakan hal yang sebelumnya sudah ditunggu-tunggu oleh Boeing, dan diharapkan ini menjadi angin segar bagi perusahaan yang dalam kurun waktu beberapa bulan ke belakang ini mengalami kerugian yang sangat besar akibat grounded massal varian 737 MAX sejak Maret silam.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com darii laman Reuters.com (17/9), tidak disebutkan kapan pastinya Stephen akan mengunjungi salah satu markas dari Boeing ini. Namun FAA mengatakan bahwa kedatangan Stephen ini akan menjadi satu langkah yang akan mengantarkan Boeing mendapatkan sertifikasi agar varian 737 MAX miliknya bisa kembali mengudara dan mengangkut penumpang kembali.
“Stephen juga rencananya akan mengunjungi tim sertifikasi pesawat dari FAA yang ada di Seattle, tapi kami tidak bisa mengkonfirmasi kapan hal tersebut akan terjadi,” ujar salah satu juru bicara dari FAA.
“Stephen juga telah mengambil alih sebagai administrator pada pertengahan Agustus kemarin,” lanjutnya.
Pada kesempatan terpisah, juru bicara dari parlemen Peter DeFazio – yang juga merangkap sebagai Ketua Komite Transportasi parlemen membenarkan bahwa pihak Boeing telah menolak undangan untuk bersaksi pada sidang di hadapan parlemen mendatang.
“Boeing bekerja dengan tekun dan transparan dengan komite-komite di parlemen dan Senat untuk memastikan bahwa informasi yang dibagikan tepat dan kami akan terus mengembangkan hubungan baik ini,” ujar Peter.
Menanggapi pemberitaan dari FAA ini, pihak Boeing mengatakan bahwa mereka akan melakukan penerbangan uji sertifikasi, “pada rentang September ini,” dan senada dengan pihak FAA, CEO dari Boeing Dennis Muilenburg juga lebih memilih bungkam terkait uji sertifikasi ini.
Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8
Sebelumnya, maskapai-maskapai besar Amerika Serikat telah membatalkan sejumlah penerbangan ke bulan Desember sebagai dampak dari grounding massal varian 737 MAX, termasuk American Airlines dan United Airlines. Sedangkan Southwest Airlines telah membatalkan penerbangan ke awal Januari.
Grab Kitchen merupakan bentuk ekspansi baru GrabFood yang berkonsep cloud kitchen. Ini adalah sebuah platform dari Grab berbentuk dapur yang bisa diisi berbagai merchant atau restoran dan tidak ada disembarang tempat. Untuk menentukan lokasi Grab Kitchen, pihak Grab melalukan riset terlebih dahulu untuk melihat apakah layak digunakan.
Baca juga: Tim MapsOps Grab Ternyata Ada Dibalik Kemudahan Penjemputan
Kehadirannya sendiri ternyata didapatkan berdasarkan data internal yang dihimpun dari layanan GrabFood, dimana para penikmat kuliner di wilayah tertentu kerap mengalami kesulitan dalam menikmati menu makanan dan minuman favorit mereka akibat kurang memadainya konsentrasi jumlah merchants di wilayah tersebut.
Hal ini menimbulkan kesenjangan antara permintaan dan pasokan, sehingga menyebabkan waktu tunggu pesanan yang lama karena mitra pengemudi GrabFood harus menempuh jarak yang jauh untuk menjangkau merchants terkait. GrabFood memperkenalkan konsep cloud kitchen ke warga Indonesia melalui proyek pilot GrabKitchen pada September 2018 lalu dan resmi diluncurkan April 2019. Saat ini enam bulan berjalan GrabFood ternyata sudah meluncurkan sepuluh GrabKitchen dan salah satunya di Bandung yang menjadi lokasi pertama GrabKitchen di luar Jakarta.
Di Jakarta sendiri Grab Kitchen sendiri sudah ada di Kedoya, Cideng, Kramat, Tendean, Pondok Aren, Fatmawati, Cililitan, dan Capital Place. GrabFood berencana untuk mengembangkan jaringan cloud kitchen miliknya secara signifikan dengan menghadirkan lebih dari 50 GrabKitchen di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2019 ini.
“Menyusul layanan pesan-antar makanan dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia dan Asia Tenggara, kini siap mengembangkan jaringan cloud kitchen bernama ‘GrabKitchen’ secara signifikan di Indonesia,” kata President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman web milik Grab.
Head of Marketing GrabFood and New Business, Grab Indonesia Ichmeralda Altri Rachman mengatakan, Grab Kitchen tidak hanya menambah pilihan santapan di area tersebut tapi juga mempersingkat waktu pengantaran guna meningkatkan pengalaman memesan melalui aplikasi Grab.
“Pertama pesannya apa aja sih, di area mana aja, kira-kira menunya apa aja, tipe makanannya apa aja, ada gap gak yah yang perlu di-capture. Setelah menemukan gap itu, kita akan menentukan tempat membuka dan mengajak merchant tertentu karena makanan-makanan inilah yang disukai,” kata Ichmeralda.
Dia mengatakan, kehadiran Kitchen ini bisa berdampak baik bagi pelanggan maupun merchant. Bahkan untuk merchant ada dua keuntungan utama yang bisa didapat yakni mendapat dapur sendiri secara gratis dari Grab serta penungkatan visibilitas.
Sedangkan untuk pelanggan waktu pengantaran karena mitra hanya perlu datang ke satu tempat dan bisa membeli dari berbagai merchant berbeda sekaligus tanpa perlu ganti-ganti restoran. Dia mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan merchant terbaik untuk menyajikan ragam hidangan favorit, selain itu pengguna bisa mendapatkan berbagai keuntungan seperti biaya pengantaran yang lebih murah, waktu pengantaran yang lebih cepat dan konsep mix and match.
“Konsep ‘mix and match’ di mana mereka bisa memesan beberapa menu dari restoran yang berbeda dalam satu kali pemesanan,” ucap Ichmeralda.
Baca juga: Grab Uji Coba Kenakan Denda Pembatalan Order di Lampung dan Palembang
Dia menambahkan, GrabKitchen juga bisa membawa makanan yang menjadi demand besar di suatu lokasi tetapi belum ada di tempat tersebut. Merchant-merchant yang menjadi bagian dari Kitchen akan mendapatkan banner tersendiri sebagai penanda.