Mengekor Kesuksesan Cina, Anggota Kongres AS Canangkan Strategi Kereta Cepat “Green New Deal”

Memang, nama Cina agaknya terlalu sulit untuk digeser dari kedigdayaannya di sektor terknologi. Bahkan, Negara Adikuasa Amerika Serikat saja sampai-sampai ‘mengekor’ Negeri Tirai Bambu dalam urusan jaringan kereta api berkecepatan tingginya – kendati dua raksasa ini sudah lama terlibat dalam Perang Dagang yang tak kunjung usai. Apakah ini salah satu strategi yang dilakukan AS agar tidak jauh tertinggal dari rival terbesarnya ini? Atau Negeri Paman Sam memiliki niatan lain di balik upaya mengekor Cina kali ini? Baca Juga: [Bagian 1] Fakta Unik Kereta Cepat di Cina – Punya Jaringan Terbesar di Dunia dan Angkut 2 Juta Penumpang Per Hari Persisnya pada Februari 2019 lalu, anggota kongres AS, Alexandria Ocasio-Cortez dan Ed Markey mengumumkan sepasang resolusi yang bernama “Green New Deal.” Resolusi ini mencakup skema pengadaan dan pembangunan jaringan kereta api berkecepatan tinggi dan mulai menjadikan jalur perjalanan udara sebagai opsi kedua dalam menempuh perjalanan jarak jauh dalam negeri. Mungkin, agak terlalu gengsi untuk pihak AS jika menyatakan bahwa ide ini terinspirasi dari Cina yang sudah mulai menjadikan kereta berkecepatan tinggi sebagai moda utama pengangkut penumpang dan menjadikan sektor aviasinya sebagai ‘cadangan’ moda. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman signal.supchina.com (12/9), contoh paling sederhana dari pernyataan di atas adalah perjalanan dari Beijing menuju Shanghai (sejauh 1.213 km) yang kini sudah mulai digalakkan dengan menggunakan jaringan kereta cepat. “Tidak hanya itu, banyak rute penerbangan yang kini sudah mulai tergantikan dengan jaringan kereta cepat, dimana sebenarnya Cina memiliki luas daratan yang hampir setara dengan Amerika,” ujar salah satu juru bicara dari Cina yang identitasnya dianonimkan. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, jaringan kereta api cepat Cina mengular di kecepatan rata-rata 250 hingga 350 km per jam, dan ‘meliuk-liuk’ di bentang jalur yang mencapai total 18.000 mil. Rencananya, total bentang jalur jaringan kereta cepat Cina ini akan bertambah ke angka 25.000 mil di tahun 2025 mendatang. Baca Juga: [Bagian 2] Fakta Unik Kereta Cepat di Cina – Lima Jalur Kecepatan Tinggi Pemecah Rekor Dunia Satu kunci kesuksesan Cina dalam menghadirkan jaringan kereta cepat yang hampir merata di semua bagian negaranya adalah timeline pembangunan yang jelas dan system yang sedikit memaksa – wajar saja, mengingat Cina merupakan salah satu negara penganut paham komunis terbesar di dunia. Prinsip liberal yang dianut oleh Amerika sedikit banyaknya menyumbang kesulitan bagi Pemerintah untuk menggalakkan timeline serupa seperti di Negeri Tirai Bambu. Terlepas dari resolusi yang coba dihadirkan oleh dua anggota kongres tersebut, namun kehadiran jaringan kereta cepat di AS sejatinya akan berdampak pada menurunnya level polusi di sana. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa pesawat merupakan salah satu penyumbang emisi rumah kaca terbesar di dunia.

Serba-Serbi Pendaratan Darurat Medis Garuda Indonesia GA728 di Karratha, Australia

Maskapai plat merah Garuda Indonesia dikabarkan melakukan pendaratan darurat di Bandara Karratha, Australia pada Minggu (15/9) kemarin. Alih-alih mengalami kerusakan pada mesin ketika mengudara, ternyata pendaratan darurat ini merupakan tindak responsif dari pihak maskapai untuk menyelamatkan salah satu penumpangnya yang mengalami serangan jantung ketika tengah di udara. Adapun pesawat Boeing 737-800 yang digunakan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA728 ini tengah melakukan penerbangan berjadwal dari Denpasar (DPS) menuju Perth (PER). Baca Juga: Bandara “Bandaranaike” Kolombo, Saksi Bisu Beberapa Pendaratan Darurat Garuda Indonesia Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan mengatakan pada awalnya, penerbangan berjalan normal. Hingga tak berselang lama setelah pesawat tinggal landas, salah satu awak kabin di dalam penerbangan tersebut mendapati salah satu penumpang berjenis kelamin wanita berusia 63 tahun mengalami gejala sesak nafas. Sejurus sesaat, awak kabin langsung berupaya untuk memberikan bantuan pertama pada wanita tersebut. “Melihat kondisi penumpang yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pilot in command (PIC) Captain Shahzam Nizam Rassat, sesuai SOP, kemudian memutuskan untuk melakukan pengalihan pendaratan di Bandara Karratha untuk memastikan penumpang mendapatkan penanganan lebih lanjut,” terang Ikhsan. Adapun kondisi wanita yang dianonimkan tersebut berangsur membaik, dan pesawat Garuda Indonesia GA728 kembali melanjutkan perjalanan menuju Perth pukul 01.06 LT dan tiba pada pukul 01.25 LT di hari yang sama. Mengapa di Bandara Karratha? Mengingat kondisi pasien yang membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin, wajar adanya jika kapten penerbangan terpaksa mengambil keputusan untuk mengalihkan penerbangan tersebut menuju bandara terdekat yang available. Pertanyaannya, “Mengapa pilot memilih Bandara Karratha?” Seperti yang sudah dijelaskan tadi, ini merupakan kondisi darurat medis dimana pesawat harus sesegera mungkin mendarat agar nyawa dari penumpang terselamatkan. Mengingat Bandara Karratha merupakan salah satu bandara yang dilintasi oleh pesawat, maka tidak heran jika GA728 memilih untuk mendarat di bandara yang terletak 14km dari pusat kota Karratha ini. Selain itu, jika diperhatikan rekam jejak penerbangan pesawat yang terdapat di laman flightstats.com, Garuda Indonesia GA728 yang terbang dari Denpasar menuju Perth ini mengambil rute lurus ke arah Selatan, menyeberangi Samudera Hindia dan melanjutkan penerbangan di atas Benua Australia. Tercatat pula bahwa pesawat Garuda Indonesia GA728 sempat berbalik arah di atas kota tambang, Tom Price sebelum akhirnya mendarat di Karratha. Baca Juga: Penerbangan Haji 2019 Rampung, Garuda Indonesia Catatkan OTP 89 Persen! Kuat dugaan, alasan dari pilot untuk mendarat di Bandara Karratha adalah lalu lintas udara di Bandara Perth itu terlalu sibuk – wajar adanya jika pesawat harus mengantri untuk mendarat atau take-off dari bandara internasional sekelas Bandara Perth . Selain itu, dugaan lain adalah unit pesawat yang digunakan oleh Garuda Indonesia pada penerbangan tersebut, Boeing 737-800 merupakan pesawat narrow-body yang agaknya tidak terlalu rumit untuk menjalani skema pendaratan darurat (menimbang dari panjang landas pacu atau runway dan kesiapan ground handling menangani kasus darurat medis) semacam ini. Kemungkinan terakhir, kondisi penumpang sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju Perth, mengingat jarak yang terbentang antara Karratha dan Perth mencapai angka 1.522,4 km via National Route 1.

Bandara Ngurah Rai Musnahkah Ratusan Tongsis, Bagaimana dengan Regulasi di Luar Sana?

Sektor aviasi global tercatat sebagai perjalanan yang paling aman di dunia – walaupun ketika terjadi kecelakaan, hampir tidak ada harapan lagi untuk bisa bertahan hidup. Terlepas dari kasus kecelakaan, pengamanan yang dijalankan oleh para petugas bandara maupun maskapai bisa dibilang sangat ketat. Banyak barang yang tidka boleh dibawa oleh penumpang ke dalam kabin, mulai dari benda tajam, gunting kuku, sejumlah alat elektronik, dan perangkat penunjang ponsel pintar. Baca Juga: Setelah 2 Tahun Berlalu, Bagaimana Nasib Pembangunan Bandara Bali Utara? Pada awal bulan Agustus kemarin, Manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali kembali menggelar pemusnahan barang yang dinilai berbahaya dari penumpang. Pemusnahan ini dilakukan karena barang-barang tersebut tidak sesuai dengan aturan yang mengatur tentang barang yang diperbolehkan untuk dibawa masuk dalam pesawat udara. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (7/8), ribuan barang yang berhasil disita petugas keamanan bandara ini terdiri dari: 217 unit powerbank, 112 unit korek gas, 855 unit tongsis atau tongkat swafoto, dan satu karung berisikan barang tajam seperti gunting, pisau, hingga cutter. Adapun barang-barang ini berhasil dikumpulkan petugas hanya dalam rentang waktu tiga bulan saja – dari mulai Maret hingga Mei 2019. Pemusnahan barang-barang terlarang ini membuktikan bahwa PT Angkasa Pura I selaku pengelola bandara terus berupaya untuk mewujudkan komitmen mereka – penerbangan selalu dalam keadaan aman dan selamat. Lalu bagaimana dengan yang ada di luar sana? Apakah pihak maskapai atau pengelola bandara memberlakukan standar yang sama terhadap tongsis ini? Mengutip dari laman sumber lain, banyak maskapai penerbangan asing di luar sana yang bahkan tidak melarang penumpangnya untuk menggunakan tongsis di dalam penerbangan mereka selama tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan penumpang lainnya. Sebut saja Singapore Airlines yang mengatakan bahwa pihak maskapai tidak memiliki regulasi khusus yang mengatur soal keberadaan tongsis di dalam kabin. Sama halnya dengan beberapa maskapai kenamaan lain seperti American Airlines, Virgin Atlantic, EasyJet hingga British Airways. Baca Juga: Priiit..! Dilarang Selfie di Tempat-Tempat Berikut Ini Namun ada Air France yang ternyata tidak mengijinkan penumpangnya untuk menggunakan tongsis selama perjalanan, maupun ketika masih di darat. Tidak hanya melarang, namun pihak maskapai juga tidak mengijinkan penumpang untuk membawanya masuk ke dalam kabin.

Perspektif di Amerika Serikat, Ternyata Wrapping Barang Bawaan Itu Penting!

Seringkali ketika di bandara dan hendak bepergian ke suatu tempat, banyak pelancong yang wrapping tas, koper atau barang lainnya. Entah apa maksudnya dan sebenarnya apa saja kegunaan mem-wrapping barang sebelum bepergian dengan pesawat? Baca juga: Otoritas Penerbangan Pakistan Wajibkan Penumpang Gunakan Baggage Wrapping KabarPenumpang.com merangkum laman fodors.com (6/9/2019), ternyata wrapping atau membungkus dengan plastik ini sangat banyak manfaatnya. Bila di Indonesia, masih banyak yang menganggap wrapping ini aneh, tetapi pelancong internasional melakukannya setiap saat. Sebenarnya dengan mem-wrapping tas, keamanan, barang bawaan seseorang lebih terjamin karena bila ada orang yang akan mengambil sesuatu dari dalam tas tidak akan bisa melakukannya dan bila terjadi akan langsung ketahuan. Selain itu, tas juga aman dari penyelundupan obat-obatan terlarang, senjata atau pun bahan peledak saat dilakukannya pemeriksaan. Tak hanya itu, manfaat lainnya membungkus koper dengan plastik adalah menurunkan kemungkinan koper usang atau empuk akan pecah dan terbuka ketika transit. Ini juga membungkus kait dan ritsleting yang rusak ketika bepergian. Koper yang terbungkus juga bisa melindungi dari bantingan, goresan, minyak, salju atau hujan. Layanan wrapping di bandara, bisa ditemui pelancong sebelum pemeriksaan keamanan.Tetapi terkadang letak layanan wrapping ada di dekat konter check in. Di Amerika Serikat, hanya ada beberapa bandara yang menawarkan layanan ini seperti Bandara Internasional Miami (MIA), Bandara Internasional JFK New York (JFK), dan Bandara George Bush Intercontinental (IAH) Houston, semua dioperasikan oleh Secure Wrap. Sedangkan Fort Lauderdale – Bandara Internasional Hollywood (FLL), dioperasikan oleh Bags To Go dan Bandara Internasional Seattle-Tacoma (SEA), dioperasikan oleh Smarte Carte. Membungkus tas dengan plastik cukup mudah dengan meletakkan tas diatas mesin dan hanya memakan waktu satu menit. Plastiknya pun bisa didaur ulang sehingga tidak menjadi limbah begitu saja. Untuk biaya wrapping sendiri tergantung ukuran dan berat koper itu sendiri. Baca juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda? Di Amerika Serikat, dengan membayar $15 untuk membungkus koper ukuran standar dan $22 untuk barang yang tidak beratur bentuknya seperti papan selancar, sepeda dan alat olahraga lainnya. Selain keamanan tas terjaga, pelancong bisa mendapat manfaat dan jaminan ketika melakukan wrapping tas. Jaminan tersebut yakni penggantian biaya ketika tas rusak ataupun hilang.

Demi ke New York, Nyamar Jadi Pria Lanjut Usia, Lelaki 32 Tahun Diamankan di Bandara Indira Gandhi

Menyamar sebagai orang tua berusia 81 tahun, pria ini tertangkap ketika berusaha naik pesawat yang akan terbang ke New York dengan paspor palsu. Pria tersebut bernama Jayesh Patel yang berusia asli 32 tahun. Baca juga: Frank William Abagnale Jr. – Pilot ‘Gadungan’ yang Sukses Berkeliling Dunia Secara Gratis! Dia diamankan pihak Central Industrial Security Force (CISF) di Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi pada Minggu (8/9/2019) kemarin. Patel menggunakan kursi roda ketika melalui pemeriksaan keamanan dan imigrasi. Dia mengenakan janggut yang diwarnai putih dan sebuah kaca mata besar. Sayangnya selama pemeriksaan muncul kecurigaan dari pihak kemanan bandara saat Patel menolak untuk digeledah dan mengklaim dirinya terlalu tua untuk berdiri. Saat diminta kelengkapan, dia juga menyerahkan sebuah paspor yang bertuliskan nama Amrik Singh yang lahir di Delhi, 1 Februari 1938. Karena mencurigakan dan untungnya tidak semua petugas tertipu. Juru bicara CISF mengatakan, Patel terlihat belum berusia 80 tahun dimana kulitnya lebih muda, penampilannya juga tidak setua yang terlihat di paspor. “Penampilan dan tekstur kulit penumpang tampaknya jauh lebih muda daripada yang disebutkan di paspor. Pria itu mengenakan kacamata tanpa daya untuk menyembunyikan usianya,” ujar juru bicara CISF yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (11/9/2019). Kemudian petugas keamanan menginterogasinya dan akhirnya Patel mengaku dirinya menyamar sebagai lelaki tua serta paspor yang diberikannya tidak sah alias palsu. Dia kemudian diserahkan dan diamankan oleh otoritas imigrasi setelah dilakukan penyelidikan. Polisi India mengatakan, Patel berasal dari negara bagian Gujarat yang menggunakan jasa agen dengan menjanjikan sebuah paspor dan visa Amerika Serikat. Agen tersebut mengatur tata rias dan pakaian yang digunakan Patel yakni jubah putih dan sorban. “Dia berencana pergi ke AS untuk mencari pekerjaan. Tapi profilnya sedemikian rupa sehingga dia tidak akan mendapatkan visa dengan mudah,” kata perwira polisi Sanjay Bhatia. Penyamaran ini, seperti beberapa waktu lalu dimana seorang wanita Amerika yang ditangkap karena perdagangan anak di Filipina setelah dia mencoba menyelundupkan seorang bayi melalui keamanan bandara di tas tangannya. Jennifer Talbot, dari Ohio, dihentikan di imigrasi di bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Filipina, ketika para agen di terminal tiga bertanya tentang isi tas selempangnya yang terlalu besar. Baca juga: Troli Tak Hanya Angkut Barang, di Bandara India Menjadi Tempat Penyelundupan Emas Dia saat itu sedang bersiap untuk naik pesawat menuju AS. Talbot tidak memiliki paspor atau dokumentasi perjalanan apa pun untuk anak itu.

Penerbangan Haji 2019 Rampung, Garuda Indonesia Catatkan OTP 89 Persen!

Maskapai nasional Garuda Indonesia telah menyelesaikan seluruh rangkaian operasional penerbangan haji tahun 2019/1440 H. Selesainya rangkaian penerbangan  haji tahun ini ditandai dengan  mendaratnya kloter 19, debarkasi Banjarmasin GA 8602, di Banjarmasin pada hari ini, Senin (16/09). Secara keseluruhan Garuda Indonesia telah memulangkan sebanyak 109.923 Jemaah dalam 284 kloter. Baca Juga: Dengan OTP 91,20 Persen, Garuda Indonesia Tuntaskan Fase Pemberangkatan Calon Jamaah Haji 2019 Sebagaimana informasi yang diterima KabarPenumpang.com dari siaran pers, gelombang pemulangan Jemaah haji Indonesia telah dilaksanakan sejak tanggal 17 Agustus 2019 lalu dengan keberangkatan dari Jeddah, sementara gelombang 2 pemulangan Jemaah haji telah berlangsung sejak tanggal 30 Agustus hingga 15 September 2019 dengan keberangkatan dari Madinah. Direktur Operasi Garuda Indonesia, Capt. Bambang Adisurya Angkasa menyampaikan apresiasi serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh instansi terkait yang turut mendukung dan membantu kelancaran operasional penerbangan Haji Garuda Indonesia tahun 2019/1440 H hingga dapat terselesaikan dengan baik, aman, lancar dan selamat. “Kelancaran operasional penerbangan haji Garuda Indonesia tahun ini juga ditandai dengan baiknya tingkat ketepatan waktu penerbangan atau On Time Performance (OTP) secara keseluruhan sebesar 89 persen, yang juga menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tantangan bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja operasional khususnya OTP agar dapat lebih baik lagi dalam melayani para Jemaah Haji”, kata Capt. Bambang. Baca Juga: Mulai 7 Juli, Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat untuk Layani Penerbangan Haji Garuda Indonesia pada haji tahun 2019 ini menyiapkan 14 pesawat haji yang terdiri dari tiga pesawat Boeing B7474-400, lima pesawat Boeing B777-300ER, dan enam pesawat Airbus A330-300/200. Jumlah pesawat yang beroperasi pada musim haji tahun 2019 tersebut menyesuaikan dengan trafik jemaah Haji pada tahun  ini.

Pulau Morotai, Ditinggalkan Garuda Indonesia Kini Dilayani Wings Air

Menyandang predikat sebagai salah satu pulau yang berada di ujung Utara Indonesia, banyak yang mengasosiasikan Kabupaten Pulau Morotai ini dengan sebutan “Morotai Pulau Kenangan”. Wajar saja, pulau ini menyimpang banyak keindahan alam khas Indonesia dan juga sarat akan sejarah yang berkenaan dengan Perang Dunia II. Sebagai salah satu langkah untuk menunjang destinasi wisata di sini, salah satu member dari Lion Air Group, Wings Air kabarnya akan segera membuka rute penerbangan dari Manado menuju Morotai pada 22 September mendatang. Baca Juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar Usut punya usut, Wings Air ini merupakan maskapai perdana dan satu-satunya yang membuka rute penerbangan dari Manado menuju Morotai. Sebagaimana informasi yang didapatkan KabarPenumpang.com dari siaran pers, pihak maskapai kini masih dalam tahap menyiapkan penerbangan berjadwal tiga kali dalam seminggu – Rabu, Jumat, dan Minggu (PP). “Wings Air bernomor IW-1180 akan mengudara dari Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara (MDC) pukul 06.40 WITA dan dijadwalkan mendarat di Bandar Udara Leo Wattimena, Morotai, Maluku Utara (OTI) pada 09.00 WIT,” tulis Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro dalam siaran pers. Bandara Leo Wattimena dulunya bernama Bandara Pitu. Bandara ini punya panjang landasan 2.400 meter dan lebar 30 meter yang dilengkapi dengan apron panjang 285 meter dan lebar 80 meter, sementara taxy way punya panjang 130 meter dan lebar 25 meter. Sehingga ideal untuk didarati pesawat sekelas ATR-72 500/600. “Penerbangan di hari yang sama untuk rute kembali, Wings Air menggunakan nomor IW-1181 akan terbang dari Morotai pada 09.20 WIT dan diperkirakan tiba di Manado pukul 09.40 WITA,” tambahnya. Namun berbicara soal Morotai agaknya kurang lengkap jika tidak membahas soal sejarah yang ada di pulau ini. Perang Morotai terjadi pada 15 September 1944, dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya dalam kampanye melawan Jepang. Singkat cerita, jumlah pasukan Jepang yang telah terlebih dahulu menduduki Morotai yang sedikit terpaksa diluluh-lantakkan oleh sekutu yang beranggotakan sejumlah negara besar (Amerika Serikat, Australia, Belanda, dan Inggris). Tujuan yang bertolak belakang antara Jepang dan sekutulah yang pada akhirnya membuat peperangan ini pecah. Pulau Morotai merupakan wilayah yang penting bagi militer Jepang ketika mulai mengembangkan pulau-pulau di Halmahera sebagai titik fokus untuk mempertahankan pendekatan selatannya ke Filipina. Sedangkan sekutu melihat Morotai sebagai lokasi strategis untuk pangkalan udara dan fasilitas angkatan laut yang diperlukan untuk mendukung pembebasan Mindanao, pulau terbesar kedua yang ada di Filipina. Pada akhirnya, pihak sekutu berhasil mengusir Nippon dan yang kini tersisa hanyalah sebuah Museum Perang Dunia II Motorai. Baca Juga: Laba Kian Mengering, Garuda Indonesia Terpaksa Hentikan Sejumlah Rute Terlepas dari sejarahnya, ternyata sebelumnya maskapai plat merah Garuda Indonesia juga pernah melakukan penerbangan terjadwal menuju Morotai, namun karena masalah load factor (tingkat keterisian bangku) yang bisa dibilang minim, pada Mei 2019 kemarin pihak flag carrier ini terpaksa memberhentikan rute penerbangan ke Morotai dan beberapa destinasi lain di Timur Indonesia (Maumere dan Bima). “Kita baru melakukan evaluasi, kita terpaksa melakukan itu (penutupan dan pengurangan penerbangan) agar kita tidak rugi sampai akhir tahun,” tutur Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham (22/5/2019).

Ini Dia Tarif Baru Kelebihan Barang Penumpang Lion Air Per 1 Kg!

Awal tahun 2019 tepatnya 8 Januari kemarin, maskapai berbiaya hemat (LCC) Lion Air menghapuskan pemberian bagasi cuma-cuma atau free baggage allowance pada penumpangnya. Hal ini membuat kecewa banyak penumpang dan mau tak mau membeli voucher bagasi melalui travel agen, website Lion Air atau pembelian langsung dibandara. Bahkan dari mereka memilih untuk membawa tas ke dalam kabin dibanding harus membayar kelebihan tersebut. Baca juga: Bagasi Cuma-cuma Hilang dari Penerbangan Domestik Lion Air, Bagaimana Reaksi Penumpang? Pada awal Januari, tarif yang dikenakan per lima kilogram adalah Rp180 ribu, sepuluh kilogram Rp360 ribu, 15 kg Rp540 ribu dan 20 kg Rp720 ribu. Tarif ini flat untuk ke semua rute domestik. Namun, hari ini (16/9/2019) KabarPenumpang.com mendapatkan data bahwa Lion Air menerapkan harga baru per kilogramnya untuk kelebihan barang penumpang yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta ke 21 bandara lainnya. Berikut ini, daftar tarif satu kilo dari CGK ke 21 bandara tujuan.
  • UPG (Makassar) – Rp49 ribu
  • GTO (Gorontalo) – Rp61 ribu
  • DJJ (Jayapura) – Rp108 ribu
  • MKQ (Merauke) – Rp107 ribu
  • TTE (Ternate) – Rp73 ribu
  • MDC (Manado) – Rp68 ribu
  • AMQ (Ambon) – Rp76 ribu
  • PLW (Palu) – Rp52 ribu
  • BPN (Balikpapapn) – Rp44 ribu
  • TRK (Tarakan) – Rp53 ribu
  • LOP (Mataram) – Rp39 ribu
  • KOE (Kupang) – Rp69 ribu
  • SUB (Surabaya) – Rp33 ribu
  • JOG (Yogyakarta) – Rp24 ribu
  • SOC (solo) – Rp25 ribu
  • SRG (Semarang) – Rp22 ribu
  • PNK (Pontianak) – Rp37 ribu
  • KDI (Kendari) – Rp67 ribu
  • MLG (Malang) – Rp35 ribu
  • PKY (Palangkaraya)- Rp40 ribu
  • BDJ (Banjarmasin) – Rp40 ribu
Bila ditotal dengan per lima kilogram untuk kelebihan bagasi ke Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya dan Malang lebih murah dari tarif flat yang sebelumnya sudah ada. Sedangkan 16 bandara tujuan lainnya memiliki tarif yang lebih mahal bila terhitung total lima kilogram. Baca juga: Hanya dari Biaya Bagasi, Maskapai Global Raup Untung Hingga Ratusan Triliun Rupiah Jadi lebih baik tarif flat sebelumnya yang sudah ditetapkan atau tarif baru dengan hitungan satu kilogram?

PT KAI Sambungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati dengan Angkutan Terusan

Angkutan terusan yang berupa minibus baru saja diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah operasional (Daop) IV Semarang untuk mengantarkan penumpang dari dan ke Demak, Kudus serta Pati. Peresmian angkutan terusan ini sendiri utuk menghubungkan warga kota-kota tersebut ke Stasiun Semarang Poncol ataupun Tawang. Seperti diketahui, di ketiga kota tersebut sudah tidak beroperasi jaringan kereta sejak 1986. Baca juga: PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir Diresmikan Jumat (13/9/2019), angkutan terusan ini menambah operasional PT KAI yang sebelumnya sudah mengoperasikan terusan dari Purwokerto menuju ke Wonosobo. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, minibus yang digunakan untuk angkutan terusan tersebut ialah Isuzu Elf rakitan Adi Putro yang mampu mengangkut 12 orang penumpang sekali jalan. “Angkutan ini akan dikelola PT Kereta Api Pariwisata sebagai anak perusahaan PT KAI dengan harga tiket Rp60 ribu dan bisa dibeli melalui aplikasi KAI Access. Tahap pertama pembelian tiket masih melalui aplikasi KAI Access, diharapkan nanti dalam sekali pembelian bisa include di dalamnya tiket kereta dengan angkutan terusan. Tapi itu nanti masih tahap pengembangan,” ujar EVP PT KAI Daop IV Semarang Mohamad Nurul Huda Dwi Santoso yang dikutip dari detik.com. Akan ada sepuluh perjalanan angkutan terusan ini, lima dari Semarang Poncol dan lima lainnya dari Pati. Angkutan terusan tersebut melayani empat kota yang masing-masing memiliki checkpoint untuk naik dan turun penumpang yakni Semarang di Stasiun Semarang Ponconl dan Tawang, Kudus di Agen Rahayu Ahmad Yani dan SPBU Matahari, Demak di agen tiket Gunawan Shantika, sedangkan Pati di Eridani Travel Jalan Dr Susanto No.1 dan di depan Terminal Pati. Huda mengatakan, perjalanan pertama dari Stasiun Poncol pukul 02.15 WIB dan menempuh waktu hingga ke Pati sekitar tiga sampai tiga jam setengah, dan sebaliknya dari Pati keberangkatan pertama pukul 04.00 WIB. Pihaknya berharap kehadiran angkutan terusan tersebut bisa membantu masyarakat yang hendak bepergian ke tiga kota itu serta meningkatkan jumlah pelancong. Baca juga: NIS 171 – Konsep Lokomotif Futuristik Hindia Belanda untuk Rute Semarang-Yogyakarta Huda menambahkan, untuk rute lainnya masih melihat animo masyarakat. “Nanti lihat animo masyarakat bagaimana, sudah ada permintaan ke Blora, Rembang, harapannya nanti bisa ada pengembangan ke sana, sebagaimana juga daerah Purwokerto menuju Wonosobo, atau ke depan dari Pekalongan ke Dieng, tergantung permintaan masyarakat.”

KRL Pakuan Ekspres – 39 Tahun Mengular Bogor-Jakarta Kini Digantikan Commuter Line

Pecinta kereta api tak mungkin tak kenal dengan kereta rel listrik (KRL) Pakuan yang melayani relasi Bogor-Jakarta Kota dan Bogor-Tanah Abang. Kereta api Pakuan Ekspres diluncurkan tahun 2000 dan menggunakan KRL hibahan dari Jepang yakni Toei 6000. Baca juga: KRD Cepu Ekspres – Pernah Jadi Idola Transportasi Warga Blora Bisa dikatakan Pakuan Ekspres merupakan KRL ekspres pertama yang menggunakan pendingin udara (AC). Pakuan Ekspres tidak berhenti di setiap stasiun tetapi KRL ini sudah pasti berhenti di Stasiun Bogor, Juanda, Gambir dan Gondangdia. Sedangkan beberapa rangkaian ada pula yang berhenti di Stasiun Cikini, Manggarai, Tebet, Bojonggede dan Cilebut. KabarPenumpang.om merangkum dari berbagai laman sumber, sedangkan Pakuan Ekspres yang menuju ke Stasiun Tanah Abang dari Bogor akan berhenti di Stasiun Cilebut, Bojonggede dan Sudirman. KRL ini menempuh jarak dari Bogor ke Jakarta sepanjang 66 km dengan waktu tempuh 55-70 menit. Nama Pakuan sendiri diambil dari nama sebuah kerajaan di Bogor yakni Pakuan Padjajaran. Ternyata kereta Pakuan sudah beroperasi sejak tahun 1972 dan tahun 1980-an, KRL ini menggunakan KL-2 861xx dan KL-2 871xx yang merupakan KRL Rheostatik berbahan baja anti karat atau stainless steel. Tahun 1994 silam, KRL AC Pakuan Utama diluncurkan sebagai brand Perumka dan awalnya KRL AC ini untuk KLB Presiden Soeharto untuk meresmikan jalan layang Jakarta Kota-Manggarai. Setahun berikutnya, KRL KL-2941xx (KRL BN-Holec) digunakan untuk KRL Pakuan bisnis hingga akhirnya tahun 2000 menggunakan KRL Toei 6000 itu. Sayang, pada Juli 2011, KRL Pakuan mengakhiri ceritanya sebagai moda transportasi yang mengangkut masyarakat dari Bogor-Jakarta PP. Pengehentian operasi kereta ini karena peran KRL yang akan digantikan KRL Commuter Line yang akan dioperasikan PT Kereta Commuter Jakarta (KCJ) yang kini bernama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Baca juga: KRD Kelud Ekspres – Pamor Pudar Lantaran Harga Tiket Dianggap ‘Kemahalan’ Saat itu PT KCJ memutuskan untuk melakukan perubahan sistem operasi menjadi single operation. Ada dua perubahan penting dalam sistem operasi baru ini yakni yang pertama perampingan relasi perjalanan KRL dari 37 menjadi lima rute. Kedua tidak ada pengkelasan dalam lintasan trek yang artinya tidak ada kereta yang didahulukan dan semua kereta berjalan secara berurutan.