Gunakan CCTV di Ruang Tunggu dan Kabin, Cathay Pacific Tingkatkan Keamanan Penerbangan

Jikalau penumpang Singapore Airlines sempat mengeluhkan perihal kamera pengintai yang terletak di atas layar hiburan salah satu pesawatnya, kini berita lain terkait eksistensi kamera datang dari flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific yang dengan sengaja menggunakan kamera di dalam pesawat untuk merekam aktivitas penumpang ketika tengah mengudara. Menurut pihak maskapai, apa yang dilakukannya ini sudah sesuai dengan kebijakan privasi yang diperbarui pada bulan Juli kemarin. Baca Juga: Blunder Beruntun! Cathay Pacific ‘Diskon’ Hampir 90 Persen Tiket Penerbangan Portugal – Hong Kong Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (6/8), pihak Cathay Pacific juga telah menuturkan bahwa mereka telah mencatat aktivitas penumpang yang berada di ruang tunggu bandara melalui kamera CCTV. Wah, itu berarti gerak-gerik Anda akan diperhatikan oleh pihak maskapai nih! Tapi jangan salah sangka dulu, karena pihak Cathay Pacific menggunakan kamera CCTV yang terpasang di ruang tunggu bandara dan salah satu sudut pesawat untuk merekam aktivitas penumpang – tepatnya berada di dekat pintu kokpit. Pihak maskapai menekankan bahwa, “sistem hiburan dalam penerbangan kami tidak memiliki kamera, mikrofon, atau sensor untuk memonitor penumpang, juga di masa lalu.” “Ini sejalan dengan praktik standar dan untuk melindungi pelanggan dan staf kami,” tutur pihak maskapai, Selasa (6/8). “Kami memasang satu kamera di dekat pintu kokpit untuk tujuan keamanan,” tandasnya. Kendati begitu, pihak Cathay Pacific juga tetap bisa memantau penggunaan sistem hiburan di dalam pesawat yang dilakukan oleh penumpang. “Kami akan menyimpan data pribadi selama diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bisnis. Informasi yang tidak lagi dibutuhkan akan dianonimkan atau dihancurkan,” tandasnya. Menurut kebijakan privasi yang diperbarui, pihak Cathay Pacific juga mengumpulkan data seperti jadwal perjalanan penumpang, rincian bagasi yang hilang dan klaim lainnya, serta pembelian produk bebas bea. Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika Sebelumnya, Cathay Pacific dikecam pada Oktober tahun 2018 lalu setelah terungkap bahwa pihak maskapai membutuhkan waktu sekira lima bulan untuk mengakui bahwa laman web mereka telah diretas. Walhasil, sebanyak 9,4 juta data pelanggan berada dalam bahay, termasuk nomor paspor dan detail kartu kredit.  

Hemat Devisa, GMF dan Lion Air Group Bangun Delapan Hanggar Perbaikan di Bandara Hang Nadim

Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia mencanangkan pembangunan delapan hanggar untuk dapat menampung 24 pesawat Boeing 737 dan Airbus 320 di Bandara Hang Nadim Batam. Kedelapam hanggar ini diproyeksikan untuk meningkatkan serapan perawatan pesawat baik dalam dan luar negeri, serta meminimalisir jumlah pekerjaan yang dikirim ke luar negeri. Baca juga: Bertandang ke Batam, Airbus Mau Investasi? Langkah GMF tersebut tidak sendiri, perusahaan yang menginduk ke Garuda Indonesia Group ini menggandeng Batam Aero Technic (BAT) untuk mewujudkan proyek tersebut. Sementara BAT sendiri merupakan perusahaan penyedia jasa perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintenance Repair and Overhaul (MRO) yangtergabung dalam Lion Air Group seperti Lion Air, Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air, Thai Lion Air serta Angkasa Aviation Academy (sekolah pilot). Dikutip dari siaran pers Lion Air Group (14/8/2019), penandatanganan prasasti dan peletakkan batu pertama pembangunan hanggar tahap III dan hanggar joint venture dilakukan oleh Menteri Perekonomian Darmin Nasution. Sedangkan penandatanganan prasasti fasilitas bengkel perbaikan komponen pesawat diwakili oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Direktur Utama BAT I Nyoman Rai Pering Santaya dan Plt. Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan, disaksikan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur Kepulauan Riau Isdianto, Pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ari Askhara, Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait. BAT dan GMF bersama mitra pabrikan ban pesawat juga menandatangani kesepahaman pembangunan pabrik dan vulkanisir ban pesawat (tire retread). Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan penyerapan karet dalam negeri, mendorong efisiensi maskapai, serta meningkatkan devisa negara. Direktur Utama Batam Aero Technic, I Nyoman Rai Pering Santaya mengatakan, “BAT dengan bangga melakukan pengembangan usaha bersama GMF dengan tujuan sinergi mendukung bidang aviasi. Iklim usaha yang diciptakan oleh pemerintah sangat mendukung pertumbuhan dan pengembangan di Indonesia. sebagai pelaku usaha dibidang industri penerbangan khususnya jasa angkutan udara sangat merasakan bantuan dan dukungan dari pemerintah dalam rangka pengembangan dan pertumbuhan bidang usaha industri penerbangan.” Dengan kerjasama ini akan ada konsolidasi antara GMF dan BAT untuk melakukan pemilahan kapasitas dan kapabilitas antara GMF dan BAT untuk menghindari adanya double investment pada sektor perawatan pesawat. Selain itu, kerjasama ini diharapkan mampu mendorong ke dua belah pihak untuk terus meningkatkan utilisasi dan optimalisasi dari kapabilitas yang dimiliki saat ini sembari meningkatkannya seiring berjalannya waktu. Sehingga dalam 10 tahun ke depan, diharapkan dapat terwujud perawatan pesawat yang terintegrasi agar dapat menekan angka outsource pekerjaan ke luar negeri hingga hanya 10 persen saja. Baca juga: Melawan Lupa! Hanggar Narrow Body Terbesar di Dunia Ada di Indonesia Dengan berjalannya sinergi ini, diharapkan dapat menciptakan semakin tersedianya lapangan pekerjaan, menghemat devisa yang keluar dari Industri Penerbangan Nasional, menarik devisa dari luar dengan memasarkan dan menjual jasa perbaikan pesawat ke negara-negara lain, mengefisienkan dan mengurangi beban biaya industri angkutan udara.

Rayakan HUT RI Ke-74, PT KAI Gratiskan Seluruh KA Lokal di Jawa Timur

Tarif nol rupiah atau gratis kembali diberikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) bagi para pengguna setianya khusus untuk perjalanan kereta api lokal Jawa Timur. Pemberian tiket gratis tersebut diberikan untuk menyambut HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2019 mendatang. Baca juga: Napak Tilas Jalur Madiun-Ponorogo. Dulu Primadona, Sekarang Menebar Dilema “Kebijakan promo ini merupakan bentuk partisipasi KAI untuk menyemarakkan HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia dan berlaku untukKA lokal atau komuter PSO bersubsidi dan perintis,” kata Manajer Humas Daop VII Madiun, Ixfan Hendriwintoko yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (14/8/2019). Tarif nol rupiah atau gratis ini bisa dirasakan penumpang ketika berangkat naik KA Dhoho relasi Blitar-Kertosono-Surabayakota kemudian KA Penataran relasi Surabayakota-Malang-Blitar dan KA Penataran relasi Blitar – Surabaya Gubeng serta kereta ekonomi lokal relasi Kertosono – Surabayakota. Semua kereta api ini nantinya akan melayani pergi dan pulang. Ixfan mengatakan, untuk menikmati tarif nol rupiah ini, penumpang tetap harus memiliki tiket yang bisa didapatkan di stasiun-stasiun kereta api keberangkatan. “Meski gratis, masyarakat tetap harus memiliki tiket dengan nominal Rp0 yang bisa didapatkan di loket stasiun keberangkatan secara go show, mulai 3 jam sebelum jadwal keberangkatan KA,” kata Ixfan. Dijelaskan, sepanjang masih tersedia kuota atau kapasitas kursi penumpang, masyarakat masih bisa mendapatkan layanan tersebut. Para pelanggan kereta api diharapkan bisa memanfaatkan fasilitas itu dengan baik. “Adapun kuota tiket gratis ini sesuai dengan toleransi kapasitas maksimum masing-masing kereta api,” tambah Ixfan. Sementara itu, bagi penumpang yang sudah memesan tiket dengan tarif normal, bisa menukarkannya dengan tiket gratis. Pengembalian uang tiket, diberikan tenggat waktu hingga tiga hari setelah perjalanan. Bea tiket tersebut bisa diambil di stasiun kedatangan penumpang maksimal tiga hari sejak kedatangan KA. Syaratnya, penumpang harus menunjukkan tiket/ boarding pass/ e-boarding pass ke petugas di stasiun. Baca juga: Kerjasama dengan Pemprov Jatim, Daop VII Berikan Tiket Gratis Mudik dan Balik Untuk Lebaran 2019 Adapun kereta api lokal yang mengular di Jawa Timur selain yang disebutkan diatas adalah KA Komuter (Surabayakota – Porpng), KRD Bojonegoro (Sidoarjo – Bojonegoro), KA Pandanwangi (Kalibaru – Jember) dan KA Probowangi (Surabaya – Probolinggo). Selain itu KA Jenggala (Sidoarjo – Mojokerto) dan KA Tumapel (Malang-Surabaya Gubeng-Surabaya Kota). Enam KA yang baru disebutkan ini tidak termasuk dalam tiket gratis yang diberikan PT KAI untuk penumpang.

Anda Harus Kontak Mata dengan Awak Kabin di Pintu Masuk Pesawat, Ini Alasannya

Derap langkah kaki penumpang mengantarkan mereka masuk ke dalam pesawat seketika setelah gerbang keberangkatan dibuka. Sejengkal setelah ujung jempol kaki masuk ke dalam tubuh pesawat, Anda akan disambut oleh beberapa awak kabin berbalut seragam necis dan senyum yang seolah tak pernah luntur kendati penerbangan Anda bukanlah yang pertama di hari itu. Di balik senyum simpul dan gerak tangan yang seolah menyambut Anda sebagai penumpang, ada beberapa poin yang ternyata tidak luput dari pandangan awak kabin. Baca Juga: Sedikit Rahasia Yang Terlupakan dari Sosok Awak Kabin Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman designtaxi.com (13/8), tidak hanya penampilan dan gaya masing-masing penumpang saja yang menjadi fokus dari awak kabin yang berjaga di pintu masuk pesawat, melainkan banyak aspek – mulai dari tabloid yang dibawa, postur tubuh masing-masing penumpang, hingga kontak mata dengan awak kabin. Bagi penumpang yang masuk ke dalam kategori sehat, maka awak kabin biasanya akan meminta bantuan mereka untuk menangani kondisi darurat. Begitu pun halnya ketika ancaman muncul dari penumpang mabuk di dalam penerbangan, biasanya awak kabin akan meminta bantuan kepada penumpang yang memiliki postur tubuh besar dan otot tangan yang kekar – setidaknya itu ampuh untuk menahan amukan dari si penumpang mabuk ini. Jika ada penumpang yang kedapatan membawa bahan bacaan seputar medis, maka awak kabin sudah tahu akan mencari siapa jika ada kondisi darurat medis. Tidak hanya menyoal apa yang diperhatikan oleh awak kabin saja, seorang awak kabin sekaligus founder dari blog Fly Guy, Jay Robert mengatakan bahwa ada makna tersembunyi di balik sapaan sederhana dan senyum simpul yang dilakukan oleh awak kabin. “Sebenarnya itu (senyum dan sapa) dilakukan untuk meminimalisir keterlambatan pemberangkatan,” ujarnya. Baca Juga: Tipping Layakkah Diberikan Pada Awak Kabin? Lalu, sebagai penumpang, sebisa mungkin Anda melakukan kontak mata dengan awak kabin yang menyambut Anda di pintu masuk pesawat, “karena jika tidak, kami akan senantiasa mengawasi Anda, alih-alih ada sesuatu yang disembunyikan,” bocor Stephanie Mikel, awak kabin dari Southwest Airlines. Terlepas dari semua yang sudah di bahas di atas, tujuan dari ‘pengawasan’ yang dilakukan oleh awak kabin ini, “semata-mata untuk meningkatkan kenyamanan penumpang saat mengudara.” tutup Stephanie.

Tinta Merah Tercoreng di Laporan Keuangan Uber Kuartal Kedua

Tinta merah terlihat pada laporan pendapatan kuartal kedua Uber sebagai raksasa ride hailing. Pasalnya laporan keuangan yang dibeberkan memperlihatkan kerugian sebesar $5,24 miliar atau setara dengan Rp72 triliun. Baca juga: Punya Rating Rendah, Penumpang Uber Bisa Kesulitan Dapatkan Kendaraan Penyebab kerugiannya karena ada kompensasi berbasis saham yang dibayarkan Uber pada karyawan setelah IPO dengan nilai $3,9 miliar. Di kuartal ini, Uber sendiri berhasil mendapatkan pendapatan $3,1 miliar atau naik 14 persen dari tahun sebelumnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman wsj.com (13/8/2019), CEO Uber Dara Khosrawshahi mengatakan pihaknya bahkan berpikir tahun 2019 menjadi puncak investasi mereka. Selain itu juga dirinya ingin memastikan bahwa pertumbuhan Uber adalah pertubuhan yang sehat. “Strategi platform kami terus memberikan hasil yang kuat, dengan Trips naik 35 persen dan Pemesanan Bruto naik 37 persen dalam mata uang konstan, dibandingkan dengan kuartal kedua tahun lalu. Pada bulan Juli, platform Uber mencapai lebih dari 100 juta Konsumen Aktif Bulanan untuk pertama kalinya, karena kami menjadi bagian yang lebih dan lebih integral dari kehidupan sehari-hari di kota-kota di seluruh dunia,” ujar Dara. Kerugian Uber kuartal ini jauh melebihi estimasi analis dan membuat banyak pihak meragukan kemampuan Uber mencetak laba karena kebijakan mereka yang gencar dalam membakar uang. Perusahaan harus konsisten memberikan insentif dan diskon tarif untuk menarik penumpang dan driver yang menghadapi persaingan. Bahkan karena adanya kerugian ini, kabarnya Uber membatalkan interview beberapa posisi dan calon karyawan baru karena adanya kebijakan menghentikan perekrutan. Bulan Juli silam, Uber juga memangkas ratusan karyawannya di bidang marketing. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) itu dilakukan secara global. Juni lalu Dara Khosrawshahi menggeser chief operating officer dan chief marketing officer dan memecat 400 staf pemasaran. Dara Khosrawshahi mengatakan perang diskon tarif telah mereda namun perusahaan masih harus bersaing ketat dalam bisnis pengiriman makanan dan berencana untuk mengucurkan investasi secara agresif pada sektor ini. Baca juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga “Banyak dari tim kita terlampau besar, yang menciptakan overlappping, keputusan tidak jelas dan bisa berujung pada hasil medioker,” cetus Dara.

Bosan Tunggu Lepas Landas, Penumpang Bermain dengan Petugas Tarmak

Menunggu pesawat hingga lepas landas dari bandara bisa menjadi hal yang membosankan dan membuat penumpang lelah. Sebab dari penumpang naik ke pesawat di tarmak hingga lepas landas bisa memakan waktu sekitar 15-30 menit. Baca juga: Atasi Kejenuhan Penumpang, Awak Kabin EasyJet Lakukan Atraksi “Tisu Gulung” Selain menunggu semua penumpang masuk, juga untuk menunggu ATC mempersilahkan pesawat untuk lepas landas dari landasan agar tidak terjadi tabrakan antar pesawat yang mendarat atau pesawat lainnya yang hendak lepas landas. Namun bila hal ini terjadi apa sih yang Anda lakukan selama masa menunggu tersebut? Mungkin Anda akan membaca buku yang di bawa atau majalah yang disediakan oleh maskapai. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com (13/8/2019), ternyata banyak penumpang yang melakukan berbagai cara untuk menghilangkan kebosanan mereka ketika menunggu pesawat lepas landas dari tarmak. Salah seorang penumpang yang juga pengguna Twitter dengan akun @bricheeseyy memposting video sang kekasih ketika menunggu lepas landas. Dalam video singkat tersebut Brianna Kolbe memperlihatkan Robert Meadows yang bermain gunting, batu dan kertas bersama seorang petugas tarmak sembari menunggu pesawat mereka lepas landas dari Atlantic Citi, New Jersey. Caption video tersebut yang diunggahnya ke Twitter yakni “Pacarku benar-benar tidak punya masalah berteman dengan siapa pun…” Video telah ditonton lebih dari enam juta kali dan telah di-retweet lebih dari 150 ribu kali. video tersebut bahkan telah disukai lebih dari 900 ribu kali pada Senin malam. Dalam sebuah wawancara, Meadows mengatakan dia siap untuk pertandingan ulang dengan pekerja tarmak, yang diidentifikasi itu sebagai pekerja Spirit Airlines, Allain Bantaya. Bantaya berbagi foto dirinya Senin sore dengan kapten: “Beberapa pahlawan tidak mengenakan jubah.” Dia menjawab video Kolbe dengan “saudara laki-lakimu adalah trashinggg aku.” “Orang-orang selalu memiliki anak di dalamnya dan Anda hanya perlu menemukan landasan bersama. Saya merasa seperti menembakkan batu-kertas-gunting-gunting adalah landasan bersama yang mudah bagi semua orang untuk berhubungan. Semua orang hanya perlu bersenang-senang,” kata Meadows. Pengguna Twitter lain menjawab video Kolbe dengan video lain Bantaya bermain gunting kertas batu dengan orang lain. Baca juga: Laksana Cahaya Bintang, Inilah Arti Kelap-Kelip Lampu di Ujung Sayap Pesawat Video Kolbe menghasilkan beberapa hal positif di Twitter pada hari Senin. Beberapa menjawab Kolbe tahu kontennya adalah apa yang mereka sukai untuk dilihat di platform media sosial, dan banyak yang setuju bahwa videonya lucu.

Lima Bulan Koma Pasca Terjangkit Campak, Pramugari El Al Israel Airlines Hembuskan Nafas Terakhir

Anda masih ingat dengan awak kabin (pramugari) El Al Israel Airlines yang pada beberapa bulan lalu terjangkit campak dan mengalami koma? Ya, berita duka kini datang dari maskapai tersebut yang mengabarkan bahwa awak kabin berusia 43 tahun tersebut kini telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Sebelumnya, awak kabin ini dikabarkan bahwa besar kemungkinan awak kabin ini terjangkit campak ketika mengudara dari New York, atau dari Israel – mengingat pada awal tahun 2019 kemarin, wabah campak tengah menjadi di kedua destinasi tersebut. Baca Juga: Diduga Terjangkit Campak, Pramugari El Al Israel Airlines Koma 10 Hari! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman jpost.com (14/8), awak kabin yang bernama Rotem Amitai ini menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (13/8) kemarin setelah lima bulan bertahan hidup melawan penyakit ensefalitis atau radang otak dan dugaan kuat virus campak. Sejak 31 Maret 2019, Rotem dirawat di salah satu rumah sakit di Israel, Meir Medical Center setelah sebelumnya menjalani penerbangan El Al Airlines flight LY002 dari New York pada tanggal 26 Maret dan tiba di Tel Aviv pada keesokan harinya. Beberapa hari berselang, Ibu dari tiga anak ini dinyatakan koma setelah tim dokter yang menangani Rotem menyatakan bahwa ia menderita ensefalitis. Dari serangkaian tes yang dijalani oleh Rotem sebelumnya, tim dokter menyatakan bahwa ia baru mendapatkan vaksin campak sekali – seharusnya dua kali. Namun nasib berkata lain, Rotem dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter yang menangani kasusnya ini di Rabin Medical Center-Beilinson Campus, Israel setelah kondisinya kian memburuk dari hari ke hari. Baca Juga: Diterjang Bau Kentut, Tiga Awak Kabin Tumbang “Kami dari pihak El Al Israel Airlines mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian mendiang Rotem, dan kiranya keluarga mendiang diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar salah satu juru bicara perusahaan. “Setelah kasus ini terungkap (persebaran virus campak), kami bekerja keras untuk terus memvaksinasi kru kami dan perusahaan juga akan terus berpedoman pada ketentuan yang sudha diterapkan oleh Departemen Kesehatan sebelumnya,” sambungnya.  

Hanya Empat Penumpang Selamat, Tragedi JAL 123 Kecelakaan Udara Terburuk di Jepang

12 Agustus 34 tahun lalu selalu dikenang sebagai hari yang kelam dalam dunia kedirgantaraan. Di tahun 1985, sebuah pesawat jumbo jet Boeing 747SR  milik Japan Airlines (JAL) dengan nomor penerbangan 123 jatuh di pegunungan Takamagahara, Prefekur Gunma atau tepatnya 100 km dari Tokyo, Jepang. Baca juga: Terdampak Cuaca Buruk, Pesawat Carter ini Tergelincir Menuju Jalan Tol Penerbangan nahas tersebut mengangkut 509 penumpang dan 15 awak. Dalam insiden kecelakaan itu sebanyak 505 penumpang dan 15 awaknya tewas. Bahkan seorang aktor dan penyanyi terkenal Jepang, Kyu Sakamoto ikut tewas dalam kecelakaan pesawat paling mematikan dalam sejarah. Namun, hal mengejutkan lainnya adalah ada empat penumpang yang selamat dari kecelakaan dan semuanya perempuan.
Monumen mengenang kecelakaan JAL123
Mereka adalah seorang pramugari JAL Yumi Ichiai yang tengah cuti dan terjepit di antara kursi, seorang ibu dengan anaknya berusia 8 tahun Hiroki Yoshizaki dan Mikiko Yoshizaki yang terkurung di runtuhan badan pesawat dan anak perempuan 12 tahun Keiko yang terlempar ke semak-semak. Keempatnya bahkan diketahui saat itu duduk dalam satu barisan yang sama di sebelah kiri bagian belakang pesawat. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pesawat tersebut awalnya berangkat dari Bandara Haneda di Tokyo yang akan menuju ke Bandara Internasional Osaka. Pesawat JAL 123 tersebut saat itu tengah mengangkut masyarakat Jepang yang akan pulang ke kampung halaman untuk merayakan festival keagamaan ‘Obon’ yakni acara menghormati arwah leluhur. Kronologis kecelakaan ini, pesawat JAL 123 lepas landas dari Bandara Haneda pukul 18.12 waktu setempat. Setelah 12 menit lepas landas, bagian penyekat buritan belakang pesawat pecah dan mengalami beberapa ledakan dekompresi parah yang merobek ekor pesawat. Terlepasnya ekor pesawat kemudian merusak sistem hidrolik pesawat secara keseluruhan dan membuat melayang-layang tanpa terkendali selma 30 menit sebelum akhirnya jatuh menabrak gunung. Awalnya sebelum jatuh, pilot mencoba mencari tempat mendarat darurat, dimana mula-mula kembali ke Bandara Haneda di Tokyo, tempat pesawat ini lepas landas. Ketika pesawat semakin tidak terkendali, pilot mencoba terbang menuju pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di Yokota. Namun, semua usaha tersebut sia-sia. Pukul 18.56 waktu setempat, pesawat hilang kontak dengan radar dan menabrak punggung gunung dan menabrak kedua gunung kemudian terbalik serta menghantam tanah dimana punggung pesawat terlebih dahulu. Dari penyelidikan kecelakaan pesawat yang dilakukan omisi Penyelidik Kecelakaan Pesawat dan Kereta Api Jepang kemudian, ekor pesawat tersebut pernah tersenggol dalam sebuah pendaratan di Bandara Itami pada 2 Juni 1978. Ekor pesawat itu kemudian tidak diperbaiki dengan sempurna oleh teknisi Boeing dan JAL yang menyebabkan berkurangnya kemampuan penyekat bertekanan bagian belakang (rear pressure bulkhead) dalam menahan beban tekanan selama penerbangan sehingga mengakibatkan kelelahan logam dan kecelakaan tersebut terjadi. Pasca kecelakaan, Presiden JAL, Yasumoto Takagi, memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Di Haneda, seorang manajer perawatan JAL memutuskan bunuh diri akibat tidak kuat menanggung rasa malu yang telah ditimbulkannya kepada perusahaan. Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu Pihak maskapai kemudian memutuskan tak lagi memakai nomor penerbangan Japan Airlines 123 untuk rute Tokyo-Osaka dan menggantinya dengan penerbangan 127. Tak hanya itu, Japan Airlines juga mengganti jenis pesawat yang digunakan dari Boeing 747 menjadi Boeing 767 dan Boeing 7777. Di Prefektur Gunma, lokasi yang berdekatan dengan kecelakaan dibangun monumen untuk mengenang para korban.

Kelola Bandara-bandara Potensial di Dalam dan Luar Negeri, Angkasa Pura I Gandeng Incheon

Dalam persiapan mengelola bandara yang selama ini dikelola Kementerian Perhubungan, PT Angkasa Pura I telah menggadeng Incheon Internasional Airport Corporation (IIAC), Korea Selatan untuk menjajaki peluang kerja sama pengelolaan bandara. Tidak hanya pada potensi di dalam negeri, kerja sama ini juga mencakup pengelolaan bandara di luar negeri. Baca juga: Bangun Fasilitas Bandara di 2019, Angkasa Pura I Investasikan Rp17,24 Triliun Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang dilakukan oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi dan Presiden CEO IIAC Koo Bon Hwan, di Incheon, Korea Selatan, Rabu (14/8/2019). Seperti diketahui, Angkasa Pura I saat ini tengah dalam proses untuk mengelola beberapa bandara yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan RI seperti Bandara APT Pranoto Samarinda, Bandara Sentani Jayapura, Bandara Juwata Tarakan, serta Bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk. Angkasa Pura I juga tengah mengikuti tender untuk mendapatkan kontrak kerja sama pengelolaan Bandara Komodo Labuan Bajo dan Bandara Hang Nadim Batam. “Kerja sama ini pada tahap awal fokus pada upaya untuk menangkap peluang kerja sama pengembangan dan pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam yang ditender oleh Kementerian Perhubungan. Nantinya Angkasa Pura I akan membentuk konsorsium dalam rangka partisipasi seleksi Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Bandara Hang Nadim,” ujar Faik Fahmi dalam pesan tertulis. Baca juga: Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat Selain Bandara Hang Nadim, nota kesepahaman ini juga mencakup rencana pengelolaan bandara di luar negeri, antara lain Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Bandara di Kuwait, serta bandara regional lainnya yang memungkinkan.

Panel Sayap Lepas, Boeing 777-300ER China Eastern Terpaksa Return to Base

Bagi Anda yang gemar duduk di samping jendela pesawat, apa yang akan Anda rasakan jika melihat salah satu panel yang ada di bagian sayap lepas? Jawabannya tentu saja tegang, bukan? Ya, inilah yang dirasakan oleh penumpang Boeing 777-300ER yang dioperasikan oleh maskapai China Eastern. Baca Juga: Bermasalah di Mesin, Airbus A330 China Eastern Terpaksa Return to Base Dilaporkan, salah satu panel yang ada di sayap pesawat ini lepas taklama setelah pesawat meninggalkan landas pacu John F. Kennedy International Airport, New York City pada Senin (12/8) kemarin. Walhasil, burung besi yang seharusnya melanjutkan perjalanan menuju Shanghai ini terpaksa kembali ke New York guna pemeriksaan lebih lanjut. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, salah satu panel sayap Boeing 777-300ER sebelah kiri terlepas ketika pesawat dengan nomor penerbangan MU588 ini saja mengudara.
Perjalanan China Eastern MU588 yang sempat berputar-putar di atas Green Mountain National Forest. Sumber: FlightRadar24
Jika dilihat dari laman FlightRadar24, pesawat ini lepas landas sekira pukul 19.00 waktu setempat – atau terlambat dua jam dari jadwal yang seharusnya. Ketika mencapai ketinggian 23.000 kaki, tampak China Eastern MU588 berputar beberapa kali di atas Negara Bagian New York, Massachusets, dan New Hampshire – tepatnya pesawat berputar-putar di atas Green Mountain National Forest.
Panel sayap Boeing 777-300ER milik China Eastern yang lepas. Sumber: istimewa
Pada awalnya, pihak bandara masih kebingungan terkait apa yang dilakukan oleh pesawat ini, apakah mereka sedang berusaha membuang bahan bakar, atau apa. Kuat dugaan, pilot yang sudah mendapat laporan terkait lepasnya salah satu panel pada bagian sayap ini memutuskan untuk mengosongkan tangki bahan bakar terlebih dahulu dengan cara berputar-putar di atas Green Mountain National Forest sebelum pada akhirnya melakukan pendaratan kembali di New York. Baca Juga: Romantis Berujung Pahit, Pramugari China Eastern Airlines Justru Dipecat Setelah Dilamar di Udara Dua setengah jam berselang setelah keberangkatannya, China Eastern MU588 kembali ke New York dan tidak ada penumpang yang mengalami cidera terkait insiden ini. Merujuk pada keselamatan penumpang, pihak maskapai memutuskan untuk Return to Base (RTB) dan memperbaiki terlebih dahulu kerusakan terkait sebelum pada akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Negeri Tirai Bambu. Menanggapi insiden ini, pihak China Eastern membenarkan apa yang terjadi dan mengatakan mereka telah mengakomodasi sekitar 300 penumpang yang ada di dalam penerbangan tersebut dengan pesawat baru. Pihak maskapai enggan memberikan informasi lebih lanjut terkait insiden ini.