Ternyata, Sandaran Kursi Mobil Sudah Ada Sejak 1930-an

Lelah dan ingin beristirahat sejenak ketika mengendarai mobil? Ini hal yang sangat diwajarkan dan biasanya pengemudi akan menurunkan sandaran kursi mereka untuk merebahkan diri sesaat. Baca juga: Di Zaman Koboy, Kursi Depan Penumpang Disebut “Shotgun” Sebenarnya sejak kapan ada sandaran kursi di mobil dan apakah gunanya hanya untuk bersandar atau hal lainnya? KabarPenumpang.com melansir dari laman theglobeandmail.com, kursi mobil dengan sandaran ternyata bukan sebuah penemuan yang modern. Pasalnya kursi dengan sandaran pertama kali muncul pada 1930-an dimana diperkenalkan bagi pengemudi mobil untuk tidur. Sedangkan tahun 1950-an dan 1960-an, kursi mobil dibuat sangat lapang sehingga bisa digunakan untuk tidur tanpa perlu sandaran. Sedangkan sandaran yang melengkapi kursi saat ini tidak seperti masa lalu yang bisa dengan lapang untuk tidur selonjoran. Sebab dibatasi karena ada kursi belakang yang menghalangi. Insinyur kenyamanan kursi Ford, Mike Kolich mengatakan, sandaran kursi sebagaian besar tidak dirancang untuk berfungsi ganda atau tempat tidur yang pas seperti untuk berkemah. Sandaran kursi ini juga tidak diuji secara resmi untuk kenyamanan tidur siang pengemudi. “Itu biasanya bukan tes yang kita lakukan. Saya memang ditanya apakah kursi bisa begitu nyaman sehingga pengemudi mungkin tertidur saat mengemudi, tapi itu bukan masalah,” kata Kolich. Dia menambahkan, bahwa tidak pernah memiliki pelanggan yang mengakui bahwa mereka menggunakan sandaran kursi untuk bermain-main atau meminta desain yang mungkin membuat sedikit nyaman. “Kami membaca ribuan komentar dan saya belum pernah mendapatkannya. Mungkin mereka terlalu malu untuk menulis hal seperti itu dalam catatan,” kata dia. Kolich menjelaskan, tujuan kehadiran sandaran kursi sendiri bukanlah untuk tidur siang atau malas-malasan. Dia mengatakan, percaya atau tidak ini juga terkait keselamatan dan juga untuk mendapatkan posisi yang nyaman saat mobil beroperasi. “Mobil itu tidak selalu beroperasi, terutama hari ini. Orang menggunakannya untuk kantor bergerak. Orang-orang menginginkan keserbagunaan,” ujarnya. Baca juga: Sabuk Pengaman Ternyata Sudah Ada Sejak 1800-an Selain itu, sandaran kursi juga bisa digunakan pengemudi ketika menunggu di mall, stasiun atau terminal ketika menunggu atau menjemput seseorang. Juru bicara GM Canada George Saratlic mengatakan, pengemudi bisa merebahkan kursi, menyalakan radio dan bersantai sembari menunggu.

Citilink Rute Domestik Mulai Beroperasi Sementara di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia mulai Kamis, 15 Agustus 2019, resmi memindahkan seluruh operasional penerbangan rute domestiknya untuk sementara waktu di Bandara Soekarno-Hatta ke Terminal 2 Domestik dari sebelumnya di Terminal 1C. Baca juga: “Dining Experiences” dari Citilink Bantu Penumpang Kreasikan Set Hidangan dalam Penerbangan “Perpindahan ini dilakukan menyusul revitalisasi Terminal 1C yang dilakukan oleh Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang,” kata VP Corporate Secretary & CSR Citilink Indonesia Resty Kusandarina yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (15/8/2019). Citilink Indonesia telah melakukan persiapan secara intensif dan berkoordinasi dengan stakeholders untuk memastikan operasional berjalan dengan aman dan lancar dan penerbangan on time sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Resty menambahkan bahwa dengan dengan fasilitas dan infrastruktur memadai di terminal 2 Domestik, maka diharapkan mampu meningkatkan pre- maupun post-flight experience penumpang Citilink Indonesia yang melakukan perjalanan dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Adapun penumpang yang akan melakukan perjalanan dalam negeri dengan Citilink Indonesia dapat menuju ke Terminal 2 Domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan masuk ke Check In Counter melalui gate 3. Jadwal penerbangan Citilink Indonesia tidak mengalami perubahan. Namun demikian, penumpang diimbau untuk tiba di bandara tiga jam lebih awal sebelum jadwal keberangkatan serta melakukan check in melalui aplikasi ataupun web untuk mengantisipasi padatnya flow penumpang selama masa transisi. Citilink Indonesia telah melakukan sosialisasi perpindahan terminal di Bandara Soekarno-Hatta ini baik melalui website, SMS, Call Center, ataupun media sosial sehingga calon penumpang terinformasikan dengan baik. Selain itu, sosialisasi di bandara juga dilakukan dengan memasang videotron ataupun digital sign yang dipasang di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Selama masa transisi, Citilink Indonesia bekerjasama dengan stakeholders juga menyediakan fasilitas shuttle gratis untuk penumpang dari Terminal 1C ke Terminal 2 Domestik serta menyiagakan sejumlah petugas untuk mengantisipasi apabila ada penumpang yang salah terminal. Baca juga: Mulai 15 Agustus, Ada Revitalisasi di Bandara Soekarno-Hatta, Citilink Rute Domestik Pindah Ke Terminal 2 Selain itu, selain di Terminal 2 Domestik selama masa transisi penumpang juga masih dapat melakukan check in mandiri (self check in) di Terminal 1C menggunakan mesin yang tersedia disana.

Mesin Mendadak Mati, Lufthansa LH732 Tujuan Shanghai Terpaksa Putar Arah ke Frankfurt

Queen of the Skies yang dioperasikan oleh maskapai asal Negeri Bavaria, Lufthansa dikabarkan terpaksa menghujani sebuah pedesaan dengan avtur setelah salah satu mesin mengalami masalah dan pilot memutuskan untuk return to base. Mesini ketiga dari Boeing 747 ini mengalami macet dan membuat pilot ragu untuk melanjutkan penerbangan dari Frankfurt menuju Shanghai pada Minggu (11/8) kemarin. Beruntung, insiden ini tidak memakan korban sama sekali. Baca Juga: Panel Sayap Lepas, Boeing 777-300ER China Eastern Terpaksa Return to Base Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (13/8), Lufthansa LH732 merupakan layanan penerbangan terjadwal yang dijadwalkan berangkat dari Frankfurt pada pukul 22.05 waktu setempat dan tiba di Shanghai pada pukul 14.50 waktu setempat keesokan harinya. Namun ada yang berbeda dari penerbangan pada tanggal 11 Agustus tersebut, dimana pesawat mengalami keterlambatan selama hampir satu jam. Ketika jam menunjukkan pukul 22.54 waktu setempat, LH732 baru tinggal landas dan prosesi masih berjalan normal sampai saat itu. Tak lama berselang, pilot mendeteksi mesin inboard sebelah kanan mati. Seketika itu juga, pilot langsung berusaha menaikkan ketinggian jelajah ke level 18.000 kaki untuk membuang bahan bakar karena pilot memutuskan untuk return to base dan melakukan pendaratan darurat.
Sumber: flightradar24
Sebenarnya LH732 bisa saja membuang bahan bakar di daerah Eshwege, namun kala itu tengah ada festival musik Open Flair yang dihadiri oleh lebih dari 20.000 orang – tidak mungkin untuk membuang bahan bakar di daerah sana. Mana sang pilot memutuskan untuk membuang bahan bakar di daerah pedesaan Hesse, Jerman. Sekira 90 menit pesawat meninggalkan landas pacu di Frankfurt, LH732 kembali ke landas pacu yang sama dan sejumlah petugas darurat seperti mobil pemadam dan ambulans sudah berjaga-jaga di lokasi alih-alih ada situasi yang membutuhkan penanganan cepat. Baca Juga: Enam Jam ‘Terombang-Ambing’ di Udara, KLM Flight 591 Akhirnya Return to Base ke Amsterdam Menanggapi kejadian ini, pihak Lufthansa mengatakan, “Sebagai tindakan pencegahan, petugas pemadam kebakaran bandara juga tiba mengawal pendaratan darurat, yang merupakan prosedur standar dalam kasus-kasus seperti itu,” “Keselamatan adalah prioritas utama Lufthansa setiap saat. Lufthansa menyesalkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan pada penumpang dan menyediakan pesawat pengganti keesokan paginya untuk mengangkut penumpang ke Shanghai,” ujar pihak Lufthansa dalam sebuah pernyataan resmi.  

Peringati ASEAN Day, AirAsia Tampilkan Livery Spesial yang Sarat Makna

Sebagai salah satu bentuk penyegaran terhadap livery yang terpampang di armadanya dan dalam rangka memperingati ASEAN Day yang jatuh pada tanggal 8 Agustus kemarin, maskapai berbiaya rendah asal Malaysia, AirAsia meluncurkan varian Airbus A320 dengan livery yang bertuliskan “Sustainable ASEAN”. Peluncuran livery spesial ini sendiri terjadi di Bangkok pekan lalu dan dihadiri langsung oleh CEO dari AirAsia, Tony Fernandes. Baca Juga: Ekspansi Bisnis Besar-Besaran, AirAsia Berencana untuk Ganti Slogan! Seperti yang disarikan KabarPenumpang.com dari bebagai laman sumber, tidak hanya logo dari ASEAN Chairmanship saja ayng terpampang pada body Airbus A320 ini, melainkan juga ikon pariwisata terbaik yang ada di wilayah Asia Tenggara, dimana pemasangan gambar ini ditujukan untuk mempromosikan sektor pariwisata yang ada ke mata dunia – dan labih lanjut, negara-negara di Asia Tenggara ini dapat diakui secara global. Tidak hanya sektor pariwisata saja yang akan disasar oleh AirAsia di balik pemasangan livery ini, melainkan juga dari sektor ekonomi juga senantiasa akan terangkat derajatnya. Acara peluncuran ini sendiri dihadiri oleh wakil sekretaris jenderal ASEAN AKP Mochtan, Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand Chote Trachu dan Kementerian Transportasi Thailand, Chaiwat Thongkamkoon, bersama dengan ketua eksekutif AirAsia Group Datuk Kamarudin Meranun dan tentu saja Tony Fernandes selaku CEO dari AirAsia Group. “Sebagai maskapai yang benar-benar ‘ASEAN’, kami senang dapat menunjukkan apa yang membuat rumah kami terlihat lebih istimewa di salah satu pesawat kami dan untuk menegaskan kembali komitmen berkelanjutan kami untuk sesuatu yang lebih keberlanjutan,” ujar Tony Fernandes. Di balik pernyataan Tony tadi, adapun poin berkelanjutan yang tengah diupayakan AirAsia adalah sektor pendidikan tamu, reduksi karbon selama penerbangan, hingga pengelolaan limbah yang dilakukan oleh AirAsia Foundation. Baca Juga: Dengan Santan, AirAsia Tawarkan ‘Restoran’ Cepat Saji dalam Penerbangan Pesawat Airbus A320 dengan nomor registrasi 9M-AJW akan berbasis di Malaysia, di mana ia akan terbang ke lebih dari 50 tujuan di semua 10 negara anggota ASEAN dari Kuala Lumpur. AirAsia juga akan meluncurkan livery pada Airbus A320 yang berbasis di Bangkok akhir tahun ini.

Ini Dia Maskapai Asing yang Sabet Predikat Terburuk dalam Tanggapi Keluhan Penumpang

Ada yang mondar-mandir tidak jelas, ada yang duduk tenang sembari mendengarkan tembang favorit dari gadget masing-masing, hingga ada yang rela meninggalkan ruang tunggu keberangkatan hanya untuk membakar tembakau demi menenangkan diri. Ya, itulah kira-kira skema yang dapat Anda lihat ketika pesawat Anda mengalami keterlambatan pemberangkatan. Tidak puas dengan pelayanan pihak maskapai? Tentu pertanyaan ini tidak bisa digeneralisasi mengingat treatment yang berbeda dari masing-masing maskapai dalam menangani keterlambatan pemberangkatan. Baca Juga: Terkendala Masalah Komputer, Ratusan Penerbangan British Airways Dibatalkan Menilik pada fenomena yang ada di Indonesia, mungkin nama maskapai swasta Lion Air menjadi yang paling depan muncul ketika membicarakan soal keterlambatan. Dari sekian banyak kasus keterlambatan yang dilakukan oleh Lion Air, tidak banyak kompensasi yang diberikan oleh pihak maskapai kepada penumpang – apakah itu berupa pemberian makanan dan minuman, akomodasi penumpang (diberi voucher menginap apabila yang tertunda adalah penerbangan tengah malam), atau bahkan refund tiket penumpang. Mungkin Anda masih ingat dengan kasus mati listrik pada pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT556 tujuan Jakarta – Yogyakarta. Kasus yang terjadi pada tanggal 15 November 2018 lalu ini mengakibatkan penumpang mengalami keterlambatan pemberangkatan hingga kurang lebih tiga jam lamanya dan pihak maskapai hanya memberikan kompensasi berupa nasi bungkus dengan isi yang bisa dibilang seadanya. Namun bagaimana dengan maskapai yang ada di luar sana? Apakah mereka berlaku sama dengan apa yang dilakukan oleh Lion Air di Indonesia? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mirror.co.uk (26/7), ternyata salah satu maskapai asing di luar sana yang terkenal memiliki citra buruk dalam menangani keterlambatan pemberangkatan adalah British Airways. Dalam sebuah survei, satu dari tujuh penumpang maskapai dari Tanah Britania ini puas dengan keluhan keterlambatan penerbangan yang mereka lontarkan. “Penumpang bukan hanya kecewa terhadap pelayanan pihak maskapai yang buruk – bahkan British Airways gagal dalam menangani keluhan penumpang ketika ada penerbangan ditunda atau dibatalkan,” ujar seorang pelancong, Naomi Leach. Berbanding terbalik dengan maskapai kontoversial asal Irlandia, Ryanair, dimana sekitar 58 persen dari keseluruhan penumpang mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak maskapai – terlebih ketika penerbangan mereka mengalami penundaan atau pembatalan. Tidak usah menanyakan tentang maskapai kelas wahid lainnya dalam urusan menangani penumpang. Presentase kepuasan penumpang dari beberapa contoh maskapai wahid adalah: Emirates 74 persen, Jet2 dan Virgin Atlantic dengan angka 73 persen. Baca Juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara Aksi serampangan yang dilakukan oleh pihak British Airways ini agaknya sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi. Pukul mundur ke 1 November 2018 silam, dimana kurang lebih 200 penumpang British Airways Flight 2036 ini terlantar di John F. Kennedy International Airport di New York selama dua hari setelah sebelumnya penerbangan yang menghubungkan Orlando dengan Gatwick International Airport mengalami kendala mesin dan memaksa pilot untuk melakukan pendaratan darurat di New York. Menurut penuturan salah satu penumpang, pihak maskapai terkesan lepas tangan terkait insiden tersebut – tidak ada koompensasi berupa makanan, minuman, atau bahkan akomodasi penumpang. Walhasil, penumpang British Airways Flight 2036 ‘dipaksa’ beristirahat di sekitaran bandara dengan fasilitas seadanya.

Australia, Jadi Satu-satunya Benua Tanpa Kereta Cepat!

Mantan Direktur Pelaksana Hitachi Consultin, Gary Fisher pernah berkata suatu waktu, “Australia adalah satu-satunya benua di planet ini, selain Antartika, yang tidak memiliki kereta berkecepatan tinggi,” Baca Juga: Meski Diidamkan, Hadirnya Kereta Cepat di Australia Belum Dipandang Ideal Hadirnya jaringan kereta berkecepatan tinggi seolah sudah menjadi penanda kedigdayaan suatu negara atau benua. Daya angkut yang relatif banyak dan dikombinasikan dengan kecepatan yang melebihi kereta konvensional membuat kereta cepat seolah menjelma menjadi primadona baru di sektor transportasi darat. Akademisi dari University of Wollongong, Philip Laird pernah menghitung bahwa ada kurang lebih US$125 juta atau yang setara dengan Rp1,8 triliun yang telah dihabiskan untuk studi pengadaan kereta api berkecepatan tinggi, tetapi tidak ada satu kilometer pun koridor yang tersedia hingga saat ini. “Jaringan kereta api berkecepatan tinggi kerap kali masuk ke dalam wacana, namun hingga saat ini hanyalah sekedar wacana saja,” tutur Philip. Tidak adanya tindakan yang benar-benar serius untuk mengadakan jaringan kereta api berkecepatan tinggi menjadi salah satu batu sandungan terbesar bagi Australia – kendati kondisi belakangan ini sudah semakin mendesak otoritas setempat untuk menghadirkan moda transportasi baru ini. Kemacetan yang semakin parah, yang berjalan seiring dengan meningkatnya polusi udara di sana menjadi faktor pendorong pengadaan kereta cepat di garda paling depan. Pun dengan jalur lalu lintas udara yang belakangan ini mencetuskan satu fakta mencengangkan baru – penerbangan dari Sydney menuju Melbourne menjadi rute udara domestik tersibuk kedua di dunia, dengan 54.519 penerbangan dalam setahun. Mau tidak mau, otoritas harus sesegera mungkin untuk menaruh fokus lebih di pengadaan jaringan kereta cepat. Beragam polemik yang menyelimuti pengadaan jaringan kereta cepat ini agaknya terlalu panjang untuk dirunut dari awal – mulai dari peranan pihak swasta, hingga hibah sejumlah dana yang hingga kini tidak jelas juntrungannya. Baca Juga: PM Australia Canangkan Hyperloop untuk Rute Sydney-Melbourne Jika Negara Kangguru ini masih enggan untuk serius dalam pengadaan jaringan kereta berkecepatan tinggi, setidaknya ada upaya lain yang masih bisa mereka dalihkan sebagai pengganti – peningkatan kualitas secara keseluruhan pada jaringan kereta konvensional. Philip mengatakan, bisa saja Australia mengikuti jejak negara lain yang juga tidak memiliki jaringan kereta api berkecepatan tinggi, “dan perlahan meningkatkan kualitasnya satu per satu,” Kualitas yang dimaksudkan di sini adalah dari segi kecepatan moda, kenyamanan dan daya angkut penumpang, hingga kereta baru yang dapat mengular di jaringan yang sebelumnya sudah tersedia.  

Metro Shanghai, Jaringan Kereta Terpanjang di Dunia, Punya 18 Jalur!

Metro Shanghai memiliki total jalur sepanjang 438 mil atau sekitar 705 km dan dibuka tahun 1993 lalu. Bisa dikatakan, Metro Shanghai memiliki sistem transit cepat terbesar di dunia berdasarkan panjang rutenya. Bahkan Metro Shanghai menjadi sistem transit tercepat tertua ketiga di Cina daratan setelah Beijing Subway dan Tianjin Metro. Baca juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia KabarPenumpang.com merangkum dari wikipedia, saat ini sudah ada 18 jalur Metro Shanghai yang mana jalur ke 18 dibuka pada Desember 2018 kemarin. Meski begitu, tampilan tujuan bukan hanya menggunakan Bahasa Cina sederhana tetapi bagi pelancong juga dimudahkan dengan bahasa Inggris. Bahkan pengumuman dalam kereta pun mengunakan dua bahasa yakni Mandarin dan Inggris. Metro Shanghai sendiri beroperasi pukul 05.00 hingga 22.30 waktu setempat atau pukul 06.00 hingga 23.00 waktu setempat. Menjadi jaringan kereta terpanjang di dunia, Metro Shanghai memiliki sistem tiket yang sama dengan metro lain di dunia yang menggunakan tarif berbasis jarak. Dimana jaringan satu tiket ini bisa dilakukan antara semua stasiun pertukaran. Namun ini tidak termasuk beberapa stasiun yang mentransfer ke jalur lain atau harus meninggalkan zona tarif. Sebab ada dua jenis stasiun transfer yakni yang hanya menggunakan kartu transit yang mana penumpang dapat berpindah antar jalur kereta bawah tanah tanpa keluar zona tarif. Jenis lainnya stasiun transfer dengan kartu transit dimana penumpang harus keluar dan masuk kembali ke zona tarif saat mereka berpindah dari satu jalur kereta bawah tanah ke jalur kereta bawah tanah lainnya. Untuk tarif dasar Metro Shanghai sendiri dikenakan tiga Yuan untuk perjalanan di bawah enam kilometer dan satu yuan setiap tambahan sepuluh kilometer. Pengguna Metro Shanghai bisa menggunakan SPTC yakni kartu transportasi umum Shanghai dan mendapat diskon sepuluh persen. Selain itu juga ada tiket perjalanan tunggal atau Tiket Single-Journey yang dapat dibeli dari mesin penjual tiket di beberapa stasiun. Tiket sekali pakai ini bila dikembalikan nantinya bisa digunakan kembali. Bahkan ada kartu transportasi umum Shanghai yang mirip dengan kartu Octopus MTR Hong Kong. Kartu ini bisa dibeli di bank tertentu atau mini market serta stasiun metro lainnya dengan harga 20 Yuan. Selain untuk Metro Shanghai kartu ini bisa digunakan untuk membayar tarif pada moda lainnya seperti taksi atau bus. Untuk memudahkan penumpang, Metro trans dilengkapi dengan layar plasma pada platform yang menunjukkan kepada penumpang pada saaat dua kereta datang dan dilengkapi iklan serta layanan publik. Kereta bawah tanah berisi layar LCD yang menampilkan iklan dan pada beberapa baris, pemberhentian berikutnya, sementara kereta di atas tanah memiliki layar LED yang menunjukkan pemberhentian berikutnya. Baca juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia! Pada 2019, Shanghai memiliki lebih dari 120 km (75 mil) metro yang sedang dibangun. Pada akhir 2020, jaringan akan terdiri dari 19 baris (Baris 1–18 dan Pujiang Line) yang membentang 804 kilometer (500 mil). Selain itu, ada rencana untuk menghubungkan Metro Shanghai dengan Transit Kereta Suzhou di provinsi Jiangsu yang berdekatann penjual otomatis, tetapi harus dibeli di Pusat Layanan di stasiun metro.

Rilis “Park and Ride South Quarter,” MRT Jakarta Kolaborasi dengan Intiland Development

PT MRT Jakarta kembali melakukan penandatanganan kerja sama dan kolaborasi dengan PT Intiland Develpoment Tbk untuk mengembangkan Park and Ride, fasilitas parkir khusus bagi penumpang MRT Jakarta, di kawasan bisnis terpadu South Quarter, Jakarta Selatan pada Kamis (15/8). Baca Juga: “Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta Penandatanganan di lakukan di South Quarter yang dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, dan Direktur Utama PT Putra Sinar Permaja, Utama Gondokusumo, dan Direktur PT Putra Sinar Permaja, B. Chandra Maulana Makmoen. Kerja sama ini ditandai dengan peresmian dan pengoperasian fasilitas Park & Ride oleh jajaran pejabat Pemerintahan Provisi DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta, Manajemen Intiland, dan PT Transportasi Jakarta. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, PT MRT Jakarta dan manajemen Intiland berpandangan penyediaan fasilitas Park and Ride memudahkan masyarakat mencari area parkir terdekat dengan stasiun-stasiun MRT Jakarta. Ketersediaan Park and Ride South Quarter memberikan manfaat bagi masyarakat dan para pekerja kantor di sekitar area Lebak Bulus yang ingin menggunakan fasilitas MRT Jakarta dari Stasiun Lebak Bulus Grab dan Stasiun Fatmawati, Jakarta Selatan. Direktur Pengembangan Bisnis Intiland, Permadi Indra Yoga, menyambut baik kerja sama ini. Kolaborasi ini menjadi bagian dari sejumlah kerja sama mutual dengan pihak MRT Jakarta, sekaligus wujud komitmen bagi kedua belah pihak untuk mendorong kesadaran publik menggunakan transportasi umum. Kenyamanan dan keamanan menjadi faktor penting bagi masyarakat untuk mau berpindah dan menggunakan transportasi publik, termasuk dalam mencari fasilitas parkir kendaraan. “Penyediaan fasilitas ini juga menjadi komitmen kami untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang setiap harinya beraktivitas menggunakan moda transportasi umum. Ini juga bentuk dukungan dan social movement untuk secara bertahap mengurangi tingkat polusi di Jakarta,” ucap Yoga. “Sepanjang koridor Lebak Bulus dan Bundaran HI ini, terdapat setidaknya dua titik park and ride. Satu di area Lebak Bulus dan di South Quarter ini. Kami berharap dengan tersedianya fasilitas park and ride ini, makin banyak masyarakat yang beralih dari pengguna kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi publik, seperti MRT dan Transjakarta,” ucap Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar. “Dengan menggunakan transportasi publik sebagai moda transportasi sehari-hari, kita telah berkontribusi pada banyak hal, misalnya menurunkan tingkat polusi udara, pengurangan kepadatan lalu lintas, hingga menurunkan emisi kendaraan. Kualitas hidup masyarakat akan menjadi lebih baik,” lanjut ia. Fasilitas Park and Ride ini berlokasi di kawasan perkantoran terpadu South Quarter, Jakarta Selatan. Lokasi kawasan ini sangat strategis karena berada di koridor utama TB Simatupang dan berada di antara Stasium MRT Fatmawati dan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Lokasi Park and Ride ini mudah dijangkau hanya berjarak sekitar 700 meter dari Stasiun MRT Fatmawati dan sekitar satu kilometer dari Stasiun Lebak Bulus Grab. Perseroan mengalokasikan lahan untuk area Park and Ride seluas 3.500 meter persegi. Area parkir yang mampu menampung sebanyak 75 mobil dan sekitar 30 unit sepeda motor ini dikelola secara profesional dengan perusahaan pengelola parkir terkemuka nasional. “Adanya fasilitas parkir yang layak sangat berguna bagi masyarakat untuk pindah dari kendaraan pribadi ke moda transportasi publik, khususnya naik MRT Jakarta. Ini dapat menjadi gaya hidup masyarakat urban yang baru, lebih aman, lebih cepat, dan lebih efisien dalam beraktivitas setiap harinya kota Jakarta,” ujar Yoga lebih lanjut. Selain dilengkapi fasilitas parkir yang baik dan nyaman, juga tersedia layanan bis TransJakarta yang akan mengantar para penumpang dari halte Park and Ride menuju stasiun MRT terdekat. Ketersediaan layanan bisa ini tentu akan memudahkan dan meningkatkan kenyamanan masyarakat yang memarkir kendaraan di area Park and Ride South Quarter. Baca Juga: MRT Jakarta Libatkan 16 UMKM di Lima Stasiun Keunggulan lain dari Park and Ride South Quarter adalah penerapan tarif parkir khusus. Berbeda dengan tarif parkir yang berlaku reguler, tarif parkir di Park and Ride jauh lebih murah, yakni hanya senilai Rp5.000 per hari untuk mobil dan Rp2.000 per hari untuk sepeda motor. “Tarif khusus ini hanya berlaku bagi para penumpang MRT Jakarta pada hari tersebut,” ungkap Yoga. Manajemen Intiland dan MRT Jakarta optimis fasilitas Park and Ride memberikan kenyamanan dan nilai tambah bagi para penumpang MRT Jakarta. Layanan ini juga sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan selatan Jakarta, Fatmawati, Cilandak, Lebak Bulus, Cinere dan kawasan sekitarnya.

Mesin Dihantam Bird Strike, Airbus A321 Ural Airlines Hard Landing di Ladang Jagung

Bertabrakan dengan burung alias bird strike adalah momok yang menakutkan bagi setiap pesawat saat proses lepas landas dan mendarat. Bila kejadian burung masuk ke air intake mesin jet, maka bisa berakibat sangat fatal. Seperti hari ini ada kabar dari Ural Airlines Penerbangan U6178, disebutkan pesawat yang diketahui dari jenis Airbus A321 ini mengalami bird strike sesaat setelah lepas landas dari Bandara Zhukovsky, Moskow, dimana pesawat sejatinya akan terbang menuju Simferopol di Krimea. Baca juga: Dihantam Bird Strike, Hidung Airbus A380 Singapore Airlines Berlumuran Darah Mengutip sumber dari flightglobal.com (15/8), disebutkan pesawat mendapat serangan dari kawanan burung yang mengarah ke bagian mesin. Atas kejadian tersebut, pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di sebuah ladang jagung. Lantaran melakukan pendaratan darurat, pesawat dikabarkan mengalami kerusakan serius akibat hard landing di ladang jagung di distrik Ramenskoye. Ada 226 penumpang dan tujuh awak ketika pesawat jatuh dengan sedikitnya 23 orang terluka. Informasi penerbangan resmi dari Bandara Zhukovsky menyatakan bahwa penerbangan U6178 berangkat ke Simferopol pada pukul 06:05 waktu setempat. Data meteorologi dari Zhukovsky menunjukkan bahwa kondisi cuaca baik. Komite Penerbangan Rusia belum memberikan rincian lebih lanjut tentang kecelakaan ini, timm investigasi diwartakan telah dibentuk untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kecelakaan ini. FlightGlobal.com mengidentifikasi pesawat yang mengalami nahas ini dengan kode VQ-BOZ. Cirium’s Fleets Analyzer menyebutkan Airbus A321 Ural Airlines menggunakan mesin CFM56. Status pesawat ini adalah disewa dari perusahaan leasing Aviation Capital Group. Sebelum ini, pesawat yang sama pernah mengalami insiden pada 2013, yaitu ada kerusakan pada sayap akibat menghantam antena di tarmak pada Bandara Kazan. Baca juga: Terdampak Bird Strike, Cathay Pacific Terpaksa Return to Base Bird strike pada pesawat dapat berakibat pada struktur badan pesawat maupun pada mesin pesawat itu sendiri, khususnya pada bagian mesin jet pesawat. Bila burung terkena mesin pesawat, mesin akan kehilangan daya dorong dan burung akan terbawa ke intake udara mesin. Hal tersebut akan berakibat fatal dan memungkinkan terjadinya kecelakaan fatal akibat mesin mati dan terbakar.

Pelajari Keunggulan Seoul Metro, MRT Jakarta Kembangkan Kapasitas Operasi dan Sistem Pemeliharaan

Guna mengembangkan kapasitas operasi dan sistem pemeliharaan perkeretaapian di kota besar, PT MRT Jakarta perlu mengadaptasi dan mempelajari sistem di luar negeri yang telah mapan dan maju, sebagai wujudnya PT MRT Jakarta telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Seoul Metro. Baca Juga: Gandeng ITDT, MRT Jakarta Siap ‘Manjakan’ Pejalan Kaki dan Pesepeda Sebagaimana siaran pers yang diterima oleh KabarPenumpang.com (15/8), ruang lingkup Nota Kesepahaman ini meliputi pengeksplorasian dalam pengembangan pengoperasian dan pengelolaan pusat kendali operasi (OCC); pengembangan kemampuan perawatan rolling stock dan depo; pengembangan pengetahuan atas kemampuan SAMBA (Smart Automatic Mechanical Big data Analysis-system) dan smart station; pengelolaan automatic fare collection (AFC); serta berbagai kegiatan knowledge sharing terkait lainnya. Rencananya Nota Kesepahaman ini akan berlaku selama dua tahun ke depan. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, dan Chief Executive Officer Seoul Metro, Taeho Kim. “Penandatanganan Nota Kesepahaman ini adalah kunjungan balasan sebagai tindak lanjut benchmarking PT MRT Jakarta pada Juni 2019 lalu di Korea Selatan, di mana kami melihat bahwa Seoul Metro sebagai salah satu operator kelas dunia yang mengelola delapan jaringan dengan 340 kilometer jalur, kami menganggap perlu mendapatkan pengetahuan dari keandalan operasional mereka, terutama terkait penggunaan teknologi data raksasa (big data) dalam aspek operasional stasiun dan menjalankan rangkaian kereta,” ujar William Sabandar. “Kami berharap kompetensi operasionalisasi MRT Jakarta dapat meningkat dengan baik melalui kerja sama ini,” lanjut ia. Baca Juga: BlueBird dan MRT Jakarta Sepakat Lakukan Studi Integrasi Layanan dalam Enam Bulan Seoul Metro dikenal sebagai peraih penghargaan Operational and Technological Excellence dari UITP (Union Internationale des Transports Publics) adalah the International Association of Public Transport untuk proyek “Introducing Observer Pattern-based system for failure prediction of railway facilities (SAMBA)”