Kerap Jadi Biang Kemacetan, Driver Ojol Harus Lebih “Peka” Marka Lalu Lintas

Siapa di antara Anda yang tidak pernah menggunakan layanan ojek online (ojol) sama sekali? Entah untuk kebutuhan mobilitas dari satu titik menuju titik lainnya, memesan makanan, hingga mengirimkan paket, pasti kebanyakan dari Anda pernah mengandalkan salah satu fitur yang disediakan oleh layanan ojol, ya!! Kendati memiliki banyak fungsi yang dapat memudahkan aktivitas sehari-hari – khususnya yang berkaitan dengan mobilitas, namun kehadiran ojol tidak melulu menguntungkan.

Baca Juga: Pasca Pemberlakuan Tarif Baru, Pengemudi Ojek Online Keluhkan Sepinya Order

Coba Anda tengok di setiap stasiun commuter line yang ada di Ibukota dikala peak hours, puluhan driver ojol ‘ngetem’ guna menyambut pelanggannya masing-masing. Seolah tidak mengindahkan marka jalan “S coret”, puluhan driver ini terkesan menantang regulasi yang sudah ditetapkan sebelumnya dan tidak memperdulikan sahut-sahutan klakson dari pengguna jalan lainnya. Suasana crowded seperti ini seyogyanya sudah menjadi satu kewajiban yang terjadi di daerah Jabodetabek.

Itu baru dari stasiun saja, bagaimana dengan infrastuktur transportasi lainnya? Jadi wajar saja apabila dengan ngetemnya oknum ojol di sejumlah fasilitas publik malah semakin memperparah tingkat kemacetan di Ibukota.

Belum lagi adanya fitur “grabnow” yang dihadirkan oleh Grab, dimana fitur ini disinyalir membuat para driver ojol ini semakin enggan untuk mencari penumpang. Ya, penumpang bisa langsung memilih driver ojol yang sedang ngetem untuk mengantarkannya sesuai koordinat yang sudah dimasukkan sebelumnya.

Memang, kedengarannya sangat sepele, namun siapa sangka bahwa kemacetan di wilayah Jabodetabek ternyata berimbas pada hilangnya Rp65 triliun setiap tahunnya. Mengutip dari laman kompas.com, apabila angka tersebut dijadikan barang, dalam lima tahun sudah bisa berbentuk Mass Rapid Transit (MRT), dan Light Rail Transit (LRT). Angka tersebut merupakan data yang dipegang oleh Bapennas terkait pelaksanaan sistem transportasi publik terintegrasi.

Sebagai upaya untuk mereduksi kemacetan yang timbul di sekitaran stasiun, PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) menyatakan bahwa pihaknya telah menyediakan lokasi khusus untuk para driver ojol yang hendak mengantar atau menjemput penumpangnya.

“Stasiun Bekasi, Tangerang, Bogor, Duren Kalibata, Manggarai, dan Gondangdia, namun tidak bisa semua stasiun memungkinkan untuk menyediakan lokasi khusus untuk ojek online,” ujar juru bicara PT KCI Anne Purba (27/3/2019), dikutip dari laman sumber terpisah.

Sementara Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar ternyata telah terlebih dahulu menyadari potensi masalah ini. Untuk mengatasi masalah semacam ini, William mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan operator layanan tersebut untuk membantu penataan – di antaranya dengan memberikan penalti atau sanksi bagi pengemudi ojek online yang tidak mematuhi aturan seperti mengambil penumpang di luar tempat yang telah ditentukan.

Baca Juga: Jawaban Atas Buruknya Infrastruktur Transportasi, di Mogadishu Kini Meluncur Layanan “Ojek Online”

Pada akhirnya, kesadaran untuk mematuhi marka lalu lintas (seperti mangkal di bawah rambu dilarang berhenti atau parkir) memang perlu ditumbuhkan oleh setiap pengguna jalan – bukan hanya dari kalangan driver ojol saja. Selain itu, sanksi tegas juga perlu diterapkan oleh masing-masing operator ojol agar terciptanya kondisi lalu lintas yang kondusif.

Jadi, yuk kita semua lebih peka terhadap sekitar dan tetap patuhi marka lalu lintas yang sudah ditetapkan sebelumnya, ya!

Skai – Moda eVTOL Multifungsi yang Punya Cost per Ride Setara Uber

Dewasa ini, pengembangan moda transportasi udara memang tengah ramai digalakkan oleh sejumlah perusahaan. Tidak melulu mengembangkan pesawat narrow body bertenaga ‘super’ untuk menempuh perjalanan antar benua saja, pun dengan pengembangan taksi udara yang kini tengah diupayakan untuk bisa segera beroperasi secara legal. Diantara sejumlah perusahaan yang ikut berkecimpung di ranah taksi udara, salah satu yang siap untuk mengudara di tahun 2020 dan didaulat sebagai yang paling ramah lingkungan adalah Skai.

Baca Juga: Terima Kucuran Dana Segar, Volocopter Fokus Kembangkan VTOL Andalannya

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/6/2019), Chief Technology Officer (CTO) sekaligus co-founder dari Alaka’i Technologies (induk perusahaan dari Skai), Brian Morrison mengatakan bahwa dirinya sangat percaya diri dengan teknologi yang dikembangkannya – dimana moda electric Vertical Take Off Landing (eVTOL) ini mampu untuk mendarat di berbagai landasan, namun tetap memiliki cost per mile yang sama dengan Uber ride yang ada di darat.

“Selain itu, kami (Skai) juga tidak seperti kebanyakan perusahaan yang mengedepankan penggunaan baterai litium, namun menggunakan bahan bakar hidrogen yang mampu membuat Skai mengudara lebih dari 20 menit,” ujar Brian Morrison.

“Penggunaan bahan bakar hidrogen ini juga berterima dengan uji sertifikasi yang dilayangkan oleh Federal Aviation Administration (FAA), dan kami percaya bahwa Skai dapat memulai operasi komersialnya pada tahun 2020 mendatang,” imbuhnya percaya diri.

Jika dilihat dari bentuknya, Skai memiliki desain yang sangat mirip dengan Volocopter, dimana Skai juga dilengkapi dengan enam baling-baling yang berada di setiap sisi sebelah atas kabin dan mampu mengangkut hingga enam penumpang sekaligus. Menurut Brian Morrison, carian hidrogen yang menjadi bahan bakar dari Skai ini berada di dalam on board.

“Sebenarnya, Skai menggunakan hidrogen dalam bentuk gas, maka dari itu ada proses perubahan senyawa dari cair menjadi gas di dalam Skai dengan cara pemanasan,” terang Brian Morrison.

Baca Juga: Soal Taksi Udara, Inilah Serangkaian ‘PR’ yang Kudu Diselesaikan Volocopter

Sementara untuk tangki penampungan cairan hidrogen ini sendiri, Brian Morrison mengatakan bahwa Skai memiliki beberapa varian volume, mulai dari 110 liter hingga yang paling besar adalah 400 liter. Tentu saja, semakin besar volumenya, maka semakin jauh pula jarak tempuhnya – mulai dari 420 mil (676km) hingga 430 mil (692km), dengan waktu mengudara hingga empat jam lamanya.

Menyinggung soal murahnya tarif yang akan dikenakan untuk Skai di masa yang akan datang (sebanding dengan perjalanan darat menggunakan Uber), Brian Morrison mengatakan bahwa ini dapat tercapai karena harga dari hidrogen yang diperkirakan akan lebih murah dari bahan bakar lainnya. Selain itu, mudahnya Skai untuk dioperasikan dari darat juga akan berperan dalam penentuan tarif pengoperasiannya kelak.

Wujudkan Bandara Ramah Lingkungan, Bandara Dubai Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Apakah Anda masih ingat dengan kebijakan yang diberlakukan oleh maskapai asal Negeri Kangguru, Qantas dalam upayanya untuk menekan produksi limbah? Ya, maskapai berjuluk The Flying Kangaroo ini rencananya akan membatasi penggunaan kertas boarding pass dan menggantinya dengan sistem digital di tahun 2019 ini. Tidak hanya itu, Qantas juga berencana untuk menggunakan alternative packaging untuk mengatasi problematika gelas kopi atau bahan plastik lainnya yang bisa didaur ulang.

Baca Juga: Tekan Limbah, Qantas Tahun Ini Stop Penggunaan Boarding Pass Berbahan Kertas

Nah ternyata, dalam hal ini Qantas tidak berjalan sendiri – ada Dubai International Airport yang juga akan menerapkan regulasi serupa dalam upayanya untuk menciptakan bandara yang ramah lingkungan. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/6/2019), bandara dengan kode IATA DXB ini telah memutuskan keputusannya untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai dari ruang konsumennya, terhitung sejak 1 Januari 2020 mendatang.

Sebagai bagian dari janjinya, Dubai International Airport telah melarang penggunaan lebih dari 150.000 sedotan, yang jika digabungkan maka akan menghasilkan panjang 30km. Tercatat bahwa sedotan plastik adalah salah satu bahan plastik sekali pakai yang paling sering digunakan. Kepala Pemasaran dari Emirates Leisure Retail Costa Coffee, Shemine Jones mengatakan, “Kami akan menghentikan penggunaan sedotan plastik dan kami akan menggantinya dengan opsi yang lebih ramah lingkungan,”

“Dan dalam mengeksekusi rencana ini, kami akan bermitra dengan Dubai International Airport dan orang-orang lain yang kompeten di bidang ini,” tandas Shemine.

Baca Juga: Ikuti Jejak Qantas, Singapore Airlines Optimalkan Pengurangan Limbah Penerbangan

Program ini dilakukan dalam kemitraan dengan lebih dari 106 bisnis yang beroperasi di Dubai Internatinal Airport. Menurut operator bandara, berbagai tindakan termasuk pelarangan kantong plastik, peralatan, dan penerimaan kertas telah dilaksanakan sejak beberapa waktu ke belakang. Operator bandara mendaur ulang lebih dari 43.000 ton kertas, gelas, dan limbah lainnya setiap tahun sebagai bagian dari komitmen untuk mengurangi dampak lingkungannya. Dalam enam bulan terakhir, bandara menghilangkan sekitar 16t botol dan tutup plastik sekali pakai.

Wakil presiden eksekutif Dubai Airports Commercial, Eugene Barry mengatakan: “Di bandara yang menampung sekitar 90 juta orang per tahun ini, kami percaya kami dapat membuat perbedaan nyata dengan cara menghilangkan plastik sekali pakai di ruang konsumen,”

KLM Gandeng TU Delft Kembangkan Pesawat Hemat Energi “Flying-V”

Maskapai Kerajaan Belanda, KLM Royal Dutch Airlines menunjukkan komitmen untuk mendukung Delft University of Technology (TU Delft) di pertemuan tahunan IATA baru-baru ini di Seoul, Korea Selatan. KLM mendukung TU Delft dalam pengembangan pesawat berkonsep hemat energi yang dikenal dengan Flying-V.

Baca juga: Ikuti Jejak Air France-KLM, Muncul Gagasan Merger Singapore dan Malaysia Airlines

KabarPenumpang.com merangkum aerotime.aero (5/6/2019), KLM dan TU Delft menandatangani perjanjian kerja sama pada 2 Juni 2019 kemarin. Pesawat ini dibuat untuk jarak jauh dan berbadan lebar yang mengintegrasikan kabin penumpang, kargo dan tangki bahan bakar dalam struktur sayap sehingga memberikan tampilan futuristik berbentuk V.

Pesawat ini merupakan konsep seorang mahasiswa TU Berlin Justus Benad saat menulis tesisnya di Airbus Hamburg. Benad mendesain kursi untuk sekitar 314 penumpang dan mirip dengan Airbus A350 tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Menurut Dr. Roelof Vos, pemimpin proyek di TU Delft, ini menghasilkan lebih sedikit resistensi dan lebih sedikit bahan bakar yang dibutuhkan untuk terbang.

Demikian juga, seluruh badan pesawat bertindak seperti sayap, yang membuat seluruh sayap permukaan pengangkatan, semakin mengurangi tagihan bahan bakar. Ukuran pesawat yang lebih kecil ini kompatibel dengan infrastruktur bandara saat ini, tantangan penting bagi maskapai penerbangan.

“Kami telah menerbangkan pesawat tabung dan sayap ini selama beberapa dekade sekarang, tetapi sepertinya konfigurasi mencapai puncak dalam hal efisiensi energi. Konfigurasi baru yang kami usulkan mewujudkan beberapa sinergi antara badan pesawat dan sayap. Badan pesawat secara aktif berkontribusi pada pengangkatan pesawat, dan menciptakan gaya hambat aerodinamik yang lebih sedikit,” kata Vos.

Flying-V akan memiliki lebar sayap yang sama dengan A350 pada 65 m (212 kaki 5 in), tetapi akan lebih pendek pada 55 m (180 kaki 5 in). Lebar sayap V juga berarti tidak diperlukan perubahan bandara untuk menangani pesawat.

“Flying-V lebih kecil dari A350 dan memiliki luas permukaan inflow lebih sedikit dibandingkan dengan volume yang tersedia. Hasilnya kurang resistensi. Itu berarti Flying-V membutuhkan lebih sedikit bahan bakar untuk jarak yang sama,” kata Vos.

Dalam desainnya saat ini, ditenagai oleh dua mesin turbofan yang dipasang di belakang, pesawat akan terbang menggunakan minyak tanah, tetapi para pengembang pesawat menyatakan bahwa mereka bermaksud memanfaatkan inovasi terbaru dalam sistem propulsi, misalnya, beralih dari bahan bakar ke listrik mesin turbofan yang didorong.

Para peneliti ditetapkan untuk mengungkap prototipe terbang pesawat baru mereka musim gugur ini, saat KLM merayakan ulang tahun ke 100-nya. Baik model skala terbang dan bagian ukuran penuh dari interior “Flying-V” akan dipresentasikan pada KLM Experience Days di Amsterdam Airport Schiphol (AMS) pada 3-13 Oktober 2019. Prototipe terbang akan dilanjutkan untuk diuji pada kecepatan rendah selama tinggal landas dan mendarat.

“Kami telah melakukan pengujian numerik dan uji terowongan angin awal, tetapi kami perlu melakukan lebih banyak pengujian di terowongan angin – kecepatan tinggi dan kecepatan rendah untuk menunjukkan bahwa pesawat ini efisien seperti yang kami kira,” kata Vos.

Badan pengatur di seluruh dunia telah berdengung tentang perlunya mempercepat pengurangan jejak karbon industri penerbangan, mendorong pengenalan biofuel, solusi inovatif dan pengembangan pesawat yang lebih hemat bahan bakar. Dengan mendanai penelitian “Flying-V” di TU Delft, KLM bertujuan untuk memimpin dalam upaya mengembangkan penerbangan jarak jauh yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Boeing 747-400 Eks KLM “City of Bangkok” Bakal Menjadi Daya Tarik Hotel di Amsterdam

KLM Royal Dutch Airlines adalah bagian dari Grup Air France-KLM, yang secara konsisten mendapat peringkat sebagai salah satu yang paling berkelanjutan di dunia, menurut Dow Jones Sustainability Index (DJSI) untuk maskapai penerbangan. Menurut TU Delft, bentuk aerodinamis dari jet, di mana semua komponen ditempatkan di sayap pesawat, akan mengurangi bobotnya, memungkinkannya menghemat 20 persen bahan bakar dibandingkan dengan pesawat paling canggih saat ini, Airbus A350-900 .

Alas Roban, Jalur Tengkorak Penuh Mistis di Jawa Tengah

Di jalur selatan Jawa, khususnya pada lintasan Garut dan Tasikmalaya dikenal wilayah yang tergolong curam dan berkelok-kelok tajam. Yang dimaksud adalah jalur Nagreg, karena kerap ada kecelakaan, lantas jalur ini identik dengan kesan angker dan berbau mistis. Nah, di jalur utara Jawa, persisnya bila melintasi Pantura ada yang disebut sebagai Alas Roban.  Jalur ini berada di lingkar Kecamatan Grising, Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang juga terkenal dengan kesan mistis.

Baca juga: Jalur Nagreg – Meski Banyak Isu Gaib , Tetap Favorit Saat Musim Mudik

Jalur Alas Roban sendiri memiliki jalan curam berkelok dengan kanan kirinya ditumbuhi pepohonan jati berukuran besar dan tinggi yang akan membuat siapapun merinding saat melintas di sana. Apalagi jalur ini memiliki penerangan yang kurang, sehingga pada malam hari akan membuatnya semakin seram.

Tikungan tajam di Alas Roban

Keangkeran lainnya di jalur Alas Roban ini banyak kejadian tidak lazim dan banyaknya kecelakaan. Bahkan banyak kejadian mistis yang sulit dijelaskan dengan logika. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jalan ini dibangun pada masa penjajahan VOC dengan nama De Grote Postweg.

Kehadirannya untuk memanfaatkan hutan belantara Alas Roban untuk dijadikan sebagai sarana yang menghubungkan perekonomian antara kota maju dengan kota terpencil di wilayah Jawa Tengah. Karena beratnya pekerjaan tersebut, akhirnya banyak korban berjatuhan. Bahkan mayat-mayat mereka dibuang begitu saja di pinggir jalan. Selain itu, pembangunan jalan juga berdampak pada rusaknya pohon-pohon di Alas Roban.

Pembuatan jalan tersebut merupakan gagasan dari Heman Williem Deandles dengan mempekerjakan pribumi secara paksa sekitar tahun 1808. Memang cukup menyeramkan dan ditambah jalan yang curam, sehingga pengemudi baik bus atau kendaraan pribadi yang melaluinya harus dalam kondisi yang baik dan peringatan hati-hati sangatlah wajar.

Bila mengantuk atau kelelahan baiknya berhenti sebelum melalui jalan ini. Sebab ada cerita dimana makhluk halus penunggu hutan senang menumpang dengan pengemudi yang kelelahan dan menyesatkan mereka ke daerah yang tak terpipkirkan. Karena sangat sepi, disekitar Alas Roban sendiri sering terjadi tindakan kriminal seperti begal.

Selain itu di malam hari sering kali kabut turun menyelimuti jalan dan mengganggu pengemudi sehingga menyulitkan jarak pandang. Sehingga banyak yang mengatakan baiknya saat melalui jalur ini jangan malam hari. Banyak rumor yang beredar seputar misteri Alas Roban, salah satu yang populer adalah cerita Alas Roban sebagai tempat pembuangan mayat.

Hal ini dilatarbelakangi oleh tragedi petrus atau penembakan misterius yang terjadi pada era 1980-an. Mayat-mayat yang jadi korban petrus tersebut, kemudian dibuang di daerah hutan Alas Roban. Tempat yang sepi dan jarang dilalui, membuat orang-orang tak mengetahui siapa yang membuang mayat-mayat itu.

Konon, ada sebuah cerita yang menyebut jika mayat-mayat yang dibuang di Alas Roban dengan segera lenyap. Dugaan jika mayat tersebut dimakan hewan buas, namun ada juga rumor jika mayat itu diambil oleh makhluk misterius. Katanya, mayat-mayat inipun sering bergentayangan menampakkan diri di depan orang-orang yang melewati hutan ini.

Pernah ada kejadian yang cukup aneh beberapa tahun silam. Tepatnya pada tahun 2012 lalu, ada sebuah kejadian mistis yang menimpa bus dan truk. Kedua kendaraan tersebut tiba-tiba ada di tengah hutan jati.

Hutan ini berada di daerah Blora, Jawa Tengah, kedua kendaraan itu awalnya ada di jalur Pantura. Untuk menghindari macet, sopir lalu berinisiatif untuk mencari jalur alternatif. Dia merasa berada di jalan Pantura meski mengambil jalan alternatif. Ternyata itu hanya perasan sopir saja.

Soalnya dia malah mengarah ke Kabupaten Blora dan masuk ke area hutan jati. Sopir dan kernet bus baru menyadari posisi mereka setelah mesin tiba-tiba mati. Mereka mengira masih ada di jalan raya, padahal ia di tengah hutan jati yang gelap. Selain itu ada suara benturan yang terdengar. Semenjak peristiwa ini beberapa orang mencurigai adanya mesin waktu di wilayah hutan jati ini.

Baca juga: Secercah Cerita di Balik Jembatan Cincin Yang Melegenda

Kini kondisi jalur pantura Alas Roban sudah terbagi tiga jalur dan sedikit mengurangi kerawanan, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Jalur Alas Roban sendiri juga memiliki julukan jalur tengkorak yang disematkan oleh para pengemudi yang melintasinya.

Qatar Airways Umumkan Jadi Maskapai Pertama yang Operasikan Boeing 777X

Setelah sebelumnya pabrikan pesawat asal Amerika, Boeing merilis varian terbaru dari jet komersialnya, 777X kepada pihak internal perusahaan, kini kabar terbaru datang dari maskapai asal Timur-Tengah Qatar Airways yang dinobatkan sebagai pelanggan pertama pesawat jenis ini. Pernyataan ini dilontarkan langsung oleh Chief Executive Qatar Airways Group, Akbar Al-Baker pada Kamis (6/6/2019) kemarin.

Baca Juga: Goyang Pasar Wide-Body, Boeing Siap Luncurkan 777X 13 Maret 2019

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pesawat yang memiliki ukuran mesin lebih besar ketimbang jenis Boeing 737 ini memiliki dua varian – 777-8 dan 777-9. Jeda pembeda yang memisahkan dua varian ini adalah kapasitas angkut penumpangnya, dimana varian 777-9 memiliki daya angkut yang lebih besar (400 bangku) ketimbang varian 777-8 (350 bangku).

“Kami akan menerima 40 pesawat baru di tahun depan ke dalam armada kami, yang berarti bahwa kami akan mendapatkan 1 pesawat baru rata-rata setiap sepuluh hari. Kami juga, tahun depan, akan menjadi maskapai pertama yang menerima 777X, yang merupakan pesawat terbaru dari Boeing,” kata Al-Baker, dikutip KabarPenumpang.com dari laman urdupoint.com (6/6/2019).

Bertambahnya armada di tubuh Qatar sendiri sejalan dengan bertambahnya destinasi penerbangan di dalamnya. Menurut Al-Baker, salah satu rival terberat dari Emirates ini menambah kira-kira 15 destinasi baru setiap tahunnya, dan kini pihak maskapai tengah melakukan ekspansi bisnis ke Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.

“Kami akan terbang menuju Botswana, Ghana, termasuk Kamerun, dan Zambia dan banyak negara lain seperti Republik Demokratik Kongo, baik di tahun ini dan tahun depan,” kata Al Baker.

Ya, semakin melebarnya sayap bisnis dari Qatar Airways ini merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh setiap maskapai untuk bisa tetap berada di jalur persaingan. Pun dengan penambahan armada atau peremajaan armada yang dilakukan oleh pihak maskapai – ini juga merupakan salah satu cara untuk merebut hati penumpang sembari mengoperasikan rute penerbangan secara efisien.

Baca Juga: Wow! Mesin Boeing 777X Lebih Besar dari Body 737

Jika dilihat dari spesifikasi dasarnya, dikabarkan Boeing 777X lebih efisien 20 persen per-bangku ketimbang saudara tuanya, Boeing 777-300ER. 777X juga memiliki ruang kabin yang lebih besar dengan ukuran jendela yang juga diperbesar. Boeing 777X menggabungkan fitur terbaik dari 777 saat ini dengan badan pesawat yang lebih panjang, mesin baru dan desain sayap komposit dari Boeing 787.

 

Disebut Punya Utang Rp614 Triliun, Berikut ini Klarifikasi dari Lion Air

Berita tentang permohonan dari Lion Air untuk penundaan pembayaran jasa kebandaraan di kuartal I kepada PT Angkasa Pura I (Persero), membuat isu bergulir bahwa maskapai swasta nasional ini tengah dilanda kesulitan keuangan.

Baca juga: Inilah Penjelasan Lion Air Seputar ‘Tingginya’ Harga Tiket Multiple Flight

Penundadaan pembayaran jasa bandara untuk periode Januari hingga Maret 2019 disebutkan guna menjamin terjaganya kelangsungan operasional penerbangan dan pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa angkutan udara dapat terus terpenuhi. Lain dari itu, Lion Air perlu mengambi langkah ini dikarenakan tekanan industri penerbangan, terutama karena pendapatan yang tidak tercapai akibat rendahnya harga jual serta kenaikan berbagai macam biaya.

Lewat siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (13/6), Danang Mandala Prihantoro selaku Corporate Communications Strategic Lion Air Group memberikan klarifikasi mengenai kabar yang beredar bahwa utang Lion Air yang disebut mencapai Rp 614.000.000.000.000 (enam ratus empat belas triliun Rupiah), bahwa informasi utang atau berpotensi hutang serta akan menjadi beban pihak lain adalah tidak benar.

Lion Air Group benar melakukan pemesanan armada (order) lebih dari 800 pesawat udara dari berbagai pabrikan pesawat (aircraft manufacture) di seluruh dunia. Saat ini, Lion Air Group telah menerima lebih dari 340 pesawat dari total pesanan dimaksud dan sudah mengoperasikannya di tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Dalam catatan tertulis, manajemen Lion Air dengan ini menyampaikan, bahwa:

1. Pendanaan dalam pengadaan pesawat udara dilakukan menggunakan berbagai metode/ cara (tidak semua pesawat diperoleh dengan cara meminjam dana).

2. Pesanan pesawat udara tersebut, tidak semua akan dioperasikan di Indonesia.

3. Pengadaan pesawat tidak dijamin oleh siapapun dan tidak menjaminkan siapapun, kecuali Lion Air sendiri yang bertanggungjawab atas pengadaan pesawat yang dilakukan dengan jaminan aset perusahaan, termasuk pesawat yang dibeli. Apabila pesawat tersebut disewa, maka tidak diperlukan adanya jaminan.

Baca juga: Kabar Tiket Lion Air Jakarta-Pekanbaru Tembus Rp6 Jutaan, Ternyata Ada Bias Informasi di Medsos

Danang memastikan bahwa saat ini kondisi operasional dan keuangan Lion Air dalam keadaan normal dan berjalan lancar. Lion Air menegaskan sesuai pandangan dan analisis tajam bisnis ke depan, Lion Air bersama anggota Lion Air Group yang lain akan terus melakukan pengembangan bidang usaha dan rute (ekspansi bisnis).

China Railway Rilis Prototipe Kereta Magnetik Levitasi

Sebuah prototipe kereta api berkecepatan tinggi dikabarkan baru saja diluncurkan di Cina, dimana kereta ini dirancang untuk mengangkut penumpang dan menembus batas kecepatan 600 kilometer per jam (370 mph). Dengan kata lain, kecepatan tersebut lebih tinggi 153 mph daripada kereta penumpang tercepat di dunia yang saat berada dalam layanan antarkota biasa. Kecepatannya hanya berada di level 217 mph saat mengarungi perjalanan dari Beijing menuju Shanghai.

Baca Juga: Mengenal Moda Berbasis Levitasi Magnetik (Maglev)? Ini Dia Serba-Serbinya!

Ya, ini merupakan kereta bukan sekedar kereta baru, yang tengah dikembangkan oleh China Railway Rolling Stock Corporation (CRCC) untuk tidak berjalan di atas rel – melainkan melayang di atasnya – atau magnetik levitasi (maglev). Mengingat kecepatannya yang sangat luar biasa, maka tidak heran jika sebagian orang berpandangan bahwa di masa yang akan datang, perjalanan dengan menggunakan kereta api akan setara atau bahkan lebih cepat dari moda udara – tentu saja dalam kondisi tertentu.

“Perjalanan dari Beijing menuju Shanghai saat ini memakan waktu perjalanan hingga empat jam, dan apabila menggunakan pesawat membutuhkan waktu sekira setengah jam. Apabila kereta maglev ini sudah beroperasi kelak, maka estimasi perjalanannya hanya tiga setengah jam,” ujar kepala tim pengembangan Maglev, Ding Sansan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman nbcnews.com (6/6/2019).

Menurut isu yang berkembang, kereta ini akan mulai memasuki masa operasi pada tahun 2021 mendatang. Kendati sudah beredar luas, namun perusahaan enggan membocorkan tanggalan tepatnya, alih-aiih ada penundaan waktu perilisan. Layaknya mengembangkan sebuah teknologi baru, para peneliti mengungkapkan bahwa dibutuhkan uji coba operasi berulang-ulang kali sebelum layanan ini memasuki masa operasi.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, teknologi kereta maglev telah dikembangkan selama beberapa dekade ke belakang – menggunakan gaya elektromagnet yang kuat untuk melayangkan kereta tepat di atas rel dan memberikan penggerak ke depan. Dengan begitu, kereta maglev mampu menghilangkan gesekan yang tercipta antara roda logam yang digunakan oleh kereta konvensional dengan rel.

Baca Juga: Tercampur Politik dan Isu Kesenjangan Sosial, Akankah Kereta Maglev di Amerika Hanya Sekedar Wacana?

Dengan menggunakan teknologi maglev, maka suara bising dan getaran yang ditimbulkan pun dapat diminimalisir – tidak hanya bagi penumpang yang di dalam kereta saja, melainkan warga yang tinggal di pesisir rel pun dapat merasakan keuntungan dari digunakannya teknologi maglev ini. Jika ditinjau lebih jauh lagi, biaya perawatan dari teknologi ini pun akan senantiasa tereduksi pula.

Helikopter Jatuh di Puncak Gedung Tinggi New York, Pilot Diketahui Tanpa Sertifikat Penunjang

Seorang pilot tewas setelah helikopter AgustaWestland AW109E yang diterbangkannya jatuh di salah satu gedung tinggi 54 lantai di New York. Pilot yang menerbangkan helikopter tersebut diketahui bernama Tim McCormack yang awalnya tidak diizinkan terbang dalam cuaca buruk.

Baca juga: Seorang Penumpang Truk Tewas Terkena Sebilah Rotor Helikopter yang Lepas

Federal Aviation Administration (FAA) mengatakan, Tim ternyata tidak memiliki sertifikat penerbangan yang tepat. Selain itu setiap pilot juga harus memiliki instrumen untuk terbang dalam cuaca buruk. “Pilot ini tidak memliki peringkat instrumen untuk penerbangan cuaca buruk,” ujar FAA yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (12/6/2019).

Seorang analis penerbangan Mary Schiavo mengatakan, untuk mendapat peringkat instrumen tersebut, pilot membutuhkan 100 jam atau lebih pelatihan tambahan selain pelatihan dasar.

“Ini membantu pilot belajar terbang tanpa referensi visual ke langit di bawah aturan penerbangan instrumen, dengan hanya mengandalkan instrumen untuk “terbang buta” di awan atau kabut tebal di bawah arahan kendali lalu lintas udara,” ujar Schiavo.

Diketahui sebelum terjadi kecelakaan tersebut, yaitu Senin (11/6/2019), hujan deras dengan kabut tengah membasahi New York dan jarak pandang di Central Park menurun hingga 1,25 mil atau sekitar 2 km. Tidak itu saja, angin dengan kecepatan sembilan meter per jam menerpa dari arah timur. Saat helikopter jatuh, pihak kepolisian dan pemadam kebakaran langsung menuju lokasi di Midtown Manhattan.

AgustaWestland AW109E

Pejabat kota setempat mengatakan, helikopter tersebut jatuh setelah mencoba mendarat darurat di atas gedung 54 lantai yang tanpa helipad. Kecelakaanitu terjadi 11 menit setelah helikopter berangkat dari heliport.

Helikopter yang diterbangkan Tim lepas landas dari East 34th Street Heliport sekitar pukul 13.32 waktu setempat. Saat berada di ketinggian, Tim mengirimkan pesan ke heliport dirinya akan kembali. Helikopter nahas ini terbang tanpa penumpang, meski begitu kapasitas AW109 bisa membawa tujuh penumpang.

Bahkan terakhir sebelum kejadian dia berkomunikasi dengan heliport dan tak yakin dengan lokasinya saat itu. Kemudian Tim menerbangkan helikopternya disekitar Battery Park di ujung selatan Manattan dan kemudian mulai membelok ke arah Midtown Manhattan sebelum mendarat.

Tim sendiri sudah terbang bersama American Continental Properties selama lima tahun dan menerima lisensi pilot komersialnya pada 2004 lalu. Dari catatan FAA, Tim memiliki sertifikasi sebagai instruktur penerbangan untuk helikopter rotor tahun 2018.

Tahun 2014 lalu, Tim pernah menerbangkan sebuah helikopter di atas Sungai Hudson dengan membawa enam pelancong saat seekor burung menabrak dan memecahkan kaca depan. Hal ini kemudian membuat Tim mendaratkan helikopternya secara darurat.

Atas kejadian kecelakaan yang menimpa Tim pada Senin kemarin membuat Dewan Keselamatan Transportasi Nasional merilis rincian tentang penyelidikan yang bisa menghabiskan waktu hingga dua tahun. Untuk laporan pertama diharapkan dua minggu setelah kecelakaan.

“Helikopter itu tidak memiliki perekam data penerbangan atau perekam suara, juga tidak diharuskan memiliki alat-alat itu. Pesawat itu, bagaimanapun, mengandung perangkat lain untuk merekam data, dan penyelidik terus mencari mereka,” kata penyelidik keselamatan udara NTSB oug Brazy.

Baca juga: Tiba-Tiba Pilot Pingsan, Untungnya Penumpang Wanita Ini Berhasil Daratkan Helikopter

Masalah yang rumit adalah bahwa puing-puing kecelakaan terletak di atap. “Ini sangat terfragmentasi dan kebakaran pascakecelakaan menghabiskan banyak bukti. Pilot tidak pernah berkomunikasi dengan kontrol lalu lintas udara, tetapi itu juga bukan keharusan,” kata Brazy.

Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara

Pengenalan wajah atau face recognition di bandara tidaklah sama dengan pengenalan wajah di ponsel pintar untuk membuka kunci. Seperti di Bandara John F Kennedy yang mana penumpang JetBlue tak lagi perlu memperlihatkan tiket dan paspor mereka ketika melalui keamanan bandara.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Kini Dilengkapi 14 Pemindai Tubuh dengan Teknologi X-CT Scan

Hal ini dikarenakan adanya teknologi pemindaian wajah yang digunakan maskapai ini di gerbang elektronik dan prototipe yang sebelumnya di pasang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman washingtonpost.com (10/6/2019), JetBlue sendiri sudah memindai 150 ribu wajah dalam dua tahun terakhir untuk memverifikasi pelancong internasional sebelum mereka naik ke pesawat.

Bahkan di Bandara Atlanta, maskapai Delta sudah memiliki terminal biometrik yang menggunakan wajah penumpang saat check in, pengambilan tas, keamanan dan gerbang. Tak hanya itu, pemindaian ini juga membantu penumpang internasional lebih cepat sembilan menit dan menghemat dua detik per penumpangnya.

Kehadiran pemindaian wajah ini sendiri menjadikannya efisien dimana maskapai penerbangan dan pemerintah Amerika Serikat untuk tidak mencurigai pelaku kejahatan. Ini juga menjadi salah satu langkah Amerika untuk menormalisasikan dan memperlakukan wajah penumpang sebagai data yang dapat disimpan, dilacak dan lainnya.

Sayangnya sejauh pengunaannya, pemindaian wajah di bandara tidak ada hubungannya dengan peningkatan keamanan penerbangan. Cara pemindaian untuk bandara pun berbeda dengan membuka kunci di ponsel pintar yang hanya dengan memasang wajah senyum.

Tetapi penumpang harus berdiri di atas tanda kaki berwarna biru dan menghadap beberapa detik ke arah sebuah kotak di sebelah kanan dan kamera didalamnya akan mengambil foto sebanyak dua atau tiga hingga mendapatkan gambar yang bagus. Nantinya foto tersebut akan dibandingkan dengan basis data di bea cukai dan perlindungan perbatasan Amerika Serikat untuk menentukan penumpang bisa masuk atau tidak.

Tetapi, ternyata mesin pemindai juga bisa salah dan tidak mengenali dengan jelas penumpang. Bisa dikatakan gerbang elektronik tak berfungsi untuk 15 persen penumpang. JetBlue mengatakan ketidakcocokan dapat terjadi karena sejumlah alasan mungkin penumpang tidak memiliki foto referensi pada file, mencari cara yang salah, terlalu pendek untuk kamera atau telah menumbuhkan jenggot.

Tetapi studi akademik telah menunjukkan bahwa beberapa sistem pengenalan wajah memiliki waktu yang sulit untuk membaca orang kulit berwarna dan wanita. Tingkat keberhasilan dunia nyata yang disaksikan jauh lebih rendah daripada tingkat kecocokan teknis 98 persen yang dikutip oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk menjual gagasan itu kepada anggota Kongres dan publik. Penumpang yang tidak dikenali oleh komputer harus memeriksa paspornya oleh manusia.

“Kami mencari peluang untuk mengurangi titik gesekan dalam perjalanan pelanggan,” kata direktur pengalaman pelanggan JetBlue, Caryl Spoden.

Efisiensi mungkin mengarah pada pelanggan yang lebih bahagia dan menghemat biaya. Ketika penumpang dapat memeriksa bagasi dan naik pesawat sendiri, ada lebih sedikit pekerjaan yang dihafal bagi karyawan, yang dapat ditugaskan untuk berinteraksi dengan pelanggan di tempat lain atau dibuat berlebihan. Yang dikhawatirkan oleh libertarian sipil adalah bandara memeriksa wajah semua orang, termasuk warga negara AS.

Memang benar bahwa bandara sudah menjadi tempat Anda harus menunjukkan identifikasi. Tetapi memiliki komputer yang bisa membuka potensi penyalahgunaan Konstitusi seharusnya melindungi kita dari. Orang-orang di Amerika Serikat tidak dapat digeledah kecuali mereka dicurigai melakukan kejahatan. Dan anonimitas adalah pilar kebebasan berbicara.

“Jika kita menyerah pada ini, kita mengizinkan pemerintah dan maskapai penerbangan untuk membangun basis data pengenalan wajah raksasa dari kita semua,” kata Jennifer Lynch, direktur litigasi pengawasan di Electronic Frontier Foundation.

Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart Security

Pejabat telah mengambil langkah untuk membatasi intrusi. Bea Cukai mengatakan itu menghapus foto yang diterima warga setelah 12 jam. JetBlue dan Delta mengatakan mereka tidak menyimpan foto yang mereka ambil dari kita. Petugas bea cukai dan maskapai penerbangan juga menekankan bahwa partisipasi dalam pengenalan wajah adalah sukarela.

“Ini bukan program pengawasan, karena para pelancong tahu bahwa foto mereka diambil dan itu di tempat-tempat di mana dokumen perjalanan fisik diperiksa,” kata Tanciar.