Sedih! Pencarian CVR Lion Air JT-610 oleh MPV Everest Tak Membuahkan Hasil

Lion Air berusaha keras untuk melakukan pencarian keberadaan komponen Cockpit Voice Recorder (CVR) di sepanjang perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pasalnya tanpa ditemukannya CVR, maka upaya untuk mengetahui sebab musabab terjadinya kecelakaan Boeing 737 Max 8 JT-610 yang jatuh pada 29 Oktober 2018, akan menemui kesulitan, data yang diperoleh dari Flight Data Recorder (FDR) perlu didukung CVR yang dapat mengungkap rekaman percapakan awak pesawat pada menit-menit terakhir.

Baca juga: Lanjutkan Pencarian Korban dan CVR JT-610, Lion Air Kucurkan Rp38 Miliar untuk Sewa MPV Everest

Sejak 19 Desember 2018, Lion Air diketahui telah menghadirkan kapal riset dan survei perairan dalam milik peruahaan Belanda, MPV Everest. Kapal dengan tonase besar ini dapat melakukan pencarian obyek di bawah laut tanpa harus lempar jangkar, dimana di area tersebut banyak tertanam pipa minyak Pertamina.

Namun, ada kabar sedih, bahwa upaya pencarian CVR oleh MPV Everest ternyata tidak membuahkan hasil. MPV Everest disewa oleh Lion Air dengan nilai Rp38 miliar untuk misi pencarian selama 10 hari berturut-turut. Dan dari siaran pers yang dikeluarkan pihak Lion Air, Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro menyebutkan bahwa misi pencarian MPV Everest telah berakhir pada 29 Desember 2018, tepat pukul 23.59 WIB.

Danang mengatakan, tim pencari telah bekerja keras melakukan penyisiran di 10 titik yang sesuai dengan rekomendasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Seluruh pencarian yang dilakukan juga telah sesuai dengan standar yang ada pada rescue and safety drill, survey function test, dan load test.

Dengan demikian, perusahaan penerbangan itu memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu sewa. Dengan kata lain, misi pencarian untuk mengungkap alasan di balik kecelakaan udara ini telah diakhiri oleh Lion Air.

Dikutip dari Beritagar.id (4/1), juru bicara KNKT mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya kemungkinan bakal memulai lagi pencarian CVR Lion Air PK-LQP dalam waktu dekat. KNKT mengaku tengah bernegosiasi dengan TNI AL untuk pengajuan izin penggunaan kapal. “Paling cepat pekan ini. Pencariannya tidak akan memakai kapal semewah MPV Everest, namun tetap memiliki alat pendeteksi CVR,” sebut juru bicara itu, Kamis (3/1/2019).

Baca juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal

Pencarian CVR berpacu dengan waktu, mengingat beacon yang dipancarkan CVR hanya bertahan selama 90 hari, itu artinya pencarian CVR setidaknya harus dilakukan sebelum 29 Januari 2019.

United Airlines Hadirkan Buku Resep Masakan dalam Penerbangan Kelas Satu

Makanan pesawat hadir secara gratis bagi penumpang maskapai dengan layanan penuh dan berbayar bila di maskapai berbiaya hemat atau LCC. Kehadiran makanan ini, bisa membantu penumpang mengenyangkan perut selagi dalam penerbangan mereka. Namun, rasa makanan tersebut lebih berbumbu dan aromanya cukup menyengat hidung.

Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari

KabarPenumpang.com melansir laman dailymail.co.uk (1/1/2019), bahwa United Airlines baru saja menerbitkan dan menjual Cookbook yang berisikan 40 resep makanan di ketinggian 30 ribu kaki. Ini mungkin mengejutkan, tetapi di buku ini tidak mengajarkan membuat makanan tanpa rasa yang dipanaskan di microwave atau bubur yang biasa di sajikan dalam pelatihan.

Buku tersebut dijual melalui toko online maskapai dengan harga US$29,99 atau setara dengan Rp434 ribu. Bahkan United Polaris Cookbook berjanji untuk memasukkan koleksi resep lezat yang terinspirasi oleh pengalaman bersantap onboard United Polaris.

Mungkin ini mengagetkan, tetapi penjualan buku tersebut merupakan salah satu layanan bisnis dan resep yang ada pun merupakan inspirasi 40 resep makanan kelas satu. Buku itu dirancang oleh koki eksekutif United serta koki dari proyek Trotter yang merupakan organisasi nirlaba yang menyediakan program pendidikan dalam seni kuliner dan industri restoran.

“Buku masak United Polaris dibuat oleh koki United dalam kemitraan dengan koki dari The Trotter Project. 40 resep terinspirasi oleh pengalaman kelas bisnis United Polaris. Sebagian dari hasil akan disumbangkan ke Proyek Trotter untuk melanjutkan misinya menginspirasi generasi profesional kuliner berikutnya,” ujar perwakilan United.

Koki dari The Trotter Project yang termasuk Della Gossett dari Spago Beverly Hills, Michael Armstrong dari Tao Group New York, dan Top Chef’s Richie Farina, sebelumnya koki eksekutif di Moto Restaurant yang berbintang Michelin juga berkontribusi pada makanan yang disajikan di atas kapal. Menu onboard pada penerbangan berubah setiap bulan, jadi Anda mungkin tidak dapat memesan setiap hidangan saat terbang.

Hidangan dalam buku masak termasuk Sup Kelapa dengan Ayam Sambal Oelek. Bagi mereka yang benar-benar berdedikasi untuk memasak makanan kelas satu, United juga menjual hadiah yang ditetapkan seharga US$48,99 atau setara dengan Rp709 ribu yang mencakup buku masak dan celemek bermerek.

Ternyata, United bukan yang pertama menerbitkan buku masaknya sendiri tetapi sudah ada beberapa yakni, American West, Hawaiian Airlines, Delta, American Airlines dan Southwest semua juga memilikinya. Southwest diterbitkan Feel the Spirit, Savor the Fare pada 2006.

Baca juga: Porsi Makanan di Pesawat Tak Cukup? Jangan Khawatir, Bisa Nambah Asal Sopan

Delta baru-baru ini menerbitkan Makanan Kelas Satu, yang disusun oleh pramugari, pada tahun 1987, tetapi juga mengeluarkan beberapa buku masak di tahun 60-an dan 70-an. Pada 1964, American Airlines menerbitkan My Fair Lady Cooks, buku masak untuk ‘wanita-wanita cantik’.

Layanan Ride-Hailing Dilarang, DeNA Luncurkan Taksi Gratis yang Hubungkan 23 Kota Besar di Jepang

Mungkin sebagian dari Anda masih ingat dengan DeNa, sebuah perusahaan teknologi yang berfokus pada e-commerce dan entertain yang sempat terbentur masalah regulasi dalam upayanya untuk merilis bus otonom pada pertengahan tahun 2017 silam. Kini perusahaan yang berbasis di Tokyo, Jepang tersebut dikabarkan baru saja menyelesaikan campaign yang bertujuan untuk mengejar ketertinggalan mereka dengan perusahaan sejenis di negara penghasil komik manga tersebut.

Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (6/12/2018), perusahaan ini menyediakan sejumlah armada yang dapat digunakan oleh penumpang secara cuma-cuma alias gratis dalam periode waktu dan wilayah tertentu. Tidak berdiri sendiri, sebanyak 50 armada cab-hailing milik DeNA yang dikerahkan untuk mengoperasikan campaign ini berbalut ‘livery’ dari sponsor mereka, yaitu Nissin Foods Holdings.

Untuk ongkos yang seharusnya dikenakan kepada penumpang nantinya akan dibayar oleh pihak DeNa dan Nissin Foods Holdings sendiri. Seperti yang sudah disebutkan di atas, wilayah penjemputan taksi berbalut iklan mie instan ini hanya berada di sekitar pusat kota Tokyo namun dapat mengantarkan penumpang hingga ke lebih dari 23 kota besar di Jepang.

Sejak diberlakukannya pelarangan terhadap kendaraan pribadi yang digunakan untuk layanan ride-hailing, makin banyak perusahaan yang berusaha untuk mencari langkah inovatif guna meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi di jalanan.

Campaign ini sendiri tidak berhenti sampai di sini. DeNa diketahui tengah mematangkan beberapa konsep mereka, seperti menjalin kerja sama baru dengan berbagai sponsor, pengaturan armada jika ada seseorang yang telah mereservasi restoran, hingga sinkronisasi dengan jadwal bepergian para pengguna jasanya.

Campaign ini dapat menghubungkan orang-orang yang jarang sekali menggunakan fasilitas taksi,” ujar Hiroshi Nakajima, Kepala Bisnis Otomotif DeNa.

“Selain itu, operator taksi juga dapat mengharapkan sumber pendapatan yang dapat diandalkan,” imbuh Hiroshi.

Sistematika dari layanan taksi gratis ini seyogyanya sama persis dengan layanan ride-hailing lain, dimana penumpang hanya perlu menentukan titik penjemputan, memilih lokasi tujuan, dan segala informasi yang terkait dengan perjalanan tersebut akan terpampang di aplikasi yang harus terlebih dahulu dimiliki oleh penumpang.

Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing

Rencananya, pada paruh kedua tahun 2019, DeNA akan menampilkan sejumlah fitur baru yang ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan dan pengalaman penumpang selama berkendara, seperti rute terbaik yang dapat ditempuh.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, layanan ride-hailing atau ride-sharing merupakan moda transportasi first and last mile yang dapat diandalkan penumpang sebagai moda pengumpan untuk moda transportasi berbasis massal. Namun dengan dilarangnya pengoperasian dari moda jenis ini di Jepang, maka wajar saja jika banyak perusahaan layanan transportasi yang mengupayakan untuk tetap memberikan layanan prima kepada para penumpangnya.

 

 

Menara Air Kuno di Manggarai Kini Kondisinya Mengkhawatirkan

Pernah sadar jika melewati daerah Manggarai ada sebuah menara tua menjulang dan menampakkan bagian atasnya? Ternyata itu adalah sebuah menara air yang dibangun pada masa penjajahan kolonial. Ini terlihat dari bata merah yang tersusun menjadikannya sebuah menara dengan jendela yang bentukannya bahkan tak digunakan lagi pada masa kini.

Baca juga: Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, menara air yang berada di Jalan Menara Air Rt 07/011 Kelurahan Manggarai Utara Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan ini diperkiran dibangun sekitar tahun 1918 silam. Bahkan bila dilihat sekilas terlihat seperti menara sebuah masjid karena ada pengeras suara di beberapa sudutnya.

Untuk masuk ke menara ini ada pintu besi berwarna merah yang menjadi akses satu-satunya. Menara air kuno ini dulu memiliki dua tangki air yang digunakan untuk menyalurkan air dari Bogor untuk didistribusikan guna kebutuhan air di Stasiun Manggarai. Pengairannya sendiri menggunakan teknologi bejana terhubung.

Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan air bersih di sekitar Manggara-Matraman. Air dari menara air tersebut, digunakan oleh Stasiun Manggarai guna membersihkan gerbong-gerbong kereta. Sedangkan untuk warga sekitar menggunakan pipa khusus air bersih dalam penyalurannya. Selain itu jika air meluber dari tangki di menara, para warga di masa tahun 1960-an dan 70-an menampungnya untuk digunakan dirumah.

Bangunan kuno ini sendiri berada di dekat sebuah musholah bernama Nurul Iman dan dibelakangnya terdapat kali dengan pondasi tembok sekitar sepuluh meter lebih. Sayangnya bangunan menara air tersebut tak lagi bisa dimanfaatkan karena penduduk sekitar takut roboh.

Sebab kondisi bangunannya kini cukup memprihatinkan dimana anak tangga yang terbuat dari besi sudah berkarat dan beberapa bata merah yang menjadi temboknya sesekali pernah runtuh. Tak hanya itu, menara ini juga menghadirkan cerita mistis penunggunya.

Baca juga: Legenda Kereta Hantu Manggarai, Antara Fakta dan Mitos

Beberapa warga sekitar mengatakan, kerap kali menjumpai mahkluk kasat mata yang menyerupai manusia dan berjalan di sekitaran menara air ini. Karena mengkhawatirkan, kualitas bangunan kuno yang telah berdiri sejak jaman Belanda ini hingga sekarang, memang harus selalu diawasi keamanan bangunan, demi keselamatan warga manusia sekitarnya.

Viral, Wanita Ini Pipis di Pantry Pesawat Sesaat Sebelum Lepas Landas

Toilet tidak bisa digunakan sebelum penerbangan atau saat akan lepas landas. Ini ada sudah menjadi salah satu peraturan maskapai sebelum lepas landas. Sehingga, bila seorang penumpang hendak ke toilet, baiknya di tahan hingga diperbolehkan.

Baca juga: Gara-Gara Kebelet Buang Air Kecil, Penumpang Diturunkan dari Pesawat

Namun, baru-baru ini seorang penumpang yang menggunakan pesawat Wizz Air dan dilarang menggunakan toilet karena akan lepas landas dari Bandara London Luton menuju Warsawa di Polandia, melakukan hal menjijikkan. Dilansir KabarPenumpang.com dari express.co.uk (2/1/2019), penumpang wanita tersebut memutuskan buang air kecil di pantry pesawat dan dilihat oleh para awak kabin.

https://youtu.be/Txez5tGir48

Video wanita itu sedang pipis pun menjadi viral yang mana menunjukkan dia berjongkok dengan genangan air di bawahnya. Video tersebut juga memperlihatkan celana dalam dan legingg-nya sehingga dirinya seperti setengah telanjang.

Bahkan dalam video tersebut saat penumpang wanita tersebut berjongkok, sembari menelpon seseorang.

“Anda harus membantu saya sebelum penerbangan lepas landas. Saya kencing di pesawat. Saya bertanya kepada mereka apakah saya bisa menggunakan toilet, tetapi mereka mengatakan saya tidak bisa sekarang. Jadi saya kencing di dapur. Tepat di depan mereka,” ujarnya kepada seseorang di ujung telepon.

Wanita itu pun terus melanjutkan percakapannya di telepon seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal air kecingnya telah merembes dan mengalir di dapur.

“Polisi datang karena ini salahku. Semua salahku,” ujar wanita itu.

Kemudian, seorang awak kabin menyela pembicaraannya di telepon dan marah, “Apakah kamu serius? Itu menjijikkan. Kamu adalah wanita dewasa. Bangunlah dari lantai.”

Baca juga: Kencing di Botol, Pemuda Ini Langsung Diamankan Saat Mendarat

“Anda pikir tidak apa-apa hanya dengan duduk di lantai seperti itu?” lanjut awak kabin.

Tetapi wanita itu mengulangi bahwa dia meminta untuk pergi ke toilet dan tidak diizinkan. Seorang pria yang mengatakan, “Jadi Anda pikir tidak apa-apa untuk melakukan hal itu di lantai?”

Tah hanya itu tahun 2017 lalu, seorang penumpang Delta Airlines bernama Kima Hamilton terpaksa diturunkan dari pesawat lantaran tidak tahan untuk pergi ke toilet karena ingin buang air kecil. Padahal saat itu pesawat dalam posisi siap lepas landas dari Atlanta, Amerika Serikat.

Menjadi Penumpang Tunggal Dalam Penerbangan? Wanita Filipina Baru Merasakannya

Pernah merasakan menjadi satu-satunya penumpang dalam sebuah penerbangan? Mungkin hal itu tidak pernah terpikirkan oleh Anda, apalagi kursi pesawat biasanya penuh dengan penumpang atau bisa dikatakan hanya beberapa kursi yang kosong.

Baca juga: Jadi Penumpang Tunggal di Penerbangan Garuda Indonesia, Sosok Pengusaha Asal Palu Menjadi Viral

Namun, baru-baru ini terjadi pada seorang wanita asal Filipina yang menggunkan pesawat narrow body Phillipine Airlines dari Davao menuju Manila. KabarPenumpang.com melansir dari indiatoday.in (2/1/2019), wanita bernama Louisa Erispe mejadi satu-satunya penmupang dalam penerbangan tersebut.

Dia juga menjadi penumpang tunggal yang mendengarkan instruksi keselamatan dari awak kabin dan terkejut akan hal tersebut. Meski menjadi penumpang tunggal, Erispe ditemani oleh tujuh awak kabin yang membuatnya nyaman.

Mungkin ini adalah pertama kali baginya menjadi satu-satunya penumpang yang mendapatkan sajian makanan dan minuman dalam penerbangan. Barang yang ada di bagasi pun hanya miliknya seorang. Ternyata, hal ini juga dirasakan oleh Latsamy McAdoo, penumpang yang berangkat dari Miami menuju ke Koh Samui di Bangkok, Thailand.

Dia mengaku sendirian dalam pesawat dan hal tersebut didapat dari sebuah video yang di unggah pada Januari 2018 terlihat Latsamy menari-nari di lorong. Penerbangan tersebut pagi hari, dimana dirinya menggunakan kelas bisnis dan naik terlebih dahulu. Dirinya mengaku terlalu sibuk dengan ponselnya sesaat sebelum keberangkatan. Hingga dirinya tersadar saat awak kabin menutup pintu pesawat.

“Saya bertanya apakah dia menutup pintu karena hujan karena itu adalah penerbangan tanpa jet tetapi dia menyatakan tidak, mereka sudah selesai naik,” ujar Latsamy.

Kejadian ini pun pernah terjadi pada seorag pengusaha bernama Habib Abdullah Idrus Alhabsy, yang merupakan seorang pengusaha asal kota Palu, Sulawesi Tengah. Dirinya menjadi salah satu penumpang Garuda Indonesia dari Jakarta Menuju ke Palu dengan transit di Makassar.

Baca juga: Tak Mau Lewatkan Natal Bersama Keluarga, Seorang Ayah Terbang Saat Putrinya Bertugas di Udara

Dirinya mendapat prioritas karena menjadi pemegang platinum Garuda Frequent Flyer. Dolah Palu, panggilan pengusaha ini juga mengaku dulu pernah menaiki DC-10 dalam kondisi sendirian. Ground crew Garuda Indonesia di Palu kemudian diikutkan penerbangan lanjutan dan pesawat tersebut lebih dahulu transit di Makassar dan penumpang dari Palu turun, tetapi Dolah Palu tak ingin turun dan memaksa tetap di dalam pesawat.

Hal ini membuat pilot dan kopilot akhirnya mengiyakan Dolah Palu terbang bersama mereka meski sendirian tanpa penumpang lain dan hanya dengan pilot, kopilot serta enam orang awak kabin dalam pesawat berisi 156 penumpang tersebut. Dia mengatakan, video dirinya dalam penerbangan tersebut diunggah oleh seorang teman yang sudah meminta izin terlebih dahulu sebelum mempostingnya ke akun media sosial.

Tergelincir di Dalam Toilet, Seorang Penumpang Tuntut Rp2,2 Miliar ke Pihak Jetstar

Dua tahun lebih telah berlalu setelah Richard Pearson, seorang penumpang maskapai Jetstar tergelincir di toilet armada asal Negeri Kangguru ini. Kini dikabarkan ia tengah menuntut pihak maskapai dengan dalih cacat permanen yang diderita dirinya. Adapun cacat yang diderita oleh Richard ini menderu lutut sebelah kanannya dan bersifat permanen.

Baca Juga: Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman stuff.co.nz (2/1/2019), pada 7 September 2016 kemarin, Richard bersama istri dan anaknya tengah berada di dalam penerbangan malam dari Bali menuju Melbourne. Di tengah perjalanan, Richard yang duduk di seat nomor 53 lalu bangkit dan bertolak menuju toilet yang ada di pesawat berjenis Boeing 787 Dreamliner ini.

Ketika pria berusia 58 tahun ini masuk ke dalam toilet, ia tidak sadar bahwa ada genangan air. Tak pelak, Richard jatuh tergelincir dengan posisi yang sangat menyakitkan.

“Kaki kanan Richard melebar ke arah kanan, sedangkan lutut kanannya ke arah yang berlawanan, sedangkan kaki kirinya ‘meluncur di sepanjang toilet,” ujar tuntutan yang diajukan Richard.

“Kakinya (Richard) lalu menabrak salah satu sudut toilet dan pergelangan kaki kanannya berputar 90 derajat, bahkan Richard sampai mendengar lutut kanannya berbunyi cukup keras dan ia mulai merasakan sakit yang luar biasa,” lanjut tuntutan tersebut.

Richard sampai-sampai harus berteriak memanggil awak kabin untuk membantunya kembali ke tempat duduk. Sesampainya di tempat duduk, Richard malah diinterogasi oleh awak kabin yang terkesan menuduhnya jatuh akibat ulahnya sendiri.

“Apakah Anda yakin telah membersihkan kamar mandi dan tidak meninggalkan genangan setelah Anda menggunakannya?” ujar salah satu awak kabin.

Alih-alih membantu Richard, awak kabin Jetstar malah menolak untuk membantunya dan meminta Richard untuk melakukan komplain secara online setibanya ia di tujuan.

Dengan bermodalkan dana sendiri, Richard lalu menjalani pengobatan, tanpa sedikitpun kontribusi dari pihak Jetstar.

Baca Juga: Alami Kendala Teknis, Maskapai JetStar “Panggang” Penumpangnya

Seorang juru bicara dari Jetstar bersikukuh bahwa kejadian yang dialami oleh Richard ini merupakan murni kesalahan dan keteledorannya sendiri, sehingga mereka membantah klaim senilai $220.000 dollar Australia atau yang setara dengan Rp2,2 miliar yang diajukan Richard untuk pengobatan kakinya tersebut.

Mengingat perseteruan antar dua belah pihak yang semakin memanas, akhirnya masalah ini akan di bawa ke hadapan Hakim Michael Wheelahan di Melbourne pada tanggal 25 Januari mendatang.

‘Melukis’ di Meja Lipat Pesawat, Penumpang ini Mendadak Viral!

Pada beberapa artikel sebelumnya, kami sudah membeberkan sejumlah fakta tentang maskapai terburuk yang ada di dunia. Memang, penilaian tentang maskapai terburuk ini terlalu subjektif, tapi mungkin Anda setuju dengan beberapa karakteristik penumpang terburuk di dalam suatu penerbangan.

Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele

Selain harus menjaga ketertiban dan kenyamanan sesama penumpang, Anda juga dituntut untuk menjaga fasilitas milik pihak maskapai yang ada di dalam ruang kabin.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari akun media sosial Instagram @passengershaming, terdapat sebuah video yang menunjukkan balita yang tengah dipangku oleh orang tuanya. Tidak hanya sekedar memangku anaknya, namun si orang tua ini juga sembari mengajarkan anaknya menggambar dengan menggunakan krayon warna-warni. Lalu, sebelah mananya yang melanggar aturan?

Ya, dalam video yang diunggah pada Jumat (28/12/2018) ini, orang tua dari balita ini mengajarkan anaknya menggambar di meja lipat yang terdapat di belakang bangku penumpang (tray table). Tidak perlu dipertanyakan lagi, tindakan yang dilakukan oleh orang tua balita ini sudah menyalahi aturan, dimana mereka tidak bisa menjaga fasilitas milik maskapai.

Sebagai seorang penumpang, sudah selayaknya kita menjaga fasilitas yang bukan milik kita, terlebih sebelum mengudara, awak kabin selalu mengingatkan para penumpang untuk menjaga fasilitas yang ada di dalam pesawat.

Jika ditelisik dengan menggunakan akal sehat saja, mencoret-coret media selain kertas dan lain sebagainya merupakan tindakan yang kurang terpuji.

Dalam video tersebut, tampak sejumlah coretan krayon di beberapa table tray yang tengah berada dalam kondisi tertutup. Krayon yang digunakan pun tidak hanya satu warna, melainkan beberapa. Di samping jendela, tampak orang tua yang tengah memangku anaknya yang tengah asyik ‘melukis’ tray table tersebut.

Tidak diketahui lebih lanjut mengenai dimana dan kapan kejadian ini persisnya terjadi, namun warganet yang melihat unggahan tersebut tidak dapat menahan emosi mereka.

“Seharusnya wajah dari si orang tua tidak disamarkan,” tutur salah satu warganet yang memprotes tentang  wajah dari si orang tua dan anaknya yang disamarkan.

“Mengapa orang tua itu sangat buruk dalam mengayomi anaknya, sungguh memalukan,” tandas warganet lain.

Baca Juga: Jadi Baiknya Sebagai Penumpang Pesawat Duduk di Kursi Mana?

Kebanyakan dari warganet mengeluhan tentang tindakan si orang tua yang seolah mengajarkan kepada anaknya berbuat vandalism dengan mencoret-coret salah satu fasilitas publik.

Tentu saja, ini bukanlah aksi yang patut untuk ditiru, ya!

Bangun Fasilitas Bandara di 2019, Angkasa Pura I Investasikan Rp17,24 Triliun

Sepanjang tahun 2018, PT Angkasa Pura I selaku pengelola 13 bandara melaporkan telah melayani 96,5 juta penumpang. Angka tersebut tumbuh 7,6 persen jika dibandingkan dengan tahun 2017 dengan 89,7 juta penumpang. Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali masih menjadi penyumbang penumpang terbanyak dengan 23,7 juta penumpang, atau tumbuh 12,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Garuda Indonesia Keluhkan Tingginya Frekuensi Ramp Check di Bandara Changi

Sedangkan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang mencatatkan pertumbuhan penumpang tertinggi diantara bandara-bandara Angkasa Pura I lainnya dengan kenaikan sebesar 16,4 persen, dari 4,42 juta penumpang pada 2017 menjadi 5,12 juta penumpang di tahun 2018.

Setelah berhasil mengoperasikan Bandara Jenderal Ahmad Yani di tahun 2018, di tahun 2019 ini Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin ditargetkan dapat mulai melayani penumpang. “Bandara Internasional Yogyakarta ditargetkan beroperasi pada April 2019, sedangkan Bandara Syamsudin Noor mulai Oktober 2019. Kedua bandara tersebut akan memiliki kapasitas yang jauh lebih memadai dengan fasilitas yang lebih lengkap dan modern, sehingga akan meningkatkan ‘level of service’ sekaligus menciptakan ‘passenger experience’ yang berkesan bagi para pengguna jasa bandara ,” kata Faik Fahmi, Direktur Utama Angkasa Pura I dalam siaran pers (2/1).

Menyambut tahun 2019, Angkasa Pura I optimis akan melayani lebih dari 101 juta penumpang. “Kami menargetkan pendapatan di atas Rp10 triliun, meningkat 16,5 persen dibandingkan dengan pendapatan tahun 2018, dengan laba bersih di atas Rp2 triliun atau meningkat 18 persen,” tambah Faik.

Baca juga: Dua Bandara di Australia Hadirkan Anjing Terapi Bagi Penumpang yang Alami Stre

Angkasa Pura I juga menyiapkan dana investasi sebesar Rp17,24 triliun untuk digunakan sepanjang 2019. Sebanyak Rp7,9 triliun diantaranya digunakan untuk pembangunan empat proyek bandara, yaitu pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar. “Lalu Rp5,8 triliun untuk pengembangan bandara-bandara lainnya serta Rp3,5 triliun untuk investasi operasional, termasuk pengembangan bandara dari Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) Kementerian Perhubungan,” rinci Faik.

Ternyata, Olimpiade 1964 Punya Pengaruh Penting Bagi Jaringan Kereta Shinkansen

Dalam waktu kurang lebih 20 bulan ke depan, seluruh perhatian dunia akan tertuju ke Negeri Sakura. Bukan tanpa alasan, sebab jika tidak ada aral melintang, perhelatan Olimpiade Musim Panas 2020 akan di adakan di Tokyo sejak tanggal 24 Juli hingga 9 Agustus 2020. Ini merupakan kali ketiga bagi Jepang menjadi tuan rumah dalam ajang olahraga empat tahunan ini, setelah sebelumnya Olimpiade ke-VII pada tahun 1940, dan Olimpiade ke-XVIII pada tahun 1964. Lalu, apa yang spesial dari ajang olahraga internasional ini?

Baca Juga: Armada Anyar Shinkansen Siap Mengular Pada 2020 Mendatang

Olimpiade Tokyo 1964 kerap kali dijadikan sebagai salah satu momen penting dalam perkembangan negeri para samurai ini. Selain kala itu Jepang mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah Olimpiade, tapi ajang ini juga menandakan kebangkitan negara Jepang yang modern.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman teamusa.org (1/1/2019), kebangkitan Jepang ini disebabkan oleh perkembangan infrastruktur negara yang pesat, terutama dalam hal pembangunan jaringan kereta berkecepatan tinggi atau yang biasa disebut Shinkansen. Kala itu, teknologi yang digunakan oleh kereta Shinkansen tergolong sebagai yang paling modern dan paling mutakhir.

Jaringan kereta Shinkansen ini pertama kali dibuka pada tanggal 1 Oktober 1964, atau hanya berselang sembilan hari sebelum opening ceremony ajang olahraga tersebut. Waktu pembangunan jaringan Shinkansen pertama ini juga tergolong cukup cepat, hanya memakan waktu lima tahun. Sedangkan rute pertama dari jaringan kereta Shinkansen ini adalah Tokaido Line, yang menghubungkan Tokyo dan Osaka. Kendati belum secepat sekarang, namun waktu tempuh antara Osaka dan Tokyo dapat dipersingkat menjadi empat jam saja, dengan kecepatan 130 mil per jam. Jika ditempuh dengan menggunakan moda darat lain, dibutuhkan waktu sekira tujuh jam.

Seiring dengan perkembangan jaman, kini antara Tokyo dan Osaka yang terpaut jarak sekitar 515 km ini hanya membutuhkan waktu kurang dari dua setengah jam saja. Kini jaringan Shinkansen di seluruh negeri sudah mencapai panjang lebih dari 1.700 mil, dengan jangkauan di hampir seluruh negeri, dari mulai Sapporo di sebelah utara, hingga Kagoshima di sebelah selatan Jepang.

Lebih hebatnya lagi, Shinkansen berhasil mencatatkan satu pencapaian yang prestisius, yaitu tidak pernah mengalami satupun kecelakaan fatal setelah beroperasi lebih dari 50 tahun lamanya. Lain daripada itu, On Time Performance (OTP) dari Shinkansen juga tidak boleh diremehkan, pasalnya waktu keterlambatan pemberangkatan Shinkansen hanya terhitung dalam hitungan detik saja. Menurut Central Japan Railway Company, rata-rata waktu keterlambatan kereta Shinkansen hanya 24 detik saja.

Baca Juga: Terus Kembangkan Shinkansen, JR East Uji Coba ALFA-X

Ketika kereta Shinkansen masih terus mengalami perkembangan hingga saat ini, Jepang juga tengah membagi atensinya dengan jaringan kereta bertenaga levitasi magnetik (maglev) yang menurut perkembangan terakhir tengah masuk ke dalam tahap pengujian. Jadi, masih mau membantah bahwa Jepang bukanlah negara dengan jaringan kereta nomor satu di dunia?