Hidup Segan Mati Tak Mau, Beginilah Nasib Penyeberangan Ujung – Kamal

Sejak diresmikan oleh mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009 silam, ada banyak kemudahan yang dapat dirasakan langsung oleh warga Surabaya dan Madura dengan kehadiran Jembatan Suramadu. Namun di balik semua keuntungan dengan didirikannya jembatan sepanjang 5.438 meter ini, ada satu yang ternyata dirugikan. Ya, Penyeberangan Ujung – Kamal. Unit penyeberangan yang dikelola oleh PT. Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) ini merupakan yang paling terdampak dari hadirnya Jembatan Suramadu.

Baca Juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia

Rute penyeberangan ini sudah sangat lama dan menjadi rute transportasi utama masyarakat Madura dan Jawa – khususnya warga Surabaya dan sekitarnya. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, penyeberangan Ujung – Kamal sudah ada sejak zaman Belanda, sekitar tahun 1913. Jasa penyeberangan ini diawali hanya dengan menggunakan perahu motor. Kemudian meningkat menjadi kapal Roro dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang bisa mengangkut penumpang bersama angkutan roda empat atau mobil.

Perkembangan terus terjadi di tubuh Penyeberangan Ujung – Kamal, yang ditandai dengan semakin banyaknya kapal yang mengoperasikan rute ini. Sebut saja KM Yudha Negara, KM Bangkalan, hingga KM Pamekasan. Saking terkenalnya, TNI AD juga pernah mengambil peran dalam penyeberangan tersebut. Pada tahun 1963, TNI AD mengoperasikan kapal AD 13 dan AD 29 di Penyeberangan Ujung – Kamal.

Singkat cerita, penyeberangan yang telah membantu perkembangan Pulau Madura secara keseluruhan ini dikelola oleh PT ASDP Indonesia Fery dan kurang lebih ada tujuh perusahaan fery yang turut berkecimpung – seperti PT Dharma Lautan Utama dan PT Jembatan Nusantara. Arus penumpang maksimal Penyeberangan Ujung – Kamal mencapai angka 62 ribu orang. Sedangkan kendaraan roda dua 40 ribu unit dan roda empat mencapai angka 5 ribu per hari. Tingginya arus lalu lintas di penyeberangan ini didukung oleh 18 unit fery yang beroperasi.

Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, kondisi penyeberangan ini mulai menunjukkan penurunan sejak dibukanya Jembaran Suramadu pada tahun 2009 silam. Banyak orang yang kemudian lebih menambatkan hatinya pada jembatan ini ketimbang menggunakan jasa yang ditawarkan oleh PT ASDP ini.

Baca Juga: Pelabuhan Bojonegara, Mungkinkah Jadi “Pesaing” Pelabuhan Ferry Merak?

Ketika kerugian akibat merosotnya jumlah penumpang sudah tidak bisa dihindari, sejumlah cara untuk menutupi kerugianpun coba dilakukan oleh PT ASDP, salah satunya adalah dengan memberikan potongan harga. Namun langkah tersebut ternyata tidak membuat para penumpang bergeming dan kembali beralih menggunakan jasa penyeberangan tersebut.

Bak peribahasa “Hidup Segan Mati Tak Mau”, Penyeberangan Ujung – Kamal ini tetap beroperasi walaupun sepi pengunjung. Terlebih setelah akes jembatan Suramadu kini telah digratiskan. Sebenarnya Pemerintah bisa saja menutup penyeberangan ini karena dinilai sudah tidak efektif lagi, namun nilai sejarah yang terpatri di penyeberangan ini tidaklah bisa dihapuskan begitu saja.

 

Jembatan Ciherang, Lintasan Melengkung dan Spot Foto Favorit Para Railfans

Kalau pada umumnya jembatan kereta api itu memiliki bentuk yang lurus-lurus saja – terlepas jembatan tersebut ada di ketinggian berapa, namun satu yang perlu Anda ketahui bahwa Indonesia punya satu jembatan kereta yang bentuknya melengkung. Bagi Anda yang belum tahu, jembatan unik ini adalah Jembatan Ciherang. Terletak di Cihaurkuning, Malangbong, Kabupaten Garut, Jembatan Ciherang ini masih aktif digunakan hingga saat ini.

Baca Juga: Cikubang, Jembatan Kereta Terpanjang di Indonesia

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Jembatan Ciherang merupakan salah satu spot favorit bagi para Railfans (julukan untuk para pecinta kereta api) untuk menikmati lekukan si ular besi atau bahkan mengabadikan momen tersebut. Kendati panjangnya tidak mencapai panjang Jembatan Cikubang (300m), namun Jembatan Ciherang tetap memesona setiap railfans dengan daya tariknya tersendiri – lengkungan di tengah jembatannya.

Sumber: hayutravelling.blogspot.com

Ketika sore menjelang, ada banyak anak kecil yang mendatangi jembatan untuk hanya sekedar melihat kereta arah Jawa melintas. Kendati cukup berbahaya, namun aktifitas seperti ini sangatlah menyenangkan bagi anak-anak yang tinggal di sekitaran sana. Jembatan Ciherang sendiri terletak di antara Stasiun Bumiwaluya dan Stasiun Cipeundeuy dan sudah eksis sejak jaman penjajahan Belanda silam.

Sumber: flickr

Ciri khas yang ditinggalkan Belanda pada jembatan ini adalah pilar beton yang digunakan untuk menyangga rel. Memang, di luar sana ada beberapa jembatan kereta yang juga memiliki ‘tikungan’, namun percayalah, itu tidak se-ekstrem Jembatan Ciherang. Nuansa ngeri bercampur takjub akan timbul mengingat bagian kiri dan kanan jembatan ini adalah jurang yang cukup dalam. Dijamin, bikin mulut Anda komat-kamit baca doa ketika melintas.

Baca Juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Bagi Anda yang penasaran ingin menyambangi jembatan peninggalan Belanda ini, aksesnya tidak terlalu sulit – apalagi jika Anda menggunakan sepeda motor. Dari Jalan Raya Bandrek/Malangbong, ambil arah menuju Desa Cihaurkuning dan ikuti saja jalan yang ada. Disarankan untuk mulai bertanya kepada warga sekitar tentang Jembatan Ciherang. Pastikan baterai ponsel atau kamera Anda dalam keadaan penuh, karena akan ada banyak sekali momen menakjubkan yang dapat Anda abadikan di Jembatan Ciherang!

Trafik Penyeberangan Ferry Merak-Bakauheni Sempat Menurun Pasca Tsunami

Tsunami yang terjadi di Banten pada 22 Desember 2018 kemarin ternyata juga berdampak pada penyeberangan kapal ferry di Pelabuhan Merak. Pasalanya satu hari setelah kejadian tsunami atau tepatnya 23 Desember 2018, terlihat penurunan yang cukup menakjubkan untuk penumpang dan kendaraan bila dibandingkan tanggal yang sama di tahun lalu.

Baca juga: Sambut Nataru 2019, ASDP Siap Layani 3,3 Juta Penumpang di 10 Lintasan

Dari data yang didapat KabarPenumpang.com dari Humas PT ASDP Indonesia Ferry, pengoperasian pada 23 Desember 2017 ada 32 kapal ferry ro-ro yang beroperasi, sedangkan di tanggal yang sama pada tahun 2018 hanya ada 29 kapal yang beroperasi. Ini membuat adanya penurunan sekitar 9,4 persen dari sebelumnya. Sedangkan untuk perjalanan atau trip menuju Bakauheni dari 121 menjadi hanya 78 atau mengalami penurunan 35,5 persen dari tahun 2017.

Jumlah penumpang baik pejalan kaki maupun yang di dalam kendaraan pun merosot menjadi hanya 36.585 orang dibandingkan tahun 2017 sebanyak 60.532 orang. Jumlah ini menurun sebanyak 39,6 persen dari periode sebelumnya. Bahkan jumlah kendaraan pun pun juga mengalami penurunan. Kendaraan roda dua pada tanggal 23 Desember 2018 hanya ada 1369 dan tahun 2017 ada 3683 , bila dilihat trendnya, maka ada penurunan yang cukup besar yakni 62,8 persen. Untuk kendaraan roda empat mengalami penurunan hingg 37,7 persen dari total tahun lalu 5809 menjadi hanya 3617.

Bus, truk dan kendaraan dengan roda lebih dari empat pun mengalami penurunan. Bus mengalami penurunan hingga 9,1 persen, truk 22,1 persen dan kendaraan dengan roda lebih dari empat hanya 31,9 persen. Untungnya penurunan tersebut hanya terjadi satu hari yakni pada 23 Desember 2018. Di tanggal 24 Desember 2018, presentase pengguna kapal ferry ro-ro kembali meningkat, meski ada penurunan jumlah penumpang dari tahun 2017 di tanggal yang sama.

Untuk operasional hanya ada 23 kapal roro dan melakukan 75 trip di tanggal 24 Desember 2018, sedangkan di tahun lalu 34 kapal ferry ro-ro dan 122 trip. Jumlah penumpang pun dari 40.707 menjadi hanya 31.241 orang. Sebelumnya, PT ASDP Indonesia Ferry sendiri mengatakan jumlah penumpang pada masa Nataru (Natal-Tahun Baru) ini akan naik lima persen dibanding tahun lalu untuk Merak-Bakahuheni. Dimana jumlah penumpang yang akan menyeberang dari Merak menuju Bakauheni total mencapai 865.771 orang atau naik 5 persen dibandingkan realisasi yang sama tahun lalu sebanyak 824.544 orang.

Baca juga: “Waroeng ASDP,” Model Kantin Baru di Kapal Ferry Yang Hangat dan Higienis

Diikuti jumlah roda 4 sebanyak 135.287 unit atau naik 5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebanyak 128.845 unit, dan roda dua mencapai 33.998 unit atau naik 5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebanyak 32.379 unit sepeda motor. Sebaliknya, jumlah penumpang yang menyeberang dari Bakauheni menuju Merak diperkirakan mencapai total 829.728 orang atau naik 5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebanyak 790.217 orang, diikuti roda 4 sebanyak 134.847 unit atau naik 5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebanyak 128.426 unit, dan roda dua mencapai 32.664 unit atau naik 5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebanyak 31.109 unit sepeda motor.

Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat

Bandara terbesar di Korea Selatan, Inceon International Airport yang sebelumnya berencana untuk menanamkan sejumlah moda untuk bekal pembangunan landas pacu keempatnya kini mulai masuk ke dalam tahap pembangunan. Adapun dana yang dianggarkan oleh Incheon International Airport Corp (IIAC) adalah senilai US$3,72 miliar atau yang setara dengan Rp54,3 triliun. Penambahan landas pacu keempat ini merupakan langkah antisipasi peningkatan jumlah penumpang jalur udara menuju negara berjuluk Negeri Ginseng ini.

Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Berdasarkan rangkuman KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pihak IIAC mengatakan bahwa investasi tersebut merupakan bagian dari perluasan bandara secara keseluruhan jilid keempat – mencakup peluasan terminal kedua, tempat pesawat ‘bersandar’, dan fasilitas angkut penumpang. Adapun landas pacu ini diperkirakan dapat mulai beroperasi pada tahun 2023 mendatang, “dan dapat mengakomodir 100 pergerakan pesawat per jam,” tutur pihak IIAC dalam sebuah pernyataan tertulis, dikutip dari laman airport-technology.com (21/12/2018).

Diketahui, perluasan bandara ini ditujukan untuk menggantikan peran dari Gimpo International Airport yang terletak di Gangseo-gu, Seoul, Korea Selatan. Dari tahun ke tahun, pengembangan dan peningkatan fasilitas di Bandara Internasional Incheon terus digalakkan. Ambil contoh, di bawah tahap kedua ekspansi, Bandara Internasional Incheon meluncurkan concourse baru pada tahun 2008 silam. Sementara pembangunan terminal kedua merupakan bagian dari ekspansi tahap ketiga pada tahun 2018.

Hiingga saat ini, tercata Bandara Internasional Incheon mengelola sekira 72 juta penumpang setiap tahunnya, dan angka tersebut akan naikke level 100 juta penumpang ketika ekspansi jilid empat ini rampung. Tidak hanya ditujukan bagi para penumpang, pihak IIAC juga mengutarakan bahwa proyek ekspansi ini akan menciptakan sekitar 50.000 lapangan pekerjaan baru serta diproyeksikan dapat menyumbang sekira US$9,79 miliar (Rp142,9 triliun) kepada pendapatan negara.

Baca Juga: Transit di Seoul, Garuda Indonesia Siap Buka Rute Jakarta – Los Angeles di Q2 2019

Bandara Internasional Incheon sendiri mulai beroperasi pada tahun 2001 silam. Lima tahun berselang, tepatnya pada 15 November 2006, sebuah Airbus A380 mendarat di Incheon dan merupakan bagian dari babak pertama perjalanan sertifikasinya. Sementara itu, dikutip dari laman web resmi bandara, Incheon adalah pengangkut kargo internasional tersibuk ketiga di dunia. Di tahun 2020 kelak, bandara ini akan mampu menampung tiga juta ton kargo – bagian dari peningkatan volume pengiriman.

Rail Clinic Bantu Korban Tsunami Banten

Rail Clinic milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) kini hadir untuk membantu para korban tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemarin di Banten. Kehadiran Rail Clinic sendiri akan disiagakan di Stasiun Ciwandan, Kota Cilegon, Banten.

Baca juga: Rail Clinic, Klinik Berjalan Diatas Rel Milik PT KAI Gratis

Rail Clinic menempuh perjalanan dari Jakarta dan tiba di Stasiun Cigading pada 24 Desember 2018 kemarin sekitar pukul 17.00 WIB. Penyiagaan Rail Clinic di Cigading, karena stasiun terdekat dengan daerah terdampak tsunami adalah Stasiun Ciwandan.

Direktur SDM dan Umum PT KAI Ruli Adi mengatakan, Rail Clinic merupakan basecamp bukan sebagai pelaksana bantuan. Sebab posko utamanya sendiri ada di Cinangka dan basecamp ini untuk koordinasi.

“Rail Clinic akan berjalan jika dibutuhkan untuk membantu mengobati korban. Kita sudah berkoordinasi dengan pihak terkait apabila puskesmas dan rumah sakit kewalahan menangani korban tsunami,” ujar Ruli yag dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (25/12/2018).

Dokter dan perawat di Rail Clinic akan disiagakan selama tiga hari di Stasiun Ciwandan. Nantinya jika dibutuhkan lebih lama maka akan tetap standby. Ruli mengatakan, perjalanan dari Ciwandan ke Cinangka sekitar 45 menit dan peralatan lengkap jika dibutuhkan, maka Rail Clinic akan berjalan menuju lokasi.

“Rail Clinic dilengkapi dengan seluruh peralatan medis dan 23 paramedis semuanya siaga, ada dokter umum, gigi, pokoknya lengkap dan mudah-mudahan ini dibutuhkan masyarakat sekitar,” kata Ruli.

Rail Clinic menggunakan Kereta Rel Diesel (KRD) dengan dua gerbon yang dilengkapi dengan lampu sirene dan tanda palang merah yang ada di ambulans. Isi gerbong dari Rail Clinic adalah perlengkapan medis.

Gerbong pertama menjadi ruangan seluruh tindakan medis dari pelayanan darurat yang meliputi bantuan hidup dasar atau CPR, alat monitoring pasien, alat kejut jantung, tindakan minor, rekam jantung hingga penangan khusus dapat dilakukan. Bisa dikatakan gerbong pertama ini diperuntukkan untuk Unit Gawat Darurat (UGD). Pada gerbong kedua, dilengkapi dengan ruang pemeriksan ibu hamil dan bersalin, ruang menyusui, ruang pemeriksaan umum dan ruang farmasi.

Baca juga: India Punya Lifeline Express, Kereta “Rumah Sakit” Untuk Masyarakat Kurang Mampu

Rail Clinic ini untuk membantu masyarakat kurang mampu yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan. Selain itu dengan adanya Rail Clinic ini, nantinya bisa membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tidak bisa terjangkau kendaraan bermotor atau wilayah bencana alam. Rail Clinic resmi beroperasi pada tahun 2015 lalu untuk wilayah Pulau Jawa dan Februari 2017 beroperasi di wilayah Sumatera.

Garuda Indonesia Keluhkan Tingginya Frekuensi Ramp Check di Bandara Changi

Ada yang menarik dari pernyataan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara saat berbicara dalam acara Public Expose di Atjeh Connection pada Jumat, 21 Desember lalu, ditengah paparan program dan evaluasi kerja maskapai plat merah tersebut, Ari menyebut pihaknya mengkritisi terlalu banyaknya frekuensi ramp check yang dilakukan pada pesawat Garuda Indonesia di Bandara Changi, Singapura.

Baca juga: 2019: Garuda Indonesia ‘Kerahkan’ Seluruh Karyawan Jadi Agen Penjualan Tiket

“Ini bukan membangkitkan soal sentimen nasionalisme, namun frekuensi ramp check pada pesawat Garuda Indonesia yang terbang ke Singapura terasa tidak fair,” ujar Ari. Ia menyebut bahwa dalam satu hari ada 9x penerbangan Garuda Indonesia menuju Changi, dimana 5 sampai 6 pesawat harus menjalani sesi ramp check secara random. Ari mengatakan, padahal pesawat mereka, seperti Singapore Airlines hanya diberlakukan 2 kali ramp check saat berada di Indonesia.

Ramp check sendiri merupakan prosedur keselamatan penerbangan, dimana otoritas seperti Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) melaksanakan pengecekan kondisi pesawat dalam berbagai aspek. Pengecekan umumnya mencakup pelaksanaan proses refuelling, pemuatan kargo, pengecekan visual mesin, pengecekan sayap, pengecekan sistem hidraulik, fuselage, roda pendarat, dan dokumen penerbangan.

Belum diketahui persis alasan keberatan yang disampaikan Ari Askhara, namun besar kemungkinan tingginya proses ramp check membawa pengaruh pada jadwal penerbangan. Disisi lain, pengamat transportasi yang pernah menjabat sebagai Direktur Utara Garuda Indonesia, Indra Setiawan, berpendapat bahwa prosedur ramp check adalah hak yang sepenuhnya dimiliki oleh otoritas penerbangan di negara tujuan.

“Memang penentuan ramp check ada unsur subyektivitas, namun tentu mereka (otoritas penerbangan di Singapura-red) mempunyai pertimbangan tersendiri untuk pemberlakuan ramp check pada pesawat asal negara tertentu. Semisal maraknya insiden pada penerbangan di Indonesia, itu bisa menjadi alasan bagi mereka untuk meningkatkan prosedur ramp check,” ujar Indra Setiawan saat dihubungi KabarPenumpang.com.

Baca juga: Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi

Indra menambahkan kasus larangan terbang bagi maskapai asal Indonesia ke Eropa pada beberapa tahun lalu, hal tersebut juga merupakan bukti subyektivitas dari otoritas penerbangan yang dilandasi track record atas beberapa kejadian. Seiring dengan membaiknya track record penerbangan, maka boleh jadi frekuensi ramp check akan dikurangi. Menurut Ari Askhara, tidak hanya Garuda Indonesia, frekuensi ramp check yang tinggi di Changi juga diberlakukan pada semua maskapai asal Indonesia yang terbang pulang pergi ke Singapura.

KA Galunggung Rute Kiaracondong-Tasikmalaya Mulai Beroperasi

Hari ini, kereta relasi baru dari Kiaracondong, Bandung menuju ke Tasikmalaya mulai diluncurkan ke rel oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kereta Galunggung ini akan menempuh ruter tersebut PP dan akan melayani penumpang dengan tiket gratis selama satu bulan.

Baca juga: PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman Istagram @kai121_, tiket gratis ini akan berlaku dari 26 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019 mendatang dan pemesanannya bisa langsung ke loket yang di singgahi KA Galunggung mulai H-7 keberangkatan. Tiket gratis ini hanya bisa dibeli maksimal empat tiket oleh satu orang.

Meski gratis, penumpang tetap harus menunjukkkan identitas diri saat pembelian tiket dan sebelum perjalanan. Kereta ini sendiri dalam satu rangkaian akan memiliki enam gerbong dengan kapasitas 636 kursi. Manajer Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) II Bandung, Jhoni Martinus mengatakan, penamaan kereta relasi baru ini dengan KA Galunggung karena diambil dari gunung berapi yang berada di Kabupaten Tasikmalaya.

Jadwal KA Galunggung (K@kai121_)

Jhoni menambahkan, KA Galunggung akan berangkat setiap hari dari Stasiun Kiaracondong pukul 06.05 WIB dan tiba di Tasikmalaya pukul 09.25 WIB. Sedangkan dari Tasikmalaya pukul 10.35 dan tiba di Kiaracondong pukul 14.11.

Kereta Galunggung akan berhenti di delapan stasiun dari arah Bandung dan tujuh stasiun dari arah Tasikmalaya. Delapan stasiun itu adalah Stasiun Cimekar, Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Leles, Cibatu, Cipeundeuy, Ciawi. Sedangkan dari Tasikmalaya ke Bandung yakni Stasiun Rajapolah, Ciawi, Cipeundeuy, Cibatu, Leles, Cicalengka dan Rancaekek.

“Selama masa uji coba dari tanggal 26 Desember 2018 hingga 25 Januari 2019 gratis, tiketnya nol rupiah,” tambah Jhoni.

Nantinya setelah masa uji coba dengan tarif nol rupiah, tarif yang akan diberikan oleh PT KAI sendiri berkisar di harga Rp25 ribu hingga Rp90 ribu. KA Galunggung sendiri hanya memiliki kelas ekonomi dalam perjalanannya.

Baca juga: PT KAI Akan Gandeng GoJek, Bayar KA Lokal Bisa Pakai Go-Pay?

Dikarenakan masih dalam tahap uji coba, tiket KA Galunggung juga hanya bisa dipesan melalui loket dan saat ini belum bisa dibeli melalui aplikasi KAI Access. Untuk diketahui, KA Galunggung sendiri saat ini menggunakan rangkaian KA Kahuripan.

Di 1965, Garuda Indonesia dengan Convair CV-990 Lakoni Penerbangan Jakarta – Amsterdam

Generasi milenial tentu tahu bahwa maskapai Garuda Indonesia kini melayani penerbangan rute jarak jauh non stop, dari Jakarta ke Eropa, entah itu dengan tujuan akhir Amsterdam atau London. Pesawat yang digunakan juga tergolong canggih, yaitu dengan pesawat wide body twin engine Boeing 777-300ER (Extended Range).

Baca Juga: MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43

Di masa sebelumnya, yaitu pada dekade 80/90an, Garuda Indonesia juga pernah melayani penerbangan ke beberapa kota utama di Eropa dengan jumbo jet Boeing 747-200. Tapi tahukah Anda, bahwa di dekade 60-an, saat belum tersedia pesawat wide body, faktanya Garuda Indonesia sudal berhasil mengibarkan sayapnya ke Benua Biru. Persisnya di tahun 1965, Garuda Indonesia berhasil membuka rute penerbangan Jakarta – Amsterdam, Belanda. Meski tidak non stop, namun faktanya di masa tersebut, pembukaan rute tersebut merupakan pencapaian besar dalam branding maskapai plat merah ini.

Di tahun 1965, Garuda Indonesia terbilang terdepan diantara maskapai-maskapai di belahan Asia Selatan. Dan penerbangan Jakarta – Amsterdam kala itu dilayani oleh pesawat komersial jarak jauh four engine Convair CV-990, jenis pesawat yang terbilang canggih saat itu, di pasaran Convair CV-990 setanding dengan Boeing 707.

Tentang Convair CV-990, di tahun 1960-an, nama pesawat ini ramai diperbincangkan, pasalnya salah satu variannya, Convair CV-990 Coronado baru saja selesai dirakit dan melakukan penerbangan perdana pada 24 Januari 1961. Menurut beberapa laman sumber yang dikutip KabarPenumpang.com, pesawat four engined narrow-body buatan Amerika ini merupakan suksesor dari Convair 880 – berdasarkan request yang dilontarkan oleh pihak American Airlines.

Karena sedang hangat-hangatnya diperbincangkan, wajar saja jika kala itu banyak maskapai yang ingin mengoperasikan Convair CV-990 Coronado – tidak terkecuali flag carrier Garuda Indonesia. Untuk ukuran industri penerbangan Indonesia tahun 1960-an, terbang dengan menggunakan Convair CV-990 Coronado sudah termasuk ke dalam kategori mewah. Pasalnya, sektor kedirgantaraan nasional kala itu masih didominasi oleh pesawat baling-baling yang menggunakan mesin Piston dan Prop-Jet.

Jika menilik ke spesifikasi dasarnya, pesawat ini memiliki panjang sekira 42,59 meter, dengan bentang sayap mencapai 36,58 meter. Adapun kapasitas maksimal dari Convair CV-990 Coronado adalah 149 penumpang dengan empat awak kabin. Convair CV-990 Coronado menggunakan empat buah mesin General Electric CJ805-23B turbofans, yang membuat pesawat ini mampu menembus kecepatan maksimum hingga angka 621 mph atau yang setara dengan 1.000 km per jam – kecepatan jelajah 896 km per jam.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia – Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Jika dibandingkan apple-to-apple, Convair CV-990 setara dengan Boeing 707 dan Douglas DC-8. Nah, seperti yang sudah disebutkan di atas, Garuda Indonesia juga pernah menggunakan jasa dari pesawat yang hanya diproduksi sebanyak 37 unit ini. Sekitar tahun 1965, Convair CV-990 “Majapahit” yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia melakukan penerbangan jarak jauh perdananya dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda. Dengan teknologi yang masih serba terbatas kala itu, maka sedikit tidak mungkin rasanya jika pesawat sekelas Convair CV-990 Majapahit milik Garuda Indonesia melakukan penerbangan langsung menuju Belanda.

 

Bandara London dan YouGov Survei 2000 Penumpang dan Temukan Beragam Masalah

Pebisnis dan pelancong banyak yang memilih menggunakan pesawat untuk bepergian. Hal ini dirasa lebih menghemat waktu dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya cukup jauh. Apalagi jika dengan kendaraan darat bisa memakan waktu lebih lama dari penerbangan.

Baca juga: Uji Pemindai “Walk Through,” Bandara Cardiff Jamin Potong Antrean Plus Tingkatkan Keamanan

Namun, ternyata bandara tempat penumpang menunggu keberangkatan pesawat mereka menjadi salah satu yang bisa menganggu. Pasalnya penumpang pesawat yang ada di bandara dari mulai masuk hingga mengantri di pemeriksaan keamanan memiliki tingkat stres yang cukup tinggi bila masa liburan tiba, bahkan ada penumpang yang lupa berperilaku semestinya jika sudah frustasi.

KabarPenumpang.com melansir laman express.co.uk (11/12/2018), dikarenakan tingkat stres dan frustasi yang tinggi membuat Bandara London Stansted dan YouGov melakukan survei pada dua ribu penumpang Inggris untuk mencari tahu kebiasaan penumpang bandara yang paling menjengkelkan. Di urutan pertama dengan persentasi 57 persen, mereka jengkel jika ada penumpang lain yang tiba-tiba saja melompat antrean alias terburu-buru sehingga menyerobot agar tidak tertinggal pesawat.

Urutan kedua adalah penumpang yang sering meletakkan tas atau barang bawaan lainnya di atas kursi. Sebanyak 41 persen penumpang yang disurvei mengatakan, hal tersebut sangat dibenci karena membuat orang lain tidak bisa duduk.

Ada 38 persen atau di urutan ketiga adalah proses yang lambat. Dimana penumpang merasa frustasi dengan pelancong lain yang tidak memiliki kelengkapan dokumen dan membuat yang lainnya ikut tertahan. Sedangkan untuk mengepak kembali tas mereka karena diperiksa saat antrean menahan penumpang lain dan ini sebanyak 34 persen penumpang merasa kesal.

Sebanyak 29 persen penumpang yang marah karena pelancong terburu-buru dan ingin bertemu orang di bandara. Sedangkan 25 persen dikecewakan karena gagal menumpuk nampan mereka setelah melalui keamanan bandara. Tujuh belas persen kesal karena tetap membawa barang-barang yang memicu detektor logam berbunyi di pakaian mereka dan ini membuat penumpang lainnya mau tak mau menunggu hingga selesai pemeriksaan.

Tiga belas persen lainnya kesal dengan orang-orang yang antre di gerbang sebelum penerbangan bahkan belum ada pemanggilan untuk masuk ke dalam pesawat. Yang terakhir adalah dimana penumpang tidak sengaja salah mengambil tas. Menurut staf bandara, bukan hanya sesama penumpang yang menemukan hal aneh, sebab mereka juga kerap kali menemukan sesuatu yang tak terduga.

Baca juga: Survei: Pelancong Bisnis Lebih Betah Berada di Bandara Ketimbang Stasiun!

Dimana ada hewan dan amunisi senjata yang mirip dengan abu manusia serta kembang api. Bahkan pernah ada petugas bandara yang menemukan seekor laba-laba hidup dalam tas penumpang.

“Penumpang itu tidak tahu ada laba-laba di tasnya. Saat dibuka laba-laba itu keluar dan merayap,” ujar seorang petugas.

Konstruksi Capai 97,52 Persen, MRT Jakarta Lakukan Fase Parallel Trial Run

Jelang beroperasinya MRT Jakarta yang ditargetkan pada Maret 2019, MRT Jakarta terus melanjutkan berbagai pengujian yang dipersyaratkan dari regulator, dan sebagai upaya untuk dapat menghadirkan layanan dengan standar kualitas yang baik kepada publik. Sejalan dengan kemajuan konstruksi yang telah mencapai 97,52 persen pada akhir November lalu, MRT Jakarta melaksanakan fase Testing & Commissioning dan Trial Run dengan rincian sebagai berikut:

1. Fase Testing & Commissioning (Agustus 2018 – Februari 2019), adalah fase pengecekan dan pemeriksaan sistem yang sepenuhnya dilakukan oleh Kontraktor dengan pengawasan dari MRT Jakarta. Pada fase ini MRT Jakarta mengundang pemangku kepentingan secara terbatas untuk menyaksikan kegiatan testing & commissioning tersebut.

Baca juga: Palyja Rencanakan Pasang Drinking Fountain di 3 Stasiun Besar MRT Jakarta

2. Fase Parallel Trial Run (akhir Desember 2018 – Februari 2019), adalah fase uji coba dimana dilakukan uji coba MRT Jakarta secara paralel dengan tahap Testing & Commissioning. Pada tahap ini MRT Jakarta akan melibatkan pemangku kepentingan secara terbatas khususnya yang memiliki keterlibatan/dampak/pengaruh secara langsung dalam proses pembangunan MRT Jakarta berdasarkan data yang telah dimiliki oleh MRT Jakarta.

3. Fase Full Trial Run (pertengahan Februari 2019 – operasi komersial MRT Jakarta Maret 2019), merupakan tahap uji coba operasi penuh oleh MRT Jakarta. Pada tahap ini MRT Jakarta akan melakukan pelibatan publik secara terbatas.