Visi 2025, Belanda Harapkan Kehadiran Kereta dengan Interior Gerbong yang Bisa Dikustom

Menikmati perjalanan dengan kereta api, adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Selain terhindar macet, pemandangan yang disajikan kereta api pun beragam dan menyejukkan hati. Namun pernah membayangkan saat berada di dalam kereta api dan per gerbongnya memiliki zona khusus sesuai keinginan penumpang?

Baca juga: Amsterdam Centraal, Stasiun Tersibuk Kedua di Belanda

Mungkin ini ada di angan-angan penumpang dan belum akan terealisasikan dalam waktu dekat. Selain agak mustahil, bila pun terealisasikan di dunia nyata, tarifnya pun tidak akan sama dengan biasanya. Bahkan di Indonesia pun belum tahu kapan akan ada yang seperti ini. KabarPenumpang.com melansir dari laman curbed.com (16/11/2018), memang seperti tidak mungkin, tetapi baru-baru ini, Perusahaan Kereta Api Nasional Belanda memamerkan visi terbarunya untuk kereta api.

Ilustrasi kursi dalam kereta (Curbed)

Nantinya visi kereta baru ini akan hadir tahun 2025 mendatang. Perusahaan Kereta Api Nasional Belanda merealisasikan ini dengan bekerjasama bersama Mecanoo yang merupakan perusahaan arsitek dan Gispen sebuah perusahaan furnitur di Belanda. Keduanya berkolaborasi untuk menghadirkan hal baru dari visi Perusahaan Kereta Api Belanda tersebut.

Untuk itu, Mecanoo dan Gispen melakukan penelitian terhadap aktivitas para penumpang kereta api dan memutuskan ada enam zona aktivitas yang disukai penumpang. Sehingga keduanya merancang 12 modul furnitur berbeda dan mengusulkan konfigurasi kereta yang memfasilitasi masing-masing zona tersebut.

Keduanya menciptakan ruang dalam kereta agar penumpang bisa merasakan kenyamanan saat duduk, kustom pun disesuaikan dengan aktivitas mereka, ukuran kelompok, kebutuhan dan lamanya waktu perjalanan. Seperti dua kursi klasik, kursi berbentuk U yang mengelilingi meja lipat, kursi tunggal dengan meja dan lainnya.

Baca juga: Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo!

Tata letaknya yang berbeda dari interior kereta membuatnya akan lebih nayam dan ramah bagi semua penumpang yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Setiap bahan dapat digunakan kembali dan kompartemen modul dapat diongkar serta dikonfigurasikan dengan mudah. Sedangkan desain saat ini masih dalam konseptual kedua perusahaan, tetapi proyek ini diusahakan bisa menjadi nyata untuk membagikan pengalaman yang nyaman, menyenangkan dan efisien.

Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan

Kendati namanya tidaklah sebesar Emirates, Qatar Airways, atau bahkan Etihad, namun Flag Carrier Hong Kong, Cathay Pacific memiliki skema pengelolaan sektor udara yang hampir mirip seperti Indonesia. Jika Tanah Air memiliki Garuda Indonesia sebagai induk perusahaan dan Citilink sebagai anak perusahaan yang menjajaki dunia Low Cost Carrier, maka Cathay Pacific pun punya Cathay Dragon yang menjadi anak perusahaan dari maskapai berslogan “Life Well Traveled” ini.

Baca Juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Cathay Dragon yang semula bernama Dragonair ini berdiri pada 24 Mei 1985 dan memulai pengoperasian perdananya dua bulan berselang. Pada awal mulanya, maskapai ini berdiri atas inisiasi dari Kuang-Piu Chao, seorang pebisnis asal Shanghai sebagai anak perusahaan dari Hong Kong Macau International Investment Co. Diketahui pula bahwa Dragonair merupakan perusahaan maskapai Cina pertama di Hong Kong.

Di awal pengoperasiannya, Dragonair menggunakan menggunakan armada Boeing 737-200 dan terbang dari Kai Tak International Airport menuju Kota Kinabalu International Airport di Malaysia, tepat setelah pihak maskapai menerima Air Operator’s Certificate (AOC) dari Pemerintah Hong Kong.

Dua tahun setelah penerbangan perdananya, nama Dragonair tercatat sebagai maskapai berbasis di Hong Kong pertama yang tergabung sebagai member aktif di International Air Transport Association (IATA). Maskapai ini juga tercatat sebagai kompetitor lokal utama dari Cathay Pacific yang berdiri pada 24 September 1946.

Persaingan yang terjadi antara Dragonair dan Cathay Pacific terjadi begitu ketat – sampai-sampai pihak Cathay Pacific berjuang keras untuk memblokir aplikasi slot penerbangan dari Dragonair. Persaingan ini lalu berbuntut di hadapan Otoritas Perizinan Transportasi Udara Hong Kong, dimana kala itu, Pemerintah Hong Kong mengadopsi kebijakan “satu rute, satu maskapai”. Kebijakan ini sendiri berlangsung hingga tahun 2001 silam.

Melihat situasi yang sudah mulai tidak kondusif untuk perusahaan dan tidak bisa lagi bersaing dengan Cathay Pacific, Stephen Miller yang kala itu menjadi CEO dari Dragonair mengatakan, “kami mendapat banyak tentangan dari Cathay,”

Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika

Singkat cerita, Dragonair yang mulai terseok-seok menghadapi raksasa Cathay Pacific lalu diakuisisi oleh tiga perusahaan sekaligus – Cathay Pacific, Swire Group dan CITIC Pacific pada Januari 1990. Hingga pada 28 September 2006, Dragonair sudah sepenuhnya menjadi anak perusahaan dari Cathay Pacific.

Baru pada Januari 2016 kemarin, Cathay Pacific mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menggunakan nama Dragonair, melainkan Cathay Dragon dan nama ini mulai aktif di dunia aviasi global tertanggal 21 November 2016.

 

Tidak Lagi Pakai Red Arrow, Seibu Railway Siap Pamerkan Armada Terbarunya Pada Maret 2019

Salah satu operator kereta asal Negeri Sakura, Seibu Railway Co. akan mulai mengoperasikan layanan baru yang menghubungkan Seibu Ikebukuro dan Seibu Chichibu Line pada bulan Maret 2019 mendatang. Uniknya, perusahaan sempat kebingungan dengan penamaan dari layanan kereta ekspress ini – setelah melewati penjajakan yang cukup panjang, akhirnya mereka setuju untuk menamai armada mereka dengan nama “Laview”.

Baca Juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asahi.com (26/11/2018), Direktur Seibu Railway Co., Hisashi Wakabayashi mengatakan bahwa penggantian nama dari “Red Arrow” menjadi “Laview” akan memberikan warna baru bagi perusahaan tersebut. “Kami berharap semua orang akan menyukainya, Laview akan menjadi andalan baru bagi penumpang,” papar Hisashi. Memang, warga Jepang lebih akrab dengan nama Red Arrow ketimbang Laview, pasalnya nama ini telah digunakan selama kurang lebih setengah abad lamanya.

Pada awalnya, Seibu Railway Co. sendiri menginginkan sebuah konsep kereta yang cocok dengan lembut dan indahnya pemandangan yang disajikan pada rute Seibu Ikebukuro dan Seibu Chichibu Line tersebut. Dengan hadirnya Laview, ini menandakan peningkatan kualitas yang masif di tubuh perusahaan selama kurun waktu 25 tahun terakhir.

Armada Seibu Railway lama. Sumber: Wikipedia

 

Berbeda dengan kebanyakan bentuk kereta biasa, Laview memiliki bentuk body yang lebih bundar dengan balutan cat warna perak. Ukuran jendela dari Laview juga terbilang cukup besar – tinggi 1,35m dan lebar 1,58m – yang membentang dari kursi hingga kompartemen atas penumpang. Salah satu ciri khas dari pendahulunya, yaitu garis merah yang membentang sepanjang body kereta dihilangkan oleh pihak desainer.

Sebanyak tujuh layanan kereta ekspres sekarang beroperasi di Seibu Ikebukuro dan Seibu Chichibu Line akan digantikan oleh “Laview” pada akhir tahun fiskal 2019.

Baca Juga: Demi Kereta Cepat “Aero Train,” Cina dan Jepang Resmi Berkolaborasi

Sebelumnya, kereta ekspres pertama yang digunakan oleh Seibu Railway Co. adalah seri 5000, dimana debut perdananya bertepatan dengan pembukaan Seibu Chichibu Line pada tahun 1969. Lalu pada tahun 1993, perusahaan mulai memperkenalkan armada seri 10.000 yang juga sama seperti seri 5000 – memiliki garis merah atau Red Arrow pada bagian sisi bodynya.

Hindari Kecurangan di Bagasi Kabin, Qantas Lakukan Audit Penumpang

Penumpang pesawat kerap kali malas atau menghindari barang bawaan mereka masuk ke dalam kargo. Hal ini kemudian membuat penumpang memasukkan barang mereka ke kabin dan melebihi kapasitas yang seharusnya. Baru-baru ini, Qantas mulai menekan pelancong yang mencoba melanggar aturan bagasi bawaan mereka.

Baca juga: Tak Mau Keluarkan Biaya Ekstra Karena Kelebihan Bagasi? Yuk Disimak Tipsnya!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (26/11/2018), bahwa Qantas saat ini membuat aturan dimana pelancong hanya bisa membawa dua tas ke dalam kabin pesawat dengan berat tujuh kilogram baik penerbangan domestik ataupun internasional. Namun, di era digital ini, pelancong banyak yang mengambil keuntungan dengan melakukan check in online dan menghindari konter agar barang tak di timbang.

Adanya tindakan curang ini, membuat Qantas membuat fokus baru pada bobot bawaan penumpang. Juru bicara Qantas mengatakan, mereka telah meningkatkan aturan batas barang bawaan penumpang sebagai bagian dari audit mereka selama beberapa bulan terakhir. Hal tersebut dimaksudkan agar penerbangan lebih adil bagi semua penumpang. Ini juga agar penerbangan dapat berangkat tepat waktu.

“Kami mendapat umpan balik dari selebaran reguler yang mengatakan bahwa semua pelanggan perlu diingatkan tentang berapa banyak bagasi yang dapat mereka bawa. Jadi kami memperbarui fokus kami untuk menjaga bagasi kabin di dalam tunjangan dan memastikan semua orang memiliki bagian ruang yang adil.’ Juga akan ada risiko keamanan yang lebih sedikit dari loker overhead yang berlebih,” ujar juru bicara Qantas.

Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

Virgin Australia mengatakan mereka memperingatkan pelanggan tentang pentingnya membawa barang bawaan bawaan sebelum penerbangan mereka. Sementara itu Jetstar, telah memperkenalkan kebijakan baru tahun ini yang memungkinkan penumpang untuk membeli 3kg tambahan bagasi bawaan.

Fokus untuk menjaga penumpang bagasi di bawah batas berat datang ketika maskapai penerbangan Australia memangkas berat pesawat mereka karena tingginya biaya bahan bakar Qantas dan Virgin baru-baru ini mengganti rem baja pada armada mereka dari Boeing 737, menghemat sekitar 300 kg. Qantas juga telah memindahkan 440 kg lebih lanjut dari masing-masing pesawatnya dengan mengganti unit penyimpanan kargo tradisional dengan unit ringan yang terbuat dari material komposit.

Bus di Amerika Serikat Sepi Peminat, Beberapa Kota Berbenah

Banyak sekali negara-negara yang saat ini tengah mengalami penurunan terhadap penumpang busnya. Salah satunya adalah Amerika, dimana bus dianggap transportasi yang tidak efisien dibandingkan yang lainnya. Beberapa kota di Amerika Serikat kini tengah berusaha mengubah bus kembali layak dan diminati penumpang.

Baca juga: Terkait Aspek Keamanan, Bus Tingkat Lebih Cocok di Jalanan Dalam Kota

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman vox.com, bagi orang-orang yang tidak suka naik bus, mereka akan mengatakan panas, lambat dan memperlambat perjalanan karena terkena kemacetan lalu lintas. Bahkan bila dihitung secara statistik sebuah bus padat berisi 40 orang penumpang lima diantaranya adalah pencopet ataupun perampok. Beberapa orang pengguna bus, bahkan seperti diasingkan, padahal bus salah satu moda transportasi mudah digunakan hingga tempat kerja mereka.

Laporan American Transit Association, 68 persen pengendara bus tidak memiliki kendaraan dan ini 50 persennya adalah pengguna kereta api. Permintaan bus pun turun karena adanya skuter dan sepeda elektronik yang mengantarkan penumpang ketujuan mereka. Masalahnya saat ini menjalankan bus setiap 30 menit di jalur yang sama adalah kegagalan. Sebab di kota besar, kekhawatiran tentang kecepatan perjalanan dan waktu tunggu yang lama karena kemacetan lalu lintas menjadi salah satu kurangnya minat penumpang kepada penggunaan bus.

Amos Haggiag tengah memperbaiki masalah tersebut dengan perusahaannya yakni Optibus yang merupakan penyedia perangkat lunak yang membantu kota mengoptimalkan sistem transit publik mereka. Haggiag sendiri bersama Optibus sudah bekerja dengan kota-kota Las Vegas dan Austin untuk meningkatkan transit bus mereka dan mengatakan infrastruktur bus Amerika yang menurun berkaitan dengan banyaknya mobil pribadi.

“Di Amerika Serikat, angkutan umum sering dilihat hanya menguntungkan penduduk berpenghasilan rendah, kelompok yang sering diabaikan oleh lembaga pemerintah. Terkadang Anda akan melihat lebih banyak anggaran masuk ke kereta karena itu adalah alasan yang menyedihkan, tetapi kebanyakan karena penduduk berpenghasilan tinggi menggunakan bentuk mobilitas itu, yang merupakan sesuatu yang sangat spesifik untuk AS,” kata Haggiag.

Masalah lainnya adalah bahwa sistem bus di AS tidak berjalan dengan benar terutama di pinggiran kota besar sehingga membiarkan pengguna mobil menggunakan kendaraan pribadi mereka. Haggiag juga mencatat, jalanan Amerika tidak sebaik di negara lain. Beberapa kota berusaha memperbaiki sistem bus mereka dengan memperhatikan cakupan, frekuensi, titik harga, dan suasana menuju bus itu sendiri.

Di Bronx, MTA menyelenggarakan forum-forum publik untuk menanyakan kepada para pengendara apa yang mereka butuhkan dari sistem bus mereka, karena para penumpang telah jatuh selama bertahun-tahun. Pada pertemuan tersebut, pengendara berdebat apakah mereka lebih suka memiliki frekuensi atau cakupan lebih, membahas pentingnya fasilitas bus seperti informasi real-time, dan berbicara tentang seperti apa pengalaman bus baru-baru ini.

Proses ini pertama kali dilakukan di Staten Island, di mana MTA menerapkan enam jam sibuk baru berdasarkan umpan balik pelanggan. Pada tahun 2015, Houston mendesain ulang sistem busnya dengan menyingkirkan rute yang digunakan secara ringan dan membuat jalur bus lebih lurus dan lebih mudah diingat. Dengan menghilangkan pemberhentian, mereka dapat mengirim bus lebih sering ke daerah padat penduduk, melayani sekitar satu juta warga Houston. Sekarang penumpang tidak perlu menunggu lebih dari 15 menit untuk naik bus.

Washington, DC, juga menangani kekurangan infrastruktur bus dengan mengalokasikan US$2,2 juta untuk Proyek Transformasi Bus, sebuah komite yang akan meminta pengendara di wilayah tersebut, peran apa yang mereka pikir bus harus mainkan di DC, kemudian datang dengan langkah-langkah konkret untuk menyediakan layanan yang lebih baik dalam 10 tahun ke depan.

Seattle adalah salah satu kota yang tidak jatuh pada 17 persen penurunan penumpang bus selama dua dekade terakhir. Baru tahun ini, kota ini mengumumkan bahwa sistem transitnya tumbuh lebih cepat daripada yang lain di negara ini. Sebanyak 191,7 juta penumpang yang diambil pada tahun 2017 adalah yang tertinggi yang pernah ada di wilayah itu.

Kota ini melakukan hal ini dengan melakukan beberapa hal yakni membuat transfer dari kereta ringan menjadi bus lebih mudah, menerapkan jalur bus, mengoptimalkan rute sehingga mereka pergi ke tempat-tempat yang paling padat, dan menerapkan lompatan antrean yang memungkinkan bus untuk memulai sebelum mobil lain di lampu lalu lintas.

“Biaya untuk banyak proyek-proyek ini cukup murah. Ketika kami masuk ke jalur khusus bus, kami memasukkan beberapa cat dan beberapa tanda, yang bisa berharga serendah US$10 ribu hingga US$20 ribu,” kata insinyur lalu lintas kota Seattle Dongho Chang.

Sebagian besar upaya fokus pada analisis area dan lokasi dengan volume tinggi dengan penundaan yang signifikan dan mencoba memecahkan masalah mereka. Peningkatan jumlah penumpang mungkin juga berkaitan dengan kemampuan naik bus, yang telah dicapai Seattle dengan memberikan diskon kepada manula dan pengendara berpenghasilan rendah dan membiarkan siswa sekolah menengah naik secara gratis.

Baca juga: Incar Efisiensi Daya Angkut dan Ramah Lingkungan, Los Angeles Adopsi Bus Tingkat Bertenaga Listrik

Chang mengatakan bahwa itu adalah kunci untuk tidak hanya berinvestasi di rute bus tetapi juga untuk memusatkan pekerjaan dan perumahan di daerah perkotaan. Saat ini, 97 persen penduduk tinggal di seperempat mil dari halte bus dan pusat kota Seattle memiliki 262.000 pekerjaan.

“Saya pikir apa yang kami terapkan di Seattle sangat dapat diterjemahkan ke kota-kota kecil dan kota-kota besar lainnya. Ini benar-benar tentang perencanaan komunitas Anda sehingga pertumbuhan dan perkembangan dapat diprediksi dan moda transportasi memiliki kemampuan untuk melayani pertumbuhan saat terjadi,” kata Chang.

Kehadiran Skybridge Bakal Ubah Tata Letak Pintu Stasiun Tanah Abang

Pembangunan jembatan penyeberangan multi guna (JPM) atau skybrige oleh Pemprov DKI akan berdampak pada perubahan tata letak ruangan di Stasiun Tanah Abang. Simulasi skybrige sendiri akan berlangsung dari tanggal 23 hingga 30 November 2018.

Baca juga: TransJakarta Explorer, Gratis Untuk Penumpang Stasiun Tanah Abang

Kepala Humas Daerah Operasional (Daop) I Jakarta Edy Kuswoyo mengatakan akan adanya simulasi yang dilakukan PT KAI dan KCI untuk mengetahui waktu kepadatan arus penumpang Stasiun Tanah Abang. Dia mengatakan akan melihat arus penumpang dari hari ke hari seperti apa kepadatan di lantai atas baru dibuat pemetaan.

“Pemetaannya sendiri saat ini masih progres, karena hal tersebut berkaitan dengan keselamatan, pelayanan, kenyamanan, keamanan dan ketertiban penumpang di stasiun,” ujar Edy saat dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (27/11/2018).

Dia mengatakan pemetaan ini sendiri berkaitan dengan pergeseran gate (pintu) dan hasil evaluasi dari simulasi tersebut akan dijadikan pertimbangan perubahan tata ruang Stasiun Tanah Abang. Kepala Daop I, Dadan Rudiansyah menambahkan, PT KAI sendiri berencana memindahkan gate keluar masuk penumpang yang berada di lantai 2 Stasiun Tanah Abang sehingga posisinya akan lebih dekat dengan skybridge.

Sehingga skybridge ini akan terkoneksi langsung dengan stasiun. Namun, pihaknya khawatir bila pintu tidak dipindah, maka ruang kosong antara skybridge dengan stasiun akan penuh dengan masyarakat maupun pedagang.

Dadan mengatakan, terkait hal ini, pihaknya masih mengkaji pemindahan gate itu, sebab jika gate dipindah akan ada pengurangan dan dikhawatirkan mengganggu arus penumpang di stasiun. Edy menambahkan saat ini ada 13 gate dan jika dipindah akan berkurang menjadi tujuh karena lebar ruang kosong di dekat skybridge lebih sempit.

Baca juga: Stasiun Palmerah, Dulu Bernama Paal Merah yang Berarti Patok Merah

Dengan adanya pemetaan ini sendiri, Dadan mengatakan, PT KAI berencana membongkar sejumlah ruangan sehingga ada ruang yang lebih lebar untuk pemasangan pintu.

“Kami akan membuka (bongkar ruangan), kami minta waktu mengevaluasi itu, ada ruangan VIP dan kepala stasiun, mungkin akan kita buka,” kata Dadan.

Tak hanya gate, loket penjualan tiket pun akan berpindah letaknya di depan gate.

Layani 85,6 Juta Penumpang Per Tahun, Haneda Masih Jadi Bandara Tersibuk di Jepang

Tidak bisa dipungkiri bahwa Jepang didaulat sebagai salah satu kiblat perkeretaapian dunia. Namun tidak melulu soal kereta, Jepang juga terkenal sebagai negara dengan tingkat perjalanan udara yang cukup tinggi. Dalam sebuah data yang dirilis oleh Kementerian Lahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata, tampak jumlah penumpang yang mengudara pada tahun 2017 – penerbangan domestik dan internasional menyentuh angka 257,91 juta penumpang dari 10 bandara kenamaan di sana.

Baca Juga: Haneda, Bandara Terbersih di Dunia Cerminan Budaya Jepang

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman nippon.com (13/11/2018), Bandara Haneda menduduki peringkat tertinggi lalu lintas penumpang di 10 bandara tersebut dengan perolehan 85,68 juta penumpang pada rute domestik dan internasional. Di posisi kedua diduduki oleh Bandara Internasional Narita dengan jumlah 38,96 juta penumpang pada tahun 2017 untuk rute domestik dan internasional. Sedangkan di posisi ketiga ada Bandara Internasional Kansai dengan jumlah 28,71 juta penumpang pada tahun 2017.

Sebagai perbandingan, Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng mencatat angka 63,015 juta penumpang di tahun yang sama – tidak mampu menandingi perolehan angka dari Bandara Haneda. Sebanyak kurang lebih 80 persen penumpang yang mengudara dari Bandara Haneda (sekira 68,6 juta penumpang) tersebut merupakan penumpang penerbangan domestik.

Terlepas dari tujuan para penumpang ini mengudara – untuk urusan bisnis, keluarga, atau wisata, namun angka tersebut cukup menunjukkan bahwa warga Jepang masih lebih memilih menggunakan pesawat ketimbang kereta api yang juga menghubungkan berbagai daerah di Negeri Sakura.

Tingginya angka lalu lintas penumpang di bandara-bandara tersebut mengindikasikan bahwa Jepang tidak hanya unggul di sektor kereta apinya saja, melainkan juga di jalur udaranya. Tercatat, ada 101 bandar udara di Jepang, termasuk dengan bandar udara khusus militer dan bandar udara privat.

Baca Juga: Hokkaido Shinkansen, Bisa Tetap Kebut Walau di Bawah Laut

Sementara itu, untuk jalur penerbangan domestik rute penerbangan Haneda – New Chitose (Sapporo) menduduki peringkat pertama dalam hal jumlah penumpang dengan angka 9,05 juta penumpang di tahun yang sama. Sementara di posisi kedua diduduki oleh rute Haneda – Fukuoka dengan perolehan 8,54 juta penumpang, disusul oleh rute Haneda – Naha dengan jumlah penumpang 5,8 juta penumpang.

Penglaris, Hamburger Hochbahn Kedatangan Mercedes-Benz eCitaro Perdana!

Masih ingat dengan eCitaro? Ya, ini adalah bus listrik mahakarya raksasa otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz yang belakangan ini ramai diperbincangkan oleh sebagaian kalangan. Untuk diketahui, eCitaro merupakan suksesor dari pendahulunya, Citaro yang sebanyak 50 ribu unitnya sudah tersebar di seluruh dunia. Sebagai penglaris, salah satu jaringan bus di Jerman, Hamburger Hochbahn baru-baru ini mendapatkan all-electric bus perdananya yang menjadi bagian dari total pemesanan 20 unit yang dilakukan pada awal tahun 2018 kemarin.

Baca Juga: Mercedes eCitaro Diluncurkan Perdana September 2018

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman insideevs.com (22/11/2018), Hamburger Hochbahn sendiri berencana untuk mengganti semua armada bus dieselnya dengan bus listrik pada tahun 2020 mendatang – itu berarti sebanyak kurang lebih 1000 bus diesel yang beroperasi untuk Hamburger Hochbahn akan memasuki masa pensiun dalam waktu dekat ini.

Menyoal spesifikasi, Mercedes-Benz menggunakan baterai berkapasitas 243kWh pada eCitaro yang membuatnya mampu menempuh jarak hingga 150km dalam sekali pengisian daya. Moda ini sendiri, lanjut pihak Mercedes-Benz mampu menampung penumpang hingga 88 orang dalam sekali perjalanannya.

“Mercedes-Benz eCitaro merupakan bus fully-electric pertama yang dirakit dan dikembangkan di Jerman. Sunyi dan bebas emisi merupakan nilai plus bagi eCitaro yang secara aktif mendukung program bebas polusi yang tengah digalakkan oleh pemerintah di berbagai penjuru dunia,” ujar pihak Mercedes-Benz.

Pihak Mercedes-Benz sendiri mengaku bahwa eCitaro menggunakan beragam teknologi inovatif yang dapat meningkatkan kinerja dari bus listrik itu sendiri, salah satunya adalah thermo-management. Thermo-management ini sendiri merupakan teknologi yang dapat mengukur panas pada mesin kendaraan listrik, dimana ini memegang peranan yang vital guna meningkatkan kinerja dari bus itu sendiri – mereduksi penggunaan energi dan meningkatkan jarak tempuh.

Baca Juga: Inilah Citaro, Primadona Bus Listrik Besotan Mercedes Benz

Perusahaan juga membanggakan desainnya yang berbeda dari kebanyakan bus listrik, dimana ini menjadi daya jual yang kasat mata. Penggunaan lampu LED pada kebanyakan bagian bus – headlamp, dan lampu interior menambah daya tarik dari keseluruhan bus ini, dimana kesan modern semakin tidak bisa dipisahkan. Pun dengan lampu strip LED yang digunakan sebagai lapu rem belakang.

 

Tohoku Emotion, Kereta Tematik dengan Menu Restoran Bintang Lima

Sebagai negara yang terkenal dengan jaringan perkeretaapiannya yang sudah menjelma menjadi tulang punggung transportasi di sana, Jepang memiliki ratusan jenis kereta yang dapat dinikmati tidak hanya oleh warga asli sana, pun dengan para pelancong. Ketepatan waktu yang luar biasa dan inovasi, dipadukan dengan perkembangan teknologi yang membalut dunia perkeretaapian di sana seolah menjadikan jaringan ular besi negara ini lengkap dan sempurna.

Baca Juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang

Bahkan, saking lengkapnya, ada satu jenis kereta dimana para penumpang lebih tertarik dengan suguhan menu di dalamnya ketimbang destinasi tujuan mereka. Ya, adalah Kereta Tohoku Emotion atau yang lebih tepat disebut sebagai restoran di atas kereta ini pertama kali diluncurkan pada Oktober 2013 silam – mengular sepanjang Pantai Sanriku di wilayah Tohoku, sebelah utara Jepang.

Berdasarkan kutipan KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (16/11/2018), Kereta Tohoku Emotion ini merupakan salah satu ‘Joyful Train’ yang dioperatori oleh East Japan Railway Company (JR East). Menurut sang operator, Kereta Tohoku Emotion merupakan satu dari sekian banyak kereta tematik yang ditujukan untuk mempromosikan prefektur-prefektur yang masih minim pengunjung – menyusul Pokemon with You Train dan SL Ginga, kereta uap bertema ruang angkasa dengan planetariumnya sendiri.

Sumber: JR East

Kereta Tohoku Emotion sendiri menyajikan beragam penganan racikan celebrity chef asal Negeri Sakura yang dijamin menggugah selera. Dengan menggunakan komoditas utama dari Tohoku seperti bulu babi, daging sapi, jamur shiitake, hingga anggur kualitas premium – para koki terkenal tersebut siap meracik penganan yang akan menggoyang lidah para penikmatnya.

Guna mencegah kebosanan, pihak JR East mengganti juru masak di Tohoku Emotion setiap enam bulan sekali dan menunya diperbarui selama masa pengoperasian tersebut. Kini, Kereta Tohoku Emotion dipimpin oleh Shinsuke Ishii, seorang chef kenamaan pemilik restoran Sincere di Tokyo dan mantan chef di restoran non-reservasi populer di Perancis, Bacar. Masa jabatan Shinsuke sendiri akan berakhir pada Maret 2019 mendatang.

Ketika mengular bersama Kereta Thokou Emotion dari kota Hachinohe di Prefektur Aomori dan Kuji di Prefektur Iwate selama 1,5 jam, penumpang akan disuguhi empat penganan makan siang yang berbeda dan satu menu dessert. Perpaduan makan mewah ala restoran bintang lima, bisingnya suara kereta, dan pemandangan khas si ular besi tentu menyajikan nilai estetika tersendiri bagi setiap orang yang pernah mencobanya.

Baca Juga: Jelang Pensiun, JR West Pamerkan Kereta Peluru Tematik, Shinkansen 500 EVA “Evangelion”

Sebagai informasi tambahan, Kereta Tohoku Emotion ini sendiri terdiridari tiga rangkaian – gerbong satu terdiri dari tujuh kompartemen pribad dan gerbong dua untuk dapur. Digadang-gadang, kereta ini mampu mengangkut sekitar 48 penumpang dalam sekali perjalanannya.

Bagi Anda yang tertarik untuk menjajal sensasi makan mewah diatas kereta sambil menikmati pemandangan khas Negeri Sakura, siap-siap untuk merogoh kocek sekira USD$106 atau yang setar dengan Rp1.500.000 untuk perjalanan pulang pergi, lengkap dengan penganannya. Patut dicatat, kereta ini hanya mengular pada hari Jumat hingga Senin saja.

Meski Difabel, Bukan Halangan Bagi Wanita ini Menjadi Pengantar GrabFood

Hingga saat ini, para difabel masih saja dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang. Namun apa jadinya bila melihat pemandangan seorang difabel yang menjadi pengantar makanan dengan menggunakan kursi roda berada di dalam sebuah moda transportasi umum? Tentu, Anda bisa mengatakan bahwa kita harus memperlakukan orang cacat tidak berbeda dengan yang berbadan sehat.

Baca juga: Ibu Hamil Berdiri, Penumpang Sehat Duduki Kursi Prioritas di Kereta

Tetapi orang-orang menemukan bahwa seseorang dengan mobilitas terbatas akan bersedia untuk melampaui apa yang diharapkan darinya dan menemukan pekerjaan yang melibatkan perjalanan jarak jauh untuk mengambil dan mendistribusikan pesanan makanan. KabarPenumpang.com melansir dari laman theindependent.sg (23/11/2018), pada Jumat kemarin dimana seorang wanita difabel menjadi viral saat menggunakan MRT.

Ada hal yang menarik yakni bukan sembarang wanita, tapi wanita berkursi roda ini tampak sebagai pengantar GrabFood, menilai dari pakaiannya dan tas makanan besar yang tergantung di punggungnya. Seorang penumpang yang juga warganet mengabadikan kejadian itu dan mengunggahnya di Facebook-nya. Meski menjadi seorang pengantar makanan, wanita difabel tersebut tetap melakoni pekerjaannya walaupun geraknya terbatas karena menggunakan kursi roda.

Foto yang tersebar di media sosial tersebut dalam tiga jam menjadi viral dan menarik hampir lebih dari seribu reaksi dan 400 warganet membagikannnya. Foto tersebut memiliki caption “Selalu ada orang-orang yang malas mengeluh meskipun mereka berada di tempat yang baik. Lihatlah wanita ini melakukan pengiriman GrabFood meskipun geraknya terbatas! Orang-orang yang malas itu harusnya diam saja.”

Kepala GrabFood Singapura James Ong mengatakan, “Kami sangat terinspirasi oleh mitra pengiriman dan berbesar hati untuk melihat komitmennya.”

Baca juga: Mudahkan Penyandang Disabilitas, Tahun 2025 Semua Bus di Seoul Adopsi Low Deck

Dia mengatakan, pekerjaan tersebut patut dipuji dan perusahaan inklusif untuk yang berbeda dan menyambut mereka untuk mendapat pekerjaan dan membuat hidup yang jujur.

“GrabFood bangga menjadi platform yang memungkinkan wirausaha mikro seperti mitra pengiriman kami. Mereka memiliki fleksibilitas untuk merencanakan pengaturan kerja mereka, dari moda transportasi pilihan ke jam kerja mereka,” ujar Ong.