Hindari Denda, Taiwan Sediakan Banyak Mesin Penjual Masker di Stasiun Kereta

Masker menjadi wajib digunakan oleh semua orang di masa pandemi ini. Bahkan beberapa negara memiliki mesin penjual masker di berbagai fasilitas publik untuk memudahkan mereka yang harus mengganti dan tidak membawa cadangan untuk menggantinya.

Baca juga: Bandara Zurich Hadirkan Mesin Penjual Masker Otomatis Anti Covid-19

Di Singapura pun ada mesin penjual masker gratis dan memudahkan penumpang atau masyarakat untuk membelinya. Sehingga setiap orang yang lupa menggunakan masker atau lupa membawa ganti ketika sudah basah atau kotor bisa membelinya dengan mudah.

Karena penggunaan masker menjadi hal yang wajib, beberapa negara menerapkan aturan khusus perihal penggunaan masker ini. Bahkan mereka memberikan sanksi atau denda yang cukup besar, agar setiap orang sadar pentingnya menggunakan masker.

Seperti di Taiwan, banyak mesin penjual masker bermunculan di stasiun kereta api. Kehadiran mesin tersebut membantu penumpang untuk menghindari denda karena ketika seseorang tidak menggunakan masker di sistem transportasi bisa membuat mereka membayar denda hingga 15 ribu yuan atau sekitar Rp330 juta.

KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (11/10/2021), mesin penjual masker ini juga telah di pasang di stasiun utama di kereta bawah tanah Taipei. Uniknya masker yang dijual bukanlah berwarna putih polos seperti di beberapa negara, melainkan ada tiga warna yakni biru, oranye dan kuning.

Cara untuk membelinya pun mudah, Anda memasukkan uang sepuluh yuan ke dalam mesin dan tekan tombol untuk memilih salah satu warna yang ada. Nanti mesin akan mengeluarkan amplop kertas dan menemukan masker berwarna yang masih disegel dalam kantong plastik dengan warna pilihan sesuai dengan keinginan penumpang yang membelinya.

Baca juga: Singapura Siapkan Vending Machine yang Hadirkan Masker Gratis

Mesin penjual masker di stasiun Taipei sangat nyaman dan mudah digunakan dan ini bisa menyelamatkan penumpang dari denda besar dalam hitungan detik jika mereka tidak menggunakan masker.

Imbas Gempa Tokyo, Bikin Perjalanan Kereta Terhenti dan Sepeda Sewaan Laris Dicari Penumpang

Baru-baru ini, gempa mengguncang Tokyo dan membuat banyak penumpang kereta terhenti perjalanannya. Hal ini kemudian membuat penggunaan sepeda melonjak. Menurut Docomo Bike Share Inc., penyedia layanan penyewaan sepeda nasional, pengguna layanannya meningkat pesat di kawasan Chiyoda dan Minato.

Baca juga: Jembatan Penyeberangan Multi Guna ‘Serambi Temu’ Koneksikan Beragam Moda Transportasi

Dua tempat ini adalah lokasi East Japan Railway Company atau JR East menghentikan layanan mereka sementara setelah gempa berkekuatan 5,9 SR mengguncang ibu kota Jepang itu pada Kamis, (7/10/2021) pukul 22.41 waktu setempat. KabarPenumpang.com melansir laman japantimes.co.jp (10/10/2021), bencana ini membuat sebagian besar stasiun sepeda yang dioperasikan perusahaan di pusat kota Tokyo tidak memiliki banyak sepeda tersisa.

Gempa ini juga membuat banyak dari sepeda kemudian dikembalikan ke stasiun di daerah pemukiman Tokyo, termasuk bangsal Koto dan Ota.

“Jarang sepeda di pusat kota Tokyo disewakan sekaligus pada malam hari, saat pergerakan (orang) biasanya tenang,” kata seorang pejabat Docomo Bike Share.

Utuk diketahui, perusahaan menyediakan sekitar 9.200 sepeda listrik di sekitar 870 stasiun sepeda di sebelas distrik di Tokyo. Sebagai tindakan darurat, perusahaan memutuskan untuk tidak membebankan biaya perpanjangan penggunaan sepeda yang dimulai antara saat gempa terjadi hingga Jumat (8/10/2021) pukul 05.00 pagi.

Seorang wanita berusia 30-an yang tinggal di Tokyo meminjam sepeda untuk pertama kalinya setelah dia terdampar di stasiun kereta api yang berjarak satu jam berjalan kaki dari rumah.

“Saya tidak pernah berpikir untuk menggunakan sepeda sewaan sebagai alat transportasi dalam keadaan darurat. Itu sangat nyaman. Saya berharap layanan ini akan lebih banyak digunakan,” katanya.

Namun, sambil mengakui kegunaan sepeda sewaan pada saat bencana alam, Takeshi Hagiwara, kepala bagian di departemen pencegahan bencana umum Pemerintah Metropolitan Tokyo, memperingatkan warga agar tidak pindah tepat setelah bencana besar.

“Adalah aturan umum untuk tidak bergerak secara tidak perlu pada saat terjadi bencana besar, seperti gempa bumi dan tsunami Maret 2011,” kata Hagiwara.

“Kami meminta orang-orang untuk mencoba mengamankan keamanan dan mengumpulkan informasi terlebih dahulu,” tambahnya.

Baca juga: Tingkatkan Cakupan Layanan di Inggris, Uber Beli Autocab Berbasis Stockport

Docomo Bike Share memiliki pandangan yang sama, yaitu mengimbau pengguna jasanya untuk mengecek kondisi jalan sebelum naik sepeda.






















Inilah “Jonas,” Payung Pintar asal Jepang yang Anti Tertinggal

Bagaimana jika Anda memiliki sebuah payung pintar? Mungkin akan berguna, mengingat payung memang kerap tertinggal atau ketinggalan di suatu tempat setelah dipakai. Nah, untuk menyiasati kerap  tertinggalnya payung, sebuah perusahaan aksesoris asal Jepang, Digital Fantastick, merilis sebuah payung pintar pertama di dunia yang diberi label Jonas.

Baca juga: Supaya Tak Kehujanan Saat Bersepeda, Payung Under Cover Solusinya

Payung ini bisa dimiliki seseorang dengan membelinya seharga 10.778 yen atau sekitar Rp1,3 juta (sekitar US$95). Pada tahun 2014, Sunnycomb, sebuah blog yang berhubungan dengan cuaca, melakukan “Survei Payung Global” dan menemukan bahwa rata-rata, orang kehilangan tiga hingga lima payung sepanjang hidup mereka.

Dari survei tersebut, disebutkan seseorang kemungkinan besar akan menghabiskan sekitar US$100 untuk payung. Dan payung Jonas hadir untuk mencegah Anda kehilangan payung.

Caranya, setelah menginstal aplikasi terkait dan menghubungkan Jonas ke ponsel cerdas melalui Bluetooth, sistem payung akan memberi ‘peringatan’ jika Anda cukup kejam untuk meninggalkannya dengan mengirimkan pesan ke ponsel. Ini juga bekerja secara terbalik, jika meninggalkan ponsel cerdas Anda, Jonas akan bergetar dan memberi tahu dengan alarm.

Lebih dari itu, Jonas melakukan lebih dari sekadar menjauhkan Anda dari yang hilang dan ditemukan. Payung ini juga mampu mengunduh ramalan cuaca mingguan sehingga sekali melihat Jonas sebelum Anda keluar akan membantu memutuskan apakah sebaiknya melanjutkan perjalanan atau tidak.

Baca juga: Sedia Payung Sebelum Hujan, Sedia “OneUp” Sebelum Tenggelam!

Dengan Jonas, Anda juga akan mendapatkan panggilan masuk, pesan, dan peringatan email dari ponsel cerdas Anda melalui payung! Payung Jonas tidak hanya tampan, dia juga berkelas. Terbuat dari kain pongee premium, pegangan alumunium, dan tersedia dalam berbagai warna yang canggih, Jonas mendapatkan tenaga dari empat baterai AAA.

9 Negara Jalin Travel Corridor Tanpa Karantina, Indonesia Justru Larang Wisatawan Singapura

Sembilan negara sepakat jalin kerjasama Vaccinated Travel Lane (VTL) atau sejenis travel corridor khusus untuk mereka yang sudah divaksin dua kali. Tetapi, lain cerita dengan Indonesia. Melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Koordinator Penanganan PPKM wilayah Jawa dan Bali, Luhut Binsar Pandjaitan, Indonesia melarang WNA dari 18 negara masuk, termasuk Singapura.

Baca juga: Singapura-Korea Selatan Sepakat Garap Travel Corridor, WNA Keluar-Masuk Tanpa Karantina!

Tren kasus Covid-19 di Singapura belakangan memang melonjak tajam. Pada Minggu (10/10), Singapura masih menemukan 2.809 kasus baru dalam satu hari. Sehari sebelumnya, Singapura mencatat rekor kasus tertinggi dengan 3.703 kasus.

Mengutip Worldometers, ada total 26.307 kasus aktif di Singapura saat ini. Sejak pandemi terjadi hingga beberapa hari lalu, negeri itu melaporkan 126.966 kasus dan total 162 kematian.

Anehnya, di tengah lonjakan kasus Covid-19, Singapura justru berhasil meyakinkan negara lain untuk menjalin kerjasama travel corridor atau VTL.

Dilansir The Straits Times, Menteri Perhubungan Singapura, S Iswaran, mengungkapkan, negaranya sudah meneken kesepakatan VTL dengan sembilan negara lain, termasuk Korea Selatan, Kanada, Denmark, Perancis, Italia, Belanda, Spanyol, Britania Raya, dan Amerika Serikat.

Selama pandemi Covid-19 negara-negara tersebut sudah tak diragukan lagi keseriusannya dalam menangkal penyebaran virus. Entah Singapura yang berhasil meyakinkan ke-sembilan negara itu atau mereka yang justru memandang Singapura masih dalam kategori aman untuk menjalin kerjasama VTL, yang pasti itu realisasinya akan segera dimulai.

Kesepakatan Vaccinated Travel Lane dengan Korea Selatan akan dimulai pada 15 November mendatang. Sedangkan delapan negara sisanya mulai 19 Oktober.

Di bawah kesepakatan VTL, wisatawan dengan tujuan apapun, entah berwisata ataupun bisnis, tanpa atau ada sponsor, dari kedua negara diizinkan masuk tanpa karantina mandiri terlebih dahulu. Tetapi, dengan catatan, hanya mereka yang sudah vaksin dua kali yang diizinkan bebas keluar-masuk Singapura dan sembilan negara di atas.

Selain itu, mereka juga harus menunjukkan hasil negatif tes PCR Covid-19 2×24 jam sebelum memasuki Bandara Changi.

Di dunia, sekalipun tren kasus Covid-19 di Singapura belakangan memang melonjak tajam, hampir tak ada negara yang secara spesifik melarang WN Singapura masuk. Sejauh ini, terpantau hanya Finlandia yang melarang mereka. Itupun dengan catatan hanya bagi mereka yang belum vaksin dua kali. Jika sudah, mereka (WN Singapura) tetap diizinkan berkunjung.

Baca juga: Bali Buka Penerbangan Internasional Mulai 14 Oktober, Hanya Turis Lima Negara yang Bisa Masuk

Namun, Indonesia memiliki pandangan lain soal Singapura. Menteri Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, keputusan melarang WNA dari 18 negara termasuk Singapura lantaran negara tersebut belum memenuhi standar ketentuan dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

“Mengenai nama-nama negara yang bakal diumumkan ada 18 negara. Saya kira Singapura belum termasuk, mungkin belum memenuhi persyaratan atau standar level satu, level dua sesuai standar WHO,” ucapnya dalam evaluasi PPKM yang disiarkan melalui media daring Sekretariat Presiden, Senin (11/10).

Singapura-Korea Selatan Sepakat Garap Travel Corridor, WNA Keluar-Masuk Tanpa Karantina!

Singapura jadi salah satu yang giat menggaet wisatawan melalui skema travel corridor. Setelah sebelumnya sukses menjalankan travel corridor bersama Hong Kong, Jerman, Brunei Darussalam, Cina, Makau, dan Taiwan, kali ini Singapura-Korea Selatan sepakat menghelat travel corridor mulai 15 November mendatang dengan skema Vaccinated Travel Lane (VTL).

Baca juga: Kasihan, Gegara Karantina Kejam di Hong Kong, Jumlah Penumpang Cathay Pacific Turun 94 Persen

Khusus skema VTL, selain Korea Selatan, Singapura juga sudah meneken kerjasama tersebut dengan delapan negara lainnya, mulai dari Kanada, Denmark, Perancis, Italia, Belanda, Spanyol, Britania Raya, dan Amerika Serikat mulai 19 Oktober mendatang.

Dengan adanya VTL travel corridor ini, seluruh traveler akan sangat dimudahkan masuk Singapura dan Korea Selatan, termasuk delapan negara di atas. Apapun tujuannya, pelancong bebas datang dan pergi ke kedua negara tersebut melalui Bandara Changi dan Bandara Incheon tanpa sarat selama mereka sudah divaksin dua kali.

Sertifikat vaksin Covid-19 antar kedua negara sudah disinkronisasi sehingga barcode yang dikeluarkan masing-masing bisa saling terbaca, tidak seperti barcode sertifikat vaksin Covid-19 yang tak terbaca atau terkonfirmasi di Arab Saudi.

Tak hanya itu, dalam travel corridor Singapura dan Korea Selatan ini, para pelancong tidak diwajibkan menjalani karantina mandiri. Ini tentu menjadi nilai tambah, mengingat karantina mandiri selama ini dianggap memberatkan traveler melakukan perjalanan internasional.

Sebagai ganti karantina mandiri, kebijakan travel corridor VTL Singapura Korea Selatan mewajibkan penumpang pesawat agar menyiapkan hasil negatif tes PCR.

“Singapura dan Korea Selatan menikmati ikatan yang kuat dan beragam, terutama di sektor perdagangan dan investasi, infrastruktur, dan pariwisata. VTL yang diluncurkan bersama akan menjadi yang pertama dari jenisnya antara dua pusat penerbangan utama di Asia dan membangun hubungan lama ini untuk menghidupkan kembali perjalanan udara lintas batas dan arus orang-ke-orang dengan aman,” kata Kementerian Perhubungan Singapura, S Iswaran, seperti dikutip dari laman resmi kementerian.

Perjalanan internasional bebas karantina antar Singapura dan Korea Selatan ini tentu sesuai dengan usulan dari Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA).

Sejak pertengahan tahun lalu, IATA pernah agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK.

Baca juga: Bali Buka Penerbangan Internasional Mulai 14 Oktober, Hanya Turis Lima Negara yang Bisa Masuk

“Menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang tiba membuat sektor perjalanan dan pariwisata negara-negara di dunia anjlok. Untungnya, ada alternatif kebijakan yang dapat mengurangi risiko kasus Covid-19 impor sambil tetap memungkinkan dimulainya kembali perjalanan dan pariwisata yang berkontribusi untuk memulai kembali perekonomian nasional,” jelasnya.

“Kami telah mengusulkan sistem perlindungan baru untuk mencegah orang sakit atau dalam keadaan tak sehat bepergian dan mengurangi risiko penularan jika seorang wisatawan terpapar Corona sesampainya di bandara (negara) tujuan,” tambahnya.

 

Berlokasi di Swedia, Inilah Bandara Bebas Emisi Karbon Pertama di Dunia

Saat ini, bandara-bandara besar identik dengan program keberlanjutan bebas emisi karbon yang selangkah lebih maju dibanding bandara-bandara lain. Tetapi, tak ada yang menyangka, gelar bandara bebas emisi karbon atau bebas fosil pertama di dunia justru datang dari bandara terpencil di Swedia; Bandara Skellefte.

Baca juga: Yara Birkeland, Inilah Kapal Kargo Tanpa Awak dan Bebas Emisi Pertama di Dunia

Bandara Skellefte sudah pasti terdengar asing bagi mayoritas masyarakat global. Namun, bandara ini termasuk dalam 10 bandara terbesar di Negara Viking, loh.

Dikutip dari themayor.eu, sejak beberapa tahun belakangan serius menjalankan visi mengintegrasikan konsumsi energi dari berbagai bahan bakar alternatif.

Bandara Skellefte biasanya ramai didatangi penumpang saat musim panas. Mereka umumnya hendak bepergian ke Meditarania untuk berjemur mengingat Swedia berada di dalam Lingkaran Arktik yang membuat negara tersebut jarang mendapat suplai sinar matahari.

Tak heran bila di musim panas, warga berbondong-bondong menyerbu negara-negara yang berada dekat dengan garis khatulistiwa semisal negara-negara di Mediterania.

Dalam menerapkan visi mengintegrasikan konsumsi energi dari berbagai bahan bakar alternatif, setidaknya ada tiga area fokus utama bandara; bebas energi fosil dan menggantinya dengan biofuel, konsumsi listrik bebas fosil dan menggantinya dengan listrik ramah lingkungan bersertifikat, dan bahan bakar bebas fosil untuk kendaraan dan menggantinya dengan listrik serta biofuel HVO-100.

Dengan tiga fokus utama tersebut, pada tahun 2020 lalu, Bandara Skellefte melaporkan berhasil mencapai tujuan bebas emisi karbon dari bahan bakar fosil untuk pertama kalinya secara internal atau mungkin untuk pertama kalinya di dunia sebagai sebauh komunitas bandara. Laporan ini juga dikonfirmasi oleh Airport Carbon and Emissions Reporting Tool (ACERT).

Sebagai bagian dari visi mengintegrasikan konsumsi energi dari berbagai bahan bakar alternatif, dimana salah satunya melalui penggunaan kendaraan listrik, Bandara Skellefte juga terlibat dalam proyek eVTOL (electrified vertical take-off aircraft) di Swedia.

Baca juga: Bandara di Seluruh Dunia Menuju Bebas Emisi CO2! Berikut Empat Tahapannya

Proyek ini akan menganalisis dan merencanakan infrastruktur, isu airspace, izin, isu pasar, dan perspektif penelitian ilmiah tentang environment pesawat listrik. Ini menciptakan kondisi untuk salah satu rute uji pertama di wilayah Nordik, yang akan membantu mempersingkat waktu dan membuka jalan bagi lalu lintas komersial dengan eVTOL di Swedia dan negara-negara Nordik.

Bila tak ada aral melintang, bukan tak mungkin Swedia dan negara-negara Nordik akan menjadi negara pertama di dunia yang mengkomersialisasikan kendaraan eVTOL, entah itu untuk penerbangan penumpang berjadwal ataupun kargo.

EnergySails, Adopsi Energi Terbarukan di Laut Lepas

Sebuah manufaktur asal Fukuoka, Jepang yang bergerak di bidang pengembangan sistem berbasis energi terbarukan untuk kapal laut, Eco Marine Power (EMP) tengah mempersiapkan diri untuk pengadaan panel surya yang rencananya akan dirilis tahun depan. Hal ini justru bertolak belakang dengan perusahaan lain yang mencoba untuk menghidupkan kembali penggunaan layar dalam pelayaran komersialnya.

Baca Juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi

Sebagaimana disarikan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (25/7/2017), EnergySail milik EMP dapat memanfaatkan kekuatan angin dan matahari secara bersamaan, untuk sistem transportasi dengan tingkat efisiensi yang tinggi di laut lepas. EnergySail sendiri terbuat dari baja berkekuatan tinggi dan serat karbon, berdiri di atas sebuah tiang dan bisa berputar. Tidak hanya terpasang di tiang layar, EnergySail juga ditempatkan di dek guna memaksimalkan penyimpanan energi matahari. Ketika kondisi cuaca sedang tidak bersahabat, EnergySail bisa diturunkan dan diamankan dari bahaya, seperti terpaan badai.

sumber: newatlas

Ketika tengah bersandar di pelabuhan, EnergySails juga bisa tetap berfungi untuk menyimpan cadangan energi. Nantinya, energi tersebut akan disimpan dalam sebuah baterai yang akan digunakan untuk pengoperasian zero-emissions dari sistem kelistrikannya. Selain tengah mempersiapkan teknologi ini untuk show-off tahun depan, diketahui EMP juga tengah merancang EnergySails yang bisa mengumpulkan tenaga surya ketika layar sedang diturunkan.

Diberitakan, EMP saat ini sedang melakukan studi kelayakan bersama dengan Hisafufu Kisen K. K. dalam memperkirakan jumlah propulsi sistem layar EnergySails di dalam sebuah kapal. Tidak hanya itu, jumlah sel surya yang akan ditempatkan di atas geladak juga tidak luput dari perhitungan mereka. Rencananya, sebuah kapal akan dipilih untuk menjalani uji coba sistem ini dalam rentan waktu 12 hingga 18 bulan yang akan dilakukan pada tahun depan.

Baca Juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api

Nantinya, kapal yang akan dijadikan kelinci percobaan ini akan dilengkapi EnergySails yang terpasang di geladak, lengkap dengan penyimpanan baterai dan semua perangkat keras yang akan mempengaruhi berjalannya terobosan dalam dunia kemaritiman ini. Dalam hal ini, pihak EMP menjelaskan bahwa penggunaan teknologi semacam ini merupakan perwujudan dari aksi nyata dunia kemaritiman yang turut berperan dalam program mengurangi polusi.

“Pengaplikasian EnergySails akan berdampak pada konsumsi bahan bakar yang lebih baik, mengurangi polusi udara serta meminimalisir penyebaran emisi karbon dioksida,” ujar Greg Atkinson, Chief Technology Officer dan Founder dari Eco Marine Power. “Kami juga menghargai dukungan dari mitra strategis kami selama ini dan bersama-sama kami percaya bahwa sistem ini akan membuka jalan menuju adopsi energi terbarukan global di dunia kemaritiman.” Tutupnya.






















Usai Diderek di Jalanan Singapura, Dua Pesawat A380 Singapore Airlines Berakhir ‘Nahas’

Dua pesawat Airbus A380 Singapore Airlines yang diderek di jalanan resmi dibongkar. Pembongkaran sendiri dilakukan di Changi Exhibition Center, tak jauh dari Bandara Changi, Singapura. Usai dibongkar, suku cadangnya akan digunakan kembali di pesawat A380 lainnya yang masih beroperasi.

Baca juga: Singapore Airlines Bongkar Dua Airbus A380, Suku Cadangnya Didaur Ulang

Sebagai pemegang gelar pesawat komersial terbesar di dunia, informasi adanya proses penderekan A380 di jalan-jalan Singapura tentu sampai ke telinga masyarakat. Utamanya para pecinta penerbangan (avgeeks).

Puluhan orang, seperti dilaporkan media lokal Channel News Asia, menunggu kedatangan pesawat dibeberapa lokasi menuju Changi Exhibition Center. Mereka tak ingin ketinggalan momen berharga yang bisa dibilang terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Apalagi A380 sudah tak lagi diproduksi Airbus dan Singapore Airlines hanya menyisakan lima pesawat A380 lainnya. Jadi, momen A380 diderek di jalanan Singapura sangat langka.

Tak seperti proses penderekan atau pengangkutan pesawat di India yang sampai tersangkut di jembatan belum lama ini, penderekan pesawat A380 Singapore Airlines berjalan lancar. Kendati warga menunggu di pinggir sepanjang jalan, tetapi, itu tak sampai menghambat prosesi penderekan itu sendiri.

Selama beberapa jam, A380 diderek di jalanan sambil diikuti oleh mesin penyapu jalan otomatis mengikuti. Mesin-mesin otomatis itu menyapu puing-puing pesawat yang tertinggal di sepanjang jalan.

Setelah sampai di Changi Exhibition Center, pesawat akan dibongkar dan suku cadangnya akan diambil untuk digunakan kembali di pesawat-pesawat A380 Singapore Airlines lainnya. Ini merupakan kali pertama Singapore Airlines melakukan pembongkaran pesawat di dalam negeri. Sebelumnya, itu selalu dilakukan di luar negeri. Salah satunya Jerman.

Pembongkaran A380 di dalam negeri tentu tak lepas dari pandemi Covid-19 yang membuat perbatasan internasional ditutup untuk sementara. Lagi pula, biaya pembongkaran pesawat di luar negeri lebih mahal ketimbang di dalam negeri.

Di samping itu, kemampuan vendor dalam negeri dalam membongkar pesawat menjadi kepingan-kepingan kecil dan mengambil suku cadang yang masih bisa digunakan kembali juga sudah menyamai kemampuan vendor asing.

Singapore Airlines adalah operator A380 terbesar kedua di dunia setelah Emirates dengan jumlah 24 unit, dimana 12 di antaranya sudah pensiun dan dibongkar dan dua A380 yang diderek di jalanan sepekan lalu termasuk di dalamnya.

Baca juga: Intip Gaya Anjing Ini Nikmati Kursi Kelas Bisnis Singapore Airlines dari Sydney-Italia

Dua pesawat dengan nomor registrasi 9V-SKG dan 9V-SKH adalah pesawat luar biasa. 9V-SKG merupakan pesawat A380 tertua Singapore Airlines bahkan dunia. Ini adalah pesawat nomor seri 19 dan pertama kali terbang bersama SIA pada 7 November 2008 atau 13 tahun sudah beroperasi.

Demikain juga dengan 9V-SKH. Menurut ch-aviation.com, ini adalah pesawat dengan nomor seri 021. Pesawat ini pertama kali terbang bersama SIA di tahun pada 10 Desember yang sama dengan 9V-SKG.

Kata Pramugari ke Penumpang: Jangan Tekan Tombol Panggil Jelang ‘Take-off and Landing’

Saat naik pesawat dan penumpang duduk di kursi mereka, biasanya akan melihat ke bagian atas kepala untuk mengecilkan pendingin udara agar tidak langsung mengenai mereka. Di dekat itu juga ada tombol untuk memanggil awak kabin ketika penumpang membutuhkannya.

Baca juga: Abaikan Tombol Panggilan dari Penumpang, Awak Kabin Emirates Terima Memo Peringatan

Namun tahukah Anda, ternyata ada tombol yang ‘tidak boleh’ ditekan penumpang saat lepas landas? KabarPenumpang.com melansir thesun.co.uk (5/10/2021), tombol ini adalah tombol panggil dan pramugari tidak menginginkan tombol ini ditekan ketika lepas landas kecuali Anda ingin dibenci oleh awak kabin.

Seorang pramugari bernama Kat Kamalani menjelaskan di akun TikTok-nya bahwa tombol panggil tersebut harus dihindari karena itu bisa membuat awak kabin benar-benar ‘gila’ ketika Anda menekan tombol lampu panggil pramugari jika kita berada di landasan, atau naik atau turun di pesawat.

“Alasannya karena itu adalah masalah keamanan yang besar bagi kami dan kami bisa cidera, jelasnya.

Tapi beberapa orang tidak setuju dengan hal itu dan berpikir hal tersebut terlalu keras. Seorang warganet menuliskan komentarnya di mana dirinya menekan tombol untuk menekan tombol tersebut tetapi tidak terlalu peduli apakah awak kabin suka atau tidak.

“Kami benar-benar membayar tiket dan layanan kami dan petugas harus bekerja,” tulis warganet lainnya.

Untungnya meski banyak yang mengatakan ketidakpedulian mereka, tetap ada warganet yang membelanya dan mengatakan merasa banyak orang melewatkan intinya.

Pramugari dan pilot lain juga setuju dengan Kat, seperti Steve Bazer, seorang kapten maskapai besar AS, menjelaskan di Quora, bahwa hal ini mengganggu layanan kabin mereka jika itu terjadi selama satu setengah jam pertama, atau yang terakhir jam penerbangan yang panjang.

“Mereka umumnya bergerak di lorong dengan troli, dan harus menghentikan layanan dan menyimpan troli untuk menghubungi Anda. Jadi itu tergantung pada sifat alasan Anda memanggil mereka” kata Bazer.

Baca juga: Collins Aerospace Hadirkan Layanan Panggil Awak Kabin via Smartphone Penumpang

Dia menambahkan, intinya panggilah jika itu sesuatu yang penting dan mereka akan mengerti.






















Adopsi Teknologi 5G dari Huawei, Hungaria Bakal Jadi Pusat Kereta Api Cerdas di Eropa

Cina semakin merambah luas dalam pengaruh teknologinya. Seperti yang belum lama ini, di mana Huawei yang adalah perusahaan raksasa peralatan telekomonukasi di Negeri Tirai Bambu menandatangani perjanjian kerja sama dengan Logistik Intermodal Timur-Barat Hungaria dan operator telekomunikasi Inggris Vodafone.

Baca juga: Gunakan Teknologi 5G, Kereta Otonom di Korea Selatan dalam Fase Uji Coba

Yang mana kerja sama ini dalam upaya untuk membangun hub kereta api pintar pertama di Eropa yang dikelola oleh jaringan pribadi 5G untuk diberdayakan oleh Huawei. KabarPenumpang.com melansir globaltimes.cn (7/10/2021), langkah ini diambil saat beberapa negara Eropa lainnya masih mempertimbangkan apakah akan menggunakan teknologi 5G karena tentangan dari Pemerintah AS.

Karena Hungaria memulai kerja sama tersebut, para ahli Cina mengatakan, bahwa memungkinkannya untuk memimpin solusi industri 5G di depan negara lain yang selama ini msih ragu-ragu terhadap Cina.

Menurut sebuah laporan dari Xinhua News Agency, proyek yang meliputi area seluas 85 hektar di Fenyeslitke, akan menjadi pusat kereta api multi-moda cerdas terbesar di Eropa dan hub kereta api pertama di Eropa yang menggunakan jaringan pribadi 5G untuk komunikasi internal dan peralatan teknis.

Vodafone Hungaria dan anak perusahaan Huawei di Hungaria akan menyediakan jaringan pribadi 5G untuk proyek tersebut. Teknologi 5G akan digunakan untuk mengontrol derek gantry otomatis dari jarak jauh untuk operasi bongkar muat yang cerdas. Ini akan mampu menangani satu juta kontainer standar per tahun setelah proyek selesai pada kuartal pertama tahun depan.

Cai Lingyu, CEO anak perusahaan Huawei di Hungaria, mengatakan pada upacara penandatanganan, bahwa ini adalah pertama kalinya Huawei menggunakan teknologi 5G yang terkemuka di dunia untuk memberdayakan industri logistik perkeretaapian tradisional di Eropa dan mewujudkan kendali jarak jauh gantry crane melalui teknologi 5G.

Dengan kecepatan transmisi tinggi dan latensi rendah teknologi 5G, staf perusahaan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dari jarak jauh dengan duduk di ruang kontrol pusat dengan bantuan video definisi tinggi 5G yang ditransmisikan kembali.

“Penggunaan 5G di perkeretaapian atau pelabuhan mungkin masih menjadi praktik baru di Eropa, tetapi itu sudah banyak digunakan dalam berbagai skenario di Cina Daratan. Oleh karena itu, raksasa teknologi Cina itu adalah mitra ideal bagi hub perkeretaapian Hungaria untuk mencapai transformasi cerdas,” Xiang Ligang, direktur jenderal Aliansi Konsumsi Informasi yang berbasis di Beijing.

Xiang mengatakan bahwa keputusan untuk memasukkan Huawei adalah keputusan yang “berpandangan jauh ke depan” untuk membantunya memimpin negara-negara Eropa lainnya di era 5G.

Baca juga: DoCoMo dan JR Central Uji Coba Jaringan 5G di Kereta Shinkansen Model N700S

“Kami berharap lebih banyak negara Eropa untuk mengikutinya,” tambahnya.

Kesepakatan itu juga menunjukkan bahwa raksasa teknologi Cina, meskipun di bawah tindakan keras AS, tidak akan menyerah untuk memperluas bisnisnya di pasar luar negeri. Huawei baru-baru ini meningkatkan perekrutan dari Eropa dan AS.