Produksi Hidrogen Hijau untuk Bahan Bakar Pesawat, Airbus-Philips 66 Gandeng Plug Power

Airbus dan Philips 66 resmi menggandeng Plug Power, perusahaan pengembang sistem sel bahan bakar hidrogen asal Amerika Serikat (AS). Ini merupakan langkah besar Airbus dalam mewujudkan target memproduksi pesawat bebas emisi menggunakan bahan bakar hidrogen pada 2035 mendatang.

Baca juga: Air New Zealand Gandeng Airbus Operasikan Pesawat Turboprop Bertenaga Hidrogen

Dikutip dari Bloomberg, Plug Power nantinya bertanggung jawab untuk merancang infrasturktur hidrogen hijau non-polusi di bandara. Bandara mana yang dimaksud itu tak dijelaskan secara rinci.

Selain itu, bersama Philips 66, Plug Power juga diplot untuk mengembangkan hidrogen rendah karbon dan meningkatkan penggunaan hidrogen hijau sebagai bahan bakar transportasi, tak hanya pesawat, tetapi juga kapal, mobil, motor, dan lainnya, guna membantu negara-negara di dunia meninggalkan penggunaan energi fosil.

Hidrogen hijau bisa diproduksi dengan berbagai cara. Adapun Plug Power memproduksi hidrogen hijau dengan mengandalkan energi terbarukan seperti matahari atau angin.

Hidrogen sendiri terbagi menjadi tiga jenis, abu-abu, biru, dan hijau. Dua jenis pertama, ini terbuat dari bahan bakar fosil seperti gas bumi atau batu bara. Bedanya, bila dalam proses produksi hidrogen abu-abu, emisi karbon atau CO2 langsung dilepas ke udara, emisi CO2 dalam proses produksi hidrogen biru ditampung di sebuah wadah sehingga jejak karbonnya lebih sedikit.

Akan tetapi, hidrogen hijau berbeda dari keduanya. Ini diproduksi dari air, termasuk matahari dan angin. Hanya inilah jenis hidrogen yang bisa disebut berkelanjutan. Air diurai menjadi oksigen dan hidrogen, dengan bantuan listrik yang bersumber dari energi angin atau matahari.

Sebab, jika listrik berasal dari batu bara atau gas, itu sama saja tidak sepenuhnya berkelanjutan alias semu dan tetap meninggalkan jejak emisi karbon. Inilah yang diinginkan oleh Airbus dalam kemitraannya dengan Philips 66 dan Plug Power.

“Semua hidrogen sama, karena punya molekul H2. Tapi proses produksinya yang berbeda-beda yang jadi penentu, seberapa besar emisi gas rumah kaca dan tingkat kebersihannya,” demikian dijelaskan ahli ekonomi energi Alexander Esser.

Baca juga: Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

Sebelumnya, dalam proses mengejar target produksi pesawat bebas emisi bertenaga hidrogen pada tahun 2035, Airbus sudah mulai membangun Pusat Pengembangan Tanpa Emisi (ZDEC) di Bremen, Jerman dan Nantes, Perancis, untuk membuat tangki bahan bakar hidrogen di pesawat.

Dalam laman resminya, Airbus mengatakan bahwa pembangunan ZDEC memerlukan waktu dan tak secepat kilat, mengingat butuh detail-detail berteknologi tinggi. Diperkirakan, itu baru bisa beroperasi penuh pada 2023 mendatang. Setelah beroperasi penuh, tangki bahan bakar hidrogen cair diproyeksi rampung dan melakukan uji terbang perdana pada 2025.

Diduga Gila, Wanita Telanjang Keluyuran di Bandara

Polisi Bandara Internasional Denver dibuat repot dengan ulah seorang wanita telanjang yang keluyuran di concourse. Diduga, wanita itu dalam keadaan mabuk berat. Tetapi, tak menutup kemungkinan wanita itu memiliki masalah mental.

Baca juga: Lari Telanjang di Hotel Singapura, Tiga Awak Kabin British Airways Terancam Dipecat

Dilansir chicago-cbslocal-com, sambil memegang botol di tangan kanannya, ia berkeliaran di bandara selama beberapa waktu. Ia pun hanya menanggapi singkat pengunjung bandara yang merekamnya, “Apa kabarmu? Dari mana asalmu?”.

Setelah polisi datang dan menutupi tubuhnya dengan selimut, ia hanya tersenyum dan tertawa. Ketika selimut tersebut ingin digunakan untuk membalut tubuh sang wanita, terjadi penolakan dan sang wanita coba melarikan diri.

Polisi pun akhirnya bertindak tegas sampai tubuh wanita tersebut betul-betul terbungkus selimut. Setelahnya, ia dibawa ke kantor untuk pemeriksaan awal, dilanjut ke Rumah Sakit Universitas Denver untuk pemeriksaan lanjutan.

Hasil pemeriksaan, wanita yang telanjang di dekat Gate A-37 sebelum pukul 5 pagi itu tidak memiliki tiket penerbangan. Ini tentu aneh, mengingat hanya penumpang bertiket yang bisa sampai gate tersebut. Selebihnya, Kepolisian Denver dan otoritas bandara tak memiliki informasi apapun.

Tapi, selain diduga mabuk berat, wanita telanjang tadi besar kemungkinan mengalami masalah medis dan masalah medis apa yang dimaksud masih akan diteliti lebih lanjut.

Insiden wanita telanjang di bandara AS bukan pertama kali terjadi. Pada awal tahun lalu, seorang wanita terekam kamera berjalan bugil di Bandara Internasional Miami, AS dan akhirnya wanita itu telah ditangkap polisi.

Dalam video yang diunggah sineas bernama Billy Corben di Twitter, awalnya wanita itu berjalan dari area pengambilan bagasi.

Disebutkan, perempuan itu bersenandung sambil melepaskan bra berwarna biru navy. Sembari menjauh dari bandara, perempuan yang tidak disebutkan identitasnya itu melepaskan celana dalamnya.

Dalam video lain, si wanita sudah ternyata berada di luar Bandara Miami, naik ke mobil polisi, dan kemudian bersila. Dia lalu turun dari mobil polisi dan berjalan ke tengah jalan, di mana seorang petugas dengan sigap menangkapnya.

Setelah melihat perilakunya yang tidak senonoh, perempuan yang disebut berusia 27 tahun tersebut ditahan dan dibawa ke pusat kesehatan mental.

Pada bulan April di tahun yang sama, insiden adanya wanita telanjang kembali terjadi di Bandara Internasional Louis Amstrong, New Orleans.

Baca juga: Telanjang di Kabin Pesawat, Pria Ini Diduga Trauma Pelecehan

Wanita telanjang tersebut diketahui bernama Mariel Vergara. Ia datang ke bandara sudah dalam keadaan telanjang. Tentu saja petugas melarangnya masuk meskipun ia mengaku mempunyai tiket penerbangan dan buru-buru. Usai adanya laporan terkait ini, polisi pun meluncur ke lokasi.

Akan tetapi, saat tiba di lokasi, penumpang tersebut sudah memakai gaun. Namun, ia tidak memakai pakaian dalam dan gaunnya tak menutup tubuhnya secara sempurna sehingga masih bisa dibilang setengah telanjang. Alhasil, ia pun digelandang petugas dan terancam bui lantaran melanggar UU Kesopanan Publik.

Inilah Tiga Fungsi Tirai di Kabin Pesawat, Apa Saja?

Bagi Anda yang kerap bepergian naik pesawat, besar kemungkinan pernah melihat tirai yang membatasi antara pantry atau area kerja pramugari dengan kabin penumpang. Tetapi, sudahkah Anda tahu apa fungsinya?

Baca juga: Mengapa Tirai Jendela di Exit Row Terbalik? Ini Alasannya

Di dunia, ada sekitar 5.000 maskapai penerbangan yang mengoperasikan sekitar 20 ribu pesawat. Kombinasi dari kedua itu menghadirkan beragam hal berbeda satu sama lain di dalam kabin; termasuk tirai di kabin penumpang pesawat.

Di pesawat Boeing 737-800 Alaska Airlines, misalnya, tirai di dalam kabin pesawat (bukan tirai jendela) menjulang tinggi ke atas. Tetapi, hanya menutupi lorong, tidak segaris lurus dari ujung ke ujung jendela. Sudah begitu, tirainya juga polos atau tembus pandang, sehingga fungsi tirai itu sendiri menjadi kabur.

Dikutip dari Spectra, fungsi tirai di dalam kabin sendiri setidaknya ada tiga. Pertama, memblokade cahaya dari depan ke belakang atau belakang ke depan atau bisa dibilang memblokir cahaya dari area satu ke area lainnya, dalam hal ini area penumpang kelas ekonomi, kelas bisnis, dan area pramugari di dapur.

Kedua, memisahkan penumpang kelas ekonomi dengan kelas bisnis dan first class. Adapun ketiga, menciptakan privasi, khususnya kru, dari pantauan penumpang.

Tirai di kabin penumpang pesawat Boeing 737-800 Alaska Airlines dibuat tembus pandang. Ini tentu tak sesuai dengan esensi tirai itu sendiri yang salah satunya membuat privasi dan menyekat kelas penumpang. Foto: Pinterest

Dengan definisi di atas, seharusnya, tirai di kabin tidak tembus pandang dan membuat pandangan penumpang tetap jauh ke depan atau sebaliknya (jika ia berbalik badan).

Masih soal Alaska Airlines, maskapai kelima terbesar di Amerika Serikat (AS) ini juga tergolong aneh dalam menyediakan tirai di kabin penumpang. Dari foto-foto yang beredar, tirai maskapai tersebut di pesawat Boeing 737-800, selain tembus pandang dan diletakkan di lorong, ia juga tersedia di atas kursi penumpang.

Berbeda dengan tirai di tengah yang polos alias tembus pandang dan berada di tengah lorong, tirai ini berada di atas kursi penumpang kelas bisnis dan first class menjulang sampai menyentuh langit-langit kompartemen bagasi serta tidak tembus pandang.

Dengan begitu, andai penumpang yang duduk di kelas ekonomi coba mengintip penumpang kelas bisnis di depannya dengan cari berdiri di depan kursi, itu tidak akan bisa lantaran tirainya menjulang sampai mentok ke langit-langit kompartemen bagasi.

Baca juga: Inilah Kaca Elektrokromik yang Bikin Jendela Pesawat Tak Perlu Tirai

Lain cerita dengan tirai maskapai dan pesawat lainnya. Ada satu maskapai yang tak disebutkan namanya, ia memang memasang tirai berwarna dan tidak tembus pandang. Tirainya juga melintang dari ujung ke ujung jendela. Tetapi sayang, tirai di deretan kursi tidak menjulang tinggi sampai ke langit-langit, seperti tirai yang berada di lorong.

Sehingga, andai penumpang lain ingin mengintip penumpang di depannya dengan cara berdiri, itu bisa saja terjadi dan privasi penumpang tersebut tak sepenuhnya terjaga. Seperti pada gambar di atas.

Akibat Jalan Sembari Melihat layar Ponsel, 143 Orang Tercatat Cedera Saat Berada di Stasiun MRT Taipei

Milenial saat ini lebih banyak menunduk sembari berjalan karena melihat layar ponsel mereka. Hal ini pula yang membuat mereka terjatuh atau menyenggol orang lain karena sibuk dengan ponselnya. Masalah klasik ini rupanya menjadi catatan tersendiri di stasiun MRT Taipei, Taiwan, di mana banyak orang terjatuh dan cedera akibat berjalan sembari menggunakan ponsel mereka.

Baca juga: Bagi-Bagi Hadiah! MRT Taipei Metro Rayakan Penumpang Ke-10 Miliar

KabarPenumpang.com melansir taipeitimes.com (12/10/2021), saat ini sebanyak 143 orang tercatat mengalami jatuh dan cedera di stasiun MRT Taipei atau ketika berada di dalam kereta selama delapan bulan belakangan. Karena banyak yang cedera, Taipei Rapid Transit Corp langsung mendesak penumpang dan calon penumpang untuk menghindari melihat ponsel mereka saat berjalan.

Mereka menyebutkan 73 kasus “cedera berjalan yang terganggu” telah terjadi di sistem Mass Rapid Transit (MRT) Taipei dari Januari hingga Agustus 2021, dimana situasi Covid-19 lokal telah terkendali, lalu lintas penumpang telah meningkat, mencapai sekitar 1,5 juta perjalanan per hari bulan lalu.

Namun, banyak penumpang yang melihat ponsel mereka saat berjalan melalui stasiun MRT, yang dapat menyebabkan tabrakan dengan penumpang lain atau cedera karena jatuh dari tangga. Dari data perusahaan, sebanyak 143 orang mengalami cedera jatuh di stasiun MRT atau di dalam kereta dari Januari hingga Agustus, di mana 73 (44 persen) disebabkan oleh “gangguan berjalan” dan 25 (15 persen) disebabkan oleh penumpang lain.

Baca juga: Taipei Hadirkan Sistem Inframerah untuk Cek Suhu Tubuh Penumpang MRT

Sebuah poster yang menampilkan karakter “Shiba Says” yang mendesak penumpang untuk “memperhatikan saat berjalan untuk menghindari cedera” telah dipasang di banyak stasiun dan di dalam gerbong kereta. Perusahaan juga menggunakan tampilan visual elektronik dan pengumuman publik di dalam stasiun MRT untuk mengingatkan orang agar tidak melihat ponsel mereka saat berjalan untuk mencegah terjadinya insiden.






















Diusir dari Penerbangan, Seorang Penumpang Viral di TikTok. Ternyata Begini Ulahnya

Sebuah video TikTok viral yang mana memperlihatkan tabiat seorang penumpang yang ditendang dari penerbangan United Airlines ke Los Angeles setelah berteriak, mengancam dan mendorong awak kabin. Video tersebut direkam dan diunggah oleh Alexander Clark pendiri perusahaan game VR Starcade Arcade.

Baca juga: Hanya Gunakan Riasan Sederhana, Pramugari ini Bagi Rutinitas Pagi di TikTok

Clark mengunggah serangkaian video secara kolektif dan ditonton lebih dari 3,4 juta kali setelah diunggah sejak Kamis (7/10/2021) kemarin. Tidak jelas siapa pria itu dan dari mana pesawat tersebut lepas landas. Video pertama dimulai di tengah pertengkaran penumpang yang nakal dan awak kabin.

@starcadearcade

Reply to @whatthafa Adults only pls, sensitive content. The last post on this got taken down ⛳️ #starcade #travel #StudentSectionSauce #plane

♬ original sound – Starcade Arcade

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailydot.com (10/10/2021), pada video lanjutan, perkelahian dimulai setelah pria itu menolak untuk melepaskan teleponnya dan tetap memakai masker sebelum lepas landas. Pria itu berteriak pada awak kabin yang akan membawanya keluar dari pesawat karena dia “bahkan tidak ingin pergi ke Cali.”

Dia kemudian memberi tahu petugas bahwa dia akan menemukan informasi pribadinya.

“Saya akan menemukan nama, tanggal lahir, dan alamat Anda. Saya akan mengetahui nomor jaminan sosial Anda sebelum saya turun dari pesawat ini. Pada putriku,” kata pria itu.

Dia kemudian bangkit dan bergerak ke arah awak kabin, mendorong penumpang lain yang duduk dari kursinya dan masuk ke lorong dalam prosesnya. Dia bertanya kepada anggota kru apa yang akan dilakukan “hukum.” Seorang rekan penumpang datang untuk membantu pramugari, tetapi pria itu mengatakan kepadanya untuk “urusi urusannya” atau dia akan “mematahkan lehermu.”

Pria itu kemudian bersikeras menjelaskan sesuatu saat penumpang ketiga menyuruhnya untuk tenang. Referensi penumpang ketiga adalah “terlambat dua jam”, menyiratkan penundaan penerbangan. Penumpang itu memperhatikan rekaman Clark dan menjatuhkan teleponnya dari tangannya dan mengakhiri videonya.

Dalam video lanjutan, Clark menunjukkan apa yang terjadi setelah teleponnya terlempar. Pria dan penumpang ketiga mulai mengancamnya dan menuntut dia menghapus videonya. Clark berjalan menjauh dari situasi saat pria itu berdiri dan berteriak di sisa pesawat.

“Ayo masuk penjara karena aku satu-satunya [N-word] yang ada di pesawat ini yang layak masuk penjara,” kata pria yang marah itu.

Pria itu kemudian bertanya mengapa semua orang merekamnya sementara sepupunya tampaknya melompat masuk. Clark mencatat bahwa polisi kemudian datang untuk mengawal mereka. Warganet terkejut dengan perilaku pria itu dan menyarankan bahwa dia kehilangan kemampuannya untuk terbang setelah kejadian ini.

“Selamat datang di daftar larangan terbang,” tulis satu orang.

Baca juga: Viral di TikTok, Wanita dan Pasangannya Diusir dari Kabin Gegara Tak Gunakan Masker

“Man, ada cara yang lebih mudah untuk tidak pergi ke Cali,” kata yang lain,

Yang lain mempermasalahkan jumlah ludah yang keluar dari pria itu, yang tidak mengenakan topeng sepanjang pertemuan itu. Beberapa juga menunjukkan pilihan kata-kata pria itu.

Sederet Masalah Ini Jadi Biang Kerok Era Pesawat Supersonik Concorde Berakhir

Di masanya, pesawat supersonik Concorde begitu menyita perhatian. Setiap hari, surat kabar, televisi, dan sejenisnya tak ada kata lelah meliput dan menginformasikan segala hal tentang Concorde dan turunannya. Namun, siapa nyana, 27 tahun setelah terbang perdana, sederet masalah pada pesawat ini akhirnya mengakhiri era penerbangan supersonik.

Baca juga: (Eksklusif) Inside Tupolev Tu-144: Pesawat Supersonik Pertama di Dunia Sebelum Concorde

2 Maret 1969 merupakan kali pertama Concorde dengan prototipe pertamanya, Concorde 001, membelah angkasa. Kala itu, langit Toulouse di Perancis menjadi saksi bisu dari terbangnya prototipe ini selama kurang lebih setengah jam lamanya.

Sejak saat itu, dibutuhkan waktu sekira tujuh tahun lamanya bagi perusahaan yang dikembangkan oleh Aerospatiale (Perancis) dan British Aircraft Corporation untuk bisa memulai layanan komersialnya.

Penerbangan penumpang terjadwal perdana dari Concorde ini terjadi pada 21 Januari 1976, dimana maskapai Air France menjabani rute penerbangan Paris – Rio de Janeiro, dan British Airways yang melakoni rute penerbangan London – Bahrain.

Setelah penerbangan perdana sampai penerbangan penumpang berjadwal perdana, pamor Concorde terus meningkat sampai di puncak tertinggi. Namun, sederet masalah satu per satu menghampiri dan klimaksnya saat Concorde Air France (AF) dengan nomor penerbangan 4590 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Charles de Gaulle Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Jejak awal masalah pada Concorde diketahui sudah muncul sejak masih dalam tahap pengembangan. Dari US$130 juta, biaya pengembangan bengkak drastis menjadi US$2,8 miliar dengan total enam unit prototipe pesawat.

Saat resmi beroperasi, tiket per penerbangan Concorde juga mahal. Rute London – Washington Dulles oleh British Airways, misalnya, pada tahun 1977 harga tiketnya kira-kira dibanderol US$3.200 untuk ukuran hari ini. Pada akhir 1990-an, tarif penerbangan transatlantik Concorde melonjak drastis mencapai US$6.000 per penerbangan.

Ketika Concorde dirancang, bahan bakar penerbangan bisa dibilang masih murah. Namun, krisis minyak dunia pada tahun 1973 hingga 1974 membuat margin keuntungan operator jauh berkurang dengan rata-rata 92 hingga 128 penumpang per penerbangan.

Puncak masalah pada Concorde yang membawanya pada akhir era penerbangan supersonik transatlantik tentu saat kecelakaan Concorde Air France (AF) dengan nomor penerbangan 4590 terjadi. Ketika itu, 109 penumpang dan kru, termasuk empat orang di hotel tewas.

Meskipun ini adalah kecelakaan fatal pertama selama hampir tiga dekade beroperasi, namun, itu berdampak sangat besar. Kepercayaan penumpang menurun drastis dan butuh biaya peningkatan keselamatan sebesar US$ 93 juta.

Selain itu, penerbangan supersonik Concorde dinilai tak efisien. Ini membuat British Airways dan Air France, yang mengoperasikan masing-masing tujuh pesawat Concorde, dari total 20 unit yang diproduksi (14 beroperasi secara komersial dan enam lainnya sebagai prototipe), mau tak mau menyesuaikan tarif tiket penerbangan.

Ini yang pada akhirnya membuat tarifnya menjadi mahal, berkisar US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang di penghujung karirnya.

Dari empat masalah pada Concorde, mulai dari mahalnya biaya pengembangan, melonjaknya harga bahan bakar, mahalnya harga tiket, dan isu keselamatan, bisa dibilang, yang paling menentukan akhir dari era Concorde adalah tarifnya yang cukup mahal.

Menurut salah satu pejabat United Airlines, tarif tiket Concorde dinilai tak masuk akal di era penerbangan sudah sangat mudah dijangkau masyarakat.

Itu sebab, ketika Boom Supersonic mengembangkan pesawat supersonik berkecepatan Mach-2.2 (sedikit di atas kemampuan pesawat supersonik Concorde dikisaran Mach 2.04 atau di bawah konsep pesawat supersonik Virgin Galactic dikisaran Mach 3), United Airlines sangat tertarik. 

Lewat penerbangan supersonik, United Airlines bisa memangkas penerbangan trans-atlantik dari New York ke London dan sebaliknya menjadi hanya 3,5 jam, dua kali lebih cepat dari pesawat komersial yang ada saat ini dikisaran 6,5 jam. Apalagi harganya terjangkau.

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York

United Airlines berencana hanya memasang tarif penerbangan supersonik sebesar US$2.500 atau Rp36 juta (kurs 14.552), 80 persen lebih murah atau berbanding jauh dengan penerbangan supersonik Concorde seharga US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang.

Bila tak ada aral melintang, pesawat supersonik komersial Overture besutan Boom, yang dirancang untuk menampung antara 55 hingga 75 orang, akan memulai penerbangan penumpang pada tahun 2030.

 

Dukung Pemulihan Pariwisata di Bali, Angkasa Pura I Berikan Stimulus Bagi Penerbangan Internasional

Saat badai pandemi Covid-19 mulai mereda, maka salah satu harapan adalah kembali bangkitnya sektor pariwisata. Terkhusus di lingkup pariwisata internasional, ada beragam tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya ada pada dunia penerbangan, dimana maskapai internasional memerlukan persiapan dan biaya tinggi untuk kembali membuka atau melayani penerbangan komersial setelah sekian lama terhenti ke suatu rute.

Baca juga: Bebaskan Landing Fee Bagi Maskapai Baru, Angkasa Pura I Dukung Sektor Wisata NTT

Dan guna menngatasi tantangan di atas, PT Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, telah memberikan stimulus pada penerbangan internasional. Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (13/10/2021), PT Angkasa Pura I memberikan kebijakan stimulus atau insentif bagi maskapai (maskapai nasional maupun asing) yang melakukan penerbangan internasional dari dan menuju Bali.

Adapun pemberian insentif berupa diskon biaya pendaratan (landing fee) dengan masa pemberian insentif yaitu pada periode 14 Oktober 2021 hingga 30 Juni 2022, di mana pada periode 14 Oktober hingga 31 Desember 2021 Angkasa Pura I memberikan diskon landing fee sebesar 100 persen dan periode 1 Januari hingga 30 Juni Angkasa Pura I memberikan diskon landing fee sebesar 50 persen.

Untuk mendapatkan insentif ini, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi maskapai yaitu:
1. Perusahaan yang mengajukan insentif untuk penerbangan rute internasional merupakan Badan Usaha Angkatan Udara dan Perusahaan Angkutan Udara Asing.
2. Penerbangan yang masuk dalam program insentif merupakan penerbangan penumpang regular berjadwal yang telah disetujui oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara berdasarkan Ijin Rute Penerbangan.
3. Penerbangan yang tidak masuk dalam program insentif adalah penerbangan kargo (freighter), general aviation, dan charter.

Dalam catatan penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai tahun 2019 atau masa pra pandemi, bandara melayani 50 destinasi kota-kota di dunia seperti Incheon, Dubai, Doha, Narita, Istanbul, Sydney, Melbourne dan sebagainya. Penumpang internasional bahkan mencapai 13,8 juta orang sepanjang tahun 2019 tersebut. Pesawat terbanyak yang digunakan jenis Boeing 777, Boeing 787 dan Airbus 330.

Baca juga: Pemerintah Dorong Pemberian Insentif kepada Maskapai Akibat Virus Corona, Pertanda Industri Penerbangan Lampu Kuning? 

Selanjutnya, maskapai yang mendapatkan insentif tersebut juga akan dibantu dipromosikan rute penerbangannya oleh Angkasa Pura I di berbagai kanal media elektronik perusahaan seperti media sosial.






















Otoritas Penerbangan Sipil Perancis: Ponsel 5G Wajib Dimatikan Karena Ganggu Instrumen Ketinggian Pesawat

Jaringan 5G saat ini sudah mulai digunakan di banyak negara dan perusahaan ponsel pintar pun mulai mengembangkannya. Namun ternyata ponsel pintar generasi terbaru 5G bisa mengganggu instrumen ketinggian pesawat.

Baca juga: Studi Terbaru: Teknologi 5G Bahayakan Radar Altimeter Pesawat Sipil 

Hal tersebut disampaikan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Prancis dan mereka juga merekomendasikan pada semua maskapai untuk memberitahukan penumpang untuk mematikan semua ponsel selama penerbangan.

“Penggunaan ponsel pintar generasi 5G di dalam pesawat dapat menyebabkan risiko gangguan yang berpotensi mengakibatkan kesalahan dalam pembacaan ketinggian,” kata juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Prancis yang dikutip KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com.

Bahkan hal ini pun masuk dalam buletin maskapai yang merekomendasikan ponsel 5G harus dimatikan sepenuhnya atau menggunakan mode pesawat selama penerbangan. Untuk diketahui, sebagian besar negara telah lama mewajibkan ponsel dimatikan atau dalam mode pesawat karena kekhawatiran bahwa jaringan telekomunikasi seluler generasi sebelumnya dapat mengganggu peralatan navigasi dan komunikasi pesawat.

Otoritas Penerbangan Sipil Perancis  – DGAC, juga merekomendasikan bahwa jika terjadi gangguan pada peralatan pesawat, awak pesawat segera memberi tahu pengontrol lalu lintas udara yang kemudian dapat memberi tahu pihak berwenang di bandara. DGAC juga  telah menetapkan kondisi untuk pemasangan pemancar (BTS) 5G untuk membatasi risiko gangguan saat proes pendaratan di bandara Prancis.

Baca juga: Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata

 

Saat ini, kekuatan sinyal dari BTS (Base Transceiver Station) 5G yang berada di dekat bandara utama Perancis telah dibatasi. Selain itu, BTS itu telah diuji ulang ketika operator telekomunikasi Perancis diberi lampu hijau untuk mulai meluncurkan layanan 5G.






















Maskapai Cebu Pacific Jual Tiket Promo ke Dubai Rp3 Ribu! Cuma Sampai 14 Oktober

Maskapai LCC asal Filipina, Cebu Pacific, mengumumkan promo tiket super murah seharga US$0,27 atau sekitar Rp3 ribu untuk rute Manila-Dubai. Tiket super murah Cebu Pacific ini adalah bagian dari promo ‘P1SO’ atau piso selama lima hari untuk pertama kalinya serta merayakan delapan tahun penerbangan ke Dubai.

Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu

Selain promo tiket penerbangan seharga Rp3 ribu untuk rute Manila-Dubai, Cebu Pacific juga menjual tiket super murah lainnya mulai harga Rp300 untuk 47 tujuan domestik dan 11 rute internasional, termasuk Manila-Dubai. Sangat murah, bukan?

Dilihat dari Twitter resmi maskapai, promo P1SO pertama kali dihelat pada tahun 2004 silam. Ini bertujuan untuk menawarkan tiket perjalanan dengan biaya sangat murah dimana tarif tiket penerbangan dijual mulai dari harga satu peso. Ketika itu, promo tersebut hanya dihelat selama tiga hari. Kendati demikian, itu berhasil meraup banyak penjualan tiket.

Maret tahun ini, dalam rangka merayakan hari jadinya yang ke-25, Cebu Pacific juga meluncurkan promo P1SO selama tiga hari juga dengan harga tiket penerbangan super murah, mulai dari satu peso atau Rp300.

Namun, pada gelaran promo P1SO Oktober ini durasinya diperpanjang menjadi lima hari untuk pertama kalinya, mulai dari 10 – 14 Oktober juga dengan harga tiket penerbangan super murah, mulai dari satu peso atau Rp300. Penerbangannya sendiri akan dilaksanakan antar 1 Juni – 31 Agustus 2022.

Menariknya, Cebu Pacific membebaskan rebooking dan reschedule unlimited tanpa dikenai biaya sepeserpun. Ini tentu menjadi sangat menarik bagi calon penumpang, selain harga tiket penerbangan super murah tadi, mengingat penerbangan baru akan teralisasi cukup lama pada Juni-Agustus tahun depan, bertepatan dengan libur musim panas 2022.

Vice president for marketing and customer experience Cebu Pacific, Candice Iyog, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan ini dilakukan bukan semata untuk merayakan berbagai momentum semata, melainkan turut mendukung pemulihan minat terbang masyarakat dengan tarif tiket super murah khas maskapai.

Baca juga: Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon

“Saat kami memasuki kuartal terakhir tahun ini, kami senang melihat beberapa perkembangan positif di industri perjalanan. Semakin banyak orang yang mendapatkan kepercayaan diri untuk bepergian lagi, dan kami senang untuk terus mendukung pemulihan sektor kami melalui tarif rendah khas kami,” ujarnya.

“Kami sangat senang berbagi tonggak sejarah delapan tahun ini dengan semua orang yang terus menjadikan kami maskapai pilihan mereka. Sejak Cebu Pacific pertama kali mengudara di Dubai pada 2013, yang juga menandai penerbangan jarak jauh berbiaya rendah pertama, tujuan kami selalu sama — untuk menyediakan perjalanan yang aman, mudah diakses, dan terjangkau bagi semua orang,” tutupnya.

Stasiun ini Punya Banyak Hal Unik, Salah Satunya ada Vending Machine yang Hanya Jual Air dan Teh

Banyak penawaran unik dan tidak biasa bagi para penumpang di Stasiun Ochanomizu, Tokyo. Yang kemudian membuat stasiun ini menjadi sorotan. Salah satu hal yang paling membuatnya menjadi perbincangan adalah “Stasiun Pembersih Tangan”.

Baca juga: Mesin Penjual Otomatis, Jual 48 Jenis Produk dari Buah Hingga Suvenir

Di mana pembersih tangan ini hadir pada April tahun ini dan menjadi topik hangat di media sosial karena desainnya yang cerdas. Bahkan bukan itu saja, ada foto yang menunjukkan papan nama yang ditempelkan di meja tempat pembersih tangan tersebut agar terlihat seperti papan nama di stasiun-stasiun di Jalur Yamanote, di mana Stasiun Ochanomizu merupakan bagiannya.

Pembersih tangan di Stasiun Ochanomizu. Foto: Sora News24

Tak berhenti disitu saja, Ochanomizu menghadirkan maskot barunya yakni Chamizun yang dikatakan lahir di stasiun itu pada 31 Desember 1904 yang mana itu adalah tanggal stasiun dibuka dan kini berusia 117 tahun. KabarPenumpang.com melansir laman soranews24.com (8/10/2021), selain itu juga ada mesin penjual otomatis yang unik karena hanya menjual dua minuman yakni teh dan air.

Itu mungkin tidak terdengar seperti sesuatu yang istimewa pada awalnya, terutama di negeri di mana mesin penjual otomatis dapat mengeluarkan semuanya dari origami hingga kutukan, tetapi begitu Anda menyadari bahwa nama stasiun terdiri dari dua kata: ocha (teh) dan mizu (air), mesin penjual otomatis menjadi menawan seketika.

Hal-hal menjadi lebih mengharukan dengan staf tanda tulisan tangan yang melekat pada mesin, yang menggantikan (“tidak”) dengan (“ke”), mengubah “Ochanomizu” (“Air Teh”) menjadi “Ocha to Mizu”, yang berarti “Teh dan Air”. Tanda hijau di atas mesin bertuliskan “‘Teh’ dan ‘Air’ Mesin Penjual Otomatis”, dan itu eksklusif untuk Stasiun Ochanomizu.

Sebagian besar minuman di dalam mesin memiliki koneksi ke Tohoku, wilayah utara Jepang yang mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi dan tsunami Tohoku 2011. Satu merek air mineral berasal dari Shirakami-Sanchi, sebuah situs warisan dunia UNESCO yang terletak di seberang prefektur Akita dan Aomori, sedangkan teh Tohoku Rokukencha menggunakan bahan-bahan yang dikumpulkan dari enam prefektur Tohoku.

“Pembelian dari mesin membantu mendukung Tohoku, jadi kami menyelipkan beberapa koin untuk membeli sebotol air dan memasukkannya ke dalam tas kami untuk perjalanan pulang. Menjadi penumpang yang bijaksana, kami hanya akan menyeruputnya di luar kereta, tentu saja,” ujar pihak stasiun.

Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar

Jika Anda mencari stasiun kereta dengan hati dan karakter, sentuhan unik di Stasiun Ochanomizu saat ini pasti akan membuat tersenyum. Bahkan jika Anda mencari lebih banyak kesenangan dan petualangan di atas rel, Anda mungkin ingin mampir ke Stasiun Shinjuku untuk bertemu dengan karakter maskot barunya, dan memuaskan dahaga di Stasiun Tameike-sanno, yang merupakan rumah bagi Kereta Vending yang dibuat dari bagian kereta yang sudah pensiun.