Pesawat Boeing 737 Misterius di Bali Kini ‘Nangkring’ di Atas Tebing Pantai Nyang Nyang

Pesawat Boeing 737 misterius viral yang mangkrak di lembah buatan dekat Pantai Pandawa, Badung, sekitar lima kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai, kini ‘terbang’ dan bertengger di Atas Tebing Pantai Nyang Nyang, Desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Baca juga: Ternyata Begini Sejarah Dua Pesawat Boeing 737 Misterius yang Mangkrak di Bali

Pesawat Boeing 737-200 bekas Mandala Airlines yang dahulu teregistrasi sebagai PK-RII sengaja dipindahkan dari tempat sebelumnya untuk meningkatkan potensi wisata di Pantai Nyang Nyang.

Pantai itu selama ini bisa dibilang kalah saing dengan berbagai pantai besar lainnya di Bali, seperti Pantai Nusa Dua, Pantai Kuta, Pantai Jimbaran dan lainnya. Kelengkapan fasilitas penginapan dan hiburan serta turunanya juga masih jauh dibanding destinasi wisata lainnya di Bali.

Dengan adanya pesawat yang ditempatkan di atas tebing Pantai Nyang Nyang ini, pada waktunya, diharapkan Pantai Nyang Nyang bisa menjadi ikon wisata baru Bali dan dapat mengundang lebih banyak wisatawan. Muara dari itu tentu mengangkat ekonomi masyarakat yang selama setahun lebih terpuruk akibat pandemi virus Corona.

Selain jadi spot foto menarik, pesawat dengan panjang 29,54 meter, lebar 5,2 meter, dan tinggi 3,96 meter ini nantinya akan disulap menjadi restoran. Restoran di Bali memang sangat banyak, tetapi restoran yang dibangun dari pesawat atau pesawat yang disulap menjadi restoran bisa dibilang hampir tidak ada di Bali. Di Indonesia pun jumlahnya bisa dihitung jari.

Selain desainnya yang menarik wisatawan, konsep restoran pesawat di Bali ini juga unik, dimana pengunjung bisa datang dan makan apa saja dan bayar sesukanya. Ini disebut konsep kotribusi atau contribution based restaurant.

Laporan media lokal Nusa Bali, hadirnya pesawat Boeing 737-200 PK-RII di atas Tebing Pantai Nyang Nyang setinggi 15 meter tak lepas dari kolaborasi Felix Demin (seorang pengusaha asal Rusia) dan I Made Sukardiana alias Made Kur, warga setempat.

Felix Demin merupakan pengusaha asing yang sebelumnya telah mengembangkan berbagai property di Bali, sementara Made Kur adalah pemilik lahan di mana ‘Nyang Nyang Airplane’ dipasang.

Menurut Made Kur, ide pemasangan ‘Nyang Nyang Airplane’ ini bermula dari pengusaha Felix Demin, yang sering surfing di Pantai Nyang Nyang. “Felix Demin menyatakan ingin menaruh pesawat di sini,” kenangnya.

Baca juga: Ada Sosok Boeing 737 Misterius di Bali, Kini Jadi Obyek Foto Favorit Para Pelancong

Lebih lanjut, Made menyebut, sebelum ditempatkan di atas tebing Pantai Nyang Nyang, Desa Pecatu, bodi pesawat Boeing 737-200 tersebut sempat lama berada Pandawa (bukan Pantai Pandawa), Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, sejak dibeli tahun 1993. Bahkan, bodi pesawat tersebut nyaris jadi besi tua dan sempat hendak dijual ke Cina.

Namun, entah bagaimana ceritanya, pesawat tersebut akhirnya dipindahkan dan dipasang oleh enam orang teknisi yang didatangkan khusus dari Bandara Internasional Juanda Surabaya di atas tebing Pantai Nyang Nyang.

Operator Kereta di Jepang Fokus Bantu Penumpang yang Gunakan Kursi Roda

Operator kereta api di Jepang saat ini tengah mempercepat upaya untuk memudahkan para pengguna kursi roda naik kereta tanpa bantuan petugas. Hal yang dilakukan untuk ini adalah mengurangi langkah vertikal antara lantai dan peron kereta serta celah horizontal antar kereta dengan peron sehingga memudahkan para pengguna kursi roda untuk naik atau turun sendiri.

Baca juga: Mudahkan Penumpang Pengguna Kursi Roda, Operator Kereta Jepang Adopsi Aplikasi di Ponsel

Ini kemudian membuat banyak operator kereta api yang mulai merenovasi secara serius setelah kementerian transportasi menetapkan standar bebas hambatan untuk langkah dan celah. Selain itu juga untuk Paralimpian Tokyo yang belum lama diselenggarakan. Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (23/8/2021), perubahan beberapa sentimeter dapat memungkinkan orang dengan mobilitas terbatas untuk bepergian dengan bebas.

Sehingga para pengguna kursi roda bisa dengan leluasa naik dan turun kereta tanpa bantuan, salah satunya di mana bila ada ketinggian bagian peron dengan pintu gerbong harus diberi ramp tambahan. Nantinya juga akan ada perangkat karet yang harus dipasang untuk mempersempit celah antara kereta api dan platform. Untuk diketahui, Okinawa Urban Monorail Inc. dan Osaka Metro Co. adalah yang pertama mengambil tindakan bebas hambatan semacam itu.

Pada 2018, Kementerian Perhubungan melakukan uji coba yang melibatkan 23 pengguna kursi roda. Setelah menganalisis hasil pengujian, ditetapkan undakan vertikal tiga sentimeter dan celah horizontal tujuh sentimeter sebagai standar bebas hambatan untuk peron lurus dengan rel kereta api beton. Dari 1.290 stasiun dengan peron dan jalur seperti itu di seluruh negeri, stasiun dengan setidaknya satu bagian peron yang memenuhi standar kementerian mencapai 623 pada Oktober 2020.

Pada bulan Juni kemarin, peron jalur Tokaido Shinkansen Central Japan Railway Co. di Stasiun Tokyo diubah untuk memenuhi standar. Satoshi Sato, sekretaris jenderal Majelis Nasional Penyandang Cacat Internasional Jepang, memuji langkah tersebut.

“Orang-orang di kursi roda sekarang dapat naik dan turun kereta tanpa menunggu bantuan dari anggota staf stasiun dan mengubah rencana perjalanan mereka saat naik kereta api,” katanya.

Pada Juni kemarin, Yayasan untuk Mempromosikan Mobilitas Pribadi dan Transportasi Ekologis menambahkan informasi tentang tangga vertikal dan celah horizontal di stasiun-stasiun di seluruh Jepang di situs webnya yang berbagi informasi terkait dengan fungsi bebas hambatan di stasiun kereta api. Pengguna dapat memeriksa ke mana mereka harus pergi untuk naik kereta dari bagian peron yang sesuai dengan standar.

Sekitar musim panas 2020, East Japan Railway Co. mulai mengecat bagian peron berwarna merah muda dan pintu kereta api yang memenuhi standar untuk memudahkan orang menemukan area boarding bebas hambatan. Tokyo Metro Co. dan Tokyu Corp. mengikuti setelah permintaan dari kementerian transportasi.

Baca juga: Kursi Roda Otomatis di Bandara Haneda Bantu Terapkan Jarak Sosial

”Langkah itu memudahkan orang-orang tanpa disabilitas untuk mengetahui di mana area bebas penghalang. Kami ingin mereka memperhatikan orang-orang dengan mobilitas terbatas dan memberikan ruang (untuk orang cacat) di sekitar area bebas hambatan,” kata seorang pejabat kementerian.

Ada Andil Wright Bersaudara, Inilah Sejarah FAA, Regulator Penerbangan Sipil ‘Dunia’

Adminsitrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (AS) sejatinya hanya mengurus hal-hal terkait penerbangan sipil di Negeri Paman Sam. Tetapi, keputusan FAA sering kali mempengaruhi regulator penerbangan sipil negara lain.

Baca juga: Prahara Ide Kokpit Dilengkapi Kamera Video, Ditentang Pilot-FAA Tapi Direkomendasikan ICAO

Pesawat baru atau lama yang ingin terbang bebas ke seluruh dunia, secara tak resmi, juga harus melewati sertifikasi FAA terlebih dahulu. Karenanya, tak ayal, FAA juga dijuluki sebagai regulator penerbangan sipil dunia.

Meski Regulator Penerbangan Sipil Cina (CAAC), menurut South China Morning Post, ingin mengambil alih gelar sebagai kiblat regulator penerbangan sipil ‘dunia’ dari tangan FAA (salah satunya pada kasus Boeing 737 MAX, dimana CAAC memimpin grounded global pesawat itu), tetap saja, nama besar dan sejarah menuntun FAA untuk terus memimpin regulasi penerbangan sipil global.

Sejarah berdirinya FAA memang cukup panjang. Dilansir laman resminya, berdirinya FAA, secara tdak langsung, bisa dibilang ada campur tangan Wright bersaudara.

Pada 17 Desember 1903, Orville Wright dan Wilbur Wright berhasil melakukan penerbangan bertenaga mesin pertama. Ini kemudian menuntun Wright bersaudara untuk melakoni penerbangan pesawat praktis pertama pada tahun 1905.

Setelahnya, dunia pun berlomba-lomba untuk membuat mesin pesawat terbang. Mengakui atau tidak, Perang Dunia I, ternyata membuat dunia semakin sadar betapa bermanfaatnya pesawat terbang.

Hadirnya pesawat tentu menuntun kehadiran fasilitas pendukung lainnya, seperti maskapai komersial, bandara, kontrol lalu lintas udara (ATC) based on visual signals (sangat sederhana sekali), ground kru, dan lain sebagainya.

Baca juga: Hari Ini, Lisensi Pilot Sipil Pertama di Dunia Dimulai Atas Perintah Presiden AS Woodrow Wilson

Di dekade 1920-an, industri penerbangan mulai menggeliat di AS. Tetapi, para petinggi perusahaan percaya bahwa bisnis mereka tak bisa berkembang tanpa campur tangan pemerintah federal untuk meningkatkan dan mempertahankan standar keselamatan. Nah, dari sinilah asal usul atau sejarah berdirinya FAA dimulai.

Atas berbagai desakan dari para bos industri penerbangan, senat AS akhirnya mengesahkan Undang-Undang Perdagangan Udara pada tahun 1926.

Undang-undang ini menugaskan Menteri Perdagangan untuk mendorong perdagangan udara, menerbitkan dan menegakkan peraturan lalu lintas udara, melisensikan pilot, mensertifikasi pesawat, membangun saluran udara, dan mengoperasikan sekaligus memelihara alat bantu navigasi udara.

Cabang Aeronautika (AB) baru di Departemen Perdagangan ini memikul tanggung jawab utama untuk pengawasan penerbangan, dan William P. MacCracken, Jr. menjadi direktur pertamanya. Perlu dicatat, AB ini bukan FAA.

Pada tahun 1934, Departemen Perdagangan mengganti nama Cabang Aeronautika menjadi Biro Perdagangan Udara (BAC).

Guna memastikan fokus pemerintah federal pada keselamatan penerbangan, Presiden Franklin Roosevelt menandatangani Undang-Undang Penerbangan Sipil pada tahun 1938. Salah satu hasilnya adalah terbentuknya Otoritas Penerbangan Sipil independen (CAA).

Pada tahun 1940, Presiden Roosevelt membagi CAA menjadi dua badan, Administrasi Penerbangan Sipil (CAA), yang kembali ke Departemen Perdagangan, dan Badan Penerbangan Sipil (CAB).

Usai kehadiran pesawat jet komersial pertama, De Havilland Comet di dekade 50-an, AS membentuk Badan Penerbangan Federal (FAA, tapi bukan FAA yang sekarang melainkan Federal Aviation Agency) independen pada 21 Mei 1958, untuk menyediakan penggunaan wilayah udara nasional yang aman dan efisien.

Dua bulan kemudian, pada 23 Agustus 1958, Presiden menandatangani Undang-Undang Penerbangan Federal.

Di era Presiden Johnson, AS kembali memperbaiki sistem. Pada tahun 1966, Kongres mengesahkan pembentukan departemen kabinet yang akan menggabungkan tanggung jawab transportasi federal utama.

Departemen Perhubungan (DOT) yang baru ini mulai beroperasi penuh pada 1 April 1967.

Pada hari itu, Badan Penerbangan Federal menjadi salah satu dari beberapa organisasi di dalam DOT dan mendapat nama baru, Administrasi Penerbangan Federal (FAA). Di sinilah FAA resmi berdiri.

Baca juga: FAA Resmi Pensiunkan Nomor Registrasi Pesawat Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama di Dunia

Pada saat yang sama, fungsi investigasi kecelakaan CAB dipindahkan ke Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) yang baru.

Bila merujuk pada diremikannya FAA, maka FAA berdiri pada 1 April 1967. Tetapi, bila merujuk pada induk FAA sebelum berganti nama, maka FAA berdiri pada 21 Mei 1958.

Ini Penyebab Seorang Wanita Gemuk Diminta Turun Awak Kabin Alasaka Airlines dari Pesawat

Sepertinya masalah pakaian penumpang tak ada habisnya dan belum lama ini seorang penumpang Alaska Airlines dikawal turun  dari penerbangan di Bandara Internasional Seattle-Tacoma ke Alaska minggu lalu. Hal ini pun menjadi viral setelah penumpang tersebut membagikan pengalaman tentang apa yang terjadi ke media sosial.

Baca juga: Gara-gara Pakaian, TikToker Diteriaki Awak Kabin Sebelum Masuk Pesawat

Ray Lin Howard, penumpang yang diturunkan dari penerbangan Alaska Airlines memposting konten ke akun TikTok-nya dan telah dilihat dua juta kali serta disukai ribuan kali. Video tersebut tentang penerbangan pulang ke Fairbanks setelah dua jam singgah di Seattle Jumat lalu (3/9/2021).

Insiden yang dialami Howard, juga menjadi berita utama di surat kabar dan situs web nasional dan internasional, termasuk TMZ.com. Howard mengatakan dia tidak memiliki masalah sampai dia memutuskan untuk melepas crop top bercak macan tutul ungu saat berada di udara dan dalam perjalanan ke tujuan akhirnya.

“Saya telah mengenakan pakaian yang sama di penerbangan lain selama perjalanan ini dan itu lancar. Kebanyakan orang sedang tidur (dan) cukup sepi dan gelap sepanjang waktu,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari katu.com (7/9/2021).

Meski Alaska Airlines tengah menyelidiki insiden itu, Howard mengatakan ini terjadi karena berat badan dan pakaiannya.

“Saya dilecehkan tentang pakaian saya,” katanya kepada petugas.

Menurut sebuah video yang diposting oleh Howard dari pesawat, dia mengenakan atasan terbuka dan celana pendek hitam sebelum melepasnya karena panas di pesawat, meninggalkan bra olahraga hitam yang ada di bawahnya. Karena penerbangannya tidak penuh, penumpang diberitahu bahwa mereka bisa menyebar dan dia pindah ke kursi lorong, saat itulah dia mengatakan situasinya dimulai.

“Saya didekati, mungkin dalam waktu lima menit setelah itu terjadi dan diberitahu bahwa saya perlu menutupinya. Jadi, saya mengenakan kembali baju saya dan saya akan mengatakan mungkin lima menit setelah itu saya didekati lagi oleh pramugari yang berbeda, mengatakan bahwa pakaian saya masih tidak dapat diterima. Itu ada di buku pegangan bahwa perut tidak bisa ditampilkan,” katanya.

Howard mengatakan kepada petugas bahwa dia didekati oleh pramugari tiga kali berbeda tentang pakaiannya, yang dia bersikeras mematuhi kode pakaian maskapai.

“Kami berhubungan dengan tamu yang berada di Alaska Airlines Penerbangan 223 Jumat malam. Kami berkomitmen untuk mencari tahu apa yang terjadi dan mengambil tindakan yang tepat. Ini adalah tujuan kami untuk memberikan layanan peduli kepada semua tamu kami. Ketika kami tidak memenuhi tujuan itu, kami melakukan segala yang kami bisa untuk memperbaikinya,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan.

Dalam video selanjutnya, Howard mengatakan maskapai mengembalikan uang yang dia bayarkan untuk perjalanan aslinya dan “mencoba untuk memberi kompensasi kepada dirinya atas situasi ini dengan menawarkan kode diskon untuk digunakan pada pembelian di masa mendatang.

Baca juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan

“Respons mereka jelas merupakan tamparan di wajah. Sungguh menyedihkan bahwa orang dapat terus memperlakukan orang lain seperti itu dan itu dapat diterima,” katanya.

Rusak Duopoli Boeing-Airbus, Cina Produksi Suku Cadang Mesin Pesawat Sendiri Mulai 2025

Cina bertekad memproduksi suku cadang mesin pesawat sendiri pada 2025 mendatang. Ini adalah bagian dari proyek “Made in China 2025” terkait pengembangan pesawat komersial pertama Negeri Tirai Bambu.

Baca juga: COMAC C919 Segera Beroperasi Komersial, Boeing-Airbus Ketar-ketir

Selain itu, meproduksi suku cadang mesin sendiri juga dimaksudkan agar Cina lebih mandiri dan tak terlalu bergantung pada Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Tujuan akhir dari semua itu, tentu saja agar Cina melalui China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) bisa meruntuhkan duopoli Boeing-Airbus yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Dilansir South China Morning Post, produksi suku cadang penting mesin pesawat oleh Cina akan dipusatkan di Lingang New Area, Shanghai.

Wilayah ini sebelumnya sudah berdiri pabrik perakitan akhir Tesla Gigafactory 3 dan akan terus didorong agar menjadi tonggak investasi tekonologi tinggi perusahaan asing. Dengan begitu, diharapkan, pada 2025 mendatang, teknologi dan rantai pasokan di sini bisa mendukung ambisi Cina memproduksi suku cadang penting mesin pesawat sendiri.

“Lingang New Area harus membangun ekosistem industri penerbangan sipil terbuka dan sistem inovasi kolaboratif internasional untuk mengembangkan dan menjamin pesawat besar dan mesin penerbangan sipil yang diproduksi di dalam negeri, dan mewujudkan kontrol independen atas teknologi inti dan key links dalam rantai pasokan,” kata Pemerintah Shanghai, mengutip perwakilan dari Industri Teknologi Tinggi dan Departemen Inovasi Sains dan Teknologi dari komite manajemen Lingang New Area.

Baca juga: Cina Pusing COMAC Masuk Daftar Hitam, Proyek Pesawat Komersial “Made in China 2025” Mangkrak

Kemandirian Cina di industri penerbangan global memang sudah dimulai dengan pengembangan pesawat narrowbody COMAC C919 dan pesawat widebody CR929. Pesawat COMAC C919 digadang sebagai pesawat Made in China dan selalu dibangga-banggakan pemerintah.

Bila tak ada aral melintang, akhir tahun ini C919 akan menjalani uji sertifikasi regulator penerbangan sipil Cina dan bila lolos, bisa segera beroperasi di pasar domestik.

Adapun pesawat CR929 menggandeng Rusia dengan mendirikan perusahaan patungan China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC). Dalam perhelatan Zhuhai AirShow 2018, CRAIC sempat memamerkan CR929 dan sesumbar bakal menerbangkan prototipe pesawat tersebut pada tahun 2023.

Cina sangat berambisi merusak duopoli Airbus dan Boeing sebagai raksasa produsen pesawat global. Menurut para pakar, dari tiga syarat menuju ke sana, Cina sudah menguasai satu di antaranya, yakni terkait pendanaan.

Menurut statista.com sumber pendanaan utama di pasar penyewaan pesawat ialah melalui pasar modal dan hutang bank.

Pendanaan juga dapat diperoleh dengan menggunakan uang tunai atau kredit ekspor. Saat ini, Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial terbesar di dunia yang digunakan untuk penyewaan pesawat. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

Baca juga: Warning Buat AS-Eropa, Pabrikan Cina COMAC ARJ21 Lulus Uji Terbang di Bandara Tertinggi di Dunia

Akan tetapi, syarat lainnya untuk bisa merusak hegemoni Boeing-Airbus, yakni teknologi, belum dikuasai Cina. Karenanya, meski Cina bernafsu untuk memproduksi suku cadang penting mesin pesawat sendiri, tetap saja, komponen pesawat lainnya masih mengandalkan negara lain, jauh dari kata mandiri.

Laporan NTD News, Kennedy pernah mengatakan bahwa pesawat COMAC C919 hanya namanya saja Made in China. Sebab, nyaris seluruh komponen yang membuatnya terbang berasal dari rantai pasokan di Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).

Mesin C919, misalnya, memakai produk CFM Internasional dan General Electric, perusahaan patungan AS-Perancis.

Sistem avionik, landing gear, dan flight control diproduksi oleh Honeywell serta sistem komunikasi dan navigasi diproduksi oleh Rockwell Collins. Keduanya merupakan perusahaan asal AS. Secara keseluruhan, perusahaan AS memasok seperlima komponen pesawat COMAC C919.

Sedangkan perusahaan-perusahaan Eropa memasok sekitar sepertiga komponen ke pesawat itu; termasuk juga ke pesawat “Made in China” lainnya, COMAC ARJ21. Adapun sisanya dipasok oleh 14 perusahaan Cina, dengan tujuh di antaranya merupakan perusahaan patungan.

Baca juga: Head to Head COMAC C919 ‘Made in China’ Vs Airbus A320neo, Siapa Unggul?

Arogansi Cina juga membuat negara lain ‘pelit’ berbagi teknologi. Dilansir Epoch Times, Jepang menggandeng empat negara Barat, yakni Jerman, Belanda, Inggris, dan AS agar tak mentransfer empat teknologi utama ke Cina, meliputi artificial intelligence (AI), quantum computers, biotechnology, dan hypersonic speed.

Blokade dua dari empat teknologi itu, AI dan komputer quantum, dinilai dapat memperlambat proyek COMAC C919 dan CR929.

Satu Armada Bus LIstrik Kembali Diuji Coba TransJakarta di Rute Blok M–Balaikota

PT Transportasi Jakarta melakukan pelepasan uji coba sebanyak satu unit bus listrik, bekerjasama dengan Agen Penyedia Bus (APM) PT Higer Maju Indonesia (HMI) menghadirkan bus listrik yang aman dan nyaman bagi pelanggan. Adapun proses pelepasan ujicoba dilaksanakan di kantor pusat PT Transjakarta, Cawang, Jakarta Timur pada hari ini, Jumat (10/9/2021).

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Pelepasan uji coba ini disampaikan Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Sardjono Jhony Tjitrokusumo sebagai tindaklanjut dari penandatangan nota kesepahamanatau MoU Transjakarta bersama PT Higer Maju Indonesia (HMI) yang telah dilaksanakan pada 1 September 2021 lalu.

“Alhamdulillah, hari ini kita sudah bisa melakukan uji coba bus listrik dengan mengangkut pelanggan yang akan melayani masyarakat untuk rute Blok M – Balaikota (EV1). Ujicoba akan dilakukan selama 3 (tiga) bulan ke depan tanpa dikenalan biaya atau gratis. Untuk saat ini kami tetap melalukan pembatasan pelanggan yakni maksimal diisi oleh 25 orang pelanggan termasuk yang berdiri,” ujar Jhony yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Jhony menambahkan, proses uji coba ini lakukan sebagai salah satu tahapan dalam upaya merealisasikan rencana penggunaan kendaraan bus listrik berbasis baterai yang ramah lingkungan. Dalam hal ini, semua armada konvensional Transjakarta secara bertahap akan beralih menggunakan armada listrik.

“Keseriusan Transjakarta ini dibuktikan dengan berbagai layanan uji coba kendaraan listrik yang dimulai sejak tahun lalu. Dan hari ini kita menggandeng teman-teman dari PT Higer Maju Indonesia untuk ikut serta menjadi mitra strategis dalam penyediaan, pengadaan dan operasional bus listrik berbasis baterai tersebut,” katanya.

Jhony mengatakan, uji coba ini diharapkan bisa menjadi langkah kecil untuk lompatan besar sektor transportasi massal di masa depan, seperti emisi rendah atau bahkan nol. Hal ini tentunya dapat mengurangi polusi, mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM dan akhirnya bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik dan baterai.

“Kita juga berharap ini bisa memperkuat ekosistem kendaraan listrik di negara kita, menginspirasi banyak orang untuk beralih pada kendaraan listrik berbagai jenis dan memotivasi masyarakat untuk semakin mencintai transportasi publik kita,” imbuh Jhony.

Sebagai informasi, bus listrik merk Higer ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan bus konvensional, seperti tidak menimbulkan polusi, biaya perawatan yang relatif murah, hingga baterai yang tahan lama. Dengan daya baterai yang bisa diisi ulang maksimum tiga jam, bus listrik Higer mampu melaju hingga sejauh 250 kilometer.

Selain itu, bus ini juga memiliki keungulan lainnya seperti pintu akses naik turun pelanggan yang luas, sehingga pengguna kursi roda bisa dengan bebas memasuki bus dari pintu depan maupun pintu belakang. Tak hanya itu, pengguna kursi roda juga mendapat area yang lebih luas di dalam bus dibandingkan area kursi roda di bus pendahulunya. Jadi bisa dibilang, moda transportasi ini lebih inklusif dan lebih friendly untuk para pelanggan nantinya.

Baca juga: Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 Tak Pergi Keluar Kota? Ayo Jajal Bus Listrik TransJakarta Gratis di Monas

Sebelumnya, Transjakarta juga telah melakukan uji coba sebanyak dua unit bus yang bekerjasama APM PT Bakrie Autopart pada tahun 2020 lalu. Ke depan, Transjakarta terus membuka kesempatan selebar-lebarnya kepada penyedia bus lainnya untuk bekerjasama dengan kami dalam upaya menghadirkan bua listrik yang aman dan nyaman.

Empat Barang-barang Peninggalan Korban Tragedi 9/11, dari Logbook Pramugari-Sorban

Hari ini tepat 20 tahun lalu, tragedi 11 September 2001 atau 9/11 menewaskan nyaris 3 ribu orang dan lebih dari 6.000 orang lainnya luka-luka. Ketika itu, empat pesawat sipil dibajak 19 teroris Al Qaeda, dimana dua di antaranya menghantam Menara Selatan dan Udara World Trade Center (WTC) New York. Tak lama berselang, dua gedung itu pun runtuh.

Baca juga: Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

Selain itu, dua pesawat lainnya yang dibajak, satu di antaranya berhasil mencapai target yaitu gedung Pentagon. Adapun satu lainnya gagal mencapai target US Capitol Building dan jatuh di Shanksville, Pennsylvania.

Selain meninggalkan cerita tragis dan heroik, peristiwa 11 September 2001 juga meninggalkan cerita tersendiri lewat barang-barang peninggalkan korban tewas maupun selamat.

Barang-barang itu disimpan apik di Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian. Di antara puluhan barang peninggalan tragedi 9/11, setidaknya ada empat yang menarik untuk dibahas. Untuk lebih lengkapnya sebagai berikut.

1. Kamera Bill Biggart

Kamera Bill Biggart yang ditemukan tak jauh dari jasadnya di ground zero peristiwa 9/11. Ia adalah satu-satunya jurnalis profesional yang tewas saat meliput tragedi 11 September 2001. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Bill Biggart, sejatinya bukan penumpang maupun kru empat pesawat tragedi 11 September 2001 yang dibajak teroris. Bukan pula karyawan Pentagon ataupun WTC. Bill Biggart ialah seorang jurnalis foto lepas.

Pada 11 September 2001, ia sedang berjalan keliling kota bersama anjing dan istrinya. Ketika ia tahu ada pesawat yang menabrak gedung WTC, ia langsung lari pulang ke rumah dan mengambil tiga kamera serta bergegas ke Ground Zero.

Di sela-sela mewartakan , ia mengabarkan istrinya. “Saya aman. Saya bersama petugas pemadam kebakaran.” 20 menit setelahnya, gedung runtuh dan ia pun tewas seketika. Tiga kameranya ditemukan tak jauh dari jasadnya. Memori kameranya juga masih utuh. Ada lebih dari 150 gambar yang ia dapat.

Mirisnya, sebelum gedung runtuh, istrinya, Wendy Doremus, sempat berpesan ke Bill agar jangan dekat-dekat dengan gedung yang habis ditabrak pesawat.

2. Sorban Sikh Balbir Singh Sodhi

Sorban Sikh Balbir Singh Sodhi. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Balbir Singh Sodhi adalah seorang imigran India yang memiliki sebuah pompa bensin dan toko serba ada di Mesa, Arizona. Ia adalah penduduk lokal yang sama sekali tak terlibat dengan peristiwa 9/11.

Namun nahas, ia ditembak mati oleh pria bersenjata karena dikira penganut agama Islam, yang notabene diasosiasikan dengan Al Qaeda, teroris dalam aksi pembajakan 11 September 2001. Padahal, ia bukan muslim melainkan penganut kepercayaa Sikh.

3. Logbook dan In-Flight Manual Pramugari United Airlines Flight 93, Lorraine Bay

logbook pramugari United Airlines Flight 93 dalam peristiwa 9/11, Lorraine Bay. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Pesawat Boeing 757 United Airlines Flight 93 jatuh di Shanksville, Pennsylvania. Meski tak menghantam bangunan sebagaimana tiga pesawat lainnya yang dibajak teroris Al Qaeda, tetapi kondisinya tak kalah mengenaskan. Di balik puing-puing pesawat, tersisa logbook dan if-flight manual milik pramugari Lorraine Bay.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

4. Potongan Pesawat Boeing 757-223 American Airlines Flight 77

Potongan badan pesawat Boeing 757-223 American Airlines Flight 77 dalam peristiwa 11 September 2001. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Potongan pesawat Boeing 757-223 American Airlines flight 77 yang ditabrakkan ke gedung Pentagon ditemukan di sebuah mobil yang tengah terjebak macet di sekitar gedung Pentagon. Ketika itu, sambil menikmati macet, Penny Elgas, melihat ada pesawat terbang rendah.

Pesawat akhirnya menabrak gedung Pentagon dan menariknya potongan kecil pesawat menyelinap masuk ke kursi belakang mobilnya tanpa ia sadari, entah itu masuk lewat sunroof ataupun jendela mobil.

Fakta di Balik Tragedi 9/11, Orang ‘Indonesia’ Turut Jadi Korban

Hari ini tepat 20 tahun lalu, tragedi 11 September 2001 atau 9/11 menewaskan nyaris 3 ribu orang dan lebih dari 6.000 orang lainnya luka-luka. Dari total ribuan korban tewas dalam peristiwa 11 September 2001 ini, ternyata terselip orang keturunan Indonesia, Eric Samadikun Hartono alias Eric Hartono.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat

Dilansir CNN Internasional, Eric Hartono tercatat jadi salah satu korban peristiwa 11 September 2001. Eric, yang memilih menjadi warga negara AS, menjadi salah satu penumpang pesawat Boeing 767-222 United Airlines Flight 175.

Putra dari bos Bank Modern Samadikun Hartono ini diketahui sedang menempuh pendidikan sarjana jurusan komputer di California State University sejak tahun 2000. Saat itu, Eric Hartono berusia 20 tahun dan tinggal di Boston, Negara Bagian Massachusetts, AS.

Sebagaimana korban tragedi menara kembar World Trade Center New York lainnya, jasad Eric Hartono juga tak ditemukan.

Namun, tak lama setelah kejadian, pihak keluarga yang sudah mendapat kepastian Eric Samadikun Hartono menjadi salah korban dalam tragedi 11 September 2001 langsung melaksanakan kebaktian untuk mendoakan almarhum.

Dilihat dari kronologi kejadian sampai pesawat ditabrakkan ke Menara WTC, sukar diterima jasad Eric dan 64 orang lainnya di penerbangan United Airlines Flight 175 akan ditemukan. Terlebih, tak lama dua pesawat ditabrakkan, menara kembar itu runtuh.

Meski begitu, ajaibnya, salah satu korban di pesawat lain yang juga dibajak teroris Al Qaeda dalam tragedi 11 September 2001, ternyata berhasil ditemukan. Tetapi, bukan jasadnya, melainkan cincin yang dikenakannya.

Dikutip dari fox2now.com, cincin pramugari American Airlines Flight 11 yang pesawatnya ditabrakkan ke Menara Utara World Trade Center oleh teroris Al Qaeda, berhasil ditemukan. Sejak ditemukan, cincin tersebut langsung diberikan ke keluarga dan disimpan apik sampai saat ini.

September memang menjadi bulan yang kelabu bagi masyarakat dunia, khususnya publik Amerika Serikat (AS). Di bulan ini, setidaknya nyaris 3.000 orang tewas dan lebih dari 6.000 orang lainnya menderita luka-luka setelah pembajakan empat pesawat terjadi pada 11 September 2001 (9/11).

Ketika itu, teroris dari kelompok Al Qaeda, mengarahkan pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 ke Menara Utara World Trade Center dan menabrakkannya dengan sengaja pada pukul 08.46 waktu setempat.

Lalu pada pukul 09.03 waktu setempat, pesawat Boeing 767-222 yang dioperasikan oleh maskapai menabrak United Airlines Flight 175 Menara Selatan World Trade Center. Keseluruhan penumpang, awak kabin, dan teroris yang melakukan aksi sadis ini tewas seketika.

Tidak berhenti sampai di situ, masih ada dua pesawat lagi; Boeing 757-223 yang dioperasikan oleh maskapai American Airlines flight 77 menabrak ke Pentagon dan menewaskan 64 orang yang ada di dalam pesawat (termasuk awak pesawat, penumpang, dan teroris) serta 125 karyawan di Pentagon.

Baca juga: Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

Sisanya yaitu Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 dikabarkan akan menabrakkan diri ke U.S. Capitol Building. Namun, karena kegigihan penumpang dalam mencegah terorisme, pembajakan pesawat dalam peristiwa 11 September 2001 ini gagal menghancurkan target.

Meski begitu, pesawat Boeing 757 United Airlines Flight 93 jatuh di dekat Diamond T. Mine, sebuah tambang batu bara yang terletak di Stonycreek Township, Somerset County, Pennsylvania dan menewaskan keseluruhan 44 orang yang berada di dalam penerbangan nahas tersebut.

Jatuhnya Pesawat Flight 93 dalam Peristiwa 9/11 Ubah Kota Kecil di AS untuk Selamanya

Peristiwa 11 September tahun 2001 atau biasa juga disebut Tragedi 11 September mengubah banyak hal di dunia, mulai dari prosedur keamanan dan keselamatan penerbangan sampai bandara. Selain itu, jatuhnya pesawat Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 juga membuat suatu kota kecil nan sunyi dan tenang di Amerika Serikat (AS) mendadak gaduh dan berubah untuk selamanya.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Selama lebih dari 200 tahun, di tengah perbukitan dan lanskap pedesaan, hidup sederhana dengan suasana penuh ketenangan dan kedamaian adalah sebuah keniscayaan bagi penduduk di Shanksville, Pennsylvania.

Namun, semua itu sirna pada hari Selasa, 11 September 2001. Ketika itu, ketenangan yang selama ini mendarah daging dirasakan oleh warga seketika berubah menjadi petaka dan kesedihan mendalam, usai pesawat Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 yang dibajak teroris Al Qaeda jatuh di kota ini.

“Melihat asap mengepul dan ledakan mengguncang rumah di sini,” kata seorang saksi mata, saat merekam video asap membubung di atas perbukitan hijau.

“Istri saya menelepon saya. Padahal itu adalah pekerjaan saya yang sesungguhnya,” kata Terry Shaffer, yang pada insiden 9/11 menjabat sebagai Kepala Pemadam Kebakaran dari pemadam kebakaran di Shanksville, seperti dikutip dari thedenverchannel.com.

Dalam kesaksiannya, pesawat hancur berkeping-keping. Ia tak tahu pesawat siapa yang itu dan apa yang sebetulnya terjadi dengan pesawat nahas tersebut. Yang ada dibenaknya adalah ia harus menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa yang bisa diselamatkan dan menyudahi kebakaran hutan secepat mungkin.

Selain fokus pada pesawat nahas yang jatuh dalam tragedi 11 September 2001 tersebut, Shaffer dan timnya juga harus menangani warga sekitar yang terkena tumbahan Avtur. Kendati sudah mendapat pertolongan pertama, beberapa dari mereka divonis mengidap kanker karenanya. Ini menjadi salah satu hal yang merenggut ketenangan warga sekitar untuk selamanya.

Tak hanya itu, di kantor pemadam kebakaran Shanksville, setiap tahun upacara mengenang para korban juga dihelat di sini. Mereka biasanya melakukan tabur bunga, menyalakan lilin, berdoa, dan makan bersama sambil berbincang mengenang kebaikan-kebaikan korban.

Selain itu, untuk menambah kental suasana holistik, sebuah salib besar juga juga didirikan. Itu bukan sembarang salib, melainkan salib yang terbuat dari baja gedung World Trade Center yang runtuh usai ditabrak dua pesawat sekaligus dalam tempo yang tak terlalu lama. Ini didirikan juga untuk menghormati semua korban 9/11, bukan hanya korban Flight 93.

Sebagaimana yang sudah sama-sama diketahui, dalam tragedi 11 September 2001, ada empat pesawat yang dibajak oleh teroris Al Qaeda. Pertama, pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 yag kemudian ditabrakkan ke Menara Utara World Trade Center dengan sengaja pada pukul 08.46 waktu setempat.

Lalu pada pukul 09.03 waktu setempat, pesawat Boeing 767-222 yang dioperasikan oleh maskapai United Airlines Flight 175 menabrak Menara Selatan World Trade Center. Keseluruhan penumpang, awak kabin, dan teroris yang melakukan aksi sadis ini tewas seketika.

Tidak berhenti sampai di situ, masih ada dua pesawat lagi; Boeing 757-223 yang dioperasikan oleh maskapai American Airlines flight 77 menabrak ke Pentagon dan menewaskan 64 orang yang ada di dalam pesawat (termasuk awak pesawat, penumpang, dan teroris) serta 125 karyawan di Pentagon.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat

Sisanya yaitu Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 dikabarkan akan menabrakkan diri ke U.S. Capitol Building. Namun, karena kegigihan penumpang dalam mencegah terorisme, pembajakan pesawat dalam peristiwa 11 September 2001 ini gagal menghancurkan target.

Meski begitu, pesawat Boeing 757 United Airlines Flight 93 jatuh di dekat Diamond T. Mine, sebuah tambang batu bara yang terletak di Stonycreek Township, Somerset County, Pennsylvania dan menewaskan keseluruhan 44 orang yang berada di dalam penerbangan nahas tersebut.

[Video] Begini Cara Astronot BAB di Luar Angkasa, Limbahnya Dibuang ke Langit?

Meski berada jauh di luar angkasa, bagaimanapun astronot tetaplah manusia yang butuh makan dan minum serta tentu saja buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK). Tetapi, dengan kondisi gravitasi nol dan membuat segalanya melayang, lantas bagaimana cara astronot BAB dan BAK?

Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak

Di masa awal-awal dikirimnya manusia ke luar angkasa, sejarah mencatat, NASA pernah tidak terpikir mengakomodir bagaimana cara astronot BAB dan BAK. Pada tahun 1961, NASA mengirim astronot solo, Alan Shepard, ke luar angkasa.

Ketika itu, NASA hanya mengagendakan sang astronot -disebut juga sebagai pilot pertama penerbangan antariksa- hanya selama 15 menit berada di luar angkasa. Jadi, dalam benak mereka, astronot tak butuh BAB dan BAK.

Pada kenyatannya, Alan Shepard kebelet pipis dan meminta izin untuk membuka baju astronot atau Extravehicular Activities Suit atau biasa juga disebut Extravehicular Mobility Unit untuk sekedar BAK.

Akan tetapi, tentu saja itu dilarang. Pada akhirnya, sang astronot tak punya pilihan lain kecuali BAK di celana. Ini pun menjadi pelajaran penting bagi NASA.

Pada penerbangan astronot ke luar angkasa berikutnya, NASA mulai berpikir untuk mewadahi astronot untuk BAK sampai akhirnya terciptalah kantung plastik berbentuk seperti kondom. Tetapi, ini tidak didesain untuk astronot wanita. Selain itu, perlu dicatat, ini hanya untuk BAK, tidak untuk BAB.

Alat ini terhubung ke tabung plastik, katup, klem, dan kantong. Alat ini disebut terkadang bocor. Manusia pertama yang mengorbit untuk NASA, John Glenn, pada misi Mercury Atlas 6, menggunakan alat ini. Misi berlangsung selama 4 jam 55 menit.

Pada misi berikutnya, barulah NASA mulai menyediakan perangkat atau kantong khusus di bokong untuk mewadahi astonot BAB di luar angkasa.

“Setelah buang air besar, anggota kru diminta untuk menutup tas dan meremasnya untuk mencampur bakterisida cair dengan kotoran untuk memberikan tingkat stabilisasi kotoran yang diinginkan,” kata NASA.

“Karena tugas ini tidak menyenangkan dan membutuhkan banyak waktu, makanan residu rendah dan obat pencahar umumnya digunakan sebelum peluncuran,” lanjut NASA. Tetapi, ini dinilai belum efektif dan ada kasus dimana kotoran astronot melayang di udara.

Pada tahun 1973, momen ketika NASA membangun Skylab -stasiun luar angkasa pertamanya- untuk pertama kalinya astronot bisa BAB dan BAK sebagaimana di bumi, sekalipun tak sepenuhnya sama. Tetapi, setidaknya, mereka tidak BAB dan BAK di kantong plastik seperti sebelum-sebelumnya.

Semakin ke sini, toilet astonot di luar angkasa semakin canggih dan memudahkan, baik bagi astronot wanita maupun laki-laki. Harganya pun juga tak main-main, mencapai miliaran rupiah untuk satu instalasi di stasiun luar angkasa internasional (ISS).

Pada umumnya, toilet astonot atau waste and hygiene compartment (WHC) di luar angkasa atau di ISS prinsipnya sama saja. Kotoran dibuang dan ditampung. Hanya itu. Tetapi wadah penampungnya saja yang berbeda.

Baca juga: FAA Ubah Definisi Astronot, Blue Origin Jeff Bezos ‘Keok’ dari Virgin Galactic Richard Branson

Untuk kotoran BAB astronot, itu disimpan dalam kantong plastik. Kotoran akan dikirim dengan kapal kargo menuju bumi atau diangkut ke pesawat luar angkasa khusus sampah dan dibiarkan jatuh serta terbakar di atmosfer bumi bak bintang jatuh.

Sedangkan untuk kotoran BAK, urine yang dikumpulkan di toilet akan dialihkan ke sistem daur ulang NASA yang sudah lama ada untuk menghasilkan air dan untuk meminum atau pun memasak sehari setelah urine dibuang. “Menyangkut urine kita di (ISS), kopi hari ini adalah kopi besok,” kata astronot NASA, Jessica Meir, seperti dikutip dari discovermagazine.com.