Thailand Bangun Jalur High Speed Rail dari Bangkok ke Pattaya

Thailand sebagai salah satu negara yang populer dikunjungi pelancong dari seluruh dunia. Bukan hanya keindahan alamnya saja, tetapi kebudayaan, makanan hingga pusat perbelanjaannya pun menjadi serbuan pelancong. Selain itu, sistem transportasinya pun mudah seperti kereta api.

Baca juga: Thailand Canangkan Kereta Peluru Trans-ASEAN, Hubungkan Cina, Laos, Malaysia dan Singapura

Hal ini kemudian membuat pemerintah Negeri Gajah Putih tersebut berusaha untuk melayani masyarakat dan pelancong dengan banyak kereta api. Sebab, agar memudahkan mereka mencapai beberapa tujuan tanpa menghabiskan banyak uang untuk penerbangan atau kendaraan pribadi.

KabarPenumpang.com melansir dari laman urbantransportnews.com (25/8/2021), usaha tersebut bahkan didukung dengan disetujuinya kereta api ke Pattaya dan akan menjadi perubahan besar bagi Thailand. Di mana kereta yang akan dibangun adalah jalur untuk high speed rail (HSR) atau kereta peluru dari Bangkok ke Pattaya yang diharapkan akan diresmikan proyeknya tahun 2021 dan mulai beroperasi tahun 2026 mendatang.

Jalur kereta ini akan melintasi Stasiun Bang Sue yang menjadi hub kereta di Bangkok karena memiliki jalur ganda dan teknologi HSR. Jalur ini akan dimulai dari Don Mueang melewati Bang Sue kemudian Makkasan yang terletak di pusat kota Bangkok dan melanjutkan perjalanan ke Chachoengsao, Chonburi, Sriracha hingga Pattaya.

Kehadiran HSR sendiri akan menggantikan cara paling umum pergi dari Bangkok ke Pattaya yang sebelumnya dengan bus. Jalur sepanjang 137 mil atau 220 km akan berakhir di Bandara U–Tapao yang terletak di luar Pattaya di provinsi Rayong.

Bahkan kehadiran sistem perkeretaapian tersebut, pemerintah Thailand berencana memindahkan sekitar sepuluh persen penerbangan dari Bangkok ke U–Tapao. Ini juga untuk mengurangi kemacetan di Suvarnabhumi dan Don Mueang. Pembangunan jalur HSR tersebut diketahui, studi kelayakannya hampir selesai dan akan diserahkan kepada dewan kota serta pemerintah untuk pertimbangan.

Wakil Walikota Pattaya Kiattisak Sriwomgchai mengatakan, ingin meminimalkan penggunaan lahan untuk rute dan jaringan HSR. Track pertama tahun 2020–2026 dipastikan akan memetakan dimulainya pembangunan jalur Hijau dan Ungu. Tahap kedua tahun 2027–2031 akan mencakup penyelesaian Jalur Ungu yang membentang dari Nong Prue ke Sekolah 8 Muang Pattaya.

Baca juga: Tuai Pro dan Kontra, Thailand Setujui Proyek Pembangunan Kereta Cepat dengan Cina

Sedangkan tahap ketiga dan terakhir akan melibatkan pembangunan Jalur Merah yang melewati Jomtien Sai 2 Road, Pattaya Sai 2 Road dan Dolphin Circle. Nantinya proyek ini adalah salah satu bagian utama dari rencana Komite Koridor Ekonomi Timur untuk mengembangkan tiga provinsi timur Changchoengsao, Rayong dan Chon Buri.

Dulu Beroperasi untuk Industri Minyak dan Gas, Kini Bandara Ngloram dalam Reaktivasi Komersial

Bandara Ngloram saat ini tengah dalam reaktivasi dan ditargetkan selesai pada 2021. Bandara ini dibangun tahun 1978 dan beroperasi hingga 1984 lalu. Bandara Ngloram sendiri awalnya adalah aset Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia, Minyak dan Gas Bumi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Baca juga: KRD Cepu Ekspres – Pernah Jadi Idola Transportasi Warga Blora

Kemudian dihibahkan pada Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara hingga akhirnya direaktivasi. Bandara Ngloram berada di Kecamatan Cepu, Jawa Tengah. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, setelah direaktivasi, progresnya adalah sistem udara yang sudah memenuhi syarat dan kini berfokus pada gedung terminal penumpang yang sudah 90 persen.

Tak hanya terminal penumpang, akses jalan masuk menuju bandara juga akan dikebut dan dalam tahap penimbunan tanah. Bandara Ngloram terletak di daerah sekitar persawahan dan tak jauh dari Stasiun Kapuan sekitar 1,5 km dan sekitar 12 kilometer Stasiun Kereta Api di Kota Cepu.

Sebelum direaktivasi seperti saat ini, pada 2018, Bandara Ngloram pernah diperbaiki dan sekaligus dialihkan dari Kementerian ESDM ke Kemenhub untuk dijadikan bandara umum. Bandara tersebut memiliki landasan pacu sepanjang 1.500 meter, dengan lebar 30 meter karena dulu hanya dikhususkan untuk mendukung industri minyak dan gas di Cepu dan sekitarnya.

Berbeda dari fungsi sebelumnya, pengembangan Bandara Ngloram ditujukan untuk melayani penumpang umum dan ekspatriat dan menjadi bandara komersial. Dalam reaktivasi akan ada beberapa tahap yakni memperluas runway menjadi 1.400 m x 30 m, apron 84 m x 60 m, serta pembangunan terminal penumpang seluas 240 meter persegi dengan kapasitas <50 ribu penumpang per tahun.

Tahap ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2020, agar dapat segera dioperasikan menjadi bandara komersil. Pada tahap kedua dilakukan pengembangan runway menjadi 1.600 x 30 m, apron menjadi 127 m x 90 m, terminal penumpang menjadi 2.013 meter persegi dengan kapasitas 138.562 penumpang per tahun.

Tahap ketiga, runway diperluas menjadi 1.850 m x 45 m, apron menjadi 168 m x 90 m, dan terminal penumpang menjadi 3.726 meter persegi dengan kapasitas 237.390 penumpang per tahun. Ditahap terakhir direncanakan runway akan memiliki panjang 2.000 m x 45 m, apron seluas 168 m x 90 m akan di fasilitasi untuk dapat menampung empat pesawat ATR 72-600 serta dua pesawat Boeing 737-600.

Selain itu terminal penumpang yang luasnya 5.216 meter persegi dengan kapasitas 420.551 penumpang per tahun. Untuk diketahui penghujung tahun 2020, menjadi catatan sejarah Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, sejak terakhir beroperasi tahun 1984, bandara ini berhasil dipergunakan pendaratan pesawat komersil ATR 72 milik maskapai penerbangan Nam Air berkapasitas penumpang 70 orang.

Ini menjadi bukti penerbangan dan kelayakan Bandara Ngloram untuk beroperasi. Saat ini Progres pembangunan terminal Bandara Ngloram memasuki proses finishing. Segala persiapan, mulai pembangunan counter tiket dan layanan pemeriksaan sesuai standar pencegahan Covid-19, gedung terminal penumpang dan akses jalan masuk menuju bandara terus dikebut.

Baca juga: Dongkrak Perekonomian Wilayah Purbalingga, Bandara JB Soedirman Siap Beroperasi di 2019

Bandara Ngloram yang terletak di ujung timur Jawa Tengah itu diharapkan membuka aksesibilitas ke Kabupaten Blora dan sekitarnya yang akan berdampak pada peningkatkan ekonomi daerah. Bahkan beredar kabar, Bandara Ngloram namanya akan diganti menjadi Bandara Abdul Rahman Wahid.

Garuda Indonesia Mulai Uji Coba Penerapan IATA Travel Pass

Garuda Indonesia akan melaksanakan uji coba penerapan “International Air Transport Association (IATA) Travel Pass” sebagai aplikasi autentikasi dokumen kredensial kesehatan untuk persyaratan perjalanan udara internasional. Adapun uji coba penggunaan “IATA Travel Pass” tersebut akan dilaksanakan mulai 30 Agustus hingga 13 September 2021, dimana pada tahap awal akan diterapkan pada penerbangan GA874/GA875 rute Jakarta-Haneda pergi pulang (PP).

Baca juga: 1 Mei 2021, Singapura Resmi Gunakan IATA Travel Pass untuk Data Covid-19 Pelancong 

Melalui uji coba ini, Garuda Indonesia menjadi maskapai pertama di Indonesia yang melakukan uji coba aplikasi IATA Travel Pass kepada pengguna jasa layanan udara untuk mengelola dokumen kredensial kesehatan Covid-19 digital secara lebih mudah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah, khususnya bagi mereka yang akan melakukan perjalanan udara internasional.

IATA Travel Pass merupakan sebuah aplikasi berbasis digital yang memungkinkan penggunanya untuk menyimpan dan mengelola hasil sertifikasi tes atau vaksin Covid-19 dengan mudah dan aman. Melalui IATA Travel Pass tersebut, para pengguna jasa Garuda Indonesia dapat dengan mudah memperoleh informasi perihal persyaratan dokumen Covid-19 untuk destinasi tujuan, termasuk informasi tentang lokasi laboratorium pengujian Covid-19 yang terakreditasi. Lebih lanjut, aplikasi tersebut juga memungkinkan pengguna jasa memiliki paspor digital untuk mengelola dokumen perjalanan yang dibutuhkan.

Dalam pesan tertulisnya (27/8/2021), Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa menjadi sebuah kebanggaan tersendiri menjadi maskapai pertama di Indonesia yang dipercaya untuk melaksanakan uji coba IATA Travel Pass dimana uji coba ini memiliki arti penting dalam mempersiapkan maskapai dan industri penerbangan ketika berbagai negara secara bertahap mulai melonggarkan pembatasan wilayah. Lebih lanjut, uji coba IATA Travel Pass ini merupakan upaya Garuda Indonesia untuk senantiasa bergerak adaptif di era yang penuh tantangan saat ini, salah satunya melalui optimalisasi layanan digital.

“Kami memahami bahwa era kenormalan baru ini tentunya telah mengubah pola perjalanan masyarakat internasional. Uji coba IATA Travel Pass ini merupakan upaya kami dalam memberikan nilai tambah bagi para penumpang kami dengan menghadirkan kemudahan, rasa aman dan kenyamanan dalam melaksanakan perjalanan antarnegara melalui layanan yang lebih seamless khususnya di masa adaptasi kebiasaan baru ini,” papar Irfan.

Irfan menambahkan, “Kolaborasi bersama IATA juga merupakan bentuk nyata dukungan Garuda Indonesia tidak hanya terhadap pemulihan ekonomi nasional namun juga industri penerbangan global, melalui berbagai inovasi dan kolaborasi bersama berbagai mitra khususnya IATA—sebagai asosiasi pengangkutan udara internasional—untuk memulai kembali konektivitas antarnegara. Kiranya uji coba aplikasi digital ini tidak hanya dapat memberikan kemudahan bagi para penumpang namun juga, di saat yang bersamaan, dapat memberikan kepastian bagi negara tujuan terkait validitas dokumen kredensial kesehatan sesuai yang dipersyaratkan oleh otoritas setempat.”

Baca juga: Qatar Airways Uji Coba IATA Travel Pass, Klaim Jadi yang Pertama di Dunia! Benarkah? 

Para pengguna jasa dapat mengunduh aplikasi IATA Travel Pass secara mudah dan langsung pada perangkat seluler melalui iOS dan Google Play Store. Selanjutnya, pada aplikasi tersebut pengguna jasa dapat membuat akun dengan mengisi data diri digital dengan melampirkan foto dan paspor. Dengan memasukkan informasi rencana perjalanan ke aplikasi IATA Travel Pass, pengguna akan mendapatkan informasi lengkap perihal persyaratan dokumen Covid-19 yang berlaku di destinasi tujuan. Lebih lanjut, pengguna memiliki kendali penuh atas informasi pribadi yang akan dicantumkan karena penyimpanan data dilakukan secara lokal pada ponsel, bukan pada database pusat manapun.

Sudah ‘Pensiun Dini’, Qantas Umumkan Airbus A380 Terbang Lagi Mulai 2022

Entah apa yang merasuki Qantas. Maskapai nasional Australia itu baru-baru ini mengumumkan bakal menarik lima pesawat Airbus A380 dari kuburan pesawat di fasilitas penyimpanan jangka panjang, di Boneyard, Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS). Paling lambat, itu akan terjadi setelah bulan Juli 2022.

Baca juga: Qantas Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Amerika Serikat

Airbus A380 Qantas akan terbang antara Sydney dan Los Angeles mulai Juli 2022. Selain itu, rute gemuk maskapai, antara Sydney dan London (transit di Singapura) mulai November 2022.

“A380 bekerja dengan baik pada rute jarak jauh ini ketika ada permintaan yang cukup, dan tingkat vaksinasi yang tinggi di kedua pasar akan mendukung hal ini,” ujar maskapai dalam sebuah pernyataan.

Meski begitu, CEO Qantas, Alan Joyce, mengatakan, dari 12 armada A380, maskapai hanya akan mengoperasikan 10 di antaranya. Sedangkan dua sisanya, tetap akan disimpan di fasilitas jangka panjang. Bisa dibilang, dua pesawat itu hanyalah pemain cadangan. Andai permintaan tinggi, pesawat itu akan kembali mengudara.

Demikian juga sebaliknya, andai penerbangan penumpang dan kargo masih sepi, bukan tak mungkin Airbus A380 Qantas akan tetap berada di Gurun Mojave sampai kondisi berangsur normal.

Usai terbang perdana pada Juli 2022 mendatang pasca ‘pensiun dini’ pada pertengahan tahun lalu, secara bertahap 10 pesawat itu baru bisa beroperasi seluruhnya pada 2024.

Di antara banyak negara yang diterbangi Qantas, rute ke negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi, seperti sebagian negara Asia semisal Singapura, Amerika Utara, dan Inggris, akan menjadi andalan rute internasional maskapai. Traveler disebut akan lebih nyaman bepergian ke sana dibanding negara lain dengan tingkat vaksinasi rendah.

Adapun rute internasional ke negara atau kota dengan tingkat vaksinasi rendah, seperti Bali, Jakarta, Manila, Bangkok, Phuket, Kota Ho Chi Minh, dan Johannesburg, masih akan ditunda sampai April 2022.

“Ada banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, termasuk pelatihan untuk orang-orang kami dan dengan hati-hati membawa pesawat (A380) kembali ke layanan,” kata Alan Joyce.

“Beberapa orang mungkin mengatakan kami terlalu optimis, tetapi berdasarkan kecepatan peluncuran vaksin, ini dalam jangkauan dan kami ingin memastikan kami siap,” tutupnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Sebelumnya, pada Juli tahun lalu, Qantas mengatakan bakal menggrounded armada A380 selama tiga tahun lebih. Sebagai gantinya, Qantas akan memaksimalkan dua jenis pesawat lainnya, Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A330.

Mengingat begitu dinamisnya kebijakan Qantas, menarik ditunggu, apakah maskapai akan benar-benar bisa mengoperasikan pesawat superjumbo itu?

Ponsel Samsung Galaxy A21 Meledak di Kabin Alaska Airlines yang Sedang Mendarat

Smartphone Samsung kembali meledak di sebuah pesawat Alaska Airline dengan nomor penerbangan 751. Akibatnya, semua penumpang dievakuasi setelah mendarat di Bandara Internasional Tacoma di Seattle, Amerika Serikat pada Senin (23/8/2021) kemarin.

Baca juga: (Lagi) Kasus Ponsel Meledak, Kali Ini Dialami Air Canada Flight 101

Ledakan yang terjadi di dalam kabin pesawat Alaska Airline bukanlah peristiwa kecil, karena nyala api yang cukup besar sehingga mengharuskan pendaratan darurat dan seluruh orang yang ada dievakuasi . Dilansir KabarPenumpang.com dari gizchina.com (25/8/2021), saat melihat api kecil, awak kabin langsung menggunakan tas penahan baterai dan alat pemadam kebakaran untuk menghentikan api dari smartphone.

Namun demikian, pihak maskapai mengevakuasi para penumpang dan mengangkut mereka kembali ke bandara dengan bus. Untungnya insiden meledaknya Samsung Galaxy A21 itu terjadi tepat setelah mendarat di bandara dan maskapai menanganinya dengan cukup baik.

“Setelah banyak menggali, saya dapat memberi tahu Anda bahwa telepon itu terbakar tanpa bisa dikenali. Namun, saat wawancara dengan salah satu petugas Kepolisian Port of Seattle kami, penumpang tersebut secara sukarela menyatakan bahwa ponsel tersebut adalah Samsung Galaxy A21. Sekali lagi, kami tidak dapat mengonfirmasinya dengan melihat sisa-sisa perangkat,” ujar Perry Cooper, juru bicara Port of Seattle.

Untungnya dalam insiden terbakarnya smartphone Samsung ini tidak ada korban jiwa. Di mana secara keseluruhan dari 129 penumpang dan 6 awak kabin turun dengan selamat meski ada dua penumpang yang harus ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Laporan menunjukkan bahwa Alaska Airlines dan maskapai regional Horizon Air memperkenalkan tas penyegel baterai khusus untuk kru, tas ini tahan api dan dapat menangani suhu hingga tinggi.

Kehadiran perangkat tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik dalam situasi ini. Samsung Galaxy A21 merupakan smartphone entry-level keluaran tahun 2020 yang dilengkapi baterai lithium ion 4000 mAh. Penting untuk dicatat bahwa perangkat apa pun dengan baterai lithium-ion memiliki potensi risiko ledakan api.

Baca juga: Awas, Kelamaan Dicas dan Terselip di Kursi Pesawat, Ponsel iPhone Meledak dan Terbakar!

Ini jelas merupakan kasus yang terisolasi dan tidak berarti bahwa Galaxy A21 memiliki masalah. Selama bertahun-tahun, ada beberapa peristiwa yang terisolasi di berbagai merek. Meski begitu tidak berarti bahwa ponsel cerdas atau baterainya buruk.

Airbus A320neo Azul Livery Mickey Mouse Siap Terbang Perdana

Ada yang beda dari pesawat Airbus A320neo Azul Linhas Aéreas. Maskapai asal Brasil tersebut menggunakan livery Mickey Mouse nan lucu, serta Walt Disney World untuk melengkapinya.

Baca juga: Lilium Pamer Penjualan 220 Unit Taksi Udara eVTOL Terbesar di Dunia Bernilai Rp12,5 Triliun

Saat ini, pengerjaan livery Mickey Mouse dan Walt Disney World serta warna identik yang menyertainya, kuning, merah, dan hitam, sudah rampung.

Proses pemasangan mesin di Toulouse, Perancis, juga sudah selesai. Disebutkan, pesawat dengan nomor seri 10582 dan diregistrasi sebagai F-WWOT di Perancis, sekalipun akan diregistrasi ulang menjadi PR-YSH di Brasil, tak lama lagi akan menjalani penerbangan perdana.

Bagi Azul, ini adalah pesawat pertama maskapai dengan livery Walt Disney. Sebelumnya maskapai memang beberapa kali menggunakan livery unik, seperti livery Timnas Brasil, Ararinha Azul, dan sederet livery berwarna-warni lainnya, begitu laporan aviacionline.com.

Disney sendiri memang sedang gencar mempromosikan brand mereka ke seluruh dunia lewat livery Mickey Mouse dan Walt Disney World. Ini dilakukan untuk memperingati 50 tahun berdirinya taman rekreasi pertama perusahaan berdiri. Perayaan tersebut akan dimulai pada 1 Oktober mendatang dan terus berlangsung selama 18 bulan.

Selain pesawat A320neo Azul Linhas Aéreas, Disney juga sudah mempromosikan brandnya dalam momentum perayaan 50 tahun berdirinya taman rekreasi pertama perusahaan ke dua pesawat LATAM Airlines. Satu di pesawat Boeing 767-300ER dengan tail art Walt Disney World dan lainnya Boeing 777 dengan livery Stormtrooper, karakter tentara fiksi dalam film Star Wars.

Azul Linhas Aéreas Brasileiras atau Azul Brazilian Airlines sendiri adalah maskapai penerbangan yang berpusat di Barueri, pinggiran kota Sao Paulo, Brasil.

Maskapai berbiaya rendah (LCC) swasta ini didirikan pada 5 Mei 2008 oleh David Neeleman (pendiri maskapai bertarif rendah Amerika, Morris Air dan JetBlue, serta maskapai Kanada, Westjet).

Kendali masih tergolong muda, tetapi, maskapai yang juga biasa disebut Azul (bermakna “Biru” dalam bahasa Portugis) ini berhasil meraup pangsa pasar 17,8 persen untuk penerbangan domestik dan 11,8 persen untuk penerbangan internasional, jika dihitung berdasarkan pendapatan per penumpang per kilometer, pada tahun 2017 silam.

Capaian tersebut berhasil mengantarkannya menjadi maskapai terbesar ketiga untuk penerbangan domestik dan terbesar kedua untuk penerbangan internasional di Brasil. Meski menjadi maskapai terbesar ketiga, tetapi, Azul melayani lebih banyak kota dan terbang lebih sering ketimbang para kompetitornya.

Azul sebelumnya banyak mengoperasikan pesawat lokal Embraer 195. Tetapi, semakin ke sini, maskapai mulai mengoperasikan pesawat lainnya, seperti Airbus A330neo, menjadikannya sebagai maskapai pertama di kawasan Amerika Selatan.

Baca juga: Eva Air Tampilkan Tema Hello Kitty di Boeing 777-300ER

Bahkan, baru-baru ini, maskapai Azul Linhas Aéreas memulai era baru penerbangan penumpang usai menyepakati pembelian taksi udara eVTOL terbesar di dunia, Lilium, sebanyak 220 unit.

Brasil sendiri dikenal sebagai pasar helikopter terbesar kedua di dunia. Itu mungkin dilandasi berbagai faktor, seperti infrastruktur yang buruk, geografi, serta tingginya tingkat kejahatan di jalan seperti pembajakan, penodongan, pencurian, dan sejenisnya. Tak ayal, transportasi udara sangat diandalkan dan tumbuh pesat di sini.

Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

Peristiwa 11 September tahun 2001 atau biasa juga disebut Tragedi 11 September meninggalkan banyak kisah. Salah satunya dari Paul Veneto, pramugara United Airlines. Ketika itu, Paulie, sapaan akrabnya, lolos dari insiden pesawat yang dibajak dan menabrakkan diri ke Twin Tower itu karena ia libur bertugas di hari kejadian.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Meski begitu, teman-temannya di maskapai banyak yang menjadi korban. Karenanya, untuk menghormati mereka setelah 20 tahun berlalu, ia akan mendorong troli makanan-minuman di pesawat (beverage cart) dari Boston ke New York City sejauh 350 km (setara Jakarta-Pekalongan) dengan berjalan kaki.

Padahal, saat ini usianya tak lagi muda, menginjak 62 tahun. Tetapi, sekali lagi, itu ia lakukan demi menghormati rekan-rekannya yang menjadi korban peristiwa 9/11.

Dilansir ksat.com, ketika itu, pagi hari pada 11 September 2001, pesawat Boeing 767-222 United Airlines dengan nomor penerbangan 175 memuat sembilan penumpang dan 56 penumpang, lima di antaranya disebut sebagai teroris.

Sebelum peristiwa 11 September 2001 terjadi, Veneto malam harinya masih berkomunikasi seperti biasa kepada rekan-rekannya sehabis ia bertugas. Karena itu, ia mendapat waktu libur di keesokan harinya (pagi hari).

“Saya akhirnya terbang pada (8 September) dan saya kembali (10 September) pukul 8 malam. Mereka pergi Selasa pagi, (11 September 2001),” jelasnya.

Saat pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 menabrak Menara Utara World Trade Center pada pukul 08.46 waktu setempat, Veneto sedang berada di rumah temannya, dan tak melihat langsung kejadian itu.

Barulah saat pesawat Boeing 767-222 United Airlines Flight 175 menabrak Menara Selatan World Trade Center, ia menyaksikannya secara langsung. “Sejak saat itu, hidup saya berubah selamanya. Itu sangat kacau,” tambahnya.

Setelah peristiwa 11 September 2001, hidupnya berubah signifikan. Ia bahkan sampai harus mengkonsumsi obat penenang Opioid sejenis morfin, untuk membuatnya rileks saat di pesawat sekaligus lupa akan peristiwa itu.

“Banyak orang (pramugara-pramugari) tidak kembali bekerja, dan saya tidak menyalahkan mereka, tetapi saya tidak menyerah. Saya berkata, ‘Saya tidak akan membiarkan mereka mengambil karier saya.’ Dan di situlah saya mulai kecanduan Opioid,” ujarnya.

“Saya mati rasa (sehabis mengkonsumsinya). Saya tidak merasakan efek sebenarnya dari apa yang sedang terjadi. Saya tidak mengetahuinya saat itu, tetapi setiap tahun perayaan tragedi 11 September 2001 datang, saya selalu mengkonsumsinya (Opioid),” lanjutnya.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat 

Barulah setelah 15 tahun berlalu, ia tersadar bahwa mengkonsumsi Opioid agar lupa dengan peristiwa 11 September 2001 tidak baik dan ia mulai meninggalkannya. Seketika itu, ia juga bertekad untuk berjalan kaki mendorong troli makanan-minuman di pesawat dari Bandara Internasional Logan di Boston ke Ground Zero di New York.

Maka dari itu, di perayaan 20 tahun peristiwa 11 September 2001, ia bertekad untuk melancarkan aksinya. Paulie mendapat banyak dukungan moril maupun materil dari berbagai pihak atas rencananya tersebut.

Afghanistan Punya Tiga Jalur Kereta, Statusnya “Hidup Segan Mati Tak Mau”

Afghanistan saat ini tengah mengalami konflik dan banyak warganya yang pergi meninggalkan negara kaya konflik tersebut. Bahkan banyak beredar video, mereka naik pesawat kargo milik Amerika Serikat untuk menyelamatkan diri. Hal ini karena dari mereka banyak yang bingung harus kabur menggunakan transportasi apa dan kemana.

Baca juga: Setelah Tertunda 13 Tahun, Iran dan Afghanistan Akhirnya Terhubung dengan Jalur Kereta

Sebenarnya negara yang tidak memiliki batas laut tersebut bisa dikatakan hanya terhubung dengan transportasi darat dan udara. Salah satu transportasi darat adalah kereta api, yang mana Afghanistan memiliki tiga jalur kereta api. Jalur pertama adalah antara Mazar-i-Sharif dan kota perbatasan Hairatan di provinsi Balkh, yang kemudian terhubung dengan Kereta Api Uzbekistan Uzbekistan (dibuka 2011).

Kemudian jalur kedua menghubungkan Torghundi di provinsi Herat dengan kereta api Turkmenistan yang dibuka sejak tahun 1960. Untuk jalur ketiga menghubungkan Turkmenistan dan Aqina di provinsi Faryab Afghanistan dibuka tahun 2016 yang membentang ke selatan ke kota Andkhoy.

KabarPenumpang.com merangkum dari Wikipedia, ternyata negara ini tidak memiliki layanan kereta api penumpang, tetapi jalur kereta baru dari Herat ke Khaf di Iran dipergunakan untuk kargo dan penumpang belum lama selesai. Bahkan layanan ini juga diusulkan di seksi Hairatan – Mazar-i-Sharif dan Mazar-i-Sharif – Aqina.

Bisa dikatakan, jaringan kereta api Afghanistan hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan. Bahkan dalam waktu dekat akan diperpanjang dalam waktu dekat.  Jalur yang diperpanjang itu nantinya untuk lalu lintas kargo serta transportasi penumpang.

Tak hanya itu, perpanjangan jalur ini merupakan rencana utama yang mana menggunakan Afghanistan untuk menghubungkan kereta api ke empat negara anak benua Asia. Awalnya tahun 1920-an, Raja Amanullah membeli tiga lokomotif uap kecil dari Henschel of Kassel di Jerman, dan ini mulai dikerjakan pada jalur trem sepanjang 7 km. Trem ini yang menghubungkan Kabul dan Darulaman.

Namun kemudian, jalur trem ditutup, dan dibongkar pada tahun 1940-an, tetapi lokomotif masih ada di museum Kabul di Darulaman. Sebelumnya, pada 1885 ada rencana untuk menghubungkan kereta api Transkaspia Rusia dengan British India melalui Sarakhsm Herat dan Kandahar. Lalu sekitar tahun 1928, proposal diajukan untuk jalur kereta api untuk menghubungkan Jalalabad dengan Kabul, yang akhirnya menghubungkan ke sistem India (saat itu) di Peshawar.

Garis untuk bergabung dengan Kabul dengan Kandahar dan Herat akan menyusul kemudian. Sayangnya, karena pergolakan politik rencana ini tidak dilaksanakan. Pada 1950-an pembangkit listrik tenaga air dibangun di Surobi, sebelah timur Kabul. Tiga lokomotif diesel-hidrolik ukuran sempit 600 mm. Henschel empat roda yang dibangun pada tahun 1951 (nomor pekerjaan 24892, 24993, 24994) dipasok ke pembangkit listrik.

Baca juga: Ingin ‘Kuasai’ Bandara Kabul Afghanistan, Erdogan Minta Restu AS

Pada tahun 1979 pembuat lokomotif pertambangan dan konstruksi Bedia Maschinenfabrik dari Bonn memasok lima lokomotif diesel-hidraulik 600 mm D35/6 dua gandar 600 mm nomor pekerjaan 150-154, kepada pelanggan yang tidak dikenal di Afghanistan.

Untuk diketahui, pemerintah Afghanistan masa lalu lebih memilih untuk mencegah pembangunan rel kereta api yang dapat membantu campur tangan asing di Afghanistan oleh Inggris atau Rusia. Sampai abad ke-21, ada kurang dari 25 km rel kereta api di dalam negeri, yang semuanya dibangun dengan ukuran Rusia 1.520 mm.






















Airbus Bakal Gantikan Majalah Skymall dengan Majalah OLED Digital, Seperti Apa?

Majalah Skymall (termasuk majalah lain) dan layar inflight entertainment (IFE) di belakang kursi pesawat saat ini memang sudah ditinggalkan. Bukan karena keberadannya ingin dihilangkan tetapi karena pandemi virus Corona yang mengharuskan maskapai untuk mengurangi kehadiran benda-benda yang banyak disentuh penumpang.

Baca juga: Di Masa Mendatang, Pesawat Bakal Tanpa Jendela! Layar OLED Jadi Gantinya

Meski begitu, di masa mendatang, keduanya benar-benar akan dihilangkan, setidaknya oleh Airbus. Sebagai gantinya, produsen pesawat asal Eropa itu akan menghadirkan perangkat majalah digital dengan layar Organic- Light Emitting Diode (OLED) atau disebut juga majalah OLED digital.

Dibanding majalah berbentuk fisik atau hardcopy yang mudah lusuh, robek, dan sebagainya, serta layar IFE dengan kualitas rendah, kecil, dan terletak jauh dari penumpang, majalah OLED digital memang menjanjikan berbagai kelebihan. Majalah OLED digital disebut lebih flesibel, kuat, mudah diupdate, dibersihkan, dan berbagai kelebihan lainnya.

Saat ini, majalah hardcopy di belakang kursi pesawat memang sudah dicarikan alternatif berupa majalah digital yang terintegrasi dengan layar inflight entertainment (IFE) tanpa sentuh ataupun fitur Companion App, dimana penumpang bisa menggunakan ponsel mereka untuk menikmati hiburan dalam penerbangan, dengan mengunduh aplikasi tertentu agar bisa tersambung dengan sistem dan jaringan WiFi maskapai di pesawat.

Tetapi, solusi tersebut disebut tidak efisien karena harus dibantu pramugari atau kru kabin untuk bisa mengoperasikannya. Padahal, pramugari terlalu banyak pekerjaan untuk sekedar membantu penumpang login ke sistem IFE maskapai melalui ponsel masing-masing.

Karenanya, konsep perangkat majalah OLED digital diyakini mampu memecahkan permasalahan tersebut tanpa membuat masalah baru.

Pada tahun 2018, Airbus menggandeng Royole Technology untuk mengeksplorasi bagaimana tampilan OLED yang fleksibel dapat digunakan di industri penerbangan. Royole diketahui berpengalaman dalam membuat layar OLED, salah satunya FlexPai, smartphone OLED lipat pertama di dunia.

Bersama Royole, Airbus mengembangkan konsep majalah digital OLED. Bentuknya mirip iPad tetapi dengan nuansa yang lebih fleksibel.

Melalui perangkat majalah OLED digital itu, penumpang memiliki akses tak terbatas, termasuk memesan makanan (termasuk membayarnya menggunakan kartu kredit), membaca majalah dan surat kabar digital, streaming film, acara TV, dan musik, bahkan internetan, andai maskapai menyediakan WiFi onboard.

Perangkat majalah OLED digital Airbus di pesawat juga akan disisipi safety instructions di cover majalah dan bagian tengah ketika penumpang membukanya. Ini diyakini lebih efektif dalam menyampaikan informasi prosedur keselamatan saat terjadi keadaan darurat.

Layar OLED pada majalah digital Airbus di pesawat bukan hanya memberikan tampilan yang jauh lebih baik daripada layar IFE di belakang kursi, tetapi lebih hemat daya dan lebih fleksibel untuk diposisikan penumpang saat menonton film dan lain sebagainya.

Di masa pandemi, perangkat majalah digital OLED juga lebih mudah dibersihkan untuk mencegah penularan virus Corona.

Baca juga: Perangi Karbon Dioksida, ANA Pensiunkan Majalah Cetak di Pesawat

Perangkat majalah digital OLED ini nantinya tetap diletakkan di penyimpanan di belakang kursi, seperti majalah hardcopy yang ada saat ini.

Dalam waktu dekat, perangkat majalah digital OLED akan diuji coba Airbus. Andaipun berhasil, belum tentu itu akan tersedia di seluruh maskapai, mengingat keuangan mereka saat ini terpuruk pasca pandemi virus Corona.

Lokomotif “Ramah Lingkungan” H10 Menjadi yang Pertama Diekspor SHM Rail Malaysia

SHM Rail yang merupakan produsen lokomotif milik Malaysia baru saja merilis lokomotif seri H10 baru. Bahkan ini merupakan lokomotif pertama yang dibuat Malaysia untuk pasar ekspor. H10 merupakan lokomotif diesel dan sudah dilengkapi teknologi canggih untuk mengurangi emisi.

Baca juga: Thailand Canangkan Kereta Peluru Trans-ASEAN, Hubungkan Cina, Laos, Malaysia dan Singapura

KabarPenumpang.com melansir railjournal.com (22/8/2021), SHM Rail mengatakan lokomotif seri H10 mampu mengangkut barang sebanyak seratus truk. Selain itu mengurangi mampu emisi karbon hingga 75 persen dan kemacetan di jalan. Lokomotif ini memiliki desain praktis yang memastikan keandalan dan ketersediaan tinggi untuk meningkatkan efisiensi operasional, kapasitas angkut dan mengurangi tantangan perawatan yang menghasilkan biaya siklus operasional keseluruhan yang lebih rendah.

Lokomotif seri H10 memiliki kabin ganda yang memenuhi standar UIC dan dirancang untuk pengangkutan berat serta layanan jarak jauh tanpa gangguan. Salah satu fitur utamanya adalah kemampuan untuk beroperasi di medan dan kondisi cuaca yang menantang.

Tak hanya itu H10 juga dilengkapi dengan pemantauan dan diagnostik jarak jauh untuk memberikan pembaruan waktu nyata kepada operator untuk memungkinkan mereka memantau kinerja dari jarak jauh termasuk kecepatan, kebutuhan perawatan, konsumsi bahan bakar dan peringatan kesalahan. Ini mendukung analisis data yang melacak penanganan yang lalai, mengurangi risiko kegagalan dan meningkatkan keselamatan operasional.

Lokomotif Co-Co gelombang pertama akan dikirim ke Tanzania Railways Corporation, yang memesan setelah menerima dukungan dana dari Bank Dunia.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

“Saya yakin bahwa lokomotif ini akan membawa manfaat ekonomi yang sangat besar bagi industri kargo Kereta Api Afrika. Ini efisien dalam menjembatani konektivitas, meningkatkan akses rantai pasokan, mempercepat industrialisasi dan mempromosikan perdagangan lintas batas. Dengan lebih dari 60 persen kontennya diproduksi secara lokal di Malaysia, Seri H10 menandai pencapaian penting perusahaan kami di industri perkeretaapian global,” kata ketua dan direktur pelaksana SMH Rail, PK Nara.