Setelah Ride Hailing, AirAsia Berencana Hadirkan Layanan Taksi Udara

Sukses di maskapai berbiaya hemat, AirAsia yang sejak Juli kemarin membeli operasional GoJek Thailand akan meluncurkan AirAsia Ride untuk memberi pilihan ride hailing pada masyarakat Malaysia selain Grab. Meski menjadi pendatang baru, CEO Grup AirAsia Tony Fernandes mengatakan, bahwa kekuatan AirAsia Ride ada di bandara, pasar pariwisata dengan orang yang menyukai ekosistem AirAsia dan mulai menggunakannya.

Baca juga: GoJek Fokus di Singapura dan Vietnam, Pasar Thailand Diakuisisi AirAsia

Tony Fernandes mengatakan, AirAsia Ride bukan hanya memindahkan orang, tetapi membantu dalam memindahkan paket serta menambah penumpang. Tony menjelaskan, dengan Superapp milik AirAsia, penumpang bahkan bisa memilih pengemudi favorit mereka.

“AirAsia selalu tentang mendemokratisasi layanan dan memberi orang kebebasan untuk memilih. Dengan perjalanan AirAsia, kami bertujuan untuk memberdayakan orang untuk bergerak lebih mudah, memanfaatkan sepenuhnya teknologi AirAsia,” kata CEO Superapp AirAsia Amanda Woo.

Dia menambahkan, AirAsia Ride memperkenalkan nilai ke pasar e-hailing yang sangat kompetitif berdasarkan model berbiaya rendah yang memungkinkan penghematan diteruskan kepada para tamu dan berusaha untuk menawarkan tarif terendah di perjalanan.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, nyatanya AirAsia tak hanya berhenti di Superapp saja. Sebab Tony merencanakan kehadiran mobil terbang untuk menghindari kemacetan akibat padatnya lalu lintas.

“Nah, impian Anda akan menjadi kenyataan yah, semacam itu. Sedang digarap sekarang dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, kita bisa melihat taksi terbang di langit Malaysia kita tahun depan,” kata Tony.

Meski ide ini terdengar sangat lucu, Tony yakin bahwa layanan tersebut dapat diluncurkan pada awal tahun 2022 mendatang. Di mana dia mengatakan pihaknya sedang mengerjakan dan peluncurannya diperkirakan satu setengah tahun lagi.

Tony menambahkan, bisnis taksi terbang ini sejalan dengan rencana AirAsia untuk meluncurkan layanan e-hailing mereka sendiri pada bulan April. Menurut Tony, taksi terbang itu akan ditenagai oleh quadcopter dengan kusi sebanyak empat orang.

Baca juga: Susul AirAsia, Cathay Pacific Ekspansi Bisnis Non Penerbangan

“Sementara taksi terbang tampak seperti ide bagus di atas kertas, kami membayangkan bahwa sisi logistik bisnis bisa menjadi mimpi buruk yang nyata. Misalnya, di mana taksi terbang akan mendarat? Berapa biayanya? Apa persyaratan keselamatan yang dibutuhkan taksi terbang? Namun, kami masih bersemangat untuk melihat bagaimana AirAsia berencana melakukan ini, karena itu pasti akan menjadi sesuatu yang keluar dari buku gambar Wawasan 2020 kami” ujar Tony.






















Lika-liku Pramugari Terdampak Covid-19, Banting Setir Jadi Perawat dan Pilot

Di dunia, segelintir orang diberi kemampuan spesial untuk menguasai lebih dari satu bidang studi atau pekerjaan. Salah satunya Silke Anckaert. Wanita asal Belgia ini awalnya memulai karir profesional sebagai perawat. Tetapi, ia akhirnya menekuni bidang lain dan beralih profesi menjadi pramugari dan pilot.

Baca juga: Inilah Maria, Dokter Gigi Jadi Pramugari dan Kembali ke Profesi Semula Gegara Corona

Setelah lulus sekolah keperawatan, suatu hari pada tahun 2015 Silke traveling ke Asia selama beberapa bulan. Selama itu, ia beberapa kali terbang dengan berbagai maskapai dan bertemu banyak pramugari. Di sini, ia mulai tertarik beralih profesi menjadi pramugari, terbang ke banyak tempat di seluruh dunia dan bertemu dengan banyak orang dengan latar belakang budaya dan sosial yang berbeda.

Setelah kembali ke Belgia, ini kemudian melamar ke maskapai charter yang berbasis di Brussels, TUI Airways pada tahun 2017. Nasib baik pun menyertainya, ia diterima sebagai pramugari. Bersama maskapai itu, ekspekstasi Silke sebagai pramugari benar-benar terwujud.

Tak puas begitu saja, ditambah dorongan moril maupun materil dari orang-orang terdekat, Silke pun mulai memupuk asa menjadi pilot. Ia memutuskan untuk bergabung dengan sekolah penerbangan terbaik di Amerika Serikat (AS). Sampai di sini, ia belum melepas profesi pramugarinya. Ia masih tercatat sebagai pramugari aktif di TUI.

Silke, yang bertekad untuk mendorong wanita agar lebih banyak mengambil kesempatan sebagai pilot, akhirnya lulus dan mendapat lisensi untuk menerbangkan pesawat single-engine. Tetapi, lagi-lagi ia belum puas dan ingin hasil lebih. Ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah penerbangannya agar sampai level lisensi tertinggi.

Seperti diketahui, lisensi pilot ada enam, mulai dari yang terendah Student Pilot License (SPL), Private Pilot License (PPL), Commercial Pilot License (CPL), Instrument Rating (IR), Multi Engine Rating (MER), dan lisensi pilot tertinggi Airline Transport Pilot License (ATPL). Lisensi ATPL inilah yang ingin segera didapat Silke.

Ketika Silke mulai sekolah penerbangan, saat itu, kebutuhan pilot memang tinggi dan pilot-pilot yang ada belum mampu memenuhi permintaan pasar global. Jadilah ia semakin bersemangat.

Tetapi sayang, pandemi virus Corona merebak dengan cepat dan pelatihan tertunda. Otomatis, impian menjadi pilot juga tertunda. Demikian juga keinginan kembali terbang sebagai pramugari yang juga tertunda.

Tetapi, tak seperti pramugari lainnya yang kalang kabut menghadapi pandemi Covid-19 dan banting setir menjadi tukang gorengan, tukang penjual sabul, barista, dan lain sebagainya, Silke justru mendapat panggilan jadi perawat di fasilitas pengujian Covid-19 yang berbasis di Leuven, Belgia.

Selama empat bulan, ia berjuang melawan ganasnya pandemi virus Corona di Belgia. Ia amat menikmatinya, tetapi hari kecilnya ingin sekali kembali mengudara.

Setelah wabah Covid-19 mereda, ia melanjutkan pelatihan ATPL-nya dan berhasil lulus. Jadi, ia bisa dibilang pramugari aktif yang memiliki lisensi pilot ATPL. Setelahnya, ia kembali menjadi pramugari dan tengah mengincar pekerjaan sebagai pilot. Besar kemungkinan, pilot jet bisnis akan menjadi pijakan awalnya berkarir di kokpit.

Baca juga: Akibat Covid-19, Pilot Sampai Banting Setir Jadi Masinis

Tetapi, ia berharap bisa menerbangkan pesawat komersial, narrowbody maupun widebody, seperti Boeing 737 dan Airbus A350.

“Saya ingin memulai karir saya dengan jet bisnis kecil, dan itu murni karena pandemi Covid-19. Sekarang satu-satunya pekerjaan yang dapat Anda temukan adalah untuk pilot jet bisnis. Tetapi pesawat penumpang komersial Boeing 737 atau pesawat berbadan lebar Airbus A350 juga terdengar seperti peluang yang sangat menarik bagi saya,” tutup Silke Anckaert, seperti dikutip dari Aerotime Aero.

Setelah Video Merokok di Relnya Viral, YouTuber India Ditangkap Polsuska

Merokok menjadi salah satu yang dilarang di dalam perjalanan kereta api. Sehingga bagi mereka yang melanggar akan ada sanksi yang dikenakan. Namun di India ternyata merokok di rel pun menjadi satu masalah. Seperti yang belum lama ini terjadi pada seorang YouTuber yang juga influencer asal India yang ditangkap Railway Protection Force (RPF) – semacam Polisi Khusus KA (Polsuska) pada Jumat (27/8/2021) karena video yang dibuatnya.

Baca juga: Demi Raih ‘Follower’ dan ‘Like,’ YouTuber India Buat Aksi Nekad di Jalur Kereta

Penangkapan terjadi setelah Adarsh Shukla memposting video di mana pada rekaman itu dirinya merokok sembari duduk di rel kereta api. Dilansir KabarPenumpang.com dari news18.com (29/8/2021), Central Railways kemudian menggunggah video di YouTube di mana Shukla meminta maaf atas aksinya dan mendesak pengikutnya untuk tidak membuat ulang video seperti itu dengan tangan terlipat.

Central Railway menuliskan dalam caption, “Pembuat Video Instagram yang Kebiasan Keberatan telah menjalani tindakan hukum oleh RPF. Sekarang, mengimbau Masyarakat Umum untuk tidak membuat video yang menyinggung seperti itu.” Aksi yang Shukla sebutkan dalam permintaan maafnya termasuk aksi di mana dia menyalakan sebatang rokok berdiri di tepi peron kereta api sementara kereta api melintas di belakangnya.

Dia bergerak dari tepi pada saat terakhir dan dalam video lain, dia berjongkok di atas rel dan merokok. Shukla ditangkap karena RPF IT Central Railway menerima keluhan di Twitter yang diikuti oleh IPF Badlapur dan IPF Kalyan. Hal ini kemudian membuat RPF melacak nomor mobil BMW milik Shukla dan seminggu kemudian dia ditangkap.

Shukla mengatakan dalam permintaan maafnya, “Saya baru-baru ini memposting dua video di Instagram, yang membuat saya melakukan aksi berbahaya di stasiun kereta api. Karena ini, saya telah ditangkap oleh RPF.”

Ternyata ini bukanlah pertama kali seorang YouTuber ditangkap karena aksi berbahaya. YouTuber Gaurav Sharma yang berbasis di Delhi ditangkap pada bulan Mei karena kekejaman terhadap hewan setelah sebuah video muncul secara online di mana dia terlihat mengikat anjing peliharaannya dengan sejumlah balon helium dan melepaskannya, yang akhirnya membuat anjing itu “terbang” beberapa kaki di udara.

Baca juga: Youtuber Asal Jerman Dapat Ancaman Pembunuhan Usai Review Singapore Airlines

Kantor polisi Malviya Nagar menerima pengaduan di mana pelapor Gaurav Gupta yang tergabung dalam “Masyarakat untuk Hewan” menuduh bahwa Sharma telah membuat video di mana mereka terlihat mengikat anjing peliharaan mereka dengan balon helium dan kemudian mereka melepaskan balon tersebut sehingga membuat anjing terbang di udara dan karenanya, mempertaruhkan nyawanya. Video itu dilaporkan diambil pada 21 Mei.






















Penerbangan di Afghanistan Mulai Pulih, Ini Asal Kedatangan dan Negara Tujuan Utamanya

Penerbangan di Afghanistan, dengan Bandara Internasional Kabul sebagai gerbang utamanya, terpantau pulih. Bukan hanya lebih baik dari hari ke hari, tetapi juga sudah mencapai titik sebelum Taliban mengkudeta negara itu. Tetapi, kemana tujuan utama setiap penerbangan dan sebaliknya, darimana keberangkatan pesawat tersebut berasal?

Baca juga: Diburu Taliban Gegara Bersekutu dengan AS, Dua Cerita Pelarian Warga Afghanistan Ini Bikin Merinding!

Menurut data dari Flightradar24, antara tanggal 16 dan 19 Agustus atau sehari setelah kudeta oleh Taliban dan larangan penerbangan sipil oleh Amerika Serikat (AS) sebagai operator bandara, terpantau hanya ada kurang dari 15 keberangkatan dan kedatangan pesawat setiap hari.

Padahal, sebelumnya bisa sampai 30 penerbangan di tanggal 14 Agustus bahkan 46 penerbangan sehari setelahnya atau tepat di hari Taliban mengkudeta istana kepresidenan Afghanistan.

Seiring berjalannya waktu, penerbangan di Bandara Internasional Hamid Karzai, Afghanistan, terpantau pulih. Sejak tanggal 20-23 Agustus lalu, pergerakan pesawat terus meningkat dan berhasil melampaui penerbangan atau pergerakan pesawat pada tanggal 14-15 Agustus.

Dilansir The Guardian, pada Jumat, 20 Agustus, ada 25 penerbangan berangkat dan tiba di Bandara Kabul, tiga kali lipat dari sehari dan dua hari sebelumnya. Sehari berikutnya, di hari Sabtu, pergerakan pesawat meningkat menjadi 30 pesawat. Hari berikutnya meningkat kembali menjadi 49 penerbangan dan menjadi 56 pergerakan pesawat pada 23 Agustus.

Secara keseluruhan, ada 272 penerbangan keberangkatan dan 237 kedatangan di Bandara Kabul antara 14 dan 23 Agustus.

Meski sudah pulih, tetapi, pesawat-pesawat yang tiba dan berangkat dan tiba dari Bandara Kabul tidak datang dari pesawat sipil, melainkan militer. Pantauan Flightradar24, empat dari lima pergerakan pesawat di bandara tersebut berasal dari pesawat militer.

Padahal, sebelum Taliban mengkudeta istana kepresidenan Afghanistan, mayoritas penerbangan didominasi oleh pesawat sipil dan pesawat militer hanya satu persennya.

Bila dirinci, sebelum kejatuhan Kabul ke tangan Taliban, pesawat sipil yang beredar termasuk puluhan Boeing 737, Airbus A343 (A340-300), dan A310. Sedangkan saat ini, pesawat militer yang mendominasi kedatangan dan keberangkatan dari Bandara Kabul kebanyakan dari pesawat angkut militer jumbo, Boeing C-17 Globemaster III.

Sejak tanggal 14 Agustus, negara yang paling banyak menerima atau negara tujuan favorit sebagian besar penerbangan dari Bandara Kabul adalah Uni Emirat Arab.

Disebutkan, setidaknya 31 penerbangan antara 14 dan 23 Agustus mendarat di negara ini. Uzbekistan dan Pakistan adalah tujuan penerbangan dari Bandara Kabul paling umum berikutnya. Selebihnya, penerbangan evakuasi oleh pesawat militer dari Bandara Kabul sering kali tidak terdeteksi.

Baca juga: Saat Bandara Kabul Chaos, Tim CCT AS Pegang Kendali Penuh untuk Layani Penerbangan Darurat

Dari 272 penerbangan keluar yang tercatat, 110 memiliki tujuan yang tak jelas. Tetapi, besar kemungkinan itu menuju Qatar dan Uni Emirat Arab.

Sedangkan dari 237 penerbangan masuk antara 14 dan 23 Agustus, 144 di antaranya tidak diketahui datang dari mana. Adapan penerbangan masuk yang terdata, 19 berasal dari Uzbekistan, 11 dari Pakistan dan sembilan dari masing-masing Uni Emirat Arab dan Turki.

Bye-bye Pencurian di Bandara, Baki Pintar Ini Pastikan Barang Penumpang Aman

Pencurian di bandara, baik pencurian bagasi saat di conveyor belt, pencurian barang saat menunggu penerbangan di area bandara, termasuk pencurian barang di gerbang pengecekan x-ray, memang meresahkan penumpang. Karenanya, harus dicarikan solusi untuk mencegah pencurian di bandara kembali berulang. Seperti yang dilakukan bandara di Inggris.

Baca juga: Parfum dan Aerosol, Jadi Barang Favorit Para Pencuri Bagasi di Bandara

Usai menggelontorkan uang sebesar £25,5 juta atau sekitar Rp502 miliar (kurs 19.711) pada tahun 2016 untuk program Solusi Keamanan Penerbangan Masa Depan (FASS), Departemen Transportasi (DfT) Inggris dan otoritas terkait akhirnya berhasil menemukan inovasi baru untuk mencegah pencurian di gerbang pengecekan x-ray bandara, berkat kemitraannya dengan startup UtterBerry.

UtterBerry menghadirkan solusi keamanan bandara berupa baki pintar (smart trays). Disebut pintar, sebab baki ini dilengkapi dengan sejumlah fitur, seperti wireless communication, smart card reader or connection to mobile phone app, user feedback via LED, wireless charging secara otomatis, penyimpanan data secara cloud, dan lain sebagainya.

Baki pintar ini tentu jauh berbeda dengan yang ada saat ini yang tanpa fitur apapun, sehingga tak bisa mencegah terjadinya pencurian.

Teknis baki pintar ini dalam mencegah pencurian di gerbang pengecekan x-ray bandara sendiri cukup simpel. Saat sampai di gerbang pengecekan x-ray, penumpang akan dibekali dengan smart card yang menyimpan informasi penting terkait penumpang dan penerbangan.

Berkat campuran teknologi blockchain, mesin, dan kecerdasan buatan (AI), fitur smart card reader or connection to mobile phone app di baki akan menghubungkan barang-barang penumpang di baki dengan kartu tersebut. Lampu LED dengan warna berbeda juga akan menunjukkan status pada bagasi, apakah sudah dipindai atau belum.

Selain menghubungkan penumpang dengan barang-barang mereka, baki pintar UtterBerry juga sekaligus memberikan hasil analisis serta throughput penumpang dan berbagai faktor lain yang berpotensi membuat penundaan ke monitor pemeriksaan x-ray baki dan bagasi.

“Teknologi ini merupakan langkah besar dalam menghubungkan seseorang, dan barang-barang mereka, dengan baki yang mereka gunakan dalam pengaturan keamanan bagasi tangan di bandara,” jelas ilmuwan Laboratorium Sains dan Teknologi Pertahanan (Dstl) yang juga menjadi mitra UtterBerry dan stakeholder dalam inovasi ini, Dr Martyn Fletcher.

“Memiliki kemampuan seperti itu berarti personel keamanan dapat langsung menentukan siapa yang menaruh benda mencurigakan ke dalam nampan dan meminimalkan gangguan bagi publik saat mereka bersiap untuk naik ke pesawat,” tutupnya, seperti dikutip dari Airport Technology.

Meskipun tak lebih sering dibanding pencurian bagasi bandara di conveyor belt, pencurian barang penumpang di baki saat pengecekan x-ray setiap tahun hampir selalu terjadi.

Pada tahun 2019, pencurian seperti itu terjadi di Bandara Leonardo da Vinci-Fiumicino, Roma, Italia. Ketika itu, barang yang diambil berupa uang tunai sebesar US$9.000 (sekitar Rp129 juta) dalam amplop yang ditaruh korban ke dalam wadah atau baki pengecekan x-ray.

Pencurian dilakukan oleh penumpang lain yang mengantre tepat di belakangnya. Sang pelaku melihat korban menaruh amplop ke dalam wadah pengecekan dan langsung mengantre tepat di belakangnya.

Baca juga: Cepat Temukan dan Cegah Pencurian Bagasi, Universitas di India Hadirkan Solusi di Ban Berjalan

Ia mengambil amplop tersebut beserta barang bawaannya saat sang korban masih berurusan dengan petugas keamanan di gerbang pengecekan x-ray. Sang korban diketahui masih mengenakan ikat pinggang, sehingga petugas keamanan memintanya melepasnya.

Usai melewati gerbang pengecekan x-ray dan berniat mengambil barangnya dalam wadah pengecekan, sang korban bingung amplop yang dibawanya hilang. Meski begitu, pencuri berhasil ditangkap dan barang milik korban berhasil didapat dalam tempo tak terlalu lama berkat pengecekan CCTV.

Mekanik Wanita Termuda di Yunnan, Jadi ‘Dokter’ Kereta Peluru

Setiap moda transportasi harus dicek kelayakan untuk beroperasi. Hal ini untuk menghindarkan permasalahan semua moda transportasi harus mendapat perawatan yang menyeluruh dan detail. Sehingga bukan hanya dari luar tetapi bagian dalam hingga ke sekrup terkecil di kendaraan tersebut.

Baca juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Pilot dan Awak Kabin Air India Seluruhnya Adalah Perempuan

Biasanya untuk ini, ada mekanik yang memerhatikan kondisi sertiap armada sehingga terjamin keamanannya. Salah satu yang mendapat perhatian seperti ini adalah kereta peluru yang beroperasi dengan kepecatan tinggi.

Meski begitu, Anda tahu mekanik lebih banyak pria dibandingkan wanita, apa lagi untuk masalah pemeriksaan armada. Namun di Cina tepatnya di provinsi Yunnan, seorang mekanik kereta peluru adalah wanita muda.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cgtn.com (24/8/2021), Cheng Yanqi merupakan mekanik kereta peluru wanita termuda di Yunnan, Cina. Wanita kelahiran Juni 2000 ini mengikuti jejak sang ayah.

Di mana karena ayahnya lah dia menjadi “dokter” kereta peluru. Setiap malam lebih dari 20 ribu langkah setiap malam, Yanqi memeriksa status pengoperasian komponen bawah dan samping kereta peluru.

Baca juga: Lesyiana Oktaviana, Pramugari Kereta Cantik yang Kuasai Empat Bahasa!

Bahkan dirinya juga masuk ke bawah kolong untuk melihat kondisi sekrup dan kawat di bagian bawah kereta. Untuk diketahui, di Institut kereta peluru Kunming, ada 200 mekanik kereta peluru seperti Cheng, yang bekerja keras untuk memastikan pengoperasian kereta peluru yang aman dan perjalanan penumpang yang aman.

Ratu Victoria Sering Naik Kereta dari Stasiun Stokes Bay, Kini Jalur Itu Tinggal Kenangan Tanpa Jejak

Selama beberapa dekade, Hampsire, Inggris menjadi rumah bagi sejumlah stasiun kereta api yang sekarang tidak lagi beroperasi dan ditinggalkan. Bahkan ada beberapa yang tidak tahu, bahwa lokasi tersebut dulunya merupakan rumah bagi stasiun kereta api.

Baca juga: Stasiun Dent, Jadi Stasiun Tertinggi di Inggris dan Disewakan untuk Penginapan

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, salah satu yang menjadi bagian sejarah perkeretaapian Hampsire adalah di pantai Stokes Bay. Tempat ini adalah pantai populer yang dikunjungi dan mungkin tidak banyak yang tahu bahwa ada dermaga di laut yang merupakan rumah bagi stasiun kereta api Stokes Bay.

Dermaga yang menyatu dengan Stasiun Stokes Bay. Foto: Istimewa

Stasiun Stokes Bay dibuka tahun 1860-an dan dirancang untuk memberi penumpang rute lain agar mengakses ferry ke Isle of Wight yang populer. Jalur ini dibangun dari Stasiun Gosport melintasi stasiun lain yang kini tak lagi ada dan tidak digunakan menuju ke peron di dermaga.

Dari catatan sejarah mengatakan bahwa stasiun ini digunakan oleh bangsawan pada beberapa kesempatan. Bahkan Ratu Victoria menggunakannya sebagai alternatif dari titik penyeberangan Gosport atau Clarence Yard yang disukainya ke Isle of Wight yang dicintainya.

Dalam buku harian Ratu Victoria, pada Februari 1880 menunjukkan bahwa Ia harus menggunakan stasiun selama cuaca buruk. Meski begitu layanan ke Stasiun Stokes Bay tidak sepopuler yang diharapkan meski penyeberangan ferry lebih cepat daripada berangkat dari Portsmouth.

Pada awal 1900-an, rute baru dibuka dari London ke Teluk Stokes di sepanjang jalur Lembah Meon, tetapi ini dikatakan tidak membawa peningkatan penumpang yang diharapkan. Layanan kapal uap dihentikan pada awal Perang Dunia Pertama, tetapi jalur tetap terbuka sampai 1 November 1915.

Ternyata, trek tersebut mulai diangkat secara bertahap pada tahun 1930-an, dengan sisa yang sedikit. Di mana bagian utara yang tersisa digunakan untuk menyimpan kereta sebelum dipindahkan seluruhnya. Pada tahun 2011 lokasi stasiun di Gosport Road ditempati oleh gedung pertukaran telepon BT.

Baca juga: Birmingham New Street, Stasiun Kereta Pertama di Inggris yang Adopsi Jaringan 5G

Sebagian besar rute selatan ke Teluk Stokes sekarang menjadi jalan setapak umum dan tidak ada jejak stasiun atau dermaga di Stokes Bay. Dermaga itu sendiri juga telah hilang, tetapi dulu terletak sangat dekat dengan tempat stasiun sekoci sekarang berada di pinggir laut Gosport.

Tak Hanya Bandara Kabul, Bandara Kandahar Afghanistan Juga Pernah Diserang Bom Bunuh Diri

Sedikitnya 85 orang tewas, termasuk 13 marinis AS, dalam serangan bom bunuh diri yang didalangi ISIS di luar gerbang Bandara Kabul, Afghanistan, baru-baru ini. Meski begitu, tentu, bom bunuh diri yang menjadikan bandara sebagai targetnya bukan pertama kali terjadi di negara kaya mineral ini.

Baca juga: Miris, Warga Afghanistan Tewas di Bandara Kabul Gegara Kepanasan dan Kelaparan Saat Tunggu Evakuasi

Laporan BBC, pada tahun 2015, Bandara Kandahar, 500 km dari Kota Kabul, pernah mendapat serangan bom bunih diri. Menariknya, bila insiden bom bunuh diri di Bandara Kabul dilakukan oleh ISIS dan Taliban serta Amerika Serikat (AS) sebagai korbannya, pada insiden bom bunuh diri di Bandara Kandahar, Taliban adalah pelakunya.

Hal yang membedakan lainnya, bila saat itu serangan bom bunuh diri didahului oleh peringatan keras melalui video di situs Taliban, serangan bom bunuh diri di Bandara Kabul tidak didahului oleh apapun, mengingat Afghanistan, baik Taliban maupun tentara sekutu, tengah sibuk melancarkan proses evakuasi di sana.

Disebutkan, serangan bom bunuh diri di Bandara Kandahar dimulai dengan menerobos barikade keamanan dan masuk ke area gedung sekolah tua yang disulap jadi pertokoan di area bandara. Tentara Afghanistan dan sekutu pun langsung menghujani mereka dengan peluru tajam dan dibalas hal serupa oleh pejuang Taliban selama berjam-jam.

Kementerian Pertahanan Afghanistan menyebut, insiden bom bunuh diri di Bandara Kandahar menewaskan 50 orang, terdiri dari warga sipil, pasukan keamanan, dan 11 pejuang Taliban. Sementara itu, 35 orang dilaporkan luka-luka.

https://twitter.com/Reuters/status/1430998545566470152?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1430998545566470152%7Ctwgr%5E%7Ctwcon%5Es1_&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.reuters.com%2Fworld%2Fasia-pacific%2Fwestern-nations-race-complete-afghan-evacuation-deadline-looms-2021-08-25%2F

Pada tahun 2018 silam, insiden bom bunuh diri dengan menjadikan Bandara Internasional Hamid Karzai atau Bandara Kabul sebagai targetnya juga pernah terjadi. Saat itu, 14 nyawa melayang dan 60 orang lainnya luka-luka.

Tahun 2013, bom bunuh diri juga terjadi. Walau begitu, insiden di tahun ini tidak ada berhasil menewaskan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang dipimpin NATO ataupun warga sipil.

Tahun 2011 serangan bom bunuh diri terjadi di dekat Bandara Kabul. Sejak insiden di tahun ini, tidak ada lagi serangan bom bunuh diri yang menewaskan tentara AS dalam sehari lebih banyak dari serangan bom bunuh diri pada 26 Agustus 2021 kemarin.

Dilansir Reuters, Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan satu ledakan terjadi di dekat Gerbang Abbey Bandara Kabul dan ledakan lainnya di dekat Hotel Baron. Dua pejabat AS mengatakan, dari dua itu, salah satu di antaranya berasal dari bom bunuh diri.

Baca juga: Diburu Taliban Gegara Bersekutu dengan AS, Dua Cerita Pelarian Warga Afghanistan Ini Bikin Merinding!

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, sendiri beberapa hari lalu pernah mengancam akan memberangus Taliban andai berani menyerang bandara atau mengganggu kepentingan AS dalam mengevakuasi warganya, diplomat, dan warga negara Afghanistan yang bersekutu dengannya selama 20 tahun operasi di negara itu.

Sayangnya, pada insiden bom bunuh diri di luar gerbang Bandara Kabul, di tengah kerumunan warga Afghanistan yang ingin melarikan diri, dan menewaskan 13 tentara AS kemarin bukan didalangi Taliban, melainkan ISIS. Karenanya, apakah Joe Biden akan mengerahkan pasukan keamanan dalam jumlah besar menyikapi hilangnya nyawa warga negara AS?

Putus Asa Pesawatnya Menukik Tajam, Pilot di Perancis Lompat ke Laut dan Hilang

Seorang kopilot di Perancis dilaporkan hilang akibat melompat dari pesawat sesaat sebelum terjadi kecelakaan. Namun nahas, niat hati menyelamatkan diri, pilot tersebut malah hilang dan belum ditemukan keberadaannya sampai berita ini diturunkan.

Baca juga: Inilah Autorotation, Fitur yang Wajib Dikuasai Pilot untuk Keadaan Darurat

Laporan BBC Internasional, kopilot berusia 32 tahun itu disebutkan tengah mengikuti training class menggunakan pesawat kecil Piper. Tetapi, saat berada di dekat pantai di Biscarrosse, barat daya Bordeaux, Perancis, pesawat dilaporkan hilang kendali, menukik tajam dan nyaris nyemplung ke laut.

Merasa tak aman, kopilot tersebut reflek dan menyelamatkan diri dengan cara melompat ke laut. Padahal, pesawat masih bisa mendarat mulus dengan selamat di pantai berkat sang instruktur.

Helikopter dan speedboat penjaga pantai sejak dua hari lalu telah dikerahkan untuk mencari keberadaan kopilot nahas itu. Tetapi, hasilnya nihil. Pencarian terus dilakukan sampai hari ini.

Tim penyelidik sendiri masih mencari tahu penyebab pasti insiden itu. Sejauh ini ada dua dugaan, satu karena pesawat kehabisan bahan bakar dan satu lainnya karena kopilot mengambil alih pesawat hingga menyebabkannya menukik tajam.

Dari kacamata prosedur, tentu apa yang dilakukan kopilot hilang di Perancis ini keliru. Saat terjadi keadaan darurat pada pesawat, tetap tenang tentu menjadi syarat agar segalanya berjalan lancar. Ketenangan menjadi harga mati pilot saat menghadapi berbagai situasi genting saat penerbangan berlangsung.

Terbukti, meski keadannya sudah terlampau genting dan pesawat nyaris celaka, instruktur penerbangan yang melatihnya berhasil mengendalikan pesawat dan mendarat bersamanya dengan selamat.

Pada pesawat perintis seperti itu, mungkin tantangannya tak lebih besar dibanding pesawat narrowbody ataupun widebody. Misalnya, saat terjadi depresurisasi pesawat.

Depresurisasi pesawat sendiri merupakan situasi dimana tekanan udara berkurang yang biasa terjadi di dalam kabin pesawat. Secara epistemologi, depresurisasi pesawat bisa dibilang sama dengan dekompresi eksplosif.

Ketika terjadi depresurisasi, pilot harus menurunkan ketinggian pesawat untuk mengembalikan tekanan udara seperti sedia kala. Namun, dikutip dari Simple Flying, dalam situasi tersebut, rata-rata penumpang dan kru dapat bertahan 25 detik sebelum pingsan.

Itulah mengapa jika depresurisasi pesawat terjadi di sekitar ketinggian 30.000 kaki dan hal tersebut menyebabkan masker oksiden keluar dari langit-langit di atas kursi penumpang, kapten pilot harus sesegera mungkin menurunkan ketinggian sebelum pasokan di tangki oksigen habis. Sebelum itu terjadi, penumpang dan kru sudah dibekali masker oksigen untuk memudahkan bernapas.

Setidaknya pesawat harus berada di ketinggian dimana manusia bisa bernafas secara normal, yaitu di bawah 10 ribu kaki. Sebagai informasi tambahan, tangki oksigen yang dibawa oleh sebuah pesawat ini disimpan di bagian lambung.

Baca juga: Bagaimana Awak Kokpit Mengatasi Situasi Darurat di Udara?

Dalam rentang waktu yang cukup singkat tersebut, dan tentu saja menegangkan, kapten pilot harus dengan cekatan mencari jalur yang aman dan tidak menginterupsi penerbangan lainnya, sembari juga berkomunikasi dengan menara pengawas (ATC) untuk meminta izin melakukan pendaratan darurat.

Mungkin ini terdengar sangat klise dan tidak akan berpengaruh banyak pada Anda yang tengah berada dalam kondisi terdesak seperti ini. Tapi sejatinya, seorang pilot sudah terlatih untuk menangani situasi darurat semacam ini.

Lockheed L-100-30, Hibah Merpati Nusantara Airlines yang Kini Jadi Andalan TNI AU

TNI Angkatan Udara (AU) sudah bukan rahasia lagi mendapat banyak hibah pesawat dari berbagai maskapai dalam negeri, swasta maupun maskapai nasional.

Baca juga: Lockheed L-100 30, “Kenangan” Merpati Nusantara Airlines yang Kini Masih Eksis Mengudara

Pesawat hibah dari Garuda Indonesia, Boeing 737-400 dengan nomor registrasi A-7305, belum lama ini tampil seperti biasa, menjalani misi evakuasi WNI di Kabul, Afghanistan, usai negara tersebut chaos akibat kudeta oleh Taliban.

Pesawat VIP yang sudah berusia menuju 40 tahun itu sudah sangat sering diandalkan TNI AU dalam berbagai misi evakuasi. Selain A-7305, pesawat hibah lain yang juga diandalkan TNI adalah Lockheed L-100-30 hibah dari Merpati Nusantara Airlines (MNA).

Dilansir Indomiliter.com, Lockheed L-100 30 saat ini dioperasikan Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 17 TNI AU. Tak banyak catatan penerbangan ataupun history log pesawat selama di MNA. Tahun pembuatannya juga sangat sulit dicari, baik melalui kata kunci nomor seri manufaktur ataupun PK-MLT. Menariknya, data di Planespotter.net sekalipun, pesawat ini tidak terdaftar dalam barisan armada MNA. Padahal, pesawat pendahulunya tercatat.

Meski begitu, dari foto-foto yang terdapat di Airlines.net, pesawat Lockheed L-100 30 MNA dengan nomor registrasi PK-MLT kerap tertangkap kamera di beberapa bandara, seperti Bandara Kemayoran, Bandara Husein Sastranegara, Bandara I Gusti Ngurah Rai, dan bandara lainnya.

Pada tahun 1995 TNI AU mendapat hibah dua unit L-100-30 dari maskapai Merpati Nusantara Airlines, dan tiga unit L-100-30 dari Pelita Air service. Kelima pesawat tersebut kini menjadi barisan armada Skadron Udara 31, masing-masing dengan nomer A-1325, A-1326, A-1327, A-1338 dan A-1329.

Berbeda dengan Skadron Udara 31, Skadron Udara 17 juga mengoperasikan pesawat yang total diproduksi sebanyak 114 unit ini (jauh dibanding saudaranya Lockheed C-130 Hercules berjumlah lebih dari 2.300 unit). Bedanya, pesawat dibeli baru, bukan program hibah, dan diregistrasi sebagai A-1314. Pesawat diplot sebagai sarana angkut VIP/VVIP.

Sekilas tentang Lockheed L-100-30, pesawat ini dikembangkan berdasarkan kesuksesan Lockheed C-130 Hercules sebagai pesawat angkut militer. Prototipe pertama L-100 terbang perdana pada 20 April 1964 dengan melaukan penerbangan selama satu jam 25 menit. Kemudian sertifikasi kelayakan penerbangan L-100 resmi didapat pada 16 Februari 1965. Pesanan perdana L-100 berjumlah 21 unit untuk Continental Air Services pada tahun 1965.

Baca juga: Setelah 25 Tahun Stop Produksi, Lockheed Martin Tampilkan L-100 di Paris AirShow 2017

Ada tiga varian pesawat yang tersedia, L-100-20, L-100-30, dan LM-100J. Total hanya 114 unit L-100 yang terjual, produksi terakhir terjadi pada tahun 1992. Secara umum, Lockheed L-100-30 punya spesifikasi yang lumayan; panjang 34,35 meter, tinggi 11 meter, kecepatan maksimum 570 km per jam, ketinggian maksimum 23 ribu kaki, dan jangkauan sejauh 2.470 km.