(Video) Pendaratan Mulus di Bandara Cristiano Ronaldo, Bandara Paling Berbahaya di Dunia

Terlepas dari keindahan Pulau Madeira, Portugal, tanah kelahiran bintang sepak bola kenamaan dunia, Cristiano Ronaldo, tersebut pasti membuat siapapun yang berkunjung ke sana (menggunakan pesawat) takut sejadi-jadinya.

Baca juga: Inilah Bandara Yakutsk, Bandara dengan Suhu Terdingin di Bumi

Betapa tidak, alih-alih mendarat di bandara besar nan aman, Pulau Madeira justru menawarkan bandara dengan runway pendek dan curam. Sedikit kesalahan sudah pasti akan fatal.

Bandara yang sempat berganti-ganti nama ini, mulai dari Bandara Saint Chatarina, Bandara Funchal, dan terakhir Bandara Internasional Cristiano Ronaldo, pertama dibuka tahun 1964 dengan dua landasan pacu sepanjang 1600 meter. Runway di sini juga diketahui beberapa kali direnovasi dan diperpanjang.

Kendati demikian, tetap saja, mendarat di sini bukan suatu hal yang menyenangkan, apalagi bila cuaca sedang tidak bersahabat. Lain cerita bila cuaca cerah dan angin tak berhebung kencang. Seperti pada video pendaratan pesawat yang satu ini.

Dilansir republicworld.com, seorang pilot yang tak diketahui namanya, sukses mendaratkan pesawat kecil dengan mulus di Bandara Internasional Cristiano Ronaldo.

Dalam video cockpit review yang diunggah di kanal YouTube Epic Madeira ini terlihat pilot melakukan approach dengan begitu tenang. Perlu diketahui, hanya pilot-pilot berpengalaman yang diizinkan mendarat di sini mengingat bandara ini merupakan salah satu yang paling ekstrem di dunia.

Usai pesawat semakin turun dan semakin mendekati bibir pantai, pesawat mulai dihempas angin. Tetapi, itu masih tergolong normal dibanding crossing wind di bandara lain atau di bandara yang sama namun dalam kondisi cuaca ekstrem.

Pesawat pun lanjut mengambil posisi sejajar dengan runway, touchdown, dan perlahan berhenti jauh sebelum ujung runway. Sangat-sangat mulus.

Meski begitu, bandara paling ekstrem di dunia ini bukan berarti tidak pernah terlibat kecelakaan. Bahkan bisa dibilang cukup banyak terjadi kecelakaan sejak bandara pertama kali dibuka.

Salah satu yang paling fenomenal adalah kecelakaan pada 1980, dimana pesawat Boeing 727 yang terbang dari Brussel jatuh di ujung landasan saat akan mendarat dan menewaskan 131 penumpang. Sejak adanya kejadian itu, landasan pacu ini diperpanjang dengan sanggahan 150 tiang beton penopang.

Di luar itu, kecelakaan sering terjadi dengan jumlah korban tewas cukup beragam. Pada 5 Maret 1973, tidak lama setelah bandara ini di buka, sebuah Aviao Sud Caravelle 10R (Registrasi EC-BID) masuk ke laut dan menewakan tiga orang kru.

Empat tahun kemudian, tepatnya 19 November 1977, TAP Portugal perbangan 425, Boeing 727-200 terbang Brussels ke Madeira via Lisbon.

Baca juga: Farrenberg Airfield, Bandara Ekstrem di Atas Awan

Setelah berputar, pesawat mencoba mendarat dalam keadaan cuaca yang buruk, pesawat mendarat panjang pada landasan pacu 24 dan terjun melewati tepian yang curam. Kemudian menabrak sebuah jembatan batu dan sayap kanannya rusak, lalu menabrak keras ke sebuah pantai. Api membakar pesawat dan menewaskan 131 penumpang dari 164 penumpang di dalamnya.

Ditahun yang sama tepatnya sebulan kemudian pada 18 Desember 1977, SA de Transport Aérien Penerbangan 730 di perbolehkan oleh pihak bandara untuk mendekati landasan pacu, sayangnya ketinggian pesawat tersebut dibawah 720 kaki dan menyebabkan pesawat menghantam laut, serta menewaskan 36 penumpang.

Ngenes, Jerman Larang Masuk Wisatawan Indonesia, Padahal Singapura dan Thailand Boleh

Jerman dikenal ketat dalam melakukan pencegahan penyebaran virus Corona. Tetapi, lambat laun negara tersebut mulai membuka diri dari dunia luar. Hanya saja tak semua negara diizinkan masuk ke Jerman.

Baca juga: Corona RI Mengganas, Negara-negara Ini Kompak Stop Penerbangan dari dan ke Indonesia

Dilansir schengenvisainfo.com, Jerman diketahui hanya mengizinkan wisatawan asal Austria, Australia, Cina, Faroe Islands, Greenland, Finlandia, Islandia, Irlandia, Israel, Malta, Selandia Baru, Norwegia, Portugal, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, dan Thailand. Tak ada nama Indonesia di sana.

Setiap wisatawan dari negara-negara tersebut setidaknya wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR selama 48 jam terakhir sebelum tiba di Jerman. Tak hanya itu, mereka juga diwajibkan untuk menjalani karantina mandiri selama 10 hari.

Selain berbagai negara di atas, Jerman juga diketahui mengizinkan masuk wisatawan dari negara-negara Uni Eropa yang berisiko tinggi, seperti Kroasia, Siprus, Estonia, Prancis, Lituania, Belanda, Slovenia, dan Swedia. Mereka juga diwajibkan untuk membawa hasil negatif tes PCR yang berlaku 48 jam dan wajib menjalani karantina mandiri selama 10 hari.

Bukan hanya dikenal ketat, Jerman juga selektif dalam mengklasifikasikan sebuah negara. Setidaknya, ada tiga klasifikasi negara-negara di dunia yang dibuat Jerman, mulai dari virus variant areas, high incidence areas, and simple risk areas.

Area berisiko tinggi adalah area atau wilayah dengan 200 infeksi atau penularan per 100.000 penduduk selama tujuh hari terakhir. Indonesia bersama Mesir, Argentina, Bahrain, Bolivia, Cabo Verde Chili, Kosta Rika, Ekuador, Georgia, Iran, Qatar, Kolombia, Kuwait, Maladewa, Meksiko, Paraguay, Peru, Seychelles, Sudan, Suriname, Tanzania, Suriah, Trinidad dan Tobago, dan Tunisia masuk dalam kategori ini.

Sedangkan wilayah tempat mutasi virus Corona muncul yaitu Botswana, Brasil, Eswatini, India, Lesotho, Malawi, Mozambik, Nepal, Zambia, Zimbabwe, Afrika Selatan, Uruguay, dan Irlandia Utara. Lain dari itu, mereka termasuk ke dalam wilayah berisiko sedang dan tanpa risiko.

Dengan bergabungnya Jerman dalam barisan negara-negara yang melarang penerbangan atau wisatawan dari Indonesia, berarti total sampai saat ini sudah ada tujuh negara. Sebelumnya sudah ada lebih dahulu Hong Kong, Taiwan, Uni Emirate Arab (UEA), Oman, Singapura, dan Arab Saudi.

Baca juga: Nakal! Meski Dilarang, Mahasiswa India ‘Kabur’ ke Kanada Lewan ‘Jalan Tikus’

Tetapi, tujuh negara melarang penerbangan atau kedatangan wisatawan asal Indonesia bisa dibilang masih sedikit dibanding tahun lalu.

September lalu, 59 negara melarang warga Indonesia masuk ke negaranya akibat pandemi Covid-19. Menariknya, negara-negara dengan kasus corona tinggi dan tertinggal pun, seperti Papua Nugini dan Bangladesh juga melarang turis dari Indonesia masuk.

Uni Eropa Kenakan Pajak Tambahan untuk Bahan Bakar Penerbangan, Tiket Bakal Jadi Lebih Mahal?

Draf EU Energy Taxation Directive yang tersebar luas di kalangan media baru-baru ini menunjukkan bakal adanya peningkatan pungutan pajak terhadap bahan bakar penerbangan. Bukan mulai dalam waktu dekat ini, di kala maskapai di seluruh dunia sedang sulit, melainkan mulai tahun 2023 mendatang.

Baca juga: Daftar Maskapai Terdepan yang Gunakan Bahan Bakar Berkelanjutan, Tak Satupun dari Asia

Kendati tujuannya baik, tetapi banyak kalangan justru khawatir bahwa kenaikan pajak tambahan untuk bahan bakar penerbangan justru membuat tiket pesawat makin tidak terjangkau bagi kalangan tertentu. Lantas, bagaimana solusinya?

Uni Eropa sejak beberapa tahun lalu memang sudah gencar menurunkan emisi gas rumah kaca. Juli tahun lalu, di tengah pandemi virus Corona, UE bahkan menerbitkan Hydrogen Strategy and Roadmap yang di dalamnya berisi penggunaan hidrogen sebagai sumber energi terbarukan pada 2035 mendatang.

Tujuan besar dari langkah-langkah di atas tentu mengarah pada turunnya emisi gas rumah kaca (netralitas iklim) pada 2050 mendatang.

Sebelum benar-benar mencapai emisi nol di 2050, Uni Eropa sudah menargetkan pada 2030 mendatang emisi karbondioksida diharapkan bisa turun sampai 55 persen.

Dengan sederet target tersebut tak ayal bila kebijakan pendukungnya didorong agar segera diterapkan. Salah satunya melalui draf pungutan pajak tambahan untuk bahan bakar penerbangan.

Dari draf EU Energy Taxation Directive yang dilihat Reuters, tak ada lagi waktu untuk mengecualikan pengenaan pajak tambahan bagi bahan bakar penerbangan.

Andai draf tersebut tak mengalami perubahan esensi, itu berarti seluruh pesawat dari dan ke Uni Eropa akan dikenakan pajak tambahan bagi setiap bahan bakar penerbangan yang dimuat, kecuali, Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) ataupun hidrogen terbarukan. Besar kemungkinan, itu akan membuat tiket penerbangan jadi lebih mahal. Namun, tak diketahui secara pasti berapa persen kenaikannya.

Mengingat saat ini maskapai di seluruh dunia sedang susah, Uni Eropa menargetkan aturan pajak baru ini bisa dimulai pada 2023. Itupun tak langsung memasang tarif tinggi sampai 2030 mendatang.

Sayangnya tak ada informasi berapa tarif yang dikenakan dalam draf tersebut. Tetapi, mungkin angkanya akan lebih tinggi dari yang ada sekarang. Tahun ini, maskapai penerbangan negara-negara anggota UE diketahui dibebaskan dari kewajiban membayar pajak bahan bakar. Itu diperkirakan mencapai US$32 miliar atau sekitar Rp463 triliun (kurs 14.509).

Di luar pajak bahan bakar penerbangan oleh Uni Eropa, Swiss dan Norwegia diketahui juga memungut pajak bahan bakar penerbangan domestik selama bertahun-tahun. Itu berarti, maskapai asal dua negara tersebut harus membayar dua kali lipat untuk pajak bahan bakar penerbangan.

Baca juga: Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

Dua negara tersebut memang diketahui sangat bersemangat dalam melawan laju emisi dari industri penerbangan. Norwegia bahkan sudah berikrar seluruh penerbangan domestik jarak pendek wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.

Tak hanya itu, mereka juga mulai mengkampanyekan “flight shaming”, guna membuat orang-orang di sekeliling mereka yang masih bepergian menggunakan pesawat agar merasa malu karena telah menyumbang percepatan pemanasan global dan mendorongnya untuk beralih ke moda transportasi lain, terutama kereta.

Inilah Interior Kereta Pasca Pandemi, Hadirkan Fleksibilitas Bagi Penumpang

Pandemi Covid-19 telah mengubah cara layanan kereta api beroperasi seperti melakukan pembayaran tanpa kontak hingga perangkat lunak crowding kereta api. Ini merupakan usaha keras industri perkeretaapian menuju layanan yang memenuhi kebutuhan penumpang. Namun ketika melihat ke depan yakni pasca pandemi, industri kereta api perlu melakukan adaptasi sekali lagi untuk memenuhi kebutuhan penumpang.

Baca juga: Lima Inovasi ini Bikin Kereta Masa Depan Lebih Cepat dan Aman

Selain itu juga mengadopsi solusi untuk menyediakan infrastruktur transportasi yang lebih baik. KabarPenumpang.com melansir railway-technology.com (9/7/2021), untuk itu maka perusahaan desain dan inovasi strategis global Seymourpowell melakukan kolaborasi dengan Angel Trains. Di mana kolaborasi ini mengembangkan konsep kereta baru yang dirancang untuk penumpang pasca pandemi.

Keduanya juga akan menampilkan stasiun pembersih, pintu tanpa kotak, tiang antibakteri dan konsep kereta yang bertujuan untuk menawarkan ruang berbagi penumpang yang dapat disesuaikan. Kepala transportasi di Seymourpowell – Inggris, Jeremy White, membahas apa yang ditawarkan interior kereta baru, serta manfaat yang diberikannya bagi penumpang.

Dia mengatakan, konsep kereta baru dan fasilitasnya berdasarkan pada fleksibilitas. Di mana arsitektur fleksibel yang dapat dilakukan lebih dari satu hal dan menawarkan lebih dari satu layanan untuk operator kereta api. Pada perjalanan pagi dan komuter kembali seperti biasanya, maka ada kemampuan untuk memiliki standee serta memenuhi permintaan berkapasitas tinggi.

Demikian juga, ketika ada lebih sedikit orang yang bepergian, maka ruang-ruang tersebut dapat dikonfigurasi ulang dan menawarkan ruang bagi orang-orang untuk membawa sepeda mereka ke dalam kabin, mendorong para pelancong untuk pergi ke kabin dengan fasilitas rekreasi, ruang untuk bagasi besar, dan hal-hal semacam itu. Tak hanya itu, Jeremi menambahkan, bahwa ada fokus pada cara kerja baru dan mendorong orang untuk bergerak pada waktu yang berbeda dalam sehari.

Ruang yang biasanya dirancang untuk empat orang dapat digunakan bersama oleh dua orang dan mereka semua memiliki lebih banyak ruang untuk menyebar dan bekerja dengan cara yang efektif. Jeremy mengatakan, konsep kereta ini sudah ada sejak lima atau enam tahun lalu.

“Bersama-sama kami telah mempromosikan ide-ide fleksibilitas ini. Selalu sulit untuk mendorong ide-ide tersebut melalui operator kereta api karena mereka harus memenuhi perjanjian waralaba mereka yang sering dikonfigurasi, atau perjanjian waralaba itu sendiri dibatasi oleh jumlah kursi yang harus dijalankan oleh operator,” ujarnya.

Baca juga: Swedia dan Finlandia Putuskan Bangun Jalur Kereta Api

Jeremy menjelaskan, kehadiran konsep kereta baru ini juga untuk berkelanjutan dengan mengurangi jejak karbon. Yang mana mendorong orang keluar dari mobil mereka dan beralih ke transportasi umum. Pandemi Covid-19 telah menjadi semacam katalis untuk mempromosikan cara bergerak yang berbeda.

Apa yang Terjadi Saat Rem Pesawat Overheat? Simak di Sini

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas dan turun landas, sampai mendarat dengan sempurna di runway.

Baca juga: Jadi Salah Satu Bagian Terpenting Pesawat, Begini Cara Kerja Landing Gear

Usai touchdown (dalam konteks ketika mendarat) landing gear memang penting, tetapi tentu rem pesawat tak kalah penting. Meski proses menurunkan kecepatan pesawat bisa dibantu oleh flap and slat serta engine reverse, rem pada ban adalah bagian yang tak terpisahkan untuk membuat pesawat berhenti di kecepatan yang sudah ditentukan untuk taxiing menuju apron.

Tetapi, apa yang terjadi ketika rem pesawat mengalami overheat saat mendarat ataupun lepas landas? Apakah itu akan baik-baik saja atau sesuatu akan terjadi namun tidak begitu fatal?

Dilansir dari Simple Flying, dalam keadaan ekstrem atau overheat, landing gear tentu bisa menimbulkan percikan api dan terbakar. Itu pasti.

Tetapi, di balik itu, sebetulnya ada aturan atau sejenis protokol agar pesawat terhindar dari yang demikian. Umpamanya, saat pesawat batal lepas landas atau rejected takeoff, biasanya rem akan cenderung dilepaskan begitu saja mengingat ia habis mendapatkan tekanan berat.

Sebelum itu, rejected takeoff sendiri ialah kondisi dimana pilot membatalkan lepas landas saat pesawat belum mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau V1. Itu berarti, ketika rejected takeoff diambil, secara teori, pesawat harusnya sudah diprediksi masih cukup waktu untuk berhenti sebelum ujung runway.

Serupa tapi tak sama, menurut Skybrary, rejected takeoff bisa dikategorikan pesawat sedang dalam posisi kecepatan rendah maupun kecepatan tinggi. Produsen pesawat umumnya mengartikan transisi pada dua kategori ini (kecepatan rendah maupun tinggi) antara kecepatan 80 dan 100 knot.

Bayangkan, dalam posisi di kecepatan setinggi itu, pesawat dipaksa harus berhenti karena setidaknya lima hal, termasuk kerusakan mesin, indikator atau alarm peringatan lepas landas, arahan dari kontrol lalu lintas udara (ATC), ban pecah, atau peringatan sistem, dengan memaksimalkan rem dan lainnya. Pasti berisiko membuat rem overheat, bukan?

Baca juga: Mengenal “Rejected Takeoff,” Pesawat Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway Gegara Hal Ini

Insiden yang disebabkan oleh rem pesawat overheat atau terlalu panas tentu pernah terjadi di dunia penerbangan global. Pada Juli 2020, Boeing 737 WestJet dilaporkan karena satu dan lain hal terpaksa mendarat tanpa bantuan flap. Meski tak sampai terjadi kebakaran, tetapi petugas pemadam kebakaran sudah bersiaga di runway jika terjadi sesuatu.

Februari 2020, insiden rem overheat juga pernah menimpa Boeing 737 Pegasus Airlines. Ketika itu, pesawat yang berangkat dari Turki tersebut mendarat di Jerman dan muncul percikan api dari landing gear saat proses pendaratan. Meski api tak sampai membakar seluruhnya, tetapi tetap saja lebih baik api tak muncul sama sekali, bukan?

Cukup Sekali Pengisian, Mobil Listrik Volvo Bisa Menjelajah Hingga 999 Km

Ada kabar baru dalam jagad mobil listrik, pabrikan otomotif asal Swedia, Volvo, membuat pertanyaan bahwa pada tahun 2030 akan meluncurkan mobil listrik yang punya jangkauan hingga 621 mil atau setara 999 km untuk sekali pengisian. Nantinya mobil baru itu membuat pengemudi rata-rata hanya perlu mengisi daya sebulan sekali.

Baca juga: Ingin 100 Persen Bebas dari Bahan Bakar Fosil, Volvo Buka Lab Uji Sel Bahan Bakar

Hal tersebut diumumkan Volvo saat mengumumkan kerja samanya dengan perusahaan Skandinavia Northvolt. Pada kemitraan tersebut, kedua pihak akan mengembangkan paket baterai lithium-ion yang padat energi untuk digunakan pada model mobil listrik generasi berikut. KabarPenumpang.com merangkum thisismoney.co.uk (6/7/2021), Volvo mengatakan bahwa kesepakatan baru dengan membawa pengembangan dan produksi teknologi sel baterai lebih dekat ke rumah dan memberi produsen untuk menyesuaikan EV agar memenuhi kebutuhan pelanggan.

Pengembangan baterai mobil listrik besar Volvo dalam dekade berikutnya telah dijanjikan menyusul pengumuman kemitraan dengan produsen baterai Swedia, Northvolt (Volvo)

Ini berarti rentang yang lebih panjang dan waktu pengisian yang lebih cepat untuk mobil plug-in yang akan datang. Fase pertama akan melihat peningkatan teknologi baterai untuk mobil listrik generasi kedua, dimulai dengan peluncuran SUV XC90 berikutnya pada tahun 2022.

Nantinya pemilik SUV XC90  dapat menjual listrik kembali ke jaringan ketika mereka tidak menggunakan 4X4, yang bisa cukup menguntungkan jika dipasok selama masa permintaan puncak. Namun, fase kedua ini akan melihat lompatan terbesar dalam kemampuan baterai yang akan membuat mobil listrik jauh lebih praktis.

Volvo mengatakan EV generasi ketiga yang diluncurkan sekitar tahun 2025 akan meningkatkan jangkauan lebih jauh dan mengintegrasikan paket baterai ke lantai mobil, menggunakan struktur sel untuk kekakuan kendaraan secara keseluruhan dan meningkatkan efisiensi. Ini akan dicapai dengan Northvolt, yang berencana untuk meningkatkan kepadatan energi di sel baterainya hingga 50 persen dibandingkan dengan apa yang ada di pasaran sekarang.

Klaim Volvo juga berarti mobil penumpang listriknya yang dijual sebelum akhir dekade akan memberikan jangkauan yang cukup untuk menempuh jarak yang setara saat burung gagak terbang dari Land’s End ke John O’Groats (603 mil). Dengan perjalanan darat terpendek untuk berkendara dari rambu paling selatan ke paling utara di Inggris (837 mil), pemilik hanya perlu berhenti sekali untuk mengisi ulang baterai.

Bila dirata-ratakan pada penggunaan mobil oleh orang Inggris yang menempuh jarak 20 mil sehari, itu berarti pemilik hanya perlu mengisi daya Volvo listrik mereka sebulan sekali (setiap 31 hari). Dalam hal waktu pengisian, model listrik terbaru di pasaran dilengkapi dengan baterai yang mampu menerima 150kW, membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk mengisi daya hingga kapasitas 80 persen.

Volvo mengatakan, kemitraan dengan Northvolt juga akan melihat peningkatan elemen ramah lingkungan. Hal ini seperti baterai yang diproduksi menggunakan 100 persen energi terbarukan dan operasi daur ulang baterai internal untuk memulihkan bahan yang dapat digunakan kembali dan membuang yang tidak dapat digunakan kembali dengan benar.

Baca juga: Kembangkan Motor Listrik Internal, Volvo Ingin Jadi Manufaktur Mobil Listrik Premium

“Kami ingin menawarkan kepada pelanggan kami mobil listrik murni berkelanjutan yang membuat hidup mereka lebih mudah dan lebih menyenangkan. Melalui inovasi dan kolaborasi cerdas dengan mitra utama, kami dapat memberi pelanggan apa yang mereka inginkan dengan jangkauan yang lebih luas, pengisian daya yang lebih cepat, dan biaya yang lebih rendah dan selanjutnya mendorong adopsi mobilitas listrik secara luas,” ujar Henrik Green, chief technology officer di Volvo Cars.

Busa Kursi Baru Berteknologi Tinggi Bikin Berat Pesawat Turun Drastis!

Seribu satu cara ditempuh perusahaan di dunia untuk membuat pesawat lebih ringan, dalam hal ini melalui inovasi kursi. Ada yang fokus membuat kerangka kursi terbarukan dengan bahan-bahan yang jauh lebih ringan dan kuat. Ada pula yang fokus pada kulit kursi, dan terbaru sebuah perusahaan asal Slovenia, Vanema, lebih memilih fokus pada bantalan atau busa kursi pesawat. Bagaimana itu bisa mempengaruhi berat pesawat secara keseluruhan?

Baca juga: Perusahaan Jerman Rancang Kursi Penumpang dan Pilot yang Dilengkapi Sensor Detak Jantung

Dilansir dari Simple Flying, Vanema diketahui telah meluncurkan teknologi bantalan kursi atau bisa juga dibilang kursi pesawat terbaru yang disebut Octospring. Disebutkan, itu bukan hanya berhasil membuat berat total kursi pesawat menjadi berkurang atau lebih ringan tetapi juga lebih nyaman.

Octaspring membuat penumpang lebih nyaman karena honeycomb-style-nya yang dinilai maksimal dan sangat ergonomis dalam menopang duduk pengguna. Jauh lebih maksimal dibanding static foam cushion atau bantalan kursi yang ada saat ini.

Octaspring juga diproduksi 50 persen lebih sedikit dibanding bantalan atau busa kursi pada umumnya. Sekali lagi, ini berkat adaposi teknologi honeycombs yang menjadikan penempatan busa-busa di kursi menjadi lebih maksimal namun tetap nyaman digunakan.

Dari teaser yang dirilis perusahaan, terlihat Octaspring menggunakan teknologi smart zoning dalam memaksimalkan peletakan busa. Ketika diduduki oleh penumpang, teknologi adaptive comfort juga membuat bantalan kursi mengikuti posisi pada bokong penumpang.

Dari hasil studi internal, terbukti bahwa duduk di kursi Octaspring membuat bokong lebih minim rasa sakit atau nyeri ketimbang duduk di kursi pada umumnya.

Vanema mengklaim, Octaspring berhasil meringankan berat total pesawat sebesar 30 persen dibanding yang dilakukan teknologi solid seat pad. Di kelas ekonomi, Octaspring diklaim mampu mengurangi berat mencapai 150 gram per seat cushion. Di kelas bisnis, penghematan berat pesawat bahkan mencapai 800 gram per kursi.

Penurunan berat total pesawat dari bantalan kursi di kabin bahkan jauh lebih besar andai kursi first class, kursi kru, dan pilot juga diganti dengan kursi Octaspring.

Baca juga: Asyik, Penumpang Pesawat Kelas Ekonomi Kini Bisa Selonjoran ke Kursi Depan!

Saat ini, Vanema dikabarkan tengah menggandeng Airbus, STELIA Aerospace, dan SAGROUP untuk memasang bantalan kursi ini ke setiap pesawat. Itu dimungkinkan karena Octaspring sudah lulus uji sertifikasi, termasuk uji ketahanan api dan lain sebagainya.

Bila tak ada aral melintang, tahun depan diperkirakan kursi Octaspring bisa diaplikasikan di pesawat-pesawat terbaru Airbus. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas, apakah seluruhnya menggunakan kursi Octaspring atau hanya sesuai permintaan dari maskapai saja. Menarik ditunggu.

NTSB Rilis Foto-foto Pesawat Kargo Boeing 737 Transair yang Jatuh di Laut Hawaii

Puing-puing pesawat kargo Boeing 737-200 Transair yang sebelumnya jatuh di lepas pantai Hawaii akhirnya ditemukan. Dari foto-foto yang dirilis investigator federal dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB), tampak jelas badan pesawat beserta sayap dan tail serta kedua mesin berada di dasar lautan, antara kedalaman 110 – 128 meter.

Baca juga: Update Misteri Hilangnya MH370, Ahli Sebut Pesawat Jatuh Gegara Kehabisan Bahan Bakar!

Mengingat itu terlalu dalam untuk mengerahkan penyelam, NTSB berencana mengerahkan robot SAR untuk membantu proses pengangkatan puing-puing pesawat.

Dilansir Daily Mail, komponen-komponen pesawat tersebut berhasil ditemukan berkat Side Scan Sonar dan Remotely Operated Vehicle, yang memang sudah masyhur muncul saat terjadi insiden.

Kendati pesawat sudah ditemukan, tetapi, tak disebutkan dengan jelas apakah black box, meliputi cockpit data recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR) sudah ditemukan atau belum.

Fuselage bagian depan pesawat kargo Boeing 737 Transair. Foto: NTSB

Penyebab kecelakaan sejauh ini belum berhasil disimpulkan. Dari kronologi kejadian, sempat ada dugaan bahwa musibah bermula dari masalah pada bahan bakar. Setelah sampel bahan bakar berhasil didapat dan dicek, petugas tak menemukan masalah apapun di sana.

Karenanya, tak ada jalan lain kecuali menemukan black box, mengangkat seluruh komponen pesawat yang sudah berusia 46 tahun itu (buatan tahun 1975), dan menginvestigasinya sebagai satu kesatuan utuh untuk menemukan inti masalah.

Sebelumnya, pada Jumat dini hari, 2 Juli 2021, melakukan pendaratan darurat di wilayah lepas pantai Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Badan Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) pilot dan kopilot berhasil selamat walaupun mengalami cedera parah di kepala dan sekejur tubuh.

Mesin pesawat kargo Boeing 737 Transair. Foto: NTSB

“Pilot dan kopilot melaporkan ada kerusakan mesin dan berusaha kembali ke Ibu Kota Honolulu, namun yang terjadi mereka terpaksa melakukan pendaratan di air,” demikian keterangan FAA.

Informasi yang dipublikasi FlightAware.com menyebutkan pesawat naas dengan nomor penerbangan 810 bertolak dari Ibu Kota Honolulu pada 1.33 dini hari. Burung besi itu hendak terbang ke Bandara Kahului, Maui, namun memutuskan putar balik karena satu mesinnya disebut mengalami kerusakan.

Tim penjaga pantai dengan cepat merespon laporan adanya pesawat yang mendarat darurat di wilayah selatan Pulau Oahu dengan dua awak dalam burung besi tersebut (tak ada penumpang).

Baca juga: Duh! Potongan Pesawat Uji Airbus Jatuh di Desa Dekat Bandara Toulouse-Blagnac

Sekitar pukul 2.30 dini hari, seorang penjaga pantai di lokasi kejadian menemukan puing-puing pesawat dan menemukan salah satu awak pesawat menempel di ekor pesawat. Awak tersebut lalu diselamatkan dengan helikopter untuk di bawah ke rumah sakit.

Sedangkan satu awak lainnya terlihat mengapung di atas pecahan puing – puing. Dia diselamatkan oleh perahu pemadam kebakaran Honolulu untuk di bawa ke tepi pantai. “Kami kehilangan salah satu mesin pesawat,” kata pilot.

Mudahkan Fotografer Saat Mengendarai Sepeda, Tali Kamera ‘Makers in Motion’ Solusi Tepat

Banyak orang yang kini menggunakan sepeda untuk aktivitas mereka sehari–hari, baik untuk transportasi maupun untuk berolahraga. Bahkan kelengkapan untuk para pesepeda pun semakin banyak dan mudah untuk didapatkan.

Baca juga: Inilah Velo 2 Beeline, Kompas Digital Khusus Sepeda, Goweser Wajib Coba!

Selain helm, botol minuman, lampu sein, ternyata ada lagi kelengkapan lainnya yakni tali kamera. Ini adalah perlengkapan yang bisa digunakan para fotografer yang menggunakan sepeda sebagai transportasi mereka.

Gesper magnetik Makers in Motion dapat menahan beban hingga 30 lb (13,6 kg) (Makers in Motion)

Di mana tali kamera Makers in Motion tersebut dirancang untuk membantu pesepeda ketika membawa kamera mereka dan mudah untuk digenggam. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (8/7/2021), Makers in Motion dirancang oleh tim kecil pengusaha yang berbasi di San Francisco, Amerika Serikat.

Tali ini terbuat dari bahan anyaman sabuk pengaman nilon dan memiliki geper magnet lepas cepat di bagian depan. Satu bagian tali ini terdiri dari bagian over the soulder yang menjadi utama tempat kamera terpasang dan bagian sekunder yang membentang dari belakang ke depan di bagian lengan pengendara sepeda.

Sehingga saat pengguna mengendarai sepeda, bagian utama diayunkan dan kamera menyingkir, bersandar pada punggung mereka. Bagian sekunder ditekuk di depan, membentuk sabuk pengaman tiga titik yang menahan segala sesuatu di tempatnya.

Jika tidak, kamera akan segera berayun ke depan dan menjuntai di depan pengendara. Saat tiba waktunya untuk berhenti dan mengambil foto, bagian sekunder dilepaskan, bagian utama yang sekarang bebas diayunkan ke depan, dan kamera cukup digenggam dan digunakan.

Sebagai bonus tambahan, jika pengguna akan menghabiskan waktu di luar sepeda, bagian sekunder dapat diletakkan di sepanjang bagian utama dan ditekuk di tempatnya, membuat pengaturan seperti tali bahu dua titik konvensional. Makers in Motion saat ini menjadi salah satu subjek kampanye Kickstarter.

Baca juga: Livall Hadirkan Helm Sepeda Pintar dengan Teknologi Akselerator

Untuk penjualannya sendiri Seharga US$60 atau sekitar RP869 ribu dan pengendara bisa memilih satu dari tiga warna. Kehadiran Makaers in Motion ini hanya sat kampanye dan bila berakhir para pengusaha tersebut tidak lagi memproduksinya.

Corona RI Mengganas, Negara-negara Ini Kompak Stop Penerbangan dari dan ke Indonesia

Kasus virus Corona di Indonesia sejak beberapa hari belakangan terus memecahkan rekor. Akibatnya, banyak negara-negara di dunia yang khwatir dan mulai menutup perbatasan atau penerbangan dari dan ke Indonesia.

Baca juga: Dilarang Terbang ke Hong Kong, Cobaan (Lagi) Buat Garuda Indonesia

Kemarin kasus Covid-19 di Indonesia bertambah 36.197 sehingga total kasus positif 2.527.203, sembuh 2.084.724, dan wafat 66.464 jiwa.

Sejauh ini, tercatat sudah ada enam negara yang melarang penerbangan dari dan ke Indonesia, enam itu adalah Singapura, Uni Emirat Arab (UEA), Oman, Arab Saudi, Hong Kong, dan Taiwan.

Selain memang sudah watak masing-masing negara untuk melakukan penanganan penyebaran virus dengan ketat, beberapa dari mereka juga menganggap bahwa Indonesia masuk ke dalam daftar negara A1 yang sangat berpotensi menyebarkan virus ke wilayah mereka.

Dilansir id.trip.com dan berbagai sumber lainnya, Hong Kong tentu merasakan betul betapa membahayakannya Indonesia dalam kaitannya dengan virus Corona. Pada akhir Juni lalu, Otoritas Kesehatan Hong Kong, Centre for Health Protection (CHP) menemukan empat penumpang pesawat Garuda Indonesia GA876 positif virus Corona saat tiba di Bandara Hong Kong.

Sejak saat itu, otoritas Hong Kong yang memang sejak tahun lalu berlaku keras dan ketat terkait penanganan virus Corona langsung melarang penerbangan dari Indonesia mulai 22 Juni – 5 Juli kemarin.

Begitu juga dengan Taiwan, negara yang letaknya tak begitu jauh dari Hong Kong. Taiwan diketahui melarang pekerja imigran Indonesia masuk negara itu sejak Desember 2020. Pusat Komando Epidemi Pusat Taiwan (CECC) 4 Desember 2020 mengumumkan keputusan itu diambil berdasarkan angka kasus virus Corona di Indonesia.

Negara-negara Timur Tengah juga kompak menutup diri dari Indonesia. Padahal, mereka dikenal lama sebagai negara sahabat erat. Tetapi, dalam kaitannya dengan virus Corona di Indonesia belakangan ini, rupanya itu tak mengenal sahabat ataupun tidak.

Tercatat, tiga negara Timur Tengah, Arab Saudi, UEA, dan Oman melarang penerbangan dari dan ke Indonesia. Dilihat dari laman kemlu.go.id Arab Saudi belum mencabut status Indonesia dari daftar negara yang dilarang masuk sejak Februari.

Otoritas Oman mengumumkan mulai 9 Juli 2021 Indonesia dan delapan negara lain dilarang masuk. Begitu pula dengan traveler yang berada di Indonesia dalam tempo 14 hari terakhir.

UEA melarang penumpang transit dari Indonesia masuk mulai 11 Juli 2021. Tak hanya itu, UEA juga melarang warganya untuk bepergian ke Indonesia, kecuali dengan sejumlah pengecualian mendesak, misalnya misi diplomatik atau memiliki pekerjaan penting di Indonesia.

Satu negara yang melengkapi travel banned atau melarang penerbangan dari dan ke Indonesia ialah Singapura. Negara tersebut memang terkenal dengan penanganan virus Corona-nya yang sangat ketat. Saking ketatnya, bahkan vaksinasi nasional di negara itu tidak mencatat warga yang sudah divaksin Sinovac bahkan yang sudah mendapat suntikan dua dosis sekalipun.

Baca juga: Uni Eropa Punya Daftar Hitam Negara yang Dilarang Melintasi ‘Langitnya,’ Garuda Indonesia Pernah Termasuk!

Itu karena belakangan terbukti bahwa banyak negara yang sudah menggunakan vaksin Sinovac secara massal tetapi virus Corona masih tetap mengganas dan banyak yang tewas meski sudah divaksin Sinovac.

Sedang untuk urusan begitu saja Singapura sampai sedetail itu, apalagi melihat perkembangan kasus virus Corona di Indonesia. Tak heran bila Singapura melarang warga negara Indonesia masuk mulai 12 Juli 2021. Selain itu, semua pendatang dengan riwayat perjalanan ke Indonesia dalam 21 hari terakhir juga tidak akan diizinkan transit melalui Singapura.