Susul Neil Armstrong, Astronot Apollo 11 Michael Collins Meninggal Dunia! Tersisa Buzz Aldrin

Astronot Apollo 11 Amerika Serikat (AS) Michael Collins meninggal dunia di usia 90 tahun. Sepeninggalnya, praktis, astronot misi Apollo 11 yang masih hidup hanya menyisakan manusia pertama yang menginjakkan kaki di Bulan, Buzz Aldrin. Manusia pertama lainnya yang menginjakkan kakinya di bulan, Neil Armstrong, sudah lebih dahulu meninggal pada 2012 lalu.

Baca juga: Lihat Banyak Tempat Indah dari Luar Angkasa, Astronot Juga Butuh Liburan

“Kami menyesal berbagi bahwa ayah dan kakek kami yang tercinta meninggal hari ini, setelah pertempuran sengit melawan kanker,” kata keluarga Collins dalam sebuah pernyataan yang dikutip New Atlas.

“Dia menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan damai, dengan keluarganya di sisinya. Mike selalu menghadapi tantangan hidup dengan rahmat dan kerendahan hati, dan menghadapi ini, tantangan terakhirnya, dengan cara yang sama. Kita akan sangat merindukannya. Namun kita juga tahu Betapa beruntungnya Mike menjalani kehidupan yang dia lakukan,” bunyi pernyataan lainnya.

“Kami akan menghormati keinginannya agar kami merayakan, bukan berkabung, kehidupan itu. Bergabunglah dengan kami dengan penuh kasih dan sukacita mengingat kecerdasannya yang tajam, tujuan yang tenang, dan sudut pandangnya yang bijak , diperoleh dari melihat kembali ke Bumi dari ruang angkasa dan menatap ke seberang perairan yang tenang dari geladak kapal penangkap ikannya,” tutup tulisan dari keluarga Collins.

Disebutkan, Michael Collins adalah anggota dari tim astronot Apollo 11 dari AS yang menjalankan misi ke Bulan selain Neil Armstrong dan Edwin Aldrin pada 16-24 Juli 1969.

Berbeda dengan dua temannya yang menginjakkan kaki, menjadikannya sebagai manusia pertama yang melakukan itu di Bulan, Michael Collins tetap berada di Apollo 11 untuk menjalankan kontrol pesawat ruang angkasa tersebut tetap terkoneksi dengan Bumi. Bisa dibilang, Collins memang hanya mengantar dua temannya itu.

Kendati demikian, Michael Collins tetaplah sosok penting dalam misi tersebut. Ketika itu, Collins seorang diri mengendarai command module Columbia terbang mengelilingi orbit Bulan. Kendaraan ini menjadi pesawat antariksa yang digunakan ketiganya kembali mendarat di Bumi. Jadi Collins memiliki peran penting dan menjalani misi berbahaya sendiri.

Walau kalah pamor dibanding Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, padahal dalam misi yang sama, ia sama sekali tak mempedulikan hal itu. Justru, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan dua rekannya itu ketika berhasil kembali ke bumi. Ia khawatir keduanya meninggal di bulan dan menjadikannya sebagai satu-satunya yang kembali dari misi pendaratan pertama di bulan, Apollo 11.

Baca juga: Mengenal Alexei Leonov, Manusia Pertama yang ‘Berjalan’ di Luar Angkasa

Kepergian Collins menyusul rekannya, Neil Armstrong, yang sudah lebih dulu wafat pada tahun 2012 silam dan kini menyisakan Buzz Aldrin selaku astronot misi Apollo 11. Collins dan Aldrin sempat tampil bersama di tahun 2019 saat diundang oleh Presiden AS Donald Trump merayakan kesuksesan ke-50 tahun dari misi Apollo 11.

Collins pensiun dari NASA setelah kembali ke Bumi menyelesaikan misi Apollo 11. Dia sempat menjabat sebagai kepala museum dari National Air and Space Museum Smithsonian.

Miris, Ternyata Kehadiran 777 dan 787 Jadi Biang Kerok Boeing 767 Tak Laku Dipasaran

Sepak terjang Boeing di pasar pesawat widebody melambung usai Boeing 747 beroperasi pada dekade 70an. Meski demikian, mereka tak lupa daratan dan ketika itu berencana mengembangkan pesawat widebody twinjet yang lebih kecil dari Queen of the Skies. Belakangan itu dikenal sebagai Boeing 767.

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Airbus A330 Sang Penantang Boeing 767 Terbang Perdana

Awalnya, kehadiran pesawat widebody dengan lebar pesawat terkecil itu cukup mentereng. Prediksi Boeing bahwa maskapai membutuhkan widebody yang lebih kecil benar adanya. Kiprah Boeing 767 terus mentereng sampai 1994 atau 13 tahun setelah terbang perdana.

Usut punya usut ternyata, penyebab kegagalan Boeing 767 bertahan lebih lama di pasaran lantaran kehadiran pesawat Boeing itu sendiri, yaitu Boeing 777. Hal itu kemudian diperparah dengan hadirnya Boeing 787 Dreamliner pada 2011. Mengapa demikian?

Dilansir Simple Flying, di awal ide pengembangan, pasar yang akan dimasuki Boeing 767 memang tak terlalu ramai. Bahkan bisa dibilang belum ada. Ketika itu, maskapai dihadapi dengan pilihan pesawat jumbo melalui Boeing 747 serta sedikit di bawahnya, yaitu Lockheed L-1011 ‘TriStar’ dan McDonnell Douglas DC-10.

Tak lama ide pengembangan Boeing 7×7, yang pada akhirnya dikenal sebagai Boeing 767, muncul, Airbus mulai menunjukkan taji pesawat Eropa lewat A300. Menariknya, segmen pasar yang dimasuki A300 merupakan segmen yang sama dengan yang akan dijajaki Boeing. Sampai di sini, tentu saja Boeing kalap. Terlebih, ketika itu, pabrikan pesawat Amerika Serikat itu juga mengembangkan Boeing 757.

Kendati demikian, Boeing 767-200, model pertama pesawat itu, akhirnya resmi melakukan penerbangan perdana pada 1981, dan segera mendapatkan banyak pesanan, salah satunya United Airlines. Tak lama berselang, Boeing mengembangkan varian yang lebih jauh, Boeing 767-200ER (salah satunya dioperasikan El Al), disusul varian 767-300 (dioperasikan Japan Airlines), 767-300ER, dan ditutup dengan peluncuran Boeing 767-400ER.

Bahkan, Boeing sempat ingin mengembangkan varian dengan jangkauan lebih jauh lagi melalui 767-400ERX. Sayangnya itu dibatalkan.

Sebagai gantinya, Boeing mengembangkan apa yang disebut sebagai 767-X. Ini pertama kali dilakukan pada tahun 1986, bersamaan dengan munculnya 767-300. Ketika itu, respon pasar, dalam hal ini maskapai, cukup bagus dan membuat Boeing lebih bersemangat dalam menyelesaikannya.

Dua tahun kemudian, Boeing mengubah desain 767-X menjadi jenis twinjet baru yang kemudian dikenal sebagai seri 777. Triple Seven tercatat melakoni penerbangan perdana pada 12 Juni 1994 dan memasuki tahun layanan bersama United Airlines setahun setelahnya. Dari sinilah gempita Boeing 767 mulai berkurang, terkukung oleh masa depan cerah seri 777.

Andai saja ketika itu Boeing tetap memperkenalkan pesawat baru itu dalam keluarga Boeing 767, mungkin ceritanya akan berbeda. Kondisi itu semakin diperparah dengan penerbangan perdana Boeing 787 Dreamliner pada 15 Desember 2009 dan diperkenalkan dua tahun setelahnya.

Baca juga: Boeing 767, Pesawat Widebody dengan Lebar ‘Terkecil’ di Dunia

Dreamliner dinilai memiliki banyak kemiripan dan memiliki kapasitas kursi yang sama dengan beberapa varian dari keluarga Boeing 767. Ini yang kemudian benar-benar membuat produksi keluarga 767 versi penumpang mentok diangka 1.200 unit. Sebuah pertanyaan besar tentunya mengapa Boeing meluncurkan pesawat baru yang bersaing dengan pesawat lain buatannya.

Meski begitu, produksi Boeing 767 masih terus berjalan, khususnya pada varian kargo. Bahkan, dari data backlog Boeing, ada sekitar 97 pesanan 767F atau Freighter yang belum dikirim Boeing. Selain itu, Boeing 767F yang ada juga selalu sibuk terbang ke seluruh dunia dengan rata-rata 10 jam per hari.

Cek Tekanan Angin Ban Sepeda Kini Bisa Lewat Ponsel NFC

Teknologi pada memang sudah jauh lebih maju, salah satunya teknologi airless atau tanpa angin sehingga membuat ban sepeda anti bocor dan anti kempis. Namun, bagaimana dengan teknologi mengukur tekanan angin? Rasanya ini masih dilakukan dengan cara-cara konvensional, entah dengan menekan ban dengan jari atau memukul ban dengan ujung jari untuk mengetahui tekanan angin pada ban.

Baca juga: Dear Goweser, Jajal Nih Ban ‘Mati’ Canggih Anti Bocor dan Sekuat Baja Buatan NASA

Cara-cara konvensional seperti itu tentu memiliki banyak kekurangan, seperti tidak presisi untuk mendapat angka pasti pada tekanan angin, tidak higienis karena harus bersentuhan langsung dengan permukaan ban yang penuh bakteri dan kuman, serta lebih menggunakan feeling untuk mengetahui tekanan yang pas pada ban.

Padahal, persoalan feeling atau rasa seringkali berbeda-beda. Tak jarang, tekanan ban menurut feeling seseorang seringkali berbeda dengan orang lain. Pada akhirnya performa sepeda bisa menjadi berbeda-beda kendati merek ban dan sepeda itu sendiri sama. Ini tentu menjadi sebuah kerugian tersendiri.

Tak hanya itu, nyawa bisa menjadi taruhannya sebab tekanan ban yang tak presisi. Terkadang, karena tidak adanya teknologi pengecekan ban secara digital dan sejenisnya serta memaksa pengguna untuk mengecek secara konvensional, membuat tekanan ban tak jarang melebihi ambang batas atau ban terlalu keras.

Dalam keadaan tertentu, bisa saja ban sepeda meletus saat tengah digunakan dan membahayakan pengguna. Apalagi saat digunakan di jalan raya yang padat atau di jalan yang tak mempunyai jalur khusus serta bercampur dengan kendaraan bermotor. Tentu sangat berbahaya.

Menyadari hal itu, perusahaan Austria, Tubolito, belum lama ini merilis produk terbarunya ban dalam sepeda yang terbuat dari plastik. Meski demikian, ban dalam itu diklaim kuat tetapi juga ringan, sehingga bisa meningkatkan laju sepeda.

Tak hanya itu, seperti dilansir New Atlas, dalam kaitannya dengan mengecek tekanan ban, Tubolito juga melengkapi ban dalam plastik buatannya itu dengan NFC (Near Field Communication) chip yang dinamakan TUBO-MTB PSENS. Dengan chip tersebut, didukung aplikasi khusus Tubolito di iOS dan Android, pengguna dapat mengetahui tekanan ban dalam satuan bar dan psi hanya dengan mendekatkan ponsel dalam jarak 3 cm yang dilengkapi NFC ke bagian manapun ban.

Baca juga: “Right Bike,” Bantu Temukan Sepeda yang Tepat Bagi Pengendara

Setelah itu, ponsel yang tengah mengaktifkan aplikasi khusus Tubolito tadi, akan menscanning selama beberapa detik dan muncullah tekanan ban dalam bentuk angka dan satuan bar serta psi. Bagaimana, mudah sekali, bukan? Bagi Anda yang berminat, harganya dibanderol US$49,90 atau Rp725 ribu.

Sebagai informasi, untuk mengetahui tekanan ban sepeda saat sedang dikayuh, pengguna bisa mengakses aplikasi lainnya Quarq TyreWiz dan SKS Airspy, rekanan dari Tubolit, dengan dukungan baterai yang ditempel di batang klep sepeda.

Airbus Pensiunkan Beluga Pertama di Dunia, Pertanda Apa?

Airbus resmi mempensiunkan pesawat kargo Beluga pertama di dunia kemarin (27/4/2021). Pesawat berbasis A330-600ST yang telah digunakan Airbus sejak Oktober 1995 atau berusia 26,6 tahun, berangkat dari pabrik Airbus di North Wales tepat setelah pukul 15.00 waktu setempat menuju Hamburg untuk penyimpanan jangka panjang.

Baca juga: Akhirnya! “Si Manis Paus Terbang” Airbus Beluga XL Resmi Mengudara

Kendati pesawat masih sanggup melakoni dukungan logistik udara serta supplai chain komponen pesawat, namun, Airbus tetap mempensiunkan pesawat pertama yang menghiasi langit sebagai Airbus Transport International untuk revitalisasi pesawat kargonya, menyusul kehadiran Beluga XL yang mampu mengangkut payload enam ton lebih banyak dari Beluga ST atau 51 ton.

Sejak pertengahan 2018 lalu, bersamaan dengan dilakukannya serangkaian tes untuk Beluga XL, dan puncaknya saat Beluga XL akhirnya resmi dioperasikan pada Januari 2020, Airbus memang sudah bersiap mempensiunkan lima Beluga ST miliknya.

Beluga ST pertama yang dipensiunkan tercatat dilakukan Airbus pada 6 Oktober 2020. Ketika itu, Beluga ST nomor dua yang teregistrasi sebagai F-GSTB diterbangkan dari Toulouse ke Bordeaux, Perancis untuk penyimpanan jangka panjang.

https://twitter.com/cliper31/status/1387007441561395207?s=20

Berbeda dengan Beluga ST kedua, Beluga ST pertama di dunia yang diregistrasi sebagai F-GSTA justru ditempatkan di Hamburg, Jerman, sebagai rumah terakhirnya. Tak ada keterangan lebih lanjut mengapa Airbus menempatkannya di sana alih-alih mengirim ke Bordeaux, bergabung dengan Beluga kedua.

Akan tetapi, dilansir Simple Flying, Beluga pertama mungkin akan bergabung dengan Beluga kedua di Bordeaux. Disebutkan, Beluga pertama sengaja dikirim ke Hamburg terlebih dahulu untuk memindahkan suku cadang yang masih bagus sebelum pensiun. Barulah setelah itu, pesawat dikirim ke Bordeaux. Hal yang sama ternyata juga dilakukan Beluga nomor dua.

Singkatnya, beberapa hari mendatang, Beluga pertama di dunia kemungkinan besar akan terlihat di udara untuk terakhir kalinya menuju Bordeaux, momen yang pastinya ditunggu-tunggu oleh avgeek dan Airbus lovers di seluruh dunia; terutama yang bermukim di sekitar Hamburg dan Bordeaux untuk mengabadikan momen terakhirnya.

Selama ini Beluga nomor satu bisa dibilang terlampau sibuk untuk Airbus. Dalam setahun terakhir, pesawat tersebut telah menjajaki sekitar 458 penerbangan, dengan rata-rata 57,1 jam terbang per bulan.

Airbus, saat ini, diketahui sudah aktif didukung dua Beluga XL, yaitu XL2 dan XL3. Pesawat yang juga disebut A330-700L ini bergabung dengan Airbus Transport International pada Desember 2019, dan yang kedua bergabung dengan armada pada Oktober 2020.

Baca juga: Meski Jaya di Udara, Rupanya Airbus Andalkan Jalur Laut dalam Proses Perakitan Pesawat

Sedangkan Beluga XL pertama atau XL1 justru belum memasuki layanan karena satu dan lain hal. Tetapi progres pesawat yang diregistrasi sebagai F-GXLG dalam menyongsong tahun layanan sangat baik. Terakhir, pada 9 April, pesawat itu melakukan serangkaian uji terbang di Toulouse. Bukan tak mungkin, dalam waktu dekat, XL1 dapat memasuki layanan.

Begitu juga dengan XL4. Hanya saja, pesawat yang diregistrasi sebagai F-GXLJ ini belum melakukan uji terbang dan masih membutuhkan waktu lebih panjang dibanding XL1 untuk memasuki tahun layanan.

Demand Meningkat, MRT Jakarta Tambah Fasilitas untuk Pesepeda Non Lipat

Sejak diperkenalkan oleh MRT Jakarta pada pertengahan Maret 2021, layanan untuk pesepeda non lipat mulai marak dicoba oleh warga. Memang belum banyak yang menggunakannya, setiap hari rata-rata masih di angka puluhan pesepeda, namun, dari data yang dirilis MRT Jakarta, jumlahnya peminatnya terus meningkat, terutama pada saat akhir pekan.

Baca juga: Jelang Pembangunan Fase 2A, MRT Jakarta Pindahkan Sementara Tugu Jam Thamrin

Sebagai layanan baru yang mengintegrasikan wahana individual ke gerbong kereta, maka ada sejumlah hal yang dirasakan oleh pengguna jasa. Dari segi tarif, tentu tak ada masalah, lantaran akses pesepeda adalah gratis. Tapi lain dari itu, sejumlah masukan telah dilayangkan oleh pengguna jasa kepada MRT Jakarta.

Akses naik dan turun tangga ke lantai peron (platform) terbilang berat untuk mendorong sebuah sepeda lipat. Selama ini pihak MRT Jakarta, khususnya pada anak tangga di stasiun Lebak Bulus, Stasiun Blok M dan Stasiun Bundaran HI, telah dilengkapi dengan karpet coil plastik, yang tujuannya untuk menjaga permukaan anak tangga tidak licin. Untuk itu diharapkan adanya conveyor belt untuk membawa sepeda naik ke lantai atas.

Pihak MRT Jakarta dalam Forum Jurnalis April 2021, menyebut nantinya akan menghadirkan akses pesepeda dengan conveyor belt di anak tangga. Tidak itu saja, akses pesepeda akan dipermudah dengan cart khusus sepeda di fitur eskalator. Kemudian, elevator eksisting di stasiun juga akan dimaksimalkan kedepannya.

Pelayanan lebih kepada pesepeda non lipat rupanya akan terus berlanjut di fase 2A, dengan desain stasiun yang baru, nantinya di setiap stasiun akan dilengkapi tapping gate yang lebar dan disertai QR code, kemudian untuk keamanan, parkir sepeda dilengkapi sistem penguncian yang aman dan dilengkapi CCTV.

Baca juga: Ridership Meningkat, MRT Jakarta Hadirkan Kereta Khusus Pesepeda Non Lipat

Pesepeda masih akan dimanjakan, MRT Jakarta di fase 2A akan memberikan fasilitas shower dan loker. Tentunya selain membaw manfaat untuk pelanggan, MRT Jakarta juga dapat memaksimalkan pendapatan dari sektor non tarif.

Jelang Pembangunan Fase 2A, MRT Jakarta Pindahkan Sementara Tugu Jam Thamrin

Pada November 2021 akan dimulai pembangunan fase 2A MRT Jakarta yang terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pertama fase 2A yang meliputi jalur utama sepanjang sekitar 5,8 kilometer dengan enam stasiun bawah tanah (Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok) dan satu stasiun at grade (Kota). Kedua, fase 2B yang terdiri dari Stasiun Kota, Mangga Dua, Gunung Sahari, dan Ancol hingga Depo di Ancol Barat sekitar 5,2 kilometer. Fase 2B ini masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).

Baca juga: Tempuh Jalur 6 Km, Pekerjaaan Konstruksi MRT Jakarta Fase 2A Dimulai Maret 2020

Nah, yang menarik dari pembangunan jalur fase 2A adakah rencana MRT Jakarta untuk memindahkan posisi Tugu jam di Jalan MH. Thamrin. Dari paparan Forum Jurnalis April 2021, pihak MRT Jakarta akan melakukan pemindahan sementara dan pemugaran pada Menara Jam Thamrin Dikatakan, pengerjaan fase 2A akan lebih kompleks dibandingkan pembangunan fase 1, pasalnya di fase 2A ada isu cagar budaya dan temuan arkeologi di lokasi konstruksi, salah satunya adalah keberadaan Menara Jam Thamrin.

Sebagai bagian dari cagar budaya yang dimiliki oleh Pemprov DKI Jakarta, kondisi Tugu Jam Thamrin kini masih berfungsi dengan baik dan terawat. Bahkan, bagian bawah menara ini masih digunakan sebagai pos Polisi. Dengan mengantongi izin prinsip dari Gubernur DKI, pihak MRT Jakarta pada Maret 2020 telah melakukan pemeriksaan pada Menara Jam Thamrin, yang mencakup detail konstruksi serta material pada
kanopi, dinding, perangkat mesin jam, dan kondisi lingkungan sekitar Tugu Jam.

Dari hasil pemeriksaan, terutama dengan ekskavasi arkeologi sedalam 90 cm, tidak ditemukan struktur atau temuan arkeologis yang signifikan. Dan, guna menjamin kelancaran dan keamanan selama pengerjaan konstruksi MRT Jakarta fase 2A, maka diperlukan relokasi sementara pada Menara Jam Thamrin.

Rencananya, Tugu Jam Thamrin akan dipotong menjadi tiga bagian saat proses pemindahan sementara. Dengan bagian pertama adalah puncak atau rumah jam, lalu bagian kedua adalah badan tugu yang memiliki kanopi, dan bagian ketiga adalah bagian kaki atau lokasi yang saat ini berfungsi sebagai pos polisi.

Pada proses pemindahan, dan penyimpanan Tugu Jam Thamrin akan diberikan penahan berupa bracing baja untuk menjaga kestabilan struktur selama disimpan. Tugu Jam Thamrin akan disimpan sementara di kawasan Monumen Nasional (Monas) dengan tetap memperhatikan aspek pelestarian dan pengamanannya, dan akan dikembalikan pada lokasi asalnya dalam kondisi yang lebih baik setelah pekerjaan konstruksi paket kontrak 201 selesai.

Baca juga: Gagal Beberapa Kali Tender, Proyek MRT Jakarta Fase 2 Digarap Siapa?

Pemasangan kembali Tugu Jam Thamrin dilakukan dengan skema penyambungan tulangan kolom menggunakan teknik sambungan mekanikal menggunakan sistem injeksi grout. Sistem injeksi grout atau grouting adalah pekerjaan untuk injeksi bahan cair kedalam beton.

Belajar dari Kecelakaan Korean Air 8509, Perlukah Indonesia Larang Pilot AU Jadi Pilot Sipil?

Jangan tunggu pesawat kecelakaan untuk mengubah aturan dan kebijakan. Sebab, akan ada harga mahal yang harus dibayar untuk itu; entah puluhan nyawa melayang, miliran sampai triliunan rupiah lenyap, dan kepedihan mendalam keluarga korban saat terjadi kecelakaan pesawat.

Baca juga: Hari Ini, Kecelakaan Garuda Indonesia Flight 200 Akhirnya Antarkan Pilot ‘Arogan’ Pertama ke Penjara

Sejak era penerbangan hadir lewat kapal udara Zeppelin sampai era pesawat jet muncul, ratusan atau mungkin ribuan kecelakaan terjadi. Di antaranya, kecelakaan pesawat Boeing 747-200F Korean Air Cargo dengan nomor penerbangan 8509 di Bandara London Stansted, Inggris, tak lama setelah lepas landas.

Dilansir BBC International, pada tanggal 22 Desember 1999, pesawat tujuan Bandara Malpensa, Milan, Italia itu diketahui jatuh di hutan sekitar bandara akibat kesalahan pilot. Hasil investigasi dari black box menunjukkan, Korean Air Cargo flight 8509 jatuh akibat kesalah pilot.

Tak lama setelah lepas landas dan mencapai ketinggian 900 kaki, pilot hendak membelokkan pesawat ke 1,5 Distance Measuring Equipment (DME). Tetapi, indikator DME pilot tak berubah. Padahal pesawat sudah dibelokkan ke kiri. Itu kemudian diperparah dengan malfungsinya Attitude Director Indicator (ADI) milik pilot Kapten Park Duk-kyu (57 tahun). Padahal pesawat sungguh telah berbelok ke kiri.

Celakanya, kopilot Yoon Ki-sik (33 tahun) yang DME dan ADI berfungsi normal hanya diam saja. Ia sungkan untuk memberitahu Park Duk, yang mantan pilot Angkatan Udara Republik Korea dengan pangkat terakhir kolonel dan memiliki jam terbang total 13.490, serta 8.495 di antaranya diakumulasi menerbangkan Boeing 747. Jauh dibanding dirinya yang hanya memiliki total 1.406 jam terbang dengan 195 jam terbang di Boeing 747 di antaranya.

Sebetulnya, flight engineer Park Hoon-kyu (38 tahun) dengan 8.300 jam terbang sudah mengingatkan dengan berteriak, “Bank, bank,” agar memperhatikan manuver pesawat. Adapun maintenance mekanik Kim Il-suk (45 tahun) hanya menyimak saja. Namun, kapten pilot Park tak menggubris peringatan itu, termasuk juga terhadap compartor alarm di kokpit.

Ketika itu, pilot memang tak bisa mengecek true visual karena penerbangan dilakukan malam hari. Tetapi, ia seharusnya tidak mengabaikan bunyi comparator alarm dan peringatan dari first engineer terhadap left bank attitude. Alih-alih melakukan hal itu, ia justru memerintahkan kopilot untuk mendapatkan radar vector. Tak lama berselang flight engineer kembali mengingatkan left bank attitude. Namun, itu tak cukup waktu dan pesawat menghantam daratan.

Atas insiden itu, Cabang Investigasi Kecelakaan Udara (AAIB) Inggris mengeluarkan rekomendasi kepada Korean Air agar melarang pilot milliter menjadi pilot sipil dan itu diamini oleh maskapai.

Dalam kejadian ini, eks pilot militer kapten Park dianggap menganggap remeh masukan dari yang lain dan sebaliknya berlaku angkuh saat menerbangkan pesawat. Selain itu, jabatan terakhirnya sebagai kolonel dan senioritas (tertua di antara tiga kru lainnya) serta pengalamannya membuat kopilot segan menegur atau mengingatkan kapten.

Kejadian serupa memang belum pernah terjadi di Indonesia. Namun, ini menjadi sebuah bom waktu bila tak ada perhatian khusus. Peralihan dari pilot TNI Angkatan Udara ke pilot sipil memang sudah jadi rahasia umum di Indonesia. Setelah 10 tahun, pilot biasanya diberi keleluasaan untuk terus berkarir sebagai pilot TNI AU atau menjajal tantangan baru sebagai pilot sipil.

Baca juga: Inilah Asal Mula Kata ‘Roger’ yang Kerap Diucapkan Pilot Sipil dan Militer

Teranyar, kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182, yang dipiloti mantan pilot AU, Capt. Ahwan, bukan tidak mungkin disebabkan oleh sosok berwibawa sang kapten di mata kopilot Diego Mamahit dengan pengalaman 1.400 jam terbang sehingga enggan untuk mengingatkannya.

Demikian juga kecelakaan lainnya yang melibatkan eks pilot TNI AU, terutama yang sudah terlampau senior dan memiliki pangkat terakhir cukup tinggi. Sekalipun data terkait itu sangat sedikit dan butuh riset mendalam untuk membuktikan gap antara pilot eks militer dengan pilot sipil, namun, tidak ada salahnya mengevaluasi program pilot TNI AU menjadi pilot sipil di sebuah maskapai.

Jadi Pelancong Luar Angkasa Pertama, Dennis Tito Rogoh Kocek $20 Juta

Melancong ke luar negeri adalah hal yang biasa dilakukan banyak orang di dunia. Namun bagaimana jika ke luar angkasa? Hal ini sudah menjadi nyata dan dilakukan oleh seorang insinyur yang juga pengusaha asal Amerika Serikat.

Baca juga: Lihat Banyak Tempat Indah dari Luar Angkasa, Astronot Juga Butuh Liburan

Dennis Anthony Tito, yang adalah pelancong pertama antariksa dan mendanani perjalanannya sendiri ke luar angkasa. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Tito bisa menjadi pelancong ke luar angkasa karena ketertarikannya pada ruang angkasa.

Saat itu, MirCorp dalam proyek pertamanya membuat Tito diterima Badan Antariksa Federal Rusia sebagai kandidat untuk penerbangan luar angkasa komersial. Tito kemudian mendapat kritik dari NASA sebelum peluncuran terutama dari Daniel Goldin yang menjadi administrator NASA.

Daniel menganggap tidak pantas ada pelancong komersial ke luar angkasa. Meski begitu MirCorp, Daniel dan Tito diprofilkan dalam film dokumenter Orpahns of Appolo  dan ketika Tito tiba di di Johnson Space Center untuk pelatihan di ISS bagian Amerika, Robert D Cabana yang merupakan manajer NASA mengirim Tito dan dua rekan kosmonot lainnya pulang.

“Kami tidak dapat memulai pelatihan karena kami tidak bersedia berlatih dengan Dennis Tito,” ujar Robert.

Meski ditolak, akhirnya Tito bergabung dengan misi Soyuz TM-32 pada 28 April 2001 lalu setelah ada kesepakatan dengan perusahaan pariwisata luar angkasa Space Adventures, Ltd. Pesawat Soyuz tersebut akhirnya berlabuh di Stasiun Luar Angkasa Internasional dan Tito beserta rekan kosmonotnya menghabiskan tujuh hari 22 jam dan empat menit di luar angkasa yang mengorbit Bumi 128 kali.

Dalam perjalanannya tersebut, Tito melakukan beberapa eksperimen ilmiah di orbit yang menurutnya akan berguna bagi perusahaan dan bisnisnya. Dalam perjalanannya tersebut, dia menghabiskan dana sekitar $20 juta.

Setelah hampir delapan hari, Tito beserta rekan kosmonot lainnya tiba di Bumi dengan mulus menggunakan Soyuz Rusia sesuai waktu yang direncanakan. Sehak kembali dari luar angkasa, Tito bersaksi di Komite Senat untuk Perdagangan, Sains & Transportasi dan berbagai komite sains lainnya untuk sidang Bersama Luar Angkasa & Aeronautika tentang “Penerbangan Antariksa Manusia Komersial” pada 24 Juli 2003.

Kemudian pada tahun 2013, Tito mengumumkan niatnya untuk mengirim penerbangan luar angkasa yang dibiayai secara pribadi ke Mars pada tahun 2017 dan menyatakan bahwa teknologinya sudah ada. Dia juga menyatakan bahwa masalah yang perlu diatasi hanyalah persyaratan dari ketelitian 501 yang adalah perjalanan sehari pada tingkat psikologis dan fisik untuk kru manusia.

Baca juga: Hari ini, 17 Tahun Lalu, Wahana Roket Cina Shenzhou 5 Berhasil Terbangkan Astronot Pertama

Namun nyatanya pada November 2013, Tito dan anggota tim Inspirasi Mars lainnya mengakui bahwa rencana mereka tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan dan pendanaan yang signifikan dari NASA.

Terbang Lagi, Mahan Air Jadi Satu-satunya di Dunia Maskapai Komersial yang Operasikan Boeing 747-300

Mahan Air resmi menjadi satu-satunya maskapai komersial di dunia yang mengoperasikan pesawat ikonik Boeing 747-300. Kepastian itu didapat setelah Queen of the Skiesnya, yang berusia 35 tahun dan telah lima tahun ‘mati suri’ atau di-grounded, diizinkan kembali mengudara pasca maintenance berkepanjangan.

Baca juga: Boeing 747-300SR, Pesawat Jumbo Langka untuk Penerbangan Jarak Pendek

Lima tahun lebih yang lalu atau pada Oktober 2015, Boeing 747-300 Mahan Air EP-MNE menjalani tugas domestik dengan nomor penerbangan IRM1095 dari Bandara Internasional Mehrabad (THR) di Teheran ke Bandara Internasional Bandar Abbas (BND).

Ketika itu, yang pesawat membawa 19 kru dan 422 penumpang itu, nampak baik-baik saja saat taxiing sampai berhasil lepas landas. Tetapi, tak lama setelahnya, mesin nomor tiga mengalami kerusakan dan casingnya lepas dan merusak mesin nomor empat serta badan pesawat.

Pilot akhirnya berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat di Bandara Internasional Mehrabad kurang dari 40 menit setelah lepas landas. Sejak saat itu, pesawat dilarang terbang sampai diizinkan kembali pada 14 April tahun ini.

Laporan Sam Chui yang dikutip Simple Flying, setelah maintenance panjang dan memindahkan dua mesin Boeing 747-300 EP-MND Mahan Air ke Boeing 747-300 EP-MNE, serta melalui proses C-check yang cukup berat, pesawat penumpang tertua di dunia yang masih beroperasi itu akhirnya kembali melayani rute domestik di Iran.

Kendati registrasi pesawat belum muncul di data penerbangan, Mahan Air telah menjadwalkan Boeing 747-300 ikoniknya untuk penerbangan reguler 1 jam 30 menit dari THR ke Bandara International Kish (KIH), Kish Island, Iran mulai 29 April.

Saat ini, Mahan Air mengoperasikan pesawat tua lainnya yang sudah berusia 30 tahunan, Airbus A310, untuk rute tersebut. Tak disebutkan dengan jelas kehadiran Boeing 747-300 EP-MNE akan menggeser posisi A310 di rute tersebut atau tidak.

Dari berbagai sumber yang dihimpun, pesawat Boeing 747 Queen of the Skies, dalam hal ini varian penumpang, memang semakin langka seiring banyaknya maskapai di dunia yang mempensiunkannya. Dari lima varian penumpang, mulai dari B747-100, B747SP atau Special Performance (modifikasi dari B747-100 untuk penerbangan ultra jarak jauh), B747-200, B747-300, hingga B747-400, hanya tersisa 84 di dunia.

Baca juga: Maskapai Mana yang Paling Lama Operasikan Boeing 747?

Tentu, dari jumlah tersebut, tak seluruhnya aktif mengudara. Masih banyak dari mereka yang digrounded berkepanjangan. Dari kelima tipe di atas, B747-400 menjadi yang terbanyak dengan 54 pesawat. Disusul B747-200 dengan 20 unit, B747SP lima unit, B747-300 empat unit, dan B747-100 satu unit.

B747-100 dan B747SP tak satupun diterbangkan maskapai komersial. Begitu juga dengan Boeing 747-300. Dari empat unit tersisa di dunia, satu dioperasikan oleh Pemerintah Arab Saudi dan satu lainnya oleh maskapai kargo asal Belarusia, Transaviaexport Cargo Airline. Adapun Mahan Air mempunyai dua sisanya, dimana Boeing 747-300 EP-MNE yang dioperasikan.

Airbus Uji Coba Fitur Kendali Otonom pada Helikopter

Ada kabar terbaru dari Airbus, kali ini bukan tentang pesawat, melainkan dari divisi helikopter di Marignane, Perancis, yang mewartakan telah melakukan pengujian fitur otonom pada helikopter uji Flightlab. Uji coba fitur otonom helikopter ini masuk ke dalam program Vertex yang menggunakan wahana berupa helikopter H120 Colibri.

Baca juga: Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Vertex dikelola oleh Airbus UpNext, anak perusahaan Airbus yang dihadirkan untuk memberikan teknologi masa depan dengan pengembangan yang cepat dengan membangun demonstran pada kecepatan dan skala, mengevaluasi, mematangkan, dan memvalidasi produk dan layanan baru yang mencakup terobosan teknologi secara radikal.

Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (26/4/2021), disebutkan uji coba fitur otonom ini bertujuan untuk menyederhanakan persiapan dan manajemen misi, mengurangi beban kerja pilot helikopter, dan lebih meningkatkan keselamatan. Beragam sensor dibenamkan pada Fligtlab, seperti vision based sensors and algorithms untuk kesadaran situasional dan deteksi rintangan, kemudian ada fly-by-wire untuk auto-pilot dengan kemampuan yang ditingkatkan dan sistem antarmuka manusia-mesin yang canggih (advanced human machine interface) – ini diwujudkan dalam bentuk layar sentuh dan tampilan yang dikenakan di helm pilot untuk pemantauan dan kendali selama penerbangan.

Kombinasi beragam sensor di atas memungkinkan sistem yang dapat mengelola navigasi dan persiapan rute, lepas landas dan pendaratan otomatis, serta mengikuti jalur penerbangan yang telah ditentukan sebelumnya. Integrasi tambahan dari teknologi ini ke helikopter Flightlab telah dimulai sebelum demonstrasi lengkap yanga akan dilakukan pada tahun 2023.