Ketika Fly by Wire Dianggap Usang, Teknologi Fiber Optic “Fly by Light” Siap Gantikan Sistem Kendali Pesawat

Di awal kemunculannya, fly by wire digambarkan sebagai teknologi canggih yang wajib ada di setiap pesawat. Bahkan, tak sedikit kalangan yang menganggap, bahwa pesawat tanpa dibekali teknologi fly by wire merupakan pesawat usang. Andakah salah satunya?

Baca juga: Kerap Jadi Bahan Pertanyaan, Apa Perbedaan Antara Fly by Wire dan Hydraulic System di Pesawat?

Fly by Wire (FBW) sendiri merupakan sebuah sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah kendali pesawat. Teknologi ini disebut pertama kali ditemukan oleh Presiden Ketiga Indonesia, BJ Habibie. Fly by wire hadir untuk menggantikan sistem hidrolik (Hydraulic Power System) yang dianggap sudah usang.

Fly by wire pertama kali digunakan pada pesawat F-8 Crusader milik Nasa pada tahun 1972. Setelahnya Sukhoi T-4 juga menggunakan sistem kendali tersebut. Beberapa waktu kemudian pesawat tempur jenis Hawker Hunter menggunakan FBW di bangku kanan. Namun pada bangku kiri untuk pilot penyelamat, Hawker Hunter menggunakan sistem kendali konvensional dengan saklar FBW.

Untuk pertama kalinya Airbus A320 menjadi pesawat penumpang yang menggunakan sistem FBW digital pada tahun 1984. Sementara itu, pesawat N250 Gatotkaca dan Dassault Falcon 7X masing-masing menjadi pesawat turboprop serta jet bisnis pertama yang dilengkapi sistem kendali FBW digital pada tahun 1995 dan 2005.

Seiring perkembangan teknologi, perlahan tapi pasti, teknologi fly by wire mulai dianggap usang dengan kehadiran teknologi serat optik (fiber optic). Teknologi serat optik menawarkan banyak keunggulan dibandingkan teknologi konvensional ataupun teknologi digital generasi pertama di penerbangan seperti fly by wire. Teknologi serat optik dipandang sebagai generasi berikutnya dalam sistem kontrol penerbangan.

Dalam sebuah paper karya Tonoy Chowdhury dari University of North Texas yang dilihat KabarPenumpang.com menyebut, teknologi fiber optic pada tahun 2017 lalu sudah mulai diimplementasikan di pesawat, dengan istilah Fly by Light (FBL).

Guna mendongkrak konsep fly by light, program Fly-By-Light Systems Hardware (FLASH) selama lebih dari 20 tahun lalu diluncurkan oleh berbagai instansi industri dirgantara dunia, dengan dimotori oleh NASA, Pentagon, serta pemasok bagian-bagian pesawat, mulai dari mesin, badan pesawat, dan bagian lainnya. Hal ini diharapkan dapat membuka jalan bagi implementasi FBL yang lebih efektif pada pesawat terbang dengan menggunakan Neural Network Technology.

Cara kerja fly by light sebetulnya hampir mirip dengan fly by wire. Hanya saja, semua sensor yang digunakan merupakan sensor optik, bukan elektronik ataupun listrik. Dalam jenis sistem kontrol ini (FBL), sinyal perintah dikirim ke aktuator melalui media dari garis serat optik. Feedback dari sistem kontrol dan sistem lain diarahkan dengan cara yang sama (ke aktuator). Komputer kemudian memberikan data untuk pergerakan kendali control pesawat melalui kabel ini.

Sederet keunggulan FBL dibanding FBW termasuk kekebalan terhadap gangguan elektromagnetik (EMI) dan High Intensity Radiated Field (HIRF), bandwidth data yang lebih besar, ringan, dan membutuhkan lebih sedikit perawatan, serta lebih tahan terhadap elektromagnetik impuls daripada sistem FBW konvensional. Teknologi FBL tidak menggunakan kabel dan secara alami tahan gangguan elektromagnetik.

Baca juga: Yoke Boeing Vs Side Stick Airbus, Mana Sistem Kemudi yang Lebih Unggul?

EMI atau gangguan elektronik cukup berbahaya mengingat dapat menyebabkan kinerja peralatan avionik menurun atau bahkan malfungsi. Selain itu, EMI juga dapat mempengaruhi radio kokpit dan sinyal radar, mengganggu komunikasi antara pilot dan menara control.

Sama halnya dengan EMI, HIRF juga berbahaya mengingat dapat mempengaruhi sistem elektronik dan digital di pesawat, menyebabkan sistem menjadi malfungsi. EMI dan HIRF bisa disebabkan banyak hal, seperti awan cumulonimbus, kristal es, petir, dan lain sebagainya. Beruntung, semua itu bisa teratasi dengan FBL, sekalipun masih perlu kajian dan butuh waktu untuk bisa benar-benar diimplementasikan di pesawat komersial secara massif.

Mengenal Terminal LCC, Apa Bedanya dengan Terminal Full Service?

Mei 2019 lalu, Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta mulai beroperasi sebagai Low Cost Carrier Terminal (LCCT) yang khusus melayani penerbangan internasional, demikian juga dengan Terminal 2E dan Terminal 1 yang beroperasi sebagai LCCT.

Baca juga: Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta Kini Khusus untuk Penerbangan Berbiaya Murah

LCCT dianggap sebagai sebuah keniscayaan dalam mendukung potensi pariwisata nasional. Selain itu, jumlah penumpang Low Cost Carriers (LCC) di dunia juga tumbuh 55 persen per tahun. Di Indonesia sendiri penumpang LCC tumbuh sekitar 12 persen per tahun. Jumlah tersebut dirasa belum cukup dan ditargetkan mampu mencapai tumbuh 20 persen di tahun-tahun mendatang.

Namun, terlepas dari motif dibentuknya LCCT, sebetulnya, adakah perbedaan antara terminal LCC dengan terminal full service? Guna menjawab pertanyaan tersebut, mungkin bisa dimulai dari airport tax atau Passanger Service Charge (PSC) atau biasa juga disebut Pungutan Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U).

Dilansir dari online-pajak.com, airport tax adalah biaya atas pelayanan penumpang pesawat yang menggunakan bandar udara, terhitung sejak memasuki beranda (Curb) keberangkatan hingga beranda kedatangan penumpang. Airport tax dikenakan kepada penumpang karena penumpang ikut memanfaatkan jasa-jasa pelayanan dan penggunaan fasilitas yang tersedia di bandara tersebut.

Pada Maret 2015, pungutan airport tax atau Passanger Service Charge (PSC) telah disatukan dengan tiket pesawat. Besaran airport tax yang dipungut Badan Usaha Angkutan Udara (BUAU) sudah dicantumkan dalam tiket penerbangan yang dijual maskapai.

Sejak saat itu, penumpang pesawat tidak perlu lagi membayar airport tax secara terpisah saat melakukan check in penerbangan di bandara karena tiket pesawat yang dibayarkan sudah termasuk airport tax. Hal tersebut tentu saja akan memberikan kemudahan dan efisiensi waktu kepada penumpang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Airport tax bisa berdampak langsung terhadap tiket. Sebab, biaya airport tax oleh penumpang digunakan untuk berbagai hal, mulai dari meningkatkan fasilitas umum, biaya asuransi pengunjung bandara, biaya perawatan bandara, hingga peningkatan kualitas SDM pengelola bandara. Oleh karena itu, sebelum adanya terminal LCC, setiap penumpang dipatok membayar airport tax dengan harga tinggi, sejalan dengan fasilitas berbagai benefit yang didapat.

Dengan adanya terminal LCC, otomatis, biaya airport tax yang dibayar masing-masing penumpang bakal dibedakan dengan terminal full service. Begitu juga dengan fasilitas yang didapat, layaknya maskapai penerbangan full service dan LCC yang juga memiliki perbedaan layanan, baik di darat atau saat di lounge maupun ketika on board.

Sebagai contoh, usai mengalami kenaikan pada Maret 2018 lalu sebesar 15-40 persen, airport tax LCC terminal 1 30 persen naik dari Rp50.000 per penumpang menjadi Rp65.000per penumpang. Untuk airport tax terminal 2 naik 40 persen dari Rp60.000per penumpang menjadi Rp85.000 per penumpang. Adapun tarif airport tax untuk terminal 3, yang notabene full service, naik15 persen dari Rp200.000per penumpang menjadi Rp230.000per penumpang. Jauh lebih mahal, bukan?

Baca juga: Low Cost Carrier Terminal Akan Hadir di Terminal 1 dan 2 Bandara Soetta

Di dunia, sebaran LCCT juga semakin menyebar cepat, mengikuti perkembangan penumpang LCC, khususnya negara-negara tujuan wisatawan dunia, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Malaysia, Brasil, Amerika Serikat, Thailand, Cina, dan berbagai negara lainnya.

Inggris, Jerman, Perancis, dan Tokyo. Bahkan sampai menyediakan masing-masing tiga terminal LCC, saking membludaknya wisatawan. LCCT di Inggris tersedia di Bandara Gatwick, Bandara London Stansted, dan Bandara Luton. Perancis, LCCT hadir di Bandara Marseille, Lyon, dan Toulouse-Blagnac. Jerman, LCCT hadir di Cologne Bonn, Berlin Schönefeld, dan Bandara Frankfurt. Jepang, tersedia di Bandara Naha, Narita, dan Kansai.

Dulu Taksi Kondang dengan Cat Warna Kuning, Inilah Asal Muasalnya

Di awal dekade 70-an hingga 80-an, di Jakarta identik dengan kehadiran taksi berwarna kuning, dengan jenis sedan Toyota Corolla E20 yang dioperasikan President Taxi Dan sontak warna kuning pada taksi menjadi salah satu ciri khas saat itu, seolah menyamai identitas Yellow Can di New York. Bahkan sejarawan menyebutkan bahwa warna kuning adalah warna klasik untuk taksi.

Baca juga: Transport of London Inginkan Perusahaan Taksi Berbagi Data Untuk Keselamatan Penumpang

Sejatinya, penerapan warna kuning pada taksi ini diperlakukan sejak adanya aturan pertaksian tahun 1960-an. Namun ternyata taksi berwarna kuning justru sudah ada jauh sebelum itu. Dilansir KabarPenumpang.com dari timesofindia.indiatimes.com, taksi berwarna kuning berawal dari tahun 1907 silam, di mana seorang penjual mobil John Hertz melihat surplusnya dari mobil yang diperdagangkan. Kemudian dia memutuskan untuk memulai bisnis taksi.

Karena taksi sebagai angkutan umum harus menonjol, maka warna kuning akhirnya dipilih. Universitas Chicago kemudian membuat survei terkait warna taksi dan hasilnya menyimpulkan kuning adalah warna yang paling mudah dikenali. Chicago Yellow Cab Company milik Hertz adalah layanan taksi pertama yang menggunakan julukan yang sekarang sudah dikenal.

Bahkan, ketika pengusaha mendirikan Hertz Corporation pada 1953, logo barunya juga menggunakan warna kuning. Nah kalau di Indonesia taksi kuning ini bernama President taxi dan meluncur di jalanan Jakarta pada era 70 sampai 80-an. President Taxi sendiri hadir sebelum adanya taksi dengan kelir biru atau putih. Ketika melayani warga ibukota, taksi kuning Indonesia ini sempat menjadi yang terbaik di masanya.

Saking populernya, di masa kejayaanya, President Taxi sangat populer sebagai transportasi dan tersebar di berbagai penjuru. Namun, di era saat ini, taksi kuning itu hilang bak ditelan bumi dan sisa-sisanya pun nyaris tak terlihat oleh kawulamuda masa kini. Tak hanya itu, ada kemungkinan banyak orang yang sudah lupa bahwa di Indonesia pernah ada taksi berwarna kuning.

Salah satu hal yang membuat President Taxi tidak lagi ada dan beroperasi di jalanan ibu kota, argo yang diberikan oleh taksi kuning ini tidak sesuai dengan jarak tempuh perjalanan. ‘Argo kuda’ begitu sebutannya pada masa redupnya dan hilangnya si taksi kuning ini.

Baca juga: Hampir Hilang dari Peradaban, Black Cab Malah Pasang Stiker Visit Indonesia

Selain itu, pelayanan yang kurang baik juga menjadi salah satu faktor penyebab President Taxi kalah saing dengan pamor taksi-taksi lainnya. Sayangnya, sampai saat ini, tidak jelas kenapa President Taxi memilih warna kuning sebagai warna armadanya.

Intip Teleskop Terbang Terbesar di Dunia Boeing 747 NASA

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dikenal memiliki banyak teleskop antariksa canggih. Mulai dari Kepler, Hubble, Wide-Field Infrared Survey Telescope (WFIRST), dan berbagai teleskop antariksa lainnya. Namun, dari sederet teleskop antariksa canggih NASA, tak banyak berupa teleskop yang disematkan di dalam sebuah pesawat.

Baca juga: Mengulang 45 Tahun Lalu, Dua Astronaut NASA Mendarat di Laut dengan Kapsul SpaceX

Dilihat KabarPenumpang.com dari laman resmi NASA, teleskop pesawat pertama lembaga tersebut yang bernama learjet muncul pada 1968, disusul KAO pada 1975. Setelah keduanya pensiun, NASA meluncurkan Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA) pada 2009 lalu.

Proyek yang terwujud atas kerjasama NASA-German Aerospace Center (DLR), dengan skema kemitraan 80-20 persen ini, memilih Boeing 747 sebagai pesawat pembawa teleskop SOFIA. Sebelum dirombak total NASA untuk kebutuhan penelitian, pesawat dengan nomor registrasi N747NA ini, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, pertama kali dioperasikan oleh maskapai legendaris Pan Am pada 1977.

Pesawat berumur 44 tahun itu kemudian berpindah ke tangan United Airlines pada 1986, dan akhirnya dimiliki oleh NASA pada 1997. Di tangan NASA, pesawat Boeing 747SP menjalani perombakan besar-besaran untuk kebutuhan proyek penelitian luar angkasa.

Setelah tertunda sekian lama akibat terkendala biaya dan teknologi, pesawat akhirnya melakukan uji terbang perdana pada 2009. Kala itu, untuk pertama kalinya, teleskop SOFIA Boeing 747SP NASA- German Aerospace Center atau Badan Antariksa Jerman berhasil terbuka. Pada 26 Mei 2010, SOFIA Boeing 747SP resmi memulai operasional perdana dengan mengembalikan citra pertama tata surya.

Teleskop SOFIA Boeing 747SP punya misi berat. Pesawat teleskop ini didapuk untuk memotret inframerah di tata surya. Itu mengapa teleskop SOFIA disematkan pada pesawat, bukan diletakkan di daratan layaknya teleskop lain. Dengan meletakkan teleskop di pesawat, yang notabene terbang pada ketinggian 38.000 dan 45.000 kaki, SOFIA Boeing 747SP dimungkinkan untuk beroperasi secara maskimal dikarenakan teleskop berada di atas atmosfer penghambat inframerah bumi.

Teleskop terbesar di dunia yang dipasang di pesawat ini biasanya beroperasi sampai 10 jam dalam sehari, selama 100 kali dalam setahun. Cara kerjanya, bagian belakang sebelah kiri pesawat terbuka dan teleskop mulai bekerja mengamati gelombang inframerah di luar angkasa. Dalam prosesnya, teleskop dibantu oleh berbagai kamera canggih, spektrometer, dan polarimeter.

Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Secara umum, teleskop pesawat NASA menjalankan misi luar angkasa di Armstrong Flight Research Center di Bandara Regional Palmdale, California, mewakili wilayah Utara bumi. Untuk bagian Selatan, pesawat akan menjalankan misi di Bandaa Internasional Christchurch, Selandia Baru untuk observasi langit belahan Bumi Selatan. Di Selandia Baru, SOFIA Boeing 747SP biasanya beroperasi selama dua bulan.

Di antara berbagai jasa teleskop pesawat NASA, temuan oksigen di atmosfer Mars dan mempelajari atmosfer Pluto mungkin jadi yang paling berharga.

Qatar Airways Tambah Karyawan dan Rute Saat Maskapai Lain Tiarap, Ini Alasannya

Pandemi virus Corona membuat banyak maskapai kesulitan keuangan. Garuda Indonesia tercatat harus merestrukturisasi utang. Maskapai lain seperti Avianca, FlyBe, Thai Airways, XpressAir, hingga LATAM Airlines bahkan lebih buruk. Mereka sudah dinyatakan bangkrut sekalipun di antaranya masih berusaha untuk bangkit.

Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Bagi yang tidak bangkrut, PHK sudah pasti terjadi, baik dalam skala kecil ataupun secara besar-besaran. Grup Lufthansa diketahui sampai kehilangan puluhan ribu karyawan. Dari sekitar 136.966 tahun lalu, saat ini menjadi hanya 10 ribu dan itupun masih akan di-PHK lagi.

Begitu juga dengan maskapai lain. Celakanya, itu terus berlangsung sampai saat ini, saat program vaksinasi di seluruh dunia gencar dilakukan; tetapi tidak demikian dengan Qatar Airways.

The Wall Street Journal melaporkan, Qatar Airways justru terus menambah rute-rute baru, menambah karyawan, dan terus terbang di rute sepi tanpa gentar dan tentu saja tak takut merugi, baik rute jauh maupun dekat. Dalam 12 bulan terakhir, data OAG menyebut, Qatar Airways telah menerbangkan lebih banyak jumlah kursi dibanding maskapai lain di seluruh dunia.

Saking gencarnya, maskapai asal Qatar itu bahkan berhasil menyingkirkan pesaing terberatnya dari Uni Emirat Arab, Emirates, sebagai maskapai penerbangan jarak jauh terbesar di dunia. Qatar tercatat terbang 13 persen lebih banyak dibanding Emirates.

Terlepas dari gengsi untuk berada di atas Emirates, pastinya, secara bisnis, Qatar Airways tetap mempunyai perhitungan dan strategi tersendiri yang melatarbelakangi langkah di atas. Apa saja?

CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker, pernah mengatakan, prinsipnya, dibalik keengganan banyak orang untuk berlibur, pasti selalu ada orang-orang yang tetap ingin berlibur atau bepergian. Singkatnya, Qatar Airways ingin mengeruk seluruh potensi yang ada. Itulah salah satu yang mendasari maskapai untuk terus terbang dan menambah rute sekalipun sepi.

Percaya atau tidak, prinsip itu ternyata berhasil. Di empat bulan pertama pandemi virus Corona, Qatar mengangkut sekitar 3,2 juta penumpang dan menambah koneksi baru ke San Francisco, Brisbane di Australia, Abidjan di Pantai Gading dan Accra, ibu kota Ghana.

Buah manis dari strategi tersebut juga menghasilkan pangsa pasar yang lebih besar di Amerika Utara, sekalipun Emirates sudah lebih dahulu melakoninya. Di Seattle, AS, misalnya, Qatar Airways meraup pangsa pasar sebesar 22,3 persen lalu lintas penumpang dari Asia, berbanding 16,7 milik Emirates.

Di Australia, Qatar mempertahankan 145 penerbangan dibanding 118 penerbangan ke sana oleh Emirates. Hasilnya, pangsa pasar dari 3,6 persen naik signifikan menjadi 16,2 persen tahun ini.

Selain secara prinsip dan strategi, dukungan Qatar sebagai salah satu negara terkaya di dunia juga menjadi kunci sukses Qatar Airways memanfaatkan momentum ini. Qatar ingin meningkatkan pariwisata negara sebelum perhelatan Piala Dunia 2022 digelar di negara tersebut.

Baca juga: Qatar Airways Raih Bintang 5 Keselamatan Maskapai untuk Covid-19 dari Skytrax

Itu hanya mungkin terwujud bila Qatar Airways, sebagai satu-satunya maskapai andalan, terus terbang dan menambah rute baru, untuk menghubungkan dunia luar dengan Qatar.

Bila kondisi ini terus berlangsung, dan di saat yang bersamaan, maskapai lain lamban untuk bangkit, bukan tak mungkin Qatar Airways meraup lebih banyak pangsa pasar internasional dibanding Emirates, Singapore Airlines, dan Turkish Airlines. Utamanya, pangsa pasar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara; didukung Bandara Internasional Hamad sebagai hub terbesar di Timur Tengah dan dunia berkat posisi strategisnya antara Asia dan Eropa.

Boeing Terlibat Masalah dengan Kontraktor, Jadwal Penyelesaian Air Force One Terancam Molor

Bagi negara sekaliber Amerika Serikat, keberadaan pesawat Kepresidenan bukan sebatas simbol kehormatan negara, lebih dari itu, pesawat Kepresidenan yang kondang disebut “Air Force One” berperan sebagai wahana komando dan kendali peperangan. Dengan seabreg fitur canggihnya, Air Force One yang membawa Presiden AS juga menyertakan kemampuan komunikasi dan kendali pada aktivasi persenjataan nuklir. Maklum, bila situasi genting, Presiden diharuskan dapat mengambil keputusan dimana dan kapan saja, termasuk saat berada di dalam pesawat udara.

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Wahana Air Force One yang ada saat ini, yaitu Boeing VC-25, faktanya digunakan sejak tahun 1990 dan mengambil platform pesawat komersial Boeing 747-200 yang telah uzur. Gedung Putih pun telah menetapkan penggantian Air Force One, yang kemudian terpilihkah Boeing untuk menggarap Air Force One generasi baru yang akan dibangun daro platform Boeing 747-800.

Rupanya penggarapan Air Force One generasi baru tidak berjalan mulus. Sejak tender Air Force Onee anyar dimenangkan Boeing pada tiga tahun lalu, maka Boeing telah menunjuk (sub kontrak) GDC Technics untuk merancang dan memproduksi dua unit Air Force One, dengan nilai mencapai US$3,9 miliar. Tapi kontrak itu tak berjalan semestinya, sebagai buktinya, pada 7 April 2021, pihak Boeing telah membatalkan kontraknya kepada GDC Technics.

Dikutip dari simple Flying, disebutkan selain membatalkan kontrak, Boeing juga akan melakukan gugatan kepada GDC Technics. Boeing berpendapat, kontrak dibatalkan karena GDC Technics terlambat 12 bulan dari jadwal penyelesaian. Namun, GDC Technics segera merespon, yang menyebut bahwa Boeing sengaja menjadikan GDC sebagai kambing hitam. Pihak GDC Technics menuduh bahwa Boeing telah salah mengelola program, yang menyebabkan penundaan dan mengakibatkan PHK pada 200 karyawan.

GDC Technics berdalih, justru Boeing yang telah telat membayar dana US$20 juta untuk pembayaran awal, dan berujung pada tekanan keuangan pada GDC Technics. Atas keterlambatan program Air Force One, maka jadwal proyek akan diperbaharui. Belum diketahui, apakah nantinya Boeing akan menunjuk kembali GDC Technics atau perusahaan lain.

Baca juga: Keanehan Dibalik Momen Trump Tumpangi Air Force One untuk Terakhir Kalinya

GDC Technics selama ini dikenal sebagai perusahaan asal Texas yang banyak melayani modifikasi sistem dan interior pada pesawat VVIP. Saat ini, GDC Technics tengah menggarap modifikasi Boeing 777-300 sebagai pesawat Kepresidenan India.

Toilet Bandara di Cina Jadi Objek Wisata Baru Usai Ditemukan Fosil Berusia Ratusan Juta Tahun

Toilet Bandara Internasional Guiyang Longdongbao, Guizhou, Cina, mendadak ramai dikunjungi wisatawan. Itu terjadi usai ahli paleontologi terkenal dari Nanjing University’s School of Earth Sciences and Engineering, Shen Shuzhong, berbicara di corong media pemerintah, CCTV, tentang punahnya spesies utama dalam sejarah bumi.

Baca juga: Fosil Maroko Mengartikan Perjalanan Manusia Begitu Jauh

Menariknya, fosil dari spesies yang berusia ratusan juta tahun lalu itu secara tak sengaja ia temukan di wastafel toilet bandara tersebut.

“Anda bisa melihat pola putih pada bahan konstruksi wastafel. Pola-pola ini adalah fosil yang termasuk dalam kategori fosil brakiopoda yang berasal dari ratusan juta tahun yang lalu,” kata Shen.

“Pada saat itu saya memiliki dorongan untuk menjatuhkan mereka. Cangkang ini mengandung banyak rahasia masa lalu bumi, seperti lingkungan dan berapa suhu air laut saat itu,” tambahnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari South China Morning Post.

Usai viral di media sosial, pengelola bandara mengaku mendapat luar biasa banyak telepon dari penjuru negeri. Umumnya, mereka menanyakan bagaimana bisa fosil berada di situ dan pihak pengelola bandara, dalam hal ini diwakili oleh departemen propaganda, mengaku membelinya di toko bahan bangunan melalui kontraktor.

Berbagai ahli dari banyak universitas di Cina juga tak tinggal diam dan mencari tahu kebenaran fosil di toilet bandara Cina tersebut; salah satunya ialah seorang profesor geologi dari China University of Mining and Technology, Chen Shangbin.

Melalui foto-foto yang beredar di Weibo, ia mengira bahwa fosil toilet itu adalah stringocephalus yang terbentuk sekitar 300 juta tahun lalu.

Namun, setelah dicek oleh seorang ahli dari Geological Society of Jiangsu Province, Qian Maiping, fosil yang ditemukan di toilet bandara itu berasal dari spesies langka paraconchidium shiqianensis, berusia 439 juta tahun.

Keberadaan fosil bisa ditemukan karena tubuh makhluk purba yang tenggelam di dasar laut terkena proses alam sehingga muncul ke permukaan dan tersebar di berbagai dunia, salah satunya Guizhou.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Guizhou selama ini dikenal sebagai kerajaan makhluk purba karena banyak fosil yang ditemukan. Menariknya, para ahli mengkonfirmasi bahwa fosil yang ditemukan di Guizhou mayoritas adalah spesies purba.

Selain itu, menurut Liu Liang, pendiri Museum Sejarah Alam Batu Fujian, di antara fosil-fosil yang ditemukan, tak jarang berupa batu. Hanya saja, kontraktor bangunan tidak begitu menyukai motif corak-corak yang ada pada batu fosil karena mempengaruhi kekuatan dan kemurnian batu itu sendiri.

Dua Tahun Nganggur, Pesawat Terbesar di Dunia Stratolaunch Akhirnya Terbang Lagi

Stratolaunch, pesawat terbesar di dunia -jika diukur dari lebar sayap- akhirnya terbang kembali untuk kedua kalinya pada hari Kamis lalu, usai dua tahun nganggur atau pasca penerbangan perdana pada pertengahan April 2019 lalu.

Baca juga: Stratolaunch, Pesawat dengan Sayap Terlebar di Dunia Sukses Terbang Perdana

Dalam penerbangan kemarin, pesawat berjuluk The Roc yang dikembangkan oleh salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen, ini fokus persiapan untuk mengubah arah bisnisnya, dari semula sebagai kendaraan peluncur roket pembawa satelit orbit rendah, menjadi kendaraan peluncur untuk reusable hypersonic flight research vehicles atau kendaraan penelitian penerbangan hipersonik.

Dilansir Simple Flying, pesawat dengan nama resmi Scaled Composites Model 351 Stratolaunch ini, diketahui menjalani uji terbang untuk kedua kalinya di Mojave Air and Space Port di California, Amerika Serikat (AS), pada pukul 7.30 waktu setempat.

Dari data RadarBox, Stratolaunch terbang selama tiga jam, berkeliling di sekitar langit Gurun Mojave, dengan dikawal pesawat pendamping, Cessna Citation, sebelum akhirnya mendarat kembali di tempat yang sama.

Setelahnya, belum ada informasi lanjutan apapun mengenai hasil penerbangan tiga jam kemarin, dalam rangka persiapan untuk mengubah arah bisnis Stratolaunch usai berpindah kepemilikan.

Sepeninggal Allen pada 2018 lalu, Cerberus Capital Management tercatat sebagai pemilik baru Stratolaunch. Ketika itu, mereka langsung melakukan evaluasi sehingga muncullah ide untuk membawa pesawat dengan enam mesin Pratt & Whitney PW4056 yang diambil dari dua Boeing 747 itu ke bisnis peluncuran kendaraan penelitian hipersonik, sebuah pesawat yang setidaknya bisa melesat hingga Mach 5 atau lima kali kecepatan suara.

Sejak ide awal pembuatan pesawat terbesar ini tercetus antara Allen dengan pendiri Scaled Composites Burt Rutan pada tahun 2011, sudah ada setidaknya satu perusahaan yang tertarik menggunakan Stratolaunch untuk meluncurkan satelitnya.

Disebutkan, Stratolaunch mengumumkan kemitraannya dengan manufaktur kedirgantaraan dan pertahanan Amerika, Orbital ATK untuk mengantarkan roket Pegasus-XL-nya ke orbit pada tahun 2016 silam. Adapun tujuan dibalik kerja sama tersebut adalah untuk memberikan fleksibilitas bagi pelanggan yang ingin meluncurkan satelit kecil.

Usai Stratolaunch sukses terbang perdana pada April dua tahun lalu, kerjasama itu belum juga terealisasi sampai penerbangan kedua sukses dilakukan. Belum ada kejelasan apakah kerjasama tersebut akan tetap direalisasikan atau tidak.

Baca juga: (Video) Pertama Kalinya, Pesawat Ulang-Alik Buran Meluncur dari ‘Punggung’ Replika Antonov An-225 Mriya

Pesawat Stratolaunch merupakan pesawat dengan lebar sayap terbesar di dunia mencapai 117 meter, mengalahkan The Rutan Model 76 Voyager -yang juga buatan Scaled Composites dan diakuisisi oleh Northrop Grumman- dengan bentang sayap mencapai 33 meter, serta Hughes H-4 Hercules mencapai 20 meter.

Pesawat ini memiliki dua fuselage atau badan yang terpisah. Masing-masing fuselage dilengkapi dengan enam roda pendaratan atau total 12 landing gear serta tiga mesin Boeing 747 atau total enam mesin. Pilot, kopilot, dan flight engineer berada di kokpit badan pesawat sebelah kanan. Sedangkan badan pesawat di sisi kiri tidak ditempati kru melainkan berfungsi sebagai ruang penyimpanan untuk peralatan khusus.

Solutif, Airbus Tawarkan Maskapai Sulap Kabin Pesawat A330 Jadi Kargo Sementara

Menyadari anjloknya industri penerbangan global akibat pandemi Covid-19, Airbus coba memberikan solusi ke maskapai di seluruh dunia. Melalui program modifikasi keluarga pesawat A330 bersama LHT, Airbus akan menyulap kabin penumpang pesawat tersebut menjadi kargo sementara.

Baca juga: Terjadi Lagi, Pesawat Penumpang Dikonversi Jadi Pesawat Kargo Gegara Penerbangan Loyo

Sebetulnya, program ini sudah sejak setahun lalu dicanangkan Airbus. Ketika itu, Airbus menawarkan modifikasi kabin penumpang menjadi kargo untuk sementara bukan hanya pada keluarga pesawat A330, melainkan juga pada keluarga A350. Itu disebut sebagai Cabin Cargo Flexibility.

Porgram ini dikembangkan Airbus melalui type certificate tambahan bekerja sama dengan spesialis maintenance dan modifikasi Jerman, Lufthansa Technik. Airbus mengungkapkan, program yang disebut ‘Cargo in the Cabin’ ini akan tersedia untuk varian A330-200 dan -300.

“Di masa lalu lintas penumpang yang berkurang ini, pelanggan kami mencari solusi cepat untuk meningkatkan sementara kapasitas transportasi kargo di kabin,” kata kepala layanan badan pesawat Airbus, Daniel Wenninger, dikutip KabarPenumpang.com dari Flight Global.

Hilangnya seluruh kursi A330 dalam program tersebut berbalik menyediakan sekitar 78m3 volume kargo pada varian -200 dan sekitar 86m3 pada varian -300 yang notabene lebih besar. Hal itu memungkinkan 12 dan 15 PKC palet dimuat ke dalam kargo di kabin penumpang.

Sebetulnya, Airbus bisa dibilang telat menawarkan hal ini ke maskapai. Sebab, banyak perusahaan lainnya sudah memberikan solusi dan merealisasikannya sejak pertengahan tahun lalu. Pada Juli lalu, pesawat penumpang Boeing 737-700 Texel Air, dikonfigurasi ulang atau dikonversi oleh Pemco Conversions menjadi pesawat kargo.

Ketika itu, pesawat ditawarkan dalam tiga skema konfigurasi. Konfigurasi pertama, menawarkan payload atau muatan sebanyak 13,7 ton dengan enam posisi palet. Konfigurasi kedua, menawarkan 15,8 ton muatan dengan tujuh palet. Adapun terakhir, versi full full-freighter pesawat ditawarkan menampung 18,2 ton muatan. Masing-masing konfigurasi tersebut tetap menawarkan kabin penumpang dengan kapasitas 12 dan 24.

Pasca suksesnya konversi itu, dengan cepat, hal serupa juga ditiru oleh maskapai di seluruh dunia. Sebab, sebelumnya, maskapai kehabisan cara dan lebih memilih cara simple, memuat kargo di kabin penumpang tanpa mencopot kursi.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Seluruh kargo diletakkan di atas kursi yang sebelumnya sudah diberi alas untuk mencegah kursi rusak. Kargo tersebut juga diberi lapisan pelindung juga agar tak merusak kursi.

Syarat untuk memuat kargo di kabin penumpang sendiri juga sangat ketat. Konfigurasinya harus seimbang dan tidak berat kiri atau kanan. Kargo juga harus dikaitkan agar tak bergerak selama penerbangan, utamanya saat pesawat lepas landas dan pesawat berada di posisi diagonal. Selain itu, kargo di kabin penumpang hanya boleh memuat barang-barang tertentu, mengingat kabin penumpang tidak didesain untuk kargo.

Gokil, Spesial Hari Anak, Turkish Airlines Jalankan Penerbangan yang Seluruh Krunya Anak-anak!

Teknologi mendorong banyak pihak di industri penerbangan untuk membuat inovasi menarik sesuai perayaan hari besar atau bersejarah di suatu negara; seperti yang dilakukan maskapai nasional Turki, Turkish Airlines.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, Turkish Airlines Flight 452 Jatuh Gegara Pilot Mengira Jalan Raya Sebagai Runway

Senin, 23 April 2021, Turki merayakan Hari Kedaulatan Nasional dan Anak-anak, sekaligus memperingati hari berdirinya parlemen ke-101. Perayaan setiap 23 April itu berfokus pada anak-anak, setelah Ghazi Mustafa Kemal Ataturk -ketua parlemen pertama, pendiri, dan presiden pertama Turki- mendedikasikan hari itu untuk anak-anak yang merupakan masa depan bangsa.

Perayaan Hari Anak-anak memang begitu spesial di Turki. Selain menyongsong masa depan negara yang lebih baik dengan memperhatikan kualitas dan perkembangan anak-anak, dibarenginya perayaan Hari Anak dengan Hari Kedaulatan Nasional atau Hari Kemerdekaan Nasional menjadikannya langka dan satu-satunya di dunia.

“Dengan mendedikasikan hari penting itu bagi anak-anak sekaligus merayakan ulang tahun parlemen ini dengan anak-anak, adalah satu hal yang menjadikan parlemen Turki berbeda dengan parlemen negara manapun di dunia,” kata Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu pada perayaan Hari Kedaulatan Nasional dan Anak-anak pada 2018 lalu.

Mengingat sebegitu penting dan spesialnya perayaan Hari Anak di Turki, tak heran bila perusahaan besar di negara itu berlomba merayakannya dengan sedemikian rupa di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19. Salah satunya maskapai penerbangan nasional Turki, Turkish Airlines.

Dilansir Sam Chui, salah satu maskapai dengan jaringan rute terbesar di dunia itu membuat film atau video kreatif dimana tujuh orang anak menjalankan sebuah penerbangan Turkish Airlines menggunakan teknologi motion capture.

Anak-anak tersebut tidak menerbangkan pesawat secara langsung, melainkan mengendalikannya dari darat; menjadikannya sebagai maskapai pertama di dunia yang menggunakan teknologi ini untuk communications project.

Teknisnya, data yang diambil dari anak-anak yang melakukan manuver roll, pitch, dan yaw dengan kamera infra merah di hanggar yang dilengkapi peralatan khusus, kemudian diteruskan ke pilot pesawat Boeing 777-300ER dalam penerbangan khusus, yang secara efektif memberikan kendali kepada tujuh anak berusia antara 7 dan 10 tahun.

Dengan begitu, gerakan pada anak pada film tersebut nyata dan mempengahuhi sikap pesawat. Dalam video, terlihat jelas ketika pilot anak-anak di hanggar berbelok ke kiri 090 DME, yoke pesawat juga mengikuti secara otomatis.

Pesawat yang diregistrasi sebagai TC-JJI itu diketahui melakukan penerbangan TK6946 dengan lepas landas dari Bandara Istanbul. Penerbangan tersebut dilakukan di wilayah udara tertutup, dengan radius 10 mil di atas Antalya pada ketinggian antara 6.000 dan 8.000 kaki, dipimpin oleh Kapten Serpil Köstepen dan Cihangir Kılıç di kokpit.

Penerbangan tersebut didasarkan pada data gerak yang ditangkap oleh kamera inframerah. Adapun film ini diambil dengan kamera yang bekerja pada spektrum cahaya yang sama, dengan kamera infra merah yang digunakan untuk menangkap gerakan.

Film ini dimulai dengan urutan anak-anak yang melakukan pemeriksaan preflight pesawat di hanggar, diikuti oleh kapten anak yang mengenakan setelan khusus yang menangkap gerakannya dan kemudian menyampaikan data tersebut kepada pilot di udara.

Baca juga: Bermula Dari DC-9, Inilah Rentetan Fakta Unik Seputar Turkish Airlines

Mengikuti manuver dan meniru gerakan yang dilakukan oleh kapten anak di darat, pesawat meminta izin pendaratan dan diakhiri dengan pilot yang sebenarnya bertemu dengan anak-anak tersebut.

“Untuk memperingati hari istimewa ini, kami menyerahkan kendali penerbangan khusus ini kepada anak-anak kami. Sebagai maskapai nasional, kami akan terus memperkenalkan teknologi mutakhir ke dalam penerbangan dan menerapkan inovasi terbaru dalam produk dan layanan kami,” kata M. İlker Aycı, Chairman of the Board and the Executive Committee Turkish Airlines.