Cegah Penyebaran Covid-19, Bandara ini Gunakan Jasa Robot Sinar Ultraviolet

Untuk melakukan pencegahan penularan virus corona baru atau Covid-19, hampir semua ruang publik seperti stasiun, bandara, tempat hiburan dan lainnya dilengkapi dengan perlengkapan sanitizing. Bahkan di bandara sudah menghadirkan robot untuk membantu membunuh berbagai macam virus, kuman dan bakteri terkhususnya Covid-19.

Baca juga: Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Seperti Bandara Internasional Key West, Amerika Serikat menghadirkan sebuah robot yang dirancang untuk membunuh Covid-19 dan patogen lainnya. Robot tersebut akan mulai beroperasi di bandara itu mulai bulan ini.

Robot akan memancarkan sinar ultraviolet intensitas tinggi yang membunuh bakteri dan virus di udara maupun di permukaan. Namun kehadirannya belum jelas apakah akan berdampak besar terhadap ribuan pelancong yang membawa kuman baru melalui bandara setiap harinya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari nbc-2.com (24/12/2020), Richard Strickland, direktur bandara untuk Monroe County, mengatakan akuisisi robot senilai US$100 ribu itu dimotivasi oleh keinginan untuk meningkatkan kebersihan bandara lainnya dan praktik perlindungan penumpang di era virus corona. Robot tersebut dibuat oleh UVD Robots yang berbasis di Denmark. Robot ini dilengkapi dengan lampu UV vertikal yang dipasang di pangkalan robot bergerak.

Tingginya hampir enam kaki atau 1,8 meter dan beratnya lebih dari 300 pon atau sekitar 136 kg. James Malley, seorang profesor teknik sipil dan lingkungan di University of New Hampshire, mengatakan sinar ultraviolet telah digunakan selama beberapa dekade sebagai disinfektan, tetapi memiliki keterbatasan.

Malley mengatakan, lampu UV harus digunakan sebagai penghalang tambahan terhadap infeksi, bukan sebagai pengganti pembersihan tradisional sehingga tetap harus menjaga jarak sosial dan memakai masker. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, kontak orang ke orang adalah cara utama penyebaran virus corona.

Seseorang bisa saja terjangkit penyakit ini dengan menyentuh tetesan pernapasan yang terinfeksi pada permukaan atau benda lalu menyentuh mulut, hidung, atau mata mereka, tetapi para ahli mengatakan itu kurang umum dan dapat dicegah dengan mencuci tangan secara teratur. Malley mengatakan beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa sinar UV efektif dalam mengurangi infeksi secara keseluruhan di rumah sakit, tetapi kegunaan lampu tersebut secara khusus melawan Covid-19 di bandara dan ruang publik lainnya, di mana banyak orang melewati kuman baru setiap jam masih harus dilihat.

CEO UVD Robots Per Juul Nielsen mengatakan perangkat mulai sekitar $70 ribu dan naik berdasarkan aksesori. Selain bandara, robot dapat diprogram untuk bergerak secara mandiri di sekitar pusat perbelanjaan, hotel, kapal pesiar dan bangunan besar lainnya, sementara operator mengawasi kemajuannya dari jarak jauh.

Baca juga: Bandara Seattle-Tacoma Kerahkan Robot Pembersih Lantai dan Teknologi Canggih Lawan Corona

Robot UVD dimulai beberapa tahun lalu, jauh sebelum pandemi, sebagai kemitraan antara perusahaan induk Blue Ocean Robotics dan sistem perawatan kesehatan Denmark. Tujuannya untuk membantu mencegah pasien terinfeksi bakteri dan virus baru setelah dirawat di rumah sakit.

Fasih Bahasa dan Logat Jawa, Petugas Bandara Schiphol Bikin Terkejut Pelancong Indonesia

Ketika berada di Indonesia dan mendengar warga asli menggunakan bahasa daerah bukanlah hal yang aneh. Ini karena Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa dan ras. Maka bila berada di satu daerah, rata-rata masyarakat akan menggunakan bahasa asli mereka.

Baca juga: Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Namun akan mengejutkan bila bukan orang Indonesia yang fasih dengan salah satu bahasanya. Nah bagaimana jika ada orang asing yang mampu bahkan fasih berbicara bahasa daerah Indonesia? Terkejut? Sudah barang pasti dan mungkin tidak akan percaya sampai Anda membuktikannya sendiri.

Untuk mengurangi rasa penasaran Anda, KabarPenumpang.com mengutip dari laman YouTube milik SerbaBelanda, bahwa ada seorang petugas Bandara Internasional Schiphol di Amsterdam, Belanda sangat fasih bahasa Jawa. Bahkan pria yang diketahui bernama Naldo ini pun bisa mengikuti logat Jawa.

Di mana petugas ini membuat seorang pelancong asal Indonesia bernama Eka Tanjung terkejut karena petugas dibagian handling bagasi itu fasih dan lancar berbahas Jawa. Eka terkejut ketika Naldo menyapanya dengan bahasa Jawa.

Ketika Eka bertanya pada pria asal Suriname ini bagaimana dia bisa berbahasa Jawa dengan fasih, Naldo mengaku di Suriname banyak sekali orang Jawa. Naldo berteman dengan mereka bahkan jalan, makan dan tidur pun dengan orang Jawa.

“Aku sek bareng Karo wong Jowo,” ujar Naldo dalam video tersebut.

Meski dia orang India yang lahir di Suriname, Naldo makan yang sama dengan orang Jawa dan berlaku dengan tata krama yang sama dengan orang Jawa. Naldo mengaku ini bukanlah pertama kalinya dia membuat orang Jawa terkagum dengan kemampuannya.

Baca juga: Wah Ternyata Ada Loh Hari Bahasa Bajak Laut Internasional

Bahkan pria paruh baya ini mengaku belajar selain belajar bahasa Jawa dari teman-temannya, dia juga mengenal banyak makanan seperti bakmie, soto dan gulai. Untuk diketahui, saat berbincang dengan Eka, Naldo belum pernah ke Indonesia meski dirinya lancar berbahasa Jawa.

Hari ini, 80 Tahun Lalu, Henry Ford Meluncurkan Mobil dengan Panel Plastik

Mobil plastik? Ketika Anda mendengarnya pasti akan teringat dengan mobil mainan anak karena berbahan plastik. Namun nyatanya ini bukanlah mobil mainan, tetapi mobil yang bisa dikemudikan bahkan dipatenkan oleh pembuatnya.

Baca juga: 4 Januari 2011, Ford Motor Tutup Divisi Mobil Mewah Mercury

Penasaran dengan mobil plastik ini? KabarPenumpang.com menghimpun keterangan dari berbagai laman sumber, Henry Ford pada 1940-an melakukan eksperimen dan menghasilkan mobil plastik yang terbuat dari kacang kedelai. Mobil ini dirancang oleh Lowell E Overly dan merupakan bagian dari sejarah panjang mobil asal Amerika Serikat tersebut.

Dalam pembuatan mobil plastik ini tidak diketahui bahan pastinya, karena tidak ada catatan rumusan pembuatannya seperti sekarang. Tetapi ada artikel yang mengklaim plastik untuk bahan mobil terbuat dari banyak formula diantaranya kacang, kedelai, gandum dan rami.

Namun Overly, mengklaim bahwa bahan pembuat mobil plastik adalah serat kedelai dalam resin fenolik dengan formaldehida yang digunakan dalam impregnasi. Yang mana plastik ini lebih tipis hingga 33 persen dibanding bahan pembuat mobil biasa.

Bahkan dikatakan, kehadiran plastik untuk mobil merupakan bahan yang relatif baru di zaman itu dan merupakan hasil revolusi industri Amerika Serikat. Untuk diketahui, mobil plastik yang diberi nama The Soybean Car tersebut terbuat dari 14 panel plastik yang beratnya lebih ringan dari baja.

Mobil ini diresmikan Henry Ford pada 13 Agustus 1941 di Dearborn Days yang merupakan  sebuah festival komunitas tahunan. Kemudian setengah tahun kemudian tepatnya pada 13 Januari 1942 Henry Ford mematenkan The Soybean Car buatannya tersebut.

Namun tahukah Anda bahwa ada alasan tersendiri dibalik Henry Ford membangun The Soybean Car tersebut? Alasannya adalah mencari proyek yang menggabungkan hasil industri dengan pertanian.

Kemudian dia mengklaim bahwa panel plastik membuat mobil lebih aman dibandingkan yang terbuat dari baja. Henry juga berharap, bahan plastik terbarunya ini dapat menggantikan logam tradisional yang digunakan pada pembuatan mobil.

Baca juga: 107 Tahun Lalu, Ford Mulai Rakit Mobil Model T Secara Massal dengan Moving Assembly Line

Sayangnya proyek ini tidaklah berjalan mulus karena saat Perang Dunia II pecah, semua konsentrasi tertuju pada pemulihan perang. Bahkan dari kabar beredar, The Soybean Car ini kemudian dihancurkan.

Naik Taksi di Beijing Jangan Lupa Pindai QR Code Kesehatan

Pengemudi kendaraan baik bus, taksi konvensional maupun online bisa sangat rentan terinfeksi virus karena bertemu dengan banyak orang yang menumpang dalam kendaraan mereka. Karena hal ini, perusahaan taksi dan platform pemesanan mobil di Beijing mengambil tindakan pengendalian virus corona secara efektif.

Baca juga: Dari Kode QR Hingga Media Sosial, Inilah Empat Cara Cina Lacak Covid-19

Di mana otoritas Beijing telah memperingatkan pada hari Senin (11/1/2020), bahwa ibukota Negeri Tirai Bambu tersebut mewajibkan penumpang untuk memindai QR Code kesehatan ketika menggunakan platform pemesanan kendaraan dan taksi. Langkah tersebut adalah tanggapan terhadap pengemudi yang berulang kali dinyatakan positif virus corona.

Seorang pengemudi Didi bermarga Yuan mengatakan, dirinya memiliki sekitar sepuluh penumpang pada Senin pagi, mereka semua cukup kooperatif dalam memindai QR Code kesehatan. KabarPenumpang.com melansir globaltimes.cn (12/1/2020), Yuan mengatakan dengan memindai QR Code kesehatan, bisa membantu mengekang infeksi dari penumpang.

Tak hanya memindai QR Code kesehatan, pengemudi juga wajib mengingatkan penumpang untuk tetap menggunakan masker dan membiarkan jendela mobil terbuka selama perjalanan. Meski begitu, beberapa pengemudi dan penumpang mengatakan, tindakan tersebut hanya formalitas.

“Dalam praktiknya, menunjukkan status kesehatan lebih seperti formalisme karena penumpang memindai kode QR-nya setelah masuk ke dalam mobil. Jika penumpang gagal menunjukkan status kesehatannya, kami berhak mengusir mereka, tetapi mungkin sudah terlambat pada saat itu,” kata seorang pengemudi bermarga Ji dari Didi.

Seorang warga bermarga Xu di distrik Chaoyang juga mengatakan, bahwa dia tidak diminta untuk memindai kode kesehatannya saat naik taksi melalui Didi pada Senin pagi.

“QR Code kesehatan terpasang di jendela di dalam taksi. Tapi pengemudi tidak meminta untuk memindainya,” katanya.

Sebagai upaya untuk mengekang penyebaran penyakit, Didi dan aplikasi anak perusahaannya Huaxiaozhu pada hari Senin meminta pengemudi untuk mengunggah foto mereka yang mengenakan masker sebelum mulai bekerja. Mereka akan melakukan inspeksi acak melalui peralatan di dalam kendaraan untuk melihat apakah pengemudi mengenakan masker mereka.

Pada saat yang sama, dua platform car-hailing akan mengatur agar pengemudi di Beijing menerima vaksin virus corona mulai Rabu. Vaksinasi diharapkan selesai dalam waktu seminggu. Xu Hejian, seorang pejabat dari pemerintah kota Beijing mengatakan, jika mereka gagal mengambil langkah-langkah pengendalian virus korona secara efektif, termasuk mengenakan masker dan mendisinfeksi kendaraan mereka dengan benar, perusahaan taksi dan platform pemesanan mobil di Beijing akan menghadapi hukuman sesuai dengan mekanisme pemutus sirkuit.

Menurut otoritas Beijing jumlah pengemudi yang dites positif, Didi didenda 1,07 juta yuan ($165.240) ini karena tidak mematuhi aturan pencegahan epidemi, dan Huaxiaozhu didenda 340 ribu yuan. Beijing melaporkan seorang pengemudi yang bekerja di platform pemesanan kendaraan di distrik Shunyi Beijing dinyatakan positif selama akhir pekan.

Baca juga: Tak Lagi Terima Uang Tunai, Pengemis di Cina Gunakan QR Code untuk Terima Pemberian

Kasusnya memaksa pihak berwenang setempat untuk melacak setidaknya 144 penumpang sebagai kontak dekat. Sebelumnya, beberapa pengemudi car-hailing lainnya dipastikan sebagai pasien Covid-19 di distrik tersebut. Menurut sopir Ji, sopir car hailing biasanya menyewa rumah di distrik Shunyi karena harga rumah di sana murah dan dekat dengan bandara. Inilah sebagian alasan mengapa ada sejumlah infeksi di distrik tersebut.

Jerman Ubah Dua Bandara di Berlin Jadi Pusat Vaksinasi Covid-19, Jadi Vaccine Tourism Hub?

Meski sempat merangkak naik, traffic penumpang pesawat udara kembali anjlok akibat kekhawatiran adanya strain baru Virus Corona COVID-19 di Inggris. Alhasil, bandara-bandara, yang sejak beberapa bulan lalu sampai libur natal dan tahun baru mulai dipadati penumpang, perlahan kembali seperti di era awal kemunculan Covid-19, sepi! Tetapi, tidak untuk Bandara Tegel di Berlin, Jerman.

Baca juga: Bandara Internasional Tegel, Berlin: Terus Beroperasi Atau Berubah Jadi Pusat Bisnis

Bandara yang juga menjadi saksi sejarah dari Perang Dunia II (selain Bandara Tempelhof) digandang bakal kembali ramai diserbu pengunjung, bukan untuk terbang melainkan untuk disuntik vaksin, menyusul penunjukkan bandara tersebut sebagai pusat vaksinasi Covid-19, tepatnya di sebagian area di Terminal C.

Dilansir Simple Flying, sejak beberapa bulan lalu, Jerman memang sudah berhasrat untuk sesegera mungkin melakukan vaksinasi massal ke warganya. Karenanya, tak hanya satu bandara yang dijadikan pusat vaksinasi massal di Berlin, melainkan dua. Adapun satu lainnya tertelak di Terminal 5 Bandara Berlin Brandenburg. Tak disebutkan dengan jelas berapa jumlah masyarakat yang akan disuntik vaksin di sini.

Yang jelas, atas program vaksinasi tersebut, pihak Bandara Berlin Brandenburg berharap setelahnya, penumpang dapat bepergian kemanapun tanpa harus menjalani karantina mandiri selama 14 hari. Dengan begitu, industri perjalanan udara bisa kembali normal seperti sedia kala.

“Vaksin ini merupakan langkah penting untuk menghidupkan kembali perjalanan dan lalu lintas udara. Sebagai perusahaan bandara, kami melakukan segala upaya untuk mendukung kampanye vaksinasi pemerintah negara bagian Berlin dan Brandenburg. Orang ingin terbang, dan vaksinasi secara komprehensif memberikan harapan untuk membuka perbatasan tanpa batasan karantina,” kata Engelbert Lütke Daldrup, CEO Bandara Berlin Brandenburg.

Meski tak ada keterangan lebih lanjut, hampir dapat dipastikan bahwa penunjukkan bandara sebagai pusat vaksinasi Covid-19 bukan berarti menandakan Jerman ingin melangkah menjadi vaccine tourism hub atau pusat hub vaksinasi bagi wisatawan. Besar kemungkinan, Jerman menyulap bandara menjadi pusat vaksinasi virus Corona hanya untuk memudahkan warga karena bandara terletak tak jauh dari pusat kota Berlin di samping luas areanya juga mendukung.

Vaccine tourism hub sebelumnya pernah diisukan bakal diselenggarakan di Singapura. Narasi yang beredar di WhatsApp Group menyebut Negeri Singa itu akan membuka vaksinasi covid-19 di Bandara Changi. Disebutkan juga kalau kebijakan ini akan menyedot wisatawan asing untuk pelesir ke Singapura.

Baca juga: Singapore Airlines Sukses Kirim Vaksin Pfizer-BioNTech Pertama, Makin Dekat Jadi Hub Distribusi Vaksin

Narasi itu menyebut Singapura membuka program ‘Vaccine Tourism’ bagi wisatawan asing. Cara ini, dalam klaim tersebut, menjadi peluang Singapura untuk menghidupkan pariwisata mereka yang sempat melemah akibat pandemi covid-19.

Namun, setelah ditelusuri, kabar Singapura menjadikan Bandara Changi sebagai pusat vaksinasi covid-19 ternyata hoax. Bukan menjadikan bandara tersebut sebagai pusat vaksinasi massal, Singapura ingin menjadikan Bandara Changi sebagai hub distribusi vaksin di Asia Tenggara.

Kereta Peluru CR400AF-G Mampu Beroperasi di Suhu Ekstrim -40 Derajat Celcius

Apakah ada kereta yang mampu beroperasi di bawah suhu serendah -40 derajat celcius? Ternyata ada dan ini adalah kereta peluru berkecepatan tinggi jenis baru dari Fuxing. Kereta ini mulai debut pertamanya di Beijing, Cina pada Kamis (7/1/2021) kemarin.

Baca juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Kereta CR400AF-G menghubungkan Beijing dengan tujuan timur laut termasuk Shenyang yang merupakan ibukota provinsi Liaoning dan Harbin ibukota provinsi Heilongjiang. Dilansir KabarPenumpang.com dari global.chinadaily.com.cn (11/1/2021), Komisi Pembangunan dan Reformasi Beijing mengatakan, layanan kereta ini akan segera mulai beroperasi namun tanggal pastinya belum diungkapkan secara jelas.

Kereta ini memiliki garis-garis merah yang menghiasi bodi bagian luarnya dengan warna dasar silver. Fuxing CR400AF-G dirancang untuk melaju pada kecepatan 350 km per jam dan bisa mengangkut 1080 penumpang.

Mampunya kereta ini melaju di suhu serendah -40 derajat celcius karena para pengembang menambahkan sistem pengeraman dan pemanas listrik yang unik. Direktur pusat kereta peluru China Railway Beijing Group di distrik Chaoyang, Zhou Song mengatakan, pengembang menghadirkan sistem pengereman yang dapat membantu menjaga rem agar tidak membeku.

Dia mengatakan, jika kereta berhenti di Harbin selama satu jam, biasanya karena cuaca sangat dingin sistem pengeraman akan mudah membeku. Tetapi dengan sistem baru ini, ada kemungkinan remnya akan bergerak dari waktu ke waktu meski kereta berhenti.

“Ini ibarat orang yang menghentakkan kakinya agar tetap hangat di cuaca yang dingin,” kata Zhou.

Selain itu, perancang kereta juga menambahkan sistem pemanas listrik untuk mencegah cairan yang mengalir di pipa kereta dan menjadi beku.

“Cairan tidak bisa menahan suhu di bawah nol, dan kereta memiliki banyak pipa, termasuk yang menyediakan air untuk penumpang dan yang membuang limbah. Untuk mencegah pipa itu membeku, sistem pemanas listrik mencakup seluruh jaringan pipa di atas kapal,” kata Gao Shichong, wakil kepala pusat kereta peluru.

Setelah dioperasikan, kereta CR400AF-G akan diperiksa setiap 48 jam di pusat. Setiap inspeksi akan berlangsung hingga lima jam dan akan dilakukan oleh lima inspektur. Ini adalah jenis kedua kereta peluru berkecepatan tinggi Fuxing yang dapat beroperasi di bawah suhu yang sangat rendah.

Baca juga: Jaringan Kereta Cina Angkut 10 Miliar Penumpang di Kuartal Pertama 2019

Jenis lainnya saat ini berjalan di jalur kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan Beijing dengan Area Baru Xiong’an provinsi Hebei dan Zhangjiakou. Menurut China Railway Corp, 1.036 kereta peluru Fuxing telah dioperasikan sejak 2017. Kereta tersebut telah menangani gabungan 827 juta perjalanan penumpang dan telah menempuh jarak 836 juta km.

Inilah Pinger Locator, Alat Kunci Temukan Black Box Sriwijaya Air! Bisa Tembus Kedalaman 6 Ribu Meter

Saat sebuah pesawat mengalami kecelakaan, black box sudah hampir pasti akan dibicarakan oleh semua orang; tak terkecuali kecelakaan peswat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air. Sebab, misteri jatuhnya pesawat disebut ada di sana. Namun, sebelum black box atau kotak hitam berhasil mengungkap misteri kecelakaan, sudah pasti alat tersebut harus ditemukan terlebih dahulu.

Baca juga: Teknologi Baru CVR dan FDR Sukses Disertifikasi! Kini “Kotak Hitam” Bisa Rekam Hingga 70 Jam

Sayangnya, bukan perkara mudah menemukan alat yang terdiri dari Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) itu. Dibutuhkan usaha dan alat khusus untuk menemukannya. Alat tersebut adalah Pinger Locator.

Dikutip dari BBC International, Pinger Locater adalah perangkat pengirim dan penangkap sinyal (ping) yang dikirimkan black box berbasis sonar. Cara kerja Pinger Locater mula-mula alat ini ditenggelamkan ke dalam lautan dengan menggunakan sebuah alat yang biasa disebut dengan ‘tow fish’.

Dengan Tow fish, berupa robot bawah laut atau remotely operated vehicle (ROV) yang dikendalikan dari kapal dengan kabel panjang, Pinger Locator dapat menjelajahi lautan dalam mencari keberadaan CVR dan FDR (black box).

Cara kerja Pinger Locator. Foto: Pinterest

Pinger Locator akan memulai kerjanya dengan mengirimkan sonar yang umumnya berjalan di frekuensi 37,5 kHz. Sonar yang dikirimkan ini akan ditangkap oleh suar milik black box dan dikembalikan lagi ke Pinger Locater dengan sebuah alat bernama sensitive listening equipment. Dengan begini, Pinger Locater dapat menentukan titik keberadaan black box dengan mudah.

Pinger Locater disebutkan dapat menembus kedalaman lautan 6.100 meter, setara dengan kemampuan casing black box yang mampu bertahan selama 1 tahun di kedalaman sekitar 6.100 meter.

Hanya saja, kerja Pinger Locater sangat bergantung pada black box. Meski sonar dari Pinger Locater bisa saja memantul saat mengenai black box, tetapi, akan lebih efektif bila Pinger Locator mendapat sinyal ping dari black box.

Komponen black box dan keterangannya. Foto: AFP

Celakanya, sinyal ping memancar berkat baterai memiliki usia yang sangat terbatas, sekitar lebih dari 30 hari. Jika daya habis, black box tidak dapat memancarkan sinyal ping sehingga semakin sulit mendeteksi keberadaannya. Sinyal ping black box tersebut berasal Emergency Locator Transmitter (ELT) yang menempel pada FDR dan CVR.

Jadi, di dalam black box ada CVR dan FDR. Di FDR dan CVR terdapat ELT. Nah, ELT itulah yang memancarkan sinyal ping. Adapun FDR menyimpan rekaman data penerbangan selama 25 jam (teknologi terkini bisa sampai 70 jam). Sedangkan CVR menyimpan rekaman suara di kokpit selama 30 menit sampai 2 jam (teknologi baru bisa mencapai 25 jam).

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Hanya saja, di beberapa kondisi, ELT nyatanya tidak berfungsi dengan baik karena satu dan lain hal, seperti benturan keras saat kecelakaan terjadi ataupun kebakaran hebat dengan suhu di atas 1.100 derajat celcius.

Itu sebabnya, fungsi ELT juga didukung oleh Underwater Locator Beacon (ULB), alat pemancar sinyal (ping) darurat lain yang menempel di black box pesawat. AFP menyebut, ULB bisa bertahan hingga 90 hari sejak kecelakaan terjadi.

Kabin Pesawat Bisa Dilepas Saat Darurat, Penumpang Tak Perlu Takut Kecelakaan Fatal!

Kecelakaan pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 menyadarkan kita betapa krusialnya penerbangan komersial. Sebab, betapapun hebat dan pentingnya jabatan seseorang, ketika ia menjadi penumpang pesawat komersial, otomatis hidup dan matinya berjalan beriringan di tangan pilot. Singkatnya, ia hanya bisa pasrah ketika kecelakaan terjadi tanpa bisa melarikan diri dari kabin pesawat.

Baca juga: Inilah “Link and Fly,” Kereta Terbang Besutan Perancis! Penumpang Bakal Dijemput Kabin Berjalan

Melarikan diri dari kabin pesawat ketika terjadi kecelakaan sebetulnya bukan gagasan konyol. Sejak tahun 2013 lalu, insinyur asal ukraina, Vladimir Tatarenko, sudah mempunyai desain detachable airplane cabin atau biasa juga disebut removable parachute-equipped airplane cabin atau dalam bahasa disebut pesawat dengan kabin yang bisa dilepas. Konsep ini memungkinkan penumpang pesawat -komersial maupun jet pribadi- terhindar dari maut ketika kecelakaan fatal terjadi.

Teknisnya, saat detik-detik kecelakaan terjadi dan pesawat dirasa sudah tak lagi bisa ditangani, pilot menekan tombol untuk melepas kabin dari pesawat. Kabin, yang dilengkapi dengan parasut dan pelampung di bagian bawah, akan dengan mudah dan aman mendarat dimanapun, baik di air ataupun di darat.

Dalam visualisasi video 1.30 detik yang diunggah di Channel YouTubenya, Vladimir Tatarenko, yang juga mantan insinyur pesawat di era Uni Soviet ini, menujukkan usai mendarat penumpang hanya perlu keluar dari kabin dan menunggu tim SAR datang menjemput.

Akan tetapi, meskipun konsep kabin pesawat yang bisa dilepas terlihat sudah begitu meyakinkan, tetap saja, terdapat beberapa penolakan dari berbagai pihak.

Dilansir Independent, seorang pengamat penerbangan yang juga desainer kabin pesawat menuturkan, desain kabin yang bisa dilepas besutan Vladimir Tatarenko sebetulnya sulit untuk diaplikasikan. Sebab, dari data statistik Boeing, hampir tiga perempat korban tewas dalam insiden kecelakaan pesawat antara 2005 dan 2014 terjadi saat lepas landas dan mendarat. Di kedua posisi tersebut, jarak pesawat dengan daratan masih begitu dekat sehingga kabin tak cukup waktu untuk mendarat dengan mulus.

Namun, Vladimir Tatarenko, yang sudah malang melintang di dunia penerbangan, dimana ia termasuk ke dalam salah satu insinyur yang mengembangkan pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya, tentu paham betul bahwa desain kabin yang dapat dilepas besutannya harus dibuat berdasarkan data.

Menariknya, data yang dipakai oleh Tatarenko cenderung berbeda dengan data dari Boeing. Menurut ICAO, selama 10 tahun terakhir atau sejak 2015 tahun ke belakang, dimana Tatarenko mulai memperkenalkan konsep andalannya itu, 8 persen kecelakaan terjadi saat lepas landas, 21 persen saat mendarat, dan sisanya 71 persen saat cruising flight atau saat berada di ketinggian.

Lebih lanjut, disebutkan, penyebabnya 75 persen akibat human error atau kesalahan manusia. Adapun sisanya karena kelalaian aeromekanik. Mengurangi pengaruh manusia untuk meningkatkan keselamatan adalah mustahil. Maka dari itu dibutuhkan terobosan baru pada desain pesawat sehingga terciptalah ide kabin pesawat yang bisa dilepas.

Dalam kondisi ketika pesawat dekat dengan daratan, kabin pesawat yang dilepas sebetulnya masih belum tentu bisa menyelamatkan penumpang dari maut. Tetapi, diakui atau tidak, konsep tersebut setidaknya meningkatkan persentase kemungkinan penumpang selamat ketimbang tetap berada di dalam kabin yang menyatu dengan pesawat saat kecelakaan.

Hanya saja, konsep ini tetap terganjal masalah lain. Desainnya konsep ini bisa dibilang mahal. Menurut hitung-hitungan Tatarenko, dibutuhkan US$1 juta untuk memproduksi satu kapsul. Ketika menawarkan ide ini ke Antonov, ia juga merinci bahwa anggaran sebesar US$40-60 juta juga harus disiapkan untuk uji coba pemasangan kapsul di tiga pesawat jet Ukraina AN-148 keluaran perusahaan.

Baca juga: Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?

Selain mendekati Antonov, Tatarenko juga mencoba mengirimkan proposal ide parasut pesawat itu ke Kementerian Transportasi Ukraina. Namun lagi-lagi, idenya harus ditolak dengan alasan keuangan.

Tatarenko mengatakan para investor dari Kanada, Brasil, AS, dan Rusia pernah menghubunginya dan menawarkan untuk membeli hak paten sistem tersebut. Tatarenko menolak penawaran tersebut karena ingin perusahaan pesawat Ukraina yang menerapkan temuannya. Dan hingga saat ini, belum ada investor Ukraina yang tertarik mendanai idenya tersebut.

Menakar Kesalahan Prosedur Perawatan Pesawat Nahas Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182

Sebelum kecelakaan fatal Boieng 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 terjadi, Perintah Kelaikudaraan (Airworthiness Directive) yang diterbitkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil Amerika Serikat sudah lebih dahulu beredar ke seluruh dunia pada akhir Juli lalu.

Baca juga: Jauh Sebelum Musibah Sriwijaya Air SJ-182, Boeing Sudah Ingatkan Maskapai Soal Karat pada 737 Series

Perintah yang dikeluarkan oleh FAA dalam sebuah surat tertanggal 23 Juli 2020 lalu itu, seluruh operator dan pemilik Boeing 737 NG (seri 600 hingga 900) dan klasik (seri 737-300 hingga 737-500) diminta untuk mengecek mesin pesawat sebelum dioperasikan.

Peringatan itu datang menyusul adanya empat temuan kerusakan akibat korosi atau karatan pada katup mesin udara dari 2.000 unit yang diperiksa oleh FAA pasca lama digrounded maskapai. FAA mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut dapat menyebabkan stall pada kompresor tingkat 5 (valve 5 stages engine) dan kedua mesin kehilangan tenaga tanpa bisa di-restrart.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sendiri selaku regulator mengaku sudah menjalankan perintah tersebut pada 2 Desember 2020. Melalui Ditjen Perhubungan Udara, Kemenhub melakukan pemeriksaan untuk memastikan pelaksanaan Perintah Kelaikudaraan tersebut telah dilakukan pada semua pesawat sebelum dioperasikan kembali.

Selain itu, Kemenhub juga menegaskan bahwa pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air tersebut telah memiliki Certificate of Airworthiness (Sertifikat Kelaikudaraan) dengan masa berlaku sampai dengan 17 Desember 2021.

AOC atau Sertifikat Kelaikudaraan tentu saja dikeluarkan setelah melalui serangkaian proses pengecekan. Dari rilis Kemenhub, disebutkan, pesawat Sriwijaya SJ-182 masuk hanggar pada 23 Maret 2020 dan tidak beroperasi sampai dengan bulan Desember 2020.

Pada 19 Desember 2020 pesawat mulai beroperasi kembali tanpa penumpang (no commercial flight), dan pada tanggal 22 Desember 2020, pesawat beroperasi kembali dengan penumpang (commercial flight). Artinya, pesawat sama sekali tidak diterbangkan selama sembilan bulan dan baru terbang tanpa penumpang pada tanggal tesebut. Di sinilah letak kesalahan prosedur perawatan pesawat kemungkinan terjadi.

Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi swasta nasional mengungkapkan, sekalipun tidak beroperasi, seharusnya pesawat tetap diterbangkan minimal sebulan sekali dalam rangka perawatan pesawat.

Baca juga: Deretan Kisah Penumpang Sriwijaya Air SJ-182 Selamat dari Kecelakaan Maut, Bikin Nangis!

Proses perawatan pesawat antara yang diterbangkan setiap sebulan sekali dengan tanpa diterbangkan setiap sebulan sekali dan baru diterbangkan tiga hari sebelum beroperasi membawa penumpang, tentu berbeda. Sebab, ada komponen-komponen penerbangan yang tidak bisa dicek tanpa diterbangkan semisal landing gear.

Lebih lanjut, komponen tersebut ataupun komponen lainnya seperti sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, bahan bakar, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak dalam sebuah pesawat, in flight entertainmet, dan sistem penerangan, seringkali tak terdeteksi kerusakan pada penerbangan pertama setelah lama di-grounded atau dalam kasus kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 di-grounded selama sembilan bulan.

KNKT: Isi Black Box Bisa Diterjemahkan ke Format Excel

Black box atau kotak hitam sebuah alat perekam data dan suara pilot dengan kru penerbangan atau dengan menara di bandara tempat pesawat berangkat dan menara bandara tujuan. Isi black box ini bisa dibaca dan diterjemahkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Hal ini dikatakan oleh Investigator udara KNTK Ony S Wibowo pada Focus Group Discussion di gedung KNKT (21/32017).

“Data dari black box, 90 persen sudah bisa di olah di sini. Isi dari black box ini bukan hanya informasi saja melainkan harus di analisis,” ujar Ony. Adapun format data baik dari FDR ataupun CVR harus diterjemahkan sebelum mendapat hasil yang akurat untuk diberikan kepada maskapai atau dipublikasi. Apalagi bila terjadi kecelakaan, data di FDR harus diterjemahkan untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan pada pesawat tersebut.

kabarpenumpang.com
kabarpenumpang.com

FDR hasil datanya bisa didapatkan menjadi excel baik dalam bentuk angka ataupun grafik. Ini bisa dibaca bila data tersebut sudah di ubah dengan coding menggunakan alat bernama flightscape atau yang lainnya tergantung investigator udara setiap negara.

Dalam hal ini, sebelum di ubah menjadi data excel, data asli dari FDR sendiri berbentuk tidak jelas, aneh dan tidak bisa dibaca oleh orang awam. Kemudian, setelah di coding dan di ubah menjadi data excel akan bisa dibaca dan menghasilkan angka serta hasil dari pergerakan pada  pesawat tersebut.

“Kita biasa pakai flightscape untuk seluruh investigator di dunia penerbangan. Di Indonesia sendiri ada beberapa perusahaan yang bisa terjemahkan itu seperti Gabriel. Biasanya setiap pabrik penerbit Flight recorder ini juga memberikan model datanya,” jelas Ony. Ia mengatakan, data tersebut bisa dalam bentuk format data atau frame tergantung dari pabrik yang membuatnya. Semua data tersebut bisa langsung terukur melalui parameter dengan data real time.

Sedangkan untuk data di CVR tak perlu untuk di publikasi, sebab terkadang ada hal tertentu yang tidak bisa di publikasi baik ke publik ataupun ke maskapai bila terjadi kecelakaan.

“Untuk CVR sendiri kita tidak akan mempublikasikan apalagi kalau masuk ke pengadilan. Biasanya datanya harus di hapus karena sensitif,” ujarnya. Contoh yang terjadi saat kecelakaan yang menimpa Air Asia beberapa tahun lalu, pihak KNKT tidak sama sekali memberikan hasil rekaman dari CVR untuk bukti di pengadilan. Karena masalah ini terkadang menyangkut hal yang bersifat pribadi dan tak layak untuk di jadikan bukti.

Namun, bila memang diperlukan untuk di ungkap pihak KNKT akan merubah percakapan di dalam CVR tersebut dan dikeluarkan dengan perubahan pemahaman secara tertulis. Ini tertuang dalam UU No.1/2009 Pasal 359 tentang penerbangan yang melarang hasil investigasi kecelakaan pesawat udara dijadikan sebagai alat bukti dalam persidangan.