Stasiun Mayong, Beralih Fungsi Menjadi Lobi Hotel di Magelang

Ketika berbicara stasiun yang beralih dari fungsi semestinya, ada stasiun Demak yang menjadi kafe, stasiun Bantul menjadi warung makan dan beberapa stasiun lainnya yang berubah fungsi. Kali ini ada yang berbeda yakni sebuah stasiun yang menjadi lobi hotel. Penasaran ada di mana dan bagaimana stasiun menjadi lobi hotel?

Baca juga: Jalur Mau Dihidupkan, Stasiun Demak Justru Sudah Menjadi Kafe

Jejak sejarah perkeretaapin di wilayah Jepara masih sangat terasa karena dulunya sempat dilintasi kereta api. Tapi di daerah ini transportasi kereta tinggallah kenangan. Salah satu yang membekas adalah stasiun Mayong.

Stasiun ini  menjadi salah satu stasiun tertua di Pulau Jawa. Berdiri tahun 1873 bangunan stasiun Mayong terbuat dari kayu jati pilihan dan memiliki bentuk yang berkarakter.

Lokasi stasiun Mayong sendiri dulunya di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Jepara atau tepatnya di depan SMPN 2 Mayong. Saat ini bekas daerah stasiun Mayong berdiri kios dan toko sedangkan bangunan aslinya sudah berpindah pada investor.

Bagian dalam stasiun Mayong

Stasiun Mayong tak lagi beroperasi sejak tahun 1980an dikarenakan penumpang yang turun drastis karena adanya pelebaran jalan dan semakin banyaknya kendaraan pribadi. Padahal dulunya stasiun ini menjadi salah satu titik berkumpulnya penumpang.

Namun sejak akhir tahun 1990an bangunan stasiun Mayong yang terbuat dari kayu jati ini dipindahkan oleh investor dan di tempatkan di daerah Grabag Magelang menjadi Losari Spa Retreat & Coffee Plantation. Kemudian pada tahun 2001, menjadi sebuah lobi hotel di daerah Magelang yakni hotel bergaya Jawa klassik MesaStila.

Bangunan stasiun Mayong di hotel ini menjadi lobi dan respsionis dengan bangunan berwarna krem serta masih bergaya kolonial Belanda. Untungnya bentuk luar bangunan stasiun ini masih dipertahankan oleh pemilik hotel dengan papan yang bertuliskan nama serta ketinggian stasiun menempel di bagian sisi bangunan.

Tak hanya itu, kotak surat, loket pembelian tiket, hingga ruang informasi dan ruang kepala stasiun juga masih terlihat jelas dengan papan namanya. Menurut pihak pengelola hotel stasiun ini diselamatkan untuk dilestarikan agar tidak punah.

Baca juga: Setelah Baso, Butuh, dan Tanggung, Kapas Juga Ternyata Nama Stasiun Kereta!

Selain itu juga karena hotel yang ada disana menggunakan rumah joglo yang sudah tidak digunakan lagi. Selain menikmati bangunan tua, pengunjung juga bisa menikmati perkebunan kopi di areal hotel ini.

Seletar Bus Depot, Pool Bus Berkapasitas Besar dengan Fasilitas Lengkap dan Mewah

Singapore Bus Service (SBS) Transit yang baru saja memperluas jaringan operasinya menggunakan pool bus baru dengan kelengkapan fasilitas yang mengundang decak kagum warganet. Perluasan jaringan yang dilakukan oleh SBS Transit ini merupakan bagian dari Seletar Bus Package, proses tender oleh pihak Land Transport Authority (LTA) yang pertama kali dipublikasi pada 6 Juni 2016. Alhasil, SBS Transit akan menambah 12 rute baru sehingga keseluruhan rute yang tersedia menjadi 26 layanan bus.

Baca Juga: Wales Bangun Terminal Bus Terpadu, Sinergikan Ritel dan Perkantoran

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (28/1/2018), pool bus yang akan menunjang pengoperasian SBS Transit diresmikan langsung oleh Menteri Transportasi Singapura, Khaw Boon Wan pada Sabtu (27/1/2018) kemarin. Adapun pool yang terletak di perbatasan Yio Chu Kang Crescent ini berdiri di atas lahan seluas 96.000 meter persegi, dimana pool ini mampu menampung 530 bus sekaligus.

Dapat dibayangkan, kemegahan bangunan ini sudah langsung terpancar manakala melihat luas lahan yang diduduki oleh bangunan yang mencakup pool, kantor SBS Transit, dan maintain facilities ini. “Kami akan mempekerjakan 925 staf, termasuk 777 bus captain untuk menjalankan Seletar Bus Package,” ungkap Chief Executive SBS Transit, Gan Juay Kiat. “Kami berencana untuk melakukan perekrutan 150 pengemudi baru yang tentu saja memenuhi standar SBS Transit,” imbuhnnya.

Baca Juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Mengingat Seletar Bus Depot merupakan zona terintergrasi, maka kelengkapan dari pra-sarana transportasi anyar di Negeri Singa tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari akses WiFi, kantin sekelas café non-tunai (lengkap dengan pendingin udara), hingga pusat kebugaran semuanya ada di Seletar Bus Depot. Tidak berhenti sampai di situ, jika para pegawai mulai merasa lelah, mereka bisa menggunakan fasilitas kursi pijat yang juga tersedia di sana. Lengkap, bukan?

Karnaval yang diadakan oleh SBS Transit. Sumber: straitstimes.com

“Dengan tersedianya berbagai fasilitas pendukung ini, kami akan betah dan tidak cepat merasa bosan,” kata Chief Bus Captain SBS, Joseph Yap.

Diketahui, Seletar Bus Depot merupakan depo ketiga yang dibangun oleh LTA dan disewakan kepada pihak SBS Transit dengan sistem kontrak. Sementara dua depo pendahulunya, Bulim dan Loyang masing-masing dioperasikan oleh Tower Transit dan Go-Ahead dengan sistem yang serupa. Bertepatan dengan peresmiannya, publik diberi kesempatan untuk mengunjungi Seletar Bus Depot, sebagai bagian dari karnaval yang diselenggarakan oleh SBS Transit.

Bandara AP I Catat Trafik Tertinggi Selama Pandemi Covid-19 Saat Libur Nataru

Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi, menyebut tren pertumbuhan penumpang selama periode libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 berhasil mencapai trafik tertinggi selama pandemi Covid-19. Padahal itu terjadi di tengah pengetatan persyaratan bepergian melalui Surat Edaran Satgas Covid-19 No. 3/2020 dan SE Kemenhub No. 22/2020.

Baca juga: Bandara Radin Inten II, Peninggalan Jepang yang Pernah Didarati Pesawat Beechcraft Baron Garuda Indonesia

Trafik tertinggi selama pandemi Covid-19 itu berhasil dicatat pada 23-24 Desember 2020 yakni berkisar 123.000 penumpang per hari di 15 bandara AP I.

“Dari 18-29 Desember 2020, rata-rata penumpang di 15 bandara 102.541 per hari. Kalau dibandingkan dengan kondisi sebelum Nataru dari 1-15 Desember rata-rata 97.926 jadi ada peningkatan, periode Desember awal dan peak season Nataru, peningkatan tak signifikan hanya lima persen,” katanya, dalam Virtual Press Conference Angkasa Pura Airports, Rabu (30/12).

Faik menjelaskan, dari jumlah di atas, penumpang yang ada di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi yang paling tinggi. Kemudian disusul oleh Bandara Internasional Juanda yang membukukan jumlah penumpang 226.041 penumpang. Dan lalu di tempat ketiga adalah Bandara Internasional Ngurah Rai Bali yang membukukan jumlah penumpang 150.495.

“Pertama itu di ujung pandang karena periode 18-29 Desember ini membukukan penumpang sampai dengan 259.418 penumpang. Kemudian, Surabaya di posisi kedua sekitar 226.041. Nah yang ketiga adalah Denpasar 150.495,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, dalam kondisi normal AP I melayani rata-rata 223.000 penumpang per hari dan kondisi Nataru ini sudah 45 persen dari kondisi normal tersebut.

“Trafik ada tanda-tanda peningkatan walaupun persyaratan terbang diperketat, dari rapid antibodi menjadi antigen, di Bali bahkan harus PCR, sebelum periode 18 Desember ini masih meningkat. Harapan kami, ini bisa terus dilakukan baik, walaupun penumpang dilayani meningkat, protokol kesehatan tetap baik,” ujarnya.

Baca juga: Mengapa Slot Bandara Bisa Sangat Mahal? Inilah Jawabannya

Sebelumnya, PT Angkasa Pura I (Persero) mencatatkan tren kenaikan pergerakan wisatawan domestik menuju Pulau Bali pada libur Natal dan tahun baru 2021. Secara kumulatif, jumlah wisatawan masuk Bali melalui Bandara Ngurah Rai mencapai 46.979 orang sejak 18 sampai 24 Desember 2020.

Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I Ngurah Rai Taufan Yudhistira menyebut, torehan itu mengindikasikan aturan swab PCR tak serta merta menurunkan tingkat kunjungan wisatawan ke Bali. Mengingat pergerakan penumpang tercatat lebih tinggi dibandingkan sebelum periode libur Nataru tiba.

Jepang Luncurkan Kereta Khusus Karantina Penumpang Pesawat Internasional

Jepang melakukan kebijakan ketat dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19; termasuk strain atau mutasi baru virus Corona dari Inggris dan Afrika Selatan. Salah satunya, melarang penumpang pesawat rute internasional untuk menggunakan transportasi umum saat menuju ke tujuan masing-masing. Sebagai gantinya, mereka hanya diperbolehkan memakai kendaraan pribadi atau taksi.

Baca juga: Varian Baru Virus Corona Ditemukan, Mulai 28 Desember Jepang Larang Kedatangan Turis

Bagi warga yang mempunyai keluarga, rekan, ataupun saudara yang bisa menjemput mereka di bandara, tentu larangan tersebut tak akan jadi masalah. Namun, tidak demikian bila sebaliknya.

Oleh karena itu, belum lama ini, Jepang, melalui perusahaan Keisei Electric Railway, menyediakan kereta atau gerbong khusus untuk mengakomodir perjalanan mereka dari Bandara Internasional Narita ke pusat kota Tokyo.

Simple Flying, mengutip dari The Mainichi, menulis sejak kebijakan tersebut (larangan menggunakan transportasi umum) diterapkan beberapa hari lalu, penumpang kedatangan internasional di Bandara Narita, Prefektur Chiba, lebih sering menggunakan taksi menuju pusat kota Tokyo. Imbasnya, mereka sudah dipastikan bakal mengeluarkan ongkos jauh lebih mahal sampai US$200. Sudah begitu, jarak tempuhnya juga cukup lama.

Dengan adanya kereta khusus penumpang kedatangan internasional tersebut, mereka jadi sangat terbantu. Selain karena tarifnya lebih murah ketimbang tarif taksi, hanya sekitar US$25, waktu tempuh juga lebih singkat, tak kurang dari 41 menit.

Setiap harinya, mulai Senin lalu, kereta Keisei Skyliner melayani sebanyak 15 jadwal perjalanan dari Bandara Narita ke stasiun Ueno Tokyo. Meskipun hanya gerbong depan saja, namun, sejauh ini dilaporkan tidak terjadi penumpukan penumpang di dalam kereta. Sebab, Jepang memang melarang turis dari 152 negara, termasuk Indonesia, masuk ke negara mereka. Hanya warga negara Jepang ataupun warga negara asing yang telah lama menetap di Jepang yang boleh masuk.

Setiap sesudah digunakan, kereta tersebut langsung didisinfeksi untuk menjaga sterilitas rangkaian kereta.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Sayangnya, layanan sejenis belum tersedia di bandara lain di Jepang. Sudah begitu, kereta tersebut juga terbatas beroperasi antara Bandara Narita dan stasiun Ueno di pusat kota Tokyo.

Selain kebijakan larangan penumpang kedatangan internasional menggunakan transportasi umum, kecuali kereta khusus semacam Keisei Skyliner, Jepang juga telah menerapkan berbagai kebijakan ketat lainnya dalam menyikapi kemunculan strain baru virus Corona dari Inggris, seperti karantina mandiri bagi kedatangan dari Inggris dan Afrika Selatan serta tes Covid-19 di hari ketiga, mengunduh aplikasi kontak tracing, dan hasil tes negatif Covid-19 yang berlaku 3×24 jam untuk seluruh kedatangan internasional mulai 30 Desember 2020 mendatang.

Pilot Training Kaget Ada Orang Pakai Jetpack di Ketinggian 3.000 Kaki

Di langit, umumnya pilot melihat berbagai pemandangan indah, berbagai aktivitas di darat maupun lautan serta pesawat lain yang juga melintas. Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi, beberapa tahun belakangan pilot tidak hanya dimungkinkan melihat objek-objek sebagaimana disebutkan di atas, melainkan juga dimungkinkan melilhat manusia terbang, dalam hal ini menggunakan jetpack; seperti yang pernah terjadi baru-baru ini.

Baca juga: Pilot Panik Ada Objek Asing Melintas di Ketinggian 6.000 Kaki, Ternyata Orang Pakai Jetpack

Dilansir popularmechanics.com, pada Senin pekan lalu, seorang pilot training dari Sling Pilot Academy tiba-tiba dikejutkan dengan objek asing yang melintas di atas ketinggian 3.000 kaki (sekitar 914 meter), di sekitar Palos Verdes dan Pulau Catalina, selatan Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Meski terpaut jarak agak jauh, namun, kehadiran jetpack tersebut tetap saja membahayakan karena masih dalam jangkauan pesawat. Sudah begitu, jetpack tersebut juga terbang diagonal dari arah depan, terus bergerak ke arah sebelah kanan dan memotong airways atau jalur pesawat.

Lebih dari itu, kehadiran manusia terbang dengan jetpack ini juga tak terdeteksi alias tidak dilaporkan oleh petugas ATC. Bukan karena ATC lalai melainkan karena jetpack man tersebut terbang bukan pada tempat yang seharusnya, di samping terbang secara ilegal.

Tak diketahui secara persis siapa pria dibalik jetpack tersebut. Yang jelas, dari video yang beredar, kemungkinan, jetpack man itu terbang pada kecepatan 150 km per jam dan pilot pun menyempatkan diri untuk memvideokan momen tersebut.

Kejadian ini tentu bukan untuk yang pertama. Sebelumnya, pilot pesawat China Airlines terkejut usai melihat objek asing melintas di ketinggian 6 ribu kaki. Padahal, pesawat sebelumnya sudah mendapat clearance dari ATC. Sontak, insiden yang terjadi sekitar 11 km dari Los Angeles itu sempat membuat geger kokpit dan petugas.

Tak lama kemudian, objek yang dinilai terlalu kecil dan cepat di ketinggian 6 ribu kaki itu langsung dilaporkan pilot ke ATC. Petugas ATC awalnya sempat tak percaya dengan laporan itu. Karenanya, ia meminta pilot untuk mengulang laporannya. Sebab, bisa saja objek kecil tersebut ialah unidentified flying object disingkat (UFO), piring terbang yang sampai saat ini keberadaannya masih menjadi misteri, sekalipun kerap muncul di seluruh dunia, baik siang maupun malam.

Perkiraan terburuk, objek kecil dan cepat tersebut bukan tak mungkin merupakan sebuah pesawat latih yang melenceng jauh dari jalurnya, sehingga mengacaukan airways yang telah diatur ATC. Pasalnya, kejadian seperti ini (objek asing yang ternyata pesawat latih) pernah terjadi di dunia, tepatnya tak jauh dari Bandara San Diego, AS. Kala itu, pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 bertabrakan dengan objek asing yang setelah itu dikonfirmasi merupakan pesawat Cessna 172 Skyhawk.

Baca juga: Inilah Pemandangan Fanstastik yang Bisa Anda Lihat dari Udara!

Usai diperjelas oleh pilot terkait objek asing yang melintas di ketinggian 6 ribu kaki, ATC merespon dengan balik bertanya terkait dua kemungkinan, apakah yang pilot lihat itu merupakan UFO atau sebuah jetpack? Dan pilot menduga bahwa itu jetpack. Asumsinya, objek tersebut terlalu kecil dan cepat.

Pemerintah federal sendiri tak mau berasumsi mengingat tak ada petunjuk otentik yang mengarahkan dugaan kepada jetpack. Otoritas lebih memilih untuk menyelidiki laporan yang masuk pada Kamis kemarin itu, sekalipun sekilas, kronologinya mirip dengan kejadian beberapa pekan sebelumnya.

Lusitania Expresso, Balada Kapal Ferry RoRo Legendaris ‘Penantang’ Kapal Perang TNI AL

Kapal ferry RoRo biasanya hanya melakukan perjalanan yang tidak jauh, bila di Indonesia biasanya kapal ferry jenis ini digunakan untuk menyeberang Selat seperti Selat Sunda, Selat Bali dan lainnya. Nah bagaimana jika ada kapal ferry RoRo yang biasa digunakan untuk melintasi selat atau penyeberangan tak jauh ini justru melintasi berbagai benua, negara dan lautan?

Baca juga: KRI Tanjung Kambani 971, Kapal Ferry RoRo dengan Cita Rasa Militer

Mungkin Anda akan berpikir tidak akan ada, tetapi nyatanya kapal ferry RoRo yang melintasi jarak terjauh pernah ada yakni Lusitania Expresso. Bahkan Lusitania Expresso pernah akan ditenggelamkan oleh TNI Angkatan Laut. Kok bisa? Pasti pertanyaan itu timbul dibenak Anda.

Ternyata kapal buatan 1964 yang memiliki bobot 1612 ton tersebut, mengabaikan peringatan Indonesia karena rencana pelayarannya ke Dili. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, Lusitania Expresso merupakan kapal ferry RoRo yang berbendera Portugal.

Lusitania Expresso bertolak dari Pelabuhan Lisabon di Portugal menuju ke Dili, Timor Timor untuk acara tabur bunga di pemakaman pasca terjadinya kerusuhan Santa Cruz beberapa bulan sebelumnya. Ketika itu tahun 1992, kapal ferry ini mengangkut 73 aktivis dari 21 negara dan 59 wartawan Internasional.

Sebelum melakukan tabur bunga, Lusitania Expresso transit di Darwin Australia dari Vasco Dagama dan berencana membawa mantan presiden Portugal. Niatnya setelah transit kapal tersebut akan melanjutkan ke Dili tetapi pimpinan misi tidak mendapat dukungan Sekjen PBB yang dihubungi dalam perjalan tersebut.

Bahkan ketika mencoba menghubungi Sekjen PBB, Lusitania Expresso dihadang tiga kapal perang TNI AL yang tergabung dalam Operasi Aru Jaya. Awalnya sebelum dihadang ternyata kapal dengan panjang 72 meter dan memiliki luas 13 meter tersebut sudah diintai oleh frigat KRI Yos Sudarso 353 bersama korvet KRI Ki Hajar Dewantara-364 sejak berlayar memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia atau ZEEI.

Saat itu dua kapal TNI AL itu hanya bisa membayang-bayangi tanpa bisa menindak sebab sesuai ketentuan hukum internasional yang mana semua kapal bebas berlayar di daerah tersebut. Namun, pesawat intai maritim TNI AL Nomad N-21 yang mencarinya di perairan internasional setelah Lusitania Expresso meninggalkan Pelabuhan Aju Darwin di Australia.

Karena hal inilah ketika Lusitania Expresso posisinya diketahui, korvet Ki Hajar Dewantara yang berpatroli di Laut Timor menyalakan mesin turbin, berlayar ngebut sepanjang malam menyonsong Lusitania di ZEEI. Kemudian menyusul fregat KRI Yos Sudarso, kapal perang kelas Van Speijk dengan senjata andalannya, peluru kendali Exocet.

Seperti tak mengindahkan peringatan, kapal dengan panjang 73 meter dan lebar 13 meter itu terus melaju dan mereka seperti menguji nyali kapal-kapal perang TNI AL. Peringatan dilakukan karena saat itu Indonesia dan Portugal tengah bermusuhan akibat integrasi Timor Timor menjadi provinsi ke-27 Indonesia.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

Kapal yang namanya diganti bedhes atau anak monyet oleh para pelaut TNI AL pada 11 Maret 1992 akhirnya berhasil memasuki perairan teritorial Indonesia. Lusitania Expresso dibuat oleh galangan Trondhjems Mekaniske Verksted di Norwegia yang mana dulunya dikenal dengan Roslagen Spervik 1. Status Lusitania Expresso sendiri saat ini laid up atau secara teknis berarti kapal tersebut untuk sementara diberhentikan operasionalnya.

Begini Potret Karantina Mandiri sambil Berlibur ala Australia

Untuk pertama kalinya sejak Juni lalu, zona merah Covid-19 di Australia, negara bagian Victoria, melaporkan nihil kasus virus Corona pada Oktober dan November lalu. Kesuksesan itu dipercaya berkat aturan lockdown ketat selama enam pekan yang membuat warga jenuh berada di dalam rumah. Namun, tidak untuk Sheree Rubinstein dan bayinya yang baru berusia lima bulan.

Baca juga: Australia Punya Jalur Lurus Kereta Api Terpanjang di Dunia

Sebelum lockdown diberlakukan, Sheree dan buah hati, Goldie, didesak hijrah oleh teman-temannya agar tak merasakan lockdown berkepanjangan nan membosankan di Victoria. Meskipun sempat menolak, desakan kabur dari negara bagian dengan penduduk terpadat kedua di Australia itu akhirnya diterima dan pindah ke Darwin sebelum menuju Byron Shire, di pantai utara New South Wales.

Di sana, Sheree memang tetap diwajibkan menjalani karatina selama 14 hari. Namun, karantina di sini berbeda dengan karantina di Victoria ataupun di kota-kota lainnya. Sebab, karantina di Darwin, masih memungkinkan seseorang untuk beraktivitas, seperti jogging hingga berenang.

Sheree dan sang buah hati, Goldie. Foto: Lexi Spurr

Dilansir ABC Australia, karantina di fasilitas Howard Springs selama dua pekan wajib dijalani Sheree dan warga lainnya yang hendak masuk ke Darwin dengan biaya $2.500 untuk perorangan dan $5.000 untuk keluarga.

Dahulu, fasilitas Howard Springs merupakan sebuah kamp pekerja. Namun, sejak tahun lalu, kamp tersebut kosong dan dikelola oleh pemerintah Northern Territory. Di awal pandemi, fasilitas ini sempat digunakan untuk mengkarantina warga Australia yang baru pulang dari Wuhan, Cina.

Fasilitas karantina yang terletak sekitar 25 kilometer di selatan CBD Darwin ini terdiri dari puluhan kamar luas; lengkap dengan televisi, dapur, internet, AC, dan balkon. Dengan berbagai fasilitas tersebut, peserta karantina, termasuk Sheree dimungkinkan untuk tetap berinteraksi satu sama lain dari balkon masing-masing, baik berkomunikasi secara langsung ataupun via virtual melalui video games.

Peserta karantina bisa jogging di sekitar kawasan. Foto: Lexi Spurr

Setiap hari, sambil tetap mengenakan masker dan menjaga jarak, Sheree dan yang lainnya memulai aktivitas dengan melakukan stretching di balkon masing-masing. Kemudian, mereka berjalan-jalan keliling kawasan, berkumpul sambil berjemur, bermain games ketangkasan, menikmati matahari terbenam di Top End, dan bahkan berenang di pantai.

Baca juga: Hari ini, 101 Tahun Lalu, Penerbangan Terjauh di Dunia Inggris-Australia Dimulai! Sempat Mampir di Batavia dan Surabaya

Tak ayal, dengan kelonggaran tersebut, fasilitas karantina di sini kerap disebut sebagai karantina sambil berlibur ala Darwin, sebuah kondisi yang sama sekali berbeda dengan karantina di Melbourne, Victoria, Australia, dimana warga yang karantina di sana sampai menangis atau berteriak, saking jenuhnya terkurung di hotel.

Sheree sendiri mengamini bahwa fasilitas karantina di Darwin itu sebagai karantina sambil berlibur. “Kami benar-benar menikmatinya,” katanya. “Sejujurnya, rasanya seperti liburan dibanding di Melbourne. Setiap hari kami melakukan kelas Pilates virtual di balkon atau kami bermain kartu di malam hari,” tambahnya.

Kementerian Perhubungan Usulkan Buka Trayek Bus ke Puncak

Sebanyak 41 trayek angkutan bus baru diusulkan oleh Kementerian Perhubungan atau Kemenhub untuk operasional bus di wilayah Jabodetabek. Dalam dokumen Kemenhub trayek baru ini tersebar di berbagai wilayah Jabodetabek dengan usulan rute ke Bogor sebanyak tujuh trayek, Depok 17 trayek, Tangerang dan Bekasi masing-masing tiga trayek.

Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera

Sedangkan delapan trayek lainnya termasuk dalam rute angkutan umum yang berdasarkan Rencana Umum Transportasi Jabodetabek atau RUJT dan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek atau RIJT. Rencana 41 trayek ini diusulkan diakomodasi melalui skema Buy the Service (BTS).

Dikutip KabarPenumpang.com dari cnbcindonesia.com (17/11/2020), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Buy the Service menjadikan suatu konsep di perkotaan seperti Bogor, Bekasi dan Tangerang. Sehingga masyarakat yang akan menggunakannya mendapatkan subsidi.

“Antara kemampuannya dengan cost itu kita subsidi sehingga swasta bisa masuk ke kegiatan itu dengan adanya subsidi pemerintah,” tambah Budi.

Budi menyebutkan, meski Buy the Service sudah diberlakukan di berbagai daerah, Jabodetabek sendiri bus-bus ini sempat dimanfaatkan untuk mengangkut calon penumpang KRL yang terdampak pembatasan kapasitas. Dia mencontohkan ketika kereta overloda, Kemenhub memberikan bus gratis dari Bogor ke Jakarta atau sebaliknya.

Dia juga mengatakan ada bus gratis dari Bekasi dan juga Tangerang. Budi menambahkan, tiga trayek akan secara khusus mengambil rute ke kawasan Puncak, Bogor. Adapun rute ke Puncak yakni Baranangsiang menuju Puncak, Kampung Rambutan tujuan Puncak dan Cibubur ke Puncak.

Kemenhub mencatat, waktu operasi diproyeksikan mulai pukul 05.00 hingga 21.00 WIB. Di antara jam operasional itu terdapat peak hour pukul 05.00 sampai 08.00 pagi dan pukul 16.00 hingga 19.00 sore. Ketika peak hour atau jam padat ini headway antar keberangkatan bus dilakukan per 15 menit.

Baca juga: Ada Pramugari di Bus AKAP, Dari Layani Penumpang Hingga Turunkan Barang di Bagasi

Adapun dalam waktu off peak atau jam longgar, headway keberangkatan dilakukan per 30 menit. Off peak ini mulai pukul 08.00 sampai 16.00 dan pukul 19.00 hingga 22.00.
Trayek ini di bawah wewenang Badan Pengatur Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Anggaran sebesar Rp100 miliar disiapkan BPTJ untuk program Buy the Service ini. Subsidi tersebut membuat total pagu BPTJ bertambah dari Rp350 miliar menjadi Rp450 miliar di tahun 2021.

Terkait rute TransJakarta menuju ke Puncak, sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak TransJakarta setelah di hubungi KabarPenumpang.com, Selasa (29/12/2020).

Yutong dan WeRide Kembangkan Bus Tanpa Pengemudi

WeRide yang merupakan startup ride hailing otonom di Cina telah mengumpulkan US$200 juta dari pembuataan bus seri B1 dari Yutong Group yang merupakan induk dari produsen bus Zhengzhou Yutong Bus Co Ltd. Keduanya juga setuju untuk berkolaborasi dalam mengembangkan bus tanpa pengemudi.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

KabarPenumpang.com melansir dari laman kr-asia.com (23/12/2020), WeRide bahkan mengatakan dalam sebuah pernyataan keduanya telah mengembangkan mini robobus tanpa pengemudi yang dibuat untuk meluncur di jalan kota. Bus ini tidak akan ada kemudi atau setir, akselerator atau rem, tetapi sebagai gantinya dilengkapi dengan perangkat lunak serta perangkat keras dari WeRide.

“Investasi strategis Yutong Group adalah bukti kuat untuk teknologi WeRide yang kuat dan upaya terus-menerus kami untuk memperluas batasan industri,” kata Tony Han, salah satu pendiri dan CEO WeRide.

WeRide memulai operasi robotaxi pada November tahun lalu dan menyelesaikan 147.128 perjalanan, mengantar lebih dari 60 ribu penumpang dengan selamat ke tujuan mereka di tahun pertama layanannya dan masih dengan pengemudi cadangan. Meskipun WeRide hanya beroperasi di Guangzhou, Baidu telah menjalankan armada di beberapa kota termasuk Changsha, Cangzhou dan Beijing.

Baidu mulai memproduksi secara massal bus penggerak otonom Apolong pada awal 2018 dan bekerja sama dengan pabrikan yang berbasis di Xiamen, King Long. Robobus Apolong telah digunakan di 28 kota di Cina, termasuk Beijing dan Chonqqing, mengangkut lebih dari 100 ribu penumpang.

Untuk diketahui, sebelum putaran pendanaan baru, WeRide mendapatkan total investasi sebesar USD207 juta dari investor termasuk Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi dan CEO pembuat EV Cina, Xpeng Motors, He Xiaopeng tahun ini. WeRide mengejar standar otonom level 4, perusahaan memperoleh persetujuan pemerintah untuk meluncurkan program robotaxi percontohan di Guangzhou pada November 2019.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Ini kemudian menjadikannya start up self-driving pertama di Cina yang menerima lampu hijau dari pejabat. Yutong sendiri dulunya pernah digunakan oleh PT TransJakarta sebagai salah satu armada bus gandeng untuk beroperasi di Jakarta.

Namun bus Yutong tersebut harus dikandangkan karena terbakar pada 2014 lalu, padahal belum satu tahun beroperasi melayani rute BRT di Jakarta. Saat itu ada 30 bus yang harus dikandangkan untuk dilakukan penyelidikan terkait kebakaran yang terjadi saat beroperasi.

Pertama Kalinya, Singapore Airlines Buka Fasilitas Pelatihan untuk Umum! Satu Jam Tiket Ludes Terjual

Singapore Airlines (SIA) membuka fasilitas pelatihannya untuk umum selama empat hari. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi bertahan hidup maskapai di tengah pandemi virus Corona yang membuat industri penerbangan anjlok.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Singapore Airlines memang sangat mengandalkan penerbangan internasional dikarenakan maskapai tak mempunyai pasar penerbangan domestik. Praktis, kondisi tersebut tak bisa membuat perusahaan berharap banyak pada penerbangan.

Karenanya, sejak beberapa bulan lalu, maskapai terbaik dunia tahun 2019 versi Skytrax ini meluncurkan lini bisnis baru semata demi mencetak pundi-pundi uang, mulai dari makan siang mewah di pesawat Airbus A380, layanan pesan-antar (delivery) sajian mewah khas penerbangan, program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) lewat Singapore Airlines Academy, serta tur keliling fasilitas pelatihan maskapai.

Dilansir Simple Flying, SIA menawarkan pengalaman seru berkeliling pusat pelatihan maskapai dengan biaya terjangkau, sebesar $15 atau sekitar Rp225 ribu (kurs 14.800) untuk anak-anak berusia 3-12 tahun dan $30 atau sekitar Rp450 ribu (kurs 14.800) untuk orang dewasa.

Disebut terjangkau, sebab, hanya dalam satu jam, tiket tur keliling fasilitas maskapai itu sudah ludes terjual. Selain harganya yang terjangkau, ini merupakan untuk pertama kalinya SIA membuka fasilitas pelatihan mereka bagi publik. Tak ayal, warga Singapura antusias menyambutnya.

Selama beberapa jam, peserta tur keliling fasilitas pelatihan Singapore Airlines akan disuguhkan rahasia sukses maskapai, mulai dari mengunjungi heritage center, wine appreciation room, etiquette training room, makeup training room, mockup pesawat, evacuation slides and wave pool, flight simulator, serta makan mewah di restoran A380 SIA.

Sebagaimana namanya, masing-masing ruangan di fasilitas pelatihan memiliki ciri khas tersendiri. Heritage center menampilkan sepak terjang Singapore Airlines sejak pertama kali berdiri pada 28 Januari 1972 dan masih dipandang sebelah mata, mulai diakui, sampai akhirnya menjadi langganan pemenang penghargaan tingkat dunia.

Di wine appreciation room, peserta memang hanya disuguhkan pemandangan ruangan berseta pernak-perniknya; begitu juga di etiquette training room, mockup pesawat, dan safety slide & pool. Namun, di sini (wine appreciation room), peserta tur juga dimungkinkan untuk mencicipi langsung wine khas maskapai, sebelum atau sesudah tur, dengan tambahan biaya sebesar SGD40.

Senada dengan wine appreciation room, peserta juga bisa turut merasakan sensasi menjadi kru SIA saat di ruang rias atau makeup training room dengan tambahan biaya sebesar SGD100. Dengan harga segitu, nantinya peserta tur akan dibukakan rahasia cantik dan anggun khas pramugari Singapore Airlines.

Pun demikian dengan flight simulator Singapore Airlines, peserta tur keliling fasilitas pelatihan maskapai juga bisa turut serta merasakannya, dengan biaya tambahan sebesar SGD535 selama 75 menit. Harga itu termasuk menjajal flight simulator 777, 737 MAX, dan 787. Sayangnya, itu tidak termasuk flight simulator pesawat-pesawat Airbus.

Baca juga: Singapore Airlines Luncurkan Tempat dan Alat Makan Ramah Lingkungan dari Kertas dan Bambu

Tak lupa, SIA juga menunjukkan cara maskapai menghadirkan produk-produk atau penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan, baik di udara maupun di darat.

Sebetulnya, dari rangkaian tur keliling ini, ada satu ruangan penting namun tak termasuk paket tur. Ruangan itu adalah fasilitas gym staf SIA. Fasilitas gym diakui oleh SIA sebagai salah satu pendukung kesuksesan maskapai, dengan memperhatikan gizi, penampilan, di bawah bimbingan pelatih kebugaran dan konsultan nutrisi.