40 Tahun Lalu, Mercedes-Benz Luncurkan Airbag dan Sabuk Pengaman Pada S-Class

Pada tahun 1980, Mercedes-Benz meluncurkan airbag pengemudi dan sabuk pengaman yang pada masa itu merupakan inovasi mutakhir dalam teknologi keselamatan. Namun saat itu airbag dan sabuk pengaman masih terbatas yakni pada sedan S-class. Ini menjadi mobil seri pertama yang memiliki teknologi baru tersebut dan merupakan tonggak lain untuk keselamatan kendaraan pasif dalam barisan inovasi luar biasa Mercedes-Benz.

Baca juga: Pertama di Dunia, Mercedes-Benz Sematkan Fitur Airbag Depan-Belakang

Airbag tersebut merupakan pengembangan bersama antara Daimler-Benz AG dan Bosch dan lebih dari 100 kendaraan S-Class yang dilengkapi dengan sistem keselamatan baru diluncurkan dari jalur perakitan pada Januari dan Februari 1981. KabarPenumpang.com merangkum automotiveworld.com (22/12/2020), Mercedes-Benz mempresentasikan airbag pengemudi dan sabuk pengaman kepada publik di Geneva Motor Show.

Yang mana airbag dan sabuk pengaman tersedia pada 1982 sebagai tambahan opsional untuk semua mobil penumpang Mercedes-Benz. Pada tahun 1992, airbag pengemudi merupakan perlengkapan standar di semua model merek, diikuti oleh airbag penumpang depan sebagai fitur keselamatan standar pada tahun 1994. Meski begitu, banyak airbag lain mengikuti di tahun selanjutnya dengan airbag dipasangn di berbagai posisi kendaraan.

Ketika terjadi kecelakaan dan rem mendadak dengan benturan langsung yang parah, airbag akan mengembang dalam beberapa milidetik di depan penumpang. Di mana campuran gas yang dihasilkan, pada saat penemuan airbag terutama terdiri dari nitrogen, menggembungkan penutup kain berbentuk bantal airbag.

Ini menawarkan perlindungan terbaik yang mungkin dikombinasikan dengan sabuk pengaman, keduanya digunakan untuk melindungi tubuh bagian atas dengan lembut saat terlempar ke depan karena benturan. Empat dekade lalu, Mercedes-Benz memiliki inovasi lain dengan sabuk pengaman.

Pada akhir 1980-an, merek tersebut meluncurkan airbag pengemudi bersama dengan sistem pengekangan untuk penumpang depan, yang pada saat itu dikenal sebagai “pengencang sabuk”. Namun pada tahun 1984, seat belt tensioner, sebutan yang sekarang lebih dikenal dengan fitur keselamatan ini, sudah menjadi perlengkapan standar untuk kursi depan semua mobil penumpang Mercedes-Benz.

Ide dasar untuk airbag dikaitkan, antara lain, dengan penemu hobi, Walter Linderer yang pada tahun 1950-an, telah merancang apa yang dia gambarkan sebagai “wadah tiup dalam keadaan terlipat, yang secara otomatis mengembang jika terjadi bahaya. Pada tanggal 6 Oktober 1951, penemu kelahiran Munich mengajukan paten untuk “perangkat untuk melindungi orang di dalam kendaraan dari cedera jika terjadi tabrakan” dari Kantor Paten Jerman.

Meskipun dalam aplikasinya Linderer secara tepat menjelaskan prinsip airbag, persyaratan teknis untuk sensor dan juga untuk pembangkit gas cepat tidak ada pada masa itu. Udara tekan konvensional tidak cocok untuk menghasilkan tekanan karena butuh waktu terlalu lama untuk mengembang kantung udara. Bahan elastis dan sangat tahan air mata yang diperlukan untuk membuat kantung udara juga tidak tersedia pada saat itu dan ini tetap terjadi selama beberapa tahun. Lalu Mercedes-Benz kembali ke ide airbag pada tahun 1966 dan memulai uji coba awal untuk produksi gas efektif pada tahun 1967.

Di mana paten untuk “perangkat perlindungan benturan untuk penumpang kendaraan” (Paten No: DE 21 52 902 C2) diajukan oleh kemudian Daimler-Benz AG pada Oktober 1971. Kemajuan berkelanjutan: Setelah sekitar 250 uji tabrak, lebih dari 2.500 mobil uji luncur, dan ribuan uji coba pada masing-masing komponen, insinyur keselamatan Mercedes-Benz berhasil membawa teknologi tersebut ke kematangan produksi seri selama lima belas tahun ke depan.

“SRS airbag” (suplemental restraint system) yang melengkapi sabuk pengaman dan awalnya terlihat pada roda kemudi model Mercedes-Benz yang dilengkapi dengan teknologi ini. Peredam benturan di roda kemudi ini berukuran besar karena harus mengakomodasi penutup kain yang besar saat digelembungkan, kantung udara pengemudi pertama memiliki volume antara 60 hingga 70 liter.

Hingga akhirnya pada 2020, seri model 223 S-Class, yang memulai debutnya termasuk airbag baru tambahan seperti airbag belakang, yang merayakan penayangan perdana dunia mereka tahun ini. 40 tahun setelah peluncuran kantung udara pengemudi pertama, kantung udara belakang baru ini menggunakan konsep inflasi baru yang radikal dengan struktur tubular, dirancang untuk memasang kantung udara depan untuk kedua jok belakang luar untuk pertama kalinya.

Baca juga: Sabuk Pengaman Model “V,” Lambang Supremasi Teknologi Volvo

Sehingga jika terjadi tabrakan langsung yang parah, inovasi ini sangat mengurangi beban di kepala dan leher penumpang yang tertahan oleh sabuk pengaman di kursi ini. Sama seperti Mercedes-Benz S-Class membuka jalan dengan standar baru keselamatan 40 tahun yang lalu, generasi baru terus membawa keselamatan pengemudi dan penumpang ke tingkat yang benar-benar baru dan menetapkan standar baru tidak hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk industri secara keseluruhan.

Jalan-Jalan Ke Ancol Naik Kereta? Yuk Turunnya di Stasiun Ancol

Meski pada liburan Natal dan Tahun Baru kali ini, kawasan Ancol dan pusat hiburan di DKI Jakarta ditutup terkait pandemi Covid-19, namun, merencakan liburan ke Ancol tetap menjadi minat tersendiri bagi sebagian warga. Nah, untuk sampai ke Ancol, masih sedikit pelancong yang menggunakan jasa kereta api. Padahal pelancong bisa turun di Stasiun Ancol yang tak jauh dari pintu masuk taman rekreasi terbesar di utara Jakarta ini.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Stasiun Jakarta Kota Resmi Beroperasi

Stasiun Ancol merupakan stasiun yang berada di Jalan RE Martadinata tepatnya di Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara. Stasiun ini berada di ketinggian +4 meter diatas permukaan laut. Stasiun ini termasuk dalam Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta.

Stasiun Ancol merupakan stasiun kereta api kelas III atau stasiun kecil yang berada di jalur kereta CommuterLine yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dengan relasi KRL Stasiun Tanjung Priok menuju ke Stasiun Kota. Stasiun Ancol memiliki empat jalur kereta tanpa memiliki sepur belok sama sekali.

Yang mana jalurnya terdiri dari jalur dwiganda dengan jalur ganda di sisi utara yang mengarah dari Jakarta Kota menuju Kampung Bandan dan jalur ganda di sisi selatan yang mengarah dari Rajawali. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ke arah timur dari stasiun ini, tepatnya beberapa meter sebelum memasuki Stasiun Tanjung Priok, ada percabangan menuju ke Pasoso-Depot Pertamina Cilincing.

Sayangnya jalur yang menuju Depot Pertamina sudah ditutup sejak tahun 1990-an dan di jalur 4 Stasiun Ancol dulunya terdapat wesel menuju gardu listrik yang kini sudah dicabut. Dulunya Stasiun Ancol hanya dilintasi kereta baik KRL atau pun kereta lainnya.

Baca juga: Seutas Cerita di Balik Kelamnya Stasiun Kampung Bandan

Meski begitu saat itu belum ada KRL yang berhenti di Stasiun Ancol karena menunggu perpanjangan peron untuk mengangkut penumpang. Kemudian sejak 25 Juni 2016, PT KCJ yang kini menjadi KCI kembali mengoperasikannya untuk pelayanan penumpang.

Pembukannya Stasiun ini selain memudahkan pelancong yang menumpang kereta menuju ke Ancol juga mengurangi kepadatan di Stasiun Kota ataupun Kampung Bandan. Meski begitu stasiun ini tak terlalu banyak penumpang yang turun untuk menuju ke destinasi Ancol.

Hal terebut karena jalur menuju ke Ancol cukup menyeramkan tanpa ada jalur aman untuk pejalan kaki. Semoga saja kedepannya Pemprov DKI Jakarta memberikan kenyamanan untuk menyeberang pada penumpang kereta yang akan berlibur ke Ancol.

 

Bisakah MD-11 Tetap Terbang Bila Kedua Mesin di Sayap Rusak? Simak Jawabannya

McDonnell Douglas MD-11 memang hanya terjual 200 unit sejak pertama kali terbang perdana pada 10 Januari 1990; sangat sedikit bila dibandingkan dengan DC-10 sebanyak 400 unit atau trijet Boeing 727 sebanyak 1.832 unit. Namun, pesawat trijet pengembangan dari DC-10 ini nyatanya merupakan salah satu pesawat widebody terpopuler di zamannya.

Baca juga: McDonnell Douglas MD-12 – Calon Rival Queen of the Skies yang Tidak Laku di Pasar

Meski populer, publik sempat ragu untuk menumpangi MD-11. Umumnya keraguan itu muncul ketika kedua mesin sayap pesawat diasumsikan mengalami kerusakan dan hanya menyisakan satu mesin di bagian ekor, akankah MD-11 tetap bisa terbang setidaknya untuk melakukan pendaratan darurat atau sebaliknya, pesawat kehilangan ketinggian dan menghantam keras daratan?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, tidak ada salahnya kita membahas aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) terlebih dahulu. Sebab, keduanya (ETOPS dan pertanyaan di atas) sangat terkait.

Dilansir Simple Flying, ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) pada dekade 70an, saat itu mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Begitu juga dengan pesawat trijet dan quadjet, ETOPS, dikemudian hari, menantang mereka semua untuk terbang dengan satu mesin.

Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satu atau seluruhnya kecuali menyisakan satu mesin, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.

Karena MD-11 merupakan pesawat yang muncul pada dekade 90an, sudah pasti ia sudah mendapat sertifikasi ETOPS. ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370 menit terbang dengan satu mesin. Adapun sertifikasi ETOPS MD-11 tidak disebutkan secara detail.

Atas pertanyaan di awal, MD-11 dipastikan tetap bisa terbang meskipun hanya dengan satu mesin. Persoalannya justru bukan tetap bisa terbang dengan satu mesin atau tidak, melainkan, berapa lama MD-11 bisa terbang hanya dengan satu mesin dan sayangnya tak ada jawaban pasti untuk ini karena keterbatasan informasi ETOPS pesawat itu.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Sekalipun kasusnya tak begitu persis dengan kenyataan di atas, MD-11 belum lama ini dilaporkan pernah mengalami kerusakan pada salah satu mesinnya. Disebutkan, FedEx MD-11F mengalami kerusakan mesin sebelah kiri tak lama setelah lepas landas dari Bandara Memphis, Tennessee, Amerika Serikat (AS). Dengan menyisakan kedua mesin, pesawat itu berhasil turn around dan mendarat mulus di bandara semula.

Menurut Aviation Safety Network, MD-11 telah terlibat dalam 32 kecelakaan sejak 1993. Namun, mayoritas dari jumlah tersebut berkenaan dengan sistem kontrol penerbangan pesawat, bukan kerusakan mesin.

Singapore Airlines Hadirkan Layanan Verifikasi Digital Covid-19 yang Juga Bisa Jadi ‘Paspor Vaksin’

Singapore Airlines (SIA) mulai melakukan uji coba layanan baru yang memungkinkan verifikasi hasil tes Covid-19 lebih cepat. Bahkan layanan ini memiliki potensi membuka jalan bagi pengenalan paspor vaksin. Nantinya kehadirannya memudahkan petugas imigrasi yang tak lagi memeriksa sertifikat kesehatan secara manual, melainkan dengan memindai kode QR melalui aplikasi yang dikembangkan oleh Temasek.

Baca juga: GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (23/12/2020), maskapai asal Singapura ini mengatakan bahwa dengan layanan tersebut akan mempersingkat waktu bagi pelancong dalam penyelesaian imigrasi dan meningkatkan pengalaman perjalanan di masa pandemi. Tak hanya itu, layanan tersebut juga bisa digunakan untuk memverifikasi status vaksinasi Covid-19 para pelancong sehingga bertindak seperti paspor vaksin.

“Tes dan vaksinasi Covid-19 akan menjadi bagian integral dari perjalanan udara di masa mendatang. Kami menawarkan solusi digital yang memungkinkan verifikasi informasi ini dengan mudah dan aman, dan mendukung pemulihan industri yang aman dan terkalibrasi dari pandemi ini,” kata Wakil presiden senior maskapai penerbangan untuk perencanaan pemasaran JoAnn Tan

Sedangkan Menteri Transportasi Ong Ye Kung mengatakan hasil tes Covid-19 seorang pelancong dan status vaksinasi mungkin menjadi informasi yang sangat relevan untuk perjalanan lintas batas. Kehadiran layanan ini yang dilakukan SIA dengan kerja sama IATA, Ong mengatakan, Kementerian Trasnportasi dan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) akan mendukung serta membantu menjadikannya praktik regional atau internasional.

Uji coba layanan tersebut dilakukan SIA pada Rabu kemarin dengan para pelancong yang melakukan penerbangan dari Jakarta atau Kuala Lumpur. Di mana pelancong dua kota ini dapat memanfaatkan layanan tersebut dengan melakukan tes Covid-19 pra-masuk di klinik tertentu.

Nantinya klinik akan membiarkan pelancong masuk ke Singapura ketika hasil mereka negatif dan ini dibuktikan dengan hasil berupa sertifikat kesehatan digital atau kertas dengan kode QR yang memverifikasi keasliannya. Yang mana kode tersebut dapat dipindai oleh staf bandara setempat dan petugas imigrasi yang menggunakan aplikasi seluler.

Kedepannya jika uji coba berhasil, layanan verifikasi akan diluncurkan oleh SIA ke kota lain dan mereka berencana mengintegrasi izin ke dalam aplikasi seluler mulai Juni tahun depan. SIA adalah maskapai penerbangan pertama di dunia yang menyiapkan proses verifikasi seperti itu berdasarkan kerangka Travel Pass IATA.

Masih dalam pengembangan, platform IATA dimaksudkan sebagai paspor kesehatan digital internasional yang memberikan bukti bahwa para pelancong telah diuji atau divaksinasi Covid-19. Wakil presiden senior IATA untuk bandara, penumpang, kargo dan keamanan Nick Careen mengatakan bahwa kemitraan dengan SIA akan menunjukkan bahwa orang dapat melanjutkan perjalanan dengan keyakinan bahwa mereka memenuhi persyaratan masuk Covid-19 di negara tujuan mereka.

“Ini akan membantu memastikan bahwa pelanggan SIA akan menjadi yang pertama mendapatkan keuntungan karena pemerintah membuka kembali perbatasan mereka dengan persyaratan pengujian atau vaksinasi,” tambahnya.

Direktur Peraturan Operasi Bandara dan Keamanan Penerbangan CAAS Margaret Tan mengatakan uji coba merupakan langkah penting untuk memfasilitasi kembalinya perjalanan udara. Dia mengatakan pihak berwenang akan bekerja dengan mitranya untuk mengambil solusi semacam itu untuk membantu memulihkan perjalanan udara.

“Ini adalah pendekatan inovatif untuk memastikan perjalanan perjalanan yang mulus sambil memastikan bahwa badan-badan kesehatan dan perbatasan diyakinkan bahwa penumpang memiliki kredensial kesehatan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat. Kami berharap negara dan maskapai lain akan mempertimbangkan untuk mengambil pendekatan serupa,” tambahnya.

Baca juga: Singapore Airlines Sukses Kirim Vaksin Pfizer-BioNTech Pertama, Makin Dekat Jadi Hub Distribusi Vaksin

Analis penerbangan independen Brendan Sobie dari Sobie Aviation mengatakan pengenalan sistem verifikasi digital SIA akan membantu para pelancong memenuhi serangkaian persyaratan, tetapi tidak akan memfasilitasi pemulihan lalu lintas penumpang.

Inilah AeroMACS, Sistem Komunikasi Digital Bandara Karya NASA yang Bikin Pilot ‘Bisu’

Komunikasi merupakan harga mati dalam pengoperasian bandara di seluruh dunia. Karenanya, kesalahan teknis atau kerusakan pada sistem komunikasi bandara akan sangat merugikan secara bisnis maupun sosial akibat kemungkinan jatuhnya korban, luka maupun jiwa.

Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Sebelum tahun 2016, sistem komunikasi bandara mayoritas menggunakan frekuensi radio. Bukan hanya rentan error, frekuensi radio juga tak aman karena tidak terenskripsi. Bandara memang masih punya sistem komunikasi berbasis kabel, dalam hal ini telepon rumah. Namun, tetap saja, itu masih dianggap tertinggal.

Sebab, teknologi nirkabel yang tersedia bagi penumpang pada perangkat portabel mereka, entah itu ponsel, laptop, dan lain sebagainya mengalahkan bandwidth yang tersedia bagi pilot di kokpit untuk dapat berkomunikasi dengan baik.

Lagi pula, dengan perbedaan kultur, gaya bahasa, serta aksen, terkadang komunikasi suara antara pilot dan petugas menara kontrol justru menimbulkan miskomunikasi dan pada akhirnya acap kali malah membahayakan penerbangan.

Oleh karena itu, sejak beberapa tahun lalu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), melalui para insinyurnya berusaha mengembangkan apa yang disebut Aeronautical Mobile Aircraft Communication System (AeroMACS).

AeroMACS memungkinkan menara kontrol (ATC) bandara melakukan komunikasi dengan pilot di kokpit secara digital, bukan komunikasi suara seperti yang ada kebanyakan saat ini. Itu berarti, pilot bukan tak mungkin akan dibuat ‘bisu’ alias tak banyak bercakap-cakap, dalam kaitannya dengan menara kontrol, efek dari kehadiran ini. AeroMACS diklaim mampu membuat traffic di runway lebih sedikit karena prosesnya lebih cepat.

Dilansir Simple Flying, teknologi AeroMACS diklaim juga lebih aman (terenskripsi), berkecepatan tinggi serta lebih lengkap karena menampilkan data berbasis diagram, peta 3D, serta detail informasi dan petunjuk penerbangan.

“Jaringan data digital baru (AeroMCAS), terenkripsi, berkecepatan tinggi akan merampingkan komunikasi antara awak darat dan pengawas lalu lintas udara,” kata NASA di situs remsminya.

“Pesan yang dikirim ke pilot setelah pesawat berada di darat (bandara) dapat mencakup diagram dan peta bergaya GPS, serta instruksi teks untuk navigasi landasan pacu, detail tugas gerbang, dan arah navigasi permukaan,” bunyi lain tulisan NASA di laman resminya.

Sebelum kehadiran sistem komunikasi digital bandara AeroMACS besutan NASA, otoritas penerbangan di lebih dari 150 negara telah mengadopsi standar Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX). WiMAX yang digunakan sejak tahun 2007an menggunakan infrastruktur jaringan seluler yang dapat disesuaikan untuk frekuensi baru; kecuali spektrum 5091 hingga 5150 megahertz, yang line-nya sengaja ditahan untuk menghadapai penerbangan krusial.

Seiring tantangan teknologi yang begitu rumit, oleh NASA dan divisi Broadband Wireless Access (BWA) Alvarion Technologies (sekarang diakuisisi oleh Telrad Networks), hardware WiMAX kemudian dimodifikasi.

Baca juga: Ketika Fly by Wire Dianggap Usang, Teknologi Fiber Optic “Fly by Light” Bersiap Gantikan

Usai dimodifikasi, WiMAX pun menjadi AeroMACS dengan beberapa keunggulan, seperti lebih aman, cepat, efektif, efisien, dan tentu saja, lebih murah dioperasikan dibanding sistem biasa.

Saat ini, setelah empat tahun lalu untuk pertama kalinya NASA berhasil mengirimkan data penerbangan seperti informasi rute dan cuaca ke pesawat yang sedang taxiing melalui sistem komunikasi nirkabel (digital), AeroMACS sudah digunakan di lebih dari 50 bandara di 15 negara. Dibutuhkan, setidaknya dua dekade untuk membuat sekitar 40 ribu bandara menggunakan itu di seluruh dunia.

GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI

Banyak penelitian yang dilakukan untuk membuat alat pengecekan virus corona atau Covid-19 untuk memudahkan dan mendapatkan hasil yang akurat dan cepat. Salah satunya seperti yang dibuat oleh Universitas Gajah Mada (UGM). Para peneliti di UGM baru-baru ini siap meluncurkan alat pendeteksi virus corona bernama GeNose.

Baca juga: Biar Nggak Bingung, Ini Bedanya Rapid Tes Antibodi, Rapid Tes Antigen dan Swab PCR

Nah apa sih GeNose itu? KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, GeNose merupakan alat yang dirancang untuk mendeteksi serta mendiagnosis apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak. Alat ini bekerja dengan mengambil sampel dari hembusan nafas dan cukup berbeda dari PCR swab yang menggunakan lendir dari nasofaring atau orofaring.

UGM mengklaim GeNose ini bekerja secara cepat dan akurat dalam mendeteksi Volatile Organic Compound atau VOC yang terbentuk karena infeksi virus corona. Dengan cara mengambil hembusan nafas seseorang, sensor yang ada pada GeNose akan bekerja dan data yang didapat akan diolah dengan kecerdasan buatan untuk pendeteksian serta pengambilan keputusan.

Menurut para peneliti, keunggulan GeNose adalah desainnya yang mudah digenggam tangan dan mudah dioperasikan secara efisien atau mandiri. Bahkan GeNose sendiri terhubung dengan sistem cloud computing untuk mendapatkan hasil diagnosis yang real time.

Para peneliti juga mengklaim GeNose mampu bekerja paralel melalui proses diagnosis yang terpusat dan validitas data pun dapat terjaga. Bahkan data yang terkumpul pun dimanfaatkan untuk pemetaan, pelacakan serta pemantauan penyebaran pandemi.

GeNose sebagai pendeteksi Covid-19 menjadi harapan baru di tengah pandemi dan alat yang lebih akurat, efisien serta hasil yang keluar lebih cepat sehingga memudahkan tim medis. Saat ini GeNose sudah diuji profiling dengan 600 sampel data valid dari RS Bhayangkara dan Lapangan Khusus Covid-19 Bambanglipuro, Yogyakarta.

Hasil uji ini menggembirakan dengan menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi yakni 97 persen dan akan melalui uji klinis secara bertahap di sejumlah rumah sakit. Ketua tim pengembang GeNose, Kuwat Triyana, mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan pertemuan dengan manajemen Kereta Api Indonesia. Poin pertemuan itu sendiri membahas mengenai penggunaan GeNose di stasiun kereta api.

“Saya baru saja melakukan meeting dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), kan GeNose ini nanti digunakan di moda transportasi,” ujar Kuwat yang dikutip dari sindonews.com.

Dia menambahkan saat ini sudah mendapatkan izin edar dari Kemenkes dan akan melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama. Kuwat Triyana mengatakan biaya tes deteksi Covid-19 menggunakan GeNose C19 cukup murah, yakni sekitar Rp15 ribu sampai Rp25 ribu.

VP Public Relation PT KAI Joni Martinus menambahkan, pihaknya mendukung semua kebijakan dan langkah untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia termasuk inovasi yang dihadirkan UGM dalam rangka menghadirkan layanan pengecekan yang terjangkau, cepat dan akurat.

“Kami tentu menyambut baik inovasi yang dihadirkan oleh UGM dalam rangka menghadirkan layanan pengecekan Covid-19 yang terjangkau, cepat dan akurat,” kata dia.

Untuk diketahui, meski bisa menjadi metode pengecekan alternatif Covid-19, penemuan ini masih perlu melakukan lebih banyak penelitian. Sebab sampai sekarang hasil dari tes PCR masih dianggap paling akurat untuk mendeteksi virus corona baru tersebut.

Baca juga: Bandara Changi Buka Laboratorium Pengujian Covid-19 Pada Q1 2021

“Sejauh ini, masih PCR yang masih gold standard-nya. Soalnya pemeriksaan ini spesifik dan sensitif untuk virus SARS-COV-2. Meski demikian, tentu temuan tim ahli lintas bidang ilmu di UGM ini perlu diapresiasi. Kita patut menantikan apakah GeNose ini bisa diproduksi secara massal dan membantu deteksi dan pelacakan virus corona lebih cepat dan akurat,” kata dr. Sepriani Timurtini Limbong.

Varian Baru Virus Corona Ditemukan, Mulai 28 Desember Jepang Larang Kedatangan Turis

Jepang telah mengkonfirmasi temuan lima kasus mutasi virus Corona baru dari Inggris pada Jumat lalu. Kasus itu ditemukan dari penumpang pesawat yang datang dari Inggris. Tak lama kemudian, Negeri Matahari Terbit itu pun mengeluarkan kebijakan larangan masuk bagi turis asing (WNA), efektif mulai 28 Desember 2020 sampai Januari 2021.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Meski varian baru virus Corona dari Inggris sudah ditemukan, sebetulnya, Jepang sudah mengambil langkah antisipatif sejak beberapa hari sebelumnya.

Laporan Japan Today, sebelum varian atau jenis baru virus Corona hasil mutasi dari Covid-19 masuk ke Jepang, Negeri Sakura itu sudah mulai memperketat akses masuk dengan melarang wisatawan, baik itu tujuan bisnis maupun studi, untuk sementara waktu.

Pada fase ini, warga negara Jepang dan penduduk asing yang sudah lama menetap di Jepang masih diperbolehkan masuk. Tentu dengan syarat harus mendapat hasil negatif pada tes PCR 72 jam sebelum keberangkatan pesawat serta karantina mandiri selama 14 hari. Mereka juga diminta untuk mengunduh aplikasi kontak tracing Covid-19 agar data lokasinya bisa diakses otoritas selama yang bersangkutan berada di Jepang.

Beberapa hari sebelumnya, Jepang juga sudah melarangan wisatawan asal Inggris masuk untuk alasan apapun.

Kepala Sekretaris Kabinet, Katsunobu Kato, mengatakan langkah Jepang melakukan pembatasan sampai larangan masuk bagi warga negara asing diambil semata untuk memberikan rasa aman, menyusul kemunculan varian baru virus Corona yang pertama kali ditemukan di Inggris.

“Kami telah memutuskan untuk segera mengambil tindakan guna mencegah penyebaran virus secara menyeluruh di Jepang dan membuat orang merasa aman,” kata Kato, dalam sebuah konferensi pers rutin.

Terlepas dari varian baru virus Corona asal Inggris yang digadang menular 70 persen lebih cepat -meskipun tidak mematikan- kasus harian virus Corona di Jepang memang melonjak tajam. Beberapa hari lalu, Jepang mencetak 3.000 kasus positif Covid-19 harian, terbesar di bulan ini.

Baca juga: Arab Saudi Lockdown Gegara Virus Corona Jenis Baru! Ibadah Umrah Ditangguhkan

Angka tersebut disinyalir bakal terus melonjak seiring meningkatnya aktivitas warga dalam menyambut libur panjang natal dan tahun baru, dimana warga Tokyo biasanya banyak yang keluar kota dan sebaliknya, warga dari kota-kota lain banyak yang masuk ke Tokyo.

Sebetulnya himbauan untuk tetap di rumah sudah menggaung ke seantero Jepang. Namun, layaknya masyarakat di negara-negara lain, warga Jepang sudah tak tahan dan beberapa di antaranya sudah tak mau lagi diatur untuk tetap berada di rumah pasca lockdown berkepanjangan pada periode awal virus Corona menular ke seluruh dunia di kuartal I dan II tahun ini.

Dengan TKDN 44,69 Persen, Pesawat Turboprop N219 Raih Sertifikasi dari DKPPU Kemenhub

Setelah empat tahun semenjak uji terbang perdana (maiden flight) pada 16 Agustus 2017, akhirnya hari ini, pesawat turboprop N219 hasil kerjasama PT DI dan LAPAN telah meriah sertifikasi dari Kementerian Perhubungan RI. Dilakukan secara online, hari ini, 28 Desember 2020, N219 memperoleh sertifikat yang diberikan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kemenhub RI.

Baca juga: Tiga Tahun Setelah Bernama “Nurtanio,” Inilah Progres Sertifikasi Pesawat N219

Dikutip dari siaran pers PT Dirgantara Indonesia (28/12/2020), Type Certificate N219 diserahkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono kepada Direktur Utama PT DI, Elfien Goentoro, disaksikan oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi di Ruang Mataram, Gedung Kemenhub RI, Jakarta.

Proses sertifikasi merupakan proses terpenting untuk menjamin keamanan dan keselamatan, mengingat pesawat tersebut kedepannya akan digunakan oleh pengguna dan masyarakat umum. Sebagaimana hasil pengujian DKPPU, pesawat N219 dinyatakan telah memenuhi CASR Part 23 (Airworthiness Standards for Aeroplanes in the Normal, Utility, Acrobatic or Commuter Category).

“Prototype pesawat pertama (Prototype Design 1) N219 Nurtanio telah menjalani Flight Cycle sebanyak 250 cycle dan Flight Hours sebanyak 275 jam, sedangkan prototype pesawat kedua (Prototype Design 2) N219 telah menjalani Flight Cycle sebanyak 143 cycle dan Flight Hours sebanyak 176 jam. Sehingga secara total pesawat N219 telah menyelesaikan 393 Flight Cycle dan 451 Flight Hours dalam proses sertifikasi ini”, demikian penjelasan Gita Amperiawan, Direktur Teknologi & Pengembangan PT DI.

N219 Produksi PTDI. Sumber: Istimewa

Bukan pertama kali bagi PTDI melakukan pengembangan produk, pengembangan pesawat N219 dimulai pada tahun 2014 untuk tahap desain dan aplikasi Type Certificate, dilanjutkan dengan pembuatan prototype pesawat pertama pada tahun 2016 dan prototype pesawat kedua pada tahun 2017 bersamaan dengan proses integrasi sistem, dimana pada tahun tersebut merupakan awal mula proses pengujian untuk sertifikasi, hingga akhirnya di tahun 2020 berhasil memperoleh sertifikasi, untuk selanjutnya direncanakan masuk ke tahap komersialisasi pada tahun 2021.

Dengan selesainya sertifikasi, pesawat N219 diharapkan dapat menjadi awal dari kebangkitan kembali industri dirgantara Indonesia, yang kemudian dapat membantu mengisi kebutuhan penerbangan konektivitas dan perintis di pelosok Indonesia dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara lebih merata.

“Betapa panjang dan rumitnya proses sertifikasi pesawat N219, diantaranya yaitu Document Certification, Conformity Inspection, Laboratory Test, Ground Test, Flight Test System & Performance. Ini akan menjadi kebanggaan bagi Indonesia, untuk pertama kali berhasil menyelesaikan sertifikasi dari pesawat yang sepenuhnya merupakan hasil karya anak bangsa.

Juga merupakan sebuah prestasi pertama dan luar biasa bagi PT DI dan DKPPU untuk dapat menyelesaikan evaluasi dan test bagi produk pesawat terbang nasional dengan kompleksitas sebesar ini. Ini semua merupakan prestasi bangsa dan akan menaikkan wibawa bangsa Indonesia di dunia penerbangan internasional.

Adapun untuk nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pesawat N219 berdasarkan hasil assessment oleh PT Surveyor Indonesia tahun 2019 adalah sebesar 44,69% dan PT DI dengan melibatkan berbagai industri komponen dalam negeri akan terus berupaya meningkatkan nilai TKDN pesawat N219 hingga mencapai lebih dari 50%, sehingga manfaat dari mengembangkan produk pesawat nasional dapat dimaksimalkan dan disebarkan pada industri UKM Nasional.

“Mudah-mudahan rantai nilai produksi atau industri pesawat indonesia bisa diwujudkan dan kita terus berharap meningkatkan TKDN yang saat ini hampir 50% mudah-mudahan kita bisa segera naikkan di atas 50%. Dan tentunya sekali lagi kita berharap pesawat N219 ini bisa menjadi awal kebangkitan industri Dirgantara di Indonesia”, kata Bambang Brodjonegoro saat meninjau pesawat N219 di PTDI pada tanggal 11 Desember 2020.

Produksi awal pesawat N219 akan dibuat 4 unit pesawat N219 dengan menggunakan kapasitas produksi yang saat ini tersedia, untuk selanjutnya PT DI akan melakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem produksi modern pada manufacturing, sehingga secara bertahap kemampuan output produksi akan terus dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Baca juga: Pesawat Twin Otter, Si Kecil Bandel yang Lincah Meliuk di Daerah Pegunungan

Saat ini pengembangan pesawat N219 amphibi sedang dalam tahapan Preliminary Design, untuk kemudian dilanjutkan ke tahapan Prototyping & Structure Test, Development Flight Test dan ditargetkan dapat diperoleh ATC Award pada tahun 2024.

Pertama di Dunia! Cina Perkenalkan Halte Bus Cetak 3D dari Bahan Daur Ulang

Menunggu sarana transportasi umum di halte atau stasiun bukanlah sesuatu hal yang aneh nan unik, namun apa jadinya jika Anda menunggunya di dalam sebongkah batu besar, lengkap dengan tempat duduk dan bagian atap yang akan melindungi Anda dari serangan cuaca buruk, unik bukan? Tenang, Anda tidak sedang digiring menggunakan mesin waktu yang membawa Anda menuju jaman Flintstone, tapi halte unik ini memang benar-benar ada di era digitalisasi seperti saat ini.

Baca Juga: Parade Halte Unik Dengan Sokongan Promosi dan CSR

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman 3dprint.com (29/12/2017), perusahaan rekayasa, arsitektur, dan konstruksi asal Shanghai, Winsun, baru-baru ini mempresentasikan sebuah halte bus yang menggunakan teknologi cetak 3D pertama di dunia. Halte bus ini dapat ditemui di kota kuno Fengjing, Yinshan, tepatnya di nya di Fengjing Road Four.

Sebenarnya, Winsun telah lama mempromosikan penggunaan bahan daur ulang yang bersih untuk membangun infrastruktur dan interior rumah yang berkelanjutan yang dicetak tahun lalu dari limbah konstruksi daur ulang di Suzhou, sebagai bagian dari sebuah inisiatif untuk mempromosikan konstruksi rendah karbon.

Didasarkan pada konsep tersebut, Winsun lalu mengaplikasikan hal serupa pada halte bus 3D ini. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2003 ini menggunakan bahan limbah bangunan daur ulang mentah untuk membangun halte bus hanya dalam satu malam saja. Uniknya, para penumpang yang menggunakan halte ini tidak menyadari bahwa tempat yang tengah mereka singgahi merupakan hasil cetak 3D.

Halte 3D yang dicetak oleh Winsun merupakan bagian dari sebuah proyek baru yang berputar di seputaran ‘kota sains dan teknologi’ di Fengjing, yang juga sekaligus mempromosikan penerapan teknologi bagi perusahaan lokal. Nantinya, Winsun akan menjajal media lain yang turut menyertakan terknologi cetak 3D, seperti jalanan, technology town, hingga sebuah 3D printing technology experience garden.

Baca Juga: Perbaiki Halte Bus, Pramuka Ini Diganjar Gold Award!

Saat ini, Cina tengah meningkatkan fokusnya pada pencetakan 3D dan teknologi maju sebagai masalah kebijakan, dan besar kemungkinan, negara yang didaulat sebagai salah satu negara dengan populasi terpadat di dunia ini hanya akan melihat struktur dan pengembangan yang lebih inovatif saja.

Di luar konteks halte 3D ini, Winsun tengah berupaya untuk menjalin sebuah kerja sama kolaboratif dengan pemerintah Arab Saudi untuk mencetak 1,5 juta rumah 3D dalam waktu lima tahun ke depan, dan rencananya, musim panas ini Winsun akan menandatangani perjanjian pencetakan 3D senilai $1,5 miliar, untuk menyewakan 100 printer 3D-nya ke kontraktor di Arab Saudi.

GE CC200, Lokomotif Diesel Elektrik Perdana di Indonesia, Ikut Sukseskan KTT Asia Afrika 1955

Selalu saja ada pembahasan yang menarik tentang kereta api. Selain memiliki On Time Performance (OTP) yang bisa dibilang gemilang, tapi salah satu moda peninggalan jaman kolonial Belanda ini selalu diminati oleh banyak kalangan karena suguhan pemandangan ciamiknya selama perjalanan.

Baca Juga: INKA CC300, Mampu Lintasi Banjir, Inilah Lokomotif Diesel Karya Anak Bangsa

Seiring perkembangan jaman, bentuk dan performa perkeretaapian di Indonesia senantiasa meningkat, termasuk lokomotifnya. Sebelum melangkah jauh membicarakan lokomotif yang eksis di era modern seperti saat ini, perkenalkan, Lokomotif CC200, lokomotif diesel elektrik dual cabin pertama di Indonesia. Tidak hanya gelar di atas yang melekat di lokomotif ini, tapi CC200 ini juga termasuk ke dalam lokomotif diesel pertama yang dimiliki oleh Djawatan Kereta Api (DKA), cikal bakal PT KAI.

Lokomotif dengan nama pabrikan ALCO-GE UM 106T ini merupakan produksi dari General Electric (GE), salah satu perusahaan besutan Thomas Alva Edison.  Tahun 1953 menjadi kali pertamanya lokomotif ini menghiasi rel di Indonesia.

Saking kondangnya, DKA kala itu langsung memesan sebanyak 27 unit guna keperluan pengoperasian mereka. DKA menganggap pembelian lokomotof tersebut merupakan bentuk modernisasi lokomotif dari penggerak tenaga uap ke penggerak tenaga diesel. Selain itu, hadirnya CC200 ke Indoneaia bertujuan untuk menggantikan peran armada yang rusak akibat Agresi Militer Belanda.

Jika diperhatikan, ada hal unik yang terpampang dari lokomotif yang mampu berlari 100 km/jam pada kecepatan maksimum. Terdapat sepasang roda tanpa penggerak pada bagian tengah lokomotif. Roda tersebut berfungsi sebagai penyeimbang tekanan gandar dari lokomotif yang tidak dapat berterima dengan kondisi rel di Indonesia.

Selama masa operasinya, karir lokomotif berdaya mesin 1.750hp bisa dibilang cukup gemilang. Tidak hanya berperan sebagai ‘kepala’ dari bermacam gerbong penumpang dan barang, tapi lokomotif ini juga pernah membawa rombongan KTT Asia-Afrika dari Jakarta menuju  Bandung pada tahun 1955 silam.

Baca Juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Masuk periode 90-an, lokomotif ini perlahan mulai dipensiunkan karena dianggap performanya sudah tidak dapat mengimbangi permintaan PT KAI. Pada periode yang sama, banyak unit CC200 yang mulai di besituakan, hingga saat ini hanya tersisa 3 unit dari total 27 unit yang pernah menghiasi perkeretaapian Indonesia.

Jika Anda penasaran dengan penampakan dari lokomotif CC200 ini, silakan Anda kunjungi beberapa diantaranya yang berhasil diselamatkan di Kebun Balai Yasa Yogyakarta dan di Depo Lokomotif Ambarawa (Museum Kereta Api Indonesia).