Jembatan Tinggi Silaiang, Eksis Dilintasi Kereta Sejak 1818 Hingga Kini

Selain jembatan Cisomang, jembatan Cikubang dan jembatan Cirahong di Jawa Barat, masih ada beberapa jembatan kereta api di Tanah Air yang punya sejarah panjang dan tergolong fenomenal, lantaran dibangun sejak jaman kolonial Belanda dan hingga kini masih digunakan. Dan bergeser ke Provinsi Sumatera Barat, juga ada jembatan kereta yang layak menyandang gelar fenomenal, yakni jembatan Tinggi Silaiang, yang terlihat masih kokoh dan terkesan ‘perkasa’ pilar-pilar besinya jika dilihat langsung.

Baca juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Jembatan Tinggi Silaiang berada di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat. Tiang jembatan ini sendiri memiliki tinggi sekitar 20 meter dan dibangun pada masa kolonial Hindia Belanda tahun 1818. KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa laman sumber, bahwa jembatan single track ini memiliki bentuk yang unik dimana desainnya melengkung ke bawah dengan rupa setengah lingkaran. Dikatakan unik, karena bentuk jembatan kereta seperti ini hanya ada satu-satunya di Indonesia.

Jembatan Tinggi Silaiang tempo dulu

Jembatan yang masih kokoh ini walaupun peninggalan jaman Belanda, sebenarnya dibangun untuk menjadi penghubung jalur kereta api di perbukitan. Hal tersebut dikarenakan, Sumatera Barat dikelilingi perbukitan dan masuk dalam jajaran bukit barisan yang ada di kota Padang Panjang.

Tak hanya melalui kereta api, jalur Padang Panjang-Padang juga bisa melalui jalan raya yang letaknya tepat dibawah jembatan Silaiang tersebut. Selain itu, di bawah jembatan ini juga dialiri sungai Batang Anai yang bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan umum seperti becak motor, ojek, taksi, angkutan kota atau angkot hingga kendaraan tradisional delman atau biasa disebut bendi oleh masyarakat sekitar.

Baca juga: Cirahong, Jembatan Double Deck Satu-Satunya di Indonesia

Bukan hanya sebagai jalur lalu lintas kereta, jembatan Tinggi Silaiang sendiri bisa menjadi objek wisata yang murah meriah. Sebab, Anda tak perlu membayar untuk menikmatinya, apalagi sekitaran jembatan ini adalah pemandangan alam yang indah dan juga udara masih segar sehingga cocok untuk bersantai. Bagi penikmat fotografi, jembatan tua yang kokoh ini pun sebagai satu objek foto dengan alam indah sebagai pemanisnya.

“Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Saat mendengar nama Stasiun Baso, pikiran Anda mungkin akan langsung beranggapan bahwa yang dimaksud adalah lokasi kuliner, maklum ada kata ‘baso,’ yang menjadi sajian favorit di Tanah Air. Namun jangan salah kira, Stasiun Baso disini bukan menyiratkan sebuah restoran, melainkan memang nama stasiun, persisnya bekas stasiun kereta api di Sumatera Barat.

Baca juga: Tak Lagi Beroperasi, Stasiun Lama di Yogya Berubah Jadi Bengkel Hingga Warung Makan

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata stasiun kereta ini berada di Jalan Raya Batusangkar, Bukittinggi No.184 di Canduang Koto Laweh, Canduang Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dari plang-nya masih nampak, diketahui Stasiun Baso berada di ketinggian +909 meter.

Nama stasiun Baso ternyata bukan diambil dari nama makanan, justru nama Stasiun Baso diambil dari nama sebuah kecamatan yakni Kecamatan Baso yang terletak di kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kecamatan Baso sendiri berada diantara kota Bukittinggi dan Payakumbuh.

Stasiun Baso kini bukanlah menjadi stasiun seperti dahulu melainkan beralih fungsi  sebagai tempat menjual aksesoris mobil dan cutting stiker. Mungkin bagi Anda penyuka kereta api akan asing mendengar nama ini, apalagi jejaknya yang tertinggal hanya sebuah papan nama tepat di atas nama toko aksesoris tersebut dan tak ada kabar jelasnya tentang stasiun ini.

Apalagi, untuk jalur keretanya sendiri pun kini hanya tertinggal bekas-bekasnya saja dan sudah tertimbun tanah. Jalur ini mati seperti jalur kereta yang ada di Bantul menuju Yogyakarta, hanya tersisa bangunan stasiun yang sudah beralih fungsi dan rel yang sudah tak terlihat lagi.

Stasiun ini dibangun pada masa Belanda yakni dengan rute Padang Panjang-Bukittinggi-Payakumbuh-Limbangan sepanjang 72 km. Dulunya jalur ini yang termasuk didalamnya stasiun Baso dioperasikan untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman Sumatera Barat.

Baca juga: Di Sawahlunto, Ternyata Juga Ada Museum Kereta Api

Semakin berkembangnya transportasi darat lainnya, kereta api mulai tersisih dan tak lagi beroperasi sejak 1973. Saat ini yang tersisa hanya jalur Padang-Pariama sepanjang 52 km yang beroperasi hingga kini.

Hari Ini, 112 Tahun Lalu, Pameran Dirgantara Pertama di Dunia Digelar di Paris

Pada hari ini, 112 tahun lalu, bertepatan dengan Kamis, 24 Desember 1908, pameran dirgantara pertama di dunia dihelat di Paris, Perancis. Pameran dirgantara terbesar dan tertua yang belakangan dikenal sebagai Paris Air Show ini sampai sekarang terus diselenggarakan setiap tahun ganjil, berbagi ruang dengan pameran dirgantara terbesar dan tertua lainnya di Inggris, Farnborough International Air Show, yang dihelat setiap tahun genap.

Baca juga: Dari Bandung ke Paris, N250 Jadi Pesawat Buatan Asia Pertama yang Lakoni Ferry Flight Lintas Benua

Sebelum lebih jauh, perlu diketahui, sebetulnya, gelar pameran dirgantara pertama dan tertua di dunia masih dalam perdebatan. Itu karena, Crystal Palace, Inggris, pernah mengadakan pameran dirgantara pada tahun 1868 atas inisiasi dari Royal Aeronautical Society, jauh sebelum penyelenggaraan Paris Air Show. Maka dari itu, pameran dirgantara di Crystal Palace, Inggris, itu juga dikenal sebagai pameran dirgantara pertama dan tertua di dunia.

Dilansir dari laman resmi Airbus, Paris Air Show sebagai pagelaran dirgantara terbesar dan tertua di dunia awalnya diselenggarakan secara gabungan dengan pameran Paris Motor Show. Saat itu, penyelenggaraan pameran dirgantara tercetus berkat penemuan pesawat biplane pertama yang lebih berat dari udara, berhasil ditemukan oleh ilmuan asal Perancis.

Di tahun 1909, barulah, Presiden Perancis mengizinkan terselenggaranya Annual Automobile Salon atau lebih dikenal dengan Paris Air Show, di Grand Palais, Paris, Perancis.

Meskipun baru pertama kali dihelat, pameran Paris Air Show pertama kala itu berhasil menarik 380 peserta pameran dan lebih dari 100 ribu pengunjung. Gelaran tersebut terus berlangsung rutin setiap tahun selama empat edisi sebelum terhenti akibat Perang Dunia I.

Paris Air Show dimulai kembali pada tahun 1919. Setelah sukses terselenggara beberapa edisi, kemudian diputuskan gelaran tersebut dihelat per dua tahun setiap tahun ganjil, bergantian dengan pameran dirgantara lainnya, Farnborough International Air Show setiap tahun genap di Inggris, sebelum terpaksa berhenti akibat Perang Dunia II. Pameran kemudian digelar kembali pada tahun 1949.

Sebelum tahun 1949, Paris Air Show terus diadakan di Grand Palais, sebelum akhirnya pindah ke bandara terbesar di Paris, Bandara Orly. Bandara yang terletak 14 km di selatan Kota Paris ini terus menjadi pusat penyelenggaraan Paris Air Show sebelum akhirnya berpindah tempat lagi ke Le Bourget atau Bandara Paris–Le Bourget sejak tahun 1953 sampai saat ini.

Sejak kemunculan pameran dirgantara Farnborough International Air Show, di Inggris, pada tahun 1932, sebetulnya, pamor Paris Air Show sempat meredup. Itu karena, Inggris memang sudah lama dikenal sebagai pusat dirgantara, dengan beragam penemuan-penemuan hebat. Sudah begitu, pameran dirgantara di Inggris juga didukung penuh oleh Aeronautical Society of Great Britain atau The Royal Aeronautical Society, komunitas dirgantara tertua di dunia yang telah berdiri sejak 1866.

Sudah begitu, Farnborough International Air Show juga kerap menjadi tempat kemunculan perdana beberapa pesawat hebat, seperti de Havilland Comet -pesawat jet komersial pertama dunia- pada 1949, pesawat dengan mesin piston Bristol Brabazon, serta berbagai pesawat lainnya.

Akan tetapi, pasca kemunculan pesawat supersonik Concorde dan jet superjumbo ikonik Amerika, Boeing 747 untuk pertama kalinya pada 1969, pamor Paris Air Show terus muncul dan perlahan benar-benar menjadikannya sebagai pameran dirgantara terbesar sekaligus tertua di dunia.

Bahkan, di tahun itu, bukan hanya menjadi tonggak sejarah untuk gelaran Paris Air Show, melainkan juga untuk Airbus.

Baca juga: Di Farnborough AirShow Virtual, Boeing Ungkap Keterlibatan Etihad Boeing 787-10 Sebagai ecoDemonstrator

Pada tanggal 29 Mei 1969, menteri transportasi Perancis, Jean Chamant, duduk bersama menteri ekonomi Jerman, Karl Schiller, untuk membuat mock-up kabin pesawat baru yang bertujuan menata kembali industri penerbangan, yang saat itu dikuasai Boeing. Kedua politisi tersebut pun menandatangani perjanjian secara resmi untuk meluncurkan A300, pesawat widebody bermesin ganda pertama di dunia.

Pesawat itu rencananya diproduksi oleh konsorsium Perancis-Jerman yang juga akan melibatkan Inggris dan Belanda. Keputusan untuk memberikan A300 lampu hijau adalah titik awal formal proyek Airbus hingga menjadi produsen pesawat terbesar di dunia bersama Boeing sampai detik ini.

Argo Sindoro, Kereta Kelas Eksekutif yang Rangkaiannya Sering Bertukar dengan Argo Muria

Kereta Api Argo Sindoro merupakan salah satu rangkaian kereta api jarak jauh dengan layanan kelas eksekutif. Argo Sindoro dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang yang melayani relasi Semarang Tawang menuju Gambir PP.

Baca juga: “Argo Muria Festival,” Upaya PT KAI Angkat KA Argo Muria Sebagai Ikon Semarang

Pada awal beroperasi kereta ini memiliki nama Argo Muria 1 dengan rangkaian Bogie K9. Namun pada 2002 rangkaian kereta berubah menjadi rangkaian eksekutif keluaran terbaru dari PT INKA sedangkan untuk rangkaian kereta berbogie K9 dipindahkan untuk KA Argo Lawu.

Nama Argo Sindoro mulai digunakan sejak 17 Maret 2007 dan masih digunakan hingga saat ini. Saat kereta Argo Muria mulai menggunakan rangkaian keluaran 2017, KA Argo Sindoro masih menggunakan rangkaian keluaran 2002.

Namun, 24 Oktober 2018 kereta Argo Sindoro sempat menggunakan rangkaian kereta eksekutif baja nirkarat keluaran 2018. Tetapi pada 8 April 2019 KA Argo Sindoro kembali menggunakan rangkaian dengan Bogie K9.

KA Argo Sindoro ketika awal kehadirannya melengkapi kereta eksekutif relasi Semarang – Jakarta yang sebelumnya sudah beroperasi KA Argo Muria dan KA Menoreh. Nama Sindoro sendiri diambil dari salah satu gunung berapi yakni Gunung Sindoro yang memiliki ketinggian 1.602 meter di atas permukaan yang lokasinya berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Pengaturan kursi penumpang dalam satu gerbong berisi 50 tempat duduk yang disusun dengan formasi 2-2 dan kursi bisa diputar seperti layanan kereta eksekutif lainnya. Satu rangkaian kereta api Argo Sindoro terdiri dari tujuh sampai sembilan kereta yang dilengkapi dengan empat kereta eksekutif, satu kereta makan, lima kereta kelas eksekutif dan satu kereta pembangkit.

Kereta ini ditarik oleh lokomotif CC 201, CC 203 ataupun CC206. KA Argo Sindoro sendiri mampu mengangkut 700-900 penumpang per hari sebelum pandemi Covid-19. Rangkaian KA Argo Sindoro sering bertukar dengan rangkaian KA Argo Muria.

Baca juga: KA Argo Bromo Anggrek, Sejarah Pertama Varian Keluarga Kereta “Argo”

Tarif kereta ini pun berkisar Rp210 ribu hingga Rp600 ribu tergantung pada jarak yang ditempuh oleh penumpang. Selain itu berlaku pula tarif khusus untuk perjalanan reguler yang hanya dapat dipesan mulai dua jam sebelum keberangkatan pada stasiun-stasiun yang berada dalam lintasan seperti dari Semarang Tawang menuju Tegal akan dikenakan tarif Rp85 ribu dan Cirebon menuju Jakarta Rp165 ribu.

Jadi Kiblat Kemajuan Kereta Api Dunia, Inilah Lima Jenis Kereta di Jepang

Jepang memiliki jaringan rel yang luas dan mencakup hampir setiap kota di negara tersebut. Bahkan jaringan kereta api di Negeri Sakura ini merupakan salah satu yang paling maju di dunia. Layanan transportasi kereta api Jepang disediakan oleh lebih dari 100 perusahaan swasta.

Baca juga: Inilah Sepuluh Kereta Cepat di Dunia

Karena memiliki jaringan yang luas, kereta api di Jepang bahkan dibedakan menjadi lima jenis yakni kereta lokal, kereta cepat, kereta ekspres, kereta ekspres terbatas dan shinkansen. Nah, berikut ini penjelasan terkait lima jenis kereta di Jepang yang sudah dirangkum KabarPenumpang.com dari trainspread.com.

Kereta Shinkansen
Kereta cepat ini dibuka pada 1964 dan dioperasikan oleh beberapa operator yakni JR East, JR West, JR Central, JR Hokkaido, JR Kyushu dan JR Shikoka. Memiliki sembilan jalur, shinkansen melaju di track dan platform terpisah dari jalur rel konvensional. Jalur pertama shinkansen yakni Tokaido Shinkansen yang menghubungkan, Tokyo, Nagoya dan Osaka.

Ini adalah sistem rel kecepatan tertinggi komersial pertama di dunia dengan kecepatan maksimum 320 km per jam. Kereta shinkansen ternyata memiliki level yang berbeda, di mana kecepatan melaju yang berbeda dan jumlah perhentian yang berbeda di sepanjang jalan. Setiap level, shinkansen memiliki nama sendiri yakni Nozomi, Hikari, Mizuho, Kodama, Hayabusa dan Sakura.

Kereta Limited Express atau Ekspres Terbatas
Ini adalah layanan kereta dengan pemberhentian terbatas di stasiun utama atau yang paling sering digunakan. Jalur ekspres terbatas mencakup lebih banyak kota daripada shinkansen.

Ini juga merupakan kereta tercepat selain shinkansen dan tarifnya lebih murah. Meski begitu, kereta ini memiliki kursi yang sama dengan shinkansen. Seperti kereta shinkansen, biaya tambahan akan ditambahkan ke tarif tiket saat membeli tiket di ekspres terbatas.

Kereta Ekspres
Kereta ini berhenti di beberapa perhentian dan lebih banyak daripada kereta ekspres terbatas. Perjalanannya membutuhkan waktu lebih lama daripada kereta ekspres terbatas meski melaju di jalur yang sama. Semua kereta ekspres dioperasikan oleh JR Group.

Baca juga: Tahan Gempa, Ini Kereta Berkecepatan Tinggi yang Baru di Jepang

Kereta Cepat atau Rapid
JR Group mengoperasikan kereta cepat ini dengan berhenti di lebih banyak stasiun. Untuk naik kereta ini, penumpang tidak akan dikenakan biaya tambahan seperti kereta ekspres.

Kereta Lokal
Merupakan jenis kereta yang paling lambat dan berhenti di setiap stasiun. Tarifnya pun standar dan tidak akan dikenakan biaya tambahan seperti kereta ekspres.

Masker F5 Serbaguna Bisa Jadi Hadiah Natal Pada Masa Pandemi

Liburan akhir tahun yang berbarengan dengan perayaan Natal identik juga dengan bertukar kado bersama keluarga. Nah, di masa pandemi ini, sepertinya hadiah yang cocok adalah masker wajah yang digunakan untuk mencegah tertular dari virus corona.

Baca juga: Penumpang Tak Gunakan Masker, Pengemudi Taksi Boleh Tolak Penumpang

Apalagi masker di masa pandemi menjadi barang wajib yang digunakan setiap keluar rumah. Namun, kerap kali penggunaan masker membuat seseorang merasa tak nyaman dan mengganggu aktivitas apalagi ketika berolahraga dan melakukan kegiatan diluar ruangan.

Meski begitu, beberapa perusahaan pembuat masker, saat ini membuatnya lebih nyaman ketika digunakan di luar ruangan seperti untuk berolahraga. Salah satu yang dibuat adalah masker serbaguna yang tak hanya digunakan sebagai penutup mulut dalam pencegahan tertular virus tetapi untuk ikat kepala, bandana, gelang, syal, pelindung leher dan banyak lainnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (16/12/2020), masker serbaguna ini bisa digunakan di mana dan kemana pun Anda pergi. Sebab, masker tersebut dirancang sesuai dengan filter lapisan F5 yang kuat sehingga bisa melindungi pengguna dari debu serta partikel dan membuat Anda tetap hangat dengan cuaca dingin seperti sekarang.

Masker ini sendiri bisa digunakan berulang kali dan hanya perlu mengganti filter jika sudah waktunya. Bahan masker serbaguna adalah kain yang lembut dan tahan lama serta memiliki cukup elastisitas demi kenyamanan dalam penggunaannya.

Ada empat warna netral masker serbaguna yakni abu-abu tua, abu-abu rami, hitam dan putih. Masker serbaguna ini bisa digunakan disemua jenis aktivitas luar ruangan seperti memancing, hiking, bersepeda, lari atau yang lainnya. Uniknya meski bentuk seperti pelindung leher, masker serbaguna ini memiliki bagian untuk dikaitkan di telinga.

Baca juga: Demi Bertahan Hidup, Etihad Produksi 1,3 Juta Masker untuk Dijual dan Dibagikan ke Pramugari

Sehingga penggunaannya disesuaikan dengan bentuk atau ukuran wajah pengguna. Dengan ukuran yang sama dengan pelindung leher, masker serbaguna akan dengan mudah menutupi hidung dan mulut Anda, serta semua area di sekitar leher. Untuk pencuciannya pun cukup mudah, masker ini bisa masuk ke dalam mesin pencuci dan untuk harganya $12,95 atau sekitar Rp183 ribu.

Pertama di Dunia, Motor Listrik Bisa Dilipat dan Terbuat dari Baja Tahan Karat! Segini Harganya

Seiring waktu berjalanan, desain motor -entah motor listrik ataupun motor konvensional- semakin futuristik (jika tak ingin disebut aneh), seperti motor listrik satu ini, SUS1 e-scooter. Selain menggunakan baja anti karat (stainless steel) sebagai komponen utamanya, motor listrik buatan startup asal Swedia, STILride, tersebut juga bisa dilipat dan menjadikannya sebagai motor listrik pertama dengan kemampuan itu.

Baca juga: BMW Siap Hadirkan ‘Satu Paket Komplit’ Sepeda Motor Listrik

Kemampuan SUS1 e-scooter sebagai motor listrik lipat pertama di dunia tak terlepas dari teknologi blancforming yang terinspirasi dari industri origami, yakni teknik melipat kertas menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi. Proses pelipatan motor tersebut dilakukan oleh robot origami yang dijuluki Light Fold.

Menurut Jonas Nyvang dan salah satu pendiri STILride, Tue Beijer, proses ini bukan hanya mengurangi biaya produksi dan material secara signifikan serta menghasilkan tampilan yang benar-benar beda, tetapi juga membuatnya jadi lebih ramah lingkungan.

Hasil dari proses tersebut juga membuat SUS1 e-scooter memiliki permukaan logam yang halus, rata dan licin, serta ruang menarik yang menyeimbangkan antara kekokohan material dan desain yang lapang.

Sebelum benar-benar diproduksi, motor listrik pertama di dunia yang bisa dilipat itu mula-mula dibuat menggunakan gabungan kertas dan baja tahan karat. Desainnya adalah hasil kreasi Tue Beijer yang telah berkecimpung dalam bisnis desain kendaraan selama 20 tahun. Kecintaan Beijer pada skuter tua dan desain skuter listrik pertama STILride ini menginformasikan estetika konsep pertama perusahaan.

Setelah itu, barulah prototipe skuter yang beroperasi dengan listrik dan menggunakan motor yang terletak di roda belakang ini dibuat menggunakan stainless steel secara penuh dengan melibatkan robot Light Fold tadi dalam proses melibat motor.

Selain melibatkan robot origami Light Fold, komponen motor listrik lipat pertama SUS1 e-scooter, seperti footboard, juga dibuat menggunakan teknologi cetak 3D.

Baca juga: Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Bila tak ada aral melintang, Nyvang menyebut bahwa motor listrik pertama di dunia yang bisa dilipat ini bakal tersedia di pasaran pada 2022/2023 mendatang, dengan harga sekitar US$5.500 atau sekitar Rp78 juta (kurs 14.331).

Karena masih berupa prototipe, ia belum bisa membeberkan spesifikasi SUS1 e-scooter. Namun, ia berjanji bahwa “Motor itu akan luar biasa menarik dari segi jarak dan kecepatan,” jelasnya, seperti dikutip dari New Atlas.

Singapore Airlines Sukses Kirim Vaksin Pfizer-BioNTech Pertama, Makin Dekat Jadi Hub Distribusi Vaksin

Singapore Airlines sukses menjajaki pengiriman pertama vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech ke Singapura. Vaksin dibawa menggunakan pesawat kargo 747-400 dari Brussel, Belgia, transit di Uni Emirat Arab, sebelum akhirnya sampai di Singapura.

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

Meski tidak ada kendala, pengiriman vaksin pertama Pfizer-BioNTech ke Singapura tentu bukan tanpa tantangan.

Vaksin Covid-19 ini diketahui wajib selalu berada dalam suhu -70 ° C, sejak dari fasilitas penyimpanan vaksin di Belgia, di antar ke bandara menggunakan tronton, dimasukkan ke dalam pesawat, dikeluarkan dari pesawat dan diletakkan di fasilitas penyimpanan di Bandara Changi, dimuat ke dalam tronton kembali sampai akhirnya tiba di rumah sakit. Semuanya harus bisa menjaga suhu -70 ° C.

Atas tugas berat tersebut, Singapore Airlines, dalam hal ini sebagai pengangkut vaksin dari Bandara di Belgia ke Bandara Changi, Singapura, melakukan semacam latihan terlebih dahulu dengan rute yang sama, sehari sebelum hari H.

Dilansir Simple Flying, Singapore Airlines mengerahkan Boeing 747-400 kargo dengan nomor penerbangan SQ7979 pada pada 20 Desember pukul 21.24 waktu Brussel, menuju Singapura. Pesawat akhirnya tiba di Bandara Changi pada pukul 19.55 waktu setempat Senin, 21 Desember 2020, setelah sempat transit selama sejam di Sharjah, Uni Emirat Arab.

Mr. Chin Yau Seng, Senior Vice President Kargo Singapore Airlines mengungkapkan, bahwa keberhasilan pihaknya mengirim vaksin pertama ke Singapura merupakan salah satu capaian penting dalam perang melawan Covid-19. Selain itu, keberhasilan pengiriman vaksin pertama Pfizer-BioNTech ke Singapura juga makin menunjukkan posisi negara tersebut sebagai hub distribusi vaksin internasional; termasuk juga pengiriman vaksin ke Asia Tenggara.

“Pengiriman batch pertama vaksin Covid-19 ke Singapura merupakan tonggak penting dalam perang melawan Covid-19, dan kami merasa terhormat dapat berperan dalam hal ini. Ini juga berfungsi untuk menunjukkan kesiapan SIA dan hub udara Singapura untuk tugas yang sangat penting dalam mengangkut dan mendistribusikan vaksin Covid-19 secara internasional,” jelasnya.

Singapura adalah negara pertama di Asia yang menerima vaksin dari kedua perusahaan tersebut. Selain dengan kedua perusahaan itu, Singapura juga meneken perjanjian untuk kandidat vaksin, termasuk yang dikembangkan oleh Moderna dan Sinovac.

Baca juga: Mengenal Envirotainer, Kontainer Pembawa Vaksin Covid-19 Pertama Indonesia Buatan Sinovac

Karenanya, pasca pengiriman pertama vaksin Pfizer-BioNTech, diperkirakan bakal ada banyak penerbangan serupa (penerbangan kargo bermuatan vaksin) di bulan-bulan mendatang.

Selain karena posisi Singapura yang tengah berupaya menjadi pusat distribusi vaksin virus corona untuk kawasan Asia Tenggara, penerbangan kargo Singapore Airlines pembaga vaksin juga akan meningkat karena Singapura sendiri akan memulai kampanye vaksinasi massal beberapa bulan mendatang.

Ada ‘Kereta Hantu’ di Inggris, Bukannya Seram Tapi Justru Dianggap Boros Biaya Operasional

Kereta hantu yang satu ini bukanlah yang berjalan dan tiba-tiba menghilang. Tetapi merupakan sebuah kereta diesel besar yang melaju dari tikungan yang megah di Stasiun York dan melintasi tepian kanan Sungai Ouse, Inggris.

Baca juga: Silverpilen, Legenda Kereta Hantu Milik Warga Stockholm

Disebut kereta hantu karena setiap pukul 20.32 waktu setempat pada hari kerja, layanan CrossCountry bergerak ke utara dan berhenti di Darlington, Durham, Newcastle dan desa Alnmouth di Northumberland sembari melaju dalam perjalanan ke Edinburgh Waverlay. Seorang penumpang yang tak disebutkan namanya mengatakan, ketika dirinya menjadi salah seorang yang naik di dalam kereta, dia melihat sudut pandang konektivitas jaringan kota di sepanjang jalur utama pantai timur dengan kereta tengah malam.

Namun ketika dirinya menunggu keretanya berangkat untuk meninggalkan York, sebuah kereta LNER berhenti di sampingnya tanpa banyak penumpang dan bisa diktakan hampir kosong. KabarPenumpang.com melansir independent.co.uk (3/10/2020), tiga menit setelah layanan kereta tersebut menuju ke utara, kereta ekspres listrik itu juga berangkat mengikuti seperti bayangan.

Apalagi kereta itu mengular di rute dengan perhentian sama hingga tiba di Edinburgh dan peronnya berdekatan. Rasanya ini seperti menghabur-hamburkan uang publik dan membakar bahan bakar fosil karena mengirimkan kereta hatu seberat seratus ton lebih dengan perjalanan lebih dari 200 mil.

Bisa dikatakan perjalanan ini sangat boros dan seharusnya tidak perlu dilakukan. Penumpang itu mengaku awalnya kereta diesel CrossCountry yang berada di Edinburh ikut karena untuk layanan ke selatan esok paginya. Apalagi banyak kereta kosong diposisi yang tepat dan membawa penumpang.

Namun sekilas jadwal awal dari ibu kota Skotlandia menunjukkan pengaturan kereta hantu lain pada pukul 06.56 pagi, keberangkatan LNER ke York, diikuti lima menit kemudian oleh CrossCountry. Hal ini kemudian dipikirkan ini seperti persaingan, di mana pemerintah Inggris Raya memiliki dan menjalankan LNER, sedangkan CrossCountry adalah anak perusahaan kereta api negara Jerman, Deustche Bahn.

Di masa lalu, argumen itu ada manfaatnya yakni bersaing memperebutkan kebiasaan tentang kenyamanan, layanan dan harga. Tetapi privatisasi kereta api telah ditinggalkan sejak pandemi virus corona dimulai. Kereta api Inggris, baik yang dijalankan secara publik atau pribadi, semuanya ditentukan oleh Departemen Transportasi (DfT) dan sangat disubsidi oleh pembayar pajak.

Perjalanan kereta api hanya menyumbang dua persen dari perjalanan yang dilakukan di Inggris, tetapi menghabiskan 56 persen pengeluaran pemerintah untuk transportasi. Pelancong dan pembayar pajak perlu mengetahui mengapa DfT menggunakan uang publik untuk menjalankan kereta hantu ini dan ketika ditanyakan terkait masalah ini operator mengatakan ini urusan mereka.

Baca juga: Ngeri! Kereta Hantu Terekam CCTV ‘Melintas’ di Stasiun Baotou

Minggu ini departemen yang sama menolak untuk memperpanjang masa berlaku kartu kereta, meskipun membuat kartu diskon ini impoten selama empat bulan dengan mendesak orang untuk tidak bepergian dengan kereta api.

“Dengan pendapatan tarif yang turun menjadi kurang dari lima persen dari tingkat sebelum Covid, kami harus memastikan bahwa kami adil kepada pembayar pajak,” kata juru bicara DfT.

Gegara Miskomunikasi dengan Operator Bandara, Pesawat Buddha Air ‘Nyasar’ Salah Tujuan Pendaratan

Pernah tidak Anda membayangkan akan pergi ke Bali tetapi sampainya di Kalimantan? Mungkin tidak karena Anda yakin penerbangan yang dinaiki tepat dan tidak akan mengganti rute tanpa pemberitahuan. Tapi nyatanya hal tersebut terjadi pada 69 penumpang Buddha Air. Para penumpang ini akan pergi ke Janakpur dengan pemberangkatan dari Kathmandu, Nepal pada 18 Desember 2020 dengan nomor penerbangan U4505. Namun mereka bukannya tiba di tujuan tetapi di Pokhara yang letaknya 255 km dari Janakpur.

Baca juga: Alami Masalah Pada Hidrolik Roda Depan, Singapore Airlines SQ406 Mendarat Darurat di New Delhi

Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (21/12/2020), para penumpang ini terkejut ketika mereka tiba di Pokhara. Insiden kesalahan tujuan ini berawal dari cuaca tidak cukup baik untuk penerbangan hari Jumat lalu itu dan membuat operator ATC memanfaatkan setiap peluang yang tersedia untuk membawa pesawat secepat mungkin lepas landas.

Penerbangan itu sempat tertunda ketika akan lepas landas, namun dijadwalkan tiba di Janakpur pukul 15.15 waktu setempat. Setelah diperbolehkan kembali untuk lepas landas, nyatanya pesawat Buddha Air tiba di Pokhara.

Laporan awal mengatakan, karena masalah cuaca maka penerbangan yang diizinkan adalah ke Pokhara hingga pukul 15.00 di bawah aturan penerbangan visual (VFR). VFR adalah seperangkat peraturan di mana seorang pilot mengoperasikan pesawat dalam kondisi cuaca yang secara umum cukup jelas untuk memungkinkan pilot melihat ke mana arah pesawat tersebut.

“Cuaca sudah menyebabkan penundaan penerbangan dan untuk mengimbangi waktu terbang, pejabat Buddha Air memutuskan untuk terbang ke Pokhara terlebih dahulu,” kata seorang pejabat di perusahaan penerbangan tersebut.

Hal ini membuat nomor penerbangan diubah dan terjadi percampuran yang membuat Buddha Air mengaku mengalami penyimpangan yang serius. Birendra Bahadur Basnet, Direktur Pelaksana operator, mengatakan bahwa mereka telah membentuk komite untuk menyelidiki insiden tersebut.

“Perbedaan jadwal penerbangan antara Janakpur dan Pokhara adalah 15 hingga 20 menit. Staf darat memindahkan (di atas kertas) 69 penumpang penerbangan U4505 ke penerbangan U4607 yang sebenarnya telah diizinkan untuk Pokhara oleh pengawas lalu lintas udara,” kata seorang pejabat.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa semunya berada dalam urutan yang benar, tetapi staf darat dan awak kabin gagal memberitahu kapten dan co-pilot bahwa nomor penerbangan telah diubah, menurut pejabat itu.

“Awak kabin itu membuat pengumuman dalam penerbangan bahwa ia menuju ke Janakpur. Ada miskomunikasi antara staf darat dan pilot,” kata pejabat itu.

Baca juga: Akibat Kesalahan Sistem Alarm, Boeing 777 Air China Mendarat Darurat di Rusia Timur

Saat itu pun pilot juga tidak melihat manifes penumpangnya lagi. Pakar penerbangan mengatakan insiden seperti itu mungkin terjadi, tetapi jarang terjadi. Tri Ratna Manandhar, mantan direktur jenderal Otoritas Penerbangan Sipil Nepal, mengatakan ini adalah insiden kedua serupa dalam sejarah penerbangan Nepal dalam dua setengah dekade terakhir. Pada tahun 1993, Twin Otter dari Royal Nepal Airlines Corporation telah mendarat di bandara Simara yang seharusnya mendarat di bandara Bharatpur.

“Insiden Buddha Air terjadi karena miskomunikasi. Ini bukan bagian dari penyimpangan keselamatan tetapi penyimpangan yang serius di pihak manajemen,” kata Manandhar.