Viral, Begini Kisah Pilot Cantik Berhijab Calon Pilot di Amerika! Pernah Bilang Jokowi Begini

Tahun 2019, menurut sebuah riset, ada lebih dari 333 ribu pilot komersial aktif di seluruh dunia. Namun, dari jumlah tersebut, sudah dipastikan, hanya segelintir pilot wanita. Lebih spesifik lagi, hanya sedikit dari mereka (pilot wanita) yang berhijab. Karenanya, kehadiran pilot wanita ataupun calon pilot wanita berhijab tentu menjadi sebuah daya tarik tersendiri; tak terkecuali Shifa Adelia Mumtaz.

Baca juga: Tahun 2038: Dunia Butuh 804 Ribu Pilot Wanita

Gadis muda berhijab itu belakangan viral di jagat media sosial Malaysia dan media-media online Indonesia, lantaran kisah perjuangannya dalam mewujudkan mimpi menjadi pilot di Amerika Serikat (AS).

Hingga berita ini diturunkan, sebuah unggahan berisi dua foto yang menggambarkan kisah perjuangan calon pilot berhijab berusia 20 tahun itu, sudah mendapat 53 ribu likes, hampir 5 ribu retweet, dan ratusan komentar.

Gadis cantik berhijab calon pilot di Amerika ini mengaku juga tak menyangka unggahannya viral di Twitter dan mendapat tanggapan sebanyak itu.

Cerita perjuangan Shifa Adelia Mumtaz sebagai pilot berhijab diketahui sudah sejak lama. Keinginannya menjadi pilot diakui datang dari ayah yang juga merupakan seorang pilot komersial. Ia pun tertarik dan bertekad untuk meneruskan profesi sang ayah, sekalipun sangat berbeda, dimana ia adalah seorang wanita berhijab yang jarang sekali berprofesi sebagai pilot.

https://twitter.com/4deliaa/status/1337592677571944448?s=20

Tak heran, dengan kondisi itu, ia sempat tak percaya diri. Meski demikian, ia tetap mengejar mimpinya menjadi pilot berhjab.

Dikutip dari mstar.com.my, setelah melewati perjalanan panjang di sekolah pilot Florida Flyers Flight Academy, St Augustine, Florida, Amerika Serikat, pertengahan Desember lalu, ia pun mengunggah dua buah foto, dimana satu foto ia ambil sebelum memulai penerbangan solo perdana dan foto lainnya diambil setelah merayakan keberhasilannya mencapai 230 jam terbang.

Capaian Shifa Adelia Mumtaz tentu sangat spesial. Selain mengenakan hijab dan sekolah penerbangan tempatnya menimba ilmu kebanyakan dihuni oleh laki-laki, Florida Flyers Flight Academy diketahui sebagai salah satu yang terbaik di AS. Disebutkan, lisensi dari sekolah penerbangan itu sudah diakui regulator penerbangan sipil AS (FAA) dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Shifa Adelia Mumtaz berhasil mencapai 230 jam terbang. Foto: Twitter @4deliaa

Seiring berjalannya waktu, meskipun didera rasa takut atas berbagai keadaan di atas, ia berhasil menaklukkan rasa takut itu. “Tetapi sekarang saya sudah mengerti bahwa pekerjaan menerbangkan pesawat itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Tak peduli pria atau wanita,” katanya.

Baca juga: Penerbangan Bersejarah di Iran, Seluruh Kru Kokpit Perempuan

Saat ini, gadis muda cantik berhijab itu sedang menatap lisensi pilot PPL (Private Pilot License), sebelum lanjut ke lisensi CPL (Commercial Pilot License) agar bisa menerbangkan pesawat komersial atau bahkan IR (Instrument Rating); sekalipun ia tak menyinggung soal itu. Yang pasti, ia percaya lisensi pilot PPL akan segera digenggamnya.

Terlepas dari kisah perjuangan gadis cantik berhijab calon pilot ini, rupanya Indonesia tak begitu asing baginya. Ia kedapatan pernah memberikan tanggapan terkait kondisi terkini di bumi pertiwi. Lewat akun Twitter @4deliaa, ia menanggapi akun Presiden Jokowi saat menegaskan bahwa vaksin virus Corona gratis untuk masyarakat, dengan menyebut, “Thanks bestie.”

Sulap Pesawat Komersial Jadi Pesawat Militer Jadi Cara Terbaik Selamatkan Maskapai?

Mengkonfigurasi ulang (menyulap) pesawat komersial menjadi peruntukan militer tentu bukan barang baru. Namun, mengubahnya di momen yang tepat seperti di pandemi Covid-19 seperti sekarang ini tentu jarang. Padahal, langkah tersebut sangat dibutuhkan maskapai. Memang tidak menyelematkan bisnis mereka secara keseluruhan, tetapi sedikit memperbaiki kinerja keuangan. Seperti yang dialami Air India baru-baru ini.

Baca juga: Ngeri! Begini Detik-detik Pengisian Bahan Bakar Udara-ke-Udara Pertama Kali

Virus Corona membuat langit menjadi lebih sepi akibat turunnya frekuensi penerbangan. Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 17 ribu pesawat nganggur di seluruh dunia atau yang terendah sejak 26 tahun.

Mayoritas dari mereka tersebar di banyak tempat di beberapa bandara di negara masing-masing. Bahkan, beberapa maskapai seperti Singapore Airlines dan British Airways, sampai harus menggrounded armada mereka ke bandara di negara lain, mulai dari Australia hingga Perancis, karena di negara mereka bandara yang ada tak lagi menampung saking banyaknya pesawat yang nganggur.

Padahal, dalam kondisi menganggur sekalipun, pesawat tetap harus mendapat perawatan agar pesawat siap beroperasi ketika digunakan, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak, dan bagian-bagian lainnya.

Tak cukup sampai di situ, untuk mencegah menumpuknya debu serta burung yang bersarang, mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya. Interior pesawat juga tak luput dari perhatian.

Selama pesawat di-grounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Maka dari itu, menggrounded pesawat akan membuat maskapai bak sudah jatuh tertimpa tangga. Sudahlah tidak menghasilkan dan perputaran bisnis melambat, pesawat yang digrounded tetap memaksa maskapai untuk mengeluarkan uang. Tentu akan sangat merugikan maskapai.

Karenanya, seperti dikutip dari Indomiliter.com, apa yang dialami oleh Air India, dimana maskapai menerima setidaknya Rs1,4 miliar atau sekitar US$19 juta dari Kemhan India, atas akuisisi enam unit A320 mangkrak milik Air India untuk dikonversi menjadi pesawat Airborne Early Warning & Control (AEW&C), tentu menjadi sebuah berkah serta langkah yang mungkin bisa diikuti oleh negara lain.

Disebutkan, oleh DRDO (Defence Research and Development Organisation), lembaga litbang di bawah Kementerian Pertahanan India, keenam pesawat itu akan dipasangkan radar dan sensor terintegrasi dengan otoritas pertahanan India.

Belum jelas, apakah keputusan mengonversi enam unit A320 milik AU India ini akan menggantikan rencana DRDO sebelumnya, dimana pada awalnya akan mengusung platform Airbus A330 sebagai pesawat tanker plus AWACS.

Baca juga: Pensiun Angkut Penumpang, Boeing 747-400 Dikonversi Jadi Pesawat Pemadam!

Bila kelak AU sukses mengonversi A320 menjadi pesawat AEW&C, maka ini menjadi yang pertama di dunia di keluarga A320, sekaligus menjadi pencapaian penting bagi pihak Airbus.

Bagi Air India, kerjasama ini jelas sangat memberikan dampak positif ke perusahaan. Sebelumnya, Air India sempat dikabarkan bakal bangkrut pada Juni lalu. Selain operasional terhenti akibat virus Corona, maskapai itu diketahui juga mempunyai utang dalam jumlah besar dan urgent untuk diselesaikan satu per satu.

EASA Akhirnya Izinkan Boeing 737 MAX Terbang di Eropa, Gegara Didesak AS?

Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) akhirnya mengizinkan Boeing 737 MAX beroperasi di Eropa. Kepastian itu didapat setelah pimpinan tertinggi EASA, Patrick Ky, menyebut 737 MAX aman pasca berbagai perubahan.

Baca juga: FAA Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, EASA Pilih Sertifikasi Ulang Mandiri

Sejak diizinkan terbang (mendapat sertifikasi) kembali oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) pada 18 November 2020 lalu, pasca grounded berkepanjangan sejak Maret 2019, berbagai maskapai dunia mulai mengatur jadwal penerbangan perdana mereka dengan Boeing 737 MAX.

American Airlines digandang bakal jadi maskapai perdana yang akan melakoni penerbangan penumpang perdana 737 Max secara komersial pada 29 Desember mendatang, dari Miami ke New York City, Amerika Serikat (AS). Namun, siapa nyana, maskapai bertarif rendah asal Brazil, GOL Linhas Aéreas Inteligentes, malah jadi maskapai pertama yang mengoperasikan Boeing 737 MAX secara komersial.

Sayangnya, hegemoni kembalinya Boeing 737 MAX, ditandai dengan penerbangan pertama MAX pasca grounded akibat dua kecelakaan fatal yang menewaskan total 346 orang, tidak diikuti dengan pengoperasian pesawat tersebut oleh maskapai-maskapai Eropa.

Sebab, EASA pada pertengahan November lalu, mengaku lebih memilih menjalani sertifikasi terhadap MAX secara mandiri. Langkah itu diambil semata untuk memastikan Boeing 737 MAX aman. Selama ini, EASA secara otomatis selalu memvalidasi arahan FAA.

“Ada cukup alasan untuk meminta tindakan tambahan tertentu, yang dianggap perlu untuk memastikan operasi yang aman dari (pesawat) yang terkena dampak, termasuk pelatihan pilot,” kata EASA, dalam sebuah pernyataan mengenai catatan non-adopsi. Hanya saja, notes EASA belum merinci detail spesifik, tetapi direction otoritas mungkin akan berbeda dari direction atau arahan FAA.

Akan tetapi, belum lama ini Direktur Eksekutif EASA, Patrick Ky, menyebut bahwa Boeing 737 MAX merupakan pesawat yang sangat aman untuk digunakan. Hal itu bukan tanpa dasar. EASA menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan proses pengecekan langsung secara mandiri, meliputi flight control, mesin, desain, software komputer, kabel, dan instrumentasi kokpit.

Selain itu, EASA juga menerbangkan seluruh pesawat serta melihat kinerja pilot usai diberi pelatihan ulang untuk memastikan MAX aman. “Saya berharap publik mempercayai kami ketika kami mengatakan kami yakin, bahwa pesawat itu aman untuk terbang,” jelas Patrick, seperti dilaporkan BBC International.

Kendati demikian, beberapa pihak meyakini bahwa keputusan EASA tentu tak terlepas dari Uni Eropa, yang pada akhirnya juga tak terlepas dari keterlibatan politik luar negeri AS, sebagai negara tempat Boeing, produsen pembuat MAX bernaung.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Terlpas dari hal itu, pasca dikeluarkannya izin terbang MAX di Eropa oleh EASA, sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari berbagai maskapai besar Eropa untuk memberikan kejelasan kapan akan menerbangkan MAX.

Negara-negara di Eropa, termasuk maskapai penerbangan, saat ini, memang tengah disibukkan dengan adanya virus Corona jenis baru yang ditemukan di Inggris, Denmark, dan Belanda, serta Afrika Selatan dan Australia untuk di luar Eropa. Virus dari hasil mutasi Covid-19 ini disebut 70 persen lebih menular dibanding virus Corona yang kita kenal selama ini. Hanya saja, beberapa ilmuan meyakini, virus Corona jenis baru itu tak lebih mematikan dibanding virus Corona pada umumnya.

Arab Saudi Lockdown Gegara Virus Corona Jenis Baru! Ibadah Umrah Ditangguhkan

Arab Saudi memutuskan lockdown atau melakukan penguncian total terhadap seluruh akses masuk mulai hari Minggu lalu. Bukan hanya penerbangan internasional, namun akses masuk dari darat seperti terminal dan laut seperti pelabuhan juga ditutup.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena merebaknya virus Corona jenis baru di Inggris, Denmark, Belanda, Australia, dan Afrika Selatan, yang disebut 70 persen lebih menular dibanding virus Corona yang dikenal selama ini.

“Kerajaan (Arab Saudi) sementara menangguhkan semua penerbangan internasional -kecuali dalam kasus luar biasa- untuk jangka waktu satu minggu, yang dapat diperpanjang seminggu lagi,” kata juru bicara kementerian dalam negeri Saudi, seperti dikutip dari ndtv.com.

“Masuk ke kerajaan (Arab Saudi) melalui pelabuhan darat dan laut juga akan ditangguhkan selama seminggu, yang dapat diperpanjang seminggu lagi,” tambahnya.

Selanjutnya, pihak Saudi juga menyebutkan bahwa seluruh pesawat, kapal laut, ataupun bus yang sudah berada di Arab Saudi akan tetap diizinkan untuk kembali ke negara masing-masing.

Selain melakukan lockdown total dan membuat layanan ibadah umrah terhenti sejenak -setelah baru beberapa pekan lalu dimulai kembali dengan kuota terbatas- Arab Saudi juga melakukan tracing ketat. Seluruh wisawatan ataupun warga negara Saudi yang bepergian dari Eropa mulai 8 Desember, akan diminta untuk melakukan isolasi atau karantina mandiri selama dua pekan serta melakukan tes PCR.

Sebetulnya, sejak pekan lalu, Arab Saudi sudah mulai menyuntikkan vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech ke masyarakat. Tapi, belum adanya kejelasan apakah vaksin tersebut terbukti ampuh mencegah penularan virus Corona jenis baru di Inggris menjadikan negara kaya minyak itu melakukan langkah antisipasi ketat.

Baca juga: Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

Sejauh ini, Arab Saudi sudah mencatat lebih dari 361.000 kasus virus Corona, termasuk lebih dari 6.000 kematian, tertinggi di antara negara-negara Teluk; meskipun kasus dan angka kematian tinggi juga diikuti dengan tingkat kesembuhan tinggi.

Dengan memberlakukan lockdown ketat, Arab Saudi bergabung dengan banyak negara lain dari seluruh dunia. Tercatat, sudah ada 33 negara di dunia yang menutup penerbangan dari dan ke Inggris atau travel ban serta empat negara yang masih memperbolehkan akses keluar masuk dari Inggris meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti hasil negatif tes PCR dan karantina mandiri 14 hari.

Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Inggris dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkonfirmasi bahwa telah ditemukan virus Corona jenis baru. Virus dari hasil mutasi Covid-19 ini disebut 70 persen lebih menular dibanding virus Corona yang kita kenal selama ini.

Baca juga: Masih Karena Covid-19, Arab Saudi Kembali Tutup Penerbangan Internasional, Garuda Indonesia Siapkan Antisipasi

Sekalipun vaksin virus Corona telah ditemukan, didistribusikan ke seluruh dunia, dan bahkan sudah mulai disuntikkan ke masyarakat di beberapa negara, termasuk Inggris yang notabene menjadi episenter penyebaran virus Corona jenis baru, dunia tak sekonyong-konyong menganggap ini remeh.

Sebab, sampai detik ini, belum ada ilmuan yang mengklaim bahwa vaksin Covid-19 Moderna-NIADI, Pfizer-Biontech, Astrazeneca-Oxford atau vaksin virus Corona lainnya terbukti ampuh melawan virus Corona jenis baru itu.

Karenanya, sejak Inggris resmi lockdown pada Sabtu lalu, belasan negara-negara di Eropa, Asia, Amerika Selatan, dan Timur Tengah telah melakukan larangan penerbangan atau pembatasan perjalanan dari dan ke Inggris.

Sekalipun virus Corona jenis baru yang sama dengan Inggris juga ditemukan di berbagai negara, seperti Belanda, Denmark, Australia, dan Afrika Selatan, sejauh ini, pembatasan perjalanan dari negara-negara di dunia baru berlaku hanya untuk Inggris; kecuali Arab Saudi yang benar-benar telah menutup pintu masuk dari seluruh wisatawan asing.

Agar lebih jelas, berikut daftar negara-negara di dunia yang telah mengambil langkah travel ban dari dan ke Inggris, seperti laporan CNN International.

Eropa
1. Belgia
2. Bulgaria
3. Republik Ceko
4. Denmark
5. Perancis
6. Jerman
7. Italia
8. Latvia
9. Lithuania
10. Luksemburg
11. Belanda
12. Republik Irlandia
13. Rusia
14. Spanyol
15. Swedia
16. Swiss

Asia
1. Hong Kong
2. India
3. Iran
4. Pakistan
5. Turki

Timur Tengah
1. Israel
2. Yordania
3. Kuwait
4. Oman

Afrika
1. Maroko
2. Tunisia

Benua Amerika
1. Argentina
2. Kanada
3. Cili
4. Kolombia
5. El Savador
6. Peru

Negara-negara yang tidak melakukan travel ban dan masih memperbolehkan penerbangan dari dan ke Inggris namun dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti hasil negatif tes PCR hingga karantina mandiri 14 hari.
1. Ekuador
2. Yunani
3. Portugal
4. Spanyol

Biar Nggak Bingung, Ini Bedanya Rapid Tes Antibodi, Rapid Tes Antigen dan Swab PCR

Sepertinya untuk merayakan Natal 2020 dan menyambut Tahun Baru 2021 di luar daerah makin dipersulit selama masa pandemi Covid-19. Tadinya untuk bepergian orang-orang hanya perlu melampirkan hasil rapid tes antibodi. Namun kini karena kasus baru setiap harinya naik, pemerintah mewajibkan setiap orang yang akan berlibur melakukan rapid tes antigen ataupun swab PCR.

Baca juga: Gegara Wajibkan Tes PCR dan Rapid Antigen, Wisatawan ke Bali Kompak Refund Tiket! Di Thailand Justru Diserbu

Nah apa beda dari istilah baru yang selalu terdengar di masa pandemi ini? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, istilah ini semua memiliki arti yang berbeda dan fungsi yang berbeda untuk mengetes virus corona baru yang menjadi pandemi.

Rapid tes antibodi merupakan skrining awal untuk mendeteksi antibodi yakni IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus corona. Antibodi akan terbentuk bila terpapar Covid-19. Namun tes jenis ini dianggap tidak efektif karena saat terpapar Covid-19 tubuh tidak langsung memproduksi antibodi.

Nama lain rapid tes antibodi ini yakni adalah tes serologi di mana untuk mendapatkan hasil Anda akan diambil darah untuk sampel pemeriksaan dan hasilnya bisa ditunggu sepuluh sampai 15 menit. Sedangkan rapid tes antigen berbeda dengan tes rapid antibodi karena cara pemeriksaannya menggunakan swab nasofaring atau orofaring mirip dengan polymerase chain reaction atau PCR.

Tujuannya untuk mendapatkan virus pada sampel lendir yang diambil dari dalam hidung ataupun tenggorokan. Rapid tes antigen ini memiliki sensitivitas maksimal 94 persen, dan spesifisitas sebesar lebih dari 97 persen. Swab dan PCR tak terpisahkan dalam metode tes untuk menegakkan diagnosis Covid-19.

Swab adalah cara untuk memperoleh bahan pemeriksaan atau sampel. Swab dilakukan pada nasofaring dan atau orofarings. Pengambilan ini dilakukan dengan cara mengusap rongga nasofarings dan atau orofarings dengan menggunakan alat seperti kapas lidi khusus.

PCR merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Uji ini akan didapatkan hasil apakah seseorang positif atau tidak SARS Co-2. Dibanding rapid test, pemeriksaan RT-PCR lebih akurat.

Metode ini jugalah yang direkomendasikan WHO untuk mendeteksi Covid-19. Namun akurasi ini dibarengi dengan kerumitan proses dan harga alat yang lebih tinggi. Selain itu, proses untuk mengetahui hasilnya lebih lama ketimbang rapid test.

Baca juga: Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya

Untuk harganya sendiri rapid tes antibodi paling murah dibandingkan yang lainnya yakni sekitar Rp85 ribu. Sedangkan rapid antigen sekitar Rp170 ribu sampai Rp200 ribu. Untuk Swab PCR berkisar Rp800 ribu hingga Rp2 juta tergantung waktu menunggu hasilnya. Sebab semakin cepat semakin mahal harga untuk swab PCR.

Bagaimana Cara Pilot Kemudikan Pesawat Saat di Darat? Simak Jawabannya Di Sini

Beragam insiden terjadi bukan hanya saat pesawat di udara, namun juga di darat, dalam hal ini di bandara. Umumnya, insiden di bandara tak sampai menimbulkan korban jiwa. Meski demikian, insiden di darat bandara, yang didominasi oleh senggolan atau tabrakan kecil antar pesawat, tabrakan kecil antara pesawat dengan tiang, dan lain sebagainya, tetap saja tidak diharapkan semua pihak.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Mengemudikan pesawat saat di bandara memang tidak mudah. Selain harus mempertimbangkan lebar sayap pesawat setiap ingin bermanuver, pesawat juga tak berada dalam kendali pilot dengan sempurna. Sebab, dengan kecepatan hanya 20 mil per jam rudder, slats, dan flaps yang bisa mempengaruhi gerak pesawat saat di udara, nyatanya tak bisa berbuat banyak untuk mengarahkan pesawat saat di darat.

Lantas, bagaimana cara pilot mengemudikan pesawat saat di bandara? Selain rudder, slats, dan flaps, pilot masih mempunyai tiller sebagai komponen kemudi pesawat di darat. Tiller biasanya terletak di bagian depan kanan atau kiri kokpit, di sebelah kiri side stick (Airbus) atau yoke (Boeing) atau di sebelah kanan kedua kemudi itu.

Tak seperti side stick atau joy stick dan yoke yang memiliki kesamaan fungsi namun perbedaan nama, tiller memiliki sebutan atau nama yang sama di seluruh pesawat, namun bentuknya berbeda-beda di setiap pesawat. Tiller di pesawat komersial pada umumnya berbentuk melengkung seperti kait. Di pesawat lain, tiller berbentuk seperti setengah lingkaran atau bulan sabit serta berbentuk pie.

Posisi tiller di kokpit pesawat A350. Foto: Joao Carlos Medau via Wikimedia Commons

Kendati pun berbeda-beda, kesemuanya itu tetap memiliki fungsi yang sama, yakni mengarahkan roda depan ke kiri dan ke kanan. Dengan begitu, proses taxiing bisa dengan mudah dilakukan.

Dilansir Simple Flying, seorang pengamat penerbangan, Aaron Johnson, menyebut bahwa tiller hanya ada di pesawat komersial besar.

“Di beberapa pesawat yang lebih kecil, pilot memutar roda depan melalui rudder pedals. Namun pesawat lain yang lebih kecil tidak memiliki hardware yang diperlukan untuk membelokkan roda. Jadi mereka tetap tegak,” jelasnya.

Baca juga: Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih

Oleh karenanya, untuk pesawat-pesawat kecil, pilot harus menggunakan teknik differential breaking, yang menurut MIT School of Engineering, bekerja dengan mengerem roda di satu sisi pesawat. Hal ini menyebabkan salah satu roda melambat atau menjadi pusat gravitasi dan membuat roda depan ikut mengarah ke sisi yang sama dengan salah satu roda tadi. Dengan begitu, pilot bisa mengarahkan pesawat ke arah yang ingin dituju.

Selain itu, jika pesawat memiliki setidaknya dua mesin, bukan mesin tunggal seperti biplane, pilot dapat menggunakan differential throttling. Teknik ini menambah daya dorong pada mesin di sisi yang berlawanan dengan roda yang berhenti, memungkinkan pesawat untuk berbelok lebih mudah.

Dehidrasi Ternyata Berpengaruh Pada Obesitas, Buat yang Mau Langsing Perhatikan Hal ini

Dehidrasi merupakan kondisi tubuh dimana seseorang kekurangan cairan dan ini bisa membuatnya tidak sadarkan diri. Hal ini karena tubuh manusia dua pertiganya merupakan berat air dan orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas, total air di dalam tubuhnya lebih rendah dibandingkan dengan yang memiliki berat badan normal.

Baca juga: Selain Banyak Minum, Dehidrasi di Pesawat Bisa Dicegah dengan Cara Ini

Sehingga bisa dikatakan orang yang memiliki kelebihan berat badan lebih mudah mengalami dehidrasi. Profesor Hardinsyah menuliskan dalam bukunya bahwa kebutuhan air bagi orang obesitas disarankan dua gelas lebih banyak dibandingkan orang dengan berat badan normal.

Selain karena faktor mudah kekurangan cairan, konsumsi air yang cukup juga ternyata akan membantu menurunkan berat badan. Sebab, air tidak mengandung kalori dan minum sebelum makan juga akan merasa kenyang sehingga asupan kalori bisa dikurangi.

Dr. dr Fiastuti Witjaksono SpGK, dari Departemen Ilmu Gizi Universitas Indonesia menjelaskan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat anti-diuretic hormone Adrinin Vasopresin (AVP). Di mana AVP berfungsi untuk menyeimbangkan cairan dalam tubuh.

Sehingga ketika seseorang mengalami dehidrasi, kadar AVP tinggi dan akan melakukan reabsorpsi cairan lebih sering. Selain itu, ketika kadar AVP tinggi, ini akan memiliki efek terhadap sel hati yakni terjadinya glikogenolisis.

Jadi glikogennya dihancurkan sehingga kadar glukosa naik. Inilah yang menyebabkan gangguan pada status hidrasi menyebabkan efek langsung terhadap noncommunicable disease.

Fiastuti menambahkan, ada beberapa penelitian yang melihat bahwa ketika seseorang dehidrasi, kadar glukosanya meningkat. Sebab, AVP juga bisa langsung bekerja di sel hati dan bersifat glikogenelisis yang menghancurkan glikogen sehingga kadar glukosa meningkat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (15/12/2020), selain itu para ilmuwan dari University of Colorado menambahkan, dengan terapi air dapat melindungi dari berbagai kondisi metabolik, seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi dan kadar trigliserida tinggi, yang terkait dengan hasil seperti penyakit jantung, stroke dan diabetes tipe 2.

Baca juga: Nissan Garap Prototipe Sistem Anti Dehidrasi Untuk Pengemudi

“Signifikansi klinis dari pekerjaan ini adalah bahwa hal itu dapat mendorong penelitian untuk mengevaluasi apakah peningkatan sederhana dalam asupan air dapat secara efektif mengurangi obesitas dan sindrom metabolik,” kata Miguel A. Lanaspa.

Bandara Radin Inten II, Peninggalan Jepang yang Pernah Didarati Pesawat Beechcraft Baron Garuda Indonesia

Bandara Radin Inten II belakangan banyak disebut masyarakat. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan akibat insiden tergelincirnya pesawat Boeing 737-900ER Lion Air PK-LGP pada Minggu, (20/12). Pesawat dengan nomor penerbangan JT-173 tujuan Batam-Tanjungkarang, Lampung, ini diduga tergelincir akibat cuaca buruk.

Baca juga: Ada Convair 990 Garuda Indonesia (Juga) dalam Komik Tintin

Akan tetapi, terlepas dari itu, sebetulnya di masa lalu bandara tersebut pernah dikenal luas sekalipun tanpa adanya insiden.

Dilansir dari berbagai sumber, Bandara Radin Inten II Lampung dahulu diketahui bernama Pelabuhan Udara Branti, sebuah pelabuhan udara peninggalan Jepang yang dibangun pada tahun 1943. Pelabihan udara ini dijadikan Jepang sebagai salah satu hub utama di Sumatera. Usai diserahkan ke Angkatan Udara atau AURI, bandara ini mulai melayani penerbangan komersial.

Di antara sekian banyak penerbangan ke dan dari bandara tersebut, Garuda Indonesian Airways mungkin jadi salah satu yang spesial. Pada tahun 1956, Garuda Indonesian Airways merintis rute baru Jakarta – Tanjung Karang PP.

Saat itu, maskapai nasional Indonesia itu menggunakan pesawat jenis Beechcraft Baron -bisa dibilang salah satu pesawat Garuda yang paling sedikit dokumentasinya- dan melayani tiga kali dalam sepekan, sebelum akhirnya digantikan pesawat Douglas DC-3 Dakota dengan runway sepanjang sekitar 900 meter.

Seiring perkembangan zaman, pelabuhan udara Branti mulai berbenah. Pada tahun 1975, pemerintah menambah panjang landasan pacu bandara menjadi sekitar 1.850 meter. Hal itu dimaksudkan agar pesawat lain yang lebih besar bisa mendarat, seperti Fokker F-28.

Pada 1 September 1985, pemerintah mengganti istilah Pelabuhan Udara Branti menjadi Bandara Branti, diikuti penerbangan Jakarta – Tanjung Karang PP oleh Merpati Airlines menggunakan CN-235; menggantikan Garuda Indonesia Airways, pada 11 Agustus 1989.

Bandara Branti terus berbenah diri. Berturut-turut pada 2004, 2007, dan 2009, pasca pengukuhan nama Bandara Branti menjadi Bandara Radin Inten II pada tahun 1995, runway bandara tersebut terus diperluas dan diperpanjang sampai 2.500 m x 45 m.

Pembangunan terus dilakukan dan mencapai puncaknya pada 2016, dimana pemerintah melakukan renovasi besar-besaran, mulai dari perluasan apron berukuran 565 x 110 meter untuk 12 parking stand pesawat, penambahan taxiway, dan perluasan runway menjadi 3.000 x 45 meter, agar bisa didarati pesawat widebody.

Seolah belum cukup, Bandara Radin Inten II terus dilakukan perbaikan dengan terminal baru sampai pada akhirnya menyandang status bandara internasional pada 2018, meskipun baru diresmikan pada awal 2019. Peningkatan status sebagai bandara internasional ditempuh tak lain untuk memungkinkan bandara melayani penerbangan umroh haji.

Baca juga: Tidak Sediakan Runway Visitor Park, Otoritas Bandara di Indonesia Belum Ramah Wisata Dirgantara

Setelah bertahun-tahun beroperasi di bawah Unit Pelaksana Teknis Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Bandara Radin Inten II akhirnya resmi berada di bawah PT Angkasa Pura II (Persero) pada 12 Oktober 2019. Setiap tahunnya, bandara ini melayani setidaknya 2 jutaan penumpang dan belasan ribu pergerakan pesawat.

Seiring pertumbuhan industri penerbangan, bandara yang terletak di Desa Branti Raya, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, barat laut Kota Bandar Lampung tersebut saat ini sedang menatap terminal 2 yang prosesnya masih terus dilakukan.

Masih Karena Covid-19, Arab Saudi Kembali Tutup Penerbangan Internasional, Garuda Indonesia Siapkan Antisipasi

Tsunami kedua, kemungkinan bisa menerpa biro travel dan layanan penerbangan yang terkait layanan Umrah. Setelah apa yang dialami pada pertengahan Maret lalu, dimana otoritas Arab Saudi menutup pintu masuk ibadah Umrah/Haji lewat jalur udara, maka hal serupa dikabarkan kembali berulang. Masih terkait penyebaran Virus Covid-19 yang tak kunjut surut, pemerintah Arab Saudi kini membatasi masuknya penerbangan ke Negeri Raja Salma tersebut.

Baca juga: 15 Maret 2020, Batas Waktu Jamaah Umrah Tinggalkan Arab Saudi, Bagaimana Nasib yang Tertinggal?

Salah satu yang imbasnya langsung dirasakan oleh maskapai Garuda Indonesia. Lewat pesan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com (21/12/2020), Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra memberikan penjelasan terkait pembatalan jadwal penerbangan ke Arab Saudi. “Dapat kami sampaikan bahwa pembatalan tersebut dilakukan menyusul adanya restriksi layanan penerbangan internasional ke Arab Saudi yang dikeluarkan oleh otoritas penerbangan Arab Saudi, yang mulai diberlakukan pada 21 Desember 2020,” ujar Irfan.

Adapun saat ini Garuda Indonesia terus melakukan komunikasi intensif dengan otoritas terkait guna memastikan hal hal yang perlu diantisipasi menyusul pembatasan operasional layanan penerbangan tersebut. Irfan menambahkan, “Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, hak penumpang tentunya akan senantiasa menjadi prioritas utama yang terus kami kedepankan. Untuk Itu, kami telah menerapkan kebijakan fleksibilitas penyesuaian rencana perjalanan yang kami harapkan dapat memberikan keleluasan bagi penumpang Garuda yang akan merencanakan ulang jadwal penerbangannya ke Tanah Suci dengan sebaik mungkin.” Fleksibilitas diberlakukan dengan memastikan penumpang dapat melakukan reschedule dan perubahan rencana penerbangan tanpa adanya biaya tambahan.”

“Pada kesempatan ini, kami juga turut menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penumpang yang terdampak atas kondisi ini. Tentunya kami harapkan layanan penerbangan menuju Arab Saudi dapat kembali dibuka dalam waktu dekat sehingga penumpang yang telah merencanakan penerbangan jauh jauh hari ke Tanah Suci bisa segera kembali terbang”, jelas Irfan.

Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

Garuda Indonesia kini tengah mempersiapkan opsi kesiapan operasional untuk mengangkut Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini tengah berada Arab Saudi. “Adapun langkah tersebut saat ini sedangkan kami koordinasikan secara intensif bersama otoritas terkait,” tutup Irfan.