16 Maskapai Kini Layani 21 Rute Penerbangan Internasional dari Bandara Soekarno-Hatta

Bagaimana rute penerbangan internasional dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) di masa pandemi saat ini? Apakah masih banyak maskapai yang melayani rute internasional? Ternyata meski banyak negara yang membatasi kedatangan pelancong dari luar negeri, Bandara Soetta masih membuka banyak rute penerbangan internasional.

Baca juga: Rute Domestik Tersibuk di Dunia Ternyata Hanya 400 Km, Setara Jakarta-Semarang

Saat ini ada sebanyak 21 rute yakni Abu Dhabi, Bangkok, Guangzhou, Chengdu Airport Cina, Doha, Hang Zhou, Hong Kong, Tokyo Haneda, Seoul. Selain itu juga ada Istanbul, Kuala Lumpur, Melbourne, Nanning, Tokyo, Penang, Ho Chi Minh City di Vietnam, Singapore, Subang di Malaysia, Shenzhen dan terakhir Taipei di Taiwan.

Penerbangan 21 rute internasional ini dilayani oleh 33 maskapai. Namun perlu dicatat, dari 33 maskapai, hanya 16 maskapai yang melayani penumpang, sisanya adalah penerbangan kargo. Manager of Branch Communication Bandara Soekarno-Hatta PT Angkasa Pura II Haerul Anwar menjelaskan bahwa penerbangan internasional dilakukan sesuai dengan prosedur di masing-masing negara.

“Kalau ada penumpang mau terbang ke sana (luar negeri-red) , coba kroscek ke negara tujuan kebijakannya dibolehkan apa enggak dari Indonesia bisa ke sana. Kalau misalkan dari sana membolehkan terus cek ke maskapai-maskapainya buka apa nggak. Kalau misalnya ada penerbangannya ya berarti bisa ke sana,” ujar Haerul yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnbc.com (16/10/2020).

Saat ini trafik penerbangan terbanyak adalah rute menuju ke Singapura dan ini terlihat dari realisasi bulanan sepanjang September 2020. Pada periode tersebut, penerbangan dari dan ke Singapura mencapai 318 kali.

Adapun dari dan ke Taipei sebanyak 129 penerbangan, Hong Kong 127 penerbangan, Incheon Korsel 119 penerbangan, dan Kuala Lumpur 104 penerbangan. Haerul mengatakan, sementara ini lebih banyak penerbangan kargo dibandingkan dengan penumpang. Sehingga bisa dikatakan penumpang sebenarnya masih terbatas.

Rincinya, pada periode 1-14 Oktober 2020 total penumpang di rute internasional dari dan ke Soetta, sebanyak 31.347 orang. Angka itu terdiri dari 17.558 penumpang datang dan 13.790 penumpang keluar Indonesia.

“Yang keluar WNI ada juga, penumpang warga asing ada juga yang kembali ke negaranya. Kalau yang masuk relatif sama, masih banyak repatriasi,” kata dia.

Berikut ini terminal baik domestik dan internasional di Bandara Soetta yang beroperasi yakni Terminal 2D ada Airfast (FS), Lion Air (JT), NAM Air (IN), Indonesia AirAsia (QZ), Express Air (XN). Sedangkan untuk Terminal 2E ada Batik Air (ID) dan Lion Air (JT). Di Terminal 3 internasional ada Eva Air (BR), China Airlines (CI), Cathay (CX), Etihad Airways (EY), Garuda Indonesia (GA), Batik Air (ID), Japan Airlines (JL), Qatar Airways (QR) dan Korean Air (KE).

Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

Selain itu juga ada All Nippon (NH), Malindo (OD), Asiana (OZ), Qatar Airways (QR), Sriwijaya (SJ), Singapore Airlines (SQ), Turkish Airlines (TK) dan Shenzhen Airlines (ZH). Untuk kargo internasional ada My Indo Airlines (2Y), K-Mile (8K), China Airlines (CI), Cathay (CX), Fedex (FX), Korean Air (KE), Raya Airways (TH) dan VietJet Aviation (VJ).

Doraemon Ulang Tahun Ke-50, Seibu Railway Hadirkan Kereta Bertema Robot Kucing Ikon Budaya Jepang

Setiap orang pasti kenal kucing bulat berwarna biru dan sering wara-wiri di televisi mengisi liburan di hari Minggu. Ya kucing biru bernama Doraemon ini merupakan kucing robotik dari serial komik dan kartun populer yang kini tengah merayakan ulang tahun ke-50.

Baca juga: Shinkansen Hello Kitty Resmi Mengular, Penggemar dan Penumpang Riuh Ramai Berselfie Ria

Untuk memperingati ulang tahun Doeraemon, Seibu Railway Company meluncurkan kereta “Doraemon-Go!” dengan satu rangkaian berisikan delapan gerbong. Kereta yang bertema ikon budaya Jepang tersebut berisi gambar yang terinspirasi dari karakter dan gadget rahasia yang digunakannya.

pintu kemana saja menjadi penghubung antar gerbong (kyodonews.net)

“Kami ingin memberikan mimpi kepada penumpang kami dengan bantuan Doraemon,” kata Kimio Kitamura, direktur perusahaan Seibu Holdings yang dikutip KabarPenumpang.com dari kyodonews.net (8/10/2020).

(kyodonews.net)

Kereta ini berwarna sesuai dengan Doraemon yakni biru dan putih. Di mana wajahnya digambarkan di bagian depan kereta serta di setiap pintu masuk. Sedangkan gambar saku atau kantong ajaib empat dimensi Doraemon yang menyimpan semua gadget rahasianya tercetak di kursi.

Sedangkan ikon pintu ke mana saja yang akan membawa orang pergi ke tempat yang ingin mereka tuju tergambar pada pintu penghubung antar gerbong. Kereta ini dijadwalkan akan beroperasi di jalur Seibu Railways, Shinjuku, Hajima dan Tamako.

Zensho Ito, presiden perusahaan produksi Fujiko Pro Co., mengatakan almarhum Fujiko F. Fujio, salah satu dari dua pencipta seri manga asli tempat Doraemon pertama kali muncul, adalah “penggemar berat” kereta api.

“Dia akan tersenyum jika melihat ini,” kata Ito.

Baca juga: Pixar’s Toy Story Akan Hiasi Kereta Peluru Jepang yang Melintasi Pulau Kyushu

Doraemon sendiri diketahui merupakan sebuah robot kucing yang datang dari abad ke-22 untuk membantu seorang anak sekolah dasar yakni Nobita. Mengingat Doraemon, Indonesia baru kehilangan pengisi suara karakter animasi Doraemon, Nurhasanah Iskandar yang meninggal dunia pada Minggu, (12/7/2020) diusia 62 tahun.

Nurhasanah mengisi suara Doraemon sejak 1998. Setelah tiga belas tahun, ia sempat vakum dari Doraemon karena diganti orang lain.

Mobil Nyusruk ke Rel Stasiun, Dua Orang Dibawa ke Rumah Sakit dan Dua Platform Terganggu Perjalanannya

Sebuah mobil mendarat di rel di Stasiun Striling, Inggris, dan akibatnya dua orang dibawa ke rumah sakit. Insiden ini terjadi saat sebuah mobil Renault Clio tengah mengantre di Striling pada Rabu Sore. Kemudian mobil tersebut menabrak pagar kawat stasiun sebelum berhenti di rel sekitar pukul 12:15 waktu setempat.

Baca juga: Mobile Broadband di Atas Rel Kereta

Dilansir KabarPenumpang.com dari helensburghadvertiser.co.uk (14/10/2020), beberapa menit kemudian, mobil turun dari tanggul dan berhenti di dekat jalur Corpach, sebelah barat Fort William. Saat insiden itu juga layanan darurat tak lama datang dan mengangkut dua orang ke RUmah Sakit Kerajaan Forth Valley di Larbert.

Seorang juru bicara layanan ambulans Skotlandia mengatakan, pihaknya menerima panggilan untuk datang ke lokasi insiden tepatnya di Stasiun Striling.

“Kami mengirim kru ambulans ke tempat kejadian dan membawa dua pasien ke Rumah Sakit Kerajaan Forth Valley,” kata juru bicara itu.

Juru bicara kepolisiaan Transportasi Inggris menambahkan, bahwa para petugas dipanggil ke Stasiun Striling pukul 12.17 waktu setempat setelah ada laporan mobil berada di rel kereta api.

“Mobil itu diyakini telah berakhir di rel dari tempat parkir stasiun. Petugas masih menentukan bagaimana mobil itu bisa sampai di trek. Syukurlah, mereka yang berada di dalam mobil tidak mengalami cedera serius,“ kata polisi tersebut.

Insiden tersebut membuat layanan platform dua dan tiga menuju ke Perth, Aberdeen, Glasgow dan Edinburgh terpengaruh. Dalam tweet yang dibuat ScotRail, operator kereta ini menuliskan yang mana mereka menyarankan penumpang yang berada di stasiun bisa pindah ke platform lainnya.

“Sebuah mobil telah melanggar batas rel di Stirling. Kami bekerja sama dengan layanan darurat. Kami dapat mengalihkan kereta api di sekitar penghalang ini dengan menggunakan Peron enam dan sembilan di stasiun. Gunakan P6 jika Anda menuju Perth / Aberdeen dan P9 ke Glasgow / Edinburgh,” isi tweet ScotRail.

Kemudian pada Rabu sore, Network Rail men-tweet, “Untuk memungkinkan pemulihan kendaraan yang aman, kita perlu mematikan saluran udara melalui Stirling sekitar 1630.
“Ini akan memengaruhi kereta listrik, tetapi kereta diesel masih dapat beroperasi melalui Platform 6 dan Platform 9.”

Baca juga: Teror di Stasiun Adelaide, Dua Pria Dorong Mobil ke Lintasan Kereta

Dalam insiden terpisah, sebuah mobil di jalur di Fort William menyebabkan layanan ditunda selama sekitar satu jam antara Glasgow Queen Street dan Mallaig.

Usai Keliling Dunia, Bagaimanakah Nasib Ed Force One Boeing 747 Iron Maiden?

Sejak 2008, grup band rock kenamaan dunia, Iron Maiden berhasil menggelar tur keliling dunia dengan dukungan dari pesawat charter Boeing 757. Dinilai terlalu kecil, vokalis grup band tersebut yang juga memiliki lisensi pilot komersial, Bruce Dickinson, mengaku ingin didukung oleh pesawat yang lebih besar dan Boeing 747-400 Ed Force One Iron Maiden pun jadi jawaban.

Baca juga: Bruce Dickinson, Pentolan Iron Maiden yang Menyandang Lisensi Pilot Pesawat Komersial

Sayangnya, usai dipakai keliling dunia, nasib pesawat tersebut jadi abu-abu. Apalagi usai pandemi Corona menghantam, nasib pesawat kian tak jelas.

Queen of the Skies Ed Force One Iron Maiden, dengan nomor registrasi TF-AAK, diketahui ikut menyukseskan band tersebut dalam world tour ‘Book Of Souls’. Namun, sebelum Boeing 747 Ed Force One menarik hati sang vokalis -yang notabene kerap menerbangkan sendiri pesawat saat tur dunia- Boeing 757 dengan nomor registrasi G-OJIB terlebih dahulu melayani band itu pada 2008-2009.

Pada tur dunia The Final Frontier tahun 2011, Iron Maiden keliling dunia bersama Boeing 757 sewaan lain, sebelum akhirnya pesawat dengan nomor registrasi G-STRX itu diparkir dan digantikan dengan Queen of the Skies pada tur dunia 2016.

“(757) tidak cukup besar untuk apa yang kami pikirkan tentang sebuah pertunjukan. Jadi yang kami hadapi saat ini adalah pertunjukan panggung. Semua yang kami butuhkan ada di pesawat, dan semua teknisi, bagasi, dan yang lainnya. Kami berkeliling dunia (dari) Perth, Australia hingga Cape Town, Shanghai hingga Selandia Baru. Kami benar-benar akan mengelilingi planet ini,” kata Dickinson saat ditanyai pergantian pesawat Iron Maiden ke Boeing 747-400, sebagaimana dilansir Simple Flying.

Usai bergabung, sebagaimana ucapan Dickinson, Ed Force One Iron Maiden benar-benar keliling dunia. Memulai perjalanan dari Cardiff, pesawat tersebut bergegas menuju Barat, berhenti di berbagai titik di seluruh Amerika untuk mengantar Iron Maiden konser, hingga kemudian bergerak ke Meksiko, untuk konser di Amerika Tengah dan bergeser ke Amerika Selatan.

Di Santiago, Chili, pesawat sempat dilaporkan rusak akibat berbenturan dengan pushback truck saat tengah mengisi bahan bakar. Tetapi, tak lama kemudian, usai diperbaiki Boeing 747 Ed Force One Iron Maiden yang dipiloti oleh sang vokalis, Bruce Dickinson, diperbolehkan kembali beroperasi.

Pesawat kemudian melanjutkan tur dunia, keliling Amerika Utara, dan menggelar konser di berbagai wilayah AS dan Kanada. Lepas itu, Ed Force One terbang ke Asia untuk konser Iron Maiden di Jepang dan Cina, sebelum menuju ke Selandia Baru dan Australia di sebelah selatan.

Dari Selatan, pesawat bergerak horizontal ke Afrika Selatan sebelum kembali menuju utara untuk melakukan tidak kurang dari 51 konser di seluruh Eropa. Sebelum berakhir, pesawat kembali diterbangkan Bruce Dickinson untuk mengantar Iron Maiden menggelar konser tambahan di AS.

Saat tampil untuk terakhir kalinya di Brooklyn, AS, pada Juli 2017 lalu, Iron Maiden tercatat telah tampil sebanyak 117 kali di 36 negara dihadapan lebih dari 1,3 juta penggemar. Dengan itu, mereka berhasil mengantongi lebih dari $91 juta dan semakin mengukuhkannya sebagai salah satu band rock paling fenomenal di dunia. Namun, apa yang terjadi dengan 747-400 Ed Force One?

Baca juga: Naik Kelas, Vokalis Iron Maiden Didapuk Jadi Kapten di AU Kerajaan Inggris

Usai menemani Iron Maiden tur keliling dunia, Boeing 747 TF-AAK diketahui sempat melanglang buana ke berbagai negara, seperti Islandia, Perancis, dan Hungaria. Setelahnya, pesawat menggunakan livery Saudi Arabian Airlines, melahap rute-rute reguler maskapai seperti ke Jeddah, Surabaya, Addis Ababa, dan Dhaka.

Maret lalu, pesawat berusia 17,5 tahun ini sepat digrounded berkepanjangan akibat pandemi Corona. Pantauan FlightRadar24, pesawat sempat mengudara kembali selama belasan menit di bulan Juni. Diperkirakan itu merupakan penerbangan pemerliharaan. Sekalipun tak ada kejelasan lebih lanjut, hal itu setidaknya menjadi tanda bahwa pesawat akan kembali mengudara saat pandemi Corona sirna.

Generasi Baru Metro Bombardier Movia Meluncur di Jalur MRT Terpanjang Singapura

Bombardier Transportation meluncurkan desain generasi terbaru metro Bombardier Movia di dua jalur Mass Rapid Transit (SMRT) terpanjang di Singapura. Generasi baru tersebut dibuat dengan inspirasi karena pesona kota yang semarak dan terlihat dari garis denyut merah serta hijau di sepanjang carbody eksterior.

Baca juga: Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan

Sehingga ini memberikan penekanan visual kontemporer untuk titik masuk penumpang. Kendaraan ini mengintegrasikan teknologi mobilitas paling canggih di dunia untuk meningkatkan transportasi umum Singapura. Dilansir KabarPenumpang.com dari globenewswire.com (8/10/2020), ada 106 kereta metro Movia dengan satu rangkaian ada enam mobil baru untuk Jalur Utara-Selatan dan Timur-Barat (NSEWL).

Kereta Movia tersebut akan beroperasi dengan jalur sepanjang 102 km dan akan melayani 59 stasiun. Bisa dikatakan ini akan menghubungkan penumpang di seluruh Singapura.

“Bersama dengan LTA, Bombardier dengan senang hati memamerkan desain kami untuk kereta NSEWL. Selama tujuh tahun terakhir, kinerja metro Movia kami telah terbukti bisa menggerakkan jutaan penumpang di Jalur Pusat Kota, membuat perjalanan harian mereka lebih hijau, lebih tenang, dan lebih aman daripada sebelumnya,” kata Jayaram Naidu, Presiden Asia Tenggara, Bombardier Transportation.

Naidu menambahkan, pihaknya ingin berkolaborasi lebih lanjut dengan Otoritas Transportasi Darat (LTA) untuk memperkenalkan kereta metro mereka yang mengubah permainan secara global untuk membantu meningkatkan pengalaman perjalanan, mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan keandalan kereta di Singapura. Dengan 636 mobil metro yang dipesan untuk proyek tersebut, maka akan menambah jumlah kendaraan Movia di Singapura menjadi 912.

Sehingga hal ini menjadikannya salah satu armada metro terbesar Bombardier di dunia. Kendaraan metro Movia sendiri telah terbukti mengintegrasikan solusi mobilitas berperforma tinggi termasuk metro bogie Bombardier FLEXX dan sistem propulsi Bombardier MITRAC untuk mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan efisiensi energi serta memenuhi standar lingkungan tertinggi.

Teknologi Train Control Monitoring System (TCMS) yang inovatif, serta fitur pemantauan berdasarkan kondisi dan prediktifnya akan meningkatkan efisiensi operasi armada dengan menyediakan diagnostik kereta api yang ekstensif dan mengoptimalkan perawatan track dengan menganalisis kondisi track. Interior kendaraan baru menampilkan lebih banyak ruang terbuka untuk kursi roda dan kereta bayi, mendukung visi LTA tentang sistem transportasi umum yang lebih inklusif.

Baca juga: Di 2030, MRT Singapura Perpanjang Jaringan Hingga 360 Km, Bagaimana dengan MRT Jakarta?

Bombardier bertanggung jawab atas desain, teknik, manufaktur, perakitan, pengujian, komisioning, dan pengiriman kereta metro Movia untuk sistem NSEWL. Kereta baru generasi mendatang ini dijadwalkan memasuki layanan penumpang mulai 2022 untuk meningkatkan keandalan dan kinerja sistem.

Hilangkan Kepenatan Karena Pandemi, Kereta Komuter Seoul Hadirkan Festival Film Kereta Bawah Tanah Internasional

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat orang masih terus dan harus menjaga jarak sosial mereka. Ini bisa membuat tekanan mental bagi banyak orang dan hal tersebut kemudian berbagai pihak menghadirkan solusi untuk membantu meringankan beban di masa pandemi.

Baca juga: Bioskop Drive-In Solusi Hiburan di Era Covid-19, Mungkinkah Bakal Hadir Lagi di Indonesia?

Seperti yang dilakukan jaringan kereta komuter bawah tanah Seoul untuk para penumpangnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari ajudaily.com (24/8/2020), jaringan kereta bawah tanah tersebut membuat festival film kereta bawah tanah internasional untuk meringkankan kepenatan penumpang.

Operator kerta bawah tanah Seoul mengatakan bahwa mereka telah membuka “Festival Film Kereta Bawah Tanah Internasional Seoul ke-11”. Dalam festival ini akan ada 55 film indie yang diputar. Film indie pendek tersebut berdurasi sekitar 90 detik dan diputar di layar digital yang dipasang di kereta dan peron stasiun.

Pemutaran film ini berakhir pada 17 September kemarin. Kereta bawah tanah yang berjalan di bawah ibukota Korea Selatan tersebut setidaknya menghadirkan delapan tampilan digital yang menunjukkan tujuan dan nama stasiun yang akan datang.

Untuk diketahui, adanya pandemi ini, festival dan pameran film telah memilih metode non kotak untuk mengundang dan berkomunikasi dengan penggemar. Salah satunya Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN), sebuah festival film tahunan, diadakan sebagai acara online pada bulan Juli untuk memutar sekitar 190 film dari 40 negara.

Sebuah gedung bioskop tunggal yang dilengkapi dengan kamera pencitraan termal, termometer dan semprotan disinfektan digunakan untuk pemutaran offline. Museum juga menarik generasi muda yang paham teknologi menggunakan realitas virtual (VR).

Museum Nasional Sejarah Kontemporer Korea dan Museum Istana Nasional Korea, keduanya terletak di pusat kota Seoul, membuat museum virtual 3D untuk memungkinkan warga berjalan-jalan di dalam menggunakan komputer, smartphone, atau headset VR.

Baca juga: Isolasi Diri dari Pandemi Covid-19, Seorang Pria Tinggal di Stasiun Kereta Api

Seoul dan kota-kota lainnya memiliki jaringan rel kereta bawah tanah yang luas dengan 331 stasiun yang membentang dalam jarak total 353,2 kilometer (219,4 mil). Sekitar 7,4 juta orang menggunakan kereta subway setiap hari. Seorang komuter yang tinggal di Seoul atau kota-kota sekitarnya biasanya menghabiskan waktu sekitar tiga jam untuk perjalanan sehari-hari.

Kapten Sully Kritik Habis Boeing 737 MAX, Crew Alerting System dan Sensor Ketiga AoA Jadi Sorotan

Kapten Chesley “Sully” Sullenberger atau dikenal juga Kapten Sully mengaku tak puas dengan progres perbaikan Boeing 737 MAX. Padahal, usai menjalani uji sertifikasi ulang awal Juli lalu, pesawat pesakitan itu digadang bakal kembali melayani penumpang akhir tahun ini.

Baca juga: Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual

Kapten Sully yang terkenal usai tragedi “Miracle on the Hudson”, sebuah insiden yang menimpa pesawat Airbus A320-214 US Airways flight 1549 akibat dihantam bird strike dan memaksa pesawat melakukan ditching atau mendarat di air, dalam sebuah wawancara, menyoroti crew alerting system atau sistem peringatan kru 737 MAX.

Menurutnya, pesawat perlu melakukan modifikasi tambahan untuk meningkatkan sistem peringatan kru dan menambahkan sensor ketiga untuk input data sensor angle of attack (AoA) pesawat. Saat ini, sensor AoA diketahui hanya ada dua dan dalam insiden 737 MAX yang menimpa Lion Air serta Ethiopian Airlines, dua sensor AoA MAX rusak dan tak bisa mengenali gerak pesawat.

“Saya tidak akan mengatakan, ‘Kita sudah selesai, cukup bagus, lanjutkan’. Orang-orang akan terbang di atasnya dan saya mungkin akan menjadi salah satunya,” kata Kapten Sully, seperti dilaporkan Seattle Times dan Military.com.

“MAX yang diperbarui mungkin akan seaman (model sebelumnya) 737 NG ketika mereka selesai menggunakannya. Tapi itu tidak sebaik yang seharusnya,” tambahnya.

Dengan kondisi keuangan yang agak kacau akibat pandemi virus Corona, proses perbaikan 737 MAX dan 737 NG diprediksi akan menemui kendala baru. Untuk perbaikan MAX saja, hingga Maret lalu, Boeing mengaku telah menghabiskan Rp268 triliun. Seiring berbagai inspeksi oleh otoritas, 737 NG pun ikut keseret dan pada akhirnya juga dituntut melakukan perbaikan.

Namun demikian, Kapten Sully, sang pilot kawakan di insiden Sungai Hudson, menekankan agar Boeing tak sayang uang demi kemanan dan keselamatan pesawat 737 MAX serta 737 NG. “Di MAX, desain sistem kontrol penerbangan tergolong cacat. Mereka telah secara tidak sengaja membuat perangkap (pesawat) maut. Itu masalah waktu sampai itu merenggut nyawa.”

Kapten Sully memang terkenal keras terkait insiden Boeing 737 MAX. Pada bulan Juni 2019, saat bersaksi pada sidang investigasi 737 MAX di hadapan Komite Transportasi DPR AS, ia mengkritik keras kegagalan desain Boeing dan pengawasan FAA.

Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan

“Sangat penting bahwa input Aoa ketiga, atau synthetic airspeed, tersedia di pesawat ini,” kata Kapten Sully.

Atas kritikan keras dan masukan darinya, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) pun menekan Boeing agar menambahkan input ketiga AoA pada MAX. Meskipun hal tersebut tak mudah dilakukan, EASA menyebut Boeing siap menjalankan masukan itu pas MAX kembali beroperasi.

Tak Seperti Negaranya, Vietnam Airlines Rugi Rp6,7 Triliun Gegara Covid-19

Vietnam menjadi satu dari beberapa negara yang tak sekalipun mencatat pertumbuhan ekonomi di bawah nol. Padahal, di saat yang bersamaan, pandemi virus Corona telah menyeret berbagai negara maju ke dalam resesi. Sayangnya, prestasi Vietnam tak lantas diikuti oleh BUMN negara tersebut, seperti misalnya flag carrier nasional mereka, Vietnam Airlines.

Baca juga: Gantikan Armada Airbus yang Sudah Tua, Vietnam Airlines Berencana Pesan 100 Boeing 737 MAX

Selama sembilan bulan atau hingga kuartal ketiga 2020, maskapai yang berdiri sejak 1956 ini tercatat membukukan kerugian bersih sebesar US$463 juta atau Rp6,7 triliun (kurs Rp14.700). Hal ini tentu saja diakibatkan turunnya frekuensi penerbangan internasional serta kebijakan ketat pemerintah dalam menangkal Covid-19 ke negara yang sering disebut Vietnam Rose ini.

Dilansir Simple Flying, sejak akhir Januari, Vietnam Airlines telah menangguhkan semua penerbangan dari dan ke China. Sebanyak 70 ribu pengunjung antara kedua negara terdampak oleh kebijakan tersebut.

Dua bulan berselang, pemerintah memutuskan untuk menutup pintu internasional dari dan ke negara tersebut, kecuali beberapa penerbangan internasional yang sangat penting. Hal itu tentu saja semakin membuat maskapai berdarah-darah.

Memasuki bulan Juni, penerbangan domestik mulai berangsur pulih. Sekalipun di titik ini penerbangan internasional masih belum bisa diandalkan, setidaknya maskapai tetap bisa memutar uang bersamaan dengan jalannya rute domestik.

Sambil terus fokus di penerbangan domestik, Vietnam Airlines juga mengambil langkah-langkah efisiensi, seperti restrukturisasi utang, reorganisasi manejemen atau PHK karyawan, serta menahan pengeluaran yang tidak mendesak. Tentu saja semua langkah tersebut juga dilakukan oleh seluruh maskapai di dunia.

Dewi fortuna nampaknya juga berpihak ke maskapai yang beraliansi dengan SkyTeam ini. Hal itu tercermin dari tingginya mobilitas maskapai terhadap penerbangan charter khusus kargo, repatriasi, dan pemulihan rute domestik.

Pada penerbangan repatriasi, maskapai ini tercatat telah mengoperasikan lebih dari 100 penerbangan repatriasi dan membawa pulang lebih dari 30.800 warga negara ke berbagai tujuan, seperti Angola, Guinea Khatulistiwa, Amerika Serikat, Taiwan, negara-negara di Eropa, dan banyak negara lainnya di seluruh dunia.

Baca juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO

Penerbangan kargo pun demikian. Vietnam Airlines setidaknya telah mengoperasikan lebih dari 2.600 penerbangan kargo ke seluruh dunia. Beberapa dari penerbangan ini termasuk sumbangan peralatan dan perlengkapan medis serta berbagai barang bernilai ekonomi tinggi lainnya.

Vietnam Airlines dan anak usahanya, Pacific Airlines, merupakan pemegang market share terbesar di Vietnam dengan lebih 50 persen pangsa pasar domestik. Hingga kuartal ketiga, keduanya telah mengoperasikan 46.700 penerbangan dan mengangkut kurang dari 12 juta penumpang serta 146.000 ton kargo. Selain itu, khusus untuk Vietnam Airlines, maskapai juga telah meluncurkan 22 rute domestik baru dan saat ini menerbangi lebih dari 300 penerbangan per hari.

Hari ini, 17 Tahun Lalu, Wahana Roket Cina Shenzhou 5 Berhasil Terbangkan Astronot Pertama

Cina pada 17 tahun lalu akhirnya berhasil menyelesaikan misi antariksa berawak pertama mereka. Ini adalah roket Shenzhou 5 yang diluncurkan pada 15 Oktober 2003 dari program antariksa Cina. Pesawat antariksa Shenzhou tersebut diluncurkan dari wahana peluncuran Long March 2F.

Baca juga: Lihat Banyak Tempat Indah dari Luar Angkasa, Astronot Juga Butuh Liburan

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Shenzhou 5 diluncurkan pada pukul 01.00 UTC (09.00 waktu setempat) dari kosmodrom Jiuquan tepatnya berada di Gurun Gobi. Kemudian pada pukul 01.10 UTC, orbit target mencapai ketinggian 343 km.

Bila ditotal secara keseluruhan Shenzhou 5 mendarat 21 jam kemudian setelah mengitari bumi sebanyak 14 kali sebelum akhirnya mendarat pukul 22.23 UTC tanggal 16 Oktober di Mongolia Dalam. Pendaratan ini sendiri meleset sekitar 4800 meter atau 4,8 km dari tempat peluncuran awal.

Sebelum Shenzhou 5 ada empat dari misi Shenzhou nirawak sejak tahun 1999 dan Cina menjadi negara ketiga di dunia yang memiliki kemampuan penerbangan antariksa berawak independen setelah Uni Soviet sekarang Rusia dan Amerika Serikat. Ternyata Shenzhou ini terdiri dari tiga modul yakni modul layanan berisi instrumentasi dan sistem propulsi, modul tengah berbentuk lonceng yang membawa awak selama peluncuran dan pendaratan serta modul orbital ke depan berbentuk silinder yang membawa eksperimen ilmiah dan militer.

Shenzhou 5 memiliki panjang 9,3 meter, beratnya mencapai 7.840 kilogram serta berdiameter 2,8 meter. Pesawat ini didukung dengan empat panel surya yang menghasilkan total daya 1500 watt. Dalam peluncurannya, Shenzhou 5 menggunakan roket peluncur Long March 2F dalam membantunya mencapai orbit bumi.

Penasaran siapa awak yang ikut dalam perjalanan antariksa Shenzhou 5? Dia adalah Yang Liwei seorang pilot umum dan militer besar serta China National Space Administration Astronot. Dia menjadi orang pertama yang dikirim ke luar angkasa dalam misi Shenzhou 5.

Dia sebelum menjadi awak Shenzhou 5, terpilih sebagai kandidat astronot pada 1998 dan telah berlatih untuk penerbangan luar angkasa sejak saat itu. Yang Liwei saat menjalankan misi berpangkat Letkol dan kemudian diangkat menjadi kolonel 20 Oktober 2003.

Baca juga: Sebelum Terbang dengan Kapsul Boeing CST-100 Starliner, Astronot Berlatih dengan VR

Setelah peristiwa itu, seorang pimpinan NASA, Sean O’Keefe menyebut Shenzhou 5 sebagai “pencapaian penting dalam eksplorasi manusia”. NASA juga berharap Cina “melanjutkan program penerbangan angkasa manusia yang aman”. Berkat pencapaiannya, Cina terus berinovasi lebih dan pada 16 Juni 2012, program Shenzhou 9 berhasil membawa astronot wanita China pertama.

Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Poimo, skuter listrik tiup yang mudah dibawa kemana-mana berkat fleksibilitasnya, sukses menggebrak pasar personal mobility vehicle pada bulan Mei lalu. Sebagaimana namanya, Poimo, akronim dari Portable and Inflatable Mobility, memang sangat memudahkan pengguna karena bisa dilipat dan dimasukkan ke ransel atau sebaliknya, dikeluarkan dari ransel, dipompa, dan dikendari kemanapun berkat motor listrik.

Baca juga: Poimo, Skuter Listrik Tiup dari Jepang

Seolah belum cukup, skuter listrik hasil kerja sama Mercari R4D dengan laboratorium Kawahara dan Niiyama dari Universitas Tokyo tersebut, belum lama ini dikabarkan telah meluncurkan versi custom-fit, memungkinkan produsen untuk menyesuaikan ukuran tubuh dengan Poimo.

Dilansir dari New Atlas, untuk mendapatkan Poimo yang sesuai dengan postur tubuh pengguna, mula-mula mereka perlu mengambil sejumlah gambar yang merepsentasikan posisi ideal saat mengendarai Poimo. Setelah itu, gambar-gambar tersebut akan dipilih dan dibuatkan model 3D skuter melalui sebuah software yang dirancang khusus untuk mengakomodir dimensi Poimo yang disesuaikan dengan pose dari gambar tadi.

Selain dalam bentuk menyerupai sepeda motor, Poimo juga menyediakan desain menyerupai kursi roda. Foto: Poimo

Tak hanya itu, software ini juga bisa mengakomodir calon pengguna yang agak rempong. Usai model 3D skuter listrik Poimo selesai dibuat, tentu saja berdasarkan pose yang dikirimkan, calon pengguna dimungkinkan untuk tetap menyesuaikan lagi desain Poimo sesuai keinginan mereka.

Seumpama, mereka menginginkan ukuran ban, body skuter, jok, pijakan kaki, rangka bagian depan Poimo, setang, dan pengontrol nirkabel bawaan yang lebih tinggi atau pendek, lebih kecil atau besar, software otomatis akan menyesuaikan bagian lainnya ketika dimensi satu bagian diubah, seperti pada video di bawah ini. Dengan begitu, kekuatan, stabilitas, dan tingkat kenyamanan pengoperasiannya tidak terganggu.

Skuter yang dibuat dari kain dropstitch yang relatif kuat dengan tujuh bagian, mulai dari roda sampai setang, tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 9 kg. Skuter listrik tiup atau inflatable electric scooter Poimo diketahui bisa melaju hingga 6 km per jam, menempuh jarak sejauh puluhan km per satu jam pengisian daya.

Kreasi sekelompok mahasiswa di Universitas Tokyo dalam membuat Poimo berawal dari keinginan untuk menciptakan kendaraan baru. Idenya adalah menggunakan bahan lembut, ringan dan memudahkan pemiliknya. Walau bukan solusi mobilitas mikro pertama yang ada, Poimo bisa dibilang paling menarik karena secara efektif menyelesaikan masalah portabilitas. Buktinya skuter ini dapat dilipat dan dimasukkan ke dalam ransel besar.

Baca juga: Walkcar, Skateboard Listrik yang Bisa Dijinjing dan Masuk ke Tas

“Poimo merupakan jenis mobilitas personal baru yang terbuat dari bahan lunak, ringan, dan dapat ditiup. Bodi lembut dan dimensi kecil memungkinkan interaksi pengguna lebih aman dengan pejalan kaki. Kami juga sudah melakukan tes mekanis untuk memverifikasi bahwa itu dapat menahan berat manusia,” kata Ryuma Niiyama, bagian dari tim pengembangan di Universitas Tokyo.

Skuter listrik Poimo diciptakan dengan teknik robotik lunak untuk menciptakan kendaraan listrik yang aman. Setidaknya dirancang untuk meminimalkan kecelakaan, terutama di ruang pejalan kaki yang padat seperti yang ada di Tokyo, Jepang. Ia juga termasuk kendaraan antirepot, karena jika terjadi tabrakan atau tusukan, tubuh yang menggembung dapat diganti atau diperbaiki tanpa masalah besar.