Alami Kegagalan di Beberapa Tender, MRT Jakarta Fase 2 Bisa Tertunda Pengerjaannya

Gegara pandemi Covid-19 membuat pengerjaan MRT Jakarta fase 2 yang terbagi atas dua segmen terancam mengalami penundaan karena adanya berbagai kendala yang terjadi dalam proses tender. Lebih spesifik, hal ini terjadi karena sulitnya mencari kontraktor yang berminat mengerjakan.

Baca juga: Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan

Di segmen kedua, yakni dari Harmoni menuju ke Kota pada CP202, dikatakan Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar bahwa mereka mengadakan dua kali tender dan keduanya gagal. William menyebut tender pertama pada 6 Agusutus sampai 4 November 2019 gagal karena keterbatasan sumber daya, jadwal tender yang bersamaan dengan CP201 serta jadwal konstruksi yang ketat.

Sedangkan tender kedua yang mulai 7 Februari sampai 6 Juli 2020 juga gagal karena hal yang sama dan yang membedakan karena kondisi pandemi Covid-19.

“Karena dua kali tender dengan mekanisme international bidding gagal, kita bersurat ke JICA (Japan International Cooperation Agency), kita minta arahan. Dari JICA diarahkan tiga mekanisme, pertama limited competitive bidding, jadi dibatasi pesertanya. Kedua, international shopping, dan ketiga direct contracting,” kata William pada forum jurnalis virtual, Senin (19/10/2020).

Dia menyebutkan, pihak MRT Jakarta melakukan tender dengan mekanisme direct contracting atau penunjukan langsung yang targetnya selesai pada 26 Oktober 2020. Dengan ini William mengatakan, berharap dapat memperoleh kontraktor untuk CP202.

Selain CP202 ada juga kendala pada CP205 terkait sistem perkeretaapian dan rel. Di mana MRT Jakarta melakukan proses tender dari Februari hingga Juni 2020. Dalam masa tender ini William menyebutkan ada enam yang sudah berpartisipasi dan karena di masa Covid-19, MRT Jakarta melakukan perpanjangan tender dari Juni Hingga Oktober 2020.

“Kontraktor meminta untuk memperpanjang masa tender. Jadi panitia sudah melakukan empat kali perpanjangan. Jadi seharusnya bidding masuk 16 juni 2020. Tapi karena Covid-19, dilakukan dua kali perpanjangan, pertama sampai 16 Juli 2020, kedua sampai 31 Agustus 2020. Kemudian kontraktor meminta perpanjangan ketiga sampai 17 September 2020, dan meminta lagi perpanjangan keempat sampai 26 Oktober 2020,” jelasnya.

Kendala terakhir adalah pada CP206 yang mana market merespon ketidaktertarikan terhadap pengadaan enam trainset pada market sounding pertama di 26 Februari kemarin. William menjelaskan kemudian pada market sounding kedua yang berlangsung dari Juli hingga 13 Agustus MRT Jakarta akhirnya mengusulkan 14 trainset yang merupakan jumlah gabungan fase 2A dan 2B.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, MRT Jakarta Lakukan Stategi Kontinuitas Bisnis

Direktur konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan, terkait dengan rolling stock, banyak yang tidak merespon karena mengerjakan pesanan dari beberapa negara lainnya seperti Filipina dan negara lainnya. Karena hal ini maka segmen satu dari Bundaran HI ke Harmoni direncanakan selesai pada Maret 2025. Sedangkan segmen dua dari Harmoni ke Kota akan bergeser ke tahun 2027 atau lebih.

Di Ambang Kebangkrutan, Air Asia X Pamit dari Indonesia

Air Asia X memutuskan untuk angkat kaki dari Indonesia (melikuidasi unit bisnis). Hal itu dilakukan dalam rangka efisiensi untuk menyelamatkan bisnis perusahaan yang lebih luas. Saat ini, diperkirakan maskapai penerbangan jarak jauh berbiaya rendah ini membutuhkan US$100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun (kurs Rp 14.700) untuk menghindari kebangkrutan.

Baca juga: Hampir Bangkrut, AirAsia X Umumkan Empat Rencana Restrukturisasi! PHK Mengintai

“Kami kehabisan uang,” kata wakil ketua AirAsia X Lim Kian Onn kepada media lokal akhir pekan lalu, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

“Jelas, bank tidak akan membiayai perusahaan tanpa pemegang saham, baik lama maupun baru, memasukkan ekuitas baru. Jadi, prasyaratnya adalah ekuitas baru,” lanjutnya.

Menurut Lim, pihak kreditur telah meminta persyaratan yang menguntungkan mereka tanpa memikirkan maskapai, termasuk ekuitas baru untuk utang yang dihapuskan. “Sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi oleh maskapai penerbangan,” tambahnya. Lim menyebut, semua pihak menginginkan kesepakatan yang terbaik melalui jalan tengah.

Dalam proses likuidasi perusahaan di Indonesia, AirAsia X membutuhkan dana untuk melunasi utang sebesar US$15,3 juta atau sekitar Rp 225,8 miliar (kurs Rp 14.700). Proposal pengajuan dana ini membutuhkan persetujuan investor dan kreditur.

Meski begitu, Lim mengatakan semua pihak ingin tetap mempertahankan dan memajukan maskapai. “Tidak ada yang bisa mendapatkan keuntungan dari kematian kami,” katanya. AirAsia berencana untuk melanjutkan penerbangan pada kuartal pertama, meskipun bisa berubah sewaktu-waktu.

“Jika rencana penyelamatan mendapat persetujuan, perusahaan harus menegosiasikan kembali setiap kontrak dan akan melakukan yang terbaik untuk menjaga kepentingan semua pemangku kepentingan,” jelas diakatanya.

AirAsia X diketahui beroperasi di Indonesia sejak 2006 lalu. Karena hukum di Indonesia tidak memperbolehkan perusahaan asing mempunyai saham mayoritas di sini, AirAsia X Bhd (Berhad) hanya memiliki saham sebesar 49 persen di Indonesia Air Asia X. Sisanya dimiliki oleh perusahaan dalam negeri, Fersindo Nusaperkasa. Maskapai ini melayani penerbangan jarak jauh bagi Indonesia AirAsia yang berbasis di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

Baca juga: Rilis Logo Baru, AirAsia Resmi Jadi Super App dan Tawarkan Diskon Tiket 50 Persen

Selain stop operasi di Indonesia, AirAsia Group Bhd diketahui juga telah menghapusbukukan 49 persen sahamnya di Thai AirAsia X. Tak hanya itu, Air Asia Berhad juga stop operasi di Jepang dengan memutus hubungan bersama maskapai afiliasinya.

Secara makro, Air Asia Group sebetulnya dalam kondisi sangat mengkhawatirkan. Saat ini, perusahaan pimpinan Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun selaku CEO itu dihadapkan dengan hutang jangka pendek senilai US$500 juta. Di dekade mendatang lebih mengerikan lagi, mereka mempunyai sekitar US$14 miliar atau sekitar Rp206 triliun (kurs Rp 14.700) hutang jatuh tempo.

Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan

Tiket pesawat antara Singapura dan Hong Kong melonjak cukup siginifikan mulai Jumat, 16 Oktober lalu atau sehari setelah rencana travel bubble antara kedua negara tersebut ramai diperbincangkan. Sebelum travel bubble diumumkan, harga tiket pesawat kelas ekonomi PP berkisar $400.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Usai rencana travel bubble diumumkan, tiket penerbangan hingga akhir Desember naik menjadi sekitar $558. Harga tersebut bukan tak mungkin akan terus-menerus naik sampai travel bubble benar-benar berlaku dan mendorong orang-orang secara massif untuk bepergian.

Dengan diterapkannya travel bubble ini, nantinya wisatawan antar kedua negara itu tak perlu lagi karantina mandiri selama 14 hari selama tes Covid-19 mereka negatif.

Oleh karenanya, butuh kerjasama apik antar otoritas kedua negara mengingat sedikit saja kesalahan bisa berakibat pada meningkatnya angka kasus positif virus Corona di kedua negara. Saat ini wacana travel bubble Singapura-Hong Kong masih dalam pembahasan dan belum diungkap dengan jelas apa dan bagaimana travel bubble antar kedua negara itu.

“Ini benar-benar pertanda baik. Tetapi kami membutuhkan lebih banyak kejelasan tentang bagaimana (perjalanan) akan dilakukan dengan cara yang aman sebelum kami dapat memahami potensi dampak bisnis pada agen perjalanan,” kata Presiden National Association of Travel Agents Singapore ( Natas), Steven Ler.

“Jadi kami harus menunggu dan melihat. Banyak orang yang terburu-buru untuk mengambil slot penerbangan terlebih dahulu tapi kami juga melihat banyak yang bertanya kepada kami (agen perjalanan) tentang bagaimana mengatur perjalanan mereka,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari The Straits Times.

Ms Alicia Seah, direktur humas Dynasty Travel, mencatat bahwa kolaborasi dengan maskapai penerbangan, kementerian pariwisata, dan ekosistem pendukung seperti tempat-tempat hiburan juga berperan sangat penting ketika wisatawan diizinkan bepergian kembali.

“Kami masih menunggu kejelasan tanggal launchingnya, (tetapi) kami sekarang sedang mengerjakan (paket) kompetitif tiket pesawat, akomodasi, dan berbagai tema-tema hiburan,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Transportasi Singapura, Ong Ye Kung mengatakan pada Kamis lalu bahwa travel bubble kemungkinan bakal mulai dihelat pada pekan depan. Hanya saja, saat itu, ia masih mengisyaratkan bahwa wisawatan masih harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Sejak pandemi corona membatasi setiap perjalanan, termasuk menutup perbatasan antar negara, banyak orang kesulitan untuk menemui orang terkasih; tak terkecuali Anderson Neo. Ia yang tinggal di Singapura, sudah sejak Januari silam tak bertemu secara langsung dengan sang kekasih yang berada di Hong Kong. Hanya saja, bila travel bubble resmi kick off, guru berusia 27 tahun ini tetap akan melilhat tingkat keamananya mengingat travel bubble pasti bakal mengundang banyak orang bepergian.

“Ini cukup sulit sejak kami baru saja jumpa tahun lalu, dan ini adalah waktu terpanjang kami berpisah. Jadi melegakan (mendengar tentang travel bubble) karena kami tidak yakin apakah kami dapat bertemu satu sama lain secara langsung sebelum 2021,” ujarnya.

Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih

“Namun terlepas dari harganya, saya pikir kekhawatiran utama adalah jika travel bubble resmi dimulai. Melihat serbuan orang saat ini memesan tiket, kami sedikit skeptis jika travel bubble tersebut dapat tetap bebas Covid-19, terutama jika ada orang dengan penyakit ringan yang memaksa bepergian dan memesan tiker penerbangan agar bisa bepergian,” tambahnya.

Sebagai informasi, travel bubble adalah pembukaan zona batas lintas negara yang memungkinkan warganya bepergian asal tidak melampaui area, kota, atau destinasi yang sudah ditetapkan. Indonesia awalnya juga sempat ingin menerapkan travel bubble. Namun, hingga kini masih belum terealisasi karena satu dan lain hal.

Air Canada Luncurkan Fitur baru IFE, Bisa Bagikan Film Terbaik ke Sosmed Saat di Udara

Air Canada terus berbenah guna mempersiapkan kembalinya penumpang. Setelah menghadirkan lagi layanan inflight meals on board akhir Juli 2020 lalu, terbaru, maskapai penerbangan nasional Kanada ini meluncurkan inovasi baru pada inflight entertainment (IFE).

Baca juga: Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun

Maskapai yang pernah merengkuh gelar Eco-Airline of the Year tahun 2018 ini bukan hanya menawarkan pratinjau (preview) film, acara TV, audio, konten anak-anak, dan games kepada penumpang, melainkan juga memungkinkan penumpang berbagi film seru dan mrekomendasikannya di media sosial, berkat dukungan dari agensi IFE, Spafax’s Profile.

“Saat pelanggan kembali bersemangat memulai perjalanan, kami bangga menawarkan cara baru dan menarik untuk merencanakan perjalanan mereka. Dengan IFE baru kami yang didukung oleh Spafax, penumpang kami juga dapat merencanakan apa yang akan ditonton di dalam pesawat dan kami dapat menciptakan kebahagiaan dengan pelanggan kami,” kata Hali Hamilton, Manajer, Hiburan & Kemitraan, Air Canada, seperti dikutip dari futuretravelexperience.com.

Selain itu, Air Canada juga mengintegrasikan platform IFE dengan smartpfone masing-masing penumpang. Dengan begitu, sentuhan di IFE dapat diminimalis. Tak hanya memudahkan penumpang dalam menikmati layanan IFE, langkah tersebut juga mampu mencegah penularan virus Corona di pesawat lewat sentuhan. Langkah ini pertama kali dijajaki oleh Singapore Airlines melalui Companion App Pertama di Dunia.

“Meskipun strategi produk dalam penerbangan kami telah berubah sejak awal pandemi Covid-19, kami tetap berkomitmen untuk memberikan pengalaman penumpang terkini kepada pelanggan kami. Peluncuran IFE baru kami, yang didukung oleh Spafax Profile merupakan bukti komitmen tersebut dan juga menunjukkan stabilitas Spafax sebagai mitra dan penyedia layanan konten kami,” kata pejabat Air Canada lainnya, Norman Haughton, Director, IFEC Product and Analytics.

Senada dengan Haughton, Chief Executive Officer Spafax Niall McBain juga mengungkapkan, “Meskipun sektor transportasi udara tidak pernah mengalami krisis seperti yang kami alami akibat Covid-19, kami bertekad untuk membantu klien kami kembali ke pasar dengan lebih kuat dengan fokus pada inovasi.”

“Air Canada telah memimpin sebagai maskapai penerbangan pertama yang menyediakan hiburan untuk streaming di rumah dan kami sangat senang untuk menambah layanan seputar penawaran IFE hasil kolaborasi dengan Spafax Profile,” tambahnya.

Baca juga: Ada Batu di Dalam Salad Dibilang ‘Kacang Kering,’ Air Canada Kena Semprot Penumpang!

Sejak Mei lalu, Air Canada memang sudah mengungkapkan akan fokus pada traveller untuk penerbangan penumpang. Kala itu, CEO maskapai, Calin Rovinescu, mengaku lebih berharap banyak pada perjalanan liburan dari para pelancong dunia, bukan mengandalkan pada perjalanan bisnis.

Ia berpendapat, bahwa ke depan mungkin perjalanan bisnis akan tak begitu bergairah mengingat pelaku bisnis saat ini hingga beberapa waktu ke depan lebih nyaman dengan the new era atau the new normal, meeting melalui Zoom, Skype for Business (Microsoft), atau platform meeting online lainnya.

Kapal Ferry Jadi Rumah Tinggal Mewah? Cek Disini Biar Tak Penasaran

Unik bisa menjadi kata yang terucap ketika melihat sebuah kapal ferry diubah menjadi rumah tinggal. Kapal ferry ini didesain ulang oleh Bjarke Ingels, Starchitect Denmark terkenal yang terus mengguncang dunia melalui perusahaan Big. Ingels baru-baru ini mengubah kapal ferry yang tak lagi beroperasi menjadi rumah keluarga yang mewah.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

KabarPenumpang.com melansir robbreport.com (7/10/2020)Bjarke mengubah kapal ferry Bukken-Bruse atau “billy goat gruff,” yang tak beroperasi lagi sejak akhir 2016. Kapal ini ditambatkan dekat dengan Refshaleøen di pelabuhan bersejarah Kopenhagen dan Ingels.

SS Ingels (architecturaldigest.com)

“Ini memiliki masa lalu, masa kini, dan masa depan Kopenhagen semuanya dalam satu pandangan. Lihat ke timur dan kamu bisa melihat matahari terbit. Lihat ke barat dan Anda bisa melihat matahari terbenam di atas istana ratu,” kata Ingels.

Sehingga mulailah proses renovasi besar-besaran untuk mengubah kapal berbobot 450 ton menjadi SS Ingels baru yang mencolok. Di mana sebuah kapal yang nantinya akan menampung Ingels, sang istri Rut Otero dan putra mereka yang berusia hampir dua tahun yakni Darwin.

Kapal ferry ini tetap lebih banyak mempertahankan keasliannya seperti jendela kapal dan roda kemudi sembari memperkenalkan kurva yang disederhanakan serta rasa simetris.

“Ini adalah perahu, jadi ingin simetris. Bagian dari proyek ini adalah memulihkan kesimetrian di sepanjang kedua sumbu,” kata Ingels.

Interior rumah mewah ini seperti yang diharapkan yakni perabotan dirancang Ingel dan nama terkenal lainnya. Selain itu juga dilengkapi dengan suvenir yang dikumpulkan dari petualangan pasangan ini dari berbagai negara.

Kapal ferry dibuat menjadi dua tingkat yang mana tingkat atas menjadi tuang ramu cukup besar dengan memperlihatkan pemandangan yang tiada duanya, perapian yang ditangguhkan dan sofa. Di bagian sisi lain, ada dapur terbuka yang dilengkapi oleh arsitek Italia Luca Cipelletti dan diterangi oleh lampu gantung buatan Ingels sendiri.

SS Ingels dimahkotai oleh teras atap yang indah dengan pemandangan 360 derajat. Sementara itu, di lantai bawah terdapat ruang bermain futuristik yang diselingi oleh beanbag berwarna dan karpet cerah. Di sini, kedua arsitek bisa menghabiskan waktu berkualitas bersama rekan sekamar setinggi paha mereka.

interior SS Ingels (architecturaldigest.com)

Di tempat lain, Ingels mendesain dua kabin untuk para pelaut dan kamar mandi epik yang terinspirasi oleh kunjungan baru-baru ini ke Ryokan di Jepang. Tempat kudus ini memiliki bak berendam dari kayu cemara hinoki yang menenangkan, bersama dengan wastafel dan pancuran.

Baca juga: Wisata “Kapal Hantu,” Lepas Pantai Christchurch di Inggris Jadi Kuburan Kapal Pesiar

Ingels telah lama menjadi pendukung struktur terapung. Pada tahun 2016, ia meluncurkan Urban Rigger, sekelompok kontainer pengiriman di atas air yang dibuat untuk mengatasi kekurangan perumahan siswa di Kopenhagen. Kemudian, pada 2019, BIG meluncurkan konsep Oceanix City yang akan melihat 10.000 orang tinggal di pulau-pulau heksagonal modular.

“Ini adalah arsitektur yang paling tangguh. Saat permukaan laut naik, begitu juga dengan rumah perahu,” tambahnya.

Peneliti: Penumpang Wanita Tertular Virus Corona di Toilet Pesawat

Para peneliti menemukan bukti bahwa virus corona menyebar di dalam pesawat. Hal ini terlihat dari hasil studi kasus seorang wanita yang diduga tertular virus corona dalam penerbangan dari Milan ke Korea Selatan. Wanita berusia 28 tahun tersebut termasuk di antara sekitar 300 warga Korea Selatan yang dievakuasi dari Italia pada puncak pandemi virus corona di Milan pada Maret lalu.

Baca juga: Berciuman Memakai Masker, Kelakuan Penumpang Pesawat di Masa Pandemi Semakin Aneh

“Dalam penerbangan dari Milan, Italia, ke Korea Selatan, dia memakai masker N95, kecuali saat menggunakan toilet. Toilet digunakan bersama oleh penumpang yang duduk di dekatnya, termasuk pasien tanpa gejala. Dia duduk tiga baris dari pasien tanpa gejala,” tulis para peneliti dalam jurnal Center for Disease and Prevention Center.

Dilansir KabarPenumpang.com dari cnn.com (26/8/2020), adanya hal ini membuat para peneliti menduga penularan virus tersebut terjadi di dalam toilet pesawat. Apalagi toilet digunakan bersama dengan penumpang lainnya termasuk pasien tanpa gejala.

Dalam penerbangan itu, diketahui bahwa wanita tersebut duduk berdekatan dengan orang tanpa gejala atau OTG. Kemudian setibanya mereka di Korea Selatan, semua penumpang serta para awak pesawat yang bertugas dikarantina.

Dalam tes awal, enam orang dinyatakan positif setelah tiba di Korea Selatan. Sedangkan wanita tersebut baru mengalami gejala yakni delapan hari setelah kepulangannya itu.

“Mengingat bahwa dia tidak pergi keluar dan telah dikarantina sendiri selama tiga pekan di rumahnya di Italia sebelum penerbangan, serta dia juga tidak menggunakan transportasi umum untuk sampai ke bandara, kemungkinan besar penularan terjadi dalam pesawat melalui kontak tidak langsung dengan pasien tanpa gejala,” tulis para peneliti dari Soonchunhyang University, Seoul, Korea

Sayangnya belum banyak bukti yang menunjukkan adanya penularan virus corona di dalam pesawat. Sebab beberapa studi menyebut sistem ventilasi di dalam pesawat bisa membersihkan udara secara menyeluruh.

Baca juga: Awak Kabin American Airlines Meninggal di Pesawat, Gegara Corona?

“Studi ini adalah salah satu penelitian awal yang mencari kemungkinan penularan pasien tanpa gejala di dalam pesawat. Studi sebelumnya menemukan pesawat terbang memiliki risiko penularan penyakit pernapasan seperti influenza,” ungkap peneliti.

India Punya Mobil Uji Covid-19, Indonesia Juga Punya di Mamuju

Mumbai menjadi salah satu kota terparah di India yang tekena pandemi virus corona atau Covid-19. Karena hal ini, Mumbai mendapatkan Bus Uji Covid-19 yang unik dan akan berkeliling kota mengumpulkan sampel uji untuk pengujian cepat.

Baca juga: WHO Setujui Rencana Peluncuran 120 Juta Tes Diagnostik Cepat Covid-19

Bus ini diluncurkan pada Hari Maharashtra di Mumbai pada 1 Mei oleh Dewan Alumni Institut Teknologi India (IIT). Dilansir KabarPenumpang.com dari businessinsider.in (8/5/2020), kehadiran bus ini untuk mengurangi biaya hingga 80 persen seperti yang diklaim oleh pihak berwenang.

“Dewan Alumni IIT telah mengambil pendekatan proaktif untuk mendukung upaya pemerintah dalam memerangi tantangan Covid-19. Kami telah bertindak cepat dan membentuk Satuan Tugas IIT C19 untuk menyalurkan energi Alumni IIT global untuk perjuangan ini,” kata Ravi Sharma, Presiden, Dewan Alumni IIT.

“Bus Uji Covid-19 didasarkan pada teknologi asli dan sejauh pengetahuan terbaik kami, adalah kendaraan pertama dari jenisnya di dunia dengan pengujian genetik onboard, teleradiologi berbasis AI dan pengumpulan sampel tanpa kontak. Kami memilih Mumbai sebagai lokasi peluncuran mengingat jumlah kasus yang relatif tinggi di kota tersebut,” tambahnya.

Bus Tes IIT C19 didasarkan pada Tumpukan Teknologi Kodoy asli dan dijalankan oleh organisasi mitra yang dipimpin oleh alumni IIT. Arsitektur Kodoy melibatkan e-kendaraan untuk pemilihan sampel dan telemedicine, pengujian genetika berbasis algoritma dan megalab asli yang mampu melakukan hingga lima juta pengujian per bulan per lab.

Mobil tes PCR di Mamuju (kabarpenumpang.com)

Sedangkan bus uji memiliki kapasitas untuk mengumpulkan 10-15 sampel uji per jam. Peralatan medis di pesawat terdiri dari Xray digital dosis rendah, teleradiologi waktu nyata, pengumpulan swab tanpa kontak, dan pengujian RNA instan. Bus tersebut telah dikonfigurasi untuk menahan hujan lebat dan memiliki ruang laboratorium seluas 384 kaki persegi.

Baca juga: Alat Tes Corona Supercepat Buatan Israel Jadi Senjata Baru Bandara Eropa Cegah Covid-19

Bus juga dilengkapi probe paru-paru ultrasound yang dioperasikan dengan tele robotik dan sekuenser gen nanopore. Tak hanya India, Indonesia juga kini menghadirkan bus untuk pemeriksaan Covid-19 dan sudah di launching di Mamuju, Sulawesi Barat.

Uji lab dengan mobil ini, alat yang digunakan adalah My Go PCR, dan bisa menguji sebanyak 32 sample dalam tiga hingga lima jam. Dalam mobil Elf ini hanya akan ada empat orang penguji lab yang berada di dalamnya.

Pilot Panik Ada Objek Asing Melintas di Ketinggian 6.000 Kaki, Ternyata Orang Pakai Jetpack

Pilot pesawat China Airlines terkejut usai melihat objek asing melintas di ketinggian 6 ribu kaki. Padahal, pesawat sebelumnya sudah mendapat clearance dari ATC. Sontak, insiden yang terjadi sekitar 11 km dari Los Angeles itu sempat membuat geger kokpit dan petugas.

Baca juga: Semburan “Water Salute,” Penanda Tibanya Penerbangan Perdana

Dilansir The Australian, objek yang dinilai terlalu kecil dan cepat di ketinggian 6 ribu kaki itu langsung dilaporkan pilot ke ATC. Petugas ATC awalnya sempat tak percaya dengan laporan itu. Karenanya, ia meminta pilot untuk mengulang laporannya. Sebab, bisa saja objek kecil tersebut ialah unidentified flying object disingkat (UFO), piring terbang yang sampai saat ini keberadaannya masih menjadi misteri, sekalipun kerap muncul di seluruh dunia, baik siang maupun malam.

Perkiraan terburuk, objek kecil dan cepat tersebut bukan tak mungkin merupakan sebuah pesawat latih yang melenceng jauh dari jalurnya, sehingga mengacaukan airways yang telah diatur ATC. Pasalnya, kejadian seperti ini (objek asing yang ternyata pesawat latih) pernah terjadi di dunia, tepatnya tak jauh dari Bandara San Diego, AS. Kala itu, pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 bertabrakan dengan objek asing yang setelah itu dikonfirmasi merupakan pesawat Cessna 172 Skyhawk.

Usai diperjelas oleh pilot terkait objek asing yang melintas di ketinggian 6 ribu kaki, ATC merespon dengan balik bertanya terkait dua kemungkinan, apakah yang pilot lihat itu merupakan UFO atau sebuah jetpack? Dan pilot menduga bahwa itu jetpack. Asumsinya, objek tersebut terlalu kecil dan cepat.

Pemerintah federal sendiri tak mau berasumsi mengingat tak ada petunjuk otentik yang mengarahkan dugaan kepada jetpack. Otoritas lebih memilih untuk menyelidiki laporan yang masuk pada Kamis kemarin itu, sekalipun sekilas, kronologinya mirip dengan kejadian enam pekan lalu.

Sekitar pukul 6.45 malam, tepatnya pada 29 Agustus 2020, pilot pesawat American Airlines melaporkan objek asing yang nampaknya seperti seorang pria terbang dengan jetpack di ketinggian sekitar 3.000 kaki. ATC Bandara Internasional Los Angeles lalu memperingatkan penerbangan Jet Blue terdekat agar “Berhati-hati, seseorang dengan jetpack-nya dilaporkan 300 yard ke selatan.”

Selain mengundang perhatian pemerintah federal, FAA juga dibuat pusing dengan laporan tersebut. Sejauh ini, belum ada kesimpulan apapun dari regulator penerbangan sipil AS ini, kendati kuat diduga objek itu merupakan jetpack.

Jetpack umumnya tidak terbang cukup tinggi atau lebih dari beberapa menit. Namun, teknologi terus berkembang. Jetpack, pada Februari lalu, dilaporkan sudah bisa mencapai ketinggian 6 ribu kaki dan terbang lebih dari tiga menit.

Baca juga: UFO Kembali Muncul di Siang Bolong, Kali Ini Gemparkan AS

Pilot jetpack dari Jetman Dubai ini bahkan bisa terbang di kecepatan 241 km per jam dengan modal empat mesin mini. Pilot dengan jetpack itu berhasil mendarat dengan selamat menggunakan parasut saat jetpacknya kehabisan tenaga karena sudah mencapai limit.

Tak cukup 6 ribu kaki, di Los Angeles, Jetpack Aviation bahkan telah memproduksi jetpack yang dapat mencapai ketinggian 15.000 kaki dan terbang selama sekitar sepuluh menit. Hanya saja, jetpack ini tak dijual secara bebas melainkan dijual dengan syarat, yakni mengikuti pelatihan selama tiga pekan dan menerbangkannya di tempat yang aman, bukan di jalur sibuk.

NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak

NASA dikabarkan sukses membuat toilet khusus astronot wanita. Hal itu merupakan jawaban atas berbagai keluhan mereka. Selama ini, dilihat dari bentuknya, toilet yang ada diketahui lebih ramah bagi astronot laki-laki.

Baca juga: NASA Luncurkan Aplikasi untuk Teliti Kelelahan dalam Penerbangan, FAA: Cocok untuk Pilot

Meskipun sebetulnya desain lama tidak terlalu sulit digunakan, perubahan desain yang halus dapat membuat perbedaan besar bagi para astronaut wanita. Setidaknya, itulah menurut astronot wanita NASA, Shannon Walker, yang pernah tinggal di stasiun luar angkasa.

Dikutip dari theatlantic.com, toilet senilai US$23 juta setara Rp342 triliun itu memiliki bobot hampir 100 pon dan tinggi 28 inci, kira-kira setengah dari dua toilet buatan Rusia di ISS. Dengan budget semahal itu, bukan tak mungkin toilet tersebut menjadi toilet termahal sejagat, sekalipun butuh riset lebih lanjut terkait hal ini.

Sekalipun dimensi toilet khusus astronot wanita lansiran NASA ini tergolong kecil dibanding toilet di bumi, rupanya toilet tersebut tak lebih besar dan berat dibanding toilet NASA terdahulu atau versi lama. Selain itu, toilet baru yang terbuat dari titanium ini juga dinilai lebih mudah dirawat dan kokoh. Dua hal tersebut merupakan harga mati dari toilet luar angkasa.

Astronot Kate Rubins (tengah) dan para personel pendukung misi luar angkasa NASA tengah mereview Universal Waste Management System, sebuah toilet khusus untuk kondisi gravitasi rendah. Foto: AP via New York Post

Sebab, bila sedikit saja terdapat kebocoran, tentu astronot tak bisa memanggil tukang ledeng untuk memperbaikinya, kecuali melihat kotoran mereka melayang-layang di dalam stasiun luar angkasa internasional (ISS).

Pipa untuk menyalurkan kotoran para astronot juga terbuat dari logam kokoh tahan asam yang pada prosesnya diproduksi dengan cara cetak 3-D agar lebih presisi. Tahan asam ini cukup penting dalam proses reuse limbah urine.

Selain memikirkan toilet untuk buang hajat para astronaut, NASA sudah sejak lama juga mempertimbangkan soal Urine. Urine yang dikumpulkan di toilet baru akan dialihkan ke sistem daur ulang NASA yang sudah lama ada untuk menghasilkan air dan untuk meminum atau pun memasak sehari setelah urine dibuang.

Sedangkan untuk kotoran lain, itu lebih dahulu dikompres di-removable container atau sejenis tempat khusus untuk kemudian dikirim ke pesawat luar angkasa dan dibawa ke bumi atau diangkut ke pesawat luar angkasa khusus sampah dan dibiarkan jatuh serta terbakar di atmosfer bumi bak bintang jatuh.

Baca juga: Mengulang 45 Tahun Lalu, Dua Astronaut NASA Mendarat di Laut dengan Kapsul SpaceX

Toilet khusus astonot wanita NASA seharusnya sudah dikemas di dalam kapal kargo yang semestinya diluncurkan Kamis malam dari Pulau Wallops, Virginia. Namun, beberapa sumber menyebut toilet NASA itu sudah dikirim bersamaan dengan pesawat ulang alik pertama dalam sejarah yang berhasil mencapai ISS dalam waktu tiga jam, Rabu pagi, dari fasilitas peluncuran antariksa Baikonur di Kazakhstan. Sebelum itu, pesawat ulang alik membutuhkan waktu setidaknya enam jam untuk sampai ke ISS.

Sebelum benar-benar digunakan secara massif, para astronot di ISS bakal mengujinya selama beberapa bulan. Jika berjalan lancar, toilet disiapkan untuk keperluan bisnis, mengingat SpaceX bakal meluncurkan astronot ke luar angkasa. Juga Boeing, kurang dari setahun sejak mengirimkan awak pertamanya. Sehingga akan lebih banyak toilet dibutuhkan.

Demi Bertahan Hidup, Qantas Jualan Sweater Cashmere dan Tas Pantai

Beragam cara maskapai bertahan di tengah krisis akibat pandemi virus Corona. Bila sebelumnya Thai Airways dilaporkan banting setir jualan gorengan, kali ini giliran Qantas Airways terang-terangan menjual sweater cashmere, hoody, dan tas pantai dengan harga bervariasi. Tentu saja, maskapai yang akan menginjak usia ke-100 tahun pada 16 November mendatang ini terpaksa menjual entitas tersebut semata untuk bertahan hidup.

Baca juga: Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Dilansir marketwatch.com, rangkaian produk-produk mewah Qantas tersebut sejatinya cukup matching dengan perpaduan logo vintage maskapai, menandai seratus tahun kanguru terbang Australia.

Dikatakan produk mewah, sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa sweater cashmere -yang terbuat dari wol cashmere berkualitas- lama dikenal sebagai bahan mewah yang mendapat julukan permata serat karena sangat berharga, nyaman, lembut, dan ringan dipakai.

Wol cashmere sendiri merupakan serat yang diperoleh dari kambing kasmir, kambing pashmina, dan beberapa jenis kambing lainnya di dataran tinggi Ladakh (yang tengah disengketakan oleh Cina), Jammu, dan Kashmir, India. Wool tersebut telah digunakan untuk membuat benang, tekstil, dan pakaian selama ratusan tahun. Sekali lagi, ini sangat senada dengan sejarah Qantas yang sudah mau menginjak usia ke-100.

Selain itu, desain sweater cashmere, hoody, dan tas pantai Qantas menjadi mewah juga karena didesain oleh perancang busana kenamaan Australia, Martin Grant. Tak heran bila harga yang ditawarkan cukup berbanding lurus dengan kualitas serta momentum dari produk itu sendiri, dimana sweater cashmere dibanderol senilai $305, hoody $197, dan tas pantai $251.

Namun, sudah pasti harga-harga tersebut bukanlah yang tertinggi. Sweater cashmere, misalnya, masih jauh lebih tinggi produk serupa buatan Loro Piana, Italia, yang membanderol paling murah $2.000.

“Koleksi ini adalah tentang bentuk klasik, gaya nyaman, dan bahan yang ramah lingkungan. Tapi nilai dari desainnya adalah logo ikonik (kanguru) yang membangkitkan begitu banyak kenangan indah bagi warga Australia,” kata Grant. Peluncuran bisnis baru Qantas itu sendiri tak berjarak lama dengan peluncuran waiting list makan siang mewah di pesawat Airbus A380 pada 12 Oktober lalu oleh Singapore Airlines.

Kendati harga yang dipatok cukup tinggi mencapai $600 atau sekitar Rp9 juta (kurs 14.800), rupanya cukup diminati. Faktanya, tempat untuk dua hari pertama yang ditawarkan habis dipesan dalam waktu setengah jam. Makan siang itu sendiri rencananya bakal dihelat pada 24-25 Oktober mendatang di A380 yang terparkir di Bandara Changi.

Baca juga: Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

Di masa pandemi Covid-19 ini, Qantas setidaknya telah mem-PHK sebanyak 26 ribu karyawan dan mengalami kerugian hingga triliunan rupiah. Kepala Eksekutif maskapai nasional Australia itu, Alan Joyce, mengatakan enam bulan pertama tahun 2020 adalah kondisi terberat dalam sejarah 100 tahun Qantas.

Namun, maskapai tak menyerah begitu saja. Selain menjual sweater cashmere, hoody, dan tas pantai, Qantas juga mengadakan flight to nowhere yang disambut antusias publik Negeri Kanguru. Bila makan siang mewah Singapore Airlines tanpa terbang di Airbus A380 ludes terjual dalam 30 menit, slot terbang tanpa tujuan Qantas untuk penerbangan 12 Oktober lalu ludes terjual hanya dalam 10 menit.