100 Halte Penjemputan dan Pengantaran Taksi Nirawak Bakal Dibuka di Beijing

Sejak 10 Oktober kemarin, taksi tak berawak (nirawak) mulai beroperasi secara penuh di Beijing, Cina. Layanan taksi ini dibuka oleh China Baidu Inc yang resmi meluncurkan Apollo Go Robotaxi. Baidu sendiri menghadirkan 40 armada yang akan melayani cakupan area total terluas dan jaringan jalan terpanjang sekitar 700 km untuk area uji mengemudi otonom di Negeri Tirai Bambu.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

Bahkan saat ini sebanyak 13 halte penjemputan dan pengantaran sudah dibuka untuk umum dan sudah mendirikan hampir 100 halte yang belum dibuka di Beijing. Dilansir KabarPenumpang.com dari syncedreview.com (19/10/2020), pada saat ini layanan taksi pengemudi Baidu memberikan tumpangan gratis kepada penumpang dengan memanggil melalui Baidu Maps atau aplikasi Apollo Go tanpa perlu reservasi terlebih dahulu.

Untuk penumpangnya pun harus berusia 18 hingga 60 tahun dan anak-anak serta lansia tidak dapat ikut mencoba layanan ini. Saat ini Beijing menjadi kota ketiga yang mengoperasikan taksi tak berawak tersebut. Sebab pada April kemarin di Changsha, Hunan, dan Cangzhou di Heibei pada Agustus lalu layanan ini sudah beroperasi.

Ketua dan CEO Baidu Robin Li, teknologi self-driving diharapkan menjadi saksi penerapan komersial skala besar dalam lima tahun ke depan. Li membuat pernyataan di Baidu World 2020, konferensi teknologi andalan tahunan perusahaan yang diadakan di Beijing bulan lalu.

Menurut dia, infrastruktur cerdas berbasis sistem koordinasi kendaraan-jalan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi lalu lintas sebesar 15 hingga 30 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi absolut sebesar 2,4 persen hingga 4,8 persen.

“China memimpin dalam sektor mengemudi otonom di seluruh dunia,” kata Li Zhenyu, wakil presiden perusahaan Baidu dan manajer umum grup penggerak cerdas perusahaan.

Dia mengatakan bahwa Baidu Apollo akan terus mendorong penerapan komersial otonom mengemudi. Sebab, mengemudi secara otonom jelas merupakan arah pengembangan masa depan industri mobil. Ini tidak hanya memecahkan masalah keselamatan lalu lintas, tetapi juga sangat meningkatkan efisiensi transportasi, membawa manfaat ekonomi dan membebaskan orang dari pengemudian berulang, kata Jiang Zheng, seorang  ahli mengemudi di pusat penelitian dan pengembangan GAC China.

Baca juga: Mobil Golf Semi-Otonom Mudahkan Para Lansia di Desa Pegunungan Jepang

Jiang menambahkan, meluncuran layanan taksi tanpa pengemudi di beberapa area yang ditentukan mungkin merupakan skenario aplikasi terbaik untuk teknologi tersebut karena tingginya biaya operasional kendaraan pribadi. Cina berencana untuk mewujudkan produksi skala kendaraan yang mampu mengemudi otonom bersyarat dan komersialisasi kendaraan yang sangat otonom dalam keadaan tertentu pada tahun 2025, menurut cetak biru yang dikeluarkan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, dan sembilan lainnya.

Susul Singapore Airlines, Qatar Airways Luncurkan Menu Vegetarian

Qatar Airways belum lama ini mulai menghidangkan rangkaian menu à la carte vegan pertamanya untuk penumpang kelas bisnis di semua rute. Selain untuk memenuhi tingginya permintaan akan makanan berbahan dasar nabati, hidangan vegan (vegetarian) dalam menu à la carte itu juga ditujukan untuk memperluas khazanah kuliner para penumpang.

Baca juga: Ada Sajian Sate Vegetarian di Restoran A380 Singapore Airlines, Segini Harganya

Dari rilis resmi perusahaan yang diterima redaksi KabarPenumpang.com, hidangan vegan yang ditawarkan Qatar Airways termasuk moutabel asap, lukini spiral dan saus arrabbiata, tortellini tahu dan bayam, tahu barbekyu Asia, mie, daun bawang dan shiitake, tahu goreng dengan tajine sayuran, couscous kembang kol dan kalamata bruschetta, dan omelet tepung kacang arab.

Semua bahan-bahan makanan itu menggunakan campuran lokal dan internasional dengan tetap mempertahankan standar halal khas maskapai peraih predikat maskapai penerbangan terbaik di dunia tahun 2019 versi Skytrax ini. Tak hanya menonjolkan segi cita rasa, rangkaian hidangan vegan Qatar Airways juga didesain agar tetap ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Seluruh pelanggan kelas bisnis maskapai sudah bisa mencicipi menu vegan tersebut di setiap keberangkatan dari Bandara Internasional Hamad, serta sejumlah penerbangan tertentu menuju Doha, Qatar. Namun tak disebutkan dengan rinci penerbangan tertentu yang dimaksud. Entah khusus penerbangan Asia-Doha, atau penerbangan lainnya. Bila penerbangan Asia-Doha yang dimaksud, tentu sebuah kabar baik untuk pelanggan setia Qatar Airways di Indonesia.

Pasalnya, sejak 1 Juli lalu, maskapai pemegang penghargaan ‘Kelas Bisnis Terbaik di Dunia’ dan ‘Kursi Kelas Bisnis Terbaik’ ini sudah mulai melayani rute Doha – Denpasar. Layanan penerbangan Doha – Denpasar dibuka setiap hari. Penerbangan langsung jarak jauh ini menggunakan jenis pesawat Boeing 787-800 Dreamliner dengan konfigurasi 22 kursi flatbed di kelas bisnis dan 232 kursi di kelas ekonomi.

Atas terobosan hidangan vegan pertama maskapai dalam menu à la carte, CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker, mengatakan, “Kami selalu berusaha memberikan pengalaman yang autentik, juga memanjakan pelanggan selagi terbang bersama kami. Kami dengan senang hati menambahkan pilihan hidangan utama vegan ke dalam menu penerbangan kami, menawarkan pilihan gaya hidup lain bagi penumpang dan memberikan ekspektasi berbeda dari sebuah maskapai bintang lima.”

Selain menyediakan menu vegan, maskapai yang belum lama ini memberikan 21 ribu tiket gratis untuk para guru ini juga menawarkan sajian khusus bagi penumpang tertentu. Menu khusus ini dapat dipesan hingga 24 jam sebelum keberangkatan.

Baca juga: Qatar Airways Kembali Layani Penerbangan Setiap Hari ke Denpasar dan Jakarta

Sajian khusus yang dimaksud seperti menu untuk penumpang anak-anak, makanan vegetarian atau makanan yang bahan dasarnya tidak termasuk dalam bahan-bahan yang dilarang oleh agama atau kepercayaan tertentu (religious meal), dan makanan untuk menunjang kebutuhan medis atau kesehatan.

Qatar Airways tentu bukan yang pertama di dunia. Sebelumnya, Singapore Airlines sudah lebih dahulu meluncurkan menu vegetarian atau berbahan dasar nabati untuk para pelanggan setianya.

United Airlines Larang Awak Kabin Berbagi Kasur dalam Penerbangan Jarak Jauh

Ketika penerbangan mulai kembali ke rute internasional, awak kabin akan kembali berbagi waktu istirahat selama penerbangan. Namun meski hal itu terjadi, United Airlines memerintahkan agar para awak kabin untuk berhenti berbagi tempat tidur di pesawat yang dilengkapi dengan tempat tidur awak.

Baca juga: Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat

Ini dilakukan maskapai yang berbasis di Chicago tersebut untuk menghentikan penyebaran virus penyebab Covid-19. KabarPenumpang.com melansir paddleyourownkanoo.com (17/10/2020), sebelum pandemi, awak kabin akan menggunakan ranjang yang sama saat mereka berganti shift, tetapi penasihat medis sekarang melarang awak kabin melakukan itu.

Hal tersebut karena takut awak kabin yang terinfeksi tanpa disadari juga menginfeksi rekan yang lainnya. Untuk itu, United Airlines dan Klinik Cleveland membuat aturan, di mana setiap tempat tidur hanya dapat digunakan sekali per penerbangan.

Kebijakan baru ini mulai berlaku Kamis (15/10/2020), dan memungkinkan akan tetap berlaku di masa depan. Perubahan terjadi saat United mulai meningkatkan penerbangan internasional jarak jauh di mana istirahat awak kabin adalah hal yang umum dilakukan.

United Airlines yang bekerja sama dengan Klinik Cleveland serta merek pembersih rumah tangga Clorox sejak bulai Mei lalu, mengembangkan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan baru untuk memerangi Covid-19. Bahkan pakar medis Klinik Cleveland menasihati manajer maskapai penerbangan terkait kebijakan jarak dan pembersihan sosial.

Pada bulan Agustus, United mulai menggunakan tongkat cahaya Ultraviolet C (UVC) khusus untuk mendisinfeksi kontrol dek penerbangan atas saran dari Klinik Cleveland. Sebelumnya pada bulan Juni lalu, maskapai penerbangan meluncurkan penilaian kesehatan mandiri sebelum penerbangan wajib untuk penumpang berdasarkan rekomendasi dari tim medis yang sama.

United juga mempertegas kebijakan penggunaan masker wajah dalam kabinnya dan secara efektif melarang siapa pun terbang tanpa menggunakan masker. Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat bekerja sama dengan United menemukan kemungkinan tertular Covid-19 di pesawat hampir tidak ada selama semua orang mengenakan masker.

Awak kabin dan staf United lainnya yang berhadapan dengan pelanggan harus mengenakan masker wajah setiap saat di dalam pesawat dan dapat menghadapi tindakan disipliner jika mereka tidak mematuhinya. Awak kabin dengan pengecualian medis telah dialihkan ke tugas alternatif.

Baca juga: Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat

Pilot, bagaimanapun, dapat melepas masker wajah mereka sekali di dek penerbangan jika menurut mereka memakai masker dapat menghambat kinerja mereka atau menimbulkan risiko keselamatan.

Qantas-Vietnam Airlines ‘Cerai’, Saham Jetstar Pacific Jadi Milik Pemerintah Vietnam

Qantas dan Vietnam Airlines dikabarkan telah mencapai kesepakatan terkait penarikan diri maskapai asal Negeri Kanguru dari maskapai joint venture mereka, Jetstar Pacific. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi Covid-19 yang membuat penerbangan penumpang di seluruh dunia anjlok hingga maskapai kesulitan keuangan.

Baca juga: Tak Seperti Negaranya, Vietnam Airlines Rugi Rp6,7 Triliun Gegara Covid-19

Dilansir Simple Flying, sinyal keluarnya Qantas dari perusahaan patungannya dengan maskapai nasional Vietnam itu sudah muncul sejak Juni lalu. Kala itu, Qantas menyatakan bahwa sudah saatnya menarik diri dari Jetstar Pacific.

Selama bulan Juni itu, kedua belah pihak membuka pembicaraan terkait masa depan maskapai. Meskipun sempat menarik perhatian di awal kemunculan, nyatanya Jetstar Pacific memang kalah bersaing dengan maskapai swasta Vietnam, seperti Bamboo Airways dan VietJet. Sebagai BUMN, Jetstar Pacific dinilai lamban untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan penumpang.

Kondisi tersebut pun diperpuruk setelah menginjak tahun 2020. Pandemi virus Corona yang berkepanjangan membuat Jetstar Pacific menjadi beban tersendiri untuk Qantas; serta, tentu saja untuk Vietnam Airlines. Maskapai nasional Australia itu pun berdalih bahwa pihaknya ingin fokus pada entitas bisnis lainnya dan merelakan Jetstar Pacific.

“Kami telah berdiskusi dengan Vietnam Airlines selama beberapa waktu tentang tantangan yang dihadapi Jetstar Pacific, yang jelas-jelas telah meningkat melalui krisis akibat pandemi Covid-19,” kata Gareth Evans, CEO Jetstar, dalam sebuah pernyataan.

Diketahui, sejak 2010 lalu, Qantas memiliki sekitar 30 persen saham. Angka tersebut meningkat dari tiga tahun sebelumnya sebesar 18 persen saham, dengan mahar sebesar US$30 juta. Nantinya, saham Qantas di maskapai yang pernah berubah nama dari Pacific Airlines menjadi Jetstar Pacific ini akan ditebus oleh pemerintah Vietnam.

“Vietnam Airlines telah melapor ke otoritas terkait dan sedang mengerjakan beberapa prosedur untuk mempersiapkan pengumuman resmi yang diharapkan pada akhir Oktober,” ujar Dang Anh Tuan, juru bicara Vietnam Airlines.

Walaupun Qantas belum resmi menarik diri dari Jetstar Pacific, Tuan mengungkap bahwa dalam waktu dekat maskapai tersebut akan berganti nama kembali menjadi Pacific Airlines, sebagaimana kemunculan maskapai di awal.

Baca juga: Di Ambang Kebangkrutan, Air Asia X Pamit dari Indonesia

Layaknya, Qantas dan maskapai lain di dunia, keuangan Vietnam Airlines juga tengah tercekik akibat pandemi virus Corona. Selama sembilan bulan atau hingga kuartal ketiga 2020, maskapai yang berdiri sejak 1956 ini tercatat membukukan kerugian bersih sebesar US$463 juta atau Rp6,7 triliun (kurs Rp14.700).

Sekalipun ‘perceraian’ Qantas-Vietnam Airlines dalam maskapai joint venture mereka lebih disebabkan penarikan diri oleh Qantas, namun, sulitnya keuangan Vietnam Airlines bukan tak mungkin juga jadi pemulus langkah tersebut.

Bos Maskapai Penerbangan Dunia: Penumpang Inginkan Sekat Partisi di Kabin Pesawat Hindari Corona

Penumpang pesawat di seluruh dunia disebut menginginkan adanya sekat partisi di kabin. Sekalipun pesawat modern sudah dilengkapi dengan filter udara HEPA, namun, penumpang membutuhkan aksi nyata dari maskapai sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap keamanan dan keselamatan di dalam kabin.

Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih

Lagi pula, tak semua penumpang percaya teknologi canggih semacam HEPA dan lebih mengkhawatirkan Covid-19 itu sendiri. Setidaknya, begitulah pandangan dari para petinggi maskapai penerbangan di dunia.

Dilansir Traveller, dalam konferensi MRO Asia-Pacific yang dihelat secara daring belum lama ini, pandemi virus Corona memang membuat maskapai udara disusupi kenormalan baru.

Selain membuat barrier atau sekat partisi di kabin, pandemi juga mendorong beberapa perubahan seperti adanya lebih banyak kursi kelas bisnis sekalipun di pesawat narrowbody, menambahkan fitur toilet tanpa sentuhan, serta konversi kabin/pesawat penumpang menjadi kargo.

Kebutuhan sekat partisi atau perisai di pesawat saat ini sedang menjadi salah satu fokus utama produsen pesawat global. Embraer, misalnya, dikabarkan sedang sibuk menyelesaikan studi tentang penggunaan sekat plastik reusable dan sekali pakai untuk seluruh jet regionalnya.

Menurut Lais Port Antunes, manager pengembangan bisnis Asia-Pasifik Embraer, tantangan untuk itu ialah bagaimana membuat sekat plastik itu ringan, tidak mudah terbakar, tidak menyulitkan proses pembersihan, dan evakuasi saat terjadi keadaan darurat.

Senada dengan Antunes, Tan Hean Seng, salah satu petinggi Singapore Technologies Engineering, menyebut, “Dengan adanya pelindung di antara kursi, penumpang dapat merasa lebih aman, terutama pada waktu makan saat penumpang melepas masker dan ada potensi kontaminasi.”

Selain produsen pesawat, perusahaan interior pesawat sebetulnya sudah sejak lama coba menawarkan solusi sekat partisi dengan beragam bahan, model, dan bentuk. Namun, tujuannya tetap sama, membatasi droplet langsung antar penumpang.

Aviointeriors, misalnya, meluncurkan desain sebuah kursi penumpang ‘anti’ corona sejak April lalu. Perusahaan yang fokus memproduksi produk-produk interior pesawat dan kursi penumpang ini menawarkan solusi aman dari corona saat di kabin dengan menambahkan semacam akrilik ke setiap kursi yang mengapit penumpang.

Desain yang disebut Glassafe tersebut diklaim mampu membatasi kontak langsung dengan penumpang yang disebelahnya (kiri dan kanan untuk kursi di bagian tengah). Bila diperhatikan lebih detail, sebetulnya konsep seperti itu sudah mulai diberlakukan di banyak sektor, mulai dari perbankan, percetakan, dan beberapa sektor lainnya yang memungkinkan adanya kontak langsung antara klien dan petugas dalam jarak kurang dari satu atau satu setengah meter.

Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman

Serupa tapi tak sama, cocoon concept juga menawarkan keamanan lebih saat di kabin. Konsep desain interior yang juga disebut Priva buatan Golnoosh Torkashvand, mahasiswi Florida Institute of Technology, AS, ini dinilai mampu membatasi transmisi penyebaran virus corona agar tak meluas antar penumpang yang duduk berdampingan. Bentuknya nyaris menyerupai tabung yang menutupi sebagian tubuh bagian atas penumpang.

Menariknya, bukan hanya melindungi penumpang, sekat partisi Priva juga dapat bernilai artistik dengan perubahan warna pada sekat sesuai permintaan. Begitupun juga dengan tingkat pencahayaannya. Tak lupa, inovator juga menyisipkan fitur yang dapat membuat sistem messenger antara pengguna di setiap kursi dengan pramugari.

Taksi Air Jadi Salah Satu Solusi Transportasi Bagi Warga Kerala di India

India mulai mengambangkan taksi air dan Departemen Transportasi Air Negara Bagian (SWTD) dari Alappuzha di Kerala, India meluncurkannya pada 15 Oktober 2020. Menteri Utama Pinarayi Vijayan meresmikannya pukul 11.30 waktu setempat melalui konferensi video.

Baca juga: Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di Venesia

KabarPenumpang.com melansir timesofindia.indiatimes.com (14/10/2020), Direktur SWTD Shaji V Nair mengatakan, ini adalah layanan taksi air pertama di India dan akan dioperasikan dari Dermaga perahu Alappuzha. Orang bisa menyewa taksi dari mana saja di distrik Alappuzha tersebut.

Tarif taksi ini per jamnya cukup mahal yakni Rs1500 atau sekitar Rp301 ribu. Rute taksi air dapat mencapai Kottayam dari Alappuzha dalam waktu satu jam. Nair mengatakan, saat ini orang dapat menyewa taksi di jalan raya jika mereka tidak punya waktu untuk bepergian dengan bus atau kereta api.

Tetapi mereka tidak memiliki opsi taksi seperti itu di perairan dan operator kapal swasta mengenakan tarif yang tinggi. Sehingga taksi air ini akan menjadi anugerah bagi masyarakat untuk mencapai tujuan mereka melalui jalur air.

“ Taksi air dapat dengan mudah mencapai tujuannya karena tidak akan ada halangan lalu lintas di jalur air. Jika seseorang ingin mencapai sebuah rumah di Kuttanad saat ini, mereka harus melakukan perjalanan dengan perahu SWTD yang berhenti di hampir semua dermaga perahu dan mereka juga perlu berjalan jauh dari dermaga perahu ke rumah mereka. Tapi taksi air akan menurunkan penumpang kami di depan pintu rumah-rumah di Kuttanad tanpa berhenti di mana pun. Layanan taksi air juga akan memberikan pengalaman berbeda bagi para wisatawan,” kata Nair.

Dia menjelaskan, bagi masyarakat yang akan menggunakan layanan taksi air, mereka bisa menghubungi 9400050325,9400050322. Nair menambahkan, sebuah kapal katamaran yang digunakan untuk taksi air bertenaga diesel dengan kapasitas tempat duduk untuk sepuluh penumpang.

Kapal bermesin diesel tempel berkekuatan 250 kuda yang didatangkan dari Swedia ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 19 knot (35 km per jam). Ini memiliki power steering listrik. Kapal juga memiliki panel surya di atasnya untuk memenuhi semua kebutuhan daya termasuk lampu, kipas angin, dan sistem kontrol.

Baca juga: Urai Konsentrasi Kepadatan Lalu Lintas Darat, Phnom Penh Hadirkan Layanan Taksi Air Perdananya!

Selain itu, taksi air di Alappuzha, tiga taksi air lagi akan segera diluncurkan. Di mana layanan taksi air kedua diharapkan akan diluncurkan di Ernakulum pada November mendatang.

Mona, Inilah Sistem Pengenalan Wajah Tanpa Sentuh di Bandara Lyon Perancis

Bandara Lyon – Saint Exupéry, yang dikelola oleh Bandara Vinci menggunakan sistem baru untuk pengenalan wajah. Di mana sistem bernama Mona ini memungkinkan penumpang melewati pos pemeriksaan bandara yang berbeda yakni tanpa kontak fisik.

Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart Security

KabarPenumpang.com melansir schengenvisainfo.com (14/10/2020), sistem baru pengenalan wajah tersebut diresmikan oleh Ketua dan CEO Vinci Xavier Huillard dan CEO Konsesi Vinci dan Presiden Bandara Vinci, Nicolas Notebaert, di Pusat Keunggulan Inovasi Bandara Vinci yang berbasis di bandara Lyon-Saint Exupéry, Perancis.

“Dengan Mona, Bandara Vinci meluncurkan bandara pertama di dunia yang menambahkan dimensi baru pada pengalaman bandara. Di saat teknologi nirkontak terbukti semakin penting, dan personalisasi menjadi norma, jaringan kami sekali lagi membuktikan bahwa ia dapat terus mengubah dirinya,” kata Notebaert.

Kehadiran Mona tersebut, menjadikan Bandara Vinci sebagai operator bandara pertama di seluruh dunia yang menguji perjalanan biometrik dari rumah ke pesawat. Tak hanya itu, sistem Mona membuat penumpang berhak membuat akun pelanggan, hanya dengan mengunduh aplikasi di ponsel cerdas mereka, yang akan membantu mereka mendapatkan semua manfaat sistem, tanpa biaya.

Penggunaan teknologi pengenalan wajah memungkinkan pengguna Mona melewati berbagai pos pemeriksaan di bandara, hanya dengan menunjukkan wajah mereka. Selain itu, Mona menawarkan kepada pelanggannya kemungkinan untuk memberikan informasi tentang penerbangan dan masalah serupa secara real-time.

Ini juga memungkinkan penggunanya untuk menikmati sejumlah pengalaman dan layanan yang dipersonalisasi.

“Mona dibangun di sekitar sistem yang menggunakan data biometrik dan pemasaran relasional. Tunduk pada persetujuan dari badan perlindungan data Perancis, CNIL, layanan baru ini menerapkan rekomendasi terbaru yang dibuat oleh badan tersebut untuk menawarkan kepada penumpang jaminan sekuat mungkin bahwa hak dan privasi mereka akan dilindungi,” ujar pernyataan dari Bandara Vinci.

Untuk saat ini, sistem baru menawarkan layanannya untuk penumpang yang bepergian melalui bandara Lyon ‑ Saint Exupéry menggunakan Transavia dan TAP Air Portugal, dan diluncurkan untuk masa percobaan satu tahun. Ini bukan niat pertama untuk menciptakan sesuatu yang akan memfasilitasi pekerjaan orang, melalui program kecerdasan buatan di bandara Uni Eropa.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Sebelumnya pada 2018, diumumkan bahwa program kecerdasan buatan baru, dengan wajah avatar, sedang dibuat untuk membantu menjaga perbatasan Eropa. Program iBorderCtrl Uni Eropa rencananya akan digunakan untuk mendeteksi jika seseorang berbohong tentang siapa mereka, tujuan masuknya serta tujuan mereka. Selain itu, European Border and Coast Guard Agency (Frontex), pada 2018 telah menguji teknologi pemeriksaan perbatasan baru yang disebut “Biometrics on the Move” yang ditetapkan di Lisbon Airport Authority (ANA), bersama dengan Border Service Portugal (SEF ). Teknologi “Biometrics on the Move” dianggap sebagai masa depan kontrol perbatasan Uni Eropa.

Bandara Changi Buka Jalur Sepeda ke East Coast Park, Eh.. Ada Dinosaurus

Meski tengah mendapat tekanan berat akibat merosotnya pendapatan akibat pandemi Covid-19, rupanya Otoritas Pengelola Bandara Changi tak lantas jadi kendor untuk memajukan pelayanan di bandara tersibuk di Asia tersebut. Belum lama ini Bandara Changi menghadirkan sesuatu hal yang berbeda yakni adanya replika dinosaurus di sepanjang jalur sepeda. Jalur ini baru dibuka dan akan menghubungkan Bandara Changi dengan East Coast Park, sehingga memungkinkan pengunjung yang bersepeda atau berjongging ke bandara untuk pertama kalinya.

Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

KabarPenumpang.com mengutip dari straitstimes.com (11/10/2020), replika dinosaurus tersebut berada di rute dengan panjang 3,5 km. Ada sekitar 20-an replika dinosaurus dari Tyrannosaurus Rex atau disebut T-Rex dengan tinggi menjulang hingga trio velociraptors.

trio velociraptors di jalur sepeda Bandara Changi (straitstimes.com)

Dikatakan oleh Changii Airport Group atau CAG, jalur baru ini akan menawarkan rute alternatif menuju ke bandara. Selain itu, jalur tersebut menjadi pilihan rekreasi baru bagi warga Singapura. CAG menambahkan, dibukanya Changi Airport Connector mebuat bandara kini terhubung dengan Park Connector Network yang lebih besar di timur seperti Changi Beach Park dan Bedok Rservoir.

Sebelumnya, jalur pejalan kaki ke bandara yang paralel dengan jalan Airport Boulevard tidak tersedia. Proyek ini memakan waktu sekitar tiga tahun dari konseptualisasi hingga penyelesaian, dan dilakukan dengan dukungan dari National Parks Board dan Singapore Tourism Board. Menteri Transportasi Ong Ye Kung meresmikan pembukaan konektor pada hari Minggu di awal Changi Jurassic Mile, setelah dia bersepeda dari East Coast Park. Untuk diketahui, sejauh satu kilometer, akan ada pameran replika dinosaurus dan jalur ini gratis dilintasi.

Namun pada hari Jumat hingga Minggu, pengunjung harus melakukan pemesanan sebelum diizinkan masuk dari jam 09.00 pagi hingga tengah malam. Hal ini karena persyaratan jaga jarak yang aman. Untuk memudahkan pendaftaran, pengunjung bisa melakukan pemesanan Changi Jurassic Mile di website mulai Minggu.

Bila pengunjung tidak membawa sepeda, bisa menyewangan dengan harga $8 per jam untuk sepeda dewasa di halte dekat Terminal 2. Ini dapat dikembalikan ke outlet GoCycling lainnya seperti yang ada di East Coast Park, Changi Beach Park, dan Punggol Park. Selain itu juga ada kafe baru, bernama Hub & Spoke, menawarkan makanan lokal dan barat, dengan pilihan tempat makan di luar ruangan. Buka dari jam 07.30 pagi sampai 9.30 malam setiap hari waktu setempat.

Jayson Goh, direktur pelaksana CAG untuk manajemen operasi bandara mengatakan niatnya adalah untuk menghubungkan Bandara Changi dengan East Coast Park dan Jaringan Penghubung Taman Singapura lainnya untuk kepentingan komunitas bandara dan penduduk setempat.

“Unsur-unsur pengalaman baru yang disuntikkan di sepanjang Changi Jurassic Mile akan menawarkan rasa petualangan dan kejutan kepada semua orang yang berkunjung. Dengan Konektor Bandara Changi, kami berharap dapat memberi pengunjung pengalaman bandara yang berbeda,” katanya.

Jaryl Sim, pemilik kafe Hub & Spoke, mengatakan awalnya dia tidak tertarik ke lokasi tersebut tahun lalu, tetapi dibujuk setelah mengetahui rencana untuk mengembangkan daerah tersebut. Dia mengatakan, saat ini, sekitar setengah dari pelanggan kafe yang dibuka pada 12 Agustus adalah staf bandara.

“Dengan dibukanya penghubung dan semakin banyaknya operasi bandara yang dilanjutkan, kami berharap akan ada peningkatan pelanggan di masa depan, termasuk wisatawan,” kata Sim.

Baca juga: Bantu Petugas dan Penumpang, Bandara Changi Operasikan 47 Unit Robot

Konsultan manajemen acara Chan Kok Meng, 43, berada di Jurassic Mile bersama keluarganya yang terdiri dari empat orang, termasuk dua anak laki-laki, tujuh dan lima.

“Kami tidak punya pilihan – anak kami ingin kami membawanya ke sini lagi karena dia ingin membuat sketsa dinosaurus,” kata Chan.

Di Inggris, Eks Pilot Jet Tempur Operasikan Drone Medis Suplai Pasokan Antar Rumah Sakit

Program layanan kesehatan masyarakat atau National Health Service (NHS) dikabarkan telah merekrut eks pilot jet tempur untuk operasikan drone medis. Drone medis tersebut nantinya akan mendukung pengiriman sampel Covid-19, test kit, dan alat pelindung diri (APD) antar rumah sakit di Inggris.

Baca juga: Tak Seperti Garuda Indonesia, Japan Airlines Mulai Realisasikan Drone Kargo di Perkotaan

Guna mendukung rencana tersebut, beberapa orang dari berbagai latar belakang pun mendirikan Apian, sebuah perusahaan yang fokus untuk membangun jaringan koridor udara yang aman bagi drone listrik untuk dinavigasi melalui GPS yang didukung satelit, sebagai bagian dari NHS Clinical Entrepreneur Programme.

Tujuan dari pengoperasian drone medis di Inggris ini di antaranya untuk menghindari waiting list kurir ekspedisi, mengurangi beban kerja staf NHS, serta mengurangi kontak fisik antar orang per orang sebagai upaya meminimalisir risiko penularan virus Corona.

Saat ini, drone tersebut sedang diujicoba oleh eks pilot pesawat tempur RAF dan Royal Navy yang baru bergabung dalam proyek ini melalui perusahaan pelatihan pesawat tak berawak yang berbasis di York, Flyby Technology.

Uji coba drone medis NHS tersebut akan dipusatkan di Broomfield Hospital, Chelmsford, sebuah rumah sakit yang didirikan di atas sebuah lapangan terbang Royal Flying Corps bekas Perang Dunia I. Rumah sakit yang juga merupakan bagian dari Mid and South Essex NHS Foundation Trust akan didukung penuh oleh Anglia Ruskin University sebagai mitra akademis.

Christopher Law, dari Apian, mengatakan, “Covid-19 telah menghasilkan tantangan dalam logistik rantai pasokan NHS. Tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk menciptakan metode pengiriman persediaan medis yang lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan ramah lingkungan (kecuali menggunakan drone medis).”

“Kami yakin bahwa dengan menyiapkan layanan pengiriman drone medis, kami akan dapat menerbangkan sampel ke laboratorium secara lebih teratur, andal, dan cepat, untuk meningkatkan hasil kesehatan pasien,” tambahnya, seperti dikutip dari expressandstar.com.

Setelah uji coba drone berhasil, Apian akan lanjut melangkah ke fase berikutnya untuk membuat NHS Air Grid (NAG) Inggris, jaringan koridor udara aman yang dirancang untuk memungkinkan pengiriman drone dengan aman, cepat, dan efektif di seluruh NHS; bekerjasama dengan Otoritas Penerbangan Sipil (CAA), Badan Antariksa Inggris, dan layanan darurat khusus untuk mendukung koridor ini.

Drone medis NHS digadang bisa mengangkut maksimum 2kg kargo dan terbang sejauh 100km pada ketinggian 90m. Mengingat peran vitalnya sebagai bagian dari upaya melawan pandemi virus Corona dengan meningkatkan layanan medis, drone medis NHS dirancang untuk bisa dioperasikan dalam kondisi cuaca buruk.

Baca juga: Karyawan Airbus Banting Setir Jadi Relawan Medis Selama Pandemi Corona

Desainnya yang berupa drone hybrid, memiliki lima rotor dan sayap layaknya pesawat, membuat drone medis NHS juga lebih stabil untuk penerbangan jarak jauh.

Sejauh ini, dalam fase uji coba, drone medis NHS cukup bisa diandalkan. Drone medis dari proyek bernilai £1,3 juta atau sekitar Rp24 miliar (kurs 19.000) ini dilaporkan berhasil menempuh jarak 22km dalam waktu kurang dari 17 menit dan 11,5km dalam waktu sekitar sembilan menit.

Sungai Chao Phraya di Bangkok Kini Dilayani Kapal Ferry Bertenaga Listrik

Meski tengah digoncang aksi demonstrasi besar-besaran terkait reformasi sistem monarki dan pemerintahan, rupanya Thailand tetap ajeg melakoni pengembangan teknologi transportasinya. Seperti belum lama ini, Thailand telah menerima armada ferry penumpang dengan tenaga listrik dan itu menjadi yang pertama.

Baca juga: E-Ferry Ellen Gunakan Sepenuhnya Tenaga Listrik dan Lebih Irit Ketimbang Ferry Diesel

Kapal ferry tersebut dikirim oleh Danfoss Editron yang merupakan perusahaan penyedia Energy Absolute dengan sistem drivetrain listrik yang akan memberi daya pada armada 27 katamaran. Dimana armada ferry penumpang tenaga listrik tersebut akan beroperasi di  Sungai Chao Phraya yang membelah Kota Bangkok.

KabarPenumpang.com melansir seanews.co.uk (5/10/2020), kehadiran kapal ferry tenaga listrik di Thailand tepatnya Bangkok karena kota ini menjadi salah satu yang paling banyak dikunjungi pelancong dunia yakni hampir 23 juta orang dari berbagai negara. Karena hal ini, kualitas kota Bangkok secara teratur tercatat pada tingkat yang tidak sehat karena kombinasi berbagai faktor termasuk lalu lintas, konstruksi, emisi pabrik dan pembakaran limbah serta sisa tanaman.

Bahkan Januari tahun ini polusi udara di Bangkok tercatat tidak sehat selama tujuh hari. Kemudian adanya ini membuat Pemerintah Thailand melakukan berbagai upaya membersihakan udara termasuk promosi moda transportasi energi alternatif. Hingga kehadiran Enery Absolute yang memimpin pada upaya energi alternatif, di mana armada katamaran listrik penuh merupakan bagian dari cetak biru ambisius yang mencakup pabrik baterai senilai US$3 miliar dan berbagai mobil listrik.

Setiap katamaran sepanjang 24 meter akan mampu membawa 200 penumpang dan akan dilengkapi dengan dua motor EM-PMI375-T800 yang diproduksi oleh Danfoss Editron. Motor menyediakan output daya berkelanjutan antara 174-192 kW, tergantung pada suhu tempat mereka beroperasi dan didasarkan pada teknologi magnet permanen yang dibantu keengganan sinkron.

Mereka juga berpendingin cairan, dirancang untuk bekerja di lingkungan operasi yang keras dan menawarkan dimensi yang lebih kecil, bobot yang lebih ringan dan efisiensi yang lebih tinggi daripada motor diesel saat ini. Energy Absolute menginvestasikan US$33 juta dalam proyek tersebut, termasuk memasang stasiun pengisian cepat di sisi dermaga yang akan mampu mengisi daya ferry dalam waktu sekitar 15 menit.

Kapal ferry tersebut akan dapat beroperasi antara dua hingga empat jam sekali pengisian daya, dengan jarak tempuh 80-100 km. Saat ini ada dua kapal ferry yang tengah dalam pengujian dan nantinya setelah selesai uji coba maka armada akan siap diluncurkan ke operator selama setahun. Selain para operator, ternyata hotel dan pengembang real estat juga menunjukkan ketertarikan mereka pada armada katamaran listrik penuh karena kehidupan mewah di tepi sungai Bangkok semakin populer.

“Perairan Bangkok selalu memainkan peran penting dalam mengangkut orang dan logistik. Proyek ini dapat membuka jalan untuk menghidupkan kembali mereka secara berkelanjutan dengan menghubungkan jaringan transportasi utama dan menyediakan perjalanan yang mulus dan nyaman bagi para komuter. Ini juga akan membantu untuk mengekang kebutuhan akan terowongan dan jalan lebih lanjut, dengan saluran air menjadi moda transportasi yang lebih populer sekali lagi. Lebih banyak dari proyek-proyek ini yang membuahkan hasil akan membantu kota menjadi kurang tercemar dan macet. Diperkirakan bahwa memperkenalkan armada katamaran yang sepenuhnya bertenaga listrik ini akan menghilangkan sekitar 9500 ton emisi CO2 dari atmosfer setiap tahun,” ujar Manajer Pengembangan Bisnis Danfoss Editron untuk Asia-Pasifik David Hunter.

Baca juga: Gunakan Mesin Wartsila 31, Kapal Ferry di Jepang Sangat Efisien dan Ramah Lingkungan

“Energy Absolute adalah perusahaan papan atas yang banyak berinvestasi dalam infrastruktur dan transportasi yang berkelanjutan. Kami sangat senang dengan potensi kerja sama lebih lanjut dan sudah aktif melihat proyek lain yang dapat kami kerjakan di Thailand, seperti bus listrik dan pengangkutan truk listrik, ”tambah David.