Bak Astronot, Penumpang Bisa Melayang di Dalam Pesawat Berkat Zero Gravity

Dunia antariksa memang selalu menarik perhatian publik. Selain bisa menikmati pemandangan ciamik luar angkasa, umumnya publik ingin mencicipi sensasi zero gravity atau tanpa gravitasi, dimana seluruh benda melayang dibuatnya. Sayangnya, untuk menjajal itu, miliaran rupiah sudah pasti harus keluar dari kocek seseorang.

Baca juga: Mau Jadi Astronot Selama Beberapa Jam? Yuk Jajal Wisata Unik Ala Novespace Ini!

Akan tetapi, keinginan untuk menjajal nol gravitasi tanpa harus jauh-jauh keluar dari atmosfer bumi serta merogoh kocek miliaran rupiah, sepertinya bukan lagi sebuah isapan jempol belaka. Adalah Zero Gravity Corporation, atau ZERO-G, perusahaan di balik “G-FORCE ONE,” sebuah pesawat Boeing 727 yang dimodifikasi untuk mampu menghasilkan penerbangan tanpa gravitasi. Dengan itu, penumpang dan seluruh benda apapun di dalamnya dapat melayang.

Dikutip dari Business Insider, penerbangan tanpa gravitasi ini bekerja dengan melakukan manuver aerobatik yang dikenal sebagai parabola. Pilot yang menerbangkan pesawat ini telah dilatih khusus dalam melakukan manuver aerobatik.

Pesawat Boeing 727 ZERO-G. Foto: Thomas Pallini/Business Insider

“Penumpang ZERO-G mengalami (penerbangan) tanpa bobot yang sesungguhnya,” kata CEO Zero Gravity Corp, Matt Gohd, dalam sebuah postingan.

Menurut Matt, sebelum memulai penerbangan tanpa gravitasi, pesawat akan terbang pada ketinggian 24.000 kaki. Kemudian, pilot mulai menerbangkan pesawat lebih tinggi lagi. Secara bertahap, dia meningkatkan sudut pesawat hingga sekitar 45 derajat ke langit sampai mencapai ketinggian 30.000 kaki.

Selama gerakan ini, penumpang akan merasakan kekuatan 1,8 Gs. Pesawat kemudian dengan lembut mendorong untuk menciptakan segmen gravitasi nol parabola yang berlangsung sekitar 20 -30 menit. Lalu, pesawat menarik diri dari pergerakan dan memungkinkan penumpang untuk kembali stabil di lantai pesawat.

Perusahaan telah menjamin keselamatan bagi penumpang. Namun, bagi penumpang sendiri ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Menurut Reno Gazzete Journal, penumpang disarankan untuk menghindari minuman dan makanan berminyak sebelum penerbangan.

Oleh sebab itu, saat sedang menunggu helikopter jemputan di Lounge Blade, West 30th Street Heliport, New York City, untuk diantar ke Bandara Internasional Newark Liberty dan menikmati penerbangan zero gravity, para peserta dihidangkan sarapan ringan penuh karbohidrat,croissant dan salad buah, untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Sebetulnya, penumpang tak diharuskan ke bandara pakai helikopter, hanya sekedar fasilitas tambahan saja.

Tak hanya penumpang, pilot pun menikmati momen penerbangan nol gravitasi. Foto: Space Frontiers/Getty

Usai menyantap sarapan, para peserta penerbangan nol gravitasi Boeing 727 besutan Zero Gravity Corporation (ZERO-G) juga akan dibekali dengan jumpsuit one-piece, mirip dengan jumpsuit pilot pesawat tempur, serta kaus kaki panjang. Di masa pandemi seperti sekarang ini, masker juga wajib dikenakan penumpang sebagai elemen keselamatan tambahan.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Tak hanya itu, semua penumpang juga perlu memeriksakan suhu dan kadar oksigen darah mereka sebelum keberangkatan melalui termometer dan oksimeter. Usai itu, penumpang diantar ke bandara dan menikmati penerbangan nol gravitas tanpa harus jauh-jauh ke luar angkas. Harga ZERO-G juga bervariasi, mulai dari sekitar USD 5.400 atau sekitar Rp 73.000.000 per orang, cukup murah bukan?

Selain New York, penerbangan nol gravitasi ini juga tersedia di Las Vegas, Los Angeles, Atlanta, Austin, Houston, Miami, Orlando, Fransisco, Seattle, Washington, D.C., dan beberapa wilayah di New England. Di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini, penerbangan ZERO-G cukup banyak diminat penumpang yang rindu hiburan.

Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Sebelum beroperasi, sebuah pesawat terlebih dahulu harus didaftarkan atau diregistrasi di beberapa otoritas penerbangan, seperti Regulator Penebangan Sipil Amerika Serikat (FAA) dan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA). Umumnya, pesawat tak selalu terdaftar di negara tempatnya beroperasi.

Baca juga: Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Boeing 737 Ryanair, misalnya, terdaftar di tiga negara, mulai dari Irlandia, Inggris, dan Malta. Padahal, rute terbang pesawat menjangkau seluruh Eropa.

Pertanyaan kemudian muncul, sebetulnya, negara manakah yang paling banyak meregistrasi pesawat? Sebagian besar orang mungkin akan menjawab Amerika Serikat. Sebagian lagi mungkin Inggris -berkat pengaruh internasionalnya sejak dahulu- atau mungkin Cina yang belakangan muncul sebagai kekuatan baru dunia. Sayangnya, jawaban tersebut tak satupun benar, bila didasarkan pendapat CEO Ryanair, Eddie Wilson.

Dalam sebuah podcast bertajuk ‘Inside Ryanair’ belum lama ini, ia mengungkapkan, “Separuh pesawat di planet ini sebenarnya terdaftar (diregistrasi) di Irlandia. (Irlandia) dipandang sebagai suar untuk pesawat sewaan.”

Akan tetapi, ia tak menjelaskan dengan detail dasar pernyataannya tersebut. Padahal, bila disandingkan dengan data lain, tentu pandangan Wilson patut dipertanyakan.

Dilansir Simple Flying, pakar analisis perjalanan dan penerbangan Cirium baru-baru ini melakukan analisis armada global guna mencari tahu di negara mana saja pesawat diregistrasi dan dimiliki. Analisis dipecah berdasarkan jenis pesawat. Dalam analisisnya, Cirium mengamati sebanyak 5.715 pesawat turboprop regional, 4.513 jet regional, 18.126 jet narrowbody, dan 6.457 jet widebody. Totalnya, ada 34.811 pesawat.

Dari jumlah tersebut, 31,85 persen dimiliki di Amerika Serikat atau sekitar 11.087 pesawat. Namun, hanya 9.371 dari pesawat-pesawat tersebut yang benar-benar diregistrasi di Amerika Serikat. Data yang cukup kontras tentunya dengan pernyataan Wilson.

Irlandia sendiri, masih dari data Cirium, memiliki proporsi kepemilikan pesawat tertinggi kedua dengan 5.186 atau 14,9 persen. Namun, ini tidak terkait dengan jumlah pesawat yang diregistrasi di negara tersebut. Artinya, hanya ada 669 yang benar-benar diregistrasi di Irlandia, mewakili 1,9 persen dari armada global.

Dengan begitu, Cina dengan jumlah registrasi pesawat mencapai 4.081, Kanada (1333), Inggris (959), India (922), Bermuda (784), Jerman (709), Jepang (701), Australia (688), dan Indonesia (680), masih lebih banyak meregistrasi pesawat daripada Irlandia.

Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang

Berbicara lebih jauh tentang registrasi pesawat, rupanya hal lain yang lebih menarik muncul, tak sekedar mencari tahu dimana pesawat diregistrasi saja. Bila negara-negara lain meregistrasi atau memiliki pesawat dengan jumlah puluhan hingga belasan ribu, justru negara-negara ini sebaliknya, hanya memiliki tak kurang dari dua digit.

Negara-negara tersebut mulai dari San Marino, Belize, Bosnia-Herzegovina, British Virgin, Republik Afrika Tengah, Polinesia Perancis, Sao Tome dan Principe, Somalia, tercatat hanya memiliki satu pesawat di seantero negeri. Sisanya, tentu saja pesawat sewaan. Liechtenstein mungkin masih lebih baik. Negara yang tak memiliki bandara tersebut hanya mempunyai atau meregistrasi tiga pesawat, dua pesawat turboprop regional, dan satu pesawat narrowbody.

Daftar Maskapai Terdepan yang Gunakan Bahan Bakar Berkelanjutan, Tak Satupun dari Asia

Dunia berlomba-lomba untuk membuat penerbangan menjadi ramah lingkungan. Ditargetkan, tahun 2050 mendatang moda transportasi massal di dunia, termasuk pesawat, sudah bebas emisi.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Perlahan tapi pasti, transisi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar berkelanjutan nan ramah lingkungan sudah dimulai maskapai sejak beberapa tahun lalu. Setidaknya, ada lebih dari 30 maskapai yang sudah memulai proyek hijau mereka. Namun, hanya ada beberapa maskapai yang konsisten menjalankannya sampai dunia benar-benar bisa bebas dari emisi.

Dilansir dari Simple Flying, beberapa maskapai yang konsisten untuk terus menguji coba atau sudah menggunakan bahan bakar berkelanjutan tersebut, termasuk American Airlines, Alaska Airlines, JetBlue Airways, United Airlines, Delta Air Lines, KLM, Finnair, dan SAS Scandinavian Airlines.

Musim panas tahun ini, produsen solar dan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) terbesar di dunia, Neste, mulai memasok bahan bakar nabati ke tiga maskapai besar AS, American Airlines, Alaska Airlines, dan JetBlue Airways, untuk penerbangan dari Bandara San Fransisco (SFO). Dalam proyek yang dikenal sebagai “climate quantum leap” ini, perusahaan asal Finlandia itu mulai mengirimkan SAF ke SFO melalui pipa.

Ketiga maskapai tersebut sudah menandatangani perjanjian untuk menggunakan bahan bakar ramah lingkungan yang terbuat dari limbah dan sisa makanan buatan Neste. Bahan bakar ramah lingkungan itu akan terus digunakan di setiap perjalanan udara dari SFO.

Selain ketiga maskapai AS itu, Neste juga bermitra dengan maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, KLM. Maskapai yang belum lama ini merayakan hari jadinya yang ke-101 tersebut nantinya bakal menggunakan bahan bakar berkelanjutan buatan Neste mulai 2022 mendatang, usai pembelian 75.000 ton biofuel diteken. Bahan bakar ramah lingkungan KLM nantinya akan terpusat di Bandara Schiphol.

Selain bermitra dengan Neste, KLM juga mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan secara mandiri. Hal itu untuk memastikan beberapa penerbangan KLM menggunakan biofuel. Atas inisiatif tersebut, KLM tercatat sebagai satu-satunya maskapai penerbangan Eropa yang menggunakan biofuel di rute antarbenua, yakni Amsterdam – Los Angeles.

Tetapi, tak lama lagi, Finnair mungkin bakal mensejajarkan diri dengan KLM, mengingat maskapai tersebut sudah lama menguji coba penerbangan lintas benua, antara Helsinki – San Fransisco, menggunakan biofuel.

Maskapai penerbangan pada umumnya terkendala di biaya sebelum mulai menggunakan bahan bakar berkelanjutan. Sebab, investasinya empat kali lipat per penerbangan dari bahan bakar fosil. Namun, hal itu nampaknya bisa disiasati dengan baik oleh SAS Scandinavian Airlines.

Alih-alih mengeluarkan dana ekstra, maskapai tersebut justru memanfaatkan psikologi masyarakat Skandinavia yang selalu merasa bersalah atas kerusakan alam. Sejak September 2019, penumpang SAS diizinkan membayar lebih untuk mendorong maskapai menggunakan bahan bakar ramah lingkungan sebelum penerbangan dimulai. Cukup inovatif, bukan?

Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Bergeser kembali ke Negeri Paman Sam, pada tahun 2019, United Airlines mulai menguji coba biofuel di bawah program “Flight for the Planet” dari Chicago ke Los Angeles, menggunakan 70 persen bahan bakar fosil dan 30 persen biofuel.

Pada tahun yang sama, maskapai tersebut telah menganggarkan US$40 juta untuk proyek percepatan produksi biofuel. Selain itu, maskapai juga setuju untuk membeli hingga 10 juta galon SAF selama dua tahun ke depan. Rekan senegara maskapai itu, Delta Air Lines, juga telah menandatangani perjanjian untuk membeli 10 juta galon per tahun. Namun, hanya menyisihkan $2 juta untuk penelitian SAF.

Krumbach di Austria Punya Halte Bus Unik Buatan Tujuh Arsitek Internasional

Menunggu memang hal yang tidak menyenangkan apalagi bila menunggu bus di halte yang biasa saja. Namun bagaimana jika halte bus tersebut diubah lebih menarik, unik dan mungkin menjadi spot foto yang berbeda dari lainnya? Di Austria telah dibangun tujuh halte bus yang menarik dan mengalihkan pandangan dunia, yaitu di kota kecil Krumbach, distrik Bregenzerwald.

Baca juga: Warsawa Hadirkan Halte Bus Ramah Lingkungan dengan Atap Berumput

Halte-halte bus ini dirancang oleh tujuh orang arsitektur terkenal di seluruh dunia. Para arsitek ini berkolaborasi dengan tradisi, inovasi, nasional dan internasional. KabarPenumpang.com melansir laman archdaily.com, tujuh orang arsitek tersebut ialah Ensamble Studio Antón García-Abril dan Débora Mesa dari Spanyol, Arsitek de Vylder Vinck Taillieu dari Belgia, Arsitek Rintala Eggertsson dari Finlandia dan Norwegia, Alexander Brodsky dari Rusia, Wang Shu dari Cina, Sou Fujimoto dari Jepang dan Smiljan Radic dari Chili.

Desain halte bus (archdaily.com)

Tujuh arsitek yang membangun tujuh halte bus ini juga bekerja sama dengan pengrajin lokal sehingga struktur unik didapatkan untuk menampilkan kota kecil dengan seribu penduduk. Kurator Dietmar Steiner memuji komitmen mereka yang terlibat, dengan mengatakan, seluruh proyek berhasil karena didukung dengan cara yang paling dermawan oleh lebih dari 200 orang.

Ini termasuk para arsitek, yang mengambil proyek mereka hanya untuk liburan gratis di daerah tersebut dan kesempatan untuk terlibat dalam tantangan yang tidak biasa. Namun, Verena Konrad, Direktur vai Vorarlberger Architektur Institut, mencatat bahwa proyek itu penting untuk “sambungan infrastruktur dan mobilitas yang sukses untuk daerah pedesaan.”

Untuk diketahui, wilayah Bregenzerwald, terletak di titik pertemuan tiga negara, menawarkan pengunjung berbagai budaya, masakan, arsitektur, kerajinan tangan, fasilitas olahraga dan rekreasi yang sangat kaya dan padat untuk daerah pedesaan seperti itu. Arsitektur memainkan peran penting dalam menarik sekitar 30 ribu pelancong setiap tahun ke provinsi ini dan merupakan kelanjutan dari keahlian dan seni yang telah membentuk wilayah ini selama berabad-abad.

Dalam beberapa tahun terakhir, kota kecil Krumbach telah menyelesaikan beberapa bangunan arsitektural yang menarik termasuk pembangunan perumahan komunal, paviliun di rawa dataran tinggi, dan stasiun bus pedesaan pusat baru oleh arsitek lokal Hermann Kaufmann, Bernardo Bader dan Rene Bechter. Krumbach berharap dapat menciptakan hubungan antara desain ini dan proyek budaya membangun.

Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

Kunjungan situs dengan arsitek internasional telah dilakukan di Krumbach dan desain mereka ditunggu dengan penuh kegembiraan. Mendampingi proyek akan menjadi dokumentasi film dan foto, pameran dan publikasi. Halte bus Krumbach diharapkan akan menciptakan dorongan baru untuk pariwisata, bisnis, dan keahlian yang akan berdampak besar di luar kawasan.

Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Pada hari ini, 91 Tahun Lalu, bertepatan dengan Senin, 14 Oktober 1929, kapal udara buatan Inggris, R101 terbang perdana. Selain diplot sebagai pesaing kapal udara pertama di dunia, Zeppelin, kapal udara R101 Inggris tersebut juga diplot sebagai moda transportasi untuk menghubungkan Inggris dengan koloninya di seluruh dunia di bawah proyek British Imperial Airship Scheme tahun 1920-an.

Baca juga: Gagal Saat Uji Terbang, Hybrid Air Vehicle Tidak Gentar Komersialkan Airlander 10

Dilansir BBC, ide untuk membuat kapal udara R101 pesaing Zepplein Jerman muncul atas gagasan dari AH Ashbolt, pemimpin Tasmania, salah satu koloni Inggris, pada tahun 1921. Ia mengusulkan agar kerajaan Inggris membuat perusahaan Imperial Airship Company. Namun, usulan tersebut ditolak karena dinilai tak relevan.

Setahun berikutnya, perusahaan pembuat pesawat asal Inggris, Vickers, mengusulkan hal yang sama, melalui skema pengembangan kapal udara komersial. Kapal tersebut nantinya akan menyediakan layanan penumpang untuk menghubungkan negara-negara Kerajaan Inggris. Proyek tersebut dinamai “skema Burney” diambil dari sang insiator, Dennistoun Burney.

Skema tersebut merencanakan pembuatan enam kapal udara dengan perkiraan biaya £4 juta. Seluruh kapal udara Inggris tersebut nantinya akan diproduksi dan dioperasikan oleh Vickers.

R101 saat sedang diproduksi. Foto: Culture24

Sekalipun skema Burney sudah disetujui, namun, usai pemimpin baru Inggris terpilih melalui pemilu 1922, skema tersebut ditangguhkan akibat terlalu banyak menyerap anggaran. Untuk diketahui, seluruh dana dalam produksi kapal udara Inggris itu ditanggung oleh Australia, India, dan Inggris; termasuk dari warga melalui pengutan pajak.

Dua tahun berikutnya, partai konservatif yang menguasai Inggris sejak 1922 digusur oleh partai buruh. Skema Burney pun akhirnya ditolak mentah-mentah. Namun, semangat mengembangkan kapal udara Inggris terus melaju di bawah Imperial Airship Scheme atau Skema Pesawat Kekaisaran.

Skema tersebut didesain untuk memproduksi dua kapal udara Inggris, dimana satu kapal udara “Kapitalis” bernama R100 dikembangkan oleh Vickers di bawah komando Dennistoun Burney. Adapun kapal udara lainnya, R101 “Sosialis” dirancang oleh Royal Airship Works milik Pemerintah di Cardington, Bedfordshire, Inggris.

Spesifikasi kapal udara Inggris, R100 dan R101. Foto: Tangkapan layar

Sekalipun terlihat sama, dimana kapal udara sama-sama berkemampuan mengangkut 100 penumpang sejauh 57 jam penerbangan dengan kecepatan jelajah 101 jm per jam, namun, dua kapal udara Inggris tersebut sungguh berbeda. R100 “Kapitalis” yang dikembangkan oleh Vickers hanya memanfaatkan teknologi yang ada. Adapun R101 “Sosialis” dirancang sebagai wadah inovasi ilmuan terkait desain pesawat atau kapal udara.

Setelah menjalani proses produksi sejak Maret 1924, pada 14 Oktober 1929, kapal udara R101 yang ditenagai mesin diesel berhasil terbang perdana melintasi langit London. Pada Agustus 1930, kapal udara R100 yang dibekali mesin berbahan bakar bensin menyusul keberhasilan R101 usai melahap perjalanan trans-Atlantik ke Amerika Utara, menuju Quebec, Montreal, dan Toronto pada tahun 1930 selama 78 jam.

Setelah terbang perdana, R101 mengalami pengembangan di pertengahan 1930. Namun, proses pengembangan terus-menerus gagal. Tetapi, pengembang ngotot untuk bisa sesegera mungkin menguji coba kapal udara hasil pengembangan. Usai sertifikat kelaikan udara terbit, 5 Oktober 1930 kapal udara R101 terbang menuju India. Dalam kondisi cuaca buruk, penerbangan pembuktian itu tetap dipaksakan.

Kapal udara Inggris, R101 usai kecelakaan di Perancis. Foto: Getty

Pasca tujuh jam terbang, kapal udara itu dilaporkan jatuh dan terbakar di dekat Beauvais, Perancis utara, menewaskan 48 dari 54 penumpang; termasuk Lord Thomson, ketua DPR Inggris dan VC Richmond, kepala desain R101.

Baca juga: Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024

Akan tetapi, kecelakaan tersebut tak membuat Inggris bergeming. Di awal tahun 1931, Inggris mengajukan layanan angkutan penumpang dari Cardington ke Karachi dan Montreal menggunakan R100 dan R101 (yang sudah dikembangkan). Proposal tersebut juga diikuti dengan pengembangan R102 dan R103 yang akan beroperasi pada 1934 dan 1935.

Keempat kapal udara tersebut akan menawarkan layanan pulang pergi bulanan ke Montreal dan Karachi, serta layanan mingguan ke Ismailia, Mesir. Layanan kapal udara ke Australia juga bakal dijajaki pada tahun 1936, bersamaan dengan sebuah kapal udara yang lebih besar, R104. Sayangnya, sebelum hal itu terwujud, pada 31 Agustus 1931, Kabinet Inggris memutuskan untuk meninggalkan pengembangan dan mengakhiri cerita kapal udara Inggris.

Rute Domestik Tersibuk di Dunia Ternyata Hanya 400 Km, Setara Jakarta-Semarang

AirAsia Indonesia boleh saja berbangga diri. Maskapai yang baru saja merilis logo baru tersebut diketahui mengoperasikan rute terpendek A320 di dunia, antara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali dan Bandara Internasional Praya di Lombok dengan jarak sekitar 122 km atau 15 hingga 25 menit perjalanan. Namun, salah satu rute domestik terpendek di dunia itu bukanlah yang tersibuk.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Dilansir Simple Flying, dari daftar 10 rute domestik tersibuk di dunia, delapan di antaranya boleh saja berada di Asia, tetapi tak satupun melibatkan AirAsia. Menariknya, empat dari rute tersibuk domestik tersebut ada di Jepang.

Tak cukup sampai di situ, yang jauh lebih menarik lagi, dari ke-empat rute domestik tersibuk di dunia yang ada di Jepang, seluruhnya melibatkan Bandara Internasional Haneda, Tokyo; mulai dari Bandara Chitose Baru Sapporo-Haneda, Bandara Fukuoka-Haneda, Bandara Okinawa-Haneda, dan Bandara Internasional Haneda Tokyo-Bandara Internasional Itami Osaka.

Masuknya Bandara Chitose Baru Sapporo-Haneda, Bandara Fukuoka-Haneda, dan Bandara Okinawa-Haneda tentu tak terlalu mengejutkan, mengingat wilayah tersebut terpaut cukup Jauh. Haneda, Tokyo berada di tengah dari gugusan kepulauan di Jepang, sedangkan mereka, berada di atas dan di bawah Haneda. Namun, tidak demikian dengan salah satu rute domestik tersibuk di dunia antara Bandara Internasional Haneda Tokyo-Bandara Internasional Itami Osaka, yang juga sama-sama berada di tengah daratan Jepang.

Secara jarak, kedua bandara tersebut berjarak hanya sekitar 400 km atau kurang lebih setara jarak Jakarta-Semarang. Di tahun 2019 lalu, Official Airline Guide (OAG) sebagai penyedia data perjalanan global mencatat, ada sekitar 7.248.300 penumpang yang melakukan perjalanan antara kedua bandara ini. Dengan traffic sebanyak itu, rute tersebut pun bercokol di posisi ke-10 daftar rute domestik tersibuk di dunia.

Sejauh ini, ada dua maskapai yang aktif melayani rute tersebut, yakni Japan Airlines dan All Nippon Airways (ANA). Di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, jumlah traffic memang menurun dratis, namun, tetap bergairah. Hal itu setidaknya terlihat dari armada yang dikerahkan maskapai dalam rute tersebut.

Penerbangan di rute tersebut pada 27 Oktober, misalnya, dari 21 penerbangan oleh Japan Airlines dan ANA, hanya dua penerbangan yag menggunakan pesawat lorong tunggal (Boeing 737 dan Airbus A321). Sisanya, maskapai mengerahkan armada widebody mereka, seperti pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia Boeing 767 dan 787 Dreamliner.

Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

Dari segi ekonomi, masuknya rute tersebut ke dalam daftar 10 rute domestik tersibuk di dunia tentu tak mengherankan, mengingat Osaka dan Tokyo merupakan dua kota berpenduduk terbesar di Jepang. Namun, bila dilihat dari segi kemudahan akses, tak seharusnya rute tersebut menduduki posisi seperti sekarang ini dalam kaitannya dengan rute domestik tersibuk.

Selain bisa ditempuh menggunakan pesawat, dengan jarak tempuh sekitar 1 jam 10 menit, Itami-Haneda juga bisa ditempuh dengan menggunakan kereta peluru atau Shinkansen selama 2 jam 30 menit. Tetapi, dalam kondisi tertentu, Shinkansen bisa melahap Itami-Haneda atau Osaka-Tokyo hanya dalam 10 menit. Belum lagi kemudahan keluar-masuk stasiun -dibanding bandara- seharusnya kereta lebih diminat, sekalipun dengan harga sedikit lebih mahal.

Bukan Nama Jet Tempur, Inilah Lokomotif Tejas yang Layani Kereta Ekspres dengan Kecepatan 160 Km Per Jam

Bagi sebagian kalangan, nama Tejas sudah terlanjur identik dengan nama jet tempur bermesin tunggal produksi dalam negeri India. Namun, kali ini nama Tejas rupanya juga digunakan untuk wahana lokomotif, persisnya pabrik lokomotif utama Indian Railways Chittaranjan Locomotive Works (CLW) meluncurkan lokomotif listrik Tejas Express batch pertama. Lokomotif ini dikembangkan oleh CLW untuk operasi ‘dorong-tarik’ dengan WAP-5 yang dirancang secara aerodinamis.

Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan

Teknologi ‘dorong-tarik’ tersebut akan membantu lokomotif listrik penumpang untuk mengurangi tarikan udara dan memastikannya lebih stabil pada operasi kecepatan tinggi. KabarPenumpang.com melansir livemint.com (2/10/2020), lokomotif ini bertipe WAP-5 yang berkapasitas 6000 HP dan dilengkapi dengan sistem propulsi berbagis IGBT terbaru yang mampu melaju dengan kecepatan 160 km per jam.

Meja masinis pada Tejas Express dimodifikasi secara ergonomis untuk meningkatkan keterampilan manuver masinis lokomotif. Konverter komposit juga disediakan di lokomotif ini untuk langsung memasok daya ke gerbong dan gerbong pantry sehingga menghilangkan kebutuhan gerbong pembangkit tenaga diesel terpisah.

Dalam pengaturan ‘dorong-tarik’, setiap lokomotif terhubung ke setiap ujung kereta dan akan berkomunikasi melalui bus kereta kabel. Setiap lokomotif dirancang sedemikian rupa sehingga satu kabin berbentuk aerodinamis dan kabin lainnya yang menghadap ke sisi gerbong dibuat datar untuk mengurangi hambatan udara secara drastis pada kecepatan yang lebih tinggi.

Dengan begitu kesemuanya dapat meningkatkan efisiensi energi kereta dan membuatnya lebih stabil secara dinamis pada kecepatan yang lebih tinggi. Upaya traksi maksimum dari satu lokomotif WAP5 adalah 260 kN dan itu bisa mengangkut hingga 16 gerbong.

Pengaturan ‘dorong-tarik’ dengan maksimum 12000 HP memberikan solusi untuk kebutuhan kereta yang lebih panjang seperti Rajdhani dengan satu loko di depan disebut master dengan loco pilot dan yang lainnya di belakang disebut slave tanpa loco pilot. Hal ini juga mengurangi gaya coupler dan menghasilkan pengoperasian yang lebih aman.

Lebih jauh di bagian gradien yang curam, tidak ada banker loco yang diperlukan dan tidak ada waktu yang hilang untuk pemasangan dan pelepasan bankir. Untuk memudahkan pekerjaan Loco Pilot, karena dua lokomotif akan berjarak sekitar 600 meter dengan gerbong di antaranya, kunci BL (Loco Main Switch to Turn ON), LSDJ (Indikasi kondisi pemutus sirkuit vakum) dan BPFA (Indikasi/Acknowledgement of Fault) telah disediakan dalam duplikat di master loco yang menggambarkan kondisi slave loco.

Selain itu, perangkat lunak pada lokomotif telah ditingkatkan untuk kemudahan pengoperasian. Kaca pandang telah diperlebar untuk kenyamanan Loco Pilot yang lebih baik dan seluruh bodi loco dibalut dengan lapisan vinil dengan desain grafis.

Baca juga: Tejas Express, Kereta Api India Pertama yang Akan Dioperasikan Swasta

Ini adalah lokomotif hijau bebas kebisingan, bebas polusi dan ramah lingkungan yang lebih hemat energi dan membutuhkan lebih sedikit perawatan dan juga akan menghemat banyak waktu shunting lokomotif. Tejas Express akan mengurangi perjalanan Rajdhani Express antara Howrah dan New Delhi hingga 90 menit

Indonesia dan Singapura Siapkan “Reciprocal Green Lane” untuk Mudahkan Perjalanan Bisnis dan Resmi

Pemerintah Singapura dan Indonesia sepakat menyiapkan jalur hijau timbal balik atau reciprocal green lane (RGL) untuk bisnis penting dan perjalanan resmi antar dua negara. Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) mengatakan, aplikasi untuk RGL akan mulai dibuka pada 26 Oktober dan perjalanan akan segera dimulai setelahnya.

Baca juga: Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

Kesepakatan ini sendiri hanya direncanakan kurang dari dua bulan di mana pada 25 Agustus, Singapura dan Indonesia membicarakan hal tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (12/10/2020), MFA mengatakan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan dan Menlu Indonesia Retno Marsudi telah menegaskan bahwa hubungan yang sangat baik dan lama antara keduanya dalam percakapan telepon.

Pada diskusi Agustus lalu, keduanya membahas pentingnya memperkuat kerja sama yang saling menuntungkan dalam mengatasi tantangan bersama yang ditimbulkan oleh Pandemi Covid-19. Hal ini termasuk dimulainya kembali perjalanan penting sambil menjaga kesehatan dan keselamatan publik di kedua negara.

“Dalam konteks ini, para menteri menyambut baik hasil perundingan tersebut,” kata MFA.

MFA mengatakan, Indonesia sebagai pengatur koridor perjalanan dan memperbolehkan warga Indonesia serta Singapura melakukan bisnis atau perjalanan resmi jika memenuhi syarat untuk RGL. Untuk itu pelancong ataupun pebisnis harus menunjukkan bukti tes usap reaksi berantai polimerase (PCR) pra-keberangkatan dan pasca-kedatangan dari institusi kesehatan yang diakui bersama.

Selain itu untuk hal lainnya diktakan MFA akan diumumkan ketika sudah waktunya. Retno mengatakan, akan ada dua titik masuk di Indonesia untuk RGL yakni Terminal Ferry Batam Center dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta.

Sedangkan dua titik masuk ke Singapura adalah Terminal Ferry Tanah Merah dan Bandara Changi. Pelancong harus mengikuti tes PCR pertama 72 jam sebelum keberangkatan, dan tes kedua setelah tiba di bandara atau terminal ferry.

Retno menambahkan, pelancong yang memenuhi syarat juga harus mengunduh dan mendaftarkan diri di aplikasi seluler TraceTogether dan SafeEntry selama di Singapura, atau di aplikasi e-HAC dan Peduli Lindungi selama di Indonesia. Dia mengatakan, pelamar dari Indonesia harus memiliki sponsor dari lembaga pemerintah atau perusahaan di Singapura dan meminta tiket SafeTravel.

Sedangkan bagi warga Singapura yang ingin masuk ke Indonesia harus memiliki sponsor dari pemerintah atau badan usaha dan mengajukan visa online. Ketika Singapura semakin dibuka kembali di tengah pandemi Covid-19, pengaturan perjalanan khusus telah dibuat dengan beberapa negara dan wilayah.

Saat ini Singapura telah memiliki pengaturan jalur hijau timbal balik untuk bisnis penting dan perjalanan resmi dengan Cina, Malaysia, Brunei, Korea Selatan dan Jepang. Ini juga secara sepihak mencabut pembatasan perbatasan untuk beberapa pengunjung dari Australia, tidak termasuk negara bagian Victoria, Vietnam, Brunei dan Selandia Baru.

Baca juga: Desember 2020, Kereta Mewah Orient Express Tampil di Singapura

Awal bulan ini, Menteri Transportasi Singapura Ong Ye Kung mengatakan mengejar lebih banyak pengaturan jalur hijau dan menegosiasikan gelembung perjalanan udara dengan negara-negara yang memiliki tingkat infeksi Covid-19 yang rendah termasuk di antara rencana untuk “menghidupkan kembali” Changi Air Hub.

Ong mengatakan dalam pernyataan, sebuah fasilitas telah didirikan di Bandara Changi untuk menampung hingga 10 ribu penumpang sehari. Dalam beberapa bulan ke depan, ada rencana untuk mendirikan laboratorium penguji Covid-19 khusus di bandara untuk mendukung pemulihan penerbangan.

Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Qantas sukses menerbangkan penerbangan tanpa tujuan atau flight to nowhere akhir pekan lalu (10 Oktober 2020). Terjadi beberapa perubahan dalam penerbangan perdana flight to nowhere tersebut, dari semula 134 kursi menjadi total 150 kursi; dari semula rata-rata di ketinggian 30 ribu kaki, menjadi hanya di ketinggian 25 ribu kaki; dan dari semula hanya tujuh jam menjadi total 8,5 jam keliling Australia.

Baca juga: Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

Di momen penerbangan tanpa tujuan perdana Qantas, pengunjung disuguhkan berbagai pemandangan menarik dari beberapa destinasi wisata andalan Negeri Kanguru. Tak hanya itu, penumpang juga disuguhkan sajian spesial flight to nowhere. Agar lebih jelasnya, berikut foto-foto momen penerbangan tanpa tujuan Qantas yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber.

1. Boeing 787 Dreamliner

Boeing 787 Dreamliner dengan nomor penerbangan QF787 lepas landas dari Bandara Sydney. Foto: Getty Images

Pesawat Boeing 787 Dreamliner Qantas yang membawa 150 penumpang pada penerbangan tanpa tujuan, berangkat pukul 10.43 pagi waktu setempat, dari Bandara Sydney, di sebelah Tenggara Benua Australia. Setelah itu, pesawat langsung menuju ke Utara, menyusuri sepanjang pantai di ketinggian 25 ribu kaki.

2. Gold Coast, Brisbane

Goald Coast. Foto: Tourism Australia

Setelah menyisir sepanjang pesisir Timur Australia, pesawat kemudian mulai menurunkan ketinggian di kisaran 2.800 kaki ketika sampai di Gold Coast, Brisbane. Di sini, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan pasir putih khas Australia, biru laut, serta beberapa gedung pencakar langit.

3. Sunshine Coast, Queensland

Sunshine Coast. Foto: Daily Queensland

Setelah melewati Gold Coast, pengunjung disuguhkan dengan pemandangan indah pantai yang nyaris serupa dengan pantai tersebut, Sunshine Coast. Bedanya, pantai ini tak terdapat gedung tinggi sehingga lebih memanjakan mata tanpa terhalang bangunan.

4. Coolum Beach

Coolum Beach. Foto: Qatas

Masih sepanjang garis pantai Timur Benua Australia, dengan kecepatan agak pelan dan ketinggian rendah, peserta penerbangan tanpa tujuan Qantas disuguhkan dengan pemandangan Coolum Beach. Menariknya, warga yang berada di pantai melakukan penyambutan kecil ke pesawat dengan mengukir pasir dan membentuk tulisan “Visit Us for Real” sebagai undangan tak resmi pengujung ke pantai tersebut di kemudian hari.

5. Hamilton Island

Hamilton Island. Foto: Reddit

Usai menyusuri tiga pantai, Boeing 787 Dreamliner Qantas dengan nomor penerbangan QF787 kembali melesat di kecepatan dan ketinggian normal. Ketika mendekati Hamilton Island, pesawat dengan nomor registrasi VH-ZND tersebut kembali menurunkan ketinggian di kisaran 1.475 kaki. Pengunjung pun disuguhkan dengan pemandangan indah landskap unik di sekitar pantai, biru laut, dan pasir putih tanpa adanya bangunan apapun.

6. Heart Reef

Heart Reef. Foto: Youtube

Belum usai decak kagum keindahan Hamilton Island, agak melenceng sedikit ke lepas pantai Australia di Timur Laut, peserta penerbangan tanpa tujuan dibuat tercengang dengan keindahan Heart Reef. Terumbu karang berbentuk hati itu merupakan bagian dari gugusan terumbu karang yang melintang di sepanjang Timur Laut Australia, tak jauh dari Hamilton Island. Di sini, pesawat sempat berkeliling sebelum terbang ke destinasi berikutnya.

7. Greet Barrier Reef

Greet Barrier Reef. Foto: GoEco

Melengkapi Hear Reef, pengunjung juga disuguhi dengan pemandangan Greet Barrier Reef. Sebagaimana namanya, terumbu karang ini seperti menjadi tameng sekitar pesisir Timur hingga Timur Laut Australia dari terjangan ombak.

8. Uluru, Ayers Rock

Uluru atau biasa juga disebut Ayers Rock. Foto: ABC

Usai mengunjungi cantiknya terumbu karang dan pantai pesisir Timur hingga Timur Laut Australia, pesawat meluncur ke tengah Australia dengan melahap lima jam perjalanan. Setelah itu, pengunjung diajak melihat formasi batu pasir besar, Uluru atau biasa juga dikenal Ayers Rock, dari ketinggian sekitar 3.900 kaki. Di sini, pengunjung dijelaskan oleh para ahli melalui sambungan telepon satelit layaknya tour guide. Begitu juga saat di destinasi sebelumnya. Setelah 30 menit, pesawat kemudian kembali ke Sydney dan mendarat pada pukul 19.09.

Sanggup Layani Kapal Ferry Bertonase 10.000 Ton, Dermaga IV Merak-Bakauheni Resmi Dibuka

Dermaga IV di pelabuhan Merak dan Bakauheni yang dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry diresmikan pada Senin (12/10/2020). Kehadiran dermaga ini diharapkan akan mampu mendukung layanan operasional angkutan Natal dan Tahun Baru mendatang.

Baca juga: Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, Dermaga IV Pelabuhan Merak dan Bakauheni ini merupakan peningkatan dari dermaga yang sudah ada sebelumnya. Dermaga IV juga bisa melayani kapal-kapal ferry dengan kapasitas 6000-10 ribu GRT.

“Kesiapan dermaga IV untuk beroperasi merupakan solusi agar kegiatan mobilisasi barang maupun manusia antara Pulau Jawa dan Sumatera berjalan lancar,” ujarnya Budi Setiyadi yang dikutip dari keterangan tertulis.

Dia mengatakan, pelabuhan memiliki peran vital dalam perekonomian nasional dan daerah untuk menjamin kelancaran, keamanan, ketertiban dan keselamatan berlayar. Sehingga dikatakan Budi Setiyadi, pemeliharaan fasilitas pelabuhan mutlak dilaksanakan.

“Hal ini juga harus menjadi perhatian ASDP selaku operator Pelabuhan bahwa pemeriksaan fasilitas pelabuhan secara rutin merupakan tools untuk dapat melaksanakan langkah tindak lanjut dalam melaksanakan pemeliharaan berkala. Dengan langkah ini diharapkan tidak akan terjadi kerusakan yang bersifat mayor dan gagal fungsi pada fasilitas Pelabuhan,” kata dia.

Budi Setiyadi menambahkan, bertambahnya dermaga, maka bertambah pula frekuensi keberangkatan maupun kedatangan kapal setiap hari. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan, dalam menunjang konsep Poros Maritim dan memenuhi tuntutan kebutuhan angkutan penyeberangan yang andal dan memadai, maka ASDP melakukan revitalisasi dan peningkatan kapasitas dermaga Moveable Bridge (MB) dermaga IV di Merak dan Bakauheni, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di lintasan tersibuk ini.

“Alhamdullilah, pembangunan dermaga IV Merak-Bakauheni telah rampung tepat waktu dalam satu tahun, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di lintasan tersibuk ini.  Dalam waktu dekat, dermaga ini dapat mendukung operasional layanan Angkutan Natal dan Tahun Baru mendatang,” tutur Ira.

Proyek dermaga IV Merak-Bakauheni senilai Rp379 miliar ini dibangun oleh kontraktor PT PP Pembangunan Perumahan yang tentunya telah memenuhi syarat baik klasifikasi dan kualifikasi dalam pekerjaan proyek ini. Dermaga IV Merak dengan tipe Breasting Dolphin, memiliki panjang 120 meter dengan pola sandar buritan mampu disandari kapal ukuran 6000-10 ribu GRT.

Untuk dermaga Bakauheni, dengan tipe Quay Wall, panjang 150 meter dengan pola sandar haluan juga mampu disandari kapal ukuran 6000-10 ribu GRT. Ira menambahkan, keberadaan dermaga IV di Merak dan Bakauheni dengan asumsi masing-masing dapat disandari oleh lima kapal, akan menambah kapasitas minimal empat trip kapal per 24 jam atau 20 trip per dermaga dari satu sisi. Sehingga kini total kapasitas trip di Pelabuhan menjadi rata-rata maksimal 140 trip dari total 7 dermaga yang beroperasi per 24 jam.

Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik

Ia menambahkan, Pelabuhan Merak dan Bakauheni menjadi salah satu prasarana vital dan penting dalam roda perekonomian di Tanah Air karena menghubungkan dua pulau besar yang menjadi pusat perekonomian di Indonesia. Penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi lintasan tersibuk yang dikelola ASDP dengan total sekitar 60 kapal yang standbye beroperasi di lintasan ini.