Kucurkan Rp2,2 Triliun, Mahasiswa 27 Tahun Jadi Pemilik Baru Maskapai El Al

Eli Rozenberg, mahasiswa Yeshiva University (institusi Yahudi utama dunia untuk pendidikan tinggi), resmi menjadi pemilik atau bos baru maskapai penerbangan nasional Israel, El Al. Hal itu terjadi usai satu-satunya tawaran dari mahasiswa berusia 27 tahun itu, senilai US$150 juta atau sekitar Rp2,2 trliiun (kurs Rp14.700) diterima oleh maskapai. Dana tersebut nantinya akan menjadi modal tambahan El Al untuk bertahan di tengah krisis akibat virus Corona.

Baca juga: Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal

Sebetulnya, selain Eli Rozenberg, David Sapir, seorang pengusaha pariwisata dan telekomunikasi berdarah Rusia-Israel dan Meir Gurvitz, seorang pengusaha real estate berdarah Inggris-Israel, juga ikut memperebutkan El Al. Hanya saja, sampai tenggat waktu penawaran terakhir ditutup, kedua pengusaha keturunan Yahudi itu tak mengajukan penawaran apapun.

Dilansir ynetnews.com, dengan kucuran dana segar sebesar itu (Rp2,2 trliiun), perusahaan mahasiswa Yahudi kelahiran New York, Amerika Serikat ini, Kanfei Nesharim Aviation (travel agen yang berbasis di Brooklyn, New York, dan Buenos Aires, Argentina dimana Amerika Latin dan Timur Tengah menjadi fokus utamanya), diketahui menjadi pemegang saham mayoritas sekitar 42,85 persen. Adapun sisanya dimiliki negara dan perusahaan lain.

“Negara, yang telah berkomitmen untuk membeli saham tak terencana sebagai bagian dari stimulus paket penyelamatan perusahaan, membeli sekitar $30 juta atau setara dengan 12-15 persen saham dari perusahaan,” tulis The Times of Israel.

Pada bulan Juni, Kementerian Keuangan Israel merumuskan stimulus bantuan sebesar NIS 1,4 miliar ($400 juta), dengan jaminan 75 persen dari total bantuan jika terjadi kredit macet atau gagal bayar. Hal itu terpaksa dilakukan mengingat keuangan maskapai sudah dalam kondisi kritis.

Meski demikian, pemerintah berargumen bahwa masalah maskapai ini, seperti tenaga kerja yang membengkak, gaji tinggi, dan neraca yang lemah, sudah dimulai jauh sebelum adanya pandemi Covid-19. Karenanya, Pemerintah Israel meminta maskapai El Al Israel Airlines untuk melakukan pembenahan, termasuk juga regulasi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Pembenahan tersebut juga menjadi syarat yang harus dipenuhi maskapai yang berpusat di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv itu sebelum pemerintah Israel menyetujui untuk memberikan bantuan sebesar US$400 juta pada Juni lalu.

Sejak penerbangan internasional runtuh akibat pandemi virus Corona, El Al setidaknya sudah mem-PHK sebanyak 6.000 karyawan atau sekitar 90 persen dari total karyawan. Maskapai tersebut tak punya pilihan lain mengingat perusahaan tak mempunyai pangsa pasar penerbangan domestik yang kuat layaknya Indonesia, AS, Cina, Rusia, dan negara-negara lainnya.

Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi

Masa pandemi banyak membuat moda transportasi mengalami kemerosotan dalam hal pendapatan, seperti alah satunya adalah Damri yang sebagian besar sektor pemasukannya berasal dari layanan bus bandara. Dan ketika trafik dan jumlah penerbangan anjlok, maka otomatis berimbas pada kinerja keuangan pada BUMN tersebut.

Baca juga: Damri JA Connection Buka Rute Pondok Cabe – Bandara Soekarno-Hatta

Meski tengah menghadapi tantangan berat, Perum Damri perlahan mulai bangkut kembali dan baru-baru ini, menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Pengelola Keuangan Haji atau BPKH untuk menyediakan layanan transportasi bagi Jemaah Haji dan Umrah di Arab Saudi. Adanya hal ini sendiri merupakan bagian dari strategi ekspansi bisnis Damri ke luar negeri.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara mengatakan, akan memberikan layanan terbaik dan melakukan transformasi budaya kerja dengan telibat langsung di proyek internasional termasuk layanan ibadah Haji dan Umrah.

“Dengan keterlibatan Damri dalam proyek internasional bisa meningkatkan juga kapabilitas dan transformasi budaya Damri. Sehingga dari sisi kualitas layanan maupun kinerja, performance bisnis dan keuangan semakin baik,” ujar dia.

Sayangnya belum dibeberkan secara jelas kapan hal ini bisa terealisasi. Selain itu, Damri juga berkolaborasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry dalam hal penyediaan layanan angkutan bus bagi penumpang.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, nantinya layanan bus Damri akan tersedia bagi penumpang ferry yang akan melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan Sosoro Merak menuju ke Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan kawasan pariwisata Tanjung Lesung, Banten.

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Shelvy Arifin mengatakan, sinergsitas layanan angkutan dengan Damri ini sebagai wujud komitmen dalam mendukung layanan transportasi intermoda di lingkungan Pelabuhan Merak yang dikelola ASDP. Sebelumnya, telah ada integrasi layanan transportasi kapal dengan kereta api di Pelabuhan Merak, lalu dengan bus (melalui Terminal Terpadu Merak), dan kini bekerja sama dengan Damri menyediakan transportasi bagi penumpang yang akan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan kawasan wisata Tanjung Lesung.

“Kami berusaha agar pengguna jasa dari Pelabuhan Merak semakin mudah mengakses layanan transportasi dari dan ke bandara Soekarno-Hatta maupun ke Tanjung Lesung. Permintaan untuk ketersediaan layanan angkutan lanjutan ini memang cukup tinggi, dan kami berusaha untuk merespon pasar,” ujar Shelvy.

Selama bulan Oktober 2020 ini, ASDP dan Damri melakukan uji coba operasional layanan bus Damri dari Mal Sosoro Terminal Eksekutif Merak menuju Bandara Soetta dan Tanjung Lesung, yang dilayani setiap hari per 2-3 jam.  Untuk tujuan ke Bandara Soetta disiapkan moda bus dengan kapasitas 39 kursi, sedangkan untuk ke Tanjung Lesung disiapkan kendaraan jenis Elf dengan kapasitas lima kursi.

Lain dari itu, Damri juga mendukung Dinas Perhubungan di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menjadi operator bus ramah lansia, disabilitas dan lingkungan. Untuk trayeknya sendiri adalah kota Mataram yang akan melalui beberapa sekolah luar biasa dan sekolah umum serta melayani kaum disabilitas untuk beraktivitas.

Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Barat telah bekerja sama dengan Damri untuk mengoperasikan bus ramah difabel yang akan mulai beroperasi mulai 1 Oktober 2020 besok. Bus dengan merk Hino RK ini memiliki kapasitas 70 orang dilengkapi dengan fasilitas tangga hydraulic otomatis dan ruang khusus pengguna kursi roda sebanyak sepuluh titik. Memiliki karakteristik torsi yang tinggi sejak putaran rendah, dengan demikian dapat mengefisiensikan pemakaian bahan bakar.

Baca juga: Tak Lagi Repot ke Loket, Beli Tiket Bus Damri Bisa Pakai Damri Apps

Adapun waktu keberangkatan dari Pool Damri Sweta Mataram yakni pukul 06.30 WITA dengan waktu tiba di Sekolah Luar Biasa Selagalas pukul 08.00 WITA. Sedangkan untuk rute sebaliknya dari Sekolah Luar Biasa Selagalas yakni pukul 12.00 WITA dengan waktu tiba di Pool DAMRI Sweta Mataram pukul 14.00 WITA. Dengan tarif gratis.

Ada Sajian Sate Vegetarian di Restoran A380 Singapore Airlines, Segini Harganya

Singapore Airlines menawarkan sajian spesial sate non daging alias sate ramah vegetarian. Hidangan untuk kelas bisnis dan kelas satu yang hadir dengan saus kacang pedas merupakan bagian dari tiga inisiatif baru maskapai dalam balutan Discover Your Singapore Airlines. Dengan begitu, pelanggan bisa makan sate sepuasnya tanpa takut kolesterol atau darah tinggi.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Tiga itu, mulai dari makan siang mewah di pesawat Airbus A380, tur keliling fasilitas pelatihan maskapai terbaik di dunia pada tahun 2018 dan terbaik ke-2 tahun 2019 versi Skytrax ini, hingga layanan pesan-antar (delivery) sajian mewah khas penerbangan.

Dilansir situs resmi perusahaan, Singapore Airlines (SIA) membanderol makan siang selama tiga jam di kabin kelas ekonomi Airbus A380 hanya sebesar $50 atau sekitar Rp750 ribu (kurs 14.800).

Bagi pelanggan yang menginginkan berbagai hal lebih, mulai dari sajian mewah dari koki terkenal Singapura, Shermay Lee, pemandangan, servis, fasilitas, serta desain jauh lebih mewah dibanding kabin kelas ekonomi, mereka dapat menikmati makan siang mewah di ultra first-class suites A380 SIA dengan mahar sebesar $600 atau sekitar Rp9 juta (kurs 14.800).

Tapi tenang, bila harga tersebut masih terlalu mahal, pengunjung bisa saja mendapatkan diskon di KrisShop, goodie bag edisi terbatas, dan hadiah tambahan jika datang ke restoran pop-up A380 Singapore Airlines menggunakan pakaian tradisional.

Layanan ini sudah bisa dipesan mulai 12 Oktober dan akan dibuka pada 24-25 Oktober mendatang. Di antara sajian mewah dalam restoran pop-up pesawat Airbus A380 yang di parkir di Bandara Changi ini, sate (satai) vegetarian atau Impossible Meat adalah salah satunya.

Sebagaimana namanya, satai yang disajikan tak menggunakan daging ayam, domba, dan sapi, tapi diganti dengan hidangan ramah vegetarian yang dibuat oleh Impossible Foods California untuk memberikan rasa dan tekstur yang sama.

Satai ini tidak hanya untuk vegetarian dan vegan. Namun, seperti pengganti daging modern lainnya, satai ini juga merupakan pilihan sesekali untuk karnivora yang sadar kesehatan. Pihak Singapore Airlines mengatakan satai dengan Impossible Meat ini dibuat secara khusus untuk melengkapi makanan vegetarian.

Selain tersedia di restoran pop-up Airbus A380 Singapore Airlines di Bandara Changi, sate (satai) vegetarian atau Impossible Meat satay tersebut juga tersedia dalam layanan SIA@HOME, sebuah layanan pesan-antar (delivery) makanan mewah yang biasa dihidangkan SIA untuk para penumpang kelas bisnis dan kelas satu (first- or business-class). Setiap menu menampilkan sate khas SIA. Hidangan sate khas SIA tersebut spesial buatan empat chef internasional SIA; Australia, Jepang, India, dan Perancis.

Untuk first class meals SIA, harganya dibanderol mulai dari $448 atau Rp6,6 juta (kurs 14.800). Adapun untuk business class meals SIA dalam program ini, dibanderol mulai $288 atau sekitar Rp4,3 juta (kurs 14.800). Layanan ini sudah bisa dinikmati mulai 5 Oktober 2020.

Baca juga: 14 Tahun Jadi Pramugari Singapore Airlines, Kini Alih Profesi Menjadi Perawat Medis

Sebelum menyantap menu spesial sate khas SIA tersebut, pelanggan juga disuguhkan dengan first class atau business class amenity kit maskapai, seperti welcome videos, panduan cara memanaskan dan menghidangkan makanan, serta playlist kurasi spesial yang sudah di-create ulang untuk menghadirkan sensasi terbang di kabin pesawat SIA di rumah.

Edisi terbatas dalam program SIA@HOME juga memberikan kesempatan pada pelanggan untuk menikmati berbagai fasilitas di dalam pesawat SIA, seperti gelas kristal Lalique, pakaian tidur Lalique first class, perlengkapan makan Wedgwood dan Narumi, dan berbagai fasilitas lainnya.

Sulit Pompa ASI, Senator Tammy Duckworth Prakarsai Ruang Laktasi di Bandara Amerika Serikat

Apakah ruang laktasi dibutuhkan di bandara? Jawabannya ya, karena penumpang bandara juga banyak yang merupakan seorang ibu dan bepergian dengan bayi mereka. Para ibu ini membutuhkan ruang laktasi untuk menyusui bayi mereka atau sekedar memompa ASI (air susu ibu) sebagai persediaan.

Baca juga: Tujuh Bandara Ini Jadi Yang Terbaik Untuk Fasilitas Nursery Room

Ruang laktasi hadir di bandara Amerika Serikat setelah seorang Senator bernama Tammy Duckworth yang akan memompa ASI. Saat itu, dirinya disarankan untuk memompa ASI di toilet bandara. Hal itu terjadi ketika dia memiliki putri pertama pada tahun 2015 lalu.

Ruang laktasi di bandara (businessinsider.com)

Tammy saat itu kesulitan apalagi dirinya kerap kali bolak-balik antara Illinois dan Washington DC untuk bekerja dan masih memompa ASI untuk bayinya. KabarPenumpang.com melansir laman businessinsider.com (10/10/2020), kala itu, dirinya sering kali tidak dapat menemukan tempat untuk memompa ASI.

“Saya diberitahu untuk menggunakan kios orang cacat, toilet, yang menjijikkan. Anda tidak akan makan sandwich di sana. Mengapa Anda meminta saya untuk memompa ASI untuk putri saya? Itu tidak sehat,” kata Senator Tammy.

Karena kesulitannya ini, pada 2015, Tammy mensponsori RUU untuk membantu memasukkan ruang laktasi ke bandara. Namun, sayangnya upaya tersebut gagal dan pada 2018, Friendly Airport for Mother ATC yang disponsori Tammy diberlakukan.

Undang-undang baru memastikan bahwa bandara menengah dan besar dapat menggunakan dana dari program peningkatan bandara. Biasanya dana ini digunakan untuk perbaikan gedung terminal, perluasan lanadasan pacu. Tetapi saat ini juga digunakan untuk penamabahan area laktasi pribadi.

Tetapi bandara kecil yang diklasifikasi Federal Aviation Administration atau FAA sebagai bandara yang menerima 0,05 hingga 0,25 persen dari rencana komeriasl Amerika Serikat tahunan tidak dimasukkan dalam persamaan. Tammy mengatakan ini menjadi masalah karena banyak pelancong memulai perjalanan mereka dari bandara kecil sebelum mengambil penerbangan di hub yang lebih besar.

“Tempat terbaik [bagi para penumpang] untuk memeras ASI, ini benar-benar penerbangan awal. Dan itu adalah bandara kecil,” kata Tammy.

Baca juga: Megaproyek Kereta Peluru India, Dilengkapi Nursery Room dan Toilet Terpisah

Meskipun ada penundaan karena pandemi virus corona, Kongres awal bulan ini mengesahkan Undang-Undang Peningkatan Bandara Ramah Ibu, yang juga memperpanjang penggunaan pendanaan Perbaikan Bandara untuk ruang bersalin ke bandara kecil. Presiden Trump diharapkan untuk menandatanganinya menjadi undang-undang. RUU itu akan berlaku saat bandara dan pelancong keluar dari pandemi.

“Ketika kita mulai bepergian lagi, para ibu yang bekerja di luar rumah, dan keluarga yang bepergian, sebenarnya akan mendapatkan manfaat ini,” kata Tammy.

Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Kenapa pesawat komersial berjadwal dilarang terbang atau melintas Benua Antartika? Pertanyaan tersebut sering kali dijumpai saat membahas berbagai misteri dari benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi ini.

Baca juga: Ini Dia Jawaban Kenapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Ka’bah!

Sebagian kalangan mengaitkan, tidak melintasnya pesawat di atas benua yang hampir seluruhnya terletak di Lingkar Antarktika dan dikelilingi oleh Samudera Pasifik, Samudera Atlantik, dan Samudera Hindia ini dengan Admiral Byrd. Admiral Byrd adalah seorang penjelajah dari Amerika Serikat yang terkenal karena penjelajahannya pada benua Antartika dan lautan Arktik.

Pada saat melakoni ekspedisi di Benua Antartika menggunakan pesawat Fokker F-VII, ia mengaku melihat daratan lain sebesar Amerika Serikat, yang tak pernah dikunjungi manusia. Bagi penganut teori konspirasi Bumi Datar, Benua Antartika menyimpan sisi lain bumi yang tak diketahui dan tak boleh diakses oleh publik.

Terlepas dari itu, teka-teki larangan pesawat komersial berjadwal melintas masih terus membuat penasaran dunia. Namun, pendapat dari Leo Moran, tutor bahasa Inggris ini mungkin bisa sedikit menjawab teka-teki tersebut.

Dikutip dari express.co.uk, Moran mengatakan, “Selama Pemerintahan Reagan (Presiden AS ke-33 dengan masa jabatan mulai 20 Januari 1981 – 20 Januari 1989), Administrator FAA, J. Lynn Helms, memutuskan bahwa pesawat-pesawat yang terbang harus berjarak sekitar 1 jam penerbangan dari bandara terdekat jika terjadi keadaan darurat, sehingga pesawat bisa mendarat.”

Aturan tersebut kondang dikenal dengan sebutan “60-minute rule” atau dikenal juga Extended Range Operation Two-Engine Airplanes (ETOPS). Saat itu, ETOPS mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Akan tetapi, saat ini, pesawat sudah mampu mengudara selama berjam-jam lamanya sekalipun hanya dengan satu mesin. Airbus A330-900, misalnya, berhasil terbang 4 jam 45 menit dengan satu mesin saat meraih sertifikasi ETOPS. Faktanya, maskapai yang menggunakan pesawat tersebut atau pesawat lainnya dengan kemampuan setara atau di bawahnya tetap tak kunjung diizinkan untuk melayani penerbangan berjadwal melilntasi Benua Antartika.

Lebih lanjut, Moran menjelaskan, Benua Antartika tak boleh dilintas pesawat komersial berjadwal sebab, di sana terdapat medan magnet cukup kuat. “Terbang di wilayah kutub yang kuat magnet buminya adalah mimpi buruk bagi setiap pilot. Sebab, arah navigasi pada radar menjadi tidak berarti,” ujarnya.

Meski demikian, faktanya, penerbangan charter/joy flight tetap takdiperbolehkan melintas di benua tersebut. Jadi, alasan medan magnet membahayakan navigasi pesawat nampaknya tak sepenuhnya bisa diterima.

Sejauh ini, beberapa pesawat dengan ukuran yang kecil seperti pesawat perintis memang masih bisa terbang ke Antartika. Itu adalah pesawat-pesawat yang membawa para peneliti, serta yang membawa pendaki gunung untuk mendaki salah satu Seven Summit dunia, Vinson Massif.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Terbang Lurus? Inilah 5 Alasannya

Sebelum benar-benar dilarang, sebetulnya, pesawat komersial berjadwal pernah melintas di atas Benua Antartika sampai akhirnya pesawat milik maskapai Air New Zealand mengalami kecelakaan di Antartika pada 28 November 1979. Akibat kecelakaan pesawat flight 901 tersebut, 257 orang tewas dilaporkan tewas. Insiden yang juga sering disebut Kecelakaan Mount Erebus ini usai jatuh di lereng Gunung Erebus, Pulau Ross, akhirnya menjadi awal dari larangan penerbangan melintasi Benua Antartika.

Pada dekade 1970, perjalanan udara ke Antartika memang sempat populer di kalangan wisatawan. Mereka penasaran untuk melihat-lihat panorama benua paling selatan di bumi tersebut. Salah satu jenis penerbangan yang terkenal adalah terbang mengelilingi Tebing Es Ross. Pemandangan indah di sekitar wilayah tersebut menjadi daya tarik utama.

Garuda Indonesia Rilis Boeing 737-800NG dengan Masker “Indonesia Pride”

Setelah beberapa waktu lalu menampilkan Airbus A330-900 Neo dengan livery masker pada bagian hidung, maka Garuda Indonesia kembali merilis pesawat kedua yang diberi livery masker, kali ini dengan tajuk “Indonesia Pride,” Garuda Indonesia mencat area hidung pada pesawat narrow body Boeing 737-800NG.

Baca juga: Pesawat Garuda Indonesia Pakai Masker, Maskapai Ini Sudah Lebih Dulu Loh

Desain livery masker tersebut merupakan karya dari Jailani pemenang kompetisi “Fly Your Design Through the Sky” tahap pertama yang diselenggarakan pada periode 1 Oktober 2020 hingga 9 Oktober 2020 lalu. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Melalui kompetisi “Fly Your Design Through The Sky” ini, kami ingin mengajak masyarakat luas berperan aktif dalam menyuarakan pentingnya penggunaan masker pada masa pandemi, dengan menuangkan kreativitasnya pada desain masker yang akan terpasang di 4 (empat) pesawat Garuda Indonesia secara bertahap ini.”

Desain mask livery ini mengangkat tema kebanggaan atas kekayaan ragam budaya dan pesona alam Indonesia antara lain dengan menampilkan motif Barong Bali, simbol eksotisme candi, ikon fauna khas Indonesia – komodo serta berbagai representasi kekayaan budaya dan pesona alam nasional lainnya.”Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Artha Graha Peduli yang turut menduking kampanye penggunaan masker melalui Inisiatif program mask Livery Garuda Indonesia”, jelas Irfan.

Baca juga: Pesawat Pakai Masker Kini Jadi Kenyataan!

Kompetisi desain mask livery “Fly Your Design Through The Sky” akan diselenggarakan sepanjang bulan Oktober 2020 yang terbagi menjadi 4 tahap pengumuman pemenang yakni ; Pemenang ke-1: 12 Oktober 2020, Pemenang ke-2: 16 Oktober 2020, Pemenang ke-3: 23 Oktober 2020, dan Pemenang ke-4 : 9 November 2020.

Sembunyikan Heroin di Celana Dalam dan Bra, Pramugari Asal Malaysia Dipenjara di Melbourne

Seorang pramugari asal Malaysia diganjar hukuman penjara selama sembilan tahun oleh Pengadilan Melbourne, Australia karena perannya dalam sindikat kejahatan canggih yang membanjiri negara Bagian Victoria dengan obat-obatan terlarang. Pramugari ini divonis karena menyembunyikan heroin senilai jutaan dolar di dalam pakaian dalamnya.

Baca juga: Ganja Legal di California, Tapi Tak Bisa Dibawa Melalui Bandara

Pramugari bernama Zailee Zainal memiliki posisi istimewa karena bekerja untuk Malaysian Airlines dan Malindo Air. Dilansir KabarPenumpang.com dari paddleyourownkanoo.com (8/10/2020), Zailee menyelundupkan heroin ke Australia setidaknya delapan kali sejak Oktober 2018 dan Januari 2019 hingga akhirnya dia ditangkap. Saat ini Zailee membantu menyelundupkan sedikitnya empat kilogram heroin ke Australia dengan perkiraan nilai jalan A$3 juta.

heroin yang dimasukkan dalam bra oleh pramugari Malaysia (paddleyourownkanoo.com)

Heroin tersebut disembunyikannya di celana dalam dan bra, kemudian dia mengantarnya ke hotel untuk ditukar dengan pembayaran tunai. Diketahui, Zailee setuju melakukan hal tersebut demi melunasi tagihan medis putrinya yang menumpuk di rumah sakit.

Saat diadili, pengadilan mendengar bagaimana dia menghabiskan tiga bulan belajar bagaimana berjalan dengan bantal diantara kedua kakinya hingga bisa melewati bandara dengan heroin tersebut tanpa terdeteksi. Selama penerbangan, pramugari 40 tahun tersebut menyembunyikan obat-obatan itu di toilet sebelum kembali menyembunyikan di celana dalam dan bra.

Namun pada 6 Januari 2019, Zailee terpilih untuk pencarian acak oleh Pasukan Perbatasan Australia di Bandara Melbourne Tullamarine. Dia mengatakan kepada petugas bahwa dia tahu dia membawa narkoba ketika bungkusan itu ditemukan padanya tetapi membantah mengetahui itu adalah heroin.

Zailee mengaku bersalah atas satu tuduhan mengimpor sejumlah komersial obat-obatan yang dikendalikan perbatasan tetapi Hakim Pengadilan Wilayah Michael Cahill mengatakan dia pantas mendapatkan keringanan hukuman.

“Ada tempat untuk melaksanakan belas kasihan dalam menjatuhkan hukuman,” kata hakim saat Zailee menangis di pengadilan.

“Anda merasa tidak punya pilihan lain selain melakukan kejahatan. Anda sangat ingin mengumpulkan uang untuk membayar operasi yang dibutuhkan putri Anda guna meningkatkan kualitas hidupnya,” tambahnya.

Zailee telah mengembalikan rumahnya dan bahkan menjual brownies dalam upaya untuk mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan putrinya. Dia bahkan menghubungi departemen sumber daya manusia di Malindo Air yang setuju untuk mengirimkan email kepada rekan-rekannya sebagai bagian dari upaya crowdfunding.

Baca juga: Ganja Legal di California, Tapi Tak Bisa Dibawa Melalui Bandara

Pada titik inilah seorang ‘teman’ mengiriminya email dengan proposal bisnis. Zailee mengatakan kepada pengadilan bahwa dia “rentan” dan setuju untuk mengambil bagian dalam skema tersebut. Dia mungkin memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat setelah empat tahun dan sembilan bulan dan Zainal telah menjalani 640 hari dalam penahanan pra-sidang.

Kompetisi Desain Bandara Global Diumumkan Fentress

Fentress Global Challenge (FGC) 2020 mengadakan kompetisi desain siswa global tahunan yang dibuat oleh Fentress Architecs. Dalam kompetisi tersebut ada seratus entri yang dikirimkan dari siswa di lebih dari 15 negara dengan kompetisi tahun ini yang menantang peserta untuk membayangkan mobilitas udara tahun 2100.

Baca juga: Futurebus, Desain Bus Dimasa Pandemi yang Memenangkan Kontes

KabarPenumpang.com melansir passengerterminaltoday.com (6/10/2020), pemenang kompetisi ini adalah Green Gateway yang merupakan hub multimoda tanpa emisi dan sangat berkelanjutan.

“Semangat yang dalam untuk desain dan pola pikir kreatif adalah landasan dari setiap pengajuan kompetisi desain yang sukses,” kata Curtis Fentress, FAIA, RIBA, kepala sekolah yang bertanggung jawab atas desain di Fentress Architects.

Cuntris mengatakan, setiap tahun, pengiriman yang mereka terima lebih inovatif, bersemangat, dan dinamis dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan prospek yang menarik untuk masa depan desain terminal.

“Kami sangat terkesan dengan para pemenang tahun ini dan setiap pengiriman yang kami terima,” kata dia.

Konsep pemenang, dirancang oleh Nikhil Bang dan Kaushal Tatiya dari Southern California Institute of Architecture (SCI-Arc), mengubah Bandara Internasional Indira Gandhi menjadi pusat multimoda yang berpikiran maju dan berkelanjutan serta mengurangi dampak lingkungan dari perjalanan udara sambil meningkatkan mobilitas di seluruh penjuru.

Desain, dijuluki ‘Gerbang Hijau’ atau Green Gateway, yang mengusulkan masa depan di mana bandara lebih dari sekadar bangunan. Desain ini menyediakan koneksi tanpa batas ke konteks budaya situs, mulai dari perencanaan hingga bentuk dan materialitasnya.

Merangkul strategi desain berkelanjutan, konsep nol emisi menampilkan sistem desentralisasi dari satu terminal pusat dan enam menara yang tersebar di seluruh kota. Bahkan, menara menyediakan tujuan ganda, berfungsi sebagai pusat pemurni udara dan stasiun untuk mobil terbang.

Solusi ini secara signifikan meningkatkan mobilitas di seluruh kota dengan menggantikan penerbangan domestik sebagai salah satu sumber utama polusi. Kiriman siswa menggambarkan desain bandara sebagai nol emisi di tingkat makro dan mikro, meningkatkan mobilitas di seluruh kota dengan mengganti penerbangan domestik sebagai salah satu sumber utama polusi dan membuat perjalanan udara menjadi urusan seseorang.

Posisi kedua ditempati oleh Dušan Sekulic, mahasiswa Universitas Ljubljana, Slovenia. Konsep mereka menata ulang Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (ATL) yang merupakan bandara tersibuk di dunia sebagai bandara drive-in dengan pod yang sepenuhnya otonom, kursi mengemudi, navigasi bertenaga AI, serta lepas landas dan pendaratan vertikal ( VTOL) pesawat.

Di tempat ketiga adalah Kota Aero Terapung, yang dirancang oleh Yuanxiang Chan, Chaofan Zhang dan Zhuangzhuang King dari Universitas Jiaotong Beijing, yang menurut juri memberikan pendekatan visioner untuk desain berkelanjutan. Berlokasi di Hong Kong, konsep bandara menanggapi kondisi iklim subtropis situs dan masalah kepadatan tinggi.

Baca juga: Arab Saudi Pamer Desain Bandara Baru Mirip Fatamorgana di Tengah Padang Pasir

Dengan mengambang di laut, platform tiga dimensi yang dapat dipindahkan dari bandara mengurangi dampak pada medan alami sekaligus menambah ketersediaan lahan. Bentuk vertikal struktur secara signifikan mengurangi waktu yang dibutuhkan penumpang untuk mengalir dari check in ke boarding, meningkatkan pengalaman penumpang secara keseluruhan.

Pengemudi Ojek Sepeda di Kigali Wajib Pakai Helm

Operator ojek sepeda di Kigali, Rwanda dikenal secara lokal sebagai abanyonzi dan sejak 21 Maret kemari dilarang beroperasi sebagai tindakan pencegahan penyebaran Covid-19. Kemudian setelah enam bulan tidak beroperasi, akhirnya para ojek sepeda ini kembali beroperasi setelah rapat kabinet yang diadakan oleh pemerintah Kigali.

Baca juga: Berkat Teknologi GPS, Lampu Sein di Sepeda Bisa Menyala Otomatis

Namun meski diperbolehkan kembali beroperasi, para pengemudi ojek sepeda ini harus mematuhi langkah-langkah keselamatan lainnya termasuk mengenakan helm. KabarPenumpang.com melansir newtimes.co.rw (3/10/2020), karena hal ini para pengemudi ojek sepeda dilema meski diberi lampu hijau, mereka mengaku bingung terkait arahan wajib mengenakan hal tersebut.

“Kami menghargai pemerintah yang mengizinkan kami untuk melanjutkan, karena kami berjuang untuk mencari nafkah karena kami tidak memiliki pekerjaan. Sekarang kami bekerja, kami akan bisa memberi makan keluarga kami lagi,” kata Eric Tuyisenge.

“Sampai sekarang, kami tidak tahu jenis helm yang harus kami beli, harganya, atau di mana menemukannya. Saya kira pemerintah harus memberikan lebih banyak informasi tentang arahan baru itu, kalau tidak, kami akan tetap dilema,” kata pengemudi sepeda penumpang lainnya, Charles Hategekimana.

Bahkan dilema ini pun menjadi lebih nyata ketika para pengemudi ojek sepeda tak mampu membeli helm karena enam bulan tak beroperasi. Tito Rutagengwa pengemudi yang beroperasi di Sektor Masaka, Kabupaten Kicukiro mengatakan, masa dilanda pandemi saat ini mereka kesulitan membeli helm.

“Sudah enam bulan tidak bekerja. Karena itu, saat ini kami tidak ada yang mampu membeli helm, kecuali jika koperasi kami bernegosiasi dengan pemasok dan kami membayar dengan mencicil,” jelasnya.

Rutagengwa menambahkan, pihaknya menyimpulkan bahwa arahan tersebut merupakan kepentingan untuk mereka dalam hal keselamatan. Dia mengaku memahami hal tersebut, tetapi hanya memiliki sedikit uang dan banyak tanggung jawab yang dimiliki sehingga membuat mereka tidak mungkin untuk mematuhi arahan dalam sekejap mata.

Laporan mengatakan bahwa sepasang helm (untuk pengendara dan penumpang) berharga Rp14 ribu. Rata-rata, kata Rutagengwa, seorang pengendara sepeda motor berpenghasilan Rwf1.500 per hari dan banyak dari mereka di Kigali memiliki keluarga yang mereka rawat dan rumah yang mereka sewa.

Baca juga: Pengamat Transportasi: Bila Pesepeda Masuk Jalan Tol, Faktor Keselamatan Jadi Taruhan

Sumber dari Kota Kigali mengatakan, pertemuan antara pemerintah kota, Polisi Lalu Lintas dan pengendara ojek antara pemangku kepentingan lainnya dijadwalkan untuk membahas tantangan implementasi arahan tersebut.

Bangkitkan Kecintaan Pada Sejarah, Di Kolkata India Ada Perpustakaan Keliling Menggunakan Trem

Perpustakaan bergerak biasanya menggunakan bus atau mobil keliling. Namun bagaimana jika perpustakaan tersebut hadir dengan menggunakan sebuah trem? Rasanya ini tak masalah dan bisa saja ruang di trem lebih besar dibandingkan bus atau mobil perpustakaan.

Baca juga: Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia

September 2020, kota Kolkata (d/h kalkuta) menghadirkan perpustakaan trem pertama di India. Perpustakaan ini akan melintasi jalan di Kolkata dari Shyambazar di utara ke Esplanade di pusat kota Kolkata. Kehadiran perpustakaan ini dalam upaya untuk menarik para pelajar dan pecinta buku.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bangaloremirror.indiatimes.com (24/9/2020), kehadirannya juga untuk membangkitkan kembali kecitaan pada sejarah transportasi. Isi dari perpustakaan di dalam trem adalah buku-buku fisik yang bisa dibaca di dalam trem.

Kemudian ada WiFi gratis dan pena gratis bagi pengunjung di minggu perdana peluncuran perpustakan trem. Kehadiran WiFi gratis memudahkan penumpang yang juga akan berselancar untuk mencari buku online selama perjalanan.

Buku-buku terkait berbagai ujian kompetitif seperti IAS, IPS, WBCS, GRE, GMAT juga akan tersedia di trem. Selain buku, akan ada bagian terpisah untuk majalah. Trem telah didekorasi untuk menciptakan suasana seperti perpustakaan.

“Idenya adalah untuk meluncurkan trem sebagai moda pilihan bagi siswa Kolkata lagi,” kata Rajanvir Singh Kapur, MD dari WBTC yang mengoperasikan Kolkata Tramways.

Dalam perjalanannya dari Shyambazar ke Esplanade, trem akan melewati pusat buku bersejarah di College Street. College Street memiliki bangunan bersejarah seperti Presidency College tempat para tokoh dan terpelajar Bengali belajar dan bekerja, mulai dari Ekonom dan Peraih Nobel Amartya Sen yang terkenal di dunia internasional hingga pemenang hadiah Nobel Abhijit Binayak Banerjee, pernah belajar di Presidency College.

Universitas Calcutta, Hare School, Perguruan Tinggi Sanskerta juga ada di jalan ini. Itu adalah Kolese Sansekerta yang terletak di College Street, tempat Reformis Pendidikan Vidyasagar mengajar dan menjadi Kepala Sekolah di kemudian hari.

“Ada setidaknya tiga puluh institusi pendidikan di rute perpustakaan trem, termasuk Presidensi, Sekolah Gereja Skotlandia, Universitas Bethune, Sekolah Hindu, Sekolah Hare dan Sekolah Perempuan Calcutta,” kata pejabat Perusahaan Transportasi Bengal Barat.

Di masa depan, sesi membaca buku dan festival sastra reguler akan direncanakan di platform perpustakaan trem baru ini. Peluncuran buku juga akan direncanakan, kata sumber West Bengal Transport Corporation.

Meski begitu, di masa pandemi ini, trem juga tetap didesinfeksi dan pengelola menyiapkan sanitasi gerbong trem yang benar dan teratur. Trem sebelum diluncurkan pada 24 September, sudah menjalan uji coba di rute Shyambazar Esplanade pada 22 September.

Baca juga: Trem Kuda di Jakarta Riwayatmu “Doeloe”

Rute Trem di Kolkata juga beroperasi di rute Tollygunge ke Ballygunge, rute Rajabazar ke Jembatan Howrah, rute Gariahat ke Esplanade dan rute Howrah ke Shyambazar.
Kebetulan, WBTC juga memasang karya seni menarik di dalam beberapa trem yang menggambarkan bagaimana trem dimulai pada tahun 1873 dan dialiri arus listrik pada tahun 1900.