Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Mengapa kokpit disebut kokpit? Mungkin, jajaran direksi, manager, staf darat, pramugari, sampai pilot maskapai penerbangan ataupun produsen pesawat di dunia tak banyak yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Atau bahkan, tak ada sama sekali (yang bisa menjawab).

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Pintu Kokpit Cegah Pembajakan? Berikut Ulasannya

Dilansir generalaviationnews.com, setidaknya, ada tiga termasyhur yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan itu; mulai dari the control center hypothesis, the blood and guts hypothesis, dan the nautical connections hypothesis.

Dirunut ke belakang, kata “kokpit” pertama kali digunakan pada tahun 1580-an, digunakan untuk menggambarkan arena adu atau sabung ayam (dengan burung). Tetapi, seiring berjalannya waktu, seperti pandangan Oxford English Dictionary, istilah tersebut berkembang ke arah lain yang tak ada hubungannya dengan sabung ayam, yakni pesawat.

Pada tahun 1635, sebuah teater di London bernama The Cockpit dirobohkan dan didirikan beberapa bangunan baru semata untuk memfasilitas lemari kesukaan Raja Charles I. Rupanya, warga London terus menyebut bangunan-bangunan tersebut sebagai “kokpit” mengacu pada nama teater yang telah dirobohkan. Usut punya usut, teater tersebut rupanya juga bangunan baru, menggusur tempat lama Honest-to-Pete yang merupakan tempat sabung ayam.

Kokpit pada perahu. Foto: BOB JAQUES

Pada akhrinya, Robert Barnhart, dalam bukunya Barnhart Concise Dictionary of Etymology, menyarankan bahwa kokpit berevolusi menjadi sinonim untuk pusat kendali dan pada gilirannya mulai digunakan sebagai tempat pusat kendali pesawat atau kokpit. Begitu sejarah kenapa kokpit disebut kokpit versi hipotesa pusat kontrol atau the control center hypothesis.

Selain digunakan sebagai sinonim untuk pusat kendali, rupanya pada tahun 1700-an, tentara mulai menggunakan “kokpit” sebagai metafora untuk lokasi pertempuran yang mengerikan, terutama ketika pertempuran itu dilakukan di daerah tertutup.

Situs web Word Detective telah menyarankan bahwa kata kokpit kemudian “diadopsi oleh pilot dalam Perang Dunia I, yang menerapkannya pada tempat operasi taktis dengan medan sempit serta sulit dari pesawat tempur mereka.”

Terkait dengan ini, pada abad ke-18, para pelaut yang terluka dibawa ke bawah geladak selama pertempuran, di mana ahli bedah kapal dan rekan-rekannya akan merawat mereka – sebuah bisnis berdarah yang menyebabkan tempat ahli bedah disebut kokpit. Demikian versi kedua asal usul penyebutan kokpit menurut the blood and guts hypothesis atau hipotesis darah dan keberanian.

Ilustrasi Cockswain. Foto: WIKIMEDIA COMMONS

Adapun versi ketiga sejarah penyebutan kokpit menurut the nautical connections hypothesis adalah berasal dari laut, coxswain, yang sangat berbeda dengan dua versi sebelumnya.

Coxswain menggambarkan orang yang menahkodai sebuah kapal kecil. Gelar ini berasal dari “cock”, istilah Inggris Kuno untuk perahu kecil, dan “swain”, yang berarti pelayan. Seiring waktu, gelar ini mengarah ke kompartemen kemudi kapal yang lebih kecil, tempat cockswain duduk, yang disebut kokpit.

Oleh sebab penerbangan awal meminjam sejumlah istilah lain dari laut, banyak pihak menilai bahwa hipotesa ini adalah asal mula penyebutan kokpit seperti yang kita kenal.

BLÉRIOT XI saat terbang perdana pada tahun 1909. Foto: GEORGE GRANTHAM BAIN COLLECTION AT THE LIBRARY OF CONGRESS

Hipotesa tersebut juga terhubung dengan kokpit di pesawat, seperti ditulis dalam buku “Vehicles of the Air” terbitan tahun 1909 karya insinyur penerbangan modern pertama di dunia, Victor Lougheed. Buku tersebut lahir lima tahun sebelum PD I meletus dan enam tahun setelah penerbangan pertama di dunia wirght bersaudara di Kitty Hawk dimulai.

Baca juga: Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya

Dalam buku tersebut, ia menulis, “Akhir-akhir ini, bagaimanapun, beberapa kapal yang lebih modern muncul dengan pengaturan yang sangat nyaman untuk tempat duduk operator (pilot), seperti yang dibuktikan secara khusus pada kokpit mirip perahu yang disediakan oleh Bleriot (pesawat buatan Louis Bleriot, seorang pilot dan produsen pesawat asal Perancis), Antoinette (pesawat monoplane buatan Léon Levavasseur, terinspirasi dari Marie Antoinette sebagai Ratu Prancis terakhir sebelum Revolusi Prancis), dan R.E.P. machines.”

Dengan kecakapan Victor Lougheed di bidang dirgantara, pendapatnya tersebut (terkait tempat kemudi pilot dengan kokpit pada perahu) kemudian diamini oleh banyak orang bak fatwa pada Islam. Pada akhirnya, jadilah kokpit disematkan sebagai pusat kendali pesawat yang dihuni oleh pilot dan co-pilot.

WIFI @ DB Layanan Internet Baru dari Operator Kereta Deutsche Bahn

Deutsche Bahn, operator kereta di Jerman meluncurkan layanan internet baru dan gratis dengan nama WIFI @ DB. Bahkan seluruh armada DB ICE, lebih dari 100 stasiun kereta, semua lounge DB dan kereta bus regional pertama sudah terhubung. Bahkan hingga akhir tahun 2020, lebih dari 130 stasiun kereta akan mulai menyediakan layanan itu.

Baca juga: Jangan Sembarangan Gunakan WiFi Gratisan, Berikut Tips Keamanan Data dari FBI

KabarPenumpang.com melansir laman globalrailwayreview.com (25/9/2020), saat ini kereta IC juga dilengkapi dengan WLAN dan juga menerima WIFI @ DB secara langsung. Sedangkan beberapa ratus kereta dan bus regional lainnya akan menyusul pada 2021 mendatang.

DB sendiri saat ini telah menginvestasikan 200 juta euro untuk memperluas infrastruktur teknis WLAN di stasiun, kereta dan bus beberapa tahun terakhir. Hal ini memudahkan para pelancong akan dapat berselancar dengan bandwith tinggi, waktu tidak terbatas dan sepenuhnya tidak berbayar alias gratis.

“Konektivitas yang mulus berarti lebih banyak kenyamanan bagi komuter dan pelancong bisnis, yang dapat menjelajahi web secara terus menerus di kereta, di stasiun dan di DB Lounge dan tidak perlu masuk lagi untuk perjalanan pulang,” jelas Anggota Dewan DB untuk Digitalisasi dan Teknologi Prof. Sabina Jeschke.

Jeschke mengatakan, setelah masuk, perangkat secara otomatis terhubung ke WIFI @ DB terdekat. Diketahui, sekitar 44 juta euro saat ini diinvestasikan dalam perluasan WLAN di lebih dari 130 stasiun kereta saja. Sejauh ini, 3800 titik akses telah dipasang dan 230 km kabel telah dipasang.

Saat ini, WIFI @ DB tersedia di stasiun kereta utama di Berlin, Cologne dan Hamburg, tetapi juga di Westerland di Sylt, Straubing dan Trier. Meskipun ICE telah menawarkan WiFi gratis sejak 2017, cakupan yang memadai di sepanjang jalur rel masih menjadi masalah bagi mereka yang online di kereta.

Baca juga: Sukses Hadirkan WiFi Gratis di 400 Stasiun India, Kini Google Rambah Ruang Publik Lain

Perluasan jaringan adalah tanggung jawab operator jaringan seluler, sebagaimana ditentukan dengan jelas oleh Badan Jaringan Federal. Perkeretaapian terpenting harus dilengkapi dengan jangkauan seluler pada akhir tahun 2022, dan semua rute kereta api pada akhir tahun 2024. Dengan demikian, operator jaringan kereta api dan seluler bekerja sama secara erat untuk meningkatkan konektivitas.

Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Di masa lalu, McDonnell Douglas DC-9 dan MD-80 merupakan pesawat yang bisa melakukan self-pushback tanpa pushback tractor atau biasa juga disebut pushback truck. Hal itu dimungkinkan berkat katup jet yang tertutup di bagian belakang.

Baca juga: WheelTug, Dukung Pergerakan Pesawat Lebih Cepat di Area Terminal

Ketika mesin pesawat menyala, tak berselang lama katup yang berada di bagian belakang mesin jet tertutup dan pesawat mulai berjalan mundur. Katup tersebut berfungsi sebagai penghambat tenaga yang dikeluarkan oleh mesin, dan mengalihkan tenaganya menuju arah depan, sehingga pesawat bisa berjalan mundur.

Akan tetapi, saat ini, pesawat tersebut sudah tak ada dan pesawat lain juga tak dilengkapi dengan teknologi tersebut. Alhasil, pesawat selalu dibantu pushback tractor atau pushback truck untuk bergerak dari apron.

Proses tersebut dinilai cukup lamban karena masih bergantung pada kendaraan lain. Terlebih, di beberapa kasus, petugas pushback tractor diketahui tak banyak yang bertahan lama alias selalu bergonta-ganti orang, sehingga pengalaman mereka tak membantu mempercepat proses pushback. Maskapai pun cukup dirugikan karenanya.

WheelTug self-driving aircraft saat dioperasikan pada malam hari. Foto: WheelTug

Namun, seiring berjalannya waktu, inovasi dari berbagai perusahaan di dunia pun berdatangan, dari semula pushback tractor yang dioperasikan manusia, towbarless tug berbahan bakar fosir, hingga electric towbarless remote-controlled aircraft tugs yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Hanya saja, itu masih belum cukup untuk memangkas efisiensi waktu saat proses pushback, sampai pada akhirnya WheelTug muncul. Dilansir Forbes, WheelTug merupakan nosewheel yang ditenagai listrik untuk bisa menggerakkan roda pesawat. Produk yang namanya sama dengan nama perusahaan pembuat ini dinilai menjadi jawaban atas berbagai keluhan pilot terkait lambannya proses pushback.

WheelTug umumnya digunakan di pesawat narrowbody seperti Airbus A321 dan Boeing 737. Tak disebutkan dengan jelas apakah pesawat di atas itu (widebody) bisa digerakkan oleh WheelTug atau tidak, mengingat bobot pesawat jauh lebih besar.

Menurut CEO dan perancang WheelTug, Isaiah Cox, produk buatannya itu dijamin bisa menghemat hingga 20 persen per penerbangan, melalui efisiensi waktu selama proses pushback. Dengan begitu, pergerakan pesawat di bandara, rute, penerbangan, jadwal, dan lainnya dimungkinkan untuk bertambah seiring cepatnya mobilitas.

WheelTug saat didemonstrasikan di pesawat Boeing 737-800. Foto: WheelTug

Dari studi Deloitte, bila diuangkan, WheelTug disebut mampu menghemat hingga $300 hingga $2500 per penerbangan atau setara setengah juta hingga enam juta dolar per pesawat per tahun. Tentu kabar cukup menyenangkan untuk maskapai.

Selain baik untuk maskapai, WheelTug juga diklaim baik untuk pilot. Sebab, alat tersebut juga dilengkapi berbagai kamera di beberapa sudut pesawat sehingga menambah visibilitas dan kemandirian pilot saat pushback. Cara pengoperasiannya juga cukup mudah. Setiap pilot hanya perlu ditraining selama kurang lebih 45 menit untuk bisa mengoperasikan WheelTug.

Baca juga: Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih

Saat ini, WheelTug sudah beberapa kali dilakukan ujicoba atau demonstrasi. Terbaru, alat tersebut didemonstrasikan pada pesawat Boeing 737-800 di bulan September lalu. Ditargetkan, akhir 2021 mendatang, WheelTug bisa mendapat sertifikasi FAA untuk penggunaan yang lebih luas. WheelTug mengaku sudah mendapat sekitar 2.200 unit pesanan dari 26 maskapai di seluruh dunia; di antaranya, IndiGo Airlines dan KLM.

Menariknya, WheelTug pada dasarnya gratis. Layaknya mesin pesawat, WheelTug mendapat pundi-pundi uang dari penggunaan per jam. Jadi, pengguna tak perlu melakukan investasi besar-besaran untuk mencapai tingkat efisiensi tinggi saat pushback.

Mengenal Glass Cockpit, Fitur yang Mudahkan Pilot Operasikan Pesawat

Dilihat dari namanya, mungkin orang awam pada umumnya akan mengira bahwa glass cockpit merupakan jendela atau kaca di bagian kokpit, layaknya cockpit windshield atau biasa juga disebut aircraft windshield. Padahal, maksud dari glass cockpit bukan itu.

Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Dikutip dari nasa.gov, glass cockpit adalah suatu kokpit di pesawat dengan tampilan display atau instrumen yang terkomputerisasi dan tidak menampilkan display yang mekanik atau manual. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pilot mengoperasikan pesawat dan hanya fokus pada informasi yang sedang beroperasi, juga dapat mengeliminasi kebutuhan flight engineer.

Komponen dasar dari glass cockpit adalah Electronics Flight Instrument System (EFIS) dan Engine Indications and Crew Alerting System (EICAS). Turunan EFIS terdiri dari Primary Flight Display PFD yang letaknya di instrument panel di sisi pilot dan co-pilot yang mampu menampilkan beberapa hal, mulai dari data navigasi: DME, VOR, GS, ILS, dan sebagainya, hingga data ketinggian, kecepatan angin, kecepatan pesawat, attitude, waktu, kompas, dan sejenisnya.

Adapun EICAS menampilkan beberapa hal, mulai dari Engine Indicator seperti ITT, Torque, Fuel Flow, Oil Pressure, dan lain sebagainya hingga warning dan caution sebagai peringatan dini kru kokpit.

Sebelum memasuki dekade 70-an, pesawat pada umumnya masih menggunakan sistem mekanik dan belum terkomputerisasi layaknya glass cockpit. Seiring berjalannya waktu dan padatnya lalu lintas udara, ilmuan mulai mencari solusi atas itu dan ide mengembangkan glass cockpit dari sekedar konsep pun bergema.

“Sebelum tahun 1970-an, operasi transportasi udara tidak dianggap cukup menuntut untuk membutuhkan peralatan canggih seperti display penerbangan elektronik. Kompleksitas pesawat komersial yang semakin meningkat, munculnya sistem digital dan traffic lalu lintas udara yang meningkat di sekitar bandara mulai mengubah hal itu,” kata Lane Wallace, penulis yang sudah membuat karya enam buku untuk NASA.

Ia menambahkan, rata-rata pesawat penumpang pada pertengahan 1970-an sudah memiliki lebih dari 100 cockpit instruments and controls. Jumlah sebanyak itu pun membuat flight instrument utama sudah dipenuhi berbagai elemen. Dengan kata lain, bertambahnya jumlah instrumen di kokpit membuat pilot harus berbagi fokus untuk memantaunya. Usai glass cockpit dikembangkan, tugas pilot pun jadi lebih mudah.

Di antara berbagai model glass cockpit, model AT-33 adalah salah satunya. Model AT-33 menyediakan beragam informasi grafik yang mudah dipilih oleh pilot. Desain utama meliputi tampilan posisi, heading, data udara, status mesin dan bahan bakar; plus referensi situasi via layar peta bergerak yang lengkap, posisi dideteksi oleh sistem GPS Kelas 3 yang disertifikasi WAAS. Selain itu, tersedia input comm. VHF 16 watt, VOR/ILS dan transponder digital dengan pilihan frekuensi dan kode yang dikontrol kenop dan tombol fungsi pada dua layar LCD di kokpit.

Model AT-33 adalah paket glass cockpit terpadu, yang jelas lebih dari sekedar pengganti untuk instrumen giromekanik model lawas. Dengan menggabungkan semua info penerbangan utama, navigasi, tuning radio dan data mesin dengan data cuaca, tanah dan input peringatan lalu lintas, sistem ini memantau penerbangan dan meningkatkan kewaspadaan.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Unit digital ini memiliki suara berkualitas tinggi, plus fungsi perekaman/ pemutaran yang unik untuk memastikan pembacaan jarak ATC dengan akurat. Integrasi antara kontrol dan tampilan virtual semua fungsi dan instrumen penerbangan, layar datar 1024 x 768 piksel dengan warna yang cerah, sudut tampilan yang lebar, lampu latar yang canggih dan tulisan dapat dibaca dengan jelas. Konfigurasi yang tepat dari dua layar diagonal 10.4 inci diletakkan sisi menyisi pada panel untuk menampilkan situasi penerbangan yang penting, data navigasi dan sensor tepat di hadapan pilot.

Panel kaca sebelah kiri memiliki Primary Flight Display (PFD) untuk info posisi, kecepatan udara, kecepatan tanjakan, ketinggian dan course/heading, sedangkan layar di sebelah kanan menjadi Multi-Function Display (MFD), memantau mesin dan sistem bahan bakar plus grafik peta bergerak secara rinci yang menampilkan posisi pesawat terhadap darat, data diagram, NAVAIDS, rute rencana penerbangan, dan masih banyak lagi.

IATA: Lebih Banyak Orang Tersambar Petir Dibanding Penumpang yang Tertular Covid-19 di Pesawat

Penularan Covid-19 di pesawat tampaknya lebih rendah dibandingkan dengan kasus sambaran petir selama periode 12 bulan. International Air Transport Association (IATA) menyebut sejak awal 2020 sudah ada 44 kasus Covid-19 yang penularannya diduga terjadi selama penerbangan.

Baca juga: Intip Prosedur Cabin Cleaning Pesawat Ala GMF Cegah Covid-19 di Pesawat

Ini mencatat bahwa selama periode yang sama sekitar 1,2 miliar penumpang telah melakukan perjalanan. Hal tersebut diperjelas dengan rilis dari beberapa penelitian pada September lalu yang menunjukkan bahwa kabin pesawat merupakan sumber potensial wabah Covid-19 yang signifikan.

“Risiko seorang penumpang tertular Covid-19 saat berada di pesawat tampaknya sangat rendah. Dengan hanya 44 kasus potensial penularan terkait penerbangan yang teridentifikasi di antara 1,2 miliar pelancong, itu adalah satu kasus untuk setiap 27 juta pelancong,” kata David Powell, penasihat medis IATA yang dikutip KabarPenumpang.com dari flightglobal.com (3/10/2020).

Powell mengatakan, pihaknya menyadari hal ini mungkin perkiraan yang terlalu rendah, bahkan jika 90 persen tak dilaporkan. Sehingga itu akan menjadi satu kasus untuk setiap 2,7 juta pelancong dan ini adalah angka-angka yang sangat meyakinkan.

Dia menambahkan, data yang menunjukkan kemungkinan seseorang disambar petir dalam periode 12 bulan adalah satu dalam 500 ribu. Angka-angka itu sejalan dengan yang dinyatakan oleh Royal Society for the Prevention of Accident Inggris, misalnya, yang menempatkan kemungkinan orang tersambar petir sekitar satu dalam satu juta selama periode 12 bulan.

Airbus, Boeing dan Embraer mempresentasikan penelitian computational fluid dynamics (CFD) terpisah yang menunjukkan bahwa sistem aliran udara pesawat dapat mengontrol pergerakan partikel di kabin, membatasi penyebaran virus.

Baca juga: Tak Semua Kabin Pesawat Dilengkapi Filter HEPA, Apakah Aman dari Covid-19?

“Setelah beberapa simulasi yang sangat detail menggunakan metode ilmiah paling akurat yang tersedia, kami memiliki data konkret yang mengungkapkan bahwa kabin pesawat menawarkan lingkungan yang jauh lebih aman daripada ruang publik dalam ruangan. Cara udara bersirkulasi, disaring, dan diganti di pesawat menciptakan lingkungan yang benar-benar unik di mana Anda memiliki perlindungan yang sama besarnya dengan duduk berdampingan seperti Anda berdiri terpisah enam kaki di tanah,” kata Bruno Fargeon dari Airbus Engineering.

Rilis Logo Baru, AirAsia Resmi Jadi Super App dan Tawarkan Diskon Tiket 50 Persen

Usai merambah bisnis akikah digital, AirAsia belum lama ini resmi bertransformasi menjadi Asean Super App seiring hadirnya logo baru perusahaan. Tak hanya itu, launching logo baru AirAsia menjadi hanya huruf “a” dengan font sans serif di dalam lingkaran merah ini, juga diikuti dengan berbagai tawaran promo menarik bertajuk promo THE airasia.com SUPER SALE.

Baca juga: Demi Bertahan Hidup, Maskapai AirAsia Banting Setir Bisnis Akikah

Dalam rangka merayakan momen ini, promo THE airasia.com SUPER SALE yang merupakan pertama kalinya, diluncurkan sebagai penerus kemeriahan program sebelumnya yakni Kursi Gratis AirAsia. Promo terbesar perusahaan di Asia Tenggara ini akan berlangsung mulai 12 Oktober (pukul 9:00 WIB) hingga 18 Oktober 2020 dengan penawaran harga lebih hemat hingga 50 persen untuk seluruh produk di aplikasi super airasia.com atau web resmi perusahaan.

Selama periode THE airasia.com SUPER SALE, pelanggan dapat menikmati banyak tawaran menarik, mulai dari diskon tiket 50 persen untuk seluruh tiket penerbangan domestik Indonesia, diskon hingga 30 persen untuk bagasi berbayar, pemilihan kursi, dan makanan, hingga promo spesial SNAP mulai dari Rp1.399.000 untuk paket kombo penerbangan + hotel 3 hari 2 malam. Untuk lebih lengkapnya, Anda dapat mengunjungi web resmi perusahaan dengan mengklik link ini.

Selain bertransformasi menjadi Asean Super App, layaknya GoJek di Indonesia, dengan menawarkan pengalaman pengguna yang lebih sederhana, cepat, dan mudah dari kehadiran lebih dari 15 jenis produk dan layanan di bawah tiga pilar, yaitu travel, e-commerce, dan fintech, AirAsia juga mengganti tagline atau jargon mereka, dari semula “Now Everyone Can Fly” menjadi “airasia.com For Everyone” atau “airasiaUntukKita”. Penulisan ejaan pun juga berubah, dari semula AirAsia menjadi airasia.

Dikutip dari laman resmi perusahaan, CEO AirAsia Group, Tony Fernandes mengatakan, “AirAsia selalu mengedepankan masyarakat. Kami telah ‘mendemokratisasi’ penerbangan sejak 19 tahun lalu dan telah memungkinkan jutaan orang untuk bisa terbang, berwisata, dan menelusuri berbagai destinasi.”

“Kami bangga menjadi pendobrak terdepan yang mendisrupsi dunia penerbangan, menghubungkan kawasan ASEAN, menciptakan nilai, kemudahan dan inklusivitas bagi semua orang. Sekarang dengan airasia.com, semua orang dapat terbang, menginap, berbelanja, kuliner, dan menikmati berbagai kemudahan dalam sebuah aplikasi super,” jelasnya.

“Kami memanfaatkan masa krisis dan periode lockdown ini untuk menyempurnakan platform kami, menyeragamkan user experience dan menyederhanakan pembayaran hanya dengan sekali klik. Kami telah merambah bisnis digital dan memperluas penawaran produk airasia.com dari sekedar kebutuhan traveling menjadi berbagai produk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

Baca juga: Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat

Sementara itu, CEO airasia.com, Karen Chan mengungkapkan, “Peluncuran aplikasi super airasia.com merupakan wujud inovasi berkelanjutan dari airasia guna meningkatkan nilai tambah bagi pelanggan. Kami memahami kebutuhan pelanggan akan fleksibilitas perjalanan, sehingga kami meluncurkan inovasi baru AirAsia Unlimited Pass, fasilitas yang memungkinkan pelanggan untuk pesan sekarang dan terbang nanti, yang kini telah tersedia di beberapa negara dan menjadi model untuk maskapai lain.”

Sayangnya, logo baru ini tak diketahui secara persis apakah akan ikut diimplementasikan di pesawat atau tidak. Bila hal itu dilakukan, tentu investasi untuk merealisasikannya tak sedikit. Di samping itu, pengaplikasian logo baru di pesawat dan di seluruh unsur perusahaan, baik di darat dan di udara, juga tak sejalan dengan kabar perusahaan belakangan, dimana saudara kandung mereka, AirAsia X tengah digugat miliaran rupiah.

Tepat Janji, Prototipe Pesawat Supersonik Boom XB-1 Resmi Dipamerkan, 2021 Mulai Melesat

Prototipe pesawat supersonik komersial Boom, XB-1, akhirnya resmi dirilis perusahaan pada Rabu lalu. Momen tersebut merupakan untuk pertama kalinya pesawat supersonik yang disebut bakal mulai melakukan first maiden atau uji terbang perdana pada 2021 mendatang itu dipamerkan ke publik.

Baca juga: Virgin Galactic Gandeng NASA Kembangkan Pesawat Komersial Berkecepatan Tinggi

Beberapa kalangan menilai bahwa pesawat supersonik komersial Boom cukup menjanjikan. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari ketepatan waktu perilisan pesawat.

Sebelumnya, start-up Boom Supersonic yang berbasis di Denver telah mengumumkan akan meluncurkan XB-1 pada pertengahan Juni lalu. Saat itu, perusahaan mengaku telah membangun prototipe berskala 1:3 dari pesawat komersial supersonik bernama Overture. Diperkirakan prototipe XB-1 akan mulai diperkenalkan pada 7 Oktober. Benar saja, dua hari lalu prototipe pesawat resmi dipamerkan ke publik.

Perilisan tersebut pun menandakan bahwa pesawat supersonik komersial Boom sudah berada di fase berikutnya, dari semula di fase desain, pengembangan, dan proses produksi, menjadi ke proses pengujian. Bila tak ada aral melintang, penerbangan uji coba akan dimulai pada kuartal ketiga 2021 mendatang.

Rencananya, proses pengujian akan mengambil tempat di Mojave Air and Space Port, yang kondang dikenal sebagai Pusat Tes Dirgantara Sipil, berada di Mojave, California, Amerika Serikat, pada ketinggian 853 meter di atas permukaan laut.

“Kami akan menjadi (pesawat) supersonik akhir tahun depan,” kata Blake Scholl, pendiri dan CEO Boom, seperti dikutip dari fr24news.com.

“XB-1 adalah langkah pertama membawa penerbangan supersonik kembali ke dunia. Penerbangan dengan kecepatan dua kali lipat berarti kita dapat melakukan perjalanan dua kali lebih jauh membawa lebih banyak orang, tempat, dan budaya ke dalam kehidupan kita,” tambahnya

Sebelum pandemi virus Corona menyerang, Boom telah mengumpulkan setidaknya USD 6 miliar atau sekitar Rp88 triliun (kurs 14.700) pre-order untuk pesawatnya, yang dibanderol seharga USD 200 juta atau nyari menyentuh Rp3 triliun (kurs 14.700). Pembelinya ada dari Virgin Group hingga Japan Airlines, dan ada yang sudah berinvestasi sebesar USD 10 juta di perusahaan pada 2017.

Bila tak ada aral melintang, pesawat supersonik komersial Overture besutan Boom, yang dirancang untuk menampung antara 55 hingga 75 orang, akan memulai penerbangan penumpang pada tahun 2030. Fokus pesawat supersonik ini berada di lebih dari 500 rute lintas samudera. Berkecepatan Mach-2.2 (sedikit di atas kemampuan pesawat supersonik Concorde dikisaran Mach 2.04 atau di bawah konsep pesawat supersonik Virgin Galactic dikisaran Mach 3), perjalanan dari New York ke London hanya memakan waktu selama tiga jam 15 menit.

Pesawat supersonik Boom ini juga telah dirancang dengan teknologi pengurangan kebisingan terbaru. Kecepatan supersonik hanya akan digunakan saat terbang di atas lautan untuk memastikan bahwa area berpenduduk tidak terpengaruh oleh ledakan sonik.

Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Bagi Anda yang ingin menikmati kenyamanan naik pesawat ini, siap-siap merogoh kocek sebesar 5.000 dollar AS atau sekitar Rp66,1 juta untuk sekali terbang. Biaya perkiraan ini hampir sama dengan harga tiket rata-rata penerbangan kelas bisnis.

Boom bukan satu-satunya perusahaan yang berusaha mengembalikan penerbangan supersonik. Aerion Corporation saat ini sedang mengembangkan pesawat supersonik komersial AS2 di kantor pusatnya di Reno, Nevada. Pesawat ini dapat menampung hingga 12 penumpang.

IATA Serukan Pemerintah Kucurkan Dana Rp1.133 Triliun, Jika Tak Ingin Maskapai Bangkrut

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Setidaknya, di paruh kedua 2020 ini, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Bila dana sebesar itu tak dikucurkan, IATA memprediksi akan lebih banyak maskapai bangkrut pada musim dingin mendatang atau sekitar bulan Desember – Maret mendatang.

Seruan IATA tentu sangat berdasar mengingat rata-rata pemerintah di dunia telah menyetop paket stimulus, bailout, atau bantuan ke maskapai penerbangan, untuk bisa terus bertahan di tengah anjloknya penerbangan penumpang akibat pandemi virus Corona.

“Masalahnya sekarang adalah bahwa bantuan, khususnya subsidi gaji, mulai ditarik,” kata Brian Pearce, kepala ekonom IATA, seperti dikutip dari dailysabah.com.

Catatan IATA, selama di kuartal kedua 2020 (April-Juni), maskapai penerbangan telah menghabiskan sebanyak $51 miliar uang tunai atau sekitar Rp749 triliun (kurs 14.700) untuk membayar gaji karyawan dan operasional perusahaan.

Saat ini, maskapai di dunia rata-rata hanya memiliki uang tunai untuk kebutuhan sekitar 8,5 bulan ke depan. Bahkan, di beberapa wilayah, jumlahnya bisa jauh di bawah itu. Di AS misalnya, diperkirakan stok uang tunai maskapai berada di bawah level tersebut. Setidaknya, PHK sekitar 32 ribu karyawan oleh berbagai maskapai di Negeri Paman Sam jadi cerminan atas hal itu.

“Kami menghadapi beberapa bulan musim dingin yang sulit bagi maskapai penerbangan ketika arus kas selalu lemah secara musiman. Kami melihat maskapai penerbangan mendapat masalah jika tidak gagal tanpa dukungan pemerintah lebih lanjut atau (dimudahkan) mengakses pasar modal untuk mendapatkan lebih banyak uang,” jelas Pearce.

Seruan IATA terkait paket stimulus triliunan rupiah dari pemerintah global tentu mengingatkan kita pada seruan Airline Passenger Experience Association (APEX). Pada akhir Maret lalu, APEX telah menyerukan pemerintah global untuk membantu upaya penyelamatan industri penerbangan di tengah wabah virus corona atau Covid-19. Menurut asosiasi yang berdiri sejak 1979 tersebut, upaya penyelamatan maskapai dapat dicapai lewat kucuran dana senilai $250 miliar atau sekitar Rp3.805 triliun (kurs Rp 15.133).

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

“Dunia kita harus segera merespons untuk melindungi industri penerbangan globalnya dengan seperempat triliun dolar ($250 miliar atau Rp3.805 triliun) dalam bentuk pajak dan pinjaman darurat sesegera mungkin kepada maskapai dan pemasoknya,” kata CEO APEX, Joe Leader.

“Maskapai membutuhkan dukungan ini untuk keselamatan, keamanan, dan kelangsungan hidup mereka terhadap anjloknya jumlah penurunan penumpang yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat Covid-19,” tambahnya.

Buntut Demo UU Cipta Kerja, Halte TransJakarta Dibakar dan Dijarah, Ini Rute Yang Beroperasi

Aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law pada 8 Oktober 2020 membuat banyak fasilitas umum menjadi sasaran para demonstran. Beberapa diantaranya dirusak, dibakar, dijarah dan di coret–coret. Salah satu fasilitas umum yang terkena dampak besar adalah halte–halte milik PT TransJakarta dengan total 25 halte menjadi korban vandalisme.

Baca juga: Omnibus Law Untungkan Pengusaha, Maskapai Tak Lagi Wajib Miliki Lima Pesawat! Nyawa Penumpang Taruhannya?

Para demonstran membakar dan menjarah halte Bundaran HI (Kor 1), Sarinah (Kor 1), Tosari Baru (Kor 1), Tosari Lama (Kor 1), Karet Sudirman (Kor 1), Sentral Senen (Kor 5), Senen arah P Gadung (Kor 2) dan Senen arah HCB (Kor 2). Selain itu halte yang dirusak adalah HCB (Kor 1) , BI (Kor 1), Gambir 1 (Kor 2), Sumber Waras (Kor 3), Grogol 1 (Kor 3), Dukuh Atas 1 (Kor 1), Petojo (Kor 8), Benhil (Kor 1), Rs Tarakan (Kor 8) dan Kwitang (Kor 2).

Halte dibakar masa saat demo (TransJakarta)

Insiden ini membuat PT TransJakarta mengalami kerugian dengan estimasi sekitar Rp45 miliar dan belum diketahui total kerugian untuk semuanya. Pasca insiden aksi masa yang berujung perusakan, pembakaran serta penjarahan tersebut, layanan TransJakarta tetap beroperasi dari pukul 05.00 – 19.00 WIB untuk melayani masyarakat DKI yang beraktivitas.

“Layanan TransJakarta tetap beroperasi untuk melayani warga DKI dengan beberapa modifikasi dan penyesuaian yakni Koridor 1 dari Blok M menuju Kota untuk sementara tidak berhenti di Halte Polda hingga Halte Bang Indonesia. Meski tidak melayani halte-halte tersebut, penumpang tak perli khawatir karena bus akan keluar jalur dan berhenti di bus stop Non BRT,“ kata Nadia Diposanjoyo Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas melalui keterangan tertulis, Kamis (9/10/2020).

Nadia mengatakan, TransJakarta juga mengoperasikan rute tambahan yaitu rute Non BRT GR1 untuk pelanggan yang tidak bisa menggunakan layanan terdampak. Untuk Koridor 2 (Pulogadung – Harmoni) Lepas Pecenongan, Harmoni langsung menuju halte Monas. Koridor 4 (Pulogadung – Tosari) Mengalami perpendekan rute hanya sampai Halte Dukuh Atas, Koridor 5 (Ancol – Kampung Melayu) dariari Senen naik melalui Flyover

“Koridor 6 (Ragunan – Halimun) Mengalami perpendekan hanya melayani sampai Halte Halimun. Koridor 13 (Ciledug – Tendean) Mengalami perpendekan rute hanya sampai Blok M dan Halimun,“ kata Nadia.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Sedangkan untuk rute yang beroperasi secara normal yakni Koridor 3 (Kalideres – Pasar Baru), Koridor 7 (Kampung Rambutan – Kampung Melayu), Koridor 8 (Lebak Bulus – Harmoni), Koridor 9 (Pinang Ranti – Pluit) Koridor 10 (Tanjung Priok – PGC 2), Koridor 11 (Kampung Melayu – Pulogebang) dan Koridor 12 (Penjaringan – Sunter Kelapa Gading).

 

 

NASA Luncurkan Aplikasi untuk Teliti Kelelahan dalam Penerbangan, FAA: Cocok untuk Pilot

Lembaga Penerbangan dan Antarikasa Amerika Serikat (NASA) resmi meluncurkan aplikasi untuk mewadahi ilmuan dalam mempelajari kelelahan (fatigue) pada tubuh manusia saat melahap penerbangan luar angkasa. Langkah ini ditujukan untuk memecahkan studi tentang fatigue itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan olehnya.

Baca juga: Intip Teleskop Terbang Terbesar di Dunia Boeing 747 NASA

Umumnya, pada penerbangan luar angkasa, para astronot melalui perjalanan panjang dan sering kali membuat mereka kelelahan. Pada titik inilah, NASA ingin mencari tahu sejauh mana kelelahan dapat berubah menjadi petaka akibat kurangnya konsentrasi.

Sekalipun aplikasi NASA tersebut ditujukan untuk para astronot, namun, Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) memandang aplikasi tersebut bakal sangat bermanfaat untuk para pilot, sekalipun mereka terbang lebih dekat dengan bumi dibanding para astronot.

Melalui aplikasi tersebut, NASA juga hendak mengajak maskapai ataupun lembaga penelitian yang tengah mempelajari fenomena kelelahan, agar menyatukan persepsi. Singkatnya, jawaban dari studi tentang kelelahan sebisa mungkin harus sinkron satu sama lain untuk kebaikan bersama.

“Dalam studi terbaru menggunakan aplikasi, kami dapat mengumpulkan ribuan tes dari pilot, di mana upaya sebelumnya mungkin hanya mendapatkan sebagian kecil dari itu,” kata Ms Flynn-Evans, kepala Lab Penanggulangan Kelelahan di Pusat Penelitian Ames NASA.

Aplikasinya sendiri cukup sederhana. Pada intinya, aplikasi NASA ini berupa tes kesadaran. Namun demikian, metode pengetesan tersebut tak tiba-tiba datang, melainkan sudah melalui penelitian panjang. Aplikasi tersebut tersedia di Apple Store dengan keyword NASA PVT dan dapat diunduh oleh orang awam. Dengan demikian, siapapun bisa mengakses metode pengetesan atau pengukuran standar terinspirasi dari pengalaman laboratorium kelas atas selama bertahun-tahun.

Dilansir Simple Flying, tes mengukur waktu reaksi seseorang terhadap sinyal visual. Begitu angka mulai bergulir di layar, pengguna cukup menekan tombol dengan ibu jari mereka.

Angka-angka tersebut menunjukkan waktu reaksi mereka dalam milidetik. Dengan demikian, seseorang yang tengah dikuasai rasa kantuk ataupun kehilangan fokus bakal terdeteksi dari cara mereka merespon angka-angka tersebut. Tak hanya itu, aplikasi NASA ini juga mampu merekam saat pengguna berganti ibu jari atau jari lainnya akibat kelelahan.

“Kedengarannya sederhana,” jelas Erin Flynn-Evans. Tetapi, metode tersebut merupakan variasi dari psychomotor vigilance task (PVT) yang sudah digunakan NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk mengumpulkan data dari para astronot.

Baca juga: Produksi Pesawat Supersonic Setara Concorde, Virgin Galactic Gandeng Rolls Royce Hingga NASA

Di era penerbangan modern seperti sekarang ini, pesawat dimungkinkan untuk melahap penerbangan panjang dan melelahkan hingga belasan bahkan puluhan jam (dalam kondisi tertentu) non-stop. Karenanya, berbagai studi ilmiah tentang kelelahan di lingkungan kerja dan risiko yang ditumbulkan melalui aplikasi tersebut penting dilakukan.

Semangat seperti itulah yang pada akhirnya, menurut NASA, akan semakin memudahkan studi. Semakin banyak orang dan organisasi yang menggunakan aplikasi tersebut, akan semakin banyak data berkualitas masuk.