Gelukkige Verjaardag dan Joyeux Anniversaire untuk KLM Air France yang Ke-10 dan 187 Tahun

Maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang biasa disingkat KLM, tepat pada 7 Oktober lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-101. Di saat yang bersamaan, mitra strategis mereka, Air France, juga merayakan ulang tahunnya yang ke-87. Oleh karenanya, dunia pun mengucapkan Gelukkige Verjaardag dan Joyeux Anniversaire untuk kedua maskapai bersejarah ini.

Baca juga: Rayakan HUT Ke-100, KLM Torehkan Penerbangan ‘Terlama’ Menuju Indonesia

Sekalipun tak mengadakan perayaan khusus di hari bahagianya, seiring pandemi virus Corona yang masih terus mengintai, kedua maskapai yang juga bersatu di bawah brand KLM-Air France pada 2004 lalu ini tetaplah menawan di hati pecinta aviasi.

Kita tahu, selain menyandang sebagai maskapai tertua di dunia, KLM menjadi istimewa karena mampu bertahan walau berbagai rintangan menghadang. Di antara berbagai rintangan tersebut, insiden kecelakaan pesawat terburuk di dunia jadi yang terberat.

Dilansir Simple Flying, Minggu, 27 Maret 1977, dua pesawat Boeing 747, KLM flight 4805 dari Amsterdam dan Pan Am flight 1736, yang terbang dari Los Angeles dan sempat transit di New York, bertabrakan hebat di Tenerife, Kepulauan Canaria (Canary Islands), Spanyol.

Akibat kejadian itu, 583 nyawa melayang. Seluruh penumpang dan awak yang berada di KLM berjumlah 248, dinyatakan tewas. Sementara itu, 335 dari 396 orang yang berada di pesawat Pan Am meninggal dunia, sedangkan 61 lainnya termasuk kedua pilot dan teknisi penerbangan selamat.

Pasca kejadian itu, reputasi KLM -termasuk juga Pan Am- turun drastis ke jurang terdalam. Kedua maskapai tersebut pada intinya kehilangan kepercayaan dari para penumpang di seluruh dunia. Trauma mendalam dan label sebagai maskapai yang terlibat dalam kecelakaan pesawat terburuk di dunia menjadi dasarnya.

Pan Am pun pada akhirnya tumbang belasan tahun kemudian. Adapun KLM berhasil melewati masa-masa sulit itu. Bahkan, sejak kecelakaan terburuk di dunia terjadi, KLM sampai saat ini tak pernah sekalipun terlibat kecelakaan fatal.

Hanya saja, layaknya maskapai pada umumnya, pandemi Covid-19 membuat keuangan perusahaan menjadi rapuh. Meskipun anjloknya penerbangan penumpang masih akan terus berlangsung sampai tahun-tahun mendatang, beberapa kalangan menilai bahwa KLM akan tetap terus bertahan dan akan terus menyandang gelar sebagai maskapai tertua di dunia yang masih terus beroperasi. Dukungan dari pemerintah Belanda tentu menjadi alasan kuat atas itu.

Senada dengan KLM, Air France juga merupakan salah satu maskapai bersejarah di dunia. Meskipun bukanlah yang tertua, mengingat baru berusia 87 tahun, tetapi maskapai tersebut pernah berada di puncak karir, bersama mitranya British Airways (BA), saat mengoperasikan pesawat komersial supersonik terpopuler di dunia, Concorde.

Akan tetapi, Concorde juga merupakan faktor penyebab runtuhnya kejayaan Air France, menyusul kecelakaan fatal di tahun 2000 silam. Tiga tahun kemudian pun menjadi akhir masa-masa jaya maskapai nasional Perancis tersebut.

Baca juga: Diduga Mabuk, Polisi Tembaki Pesawat Air France A330

Berkenaan dengan pandemi virus Corona, Air France juga sempat terguncang hebat. Selain PHK ribuan karyawan, maskapai yang dianugerahi seragam terbaik dan paling stylish di dunia penerbangan ini juga menjadi maskapai pertama di dunia yang mengumumkan pemberhentian definitif seluruh armada Airbus A380.

Kendati demikian, layaknya KLM, Air France juga disokong oleh pemerintah Perancis untuk tetap terus bertahan di tengah kondisi sulit. Diketahui maskapai itu mendapat suntikan dana sebesar 7 miliar euro.

Omnibus Law Untungkan Pengusaha, Maskapai Tak Lagi Wajib Miliki Lima Pesawat! Nyawa Penumpang Taruhannya?

Polemik usai pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) terus terjadi. Jagat media sosial masih dibanjiri berbagai kecaman, cemoohan, dan ejekan terhadap pemerintah dan para anggota dewan di DPR. Umumnya, netizen menilai, Omnibus Law menyesengsarakan rakyat (buruh dan pekerja). Sebaliknya, UU Omnibus Law Cipta Kerja dinilai hanya lebih memikirkan dan menguntungkan pengusaha.

Baca juga: Load Factor Maskapai Masih Melempem, Kemenhub: “Sangat Sangat Tidak Mudah”

Tudingan tersebut tentu bisa dibilang subjektif, mengingat di sisi lain, pemerintah mengklaim bahwa Omnibus Law justru dapat membuat para pekerja jadi lebih sejahtera. Terlepas dari hal itu, dilihat dari pasal per pasal, mungkin gambaran netizen (red: rakyat) perihal Omnibus Law menguntungkan pengusaha ada benarnya. Tengok saja perubahan Pasal 118 Ayat 2 Butir 1 UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Kita tahu, kebijakan kepemilikan pesawat tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 97 tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kepemilikan dan Penguasaan Pesawat Udara. Beleid tersebut diteken Menteri Perhubungan kala itu, Ignasius Jonan, pada 3 Juni 2015 dan diundangkan satu hari kemudian yakni pada 4 Juni 2015.

PM 97 Tahun 2015 menyatakan maskapai berjadwal wajib memiliki paling sedikit lima pesawat dan menguasai minimal lima pesawat dengan jenis yang mendukung kelangsungan usaha sesuai rute yang dilayani.

Menurut salah seorang sumber KabarPenumpang.com, alasan dari regulasi tersebut ialah memberikan jaminan pelayanan bahwa alat produksi tidak bermasalah. Hal ini juga untuk memberikan kepastian tentang status kepemilikan modal.

Singkatnya, bisnis pesawat udara tak bisa dimasuki oleh sembarang orang mengingat investasinya cukup besar. Tentu, investasi besar tersebut tak dimaksudkan untuk memonopoli penerbangan, melainkan agar para pengusaha maskapai penerbangan benar-benar memperhatikan faktor safety atau keamanan dan keselamatan penerbangan.

Hal itu (memperhatikan faktor safety atau keamanan dan keselamatan penerbangan) sukar dilakukan bilamana pemilik maskapai hanya mempunyai modal pas-pasan. Dalam kondisi modal pas-pasan, yang paling mungkin dilakukan ialah efisiensi dan mencetak keuntungan besar. Akibatnya, pesawat jadi rentan terlibat insiden. Muara dari itu, tentu nyawa penumpang jadi taruhannya.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, semua hal itu musnah usai pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Dalam salinan draf final UU Ciptaker yang diterima redaksi KabarPenumpang.com, Pasal 118 Ayat 2 klaster Penerbangan UU Cipta Kerja, ketentuan minimal kepemilikan pesawat tidak tercantum lagi. Kabag Hukum Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Endah Purnama Sari pun membenarkannya. “Itu (aturan maskapai wajib punya minimal 5 pesawat) dihapus,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (7/10).

Nantinya, ketentuan mengenai batasan minimal kepemilikan pesawat akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). Endang sendiri belum menjelaskan secara rinci terkait jumlah minimal kepemilikan pesawat oleh maskapai.

Baca juga: Praktisi Hukum Leasing Pesawat: Maskapai Dalam Negeri Sudah ‘Macet’ Bayar Tagihan Sejak Maret 2020

“Nanti untuk jumlah pesawat yang dimiliki dan dikuasai akan diatur dalam PP NSPK, yang masih kami godok,” sebutnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengisyaratkan bahwa jumlah minimal kepemilikan pesawat oleh maskapai akan lebih. “Untuk penerbangan, kami berikan jumlahnya lebih sedikit. Modalnya lebih kecil. Supaya semua orang bisa masuk situ,” ucap pada Februari lalu.

India Hadirkan Electric Multiple Unit dengan Kecepatan 180 Km Per Jam

Awal bulan Oktober ini, Bombardier Transportation dan National Capital Region Transport Corporation atau NCRTC India meluncurkan desain baru EMU (Electric Multiple Unit) atau kereta rel listrik komuter. EMU ini akan meluncur dengan kecepatan 180 km per jam dan akan beroperasi di Delhi – Ghaziabad – Meerut Regional Rapid Transit System (RRTS).

Baca juga: Jepang Rencanakan Bangun Proyek Kereta Cepat di 5 Kota India

KabarPenumpang.com melansir dari laman railjournal.com (2/10/2020), kontrak kerja sama antara Bombardier Transportation dengan NCRTC terjadi sejak Mei lalu. Dalam pengerjaannya Bombardier merancang dan mengirimkan 30 kereta komuter regional dengan satu rangkaian berisi enam gerbong.

Selain itu juga ada sepuluh kereta dalam kota dan menyediakan 15 tahun pemeliharaan untuk koridor di bawah RRTS Tahap 1. Armada kereta ini sendiri dilengkapi untuk pengoperasian kereta otomatis serta pengereman regeneratif dengan laju pengereman 1m / s2.

Kursi dalam gerbong kereta akan memiliki konfigurasi 2 + 2 dengan kapasitas 1790 penumpang dalam enam gerbong. Jumlah ini termasuk dengan 400 kursi dan 925 penumpang di tiga set gerbong, termasuk 190 tempat duduk.

EMU tersebut dilengkapi dengan pintu geser plug-in bi-parting, pendingin ruangan atau AC, kamera CCTV, ruang untuk pengguna kursi roda dan sistem informasi penumpang. Dalam mengurangi konsumsi energi sistem AC, pintu kereta akan dilengkapi dengan tombol yang hanya memungkinkan pintu terbuka jika diminta.

Kereta tersebut akan mencakup kelas bisnis, dengan dilengkapi kursi empuk dan sandaran kepala, kaki serta lengan. Tak hanya itu ada pula mesin penjual otomatis dan soket listrik dan gerbong khusus wanitadi konfigurasi enam gerbong.

Armada ini juga dilengkapi dengan teknologi Train Control Monitoring System (TCMS) Bombardier, serta fitur pemantauan berdasarkan kondisi dan prediktif, untuk meningkatkan efisiensi dengan menyediakan diagnostik dari darat ke kereta. Untuk diketahui, jalur sepanjang 82 km Delhi – Ghaziabad – Meerut, yang akan memiliki 24 stasiun, akan menjadi salah satu yang tercepat di India, mengurangi waktu tempuh Meerut – Delhi menjadi kurang dari 60 menit.

Baca juga: India Uji Coba Train 18, Kereta Cepat Tanpa Masinis Produksi Dalam Negeri

Jumlah penumpang diperkirakan 800 ribu orang setiap hari. Kereta tiga gerbong itu akan beroperasi di sepanjang 21 kilometer bagian Stasiun Depot Meerut Selatan – Modipuram, yang akan memiliki 13 stasiun. Ruas prioritas sepanjang 17 km diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2023, dengan seluruh koridor sepanjang 82 km akan dibuka pada tahun 2025.

Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

Operator Bandara Changi Singapura yakni Changi Airport Group (CAG) mengklaim tengah menghadapi masa-masa yang menakutkan seiring pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan usainya. Sebab salah satu bandara tersibuk ini mencatat penurunan lalu lintas penumpang pertama dalam lebih dari satu dekade pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2020.

Baca juga: Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia

Laporan tahunan CAG mencatat bahwa pertempuran melawan Covid-19 baru saja dimulai, dengan tanda-tanda pengurangan. Pada tahun keuangan 2019/20 (FY2019 / 20), CAG melaporkan laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemegang saham sebesar S$435 juta atau Rp4,7 triliun, turun 36 persen dari tahun sebelumnya.

Ini terjadi setelah grup tersebut membukukan penurunan nilai aset non tunai di Bandara Internasional Tom Jobim di Brasil. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (7/10/2020) di bandara Tom Jobim Changi Airport Grup memiliki 51 persen saham.

Selama masa pandemi ini, bahkan Bandara Changi Singapura sudah menghentikan operasi mereka di dua terminal untuk menurunkan biaya operasional. Selain menghentikan operasional di dua terminal, CAG juga memutuskan untuk memotong gaji hingga 30 persen dan menangguhkan pembayaran deviden selama satu tahun untuk menghemat modal.

Mereka juga menunda program pembangunan terminal kelima Bandara Changi selama kurang lebih dua tahun.

“Dampak Covid-19 pada industri penerbangan belum pernah terjadi sebelumnya. Hasil operasi grup diharapkan akan berdampak material dan merugikan untuk tahun yang berakhir pada 31 Maret 2021,“ ujar pernyataan CAG.

Meski begitu, CAG akan terus berinvestasi dengan hati-hati untuk memastikan daya saing Bandara Changi dalam jangka panjang dengan tetap menjaga standar keselamatan dan keamanan yang tinggi. Saat ini Bandara Changi telah mulai mengubah pengalaman penumpang dengan inovasi nirkontak dan pembersihan baru untuk perjalanan bandara yang lebih aman, namun mulus.

Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Kampanye Belanja Online

CAG menambahkan bahwa sejauh mana dampak Covid-19 pada kinerja operasional dan keuangan jangka panjang grup terus tidak pasti. Tahun ini Changi kembali dianugerahi sebagai bandara terbaik di dunia oleh lembaga yang berbasis di Inggris, Skytrax. Predikat itu mereka dapatkan selama delapan tahun berturut-turut.

Viral di TikTok Pramugari Umbar Fakta Penghasilan

Seorang pramugari kembali viral di media sosial, kali ini menggunakan TikTok setelah berbagi fakta yang lebih unik terkait pekerjaannya. Ally Rae Case, yang bekerja pada maskapai American Airlines telah memposting serangkaian video di mana dia menjawab pertanyaan yang selalu dirinya dapatkan terkait pekerjaannya sebagai seorang awak kabin.

Baca juga: Viral di TikTok, Pramugari Kasih Tips Aman Tidur di Hotel

KabarPenumpang.com melansir laman yahoo.com (6/10/2020), ada satu pertanyaan menarik terkait dengan penghasilannya sebagai seorang pramugari. Dalam salah satu videonya diklaim bahwa pramugari “hanya dibayar” saat pintu boarding pesawat ditutup.

“Ya, setelah pintu ditutup, jam mulai bekerja. Begitu terbuka, jam berhenti. Jadi pramugari Anda tidak dibayar selama naik dan turun, jadi bersikaplah baik secara khusus selama waktu itu,” ujar Ally.

Jawabannya tersebut kemudian membuat para warganet berkomentar. Mereka terkejut dengan info itu dan menyebutnya tidak adil dan salah, namun ini adalah praktik yang cukup standar. Sebab banyak maskapai yang membayar pramugari mereka untuk jam penerbangan yakni saat pesawat jauh berada di gerbang.

Tetapi banyak maskapai penerbangan termasuk Amerika yang membayar pramugari mereka dengan tarif kecil dengan per jamnya $2,20 pada 2019. Video Ally juga menyentuh banyak detail positif. TikToker menjelaskan bahwa, berkat pekerjaannya, dia dapat terbang ke mana saja di Amerika Serikat secara gratis.

Secara internasional, dia hanya perlu membayar pajak keluar untuk negara yang dia tinggalkan. Pramugari juga berbagi beberapa detail yang cukup liar tentang pekerjaan itu sendiri, termasuk bahwa dia “selalu” memiliki koper yang dikemas, tidak pernah terbang dengan rute yang sama dan terkadang dapat bekerja sebanyak lima penerbangan per hari.

Dia juga bercanda mengungkapkan bahwa pamugari memang makan makanan pesawat sama seperti penumpang lainnya. Banyak pengguna TikTok menikmati fakta yang diberikan Ally, sementara yang lain kesal dengan situasi pembayaran pramugari.

“Itu TIDAK adil,” tulis seorang pengguna.

“Bayangkan Anda tidak dibayar separuh dari waktu Anda bekerja. Wow, ”tambah yang lain.

“Begitu banyak informasi bagus,” tulis yang lain.

Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari

Ally bukanlah pramugari pertama yang berbagi pengalamannya di TikTok. Bulan lalu, seorang pramugari menjadi viral setelah menjelaskan peretasan hotel terbesar yang dia pelajari saat bekerja.

LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Pembaruan aplikasi Tijeku menjadikan semua pengguna bus TransJakarta dimudahkan dalam pembayaran. Yang mana tak lagi perlu menempelkan kartu, sehingga ketika pengguna lupa membawa kartu uang elektronik mereka, dengan aplikasi bisa tetap membayar dan hanya menscan barcode yang tertera untuk pembayaran.

Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta

Untuk memudahkan pengguna, TransJakarta menjadikan LinkAja sebagai dompet elektronik nasional berbasis server pertama di aplikasi Tijeku. Kehadiran LinkAja sebagai alat pembayaran tiket bus TransJakarta, menjadi uang elektronik yang memiliki sistem transportasi paling lengkap yang dapat dinikmati oleh pengguna LinkAja maupun layanan Syariah LinkAja.

Melalui kemudahan ini, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi dari segi waktu, serta rasa aman dan nyaman karena mendukung kebijakan teknologi tanpa sentuh yang semakin dibutuhkan dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“LinkAja memiliki komitmen untuk terus berupaya memperluas ekosistemnya demi menghadirkan kemudahan pembayaran digital kepada seluruh masyarakat Indonesia. Inovasi Transjakarta sebagai salah satu transportasi umum andalan warga Jakarta dalam melahirkan aplikasi Tije tentunya selaras dengan komitmen tersebut. Kami harap kerja sama strategis antara LinkAja dan Transjakarta dapat semakin mendorong kepercayaan dan kebiasaan masyarakat terhadap pembayaran digital, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan harian seluruh kalangan masyarakat,“ kata Haryati Lawidjaja selaku Direktur Utama LinkAja yang dikutip dari keterangan tertulis (7/10/2020).

Direktur Pelayanan dan Pengembangan PT Transportasi Jakarta Achmad Izzul Waro mengatakan, Transjakarta menyambut baik kolaborasi ini, karena sangat mendukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mewujudkan City 4.0 dan urban regeneration yang berbasiskan digitalisasi sistem transaksi, serta teknologi tanpa sentuh untuk menekan penularan Covid-19.

Izzul mengatakan, adanya kerja sama ini sekaligus mendorong ekosistem pembayaran nontunai terutama di layanan TransJakarta sebagai salah satu transportasi publik terbesar di DKI Jakara. Selain itu juga andalan mobilitas warga yang disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untu warganya.

LinkAja menjadi pembayaran melalui uang elektronik resmi yang pertama di Transjakarta, tentunya sinergi ini menjadi satu dari beberapa rencana Transjakarta untuk mempermudah dan memanjakan pelanggan menggunakan layanan kami dari sisi digital. Tentunya pengguna setia LinkAja, kenyamanan transportasi tanpa sentuh yang terjangkau sudah dalam genggaman, sehingga tidak perlu bingung jika tiba-tiba lupa bawa kartu.

Tiket QR besutan Transjakarta merupakan inovasi pertama di Indonesia, dimana kode QR tidak hanya digunakan sebatas membeli dan menggunakan, namun dapat melakukan transfer kepada siapa saja yang diinginkan, sehingga memberi manfaat lebih. Dengan adanya kode QR ini, kami juga berharap agar pelanggan bisa lebih mandiri dan secara disiplin dapat menerapkan penggunaan satu tiket untuk satu orang, tanpa sentuhan.

Kode QR LinkAja yang ada di dalam aplikasi Tije memiliki beberapa keunggulan agar perjalanan bersama Tije menjadi nyaman seperti, bisa membeli tiket secara online di mana dan kapan saja, Touchless Technology, fitur transfer yang canggih, pelacakan posisi bus dan waktu tunggu secara real time dan smart notification untuk mengingatkan pelanggan akan rencana perjalanannya layaknya digital personal assistant. Selain pada aplikasi Tije, LinkAja juga dapat digunakan sebagai alat pembayaran digital untuk top up di vending machine yang sudah tersedia di 200 halte Transjakarta.

“Kami merevolusi kemampuan kami sebagai langkah awal integrasi pembayaran antar moda transportasi, menuju gerbang Program Jak Lingko Indonesia, artinya secara teknologi kita siap,” ujar Izzul.

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Cara pembayaran menggunakan LinkAja pada aplikasi Tije sangat mudah. Buka aplikasi Tije, lalu pilih tiket dan tujuan. Pilih pembayaran menggunakan LinkAja, dan pilih menu bayar. Pengguna akan diarahkan ke halaman menu utama, pilih menu Tiketku untuk melihat kode QR yang sudah dibeli, kemudian scan kode QR tiket ke mesin scanner.

Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

Singapura sejengkal lagi bakal mematenkan diri menjadi negara pertama yang menjalankan wisata berlayar kemana-mana tanpa tujuan. Sama seperti flight to nowhere pada pesawat, cruise to nowhere pada kapal pesiar juga bertujuan mendukung pelayaran agar tetap bertahan di tengah pandemi virus Corona.

Baca juga: Wisata “Kapal Hantu,” Lepas Pantai Christchurch di Inggris Jadi Kuburan Kapal Pesiar

Dilansir foxnews.com, pelayaran kapal pesiar tanpa tujuan Singapura disebutkan sebagai perjalanan singkat ke perairan internasional selama satu atau dua malam sebelum kembali lagi ke negara tersebut. Guna menjaga kapal pesiar agar tetap aman, setiap pengunjung juga akan diwajibkan menyertai sertifikat kesehatan. Tak hanya itu, kapasitas kapal pesiar saat berlayar tanpa tujuan juga dibatasi hanya 50 persen.

Singapura nampaknya cukup serius untuk menggarap kapal pesiar berlayar tanpa tujuan. Keseriusan tersebut setidaknya terlihat dari dukungan Direktur Regional Dewan Pariwisata Singapura untuk Amerika Rachel Loh.

Kepada The Washington Post, ia mengatakan, bahwa badan pariwisata telah menunjuk perusahaan audit dan sertifikasi terkemuka dengan pengalaman maritim untuk membuat program sertifikasi kapal pesiar yang mengacu pada standar kesehatan, keselamatan, dan kebersihan secara global. “Perusahaan pelayaran akan diminta untuk lulus audit sertifikasi agar bisa kembali berlayar,” kata Loh.

Sayangnya, rencana kapal pesiar Singapura berlayar kemana-mana tanpa tujuan tak diketahui persis kapan bakal terwujud.

Sekalipun negara tersebut kini tengah menjajaki protokol kesehatan yang bisa memungkinkan perusahaan kapal pesiar untuk mengoperasikan rute tanpa tujuan, namun, berlayar tanpa tujuan dengan kapal pesiar belum tentu mudah dilaksanakan layaknya penerbangan tanpa tujuan pada pesawat. Ada banyak pertimbangan terkait ini.

Selain itu, beberapa jalur pelayaran yang beroperasi di negara tersebut, seperti Norwegian, Celebrity, dan Princess Cruises diketahui telah menghentikan secara sukarela operasional mereka hingga 31 Oktober 2020. Princess Cruises juga mengonfirmasi kepada The Straits Times bahwa mereka tidak akan beroperasi sampai setidaknya pertengahan Desember.

Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!

Tersiarnya kabar pelayaran ke mana-mana tanpa tujuan ini muncul dua hari setelah Singapore Airlines membatalkan rencananya untuk menawarkan penerbangan tanpa tujuan. Singapore Airlines diketahui membatalkan rencana penerbangan tersebut dengan alasan pencemaran lingkungan.

Singapura diketahui telah menutup operasional pelabuhan untuk kapal pesiar apapun sejak 13 Maret 2020. Negara kecil di Semenanjung Malaya ini juga diketahui menerapkan kebijakan terkait penanganan virus Corona cukup ketat walaupun belakangan sedikit mengendur. Bahkan, saking ketatnya, salah satu warga negara Indonesia santer terdengar sampai sulit keluar dari negara tersebut sejak pandemi Covid-19 menyebar di Asia Tenggara pada Maret lalu.

Hampir Bangkrut, AirAsia X Umumkan Empat Rencana Restrukturisasi! PHK Mengintai

AirAsia X mengaku tengah menghadapi kendala likuiditas sangat parah. Bila tak ditangani dengan cepat, bukan tak mungkin maskapai penerbangan jarak jauh berbiaya rendah (LCC) atau long-haul budget airline tersebut akan bangkrut.

Baca juga: Digugat Leasing Pesawat Rp340 Miliar dan Rugi Rp3,1 Triliun, AirAsia Diambang Kebangkrutan?

Sebelum hal itu terjadi, belum lama ini perusahaan mengumumkan rencana restrukturisasi bisnis. Setidaknya, ada empat hal yang menjadi fokus restrukturisasi AirAsia X, mulai dari restrukturisasi hutang, revisi rencana bisnis grup, merangkul mitra bisnis, dan mengelola royal customer agar tetap terus setia bersama maskapai.

Dilansir Simple Flying, rencana restrukturisasi hutang berarti maskapai akan menyelesaikan pembayaran hutang. Hal itu dirasa penting agar perusahaan bisa mencapai struktur utang yang berkelanjutan. Di sisi lain, skema tersebut juga akan didukung dengan merencanakan ulang skema bisnis perusahaan.

Wujud konkretnya, bisa berupa rasionalisasi jaringan rute, menentukan pesawat yang ingin digunakan, serta penyesuaian tenaga kerja atau kasarnya mem-PHK karyawan. Intinya, bagaimana perusahaan mendesain ulang struktur agar lebih ramping dan berkelanjutan.

Rencana restrukturisasi AirAsia X juga tak bisa terlepas dari keterlibatan mitra strategis atau mitra bisnis. Sebab, pasca jalan restrukturisasi ditempuh, para mitra akan memainkan peran penting dengan tetap bersinergi bersama perusahaan untuk memastikan proses restrukturisasi berjalan baik dan berkelanjutan.

Demikian juga dengan mengelola royal customer. Selama proses restrukturisasi berjalan, mereka (royal customer) yang ditandai dengan kepemilikan AirAsia Unlimited Pass dan para pelanggan yang telah terlanjur membeli tiket akan diberikan keluasan waktu untuk menggunakan tiket tersebut di masa mendatang.

Dari empat rencana restrukturisasi di atas, rasionalisasi jaringan rute dan menentukan ulang pesawat yang akan digunakan, rasanya sedikit janggal. Saat ini, AirAsia X tercatat hanya mengoperasikan 40 unit Airbus A330-300. Dengan demikian, dua rencana tersebut tak seharusnya muncul mengingat mengoperasikan satu jenis pesawat sudah menjadi jawabannya.

Namun, bila ditelisik lebih dalam, maskapai yang tahun ini memasuki tahun operasional ke-13 itu rupanya mempunyai backlog 78 Airbus A330-900neo, 30 Airbus A321XLR, dan 10 Airbus A350. Pada bagian inilah kemudian perusahaan dituntut untuk melakukan rasionalisasi jaringan rute dan menetukan ulang pesawat.

Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears

Dari backlog ketiga jenis pesawat, beberapa kalangan melihat AirAsia X besar kemungkinan akan lebih memilih Airbus A330-900neo dan Airbus A321XLR sebagai bagian dari rencana restrukturisasi pesawat. A330-900neo diproyeksikan bakal menjadi pengganti Airbus A330-300 yang telah usang. Sedangkan Airbus A321XLR akan diplot untuk menjajaki penerbangan jarak jauh yang agak ramping, mengingat penerbangan penumpang masih akan tetap stagnan hingga beberapa tahun mendatang.

Airbus A321XLR nantinya akan menjadi andalan perusahaan dalam melahap rute-rute jarak jauh AirAsia X di seluruh dunia, seperti AS, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Arab Saudi, India, Cina, dan Australia.

Baru Diluncurkan, Varian Baru Jet Bisnis Airbus Langsung Laku Puluhan Pesawat

Airbus Corporate Jets (ACJ) belum lama ini meluncurkan varian jet bisnis, private jet, atau biasa juga disebut bizjet baru, ACJ TwoTwenty. Menariknya, tak lama setelah diluncurkan, perusahaan tersebut sudah menerima 10 pesawat.

Baca juga: Intip Kemewahan Konsep Kabin VIP Airbus A220, Crazy Rich Wajib Coba!

Dilansir dari laman resmi Airbus, maskapai penerbangan eksklusif untuk para pelanggan VIP, Comlux Aviation, merupakan pelanggan terbesar dengan pesanan enam unit pesawat. Ditargetkan, maskapai asal Swiss itu bisa mengoperasikan ACJ TwoTwenty pada 2023 mendatang.

“Bayangkan kembali tempat Anda di langit akan dilengkapi dengan kursi besar yang bisa dibaringkan dengan rata, tempat tidur ukuran US-king bed, standing rainshower, sistem pelembab untuk kenyamanan di pesawat dan konektivitas terdepan,” kata Richard Gaona, Executive Chairman & CEO Comlux.

“Kami bangga menjadi pelanggan pertama dari anggota keluarga terbaru Airbus, ACJ TwoTwenty dan mitra terpilih untuk melengkapi kabin di pusat penyelesaian kami di Indianapolis. Kami telah bekerja sama dengan ACJ dan berbagi pengalaman panjang kami dalam mengoperasikan semua jenis pesawat, untuk memungkinkan Bizjet baru menawarkan kenyamanan lebih dan inovasi kabin terbaru yang tersedia di industri,” tambahnya.

“Berkat kombinasi unik jangkauan antarbenua, kenyamanan, ruang ekstra, dan ekonomi tiada duanya, kami yakin pesawat ini akan menjadi pemenang dalam pasar penerbangan bisnis,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden ACJ, Benoit Defforge, optimis bizjet terbaru perusahaan cukup menjanjikan bagi kelangsungan bisnis mereka dan pengguna. “Berdasarkan daya tarik pasarnya yang menarik, kami melihat permintaan yang menjanjikan untuk pesawat ini di pasar bisnis jet yang sedang berkembang,” ungkapnya.

Berbeda dari konsep sebelumnya yang mengusung desain kabin Harmony pada 2018 lalu, jet bisnis ACJ TwoTwenty menjadikan desain clean-sheet aircraft sebagai ruhnya. Desain pesawat yang masuk ke segmen pasar The Xtra Large Bizjet ini sebelumnya sudah digunakan di Airbus A220-100.

Jet bisnis ACJ TwoTwenty diklaim mampu terbang 12 jam lebih nonstop atau jarak sekitar 10.460 km, mengangkut 18 penumpang. Dengan begitu, pesawat tersebut sangat memungkinkan pelanggan untuk melakukan perjalanan bisnis di rute-rute potensial jarak jauh, seperti London-Los Angeles, Moskow -Jakarta, Tokyo-Dubai, dan Beijing-Melbourne.

Baca juga: Piaggio P180 Avanti – Mampu Tandingi Jet Bisnis Dengan Bentuknya Yang Unik!

Kemampuan ACJ TwoTwenty melahap penerbangan jarak jauh nonstop juga didukung dengan berbagai keunggulan, seperti kabin 3 kali lebih besar dari jet bisnis berbedan lebar mencapai 73 m, hingga 6 zona VIP berukuran masing-masing 12 m. Selain itu, pesawat juga lebih ekonomis hingga sepertiga dari jet bisnis berbadan besar. Hal itu dikarenakan material pesawat terbuat 5x lebih ringan namun 5x lebih kuat dari material pesawat pada umumnya.

ACJ TwoTwenty menawarkan dua varian kabin fleksibel. Pertama, pesawat bisa dikonfigurasikan dengan formasi business lounge, dining room, guest lounge, master bedroom, kamar mandi mewah dengan shower, dan kamar mandi VIP serta ruang istirahat kru. Kedua, dengan konfigurasi club room, dining room, lounge, private suite, dan vip lavatory. Bila ingin lebih variatif, ACJ TwoTwenty juga bisa diberi tambahan executive lounge, cinema lounge, conference room, dan private lounge.

National Railway Museum di Inggris Buka Studio Virtual

Banyak tempat yang saat ini masih memiliki fungsi yang sama namun membuatnya menjadi lebih berguna di masa pandemi. Seperti Museum Kereta Api Nasional atau National Railway Museum (NRM) di Inggris yang membuat studio untuk acara virtual. Kehadiran studio yang di luncurkan di York tersebut memudahkan bagi siapa saja untuk membuat acara virtual atau hybrid.

Baca juga: Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage

KabarPenumpang.com melansir laman yorkpress.co.uk (1/10/2020), ruangan yang diciptakan oleh Museum Nasional Kereta Api tersebut dilengkapi dengan peralatan berteknologi tinggi. Sehingga memungkinkan mengadakan konferensi virtual, rapat kecil atau sesi pelatihan dan menyiarkan dengan lancar ke audiens online.

Studio tersebut dirancang karena adanya pedoman jarak sosial sehingga pembawa acara berada di studio serta audiens berada di rumah. Selain pembawa acara ada dua teknisi lain yang membantu penyelenggaraan acara di studio dalam Museum Kereta Api Nasional.

Adapun teknologi tinggi yang digunakan yakni layar definisi tinggi dan peluang pencitraan di ruangan sehingga memberikan pengalaman acara yang membuat audiens hadir secara online. Pengaturan kamera yang canggih juga memungkinkan penyelenggara acara bergerak bebas di sekitar ruangan untuk gaya presentasi yang lebih alami dan nyaman, dengan panduan yang diberikan oleh tim di lokasi untuk memastikan peserta dapat menavigasi perangkat lunak dengan lancar.

Penyelenggara akan dapat menjangkau audiens yang lebih besar dengan menggabungkan siaran langsung melalui sesi yang direkam sebelumnya dan konten sesuai permintaan. Konten konferensi dapat tetap ditayangkan selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun setelah acara selesai.

”Kami senang dapat meluncurkan ruang studio khusus di dalam museum untuk membantu bisnis terus menghadirkan acara menarik kepada tim dan audiens yang lebih luas. Acara virtual dan hybrid telah menjadi ‘normal baru’ dalam hal menyatukan tim, memberikan pelatihan atau berbagi konten, dan kami berharap studio baru kami akan membantu menghilangkan stres dalam mengelola acara ini,” kata Helen Beresford-Boyse, manajer penjualan dan pemasaran di NRM.

Baca juga: Manchester Liverpool Road, Stasiun Tertua di Dunia yang Masih Berdiri dan Kini Menjadi Museum

Seluruh Grup Museum Sains, yang meliputi NRM, Museum Sains di London, Museum Sains dan Industri, Manchester, Museum Sains dan Media Nasional di Bradford, dan Locomotion di Shildon, sekarang menawarkan kemampuan penyiaran untuk mengakomodasi dan mengelola acara virtual dan hybrid. Acara dapat disiarkan langsung secara bersamaan di semua situs.