Boarding Pass Pesawat Ditulis Tangan, Dalam Kondisi Tertentu Wajar Meski Ada Risiko

Boarding pass pesawat ditulis pakai tangan? Sepertinya untuk saat ini adalah kejadian tidak biasa dan langka. Belum lama ini seorang penumpang maskapai Wings Air dari Mamuju menuju ke Ujungpandang atau Makassar menerima boarding pass yang dituliskan tangan bukan dengan tinta print laser seperti biasanya.

Baca juga: Geger Video Menu dengan Tulisan Tangan, Garuda Indonesia Keluarkan Surat Larangan Ambil Gambar di Kabin!

Dalam boarding pass itu juga hanya tertulis nama penumpang, nomor kursi atau seat dan rute penerbangan. Bahkan tak terdapat barcode yang biasanya ada di boarding pass. Penumpang yang tak mau disebutkan namanya tersebut mengatakan, dalam penerbangan itu semua penumpang mendapatkan boarding pass dengan tulisan tangan.

Bila menurut pengamat penerbangan, Indra Setiawan, boarding pass yang ditulis dengan tangan tersebut pernah terjadi. Namun hal tersebut sangat beresiko, seperti bisa saja penumpang tak terdaftar pada manifest bila tidak disertai dengan tiket pemesanan yang dimiliki penumpang. Dia menyebutkan, dengan boarding pass ditulis tangan bila terjadi ‘apa-apa’ dan tidak sesuai manifest, maka maskapai tidak bisa bertanggung jawab.

“Kalau manifest hanya 80 tapi penumpangnya seratus, yang pilot tahu ya hanya 80 orang itu. Ini bisa jadi masalah,” jelas Indra kepada KabarPenumpang.com, Selasa (6/10/2020).

Kejadian ini mengingatkan pada seorang YouTuber yang mendapat menu makanan dengan tulisan tangan. Menu ini didapat Rius Vernandes dan Elwi dalam perjalanan dari Sydney – Denpasar – Jakarta.

Rius saat itu diketahui duduk di kelas bisnis Garuda Indonesia. Menu yang didapatnya dikatakan Rius, pramugari sempat mengaku minta maaf karena kartu menu yang biasanya digunakan tengah dalam proses pencetakan.

Baca juga: Jadi Viral, Menu Kelas Bisnis Ditulis Tangan, Garuda Indonesia Minta Maaf Pada Vloger

Namun ternyata, kejadian boarding pass ditulis tangan tak hanya terjadi pada maskapai Indonesia, pada 2016 lalu, seorang pelancong Malaysia yang bepergian dengan Rayani Air juga merasakan hal yang sama. Dalam selembar kertas dengan logo Rayani Air tertulis waktu dan rute penerbangan tetapi tidak terlalu jelas yakni dari Kuala Lumpur menuju Kuching pada 18 Maret 2016.

Rusia-Cina Ribut, Proyek Pesawat CR929 Batal?

Cina sangat berambisi merusak duopoli Airbus dan Boeing sebagai raksasa produsen pesawat global. Menurut para pakar, dari tiga syarat menuju ke sana, Cina sudah menguasai satu di antaranya, yakni terkait pendanaan.

Baca juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body

Menurut statista.com sumber pendanaan utama di pasar penyewaan pesawat ialah melalui pasar modal dan hutang bank. Pendanaan juga dapat diperoleh dengan menggunakan uang tunai atau kredit ekspor. Saat ini, Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial terbesar di dunia yang digunakan untuk penyewaan pesawat. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

Akan tetapi, syarat lainnya untuk bisa merusak hegemoni Boeing-Airbus, yakni teknologi, belum dikuasai Cina. Hal itu bisa dilihat bagaimana pesawat yang diklaim Made in Cina, C919, besutan BUMN rezim Partai Komunis Cina, China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), diproduksi.

Laporan NTD Indonesia, penasehat senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Scott Kennedy, mengatakan bahwa pesawat COMAC C919 hanya namanya saja Made in Cina. Sebab, seluruh komponen yang membuatnya terbang berasal dari rantai pasokan di Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).

Interior pesawat Cina-Rusia, CR929. Foto: Getty Images

Misalnya, mesin C919 memakai produk CFM Internasional, perusahaan patungan AS-Perancis. Sistem utamanya, seperti avionik, flight control, bahan bakar, landing gear, dan lainnya juga berasal dari luar negeri. Begitu juga dengan pesawat Made in Cina lainnya, COMAC ARJ21.

Oleh sebab itu, guna memenuhi kebutuhan teknologi, Cina menggandeng Rusia, yang juga dikenal memiliki teknologi matang di bidang aviasi, untuk memproduksi pesawat perusak hegemoni Airbus-Boeing lainnya yang lebih besar (widebody), CR929; melengkapi C919 yang merupakan narrowbody.

Di awal kemunculannya, proyek besutan perusahaan patungan sesama Negeri Komunis itu, China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC), tampak cukup menjanjikan. Dalam perhelatan Zhuhai AirShow 2018, CRAIC sempat memamerkan CR929 dan sesumbar bakal menerbangkan prototipe pesawat tersebut pada tahun 2023. Setahun berikutnya, CR929 direncakan sudah bisa masuk ke dalam layanan maskapai.

Hanya saja, belum lama ini, proyek tersebut terancam tertunda cukup lama hingga tahun 2029. Mengutip laman Simple Flying, hal itu lantaran Rusia dan Cina disebut tengah bersitegang terkait pemilihan pemasok utama pesawat.

Selain itu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Denis Manturov, mengatakan bahwa pihaknya juga tengah bersitegang dengan Cina terkait transfer teknologi dan akses pasar (suplai chain). Sayangnya, informasi yang diberikan tak menyeluruh. Tak disebutkan dengan jelas pihak mana yang memulai terlebih dahulu.

Bila melihat dari kesepakatan kedua negara terkait proyek CR929, dimana Rusia menyediakan teknologi dan pengetahuan teknis serta Cina menyediakan pendanaan, sebagian kalangan menduga bahwa Cina memulai perseteruan itu lebih dahulu. Cina merasa mempunyai segalanya dengan kepemilikan uang yang pada akhirnya mendorong mereka untuk berlaku sedikit arogan.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Integrasi militer-sipil Cina juga disinyalir bakal membuar proyek pesawat CR929 Cina-Rusia tertunda kembali. Terlebih gesekan terkait wabah virus Corona dan buruknya politik luar negeri rezim komunis Cina juga membuat Barat-Jepang bersatu melawan. Perlahan tapi pasti, perlawanan Barat-Jepang terhadap ekspansi Cina untuk menjadi pemimpin baru global juga ditunjukkan dengan memblokade pertukaran teknologi secara massif. Mereka khawatir, teknologi darinya akan diterapkan untuk kebutuhan militer.

Belum lama ini, seperti diberitakan Epoch Times, Jepang menggandeng empat negara Barat, yakni Jerman, Belanda, Inggris, dan AS agar tak mentransfer empat teknologi utama ke Cina, meliputi artificial intelligence (AI), quantum computers, biotechnology, dan hypersonic speed. Blokade dua dari empat teknologi itu, AI dan komputer quantum, dinilai dapat memperlambat proyek tersebut.

Awas, Asteroid Sebesar Boeing 747 Tabrak Orbit Bumi 7 Oktober!

Asteroid seukuran Boeing 747-8, RK2 dengan panjang sekitar 81 meter, diprediksi NASA bakal menabrak bumi pada 7 Oktober 2020 mendatang. Asteroid tersebut merupakan benda langit kedua terbesar yang mendekati bumi sepanjang bulan Oktober ini.

Baca juga: JAXA dan Toyota Kerja Sama Bangun Kendaraan Jelajah di Bulan

Dikutip dari republicworld.com, asteroid itu akan meluncur mendekati bumi dengan kecepatan 6,68 kilometer per detik dan diperkirakan memiliki diameter berkisar antara 36 meter hingga 81 meter, dengan lebar hampir 35-78 meter.

Meski demikian, asteorid sebesar itu pada dasarnya bakal berukuran sangat kecil untuk bisa dilihat oleh mata telanjang. Sebab, asteroid tersebut bakal terbakar saat memasuki lapisan atmosfer bumi, terutama lapisan mesosfer. Hal ini disebabkan karena di lapisan mesosfer terdapat udara yang bertekanan tinggi sehingga ketika ada meteor atau benda langit masuk ke bumi akan langsung bergesekan dan terbakar.

Sepanjang bulan Oktober 2020, NASA memprediksi ada sekitar 19 asteroid yang akan mendekati bumi. Asteroid 2020 QD5 merupakan asteroid terbesar yang akan mendekat dan menabrak orbit bumi pada 26 Oktober 2020, pukul 02.56 waktu AS. Asteroid ini diketahui memiliki panjang 60 hingga 130 meter, nyaris sepertiga kali lipat asteroid terbesar kedua, RK2.

Pada bulan 18 September lalu, asteroid lainnya yang lebih kecil atau seukuran bus sekolah juga kedapatan tengah mendekati bumi. Benda langit berjarak 13.000 mil dari bumi, dengan diameter antara 15-30 kaki (4,5 – 9 meter) itu berada jauh di bawah orbit satelit cuaca geostasioner kita yang terletak sekitar 22.000 mil di atas permukaan Bumi.

Seperti dikutip dari CNN, pendekatan terdekatnya ke Bumi akan terjadi pada Kamis (24/9) sekitar pukul 07.12 pagi ET atau 18.12 WIB, saat ia mengitari Samudra Pasifik Tenggara, dekat Australia dan Selandia Baru.

Pendekatannya akan sangat dekat dengan Bumi, sehingga gravitasi kita akan mengubah kecepatan dan lintasannya menurut earthsky.org.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

“Ada sejumlah besar asteroid kecil seperti ini, dan beberapa di antaranya mendekati planet kita sedekat ini beberapa kali setiap tahun,” kata Paul Chodas, direktur Center for Near-Earth Object Studies (CNEOS) di Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan.

Untungnya, asteroid itu tidak berada pada lintasan tumbukan dengan Bumi. Jika demikian, atmosfer kita kemungkinan besar akan menghancurkannya, menciptakan meteor yang terang, yang dikenal sebagai bola api.

Mercedes-Benz Luncurkan Skuter Listrik dengan Bandrol Rp19,8 Juta

Satu tahun lalu, Mercedes-Benz meluncurkan kendaraan bertenaga baterai pertamanya yakni EQC SUV. Kini Mercedes mengincar penumpang jarak jauh dengan skuter elektronik lipat dan menggunakan julukan eScooter yang sungguh-sungguh.

Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu

Skuter listrik lipat ini hadir karena orang Jerman memutuskan untuk mengurangi emisi alias menggunakan kendaraan nol emisi terbaru. Kehadiran skuter listrik ini adalah kerja sama Mercedes dengan spesialis mobilitas Swiss yakni Micro Mobility Systems AG.

tampak belakang eScooter Mercedes-Benz (newatlas.com)

Dirangkum KabarPenumpang.com dari newatlas.com (5/10/2020), peluncuran eScooter dari Mercedes-Benz dibuat dengan satu pertimbangan yakni umur yang panjang. EScooter tersebut dibuat dari komponen dan bahan berkualitas tinggi. Bahkan Mercedes menjanjikan bisa melaju dengan jarak lebih dari 5000 km (3.100 mil).

EScooter dari Mercedes tersebut memiliki banyak hal untuk ditawarkan seperti fitur desain minimalis yang elegan karena lipatannya ke atas dan ringan karena memiliki berat 13,5 kg. Sehingga ini mudah diangkut di bagasi kendaraan atau di transportasi umum.

Ia menggunakan ban karet 200-mm (7,8-in) di depan dan belakang, menawarkan suspensi penuh, memiliki lampu depan dan belakang, dan tenaga pengereman berasal dari satu rem depan dan dua lagi di belakang. Sehingga ketika melintas di medan perkotaan yang tidak bersahabat seperti jalan berbatu akan aman.

Skuter listrik ini dilengkapi dengan motor 250 W dan memiliki daya maksimum 500 W dan dapat berkeliling kota dengan kecepatan lebih dari 20 km per jam (12,4 mph). Dilengkapi dengan kontrol throttle twist-grip ke kanan pada stang, dan baterai 7,8-Ah / 280-Wh untuk sekitar 25 km (15,5 mil) per muatan yang mampu membawa pengguna berkeliling kota untuk melakukan tugas harian. Ketika daya baterai habis, eScooter ini membutuhkan waktu isi ulang hingga penuh sekitar tiga jam.

Baca juga: Negara-Negara ini Punya Regulasi Otoped Listrik, Bagaimana dengan Indonesia?

Ada tampilan di tengah setang yang menunjukkan kecepatan, tingkat pengisian dan mode berkendara, meskipun aplikasi Mikro menawarkan semua itu dan lebih banyak lagi, termasuk sistem navigasi, sehingga Anda dapat memasang ponsel ke braket pada stang dan menggunakannya sebagai komputer perjalanan. eScooter dari Mercedes dihargai sekitar €1.149,95 (sekitar US$1.350 atau setara Rp19,8 juta).

Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat?

Korean Air mulai memasukkan kembali Airbus A380 ke dalam layanan. Pesawat tersebut diplot untuk penerbangan tiga jam 40 menit dari Incheon, Korea Selatan (Korsel), ke Guangzhou, Cina. Keputusan ini membuat Korean Air bergabung bersama China Southern Airlines -satu-satunya maskapai yang tak meng-grounded A380 selama pandemi Corona- serta Emirates yang sudah lebih dahulu mengoperasikan pesawat tersebut pada awal musim panas ini.

Baca juga: China Southern Jadi Maskapai Satu-satunya di Dunia yang Masih Terbangkan Airbus A380

Simple Flying melaporkan, A380 Korean Air akan mengoperasikan rute Incheon-Guangzhou sepekan sekali, berangkat pukul 08.50 waktu setempat dan kembali ke Incheon, Seoul pada 13.20, setiap hari Rabu.

Di rute ini, Korean Air tak sendiri. Jawara A380 di dunia, China Southern Airlines, juga menjajaki salah satu rute potensial di Timur Asia ini. Bahkan, satu dari tiga maskapai terbesar di Cina itu ada kemungkinan untuk mengoperasikan lebih dari satu pesawat A380.

Dari 10 armada A380 Korean Air, pesawat superjumbo dengan nomor registrasi HL7614-lah yang bakal diplot melayani rute A380 paling aktif di dunia dewasa ini. Pesawat berusia 9,6 tahun tersebut diketahui terakhir kali terbang pada 5 Maret lalu, melahap rute Paris-Seoul.

Lebih dari setengah tahun tak mengudara membuat performa pesawat sempat diragukan. Karenanya, Korean Air mulai mengujicoba kelengkapan kemanan dan keselamatan pesawat tersebut pada 28 September lalu selama kurang lebih satu dan tiga seperempat jam penerbangan.

Selama waktu tersebut, Airbus A380 Korean Air berkeliling langit Pulau Jeju menuju Busan, salah satu kota terkenal di Korsel lewat film Train to Busan, dan mendarat kembali di Incheon, Seoul. Pada penerbangan ini, rata-rata pesawat hanya menjajal ketinggian jelajah di angka 32 ribu kaki.

Keputusan Korean Air mengerahkan kembali pesawat komersial terbesar di dunia ini tentu menuai tanda tanya, mengingat penerbangan penumpang di seluruh dunia disebut masih belum sepenuhnya pulih. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya terobosan maskapai untuk menyikapi sepinya penerbangan, mulai dari flight to nowhere, resepsi pernikahan di pesawat, makan siang mewah di pesawat A380, hingga terjun ke bisnis akikah kambing.

Selain itu, masih lesunya penerbangan penumpang juga dapat terlihat dari adanya gelombang PHK maskapai di berbagai negara di dunia.

Dari kacamata positif, dilihat dari rute yang dijajaki, keputusan maskapai mulai menghidupkan kembali A380 menjadi sinyal kuat pulihnya industri penerbangan di Cina usai dihantam virus Corona. Setidaknya ada tiga tanda terkait hal ini.

Dikutip dari Reuters, Jumat (10/7) menurut data dari Civil Aviation Administration of China (CAAC) jumlah penumpang pada Juni ini turun 42,4 persen atau hanya 30,74 juta penumpang. Angka ini lebih baik dibandingkan bulan Mei dengan penurunan 52,6 persen.

Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih

Selain melambatnya penurunan jumlah penumpang, kerugian kuartal II menandakan pemulihan bagi industri penerbangan China. Pasalnya kerugian kuartal I mencapai 38,1 miliar yuan setara Rp78 triliun. Sederhananya, kerugian pada kuartal I yang mencapai Rp78 triliun sudah mulai berkurang menjadi hanya Rp70 triliun di kuartal II.

Terakhir, tanda industri penerbangan Cina mulai kembali pulih dapat dilihat dari banyaknya promo yang ditawarkan. Terlebih, promo tersebut juga dibarengi dengan libur panjang di Negeri Panda itu, dimana jutaan orang diprediksi bakal bepergian setelah lockdown berkepanjangan sejak Januari lalu.

Viral, Penumpang Pesawat Keluhkan Stempel Karantina Mandiri Depkes Bikin Kulit Terbakar

Penumpang pesawat ramai-ramai mengeluhkan efek samping dari stempel khusus karantina mandiri. Mereka mengeluh bahwa stempel tersebut membuat alergi pada kulit dan nyaris tak bisa hilang sekalipun sudah berlalu cukup lama serta dibersihkan berkali-kali.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Diketahui, pemerintah di beberapa negara bagian memang telah mewajibkan kepada masyarakat agar melalukan karantina mandiri di rumah sepulang bepergian dari luar negeri. Agar mudah dideteksi, setiap penumpang pesawat akan ditandai secara fisik dengan cara dicap di bagian lengan bawah ketika tiba di bandara.

Dilansir theprint.in, polemik stempel khusus karantina mandiri yang membuat alergi pada kulit dan nyaris tak bisa hilang ini, bermula dari cuitan sekretaris nasional sekaligus juru bicara Kongres, Madhu Goud Yaskhi.

Dengan menampilkan dua foto lengan bagian bawah mirip bekas luka bakar, ia menyinggung Menteri Penerbangan Sipil India, Hardeep Singh Puri, dan Delhi International Airport Limited (DIAL), konsorsium yang mengoperasikan Bandara Indira Gandhi International (IGI), lewat cuitan “Dear @HardeepSPuri Ji, bisakah Anda melihat bahan kimia yang digunakan di Bandara Delhi untuk menstempel penumpang yang datang dari luar negeri? Kemarin saya dicap di @DelhiAirport dan beginilah tampilan tangan saya sekarang.”

Sejurus kemudian, sang menteri yang dimention Goud Yaskhi langsung membalas cuitan tersebut dan berjanji akan menindaklanjuti problem ini melalui Otoritas Bandara India (AAI). AAI pun buka suara. Menurutnya, mereka tak bisa berbuat banyak mengingat itu sudah masuk ranah yuridiksi DIAL.

Selain itu, salah seorang sumber Bandara IGI juga mengungkapkan, bahwa stempel yang membuat penumpang alergi dan sulit hilang itu merupakan buah dari pengadaan oleh Departemen Kesehatan New Delhi, bukan oleh DIAL.

“Departemen kesehatan pemerintah Delhi akan menanganinya. Pengadaan tinta juga dilakukan oleh pemerintah Delhi. Tidak ada keluhan seperti itu sebelumnya. Kami telah memberi tahu mereka tentang keluhan yang kami terima,” kata sumber tersebut.

Baca juga: Selain di Pakistan, Pilot Berlisensi Palsu Ternyata Lebih Banyak di India

Keluhan dari Madhu Goud pun pada akhirnya ikut menyeret penumpang lain bersuara. Rajal Sonal, misalnya, pada 1 Oktober lalu, ia juga sempat mengeluh alergi di bagian lengan sekitar stempel berwarna hitam tersebut. “Rasanya kulit saya terbakar di tempat stempel itu diletakkan,” ujarnya.

Senada dengan Rajal, Aadesh Madhok juga mengaku merasa seperti terbakar pada bagian bekas stempel dengan tiga motif aneh itu. Demikian juga dengan Aadesh Gandhi. Hanya saja, ia bukan tak mengalami itu saat distempel di Bandara IGI, melainkan di Bandara Internasional Biju Patnaik, negara bagian Odisha, India. “Saya menghadapi banyak iritasi dan sedikit bengkak di area yang dicap,” paparnya.

Pria Bule Dikeluarkan dari KRL Setelah Berulang Kali Melepas Masker

Setiap pengguna moda transportasi baik itu bus, kereta maupun kendaraan lainnya wajib menggunakan masker. Kewajiban menggunakan masker ini sendiri untuk semua orang dan tidak membedakan meski itu pelancong dari luar negeri ataupun dari masyarakat lokal.

Baca juga: Menolak Pakai Masker, Penumpang Kerera Cepat di Perancis Diusir dari Kereta

Nah, ketika tidak menggunakan masker apakah ada sanksi? Ya, sanksi dilarang untuk naik transportasi umum bagi penumpang yang tidak menggenakan masker. Baru-baru ini, sanksi pelarangan naik ke dalam kereta dikenakan pada seorang pria bule.

KabarPenumpang.com mengutip dari laman indonesiaexpat.biz (4/10/2020), dilarangnya pria ini untuk naik kereta karena dia enggan memakai masker. Vice President PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba mengatakan, petugas tidak membedakan penumpang dan memberlakukan kewajiban menggunakan masker di semua stasiun dan kereta api baik penumpang berkewarganegaraan asing ataupun lokal.

Anne menjelaskan, tindakan ini dilakukan petugas karena pria bule tak mau mengenakan masker meski berkali-kali diminta diminta. Dia mengatakan, petugas sempat meminta pria bule itu memakai masker sejak masuk gerbang sebelum menunggu KRL di peron.

“Awalnya pengguna ingin masuk Stasiun Gondangdia sekitar 18:10 WIB tapi tidak memakai masker. Para petugas meminta dia memakai maskernya sebelum diizinkan untuk masuk,“ kata Anne.

Kemudian penumpang bule itu mengambil maskernya dan menggunakan. Sambil menunggu kereta menuju Bogor di peron dua, ia melepas lagi maskernya. Lalu petugas Stasiun Gondangdia meminta pria itu menggunakan masker jika ingin naik kereta.

Anne mengungkapkan, dalam meminta penggunaan masker, sempat ada pertengkaran, tetapi penumpang itu akhirnya mengikuti arahan petugas dan kembali memakai maskernya.

Baca juga: Gegara Batuk Tak Gunakan Masker, Penumpang Lain Tekan Tombol Darurat di Kereta

“Saat di KA 1192 jurusan Bogor, penumpang yang sama melepas masker lagi. Pengawal kereta kemudian memintanya untuk memakai masker, tetapi dia menolak. Sampai di Stasiun Cikini sekitar pukul 19.16, petugas mengeluarkan pengguna dari kereta karena tidak mau mengikuti protokol kesehatan yang ada,“ jelas Anne.

Asosiasi Pilot: PHK Massal Ancam Hilangnya 10 Juta Pekerjaan di Sektor Lain

Berbagai maskapai di Amerika Serikat (AS) ramai-ramai mulai melakukan PHK besar-besaran. Hal itu terjadi lantaran ambang batas larangan maskapai untuk mem-PHK karyawan sudah berakhir di awal bulan ini.

Baca juga: Maskapai Eropa Kurangi Pekerja, Amerika Serikat Bersiap Menyusul

Di samping itu, bailout atau paket stimulus tambahan dari pemerintah untuk menahan maskapai agar melakukan PHK secara massif juga masih tersendat menyusul perbedaan pendapat antara Partai Republik yang menguasai Senat dengan Partai Demokrat yang menguasai DPR.

Pertengahan Maret lalu, melalui Airlines for America (A4A), maskapai penerbangan di AS telah meminta paket bailout dari pemerintah, berkisar antara $45 miliar hingga $65 miliar atau sekitar Rp924 triliun. Meskipun sempat tarik-menarik angka, kongres akhirnya menyetujui paket stimulus sebagai bagian dari bantuan dan undang-undang keamanan ekonomi akibat virus Corona. Syaratnya, operator tidak boleh memberhentikan atau mem-PHK pekerja sampai 1 Oktober 2020.

Setelah tanggal tersebut, praktis, PHK karyawan tak bisa dibendung bila tanpa dibarengi dengan paket stimulus lanjutan dari pemerintah, mengingat kemampuan finansial maskapai memang sudah sangat tertekan dengan anjloknya jumlah penumpang komersial.

Terbukti, belum lama ini, maskapai AS mulai mengumumkan PHK karyawan secara besar-besaran. BBC Internasional melaporkan, maskapai penerbangan American Airlines mengatakan telah memecat 19 ribu pekerja. Sementara United Airlines melakukan PHK terhadap 13 ribu pekerja. Bila tak ada langkah konkret, beberapa maskapai besar AS lainnya diyakini bakal menyusul kedua maskapai.

Celakanya, PHK massal oleh maskapai AS diprediksi bakal berefek domino. Dilansir rt.com, juru bicara Allied Pilots Association (APA) sekaligus pilot American Airlines, Kapten Dennis Tajer, menyebut, PHK puluhan ribu karyawan akan mengancam 10 juta lapangan pekerjaan di sektor lain yang didukung mereka (karyawan di industri penerbangan). Muara dari semua itu, angka pengangguran jauh meningkat dari sekedar hitungan di atas kertas.

Selain itu, ia menyebut, saat ini tekanan finansial yang dihadapi perusahaan penerbangan mustahil untuk mencegah PHK terjadi.

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Menyikapi PHK massal maskapai AS, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS telah meminta maskapai penerbangan besar untuk menunda langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap puluhan ribu karyawan, seiring berakhirnya paket bantuan.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, parlemen menjanjikan bantuan sekitar 32 miliar dolar AS atau sekitar Rp470 triliun, melalui undang-undang bipartisan baru yang berdiri sendiri. Regulasi itu dijanjikan pada awal 2021 untuk melindungi pekerja dari PHK hingga Maret mendatang. Selain itu, akan memperpanjang bantuan yang sudah berakhir selama enam bulan lagi dalam paket yang lebih luas.

Dear Guru, Qatar Airways Bagikan 21 Ribu Tiket Gratis Tujuan ke Seluruh Dunia! Simak Cara Dapatkannya

Qatar Airways kembali buat gebrakan. Setelah membagian 100 ribu tiket gratis untuk para tenaga kesehatan pertengahan Mei lalu, kali ini, maskapai pimpinan Akbar Al Baker itu mengaku telah menyediakan 21 ribu tiket gratis untuk para guru di seluruh dunia, sebagai bentuk apresiasi dan keikutsertaan maskapai dalam memperingati Hari Guru Sedunia pada tanggal 5 Oktober 2020 ini.

Baca juga: Kabar Gembira Buat Tenaga Kesehatan di Garis Depan, Qatar Airways Berikan 100.000 Tiket Gratis!

Giveaway tiket gratis Qatar Airways untuk para guru sedunia atas berbagai dedikasinya mendidik kaum muda, terutama di tengah pandemi virus Corona seperti sekarang ini, hanya berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 5 Oktober pukul 04.00 sampai tanggal 8 Oktober mendatang pukul 03.59 (waktu Doha).

Cara untuk mendapatkan tiket gratis tersebut juga cukup mudah. Mula-mula, para guru di seluruh dunia hanya perlu mendaftarkan diri dengan mengklik link ini. Kemudian, mereka akan diminta untuk mengisi data diri untuk mendapatkan kode unik terkait program tiket gratis bagi 16 kategori guru di seluruh dunia.

Setelah semua itu selesai, para guru di lebih dari 75 negara yang menjadi jangkauan operasional Qatar Airways tinggal menunggu pengumuman pemenang program tiket gratis maskapai. Guna memastikan proses tersebut berjalan adil dan transparan, setiap negara bakal dibatasi dengan kuota yang disesuaikan selama periode tiga hari pendaftaran.

Seluruh pemenang nantinya berhak mendapatkan satu tiket gratis pulang-pergi ke seluruh jaringan Qatar Airways di lebih dari 90 tujuan di seluruh dunia. Tak hanya itu, para guru pemenang giveaway ini juga bakal mendapatkan voucher diskon 50 persen untuk satu tiket pulang-pergi yang bisa digunakan untuk diri sendiri, keluarga, atau teman. Kedua tiket tersebut (tiket gratis dan voucher diskon 50 persen) berlaku hingga 30 September 2021.

CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker, mengatakan,”Kami di Qatar Airways sangat berterima kasih atas komitmen dan kerja keras mengajar para profesional di seluruh dunia yang terus mendidik generasi muda kami di masa ketidakpastian ini. Ketahuilah bahwa ini bukanlah tugas yang mudah, namun para guru sangat pandai, beralih ke pembelajaran online dan metode lainnya.

Baca juga: Qatar Airways Luncurkan Pesawat Ke-100 dengan Super WiFi, Tawarkan Satu Jam Gratis Akses

“Sebagai maskapai penerbangan terbesar yang beroperasi secara konsisten selama pandemi, kami juga telah mendukung siswa dalam beberapa minggu terakhir dengan terbang gratis ke mana pun yang mereka inginkan sebelum memulai studi tentang penerbangan charter serta terjadwal. Sebagai maskapai penerbangan, kami sangat percaya pada pentingnya pendidikan dan berkomitmen untuk memberikan dukungan kami untuk tujuan pendidikan,” lanjutnya, dari keterangan pers yang diterima redaksi KabarPenumpang.com.

Qatar Airways sendiri memang tak terhindar dari kebijakan PHK karyawan akibat anjloknya jumlah penumpang komersial akibat pandemi virus Corona. Di samping itu, pengurangan gaji juga demikian. Namun, hal itu tak menghalangi maskapai untuk terus berprestasi. Belakangan, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengungkap, Qatar Airways menjadi maskapai terbesar antara April-Juni 2020 lalu dari segi frekuensi penerbangan.

AS Kirim Pesawat Mata-mata Berbendera Sipil, Rudal Intai Penerbangan Komersial di Sekitar LCS

Amerika Serikat (AS) belum lama ini dituding mengirim pesawat mata-mata mereka, Boeing RC-135W dan E-8C, menggunakan ‘bendera’ sipil. Pesawat tersebut disinyalir beroperasi antara Pulau Hainan dan Kepulauan Paracel, Laut Cina Selatan (LCS), untuk mengumpulkan data-data intelijen.

Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing

South China Morning Post melaporkan, perbuatan melawan hukum oleh AS itu diketahui terjadi selama dua hari pada 8 dan 10 September lalu. Saat itu, beberapa pesawat pendeteksi dan pengumpulan sinyal elektromagnetik RC-135 Angkatan Udara AS melintasi LCS dengan kode registrasi milik pesawat sipil Malaysia. Padahal, pesawat ‘sipil Malaysia’ itu terbukti lepas landas dari pangkalan militer AS di Okinawa dan Guam.

Sudah begitu, dari kode enam digit yang dikirim secara otomatis oleh pesawat ketika mulai diinterogasi oleh ATC di sebuah negara, menunjukkan bahwa pesawat tersebut adalah pesawat militer. Dengan demikian, sekalipun Boeing RC-135W dan E-8C memiliki rupa mirip dengan pesawat sipil 707-200, ditambah, pesawat mata-mata tersebut mengikuti jalur pesawat komersial, pada akhirnya niat jahat AS tetap akan terbongkar.

Kedok pesawat mata-mata ‘berbendera’ sipil oleh AS tentu tak bisa diterima. Selain melanggar Konvensi Penerbangan Sipil Internasional, cara itu juga dinilai sangat membahayakan pesawat komersial. Ancaman pesawat komersial atau sipil atas itu pun bukan isapan jempol belaka.

Pada 1 September 1983, pesawat Boeing 747-200 Korean Airlines dengan nomor penerbangan 007 (flight 007), jatuh dirudal oleh jet tempur Uni Soviet akibat dikira pesawat mata-mata. Dugaan tersebut tentu sangat berdasar mengingat tensi geopolitik kala itu, antara Uni Soviet-Amerika Serikat (AS) tengah meruncing dalam balutan perang dingin.

Selain itu, penerbangan Korean Airlines (KAL) 007 rute New York-Seoul via Bandara Anchorage, Alaska ini juga bisa dibilang ketiban sial dari pesawat mata-mata AS. Kala itu, beberapa menit sebelum KAL 007 melintas, AS memang mengirim pesawat mata-mata ke sekitar Pulau Sakhalin. Alhasil, ketika KAL 007 lewat, Soviet menduga itu adalah pesawat militer.

Lagi pula, saat itu, gelapnya malam juga mengurangi kemampuan identifikasi pilot jet temput terhadap KAL 007. Di samping itu, Boeing 747-200 Korean Air 007 juga tak patuh pada Air Defense Identification Zone (ADIZ) yang diadopsi Uni Soviet.

Baca juga: Mengenang Korean Air 007, Korban Perang Dingin Soviet-AS yang Dirudal Gegara Insiden “Mata-mata”

Alhasil, Boeing 747-200 Korean Airlines akhirnya ditembak jatuh oleh Sukhoi Su-15 Soviet sebagai bentuk mempertahankan diri dari ancaman. Tentu, tidakan tersebut tetap tidak dapat ditolelir mengingat pesawat sipil, walau bagaimanapun, tetap tidak boleh ditembak.

Sepanjang tahun ini, AS diduga kuat oleh Cina telah menerapkan trik kotor tersebut setidaknya 100 kali. Bila strategi ini terus berlanjut, penerbangan sipil akan sangat berpotensi dirugikan dan menyebabkan hilangnya nyawa manusia.