Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan

Menurunya jumlah penumpang Moda Raya Terpadu atau MRT Jakarta di masa pandemi membuat Badan Usaha Milik Daerah ini mulai merambah inovasi lain untuk penambahan penghasilan. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, tahun ini menetapkan rasio penjualan tiket 1:4 dibandingkan non penjualan tiket sebagai target pendapatan.

Baca juga: MRT Jakarta, pendapatan non fare box, penumpang, pandemi Covid-19,

Dia menyebutkan, tahun lalu rasionya 1:1 dan berharap dalam waktu dekat pendapatan dari penjualan tiket akan meningkat. William mengatakan, bila ini terjadi, MRT Jakarta juga akan mendapat penghasilan dari pendapatan non tiket.

“Perusahaan akan memanfaatkan sumber pendapatan lain setelah memanfaatkan aplikasi seluler, situs web, dan media sosial untuk ruang iklan dan tujuan komersial lainnya, serta menyediakan pelatihan virtual untuk usaha kecil dan menengah (UKM) dan perusahaan baru,” ujar William dalam forum jurnalis virtual, Rabu (30/9/2020).

Bahkan MRT Jakarta juga tengah berencana menawarkan layanan pengiriman untuk dokumen dan kargo. Ada pula pemasangan mesin penjual otomatis dan loket di setiap stasiun. William menambahkan, salah satu langkah bisnis lain yang akan di jajaki adalah membangun ruang kerja bersama alias coworking space.

Pembangunan coworking space di Stasiun MRT Jakarta merupakan antisipasi kedepan jika perusahaan di ibukota tak lagi membutuhkan kantor besar atau permanen. William mengatakan, pihaknya akan menyulap area kosong di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai lokasi pertama coworking space.

“Ada tiga kelebihan coworking space di stasiun MRT, yakni protokol kesehatan yang baik, dilengkapi dengan fasilitas pendukung untuk mengadakan konferensi video dan lokasi startegis. Jadi konsep coworking space ini adalah ruang kerja dan studio multifungsi dengan fasilitas dan peralatan lengkap yang dapat digunakan untuk podcast atau event online dan ideal bagi kalangan profesional maupun non-profesional,” ujar dia.

Selain itu, MRT Jakarta juga telah mengubah banyak pilar dari stasiun layang menjadi ruang iklan. Sebab dengan ini, akan mendorong lebih banyak iklan di 50 pintu masuk di 13 stasiun. Operator baru-baru ini meluncurkan akselerator MRTJ dengan tujuan bekerja sama dengan startup dalam aktivitas digitalnya.

Baca juga: “MRTJ Accel,” Kolaborasi MRT Jakarta dan Startup untuk Jalankan Bisnis Anti-mainstream

Perusahaan juga berencana untuk memulai program inkubator MRTJ pada bulan Oktober, yang bertujuan untuk mengundang fresh graduate atau individu terdampak Covid-19 yang tertarik mengembangkan ekosistem digital.

Garuda Indonesia Tawarkan Resepsi Penikahan di Pesawat, Maskapai Ini Sudah Lebih Dulu

Saat maskapai lain di seluruh dunia berpacu dengan sederet inovasi selama masa pandemi virus Corona, salah satunya seperti program flight to nowhere, Garuda Indonesia mengaku masih mencari skema bisnis lainnya yang lebih relevan. Belakangan, maskapai nasional Indonesia ini dikabarkan tengah menyusun paket pernikahan khusus atau resepsi pernikahan di atas pesawat.

Baca juga: Maskapai Indonesia Tatap Penerbangan Tanpa Tujuan, Traveller Siap-siap

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengaku, selama pandemi ini terdapat sejumlah klien yang memanfaatkan sewa pesawat (charter) untuk terbang tiga jam di atas Jakarta untuk keperluan resepsi pernikahan. Menurutnya, penyelenggaraan resepsi di gedung hotel jauh lebih mahal dan kurang efektif karena jumlah kehadiran tamu undangannya hanya bisa separuh dari kapasitas maksimal.

Irfan meyakini selama pandemi akan banyak terjadi pergeseran dan menciptakan tren baru, termasuk resepsi di atas pesawat. Masyarakat juga dapat memilih jenis pesawat yang diinginkan baik berbadan lebar maupun sempit.

Akan tetapi, sebelum Garuda Indonesia mengadakan penerbangan charter untuk menggelar resepsi pernikahan, beberapa maskapai lainnya di dunia rupanya sudah lebih dahulu menempuh jalan tersebut.

Dilansir Yahoo Lifestyle, Southwest Airlines pernah menggelar resepsi pernikahan Michael dan Renee dalam penerbangan berjadwal menuju Baltimore, Amerika Serikat (AS) pada Juni 2018 lalu. Bukan hanya dimeriahkan oleh para kru kabin, pilot pun juga ikut memeriahkan pesta pernikahan tersebut dengan memimpin acara.

Sebelum resepsi pernikahan Michael dan Renee bersama Southwest Airlines dihelat, pasangan Carlos Ciuffardi Elorriga dan Paula Podest Ruiz sudah lebih dahulu menggelar pernikahan di atas pesawat. Hanya saja, pasangan yang berprofesi sebagai pramugari dan pramugara ini tidak mengadakan pesta pernikahan layaknya Michael dan Renee, melainkan hanya menggelar akad pernikahan saja oleh seorang paus.

Selain itu, pesta pernikahan juga pernah dihelat oleh penumpang Delta Airlines di pesawat. Saat itu, kedua mempelai memutuskan menikah di pesawat lantaran mendapat penolakan dari keluarga. Alhasil, pernikahan di udara jadi solusi bagi keduanya dan ketika kembali ke darat, keluarga terkejut bahwa keduanya sudah menjadi sepasang suami-istri.

Pada tahun 2019, resepsi pernikahan di pesawat juga pernah terjadi. Dilansir Travel and Leisure, pria bernama David Valliant dan kekasihnya, Cathy, kala itu, sukses melangsungkan pernikahan di atas pesawat Jetstar dengan nomor penerbangan 201 rute Sydney ke Auckland.

Mereka sengaja memilih rute penerbangan tersebut karena keduanya berasal dari dua negara bertetangga tersebut. Prosesi pernikahan dimulai saat pesawat berada tepat di perbatasan kedua negara, di ketinggian sekitar 37 ribu kaki.

Cerita pernikahan David Valliant Cathy dimulai saat keduanya bermain game komputer “Airport City” di tahun 2011. Mereka lalu baru bertatap muka secara langsung dua tahun kemudian di Bandara Sydney. Setelah itu, rencana menghelat pernikahan di atas pesawat pun tercetus dan diteruskan ke Jetstar.

“Kami ingin pernikahan ini melambangkan cinta kami pada penerbangan dan cinta kami untuk Australia dan Selandia Baru serta cinta kami satu sama lain,” kenang Cathy.

Baca juga: Dijual Restoran Terbesar Bekas Airbus A340 di Turki Seharga Rp20 Miliar, Berminat?

Maskapai Jetstar pun memenuhi keinginan keduanya dan merancang pernikahan yang menjadi impian mereka yaitu menikah di atas udara.

Menurut juru bicara Jetstar, semua pelanggan yang telah melakukan pemesanan di penerbangan ini akan menerima email sebelumnya yang mengatakan akan ada pembuatan film. Wisatawan yang ingin mengubah penerbangan dapat melakukannya tanpa biaya.

U-Shift, Kendaraan Otonom Modular yang Bisa Mengangkut Sesuai Kebutuhan

Pusat penelitian aeronautika dan ruang angkasa nasional Jerman, atau Deutsches Zentrum für Luft und Raumfahrt (DLR) telah meluncurkan prototipe yang berfungsi untuk kendaraan mobilitas dan logistik multi guna perkotaan. Kendaraan ini disebut dengan U-Shift yang mana terdiri dari unit penggerak listrik dan otonom berbentuk U yang dipasang ke modul terpisah tergantung kebutuhan pengguna.

Baca juga: Optimus Ride, Kendaraan Self-Driving untuk Pengiriman Makanan dan Barang

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (18/9/2020), model ini dirancang untuk digunakan sepanjang waktu, sehingga memungkinkan perusahaan bisa menggunakan untuk berbagai pekerjaan. DLR menggambarkan U-Shift sebagai layanan antar jemput otonom, kendaraan penjualan keliling dan pengangkut kargo untuk layanan distribusi paket meski skenario lainnya akan dikembangkan.

Meski begitu, teknologi otonom belum dikembangkan dan prototipe U-Shift masih dikendalikan dari jarak jauh oleh operator manusia. Ini adalah rumah bagi sistem penggerak listrik dan baterai serta komponen pengangkat intik mengambil berbagai pod.

Modul-modul tersebut mencakup kapsul penumpang dengan tujuh tempat duduk, satu kursi lipat ekstra dan pintu besar dengan jalan yang terintegrasi untuk akses kursi roda. Ada pula kapsul kargo dengan kapasitas penyimpanan yang cukup untuk empat palet Euro.

Prototipe U-Shift, yang ukurannya sebanding dengan van, saat ini dikendalikan dari jarak jauh. Namun, di masa depan, ia akan dapat melakukan perjalanan sepenuhnya secara otonom.

“Kami ingin membuat mobilitas masa depan lebih berkelanjutan, efektif dan nyaman. Produk dan model bisnis yang sepenuhnya baru dapat muncul dari inovasi futuristik seperti konsep kendaraan U-Shift,” jelas Nicole Hoffmeister-Kraut, Menteri Urusan Ekonomi Baden-Württemberg.

Dia mengatakan, ini sangat penting bagi mereka untk mendukung usaha kecil dan menengah yang dimiliki di Baden-Württemberg selama proses transformasi industri otomotif dan membantu mereka menemukan peran baru di bidang konsep kendaraan masa depan dan solusi mobilitas. Pendekatan modular membuka banyak peluang di bidang ini.

Para peneliti di DLR menggunakan prototipe untuk menjalankan tes awal dan mendapatkan umpan balik dari operator dan produsen potensial. Mereka juga mencari umpan balik dari warga untuk menentukan kasus penggunaan yang berbeda untuk U-Shift di sektor publik dan swasta.

Langkah besar berikutnya, kata para peneliti, adalah meningkatkan kinerja drivetrain, menguji sistem baterai baru, memasang perangkat keras dan sensor untuk penggerak otomatis dan terkoneksi, dan meningkatkan rakitan sasis dan perangkat.

“Dengan konsep U-Shift modular, kami mengambil langkah signifikan menuju transformasi mobilitas. Prototipe sangat penting, terutama untuk adopsi konsep inovatif oleh industri otomotif, atau penyedia layanan logistik dan mobilitas. Prototipe memungkinkan peneliti dan pengguna masa depan untuk benar-benar merasakan dan membantu meningkatkan dunia seluler masa depan,” kata Karsten Lemmer, Anggota Dewan Eksekutif DLR untuk Energi dan Transportasi.

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

DLR bertujuan untuk memiliki prototipe kedua yang sepenuhnya otomatis siap untuk tahun 2024. Ini harus mampu mencapai 60 kilometer per jam dan akan membawa dunia selangkah lebih dekat ke visi perusahaan kedirgantaraan tentang mobilitas sesuai permintaan multi-tujuan .

Inilah Alasan, Mengapa Meja Baki Wajib Dilipat Sebelum Lepas Landas dan Mendarat

Banyak aturan yang harus ditaati ketika penumpang sudah berada di dalam kabin dan pesawat hendak lepas landas. Selain menggunakan sabuk pengaman, penumpang mematikan ponsel, meneggakkan senderan kursi hingga melipat meja baki di depan.

Baca juga: Meja Lipat di Pesawat Jarang Dibersihkan, Awak Kabin: Penumpang Sebaiknya Bawa Tisu Basah

Ini adalah aturan yang selalu diingatkan kembali saat awak kabin memeragakan alat keselamatan. Ternyata meja baki cukup penting untk dilipat bila pesawat akan segera lepas landas ataupun mendarat.

KabarPenumpang.com melansir laman express.co.uk (20/9/2020), terkait meja baki ini, awak kabin kemudian berbagi sesuatu yang mengkhawatirkan tentang meja baki di depan penumpang. Meskipun semua penumpang terbiasa mengikuti aturan ini, mereka mungkin tidak tahu alasan sebenarnya di balik penting aturan tersebut.

Awak kabin menjelaskan alasan meja baki harus di lipat kembali, karena jika ada keadaan darurat penumpang akan sulit untuk bergerak. Mereka mengatakan, hal ini bukan masalah untuk penumpang yang menggunakannya tetapi pada mereka yang ada di belakangnya.

“Alasan yang sama kamu tidak bisa memiliki apa pun di lorong. Jika ada sesuatu yang menghalangi, Anda dapat mengenai kepala Anda dan itulah yang paling sering terjadi,” kata awak kabin.

Bisa dikatakan, keadaan darurat dalam penerbangan paling umum terjadi selama lepas landas dan mendarat. Sehingga ini sebabnya tindakan pencegahan khusus di ambil sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.

Meskipun jarang, kecelakaan pesawat paling mungkin terjadi selama tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan menurut Ben Sherwood seorang penulis The Survivors Club-The Secrets and Science That Could Save Your Life.

Tak hanya itu, penumpang juga disarankan untuk tidak melepas sepatu atau menggunakan headset ketika lepas landas ataupun sesaat sebelum mendarat. Tetapi setelah pesawat mengudara, penumpang boleh melakukan hal tersebut karena biasanya lebih aman.

Kabar baiknya, statistik menunjukkan bahwa terbang tetap menjadi salah satu bentuk perjalanan teraman. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menemukan bahwa pada tahun 2016 rata-rata terjadi satu kecelakaan untuk setiap 2,86 juta penerbangan.

Meskipun benturan kecil, seperti turbulensi, dapat membuat beberapa wisatawan merasa cemas, namun hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Kunci untuk mengetahui keadaan darurat yang sebenarnya adalah mengarahkan pandangan Anda kepada kru.

Baca juga: Jijik! Ini Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Harus Mengindari Makanan Langsung Di Atas Baki

“Jika Anda melihat mereka dengan tenang melakukan tugasnya maka semuanya baik-baik saja. Mereka bukan robot, jadi jika ada sesuatu yang salah, Anda akan melihat mereka ketakutan. Jangan ragu untuk panik jika dan hanya jika itu terjadi,” jelas seorang awak kabin.

Desember 2020, Kereta Mewah Orient Express Tampil di Singapura

Orient Express, kereta mewah yang satu ini akan hadir serta menghiasi Singapura dan menjadi tujuan pertama selain Perancis. Kereta legendaris ini membuat perhentian di Singapura meski perjalanan tidak ada dalam daftar.

Baca juga: Orient Express, ‘Berjuta Cerita’ dari kereta Mewah Legendaris Eropa

Sehingga Anda setidaknya bisa berpura-pura diteleportasi ke waktu dan tempat lain saat menyelenggarakan atraksi pop-up eksklusif ini di Gardens By The Bay. Atraksi ini akan menghadirkan dua gerbong kereta asli tahun 1930 yang diklasifikasi sebagai National Treasure of France dan sebuah lokomotif berusia 158 tahun.

KabarPenumpang.com melansir sg.asiatatler.com (30/9/2020), Orient Express ini akan tiba di Negeri Singa pada Desember 2020. Dalam pameran tersebut selain kereta dan lokomotif ada 300 barang dan dokumen berharga yang sudah dikumpulkan dan dipulihkan untuk menampilkan satu set pajangan untuk meniru masa kejayaan perjalanan kereta api mewah.

Barang-barang lainnya termasuk poster, menu, barang pecah belah, peralatan makan, koper, jendela kaca patri dan furnitur dipajang dalam peti raksasa yang menggugah menjadi saksi sejarah Orient Express yang telah berusia berabad-abad dan menyentuh tema sosial, budaya, dan teknis yang terkait dengan kereta.

Dokumenter, film berita dan klip film yang akan memperoleh kekayaan warisan sastra dan sinematografi yang terinspirasi oleh Orient Express juga akan dipamerkan. Anda dapat mengalaminya sendiri dalam pengalaman ruang pelarian yang imersif, yang terinspirasi oleh film dan novel Murder on the Orient Express.

Bukan itu saja, ini seperti menghidupkan kembali pengalaman kereta api mewah dengan bersantap di replika gerbong restoran untuk sarapan, makan siang, atau makan malam, serta mampir di kafe jalan raya Orient Express untuk beristirahat dan menikmati kopi campuran dari berbagai tujuan tempat Orient Express pernah berhenti.

Saat Anda berangkat, jangan lupa untuk membawa pulang oleh-oleh dari perjalanan di bagian merchandise, yang akan menampilkan mainan anak-anak serta barang-barang kolektor yang sangat bagus. Once Upon a Time on the Orient Express beroperasi dari 12 Desember 2020 hingga 13 Juni 2021, di West Lawn of Gardens by the Bay. Tiket tersedia untuk pemesanan mulai 2 Oktober 2020.

Baca juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Untuk tiketnya sendiri dijual per orang seharga S$25 dan untuk paket keluarga dengan dua orang dewasa serta dua orang anak seharga S$88.

Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual

Raksasa produsen pesawat global, Boeing, dilaporkan tengah merayu maskapai agar mau membeli 737 MAX yang batal terjual. Salah satu maskapai yang tengah dipepet Boeing saat ini ialah Delta Airlines. Sayangnya, baik Boeing maupun Delta Airlines tak mau memberikan komentar apapun terkait hal ini.

Baca juga: Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Boeing 737 MAX diketahui sudah satu setengah tahun lamanya digrounded. Hal itu lantaran berbagai persoalan terus-menerus muncul saat proses perbaikan tengah dikebut.

Akhir tahun 2019 lalu, Boeing 737 MAX diketahui memiliki masalah pada salah satu kabel di dalam sistem kendali pesawat. Masalah tersebut disinyalir sangat berpotensi membuat korsleting listrik. Kemudian, pada pertengahan Januari 2020, MAX kembali bermasalah pada bagian software.

Menurut sebuah laporan, masalah ini dapat mempengaruhi kemampuan pesawat untuk memverifikasi bahwa sistemnya siap untuk penerbangan. Rencana untuk kembali terbang sesegera mungkin pun kembali tersendat.

Selang sebulan kemudian, tepatnya sekitar tanggal 20 Februari 2020, Boeing 737 MAX kembali dirundung masalah. Kala itu, masalah muncul setelah temuan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap pada beberapa 737 MAX yang belum dikirim ke pembelinya.

Lama tak terdengar, MAX justru dilaporkan kembali bermasalah. Di tanggal 9 April 2020, dalam sebuah pernyataan, raksasa dirgantara dunia tersebut mengakui bahwa pihaknya menemukan sebuah masalah pada sistem software MAX.

Boeing menguraikan bahwa satu masalah terkait pada “kesalahan hipotesa” dalam mikroprosesor flight control computer yang berpotensi menyebabkan stabilizer tidak berfungsi dengan baik. Horizontal stabilizer di bagian ekor pesawat sejatinya dapat bergerak ke atas dan ke bawah sebagai peredam gerak aktif atau stabilisator. Bila fungsi tersebut hilang karena loss control, hal itu bisa saja berakibat fatal.

Adapun masalah kedua yang ditemukan Boeing saat itu lebih mengarah pada fitur autopilot. Fitur ini ditemukan kerap aktif dengan sendirinya saat pilot sedang melakukan final approach. Tentu saja aktifnya fitur secara tiba-tiba dapat menggangu konsentrasi pilot dalam menguasai pesawat secara keseluruhan.

Setelah melalui proses perbaikan panjang, Boeing 737 MAX akhirnya kembali mengudara. Awal Juli kemarin, pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah Boeing berhasil melahap penerbangan 10 jam untuk menjalani proses sertifikasi ulang. Bila tak ada badai menghadang, 737 MAX diperkirakan bisa kembali mengangkut penumpang di seluruh dunia mulai akhir tahun ini.

Belum lama ini, menurut laporan Reuters, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, Boeing bergerak cepat untuk bisa menjual sekitar 450 737 MAX yang mangkrak di gudang akibat batal terjual.

Sebelumnya, pesawat-pesawat tersebut merupakan bagian dari 4.700 unit pesanan dari sekitar 100 pelanggan di seluruh dunia. Namun, dua kecelakaan beruntun mengubah segalanya. Satu per satu maskapai mundur dan pesawat yang sudah kadung diproduksi pun menjadi tak bertuan.

Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan

Pengakuan dari dua sumber Reuters, Delta Airlines dikabarkan hampir menyepakati opsi pembelian 40 Boeing 737 MAX yang ditinggalkan pembelinya. Tak hanya itu, beberapa maskapai lain juga tengah diseret Boeing agar mau mengikuti jejak Delta. Sekalipun tak ada laporan spesifik maskapai mana saja selain Delta, kuat diduga, maskapai-maskapai tersebut berasal dari AS.

Sebab, bukan perakara mudah untuk mengangkut penumpang menggunakan pesawat tersebut sekalipun sudah disertifikasi ulang. Butuh usaha lebih untuk meyakinkan kembali penumpang bahwa pesawat tersebut aman. Tentu, maskapai tak cukup waktu untuk melakukan hal itu, kecuali maskapai-maskapai dalam negeri AS, yang memiliki ‘tanggung jawab’ moral untuk membantu Boeing.

Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Singapore Airlines mengumumkan bakal memulai penerbangan flight to nowhere atau terbang tanpa tujuan (lepas landas dan mendarat di bandara yang sama) mulai Oktober mendatang. Program tersebut umumnya ditujukan untuk masyarakat Singapura, mengingat turis dinilai hampir mustahil masuk negara itu.

Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’

Seolah tak cukup, maskapai nasional Singapura itu belum lama ini kembali meluncurkan tiga terobosan bisnis terbaru. Tiga itu, mulai dari makan siang mewah di pesawat Airbus A380, tur keliling fasilitas pelatihan maskapai terbaik di dunia pada tahun 2018 dan terbaik ke-2 tahun 2019 versi Skytrax ini, hingga layanan pesan-antar (delivery) sajian mewah khas penerbangan.

Dilansir straitstimes.com, Singapore Airlines (SIA) membanderol makan siang selama tiga jam di kabin kelas ekonomi Airbus A380 hanya sebesar $50 atau sekitar Rp750 ribu (kurs 14.800).

Daftar harga makan siang di pesawat Airbus A380, di Bandara Changi. Foto: Istimewa

Bagi pelanggan yang menginginkan berbagai hal lebih, mulai dari sajian, pemandangan, servis, fasilitas, serta desain jauh lebih mewah dibanding kabin kelas ekonomi, mereka dapat menikmati makan siang mewah di ultra first-class suites A380 SIA dengan mahar sebesar $600 atau sekitar Rp9 juta (kurs 14.800). Layanan ini sudah bisa dipesan mulai 12 Oktober mendatang.

Bila sajian mewah di pesawat komersial terbesar sejagat milik SIA tak begitu menarik, traveller bisa menjajal pengalaman seru berkeliling pusat pelatihan maskapai. Biaya yang dipatok pun tak terlalu mahal, hanya sebesar $15 atau sekitar Rp225 ribu (kurs 14.800) untuk anak-anak berusia 3-12 tahun dan $30 atau sekitar Rp450 ribu (kurs 14.800) untuk orang dewasa.

List harga tur keliling fasilitas Singapore Airlines. Foto: Istimewa

Selain itu, SIA juga memberi kesempatan siapapun untuk menjajal serunya merasakan sensasi menerbangkan pesawat melalui flight simulator. Hanya saja, keseruan dan pengalaman unik menikmati fasilitas flight simulator SIA cukup sebanding dengan kocek yang harus dirogoh pelanggan, yakni sebesar $500 atau sekitar Rp7,5 juta (kurs 14.800). Layanan ini mulai dibuka pada 1 November 2020.

Akan tetapi, bila pandemi virus Corona begitu menyeramkan untuk memulai langkah seribu, memberanikan diri keluar dari rumah dan menjajal berbagai unit bisnis baru maskapai di tengah lesunya iklim penerbangan komersial, mungkin tawaran SIA yang satu ini cocok untuk Anda.

List program SIA@HOME. Foto: Istimewa

Maskapai Singapore Airlines diketahui juga meluncurkan program SIA@HOME, sebuah layanan pesan-antar (delivery) makanan mewah yang biasa dihidangkan SIA untuk para penumpang kelas bisnis dan kelas satu (first- or business-class). Untuk first class meals SIA, harganya dibanderol mulai dari $448 atau Rp6,6 juta (kurs 14.800). Adapun untuk business class meals SIA dalam program ini, dibanderol mulai $288 atau sekitar Rp4,3 juta (kurs 14.800). Layanan ini sudah bisa dinikmati mulai 5 Oktober 2020.

Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih

Juru bicara SIA mengatakan, mengingat kasus virus Corona masih terus bermunculan di Singapura, tiga bisnis baru di atas jumlah pesertanya akan dibatasi. Selain itu, SIA juga akan mengevaluasi program tersebut demi menemukan formula terbaik.

Sekalipun terdengar unik dan inovatif, tak sedikit kalangan memandang negatif tiga bisnis baru Singapore Airlines. Pendiri Makansutra, K.F. Seetoh, misalnya, menganggap harga sebesar itu, khususnya untuk layanan pesan antara makanan khas penerbangan, dinilai terlalu mahal. Singkatnya program tersebut diprediksi bakal sepi peminat.

Stasiun Terbesar di Asia, Xiong’an Dilengkapi Solar Panel Seluas 42.000 Meter Persegi

Mengganti listrik dengan tenaga sinar matahari atau tenaga surya untuk banyak hal mulai banyak digunakan di berbagai bidang industri. Salah satunya adalah moda transportasi yang mana di halte, stasiun maupun di bandara memiliki listrik yang dihasilkan sebagian besar dari tenaga surya.

Baca juga: Polandia Punya Fasilitas Pencucian Kereta dengan Tenaga Surya

Saat ini bahkan perjalanan kereta api di beberapa negara, sistemnya sudah menggunakan tenaga surya dalam pengoperasian kereta maupun di stasiunnya. Nah, baru-baru ini kereta api berkecepatan tinggi Beijing-Xiong’an yang melayani dari Bandara Daxing menuju ke Stasiun Xiong’an secara resmi masuk ke fase pengujian dinamis dari commisioning dan pengujian bersama.

Ini dapat diartikan, stasiun terbesar di Asia tersebut segera selesai dan mulai di operasikan oleh otoritas perhubungan di Cina. Stasiun Xiong’an merupakan stasiun kereta api kecepatan tinggi yang memiliki luas konstruksi 475 ribu meter persegi. Stasiun terbesar di Asia ini memiliki tipe jembatan dengan lima lantai utama termasuk tiga lantai di atas tanah dan dua lainnya berada di bawah tanah.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber cleantechnica.com (28/9/2020), Stasiun Xiong’an akan menggunakan listrik yang dibuat melalui proyek tenaga surya meski tidak semuanya. Hal ini terlihat dari atap stasiun terbesar di Asia ini terpasang solar panel dan diawasi oleh perusahaan konstruksi Hebei Jaringan negara.

Atap Stasiun Xiong’an ini seluas 42 ribu meter perseginya dilengkapi modul PV dengan total kapasitas terpasang enam Mega Watt dan pembangkit listrik tahunan rata-rata penggunaan 5,8 juta Kilo Watt Jam. Sehingga bisa dikatakan proyek ini menggabungkan modul efisiensi tinggi Yingli yang tidak hanya memiliki tampilan menarik sesuai lingkungan, tetapi juga memiliki kualitas yang teruji.

Baca juga: Akhir 2022, Operasional Bandara Internasional Edmonton Pakai Tenaga Surya

Selain itu memiliki keandalan tinggi, degradasi rendah dan garansi produk yang tahan lama. Energi matahari akan menyediakan sebesar 20 persen listrik untuk mengoperasikan stasiun kereta api ini dan nantinya akan menjadi demonstrasi energi bersih di transportasi umum.

Jelang Elektrifikasi Jalur Kereta Yogyakarta-Solo, PT KCI Kelola Pengoperasian KA Prameks

PT Kereta Commuter Indonesia atau KCI mulai mengoperasikan kereta api lokal di Daerah Operasional (Daop) 6 Yogyakarta. Apakah ini artinya akan ada kereta listrik yang mengular di relasi ini? Sepertinya hal tersebut akan terwujud dan warga Yogyakarta dan sekitarnya harus menunggu.

Baca juga: KA Komuter Prameks, Rencana Hingga Ke Sragen dan Pembangunan Jalur Listrik Yogya-Solo

Karena Daop 6 Yogyakarta, KAI juga mendukung program elektrifikasi yang dilakukan Kementerian Perhubungan. Dalam waktu dekat, dengan selesainya elektrifikasi, KRL akan melayani Yogyakarta hingga Klaten dan selanjutnya Solo.

(Humas PT KAI)

Di mana terlihat adanya proyek pembangunan tersebut mulai terlihat tahap demi tahapan. Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Budiyanto mengatakan, pengerjaan konstruksi saat ini berupa pemasangan tiang Listrik Aliran Atas (LAA). Dia mengatakan, pengerjaan LAA dibagi beberapa tahapn dengan 13 paket yang pembangunannya dimulai dari KM 107 hingga KM 154 Jogja-Solo.

Eko mengatakan, LAA sendiri digunakan sebagai daya penggerak KRL dan target semula, informasi yang ia dapat harus selesai di tahun 2020. Jika nantinya dapat terelasisasi, KRL tersebut mampu memangkas waktu tempuh perjalanan Yogyakarta-Solo.

Sebelum terealisasi KRL di Daop 6, PT KCI saat ini akan mengelola KA lokal yakni Prambanan Ekspres atau Prameks yang melayani Kutoarjo-Yogyakarta-Solo Balapan PP. Direktur Utama KAI Commuter Wiwik Widayanti mengatakan, pihaknya siap menerima penugasan dari PT KAI.

“Selama masa awal pengelolaan kereta lokal oleh KCI, petugas di stasiun maupun di dalam kereta senantiasa melakukan sosialisasi tata tertib serta aturan yang berlaku,“ kata Wiwiek dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, Jumat (2/10/2020).

Dia menjelaskan, aturan yang disosialisasikan adalah barang bawaan yang diperbolehkan yaitu dengan dimensi ukuran 100 cm x 40 cm x 30 cm, serta tidak diperkenankan makan dan minum di dalam kereta. Berbagai protokol kesehatan yaitu wajib menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah naik kereta, serta menjaga jarak juga selalu diingatkan kepada pengguna.

Pada tahap awal, pelanggan KA Lokal akan dilayani oleh petugas yang lebih lengkap dengan kehadiran petugas pengawalan kereta (Walka) dan Passenger Service. Walka bertugas menjaga ketertiban dan keamanan di dalam kereta selama perjalanan. Sedangkan passenger service akan memberi layanan informasi dan
kebutuhan-kebutuhan lainnya dari pelanggan.

Baca juga: Prambanan Ekspres, KRD Pertama yang Gunakan Aplikasi KAI Access untuk Pembelian Tiket

Penugasan KA Lokal kepada KCI ini selanjutnya juga akan membuat KAI dapat lebih fokus pada pelayanan di KA Jarak Jauh serta bisnis Angkutan Barang dan Non Angkutan di wilayah tersebut.

Pesawat Garuda Indonesia Pakai Masker, Maskapai Ini Sudah Lebih Dulu Loh

Garuda Indonesia resmi menyandang status sebagai maskapai pertama di Indonesia yang ‘memakaikan’ masker ke pesawat mereka. Kepastian itu didapat setelah Kamis (01/10) kemarin, maskapai nasional Indonesia itu merilis livery khusus menyerupai masker di bagian depan (hidung) pesawat Airbus A330-900 Neo.

Baca juga: Pesawat Pakai Masker Kini Jadi Kenyataan!

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, langkah tersebut diambil sebagai komitmen salah satu badan usaha milik negara untuk terus mendukung berbagai upaya yang dilaksanakan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19, yang salah satunya dilakukan melalui kampanye gerakan “Ayo Pakai Masker”.

“Menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami menjadi maskapai penerbangan nasional pertama di Indonesia yang menampilkan livery khusus pesawat dengan masker. Hal ini juga sejalan dengan komitmen dan keseriusan kami dalam mengedepankan aspek keselamatan dan kenyamanan para penumpang di masa adaptasi kebiasaan baru – khususnya dalam memastikan bahwa seluruh protokol kesehatan terimplementasikan secara optimal dan konsisten pada semua lini operasional penerbangan,” jelasnya dalam sebuah rilis yang diterima KabarPenumpang.com.

Boeing 747-8 Cargolux Airlines pakai masker. Foto: straitstimes.com

“Kami menyadari bahwa upaya pencegahan penyebaran pandemi Covid-19 tentunya memerlukan dukungan penuh dan peran aktif berbagai pihak. Kiranya dengan dengan upaya yang kami lakukan tersebut dapat turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan penerapan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya melalui penggunaan masker,” tambahnya.

Total pesawat yang akan menggunakan livery bermasker tersebut, lanjut Irfan, adalah sebanyak lima armada. Pesawat-pesawat bermasker Garuda Indonesia tesebut nantinya akan melayani rute penerbangan domestik maupun rute penerbangan internasional, termasuk antara lain destinasi penerbangan Singapura dan Jepang.

Pesawat United Airlines pakai masker. Foto: Twitter

Meskipun berhasil menjadi maskapai pertama di Indonesia yang armadanya memakai masker, Garuda Indonesia bukanlah yang pertama di dunia. Sebelumnya, beberapa maskapai di dunia telah lebih dahulu memakaikan masker ke pesawat-pesawat mereka.

Baca juga: Viral, Penumpang Pesawat Kesurupan Naik Ke Atas Kursi dan Teriak Sumpah Serapah

Pesawat Pobeda Airlines dengan livery masker di bagian hidung pesawat. Foto: Allplane

Pobeda Airlines (anak perusahaan Aeroflot, Rusia) dan United Airlines sudah lebih dahulu mengenakan masker di bagian hidung pesawat. Motif masker yang menempel di pesawat masing-masing juga tergolong berbeda. Pesawat United Airlines sejauh ini tertangkap kamera dilengkapi dengan ‘masker’ berwarna biru tua di bagian hidung pesawat saat sedang parkir di apron bandara. Belum sekalipun pesawat ‘bermasker’ itu kedapatan terbang.

Berbeda dengan United Airlines, Pobeda Airlines sudah berkali-kali kedapatan menerbangan pesawat ‘bermasker’ dengan motif abu-abu list biru itu di rute-rute regional Rusia. Begitu juga dengan pesawat ‘bermasker’ biru Boeing 747-8 Cargolux Airlines, sudah melanglang buana ke berbagai negara, sebagai bentuk dukungan perusahaan dan pemerintah Luksemburg terhadap penggunaan masker secara massif demi menekan penyebaran virus Corona.