Ninja UAV – Drone yang Bantu Pemetaan dan Pengawasan Indian Railways

Ninja UAV kendaraan udara tak berawak yang berbasis drone digunakan Indian Railways dalam upaya untuk mengintensifkan mekanisme keamanan di seluruh jaringannya. Ninja UAV sendiri merupakan alat mikro ringan dan ekonomis yang dibuat untuk pemetaan dan pengawasan.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

KabarPenumpang.com melansir laman hindustantimes.co (18/08/2020), drone beats ini telah dirancang berdasarkan aset kereta api, sensitivitas daerah dan serangan kriminalnya. Seorang pejabat Indian Railways mengatakan, teknologi pengawasan drone telah muncul sebagai alat penting dan hemat biaya untuk pengawasan keamanan di area yang luas dengan tenaga terbatas.

”Sebagai percontohan, kami telah mulai dengan Divisi Kereta Api Pusat (CR) Mumbai. Kami baru-baru ini membeli dua Ninja UAV untuk keamanan dan pengawasan yang lebih baik di area seperti lokasi stasiun, rel kereta api, halaman, bengkel dan lainnya. Sebuah tim yang terdiri dari empat staf RPF (Pasukan Perlindungan Kereta Api), Mumbai, telah dilatih untuk menerbangkan drone, pengawasan dan pemeliharaan. Drone ini mampu melakukan pelacakan waktu nyata, streaming video dan juga dapat dioperasikan pada mode gagal-aman otomatis,” kata pejabat tersebut.

Kamera drone dapat mencakup area yang luas, yang mungkin membutuhkan hingga sepuluh personel RPF. RPF telah merencanakan penggunaan drone secara ekstensif untuk keamanan kereta api di seluruh zonanya. Saat ini, sembilan drone telah dibeli oleh RPF dengan biaya Rs31,87 lakh untuk zona South Eastern Railway (SER), CE dan South Western Railway (SWR) dan Modern Coaching Factory, Raebareili.

Indian Railways pun kini tengah berencana untuk menambah drone sebanyak 17 buah dalam waktu dekat dengan biaya Rs97,52 lakh. Nantinya, penyebaran drone bisa menjadi pengganda kekuatan bagi personel keamanan. Drone dapat membantu dalam pemeriksaan aset kereta api dan keamanan halaman. Drone juga dapat digunakan untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas kriminal dan anti-sosial seperti perjudian, membuang sampah sembarangan, menjajakan, antara lain, di tempat kereta api.

”Drone dapat digunakan untuk analisis pengumpulan data dan mungkin terbukti berguna di bagian yang rentan untuk pengoperasian kereta yang aman. Bahkan drone ini dapat digunakan di lokasi bencana untuk membantu penyelamatan, pemulihan, dan operasi restorasi dan koordinasi upaya berbagai lembaga,” kata catatan tentang pengawasan drone yang dikeluarkan Kementerian.

Drone dapat berguna saat melakukan pemetaan aset kereta api untuk menilai perambahan pada properti kereta api. Selama upaya pengelolaan kerumunan skala besar, drone dapat memberikan masukan penting seperti besarnya pertemuan, kemungkinan waktu kedatangan dan penyebaran berdasarkan mana latihan semacam itu dapat direncanakan dan dilaksanakan.

Baca juga: Agar Bermanfaat dan Tak Membahayakan, Begini Syarat Jadi Pilot Drone

Drone juga digunakan untuk menegakkan pembatasan lockdown dan memantau pergerakan migran kembali ke tempat asalnya setelah wabah penyakit virus corona (Covid-19). Sejauh ini, otoritas RPF telah melatih 19 personelnya dalam pengoperasian dan pemeliharaan drone. Dari 19 staf RPF, empat telah menerima lisensi untuk menerbangkan drone dan enam lainnya sedang menjalani pelatihan untuk latihan serupa.

‘Serangan’ Beruang Bikin Penerbangan di Rusia Terhenti Puluhan Menit!

Serangan seekor beruang bikin penerbangan di Rusia, tepatnya di sebuah bandara di Magadan, Oblast, sempat terhenti selama kurang lebih 20 menit. Hal itu dikarenakan beruang liar tersebut berkeliaran di landasan sehingga mengganggu aktivitas penerbangan.

Baca juga: Bikin Ketar-Ketir Penumpang, Inilah 6 Insiden Binatang Masuk ke Pesawat Tanpa Sengaja

Seperti dilaporkan Aviation Herald, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, maskapai S7 sejatinya dijadwalkan mendarat lima jam di Magadan, Timur Jauh Rusia, setelah lepas landas dari Bandara Novosibirsk (OVB) di sebelah Selatan dengan jarak sekitar 4 ribu km.

Akan tetapi, saat pesawat A320neo dengan nomor registrasi VQ-BRI menurunkan ketinggian ke 500 kaki dan melakukan pendekatan pendaratan, pilot melihat landasan terhalang objek yang belakangan diketahui seekor beruang. Pilot pun memutuskan kembali meningkatan ketinggian dan menjauh dari landasan.

Akibat kejadian itu, pesawat harus berputar-putar di langit sekitaran bandara selama 20 menit sebelum akhirnya mendarat dengan selamat tanpa gangguan beruang. Tak dijelaskan dengan rinci bagaimana beruang tersebut pergi, entah karena desakan dari petugas atau memang pergi begitu saja.

Teror beruang di bandara Rusia tentu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pada Juni tahun lalu, salah satu bandara di Negeri Beruang Merah itu, Yelizovo, dilaporkan harus ditutup sementara setelah beruang tak bertuan masuk ke area bandara. Bandara di Timur Jauh itu akhirnya bisa kembali beroperasi setelah petugas penjaga hewan datang. Sayangnya, tak lama petugas datang, beruang tersebut terlebih dahulu melarikan diri dan hilang bak hantu.

Timur Jauh Rusia memang jadi salah satu wilayah di Rusia yang kerap kedatangan beruang, mengingat wilayahnya yang masih asri, tak seperti di bagian Barat Rusia, seperti Moskow dan kota-kota lainnya yang sudah dipenuhi bangunan dan manusia.

Selain Rusia, penerbangan di negara-negara lainnya juga sempat terganggu akibat kemunculan hewan liar. Di Kenya, maskapai regional negara tersebut, Safarilink pernah bertabrakan dengan rusa liar saat mendarat di Maasai Mara. Beruntung, pesawat Bombardier Q Series atau Dash 8 beserta seluruh penumpang dan kru tak selamat. Namun tidak demikian dengan sang rusa yang dilaporkan mati seketika.

Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow

Di Goa, India, pesawat A320-200 AirAsia juga pernah terganggu akibat hewan liar. Berbeda dari dua negara sebelumnya, kala itu, seekor anjing liar yang menjadi aktornya. Begitu juga di Pakistan saat seekor babi hutan berkeliaran di runway. Namun, nahas nasib binatang tersebut, pasalnya pilot tak melihat dan tabrakan antara Etihad A320 dengan babi hutan akhirnya tak terhindarkan. Meskipun pesawat dan seluruh penumpang beserta kru selamat, tidak demikian dengan babi hutan itu yang disebut harus menemui ajalnya.

Meskipun tak terlalu sering, gangguan hewan liar di berbagai negara harus ditangani dengan serius. Sebab, jika pada penerbangan siang hari saja, sudah banyak hewan liar yang tertabrak, bagaimana dengan malam hari, dimana visibilitas pilot lebih terbatas terhadap objek asing di landasan. Bila tidak segera dievaluasi dan diambil langkah-langkah konkret, bukan tak mungkin insiden penerbangan terganggu akibat hewan liar akan terus terjadi dan kelak menimbulkan korban jiwa.

PK-KKH, Sang Pendahulu N250 yang Lebih Awal Pamer Pesawat Indonesia di Eropa

Bicara dunia kedirgantaraan Indonesia, banyak kalangan seketika langsung teringat dengan BJ Habibie, Presiden Indonesia ketiga sekaligus perancang pesawat N250, pesawat pertama di Asia yang berhasil terbang ferry flight jarak jauh ke Eropa untuk menjali serangakian promosi, termasuk mengikuti salah satu event kedirgantaraan ternama di dunia Paris Air Show tahun 1997.

Baca juga: Dari Bandung ke Paris, N250 Jadi Pesawat Buatan Asia Pertama yang Lakoni Ferry Flight Lintas Benua

N250, yang kala itu dipimpin langsung oleh pilot uji senior IPTN, Kolonel Pnb Chris Sukardjono, bersama lima orang lainnya, terdiri dari tiga teknisi dan dua penerbangan, berhasil terbang ferry flight sejauh lebih dari 13.500 km, Bandung-Paris, dengan selamat. Masyarakat Indonesia senang, dunia pun tercengang.

Padahal, jauh sebelum itu, pesawat buatan Indonesia (sebelum merdeka) lainnya, PK-KKH sudah lebih dahulu menggemparkan dunia. Menariknya, pesawat tersebut sama-sama lahir di Bandung dari tangan dingin seorang insinyur yang juga dekat dengan Anthony Fokker, Achmad bin Talim. Bedanya, N250 dirancang oleh BJ Habibie langsung, sedangkan PK-KKH dirancang oleh orang Belanda dan dibuat oleh orang Indonesia.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sejarah pesawat pertama Indonesia yang melanglang buana sampai ke Eropa dimulai saat pengusaha daging dan roti sekaligus anggota klub terbang LA (Luchtvaart Afdelingen), Khouw Khe Hien, berniat untuk membuat pesawat sendiri. Ia ingin ada pesawat pribadi yang mampu membantunya dalam mengontrol kerajaan bisnis miliknya.

Ide tersebut kemudian diceritakan ke rekannya sesama LA, L.W. Walraven. Walvaren bersama Kapten M.P. Pattist kemudian mulai merancang pesawat tersebut pada tahun 1934. Selesai dirancang, Achmad bin Talim pun, yang juga bagian dari LA, ditunjuk untuk menjadikan rancangan tersebut menjadi sebuah pesawat langsing dan aerodinamis serta bersayap tunggal (monoplane) dan rendah (low wing) itu.

Berbekal bakar dan pengalamannya saat ditempatkan oleh Anthony Fokker di bagian perbaikan pesawat, Achmad bersama beberapa temannya berhasil merampungkan pesawat berbadan kayu ini dalam tempo enam bulan, termasuk memasang kedua mesin Pobyo 90 TK. Dalam sebuah tulisan di Majalah Angkasa No.3 Desember 1990, ia mengaku tidak menemui kesulitan apapun dalam proses pembuatan karena bahan bakunya tersedia, seperti tripleks, plat, sekrup, kawat, dan sebagainya.

Pesawat yang rodanya tidak bisa dilipat (fixed landing gear) ini akhirnya resmi terbang perdana pada tanggal 4 Januari 1935. Bangga dengan pesawat asli Hindia Belanda buatan Bandung ini, Khouw Khe Hien sebagai insiator dan Walraven pun berniat mempromosikan pesawat tersebut ke Eropa dan melenggang ke Eropa, dengan rute Bandung-Cililitan-Amsterdam pada tanggal 9 September 1935.

Walraven berangkat ke Belanda dengan menggunakan pesawat dari maskapai penerbangan KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij), sedangkan Walraven W-2 dengan nomor registrasi PK-KKH tersebut diterbangi oleh pilot LA, Letnan Kees Terluin dan Khow Khe Hien sebagai pilot kedua.

Setelah 18 hari, dari semula target penerbangan kurang dari 10 hari -mengingat adanya kendala mesin- Walvaren 2 PK-KKH akhirnya berhasil tiba di Bandara Schipol, Amsterdam pada tanggal 27 September 1935. Pesawat tersebut dikabarkan menerima sambutan cukup meriah. Sebab, saat itu, belum ada pesawat Asia yang terbang ferry flight cukup jauh ke Eropa.

Baca juga: Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara

Belum lagi, pesawat yang hanya dilengkapi dengan jarum penunjuk kecepatan, altimeter, temperatur, kompas, dan penunjuk bahan bakar di kokpit ini, biaya pembuatan pesawat tersebut cukup murah, kurang lebih sekitar 5-6.000 gulden atau setara dua unit mobil sedan Buick.

Setelah kembali dari Amsterdam pada 12 November 1935, Walvaren 2 PK-KKH makin menggeliat dengan terbang jauh ke Cina. Namun, proyek pesawat buatan Bandung tersebut akhirnya harus sirna setelah perancang serta inisiatornya menemui ajal masing-masing sebelum Indonesia merdeka.

Hilangkan Kursi Ganda di Bus, Torsus Buat Sekat Antar Kursi Penumpang Guna Cegah Penularan Covid-19

Menjaga jarak sosial antar satu manusia dengan lainnya menjadi hal lumrah di masa pandemi Covid-19. Ini pun diterapkan dalam moda transportasi umum yang sudah mulai kembali beroperasi untuk mengangkut penumpang setelah penguncian di negara-negara dunia diangkat.

Baca juga: PO Bus di Myanmar Modifikasi Interior untuk Cegah Penularan Covid-19

Salah satu cara yang digunakan oleh moda transportasi untuk memberikan keamanan dan kenyamanan penumpang adalah memberi sekat antar kursi penumpang. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan otomotif di Eropa yakni Torsus. Mereka memiliki cara cerdik untuk melindungi pengendara bus dan penumpang satu dengan lainnya melalui opsi tempat duduk baru.

KabarPenumpang.com melansir dari laman autoindustriya.com (18/8/2020), Torsus yang dikenal karena membangun bus off-road saat ini harus beradaptasi dengan normal baru dan mereka menawarkan opsi tempat duduk yang memenuhi pedoman jarak sosial internasional. Perusahaan ini menghapus salah satu kursi ganda dan hanya menyisakan satu kursi di dalam deretan kabin bus per barisnya di setiap sisi.

Kemudian kursi-kursi tersebut dibungkus dalam polong pelindung yang dibuat dari plastik bening setebal 3,5 mm yang secara khusus dibentuk untuk dimasukkan ke dalam barisan kursi yang kosong. Dengan adanya ini, setiap penumpang akan lebih aman dan nyaman karena memiliki jaringan pengamanan pribadi di dalam bus.

Kehadiran sekat-sekat antar kursi di kabin bus, mengurangi kemungkinan penumpang tertular Covid-19. Selain itu, penumpang juga tidak akan melakukan kontak langsung dengan penumpang lainnya. Namun, nantinya jika situasi kembali normal seperti sediakala dan jarak sosial tidak lagi diperlukan dalam angkutan umum, maka bus dapat dikembalikan ke interior berkapasitas penuh.

Ternyata, apa yang dilakukan oleh Torsus bisa dikatakan terlambat, pasalnya perusahaan otobus (PO) di Myanmar sudah terlebih dahulu menggunakan sekat di dalam bus mereka. JJ Express yang merupakan PO asal Myanmar tersebut memodifikasi bus agar penumpang nyaman dan mencegah tertular Covid-19.

Modifikasi yang dilakukan adalah memberikan sekat plastik sehingga setiap kursi menjadi seperti bilik yang muat untuk satu orang. Mereka bahkan sudah mengubah selusin armada yang dimiliki dan membangun kabin mini menggunakan panel aluminium serta pintu di sekitaran kursi tunggal dan satu kabin di dekat jendela pada kursi kedua.

Baca juga: Dear Penumpang Kereta Komuter, Ilmuan Jepang Beberkan Cara Cegah Corona di Gerbong Loh

Tak hanya itu mereka juga merombak sistem pendingin udara dan memasang filter desinfeksi. Setelah dimodifikasi penumpang akan membayar $20 atau sekitar Rp287 ribu dan naik sekitar 20 persen dari harga standar biasanya.

Taksi di Selandia Baru Gunakan Kode QR Guna Lacak Penumpang yang Terinfeksi Covid-19

Seorang pemilik taksi Marlborough menghubungi hotline pemerintah untuk bertanya terkait New Zealand (NZ) Covid Tracer App setelah mendengar semua bisnis di bawah level siaga 2 harus menampilkan kode QR unik pada pukul 11.59 di hari Rabu (19/8/2020). Jim Watson pemilik taksi Marlborough mengatakan, dirinya langsung bertanya-tanya apakah taksi harus menampilkan kode QR unik meski pengumuman tidak menyebut kendaraan tetapi hanya tempat.

Baca juga: Dari Kode QR Hingga Media Sosial, Inilah Empat Cara Cina Lacak Covid-19

Sebab saat ini masyarakat yang memiliki aplikasi di ponsel mereka akan memindai kode QR unik tersebut sebagai alternatif lebih cepat dibandingkan menulis data secara manual pada setiap tempat yang dikunjungi. Hal tersebut harus dilakukan untuk membantu kementerian melacak kemungkinan kontak dengan orang yang terinfeksi Covid-19.

Karena kode QR unik ini, Watson mengingat bahwa armada mereka pernah membawa orang yang terinfeksi Covid-19 dari bandara tanpa mengetahuinya dan itu membuatnya takut serta kepercayaan pada orang lain sedikit memudar. Dia menceritakan, saat itu pengemudi taksinya mengangkut seorang penumpang pria dengan gejala Covid-19 dari Bandara Marlborough ke Rumah Sakit Wairau di Blenheim pada 24 Maret lalu.

Dia menjelaskan pengemudi taksi itu tidak mengetahui penumpangnya positif Covid-19 sampai dia dilacak dua bulan kemudian. Watson mengatakan, mereka sering dilupakan dan tidak mendapatkan dukungan yang sama dengan para pekerja lainnya. Adanya kabar itu yang membuat dirinya menghubungi hotline pemerintah untuk mengetahui apakah taksi perlu kode QR unik. Tetapi yang didapat adalah dirinya dilempar dari bagian yang satu ke bagian lainnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari stuff.co.nz (18/8/2020), Watson mengaku, ketika bertanya hal itu, mereka mengatakan, dia harus memiliki kode tersebut di taksi dan istrinya kemudian mencetaknya.

“Tapi kemudian kami menyadari itu terlalu besar untuk muat di taksi dengan papan nama saya yang lain, dan itu harus di pintu. Jadi kami menelepon lagi, dan mereka tidak tahu apakah Anda dapat mengubah ukurannya. Mereka menghubungkan saya dengan sekitar tiga orang yang berbeda, hanya untuk memberi tahu saya jika Anda menyusutkan dan memindai dan berfungsi, itu pasti baik-baik saja,” jelasnya.

Setelah itu, Watson kembali bertanya apakah mereka membutuhkan kode QR unik berbeda untuk setiap armada mereka? Tetapi hal itu tidak di jawab, namun ingin tahu pengemudi mana yang membawa penumpang sehingga kode yang dimiliki akan berbeda satu dan lainnya. Karena Kebingungan, Watson kemudian bertanya pada Federasi Taksi NZ dan meminta saran dari Kementerian Transportasi sebelum mengedarkan pemberitahuan ke semua perusahaan taksi dan menjelaskan taksi individu harus memiliki kode QR unik mereka sendiri.

“Itu semua taksi, shuttle, Uber atau apa saja yang membawa penumpang berkeliling dengan tarif tertentu. Apakah mereka tahu bahwa mereka membutuhkannya? Dan siapa yang memantau kepatuhan? Itu ide yang bagus tapi sangat sulit untuk mendapatkan jawaban, dan kami bisa saja dilanggar, meskipun tidak ada yang memberi tahu kami secara langsung,” ujarnya.

Baca juga: Aplikasi Rideshare dan Taksi Kanada Persiapkan Diri untuk Cegah Covid-19

Bersamaan dengan kode yang dipasang di pintu penumpang, Watson juga telah mencetak kode laminasi longgar untuk diedarkan di dalam kendaraan. Dia ingin memberi kesan kepada penumpang betapa pentingnya mereka menggunakan kode QR unik, atau mencatat taksi mana yang mereka gunakan.

The Party Bus KL hadirkan Layanan Pesta di Dalam Bus dengan Tamu Hanya 12 Orang

Bus penumpang atau pariwisata tidak hanya bisa mengangkut orang untuk bepergian. Sebab beberapa orang atau para pemilik perusahaan otobus (PO) bisa saja mengubah bagian dalam bus mereka sesuai permintaan pelanggan.

Baca juga: Royale VIP Bus, Pindahkan Nuansa Klub Malam ke Dalam Bus

Sebut saja seperti menjadi sebuah kamar, restoran, coffee shop, perpustakaan, tempat karaoke bahkan sebuah bar. Seperti The Party Bus KL yang memanjakan penumpangnya ketika mereka ingin berpesta sembari menikmati perjalanan.

Dilansir Kabar penumpang.com dari laman wolrdofbuzz.com (14/8/2020), The Party Bus KL di Kuala Lumpur, Malaysia, ini mampu menampung 12 orang tamu. Dilengkapi dengan bar, sistem karaoke, televisi layar datar dan soket pengisian data USB agar ponsel Anda tidak kehabisan baterai.

Selain itu The Party Bus KL juga melengkapi dengan lima kursi sofa selain kursi dengan sandaran tinggi dan kursi berputar. Adapula lampu lantai, lampu langit-langit (lampu disko) dan efek khusus untuk memberikan pengalaman seperti pesta dalam perjalanan Anda.

Tentu saja sound system juga melengkapi memainkan lagu favorite Anda. Namun untuk menikmatinya mungkin Anda harus mengocek cukup dalam karena ada berbagai paket yang bisa dipilih setiap pelanggan.

Nah, kehadiran The Party Bus KL ini mengingatkan pada bus berwarna putih dengan plat kuning milik seorang yang gemar mengadakan pesta di Indonesia. Ya, bus milik Daisy Wong Will CEO dari Royale VIP Bus tersebut mengadaptasi gaya hidup orang luar yang memiliki bus serupa.

Daisy membuat bus party ini merupakan sebuah ide gila untuk menikmati gemerlapnya dunia malam ibukota. Bus milik Daisy mampu mengangkut 20-25 orang dan dilengkapi fasilitas air mineral dan es serta snack yang juga dapat dipesan.

Biasanya digunakan untuk perayaan pesta ulang tahun, kelulusan, maupun pesta-pesta lainnya. Penyewanya pun beragam, dari mulai perorangan hingga korporat pernah menyewa party bus ini. Walaupun bus ini terkesan sempit dengan jumlah orang yang masuk, serta dentuman musik dengan volume yang keras, ini bukanlah menjadi suatu halangan bagi para penggunanya.

Diantara mereka malah mengatakan lebih senang berdesak-desakan, karena suasana yang didapat begitu intim. Tidak ada batasan untuk jarak tempuh dari bus ini, yang penting Anda tidak melebihi waktu sewanya. Apabila Anda melebihi waktu sewa, Anda tinggal membayar selisihnya saja. Begitu pula dengan pilihan rutenya, Anda dapat meminta pengemudi untuk melewati daerah yang Anda mau.

Baca juga: Citymapper Temani Penumpang di London dengan Layanan Bus Malamnya

Untuk menikmati Royale VIP Bus ini, Anda harus merogoh kocek Rp3,5 juta untuk tiga jam dan merupakan waktu minimal untuk menyewanya. Meski begitu di dalam bus ini Anda tidak boleh merokok, membawa obat-obatan terlarang, perlakuan susila dan harus menjaga fasilitas didalam bus.

Boeing 747 Qantas Terbang dengan Lima Mesin dan Tetap Stabil, Ini Rahasianya!

Di antara ratusan maskapai di dunia, Qantas tercatat menjadi masakapai yang paling sering menerbangankan pesawat dengan lima mesin. Alasan di balik hal itu sangat simpel, terkait erat dengan efisiensi.

Baca juga: Boeing 707 Milik Qantas Pernah Terbang dengan Lima Mesin!

Penerbangan perdana Qantas dengan lima mesin terjadi pada akhir Juni tahun 1959. Setelah armada pertama Boeing 707 diterima pada 7 Juni 1959, maskapai pertama di luar Amerika Serikat yang menjadikan Boeing 707 sebagai armadanya ini tak lantas menerbangkan pesawat tersebut.

Kala itu, Qantas masih menunggu kesiapan tim teknik untuk menyematkan mesin kelima yang menempel di sayap bagian kiri. Setelah dua pekan, barulah pesawat siap diterbangkan dengan lima mesin untuk memulai tahun layanan.

Setelah Boeing 707, giliran armada Boeing 747 Qantas yang diterbangkan dengan lima mesin. Bedanya, jika Boeing 707 Qantas terbang dengan lima mesin untuk tujuan safety, dimana satu mesin lainnya diplot sebagai mesin pengganti bila mana suatu waktu mesin mengalami kerusakan, maka, Queen of the Skies Qantas terbang dengan lima mesin untuk memberi dukungan pada pesawat Qantas lainnya yang tengah bermasalah pada mesin.

Simple Flying mengabarkan, meskipun sempat menjadi kontroversi, pesawat Qantas rute Sydney-Johanesburg bernomor penerbangan QF63 akhirnya tetap terbang dengan lima mesin pada 2016 lalu.

Hal itu dilakukan Qantas untuk mempersingkat waktu pengiriman. Pasalnya, bila mesin dikirim via laut, mungkin akan memakan waktu lama. Kemudian, teknik penempatan mesin di sayap juga didorong oleh dimensi pesawat itu sendiri. Boeing 747 tidak cukup besar untuk memuat mesin pesawat. Itulah sebabnya mesin diletakkan di sayap.

Menurut Qantas, Boeing 747 memungkinkan untuk dipasangi satu mesin tambahan di kedua sayapnya. Pemasangan itu pun tidak memengaruhi kondisi pesawat. Hanya saja teknik ini memang jarang digunakan. Namun bagi Qantas, teknik tersebut rasanya sudah begitu melekat, mengingat pada tahun 1959 dan 2011 silam maskapai nasional Australia itu sudah pernah melakoninya.

Secara matematis, bobot mesin Rolls-Royce RB211 yang mencapai enam ton seharusnya bakal menambah beban di bagian kiri pesawat, tempat mesin tambahan berada. Hal itu pulalah yang menjadi dasar kekhawatiran para penumpang dalam penerbangan QF63 Qantas rute Sydney-Johanesburg.

Baca juga: Mengenal GE9X Boeing 777X, Mesin Pesawat Terkuat di Dunia

Namun, hal itu dibantah oleh maskapai. Menurut Qantas, meskipun bobot mesin kelima mencapai enam ton dan berpotensi menganggu keseimbangan, namun, letaknya yang sangat dekat dengan badan pesawat membuatnya tetap seimbang, mirip tengan konsep pesawat trijet dimana mesin ketiga menempel di bagian tengah belakang pesawat.

Sebab, dengan penempatan di dekat badan pesawat, beban mesin seolah bergabung dengan beban badan pesawat sebagai pusat gravitasi. Dengan begitu, pesawat bisa tetap seimbang meskipun dengan mengeluarkan tenaga ekstra -karena tambahan mesin kelima tadi- yang pada akhirnya membuat penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros dari biasanya.

Pesawat Jet Komersial Terpendek di Dunia Rupanya Warisan Jerman Barat

Pesawat jet komersial terbesar di dunia mungkin sudah biasa didengar. Siapa lagi kalau bukan Airbus A380 superjumbo. Kompetitor abadi Airbus asal Amerika Serikat (AS), Boeing, juga punya Boeing 747 Queen of the Skies sebagai pesawat jumbo setingkat di bawah A380.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Demikian juga untuk pesawat terpanjang di dunia yang dipegang oleh Boeing 777-9X, dengan panjang mencapai 76,7 m, disusul oleh Airbus A350-1000 dengan panjang sekitar 73,79 meter, mungkin sudah lumrah didengar. Tetapi, kebalikan dari itu, siapa di antara Anda yang pernah mendengar pesawat jet komersial terpendek di dunia?

Sebelum membahas lebih jauh, pesawat jet komersial terpendek di dunia dalam artikel ini hanyalah pesawat yang pernah digunakan oleh maskapai penerbangan dalam layanan berjadwal.

Diwartakan dari Simple Flying, Airbus tercatat punya pesawat terkecil sepanjang sejarah berdirinya perusahaan. Pesawat tersebut adalah Airbus A318 “Baby Bus”. Pesawat dari keluarga A320 itu bahkan masih lebih kecil dari Airbus A220-100 (tipe terkecil) dengan hanya memiliki panjang 31,44 meter, terpaut sekitar tiga meter lebih dari A220-100 dengan panjang 35 meter.

Tak kalah dengan Airbus, Boeing juga punya pesawat jet komersial terkecil sepanjang beridirinya perusahaan, yakni Boeing 737-100. Sayangnya, pesawat dengan panjang hanya 28,35 meter sudah tak lagi beroperasi dan digantikan dengan saudara kembarnya, Boeing 737-200 dengan panjang 30,53 meter dan masih terus beroperasi hingga saat ini.

Namun, baik pesawat terkecil dari Boeing dan Airbus, rupanya masih belum sanggup bertengger di puncak daftar pesawat terpendek di dunia.

Boeing dan Airbus masih kalah dengan De Havilland Comet One, pesawat jet komersial pertama di dunia dengan panjang hanya 28 meter, sedikit lebih pendek ketimbang BAC One-Eleven yang hanya memiliki panjang sekitar 28,50 meter. Pesawat besutan pabrikan asal Inggris itu (De Havilland Comet One) juga masih lebih pendek dibanding pabrikan asal Rusia, Sukhoi Superjet 100 yang memiliki panjang 29,94 meter.

Melewati pabrikan asal Rusia, Perancis, Amerika Serikat, dan Inggris, pabrikan pesawat asal Brasil, Embraer punya pesawat jet komersial yang lebih pendek dari pesawat-pesawat mereka. Pabrikan yang nyaris diakuisisi oleh Boeing itu punya varian pesawat terpendek, ERJ135, dengan panjang hanya 26,33 m.

Baca juga: Juancho E. Yrausquin Airport, Bandara Terkecil dengan Runway Terpendek di Dunia

Akan tetapi, ERJ135 masih tak cukup pendek dibanding Fairchild Dornier 328-300JET. Pesawat besutan perusahaan asal Jerman itu memiliki panjang sekitar 21,11 meter, yang masih bisa dikalahkan oleh pesawat bekas Uni Soviet, Yakovlev Yak-40. Pesawat yang saat ini kepemilikannya jatuh ke tangan Slovakia ini hanya memiliki panjang sekitar 20 meter.

Meskipun demikian, Yakovlev Yak-40 bukanlah pesawat jet komersial terpendek di dunia. Di bawahnya, masih ada lagi pesawat warisan Jerman Barat yang bertengger di puncak daftar pesawat komersial terpendek di dunia, yakni VFW-Fokker 614 dengan hanya 20,6 meter. Walaupun pendek, pesawat yang diproduksi saat era Jerman Barat itu mampu mengangkut 40-44 penumpang, jauh lebih banyak dari Fairchild Dornier 328-300JET dan Embraer ERJ135.

Qatar Airways Tuntaskan Refund Tiket Senilai US$1,2 Miliar

Dampak pandemi Covid-19 pada terpuruknya sektor penerbangan telah menjadi kenyataan pahit hampir di seluruh dunia. Diantara beban berat yang harus dihadapi maskapai adalah kemampuan perusahaan untuk mengembalikan dana (refund) kepada calon penumpang yang sudah kadung membeli tiket tetapi mengalami pembatalan terbang lantaran serangkaian lockdown di banyak negara.

Baca juga: Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund

Mengembalikan dana yang telah masuk ke kas maskapai pada kenyataan bukan perkara mudah, lantaran kegiatan finansial ini bakal berpengaruh besar pada likuiditas perusahaan yang tengah mendapat tekanan. Kasus yang terjadi pada Thai Airways bisa menjadi contoh, dimana maskapai plat merah Thailand tersebut terpaksa menunda proses refund akibat proses ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand.

Rupanya tak semua maskapai keok untuk melakukan refund, Qatar Airways maskapai tajir asal Timur Tengah telah membuat gebrakan yang spektakuker. Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (19/8/2020), disebutkan Qatar Airways telah membayar refund lebih dari US$1,2 miliar kepada hampir 600.000 calon penumpang sejak Maret 2020. Pihak Qatar Airways menyebut langkah itu dilakukan untuk menghormati kewajiban kepada penumpang yang perlu mengubah rencana perjalanan mereka sebagai dampak dari pandemi Covid-19 pada perjalanan global.

Baca juga: Buntut Kisruh Diplomatik, Sejumlah Maskapai Penerbangan Lalukan Refund Tiket Dari dan Ke Qatar

Refund yang dilakukan Qatar Airways disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia dari segi nilai, Qatar Airways telah bekerja keras untuk memproses hampir semua permintaan pengembalian dana yang diminta sejak Maret 2020 (96 persen). Qatar Airways memproses semua permintaan pengembalian dana baru ke bentuk pembayaran awal dalam waktu kurang dari 30 hari.

.

Mau Tengok Artefak di Turki? Yuk Mampir ke Museum di Bandara Istanbul

Menjadi salah satu pintu gerbang untuk masyarakat dunia, bandara-bandara didesain sedemikian rupa untuk membuat pelancong nyaman baik ketika menunggu keberangkatan maupun bagi mereka yang tiba di kedatangan. Bahkan beberapa bandara dunia memiliki tempat rekreasi untuk semua pelancong seperti bioskop, taman outdoor, akuarium dan lainnya.

Baca juga: Wow! Tujuh Bandara Ini Punya Fasilitas Tur Gratis

Nah, untuk melepas kepenatan, belum lama ini, Bandara Istanbul menhadirkan sesuatu yang baru bagi pelancong yakni sebuah museum. Di mana keberadaan museum ini bisa dinikmati oleh semua penumpang internasional yang tiba di Turki. Bandara Istanbul yang merupakan pintu gerbang Turki ke dunia, akan mulai pameran di museumnya dengan “Treasures of Turkey: Faces of the Throne.”

Pihak bandara menghadirkan museum untuk meningkatkan dari global hub dengan layanan penumpang yang luar biasa. Sebab di museum ini akan ditampilkan karya-karya dari seluruh sejarah Turki untuk dijelajahi pelancong. Kadri Samsunlu, CEO İGA Airport Operation Inc, mengatakan, pihaknya ingin mengubah waktu yang dihabiskan di bandara menjadi pengalaman yang unik.

“Tujuan kami adalah mengalihkan perhatian penumpang kami pada seni dan budaya,” ujar Kadri yang dikutip KabarPenumpang.com dari prnewswire.com (18/8/2020).

Dia mengatakan, museum ini juga menawarkan informasi pengantar tentang 18 tempat di Turki yang terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Kadri menambahkan, pameran pertama akan menampilkan seni dari berbagai era sejarah Turki yakni “Treasures of Turkey: Faces of the Throne,” yang akan menampilkan 316 karya berbeda dari 29 museum di Turki.

Museum ini merupakan koleksi yang terdiri dari beberapa artefak menarik seperti “Kadesh Treaty.” Kadri menyebutkan, “Kadesh Treaty” merupakan perjanjian perdamaian pertama yang dikenal dalam sejarah umat manusia. Pada museum ini juga menampilkan potongan-potongan era Göbeklitepe prasejarah dan Çatalhöyük serta artefak bersejarah milik peradaban Anatolia dan periode lainnya.

“Dengan museum ini, kami dapat mengumpulkan beberapa artefak asli di bawah satu atap yang tidak mungkin dilihat dalam satu waktu,” kata Kadri.

Baca juga: Saking Nyamannya, 9 Bandara Ini Buat Penunjungnya Lupa Pulang

Museum di Bandara Istanbul ini akan buka pukul 09.00 hingga 21.00 waktu setempat setiap harinya. Untuk menikmati museum ini, pelancong bisa merogoh kocek mereka untuk membayar tiket masuk seharga 5 Euro dan anak dibawah delapan tahun tidak perlu membayar tiket alias gratis. Kehadiran museum di Bandara Istanbul sendiri menambah bandara yang sudah memiliki museum seperti San Fancisco Airport di California dan Schipol International Airport di Amsterdam.