Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Senin (16/3/2020) kemarin mengambil langkah untuk mengurangi jumlah moda transportasi umum. Bahkan jam beroperasi hingga jarak kedatangannya pun cukup jauh dari biasanya. Keputusan tersebut diambil untuk mengurangi orang-orang terinfeksi virus corona yang saat ini tengah berkembang.

Baca juga: Tekan Penyebaran Virus Corona, Social Distancing di Transportasi Umum Harusnya Pikirkan Soal Jarak Antrian

Hal ini kemudian membuat antrian yang mengular yang padahal awalnya adanya pembatasan tersebut untuk mengurangi antrean serta pemberian jarak satu penumpang dan lainnya. Meski begitu sehari setelahnya atau Selasa (17/3/2020) semua moda transportasi seperti MRT Jakarta, LRT Jakarta dan TransJakarta beroperasi dengan normal. Namun, apakah hanya Indonesia khususnya Jakarta yang mengalami pembatasan dengan moda transportasinya?

Ternyata setelah ditelusuri oleh KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, nyatanya banyak juga negara yang melakukan pembatasan bagi moda transportasinya. Selain itu beberapa dari mereka justru tak beroperasi karena negara atau daerah tersebut memberlakukan lockdown.

Seperti di Ukraina yang melakukan penutupan pada transportasi umumnya. Presiden Volodymyr Zelensky membuat proposal dan memberlakukan pembatasan pada pergerakan domestik salah satunya adalah menutup penuh tiga sistem metro.

Tiga sistem yang ditutup ada di Kiev, Kharkiv dan Dnipro hingga 3 April 2020 mendatang. Tak hanya itu Pemerintah juga menghentikan semua penerbangan dari dan ke negara tersebut. Sedangkan di Israel melakukan perubahan pada rute transportasi umumnya mengikuti pedoman pemerintah yang baru di rilis.

Adapun perubahan tersebut yakni jalur transportasi umum yang menuju pusat perbelanjaan makanan, pusat perawatan kesehatan dan tempat kerja akan terus beroperasi. Untuk jalur transportasi pada malam hari, tujuan ke pusat pendidikan dan pusat hiburan dibatalkan. Bahkan halte bus yang ada di lokasi tidak penting pun tidak dilalui.

Dalam pembatasan ini, pihak Kementerian Perhubungan Israel akan mencatat kebutuhan penumpang dan operator transportasi diinstruksikan untuk memastikan tidak ada kepadatan penumpang. Dalam beberapa hari terakhir, permintaan akan angkutan umum turun puluhan poin.

Tak hanya itu sejak hari ini, Selasa (17/3/2020), tidak diperbolehkan melakukan pembayaran angkutan umum dengan uang tunai melainkan menggunakan kartu perjalanan Rav Kav. Warga Sydney di Australia juga dihimbau untuk menghindari angkutan umum pada peak hour untuk meminimalisir terinfeksi virus corona. Menurut Menteri Transportasi Andrew Constance, perjalan off-peak menjadi salah satu metode yang dapat diadopsi penumpang untuk mengurangi kemungkinan penularan virus antar manusia.

“Sementara staf telah meningkatkan upaya pemeliharaan dan pembersihan pada jaringan sebagai tanggapan terhadap virus corona, pelanggan perlu mengambil tindakan pencegahan ekstra juga. Pertama-tama dan terutama kami meminta Anda untuk tinggal di rumah dan menghindari bepergian jika Anda tidak sehat. Anda tidak dapat menularkan virus corona jika Anda sendirian di rumah,” kata Constance.

Tapi selain itu, kata menteri, bepergian di luar jam sibuk dapat membantu mengurangi kemungkinan penularan karena “orang sakit di dekat orang lain menyebabkan penyebaran virus global”. Transport for NSW bekerja dengan NSW Health, agensi pemerintah lainnya dan operator swasta untuk meningkatkan keselamatan pelanggan. “Pasukan” pembersihan telah dikerahkan melintasi kereta, bus, feri, dan jaringan kereta ringan, kata Constance, dengan fokus khusus pada area lalu lintas tinggi termasuk stasiun Central, Town Hall, dan Wynyard di CBD Sydney.

Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Pelanggan didorong untuk menggunakan Opal atau pembayaran tanpa kontak lainnya jika memungkinkan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran virus corona. Petugas pemeriksa tiket akan memeriksa kartu wisatawan atau kartu kredit pelancong tanpa menyentuhnya. Semua orang baik staf dan penumpang akan diberi tahu kebersihan tangan yang baik sangat penting setelah menyentuh pegangan, rel, kancing dan jendela pada angkutan umum.

Changi Airport, Bandara Terbaik di Dunia yang ‘Didirikan’ Para Tawanan Jepang

Kementerian Kesehatan Singapura (MOH), mengumumkan bahwa Negeri Singa tersebut, mulai 16 Maret 2020, pukul 23.59 waktu setempat, memberlakukan kebijakan Stay-Home Notice (SHN) 14 hari terhadap semua pendatang (termasuk Warga Negara Singapura, pemegang Pas Jangka Panjang, dan pengunjung jangka pendek) yang mengunjungi Singapura dengan riwayat perjalanan ke negara-negara ASEAN, Jepang, Swiss, atau Inggris dalam 14 hari terakhir.

Baca juga: Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong

Kebijakan tersebut, sekalipun baru diberlakukan, diyakini akan makin menekan angka kunjungan turis ke negara tersebut. Padahal, pada Februari lalu, Kepala Eksekutif Badan Pariwisata Singapura, Keith Tan, mengatakan pihaknya kehilangan sekitar 18.000 hingga 20.000 wisatawan per hari, dan angka tersebut dapat terus turun lebih dalam jika penyebaran virus bertahan lama.

Bahkan, DBS Group Holding Ltd. Memprediksi bahwa ada potensi penurunan hingga 1 juta wisatawan atau sama dengan sekitar S$1 miliar atau Rp10,6 triliun pengeluaran. Bila hal itu terjadi, salah satu cara termudah untuk melihat penurunan tersebut ialah melalui aktivitas di Bandara Internasional Changi. Sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia, Bandara Changi memang lekat dengan aktivitas kebandarudaraan dan kedirgantaraannya yang cukup padat. Selain itu, sebagai super hub internasional, bandara tersebut juga memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Singapura.

Namun, terlepas dari anjloknya penerbangan global akibat virus corona yang mau tak mau juga berdampak ke Bandara Changi, akibat statusnya sebagai super hub internasional, Bandara Changi rupanya mempunyai historical value yang cukup unik, loh. Bandara terbaik di dunia versi Skytrax tahun 2019 lalu tersebut rupanya memiliki kaitan erat dengan para tahanan Jepang selama masa Perang Dunia II.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman eresources.nlb.gov.sg, Selasa, (17/3), jauh sebelum secara resmi dibuka pada tanggal 29 Desember 1981, bandara yang terletak di tepi timur Singapura dahulu adalah pangkalan udara Changi yang dibangun oleh para tahanan perang Perang Dunia II dari tahun 1943 hingga 1944.

Kala itu, jalur utara-selatan dan timur-barat, yang terletak di titik timur laut Singapura, adalah landasan pacu tidak beraspal dan hanya berupa rumput tipis. Tahanan Jepang kemudian menambahkan pelat baja berlubang di strip timur-barat dan memperkuat landasan utara-selatan. Setelah Perang Dunia II selesai, pangkalan tersebut kemudian diambil alih oleh Angkatan Udara Kerajaan mengambil pada tahun 1946.

Pada awal 1970-an, Bandara Paya Lebar, yang saat itu merupakan bandara sipil Singapura, tidak memiliki ruang yang cukup untuk ekspansi di masa depan. Oleh karenanya, dibutuhkan bandara baru dan di lokasi yang tidak akan mengganggu pengembangan kota di masa depan. Atas berbagai pertimbangan, pangkalan udara Changi pun dipilih sebagai situs untuk bandara baru ini.

Pada Juni 1975, pekerjaan persiapan di situs pangkalan udara Changi untuk bandara internasional pun dimulai. Setidaknya 8,7 km persegi tanah direklamasi, melengkapi area bekas peninggalan situs pangkalan udara Changi yang pernah berdiri selama Perang Dunia II tersebut. Selain itu, berbagai kanal juga dibangun untuk mengalihkan aliaran lain yang sejatinya bermuara di lokasi pembangunan bandara baru.

Setelah enam tahun berlalu, bandara yang dibangun dengan nilai investasi lebih dari Rp 10,6 triliun (hanya fase 1 saja, belum termasuk pembangunan fase dua) akhirnya bisa benar-benar beroperasi pada 1 Juli 1981, ditandai dengan mendaratnya penerbangan pertama, SQ 101, yang mengangkut 140 penumpang dari Kuala Lumpur, Malaysia, pada pukul 07.10 waktu setempat.

Sejak awal kemunculannya, bandara tersebut, saat itu, sudah berhasil mengukir prestasi dengan memecahkan berbagai rekor. Di antaranya adalah bandara terbesar di Asia (bersama Bandara Narita, Jepang) serta memiliki hanggar bebas kolom terbesar di dunia, yang mencakup 20.000 m². Selain itu, bandara tersebut juga memenangkan banyak pernghargaan di dunia dan ditetapkan sebagai salah satu bandara terbaik di dunia.

Baca juga: Di Changi, Koper dan Barang dari Kargo Berjalan ‘Santun’ di Conveyer Belt

Kini, setelah hampir 40 tahun beroperasi, bandara dengan empat terminal (tak lama lagi akan mempunyai terminal kelima yang saat ini masih masih dalam proses pembangunan) dan tiga landasan pacu (satu landasan pacu lainnya sementara ditutup demi proyek pengerjaan terminal kelima) tersebut seperti tak pernah kehilangan sentuhan untuk terus bertengger di puncak teratas sebagai bandara terbaik di dunia.

Terakhir, bandara tersebut menjadi salah satu bandara di dunia yang tidak hanya dikenal karena urusan penerbangan semata, melainkan karena adanya air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia. Air mancur tersebut adalah salah satu dari beberapa hiburan bertema alam dan kompleks pertokoan di tepi Bandara Changi, Singapura, yang terhubung dengan tiga terminal penumpangnya serta dikelilingi oleh pengaturan hutan bertingkat.

Pesta Tahun Baru di Kapal Wisata, 11 Orang Terinveksi Virus Corona

Pada 18 Januari 2020 cabang serikat taksi swasta yang berbasis di daerah Jonan Tokyo, Jepang mengadakan pesta Tahun Baru. Pesta ini dihadiri oleh pengemudi taksi independen yang diadakan di kapal wisata sungai tradisional Yakatabune di Ibukota.

Baca juga: Jadi Heboh Setelah Serangan Virus Corona, Inilah Sosok Kapal Pesiar “World Dream”

Ternyata sebuah lonjakan pada penderita virus corona Jepang meningkat. Peningkatan ini ternyata dikonfirmasi berasal dari antara para peserta pesta Tahun Baru itu. KabarPenumpang.com melansir mainichi.jp (17/2/2020), pesta Tahun Baru tersebut dihadiri oleh sekitar 70 pengemudi taksi dan keluarga mereka.

Di kapal tersebut, mereka makan-makan, tetapi hujan turun cukup deras dan membuat jendela harus di tutup sehingga menciptakan ruang terbatas dengan ventilasi yang tidak memadai. Hal ini membuat lingkungan tersebut lebih mudah penyebaran penyakit diantara penumpang kapal itu.

Karena hal ini pemerintah metropolitan Tokyo mengatakan virus itu mungkin menyebar di ibukota sebab orang-orang yang tidak berada di pesta tersebut temasuk pekerja kantor dan pengemudi juga dipastikan terinfeksi. Sehingga pemerintah menyerukan langkah-langkah untuk mencegah penularan.

Pemerintah metropolitan Tokyo memberikan informasi tentang rute infeksi di antara peserta pesta pada konferensi pers 16 Februari. Saat itu, sudah dilakukan tes pada sekitar 200 orang terlibat dalam serikat taksi dengan asumsi bahwa infeksi telah menyebar di kapal Yakatabune.

Seorang pengemudi taksi independen berusia 70-an, yang berpartisipasi dalam pesta bersama istrinya, dinyatakan positif di Tokyo. Dia adalah menantu dari seorang wanita berusia 80-an dari Prefektur Kanagawa, selatan Tokyo, yang meninggal pada 13 Februari di mana kematian pertama dikonfirmasi Jepang dari penyakit virus corona.

Pemerintah metropolitan mulai menyelidiki setelah kematian wanita itu, dan telah mengkonfirmasi 11 peserta dan karyawan Yakatabune terinfeksi dengan virus corona pada 16 Februari. Dua orang yang tidak berada di atas kapal wisata juga dites positif terkena virus baru.

Baca juga: Militer Jepang Siapkan Kapal Ferry untuk Karantina Masyarakat Terinfeksi Virus Corona

Tak hanya itu, seorang karyawan wanita dengan cabang serikat pekerja berusia 50-an, yang melakukan kontak dengan sopir taksi di tempat kerja, dan seorang dokter berusia 60-an di Rumah Sakit Umum Makita di Tokyo. Seorang perawat di rumah sakit yang dites positif terkena virus korona pada 15 Februari telah menghadiri pesta Tahun Baru sebagai anggota keluarga dari salah satu pengemudi taksi.

Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Airbus belum lama ini dilaporkan tengah mengujicoba program ‘fello’fly’ yang terinspirasi dari angsa untuk mencapai konsumsi bahan bakar pesawat yang lebih rendah sekaligus mengurangi polusi. Program tersebut adalah terobosan dalam sebuah penerbangan dimana dua pesawat terbang secara bersamaan dan berdekatan untuk membentuk formasi “V” dalam penerbangan jarak jauh, layaknya angsa yang bermigrasi.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Program tersebut adalah salah satu dari banyak proyek yang dilakukan di banyak industri, tak terkecuali di industri penerbangan, yang bertujuan untuk mengeksplorasi manfaat biomimicry, yakni praktik menyadur desain atau teknologi apapun yang ditemukan di alam untuk mendukung kemajuan teknologi manusia.

Dikutip dari simpleflying.com, Selasa, (17/3), uji coba tersebut dilakukan pada Kamis pekan lalu. Menurut tweet yang diposting oleh A350Blog, kala itu, Airbus A350 dikerahkan dalam penerbangan tunggal yang memakan waktu 11 jam, dimulai dari Toulouse-Islandia-Greenland-Kanada dan kemudian kembali ke Toulouse. Uji coba pertama memang sengaja dilakukan dengan formasi tunggal untuk mengumpulkan data serta menjadikannya sebagai pembanding dengan formasi ‘fello’fly’ yang sedikitnya melibatkan dua pesawat.

Pada keesokan harinya, Jumat, uji coba kedua dimulai. Saat itu, Airbus mengerahkan dua armada A350-nya untuk mengarungi penerbangan yang mirip dengan uji coba pertama, mulai dari jarak, rute, kecepatan, hingga manuver pesawat di udara. Bedanya, pada uji coba kedua ini pesawat mulai membentuk formasi “V” dalam balutan program ‘fello’fly’ layaknya angsa yang bermigrasi. Dalam aplikasinya, pesawat terbang dengan kecepatan dan ketinggian yang sama, dimana satu pesawat berada di depan dan pesawat lainnya berada diagonal di belakang.

Sebetulnya, ide tersebut sudah ingin diterapkan sejak lama. Hanya saja, saat itu, teknologi yang ada belum mendukung. Pasalnya, dalam uji coba formasi tersebut, pesawat terbang beriringan dengan jarak hanya 1,5nm (Nautical Miles) atau sekitar 2,7 kilometer di sebelah kiri belakang, jauh lebih kecil dari batas lima nm atau sembilan kilometer yang ditetapkan oleh FAA saat ini. Setelah teknologi pendukungnya ditemukan, barulah kemudian serangkaian uji coba serupa dilakukan pada 2016 dan 2019 silam serta satu pekan lalu.

Gerombolan angsa terbang bersamaan serta dengan jarak saling berdekatan dan teratur membetuk formasi V. Foto: Telegraph

Dari serangkaian tes tersebut, Airbus percaya bahwa pesawat dapat mengkonsumsi bahan bakar 10-15 persen lebih sedikit untuk pesawat yang berada di belakang (pada penerbangan dengan formasi “V”) bila dibanding dengan penerbangan tunggal. Sebetulnya belum dijelaskan lebih rinci mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Hanya saja, pada uji coba di 2019 lalu, seperti dikutip Telegraph, efisiensi yang didapat oleh pesawat yang berada di belakang terjadi akibat vortices atau vorteks. Sebetulnya tidak mudah untuk menjelaskannya dengan sederhana, namun, bisa dibilang, pesawat yang berada di belakang tersebut dapat lebih efisien karena melewati massa udara yang lebih ringan dibanding pesawat yang berada di depan.

Meskipun belum ada penelitian lebih lanjut, skemanya hampir mirip dengan saat mobil menerjang banjir ketika di darat. Sekilas, ketika menerjang banjir, mobil yang berada di belakang (dengan jarak yang terlalu lebar) memang terlihat lebih mudah melewati banjir karena air sudah ‘dibuka’ oleh mobil yang berada di depannya. Sama seperti pesawat, ‘lautan’ udara yang berada di atas, dalam formasi “V” sudah terlebih dahulu ‘dibuka’ oleh pesawat yang berada di depan, sehingga pesawat yang berada di belakang tidak terlalu mengeluarkan tenaga ekstra untuk melalui beratnya massa udara.

Selain itu, dalam berbagai literatur lainnya, ketika angsa migrasi dan membentuk formasi “V”, angsa yang berada paling depan memang bukan sembarang angsa, melainkan angsa yang sudah lebih dewasa dan dalam kondisi prima. Dalam perjalanan menuju tempat baru, angsa yang berada di depan memang kerap berganti-ganti.

Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Adapun angsa yang berada di belakang cenderung statis atau tak berubah-ubah posisi. Dari situ memang terdapat indikasi kuat bahwa angsa yang berada di belakang memiliki beban yang lebih kecil dibanding yang berada di depan. Hal itulah yang kemudian ingin diaplikasikan pada pesawat khususnya dalam penerbangan jarak jauh.

Namun, hal tersebut, mengelompokkan pesawat dalam dua rute yang sibuk, memang tak mudah. Selain pesawat harus lepas landas secara bersamaan, lalu lintas udara serta konsistensi pesawat dalam menjaga jarak, baik ketika autopilot maupun underpilot, harus mencapai tingkat sesempurna mungkin. Bila tidak, insiden buruk bukan tak mungkin akan terjadi. Namun, bila berhasil, efisiensi akan menjadi daya tarik sempurna maskapai untuk menerapkan skema tersebut. Airbus sendiri berharap, inovasi tersebut dapat diterapkan mulai pertengahan tahun 2020 mendatang.

Jilat Jemari dan Pegang Tiang Kereta Bawah Tanah, Pria ini Mendapat ‘Kutukan’ dari Netizen!

Tindakan menjijikkan dilakukan seorang penumpang di dalam kereta bawah tanah di tengah merebaknya virus corona di berbagai negara baru-baru ini. Pria tersebut kemudian menjadi viral setelah terekam dalam sebuah video. Padahal virus corona sendiri diketahui menular melalui cairan tubuh dan dapat hidup di permukaan di mana saja antara beberapa jam hingga beberapa hari.

Baca juga: Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber thesun.co.uk (11/3/2020), dalam video tersebut pria ini terlihat memegang sebuah kaleng bir. Kemudian dia membuka maskernya dan menjilat jari-jari tangan dan memegang tiang yang ada di depan dirinya.

Pria tersebut mengusap-usap tangannya pada tiang pegangan di gerbong kereta bawah tanah. Karena videonya tersebar, pria itu ditangkap pihak kepolisian Belgia pada Sabtu (14/3/2020) kemarin.

Postingan video perlakuan menjijikkan tersebut diunggah ke twitter oleh akun @Soufoff dengan caption, “[Lihatlah orang ini] yang pasti terkontaminasi dengan virus corona melakukannya di transportasi umum! Jangan menyentuh tiang penyangga lagi! ”

Otoritas transportasi Belgia, Societe des Transports Intercommunaux de Bruxelles (STIB-MBIV) yang menjalankan metro Brussel mengatakan, saat pria tersebut melakukan tindakan menjijikkan itu, dia tengah dalam kondisi mabuk. Mereka juga men-tweet bahwa Metronya dibersihkan setiap hari.

“Kereta bawah tanah kami ditarik dari layanan untuk didesinfeksi dan kami membersihkannya setiap hari,” ujar BITC dalam tweetnya.

Melihat video ini, banyak warganet yang marah dengan perilaku pria tersebut. Para warganet merekomendasikan hukuman pidana karena virus corona sudah mulai menyebar lokal di Belgia. Belgia saat ini memiliki 314 kasus dan satu kematian akibat virus corona.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Sedangkan di Inggris hingga saat ini sudah mengumumkan ada 456 kasus dan enam kematian. World Health Organization (WHO) menyarankan orang untuk tidak menyentuh wajah mereka dengan tangan yang tidak dicuci dan menjaga jarak setidaknya satu meter dengan orang yang sedang batuk atau bersin. Cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit ini adalah sering mencuci tangan dengan sabun dan air, setidaknya selama 20 detik, dan menggunakan gel pembersih tangan.

Hong Kong Airlines, Maskapai Malang yang Hampir Jajal Airbus A380

Virus corona atau Covid-19 telah membuat keuangan maskapai global kembang kempis. tak mengherankan bila sebagian besar rencana perusahaan (maskapai) batal karenanya. Tak terkecuali dengan Hong Kong Airlines yang dilaporkan pernah berencana membeli pesawat terbesar di dunia, Airbus A380.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Menurut laporan simpleflying.com, pada tahun 2011, Hong Kong Airlines memang berencana untuk membeli pesawat tersebut sebanyak 10 unit. Hal itu dilakukan guna menyiasati kondisi ekonomi global yang saat itu dinilai akan memasuki periode cemerlang, sekalipun nyatanya, pada saat itu, ekonomi global tengah terpuruk akibat krisis keuangan global.

Keputusan tersebut tentu menjadi sebuah perjudian besar maskapai. Bila analisisnya tepat, maskapai mungkin akan dengan mudah menyalip kompetitor terkuatnya, Cathay Pacific. Selain itu, bila berhasil, Hong Kong Airlines mungkin bisa saja mendapat julukan baru sebagai Emirates dari Asia Timur, sebagai sebuah lompatan besar setelah sebelumnya sudah memiliki armada beberapa Airbus A330 untuk mendukung ruter-rute gemuk antara Asia dan Eropa. Sebaliknya, bila meleset, mungkin maskapai akan semakin jauh tertinggal dengan kompetitornya tersebut.

“Kami pikir hubungan bisnis antara Asia dan Eropa akan sangat menarik untuk beberapa tahun ke depan, setelah krisis (ekonomi) saat ini berakhir. Kami berencana untuk apa yang akan terjadi setelahnya,” kata Kepala Tata Kelola Perusahaan Hong Kong Airlines, Kenneth Thong, seperti dikutip dari Traveler Weekly pada 2012 lalu.

Di samping untuk mempersiapkan strategi bisnis setelah krisis ekonomi berakhir, maskapai juga melihat bahwa kecenderungan penumpang untuk menikmati kelas bisnis dalam menemani perjalanan mereka juga meningkat. Karena Airbus A330 dinilai tak cukup ruang untuk memberikan berbagai layanan menarik, maskapai pun memutuskan untuk membeli Airbus A380 karena dimensi besarnya yang membuat maskapai bisa lebih leluasa untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan di kelas bisnis.

Meskipun terdapat beberapa perbedaan, saat itu, Hong Kong Airlines disinyalir menggelontorkan uang sebanyak Rp 50,8 triliun untuk 10 unit Airbus A380. Kala itu, rencananya, pesawat pertama akan mulai dikirim empat tahun berselang atau pada 2015 dimana, pesawat terbesar itu akan dikerahkan pada rute dari Hong Kong ke London Gatwick.

Jelang setahun pengiriman, maskapai akhirnya memutuskan untuk mengubah model bisnis, dari semula rute-rute jarak jauh (dengan menggunakan Airbus A380) menjadi penerbangan jarak pendek di sekitaran Asia Tenggara menggunakan Airbus A320neo dan A321neo. Adapun Airbus A380 yang sudah terlanjur dipesan dialihkan ke pelanggan lainnya, seperti Emirates dan ANA.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Punya Dua Lift untuk Manjakan Penumpang

Bila melihat dari kondisi sekarang, dimana maskapai dengan popularitas di rute-rute jarak jauh justru sangat tertekan (dibanding rute-rute pendek) akibat turunnya minta penumpang di tengah wabah virus corona, Hong Kong Airlines mungkin bisa saja dibilang selamat dari blunder (dengan tidak jadi membeli Airbus A380).

Namun, karena Hong Kong Airlines telah dinyatakan bangkrut pada akhir Desember lalu, keputusan batalnya pembelian pesawat terbesar itu mungkin bisa saja juga sebagai salah satu blunder, mengingat, maskapai tersebut jadi salah satu maskapai yang dipastikan tak pernah menjajal mewahnya Airbus A380.

Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Seorang konsultan penerbangan dari Centre for Aviation atau CAPA, salah satu sumber informasi terkait bisnis yang paling terpercaya di dunia untuk industri penerbangan dan perjalanan, memperingatkan pada seluruh maskapai global untuk segera melakukan berbagai manuver untuk dapat terus bertahan di tengah wabah virus corona atau Covid-19. Bila tidak, konsultan yang tak ingin disebutkan namanya tersebut memprediksi bahwa sebagian besar maskapai akan bangkrut akhir Mei mendatang.

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Dilansir Bloomberg, konsultan yang berbasis di Sydney, Australia tersebut memperkirakan, saat ini maskapai global, secara substansial, mungkin telah melanggar perjanjian utang. Pasalnya, saat ini, perputaran uang maskapai global tengah mandek akibat banyaknya pesawat yang grounded.

Di samping itu, bagi armada yang tetap terbang, lebih dari separuhnya kosong atau load factor rendah. Padahal, dalam sekali jalan, pada umumnya, maskapai hanya mengambil margin sekitar lima persen dengan load factor rata-rata di atas 70 persen. Tentu saja, terbang dengan load factor rendah hanya akan membuat reveneu atau pendapatan menurun. Ujungnya, bisa ditebak, bisa saja setiap penerbangan hanya membuat maskapai rugi.

Di saat yang bersamaan, maskapai tetap membutuhkan uang tunai untuk menghidupi kegiatan operasional harian mereka. Jika sudah begitu, maskapai memang tak mempunyai opsi lain kecuali berhutang semata untuk mendapatkan dana segar.

Hanya saja, konsultan dari CAPA tersebut mengambil pengecualian atas hipotesanya tersebut, bahwa maskapai mungkin saja dapat bertahan lebih lama (dari sekedar sampai akhir bulan Mei), bila pemerintah di masing-masing negara turun tangan untuk menyelamatkan maskapai penerbangan mereka.

“Tindakan pemerintah dan industri yang terkoordinasi diperlukan – sekarang – jika ingin menghindari bencana. Kalau tidak, keadaan dari krisis akan memasuki periode medan perang yang brutal dan penuh dengan korban,” katanya.

Sebagian besar operator terbesar di AS, Cina, dan Timur Tengah, lanjutnya, cenderung dapat bertahan atas dukungan pemerintah serta sokongan dana pribadi dari pemiliknya. Khusus untuk Cina, setidaknya hal itu (pernyataan bahwa maskapai di negara tersebut dapat bertahan) juga didukung oleh pernyataan dari Domhnal Slattery, salah satu bos leasing pesawat terbesar di dunia, Avolon Leases Aircraft.

Dikutip dari Financial Times, Domhnal Slattery mengaku saat ini pihaknya sudah dihubungi oleh banyak maskapai global. Tentu saja mereka dihubungi untuk menyiapkan skema pendaaan dalam waktu dekat guna menyelamatkan maskapai. Salah satu negara yang maskapainya masif melakukan kontak dengannya adalah maskapai-maskapai dari Cina.

Melihat dari masifnya pergerakan maskapai Cina untuk mendapatkan dana segar, ditambah sokongan dana serta berbagai bantuan non-material lainnya dari pemerintah mereka, ia pun sampai berujar kalau maskapai-maskapai besar asal negeri Tirai Bambu tersebut mustahil akan mengalami kebangkrutan. “Kebangkrutan dari maskapai besar Cina (di tengah wabah virus corona) tak mungkin. Sebab, pemerintah Cina akan turun tangan. Tidak diragukan lagi,” katanya.

Pernyataan tersebut ia keluarkan tak lama setelah maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe dinyatakan bangkrut. Maskapai asal Inggris tersebut dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah pusat serta dari owner mereka, konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital, senilai Rp3,6 triliun atau masing-masing Rp1,8 triliun.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Bangkrutnya Flybe juga menguatkan statement konsultan dari Centre for Aviation atau CAPA betapa pentingnya peran pemerintah, selain usaha dari maskapai itu sendiri, untuk menyelamatkan maskapai-maskapai di negara mereka. Bila tidak, akan ada korban lainnya yang menyusul Gemania (Jerman), Jet Airways (India), Condor, (Inggris), Hong Kong Airlines (HongKong), serta maskapai lainnya yang telah bangkrut lebih dahulu.

Virus corona belakangan memang sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi industri penerbangan global. International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang tahun 2020.

Layanan Ride Hailing di Amerika Serikat Sumbang 69 Persen Emisi Karbon

Layanan ride hailing di Amerika Serikat ternyata menghasilkan 69 persen lebih banyak emisi CO2 atau karbondioksida. Kenaikan presentase CO2 ini karena meningkatkanya popularitas Uber dan Lyft dalam beberapa dekade terakhir. Selain itu juga laporan dari Union of Concerned Scientists mengatakan, presentase ini lebih tinggi dibandingkan sektor transportasi lainnya.

Baca juga: Pelabuhan Oslo Targetkan Kurangi Emisi Karbon Hingga 85 Persen di 2030

Presentase ini didapatkan setelah Union of Concerned Scientists melakukan analisis polusi kendaraan ride hailing di tujuh kota besar di Amerika Serikat. KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (25/2/2020), sebuah laporan yang berjudul “Risiko Iklim Ride Hailing: Mengarahkan Industri yang Berkembang menuju Masa Depan Transportasi yang Bersih,” bahkan telah membandingkan emisi dari perjalanan mobil pribadi dengan emisi dari perusahaan moda transportasi di daerah perkotaan yang padat di mana layanan seperti Uber dan Lyft sangat diandalkan.

Adapun kota-kota tersebut seperti Boston, Kota New York, San Francisco dan Washington DC yang mana analisisnya juga membandingkan emisi ini dengan emisi yang timbul dari angkutan umum dan moda transportasi lain yang ditukar oleh layanan ride hailing. Untuk sampai pada kesimpulan ini, para ilmuwan mengandalkan data yang tersedia untuk umum seperti survei pengguna layanan ride hailing dan literatur yang diterbitkan lainnya pada hal-hal seperti ekonomi bahan bakar armada dan apa yang dikenal sebagai “deadhead.”

Deadheading sendiri mengacu pada jarak tempuh kendaraan yang bepergian dengan naik kendaraan tanpa penumpang di dalam pesawat. Ini adalah kontributor besar untuk polusi berlebihan, menurut laporan tim, dengan perjalanan ride hailing yang tidak dikumpulkan menghasilkan hampir 50 persen lebih banyak emisi karbon daripada perjalanan rata-rata mobil pribadi.

Faktor penting lainnya adalah bentuk transportasi rendah karbon yang sering digantikan oleh layanan ride hailing demi kenyamanan termasuk berjalan, bersepeda, dan angkutan umum. Dengan memperhitungkan hal tersebut, para ilmuwan menghitung bahwa secara total, perjalanan dengan ride hailing menghasilkan emisi karbon 69 persen lebih banyak daripada rata-rata perjalanan yang digantikannya.

Sementara itu, perjalanan ride hailing kendaraan bersama antara dua penumpang, menghasilkan emisi serupa dengan perjalanan mobil pribadi. Namun akan berbeda bila perjalanan ride hailing dalam kendaraan listrik dapat mengurangi emisi sekitar 50 persen, sementara jika perjalanan itu disatukan dapat mengurangi emisi hampir 70 persen.

Kemudian para ilmuwan merekomendasikan agar industri bergerak cepat untuk melistriki kendaraan berbahan bakar listrik dan melakukan lebih banyak untuk mempromosikan perjalanan bersama. Selain itu, mereka mengatakan bahwa perusahaan angkutan barang harus melakukan lebih banyak untuk terhubung dan melengkapi rute angkutan umum, sementara pemerintah dapat mengembangkan kebijakan yang mendukung tujuan ini.

Baca juga: Tekan Emisi Karbon, di Perth Dibangun Halte Bus Dengan Motion Sensor

Diketahui, Uber telah melakukan lebih dari sepuluh miliar perjalanan di seluruh dunia sejak diluncurkan pada 2010, sedangkan Lyft telah menyelesaikan lebih dari satu miliar. Sementara mereka sekarang jauh lebih banyak daripada jumlah penumpang taksi di AS, para ilmuwan mengatakan banyak pelajaran ini dapat diterapkan pada industri itu juga, dengan elektrifikasi, pengumpulan lebih banyak, dan koordinasi yang lebih baik dengan layanan angkutan massal semua langkah wajar yang dapat diambil oleh operator taksi untuk membantu mengurangi polusi di daerah perkotaan.

Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Setelah Italia, Spanyol dan Singapura, kini Malaysia lockdown negaranya. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin seiring meningkatnya jumlah kasus warga yang positif terinfeksi virus corona atau Covid-19.

Baca juga: Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino

Dari keterangan tertulis, Muhyiddin tak hanya mengumumkan kebijakan lockdown tetapi juga menjelaskan enam ketentuannya dalam upaya mengatasi virus corona ini.

1. Larangan aktivitas massa
PM Muhyiddin menyebutkan larangan umum gerakan massa dan pertemuan di seluruh negeri termasuk kegiatan agama, olahraga, sosial dan budaya. Untuk menegakkan larangan tersebut semua rumah ibadah dan tempat usaha harus tutp kecuali supermarket, pasar umum, toko serba ada dan toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Khusus untuk umat Islam, semua aktivitas keagamaan di masjid ditangguhkan termasuk shalat Jumat, sesuai hasil Rapat Komite Khusus pada 15 Maret 2020.

2. Larangan Perjalanan ke Luar Negeri
Malaysia melarang warganya yang hendak bepergian ke luar negeri. Sedangkan bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri, diharuskan menjalani pemeriksaan kesehatan dan melakukan karantina secara mandiri selama 14 hari.

3. Pembatasan Bagi Wisatawan Asing
Malaysia juga melarang Warga Negara Asing (WNA) masuk ke negaranya, selama periode lockdown berlangsung.

4. Penutupan Sekolah
Semua sekolah termasuk sekolah negeri, swasta, harian, sekolah asrama, sekolah internasional, pusat tahfiz, institusi pendidikan rendah, menengah, dan pra-universitas juga ditutup.

5. Penutupan Universitas
Penutupan juga diberlakukan Malaysia untuk Institusi Pendidikan Tinggi (IPT) negeri dan swasta, serta akademi-akademi pelatihan di seluruh negara

6. Penutupan Beberapa Institusi Pemerintah
Muhyidin mengatakan, Malaysia menutup sejumlah institusi pemerintah dan swasta kecuali yang terlibat dalam layanan penting seperti institusi yang mengurus air, listrik, telekomunikasi, pos, logistik, pengairan, minyak, gas, bahan bakar, penyiaran, keuangan, perbankan, kesehatan, farmasi, penjara, pelabuhan, bandara, keamanan dan pertahanan, kebersihan, dan bahan pangan.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Diketahui, saat ini warga Malaysia yang terinfeksi virus corona mencapai 566 kasus dan pada 17 Maret 2020 dengan penambahan 138 kasus baru. Sebanyak 42 pasien sembuh dan belum ada korban meninggal. Penambahan jumlah ini terkait adanya acara tabligh akbar yang diadakan pada 27 Februari hingga 1 Maret lalu.

Meski lockdown, Muhyiddin mengatakan akan memastikan stok bahan makanan dan keperluan termasuk masker masih mencukupi di Malaysia. Bahkan dia sudah memerintahkan Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Pengguna agar terus memantau situasi stok makanan dan keperluan harian di pasaran, sepanjang Perintah Kawalan Pergerakan ini diberlakukan.

Di Tengah Isu Corona dan Cuti Tak Berbayar, Pejabat Malaysia ini Malah Terapkan Soal Kostum Syariah Bagi Pramugari

Di Tengah penyebaran virus corona yang berdampak ke berbagai industri penerbangan. Wakil Menteri Pengembangan Wanita dan Keluarga Malaysia YB Siti Zailah Mohd Yussof justru ingin menerapkan kebijakan pakaian untuk pramugari sesuai hukum syariah.

Baca juga: Setelah Gaji Senior Manajemen Dipotong, Kini Malaysia Airlines Minta 13 Ribu Karyawan Cuti Tak Dibayar

Namun hal tersebut kemudian seperti bertentangan dengan yang ada saat ini. Dimana 13 ribu staf Malaysia Airlines (MAS) harus cuti tanpa dibayar selama tiga bulan sejak bulan April 2020. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman msn.com (15/3/2020), Presiden Nufam, Ismail Nasaruddin mengatakan Siti Zailah salah waktu alias tidak tepat membicarakan masalah seragam pramugari ketika virus corona atau Covid-19 sedang merebak di dunia.

“Mengapa berbicara tentang seragam mereka sekarang ketika para wanita menghadapi begitu banyak masalah lain. Mereka bahkan tidak tahu apakah mereka masih akan memiliki pekerjaan, Jelas ini bukan waktu yang tepat,” kata Ismail.

Ismail menambahkan, masalah ini apakah akan ada kesejahteraan para awak kabin yang ada di industri penerbangan.

“Bukannya dia harusnya khawatir tentang masalah ini?” ungkapnya.

Ismail menyebutkan, citra pramugari sangat penting dan wakil menteri harus meningkatkan pandangannya tentang seragam mereka dengan maskapai serta pemangku kepentingan lainnya. Bahkan orang-orang tidak boleh lalai dalam mengangkat masalah seperti itu ketika kekhawatiran ini adalah masa depan dalam industri penerbangan.

“Mari jujur, apa yang lebih penting Kesejahteraan pramugari atau usulannya (Siti Zailah)?” kata Ismail.

“Mereka terpengaruh karena kemungkinan pemotongan gaji. Ini adalah prioritas,” tambahnya.

Seorang awak kabin yang dikenal bernama Aila mengatakan, bahwa dirinya terkejut dengan Siti Zailah yang mengubah pertanyaan tentang seragam menjadi masalah nasional. Menurut wanita 23 tahun itu, semua pramugari menyadari jenis seragam yang akan mereka kenakan bahkan sebelum mendaftar untuk pekerjaan itu. Sebagai anggota awak pesawat Malindo Air, ia menemukan seragamnya nyaman, tetapi ia dan rekan-rekannya tidak nyaman dengan Siti Zailah yang mengangkat masalah ini.

“Itu membuat kami berpikir bahwa orang memandang rendah pilihan karier kami. Tapi selama kita memiliki pekerjaan dan niat kita jelas, untuk bekerja keras dan mendapatkan uang, kita tidak harus menaruh kepercayaan pada orang lain,” ungkap Alia.

Baca juga: Malaysia Airlines Potong Gaji Senior Manajemen 10 Persen dan Tak Ada Tunjangan

Diketahui, Siti Zailah yang juga merupakan ketua sayap wanita PAS dan belum lama ini menyatakan tentang seragam yang sesuai dengan syariah. Dia juga menyebutkan ini berlaku untuk karyawan wanita muslim, sedangkan non muslim tidak masalah selama barpakaian sopan. Siti Zailah juga mengatakan telah membawa hal ini ke kantor Menteri Agama Datuk Seri Dr Zulkifli Mohamad Al-Bakri dan berharap untuk mengangkat masalah tersebut.