57 Persen Orang India Lebih Suka Naik Taksi Online Dibanding Taksi Konvensional

Sebanyak 57 persen orang India lebih suka naik kendaraan ride-hailing dan 74 persen lainnya lebih suka naik taksi konvensional dengan argometer. Hasil ini didapatkan setelah sebuah studi konsumen otomotif global Deloitte 2020 dengan mensurvei 35 ribu konsumen dari 20 negara.

Baca juga: Ternyata! Biaya Taksi di Jakarta Tidak Semahal di Negeri Tetangga

Bisa dikatakan hasil yang didapat tersebut jumlahnya lebih tinggi dari pada orang-orang di Cina, Amerika Serikat, Jerman dan Jepang. Bahkan hasil ini juga dipengaruhi dengan kehadiran taksi berbasis aplikasi yang mulai berkembang di India seperti Uber dan Ola.

KabarPenumpang.com melansir laman indiatimes.com (23/1/2020), dalam penelitian yang lebih lanjut terhadap studi tersebut, menunjukkan sekitar 64 persen konsumen di India lahir setelah tahun 1980-an. Mereka mempertanyakan perlunya memiliki kendaraan.

Tak hanya itu, hasil ini juga mengungkap frekuensi orang India menggunakan taksi online meningkat menjadi 32 persen pada awal tahun 2020 dan lebih tinggi dari tahun 2019 lalu yang hanya 26 persen. Namun jumlah ini pun jauh lebih sedikit dibandingkan tahun 2017 yang mencatat hasil 47 persen konsumen menggunakan taksi online.

Dari jumlah 32 persen tersebut frekuensi orang India menggunakan taksi online ternyata sebanyak satu kali dalam seminggu. Pengguna taksi online tersebut lebih banyak generasi millenial.

Menurut generasi millenial ini, kenyamanan memesan taksi melalui ponsel pintar memudahkan mereka. Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman mengatakan, bahwa peningkatan penggunaan taksi online adalah salah satu alasan di balik penurunan penjualan mobil di negara tersebut.

Tak hanya itu, seiring berkembangnya teknologi pada transportasi, hasil survei juga mendapatan bahwa 80 persen konsumen India berpikir peningkatan konektivitas pada kendaraan akan bermanfaat. Sedangkan 58 persen lainnya percaya kendaraan otonom tidak aman.

Ini karena orang India ragu terkait keselamatan kendaraan otonom dan kemampuan mobil melintas di jalanan. Persentase konsumen, yang setuju bahwa kendaraan otonom tidak akan aman untuk digunakan, diperkirakan akan meningkat sebesar 10 persen tahun ini.

Baca juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi

“Sementara tahun lalu melukai pemain otomotif dalam jangka pendek, meningkatnya penjualan mobil yang terhubung internet dan meningkatnya minat terhadap BEV (baterai listrik) menunjukkan bahwa Kecerdasan teknologi milenium India yang cerdas untuk mendapatkan nilai uang akan membuat para pemain otomotif tetap waspada. Survei konsumen kami menunjukkan bahwa konsumen India terbuka terhadap gagasan investasi untuk teknologi kendaraan canggih dan tren ini telah meningkat selama bertahun-tahun; salah satu bidang utama bagi OEM untuk fokus,” kata Rajeev Singh, Mitra dan pemimpin otomotif Doloitte India.

Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!

Hampir seluruh maskapai yang mempunyai penerbangan ke China ramai-ramai mengizinkan awak kabinnya untuk menggunakan masker. Hal itu dinilai dapat melindungi awak kabin dari kemungkinan terinfeksi virus corona yang belakangan menyebar luas ke seluruh dunia.

Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker

Tak hanya maskapai, berbagai pengawasan ketat pun juga diberlakukan di seluruh bandara di dunia. Bandara yang notabene menjadi gerbang masuknya wisawatan dari negara lain, dinilai vital dalam andil untuk mencegah atau bahkan membantu virus corona tersebar luas ke sebuah negara akibat ‘kecolongan’ saat mengecek kesehatan penumpang di bandara.

Akibatnya, permintaan masker, khususnya masker bedah pun meningkat hampir 50 persen, bahkan di beberapa daerah di China permintaannya meningkat hingga ratusan persen. Namun, terkait penggunaan masker, pernyataan mengejutkan kemudian datang dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Seperti dikutip dari usatoday.com, Jum’at, (31/1), belum lama ini, instansi yang berkantor pusat di Atlanta, Amerika Serikat itu menyatakan tidak pernah mencegah orang sehat untuk mengenakan masker bedah. Namun, mereka lebih merekomendasikan penggunaan masker bedah bagi pasien yang diduga mengidap virus corona dan tim medis yang bersentuhan langsung dengan mereka.

Selanjutnya, badan pemerintahan yang berada di bawah Kementerian Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat itu berasalan, bahwa sebagian besar virus corona disebarkan melalui partikel udara (bersin atau batuk), tersentuh atau menyentuh permukaan yang terinfeksi, mencuci tangan adalah cara yang efektif untuk mengurangi potensi infeksi. Bukan memakai masker bedah.

Meski demikian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS tersebut tetap memberikan arahan dan standar teknis dalam menghadapi berbagai penanganan kepada penumpang yang diduga mengidap virus corona. Selain itu, mereka juga membuat ‘pagar betis’ di lima bandara di AS untuk mencegahnya masuk ke dalam negeri Paman Sam.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), mengakui memang banyak menemukan beberapa kasus di AS yang diduga mengidap virus corona. Oleh karenanya, mereka melakukan langkah-langkah pencegahan dengan mendirikan pusat pemeriksaan di lima bandara utama AS (Los Angeles International, San Francisco International, Chicago O’Hare, New York JFK, dan Atlanta) untuk memeriksa penumpang yang datang dari wilayah yang terkena dampak di China. CDC juga telah menerbitkan daftar tindakan pencegahan untuk para pelancong.

Setelah pintu masuk (bandara) virus ditutup (dengan berbagai pusat pemantauan canggih), CDC kemudian memagari garda terdepan lainnya yang mungkin bisa membawa virus corona jenis baru tersebut masuk. Mereka adalah awak kabin dan pilot.

CDC sendiri sudah mengeluarkan panduan teknis lengkap untuk mereka, khususnya dalam penanganan selama bertugas. Jika seorang penumpang mengalami gejala-gejala virus, yang secara resmi dikenal sebagai 2019-nCoV, ia disarankan untuk mengunjungi dokter atau ruang gawat darurat mereka dan kemudian segera mencari perhatian medis. Bila terinfeksi, orang tersebut harus diisolasi, memakai masker wajah dan sering mencuci tangan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran virus.

Dalam pedomannya untuk awak kabin, CDC juga merekomendasikan personel maskapai untuk sering mencuci tangan dan menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.

Selain itu, jika seorang penumpang menunjukkan gejala (demam melebihi 38 0C), batuk terus-menerus atau kesulitan bernapas saat dalam penerbangan, CDC mengatakan pramugari harus menawarkan orang tersebut masker bedah, menjaga orang sakit setidaknya dua metere jauhnya dari penumpang lain dan menunjuk satu staf untuk merawat mereka.

Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina

Staf yang ditunjuk harus mengenakan masker bedah, pelindung mata, dan pakaian tambahan lainnya. Semua cairan tubuh harus diperlakukan seolah-olah menular, dan setelah itu, semua barang sekali pakai yang bersentuhan dengan penumpang harus dimasukkan ke dalam kantong biohazard untuk pembuangan yang benar. Kemudian, semua permukaan yang terkontaminasi harus dibersihkan dan disterilkan sesuai dengan protokol penerbangan.

Setelah tiba, staf CDC akan mengevaluasi penumpang untuk menentukan apakah ia harus diangkut ke rumah sakit untuk tes dan perawatan lebih lanjut. “CDC akan memperbarui maskapai tentang hasil pengujian dan kebutuhan untuk menindaklanjuti anggota awak atau penumpang yang terpapar,” dalam petunjuk teknis yang diedarkannya.

Gara-gara Dianggap Berpakaian Tak Pantas, Seorang Wanita Tertahan Ketika Akan Masuk Kabin

Seorang penumpang wanita tertahan di pintu masuk ketika dirinya akan masuk ke kabin pesawat. Penahanan itu dilakukan oleh seorang petugas pria maskapai United Airlines yang mengklaim bahwa pakaian yang dikenakan penumpang dianggap tidak pantas.

Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Andrea Worldwide saat itu naik pesawat United Airlines dari Denver, Colorado menuju ke Newark, New Jersey pada 13 Januari 2020 kemarin. Saat itu dia menggunakan atasan hitam dengan garis leher berpotongan rendah yang menunjukkan sedikit bralette dibawahnya.

Andrea juga mengenakan kardigan dan syal yang dengan mudah bisa menutupi dadanya. Dia mengaku padahal pakaian yang digunakannya pun cukup sopan dengan syal besar, kardigan selutut, legging dan sepatu kets.

Tetapi ketika dirinya akan naik kepesawat, seorang petugas menyuruhnya menyingkir. Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (28/1/2020), dia awalanya berpikir tidak boleh naik karena tiket yang dimiliki robek tetapi ternyata hal tersebut karena pakaian yang dikenakan.

“Saya tidak mendapat alasan pada awalnya dan akhirnya diberitahukan setelah 20 menit oleh petugas perempuan terkait dirinya tidak boleh masuk ke kabin karena pakaian terlalu terbuka. Saya berpikir apakah petugas tersebut melindungi penumpang lain dari saya atau dia ingin saya tinggal lebih lama untuk menatap saya demi kesenangannya sendiri… Siapa yang tahu!” tulisnya.

Akhirnya Andrea diizinkan masuk ke pesawat dan karena insiden tersebut dirinya ditawari voucher $100 namun dia menolaknya. Bahkan maskapai juga melipat gandakan voucher menjadi $200 untuk diberikan.

“Aku benar-benar terhina, malu, bingung. Saya merasa seperti semua mata tertuju pada saya. Dua ratus dolar bahkan tidak sebanding dengan penghinaan yang aku hadapi. Jika perempuan lain harus menghadapi ini, aku lebih suka mengeluarkan berita dan mungkin lebih memilih maskapai lain,” tulisnya lagi.

Atas insiden ini, maskapai United mengatakan tujuan mereka adalah agar pelanggan merasa diterima dan memiliki perjalanan yang nyaman.

“Kami menjangkau pelanggan kami untuk lebih memahami apa yang terjadi,” tulis pernyataan maskapai.

Sebelum Andrea mengaku tidak ingin memposting hal tersebut tetapi mengingat kurangnya perhatian terhadap masalah ini oleh United Airlines maka tidak ada pilihan lain. Andrea sendiri sebenarnya memiliki status angggota khusus dengan beberapa miles karena sering menggunakan penerbangan United Airlines.

Baca juga: Foto Penumpang Pakai Sarung Tangan Streril Untuk Tutupi Kaki Viral di Instagram

“Saya seorang wanita profesional, yang mempekerjakan ratusan wanita profesional muda lainnya, itulah sebabnya saya memutuskan untuk mengambil sikap dan berbicara tentang perilaku staf United Airlines yang tidak dapat diterima,” tulis Andrea di akun Facebooknya.

Virus Demam Babi Afrika Mewabah di Indonesia, Peternak Dilarang Beri Makan Babi dari Sisa Makanan Penerbangan

Serangan virus demam babi Afrika baru-baru ini membuat lebih dari 34 ribu babi di Sumatera Utara mati dan pihak berwenang tak mau ambil risiko dengan 760 ribu babi yang tinggal di Bali. Serangan demam ini dikarenakan pemberian makanan sisa dari maskapai yang diberikan oleh para peternak.

Baca juga: Santap Sisa Makanan Penumpang, Awak Kabin Ini Terancam Sanksi Berat

Menurut pihak berwenang, sisa makanan bisa saja terinfeksi virus yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi bisa membunuh seluruh kawanan babi. Kepala badan kesehatan hewan dan ternak Bali, Wayan Mardiana mengatakan, penyakit ini telah menyebar karena babi diberi makan dari sisa makanan penerbangan.

“Saat ini kami telah melarang praktik semacam itu. Kami bekerja dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan semua maskapai yang memiliki makanan sisa dan mengandung babi harus dihancurkan,” kata Wayan.

“Bea cukai akan memeriksa dan memusnahkan semua makanan yang mengandung babi dan dibawa oleh penumpang seperti dari Cina,” tambahnya.

Dia mengatakan, sebanyak 25 peternak babi di Bali dengan jumlah total 100 ribu ekor yang diberi makan sisa penerbangan dianggap berisiko tinggi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/1/2020), karena demam babi Afrika ini, peternakan babi di Cina, Thailand dan beberapa negara lainnya hancur.

Hal ini karena virus demam babi Afrika penyebarannya terbatas yakni pada babi domestik dan liar. Bahkan Departemen Pertanian Australia mengatakan sudah membunuh 80 persen hewan yang terinfeksi.

“Sejauh ini tidak berpengaruh pada pariwisata di Bali, karena tidak berdampak pada manusia,” kata Kepala Departemen Pariwisata Bali, Putu Astawa.

Setelah itu kemudian sebuah pertanyaan menjadi muncul, kenapa babi-babi itu makan makanan sisa penerbangan? Jawabannya yakni karena maskapai tak bisa memberikan makanan yang sisa kepada penumpang di penerbangan lain. Apalagi makanan tersebut juga dicek secara ketat sebelum disiapkan dan disajikan. Makanan tersebut juga akan dibuang ketika tidak lagi disajikan.

Baca juga: 65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai

Maka dengan alasan ini, beberapa maskapai dan bandara membentuk kemitraan dengan peternak lokal untuk menyediakan makanan limbah bagi mereka untuk diberikan kepada babi. Adanya sisa makanan tersebut dikarenakan maskapai ingin memastikan mereka memiliki semua opsi menu yang tersedia untuk setiap penumpang.

Capaian Melebihi Ekspektasi 2019, MRT Jakarta Akan Mulai Fase 2

Fase 1 Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sudah mengular dan target penumpang yang awalnya 65 ribu hingga akhir tahun 2019, justru melebihi ekspektasi awal yang ditutup dengan angka 95 ribu penumpang per hari. Bahkan ditotal hingga akhir tahun 2019, sebanyak 24,6 juta penumpang naik kertea MRT Jakarta semenjak beroperasinya Maret 2019.

Baca juga: Sinergi dengan MRT Jakarta, Basarnas Jakarta Fokus Pada Tanggap Darurat Gempa dan Banjir

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, dengan jumlah tersebut menyatakan, MRT Jakarta sudah menjadi proyek lifestyle masyarakat ibu kota. Dia mengatakan, setelah ini, MRT Jakarta akan memulai dengan fase 2 pembangunan dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju ke Kota.

“Kita akan mulai pembangunan fisik paket CP201 dari Bundaran HI ke Harmoni. Kontraktor pemenang sudah di tetapkan dan JICA sudah tanda tangan kontrak,” Kata William, di Dukuh Atas, Kamis (30/1/2020).

Dia menambahkan, jarak fase 2 dari Bundaran HI ke Kota sekitar 6,3 km dan akan ada tujuh stasiun underground (bawah tanah) yang dibangun. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan, paket CP201 dari Bundaran HI ke Harmoni akan mulai dilaksanakan setelah pembangunan skybridge CSW yang akan menghubungkan Stasiun MRT Asean dan Halte TransJakarta koridor 13 selesai di Maret 2020 mendatang.

“Selesai pembangunan CSW di Maret, kita langsung mulai CP201 ini,” kata Silvia.

Dia menyebutkan untuk depo di Ancol Barat yang terhubung dari Kota akan mulai setelah Feasibility Study (FS). Nantinya hasil FS inilah yang akan menentukan letak stasiun baik itu di elevated atau underground hingga estimasi biaya yang diperlukan untuk pembangunan.

“Kita juga berharap FS ini selesai di Maret barengan dengan CSW jadi kita bisa mulai perkiraan dari Kota ke Ancol Barat akan seperti apa pengerjaannya,” jelas Silvia kepada KabarPenumpang.com.

Dia menyebutkan, untuk perpanjangan dari Kota hingga Ancol Barat diperkirakan akan ada tiga atau empat stasiun bila dihitung satu kilometer. Silvia menambahkan, stasiun-stasiun yang akan diperpanjang hingga Ancol Barat tersebut akan melintas di trase Mangga Dua, Gunung Sahari dan Ancol.

“Nantinya yang jelas FS akan menentukan segalanya dan kita baru bicara soal pendanaannya,” tambahnya.

Terkait masalah luasan depo baru untuk MRT Jakarta yang akan dibuat di Ancol Barat, Silvia mengatakan, pihaknya punya ekspektasi lahan baru tersebut lebih luas dari yang ada di Lebak Bulus. Silvia menambahakan, bila jalur timur-barat MRT Jakarta mulai beroperasi maka kereta akan bertambah banyak dan depo harus lebih besar.

Baca juga: Gambar dan Tulisan Tak Sama, “Mockup Signage” di Stasiun MRT Jakarta Jadi Viral

“Kalau fase 3 sudah berjalan dari timur ke barat, otomatis perjalanan bertambah dan kereta juga bertambah makanya kita butuh depo lebih besar. Kisarannya depo baru ini dekat pantai dan untuk dealnya kita masih tunggu mekanisme dengan Pemda,” tambah Silvia.

Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330

Mengikuti dinamika meluasnya wabah virus Corona, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan evakuasi segera Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Sebelum adanya perintah Presiden, pihak TNI AU telah menyiapkan dua pesawat Boeing 737-400 dan satu pesawat angkut C-130 Hercules untuk diterbangkan ke Wuhan. Kabarnya dalam waktu dekat, diperkirakan pada Sabtu ini, rombongan pesawat penjemput akan diberangkatkan. Namun, rupanya bakal ada perubahan dari jenis pesawat yang digunakan.

Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Dari informasi yang ada, jumlah total WNI asal Indonesia yang akan di evakuasi dari Provinsi Hubei berjumlah 240 orang. Dan dilihat dari spesifikasi pesawat yang akan digunakan TNI AU, yaitu masing-masing Boeing 737-400 punya kapasitas 100 penumpang, sementara C-130 Hercules difungsikan sebagai pesawat pendukung logistik. Mengutip dari Angkasa.news.com, Kadispen TNI AU Marsma TNI Fajar Adrianto mengatakan, bahwa penerbangan ke Wuhan akan menempuh jarak 2.500 nautical mile (4.530 km). Rute yang ditempuh dari Bandar Halim Perdanakusuma – Natuna – Xianmen di Selata Beijing – Wuhan. “Jarak Xianmen ke Wuhan sekitar 400 nautical mile (740 km),” ujar Fajar.

Dan dari hasil rapat antara Kementerian Luar Negeri dengan Kedutaan Besar RI di Beijing (29/1/2020), maka ada perubahan dari pesawat yang digunakan, disebutkan yang akan melakukan misi evakuasi menggunakan pesawat berbadan lebar (widebody) jenis Airbus A330 milik Lion Air. Dari informasi yang ada, penggunaan A330 dipandang lebih efisien dalam hal waktu dan kecepatan, pasalnya dengan A330, 240 penumpang dapat diangkut sekaligus dengan satu pesawat saja. Dengan kemampuan terbang jarak jauh, maka penerbangan dari Indonesia ke Wuhan dapat dilangsungkan secara direct flight.

Sementara itu, komponen pesawat terbang dari TNI AU akan digunakan sebagai cadangan. Direncakan debarkasi akan dilakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, untuk selanjutnya awak pesawat dan penumpang akan dikarantina di Asrama Haji Pondek Gede lebih kurang 14 sampai 28 hari.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Bila yang digunakan adalah jenis Airbus A330-300 misalnya, pesawat twin engine yang biasa melayani penerbangan Umrah ini punya kapasitas 440 kursi. Kemampuan jelajah A330-300 pun mumpuni untuk misi ini, yaitu dapat terbang sejauh 5.650 nautical mile (10.500 km).

Norwegian Air Kenakan Biaya Pada Tas Jinjing Per 23 Januari 2020

Norwegian Air mulai 23 Januari 2020 kemarin menetapkan biaya pada tas tangan. Namun untuk penumpang yang sudah membeli tiket sebelum tanggal 23 Januari dengan keberangkatan beberapa waktu kedepan tidak akan dikenakan biaya yang ada pada peraturan baru tersebut.

Baca juga: Beda Maskapai Beda Pula Aturan Bawa Bagasi Jinjing Dalam Kabin

Sebelum adanya aturan ini, para penumpang Norwegian Air boleh membawa satu tas jinjing secara gratis. Tak hanya itu, penumpang juga bisa membawa satu barang yang diletakkan di bawah kursi depan serta membawa barang bebas bea yang di beli di bandara.

KabarPenumpang.com melansir laman get.com (23/1/2020), saat ini, aturan baru tersebut akan dikenakan kepada penumpang yang membeli kursi kelas terendah di mana penumpang hanya bisa membawa satu tas jinjing dibawah sepuluh kilogram dan bisa masuk di bawah kursi. Jika barang tersebut tak bisa masuk ke bawah kursi atau melebihi sepuluh kilogram, maka penumpang akan dikenakan biaya tambahan.

Berikut ini kebijakan baru yang dibuat oleh Norwegian Air untuk tas jinjing penumpang. Kelas LowFare hanya memperbolehkan penumpang membawa satu tas untuk diletakkan di bawah kursi dengan ukuran 30 x 20 x 38 cm dan tidak ada tas yang masuk dalam kabin atass kepala.

Kelas LowFare+, penumpang bisa membawa satu tas untuk diletakkan di bawah kursi, satu tas masuk dalam kabin atas kepala dengan ukuran 55 x 40 x 23 cm dan jika digabungkan beratnya harus sepuluh kilogram atau kurang. Kelas Flex, Premium dan Premium Flex memiliki aturan yang sama dengan LowFare+, tetapi memiliki batas bawaan 15 kg.

Bila penumpang kelas LowFare ingin membawa tas tambahan maka akan dikenakan biasa $6,5 hingga $11,7. Pihak Norwegian Air mengatakan, mereka menerapkan perubahan ini untuk mempercepat proses naik, sehingga penerbangan bisa berangkat tepat waktu.

Baca juga: Enam Hal Sebelum Pilih Koper atau Tas Jinjing untuk Berlibur

Tak hanya kebijakan pengenaan biaya, maskapai Norwegian Air juga memberikan kabar baik yakni, penumpang dengan kelas LowFare+ bisa membawa barang terdaftar hingga 23 kg yang tadinya hanya 20 kg. Sedangkan kelas Flex, Premium, PremiumFlex dapat membawa duat tas terdaftar dengan masing-masing berat maksimum 23 kg.

Boeing Catatkan Kerugian Terbesar Sepanjang Sejarah Berdiri

Setelah melalui tahun yang buruk, ditandai dengan jatuhnya Boeing 737 MAX milik maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines, Boeing akhirnya merilis laporan tahunan. Dalam laporan tersebut, Boeing mengaku mencatatkan kerugian bersih terbesar sepanjang sejarah berdirinya perusahaan sebesar US$636 juta (Rp8,864 triliun).

Baca juga: Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Dikutip dari seattletimes.com, Kamis, (30/1), kinerja keuangan Boeing sebetulnya sempat membaik pada kuartal ketiga 2019. Kala itu, perusahaan berhasil memperoleh laba US$ 895 juta (sekitar Rp12,53 triliun). Padahal, periode tersebut Boeing tengah mengalami pukulan telak akibat serangkaian kecelakaan pada Boeing 737 MAX.

Meski demikian, keuntungan yang berhasil diperoleh Boeing pada kuartal tiga ini turun jika dibandingkan dengan pendapatannya tahun lalu sebesar US$1,9 miliar (sekitar Rp26,6 triliun). Boeing mengamankan keuntungannya berkat bisnisnya di sektor pertahanan dan luar angkasa, meskipun sektor pesawat komersial (Commercial Airplanes division) miliknya terus membukukan kerugian lain.

Kinerja keuangan Boeing baru benar-benar teruji ketika pada kuartal kedua dan kuartal keempat, dimana perusahaan tersebut mengalami defisit besar. Pada kuartal kedua, Boeing mencatat kerugian US$3,7 miliar (sekitar Rp51,8 triliun). Kemudian pada kuartal keempat, kerugian sebesar US$1,01 miliar (Rp13,7 triliun). Hal itu belum termasuk revenue yang juga menurun dibanding tahun sebelumnya pada kuartal pertama hingga keempat.

Pada kuartal pertama hingga keempat tahun lalu, Boeing membukukan total pendapatan mencapai US$3,7 miliar (Rp244,5 triliun), turun hampir 37 persen dibanding tahun sebelumnya US$28,3 miliar (Rp386,9 triliun).

Selain itu, kinerja keuangan terburuk Boeing sepanjang sejarah berdirinya perusahaan juga dikarenakan oleh turunnya harga saham perusahaan asal negeri Paman Sam tersebut. Polanya nyaris sama dengan pendapatan Boeing pada kuartal dua dan empat di 2019. Pada tahun tersebut, saham Boeing anjlok menjadi hanya US$1,79 per lembar, jauh dibandingkan dengan harga saham di tahun sebelumnya saat membukukan keuntungan sebesar US$3,4 miliar (Rp 46,4 triliun), yakni sebesar $5.93 per lembar.

Selain karena merosotnya pengiriman hingga 53 persen, belum ditambah jumlah pesanan di tahun 2020 yang juga mengalami penurunan, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan, kerugian Boeing juga disumbang oleh banyaknya pembatalan pesanan serta pembayaran ganti rugi kepada para pelanggan, termasuk kepada ahli waris dari para korban terdampak.

Tak hanya itu, keputusan Boeing untuk memangkas tingkat produksi 787 Dreamliner, dari 14 unit lebih per bulan menjadi hanya kurang dari 12 unit per bulan, juga turut menyumbang laju perlambatan keuangan Boeing. Menurut sebagian pengamat, keputusan teresbut bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat permintaan jangka pendek yang lamban untuk jet berbadan lebar dan sisa pesanan yang hanya tinggal beberapa pesawat saja.

Menanggapi beban yang ada dihadapannya, ditambah fakta bahwa perusahaan yang dipimpinnya kini telah mengalami kerugian terbesar sepanjang sejarah berdiri, CEO Boeing, Dave Calhoun pun akhirnya buka suara. Berbanding terballik dengan keadaan keuangan yang tengah terpuruk, ia justru menyikapi berbagai keterpurukan Boeing dengan optimis.

“Kami menyadari memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kami berfokus untuk mengembalikan 737 MAX ke layanan dengan aman dan memulihkan kepercayaan lama yang diwakili oleh merek Boeing dengan publik penerbangan,” katanya.

Baca juga: Boeing Kembali Temukan Masalah Baru pada Software, 737 MAX Gagal Terbang (Lagi)

“Untungnya, kekuatan keseluruhan portofolio bisnis Boeing kami menyediakan likuiditas keuangan untuk mengikuti proses pemulihan yang menyeluruh dan disiplin,” lanjut, CEO yang baru menjabat awal bulan ini, menggantikan CEO lama, Dennis Muilenburg.

Sebagai informasi, sebelum tahun 2019, Boeing juga pernah mencatat kerugian besar pada tahun 1995 dan 1997. Kala itu, Boeing mencatat kerugian total sebesar US$214 miliar (sekitar Rp 46,4 triliun).

Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Setelah lama tertunda, Boeing 777X akhirnya sukses terbang perdana pada Sabtu lalu. Sekalipun sempat tertunda, Boeing mengklaim bahwa pesawat tersebut akan bisa bersaing dengan kompetitornya berkat fitur folding wingtip serta beberapa inovasi lainnya.

Baca juga: Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Pada umumnya, sebagian kalangan mungkin lebih akrab dengan istilah winglet. Dengan hadirnya folding wingtip pada Boeing 777X, mereka pasti akan sedikit rancu bahkan cenderung bingung dengan penggunaan istilah winglet dan wingtip.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebetulnya tidak sederhana untuk mulai menjelaskan winglet dan wingtip. Barangkali, penjelasan terkait winglet dan wingtip bisa dimulai dari cara kerja pesawat hingga burung besi tersebut dapat terbang.

Sebagaimana yang umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur). Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tida ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Blended Wingtip dari Airbus A350XWB. Sumber: Wikipedia

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh, perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekananan tinggi, misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap. Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Winglet B747. Foto: Hydro.aero

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet. Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi. Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7%, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Jadi, winglet bisa dikatakan sebagai bentuk dari ujung sayap yang modelnya berupa perpanjangan dari sayap dan ditekuk ke arah atas sayap. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah keluarga Boeing 737 NG. Adapun wingtip secara harfiah adalah ujung sayap pesawat. Selain bentuk winglet, wingtip juga mempunyai bentuk lainnya, seperti Sharklets dan Raked wing.

Sharklets adalah berupa sebuah sirip tambahan pada bagian atas dan bawah pada posisi tegak di ujung sayap. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah Airbus A320. Sedangkan Raked wing adalah perpanjangan sayap yang memiliki sudut agak lebih tinggi di bagian ujung sayap. Winglet jenis ini adalah salah satu dari teknologi Boeing yang digunakan pada pesawat terbarunya yaitu 787 dan 747-8.

Dengan Mesin Eco-Friendly, Batik Air Datangkan Airbus A320NEO Pertama

Batik Air mengumumkan rencananya untuk mendatangkan pesawat Airbus A320-200NEO pertama dalam waktu dekat. Saat ini, pesawat berbadan sempit (narrow body) tersebut sudah selesai proses uji terbang di Toulouse, Perancis, pada Rabu kemarin, waktu setempat. Meskipun berbadan sempit, pesawat tersebut dinilai tangguh untuk mengarungi rute pendek hingga menengah berkat sokongan mesin yang eco-friendly.

Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

Keputusan maskapai, yang masih satu grup dengan Lion Air tersebut, mendatangkan Airbus A320 NEO tentu didasari banyak pertimbangan. Selain karena pesawat sudah didukung oleh teknologi fly-by-wire yang memungkinkan pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sistem elektronik, Airbus A320NEO juga dinilai mampu memberikan pengalaman terbang baru.

“Kami telah mempertimbangkan berbagai faktor, bahwa pesawat tersebut akan memberikan pengalaman baru lebih kepada setiap tamu yang melakukan perjalanan,” kata Chief Executive Officer (CEO) Batik Air, Capt. Achmad Luthfie, kemarin.

Selain itu, terpilihnya Airbus 320-200NEO oleh Batik Air juga didasari oleh kebutuhan jangka panjang maskapai. Nantinya, pesawat penumpang jet komersial yang diklaim paling cepat terjual ini akan dipergunakan untuk pengembangan bisnis Batik Air itu sendiri, meliputi pemenuhan berbagai rute yang sudah ada (eksisting), rencana penambahan frekuensi terbang, serta pembukaan rute baru domestik dan internasional.

Guna mendukung pengembangan bisnis tersebut, Batik Air juga akan menyulap Airbus A320-200NEO dengan konfigurasi kursi lorong tunggal (single aisle) berkapasitas 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi tersebut dengan berbagai fitur menarik (inflight entertainment). Seperti berupa audio video visual di setiap kursi, pengaturan suara (audio control), kabin paling senyap di kelasnya, menambah fitur utama kursi lebih ergonomis, dan sandaran kursi pada kaki (foot rest).

Tak hanya itu, bagi pengunjung yang kerap membawa banyak barang bawaan (hand luggage), Batik Air juga akan memanjakan anda dengan kompartemen penyimpanan barang bawaan (overhead bin) yang lebih besar.

Kompartemen atau penyimpanan yang terletak di atas kursi penumpang ini menyediakan 10% volume ekstra, menampung lebih banyak jumlah tas hingga 60 persen, serta desain baru kompartemen bagasi kabin yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan banyak barang bawaan di kabin.

Saat ini, setelah lulus tes uji terbang, pesawat harus kembali ke pabrik untuk dilakukan berbagai pekerjaan lainnya. Bila tidak ada halangan yang berarti, rencananya, sejumlah armada baru Batik Air tersebut akan datang dalam waktu dekat.

Baca juga: Terima A330-300CEO eks Thai Lion, Batik Air Resmi Masuki Pasar Widebody Full Service

“Kami bangga akan menyambut kedatangan Airbus 320-200NEO dan memperkenalkan pesawat terbaru,” pungkas CEO sudah sejak 2012 lalu bergabung dengan Batik Air, Capt. Achmad Luthfie.

Pesawat A320-200 NEO juga menawarkan kompartemen penyimpanan barang bawaan (overhead bin) yang paling besar di kabinnya. Kompartemen yang terletak di atas kursi penumpang ini menyediakan 10 persen volume ekstra, menampung lebih banyak jumlah tas hingga 60%., serta desain baru kompartemen bagasi kabin yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan banyak barang bawaan di kabin.