Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

Sebuah pesawat Japan Airlines (JAL) yang tengah parkir di apron terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dilaporkan robek di bagian kanan belakang. Pesawat JAL JA606B tersebut robek akibat tertabrak mobil katering milik Aerofood ACS (Garuda Indonesia Group).

Baca juga: Tak Mau Duduk Dekat Penumpang Bawa Anak, Japan Airlines Hadirkan Peta dengan Ikon

Senior Manager of Branch Communication and Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Febri Toga Simatupang, sendiri sudah membenarkan kejadian tersebut. Selain itu, dilihat KabarPenumpang.com dari situs flightradar24, Senin, (3/2), pesawat nahas Boeing 767-346(ER) tersebut dijadwalkan berangkat pada 6.45 pagi dan tiba di Tokyo Narita International Airport pada 4.05 sore waktu setempat.

Meskipun tak ada korban jiwa, akibat kejadian tersebut, penerbangan JL720 dengan pesawat itu akhirnya dibatalkan. Penerbangan tersebut kemudian digantikan oleh dengan menggunakan pesawat lainnya, dengan kode penerbangan JA620J, pada jam dan waktu tiba yang nyaris sama.

Sejumlah pihak terkait pun, mulai dari ACS selaku pemilik Aerofood ACS, otoritas bandara, dan beberapa pihak terkait lainnya masih mencari tahu penyebab kejadian.

Kerusakaan yang ditimbulkan akibat ditabrak mobil katering milik Aerofood ACS. Foto: Istimewa

Hingga berita ini diturunkan, redaksi KabarPenumpang.com sudah mencoba mengkonfirmasi terkait kerusakan, lamanya proses perbaikan, bagian-bagian yang diperbaiki, hingga taksiran uang yang harus dikeluarkan dalam insiden yang sudah beberapa kali terjadi itu. Namun, redaksi belum mendapat jawaban dari pihak GMF.

Di tempat terpisah, pengamat penerbangan, Agus Pambagio, menilai insiden tersebut patut menjadi cambuk keras bagi otoritas bandara, khususnya Angkasa Pura 2 (AP 2) selaku pengelola bandara. Dalam catatannya, insiden serupa bukanlah pertama kalinya.

Dalam pengamatannya pula, petugas ACS serta petugas lainnya yang mengendarai mobil di apron memang kerap ugal-ugalan. Hal itu sebetulnya tak terkait SOP, hanya saja ketegasan dari AP 2 dalam membuat aturan yang jelas dan menindak para pengemudi yang ugal-ugalan tersebut.

Senada dengan Agus, netizen pun juga menilai insiden tertabraknya pesawat milik maskapai Jepang tersebut sangatlah tidak logis. Pada akhirnya, selain menyayangkan peristiwa nahas itu, netizen pun turut bersedih terhadap oknum pelaku yang terlibat.

“Gaji 100 tahun pun ngga akan sanggup bayar kerusakan pesawat itu apes apes…,” kata pemilik akun Uni Soviet.

“Waduuhh, itu si sopir kalo musti ngganti pake potong gaji, musti kerja berapa abaaaaddd ??,” tulis akun @paparocknroll74

Baca juga: Tak Lagi Diperagakan Awak Kabin, Instruksi Keselamatan Japan Airlines Hadir Dalam Bentuk Video Lucu

Sebagaimana yang ramai dibicarakan sebelumnya, jagat media sosial Twitter dihebohkan oleh sebuah pesawat JAL yang robek di bagian lambung sebelah kanan belakang pesawat. Akibat kejadian itu, pesawat harus menjalani reparasi di GMF Aeroasia (Garuda Maintenance Facility Aeroasia).

Sampai pada pukul 6.26 sore ini, video yang diunggah @aviatren ini telah ditonton sebanyak 115 ribu pengunjung, serta mendapat ratusan likes dan comment. Saking hebohnya, kantor berita Jepang, Sepctee News, melalui laman Twitternya, @spectee_news pun turut mengomentari kejadian tersebut.

Penutupan Rute dari dan ke Seluruh Cina Daratan, Berpotensi Hanguskan Triliunan Rupiah

Mulai 5 Februari 2020 mendatang pukul 00.00 WIB, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memutuskan melakukan penundaan penerbangan dari dan ke seluruh wilayah Cina Daratan (tidak termasuk Hong Kong dan Makau), hingga batas waktu yang akan ditentukan kemudian.

Baca juga: Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!

“Penundaan sementara ini ditujukan untuk melindungi masyarakat dari risiko tertular mengingat salah satu yang menjadi potensi masuknya penyebaran virus adalah akses transportasi udara yang erat kaitannya dengan keluar masuknya penumpang internasional,” ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, di Jakarta (2/2), sebagaimana rilis yang diterima KabarPenumpang.com.

Dengan keputusan ini, lanjutnya, seluruh maskapai Indonesia diminta untuk menunda seluruh rencana penerbangan dari dan ke seluruh Cina hingga waktu yang belum ditentukan, bergantung pada situasi dan kondisi penyebaran virus corona di negara tersebut. Tak hanya penerbangan dari Indonesia ke Cina, maskapai asing yang melakukan penerbangan dari Cina menuju Indonesia, termasuk penerbangan transit dari Cina, diminta untuk menunda sementara penerbangan menuju Indonesia.

Pemerintah meminta maskapai nasional maupun asing untuk mempersiapkan diri dengan tetap mengutamakan kepentingan konsumen dan menyampaikan rencana penundaan sedini mungkin sesuai prosedur yang berlaku agar kerugian penumpang dapat diminimalisir.

Menanggapi penutupan rute dari dan ke Cina tersebut, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengatakan, keputusan tersebut dipastikan akan membuat maskapai merugi. Meskipun laporan keuangan maskapai pada periode tahun lalu belum keluar, namun, ia memastikan bahwa maskapai pasti akan merugi. “Pasti rugi besarlah,” katanya kepada KabarPenumpang.com, Senin, (3/2).

Namun, pengamat yang juga eks Wakil Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini memberikan pengecualian. Kerugian besar yang menunggu di depan mata mungkin dapat dihindari bila maskapai melakukan hal lainnnya.

“Tergantung maskapainya juga. Kalau dari rute-rute lainnya bisa menutup, ya bisa aja (tidak rugi). Tapi kalau tidak, ya pasti rugi besar lah,” tambahnya.

Sebagaimana yang umum diketahui, di Indonesia sendiri, saat ini tercatat lima maskapai nasional yang mengoperasikan penerbangan ke Cina, yakni Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air.

Garuda Indo sendiri, memiliki penerbangan dari dan menuju Cina ke lima kota, meliputi Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou dan Xi’an. Setiap pekannya, maskapai pelat merah itu melayani sebanyak 30 penerbangan.

Sementara itu, Lion Air, tercatat memiliki 15 rute ke Cina, meliputi Xi’an, Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou, hingga Wuhan. Berbeda dengan Garuda Indonesia, Lion Air memiliki frekuensi yang lebih banyak, sekitar 45 penerbangan dari 15 rute tersebut setiap pekannya.

Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin

Bila diambil rata-rata 30 penerbangan dalam sepekan, plus rata-rata okupansi 80 persen serta dikalikan lima maskapai, maka total potensi kerugian maskapai-maskapai tersebut mencapai Rp120 miliar per pekan. Bila penundaan rute dari dan ke Cina berlangsung selama sebulan, maka total potensi kerugian yang dihasilkan kellima maskapai tersebut mencapai Rp2,4 triliun.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi KabarPenumpang.com sebetulnya sudah mencoba untuk menghubungi pihak-pihak terkait, di antaranya Lion Grup, Garuda Indonesia, dan Sriwijaya Air terkait potensi kerugian yang akan dialaminya. Namun, ketiganya belum memberikan jawaban.

HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Sebanyak 238 warga negara Indonesia yang dibawa dari Bandara Internasional Tianhe Wuhan menggunakan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan 8618, berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Hang Nadim, Batam, Minggu (2/2) waktu setempat.

Baca juga: Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330

Misi kemanusiaan yang juga melibatkan sejumlah instansti terkait, di antaranya ialah Kementerian Perhubungan, TNI-Polri, Kantor Kesehatan Pelabuhan Batam, Pemerintah Kabupaten Natuna, Kementerian Luar Negeri, Otoritas Bandara Hang Nadim Batam, hingga Kementerian Kesehatan, tersebut juga didukung oleh teknologi HEPA (pada pesawat Airbus A330-300), yang diklaim mampu membersihkan udara di dalam kabin.

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman airpurifiers.com, Senin, (3/2), teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. Udara kotor di sini bisa diartikan semacam bakteri, bau tak sedap, hingga virus. Tak terkecuali virus corona yang tengah menjadi sorotan dunia, khususnya dalam misi penyelamatan WNI dari Wuhan kemarin.

Penggunaan teknologi HEPA dalam misi kemanusiaan tersebut memang sangat tepat, mengingat, partikel yang bila diibaratkan hanya 3 persen dari diameter rambut manusia tersebut (virus corona yang serta virus dan bakteri lainnya yang tak kasat mata) tak mudah dicegah dengan hanya menggunakan masker. Terlebih, masker yang digunakan ialah masker harian yang biasa dikenakan banyak orang. Adapun masker N95 sekalipun (umumnya berwarna putih dengan penyaring di depannya) persentase pencegahannya juga tak terlalu besar, bisa sewaktu-waktu menembus sistem saringan pada masker tersebut dan terhirup oleh manusia.

Bila hal itu terjadi, partikel udara yang dinilai paling mematikan secara perlahan tanpa disadari tersebut lama-kelamaan akan menumpuk di paru-paru dan organ lain hingga bisa menyebabkan munculnya penyakit pernapasan, asma, hingga penyakit jantung. PM 2,5 juga ampuh untuk membuat penyakit-penyakit tersebut makin parah hingga bisa memicu kematian dini. Tak heran, bila PM 2, yang di dalamnya termasuk virus corona, membuat banyak pengidapnya, sebagaimana video viral di media sosial Twitter, jatuh bergelimpangan bak daun-daun pohon yang berguguran.

HEPA sendiri mulai dikembangkan oleh ilmuan pada 1950. Kala itu, Komisi Energi Atom AS membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan partikel radioaktif kecil, sehingga dikembangkanlah filter HEPA ini. Sejak itu, filtrasi HEPA telah digunakan dalam pembersih udara untuk membersihkan dalam ruangan di berbagai tempat, seperti ruang medis dan salon kecantikan. Teknologi HEPA juga merupakan bagian dari perawatan yang digunakan oleh dokter untuk membantu meringankan gejala alergi dan asma.

Cara kerja dari teknologi HEPA sendiri, dalam hal ini pada sistem HEPA Cabin Air Filter, ialah sebagian udara yang berasal dari dalam dibuang ke luar kabin. Sementara itu, sisanya dipompa melalui filter udara HEPA dan diklaim 99 persen bakteriologis di dalamnya menghilang.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Perputaran sirkulasi udara dalam pesawat yang dilengkapi HEPA Cabin Air Filter juga tergolong cepat. Berkisar diangka 15 hingga 30 kali per jam atau satu hingga dua kali per menit untuk mengubah partikel udara kecil yang berbahaya menjadi aman untuk tubuh.

Pada umumnya, sistem kerja teknologi HEPA menggunakan tiga lapis sistem. Mula-mula udara diserap oleh sistem filter pertama. Saat proses penyaringan tersebut, virus, bakteri dan lainnya masih belum terserap. Kemudian, pada saringan yang kedua, virus, bakteri, dan partikel udara tak sehat lainnya sudah bisa terserap, namun bau tak sedap dan sejenisnya belum. Barulah pada sistem penyaringan ketiga, semua bau dapat terserap, sehingga menghasilkan udara yang sehat dan tak berbau.

Tak Khawatir Penumpang Hindari Pesawat Bekas Bawa WNI dari Wuhan, Batik Air: Prosedur Sterilisasi Telah Dijalankan

Pesawat Batik Air A330-300CEO dengan registrasi PK-LDY pada 2 Februari 2020 kemarin menjalani proses sterilisasi. Proses ini dilakukan maskapai dengan pembersihan yakni penyemprotan dan penggantian saringan udara kabin serta perawatan berkala selama beberapa hari di Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Baca juga: Evakuasi WNI di Wuhan Bakal Gunakan Pesawat Widebody Airbus A330

Pensterilan ini dilakukan setelah pesawat A330-300CEO dengan kode penerbangan ID-8618 tersebut mengangkut 238 penumpang WNI dari Wuhan, Cina ke Batam. Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group mengatakan, pensterilan pesawat ini pihak batik Air bekerja sama dengan kantor kesehatan pelabuhan (KKP) Batam, TNI Angkatan Udara, pusat perawatan pesawat Batam Aero Technic (BAT).

Setelah penumpang selesai di evakuasi, pihak KKP mulai melakukan pensterilan dengan penyemprotan cairan multiguna atau semprotan desinfektan (disinfectant spray) pembunuh kuman, bakteri, virus dan lainnya. Penyemprotan tersebut dilakukan pada kabin, kokpit dan kompartemen kargo di bagian bawah pesawat.

Danang menjelaskan, pengerjaan tersebut dilakukan selama 120 menit atau dua jam. Kemudian tim BAT melakukan penggantian HEPA (High Efficiency Particulate Air) filter yang merupakan alat penyaring untuk sirkulasi udara dalam pesawat.

“Kami lakukan ini karena prosedur tersebut sesuai dengan anjuran dari Airbus. Sebab, sistem HEPA sangat efektif untuk menyaring virus dalam sirkulasi udara kabin pesawat,” kata Danang yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (3/2/2020).

Dia menambahkan, setelah semua HEPA filter dilepas, kemudian dibungkus menggunakan pembungkus khusus dan diserahkan kepada pihak berwenang untuk pemusnahan dengan di bakar. Atas sterilisasi dan nomor registrasi pesawat yang tersebar ini, pihak Lion Air Group mengatakan tidak khawatir penumpang akan menghindari menggunakan pesawat tersebut.

“Kami tidak takut karena hal ini sudah diinfokan Lion dan Batik. Sebab kami sudah operasikan sesuai peraturan dan prinsip-prinsip kesehatan dan kami lakukan untuk tindakan prefentif,” kata Danang.

Bahkan menurutnya, karena sudah dilakukan sterilisasi dengan pembersihan dan penyemprotan cairan disinfectant dan penggantian HEPA Filter penumpang tak lagi perlu khawatir.

“Kami ke sana juga karena misi penyelamatan, karena itu dengan semua sterilisasi yang sudah dilakukan, penumpang tak lagi perlu takut ketika naik pesawat tersebut,” tambahnya.

Baca juga: Inilah Berbagai Macam Masker, Diantaranya Bisa Menghalau Virus Corona

Diketahui, pesawat Batik Air A330-300CEO berangkat dari Bandara internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Tianhe Wuhan pada 1 Februari 2020 pukul 13.00 WIB dengan mengangkut 18 kru dan 30 tim medis. Pesawat tiba di Bandara Internasional Tianhe Wuhan pukul 19.00 waktu setempat. Kemudian pesawat kembali dari Bandara Internasional Tianhe Wuhan pukul 04.30 waktu setempat dan tiba di Bandara Hang Nadim Batam pukul 08.30 WIB dengan mengangkut 238 WNI.

Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Menjadi yang pertama di Eropa, Spanyol akan mulai meluncurkan bus listrik otonom di jalanan kota. Bus ini merupakan milik Irizar yang akan diberikan kepada dewan kota Malaga dan digunakan dalam beberapa bulan oleh Avanza di Malaga.

Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Bus listrik otonom tersebut memiliki body yang besar dengan panjang 12 meter dan memiliki kapasitas 60 orang. KabarPenumpang.com melansir laman insideevs.com (30/1/2020), layanan reguler bus tersebut akan meluncur dari pelabuhan menuju pusat kota di Malaga.

Uniknya, bus milik Irizar ini bisa dikemudikan dengan dua mode yakni manual dan otomatis (autopilot). Untuk mode otomatis Irizar akan memantau dari pusat kendali.

“Bus otonom pertama ini adalah buah dari Proyek AutoMost yang didanai oleh CDTI (Pusat Pengembangan Teknologi Industri) Kementerian Ekonomi Spanyol yang bertujuan untuk mengembangkan teknologi untuk otomatisasi kendaraan dalam aplikasi transportasi perkotaan dan industri, untuk membuat peningkatan yang signifikan dalam efisiensi, keselamatan dan keberlanjutan. Avanza berpartisipasi sebagai operator dengan 11 mitra, termasuk Irizar Group melalui Irizar e-mobilitas dan Datik,” kata Hector Olabegogeaskoetxea, Direktur Utama Irizar e-mobilitas.

Dia mengatakan, proyek ini juga memiliki partisipasi dari politeknik Universitas Madrid, Insia, CEIT-IK4 dan Universitas Vigo. Hector menjelaskan, Malaga akan menjadi kota pertama yang menggunakan bus otonom yang akan meluncur di sepanjang jalan dari pelabuhan ke pusat kota.

Bus listrik otonom tersebut akan mentransfer penumpang kapal pesiar yang tiba untuk melanjutkan perjalanan mereka ke ibukota Malaga. Dengan mode otomatis, bus akan menggunakan penentuan posisi dan sistem panduan berpresisi tinggi dan akan terhubung ke pusat kontrol dari instruksi spesifik dapat dikirim ke setiap unit dan bus dapat dipantau dan rencana perjalanan mereka diakses secara real time.

“Setelah tiga tahun bekerja, uji coba diluncurkan di Malaga. Seperti dikomentari, inovasi utama AutoMost adalah menempatkan kendaraan ukuran standar ke dalam sirkulasi dalam situasi lalu lintas nyata di kota dan bukan di ruang yang dipesan atau di area terbatas,” kata Hector.

Baca juga: Kurangi Emisi, Pemerintah Sydney Bakal Ganti 8000 Bus Diesel Menjadi Bus Listrik

“Kami percaya bahwa bus ini siap untuk memulai uji coba dalam kondisi operasi nyata di jalan raya umum, dalam situasi lalu lintas nyata di kota Malaga. Ini adalah tes pertama jenis ini dengan bus sebesar ini di Spanyol. Tes ini tidak diragukan lagi akan memberikan data dan pengalaman dalam operasi praktis sehari-hari, yang akan berkontribusi pada kemajuan dalam tantangan besar ini untuk masa depan Grup Irizar,” tambahnya.

Sudah Mengaku Rapi Saat Bekerja? Coba Bandingkan Dengan Sopir Taksi di Jepang

Jepang memang terkenal dengan budayanya yang ramah dan elegan. Hal itu disebut “Omotenashi” dan diterjemahkan secara sederhana sebagai keramahan – atau menawarkan perhatian tanpa pamrih kepada pelanggan. Banyak hal yang dapat diuji dari budaya tersebut. Salah satunya mungkin terlihat dari supir taksi di sana, salah satunya Norihito Anima.

Baca juga: Undang-undang Emisi di India, Singkirkan Taksi Ikonik “Premier Padmini”

Wisatawan di Jepang memang kerap menyebut namanya, khususnya bagi wisatawan yang merasakan layanan dari dirinya. Betapa tidak, sebagai seorang supir taksi, ia menjalankan tugasnya bak seorang bos besar, menggunakan jasi dan dasi, bahkan terkadang dilengkapi dengan sarung tangan putih. Lebih mirip James Bond si agen intelijen 007 Inggris ketimbang sebagai supir taksi.

Di samping pribadi yang memang gemar dengan kebersihan dan kerapihan, dari sisi regulasi operator taksi, pengemudi memang tidak diperbolehkan memiliki tato atau memakai kacamata hitam, dan pria harus dicukur bersih.

Operator bahkan melengkapi pengemudi dengan berbagai standar teknis pelayanan, seperti bagaimana dan kapan harus berbicara dengan penumpang, sanitasi taksi, dan membuka pintu bagi pelanggan.

Menjelang Olimpiade Musim Panas 2020 mendatang di Tokyo, Jepang, layanan taksi memang menjadi perhatian. Hal itu diakibatkan oleh pengalaman pada Olimpiade Beijing sebelumnya, dimana pengemudi yang kurang terlatih, mobil butut, dan pakaian sembrono. Atas insiden itu, pemerintah pun menerbitkan aturan bagi pengemudi untuk berhenti meludah, membersihkan taksi, dan memperingatkan tentang makan di tempat kerja. Namun, hal tersebut rasanya tak akan terjadi saat olimpiade yang akan di helat pada akhir Juli mendatang tersebut.

“Orang Jepang memiliki kebanggaan dalam layanan ini. Dalam konsep barat, seorang individu independen. Tapi kami orang Jepang itu homogen. Kami menganggap satu sama lain sebagai bagian dari masyarakat, komunitas. Jadi kehormatan yang kita dapatkan sebagai kelompok adalah bagian dari kehormatan yang didapat setiap anggota,” kata Norihito, seperti dikutip dari The Associated Press, Jum’at, (31/1).

Namun, Jepang tentu saja tidaklah sempurna. Di transportasi publik yang ramai pelayanan yang baik bahkan sulit ditemui di Jepang. Belum lagi masalah orang Jepang yang kerap terburu-buru mengejar pekerjaan hingga menabrak orang lain saat berjalan kaki tanpa minta maaf.

Meski demikian, Jepang memiliki tingkat kejahatan yang rendah, yang merupakan kabar baik bagi wisatawan, tak terkecuali bagi pengemudi taksi. Tapi Tokyo di malam hari menyajikan budaya minum-minuman keras yang dapat – secara harfiah – berakhir kacau, seperti yang dialami Norihito.

“Orang-orang mabuk dan kadang-kadang mereka muntah di dalam mobil, dan kita harus membersihkan mobil,” ujar Norihito. ia mengatakan secara rutin menawarkan tas yang dirancang khusus untuk pelanggan limbung. Jika itu tidak berhasil, dan itulah yang disebutnya sebagai “kerusakan kecil,” ia dapat membersihkannya dan terus mengemudi. Jika terlalu buruk, otomatis ia tak akan melanjutkan kerjaannya. Sisanya digunakan untuk membersihkan sisa-sisa ‘kekacauan’.

Norihito mengatakan “kekacauan” terjadi beberapa kali dalam setahun dan berdasarkan kebijakan perusahaan, pengemudi diberitahu untuk tidak menagih ongkos dari para pelanggan ini. Luar biasa, bukan?

Dia melanjutkan, bukan perkara mudah untuk menghindari peminum berat. Dengan sedikit pengecualian, hukum memang mengharuskan pengemudi untuk menjemput pelanggan yang meminta memesan layanan mereka. Selain itu, tidak mungkin untuk mengabaikan pelanggan jika reservasi telah dipesan sebelumnya. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kembalilah dan bersihkan, dan hanya itu,” tambahnya.

Norihito sendiri memiliki gelar MBA dan berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Untuk pengemudi yang tidak, perusahaan memiliki tablet untuk membantu dengan bahasa dan hotline untuk keadaan darurat terjemahan.

Walaupun sebagai hanya sebagai supir, Norihito dapat memperoleh sekitar 50.000-60.000 yen – sekitar $ 450-550 – dalam shift 18 jam. Driver tetap separuh dan perusahaan mendapat separuh lainnya.

Norihito mengaku bahwa ketika dia mulai mengemudi tiga tahun lalu – dia melepaskan “pekerjaan kantor yang membosankan” sebagai analis data – dia hampir tidak tahu jalan di sekitar Tokyo, wilayah dengan populasi sekitar 35 juta.

Baca juga: Taksi Hybrid Plug-In Diluncurkan Geely di Tokyo

“Aku tidak bisa memberi tahu Shibuya dari Shinjuku,” katanya, meski telah melewati ujian yang jauh lebih tidak ketat daripada, katakanlah, ujian “Pengetahuan” London yang terkenal untuk pengemudi taksi.

“Tidak ada pekerjaan mudah di Jepang, tetapi relatif saya merasa nyaman melakukan pekerjaan ini,” katanya. “Saya suka karena saya bisa melakukannya sendiri. Tentu, ada masalah tetapi saya tidak perlu terlibat dalam politik kantor,” tutupnya.

Pengamat: Boeing 777X Janjikan Pengalaman Baru Bagi Penumpang

Pekan lalu mungkin jadi hari yang cerah buat Boeing. Hal itu dikarenakan keberhasilan maskapai tersebut dalam mengembangkan varian terbarunya dari keluarga triple seven, yakni 777X. Meskipun sempat terkendala sana sini, Boeing akhirnya membuktikan bahwa keinginannya untuk bangkit, setelah terpuruk akibat sederet insiden kecelakaan 737 MAX, lebih besar.

Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan oleh fitur terbarunya (folding wingtip), bagi sebagian pengamat, Boeing 777X memang menjanjikan pengalaman baru yang lebih menyenangkan dibanding pesawat sejenis.

Dikutip dari laman simpleflying.com, Jum’at, (31/1), dengan menawarkan kabin yang lebih luas (sekitar 5,97 meter), jendela yang 16 persen lebih besar dari kompetitor, dan desain jendela yang naik delapan persen dari pada umumnya, 777X disebut-sebut layak diperhitungkan dalam merebut hati pengunjung.

Tak hanya itu, dengan dukungan mesin baru GE9X GE Aviation, bentang sayap yang lebih luas (71.1 meter), dan dimensi yang lebih panjang (70-76 meter), juga semakin melengkapi tingkat kenyamanan dan pengalaman baru yang ditawarkan oleh interior pesawat.

Dengan desain jendela 16 persen lebih lebar, penumpang dimungkinkan untuk dapat lebih leluasa menikmati pemandangan di luar pesawat. Selain itu, desain posisinya yang sedikit lebih ke atas dari biasanya juga membuat penumpang lebih mudah melihat ke luar dan mendapatkan cahaya. Lebar kabin yang mencapai hampir enam meter juga membuat penumpang, bahkan di kelas ekonomi sekalipun, mendapatkan kenyamanan yang cukup dari segi leg room.

Hal itu kemudian dilengkapi dengan lebar tempat duduk yang hampir mencapai batas maksimal. Bila pada umumnya lebar tempat duduk 43-47 cm, 777X menawarkan tempat duduk diangka 46 persen, pada kelas ekonomi. Sangat nyaman, bukan? Kalau kelas ekonominya saja sudah nyaman, bagaiaman dengan kelas bisnisnya? Pasti lebih nyaman, bukan?

Dari kacamata bisnis atau berkaitan dengan maskapai, dimensi pesawat yang jauh lebih besar dari kompetitornya, baik dari ukuran jendela, panjang pesawat, luas kabin, dan ketinggian pesawat, membuat maskapai mempunyai banyak pilihan untuk berkreasi. Utamanya bagi para maskapai jempolan, seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, British Airways, ANA, Lufthansa, Emirates, dan Qatar Airways.

Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, 777X membuat dua tipe atau model, model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km. Boeing sendiri telah menawarkan desain pesawat dalam konfigurasi 2-3-2, dengan konfigurasi kelas bisnis pada kisaran 10-14 kursi.

Baca juga: Boeing Akui Fitur Folding Wingtip 777X Bisa Jadi Penyebab Kecelakaan

Bagi sebagian pengamat, konfigurasi 2-3-2 kemungkinan kecil akan diterapkan oleh maskapai. Sebaliknya, mereka diprediksi akan menggunakan konfigurasi 2-4-2. Dua bangku di pinggir dan empat bangku di tengah.

Sisanya, justru mereka akan lebih meminimalkan konfigurasi pada kelas bisnis sehingga servis ke para penumpang spesialnya tersebut jadi lebih variatif dan lebih menjual serta mampu membawa cita rasa yang berbeda di masing-masing maskapai. Namun demikian, sekalipun pada konfigurasi 2-4-2 pada kelas ekonomi, dimensi pesawat yang lebih luas akan memudahkan maskapai untuk tetap memberikan kenyaman pada pelanggan kelas ekonominya tersebut.

Inilah Berbagai Macam Masker, Diantaranya Bisa Menghalau Virus Corona

Perayaan Imlek atau tahun baru Cina bukan hanya meliputi kebahagiaan tetapi juga duka yang dalam bagi warga Cina. Pasalnya tak lama perayaan Imlek berlangsung, masyarakat di kota Wuhan, Cina terjangkit virus corona.

Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker

Apalagi penyebaran virus corona sudah dari manusia ke manusia, baik melalui udara atau kontak langsung dengan yang terinfeksi. Untuk itu penggunaan masker sangat dianjurkan agar meminimalisir penyebaran virus corona pada manusia. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, masker ada beberapa macam, berikut ulasannya.

1. Masker N95, N99 dan N100
Masker ini memiliki huruf dan angka sebagai penanda. Beda huruf dan angka maka beda pula fungsinya. Huruf yang berada di depan menunjukkan ketahanan masker terhadap minyak dan angka dibelakangnya menunjukkan efektivitas masker ketika menyaring udara. Masker N95 berbentuk setengah bulat, berwarna putih dan tidak mudah rusak. Masker tipe ini termasuk salah satu anti polusi paling efektif untuk melindungi diri.

Masker N95 dilengkapi dengan lapisan penyaring untuk menghalau partikel berbahaya di udara. Ukurannya pun pas menutup area hidung dan mulut sehingga terpapar polulsi semakin sedikit atau rendah. Tipe N95 sendiri mampu menyaring partikel PM2,5 sampai dengan 95 persen. Maka masker ini sering dipakai untuk mengurangi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan atau saat berinteraksi dengan orang sakit.

Apalagi semakin besar angka yang ada dibelakang huruf, maka semakin efektiflah masker tersebut menyaring zat polutan di udara. Masker N99 berarti mampu menyaring polutan lebih banyak, yakni 99 persen. Bahkan, masker N100 dapat menahan partikel PM2.5 jauh lebih banyak lagi hingga lebih dari 99,97 persen.

Nah, kalau dilihat dari tipenya, masker ini cocok digunakan untuk menghindari virus corona yang saat ini tengah menyebar luas.

2. Masker bedah
Masker ini sudah jelas tidak bisa digunakan untuk menahan virus corona. Biasanya masker bedah digunakan sehari-hari untuk menghalau sedikit debu ketika berkendara. Masker bedah terbuat dari bahan filter yang mampu menyaring partikel mikroorganisme berukuran kecil. Namun kalau Anda sering memakai masker ini sebetulnya kurang tepat. Sebab, masker bedah memiliki daya lindung yang rendah sehingga tidak dapat menghalau kimia, gas, dan uap. Debu yang bertebaran di udara juga bisa tetap terhirup jika masker tidak pas menutup area sekitar hidung dan mulut. Harga masker ini pun murah dan mudah untuk didapatkan.

Baca juga: Bombyx Mask, Masker ini Bisa untuk Penyembuhan TBC dan Relaksasi Sel Saraf

3. Masker kain
Masker kain mampu melindungi hidung dari polusi, selain bisa dicuci ulang dan pakai berkali-kali, banyak yang mengatakan menggunakannya cukup nyaman. Sayangnya, masker kain hanya berfungsi untuk mencegah debu berukuran besar. Zat polutan berukuran kecil masih bisa menembus masker dan masuk ke dalam saluran pernapasan. Terlebih jika tidak dicuci dengan benar, masker yang penuh bakteri bisa membuat tubuh gampang sakit.

Jadi, sebenarnya penggunaan masker cukup baik untuk sehari-hari sebelum tertular penyakit atau menularkan penyakit yang sedang diderita tubuh Anda.

KA Bandara Soetta Tawarkan Layanan City Check-In dan Baggage Handling Gratis!

PT Railink resmi memulai layanan City Check-In dan Baggage Handing gratis pada hari Jum’at, (31/1). Selama dalam kurun waktu tiga bulan, layanan tersebut dapat dinikmati para pelanggan KA Bandara dengan sangat mudah, loh.

Baca juga: Mulai 19 Juni 2018, KA Bandara Soetta Berangkat dari Stasiun Bekasi

Calon pengguna hanya perlu menunjukkan tiket kereta bandara yang sudah dibeli, tiket penerbangan, dan ID Card masing-masing, pada jam layanan mulai pukul 7 pagi hingga 9 malam. Setelah pengecekan selesai, koper pelanggan akan ditimbang terlebih dahulu. Bila berat koper di atas 20 kg, City Check-In dan Baggage Handing tetap akan dilakukan. Hanya saja seluruh beban biaya kelebihan muatan pada koper tersebut tetap harus diselesaikan di konter maskapai sesampainya di bandara.

Perlu dicatat, PR Railink hanya akan memberikan service pada layanan tersebut 30 menit sebelum keberangkatan kereta. Selain itu, perlu dicatat pula, City Check-In juga hanya berlaku untuk maskapai yang sudah bekerjasama dengan perusahaan patungan dari PT Kereta Api Indonesia dan PT Angkasa Pura II tersebut, dalam hal ini maskapai Garuda dan Citilink Indonesia. Tak hanya itu, manajemen KA Bandara juga hanya melayani City Check-In 3 jam sebelum keberangkatan pesawat.

Setelah proses pengecekan, baik itu City Check-In dan Baggage Handing, selesai dilakukan, kemudian sekitar 20 porter, yang dikerahkan untuk layanan ini, siap untuk melayani pelanggan dengan menghandle langsung koper yang sudah ditimbang tadi. Jadi, pelanggan cukup santai menunggu, baik di lounge yang sudah disediakan maupun di tempat-tempat lainnya. Kemudian, lima menit sebelum keberangkatan kereta, petugas akan menjemput pelanggan dan mengarahkannya ke kereta yang sudah disiapkan, tanpa perlu khawatir apalagi repot-repot membawa koper.

Sesampainya di stasiun Basoetta (Bandara Soekarno-Hatta), pelanggan KA Bandara Railink yang sudah melakukan City Check-In dan Baggage Handling disediakan transportasi shuttle bus menuju terminal keberangkatan Citilink dan Garuda Indonesia. Dalam proses tersebut, petugas porter yang didukung oleh PT Gapura Angkasa ini akan terus melayani pelanggan hingga over baggage drop di check-in counter. Tak cukup sampai di situ, sekalipun koper sudah ditangani oleh pihak maskapai, petugas porter tetap akan melayani pelanggan hingga ke boarding gate. Cukup menarik, bukan? Terlebih, layanan tersebut gratis.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Railink Mukti Jauhari mengatakan layanan gratis selama tiga bulan dengan total investasi senilai Rp 3 miliar tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menarik minat masyarakat agar beralih ke KA Bandara. Layanan tersebut kemudian juga akan diikuti dengan berbagai promo menarik lainnya. Salah satunya seperti promo harga tiket pada awal Februari mendatang.

Di samping itu, Mukti juga menegaskan, KA Bandara saat ini juga semakin menarik dengan waktu tempuh yang kian terpangkas. Bila sebelumnya KA Bandara Manggarai-Basoetta memakan waktu tempuh selama 57 menit, kini hanya membutuhkan waktu 50 menit. Kemudian, dari BNI City-Basoetta, bila sebelumnya 46 menit, kini hanya menjadi 41 menit.

Atas capaian itu, ia pun mengingatkan bahwa tak ada moda transportasi lainnya yang dapat menempuh waktu secepat itu menuju bandara, ia pun mengingat kembali cerita dari salah satu rekannya yang mengaku menempuh waktu hampir 2 jam Basoetta-BNI City.

Meskipun demikian, dengan waktu tempuh yang lebih cepat hingga layanan yang sangat memudahkan pelanggan, salah satunya dengan layanan City Check-In dan Baggage Handing, tidak serta merta membuat okupansi KA Bandara sesuai ekspektasi, yakni dikisaran 50 persen.

Baca juga: Belum Genap Satu Bulan Beroperasi, KA Bandara Soekarno-Hatta Angkut 75 Ribu Penumpang

“Saat ini (okupansi) masih berkisar 32 persen dari total kursi yang kami sediakan,” jelas Mukti.

Mukti menargetkan okupansi KA Bandara Soekarno-Hatta pada 2020 bisa mencapai 40 persen dari total kapasitas penumpang. Tentunya dengan berbagai inovasi dan peningkatan layanan, termasuk di dalamnya usaha untuk memangkas waktu tempuh hingga diangka 30 menit.

57 Persen Orang India Lebih Suka Naik Taksi Online Dibanding Taksi Konvensional

Sebanyak 57 persen orang India lebih suka naik kendaraan ride-hailing dan 74 persen lainnya lebih suka naik taksi konvensional dengan argometer. Hasil ini didapatkan setelah sebuah studi konsumen otomotif global Deloitte 2020 dengan mensurvei 35 ribu konsumen dari 20 negara.

Baca juga: Ternyata! Biaya Taksi di Jakarta Tidak Semahal di Negeri Tetangga

Bisa dikatakan hasil yang didapat tersebut jumlahnya lebih tinggi dari pada orang-orang di Cina, Amerika Serikat, Jerman dan Jepang. Bahkan hasil ini juga dipengaruhi dengan kehadiran taksi berbasis aplikasi yang mulai berkembang di India seperti Uber dan Ola.

KabarPenumpang.com melansir laman indiatimes.com (23/1/2020), dalam penelitian yang lebih lanjut terhadap studi tersebut, menunjukkan sekitar 64 persen konsumen di India lahir setelah tahun 1980-an. Mereka mempertanyakan perlunya memiliki kendaraan.

Tak hanya itu, hasil ini juga mengungkap frekuensi orang India menggunakan taksi online meningkat menjadi 32 persen pada awal tahun 2020 dan lebih tinggi dari tahun 2019 lalu yang hanya 26 persen. Namun jumlah ini pun jauh lebih sedikit dibandingkan tahun 2017 yang mencatat hasil 47 persen konsumen menggunakan taksi online.

Dari jumlah 32 persen tersebut frekuensi orang India menggunakan taksi online ternyata sebanyak satu kali dalam seminggu. Pengguna taksi online tersebut lebih banyak generasi millenial.

Menurut generasi millenial ini, kenyamanan memesan taksi melalui ponsel pintar memudahkan mereka. Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman mengatakan, bahwa peningkatan penggunaan taksi online adalah salah satu alasan di balik penurunan penjualan mobil di negara tersebut.

Tak hanya itu, seiring berkembangnya teknologi pada transportasi, hasil survei juga mendapatan bahwa 80 persen konsumen India berpikir peningkatan konektivitas pada kendaraan akan bermanfaat. Sedangkan 58 persen lainnya percaya kendaraan otonom tidak aman.

Ini karena orang India ragu terkait keselamatan kendaraan otonom dan kemampuan mobil melintas di jalanan. Persentase konsumen, yang setuju bahwa kendaraan otonom tidak akan aman untuk digunakan, diperkirakan akan meningkat sebesar 10 persen tahun ini.

Baca juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi

“Sementara tahun lalu melukai pemain otomotif dalam jangka pendek, meningkatnya penjualan mobil yang terhubung internet dan meningkatnya minat terhadap BEV (baterai listrik) menunjukkan bahwa Kecerdasan teknologi milenium India yang cerdas untuk mendapatkan nilai uang akan membuat para pemain otomotif tetap waspada. Survei konsumen kami menunjukkan bahwa konsumen India terbuka terhadap gagasan investasi untuk teknologi kendaraan canggih dan tren ini telah meningkat selama bertahun-tahun; salah satu bidang utama bagi OEM untuk fokus,” kata Rajeev Singh, Mitra dan pemimpin otomotif Doloitte India.