Pelancong Cina Tak Jadi Datang, Restoran, Hotel dan Travel Tour di New York Alami Krisis

Wisatawan asal Cina menjadi kelompok pelancong asing terbesar kedua yang mengunjungi New York dan ketiga terbesar yang mengunjungi Amerika Serikat pada 2018 lalu. Namun, karena Negeri Tirai Bambu tersebut tengah dilanda virus corona, maka negara Adidaya tersebut kehilangan begitu banyak pelancong dari Cina.

Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua

Pengurangan pelancong ini kemudian membuat penurunan permintaan kamar hotel dan restoran di New York dan tujuan wisata lainnya di seluruh dunia. Manajer sebuah hotel dekat Bandara Internasional Newark Liberty yang mengandalkan pelancong Cina memperkirakan kerugian akibat virus corona yakni lebih dari $100 ribu dan angka itu juga akan terus menarik.

“Ini akan menjadi beban keuangan yang serius. Penerbangan dibatalkan. Operator tur telah dibatalkan,” kata Elizabeth Chin, seorang agen perjalanan di Fort Lee, N.J., dan ketua Asosiasi Perdagangan Asia Pasifik cabang New York yang dikutip KabarPenumpang.com dari nytimes.com (4/2/2020).

Tak hanya itu, perusahaan yang mengatur tur bus berbahasa Mandarin di Manhattan saat ini tengah menangani 300 pembatalan dari pelancong Cina yang tidak bisa datang ke New York minggu ini. Sedangkan sebuah agen perjalanan Queens yang telah memesan perjalanan untuk 200 pelancong Cina minggu ini dan berikutnya sudah memikirkan kapan mereka harus menghentikan dua dari lima karyawannya.

“Ini masalah besar, kami harus membatalkan pemesanan hotel dan kami kehilangan banyak uang pada pemesanan. Mungkin kami harus menghentikan dua dari lima karyawan yang bekerja karena masalah ini,” ujar Bruce Zhu, manajer China Tour Travel Services di Flushing.

Sedangkan para pekerja dan pemilik restoran-restoran di Manhattan’s Chinatown mengatakan bisnis mereka turun 50-70 persen dalam sepuluh hari terakhir. Ekonomi pariwisata, yang merupakan penelitian industri perjalanan, memperkirakan penurunan 28 persen pengunjung ke Amerika Serikat dari Cina pada tahun 2020 dan pengeluaran lebih sedikit $5,8 miliar.

Perusahaan itu mendasarkan perkiraannya pada garis waktu wabah SARS pada tahun 2003 yang berlangsung sekitar empat bulan dan industri perjalanan melambung. Butuh tiga tahun lagi untuk jumlah pelancong dari Cina untuk kembali ke nomor pra-SARS.

Pekan lalu, sebelum administrasi Trump menyarankan orang Amerika untuk tidak melakukan perjalanan ke Cina, STR, sebuah perusahaan riset perjalanan, mengatakan 2020 akan menjadi “tahun non-pertumbuhan” untuk hotel di Amerika Serikat dalam pendapatan per kamar yang tersedia, indikator tolok ukur industri hotel . Prediksi itu muncul setelah sembilan tahun pertumbuhan yang relatif kuat.

“Tidak pernah ada waktu yang baik untuk sesuatu seperti virus corona. tetapi industri perhotelan AS berada dalam posisi yang lebih rentan sekarang daripada tiga atau empat tahun yang lalu,” kata Carter Wilson, wakil presiden senior konsultasi dan analitik STR.

Sean F. Hennessey, asisten profesor di New York University yang mengikuti industri perjalanan, mengatakan dampak ekonomi kemungkinan akan lebih besar daripada selama wabah SARS karena China menyumbang kurang dari 2 persen dari pengunjung asing kota itu. Pada tahun 2018, menurut angka dari NYC & Company, biro konvensi dan pengunjung kota, hanya di bawah 8 persen dari wisatawan asing yang mengunjungi New York berasal dari Cina.

“New York akan merasakannya. karena tidak hanya pelancong Cina menjadi semakin besar dari basis pengunjung, tetapi mereka adalah salah satu bagian yang paling menguntungkan dari pengunjung. dasar, tidak hanya untuk hotel tetapi untuk kota secara keseluruhan. Mereka tinggal lebih lama dan cenderung menghabiskan lebih banyak uang,” kata Hennessey, merujuk pada dampak dari virus korona.

Ternyata seluruh dunia mulai mengalami dampak penurunan tajam pelancong Cina karena pemerintah Cina telah memberlakukan larangan tur yang terorganisir. Selain itu juga banyak maskapai penerbangan telah menangguhkan penerbangan mereka baik ke dan dari Cina.

Baca juga: Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!

Diketahui, pejabat kesehatan di New York telah mengidentifikasi tiga kemungkinan kasus virus. Pada hari Selasa, hasil tes untuk satu dari tiga pasien, yang semuanya baru-baru ini ke Cina, kembali negatif. Hasil untuk dua pasien lain sedang menunggu. Para pejabat mengatakan kota itu siap untuk kemungkinan penyebaran virus, tetapi mereka memperingatkan orang-orang untuk tidak panik.

Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Jepang mengkarantina satu kapal pesiar Diamond Princess yang mengangkut 2266 tamu dengan 1045 anggota kru. Hal ini karena seorang penumpangnya terinfeksi virus corona. Tak hanya mengkarantina, kapal pesiar tersebut juga harus menghentikan perjalanannya 14 hari lebih awal dan saat ini berlabuh di lepas pantai Yokohama tak jauh dari ibukota Jepang.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Setelah pengkarantinaan tersebut, petugas medis pergi untuk memeriksa penumpang dari kamar ke kamar untuk memeriksa suhu dan kondisi mereka. Beberapa penumpang dilaporkan sakit dan di tes untuk memeriksa apakah mereka terinfeksi virus atau tidak.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan, pemeriksaan hasil tes tersebut memakan waktu empat hingga lima jam. Dari 31 orang yang dites, sepuluh diantaranya dinyatakan positif tertular virus dan pihaknya masih menunggu hasil dari lebih seratus sampel lainnya.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari cnn.com (5/2/2020), adanya hasil ini pihak kementerian dan petugas berwenang meminta penumpang dan kru tetap berada di kapal dengan waktu yang belum bisa dipastikan hingga kapan. Meski para petugas sudah bergerak cepat untuk menanggapi kasus tersebut, pihak pemerintah memperbarui kekhawatiran tentang betapa mudahnya bagi satu pasien yang tanpa sadar membawa virus dan menularkannya di dunia di mana jutaan orang bepergian dengan nyaman.

Otoritas kesehatan mengatakan, pasien tertular tidak menunjukkan gejala karena masa inkubasi virus tersebut diperkirakan sekitar 14 hari. Namun saat ini para peneliti masih bekerja untuk menentukan apakah virus corona Wuhan dapat menyebar melalui apa yang dikenal sebagai rute fecal-oral?

Dr. John Nicholls, seorang profesor klinis dalam patologi di Universitas Hong Kong memperingatkan agar tidak panik karena terlalu banyak hal yang tidak diketahui tentang virus corona dan satu individu bisa menyebarkan virus berapa luas.

“Akhir-akhir ini, Anda bisa terbang ke mana saja, jadi akan ada lebih banyak peluang bahwa kasus-kasus terisolasi saya muncul di negara lain. Pada tahap ini tidak ada bukti penyebaran luas di komunitas lain,” kata Nicholls.

Diketahui, pria yang dites positif terkena virus itu berusia 80 tahun dari Hong Kong. Pasien yang terinfeksi belum pernah ke fasilitas perawatan kesehatan atau pasar makanan laut, juga tidak pernah terpapar hewan liar selama masa inkubasinya yang berarti ia kemungkinan tertular virus dari manusia lain. Pria itu mengunjungi Cina daratan selama “beberapa jam” pada 10 Januari.

Pria itu terbang ke Tokyo pada 17 Januari dengan dua putrinya, dan dua hari kemudian mengatakan ia mulai batuk, kata pihak berwenang Hong Kong. Dia naik kapal pesiar di Yokohama pada 20 Januari, dan ketika berhenti kembali di Hong Kong pada 25 Januari, bagian dari rencana perjalanan yang telah direncanakan sebelumnya, dia turun dan tidak pernah kembali.

Dia mencari pertolongan medis pada 30 Januari dan didiagnosis dengan virus tidak lama setelah itu dan saat ini dalam kondisi stabil. Princess Cruises, yang dimiliki oleh Carnival Corporation yang bermarkas di Miami dan London, mengatakan dalam pernyataannya bahwa pria itu tidak mengunjungi pusat medis kapal.

Tidak jelas juga berapa banyak penumpang yang mungkin turun lebih awal. Kementerian kesehatan Jepang mengatakan sedang melacak orang-orang yang mungkin turun di Okinawa, pemberhentian kedua hingga terakhir pelayaran itu. Kementerian juga menyelidiki pergerakan pasien yang terinfeksi selama waktunya di Jepang tetapi harus bergantung pada pihak berwenang di Hong Kong untuk mendapatkan informasi karena pasien ada di sana.

Sekitar enam ribu penumpang di kapal pesiar di Italia dikarantina minggu lalu setelah dua tamu diduga memiliki virus corona Wuhan. Kementerian kesehatan Italia mengatakan tes mengungkapkan bahwa keduanya memiliki virus flu yang berbeda, bukan virus corona yang telah menyebar ke seluruh China.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Beberapa jalur pelayaran telah mengumumkan langkah-langkah yang bertujuan menghentikan penyebaran virus. Princess Cruises dan Carnival Cruises memiliki semua kontrol yang berlaku yang melarang tamu dari kapal jika mereka telah melakukan perjalanan dari atau melalui daratan Cina dalam 14 hari sebelum tanggal keberangkatan kapal pesiar. Royal Caribbean mengambil tindakan serupa, tetapi memperpanjang tanggal hingga 15 hari dan juga termasuk Hong Kong dan Cina daratan.

Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia

Selasa, (4/2), suratkabar bisnis internasional asal Britania Raya, Financial Times, mengabarkan Tony Fernades mundur dari jabatannya sebagai Direktur Eksekutif AirAsia selama dalam jangka dua bulan atau lebih. Mundurnya Tony Fernades secara tiba-tiba diduga sebagai respon pria kelahiran Malaysia ini atas putusan Pengadilan Tinggi Perancis yang memvonis denda kepada Airbus sebesar €3.6 miliar atau sekitar Rp54 triliun (kurs Rp 15.139) pada akhir Januari lalu.

Baca juga: Mampu Menemukan Orang-orang Hebat, Inilah Rahasia Sukses Tony Fernandes

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sekalipun Tony Fernandes belum memberikan alasan terkait pengunduran dirinya, namun, diketahui, hubungan Tony Fernandes (bersama AirAsia-nya) dengan Airbus memang bukan pertemanan biasa. Sejak membeli AirAsia dari pemerintah Malaysia dengan harga kurang dari US$1 pada 2001 dan menjadikannya sebagai salah satu maskapai terbesar dunia, Tony Fernandes memang memiliki kedekatan khusus dengan produsen pesawat asal Perancis tersebut.

Puncak dari hubungan ‘mesra’ Airbus dan Tony Fernandes mungkin bisa dilihat dari keputusan AirAsia yang menerapkan kebijakan single brand pada armadanya. Dengan kebijakan yang diterapakan pada 2012 tersebut, otomatis, AirAsia hanya mempunyai satu pesawat saja untuk mendukung operasionalnya dan pesawat tersebut adalah produk-produk Airbus, khususnya pada A320.

Meskipun kala itu AirAsia memberikan alasan yang logis, seperti terkait kecanggihan pesawat yang dinilai hemat bahan bakar hingga 15 persen, memiliki lorong yang lapang, pencahayaan baik, berteknologi canggih, memiliki kamera elektronik di kokpit, dan tingkat kebisingan rendah, namun, tetap saja, hal itu tidak menghilangkan kecurigaan investigator.

Dalam catatan Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO), sejak 2005 hingga 2014, AirAsia dan AirAsia X telah memesan 406 pesawat Airbus. SFO yang sudah memantau Airbus sejak lama, menduga, dari sejumlah pesanan tersebut, Tony mendapatkan commitment fee yang disalurkan oleh dua anak perusahaan Airbus, tidak langsung ke rekening Tony, melainkan melalui rekening salah satu unit bisnis Tony lainnya, yakni klub sepak bola asal Inggris, Queens Park Rangers F.C. (QPR).

Dikutip dari situs resminya, klub yang bermarkas di London tersebut saat ini dimiliki oleh empat orang, dengan porsi kepemilikan saham terbesar tercatat atas nama Tony Fernandes dan Kamarudin Bin Meranun –salah satu petinggi AirAsia yang juga mundur bersamaan dengan Tony Fernandes–.

Baca juga: Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau

Lewat klub tersebut, commitment fee yang diduga sebesar US$50 juta untuk Tony Fernandes diberikan dengan menggunakan skema sponsorship. Atas dugaan tersebut, AirAsia sendiri mengatakan sponsor Airbus ke QPR merupakan hal yang wajar dan proses sponsorship ini sudah melalui penilaian internal sebagaimana mestinya.

Akan tetapi, nasi telah menjadi bubur, Airbus telah terlanjur divonis bersalah oleh pengadilan. Jaksa Penuntut di Prancis, Jean-Francois Bohnert berujar bahwa Airbus telah melakukan praktik kecurangan untuk mempertahankan bisnisnya di banyak negara. Dengan begitu, Airbus dituntut membayar Rp54 triliun, dengan rincian €984 juta atau sekitar Rp14 triliun kepada otoritas Inggris, €525 juta atau Rp8 triliun untuk otoritas Amerika Serikat, dan €2,08 miliar atau Rp31 triliun untuk otoritas Perancis.

Para Ahli Kembali Temukan Titik Lokasi Pencaraian Terbaru Malaysia Airlines MH370!

Sekelompok pakar pencarian terkemuka dunia untuk Malaysia Airlines MH370 mengumumkan penetapan area baru untuk menemukan Boeing 777 yang hilang. Seperti diketahui, MH370 menghilang sejak 8 Maret 2014 dengan membawa 239 penumpang dan awak. Sejauh ini, misi pencarian pesawat yang melibatkan peralatan canggih dari seluruh dunia tersebut paling bagus hanya menemukan puing-puing yang diduga asal pesawat malang tersebut.

Baca juga: Penyidik Asal Australia Temukan Puing yang Dianggap Sebagai Serpihan Malaysia Airlines MH370!

Seperti dilansir KabarPenumpang.com dari laman airlineratings.com, Selasa, (4/2), terkait penemuan titik baru pencarian tersebut, pihak Malaysia Airlines menanggapi dingin. Mereka menyatakan bahwa pihaknya membutuhkan bukti lainnya sebelum memulai pencarian baru. Sebaliknya, perusahaan pencarian yang berbasis di AS, Ocean Infinity, justru mengatakan bahwa mereka akan mencari berdasarkan azas “no find no fee” atau kalau diterjemahkan bebas berarti “tidak ada uang tidak akan jalan”.

Terlepas dari hal tarik ulur di antara keduanya, munculnya titik pencarian baru lewat empat pakar ternama, yakni Victor Iannello, Bobby Ulich, Richard Godfrey, dan Andrew Banks tersebut, tak terlepas dari pengembangan serta penyempurnaan penelitian sebelumnya. Oleh karenanya, tak mengherankan, bila titik pencarian baru Malaysia Airlines MH370 tersebut tak jauh atau bersebelahan dari lokasi pencarian sebelumnya.

Dalam perkembangannya, keempat ahli yang menemukan titik baru pencarian tersebut kemudian merilis temuannya dalam sebuah makalah terperinci. Dengan berbagai penjelasan pada makalah yang diberi judul “Rekomendasi Pencarian untuk Puing MH370” secara tak langsung telah menggerakkan para ahli independen untuk menyatukan data-data mereka.

Salah satu bagian pada makalah tersebut berbunyi, “Pencarian terakhir untuk MH370 dilakukan oleh Ocean Infinity, yang berkonsultasi dengan para peneliti resmi serta independen dan kemudian memindai dasar laut di sepanjang busur ke-7 sejauh garis lintang utara S25 °. Sejak itu, para peneliti independen terus menganalisis data yang tersedia untuk memahami area dasar laut mana yang paling mungkin, dan mengapa upaya pencarian sebelumnya tidak berhasil.”

Info grafis laporan penemuan titik pencarian terbaru. Foto: Istimewa

Kemudian, dijelaskan pula bahwa dalam makalah sebelumnya, makalah menyajikan ikhtisar penelitian Bobby Ulich, yang bertujuan lebih tepatnya menemukan titik dampak atau point of impact (POI) menggunakan kriteria statistik yang mengharuskan variabel acak (seperti kesalahan pembacaan data satelit) tidak berkorelasi, semuanya benar-benar acak. Makalah selanjutnya menjelaskan karya Richard Godfrey untuk secara analitik mengevaluasi sejumlah besar jalur penerbangan kandidat menggunakan kriteria ini dan lainnya.

Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa jam-jam terakhir penerbangan berada di selatan di Samudera Hindia sepanjang E93.7875 ° bujur, yang cocok dengan lingkaran besar antara titik jalan BEDAX (sekitar 100 NM barat dari Banda Aceh, Sumatra) dan kutub selatan. POI diperkirakan terletak dekat dengan busur ke-7 di sekitar garis lintang S34.4 °. Jaraknya sekitar 1800 km di sebelah barat Dunsborough, Australia Barat.”

Selanjutnya, mereka juga melaporkan bahwa saat ini penelitian masih terus berjalan, mengevaluasi kadidat jalur menggunakan model terintegrasi yang akurat yang mencakup data satelit, data radar, dinamika penerbangan, navigasi otomatis, kondisi meteorologi, konsumsi bahan bakar, manuver pesawat, dan hasil pencarian udara. Dalam keterangan lanjutan, penelitian dilaporkan sudah hampir selesai. Sementara dokumentasi dan rilis terbarunya akan segera diumumkan.

Baca juga: Hipotesa Baru Misteri MH370: Kopilot Sempat Ambil Kendali Penuh dan Arahkan Pesawat Kembali ke Malaysia

Seperti pada penelitian sebelumnya, penelitian yang kini sedang berjalan juga menunjukkan bahwa lintasan terakhir MH370 kemungkinan besar di sepanjang jalur selatan atau sepanjang E93.7875 ° bujur. Bedanya, pada penelitian ini terdapat tiga kasus yang masih diamati lebih jauh, masing-masing dengan area pencarian yang saling berkaitan.

Area pencarian prioritas tertinggi terapat di 6.719 NM2 (23.050 km2) mengasumsikan tidak ada input pilot setelah kehabisan bahan bakar. Area pencarian prioritas tertinggi berikutnya mencakup 6.300 NM2 (22.000 km2), dan mengasumsikan ada luncuran ke arah selatan setelah kehabisan bahan bakar. Prioritas terendah adalah luncuran terkendali ke arah yang sewenang-wenang dengan luas sekitar 48.400 NM2 (166.000 km2).

Lokasi pencarian baru yang masih dalam terus didalami. Foto: Istimewa

Menyusup di Aplikasi RadickRadio, Aplikasi Ride Hailing Asal Iran Dihapus dari App Store!

Apple mengambil langkah keras menegakkan sanksi, memblokir seluruh negara yang mengakses App Store pada tahun 2018, setelah melarang semua aplikasi dari pengembang Iran tahun 2017 lalu. Hal ini dilakukan untuk memenuhi sanksi Amerika Serikat. Salah satu aplikasi yang dihapus oleh Apple adalah Snapp.

Baca juga: Ingatkan untuk Perbaiki Hijab Penumpang, Aplikasi Ride-Hailing Iran Malah Diboikot!

Snapp merupakan layanan berbagi perjalanan yang populer di Iran. Namun ternyata setelah dihapus, pengembang kemudian memasukkannya lagi ke App Store dan menyembunyikannya ke dalam dalam aplikasi musik bernama RadickRadio.

KabarPenumpang.com melansir dari laman theguardian.com, (30/1/2020), kebohongan aplikasi RadickRadio tersebut ditemukan minggu-minggu ini. Di mana nyatanya ketika di buka oleh pengguna Amerika Serikat, aplikasi ini berfungsi sebagai layanan musik.

Tetapi ketika aplikasi tersebut dibuka dengan menggunakan VPN alamat IP Iran, maka yang akan keluar sebenarnya adalah aplikasi Snapp yang merupakan aplikasi ride-hailing seperti Uber. Ketika kebohongan tersebut terbongkar, Apple langsung menghapus RadcikRadio dari App Store.

Aplikasi RadickRadio di App Store (theguardian.com)

 

Apple mengambil tindakan tegas dengan membuat aplikasi tersebut untuk di hapus. Sehingga pengguna tak lagi bisa menginstal maupun memperbaharui aplikasi RadickRadio.

Tak hanya itu, meski sudah dihapus dari layanan App Store, perusahaan tidak menghapus aplikasi yang sudah diunduh pengguna pada ponsel mereka. Sehingga warga Iran yang sudah berhasil mengunduh RadickRadio sebelum dihapus dari App Store, masih memiliki akses ke perusahaan tersebut.

Sebelumnya, ternyata media teknologi Iran secara terbuka sudah membahas peluncuran kembali Snapp. Situs click.ir menuliskan bahwa aplikasi Snapp kembali ke iOS dengan nama baru.

“Pengguna yang akan mengunduh aplikasi Snapp di iOS hanya perlu mencari aplikasi RadickRadio di App Store dan Anda akan langsung mendapat akses ke Snapp,” tulis media tersebut.

Baca juga: Sejumlah Bandara Mulai Uji Coba Face Recognition, Seberapa Amankah Pengaplikasiannya?

Penghapusan aplikasi ini akan terjadi dalam hal apapun. Tetapi ketegangan Amerika Serikat dengan Iran yang ekstrem setelah pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, itu mungkin masalah yang lebih mendesak. Diketahui, RadickRadio pertama kali muncul di App Store pada awal Juli menawarkan berbagai stasiun radio yang memainkan genre termasuk musik rock klasik, folk, dan pop. Ribuan ulasan aplikasi menambah kesan bahwa itu adalah pemutar musik sederhana, dan bagi siapa pun di luar Iran yang tampaknya seperti itu.

Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Setelah sebulan lebih menebar ancaman, virus corona masih juga tak terbendung. Belum lama ini, korban tewas tercatat sudah mencapai 300-an orang dan 11.791 lainnya diduga telah terjangkit virus corona jenis baru tersebut.

Baca juga: Inilah Berbagai Macam Masker, Diantaranya Bisa Menghalau Virus Corona

Virus yang pertama kali muncul di Wuhan ini hingga kini setidaknya telah menyebar ke 12 negara, yang pada akhirnya mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengumumkan darurat kesehatan global. Di samping itu, para peneliti dari Universitas Hong Kong memperkirakan lebih dari 75.000 orang di Wuhan, kota yang berpenduduk 11 juta jiwa, dapat terinfeksi.

Dunia pun dibuat khawatir atas sebaran virus yang semakin meluas tersebut. Dimana-mana masyarakat terstigmatisasi untuk menangkal berbagai virus, tak terkecuali virus corona, dengan menggunakan masker bedah.

Bahkan, baru-baru ini, viral di media sosial, video yang menunjukkan otoritas Cina mengingatkan warganya yang keluar rumah tanpa menggunakan masker. Padahal, menggunakan masker bukanlah cara yang direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk mencegah infeksi pada orang yang sehat.

“Tidak ada banyak data untuk mendukung klaim ada manfaat menggunakan masker di tempat umum,” kata Dr. Jonathan Grein, dokter penyakit menular profesional dan Direktur Rumah Sakit Epidemiologi di Pusat Medis Cedars-Sinai di Los Angeles, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman abcnews.go.com, Selasa, (4/2).

Masker digunakan, lanjutnya, oleh dokter dan perawat ketika berhadapan langsung dengan orang sakit. Selain itu, mereka (dokter dan perawat) karena dua alasan utama, yakni untuk menstimulus sekresi individu yang memiliki infeksi pernapasan dan untuk melindungi petugas kesehatan yang memberikan perawatan langsung kepada pasien.

Senada dengan dokter dari Los Angeles tadi, Dr. Henry Wu, asisten profesor penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Emory dan mantan ahli epidemiologi medis di CDC menyebut, jika seseorang menderita pilek, flu atau infeksi pernafasan virus lainnya, memakai masker sederhana akan mengurangi risiko orang tersebut (orang sakit) menyebarkan infeksi. Bukan malah mencegah orang sehat terhindar dari penyakit.

Pernyataan Wu kemudian didukung oleh Dr William Schaffner, profesor kedokteran pencegahan dan penyakit menular di Vanderbilt School of Medicine dan direktur medis Yayasan Nasional Penyakit Medis. Menurutnya, masker bedah sangat tipis dan hampir mustahil dapat mencegah penggunanya selamat dari infeksi pernapasan.

Di samping itu, masker N95 yang dinilai mampu menangkal virus corona, penggunannya tidak sembarang. Mereka yang ingin memakai masker jenis tersebut, selain harganya selangit, juga terlebih dahulu harus dibekali dengan pelatihan khusus. Pasalnya, pengguna masker tersebut memang tidak mudah untuk bernapas. Bila tidak dibekali pengetahuan yang cukup, bukan tak mungkin, pengguna masker jenis ini justru malah mendapat petaka akibat kesulitan bernapas.

Masker N99

Bahkan, bagi sebagian ahli lainnya, masker justru dinilai dapat menjadi sumber infeksi yang sebenarnya. Hal itu bisa saja terjadi bila pengguna tidak menjaga masker tersebut dari berbagai hal yang bisa membuat masker itu terkontaminasi.

Sebagai gantinya, para ahli menawarkan solusi yang sebetulnya mudah untuk dilakukan. Menurut mereka, sebaiknya seseorang yang merasa kurang enak badan agar menghindari bepergian. Selain itu, jika bersin atau batuk, tutuplah lengan baju dan bukan tangan. Setelah itu, selalu biasakan cuci tangan sesering mungkin. Tak berhenti sampai di situ, seseorang yang memiliki masalah kesehatan diimbau agar sesegera mungkin mendapatkan penanganan medis, seperti mendapat suntikan flu, dan lainnya.

Supaya lebih jelas, berikut rekomendasikan CDC untuk dipahami dan diikuti sebagai pedoman penangan kesehatan dan pencegahan selama virus corona merebak, meliputi:

– Hindari kontak dengan orang sakit.
– Hindari hewan (hidup atau mati), pasar hewan, dan produk yang berasal dari hewan (seperti daging mentah).
– Cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik. Gunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol jika sabun dan air tidak tersedia.
– Wisatawan yang lebih tua dan mereka yang memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya mungkin berisiko terhadap penyakit yang lebih parah dan harus mengkonsultasikan perjalanan ke Wuhan dan wilayah lainnya di Cina dengan penyedia layanan kesehatan setempat.
– Tenaga medis di rumah sakit yang merawat pasien sakit harus menggunakan tindakan pencegahan kontak dan memakai respirator potongan wajah sekali pakai atau N95.

Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Jika ada negara di dunia yang sedang ditimpa kemalangan maha dahsyat, maka untuk saat ini semua mata tertuju kepada Republik Rakyat Cina (RRC). Disamping jumlah korban yang terus berjatuhan akibat virus corona, dampak ekonomi dan wisata juga bakal menerjang, lantaran hampir sebagian besar maskapai komersial global menghentikan penerbangan dari dan ke Cina.

Namun, dikenal sebagai bangsa tangguh dalam inovasi teknologi, tak membuat Cina patah arang menghadapi wawah virus corona. Karena adanya virus corona kemudian perusahaan pemetaan data QuantUrban dan WeChat berkolaborasi menciptakan aplikasi mobile yang bisa mengambil informasi resmi di lingkungan tempat kasus terinfeksi virus yang penyebaran lewat media udara.

Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua

Kemudian nantinya akan dipetakan secara geografis sehingga pengguna bisa mengukur seberapa dekat dengan lokasi terinfeksi virus. KabarPenumpang.com melansir laman itnews.co.au (4/2/2020), dengan adanya platform ini, diharapkan masyarakat Cina yang tinggal di daerah terjangkit bisa melacak dan mempersiapkan diri dengan potensi bahaya yang dihadapi.

Program milik WeChat yang disebut Yikuang atau Situasi Epidemi bisa mencakup kota-kota selatan Shenzhen dan Guangzhou. Sedangkan peta berbasis peramban QuantUrban juga mencakup sembilan kota lain di provinsi tersebut.

“Shenzhen mungkin memiliki wabah besar dalam beberapa hari ke depan, dan data pemerintah keluar perlahan. Melihat peta mengacu pada kenyamanan psikologis. Anda tidak dapat menjamin tidak akan ada kasus baru, tetapi Anda dapat menghindari area yang sudah terkena,” kata April seorang manajer yang berbasis di Shenzhen.

Pernyataan April tersebut karena kasus yang di konfirmasi di Shenzhen telah naik dengan cepat, yakni 245 kasus pada hari Senin (3/2/2020) kemarin. Ini membuat kota teknologi tersebut yang paling parah terkena dampak dari kota-kota utama di Cina, seperti Beijing.

Apalagi kota teknologi tersebut memiliki populasi terbesar pekerja migran dari provinsi-provinsi tengah yang sangat terpengaruh.

“Kami ingin membubuhi keterangan informasi di peta sehingga publik dapat melihat dengan lebih baik bagaimana situs epidemi didistribusikan secara lebih intuitif, dan juga mengingatkan semua orang untuk membuat perlindungan yang memadai,” kata Yuan Xiaohui, co-founder dan CEO QuantUrban.

Dia menambahkan ada relawan yang membantu tim agar peta selalu diperbaharui karena pemerintah mengeluarkan data setiap hari. Yikuang juga mengandalkan sukarelawan untuk melakukan up to date dan awalnya menunjukkan lingkungan dengan kasus yang dikonfirmasi dengan logo tengkorak dan tulang bersilang. Sejak itu berubah menjadi tanda seru yang kurang mengkhawatirkan setelah pengguna di platform media sosial Weibo mengeluh mereka akan menyebabkan kepanikan.

“Jika saya tahu ada orang sakit di sekitarnya, saya bisa mengambil langkah untuk ekstra hati-hati. Aku tinggal di antara Shenzhen dan Guangzhou, dan peta-peta ini sangat bagus di sana,” kata seorang mahasiswa bernama Steven.

Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

Yuan mengatakan, QuantUrban juga mencakup sembilan kota lain di provinsi Guangdong. Media milik pemerintah CCTV dan People’s Daily juga telah memberikan dukungan untuk program terpisah yang membantu pengguna melacak apakah bus, kereta api atau pesawat terbang yang mereka lalui juga digunakan oleh pasien terinfeksi yang telah dikonfirmasi.

Mau Diboyong Ke Jerman, Inilah “Frogs” Drone Taksi Asli Kota Gudeg

Frogs merupakan prototipe drone taksi terbang besutan anak bangsa yang lahir dari pengembangan desain drone quadcopter. Hasil riset selama dua tahun dan menghabiskan dana sebesar Rp1 miliar tersebut merupakan satu dari antara beberapa produk teknologi 4.0.

Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Bahkan prototipe drone taksi ini akan dibawa dari Yogyakarta ke pameran teknologi di Jerman. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Jefry Pratama, Venture and Investment Partners di UGM Medialab Indonesia menjelaskan, purwarupa drone penumpang tersebut sudah selesai seluruhnya.

Kabin untuk penumpang, motor, baling-baling dan baterai sebagai sumber tenaga sudah lengkap. Dia mengatakan hanya akan ada sedikit revisi pada interior, yakni posisi kursi dan pegangan untuk penumpang sebelum dipamerkan di Hannover Messe pada 20-24 April 2020 mendatang.

Jefry mengatakan, Frogs memiliki struktur yang dibangun menggunakan bahan karbon fiber kuat dan ringan dengan desain kokoh yang memiliki nilai margin of safety tinggi. Tak hanya fitur dalam sistem pun dipersiapkan dengan beberapa simulasi kegagalan seperti ketika satu motor mati maka yang lain akan menggantikannya.

Menurut Jefry, hal ini agar wahana masih bisa beroperasi dengan baik saat mengudara. Dia mengatakan, proses uji coba drone taksi tersebut diklaim sudah dilakukan terhadap setiap komponen hingga semuanya memenuhi syarat.

Adapun contohnya adalah melakukan pengujian terhadap rangkaian motor dan propeller atau baling-baling untuk mendapatkan gaya dorong yang diharapkan. Kemudian dibuat sebuah kerangka besi dengan dimensi yang sama seperti frame asli.

Lalu dilakukan uji terbang sampai stabil dan semua motor tersinkronisasi dengan baik. Jefry menambahkan, kemudian sistem yang telah stabil tersebut akan ditransmisikan ke frame karbon yang asli.

“Untuk tahap pengujian awal dilakukan penerbangan lower frame, tanpa body atas (kabin), sampai semua aspek terpenuhi maka akan dilakukan uji terbang dengan semua komponen lengkap,” katanya.

Frogs didesain lebih untuk memenuhi kebutuhan transportasi di wilayah kepulauan di Indonesia. Membidik pangsa pasar jasa taksi udara, drone ini juga bisa dimanfaatkan untuk memuat kargo, kebutuhan militer, serta kepentingan darurat maupun pertolongan pertama di daerah bencana yang sulit diakses.

“Untuk komersialisasinya tentu kami berharap secepatnya wahana ini bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Kami juga masih tergantung dengan regulasi, khusus untuk mengatur operasi teknologi ini karena sampai saat ini peraturan tentang pesawat listrik berpenumpang setahu kami belum ada di Indonesia,” kata Jefry.

Baca juga: Bukan Sekedar Isapan Jempol, Dubai Mulai Uji Coba Taksi Drone

Diketahui, Frogs, pionir drone berawak di Indonesia, memimpin barisan produk teknologi yang akan mewakili Indonesia di pameran tersebut tahun ini. Drone taksi ini mampu mengangkut dua penumpang dan terbang sejauh 100 km hanya dengan satu kali pengisian daya listrik. Drone ini lahir di sebuah bengkel di Yogyakarta yang kemudian dikembangkan dalam ekosistem UMG Idealab.

Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua

Otoritas Cina sedang melakukan pengintaian virus corona ke tingkat baru yang lebih ketat. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak. Berbagai upaya pun dilakukan sebagai bagian dari langkah-langkah pencegahan, tak terkecuali dengan melibatkan teknologi terkini. Belum lama ini, jagat  media sosial Twitter diramaikan dengan video sebuah nenek dan kakek tua yang tertangkap kamera tengah beraktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker.

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Seperti diberitakan KabarPenumpang.com dari nypost.com, Selasa, (4/2), kamera yang berasal dari drone milik otoritas Cina tersebut memang tengah berpatroli rutin, bahkan dengan intensitas yang berlebih saat virus corona merebak. Di tengah perjalanan, drone kemudian menemukan nenek tua di sebuah perkampungan di Mongolia Dalam, Cina.

Tanpa basa basi, drone yang tersambung dengan pihak berwenang Cina, langsung mengingatkan nenek tua tersebut, melalui sistem pengeras suara pada drone tersebut, agar tidak beraktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker. Seketika, nenek tua, yang tampak lebih seperti orang ketakutan, kemudian berbalik arah dan berjalan agak cepat untuk menghindari seruan drone tadi.

“Ya, bibi, ini adalah drone yang berbicara kepadamu. Anda tidak boleh berjalan tanpa mengenakan masker. Ya, sebaiknya kamu pulang ke rumah dan jangan lupa cuci tangan,” ujar sebuah suara yang berasal dari drone tersebut.

“Kamu tahu, kita sudah menyuruh orang untuk tinggal di rumah, tetapi kamu masih berkeliaran di luar. Sekarang sebuah drone memperhatikanmu,” lanjutnya.

Dalam video yang berdurasi 1.44 menit tersebut, seperti dilihat KabarPenumpang.com dari laman Twitter Global Times, selain memperlihatkan teguran kepada nenek tua, di tempat terpisah yang masih di wilayah Mongolia Dalam, drone juga tampak menegur seorang kakek tua yang tengah asik beraktivitas di tengah salju.

Menariknya, bukan menuruti seruan drone tersebut, kakek tua ini malah terus asik beraktivitas. Tak lama, justru kakek tua tersebut malah tersenyum dan membuat seseorang yang berada di balik drone tersebut geram. “Jangan tertawa, sekarang cepat kembalilah ke rumah,” tegasnya.

Bila di sebuah perkampungan yang tampaknya jauh dari pusat kota, serta berjarak 1609 kilometer dari Wuhan saja otoritas Cina tak ‘kecolongan’ dalam mengawasi warganya, apalagi di tengah kota. Dalam tayangan video yang diunggah kantor berita harian Cina yang berhaluan kiri tersebut juga memperlihatkan beberapa momen dimana drone juga ‘memarahi’ warga yang tidak mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Sebagaimana yang telah ramai diberitakan, hingga kini, 259 orang telah dinyatakan meninggal dan 11.791 diduga telah terjangkit virus corona jenis baru tersebut. Virus yang pertama kali muncul di Wuhan ini setidaknya telah menyebar ke 12 negara, yang pada akhirnya mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengumumkan darurat kesehatan global. Di samping itu, para peneliti dari Universitas Hong Kong memperkirakan lebih dari 75.000 orang di Wuhan, kota yang berpenduduk 11 juta jiwa, dapat terinfeksi.

Otoritas Cina sendiri sudah sejak lama telah menggunakan drone canggih untuk mengawasi warga sejak 2016, terutama di daerah Cina Barat di mana ribuan Muslim Uighur dipenjara. Drone juga digunakan untuk menegakkan hukum lalu lintas dan berbagai membantu tugas-tugas kepolisian lainnya.

Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

Wabah virus corona telah menyebabkan maskapai penerbangan di seluruh dunia menangguhkan layanan mereka ke Cina selama beberapa bulan ke depan. Di tengah pembatalan ini, bila maskapai tidak memaksimalkan penerbangan ke tujuan-tujuan favorit lainnya, hampir dapat dipastikan akan ada beberapa armada milik maskapai terdampak yang ‘menepi’.

Baca juga: Duh! Ternyata Boeing Pernah ‘Palsukan’ Dokumen Pembelian Varian 787 Dreamliner Air Canada

‘Menepinya’ armada milik maskapai-maskapai di seluruh dunia tentu saja menjadi petaka bagi industri penerbangan. Namun, tidak demikian untuk Boeing dan Rolls-Royce. Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Selasa, (4/2), Boeing 787 dengan mesin Rolls-Royce Trent 1000 memang diberitakan memiliki masalah pada mesin, terutama bagian bilah kipasnya.

Sebelum adanya virus corona, permasalahan teknis tersebut memang telah memaksa beberapa maskapai putar otak untuk menyeimbangkan antara kebutuhan reparasi pesawat 787 (Roll-Royce Trent 1000) dengan kebutuhan operasional pesawat. Pasalnya, bukan perkara mudah untuk ‘memarkirkan’ pesawat dalam waktu yang hampir bersamaan serta dalam jumlah yang banyak. Bila itu terjadi, tentu maskapai sangat kesulitan memaksimalkan operasionalnya.

Tampak mesin pesawat Virgin Atlantic tengah direparasi. Foto: Tom Boon – Simple Flying

Rolls-Royce sendiri, melalui salah satu petingginya, Chris Cholerton, sudah menyatakan permohonan maaf atas berbagai gangguan yang dialami para maskapai. Mereka berjanji akan segera melalukan tindakan efektif untuk meminimalisir kerugian yang dialami pelanggannya.

Akan tetapi, sepertinya permohonan maaf itu akan sangat sejalan dengan ‘berkah’ yang ditimbulkan akibat virus corona. Pasalnya, tanpa harus menggangu operasional maskapai, mereka tetap bisa mereparasi atau mengganti mesin Roll-Royce Trent 1000 dengan yang baru. Saat ini, terdapat beberapa maskapai yang mengoperasikan 787 dan telah mengkonfirmasi penundaan penerbangannya dari dan ke Cina.

Baca juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner

Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.

Dari banyak maskapai di atas, beberapa dari mereka memang sudah memutuskan untuk mereparasi armada 787-nya serta menindaklanjuti petunjuk Otoritas keamanan penerbangan Uni Eropa atau European Union Aviation Safety Agency (EASA) baru-baru ini. Yang lainnya, masih akan terus berusaha untuk memaksimalkan rute gemuk lainnya atau memarkirkan armadanya di homebase mereka.