Hadirkan Empat Fitur Baru, GoFood Mudahkan Pelanggan

Empat fitur baru saja dihadirkan GoJek pada layanan pesan-antar makanannya yakni GoFood. Fitur-fitur tersebut yakni GoFood Pickup, GoFood Turbo, GoFood Plus dan kolaborasi bersama Google Assistant dan mampu menjawab kebutuhan pelanggan.

Baca juga: GoFood dan GoPay Kini Jadi Andalan GoJek Selain “Ride Hailing”

“Awal tahun ini, kami meluncurkan empat fitur sekaligus yang menjadi standar bari di industri layanan pesan-antar makanan salah satunya adalah GoFood Pickup,” kata Chief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, dengan kehadiran fitur terbaru ini, pelanggan bisa memesan makanan di restoran tanpa antre dengan memesan lewat aplikasi. Kemudian makanan tersebut bisa langsung diambil oleh pengemudi.

“Biasanya ada pelanggan yang tak mau menunggu lama sampai makanan datang. Untuk itu, dengan fitur Pickup maka makanan bisa langsung diproses restoran, kemudian tinggal datang ambil tanpa antre,” kata Catherine.

Sedangkan fitur GoFood Turbo dikatakan Catherine adalah jaminan makanan yang akan diterima pelanggan dalam waktu dekat. Tak hanya itu pelanggan juga bisa memesan berbagai jenis makanan dalam satu pesanan.

Dia menjelaskan fitur GoFood Turbo sendiri saat ini masih terbatas hanya pada beberapa restoran dan merchant di GoFood Festival.

“Ke depan nanti Pickup dan Turbo nantinya akan mencakup lebih banyak mitra kami,” tambah Catherine.

Sedangkan fitur GoFood Plus adalah paket berlangganan potongan harga langsung agar pelanggan bisa bebas menikmati beragam kuliner dengan harga terjangkau. GoFood juga berkolaborasi dengan Google agar memudahkan pelanggan memesan makanan dan memeriksa stasus pesanan hanya dengan mengucapkan perintah ke layanan bantu Google Assistant.

Menikmati GoFood Pickup, pelanggan bisa memilih opsi delivery atau pickup setelah memesan menu yang diinginkan di GoFood. Sedangkan GoFood Turbo dan GoFood Plus, pelanggan hanya memilih layanan GoFood yang ada di aplikasi GoJek dan memilih shuffle card untuk masing-masing fitur yang ingin digunakan serta merasakan kenikmatan berkuliner dengan supercepat dan hemat.

 Baca juga: GoJek Beri Kemudahan, Pengguna Bisa Proteksi Saldo GoPay dengan Berbagai Cara

Tiga fitur tersebut telah hadir untuk pengguna di Jabodetabek dan akan ada lebih banyak penjual yang terlibat untuk memberikan lebih banyak pilihan menu nikmat bagi pelanggan setia GoFood. Sebelumnya, GoFood telah mengembangkan sejumlah fitur, seperti Fitur Ganti Lokasi yang memungkinkan masyarakat memesan kuliner dari lokasi yang berbeda untuk orang lain.

Ada pula Cloud Kitchen untuk mendekatkan pelanggan dengan penjual favorit, serta inisiatif #GoGreener yang mendorong pelanggan menjalani konsumsi ramah lingkungan dengan pilihan alat makan berbayar.

Ini Dia! Beberapa Alat Favorit Pembongkar Koper Penumpang di Bandara

Dari beragam pemberitaan, disebut bila pencuri motor kerap menggunakan kunci  ‘T’ sebagai alat utama untuk membawa kabur motor korban. Lalu dengan maraknya kabar pencurian isi bagasi koper penumpang yang terjadi di beberapa bandara, jenis alat apa yang umumnya digunakan oleh para oknum tersebut?

Baca juga: Cepat Temukan dan Cegah Pencurian Bagasi, Universitas di India Hadirkan Solusi di Ban Berjalan

Dirangkum dari beberapa sumber, disebut pelaku pencurian isi koper dalam bagasi ternyata menggunakan alat pemotong kotak, obeng, cutter, semacam celurit tapi bentuknya kecil dan beberapa alat lainnya. Alat-alat ini biasa digunakan oknum petugas bandara untuk membuka tas dan mengambil barang-barang milik penumpang.

alat-alat yang digunakan untuk membuka tas penumpang di bandara

Bahkan sebuah carabiner standar untuk pengait tenda ketika berkemah pun bisa digunakan untuk membuka tas. Hal ini kemudian carabiner pun dilarang untuk digunakan. Tak hanya itu, peraturan bandara menetapkan bahwa hanya karyawan teknik dan pemeliharaan yang berwenang memiliki alat-alat seperti tersebut di sisi udara.

Ternyata, alat-alat ini banyak digunakan oleh petugas bandara di Afrika Selatan. Hal tersebut kemudian membuat pihak bandara melakukan operasi keamanan secara besar-besaran salah satunya di Bandara Internasional OR Tambo, Afrika Selatan.

Bahkan pada musim liburan ada 33 penangkapan dn penyitaan alat-alat terlarang tersebut yang dipegang oleh petugas bandara untuk membuka tas. Samukelo Khambule, juru bicara bandara mengatakan, dari 6 Januari 2020, sebanyak 907 orang dan 101 kendaraan pengangkutan di landasan dihentikan dan digeledah. Hingga kini bila ditotal sebanyak 4400 orang dan 661 kendaraan dihentikan dan digeledah saat musim puncak dimulai.

“Carabiner dilarang dari sisi udara dan tidak dapat digunakan sebagai gantungan kunci atau untuk menjepit item ke ikat pinggang. Karyawan yang ditemukan dengan barang terlarang memiliki izin keamanan udara mereka dicabut terlepas dari apakah mereka terkait langsung dengan kegiatan kriminal. Orang-orang ini tidak bisa lagi bekerja di udara, tetapi status pekerjaan mereka adalah masalah bagi kontraktor atau penyedia layanan yang bersangkutan,” kata Khambule.

Dilansir KabarPenumpang.com dari businesstech.co.za (9/1/2020), pada tanggal 31 Desember seorang karyawan dari sebuah perusahaan penanganan darat ditemukan dengan kamera baru yang disembunyikan di pakaiannya selama pencarian di salah satu gerbang pintu keluar bandara untuk para karyawan dan penyedia layanan. Petugas tersebut kemudian dibawa ke stasiun SAPS bandara dan ditangkap.

Pada hari yang sama, seorang karyawan dari perusahaan penanganan darat yang berbeda ditemukan mengenakan dua pasang celana panjang yang berisi enam ponsel. Seorang karyawan dari sebuah perusahaan penanganan darat ditangkap pada 6 Januari setelah ditemukan memiliki parfum selama operasi stop-and-search. Padahal botol atau wadah parfum tidak diizinkan di udara.

Baca juga: Petugas Keamanan Bandara di Bangkok Curi Uang Penumpang, Diamankan Malah Tertawa

Karyawan digeledah sebelum dan setelah mereka mulai bekerja di atau di sekitar pesawat terbang tertentu, pencarian di atas dan di titik kontrol akses adalah tempat yang berpotensi menjadi bagian dari operasi stop-and-search. Lebih lanjut, semua karyawan yang bekerja pada penerbangan yang dipilih secara acak dapat dikenakan pengujian integritas.

Air Austral Sulap Airbus A380 dengan Konfigurasi Total Kelas Ekonomi

Airbus A380 lumrahnya dijadikan sebagai pesawat dengan konfigurasi multiple class atau varian kelas yang beragam, mulai dari kelas satu, kelas bisnis dan kelas ekonomi.  Namun, baru-baru ini, Air Austral berencana akan memesan dua pesawat penumpang terbesar itu untuk dijadikan seluruhnya dalam konfigurasi kelas ekonomi.

Baca juga: Ingin Airbus A380 Kembali Diproduksi? Kondisi Inilah yang Mutlak Diperlukan

Dikutip dari laman simpleflying.com, Kamis, (16/1) selain menyulap A380 menjadi kelas ekonomi, maskapai penerbangan asal Perancis tersebut juga akan memaksimalkan kapasitas penumpang yang dapat ditampung pesawat. Menurut pihak Airbus, A380 maksimal dapat mengangkut sebanyak 868 penumpang dalam sekali jalan. Dari jumlah tersebut, tak tanggung-tanggung, Air Austral akan menyediakan hampir 93 persennya, yakni 840 kursi penumpang.

Meskipun hingga kini, maskapai yang bermarkas di Bandar Udara Roland Garros di Sainte-Marie, Réunion, Perancis, tersebut tak pernah membicarakan kembali tentang pesawat kedua A380 untuk konfigurasi full kelas ekonomi, namun, hal itu diduga hanya masalah waktu saja. Sebagian pihak menilai, bukan tak mungkin maskapai tersebut secara mengejutkan akan melanjutkan pembahasan untuk pesawat A380 keduanya.

Tersiarnya kabar tersebut (dijadikannya A380 dalam konfigurasi full kelas ekonomi) memang tak mengherankan. Selain karena Airbus telah mengumumkan pemberhentian produksi A380 pada 2021, faktor eksternal seperti persaingan yang semakin kompetitif sehingga membuat load factor rendah, populasi yang stagnan, hingga harga bahan bakar yang cenderung tinggi juga diduga menjadi pemicunya.

Dengan mengubah model bisnis menjadi full kelas ekonomi, tingkat keterisian penumpang diharapkan dapat meningkat. Khususnya pada rute-rute favorit yang akan sangat menguntungkan bila memuat jumlah penumpang yang lebih banyak dalam sekali keberangkatan.

Baca juga: Lebih Elegan dan Nyaman, Qantas Rombak Interior Airbus A380 Besar-Besaran

Namun, jika dilihat dari kebanyakan maskapai yang mengoperasikan Airbus A380, tentu kabar tersebut sangatlah mengejutkan. Saat ini, di seluruh dunia, ada sekitar 14 maskapai yang mengoperasikan pesawat Airbus A380. Seperti Qantas, Air France, Etihad, Emirates, Korean Air, Singapore Airlines, hingga All Nippon Airway. Pada umumnya, mereka menyulap A380 dengan konfigurasi multiple class. Bedanya, hanya di kapasitas saja.

Sebagai contoh, Qantas, maskapai asal Negeri Kanguru, menyediakan formasi 14 kursi kelas satu pada A380. Sisanya, terbagi ke dalam kelas bisnis, premium, dan ekonomi . Sedangkan maskapai lain, umumnya menyediakan slot kelas satu kurang dari 12 kursi. Selebihnya, sama dengan Qantas, dibagi ke dalam kelas bisnis, premium, dan ekonomi. Bedanya hanya terletak pada inovasi yang ditawarkan untuk memanjakan para penumpang istimewa mereka. Mulai dari menyediakan konsep fitur dalam pesawat, kamar mandi khusus, galeri seni elektronik, hingga menciptakan semacam ruang pribadi.

Co-Driver (Masinis) Wanita untuk Kereta Cepat di Cina Mulai Bertugas

Festival Musim Semi tahunan di Cina yang dimulai pada Jumat (10/1/2020) kemarin, ketika ke stasiun penumpang akan bertemu dengan gadis-gadis muda yang mengenakan seragam biru tua. Saat menjadi perhatian penumpang, ternyata mereka adalah batch pertama masinis wanita pertama untuk kereta api berkecepatan tinggi.

Baca juga: 29 Siswa Wanita Berlatih Jadi Masinis Kereta Peluru di Cina

Mereka mulai direkrut pada Mei 2019 lalu dan setelah menerima pelatihan intensif selama berbulan-bulan dan akhirnya memulai karier baru sebagai co-driver. Sedangkan untuk menjadi seorang masinis kereta kecepatan tinggi ini, mereka membutuhkan dua hingga tiga tahun demi mendapatkan lisensi.

KabarPenumpang.com merangkum dari cgtn.com (12/1/2020), seorang co-driver wanita bernama Jin Waxin menjadi satu dari lima wanita yang lolos. Dia memiliki cita-cita sebagai masinis ketika ada perekrutan untuk posisi tersebut.

Wanita 24 tahun tersebut sebelum menjadi co-driver bekerja di departemen logistik dan pemeliharaan di depo lokomotif Fuzhou di bawah biro kereta api Nancang ibukota provinsi Jiangxi Cina tenggara selama lebih dari dua tahun. Jin bahkan mengambil jurusan lokomotif kereta api di Jilin Railway Technology College dan memanfaatkan peluang untuk mengubah hidup dan mempersiapkan dengan baik.

Sebagai seorang co-driver kereta kecepatan tinggi, para wanita ini selain memahami pengetahuan lokomotif dan istilah teknis juga harus menghadapi tantangan yang menuntut secara fisik seperti menangani operasi perpindahan gigi dan menggunakan kopling seperti rekan-rekan pria mereka. Tak hanya itu, mereka juga bertanggung jawab atas tugas seperti perbaikan, pemeliharaan dan inspeksi kereta.

“Selama shift, masinis harus tetap fokus penuh pada mengemudi. Respons terhadap berbagai rambu jalan, konfirmasi sinyal, panggilan dan respons, dan perubahan kecepatan di persimpangan, semua mengharuskan masinis untuk mempertahankan konsentrasi tingkat tinggi,” kata Jin.

Meskipun kereta canggih memiliki persyaratan yang lebih rendah pada kemampuan fisik, persyaratan yang lebih tinggi pada kemampuan serba menakuti lima kandidat lain yang dilatih bersama dengan Jin. Dalam perjalanannya dari Nanchang ke Xiamen, Jin harus tinggal di kabin masinis dengan instrukturnya dan mencapai target 200 ribu kilometer yang diperlukan untuk menjadi masinis kereta peluru yang berkualitas.

Baca juga: Vanithashree, Kisah Masinis Wanita Sukses dari Mangaluru

Bahkan seorang masinis lain Hang Ziqing tak merasa perbedaan gender masuk dalam pekerjaan. Menurutnya, wanita juga memiliki beberapa kelebihan dan bisa berbuat lebih baik. Cina memiliki jaringan kereta api berkecepatan tinggi terbesar di dunia, dengan jarak tempuh operasi melebihi 35 ribu km pada akhir 2019 dan tidak ada alasan mengapa wanita tidak boleh menjadi bagian dari ini.

Heboh Boeing Sebut Lion Air ‘Idiot’, Berikut Penyebabnya!

Di balik peristiwa kelam yang menewaskan 189 kru dan penumpang Lion Air JT610, tersiar kabar bahwa Boeing rupanya sempat menolak permintaan Lion Air. Tak hanya itu, atas permintaan tersebut, Boeing merespon dengan menyebut Lion Air ‘Idiot’.

Baca juga: Belum Tuntas Soal Regulasi, Boeing Kembali Temukan Masalah di 737 MAX

Peristiwa tersebut bermula ketika Boeing memproduksi seri terbaru dari 737, yakni 737 Max 8 pada tahun 2017. Lion Air, ketika itu menyatakan komitmennya untuk membeli pesawat dalam jumlah besar, setelah melakukan pertemuan dengan Boeing disela-sela ajang Paris Air Show. Tak main-main, beberapa sumber menyebut total pemesanan dari Lion Air Grup saat itu mencapai ratusan unit.

Sebagai pesawat dengan model terbaru, tentu terdapat beberapa fitur yang tidak dimiliki seri sebelumnya. Keadaan tersebut kemudian membuat Lion Air mengajukan permintaan kepada Boeing agar para pilotnya belajar di simulator terlebih dahulu. Namun, Boeing menolaknya. Bahkan, menyebut Lion Air idiot.

Kabar Boeing menyebut Lion Air ‘Idiot’ pertama kali beredar luas usai Bloomberg memuat pemberitaan mengenai hal itu. Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman tersebut, sumber dalam yang dipercaya media asal AS tersebut mengungkap bagian komunikasi dan memo internal yang tidak biasa. Betapa tidak, Boeing dengan gamblang menyebut Lion Air ‘idiot’.

“Sekarang Lion Air minta pelatihan simulator untuk penerbangan (Boeing 737) Max, mungkin lantaran kebodohan mereka sendiri. Saya kebingungan bingung bagaimana menolak ini sekarang, idiot,” tulis seorang pegawai Boeing dalam memo pada 2017 lalu.

Bila melihat alasan yang dilontarkan, sebetulnya Boeing seolah berada dalam posisi yang benar, mengingat, mereka menolak dengan alasan cara pengoperasian 737 Max 8 sama dengan seri 737. Di samping itu, maskapai lain pada umumnya, Airbus, misalnya, juga melatih para pilot dengan menerbangkan Airbus Beluga ST sebelum menerbangkan versi barunya, yakni Airbus Beluga XL. Airbus melakukan itu karena dinilai Beluga XL serupa dengan Beluga ST, sekalipun terdapat beberapa pembaharuan.

Di samping itu, permintaan Lion Air agar para pilotnya berlatih di simulator juga dinilai tak masuk akal. Pasalnya, maskapai yang tergabung dalam Lion Air Grup, Malindo Air, sebelumnya sudah menerbangkan pesawat 737 Max 8 tersebut.

Setelah insiden jatuhanya pesawat Lion Air JT 610, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai melakukan investigasi. Alasan Boeing untuk menolak permintaan Lion Air pun akhirnya mentah setelah pada tahun 2019, KNKT mengungkap penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Menurut mereka, jatuhnya pesawat terjadi karena kerusakan Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Baca juga: Bingung dengan ‘Bahasa Teknis’ di Laporan Akhir KNKT Seputar JT-610? Ini Penjelasannya!

KNKT membeberkan minimnya informasi yang seharusnya disampaikan pihak Boeing membuat pilot kesulitan dalam mengalami kerusakan MCAS saat pesawat di udara. Akibatnya, awak pesawat panik dan salah dalam mengambil langkah.

Fakta terbaru tersebut telah membuat pihak Boeing enggan berkomentar lebih banyak. “Segala potensi kekurangan terkait keamanan yang telah teridentifikasi dalam dokumen telah diatasi,” tutupnya.

Saipan Jadi Kota Wisata Melahirkan, Pelancong Wanita Wajib Tes Kehamilan Sebelum Naik Pesawat!

Saipan, sebagai bagian dari pesemakmuran Amerika Serikat di Kepulauan Mariana Utara menjadi tujuan favorit pelancong melahirkan. Hal ini dilakukan para pelancong agar bayi mereka bisa menjadi warga negara Amerika.

Baca juga: Catat Laba Spektakuler di 2018, Cathay Pacific Berencana Akuisisi Hong Kong Express

Apalagi kebijakan imigrasi di Saipan berbeda dengan daratan Amerika yang mana memungkinkan pelancong seperti Cina tak perlu visa ketika berkunjung. Karena hal tersebut, dalam beberapa tahun terakhir, wisata kelahiran menjadi begitu merajalela di Saipan, sehingga lebih banyak bayi yang dilahirkan oleh pelancong daripada penduduk tetapnya.

Karena hal inilah seorang wanita yang menuju ke Saipan dituntut untuk melakukan tes kehamilan sebelum bepergian padahal dirinya tidak hamil. KabarPenumpang.com melansir laman cnn.com (15/1/2020), wanita asal Jepang ini ketika di konter check in di Bandara Internasional Hong Kong diharuskan untuk melakukan penilaian fit to fly termasuk tes kehamilan.

Wanita 25 tahun tersebut mengatakan staf maskapai mengantarnya ke kamar mandi dan menyerahkan alat tes kehamilan. Dia bahkan tidak boleh naik ke pesawat sampai tes tersebut menunjukkan hasil negatif.

“Itu sangat memalukan dan membuat frustasi. Apalagi maskapai mengamati diriku memiliki ukuran atau bentuk tubuh seperti wanita hamil,” ujar pelancong asal Jepang tersebut.

Karena hal ini, pihak Hong Kong Express menyatakan permintaan maaf kepada penumpang tersebut melalui sebuah pernyataan. “Kami ingin meminta maaf atas kesusahan yang ditimbulkan.”

Pihak maskapai menyebut berada di bawah tekanan dari otoritas di Saipan untuk meningkatkan pemeriksaan pada penumpang.

“Kami mengambil tindakan pada penerbangan ke Saipan dari Februari 2019 untuk membantu memastikan undang-undang imigrasi AS tidak disalahgunakan. Di bawah manajemen baru, kami menyadari keprihatinan yang disebabkan oleh praktik ini. Kami segera menangguhkan praktik tersebut saat kami meninjaunya,” ujar pernyataan tersebut.

Diketahui, tahun 2018, para wisatawan melahirkan 582 bayi di pulau-pulau itu, sementara hanya 492 yang lahir dari penduduk tetap, menurut angka dari Kantor Statistik Kesehatan dan Vitalitas Mariana Utara. Pelancong Cina menyumbang sebagian besar kelahiran dari 582 tahun itu, 575 melibatkan warga Cina.

Baca juga: Kisruh Tak Kunjung Reda, Bandara Hong Kong Kehilangan 16,2 Persen Penumpang

Kepulauan Mariana Utara memiliki populasi lebih dari 50 ribu, menurut perkiraan Sensus AS pada tahun 2018. Popularitas wisata kelahiran di Saipan telah mendorong pihak berwenang untuk mengambil tindakan, seperti memberikan tekanan pada maskapai penerbangan untuk menyaring penumpang.

Sedih! Prototipe Pesawat Teranyar Rusia Ilyushin IL-96-400M Nyaris Rampung, Tapi Sepi Peminat

Pabrikan pesawat asal Rusia, Ilyushin (IL), mengumumkan bahwa prototipe pesawat terbarunya, Il-96-400M, hampir selesai. Pesawat yang dikembangkan dari seri sebelumnya tersebut (Il-96-300), saat ini tengah dalam tahap menempelkan sayap ke badan pesawat dan memulai pemasangan sistem kontrol penerbangan serta interior kabin. Perakitan akhir prototipe uji terbang dijadwalkan selesai sebelum akhir tahun ini, diikuti dengan serangkaian uji coba.

Baca juga: Sergey Vladimirovich Ilyushin – Dari Keluarga Petani Sukses Sebagai Founder Pabrikan Pesawat Rusia

Progres tersebut sebetulnya sangat molor dari target sebelumnya, yakni rampung pada akhir 2019. Dengan begitu, hampir dapat dipastikan, IL-96-400M belum akan mengudara pada akhir 2020 mendatang. Hal tersebut tentu sangat sejalan, mengingat, Ilyusin belum menerima satupun penawaran yang pasti untuk memboyong pesawat berbadan lebar tersebut.

Dikutip dari rusaviainsider.com, sepinya peminat pesawat yang dijanjikan bakal dilengkapi dengan berbagai fitur modern tersebut disinyalir disebabkan oleh banyak hal, mulai dari ketatnya persaingan, kurangnya pemasaran, hingga intrik politik. Hal tersebut (intrik politik) tentu sangat wajar, mengingat saat ini, produsen pesawat terbang komersial dikuasai oleh dua pabrikan besar, Boeing dan Airbus. Keduanya juga disokong oleh kubunya masing-masing, dalam hal ini AS (Boeing) dan Eropa (Airbus).

Meskipun demikian, direktur umum Ilyushin, Yury Grudinin, menampik kabar miring tersebut. Keterlambatan produksi pesawat dari jadwal yang sudah disepakati sebelumnya diakibatkan oleh peningkatan berbagai fitur canggih pesawat. Selain itu, jadwal padat VASO (Voronezh Aircraft Production Association) juga turut menyebabkan keterlambatan tersebut.

“Pergeseran kecil dari penerbangan perdananya dapat terjadi karena pabrik Voronezh sedang sibuk dengan proyek-proyek lain. Ini terus dimuat hingga 2026,” ujarnya.

Terlepas dari berbagai spekulasi dan keterangan atas keterlambatan tersebut, faktanya, pada tahun 2017, Ilyushin mengumumkan bahwa pengembangan pesawat IL-96-400M tersebut akan memerlukan suntikan finansial lebih dari 53 miliar rubel (US $ 0,85 miliar), termasuk 10 miliar rubel untuk penelitian dan pengembangan, 1,5 miliar rubel untuk meningkatkan fasilitas manufaktur VASO dan 42 miliar rubel untuk menambah modal perusahaan leasing milik negara, yang akan menjadi pelanggan pesawat. Pada tahun 2018, pemerintah Rusia pun kemudian mengalokasikan 1,32 miliar rubel ke induk perusahaan Ilyushin, United Aircraft Corporation (UAC) untuk program tersebut.

Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

Dana sebesar itu tentu tak mengherankan, bila melihat dari kelengkapan fitur-fitur canggih pada pesawat tersebut. Salah satu yang terbaik adalah fitur sistem pertahanan udara untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS). Sistem tersebut sangatlah penting, mengingat, banyak insiden tertembaknya pesawat komersial di negara-negara yang tengah terlibat konflik akibat tidak dilengkapi oleh fitur tersebut.

Selain itu, nantinya, pesawat IL-96-400M akan memiliki tiga opsi, yakni tata letak kabin kelas ekonomi tunggal untuk 402 penumpang, konfigurasi dua kelas dengan 350 kursi, dan 305 kursi dalam tata letak tiga kelas. Pesawat tersebut juga akan disokong oleh mesin terbaru, PS-90A1, buatan Rusia, yang dikembangkan dari mesin sebelumnya.

Berusaha Serang Kokpit, Penumpang ini Akibatkan Pramugari dan Polisi Luka-luka

Seorang penumpang didakwa setelah menyerbu kokpit, menyerang pramugari dan polisi dalam penerbangan ke New Jersey. Insiden itu terjadi pada Kamis (9/1/2020) malam dalam pesawat United Express yang dioperasikan oleh Commut Air yang berangkat dari Bandara Internasional Dulles di Virginia menuju ke Bandara Internasional Newark Liberty.

Baca juga: Ngotot Merokok di Dalam Kabin, Penumpang Alaska Airlines Dibekuk Petugas Keamanan

Menurut saksi mata, Matthew Dingley keluar dari kursi dan berlari menuju ke arah kokpit sebelum menggedor pintu. Saksi mata insiden itu, Mike Egbert mengatakan, karena ulah pelaku maka seorang pramugari yang akan menghentikannya justru menjadi fokus penyerangan.

KabarPenumpang.com melansir laman cnn.com (13/1/2020), Egbert mengatakan, penumpang lain datang untuk membantu pramugari tersebut agar terlepas dari serangan Dingley. Pilot di kokpit yang merasa penerbangannya terganggu kemudian menghubungi bandara tujuan untuk meminta bantuan polisi menangani penumpang tersebut.

Ketika pesawat mendarat dan pintu terbuka, seorang polisi diserang Dingley dan terjatuh dari tangga pesawat. Port Authority Police mengatakan, petugas itu mengalami patah tulang rusuk.

Untungnya saat itu polisi yang lain datang untuk membantu dan Dingley kemudian di tahan. Scott Ladd, juru bicara Port Authority New York dan New Jersey mengatakan enam orang petugas dan pramugari langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.

Chief Operating Officer CommutAir Joel Raymond mengatakan dalam sebuah pernyataan, penerbangan yang terganggu oleh penumpang tersebut mendarat dengan sempurna dan pihak kepolisian langsung menangani penumpang tersebut.

“Perhatian utama kami adalah selalu untuk memastikan keselamatan semua pelanggan dan kru dan kami bekerja sama dengan pihak berwenang. Kami mengucapkan terima kasih atas reaksi cepat penumpang dan kru kami yang merespons selama insiden ini,” ujar pernyataan tersebut.

Baca juga: Boeing 737 Biman Bangladesh Dibajak, Drama Berakhir dengan Tewasnya Pelaku

Dingley kemudian dimasukkan ke penjara Essex County pada Jumat (110/1/2020) atas dakwaan penyerangan yang membuat luka, pelanggaran pidana, menentang penangkapan dan mengganggu perjalanan transportasi. Setelah dimasukkan dalam penjara, Dingley tidak mengatakan apapun.

Didera Sanksi Ekonomi, Pembangunan Bandara Tehran Sempat Mangkrak Hingga 25 Tahun

Bandara internasional Imam Khomeini atau Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) belakangan banyak disebut oleh media internasional. Bukan karena inovasi atau teknologi kekinian yang membuatnya dibicarakan banyak orang, melainkan insiden jatuhnya pesawat komersil, Ukraine International Airlines PS752, tak jauh dari bandara akibat sistem pertahanan udara Iran.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Terlepas dari insiden tersebut, tak banyak yang tahu, bahwa ternyata bandara kedua di ibu kota Iran tersebut (setelah Bandara Internasional Mehrabad) sempat mangkrak selama 25 tahun akibat sanksi ekonomi AS yang bertubi-tubi. Dengan rentan waktu selama itu, bukan tak mungkin, Bandara Internasional Imam Khomeini bisa dinominasikan dalam daftar bandara dengan pembangunan terlama di dunia.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sanksi ekonomi terhadap Iran mulai dilakukan pada November 1979. Ketika itu, AS dituding melakukan intervensi terhadap politik dalam negeri Iran dengan memberikan suaka kepada pemimpin Iran yang tengah diasingkan, tak lama setelah revolusi Iran. Gelombang protes pun bermunculan hingga kantor kedutaan AS digeruduk dan menawan semua orang di dalamnya. Sanksi kemudian dihentikan pada tahun 1981 setelah Iran membebaskan warga AS yang ditawan.

Selanjutnya, secara sporadis, AS terus-menerus memberikan sanksi kepada Iran. Tahun 1980, 1983, 1987, 1995, 1996, hingga 2005 menjadi tahun-tahun sulit bagi pemerintahan Iran. Bahkan, berbagai kesulitan tersebut (sanksi ekonomi oleh AS) akan terus berlangsung hingga kini.

Beruntung, sebelum sanksi ekonomi jilid ke-7 diterapkan (2005), Iran terlebih dahulu mengumumkan bahwa bandara anyarnya akan mulai diresmikan pada 11 Februari 2004. Meskipun demikian, sisa-sisa sanksi ekonomi masih terus membekas hingga peresmian bandara yang memiliki luas 33.000 hektar tersebut molor. Kala itu, ada banyak masalah yang terjadi. Mulai dari pembangunan yang belum rampung, pasokan bahan bakar yang amburadul, hingga keterlambatan dalam menandatangani kesepakatan dengan kementerian perminyakan Iran. Pada akhirnya, 8 Mei 2004, bandara tersebut benar-benar bisa diresmikan oleh Presiden Iran kala itu, Mohammad Khatami.

Menariknya, walaupun AS dan Iran tak henti-hentinya terlibat ketegangan, pembangunan bandara yang sempat menjadi satu-satunya akses keluar masuk Iran tersebut sempat diramaikan dengan campur tangan (AS). Pembangunan bandara dimulai sebelum revolusi Iran 1979. Ketika itu, desainer asli adalah Tippetts-Abbett-McCarthy-Stratton (TAMS), sebuah kemitraan konsultan teknik dan arsitektur Amerika.

Campur tangan AS dalam pembangunan bandara kebanggaan publik Iran tersebut, mulai menemui titik terang ketika usaha patungan lokal dibentuk antara TAMS dan firma lokal Abdol Aziz Farmanfarmaian Associates yang disebut TAMS-AFFA, untuk melaksanakan desain penuh dan pengawasan konstruksi. Namun, setelah revolusi Iran, sentimen anti-AS pun menguat yang pada akhirnya mendorong proyek tersebut (TAMS-AFFA) ditinggalkan sampai pemerintah Iran akhirnya memutuskan untuk merancang dan membangun bandara menggunakan insinyur lokal.

Baca juga: Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa

Hingga kini, walaupun terus menerus di embargo, bandara IKIA masih terus beroperasi seperti biasa. Bahkan sejak tahun 2013, Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) terus-menerus mengalami peningkatan hingga mencapai angka 8,852,232 pengunjung pada 2017. Naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, pada tahun 2013 tersebut, IKIA yang melayani satu-satunya rute internasional di Iran (selain Bandara Internasional Mehrabad yang melayani rute dari dan ke Damaskus, Jeddah, dan Madinah) didaulat sebagai bandara tersibuk di Timur Tengah dengan kunjungan mencapai 4 juta lebih wisawatan. Wisatawan pada umumnya datang dari negeri-negeri di Timur Tengah, seperti Turki, Irak, Uni Emirat Arab, hingga Qatar.

Akhirnya! “Si Manis Paus Terbang” Airbus Beluga XL Resmi Mengudara

Setelah melalui serangkaian tes sejak pertengahan 2018, Airbus Beluga XL akhirnya resmi dioperasikan pada Januari 2020. Pesawat yang mirip dengan paus putih Beluga Arktik tersebut nantinya akan mendukung mobilitas distribusi komponen pesawat Airbus di 11 destinasi, antara lokasi produksi Eropa (Wales, Spanyol serta beberapa negara lainnya) dan jalur perakitan akhir di Toulouse, Prancis; Hamburg, Jerman; dan Tianjin, Cina.

Baca juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebagai pesawat pendukung kebutuhan Airbus yang kini semakin membesar, mengingat kompetitornya (Boeing) sedang dalam kondisi terpuruk, tentu saja Airbus Beluga XL memiliki banyak keunggulan dibanding pendahulunya, Beluga ST . Beluga ST, yang telah beroperasi sejak 1994 silam, hanya mampu mengangkut 45 ton dengan menggunakan pesawat jenis A300-600ST. Sedangkan Beluga XL mampu mengangkut payload enam ton lebih banyak atau 51 ton.

Selain itu, dimensinya yang enam meter lebih panjang (20 kaki atau sekitar 63,1 meter) dan satu kali lebih lebar dari pendahulunya, juga memungkinkan pesawat yang mampu terbang 2.500 mil atau 4.000 kilometer setiap kali perjalanan tersebut mengangkut dua sayap pesawat A350. Sedangkan Beluga ST hanya sanggup menampung satu. Kapasitas yang besar tersebut juga didukung oleh dua mesin Rolls-Royce Trent 700.

Meskipun Airbus Beluga XL masih kalah jauh dari sisi dimensi dan muatan dibanding Boeing 747-8 yang mampu mengangkut 345 ton, desain Airbus Beluga XL yang unik membuat pesawat ini banyak dilirik oleh mitra bisnisnya (Airbus).

Perjalanan Airbus Beluga XL hingga resmi beroperasi secara komersial pada beberapa waktu lalu tidaklah mudah. Setelah pertama kali mengudara di langit Kota Toulouse, Perancis, Juli 2018, serta diikuti serangkaian uji coba untuk mencapai minimal terbang 600 jam, desain Beluga yang kini beroperasi juga harus melewati proses yang alot.

Desain Airbus Beluga XL pertama kali diumumkan pada 2014. Ketika itu, tak banyak perbedaan memang, dari segi dimensi. Namun, dari segi penampilan, desain Airbus Beluga XL jauh lebih mencolok dan menarik perhatian orang. Para insinyur pun akhirnya memberikan enam model desain sebagai pilihan.

Dikutip dari partsolutions.com, setelah melalui tahap voting, desain paus Beluga Arktik yang didominasi warna biru akhirnya mendapat 40 persen atau 20.000 suara yang menjadi suara mayoritas. Meskipun Airbus belum secara resmi mengumumkan berbagai desainnya yang lain, beberapa pengamat menduga Beluga versi pink menempati posisi runner-up.

Baca juga: Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara

Dibalik desain imut paus terbang Airbus Beluga, sebetulnya, secara kasat mata, membuat orang awam sempat bingung terkait posisi kokpit pesawat. Terlebih, ketika dahi pesawat terbuka untuk memuat keluar masuk barang. Sebab, posisi kokpit sedikit samar dengan warna hitam yang melintang bagaikan senyum paus putih Arktik.

Hingga kini, Airbus Beluga XL sudah diproduksi sebanyak lima unit. Rencananya, hingga tahun 2023, Airbus akan memproduksi lima pesawat lainnya. Sebagai informasi, harga satu unit Airbus Beluga XL mencapai satu miliar dolar atau sekitar Rp 1,3 triliun.